Anda di halaman 1dari 8

Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Bahan Pakan Ikan (A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E.

Ridwan)

PEMANFAATAN LIMBAH SAWIT UNTUK BAHAN PAKAN IKAN A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E. Ridwan

Abstrak Dewasa ini permintaan terhadap produksi perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sekitar 4,6% pada tanuh 2003. Disamping itu, adanya wabah flu burung pada unggas pada tahun 2006 menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang cukup aman dikonsumsi. Kenaikan konsumsi ikan oleh masyarakat tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan. Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Disamping itu, bahan baku ini harus mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ekonomis dan tersedia sepanjang waktu. Limbah dan hasil ikutan industri pertanian seperti Bungkil kelapa sawit (BKS) merupakan sumber baku pakan yang cukup banyak tersedia di Indonesia. BKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan dengan berbagai perlakuan agar dapat dimanfaatkan oleh ikan. Ada dua teknik yang diujicoba dalam perekayasaan ini, yaitu fermentasi BKS aplikasi pada ikan nila dengan tiga pelakuan pakan A (30% BKS fermentasi); pakan B (30% BKS); pakan C (30% bungkil kedelai) dan kultur maggot dari BKS aplikasi pada ikan lele dumbo dengan tiga perlakuan pakan I (100% maggot); pakan II (50% maggot + 50% pakan formula lele); pakan III (100% pakan formula lele. Masing-masing perlakuan dihitung nilai Survival Rate (SR), Feed Conversion Radio (FCR), Spesific Growth Rate (SGR) dan persentase pertambahan berat badan ikan (%W). Dari hasil perekayasaan ini di dalam hasil pengujian fermentase BKS pada ikan nila untuk pakan A (SR= 68,8%; FCR= 2,76 ; 7,02% ; %W=138%); pakan B (sr=72,10% ; FCR= 2,19 ; SGR= 7,49% ; %W= 179%); pakan C (SR=77,03% ; FCR= 1,82 ; SGR= 7,83% ; %W= 222%). Sedangkan hasil pengujian maggot pada ikan lele dumbo pakan I (SR= 82,38% ; FCR= 1,62 ; SGR= 18,22% ; %W= 319,89%); pakan II (SR= 77,50% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%); pakan II (SR= 63,70% ; FCR= 1,16 ; SGR= 18,46% ; %W= 335,09%) ; pakan III (SR= 63,70% ; FCR= 1,42 ; SGR= 18,08% ; %W= 261,25%). Pengujian ikan nila yang beri formulasi paka B relatif lebih baik dari pakan C bila dilihat nilai SR, FCR, SGR, %, tetapi masih lebih kecil dari pakan C yang digunakan sebagai kontrol. Namun perekayasaan ini sudah mengindikasi bahwa BKS dapat dijadikan sebagai bahan baku pakan ikan. Pengujian ikan lele dumbo yang diberi pakan II mempunyai FCR lebih baik dibandingkan dengan pakan I dan III. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pakan campuran antara maggot 50% dengan pakan formulasi mempunyai pengaruh yang positif.

PENDAHULUAN Latar Belakang

terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan. Namun permintaan pakan yang cenderung

Dewasa

ini

permintaan

terhadap

produk

semakin tinggi sejalan dengan makin intensifnya kegiatan budidaya, ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya penyediaan bahan baku, terutama tepung ikan. Produksi tepung ikan dunia dalam lima tahun terakhir kecenderungannya tetap, sehingga perlu dicari alternatif penyediaan bahan baku selain tepung ikan. Khususnya untuk di Indonesia, ternyata hampir sebagian besar bahan baku pakan berasal dari impor, yaitu sebesar 70-80%. Terdiri dari tepung

perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia pada tahun 2002-2003 mengalami kenaikan sekitar 4,6%, yaitu dari 21,57 kg/kapita/tahun menjadi 24,67 kg/kapita/tahun. Kenaikan ini berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan

11

Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (11-18)

ikan, bungkil kedelai dan jagung. mencari kemestian. bahan baku lokal

Oleh karenanya merupakan suatu

yaitu dari 17% menjadi 32%.

Penelitian tentang

penggunaan BKS sebagai pakan telah dilakukan oleh Ng dan Chen (2002) pada ikan lele, hasilnya pemberian BKS sebanyak 20% dalam pakan tidak berpengaruh negatif pada pertumbuhan. Namun pemberian 40% dengan ditambahakan asam amino Lmethionin 1,2% menjadikan lambat pertumbuhannya. Hal ini mengindikasikan bahwa methionin bukan satu-satunya limiting factor asam amino esensial dalam BKS, namun perlu ada kombinasi dengan asam amino esensial lainnya. Pada tahun 2005, BBAT Sukabumi telah melakukan rekayasa kultur magot dari BKS, hasilnya positif magot dapat diproduksi dengan menggunakan media kultur BKS yang sudah difermentasi. menyukai magot sebagai sumber makanan. Dari Pada ujicoba pendahuluan hampir semua ikan air tawar benih ikan baung yang diberi pakan magot, cacing rambut dan pakan komersial menunjukkan pengaruh yang sama. Pada ikan lele dan ikan patin kombinasi pemberian pakan buatan komersial dengan magot menunjukkan pertumbuhan dan efisiensi pakan yang terbaik dibandingkan dengan pemberian magot atau pakan buatan komersial saja. Berdasarkan dari permasalahan dan hasil ujicoba sebelumnya, maka akan dilakukan perekayasaan pemberian pakan BKS dan BKS fermentasi pada pembesaran ikan nila serta pemberian magot sebagai dalam usaha pembesaran ikan lele dumbo. Dari hasil rekayasa ini diharapkan akan diperoleh pakan yang murah guna mendukung usaha budidaya ikan nila dan lele dumbo. Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan pakan murah dari bahan baku limbah sawit guna mendukung dalam usaha pembesaran ikan nila dan ikan lele dumbo.

Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Disamping itu, bahan baku ini harus mudah diperoleh, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ekonomis dan tersedia sepanjang waktu. Limbah dan hasil ikutan industri pertanian adalah sumber baku pakan yang cukup banyak tersedia. Bungkil kelapa sawit (BKS), merupakan hasil ikutan industri minyak kelapa sawit, yang telah umum dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan, namun bahan pakan tersebut mempunyai faktor pembatas, yaitu kandungan serat yang cukup tinggi dan kualitas protein yang kurang baik, sehingga perlu diolah agar lebih bermanfaat bagi pembudidaya ikan. Fermentasi oleh jamur dan biokonversi BKS menjadi magot, merupakan salah satu pengolahan bahan pakan tersebut. memungkinkan terjadinya Aktivitas dari jamur perombakan terhadap

komponen bahan yang sulit dicerna, sehingga terjadi peningkatan nilai manfaat dari zat-zat makanan produk pengolahan dibandingkan bahan asalnya. Demikian pula halnya dengan biokonversi menjadi produk biologis, yang merupakan sumber protein hewani. Trichoderma sp adalah jamur yang dapat melakukan proses perombakan pada bahan yang berserat tinggi. Jamur ini mempunyai sifat selulolitik yaitu merombak selulosa menjadi sellubiosa yang akhirnya menjadi glukosa. Serat kasar BKS dapat diuraikan oleh jamur Trichoderma sp, hal ini akan merubah susunan ikatan zat-zat makanan BKS, sehingga kemungkinan akan mudah dicerna oleh ikan. Berdasarkan hasil penelitian Ng et al. (2004),

BKS yang difermentasi oleh Trichoderma koningii, menghasilkan peningkatan kandungan protein kasar,
12

Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Bahan Pakan Ikan (A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E. Ridwan)

Target Diperoleh teknologi tepat guna dalam

Isi perut tersebut disaring, diambil cairannya kemudian dicampur dengan bungkil sawit. cairan bibit fermentasi sekitar 10-30%. Jumlah Campuran

penyediaan pakan ikan dengan menggunakan bahan baku lokal, sehingga tersedia pakan yang mudah didapat, harganya murah dan kontinyuitas terjamin.

bahan tersebut kemudian ditambahkan air agar proses pengadukannya merata dan selanjutnya dimasukkan dalam tong plastik. sekam padi. Untuk mempertahankan suhu media, lingkungan disekitarnya dilengkapi dengan

METODOLOGI Waktu dan Tempat Waktu dan tempat pelaksanaan pada bulan Januari-Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Bahan dan Metode Limbah Sawit Limbah sawit yang dimaksud adalah bungkil kelapa sawit (BKS) yang merupakan hasil ikutan atau limbah buah dari dan pembutan yang minyak digunakan kelapa dalam sawit. proses Komposisi kimianya sangat bergantung pada keadaan biji pengolahan minyak kelapa sawit. BKS ini

Selama proses fermentasi dilakukan

pengecekan terhadap suhu dan pH media yang dilakukan pada awal, pekanan dan akhir proses fermentasi. minggu. Kultur Magot Magot merupakan salah proses biokonversi, dari bahan organik nabati dirubah menjadi organik hewani dengan kandungan protein cukup tinggi. Magot yang dibudidaya berasal dari larva insekta black solder, Hermetia illucens. Insekta ini banyak ditemukan dari daerah tropis hingga subtropis. Ukuran dewasa hidup ditanaman rerumputan dan sari bunga sebagai sumber makanannya. BKS fermentasi disimpan dalam wadah jolang, fibre glas atau bak semen, ditebar secara merata. Dalam tempo seminggu biasanya sudah ditemukan larva magot. Larva tersebut bisa dipelihara dalam wadah sebelumnya atau dikumpulkan untuk dipelihara dalam wadah lain, dengan setiap hari diberi makanan berupa BKS fermentasi. Magot usia 10-14 hari sudah bisa dipanen. dilangsung Dari kegiatan ini diharapkan tepung. Ikan Uji Ikan uji yang digunakan untuk mencoba pakan dengan munggunakan BKS dan BKS fermentasi adalah ikan nila. Ikan ini berasal dari ikan yang Sedangkan untuk menguji
13

Lama proses fermentasi ini berkisar 3-4

merupakan salah satu yang biasa digunakan dalam ransum untuk ternak, seperti sapi, kuda dan babi. BKS ini mudah menjadi tengik, terlebih apabila masih mengandung banyak lemak. Secara kimiawi BKS ini memiliki kandungan protein berkisar 17%, kandungan lisin dan methionin relatif rendah dibandingkan dengan sumber protein nabati lainnya, serat kasar tinggi dan kemungkinan sulit dicerna oleh ikan. Proses Fermentasi Untuk meningkatkan kualitas BKS dilakukan proses fermentasi. kandungan seratnya dapat dirombak ke dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat dicerna oleh ikan, kandungan proteinnya dapat meningkat. Dalam proses fermentasi ini akan menggunakan sumber mikroba dan enzim fermentasi dari isi perut hewan ruminansia, yaitu dari isi perut domba atau sapi.

Caranya dengan cara memisahkan ke ikan sebagai pakan,

magot dari substrat, kemudian dicuci. Magot ini bisa diberikan disimpan dalam freezer atau dibuatkan dalam bentuk

dikembangkan di masyarakat. Ukuran awal ikan nila berkisar 20-50 g/ekor.

Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (11-18)

magot sebagai pakan digunakan ikan lele dumbo, dengan ukuran awal 10-20 g/ekor. Asal benih untuk ikan nila dan lele dumbo berasal dari para pembuidaya yang berkembang di masyarakat, dengan maksud agar secara genetis tidak ada perbedaan antara ikan uji dengan ikan yang dikembangan oleh para pembudidaya sehingga hanya faktor pakan saja yang jadi bahan kajian. Formula Pakan Untuk Ikan Nila dan Proses Pengujiannya Ada tiga formula pakan yang akan diuji pada pembudidayaan ikan nila, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Formula Pakan untuk Ikan Nila
BAHAN BAKU PERLAKUAN PAKAN (%) A (BKSf) Tepung ikan Tepung kedelai Tepung BKSf Tepung BKS Tepung dedak Tapioka/sagu Minyak ikan Minyak sawit Vitamin mix Mineral mix Harga per kg (Rp) 20 0 30 0 22,5 15 2 4 2,5 4 3190,B (BKS) 20 0 0 30 22,5 15 2 4 2,5 4 3160,C (BK) 20 30 0 0 22,5 15 2 4 2,5 4 4240,-

Menyiapkan wadah berupa jaring ukuran (6 x 6 x 3)m sebanyak 6 buah. Tiap wadah diisi ikan nila hitam sebanyak 50 kg dengan jumlah ekor kurang lebih 1.500-2.000 ekor. Untuk melihat bobot dan panjang standar individu ikan pada saat penebaran, dilakukan pengukuran dan penimbangan pada setiap wadahnya dengan cara diambil sampel sebanyak 50 ekor. Jumlah pakan diberikan setiap hari sebanyak 53% dengan frekuensi pemberian 3 kali Pemeliharaan dilakukan selama 2-3 bulan. Pada akhir pengujian dilakukan pengukuran terhadap bobot ikan setiap wadah dan penghitungan jumlah ekor, serta pada setiap wadah diambil 50 ekor untuk diukur panjang dan ditimbang bobot individu. Jumlah pakan selama pengujian dicatat. Pemberian Magot Pada Ikan Lele dan Proses Pengujiannya Ada tiga jenis pakan yang akan dilakukan pengujian pada pembesaran ikan lele dumbo, yaitu : magot 100% (A); magot 50% dan pakan formula lele 50% (B); dan pakan formula lele 100% (C). Setiap perlakuan akan dilakukan pengulangan sebanyak dua kali. Jumlah pemberian pakan setiap harinya

sebanyak 10-3%, dengan frekuensi pemberian 3 kali, yaitu pada pkl 08.00, 11.30 dan 16.00. Penyesuaian jumlah pakan dilakukan setiap sampling sebanyak 50 ekor. 1 minggu sekali

BKSf = Bungkil kelapa sawit fermentasi BKS = Bungkil kelapa sawit BK = Bungkil Kedelai

dengan menimbang ikan setiap wadahnya secara

Prosedur pembuatan pakan sebagai berikut : Bahan pakan ditimbang sesuai dengan formula, kemudian diproses dengan menggunakan mesin untuk dijadikan pelet Pakan yang sudah berbentuk pelet dikemas agar tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi. Pakan selanjutnya dilakukan analisa proksimat di laboratorium Pengujian pakan dilakukan di kolam keramba jaring apung Cirata, dengan prosedur sebagai berikut:

Wadah pemeliharaan digunakan bak terpal plastik berukuran 7x2,5x0,5 m sebanyak 6 buah. Tiap wadah ditebar benih lele dumbo sebanyak kurang lebih 20 kg dengan jumlah sekitar 2000 ekor. Untuk menghindari adanya kanibalisme oleh ikan lele yang memiliki pertumbuhan cepat sehingga ukurannya lebih besar, maka pada umur 1 bulan dilakukan pengecekan dan ukurannya yang lebih besar tersebut ditangkap, dihitung dan ditimbang serta dicatat pada setiap wadahnya.

14

Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Bahan Pakan Ikan (A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E. Ridwan)

Lama pemeliharaan hingga mencapai ukuran konsumsi diperkirakan 75 hari. Pada akhir pemeliharaan dilakukan pemanenan total, semua ikan pada setiap wadah ditimbang dan dihitung, serta diambil 50 ekor untuk melihat bobot dan panjang individu. Parameter Uji Dalam kegiatan ini sebagai parameter uji adalah :Bobot badan ikan akan diamati setiap pekan. Sampling dilakukan terhadap 50 ekor ikan per kolam. Persentase penambahan dihitung dengan rumus:
Wt1 : berat badan ikan di awal Wt2 : berat badan ikan di akhir.

pemantauan kualitas air pada media pemeliharaan ikan nila dan lele dumbo disajikan pada Tabel 5 dan 6. Rekayasa pemberian pakan dengan

menggunakan bahan baku lokal berbasis limbah bungkil sawit pada pembesaran ikan nila di KJA, menunjukkan hasil sebagai berikut: ikan nila yang diberi pakan pelet dengan bahan baku basis bungkil kelapa sawit (BKS) relatif lebih baik dibandingkan ikan nila yang diberi pelet bahan baku berbasis bungkil kelapa sawit fermentasi (BKSf), baik dari segi derajat kelangsungan hidup, rasio konvesi pakan, laju pertumbuhan spsesifik dan persentase penambahan bobot total. Namun apabila dibandingkan dengan kontrol yaitu pakan dengan berbasis bahan baku bungkil kedelai (BK) kedua jenis pakan jauh lebih rendah (Tabel 2).

berat

badan

ikan

((Wt2 Wt1) / Wt1) X 100%

Spesific growth rate (%) dihitung dengan rumus: SGR = (log berat badan akhir log berat badan awal/lama hari pemeliharaan x 100) Survival rate (SR) dihitung dengan rumus: SR = N/No x 100%
N : jumlah ikan pada akhir uji No : jumlah pada awal uji

Perekayasaan ini sudah mengindikasikan bahwa limbah bungkil sawit dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk untuk pakan ikan. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pertumbuhan dan memberikan FCR sebesar 2,19 pada ikan nila yang diberi pakan BKS. Selain itu harga pakan jauh lebih murah Harga pakan per kg untuk dibanding dengan pakan dengan menggunakan bahan baku bungkil kedelai. BK Rp 4240,-. Dari kandungan hasil analisis proksimat sawit (Tabel 3) pakan BKS sebesar Rp 3160,-, BKSf Rp 3190,- dan

Feed conversion ratio (FCR) : Ft1,2 / (Wt2 Wt1) Ft1,2 adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan Data kualitas air : Sebagai data tambahan, kualitas air selama pemeliharaan ikan akan dicatat, yaitu pada awal, pertengahan dan akhir. Parameter yang diamati adalah suhu, oksigen, pH, CO2, Alkalinitas dan NH3.

protein 17,45%,

bungkil bungkil

fermentasi 43,5%.

menunjukkan sebesar 22,76%, bungkil sawit tanpa HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengujian pakan dengan formula pakan dari limbah sawit pada ikan nila yang dipelihara dalam keramba jaring apung (KJA) selama 60 hari disajikan pada Tabel 2. Hasil analisa proksimat pada limbah sawit, limbah sawit fermentasi dan pakan dalam bentuk pelet disajikan pada Tabel 3. Hasil pengujian pemberian magot dan pelet pada ikan lele dumbo disajikan pada Tabel 4 dan hasil fermentasi kedelai Sedangkan kandungan protein sudah dlalam bnetuk peletnya adalah sebagai berikut : BKSf 23,85%, BKS 22,18% dan BK 29,34%. Dari kandungan protein ini terlihat bahwa bungkil kedelai demikian pula halnya pelet yang berbasis bungkil kedelai merupakan yang tertinggi sehingga wajar akan memberikan pertumbuhan dan FCR yang paling baik terhadap pertumbuhan ikan nila, karena yang menopang untuk

15

Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (11-18)

pertumbuhan sangat bergantung pada kandungan protein pakan. BKSfnya Bungkil sawit fermentasi dan proteinnya lebih baik kandungan

pakan BKS. dalam BKSf

Hal ini dimungkinkan karena protein walaupun tinggi namun sudah

terhidrolisis pada proses fermentasi sehingga protein yang tinggi ini tidak cukup signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan, karena proteinnya kemungkinan kurang tercerna oleh ikan.

dibandingkan dengan bungkil sawit tanpa fermentasi dan BKS, namun terhadap pertumbuhan ikan nila ternyata yang lebih baik adalah ikan nila yang diberi

Tabel 2. Hasil Pengujian Pakan Limbah Sawit pada Ikan Nila di KJA selama 60 hari
TANAM JENIS PAKAN BOBOT (Kg) 50 50 50 50 50 50 50 50 50 JUMLAH (ekor) 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 PANEN BOBOT (Kg) 140 139 139.5 176 146 161 105 133 119 JUMLAH (ekor) 1190 973 1081.5 1161 1150 1155.5 777 1287 1032 BOBOT PAKAN (Kg) 197.5 195 196.25 210 190 200 175 195 185 SR (%) FCR SGR (%) %W

BKS1 BKS2 BS rata-rata BK1 BK2 BK rata-rata BKSf1 BKSf2 BSf rata-rata

79.33 64.87 72.10 77.40 76.67 77.03 51.80 85.80 68.80

2.19 2.19 2.19 1.67 1.98 1.82 3.18 2.35 2.76

7.50 7.48 0.0749 8.06 7.61 0.0783 6.68 7.36 0.0702

180.00 178.00 179.00 252.00 192.00 222.00 110.00 166.00 138.00

BKSf = BKS = BK =

Bungkil kelapa sawit fermentasi Bungkil kelapa sawit Bungkil Kedelai

SR FCR SGR

= Survival Rate = Feed Consumption Ratio = Specific Growth Rate

Tabel 3. Hasil Analisa Proksimat Limbah Bungkil Sawit, Magot dan Pelet untuk Kegiatan Perekayasaan
BAHAN BAKU/PELET AIR Bungkil sawit fermentasi Pelet BKSf Bungkil sawit Pelet BKS Pelet BK Tepung Magot Dalam bobot kering (kandungan air 0%) Bungkil sawit fermentasi Pelet BKSf Bungkil sawit Pelet BKS Pelet BK Tepung Magot 0 0 0 0 0 0 10.30 26.88 8.02 10.10 15.19 16.09 22.76 23.85 17.45 22.18 29.34 45.01 2.28 13.35 21.55 9.13 9.80 16.78 21.04 9.36 9.74 8.53 10.10 21.97 43.62 26.56 43.24 50.06 35.57 0.15 1.13 12.01 8.75 3.25 8.96 11.10 ABU 10.18 23.66 7.32 9.77 13.83 14.30 KANDUNGAN PROKSIMAT (%) PROTEIN 22,51 20,99 15.93 21.46 26.71 40.01 LEMAK 2.25 11.75 19.66 8.83 8.92 14.92 SERAT 20.80 8.24 8.89 8.25 9.20 19.53 BETN 43.13 23.35 39.45 48.44 32.38 0.14

16

Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Bahan Pakan Ikan (A. Hadadi, Herry, Setyorini, A.Surahman, E. Ridwan)

Tabel 4. Pemberian Magot dan Pakan Buatan pada Ikan Lele Dumbo selama 2 Bulan (60 Hari) dalam Kolam Terpal Plastik (20 m2)
TANAM MINGGU GRAM Magot 1 Magot 2 rata-rata M+P1 M+P2 rata-rata Pelet 1 Pelet 2 rata-rata 17100 18000 17550 19000 19500 19250 20000 20000 20000 EKOR 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 GRAM 77100 70000 73550 83000 84500 83750 62200 82300 72250 EKOR 1695 1600 1647.5 1500 1600 1550 1047 1501 1274 PANEN PAKAN (G) MAGGOT (GRAM) 90600 90100 90350 37500 37050 37275 0 0 0 PELLET (GRAM) 0 0 0 37500 37050 37275 70850 72250 71550 SR (%) 84.75 80.00 82.38 75.00 80.00 77.50 52.35 75.05 63.70 FCR SGR (%) 18.34 18.10 18.22 18.44 18.47 18.46 17.75 18.40 18.08 %W

1.51 1.73 1.62 1.17 1.14 1.16 1.68 1.16 1.42

350.88 288.89 319.89 336.84 333.33 335.09 211.00 311.50 261.25

Keterangan : M + P = Pakan dalam bentuk magot dan pelet (50%)

Hasil perekayasaan ini apabila dibandingkan dengan dengan hasil penelitian Ng et al. hasilnya belum bisa menyamai. sp yang dilakukan oleh Ng et al. menjadi 32%. (2004) Dari hasil proses (2004), mampu

Pengaruh positif pemberian kombinasi magot dan pelet terhadap pertumbuhan dan FCR pada ikan lele dumbo, diduga oleh peran enzim pencernaan yang terdapat dalam magot sehingg protein pakan akan semakin mudah dicerna dan diserap oleh tubuh ikan yang selanjutnya akan berdampak terhadap cepatnya pada pertumbuhan dan pakan akan semakin efisien. Kemungkinan lain akan semakin lengkapnya komposisi asam amino esensial antara yang ada dalam pelet dengan magot sehingga saling sinergi sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan dan FCR. Hasil pengukuran kualitas air (Tabel 5 dan 6) di KJA untuk pemeliharaan ikan nila dan lele dumbo, mengindikasikan bahwa parameter kualitas air di KJA terutama pada bagian permukaan airnya masih dalam batas toleransi untuk pemeliharaan ikan nila. Adapun kualitas air pada pemeliharaan ikan lele dumbo mengindikasikan bahwa ikan lele dumbo mempunyai toleransi cukup tinggi pada perairan walaupun kandungan oksigen rendah dan kandungan amoniak tinggi ternyata bisa tumbuh dan hidup normal.

fermentasi bungkil sawit menggunakan Trichoderma meningkatkan kandungan protein kasar dari 17% Perbedaan ini kemungkinan dari proses fermentasi yang dilakukan oleh BBPBAT masih belum sempurna, sehingga untuk kedepan perlu dilakukan kajian dalam proses fermentasi bungkil sawit sehingga diperoleh prosedur yang standar dengan hasil yang maksimal. Dari hasil perekayasaan pemberian magot, dibandingkan dengan pelet dan campuran magot dan pelet (Tabel 4) menunjukkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan campuran magot dan pelet, masingmasing 50% jauh lebih baik pertumbuhan dan FCR dibanding dengan magot atau pelet saja. Selanjutnya diikuti oleh ikan yang diberi pelet dibanding dengan magot saja. Adapun pelet yang digunakan adalah pakan komersial dengan kandungan protein diatas 35%, yaitu pakan udang windu.

17

Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (11-18)

Tabel 5. Data Kualitas Air selama Pemeliharaan Ikan Nila di KJA


PARAMETER WAKTU PENGAMATAN Awal :(d=0 m) (d= 6m) Akhir(d=0 m) (d= 6m) Baku mutu SUHU ( C ) 29 29 27,5 27 25-30 PH O2 (mg/l) 6,5 7 7 7 6,5-8,5 4,2 2,52 6,7 1,66 >4 CO2 (mg/l) 26,07 21,73 20,07 21,73 < 12 ALKALINITAS (mg/l) 64,84 96,06 67,05 86,45 50-300 NH3 (mg/l) 0,12 0,21 0,11 0,14 <1 NO2 (mg/l) 0,006 0,027 0,019 0,022 < 0,06

Keterangan : d = kedalaman

Tabel 6. Hasil Pengukuran Kualitas Air dalam Wadah Uji Pakan Lele Dumbo dalam Kolam Terpal Plastik
PARAMETER JAM STASIUN SUHU (C ) 25.4 08.00 Bak terpal 24.8 24.0 Rataan Baku mutu 24.73 25-30 PH 7.50 7.17 6.7 7,12 6,5-8,5 O2 (mg/l) 4.15 1.91 0.7 2,25 >4 CO2 (mg/l) 24.60 13.70 11.0 16,43 < 12 ALK (mg/l) 112.50 81.04 49,79 81.11 50-300 NH3 (mg/l) 0.96 0.70 2.6 1.42 <1 NO2 (mg/l) 0.174 0.104 0.2 0,159 < 0,06

KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai berikut : Pakan dengan bahan baku limbah sawit dapat digunakan untuk pembesaran ikan nila, walaupun dari segi efektifitasnya masih kalah dibandingkan dengan pakan dengan menggunakan basis bahan baku bungkil kedelai. Namun dari segi harga pakan ini jauh lebih murah sehingga dapat dijadikan sebagai pakan alternatif. Proses fermentasi limbah bungkil sawit mampu meningkatkan kandungan protein kasar dari 17,45% menjadi 22,76%. Namun peningkatan protein ini tidak menjadi otomatis berdampak terhadap memcu pertumbuhan pada ikan nila yang diberi pakan dengan bahan baku bungkil sawit fermentasi. Pemberian kombinasi magot dan pelet masingmasing 50% memberikan pengaruh yang terbaik pada pertumbuhan dan rasio konversi pakan

pada pembesaran ikan dipelihara selama 2 bulan.

lele

dumbo

yang

Sebagai saran adalah sebagai berikut : Perlu dilakukan perekayasaan guna sempurnanya proses fermentasi limbah bungkil sawit sehingga akan diperoleh kandungan protein yang maksimal dan bahan tersebut dapat dicerna oleh ikan. Untuk pembesaran ikan lele dumbo agar diperoleh pertumbuhan dan FCR yang maksimal disarankan diberi pakan kombinasi antara pelet dan magot masing-masing 50%.

DAFTAR PUSTAKA
Ng, W.K. and Chen, M.L. 2002. Replacement of soybean meal with palm kernel meal in practical diets for hybrids Asian-Africancatfish. Aquaculture 12: 67-76 Ng et al. 2004. Researching the use of palm kernel cake in aquaculture feeds. Fish Nutrition Laboratory, Universiti Sains Malaysia. Penang.

18