P. 1
Rasionalisasi Peresepan Polifarmasi pada Lansia

Rasionalisasi Peresepan Polifarmasi pada Lansia

|Views: 488|Likes:
Dipublikasikan oleh Maydis stigma

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Maydis stigma on Mar 24, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

TUTORIAL5, B-11, BLOK BRAIN AND MIND SYSTEM

RASIONALISASI PERESEPAN POLIFARMASI PADA LANSIA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

Lansia
‡ WHO: usia pertengahan (middle age): 45-59 tahun, lanjut usia (elderly)60-74 tahun, lanjut usia tua (old): 75 90 tahun, usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun. ‡ UU No. 4 tahun 1965 pasal 1: lansia > 55 tahun UU No. 13 tahun 1998: lansia > 60 tahun. ‡ Depkes: presenium 55-64 tahun, senium > 65 tahun. ‡ Terapi obat yang seharusnya tidak diperlukan ditemukan 63 % dan menghabiskan sekitar 12 juta rupiah di Indonesia (Rahmawati, 2007). ‡ 59 % lansia mengeluhkan 4 penyakit, 28 % 6 penyakit and 13 % 8 penyakit (Mustofa, 1995).

Drug Use in Community Dwelling Elderly*
Cardiovascular Agents Anti-infective Agents Analgesics Hormones Psychotherapeutic Agents Respiratory Agents Central Nervous System Agents Coagulation Modifiers Anti-hyperlipidemic Agents Diabetic Agents 0

58.8 33.9 28.3 23.9 18 18 13.1 9.9 9.4 8.6
10 20 30 40 50 60

Percentage (%)
Moxey, Health Care Financing Review 2003

Lingkaran setan «
Lansia efek samping o

Bermacammacam problem klinis

PolyPolipharmacy farmasi

tanda/ simptom baru ?

terapi lanjutan

Masalah Polifarmasi Lansia
‡ Faktor pasien: perubahan farmakodinamik dan farmakokinetik karena umur, interaksi obatpenyakit dan obat-obat, fisiologi tubuh melemah. ‡ Faktor sistem: fragmentasi perawatan(polydoctoring) prescribing cascade.

Polifarmasi yang Dibutuhkan oleh Lansia
‡ Antihipertensi, beta blocker, antiplatelet(profilaksis infark miokard), ACEI(gagal jantung), bifosfonat(osteoporosis), analgetik(sesuai kebutuhan).

Dosis Obat Geriatrik
‡ 65-74 TAHUN : DOSIS LAZIM 10% ‡ 75-84 TAHUN : DOSIS LAZIM 20% ‡ > 85 tahun : DOSIS LAZIM 30%

Farmakodinamik pada Lansia
‡ Jumlah reseptor: reseptor muskarinik, histamin, opioid. ‡ Afinitas reseptor: sensitivitas beta reseptor , reseptor NT CNS . ‡ Homeostasis: misal, respon hipotensi ortostatik pada lansia( efek samping vasodilator), renin kurang efektif pada lansia( efektivitas ACE-I).

(Jackson, 1994)

Perubahan Penuaan Fisiologi pada Lansia yang Mempengaruhi Farmakokinetik
Variable Body
Body Water (% of body water) Lean Body Mass (% of body weight) Body Fat (% of bodyweight) Serum Albumin (g/dl) Kidney Weight (% of young adult) Hepatitic Blood Flow (% of young adult)

Young Adults (20±30 years)

Geriatrics Adults (60±80years)

61 19
26-33 (woman) 18-20 (man)

53 12
38-45 (woman) 36-38 (man)

4,7 100 100

3,8 80 55-60

Absorpsi pada Lansia
‡ pH lambung meningkat: obat penetral asam lambung menjadi kurang efektif. ‡ GET memanjang: meningkatkan proses absorpsi obat asam lemah, memperlambat dan menurunkan proses absorpsi obat basa lemah. ‡ Motilitas esofagus : tablet dan kapsul sulit ditelan. ‡ Lemak subkutan : absorpsi obat topikal . ‡ Fragilitas vena : pemberian obat i.v. lebih berbahaya.

Distribusi pada Lansia
‡ Serum albumin : konsentrasi serum obat asam lemah . ‡ Lemak tubuh : distribusi dan t1/2 obat lipofilik meningkat. ‡ Cairan tubuh dan lean body mass : distribusi obat hidrofilik menurun sehingga konsentrasinya pada plasma meningkat.

Metabolisme pada Lansia
‡ Aliran darah splanikus first pass metabolism pada beberapa obat. ‡ Penurunan fungsi hepatosit dan enzim CYP450 metabolisme fase I 30-40% toksisitas obat spesifik. ‡ Metabolisme fase II(asetilasi obat menjadi metabolit inaktif) tidak berubah.

Ekskresi pada Lansia
‡ Aliran darah plasma dan t1/2 obat . ‡ Rumus Cockcroft-Gault: GFR ± 30% masa kerja

[(140 age) x wt (kg) ] / [ 72 x Cr (mg/dl)] Wanita = X 0.85

Recommendations for geriatric prescribing
‡ Know your patient s medications and medication history. ‡ Individualize therapy. ‡ Reevaluate indications for continued drug use. ‡ Minimize dose and total number of drugs ‡ Start low, go slow. Use blood levels judiciously. ‡ Treat adequately. Do not withhold therapy for treatable diseases. ‡ Consider the possibility that any new symptom is an ADE. ‡ Know the drugs you and your patients use. ‡ Use new agents with caution. ‡ Encourage treatment adherence.

‡ CHF: NSAIDs ‡ Claudication: Beta blockers ‡ Stress incontinence: Alpha1blockers ‡ Constipation: CCB, anticholinergics, Betablockers,

narcotics ‡ BPH: Decongestants, anticholinergics, calcium channel blockers
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Parkinsons or Dementia: Anticholinergic delirium Protein-bound B12 : omeprazole Folate and Vit D : diphenylhydantoin Thiamine: furosemide Coumadin effect: Vitamin K Calcium channel blocker bioavailability: grapefruit juice

Drugs to Avoid in Older Adults
‡ ‡ ‡ ‡ Analgesics ± Narcotics: Propoxyphene (DarvonTM), Meperidine (DemerolTM), pentazocine (Talwin TM), ± NSAIDs: Indomethacin, Phenylbutazone Muscle Relaxants ± RobaxinTM, SomaTM, DitropanTM, ParaflexTM, SkelaxinTM, FlexerilTM GI Antispasmodics ± BentylTM, LevsinTM, Pro-BanthineTM, DonnatolTM, LibraxTM Cardio- or Cerebrovascular Drugs ± Disopyramide (NorpaceTM) ± Dipyridamole (PersantineTM) ± Methyldopa, Reserpine ± Ticlopidine (??) ± Hydergine, cyclospasmol Chlorpropamide (DiabenaseTM) Psychotropics ± Antidepressants: Amitriptyline, doxepin ± Sedatives: Meprobamate, chlordiazepoxide, diazepam, flurazepam, barbiturates H1 Blockers (lipid soluble) ± Chlorpheniramine, hydroxyzine, cyproheptadine, promethazine, dexchlorpheniramine, tripelennamine

‡ ‡

‡

‡ Antikoagulan: albumin turun, memiliki MES yang sempit toksisitas, monitor terus. ‡ Analgesik: boleh, pilihan: acetaminophen. ‡ Obat kardiovaskular: eliminasi digoksin turun, MES digoksin sempit beta blocker, ACE-I.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->