75% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
10K tayangan6 halaman

Sekilas Tentang Notasi Laban

Dokumen tersebut menjelaskan sejarah singkat notasi Laban, sistem notasi tari yang diciptakan oleh Rudolf Von Laban pada tahun 1928 yang kemudian menjadi standar internasional untuk mendokumentasikan gerakan tari. Notasi Laban mampu mencatat gerakan tari secara rinci dan simbol-simbolnya mudah dipahami, sehingga karya tari dapat direkonstruksi kembali hanya dengan catatan tertulis.

Diunggah oleh

Katrinds Tuti
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
75% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
10K tayangan6 halaman

Sekilas Tentang Notasi Laban

Dokumen tersebut menjelaskan sejarah singkat notasi Laban, sistem notasi tari yang diciptakan oleh Rudolf Von Laban pada tahun 1928 yang kemudian menjadi standar internasional untuk mendokumentasikan gerakan tari. Notasi Laban mampu mencatat gerakan tari secara rinci dan simbol-simbolnya mudah dipahami, sehingga karya tari dapat direkonstruksi kembali hanya dengan catatan tertulis.

Diunggah oleh

Katrinds Tuti
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEKILAS TENTANG NOTASI LABAN Sejarah Singkat, Keberadaanya dalam Dunia Seni Tari

Catatan-catatan mengenai motif gerak tari yang dijumpai dalam literatur selama ini, masih menggunakan sistem lama, yaitu dengan pencatatan deskripsi kata dan ataupun pencatatan nama-nama motif gerak. Cara konvensional tersebut hanya dapat dibaca oleh lingkungan tertentu, dan sukar dipahami oleh lingkungan lebih luas, karena pencatatan tersebut kebanyakan menggunakan istilah-istilah yang sifatnya lokal/intern (istilah dari kalangan khusus). Dapat dicontohkan seperti misalnya pada pencatatan motif gerak kipat srisig yang tertulis dalam sebuah buku, sebagai berikut. Srisig dimulai sesudah tanjak kanan. Pada hitungan 1-4 kedua tangan jimpit sampur, hitungan 5-6 debeg gejug kiri ukel tangan kanan lalu hitungan 7-8 tangan kanan tawing jimpit sampur tangan kiri mentang jimpit sampur (Nora Kustantina Dewi, 1979/1980: 37). Sistem pencatatan tari dengan deskripsi kata tersebut memiliki kelemahan, yaitu banyak terdapat istilah-istilah yang mungkin tidak dimengerti oleh kalangan yang lebih luas, seperti srisig, jimpit sampur, debeg gejug, tawing dan lain sebagainya. Sistem pencatatan tari secara tradisional (deskripsi kata) semacam itu banyak dijumpai di kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Di Kraton Yogyakarta banyak dijumpai manuskrip tari dari akhir abad ke XVIII dan pada permulaan abad XIX. Wujud catatan tarinya verbal dalam arti bahwa catatan tersebut hanya menyebutkan nama-nama dari frase gerak, jenis gerak, hitungan, dan sebagainya, diantaranya seperti dapat disimak pada kutipan di atas. Catatan tari semacam itu ternyata masih banyak dilakukan oleh para

seniman di abad modern ini. Hal tersebut terjadi karena kekurangpahaman para seniman tentang pentingnya sebuah notasi tari. Sejarah pencatatan tari di Barat telah dijumpai pada abad XV, dengan bukti sebuah manuskrip tari di Cervera Spanyol, tepatnya di Municipal Archives. Pada perjalanan selanjutnya, sering diadakan pembahasan-pembahasan mengenai system pencatatan tari. Namun dari berbagai notasi yang telah tercipta belum ada yang dinilai sempurna, kebanyakan kurang detail sehingga tidak dapat digunakan untuk mencatat gerak tari yang rumit/kompleks. Hingga pada abad XIX (tepatnya tahun 1928) seorang koreografer sekaligus penari, keturunan Austro-Hungaria, bernama Rudolf Von Laban, berhasil menciptakan sistem notasi tari yang ditulis dalam sebuah buku yang judul Schrifttanz. Sistem notasi tersebut dinilai sempurna karena mampu mencatat gerak tari secara mendetail dan simbol-simbolnya mudah dipahami. Sistem pencatatan tersebut mampu bertahan cukup lama dan telah melalui proses uji coba terus menerus untuk diakui menjadi sistem notasi tari secara universal. Sistem pencatatan yang diciptakan oleh Rudolf Von Laban itu kemudian disebut dengan Notasi Laban (Labanotation), sesuai dengan nama penciptanya. Ahli-ahli tari dari Eropa dan Amerika sangat merespon adanya sistem notasi tari tersebut, mereka mengadakan percobaan (pertama) untuk mengkaji Notasi Laban (di Jerman) pada tahun 1936 dalam sebuah konggres tari. Percobaan dilakukan dengan cara mengirimkan catatan tari lengkap (dance score) dengan sistem notasi laban, pada seribu penari yang tersebar di 40 kota yang berjauhan jaraknya. Dari catatan itu mereka mempelajari tari untuk dipentaskan pada saat penyelenggaraan konggres tari tersebut. Koreografi itu berhasil dipentaskan dengan hanya beberapa kali latihan dan hanya sekali diadakan gladi bersih. Hal tersebut menunjukan bahwa catatan tari melalui sistem notasi Laban mudah dipahami sehingga sebuah karya tari dapat direkontruksikan kembali. Rekontruksi tari dengan sistem notasi Laban (Labanotation) juga berhasil dilakukan oleh Kurt Joose, dengan merekonstruksi notasi karya tari ballet yang berjudul The Green Table (yang dibuat tahun 1938) dalam sebuah perkumpulan ballet baru di Chili pada tahun 1939.

Keberhasilan selanjutnya dibuktikan oleh Zachary Solov (penanggung jawab Ballet Theatre) pada tahun 1949, dengan meminta bantuan pada Ann Hutchinson untuk merekonstruksi karya tari balet Billy The Kid. Karya-karya tari lainnya yang dicatat dengan notasi laban diantaranya Kiss me, Kate karya Holm, Symphony in C, Orpheus, Theme and Variation, Bourree Fantasque karya Balanchine, selain itu juga karya-karya Doris humphrey dan Charles Weidman. Pada perkembangan selanjutnya pusat-pusat pengkajian mulai didirikan untuk mengadakan penelitian dan penyempurnaan/perbaikan sistem Labanotation, antara lain Dance Notation Bureau (pusat pencatatan tari yang didirikan pada tahun 1940) - di New York, Ohio, Philadelphia, London, dan Israel - merupakan lembaga yang paling gigih dalam usaha penyebarluasan dan penyempurnaan Notasi Laban, Kinematographische Institute di Jerman, Laban Art of Movement Centre, Beecmont Movement study Centre dan Language of Dance Centre di Inggris, dan sebagainya. Pada akhirnya dicapai sebuah kesepakatan penyeragaman dalam penggunaan Notasi Laban untuk seluruh negara di dunia. Kesepakatan tersebut secara syah disampaikan pada penyelenggaraan The International Council of Kinetography Laban (I.C.K.L) pada tahun 1959. Pada perjalanan selanjutnya notasi Laban terus mengalami penyempurnaanpenyempurnaan seperlunya oleh si pencetus maupun oleh ahli-ahli lain diantaranya; Ann Hutchinson pada tahun 1970, Peggy Huckney et.al. (pada tahun 1977), dan lainlain. Pada tahun 1978 diselenggarakan Konferensi Tari Internasional yang oleh American Dance Guild dan Comitee on Research in Dance (tepatnya tanggal 1-7 Agustus) di Universitas Hawaii. Konferensi tersebut dipimpin oleh Ann Hutchinson (Tokoh dalam dunia notasi tari), dan dihadiri oleh 230 peserta dari seluruh penjuru dunia, diantaranya dari Indonesia yang diwakili oleh Sal Murgiyanto, Ben Suharto, I Made Bandem, Hardjo Susilo dan R.M Soedarsono. Pada kesempatan tersebut, sebagian besar peserta yang hadir menetapkan notasi yang lain. untuk menggunakan Notasi Laban sebagai sistem pencatatan/dokumentasi tari, karena dinilai lebih memenuhi syarat dibanding sistem

Sampai pada tahun-tahun selanjutnya sistem Notasi Laban senantiasa mengalami penambahan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya, untuk itupun kiranya perlu diadakan suatu kesepakatan-kesepakatan secara intern (lokal/pemakai) terutama untuk pencatatan sebuah tari tradisional yang memiliki bentuk-bentuk pola yang pakem dengan ketentuan teknis pelaksanaan secara khusus. Searah dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, pada perkembangan selanjutnya (tahun 1984-1987) muncul program Laban Writer 1.0. yang diaplikasikan pada Komputer Macintosh, pada prinsipnya hal ini merupakan sebuah revolusi teknologi yang merambah dunia seni tari. Laban Writer merupakan program komputer yang dikembangkan khusus untuk Notasi Laban, program ini membantu peneliti tari, koreografer/notator untuk mempermudah menyususun notasi gerak yaitu secara komputerisasi. Kehadirannya telah mengubah cara kerja penotasian dengan sistem Laban (Labanotation) yang sebelumnya secara manual menjadi masinal. Program tersebut dikembangkan oleh Dance Notation Bureau di The Ohio State university dan ide-nya muncul dari Lucy Venable yang bekerja sama dengan George Karl dan Scott Sutherland sebagai programernya. Lalu pada sekitar tahun 1993 muncul program Laban Writer 1.0.3., yang pada perkembangan berikutnya muncul program Laban Writter 3.2.3 alias dan beberapa tahun kemudian muncul lagi program Laban Writter baru dengan seri 4.5 bahkan sampai pada seri 5. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada perkembangan selanjutnya dan seiring dengan perkembangan teknologi memungkinkan tercipta kembali program Laban Writer baru /dengan seri baru yang tentunya akan lebih canggih/sempurna. Akan tetapi Seiring dengan kemajuan jaman dan berkembangnya teknologi, system pencatatan tari mulai sedikit tersisihkan karena tergeser dengan adanya sistem pendokumentasian tari yang dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan menggunakan sistem perekaman secara visual. Pendokumentasian dengan cara tersebut terkesan lebih gampang dan mudah untuk diperagakan kembali, dibanding dengan sistem pendiskripsian gerak tari melalui tulisan, bahkan dengan system penotasian. Namun demikian pendokumentasian tari dengan cara perekaman pun masih terdapat kelemahan. Kelemahan itu disebabkan oleh terbatasnya kemampuan alat dalam merekam dan menampilkan gerak-gerak secara detail dari bagian segmen tubuh tertentu.

Agar pendokumentasian tari lebih lengkap dan akurat perlu kiranya dilengkapi dengan notasi/pencatatan gerak tarinya yang bukan sekedar pendeskripsian. Notasi untuk sebuah karya tari sangat dibutuhkan sebagai media untuk menjembatani pemahaman visual dengan kemampuan motorik ketika mencoba memahami detail gerak tarinya, karena pada prinsipnya Movement notation is a creative tool, the means of communications in the language of dance, selanjutnya lebih ditegaskan lagi bahwa Dance notation is the translation of four-dimensional movements (time being the fourth dimension) into sign written on two-dimensional paper (Ann Hutchinson, 1977: xi). Sistem penotasian tari yang telah banyak digunakan dan telah diakui sebagai sistem pencatatan tari secara internasional adalah sistem notasi Laban (Labanotation) yang diciptakan oleh Rudolf Von Laban pada tahun 1928. Sebagai sistem notasi tari internasional, pencatatan gerak melalui labanotation tersebut sudah melalui proses uji coba selama bertahun-tahun. Juga telah diadakan pembaharuan-pembaharuan / revisi oleh para ahli notasi tari. Pencatatan melalui sistem labanotasi menggunakan simbol piktoral dan linear yang mudah dipahami serta memiliki kelengkapan symbol dan prasimbol syang dapat digunakan untuk mencatat gerak dan atau gerak tari secara detail. Gerak tari dengan nama-nama lokal yang sukar dimengerti oleh masyarakat luas akan menjadi lebih jelas jika dinotasikan, karena gerak yang dimaksud tidak hanya dipaparkan dengan kalimat yang bersifat konseptual, namun dipaparkan dalam wujud notasi yang bersifat factual, bisa dibaca dengan diperagakan secara langsung bagian segmen yang bergerak.

Kelebihan yang lain adalah bahwa sistem notasi laban sekaligus merupakan perangkat analisis gerak tari, yang dari wujud notasinya juga dapat dilihat ciri karakter gerak tarinya. Sistem ini juga sangat bermanfaat sebagai metode analisis perbandingan suatu gerak tari. Dengan demikian jelas bahwa selain berfungsi sebagai recoording movement untuk keperluan dokumentasi dan rekontruksi, sistem ini juga dapat dimanfaatkan sebagai perangkat analisis (Analizyng) sebuah karya tari dalam dunia pengkajian tari secara ilmiah. Sistem tersebut telah menjadi perangkat penting dalam kajian etnokoreologi.

Sistem notasi secara Laban lahir dari dunia Barat, maka contoh-contoh aplikasi simbol banyak dijumpai untuk gerak tari yang hidup di dunia Barat (Ballet). Namun jika disimak lebih cermat, sesungguhnya simbol-simbol yang terdapat dalam sistem Labanotation ternyata sangat detail dan lengkap, sehingga sangat memungkinkan untuk diterapkan pada segala macam jenis gerak, termasuk untuk gerak tari Jawa. Di dalam buku ini contoh-contoh aplikasi simbol akan diterapkan pada gerak tari Jawa. Seperti yang diketahui bahwa gerak-gerak tari Jawa sangat rumit, banyak detail gerak dari segmen-segmen tubuh seperti lengan, tangan, leher (kepala) yaitu gerak ukel, tolehan, lalu sikap-sikap jari yang spesifik dan lain sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dipahami bahwa: Labanotation is the scientific methode all forms of movements, ranging from the simplest to the most complex, can be accuratelly written. It is usefulness to dancers is obvious. The system has also been successfully applied to every field in which there is they need to record motions of the human body(Ann Hutchinson. 1977:6). Dapat dipahami bahwa Labanotation sangat memungkinkan untuk menotasikan semua gerak tubuh manusia, gerak sederhana maupun gerak yang rumit / kompleks sekalipun, seperti dijumpai pada gerak-gerak tari Jawa Surakarta. Di dalam buku ini akan dikemukakan tentang simbol-simbol pokok dalam notasi laban sekaligus dibahas pula berbagai simbol-simbol pendukung diaplikasikan dalam pencatatan gerak-gerak tari. Jawa Surakarta. Pemahaman mengenai notasi laban ini sangat penting bagi para peneliti tari, dimana sistem notasi Laban selain sebagai dapat deskripsi gerak juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan analisis. Sistem ini juga sangat penting bagi mahasiswa jurusan tari karena pada prinsipnya hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dengan proses koreografi (karya tari). Dengan pencatatan tari dimaksudkan agar karya tari yang dihasilkan dapat dicatat dan direkonstruksi kembali ketika dibutuhkan. Contoh contoh Notasi Tari Tradisi Jawa gaya Surakarta melalui Labanotation. Bahan gerak tari yang dapat yang akan

digunakan sebagai media aplikasi simbol adalah beberapa motif gerak/sekaran dalam tari

Common questions

Didukung oleh AI

Labanotation has made substantial contributions to both academic and practical fields of dance. Acadically, it serves as a critical tool in ethnocoreology by providing a detailed framework for movement analysis and cross-cultural comparisons . Practically, it facilitates the reconstruction of dances with high fidelity, as demonstrated by its use in recreating historic dance works accurately worldwide . Additionally, its utility in educational settings helps dancers and researchers understand and communicate movement with precision, reinforcing its value as both a scholarly resource and a practical implement for performers and choreographers .

Labanotation was created to address the limitations of traditional dance notation systems, which relied heavily on verbal and localized descriptions that were difficult for wider audiences to understand. The traditional systems utilized terms and phrases specific to particular regions or communities, making them inaccessible to individuals unfamiliar with those conventions . Rudolf Von Laban's system, developed in 1928, used detailed symbols that were universally comprehensible, allowing for precise capture and reconstruction of complex dance movements . It provided a more detailed and scientifically accurate method for recording movements, offering both recording and analytical capabilities . As a result, Labanotation became a universal system for dance notation, endorsed by international dance communities for its comprehensive and precise approach to documenting choreography .

Labanotation and visual recording systems both offer unique benefits for dance documentation. Labanotation provides a detailed, structured method for documenting movements using standardized symbols, enabling precise analysis, reconstruction, and communication of choreography across different cultures and languages . It captures the intricacies of movement, critical for analysis and educational purposes . Conversely, visual recording systems offer immediate accessibility and are user-friendly for capturing live performances. However, visual recordings can lack the detail for analyzing specific aspects of movement and may not effectively communicate choreographic intent to a broader audience unfamiliar with the original context . Thus, Labanotation is superior for analytical and reconstruction purposes, while visual records are more suited to basic archival and communicative uses. Combining both methods can yield a comprehensive overview of a dance work .

Labanotation is renowned for its ability to provide both detailed recording and analytical insights into dance movements. Its strength lies in its symbol system, capable of accurately notating simple to complex movements, addressing the nuances of segmental movements in the body . This versatility makes it applicable not only to Western ballet but also to intricate dance forms like Javanese dance, which involve detailed gestures and body segments . By serving as both a movement recording tool and an analytical framework, Labanotation ensures dances can be documented accurately and reconstructed reliably, facilitating comparative movement analysis across different dance forms .

Labanotation is an effective tool for dancers to comprehend the nuances and complexities of movement due to its detailed symbolic representation of bodily movements. Unlike verbal descriptions that may rely on subjective interpretations, Labanotation provides an objective framework that allows dancers to visualize and interpret each gesture, direction, and dynamic of a movement accurately . This precision aids dancers in dissecting and mastering complex choreographies, particularly in styles involving intricate movements such as Javanese dance, by translating the continuous and spatial nature of dance into clear, discrete symbols . By engaging with the notation, dancers foster a deeper understanding of movement mechanics, enhancing both learning and performance quality .

The widespread adoption of Labanotation in regions with rich traditional dance histories faces several challenges. Firstly, traditional dance regions often rely on descriptive and oral transmission methods, deeply ingrained in their cultural practices, which resist the structured and analytical nature of Labanotation . Moreover, the specialized training required to understand and use Labanotation can be a barrier, especially in regions where resources for such education might be limited . Furthermore, the visual and conceptual shift from narrative-based descriptions to a symbol-based system might be perceived as a dilution of cultural authenticity, complicating acceptance among those deeply rooted in traditional customs . Lastly, the rise in simple visual recording technologies, perceived as more straightforward documentation approaches, can further discourage the adoption of a more complex notational system .

Following its introduction, Labanotation received significant global support, indicated by its adoption by key institutions and its endorsement in international conferences. It gained acceptance in the U.S. and Europe, with various centers like the Dance Notation Bureau in New York, and bodies like The International Council of Kinetography Laban promoting its use . By the mid-20th century, it was established as a standard international system due to its detailed notation and reconstruction capabilities, highlighted by successful performances such as those by Kurt Jooss and others . This widespread institutional backing and its continued refinement underscore its effectiveness and significant acceptance as a comprehensive dance notation system .

Technological advancements significantly enhanced the application of Labanotation by transitioning it from a manual to a computerized system. The development of the Laban Writer program for Macintosh computers between 1984 and 1987 revolutionized dance notation by automating the notation process, which previously required manual effort . This advancement made it easier for choreographers and researchers to produce and share dance scores. Despite these improvements, the rise of visual recording technologies somewhat overshadowed traditional notation systems, due to their ease of use for capturing and reviewing dance performances. However, visual recordings cannot always capture the detailed nuances of movements, and thus the Labanotation retains its importance for detailed analysis and reconstruction of dance .

The International Council of Kinetography Laban (I.C.K.L) agreement in 1959 was pivotal in establishing Labanotation as the international standard for dance notation. This consensus represented a global acknowledgment of the system’s comprehensive capacity to document and analyze dance, harmonizing efforts across continents to adopt a unified approach in dance notation . The council’s endorsement reflected the continued refinement and acceptance of Labanotation since its inception and facilitated its application across diverse cultural contexts, enhancing global dance research and preservation efforts . This milestone also signified a collaborative effort among dance scholars and practitioners to ensure a consistent, meticulous method for recording choreography in ways that transcended regional and stylistic limitations .

Labanotation facilitates the reconstruction of historical dance works by providing a precise, detailed method for recording and interpreting dance movements. This allows for the accurate recreation of choreography even after the original performers or choreographers are unavailable. A notable example includes Kurt Joose's 1939 reconstruction of "The Green Table," a ballet initially choreographed in 1938, demonstrating Labanotation’s capacity to preserve complex works for future performances . Another example is the 1949 reconstruction of "Billy The Kid," where Zachary Solov utilized Labanotation to recreate Balanchine's choreography . Such successful applications illustrate Labanotation’s utility in documenting the comprehensive structure of dance works, ensuring their longevity and adaptability across different performance contexts .

Anda mungkin juga menyukai