Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

I. II.

JUDUL TUJUAN
1.

: Pembentukan dan Karakteristik Urin :

Mempelajari proses pembentukan urin benda padat dalam urin

2. Mengamati karakteristik urin berdasar volume, berat jenis dan jumlah

III.

DASAR TEORI Ekskresi merupakan eliminasi pengeluaran zat buangan hasil metabolisme dari tubuh makhluk hidup,jika zat ini dibiarkan terakumulasi dalam tubuh,maka akan mengacaukan homeostatis. Ekskresi mempunyai peranan penting dalam mengeluarkan dan membuang hasil sampingan dari metabolisme, mencegah terjadinya gangguan aktifitas metabolisme dalam tubuh dengan cara mengekskresikan zat buangan, mengendalikan kandungan ion dalam tubuh (Kartolo,S. 1993:257). Salah satu bentuk ekskret (sisa metabolisme tubuh) adalah urin. Urine atau air seni atau air kencing merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urineasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urine sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Ada 2 pendapat mengenai mekanisme pembentukan urine,yaitu: 1. Menurut Ludwig (1844) Urine terjadi karena adanya proses filtrasi pada glomerulus dan fungsi dari tubulus seminiferus adalah untuk memekatkan urine 2. Menurut Chusni Pendapat Chusni merupakan modifikasi dari teori Ludwig. Ia mengatakan bahwa terjadi filtrasi plasma melalui glomerulus yang

menghasilkan filtrat berupa air dan bahan non koloid. Teori ini di kenal dengan teori reabsorbsi dan sekresi (Shanti,L. 2000:87). Proses yang berlangsung pada pembentukan urin yaitu: a. Filtrasi Antara darah di dalam kapiler dan urine di dalam ruangan antara dua lembaran kapsula terdapat endotelium yang berlubang,membran basalis yang tipis dan epitelium antara lanjutan dari sel-sel bercelah. Dengan demikian darah harus difiltrasi melalui membran basalis. b. Sintesa Sintesa berlangsung di dalam sel-sel epitelium tubulus kontortus proksimal. Sebagian hasil metabolisme terjadi H2O dan CO2 dalam epitelium tubulus kontortus proksimal dengan bantuan enzim anhidrase H2CO3 yang kemudian menjadi H+ dan HCO3- .Ion ion H+ keluar dari sel dan masuk ke dalam rongga tubulus. Di dalam sel epitelium tubulus kontortus distal disebut juga NH3 yang berasal dari glutamin di bawah pengaruh enzim glutaminase. Reabsorbsi NaHCO3 yang ada dalam filtrat di pecah menjadi Na+ dan HCO3.Ion Na+ masuk ke dalam epitelium dan bersenyawa dengan HCO3yang ada di dalam sel untuk menjadi Natrium Bikarbonat. Sekresi Sel-sel epitelium melepas H+, NH2+ dan K+ yang dinamakan sebagai proses sekresi yang sebagai filtrat, steroid, glukoloid dan asam 5 hydroxial asetat yang biasanya dihasilkan dalam tubuh. Dengan demikian di dalam urine yang dikeluarkan terdapat Na, Kcl, Uteum, Kreatin, Asam urat, NH2, Fosfat dan berbagai sulfat etherus, steroid, glukoloid, asam 5 hydroxial asetat ( Slamet Santosa,1996:159).

c.

d.

Karakteristik Urine Dalam keadaan normal, urin memiliki karakter sebagai berikut: a. Berbau pesing b. Volume : pada orang dewasa 600-2500 ml/hari, tergantung air yang masuk, suhu lingkungan, makanan, keadaan fisik dan mental.

c. Warna : jernih, kuning pucat sampai kuning, juga tergantung volumenya.

Zat-zat warna yang terdapat di dalam urin adalah urokhrom, urobilin (menyebabkan warna kekuningan) dan hematoporfirin. Dalam keadaan normal, warna urin pagi (yang diambil sesaat setelah bangun pagi) sedikit lebih gelap dibanding urine di waktu lainnya. Perubahan warna urin dapat terjadi karena beberapa hal. d. pH normal urin : 5,0 - 6,0 (urine pagi) dan 4,5 - 8,0 (urin sewaktu-waktu) Reaksi : bersifat asam dengan pH kira-kira 6,0 (4,7-8,0). Pada asidosis, reaksi sangat asam dan pada alkalosis bersifat basa, juga tergantung makanan yang masuk. Bila urin dibiarkan, maka reaksi akan menjadi basis karena perubahan urea menjadi amonia. (http://www.scribd.com/doc/45916065/urine-tes). e. Berat jenis : berkisar 1,003-1,030 g/mL, tergantung pada kadar solute di dalamnya atau zat terlarut yang terbawa dalam urin. Berat jenis zat plasma adalah 0,10. Bila ginjal mengencerkan karena sesudah minum air,maka BJ nya kurang dari 0,10. Bila ginjal memerlukan pemekatan urin, maka BJ di atas 0,10 ( Evelyn.1985:249). Komposisi urine abnormal: a. Protein
b. c. d. e.

Glukosa Pigmen empedu Benda-benda keton Darah

Faktor yang Mempengaruhi Volume Urine


Kekentalan cairan tubuh Konsentrasi air dalam plasma meningkat, ADH tidak disekresikan oleh hypophyse, volume air meningkat. Udara dingin Rangsang dingin, penciutan pembuluh darah kulit, warna kulit pucat, keringat berkurang, volume dan tekanan darah naik, GFR naik, ADH menurun, renin menurun, volume urine meningkat. Obat-obatan yang memperbanyak pengeluaran urine.

Obat, menghambat reabsobsi NaCL acendens lengkung Henle dan tubuli distalis tanpa diikuti molekul urine, urine banyak. Alkohol, merintangi sekresi ADH Kopi, obat asma, obat jantung, meningkatkan kardiakoutput, GFR naik, volume urine meningkat Stress psikis Tekanan darah meningkat, GFR naik, volume darah meningkat

(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/19590401198303 2-SOESI ASIAH SOESILAWATY/Media Pembelajaran Anfisman/SISTEM_URINEARIA/2. URINE.pdf) IV. ALAT DAN BAHAN ALAT Gelas ukur Urinometer Gelas beker Botol air BAHAN 1 buah 2 buah 3 buah 3 buah Air putih Air garam Air soda Kertas pH Urine Tissue Probandus 450 ml 200 ml 100 ml 1 lembar Secukupnya secukupnya 3 orang

V.

CARA KERJA
1. 2. 3. 4. 5.

Menyiapkan 3 bekerglass masing-masing berisi 200 ml kuades, 200 ml air karbonasi dan 200 ml air garam Menyiapkan 3 orang sebagai probandus dan tiap probandus minum masing masing satu jenis air Mencatat waktu yang diperlukan probandus dari saat minum cairan sampai dengan mengeluarkan urin Menampung urin yang keluar, mencatat volumenya Menghitung berat jenis urin menggunakan urinometer, caranya : memasukkan urin dalam tabung urinometer hingga alat terapung, menghitung strip yang terapung pada urinometer, memasukkan rumus perhitungan Bj urin =1+ ( jumlah strip terapung x 0,002)

6. 7. 8.

Menghitung jumlah benda padat dalam urin (dua angka terakhir dari Bj x 2,65 gr/L) Menghitung pH urin dengan kertas pH Mencatat data yang didapat dalam tabel hasil percobaan

VI. DATA PENGAMATAN No Jenis Waktu Volume Minuman (jam) Awal (ml) 1. Air Putih 4 450 2. Air Garam 8 200 3. Air Soda 8 100 VII.

Volume Akhir (ml) 472 210 108

pH

BJ

BP

7 6 8

1,008 1,048 1,02

21,2 181,132 5,3

PEMBAHASAN Pada kegiatan praktikum ini, bertujuan untuk mempelajari proses terbentuknya urin dan mengamati karakteristik urin berdasarkan volume, berat jenis, pH dan jumlah benda padat yang terdapat di dalam urin. Pada praktikum kali ini digunakan 3 jenis air yang digunakan sebagai sumber urine, yaitu air putih, air soda, dan air garam, kemudian membandingkan ketiga jenis urin tersebut dengan menggunakan perbandingan empat karakteristik yang diamati, yaitu volume, BJ, pH dan jumlah BP. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan analisis sebagai berikut:

A. ANALISA KUANTITATIF 1. Probandus 1, minum 450 ml air putih Waktu V. awal V. akhir pH BJ

: 4 jam = 450 ml = 200 ml =7

Jumlah strip yang terapung = 2 BJ = 1 + ( jumlah strip yg terapung x 0,002 x 2 ) = 1 + ( 2x0,002x2) = 1 + 0,008 = 1,008 BP = 2 angka terakhir dari BJ x 2,65 gr/L

= 8 x 2,65 gr/L = 21,20 gr/L 2. Probandus 2, minum 200 ml air garam Waktu : 8 jam V.awal = 200 ml V.akhir = 210 ml pH =6 BJ Jumlah strip yang terapung = 12 = 1 + ( jumlah strip yg terapung x 0,002 x 2 ) = 1 + ( 12x0,002x2) = 1 + 0,0048 = 1,048 BP = 2 angka terakhir dari BJ x 2,65 gr/L = 48 x 2,65 gr/L = 181,132gr/L 3. Probandus 3, minum 100 ml air soda Waktu : 8 jam V.awal = 100 ml V.akhir = 108 ml
pH BJ

BJ

=8

Jumlah strip yang terapung = 5 BJ = 1 + ( jumlah strip yg terapung x 0,002 x 2 ) = 1 + ( 5x0,002x2) = 1 + 0,020 = 1,02 BP = 2 angka terakhir dari BJ x 2,65 gr/L = 2 x 2,65 gr/L = 4,3 gr/L

B. ANALISA KUALITATIF

Selain keempat karakteristik di atas yang telah dihitung secara kuantitatif dan juga di hitung waktu antara waktu saat meminum air

dan saat mengeluarkan urin,dapat di analisa karrakteristik masingmasing urine yang di hasilkan adalah: 1. Probandus I ( meminum air putih ) Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa probandus yang meminum air putih 450 ml. Kemudian setelah tidur selama 4 jam, sisa metabolisme berupa urin yang dikeluarkan adalah sebanyak 472 ml. Dari data tersebut diketahui ternyata urine yang dikeluarkan probandus lebih banyak dibandingkan dengan jumlah volume air putih yang diminum (air yang diminum 450 ml dan urine yang dihasilkan 472 ml ). Seharusnya urine yang dikeluarkan lebih sedikit karena terjadi sekresi zat. Namun, hal tersebut dapat terjadi karena mungkin sebelum diberi perlakuan, probandus selama satu hari sudah mengkonsumsi makanan atau minuman yang banyak dan belum di ekskresikan sepenuhnya. Sehingga mengakibatkan peningkatan jumlah urine yang dikeluarkan setelah probandus minum air putih dan tidur selama 4 jam. Setelah dilakukan pengukuran dan perhitungan berat jenis, di dapatkan berat jenis urin sebesar 1,008 dan pH sebesar 7, sehingga urin probandus dapat dikatakan normal karena urin yang normal memiliki BJ antara 1,003 1,040 dan pH 6. Julah benda padat pada urine probandus yang meminum air putih adalah 21,2 gr/L. Angka ini diperoleh dari perkalian dua angka terakhir dari BJ denga 2,65 gr/L. Di mana BJ yang terukur adalah 1,008 sehingga kadar benda padat yang dapat di ukur adalah 8 x 2,65 gr/L = 21,2 gr/L Jumlah benda padat dalam urin selain dipengaruhi oleh BJ juga dipengaruhi oleh lamanya pengosongan vesica urinaria. Semakin lama waktu pengosongan,maka pemisahan zat padat dengan pelarutnya lebih terperinci,terutama zat-zat padat yang dikeluarkan semakin banyak. pH urine dari probandus yang minum air putih ini sebanyak 7. Berarti urin probandus belum normal,karena uri normal pHnya 5-6. Komposisi urin yang dikeluarkan oleh probandus biasanya mengandung Na,K,Q,Ureum,Creatin.Asam

urat,NH3 ,Fosfat berbagai sulfat,steroid,glukosa,hydroxidol asetat dsb. 2. Probandus II ( meminum air garam ) Probandus yang meminum air garam sebanyak 100 ml, setelah tidur atau tidak beraktivitas selama 8 jam, mengekskresikan urine sebanyak 108 ml. Ternyata volume urine yang dikeluarkan lebih banyak dari air garam yang di minum. Padahal seharusnya volume urine yang dikeluarkan lebih sedikit dari air yang diminum sebelumnya karena adanya proses penyerapan zat oleh tubuh yaitu NaCl diserap oleh tubuh untuk metabolisme. Perbedaan ini dapat terjadi dimungkinkan karena sebelum melakukan percobaan ini, probandus selama seharian telah banyak mengkonsumsi banyak makanan dan minuman dan belum diekskresikan sepenuhnya, sehingga terjadi penambahan zat yang diekskresikan setelah probandus melakukan percobaan, akibatnya urine yang dikeluarkan lebih banyak daripada air garam yang diminum sebelum tidur selama 8 jam. Di dalam tubuh,air garam tersebut (NaCl) akan bereaksi: NaCl + H2O -------------> NaOH + HCl Berat jenis ( BJ ) urine probandus yang minum air garam setelah dilakukan pengukuran dengan urinometer yaitu sebesar 1,048. Ternyata BJ urine probandus yang minum air garam lebih besar dibandingkan dengan BJ dari urine probandus yang meminum air putih. Hal ini sudah sesuai teori karena air garam mengandung lebih banyak ion-ion yang diperlukan oleh tubuh sehingga air garam yang diserap oleh tubuh lebih banyak untuk metabolisme urine,sehingga urine yang dikeluarkan lebih banyak. Dengan mengetahui BJ urine probandus, dapat digunakan untuk menghitung kadar benda padat (BP)nya yaitu dengan cara: BP = 2 angka terakhir dari BJ x 2,65 gr/L = 48 x 2,65 gr/L = 181,132 gr /L Ternyata kadar BP urine probandus yang meminum air garam lebih besar di bandingkan dengan BP urine probandus yang meminum air putih. Hal ini sesuai dengan teori dikarenakan air

garam banyak yang diserap oleh tubuh dan jumlah benda padatnya lebih banyak. pH urine probandus yang meminum air garam ini adalah 8. Hasil ini dikatakan tidak normal karena pH urine dari air garam adalah sebesar 4-5. 3. Probandus III ( meminum air soda ) Probandus yang meminum air soda sebanyak 200 ml,mengeluarkan urin sebanyak 210 ml setelah tidur selama 8 jam. Ternyata volume urine yang dikeluarkan lebih banyak dibandingkan dengan air soda yang diminum. Padahal sseharusnya urine yang dikeluarkan lebih sedikit,karena adanya proses penyerapan zat di dalam tubuh. Hal ini dapat terjadi dimungkinkan karena probandus sebelumnya ( selama seharian ) telah mengkonsumsi banyak makanan dan minuman dan belum diekskresikan sepenuhnya sampai saat probandus melakukan percobaan ini,yaitu mendapat tambahan zat ekskresi dari sisa-sisa makanan dan minuman yang dikonsumsi probandus sebelum melakukan percobaan,oleh karena itu urine yang dikeluarkan lebih banyak. Air soda yang dikonsumsi probandus akan bereaksi di dalam tubuh sebagai berikut: NaHCO3 + H2O ---------- > NaOH + H2CO3 BJ urine dari probandus setelah dilakukan pengukuran adalah 1,02, yaitu hasil perhitngan dari ( jumlah strip yang terapung pada urinometer adalah 5) 1 +( 5 x 0,002 x 2 ) = 1 + 0,02 = 1,02. Hal ini sudah sesuai dengan teori dimana BJ urine dari probandus yang meminum air soda > BJ urine dari probandus yang meminum air putih. Dari BJ yang sudah diketahui,maka dapat digunakan untuk menghitung kadar Benda Padat ( BP ) dari urine tersebut,caranya : BP = 2 angka terakhir dari BJ x 2,65 gr/L = 2 x 2,65 gr/L = 5,3 gr /L

Derajat keasaman (pH) urine probandus yang meminum air soda adalah 8,sehingga pH urine probandus tersebut normal,karena pH normalnya adalah 6 -8. VIII. KESIMPULAN 1. Proses pembentukan urin melalui tahap : Filtrasi Sintesa Reabsorbsi Sekresi Ekskresi 2. Hasil percobaan No Jenis Waktu Volume Minuman (jam) Awal (ml) 1. Air Putih 4 450 2. Air Garam 8 200 3. Air Soda 8 100

Volume Akhir (ml) 472 210 108

pH

BJ

BP

7 6 8

1,008 1,048 1,02

21,2 181,132 5,3

Untuk volume, hasil tersebut dapat dikatakan tidak sesuai teori, karena volume akhir yang didapat seharusnya lebih sedikit daripada volume awal, da seharusnya V akhir air garam > V akhir air soda > V akhir air putih. Untuk BJ, hasil tersebut sudah sesuai dengan teori, dimana BJ air putih < BJ air soda < BJ air garam Untuk BP, hasil sudah sesuai dengan teori, dimana BP air soda < BP air putih < BP air garam Untuk pH, hanya pH urin air soda yang sesuai teori, yaitu 6-8. Sedangkan untuk urin air putih, pH normalnya (sesuai teori) yaitu 5-6, dan untuk urin air garam, pH normalnya (sesuai teori) yaitu 4-5.

IX. DAFTAR PUSTAKA Evelyn. 1995. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Yogyakarta: Esentia Kartolo S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdikbud Listyawati, Shanti. 2000. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Surakarta: Biologi F.MIPA UNS

Santosa, Slamet. 1996. Petunjuk Praktikum Fisilogi Hewan. Surakarta: UNS Press (http://www.scribd.com/doc/45916065/urine-tes) (http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/19590401198303 2-SOESI ASIAH SOESILAWATY/Media Pembelajaran Anfisman/SISTEM_URINEARIA/2. URINE.pdf) X. LAMPIRAN Satu lembar fotokopi laporan sementara

Mengetahui, Asisten

Surakarta, 2 April 2012 Praktikan

Siti Neng Mariyam K4309077