Anda di halaman 1dari 6

RANCANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR TAHUN

TENTANG

HUBUNGAN KERJA ANTARA


PEMERINTAHAN KOTA BATAM DENGAN BADAN OTORITA BATAM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 21 ayat (3) Undang-undang


Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan,
Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak,
Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan
Kota Batam sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 53 Tahun
1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu,
Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten
Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam, perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Hubungan Kerja Antara Pemerintahan Kota
Batam dengan Badan Otorita Batam;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan
Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir,
Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten
Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3902) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 80, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3968);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Propinsi
Kepulauan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4237);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-
Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG


HUBUNGAN KERJA ANTARA PEMERINTAHAN KOTA BATAM
DENGAN BADAN OTORITA BATAM.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik


Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Pemerintah Kota Batam adalah Walikota Batam dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan daerah.
3. Pemerintahan Kota Batam adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan Kota Batam
oleh Pemerintah Kota Batam dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistim Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
4. Kota Batam adalah Daerah Otonom sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan
Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Kuantan
Singingi dan Kota Batam;
5. DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kota Batam;
6. Badan Otorita Batam adalah Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah
Industri Pulau Batam sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 2005.

BAB II
URUSAN PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN

Pasal 2

(1) Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam menyelenggarakan urusan
pemerintahan dan pembangunan Kota Batam.

(2) Urusan pemerintahan dan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bidang
industri, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata.

(3) Rincian urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Presiden.

BAB III
HUBUNGAN KERJA

Pasal 3

2
1. Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam melakukan hubungan kerja dalam
penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pembangunan Kota Batam sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2.
2. Hubungan Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat koordinasi, konsultasi,
dan sinkronisasi kebijakan.
BAB IV
KERJA SAMA

Pasal 4

Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam dapat saling melakukan kerja sama
dalam pembangunan dan pengembangan dibidang permukiman, prasarana wilayah,
lingkungan hidup, penanaman modal/investasi, kebersihan, penanggulangan kebakaran, tata
kota, tata bangunan, penataan ruang, dan bidang lain.

BAB V
PELAKSANAAN

Pasal 5

Pelaksanaan urusan pemerintahan dan pembangunan Kota Batam sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 2, Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam terlebih dahulu
merumuskannya dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Kota Batam.

Pasal 6

Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam menyelenggarakan rapat koordinasi
secara periodik atas pelaksanaan urusan pemerintahan dan pembangunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2.

Pasal 7

Pelaksanaan hubungan kerja dan/atau kerjasama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3


dan Pasal 4 dituangkan dalam Keputusan Bersama Walikota Batam dan Kepala Badan
Otorita Batam yang diketahui Gubernur Kepulauan Riau.

BAB VI
PENDANAAN
Pasal 8

(1) Badan Otorita Batam menganggarkan paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari total
penerimaan bersih yang diintegrasikan pada program kemasyarakatan dan
pelaksanaannya dikoordinasikan dan disinergikan dengan program pembangunan
Pemerintahan Kota Batam.

(2) Total penerimaan bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penghasilan
yang diperoleh Badan Otorita Batam di Kota Batam setelah dikurangi biaya operasional.

BAB VII
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Pasal 9

(1) Perselisihan dalam pelaksanaan hubungan kerja dan/atau kerjasama antara


Pemerintahan Kota Batam dengan Badan Otorita Batam diselesaikan secara
musyawarah dan mufakat.

(2) Dalam hal penyelesaian perselisihan secara musyawarah dan mufakat sebagaimana
dimaksud ayat (1) tidak dicapai kesepakatan, Menteri Dalam Negeri menyelesaikan
perselisihan dimaksud.

3
(3) Keputusan penyelesaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat final dan
mengikat.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 10

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua ketentuan mengenai Daerah
Industri Pulau Batam dan ketentuan pelaksanaannya harus disesuaikan paling lambat 6
(enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini ditetapkan.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 11

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini


dengan menempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA,

HAMID AWALUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR

4
PENJELASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR TAHUN

TENTANG

HUBUNGAN KERJA ANTARA


PEMERINTAHAN KOTA BATAM DENGAN BADAN OTORITA BATAM

I. UMUM

Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan


Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak,
Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam,
pada Pasal 21 ayat (1) diamanatkan Bahwa dalam penyelenggaraan Pemerintahan dan
Pembangunan di daerahnya mengikutsertakan Badan Otorita Batam, keikutsertaan ini
dijabarkan dalam Pasal 21 ayat (3) melalui hubungan kerja yang diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.

Hubungan kerja antara Pemerintah Kota Batam dan Badan Otorita Batam dimaksudkan
untuk mensinergikan tugas antara Pemerintahan Kota Batam dengan Badan Otorita
Batam dan mempercepat pertumbuhan Kota Batam dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Kota Batam dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Selain itu, hubungan kerja yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini
bertujuan untuk mengimplementasikan pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan prinsip
luas, nyata dan bertanggung jawab yang secara substansial dimaksudkan untuk
menciptakan keselarasan, keserasian, kemitraan dan kesinambungan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Batam sebagai Kawasan
Industri, Perdagangan, Alih Kapal dan Pariwisata.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas

Pasal 2
Cukup jelas

Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas

Ayat (2)
Yang dimaksudkan dengan “sinkronisasi kebijakan” adalah bahwa Badan
Otorita Batam dan Pemerintah Kota Batam dalam menyusun rencana
program pengembangan dan pembangunan Kota Batam harus dibahas
secara bersama-sama dalam rangka keselarasannya dan menghindari
tumpang tindih program pengembangan dan pembangunan Kota Batam.

Pasal 4
Cukup jelas

Pasal 5
Cukup jelas

5
Pasal 6
Yang dimaksud dengan ”periodik” adalah berupa rapat koordinasi bulanan,
triwulan, semesteran atau tahunan atau yang disepakati oleh Pemerintah Kota
Batam dan Badan Otorita Batam.

Pasal 7
Cukup jelas

Pasal 8
Ayat (1)
Penghasilan tersebut tidak termasuk penerimaan Badan Otorita Batam
yang bersumber dari anggaran sektor/Pusat.
Pemanfaatan dana 20 % ini berdasarkan usulan Pemerintah Kota Batam
pada tahun anggaran berjalan dan hasilnya diserahkan kepada
Pemerintah Kota Batam.

Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “biaya operasional” adalah segala biaya rutin
yang dikeluarkan oleh Badan Otorita Batam setiap tahunnya.

Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas

Ayat (2)
Penyelesaian perselisihan oleh Menteri Dalam Negeri setelah mendengar
penjelasan dari pihak-pihak yang terkait secara langsung serta mendapat
masukan dari Gubernur Kepulauan Riau.

Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11
Cukup jelas

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR