PEDOMAN PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI DI RUMAH SAKIT

DIREKTORAT JENDERAL BINAKEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI BEKERJASAMA DENGAN JAPAN INTERNASIONAL COOPERATION AGENCY 2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................... Pengertian dan Daftar Singkatan .....................................................................................

ii vi

BAB I

PENDAHULUAN I.A I.B I.C Latar Belakang ....................................................................................... Tujuan .................................................................................................... Sasaran ................................................................................................... 1 3 3

BAB II

KEBIJAKAN PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI DI RS II.A Kebijakan ............................................................................................... II.B Tugas Pokok dan Fungsi ........................................................................ 4 5

BAB III PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI III.A Perencanaan ........................................................................................... III.B Pengadaan .............................................................................................. III.C Penerimaan ............................................................................................. III.D Penyimpanan .......................................................................................... III.E Pendistribusian ....................................................................................... III.F Pengendalian .......................................................................................... III.G Penghapusan .......................................................................................... III.H Pencatatan dan Pelaporan ...................................................................... III.I Monitoring dan Evaluasi ........................................................................ 7 14 21 22 24 30 31 37 43

BAB IV PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI KHUSUS IV.A Penanganan Bahan Sitotoksik dan Bahan Berbahaya Lain ................... IV.B Sediaan Radiofarmasi ............................................................................ IV.C Perbekalan Farmasi yang Dibawa Penderita .......................................... IV.D Persediaan Perbekalan Farmasi untuk Keadaan Darurat ....................... IV.E Perbekalan Farmasi Donasi/Uji Coba ..................................................... 52 54 55 55 60
ii

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

IV.F Obat Program Kesehatan .......................................................................

60

BAB V

PENGENDALIAN MUTU V.A Pengrndalian Secara Organoleptis ......................................................... V.B Pengendalian Mutu Obat Secara Organolepstis ..................................... 62 64

BAB VI ANGGARAN DALAM PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI .

66

BAB VII PENUTUP ......................................................................................................

69

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

70

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Rencana Kerja Operasional ........................................................ Lampiran 2. Kartu Kompolasi Pemakaian Obat ............................................. Lampiran 3. Data 10 Penyakit Terbesar .......................................................... Lampiran 4. Kartu Rencana Distribusi ............................................................ Lampiran 5. Buku Harian Pengeluaran Obat .................................................. Lampiran 6. Laporan Mutasi Obat .................................................................. Lampiran 7. Laporan Kegiatan Distribusi ....................................................... Lampiran 8. Lampiran Berita Acara Pemeriksaan/Penelitian Obat untuk Dihapus ...................................................................................... Lampiran 9. Formulir Monitoring Indikator Peresepan ..................................

72 73 74 75 76 77 78

79 80

iii

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

PENGERTIAN DAN DAFTAR SINGKATAN

DOEN: Daftar Obat Esential Nasiona yang berisi obat yang sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat, dipilih oleh para pakar dan praktisi berdasaran evidence base yang ada. Ditetapkan oleh Menkes dan di perbaharui setiap 2-3 tahun.

Pengelolaan Obat satu Pintu: Semua pengelolaan obat harus melalui IFRS, IFRS bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan obat di rumah sakit. IFRS harus mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya kepada direktur/pimpinan rumah sakit.

Farmakoekonomi: Ilmu yang mempelajari cara penerapan ilmu ekonomi di bidang farmasi.

IFRS: Instalasi Farmasi Rumah Sakit, adalah bagian yang ebrtanggung jawab penuh di bidang pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit, bagian ini dikepalai oleh Apoteker.

KFT: Komite Farmasi dan Terapi, merupakan unit fungsional yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit yang ebrtugas memberikan rekomendasi kepada pimpinan RS mengenai rumusan kebijakan dan prosedur untuk evaluasi, pemilihan dan penggunaan obat di rumah sait. Sedangkan di bidang penddikan, KFT merumuskan program yang berkaitan dengan edukasi tentang obat dan penggunaannya kepada tenaga kesehatan di rumah sakit.

Tata Kelola yang Baik di Bidang Farmasi: Suatu program yang digagas oleh WHO untuk mengurangi praktek ilegal di bidang farmasi. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

Formularium RS:

iv

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

FIFO: First In First Out adalah mekanisme penggunaan obat yang tidak mempunyai masa kadaluarsa. maka semakin menjadi prioritas untuk digunakan. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek): Skema jaminan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerjaIndonesia yang digagas oleh PT Jamsostek. Semakindekat masa kadaluarsa obat tersebut. FEFO: First Expire First Out adalah mekanisme penggunaan obat yang berdaarkan prioritas masa kadaluarsa obat tersebut. UDD: Unit Dosage Dispensing adalah mekanisme distribusi obat bagi pasien berdaarkan unit dosis yang telah diresepkan. Semakin awal kedatangan obat tersebut.Dokumen yang berisi daftar obat yang digunakan oleh profesioal kesehatan di rumah sakit disusun bersama oleh para pengguna dibawah koordinasi KFT masing-masing rumah sakit. Formularium Askeskin: Dokumen yang berisi daftar obat yang digunakan oleh profesional kesehatan di rumah sakit untuk melayani pasien Askeskin ditetapkan oleh Menkes. Jamkesmas: Jaminan Kesehatan Masyarakat adalah skema pelayanan kesehatan yang digagas oleh Depkes untuk melindungi keluarga miskin di Indonesia yang jumlahnya sekitar 76 juta orang. maka semakin menjadi prioritas untuk digunakan. v Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Prioritas penggunaan obat berdasarkan waktu kedatangan obat. Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) Askes: Dokumen yang berisi daftar obat yang digunakan oleh profesional kesehatan di rumah sakit untuk melayani pasien Askes ditetapkan oleh PT Askes.

IDD: Induvidual Dosage Dispensing adalah mekanisme distribusi obat bagi pasien berdasarkan resep perorangan. Lead Time: Waktu tunggu adalah waktu yang diperlukan dari mualai pemesanan sampai obat diterima. vi Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

A. Di banyak negara berkembang belanja obat di rumah sakit dapat menyerap sekitar 40-50% biaya keseluruhan rumah sakit. Belanja perbekalan farmasi yang demikian besar tentunya harus dikelola dengan efektif dan efisien. Saat ini pada tataran global telah dirintis program Goog Governance in pharmaceutical Sector atau lebih dikenal dengan Tata Kelola Obat yang Baik di Sektor Farmasi. donasi. Secara global. pendaftaran. Kondisi di atas tentunya harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Penyuapan terhadap pejabat senior di bidang regulasi obat menyebabkan beredarnya obat yang tidak aman di pasaran yang berakibat kematian. sedangkan di Indonesia sekitar 16 triliun rupiah. registrasi. hal ini diperlukan mengingat dana kebutuhan obat di rumah sakit tidak seslalu sesuai dengan kebutuhan. Di negara-negara Eropa tengan dilaporkan bahwa 81 responden melaporkan mereka harus memberikan hadiah untuk mendapatkan perawatan dari dokter. paten. Indonesia termasuk salah satu negara yang berpartisipasi dalam program ini bersama 19 negara lainnya. Bentuk intransparansi di bidang farmasi antara lain: pemalsuan data keamanan dan efikasi. LATAR BELAKANG Biaya yang diresepkan untuk penyediaan obat merupakan komponen terbesar dari pengeluaran rumah sakit.BAB I PENDAHULUAN I. promosi yang tidak etis maupun tekanan dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan obat. sektor farmasi sangat rentan terhadap praktek intransparansi disebabkan: Pasar farmasi global mencapai sekitar US 600 dollar. pencurian. Laporan dari banyak negara menginformasikan bahwa pasokan obat di rumah sakit hilang karena intransparansi dan penyelewengan. penetapan harga yang lebih mahal. produksi. Pemikiran tentang perlunya Tata Kelola Obat yang Baik di Sektor Farmasi berkembang mengingat banyaknya praktek ilegal di lingkungan kefarmasian mulai dari clinical trial. penyuapan. penetapan harga. kolusi. seleksi distribusi dan trasportasi. pengadaan. riset dan pengembangan. konflik kepentingan. 1 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . 10-25% pengadaan pemerintah hilang karena intransparasi termasuk di sektor kesehatan.

berupa penghamburan dana publik yang sangat besar. dimana sebagian kecil saja kebutuhan anggaran obat yang dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah. Kesehatan. Rumah sakit pemerintah dibagi kedalam 4 kelas yaitu: A. Setiap kelas mempunyai standar dan jenis pelayanan yang berbeda. B. Komitmen dari Pemda untuk menyediakan anggaran. dalam bentuk menurunnya kredibilitas terhadap institusi pelayanan kesehatan serta berkurangnya kepercayaan donor dan investor dibidang kesehatan. dan tenaga. Gambaran umum pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit pemerintah di Indonesia pada umumnya masih banyak mengalami kekurangan. sarana. Citra dan kepercayaan. Pelayanan kesehatan di 2 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Intransparansi diidentifikasi sebagai hambatan utama terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di suatu negara Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah bagian yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan perbekalan farmasi. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan obat. D dan Khusus. Keterbatasan sumber pendanaan. sedangkan Komite Farmasi dan Terapi adalah bagian yang bertanggung jawab dalam penetapan formularium. Untuk menyiapkan tenaga profesional tersebut diperlukan berbagai masukan diantaranya adalah tersedianya pedoman yang dapat digunakan dalam pengelolaan perbekalan farmasi di IFRS. Diantara kekurangan yang sangat mencolok antara lain: Keterbatasan sumber daya manusia baik dari aspek jumlah maupun mutu terutama di sebagian besar rumah sakit di Kabupaten/Kota. maka diperlukan adanya tenaga yang profesional di bidang tersebut.Dampak dari intransparansi di sektor farmasi mempunyai dampak seperti: Ekonomi. dimana hal ini berpengaruh terhadap mutu obat yang sudah diadakan. dalam bentuk menurunnya kapasitas pemerintah untuk menyediakan obat esensial yang bermutu dan beredarnya produk obat yang tidak aman di pasar. Agar pengelolaan perbekalan farmasi dan penyusunan formularium di rumah sakit dapat sesuai dengan aturan yang berlaku. C.

rumah sakit kelas A pada umumnya lebih komprehensif dibandingkan dengan kelas dibawahnya. efektif. Umum Tersedianya Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit 2. Terwujudnya sistem informasi pengelolaan perbekalan farmasi kesehatan yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap penyediaan pelayanan kefarmasian khususnya pengelolaan perbekalan farmasi. TUJUAN 1. Sebagian rumah sakit seperti RS Dharmais. maupun RS Soetomo telah mempunyai petunjuk pengelolaan sediaan perbekalan farmasi khusus tersebut. dan efisien. I. I. b. Khusus a. Terlaksananya penerapan farmakoekonomi dalam pelayanan. Terlaksananya pengendalian mutu perbekalan farmasi. d. e. larutan nutrisi parenteral dan lain-lain. radio farmasi. RS Cipto Mangunkusumo. Terlaksananya pengelolaan perbekalan farmasi satu pintu. maka diperlukan adanya suatu pedoman yang dapat dijadikan rujukan oleh rumah sakit untuk mengelola persediaan perbekalan farmasi khusus tersebut. C. Demikian pula dengan rumah sakit khusus. B. Terlaksananya pengelolaan perbekalan farmasi yang bermutu. SASARAN Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pengelolaan perbekalan farmasi yang efektif dan efisien akan mendukung mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit 3 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . c. Beberapa rumah sakit kelas A dan rumah sakit khusus membutuhkan adanya pengelolaan sediaan perbekalan farmasi khusus seperti bahan sitostatika. Mengingat pentingnya sediaan perbekalan farmasi khusus tersebut.

Pentingnya suatu kebijakan dan panduan tugas pokok dan fungsi untuk pengendalian perbekalan farmasi merupakan keharusan. memahami dan menerapkan panduan tersebut karena hal ini merupakan suatu bagian penting bagi mekanisme komunikasi dan koordinasi internal IFRS. 72 tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi SK Menteri Kesehatan tentang Kebijakan Obat Nasional SK Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit SK Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan bagi masyarakat miskin. Dalam proses penyusunan kebijakan hendaknya perlu diingat jangan sampai bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. II.BAB II KEBIJAKAN. KEBIJAKAN Kebijakan yang harus dibuat oleh rumah sakit dalam pengelolaan perbekalan farmasi sebaiknya merujuk kepada peraturan perundangan yang berlaku seperti: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika Peraturan pemerintahan No. Peraturan Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan pengelolaan barang negara. TUGAS POKOK DAN FUNGSI Keberhsilan dari sistem pengelolaan perbekalan farmasi tergantung dari ketaatan pada kebijakan. A. Semua staf IFRS harus mengetahui. Pimpinan rumah sakit melalui Komite Farmasi dan Terapi (KFT) dan IFRS menetapkan kebijakan pengelolaan perbekalan farmasi yang meliputi tugas pokok dan fungsinya. Hal ini diperlukan untuk menghindari kerumitan di kemudian hari. tugas pokok dan fungsi. maka perlu disusun kebijakan obat di rumah sakit yang mencakup: Pengadaan dan penerimaan Pengaturan perbekalan farmasi yang dibawa penderita Pengaturan perbekalan farmasi sumbangan 4 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Berdasarkan peraturan perundang-undangan seperti tersebut di atas.

dan revisi secara periodik diperlukan agar dapat mengikuti perkembangan kebutuhan pelayanan di rumah sakit. Menerapkan farmakoekonomi dalam pelayanan c. B. Mewujudkan Sistem Informasi Manajemen berdaya guna dan tepat guna e. Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien b. 1. Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit b. Meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga farmasi d. Melaksanakan pengadilan mutu pelayanan II. Tugas Pokok a. TUGAS POKOK DAN FUNGSI II. 2. Lebijakan yang telah disusun sebaiknya disosialosasikan kepada seluruh profesional kesehatan di rumah sakit. Kebijakan yang telah ditetapkan hendaknya bersifat dinamis. Fungsi a. Kebijakan akan disusun oleh rumah sakit tidak harus mencakup seluruh butir-butir yang disebutkan di atas. evaluasi. Selain itu diperlukan juga supervisi yang terus menerus dari pimpinan rumah sakit untuk menjamin pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan.- Pengaturan obat-obat yang diproduksi sendiri dan tidak ada di pasaran Pengaturan distribusi obat Pengaturan pemberlakuan formularium sebagai dasar pengadaan obat Pengaturan uji coba produk baru Pengaturan penetapan harga jual perbekalan farmasi Pengaturan pengelolaan obat satu pintu Pengaturan perbekalan farmasi khusus Pengaturan pengelolaan resep kadaluwarsa dan pemusnahannya Keberhasilan penerapan kebijakan yang telah ditetapkan akan tergantung kepada proses selanjutnya. B. Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal 5 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Kebijakan dapat disusun secara bertahap sesuai dengan kemampuan rumah sakit masing-masing II. B.

i. Melakukan monitoring dan evaluasi. g. Menyimpanan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian. Tugas pokok dan fungsi pengelolaan perbekalan dapat disesuaikan dengan kondisi rumah sakit masing-masing 6 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit. Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit e.c. Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku f. Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai dengan ketentuanyang berlaku d. terhadap persediaan perbekalan farmasi di RS. Melakukan pencatatan dan pelaporan persediaan perbekalan farmasi di RS. h.

c. monitoring dan evaluasi. Hindari penggunaan obat kombinasi. kecuali jika obat kombinasi mempunyai efek yang lebih baik dibanding obat tunggal. Pemilihan obat di rumah sakit merujuk kepada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) sesuai dengan kelas rumah sakit masing-masing. pendistribusian. 7 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . pengendalian. A. Kriteria pemilihan kebutuhan obat yang baik yaitu meliputi: a.BAB III PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI Pengelolaan perbekalan farmasi atau sistem manajemen perbekalan farmasi merupakan suatu siklus kegiatan yang dimulai dari perencanaan sampai evaluasi yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin dengan cara menghindari kesamaan jenis. maka kita memilih berdasarkan obat pilihan (drug of choice) dari penyakit yang prevalensinya tinggi. penghapusan. b. Formularium Jaminan Kesehatan bagi masyarakat miskin. pengadaan. penyimpanan. III. PERENCAAN Perencanaan perbekalan farmasi adalah salah satu fungsi yang menentukan dalam proses pengadaan perbekalan farmasi di rumah sakit. Daftar Plafon Harga obat (DPHO) Askes dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). penerimaan. Formularium RS. pencatatan. Apabila jenis obat banyak. dan pelaporan. Tujuan perencanaan perbekalan farmasi adalah untuk menetapkan jenis dan jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit Tahapan perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi meliputi: 1. Pemilihan Fungsi pemilihan adalah untuk menentukan apakah perbekalan farmasi benarbenar diperlukan sesuai dengan jumlah pasien/kunjungan dan pola penyakit di rumah sakit. Kegiatannya mencakup perencanaan.

Persentase penggunaan tiap jenis perbekalan farmasi terhadap total penggunaan setahum seluruh unit pelayanan. Penggunaan rata-rata untuk setiap jenis perbekalan farmasi. Informasi yang didapat dari kompilasi penggunaan perbekalan farmasi adalah: a. b. serta spesifikasi yang ditetapkan oleh rumah sakit. Metode Konsumsi Perhitungan kebutuhan dengan metode konsumsi didasarkan pada data riel konsumsi perbekalan farmasi periode yang lalu. maka diharapkan perbekalan farmasi yang direncanakan dapat tepat jenis. dengan berbagai penyesuaian dan koreksi 8 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . tepat jumlah. standar ISO. Adapun pendekatan perencanaan kebutuhan dapat dilakukan melalui beberapa metode: a. Dengan koordinasi dan proses perencanaan untuk pengadaan perbekalan farmasi secara terpadu serta melalui tahapan seperti di atas. Kompilasi Penggunaan Kompilasi penggunaan perbekalan farmasi berfungsi untuk mengetahui penggunaan bulanan masing-masing jenis perbekalan farmasi di unit pelayanan selama setahun dan sebagai data pembanding bagi stok optimum. Perhitungan Kebutuhan Menentukan kebutuhan perbekalan farmasi merupakan tantangan yang berat yang harus dihadapi oleh tenaga farmasi yang bekerja di rumah sakit. c. apabila informasi yang digunakan semata-mata hanya berdasarkan kebutuhan teoritis saja. tepat waktu. daftar harga alat kesehatan yang dikeluarkan oleh Ditjen Binfar dan Alkes. dan tersedia pada saat dibutuhkan. daftar harga alat. 2.Sedangkan pemilihan alat kesehatan di rumah sakit dapat berdasarkan dari data pemakaian oleh pemakai. Masalah kekosongan atau kelebihan perbekalan farmasi dapat terjadi. 3. Jumlah penggunaan tiap jenis perbekalan farmasi pada masing-masing unit pelayanan.

000.350.000 + 750.000 kaplet b.000 kaplet = 600. Kebutuhan Pemakaian 12 bulan = 250. Pemakaian rata-rata per bulan 2.000 kaplet e. Contoh perhitungan: Total pengadaan Amoxycillin kaplet Januari – Desember 2005 sebanyak 2.000 kaplet (ternyata habis dipakai selama 10 bulan. dan waktu tunggu (lead time). Kebutuhan amoxycillin kaplet tahun 2006 adalah b + c + d yaitu (3.000 kaplet f.000 + 600.350. 9 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka menghitung jumlah perbekalan farmasi yang dibutuhkan adalah: 1) Pengumpulan dan pengolahan data 2) Analisa data untuk informasi dan evaluasi 3) Perhitungan perkiraan kebutuhan perbekalan farmasi 4) Penyesuaian jumlah kebutuhan perbekalan farmasi dengan alokasi dana.000 x 12 = 3.500.000 kaplet c. Metode Morbiditas/Epidemiologi Dinamakan metode morbidotas karena dasar perhitungan adalah jumlah kebutuhan perbekalan farmasi yang digunakan untuk beban kesakitan (morbidity load) yang harus dilayani. Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan pola penyakit.350. Jadi pengadaan tahun 3006 adalah hasil perhitungan e sisa stok yaitu (4. jadi ada kekosongan 2 bulan) Sisa stok per 31 Desember 2005 sebanyak = 0tablet a.500. Lead time (waktu tunggu) 3 bulan = 3 x 250.000. Langkah-langkah dalam metode ini adalah: 1) Menentukan jumlah pasien yang dilayani 2) Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan prevalensi penyakit.000. perkiraan kenaikan kunjungan. b.000) kaplet =4.000 tab/10 = 250. Stok pengaman (10-20%) = 20% x 3.000 = 750.000) kaplet = 4.000 kaplet d.000 kaplet atau sama dengan 4350 kaleng @1000 kaplet.

Acuan yang digunakan yaitu: 1) DOEN. Jumlah oralit yang diperlukan adalah: = 10. Jumlah kasus 18.Contoh untuk anak: Satu siklus pengobatan diare diperlukan 15 bungkus oralit @200 ml.000 kasus. Jumlah kasus 10. Jumlah oralit yang diperlukan adalah: = 18. Selain perhitungan diatas.800 kasus. . 5) Penyesuaian dengan aloksai dana yang tersedia. Contoh perhitungan: a. dan kebijakan setempat yang berlaku. lead time dan stok pengaman Kombinasi metode konsumsi dan metode morbiditas disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.000 kasus x 15 bungkus = 270.800 kasus x 6 bungkus = 64. Formularium Rumah Sakit.800 bungkus @1000ml/1 liter b. kebutuhan obat yang akan datang harus memperhitungkan: perkiraan peningkatan kunjungan.000 bungkus @200 ml. maka sebagai contoh perhitungan sbb: .Contoh untuk dewasa: Satu siklus pengobatan diare diperlukan 6 bungkus oralit @1 liter. 4) Menghitung perkiraan kebutuhan perbekalan farmasi. Standar Terapi Rumah Sakit (Standard Treatment Guidelines/STG). 2) Data catatan medik/rekam medik 3) Anggaran yang tersedia 4) Penetapan prioritas 5) Pola penyakit 10 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Menghitung masing-masing obat yang diperlukan perpenyakit: Berdasarkan pedoman penyakit diare akut.3) Menyediakan formularium/standar/pedoman perbekalan farmasi.

Data yang diperlukan: a.Tidak dapat digunakan untuk semua penyakit . untuk evaluasi aspek ekonomi . untuk 11 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . dan idealnya diikuti dengan evaluasi Cara/teknik evaluasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: .Lebih Morbiditas akurat dan mendekati kebutuhan yang sebenarnya . Dengan analisis ABC jenis-jenis perbekalan farmasi dapat diidentifikasi. b.Lebih mudah dan cepat dalam perhitungan .Kombinasi ABC dan VEN .Mendukung ketidakrasionalan .Kurang tepat dalam penentuan jenis dan jumlah . c.Pertimbangan/kriteria VEN.Perhitungan lebih rumit . Suatu jenis perbekalan farmasi dapat memakan anggaran besar karena penggunaannya banyak. biasanya akan diperoleh jumlah kebutuhan.Analisa nilai ABC. Kunjungan pasien Sepuluh besar pola penyakit Prosentase dewasa dan anak dalam penggunaan 4.Pengobatan lebih rasional . atau harganya mahal. Evaluasi Perencanaan Setelah dilakukan perhitungan kebutuhan perbekalan farmasi untuk tahun yang akan datang.6) Sisa persediaan 7) Data penggunaan periode yang lalu 8) Rencana pengembangan Perbandingan metode konsumsi dan metode morbiditas: Konsumsi .Revisi daftar perbekalan farmasi 1) Analisa ABC Alokasi anggaran ternyata didominasi hanya oleh sebagian kecil atau beberapa jenis perbekalan farmasi saja. untuk evaluasi aspek medik/terapi .Pilihan pertama dalam perencanaan dan pengadaan .

Kelompokkan kedalam jenisjenis/kategori.Perbekalan Farmasi kategori C menyerap anggaran 10% Contoh: 1. ABC bukan singkatan melainkan suatu penamaan yang menunjukkan peringkat/rangking dimana urutan dimulai dengan yang terbaik/terbanyak. Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan 12 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . dan biaya yang diperlukan untuk tiap nama dagang. dimulai dengan urutan 1 dan seterusnya. bentuk sediaan lain.Perbekalan Farmasi kategori B menyerap anggaran 20% .jenis perbekalan farmasi diatas. Jumlahkan anggaran total.kemudian dilakukan evaluasi lebih lanjut. Hitung prosentase kumulatif. dsb). c. Evaluasi terhadap jenis-jenis perbekalan farmasi yang menyerap biaya terbanyak juga lebih efektif dibandingkan evaluasi terhadap perbekalan farmasi yang relatif memerlukan anggaran sedikit. Prosedur: Prinsip utama adalah dengan menempatkan jenis-jenis perbekalan farmasi ke dalam suatu urutan. b.Perbekalan Farmasi kategori A menyerap anggaran 70% . Identifikasi jenis perbekalan farmasi apa yang menyerap ±70% anggaran total (biasanya didominasi oleh beberapa jenis perbekalan farmasi saja). mulai dengan jenis yang memakan prosentase biaya terbanyak. . Evaluasi ini misalnya dengan mengoreksi kembali apakah penggunaannya memang banyak atau apakah ada alternatif sediaan lain yang lebih efisiensi biaya (mis merek dagang ain. dimulai dengan jenis yang memakan anggaran/rupiah terbanyak. e. jitung masing-masing prosentase jenis perbekalan farmasi terhadap anggaran total. Urutkan kembali jenis. dan jumlahkan biaya per jenis kategori perbekalan farmasi. d. Tentukan rangkingnya mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil 3. Urutan langkah sbb: a. Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara mengalikan jumlah oabt dengan harga obat 2. Kumpulkan kebutuhan perbekalan farmasi yang diperoleh dari salah satu metode perencanaan. daftar harga perbekalan farmasi.

atau non-esensial (tidak prioritas untuk disediakan).4. Sebaliknya. perbekalan farmasi yang diragukan manfaatnya. VEN adalah singkatan dari V = vital.Esensial (E) bila perbekalan farmasi tersebut terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit. dan bila tidak tersedia akan meningkatkan risiko kematian. menetukan apakah suatu jenis perbekalan farmasi termasuk vital (harus tersedia). Perbekalan Farmasi kategori B termasuk dalam kumulasi 71 – 90% 7. N = Non-Esensial. Dengan kata lain. Jadi melakukan analisis VEN artinya menentukan prioritas kebutuhan suatu perbekalan farmasi. 3) Analisis Kombinasi ABC dan VEN Jenis perbekalan farmasi yang termasuk kategori A dari analisis ABC adalah benar-benar jenis perbekalan farmasi yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit terbeanyak. . Perbekalan Farmasi kategori C termasuk dalam kumulasi 90 – 100% 2) Analisa VEN Berbeda dengan istilah ABC yang menunjukkan urutan. perbekalan farmasi yang mahal namun tidak mempunyai kelebihan manfaat dibanding perbekalan farmasi sejenis lainnya. jenis perbekalan farmasi dengan status N harusnya masuk kategori C. . Dengan kata lain. statusnya harus E dan sebagian V dati VEN. Hitung kumulasi persennya 5. atau mengurangi penderitaan pasien. 13 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . E = Esensial. dll. esensial (perlu tersedia).Non-esensial (N) meliputi aneka ragam perbekalan farmasi yang digunakan untuk penyakit yang sembuh sendiri (self-limiting desease). Perbekalan Farmasi kategori A termasuk dalam kumulasi 70% 6.Vital (V) bila perbekalan farmasi tersebut diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan (life saving drugs). Kriteria VEN Kriteria yang umum adalah perbekalan farmasi dikelompokkan sebagai berikut: .

NA dimulai dengan pengurangan obat kategori EC. perbekalan farmasi atau nama dagang apa yang dapat dikeluarkan dari daftar. sebagai langkah awal dapat dilakukan suatu evaluasi cepat (rapid evaluation). misalnya dengan melakukan revisi daftar perencanaan perbekalan farmasi. Mekanismenya adalah: Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas utama untuk dikurangi atau dihilangkan dari rencana kebutuhan. produksi/pembuatan sediaan farmasi. bila dana masih kurang. melalui: 1. Pendekatan yang sama dengan pada saat pengurangan obat pada kriteria NC. A V E N VA EA NA B VB EB NB C VC EC NC Metode gabungan ini digunakan untuk melakukan pengurangan obat. pembelian 2. dan EA. B. Jika setelah dilakukan dengan pendekatan ini dana yang tersedia masih juga kurang lakukan langkah selanjutnya. III. Namun. 4) Revisi daftar perbekalan farmasi Bila langkah-langkah dalam analisis ABC maupun VEN terlalu sulit dilakukan atau diperlukan tindakan cepat untuk mengevaluasi daftar perencanaan. maka obat kategori NB menjadi prioritas selanjutnya dan obat yang masuk kategori NA menjadi prioritas berikutnya. NB.Digunakan untuk menetapkan prioritas untuk pengadaan obat dimana anggaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan. PENGADAAN Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui. EB. 14 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . perlu dikembangkan dahulu kriterianya. sebelumnya. tetapi juga dapat berdampak positif pada beban penanganan stok. Manfaatnya tidak hanya dari aspek ekonomik dan medik.

proses berjalan lancar dan tidak memerlukan tenaga serta waktu berlebihan Pada proses pengadaan ada 3 elemen penting yang harus diperhatikan: 1. 3. Beberapa jenis obat. khusus untuk alat kesehatan harus mempunyai certificate of origin. bahan aktif yang mempunyai masa kadaluwarsa relatif pendek harus diperhatikan waktu pengadaannya. harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS). 4. dan lain-lain. waktu dan kelancaran bagi semua pihak. ketepatan waktu pengiriman. apoteker harus mendasarkan pada kritera berikut: mutu produk. pengiriman barang terjamin dan tepat waktu. Untuk itu harus dihindari pengadaan dalam jumlah besar. bila tidak teliti dapat menjadikan “biaya tinggi” 2. dalam proses pengadaan harus diperhatikan adanya: 1. 3. Guna menjamin tata kelola perbekalan farmasi yang baik. untuk bahan berbahaya.3. Pembelian dengan penawaran yang kompetitif (tender) merupakan suatu metode penting untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara mutu dan harga. waktu. sertifikat analisa/standar mutu. harga. Order pemesanan agar barang dapat sesuai macam. dan tempat. dan pengemasan. reputasi produsen. Pedoman tertulis mengenai metode pengadaan bagi panitia pengadaan 15 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Pengadaan yang dipilih. apabila ada dua atau lebih pemasok. dengan mutu yang baik. Prosedur yang transparan dalam proses pengadaan Mekanisme penyanggahan bagi peserta tender yang diolak penawarannya. dapat dipercaya. kebijakan tentang barang yang dikembalikan. Prosedur tetap untuk pemeriksaan rutin consignments (pengiriman). mutu pelayanan pemasok. Tujuan pengadaan: mendapatkan perbekalan farmasi dengan harga yang layak. Penyusunan dan persyaratan kontrak kerja (harga kontrak = visible cost + hidden cost). sangat penting utuk menjaga agar pelaksanaan pengadaan terjamin mutu (misalnya persyaratan masa kadaluwarsa. berbagai syarat. 2. sumbangan/droping/hibah.

memilih rekanan. Langkah proses pengadaan dimulai dengan mereview daftar perbekalan farmasi yang akan diadakan. Kriteria tertentu untuk menjadi anggota panitia pengadaan terutama: integritas. 1. 16 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . membuat syarat kontrak kerja. memonitor pengiriman barang. 7. 95 tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. PEMBELIAN Pembelian adalah rangkaian proses pengadaan untuk mendapatkan perbekalan farmasi. Pernyataan dari anggota panitia pengadaan bahwa yang bersangkutan tidak mempunyai konflik kepentingan. 11. menerima barang. rekam jejak yang baik. Kerangka acuan bagi panitia pengadaan selama masa tugasnya. 12. memilih metode pengadaan. menentukan jumlah masing-masing item yang akan dibeli. 6. Audit secara rutin pada proses pengadaan. 8. Obat Spesifik dan Alat Kesehatan yang Berfungsi Sebagai Obat dan Peraturan Presiden RI No. 13. menyesuaikan dengan situasi keuangan. Sistem manajemen informasi yang digunakan untuk melaporkan produk perbekalan farmasi yang bermasalah. Standar kompetensi bagi anggota tim pengadaan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden RI No. melakukan pembayaran serta menyimpan kemudian mendistribusikan. SOP dalam pengadaan. panitia harus mempunyai Sertifikat Pengadaan Barang dan Jasa. Sistem yang efsien untuk memonitor post tender dan pelaporan kinerja pemasok kepada panitia pengadaan.5. Pembatasan masa kerja anggota panitia pengadaan misalkan maksimal 3 tahun. 10. Proses pembelian mempunyai beberapa langkah yang baku dan merupakan siklus yang berjalan terus-menerus sesuai dengan kegiatan rumah sakit. 94 tahun 2007 tentang Pengendalian dan Pengawasan atas Pengadaan dan Penyaluran Bahan Obat. kredibilitas. 9.

Sediaan farmasi yang memerlukan pengemasan kembali d. relatif agak lebih mahal. Hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan memiliki riwayat yang baik. berlaku untuk semua rekanan yang terdaftar. Sediaan steril 2. Seidaan farmasi dengan mutu sesuai standar denan harga lebih murah c. Harga masih dapat dikendalikan. Seidaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran e. Pada penentuan harga metode ini lebih menguntungkan. Pencampuran obat suntik/sediaan intravena 17 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Produksi Steril 1. Pembelian langsung. Untuk pelaksanaannya memerkukan staf yang kuat. dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. b. tidak banyak dan biasanya dilakukan pendekatan langsung untuk item tertentu. merubah bentuk. Kriteria perbekalan farmasi yang diproduksi: a. waktu yang lama serta perhatian penuh. Seidaan farmasi dengan formula khusus b. Sediaan farmasi untuk penelitian f. sering disebutkan lelang tertutup. 2. tenaga dan beban kerja lebih ringan bila dibandingkan denan lelang terbuka. Total parenteral nutrisi 3. pembelian jumlah kecil. perlu segera tersedia. PRODUKSI Produksi perbekalan farmasi di rumah sakit merupakan kegiatan membuat. a. dilakukan bila item tidak penting. Tender terbuka. Rekonstitusi sediaan perbekalan farmasi sitostatika h.Ada 4 metode pada proses pembelian. Harga tertentu. Jenis sediaan farmasi yang diproduksi a. Tender terbatas. c. dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Sediaan farmasi yang harus selalu dibuat baru 2. Pembelian dengan tawar menawar. d. A. Sediaan nutrisi parenteral g.

mineral. Produk Steril Persyaratan teknis/untuk produksi steril: a. Rekonstitusi sediaan sitostatika 5. triple dye. untuk kebutuhan perorangan. Penegemasan kembali 5. Contoh: . 2) Total Parenteral Nutrisi (Nutrisi Parenteral Pelengkap) TPN adalah nutrisi dasar yang diperlukan bagi penderita secara intravena yang kebutuhan nutrisinya tidak dapat terpenuhi secara enteral. Prosesnya yaitu pencampuran sediaan steril ke dalam larutan intravena steril untuk menghasilkan suatu sediaan steril yang 18 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . b. Ruangan aseptis. . Pengemasan kembali b. oven. Pembuatan salep 4. Persyaratan teknis Produk a.4. protein. Pembuatan puyer 2. Pembuatan sirup 3. vitamin.Mengemas kedalam kantong khusus untuk nutrisi 3) Pencampuran obat suntik/Sediaan Intravena (IV-admixture) Penyiapan produk steril (pencampuran sediaan intravena dan irigasi) adalah suatu bagian penting dari sistem pengendalian perbekalan farmasi. alat pelindung diri. autoclave. aqua steril. B. Pengenceran 2. dan lain-lain c. Peralatan: Laminar air flow (horizontal dan vertikal).Campuran sediaan karbohidrat. paten blue. lipid. Produksi nonsteril terdiri dari: 1. SDM: petugas terlatih 1) Pembuatan sediaan steril Contoh: pembuatan methylen blue. cytoguard.

Terjaminnya kondisi penyimpanan yang optimum sebelum dan sesudah pencampuran 4.Mencampur sediaan intravena kedalam cairan infus . Terjaminnya mutu produk 7. Terjaminnya sterilitas produk obat suntik 2. pengemasan c.bertujuan untuk penggunaan intravena. Produk Nonsteril Persyaratan teknis produksi non-steril: a. Ruangan khusus untuk pembuatan b. Efisiensi 5. Peralatan: peracikan.Mengemas menjadi sediaan siap pakai Keuntungan pelayanan pencampuran obat suntik: 1. Contoh: . Bebas dari partikulat pada tingkat yang dapat diterima dan kontaminan toksis lainnya. Mencegah terjadinya kesalahan perhitungan pencampuran perbekalan farmasi 6. Produk intravena yang digunakan dalam rumah sakit harus memenuhi pernyaratan umum sbb: 1. Terjaminnnya keamanan petugas terhadap keterpaparan dan kontaminasi produk b. SDM: petugas terlatih 19 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Prosesnya menggunakan teknik aseptik. Terkontrolnya kompatibilitas perbekalan farmasi 3.Melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai . Bebas dari kontaminan mikroba dan pirogen 3. Sesuai persyaratan terapeutik dan farmasetik (misalnya bebas dari obat yang tidak tercampurkan) 2.

harus diberikan pada tiap batch. Cara pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan standar internasional ISO 9001 adalah standar sistem mutu yang harus diterapkan. Apoteker disarankan untuk membuat sediaan farmasi dengan potensi dan kemasan yang dibutuhkan untuk terapi optimal. Nomor lot untuk untuk mengidentifikasi setiap produk jadi dengan sejarah produksi dan pengendalian. Formula induk dan batch harus terdokumentasi dengan baik (termasuk hasil pengujian produk). Oleh karena itu. kekuatan. kloralhidrat 2) Pembuatan salep Salep sulfadiazin. harus ada pengendalian proses dan produk untuk semua sediaan farmasi yang diproduksi atau produksi sediaan ruah dan pengemasan yang memenuhi syarat. Inadryl loco. washbensin 4) Pengenceran Antiseptik dan Desinfektan Sediaan farmasi yang diproduksi oleh IFRS harus akurat dalam identitas.Contoh produksi non-steril: 1) Pembuatan sirup Sirup yang dibuat di rumah sakit: OBH. H2O2. Semua tenaga teknis harus harus di bawah pengewasan dan terlatih. tetapi tidak tersedia dipasaran. kemurnian. salep 2-4 3) Pengemasan kembali Alkohol. agar mutu produk yang dihasilkan selalu konsisten memenuhi persyaratan resmi dan persyaratan rumah sakit serta memenuhi kepuasan konsumen. salep AAV. Kegiatan pengemasan dan penandaan harus mempunyai kendali yang cukup untuk mencegah kekeliruan dalam pencampuran produk/kemasan/etiket. harus diperhatikan persyaratan 20 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . dan mutu. Dalam hal ini. Povidon Iodin.

melalui pembelian langsung. tender. Semua perbekalan farmasi harus ditempatkan dalam tempat persediaan. 3. mengikuti kaidah umum pengelolaan perbekalan farmasi reguler. kecocokan rasa. 2. SUMBANGAN/HIBAH/DROPING Pada prinsipnya pengelolaan perbekalan farmasi dari hibah/sumbangan. untuk bahan berbahaya. C. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS). perbekalan farmasi harus segera disimpan di dalam lemaru besi atau tempat lain yang aman.stabilitas. serta harus mengerti sifat penting dari perbekalan farmasi. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penerimaan: 1. Dalam tim penerimaan farmasi harus ada tenaga farmasi. segera setelah diterima. Tujuan penerimaan adalah untuk menjamin perbekalan farmasi yang diterima sesuai kontrak baik spesifikasi mutu. konsinyasi atau sumbangan. Khusus untuk alat kesehatan harus mempunyai Certificate of Origin. Sertifikat analisa produk 21 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . dan pemberian etiket dari berbagai produk yang dibuat. 3. III. jumlah maupun waktu kedatangan Semua perbekalan farmasi yang diterima harus diperiksa dan disesuaikan dengan spesifikasi pada order pembelian rumah sakit. Perbekalan farmasi yang diterima harus sesuai dengan spesifikasi kontrak yang telah ditetapkan. Penerimaan perbekalan farmasi harus dilakukan oleh petugas yang bertanggung jawab. Perbekalan farmasi yang tersisa dapat dipakai untuk menunjang pelayanan kesehatan disaat situasi normal. PENERIMAAN Penerimaan adalah kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian. kemasan. Petugas yang dilibatkan dalam penerimaan harus terlatih baik dalam tanggung jawab dan tugas mereka.

b) Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi. Memudahkan pencarian dan pengawasan Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi. perhatikan posisi dinding dan pintu untuk mempermudah gerakan. Kemudahan bergerak Untuk kemudahan bergerak.jangan menggunakan sekat-sekat karena akan membatasi pengaturan ruangan. Tujuan penyimpanan adalah a. gudang perlu ditata sebagai berikut: a) Gudang menggunakan sistem satu lantai. arus U atau arus L. diperlukan pengaturan tata ruang gudang dengan baik. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang bangunan gudang adalah sbb: 1. Menjaga ketersediaan d. PENYIMPANAN Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat. PENGATURAN TATA RUANG Untuk mendapatkan kemudahan dalam penyimpanan. menurut bentuk sediaan san alfabetis dengan menerapkan prinsip FEFO dan FIFO. penyusunan. D. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab c. Jika digunakan sekat. Penyimpanan sebaiknya dilakukan dengan memperpendek jarak gudang dan pemakai dengan cara ini maka secara tidak langsung terjadi efisiensi. ruang gudang dapat ditata berdasarkan sistem arus garis lurus. dan disertai sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. 22 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . pencarian dan pengawasan perbekalan farmasi. Memelihara mutu sediaan farmasi b.III.

5. Alternatif lain adalah menggunakan kipas angin. Pencegahan kebakaran Perlu dihindari adanya penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti dus. Rak dan Pallet Penempatan rak yang tepat dan penggunaan pallet akan dapat meningkatkan sirkulasi udara dan perputaran stok perbekalan farmasi. Narkotika dan bahan berbahaya harus disimpan dalam lemari khusus dan selalu terkunci. dan lain-lain. apabila kipas angin belum cukup maka perlu ventilasi melalui atap. sebaiknya disimpan di bangunan khusus terpisah dari gudang induk. 3. Alat pemadam kebakaran harus dipasang pada tempat yang mudah dijangkau dan dalam jumlah yang cukup. Sirkulasi yang baik akan memaksimalkan umur hidup dari perbekalan farmasi sekaligus bermanfaat dalam memperpanjang dan memperbaiki kondisi kerja. namun biayanya akan menjadi mahal untuk ruang gudang yang luas. Sirkulasi udara yang baik salah satu faktor penting dalam merancang bangunan gudang adalah adanya sirkulasi udara yang cukup didalam ruangan gudang. Keuntungan penggunaan pallet: Sirkulasi udara dari bawah dan perlingungan terhadap banjir Peningkatan efisiensi penanganan stok Dapat menampung perbekalan farmasi lebih banyak Pallet lebih murah dari pada rak 4. karton. Tabung pemadam 23 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Kondisi penyimpanan khusus Vaksin memerlukan “Cold Chain” khusus dan harus dilindungi daru keungkinan terputusnya arus listrik. Bahan-bahan mudah terbakar seperti alkohol dan eter harus disimpan dalam ruangan khusus. Idealnya dalam gudang terdapat AC.2.

Perbekalan farmasi yang mempunyai batas waktu penggunaan perlu dilakukan rotasi stok agar perbekalan farmasi tersebut tidak selalu berada di belakang sehingga dapat dimanfaatkan sebelum masa kadaluwarsa habis. maka biarkan perbekalan farmasi tetap dalam boks masing-masing.kebakaran agar diperiksa secara berkala. PENYUSUNAN STOK PERBEKALAN FARMASI Perbekalan farmasi disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis. 24 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . cahaya dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai. Gunakan lemari khusus untuk penyimpanan narkotika. Item perbekalan farmasi yang sama ditempatkan pada satu lokasi walaupun dari sumber anggaran yang berbeda. untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Simpan perbekalan farmasi dalam rak dan berikan nomor kode. 5. pisahkan perbekalan farmasi dalam dengan perbekalan farmasi perbekalan farmasi untuk penggunaan luar. udara. Susun perbekalan farmasi dalam kemasan besar di atas pallet secara rapi dan teratur. Cantumkan nama masing-masing perbekalan farmasi pada rak dengan rapi. 3. 9. 7. PENDISTRIBUSIAN Distribusi adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan medis. III. 8. Simpan perbekalan farmasi yang dapat dipengaruhi oleh temperatur . E. Untuk memudahkan pengendalian stok maka dilakukan langkah-langkah berikut: 1. 4. Apabila persediaan perbekalan farmasi cukup banyak. 2. 6. Gunakan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam penyusunan perbekalan farmasi yaitu perbekalan farmasi yang masa kadaluwarsanya lebih awal atau yang dietrima lebih awal harus digunakan lebih awal sebab umumnya perbekalan farmasi yang datang lebih awal biasanya juga diproduksi lebih awal dan umumnya relatif lebih tua dan masa kadaluwarsanya lebih awal.

Jenis Sistem Distribusi Ada beberapa metode yang dapat digunakan oleh IFRS dalam mendistribusikan perbekalan farmasi di lingkungannya. Memerlukan waktu yang lebih lama b. c. yaitu: a.Tujuan pendistribusian: Tersedianya perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan secara tepat waktu. Mempermudah penagihan biaya perbekalan farmasi bagi pasien. Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat. yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dengan mengambil dosis/unit perbekalan farmasi dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada pasien di ruang tersebut. dokter. Memberikan kesempatan interaksi profesional antara apoteker. Keuntangan resep perorangan. b. dan pasien. d. yang kemudian memberikan keterangan atau informasi kepada pasien secara langsung. Pasien membayar obat yang kemungkinan tidak digunakan 2. Kelemahan/Kerugian sistem resep perorangan. Adapun metode yang dimaksud antara lain: 1. 25 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . perawat. Semua resep/order dikaji langsung oleh apoteker. RESEP PERORANGAN Resep perorangan adalah order/resep yang ditulis dokter untuk tiap pasien. yaitu: a. SISTEM DISTRIBUSI PERSEDIAAN LENGKAP DI RUANG Definisi sistem distribusi persediaan lengkap di ruang adalah tatanan kegiatan pengantaran sediaan perbekalan farmasi sesuai dengan yang ditulis dokter pada order perbekalan farmasi. tepat jenis dan jumlah Buat alur barang dan proses yang terjadi pada setiap titik monitor. Dalam sistem ini perbekalan farmasi disiapkan dan didistribusikan oleh IFRS sesuai yang tertulis pada resep.

kekurangan dari sistem distribusi perbekalan farmasi persediaan lengkap di ruang akan dapat diatasi. Pelayanan lebih cepat b. yang sebetulnya adalah tanggung jawab apoteker. Mengurangi penyalinan order perbekalan farmasi. yaitu: a. Menghindari pengembalian perbekalan farmasi yang tidak terpakai ke IFRS. d. f. sistem ini hendaknya tidak digunakan lagi. kecuali perbekalan farmasi yang jarang digunakan. Penambahan modal investasi.Dalam sistem persediaan lengkap di ruangan. yaitu menginterpretasi order dan menyiapkan perbekalan farmasi. Kerugian/kelemahan sistem distribusi perbekalan farmasi persediaan lengkap di ruang sangat banyak. b. semua perbekalan farmasi yang dibutuhkan pasien tersedia dalam ruang penyimpanan perbekalan farmasi. c. Kemungkinan hilangnya perbekalan farmasi tinggi. Dalam sistem ini. c. 26 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . untuk menyediakan fasilitas penyimpanan perbekalan farmasi yang sesuai di setiap ruangan perawatan pasien. tetapi di bawah pimpinan seorang apoteker. Diperlukan waktu tambahan lagi bagi perawat untuk menangani perbekalan farmasi. e. Pengendalian persediaan dan mutu. Dewasa ini telah diperkenalkan sistem distribusi perbekalan farmasi desentralisasi yang melaksanakan sistem persediaan lengkap di ruang. Meningkatnya kerugian dan bahaya karena kerusakan perbekalan farmasi. kurang diperhatikan oleh perawat. dengan fasilitas ruangan yang sangat terbatas. Kelemahan persediaan lengkap di ruang. Kesalahan perbekalan farmasi sangat meningkat karena order perbekalan farmasi tidak dikaji oleh apoteker. Keuntungan persediaan lengkap di ruang. Sistem distribusi persediaan lengkap ini hanya digunakan untuk kebutuhan gawat darurat dan bahan dasar habis pakai. Persediaan perbekalan farmasi di unit pelayanan meningkat. Jika sistem desentralisasi ini dilakukan. yaitu: a. Oleh karena itu. tanggung jawab besar dibebankan kepada perawat.

hal itu tidak dapat dilakukan di rumah sakit tanpa kerja sama dengan staf medik. untuk melayani resep.3. 27 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . unsur khusus berikut adalah dasar dari semua sistem dosis unit. Sistem distribusi perbekalan farmasi dosis unit adalah tanggung jawab IRS. di-dispensing dalam bentuk siap konsumsi. SISTEM DISTRIBUSI DOSIS UNIT (Unit Dose Dispensing =UDD) Definisi perbekalan farmasi dosis unit adalah perbekalan farmasi yang diorder oleh dokter untuk pasien. perawatan pimpinan rumah sakit dan staf administratif. Istilah “dosis unit” sebagaimana digunakan rumah sakit. dan untuk kebanyakan perbekalan farmasi tidak lebih dari 24 jam persediaan dosis. Pasien membayar hanya perbekalan farmasi yang dikonsumsi saja. Jadi. berhubungan dengan jenis kemasan dan juga sistem untuk mendistribusikan kemasan itu. Akan tetapi. diantarkan ke atau tersedia pada ruang perawatan pasien setiap saat. terdiri atas satu atau beberapa jenis perbekalan farmasi yang masing-masing dalam kemasan dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk suatu waktu tertentu. Kepemimpinan dari panitia ini seharusnya datang dari apoteker IFRS yang menjelaskan kepada anggota lain tentang konsep distribusi perbekalan farmasi dosis unit. yaitu: Perbekalan farmasi dikandung dalam kemasan unit tunggal. Sistem distribusi perbekalan farmasi dosis unit adalah metode dispensing dan pengendalian perbekalan farmasi yang dikoordinasikan IFRS dalam rumah sakit. Konsep kemasan dosis bukan suatu inovasi baru bagi kefarmasian dan kedokteran karena industri farmasi telah membuat unit tunggal untuk sampel dan pada tahun terakhir telah dibuat menjadi prosuk kemasan tunggal yang dijual ke rumah sakit. Sistem dosis unit dapat berbeda dalam bentuk. tergantung pada kebutuhan khusus rumah sakit. dianjurkan bahwa suatu panitia perencana perlu ditetapkan untuk mengembangkan pendekatan penggunaan suatu sistem distribusi dosis unit.

Sentralisasi dilakukan oleh IFRS sentral ke semua unit rawat inap di rumah sakit secara keseluruhan. Mengurangi risiko kehilangan dan pemborosan perbekalan farmasi. seperti pengemasan dan pencampuran sediaan intravena juga dimulai dari IFRS sentral. c. a. Sistem distribusi dosis unit sentralisasi. Menghindari duplikasi order perbekalan farmasi yang berlebihan. Sistem distribusi dosis unit desentralisasi dilakukan oleh beberapa depo/satelit IFRS di sebuah rumah sakit. Semua dosis yang diperlukan pada unit perawatan telah disiapkan oleh IFRS. 5. hanya saja sistem distribusi desentralisasi ini dikelola seluruhnya oleh apoteker yang sama dengan pengelolaan dan pengendalian oleh IFRS sentral. Artinya. biasanya hanya dosis awal dan dosis keadan darurat dilayani depo/satelit IFRS. Memperluas cakupan dan pengendalian IFRS di rumah sakit secara keseluruhan sejak dari dokter menulis resep/order sampai pasien menerima dosis unit 8. Dalam sistem distribusi dosis unit kombinasi sentralisasi dan desentralisasi. yang pilihannya tergantung pada kebijakan dan kondisi rumah sakit. Pada dasarnya sistem distribusi desentralisasi ini sama dengan sistem distribusi obat persediaan lengkap di ruang. Mengurangi kesalahan pemberian perbekalan farmasi.Sistem distribusi dosis unit dapat dioperasikan dengan salah satu daru 3 metode di bawah ini. 2. di rumah sakit itu mungkin hanya satu IFRS tanpa adanya depo/satelit IFRS di beberapa unit pelayanan. 6. Sistem komunikasi pengorderan dan distribusi perbekalan farmasi bertambah baik. Pasien hanya membayar perbekalan farmasi yang dikonsumsinya saja. 4. 3. b. Meningkatkan pemberdayaan petugas profesional dan non profesional yang lebih efisien. 28 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Semua pekerjaan tersentralisasi yang lain. Dosis selanjutnya dilayani oleh IFRS sentral. 7. Keuntungan Beberapa keuntungan sistem distribusi dosis unit yang lebih rinsi sebagai berikut: 1.

c. dokter. 2. Perbekalan farmasi yang disediakan di ruangan adalah perbekalan farmasi yang diperlukan oleh banyak penderita. 10. 29 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Apoteker dapat datang ke unit perawatan/ruang pasien. untuk melakukan konsultasi perbekalan farmasi. Perbekalan farmasi yang diperlukan dapat segera tersedia bagi pasien. b. membantu memberikan masukan kepada tim. Keuntungan sistem distribusi kombinasi yaitu: a. dan biasanya adalah perbekalan farmasi yang harganya murah mencakup perbekalan farmasi berupa resep atau perbekalan farmasi bebas. Jumlah ruangan dalam sistem.Peningkatan dan pengendalian dan pemantauan penggunaan perbekalan farmasi menyeluruh. cakupan geografis dan tata ruang rumah sakit. Meningkatnya biaya operasional 4. Meningkatnya kebutuhan tenaga farmasi 2. Kelemahan: 1. pemantauan kinerja dari evaluasi mutu pelayanan tetap diperlukan guna memastikan bahwa sistem berfungsi sebagaimana dimaksudkan. Setelah sistem diterapkan. sebagai upaya yang diperlukan untuk perawatan psaien yang lebih baik.9. SISTEM DISTRIBUSI KOMBINASI Definisi: sistem distribusi yang menerapkan sistem distribusi resep/order individual sentralisasi. Adanya kesempatan berinteraksi dengan profesional antara apoteker. Analisis sitematik dari rasio manfaat-biaya dan perencanaan operasional. setiap hari diperlukan. Rancangan Sistem Distribusi Mendisain suatu distribusi perbekalan farmasi di rumah sakit memerlukan: 1. perawat dan pasien/keluarga pasien.Memberikan peluang yang lebih besar untuk prosedur komputerisasi. juga menerapkan distribusi persediaan di ruangan yang terbatas. Semua resep/order perorangan dikaji langsung oleh apoteker. populasi pasien. 11.

sedangkan tembusan disimpan pada rekam medik. Tujuan : agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan Kegiatan pengendalian mencakup: 1. asli dikirim ke IFRS. dari sistem komputer. Untuk sistem demikian. Jumlah stok ini disebut stok kerja. Hal ini tentu cukup mahal. Menentukan waktu tunggu (lead time) adalah waktu yang diperlukan dari mulai pemesanan sampai obat diterima. dokter memasukan order ke dalam komputer. 30 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . mencegah akses dan perubahan data oleh orang tidak berwenang terhadap order/resep perbekalan farmasi tersebut. dari ruangan pasien. akan tetapi untuk ruangan pasien yang jauh dari IFRS.Stok optimum adalah stok obat yang diserahkan kepada unit pelayanan agar tidak mengalami kelurangan/kekosongan 3. Komputerisasi. III. c. Menggunakan resep yang dibuat rangkap dua. Menentukan: . PENGENDALIAN Definisi: Pengendalian persedian adalah suatu kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di unitunit pelayanan. hal ini menguntungkan terutama dalam sistem distribusi perbekalan farmasi sentralisasi. order/resep dokter dikirim melalui faksimili. Kualitas dan kuantitas staf. rumah sakit harus menyediakan ketentuan dan/atau prosedur untuk melindungi data. 2. yaitu: a. Menggunakan faksimili. F. d. Memperkirakan/menghitung pemakaian rata-rata periode tertentu. contoh dari RSHS. b. disimpan. Formulir order dari ruangan gawat inap langsung ke IFRS. Beberapa bentuk permintaan perbekalan farmasi dari dokter kepada IFRS. dan order dicetak oleh IFRS.3.

Selain itu, beberapa pengendalian yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kefarmasian adalah sbb:

Rekaman pemberian obat Rekaman/catatan pemberian obat adalah formulir yang digunakan perawat untuk menyiapkan obat sebelum pemberian. Pada formulir ini perawat memeriksa obat yang diberikan sewaktu perawat berpindah dari pasien satu ke pasien lain dengan kereta obat. Dengan formulir ini perawat dapat langsung merekam/mencatat waktu pemberian dan aturan yang sebenarnya sesuai petunjuk.

Pengembalian obat yang tidakdigunakan Semua perbekalan farmasi yang belum diberikan kepada pasien rawat tinggal harus tetap berada dalam kereta dorong atau alat bantu angkut apapun. Hanya perbekalan farmasi dalam kemasan tersegel yang dapat dikembalikan ke IFRS. perbekalan farmasi yang dikembalikan pasien rawat jalan tidak boleh digunakan kembali. Prosedur tentang pengembalian perbekalan farmasi ini perlu dibuat oleh KFT bersama IFRS, perawat dan administrasi rumahsakit.

Pengendalian obat dalam ruang bedah dan ruang pemulihan Sistem pengendalian obat rumah sakit harus sampai ke bagian bedah, apoteker harus memastikan bahwa semua obat yang digunakan dalam bagian ini tepat order, disimpan, disiapkan, dan dipertanggungjawabkan sehingga pencatatan perlu dilakukan seperti pencatatan di IFRS.

III. G. PENGHAPUSAN Penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap perbekalan farmasi yang tidak terpakai karena kadaluwarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar dengan cara membuat usulan penghapusan perbekalan farmasi kepada pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.

31

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

Tujuan penghapusan adalahuntuk menjamin perbekalan farmasi yang sudah tidak memenuhi syarat dikelola sesuai dengan standar yang berlaku. Adanya penghapusan akan mengurangi beban penyimpanan maupun mengurangi risiko terjadi penggunaan obat yang sub standar.

Sediaan perbekalan farmasi yang rusak IFRS harus membuat prosedur terdokumentasi untuk mendeteksi kerusakan dan kadaluwarsa perbekalan farmasi serta penanganannya, IFRS harus diberi tahu setiap ada produk perbekalan farmasi yang rusak, yang ditemukan oleh perawat staf medik.

Penanganannya sebagai berikut: 1. Catatan dari manufaktur seperti nama dan nomor batch sediaan perbekalan farmasi harus tertera pada resep pasien rawat jalan, order/P-3 pasien rawat tinggal, rekaman pengendalian kemasan dan pada daftar persediaan dan etiket yang bersangkutan. 2. Dokumen tersebut no 1 (resep, order perbekalan farmasi, dan sebagainya) dikaji untuk menetapkan penerima (pasien dan unit rawat) no batch perbekalan farmasi yang ditarik. 3. Dalam hal penarikan produk yang signifikan secara klinik, arus disampaikan kepada penerima bahwa mereka mempunyai produk perbekalan farmasi yang akan ditarik itu. Untuk pasien rawat jalan, peringatan harus dilakukan sedemikian agar tidak menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi pasien harus dijamin mendapat penggantian perbekalan farmasi yang ditarik. Pimpinan rumah sakit, perawat, dan staf medik harus diberi tahu setiap penarikan perbekalan farmasi. Beberapa penjelasan juga harus diberitahukan kepada pasien yang menerima perbekalan farmasi yang ditarik. 4. Memeriksa semua catatan pengeluaran, kepada pasien mana perbekalan farmasi diberikan guna mengetahui keberadaan sediaan farmasi yang ditarik. 5. Mengkarantina semua produk yang ditarik, diberi tanda “jangan gunakan” sampai produk perbekalan farmasi tersebut diambil oleh atau dikembalikan ke pabrik/produsennya

32

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

Contoh: Rancangan susunan panitia Penghapusan Barang Milik Negara di Rumah Sakit Umum pusat.

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PELAYANAN MEDIK NOMOR: .............................. TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA (BM/KN) RS ..........................................

Menimbang: a. Bahwa untuk tertib administrasi dalam Penatausahaan Barang Milik/Kekayaan Negara, maka dipandang perlu membentuk Panitia Penghapusan Brang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) pada RS. ......; b. Bahwa untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut pada butir (a) tersebut perlu dibentuk suatu Panitia yang bertugas untuk itu. Mengingat: a. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2001 tentang Pengamanan dan Pengalihan Barang Milik Negara dan Pemerintah Pusat Kepada Daerah dalam rangkan Otonomi Daerah; b. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1956 tentang (Lembaran Negara No. 36 Tahun 1956) tentang Mengubah Penghapusan barang-barang karena Busuk, Rusak, dan Hilang dari Perhitungan Bendaharawan yang bersangkutan, tambahan Lembaran Negara No. 1041 tahun 1956 Tentang Penjelasan Lembaran NegaraNo. 36 tahun 1956; c. Instruksi Presiden RI No. 9 Tahun 1970 tanggal 21 Mei 1970 tentang Penjualan dan/atau Pemindahtanganan Barang yang dimiliki/dikuasai Negara; d. Instruksi Presiden RI No. 3 Tahun 1971 tanggal 30 Maret 1971 tentang Inventarisasi Brang Milik Negara; e. Instruksi Presiden RI No.7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; f. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1543/Menkes/SK/XI/2003 tanggal 4 November 2003 Tentang Petunjuk Tata Cara Penatausahaan
33

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

Brang Milik/Kekayaan Negara di lingkungan Departemen Kesehatan RI; g. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1539/Menkes/SK/XI/2003 tanggal 3 November 2003 Tentang Petunjuk Tata Cara Penghapusan dan Pemanfaatan Brang Milik/Kekayaan Negara di lingkungan Departemen Kesehatan RI;

34

Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit

...... 4. Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana RS 2.... Menyelesaikan administrasi Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) yang akan dihapus.. 6. Meneliti usulan penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) pada RS... RT Bag. Yanmed 6.. 5.. Melaporkan hasil pemeriksaan/penelitian Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) yang dihapus kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Koordinator Inventaris 7. Menyusun laporan termasuk membuat Berita Acara hasil pelaksanaan penghapusan. Inventaris Biro Keu & Perlengkapan 5. 3... Melaksanakan tindak lanjut penghapusan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.... 35 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Kasub Bag.MEMUTUSKAN Menetapkan Pertama: Membentuk Panitia Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) pada RS..... . Meneliti/memeriksa Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) yang diusulkan untuk dihapus. Umum & Kepeg Ditjen.Staf Instalasi Farmasi Kedua: Panitia bertugas: 1.. dengan susunan keanggotaan sebagai berikut: Ketua Sekretaris Anggota : Kepala Bidang Umum : Kepala Seksi RT 7 Perlengkapan : 1... 2.. . Kasub Bag. Kepala Seksi Akuntansi Keuangan 3. Kepala Seksi Perbendaharaan 4. tahun ..

... DIREKTUR JENDERAL PELAYANAN MEDIK Sekretaris... Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan RI 2.... Masing-masing yang bersangkutan Rancangan panitia penghapusan barang milik negara dan kekayaan negara di rumah sakit umum daerah dapat menyesuaikan dengan rancangan pada rumah sakit umum pusat 36 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .. Kepa Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan 3.............. : .. Inspektur Jenderal Depkes RI 5... DITETAPKAN DI PADA TANGGAL : ... Sekretaris Jenderal Depkes RI 4.....Ketiga: Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan................................... Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam Keputusan ini akan diadakan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya............. n................. ________________________________ NIP.. Kepala Biro Keuangan dan PerlengkapanSetjen Depkes RI 6... Tembusan: 1... . a...

d. 1. Pencatatan dilakukan secara rutin dari hari ke hari c. Jumlah perbekalan farmasi yang diterima c. pengeluaran. Setiap terjadi mutasi perbekalan farmasi (penerimaan. Data pada kartu stok digunakan untuk menyusun laporan. hilang. Jumlah perbekalan farmasi yang tersedia (sisa stok) b. Informasi yang didapat: a. H. rusak. rusak/kadaluwarsa) langsung dicatat di dalam kartu stok.pencatatan dapat dilakukan dengan menggunakan bentuk digital maupun manual.III. perencanaan pengadaan distribusi dan sebagai pembanding terhadap keadaan fisik perbekalan farmasi dalam tempat penyimpanan. Jumlah perbekalan farmasi yang keluar d. PENCATATAN Pencatatan merupakan suatu keguatan yang bertujuan untuk memonitor transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk di lingkungan IFRS. Jumlah perbekalan farmasi yang hilang/rusak/kadaluwarsa 37 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Adanya pencatatan akan memudahkan petugas untuk melakukan penelusuran bila terjadi adanya mutu obat yang sub standar dan harus ditarik dari peredaran. Fungsi: a. Kartu stok digunakan untuk mencatat mutasi perbekalan farmasi (penerimaan. Kartu yang umum digunakan untuk melakukan pencatatan adalah Kartu Stok dan Kartu Stok Induk. Kartu stok diletakkan bersamaan/berdekatan dengan perbekalan farmasi bersangkutan b. b. H. Tiap lembar kartu stok hanya diperuntukkan mencatat data mutasi 1 (satu) jenis perbekalan farmasi yang berasal dari 1 (satu) sumber anggaran. hilang. Hal-hal yang harus diperhatikan: a. PENCATATAN DAN PELAPORAN III. atau kadaluwarsa). c. pengeluaran. Penerimaan dan pengeluaran dijumlahkan pada setiap akhir bulan.

Contoh: eter. 38 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . lemari. 5) Satu jenis perbekalan farmasi disimpan dalam satu lokasi (rak. film. Perencanaan pengadaan dan distribusi d. 6) perbekalan farmasi dan alat kesehatan uang mempunyai sifat khusus disimpan dalam tempat khusus. teratur dengan memerhatikan tanda-tanda khusus (tidak bolehterbalik. 3) Penyimpanan bersusun dapat dilaksanakan dengan adanya forklift untuk perbekalan farmasi yang berat. 2) Penyimpanan antara kelompok/jenis satu dengan yang lain harus jelas sehingga memudahkan pengeluaran dan perhitungan.e. 4) perbekalan farmasi dalam jumlah kecil dan mahal harganya disimpan dalam lemari terkunci dan kuncinya dipegang oleh petugas penyimpanan dan pendistribusian. berat. Untuk mengetahui dengan cepat jumlah persediaan perbekalan farmasi b. Untuk pertanggungjawaban bagi petugas penyimpanan dan pendistribusian f. Petugas penyimpanan dan penyaluran mencatat semua penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi di kartu stok sesuai Dokumen Bukti Mutasi Barang (DBMB) atau dokumen lain yang sejenis. b. bulat. Penyusunan laporan c. Pengendalian persediaan e. segi empat dan lain-lain). Sebagai alat bantu kontrol bagi Kepala IFRS Petunjuk pengisian: a. dan lain-lain). Perbekalan farmasi disusun menurut ketentuan-ketentuan berikut: 1) Perbekalan farmasi dalam jumlah besar (bulk) disimpan di atas pallet atau ganjal kayu secara rapi. dan lain-lain. Jangka waktu kekosongan perbekalan farmasi Manfaat informasi yang didapat: a.

4) No. 5) Tanggal kadaluwarsa 6) Jumlah penerimaan 7) Jumlah pengeluaran 8) Sisa stok 9) Paraf petugas yang mengerjakan KARTU STOK INDUK Fungsi: 1. Batch/ No. asal (sumber) dan diletakkan bersama perbekalan farmasi pada lokasi penyimpanan. Tiap baris data hanya diperuntukkan mencatat 1 (satu) kejadian mutasi perbekalan farmasi 4. d. satuan. 2. Tiap lembar kartu stok induk hanya diperuntukkan mencatat dan mutasi 1 (satu) jenis perbekalan farmasi yang berasal dari semua sumber anggaran. Lot. pengeluaran. Perbekalan farmasi disimpan menurut sistem FEFO dan FIFO. Data pada kartu stok induk digunakan sebagai Alat kendali bagi Kepala IFRS terhadap keadaan fisik perbekalan farmasi dalam tempat penyimpanan 39 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . rusak atau kadaluwarsa). Kartu stok memuat nama perbekalan farmasi. e. Bagian judul pada kartu stok diisi dengan: 1) Nama perbekalan farmasi 2) Kemasan 3) Isi kemasan 4) Nama sumber dana atau dari mana asalnya perbekalan farmasi f. Kolom-kolom pada kartu stok diisi sebagai berikut: 1) Tanggal penerimaan atau pengeluaran 2) Nomor dokumen penerimaan atau pengeluaran 3) Sumber asal perbekalan farmasi atau kepada siapa perbekalan farmasi dikirim. Kartu Stok Induk digunakan untuk mencatat mutasi perbekalan farmasi (penerimaan. 3. hilang.c.

Bagian judul pada kartu induk persediaan perbekalan farmasi diisi dengan: Nama perbekalan farmasi tersebut Sumber/asal perbekalan farmasi Jumlah persediaan minimum yang harus ada dalam persediaan. rusak/kadaluwarsa) langsung dicatat didalam kartu stok 4. Penerimaan dan pengeluaran dijumlahkan pada setiap akhir bulan. 4) Jumlah perbekalan farmasi yang diterima berdasa sumber anggaran 5) Jumlah perbekalan farmasi yang dikeluarkan 40 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Sebagai pencerminan perbekalan farmasi yang ada di gudang 2. pengeluaran. Hal-hal yang harus Diperhatikan a. Petugas pencatatan dan evaluasi. Alat bantu bagi petugas untuk pengeluaran perbekalan farmasi 3. b. Alat bantu dalam nentukan kebutuhan c. dihitung sebesar waktu tunggu Jumlah persediaan maksimum yang harus ada dalam persediaan = sebesar stok kerja + waktu tunggu + stok pengaman d. Setiap terjadi mutasi perbekalan farmasi (penerimaan. Hal-hal yang harus diperhatikan: 1. mencatat segala penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi di Kartu Stok Induk.Alat bantu untuk penyusunan laporan perencanaan pengadaan dan distribusi serta pengendalian persediaan. Kartu stok induk diletakkan di ruang masing-masing penanggung jawab 2. hilang. Kartu Stok Induk adalah: 1. Kolom-kolom pada Kartu Stok Induk persediaan perbekalan farmasi diisi dengan: 1) Tanggal diterima atau dikeluarkan perbekalan farmasi 2) Nomor dan tanda bukti mis nomor faktur dan lain-lain 3) Dari siapa diterima perbekalan farmasi atau kepada siapa dikirim. Pencatatan dilakukan secara rutin dari hari ke hari 3.

Pelaporan Pelaporan adalah kumpulan catatan dan pendataan kegiatan administrasi perbekalan farmasi. tenaga dan perlengkapan kesehatan yang disajikan kepada pihak yang berkepentingan.Tersedianya data yang akurat sebagai bahan evaluasi . nomor batch dan lain-lain.Tersedianya arsip yang memudahkan penelusuran surat dan laporan . misal tanggal dan tahun kadaluwarsa.6) Sisa stok perbekalan farmasi dalam persediaan 7) Keterangan yang dianggap perlu. H. Tujuan: . 2.Mendapat data yang lengkap untuk membuat perencanaan 41 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .Tersedianya informasi yang akurat . III.

berupa jumlah dan rupiah Penggunaan obat program Pemakaian perbekalan farmasi Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin Jumlah resep Kepatuhan terhadap formularium Penggunaan obat terbesar Penggunaan antibiotik Kinerja Komputerisasi Kegunaan Untuk keperluan audit. wajib dibuat. mengirimkan. sebelum sistem pengendalian perbekalan farmasi dapat dikomputerisasi. Suatu studi yang teliti dan komprehensif dari sistem manual yang ada. informasikan untuk KFT Untuk audit Keterangan Banyak tugas/fungsi penanganan informasi dalam seistem pengendalian perbekalan farmasi (misalnya. wajib dibuat. penemuan kembali. Untuk keperluan audit dan perencanaan. wajib dibuat. perekaman. wajib dibuat. Untuk keperluan pengadaan. Untuk keperluan audit dan perencanaan. pengumpulan. dan informasi penggunaan perbekalan farmasi) dapat dilakukan lebih efisien dengan komputer daripada sistem manual. wajib dibuat. Untuk keperluan audit dan perencanaan. Untuk keperluan audit dan perencanaan. wajib dibuat. Untuk keperluan perencanaan. meringkas. Studi ini harus mengidentifikasi aliran data di dalam sistem dan menetapkan berbagai fungsi yang dilakukan dan hubungan timbal balik berbagai fungsi itu. wajib dilakukan.Jenis laporan yang sebaiknya dibuat oleh IFRS meliputi: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Laporan Keuangan (laporan yang telah dikeluarkan oleh IFRS) Mutasi perbekalan farmasi Penulisan resep generik dan non generik Psikotropik dan narkotik Stok opname Pendistribusian. informasikan untuk KFT Untuk keperluan perencanaan. Akan tetapi. wajib dibuat. Untuk keperluan perencanaan Untuk keperluan perencanaan. Informasi ini 42 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . penyimpanan. Untuk audit POM dan keperluan perencanaan. informasikan untuk KFT Untuk keperluan perencanaan. wajib dibuat.

Alokasi dana pengadaan obat a. b. Yang dilihat pada indikator ini adalah jumlah dana anggaran pengadaan obat yang disediakan pihak rumah sakit dibandingkan dengan jumlah kebutuhan dana untuk pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Pelaksanaan monev daapt dilakukan secara periodik dan berjenjang. 43 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . III. MONITORING DAN EVALUASI Salah satu upaya untuk terus mempertahankan mutu pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit adalah dengan melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Keberhasilan monev ditentukan oleh surpervisor maupun alat yang digunakan. Dengan indikator ini akan dapat dilihat komitmen pihak rumah sakit dalam penyediaan dana pengadaan obat sesuai kebutuhan tumah sakit. Tujuan: Meningkatkan produktivitas para pengelola perbekalan farmasi di rumah sakit agar dapat ditingkatkan secara optimum Indikator yang dapat digunakan dalam melakukan monev pengelolaan perbekalan farmasi antara lain: Nama Indikator: 1. I.kemudian digunakan sebagai dasar untuk mendisain atau mengevaluasi secara prospektif suatu sistem komputer. Kegiatan ini juga bermanfaat sebagai msukan guna penyususnan perencanaan dan pengambilan keputusan. Definisi Dana penggadaan obat adalah besarnya dana pengadaan obat yang disediakan/dialokasikan oleh pihak rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan obat untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Latar belakang Ketersediaan dan pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan obat untuk pasien merupakan prasyarat terlaksananya penggunaann obat yang rasional yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

dan kebutuhan dana pengadaan obat kebutuhan rumah sakit.000.000 = = 92.c. Untuk itu perlu diketahui besar dana yang disediakan oleh pihak rumah sakit apakah telah memasukkan parameter jumlah kunjungan kasus dalam pengalokasian dananya. Angka Ideal Dana pengadaan obat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan sebenarnya. Nama Indikator: 2.5% e. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari dokumen yang ada di rumah sakit berupa total dana pangadaan obat.000 / 135.000. yang sesuai dengan d.000.000 = Rp.5% dari total kebutuhan rumah sakit.000 x 100% = Rp. Penyampaian Hasil Dana pengadaan obat yang disediakan oleh pemerintah adalah sebesar 92. Biaya obat per kunjungan kasus penyakit a. f. Latar belakang Ketersediaan dan pengadaan obat yang sesuai dengan jumlah kunjungan kasus yang ada di rumah sakit bervariasi untuk masing-maisng rumah sakit. 44 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . 135. 125. Perhitungan dan Contoh Misalnya: Besarnya total dana pengadaan Besarnya total kebutuhan dana pengadaan obat Kesesuaian dana pengadaan obat 125. g.000. Catatan Total dana pengadaan obat adalah seluruh anggaran pengadaan obat yang berasal dari semua sumber anggaran yang ada.

800. d.000 = Rp. Perhitungan dan Contoh Misalnya: Besarnya total dana pengadaan Jumlah kunjungan kasus Biaya obat per kungjungan kasus 800. 4.000/160. Definisi Besaran dana yang tersedia untuk setiap kunjungan kasus. 160.000. c. 5.000 = Rp. serta jumlah kunjungan kasus yang didapatkan dari kompilasi rekam medik.500 e. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari dokumen yang ada di rumah sakit berupa total dana pengadaan. 5.500.000/160.000.000 = Rp.000. 720.b.000 = = Rp. Penyampaian Hasil Biaya obat per kunjungan kasus di rumah sait adalah sebesar Rp.000 Misalnya: Besarnya total dana pengadaan Jumlah kunjungan kasus Biaya obat per kungjungan kasus 720.000 = = Rp.000. 160. 45 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .000 = Rp.000 sedang biaya obat yang dialokasikan per kunjungan kasus adalah sebesar Rp 4.

c. Catatan Dengan diketahuinya standar biaya obat/kunjungan kasus dapat menjadi patokan dalam penetapan alokasi dana pengadaan obat di tahun-tahun mendatang. Untuk itu perlu diketahui besaran dana yang disediakan oleh pihak rumah sakit apakah telah memasukkan parameter jumlah kunjungan resep dalam pengalokasian dananya.000 46 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari dokumen yang ada di rumah sakit berupa: total dana pengadaan obat. g. Biaya obat per kunjungan resep a. Latar belakang pemikiran Keterangan dana pengadaan obat yang sesuai dengan jumlah kunjungan resep yang ada di rumah sakit bervariasi untuk masing-masing rumah sakit. Perhitungan dan Contoh Misalnya: Besarnya total dana pemakaian oabt tahun lalu = Rp. Nama Indikator: 3. Definisi Besaran dana yang dibutuhkan untuk setiap resep (digunakan pada waktu perencanaan obat) dan besaran dana yang tersedia untuk setiap resep (digunakan setelah turunnya alokasi dana pangadaan obat). Angka Ideal Biaya obat yang dialokasikan per kunjungan kasus harus memerhatikan parameter jumlah kunjungan kasus. 800. total dana pemakaian obat tahun lalu serta jumlah kunjungan resep yang didapatkan dari kompilasi rekam medik dan laporan penggunaan obat. b.000. d.f.

Jumlah resep Biaya obat per resep 800. Definisi Perencanaan kebutuhan nyata obat untuk rumah sakit dibagi dengan pemakaian obat per tahun.000 Misalnya: Besarnya total dana pengadaan Jumlah kunjungan kasus Biaya obat per kungjungan kasus 720. f.000/160. Nama Indikator: 4. b. 47 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .000 = Rp. 5.000 sedang biaya obat yang dialokasikan per kunjungan resep adalah sebesar Rp 4.000.000.000 = Rp.500. 160.500 e. Ketepatan perencanaan a.000. 4.000 = = Rp. Catatan Dengan diketahuinya biaya obat per resep dapat menjadikan patokan dalam penetapan alokasi dana pengadaan obat di tahun-tahun mendatang.000 = = Rp. Latar belakang pemikiran Obat yang disediakan untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit harus sesuai dengan kebutuhan pasien berarti harus sesuai dalam jumlah dan jenis obat untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit. 720. Angka Ideal Besarnya dana yang disediakan harus memasukkan parameter jumlah resep. 160.000 = Rp. 5. Penyampaian Hasil Biaya obat yang dibutuhkan per resep adalah Rp.000/160. g.

g. d. Penyampaian Hasil Demikian seterusnya untuk semua obat indikator Ketepatan perencanaan obat di rumah sakit adalah sebesar 80% dari total kebutuhan.000 = 80% e.000 = 90% = 800.c. Catatan Ketepatan perencanaan kebutuhan obat di rumah sakit merupakan awal dari fungsi pengelolaan obat yang strategis.000 = 1. Tetapkan obat indikator untuk rumah sakit yang dibuat dengan pertimbangan obat yang digunakan untuk penyakit terbanyak.000.000/500. 48 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .000/1.000.000 = 500.000 x 100% Jumlah obat B yang direncanakan dalam satu tahun Jumlah pemakaian obat B dalam satu tahun Ketetapan perencanaan obat = 800. Perhitungan dan Contoh Misalnya: Jumlah obat A yang direncanakan dalam satu tahun Jumlah pemakaian obat A dalam satu tahun Ketetapan perencanaan obat = 450. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari dokumen yang ada di instalasi farmasi di rumah sakit berupa: jumlah atau kuantum perencanaan kebutuhan obat dalam satu tahun dan pemakaian rata-rata obat per bulan di rumah sakit yang didapatkan dari laporan rekam medik.000 x 100% = 450. f. Angka Ideal Perencanaan kebutuhan adalah 100% dari kebutuhan baik dalam jumlah dan jenis obat.

000 = Rp. Prosentase dan nilai obat rusak a. 750. c. kurang baiknya sistem distribusi. Perhitungan dan Contoh Misalnya: Total jenis obat yang tersedia Total jenis obat yang rusak Prosentase obat rusak = 100 =2 = 2/100 x 100% = 2% Nilai obat yang rusak didapatkan dari: Obat yang rusak adalah A sebanyak Harga per kaleng obat A Nilai obat rusak = 10 kaleng = Rp. Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari dokumen yang ada di instalasi farmasi rumah sakit berupa: jumlah jenis obat yang tersedia untuk pelayanan kesehatan selama satu tahun dan jumlah jenis obat yang rusak dan harga masing-masing obat. d. Latar belakang pemikiran Terjadinya obat rusak mencerminkan ketidaktepatan perencanaan.Nama Indikator: 5. kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat serta perubahan pola penyakit. 75. Definisi Jumlah jenis obat yang rusak dibagi dengan total jenis obat. b.000 49 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

b. 750. Penyampaian Hasil Prosentase obat rusak di rumah sakit adalah sebesar 2% dengan nilai Rp. d. Catatan Adanya obat rusak di rumah sakit harus dijadikan bahan instropeksi untuk perbaikan pengelolaan obat. Untuk itu indikator ini digunakan untuk melihat tingkat penggunaan obat rasional di rumah sakit.e. c.000. g. Nama Indikator: 6. f. Perhitungan dan Contoh 50 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari rumah sakit berupa: kompilasi dari self-monitoring peresepan. Prosentase penggunaan antibiotik pada ISPA a. Angka Ideal Prosentase nilai obat rusak dan kadaluwarsa adalah 0%. Definisi Jumlah resep dengan antibiotik pada kasus ISPA non pneumonia dibagi dengan jumlah seluruh kasus (lama dan baru) ISPA non pneumonia. Latar belakang pemikiran Penggunaan antibiotik pada ISPA non pneumonia merupakan penggunaan obat yang tidak rasional larena tidak sesuai dengan pedoman pengobatan yang ada.

asesment pertumbuhan dan kemajuan IFRS.e. 51 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Angka Ideal Prosentase penggunaan antibiotik pada ISPA adalah 0% g. sesuai dengan peraturan yang berlaku. akreditasi dan manajemen yang baik. apakah pekerjaan perlu diperbaiki atau dipertahankan. Berbagai pencatatan harus disimpan dan bisa ditelurusi (retrievable) oleh IFRS. Pencatatan harus disimpan paling sedikit selama waktu yang ditetapkan oleh peraturan perundangundangan yang berlaku. pengeluaran biaya. penting bagi apoteker rumah sakit agar mereka mengetahui dan menerapkan peraturan tersebut di rumah sakit. Angka Ideal Apoteker harus selalu memelihara sistem pencatatan. Berbagai pencatatan disimpan untuk perlindungan hukum. f. mengevaluasi produktivitas. beban kerja. Oleh karena itu. dapat dilakukan evaluasi. Penyampaian Hasil Jumlah resep ISPA yang menggunakan antibiotik Jumlah seluruh resep ISPA = 2500 = 10000 Prosentase penggunaan antibiotik resep ISPA = 2500/10000 x 100% = 25% Prosentase penggunaan antibiotik pada ISPA di rumah sakit adalah sebesar 25%. Dengan pencatatan yang baik.

Penanganan limbah. Petugas yang bekerja harus terlindungi 4. Sitostatika tergolong obat berisiko tinggi karena mempunyai efek toksik yang tinggi terhadap sel. pengemasan.serta digunakan untuk menghambat pertumbuhan tumor malignan. tranportasi 5. Dilaksanakan oleh petugas yang terlatih 6. A. Perlengkapan pelindung (baju. Penanganan tumpahan obat sitostatika 6. dan teratogenik. dan orang lain yang tidak menderita sakit. onkogenik. sarung tangan) 3. Adanya protap Standar kerja yang harus dipersiapkan meliputi: 1. masker. Oleh karena itu. mutagenik. mutagenik. Istilah sitostatika biasa digunakan untuk setiap zat yang mungkin genotoksik. penggunaan obat sitostatik membutuhkan penanganan khusus untuk menjamin keamanan. Jaminan mutu produk 5. Dilaksanakan dengan teknik aseptik 2. profesional kesehatan. perawat. topi. keselamatan penderita. Penanganan sitostatika harus memerhatikan: 1. Pelatihan petugas 4. terutama dalam reproduksi sel sehinnga dapat menyebabkan karsinogenik. Teknik khusus penanganan sitostatika 2. 52 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Tujuan penanganan bahan sitostatik/berbahaya adalah untuk menjamin penanganannya yang tepat dan aman di rumah sakit. PENANGANAN BAHAN SITOSTATIK DAN BAHAN BERBAHAYA LAIN Bahan sitostatika adalah zat/obat yang merusak dan membunuh sel normal dan sel kanker. dan sifat berbahaya lainnya. Pengerjaan dalam Biological Safety Cabinet (BSC) 3. Penandaan.BAB IV KEGIATAN FARMASI KHUSUS IV. teratogenik.

Protap pengerjaan dalam ampul 4. di ruangan ini petugas menggunakan perlengkapan steril. Persiapan .Alat : obat sitostatika.Contoh Prosedur Tetap penanganan sitostatika yang aman terdiri dari: 1. jarum. Sarana dan Prasarana yang Diperluka untuk Penananganan Sitostatika A. Alat 1) Pass Box 53 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Protap pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan saat penyiapan sitostatika 5. A. Partikel udara sangat dibatasi: kelas 100. 10000 partikel/liter d. baju. sarung kaki 2. topi. Ada HEPA Filter 2) Ruang Transisi Ruangan ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang aseptik. Tekanan ruangan diatur f. Dinding terbuat dari epoksi c. Protap penanganan jika obat jatuh dan pecah 6. Aliran udara diketahui dan terkontrol e. Ruang tidak ada sudut atau siku b. 1. Protap ruang aseptik 3. 3) Ruang Cuci Tangan Ruangan ini digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah melakukan penanganan obat sitostatika. B. pelarut : spuit. Protap penanganan limbah sitostatika IV. Ruang 1) Persyaratan Ruang Aseptik a. sarung tangan. Suhu dan kelembapan udara terkontrol (suhu:18-22 oC dan kelembaan 35-50%) g. 1000. masker.Bahan .

Alat ini berfungsi untuk melindungi petugas. Sepatu: terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam. HEPA filter diganti setiap 4 tahun sekali. Aliran udata yang masuk kedalam LAF harus konstan. dan pengendalian obat didalam rumah sakit juga berlaku untuk sediaan radiofarmasi.Jendela antara ruang administrasi dan ruang aseptik berfungsi untuk keluar masuknya obat kedalam ruang aseptik 2) Laminar Air Flow (LAF) LAF yang digunakan untuk pencampuran sitostatika adalah tipe: Biological Safety Cabinet (BSC). Topi: harus menutupi kepala sampai leher c. b. untuk melindungi mata jika petugas tidak menggukan google. pengujian. SEDIAAN RADIO FARMASI Prinsip dasar dari pembuatan. Masker: harus mempunyai kaca plastik. e. pengemasan. IV. Prinsip kerja dari alat ini adalah: tekanan udara di dalam lebih negatif dari tekanan udara diluar sehingga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Keterlibaan IFRS dalam penanganan sediaan radiofarmasi adalah pada saat 54 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Untuk validasi alat ini haru dikalibrasi setiap 6 bulan. Baju: terbuat dari bahan yang tidak mengandung serat dan harus menutupi seluruh anggota badan kecuali muka. sterilisasi. Validasi HEPA filter dilakukan setiap 6 bulan dengan jalan kalibrasi. Didalam BSC udara bergerak vertikal membentuk barier sehingga jika ada percikan obat sitostatika tidak terkena petugas. d. Sarung tangan: digunakan rangkap dua dan terbuat dari bahan latex. 3) Kelengkapan APD (Alat Pelindung Diri) Kelengkapan init terdiri dari: a. 4) Biological Safety Cabinet (BSC) Alat ini digunakan untuk pencampuran sitostatika. materi yang dikerjakan dan lingkungan sekitar. B. IFRS pada dasarnya tidak terlibat langsung dalam penanganan sediaan radiofarmasi.

IV. Obat tersebut dapat digunakan jika: 1) Disetujui dokter yang merawat penderita tersebut di rumah sakit. maka sediaan tersebut langsung dikelola oleh bagian radio nuklir di masing-masing rumah sakit. Ruang Anak No A 1 2 Tgl Jam Nama BHMP Injeksi Adrenalin HCl inj Aminofilin inj 55 Jumlah Paraf Petugas Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . dokter harus menulis suatu resep yang sesuai dalam kartu pengobatan penderita. Jika identidikasi obat tersebut telah diperoleh.pemesanan dan penerimaan sediaan tersebut. Obat yang dibawa penderita harus dikirim ke IFRS untuk diverifikasi identitasnya. tidak terpisah. 3) Obat tidak dapat diperoleh IFRS Jika boleh digunakan. IV. D. Setelah sediaan tiba di IFRS. C. 2) Tidak memengaruhi keamanan dan efektivitas obat yang diberikan dokter di rumah sakit. PERBEKALAN FARMASI YANG DIBAWA PENDERITA Penggunaan obat milik penderita yang dibawa dari tempat asal ke dalam rumah sakit harus sedapat mungkin dihindari. maka obat tersebut tidak boleh digunakan. PERSEDIAAN PERBEKALAN FARMASI UNTUK KEADAAN DARURAT Persediaan perbekalan farmasi dalam keadaan darurat adalah persediaan perbekalan farmasi yang digunakan untuk menangani kasus darurat di masing-masing ruangan. Hal yang penting untuk diperhatikan IFRS berkaitan dengan sediaan radiofarmasi adalah mengetahui jumlah seidaan yang dipesan. maka harus disiapkan/diracik sebagai bagian dari sistem dosis unit. Jika obat dimaksud sulit untuk diidentifikasi. Dibawah ini diberikan contoh persediaan farmasi untuk keadaan darurat di beberapa bangsal: A. digunakan dan sisa stok.

4% larutan N4 (1:4) NaCl 0.3 4 5 6 7 B 1 2 3 4 5 6 7 C 1 D 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Ampicillin 1 g inj Atrofin Sulfat inj Chloramfenicol inj Dexametason inj Dextrose 40% Infus Dekstrose 10% inf Dekstrose 5% inf KAEN 3A KAEN 3B KCl 7.9% inf Ringer Lactat inf Lain-Lain Ventolin Nebul Alat Keseatan 3 ways 3 ways berekor IV Catheter 20 IV Catheter 22 IV Catheter 24 IV Catheter 26 Blood transfusion set Disp Syr 1 cc Disp Syr 3 cc Disp Syr 5 cc Disp Syr 10 cc Folcath 6 Folcath 8 Folcath 10 Infusion Buret Infusion Set Infusion Set M-Drip NGT 5 56 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

4% Manitol 20% NaCl 0.19 20 21 22 23 24 25 NGT 6 NGT 8 NGT 10 Urine bag nin steril Deks Urine Bag Colector Wing Needle 25 Wing Needle 27 B. Ruang Bedah No A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 B 1 2 3 4 C 1 2 3 4 5 3 ways Abbocath 16 Abbocath 18 Abbocath 20 Abbocath 22 57 Kbic Nat 8.9% inf Ringer Lactat inf Alat Keseatan Tgl Jam Nama BHMP Injeksi Adrenalin HCl inj Aminofilin inj Atrofin Sulfat inj Ca gluconas inj Chlorpromazin inj Cortison Acetat inj Dexametason inj Furosemida inj Gentamicin inj Lidocain inj Ranitidin inj Tramadol inj Infus Jumlah Paraf Petugas Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 D 1 2 3 Abbocath 24 Cath Suction 14 Cath Suction 16 Disp Elektroda Redot Disp Syr 1 cc Disp Syr 3 cc Disp Syr 5 cc Disp Syr 10 cc Disp Syr 20 cc Folcath 16 Folcath 18 Infusion Set Infusion Set M-Drip Mayo 4 Nasal Oksigen Stomach tube 16 Stomach tube 18 Urine bag nin steril Deks Urine Bag Colector Lain-Lain Aquabidest KY jelly USG jelly C. Ruang Medikal No A 1 2 3 4 5 7 8 Tgl Jam Nama BHMP Injeksi Adrenalin HCl inj Aminofilin inj Atrofin Sulfat inj Ca gluconas inj CaCl2 Dexametason inj Dextrose 40% 58 Jumlah Paraf Petugas Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

46% Paradryl Paramidon Infus Dextrose 5% inf Dextrose 10% inf Dextrose 2. 3. Persediaan untuk masing-masing item perbekalan farmasi ditetapkan oleh KFT. Perbekalan farmasi harus dicek setiap kali ada perubahan penanggung jawab ruangan. Perbekalan farmasi yang kosong harus segera diajukan permintannya kepada IFRS. 4.9% inf Ringer Lactat inf Alat Keseatan 3 ways Cath Suction 14 Disp Elektroda Redot Disp Syr 1 cc Disp Syr 3 cc Disp Syr 5 cc Disp Syr 10 cc Disp Syr 20 cc IV Cath 20 Folcath 18 Infusion Set Infusion Set M-Drip Nasal Oksigen Mekanisme pengelolaan perbekalan farmasi untuk keperluan darurat adalah sebagai berikut: 1. 59 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .9 10 11 12 B 1 2 3 4 5 C 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Furosemida inj KCl 7.45% NaCl 0. Perbekalan farmasi harus selalu tersedia. misal ada alih jaga dari petugas siang ke malam dan sebaliknya. Tidak boleh ada perbekalan farmasi yang kosong. 2.5% inf + NaCl 0.

PERBEKALAN FARMASI DONASI/UJI COBA Perbekalan farmasi donasi adalah perbekalan farmasi yang diberikan secara cumacuma atau gratis dari perusahaan farmasi untuk digunakan di rumah sakit tanpa imbalan apapun. E. dan lain sebagainya. Perbekalan farmasi ini dapat dijadikan aset rumah sakit. Sumber pembiayaan Obat Program kesehatan dapat berasa. IV. IV. Flu Burung. reaksi alergi. Obat dimaksud digunakan untuk keperluan program kesehatan tertentu seperti program penanggulangan: HIV/AIDS.Perbekalan farmasi Me too baru tetap diuji coba.Perbekalan farmasi baru sebelum diuji coba harus mendapatkan pengesahan terlebih dahulu dari KFT/Komite Medik. Malaria. konvulsi dan bronkospasme. Syaratnya: . harus disediakan untuk pengobatan gangguan jantung. TB. Pada umumnya rumah sakit tidak perlu mengadakan obat program kesehatan. F. OBAT PROGRAM KESEHATAN Obat program kesehatan adalah obat yang disediakan untuk keperluan program kesehatan baik yang berskala nasional maupun lokal. Perbekalan farmasi uji coba adalah perbekalan farmasi baru yang diberikan secara Cuma-Cuma untuk diuji coba efektivitasnya. KFT harus menetapkan obat dan perlengkapan yang masuk ke dalam persediaan untuk keadaan darurat. TB. akan tetapi rumah sakit dapat berkonstribusi dalam perencanaan kebutuhan obat tersebut dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan 60 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . IFRS akan menindaklanjuti surat tersebut kepada KFT untuk mendapatkan pengesahan. kemudian user mengajukan surat permohonan kepada ke IFRS. harus dapat pengesaan dari user. . Persediaan obat untuk keadaan darurat harus diinspeksi oleh personil IFRS secara rutin untuk menetapkan jika isinya telah kadaluwarsa dan untuk mempertahankan isis pada jumlah yang memadai. gangguan peredaran darah. Flu Burung. Pada saat ini obat program kesehatan yang telah dapat diakses oleh rumah sakit antara lain HIV/AIDS. APBD maupun bantuan luar negeri. dari: APBN.Perbekalan farmasi untuk keadaan darurat.

61 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Ruang lingkup tanggung jawab Dinas Kesehatan mengenai obat program kesehatan meliputi: perhitungan rencana kebutuhan. penyimpanan dan distribusi obat serta relokasi obat dari satu unit pelayanan kesehatan kepada unit pelayanan kesehatan yang lain. target dan sasaran program tersebut. Dalam hal ini rumah sakit perlu mengingatkan Dinas Kesehatan menjadi leading sector dalam pengelolaan obat program kesehatan secara keseluruhan.setempat (Dinas kesehatan kabupaten/kota dan propinsi). Syarat lain yang harus dipenuhi adalah obat program kesehatan hanya boleh dipergunakanbagi pasien tertentu sesuai dengan kriteria. Selain itu obat tersebut tidak boleh diperjualbelikan kepada penderita. Rumah sakit pada dasarnya dapat mengakses obat program kesehatan yang ada di Dinas kesehatan dengan cara mengajukan permohonan kepada Dinas Kesehatan dan selanjutnya membuat laporan penggunaan obat tersebut seara periodik kepada Dinas Kesehatan dimana obat tersebut diperoleh.

Kriteria mutu meliputi: kemurnian. penyimpanan. bioavailabilitas. A. sehingga dapat memengaruhi mutu obat. Tablet Terjadinya perubahan warna. bau. dan faktor lainnya. atau rasa. dan stabilitas. pengemasan. Perubahan mutu obat dapat diamati secara visual dan jika dari pengamaran visual diduga ada kerusakan yang tidak dapat ditetapkan dengan cara organoleptik. potensi. kosong. lubang. Apotekerdi IFRS mempunyai peran vital untuk menjamin mutu obat yang baik serta pengelolaan perbekalan farmasi yang efektif Ada beberapa kegiatan pengendalian mutu yang dapat dilakukan oleh IFRS antara lain: V. retak dan/atau terdapat benda asing. sumbing. berbintik-bintik. pecah. Tanda-tanda perubahan mutu obat: 1. Kedua hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap keselamatan penderita serta pemborosan sumber daya yang sudah sangat terbatas. maka harus dilakukan sampling untuk pengujian laboratorium. Kerusakan berupa noda. Mutu obat yang rendah akan menghasilkan efek terapi substandar serta dapat menimbulkan reaksi efek samping maupun efek toksis pada penderita. 62 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Semua aspek mutu diatas dapat dipengaruhi oleh proses pembuatan. Kapsul Perubahan warna isi kapsul Kapsul terbuka.BAB V PENGENDALIAN MUTU Mutu obat yang rendah dapat memengaruhi mutu pelayanan kesehatan diantaranya menyebabkan rendahnya efek terapi dan efek samping. Kaleng atau botol rusak. keseragaman bentuk sediaan. Pengelolaan perbekalan farmasi yang efisien di rumah sakit akan meningkatkan ketersediaan obat dengan mutu yang memadai sebagai bentuk penghematan. rusak atau melekat satu dengan lainnya. 2. jadi bubuk dan lembab. PENGENDALIAN SECARA ORGANOLEPTIS Mutu obat yang disimpan di gudang dapat mengalami perubahan baik karena faktor fisik maupun kimiawi.

Jika sudah lewat masa kadaluwarsa jangan mengambil risiko untuk menggunakannya.3. Tablet salut Pecah-pecah. ampul) Terdapat partikel asing pada serbuk injeksi Larutan yang seharusnya jernih tampak keruh atau ada endapan Warna larutan berubah Tindak lanjut terhadap obat yang terbukti rusak adalah: Dikumpulkan dan disimpan terpisah Dikembalikan/diklain sesuai aturan yang berlaku Dihapuskan sesuai aturan yang berlaku Pengamatan mutu untuk alat-alat kesehatan: Beberapa aspek yang dapat dijadikan dasar pengamatan mutu alat kesehatan antara lain: Masa kadaluwarsa . Salep Warna berubah Konsistensi berubah Pot atau tube rusak atau bocor Bau berubah 6. Cairan Menjadi keruh atau timbul endapan Konsistensi berubah Warna atau rasa berubah Botol-botol plastik rusak atau bocor 5. terjadi perubahan warna Basah dan lengket satu dengan yang lainnya Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik 4. 63 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . perhatikan apakah masa kadaluwarsanya sudah terlampaui atau belum. Injeksi Kebocoran wadah (vial.

PENGENDALIAN MUTU OBAT SECARA LABORATORIS Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pengendalian mutu obat dengan cara organoleptis. Mekanisme pengujian dapat dilakukan oleh: Rumah sakit. Balai POM. Kemasan. cermati kapan produksi alkes tersebut. Pabrik. kondisi penampilan fisik yang nampak masih sama dengan produk alkes yang baru ini dapat dijadikan pertimbangan apakah produk alkes tersebut masih dapat digunakan atau tidak. Sucofindo. jika hasilnya masih meragukan dapat dirujuk ke: Labkes. Fakultas Farmasi. Program pengendalian mutu obat secara organoleptis tidak membutuhkan biaya dan dapat dilakukan secara periodik oleh IFRS V. B. Hal-hal yang perlu diuji: Kualitatif Kuantitatif Strerilitas Efektivitas 64 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .Waktu produksi. Bila lebih dari masa kadaluwarsa yang umum berlaku sebaiknya berkonsultasi dengan user. jika kemasan sudah rusak sekalipun masa kadaluwarsanya belum terlampaui sebaiknya jangan digunakan. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah: A. Selain tiu dapat juga melakukan konsultasi dengan user. Kriteria perbekalan farmasi yang perlu diuji meliputi: Sediaan farmasi steril yang diproduksi rumah sakit Produk yang diragukan mutu B. Penampikan fisik. atau laboratorium lainyya yang telah terakreditasi C.

Program pengendalian mutu obat khususnya untuk uji laboratorium dapat berlangsung bila rumah sakit mengalokasikan dana pengujian 65 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

Rumah sakit ini merupakan rujukan untuk Kabupaten sekitarnya. Pada banyak rumah sakit di daerah terpencil ini sangat mencolok. Untuk dapat melakukan penganggaran yang sesuai dengan kebutuhan.BAB VI ANGGARA DALAM PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI Penganggara merupakan suatu mekanisme penting pengelolaan obat. 66 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Sebagai contoh di rumah sakit kelas C di Indonesia Timur. Untuk mengatasi situasi ini rumah sakit bekerjasama dengan BUMN di bidang farmasi membuka apotek. Data yang diperlukan untuk mendukung penyusunan anggaran antara lain: Data kompilasi penggunaan obat per tahun Data kompilasi biaya perbekalan farmasi per tahun Data biaya obat per kasus per tahun Data sia stok Tujuam Penganggaran: Agar dapat memenuhi kebutuhan obat di rumah sakit Kemdala Anggaran dalam Pengelolaan Perbekalan Farmasi Salah satu komponen penunjang yang sangat vital dalam pengelolaan perbekalan farmasi adalah ketersediaan anggaran yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan untuk penyediaan perbekalan farmasi di rumah sakit. maka diperlukan adanya suatu data pendukung yang memadai. Jumlah tempat tidur sekitar 177. Anggaran yang disediakan oleh pemerintah daerah per tahun adalah sekitar 30 juta rupiah. Akibat dari pembukaan apotek swasta menyebabkan rumah sakit tidak mempunyai akses untuk mengontrol penggunaan obat di rumah sakit. Kendala umum dijumpai di rumah sakit dalam pengelolaan obat meliputi beberapa aspek antara lain: Sumber daya manusia Sumber anggaran yang terbatas Sarana dan prasarana Pad bab ini hanya akan dibahas mengenai keterbatasan anggaran di rumah sakit.

Dana ini selanjutnya diserahkan lepada rumah sakit melalui keputusan Walikota/Gubernur untuk dikelola khusus untuk penyediaan obat di rumah sakit. Mengingat kondisi diatas tentunya diperlukan informasi untuk menentukan sumber anggaran atau sumber obat yang dapat diakses oleh rumah sakit. VI. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab moral dari suatu perusahaan. A. Rumah Sakit Umum Pusat akan dapat mengakses anggaran ini secara langsung. Sumber anggaran ini dapat bersumber dari pemerintah maupun pihak swasta. dari pengalaman di beberapa daerah berasal dari pemerintah daerah. Corporate Social Responsibility (CSR). VI. A. 2. SUMBER ANGGARAN YANG BERASAL DARI SWASTA\ 1. SUMBER ANGGARAN YANG BERASAN DARI PEMERINTAH 1. sedangkan rumah sakit umum daerah dapat mengakses anggaran ini dalam bentuk natura seperti obat program kesehatan atau obat buffer propinsi dan kabupaten/kota yang disediakan oleh Depkes. 1. 3. Salah satu contoh rumah sakit yang telah menerapkan mekanisme ini adalah: Rumah Sakit Umum Daerah Pringadi Kota Medan. ada beberapa sumber anggaran yang dapat diakses. 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggaran ini berasal dari anggaran pemerintah pusat. SUMBER ANGGARAN Untuk menunjang pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit.Padahal pendekatan pemecahan masalah seperti itu bukan satu-satunya cara. 2. Anggaran ini dapat berasal dari pemerintah Kabupaten/Kota maupun propinsi. Dana ini awalnya dari pemerintah. Perusahaan yang 67 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . A. Mekanisme ini sangat membantu rumah sakit untuk mengatasi kendala keterbatasan dana penyediaan obat. VI. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Rrevolving Fund.

Lembaga Swadaya Masyarakat nasional maupun internasional. Ada banyak sumber anggaran/sumber obat yang dapat diakses oleh rumah sakit untuk menunjang pelayanan 68 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . 2. Obat donasi ini umumnya akan berdatangan bila terjadi suatu bencana atau kejadian luar biasa di suatu daerah. 3. Diluar situasi tersebut obat donasi masih dapat diakses oleh rumah sakit dengan cara mengajukan proposal kepada lembaga tersebut diatas. Hal yang perlu diperhatikan pada saat mengajukan atau menerima obat donasi adalah: Masa kadaluwarsa obat tersebut. Donasi Obat dan perlengkapan donasi dapat diperoleh di beberapa perusahaan. Anggaran melalui CSR ini dapat berlangsung jangka pendek maupun jangka panjang tergantung dari kemampuan negosisasi dan juga penerapan di lapangan. Untuk dapat mengakses anggaran pada program ini dibutuhkan suatu proposal dari rumah sakit kepada perusahaan.berskala Nasional (Swasta asing/nasional maupun BUMN) maupun internasional pada umumnya mempunyai program ini. Asuransi Anggaran yang berasal dari asuransi yang saat ini ada dan dapat diakses oleh rumah sakit antara lain: Askes. Jamsostek maupun program Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin yang saat ini berubah nama menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat. Jangan sampai terjadi karena obat donasinya dari Rusia semua tulisan dalam label obat berbahasa Rusia. Potensi sediaan harus sesuai dengan potensi yang lazim digunakan di Indonesia. Bahasa dalam label di upayakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.

efektif. akan berkontribusi teradap peningkatanmutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. dan efisien akan mendorong penggunaan obat yang rasional di rumah sakit. Diharapkan dengan terlaksananya pengeolaan obat yang baik. 69 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Pengelolaan perbekalan farmasi yang baik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya pengobatan.BAB VII PENUTUP Buku pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi apoteker yang bekerja di rumah sakit dalam pengelolaan perbekalan farmasi yang baik. Pengelolaan perbekalan farmasi yang baik.

. “Textbook of Hospital Pharmacy”. “ Handbook of Institutional Pharmacy Practice”. 7.DAFTAR PUSTAKA 1. EGC. Elex Media Komputindo. Fell JT. 1998 Quick.. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. 3.D.. Prayitno A. Tan CK. 1980. Prof. 2003 Brown TR. 2004 9. 8. Jakarta. J.. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 4nd ed. Jakarta.2nd ed. JP Siregar. 2004 Cipolle RJ. “Pharmaceutical Care Practice”. “Managing Drug Supply. 1997 Depkes RI. Depkes RI. Dr. 6. WHO. 2005 Charles. Buku Pedoman Pengelolaan Obat. Allwood. Blockwell Scientific Publications. Direktorat Bina Obat Publik. “Farmasi Klinik. MSc. Teori dan Penerapan”. 2002 2. 4. Mc Graw Hill.. Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 70 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit . Strand LM. Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien”. Aslam M.” Farmasi Klinis. Cetakan I. Kumarian Press. M. ASHP. 5. Direktorat Bina Farmasi dan Alat Kesehatan. 10.. Revised and Expanded. Morley PC.C.

LAMPIRAN-LAMPIRAN 71 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

Lampiran 1 Formulir I RENCANA KERJA OPERASIONAL (PLAN OF ACTION) NO KEGIATAN URAIAN KEGIATAN WAKTU PELAKSANA/ PEN.JAWAB INSTALASI/ PELAKSANA YANG TERKAIT 72 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

Lampiran 2 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Total Rata2 /Bln % Formulir II No Unit Pelayanan Kesehatan Jan Feb LAIN-LAIN TOTAL 73 .

Lampiran 3 Formulir III DATA 10 PENYAKIT TERBESAR NO URUT 1 NOMOR KODE 2 NAMA PENYAKIT 3 JUMLAH PENDERITA ANAK 4 DEWASA 5 TOTAL 6 74 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .

D ISTRIB USI CARA DISTRIBUSI AKTIF TGL PENERI MAAN NO SURAT PENGA NTAR NO DOKU MEN DBMO Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 1 2 3 4 5 Formulir IV 75 .Lampiran 4 KARTU RENCANA DISTRIBUSI REALISASI I REALISASI II REALISASI III NO NAMA OBAT PASIF TGL PENERI MAAN AKTIF PASIF AKTIF PASIF NO SURAT PENGA NTAR TGL PENERI MAAN NO DOKU MEN DBMO CARA DISTRIBUSI NO SURAT PENGA NTAR NO DOKU MEN DBMO CARA DISTRIBUSI KEBUT UHAN /TAHU N FREK.

................................ : ................................. : ...... BUKU HARIAN PENGELUARAN OBAT LPLPO NAMA OBAT BANYAKNYA TANGGAL 4 5 6 7 8 9 10 11 12 NO KODE HARGA SATUAN JUMLAH HARGA UNIT PENERIMAAN TANGGAL PENYERAHAN KETERA NGAN NO URUT TANGGAL NOMOR Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Formulir V 1 2 3 76 ...................................................Lampiran 5 DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT: ALAMAT : .................

................. S/D.....................................S/D BULAN ........ PENERIMAAN SELAMA 3 BLN ...............(d) ......................................... : .........................(a) 200 ................................ 6 7 8 PENGELUARAN SELAMA 3 BLN ...................... CODE NAMA OBAT SISA PADA ................................................................... SISA PADA ................ KETERANGAN Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit 3 4 5 9 1 2 Formulir VI ... : . S/D............... ..................(c) KEPALA IFRS/UPOPPK 77 .................. (b) LAPORAN MUTASI OBAT TRIWULAN: ..............Lampiran 6 DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT: ALAMAT : .................. NO URUT SATUAN NO...........

Lampiran 7 LAPORAN KEGIATAN DISTRIBUSI UNIT PELAYANAN KESEHATAN: TOTAL KUNJUNGAN RESEP PENERIMAAN PERSEDIAAN PEMAKAIAN STOK OPTIMUM TINGKAT KECUKUPAN UMUM 5 6 7 8 9 10 ASKES 11 TIDAK BAYAR 12 NO JENIS OBAT SATUAN STOK AWAL Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Formulir VII 1 2 3 4 78 .

........................... BANYAKNYA (DENGAN ANGKA) BANYAKNYA (DENGAN HURUF) SATUAN KEMASAN OBAT NAMA / JENIS OBAT JUMLAH HARGA OBAT KEADAAN OBAT-OBATAN 3 4 5 6 7 HARGA/ SATUAN KEMASAN PENDAPAT PANITIA Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit 8 Panitia Pemeriksaan/Peneliti: 1..Lampiran 8 LAMPIRAN BERITA ACARA PEMERIKSAAN/PENELITIAN OBAT UNTUK DIHAPUS NOMOR: ....TANGGAL: .. Nama : Jabatan : 3................ Nama : Jabatan : 2........ Nama : Jabatan : 1 2 Disaksikan: Petugas Penyimpanan dan Penyaluran.... Nama : Formulir VIII Jabatan : 79 Mengetahui: ........

Lampiran 9 FORMULIR MONITORING INDIKATOR PERESEPAN Bulan : Tahun : Unit Pelayanan Kabupaten Propinsi : : : Tgl Diagnosis Jumlah R/ Antibiotik 1/0 Injeksi 1/0 Nama Obat Dosis No Nama Umur Jumlah Generik 9 a. b. a. c. b. b a. c c 10 11 Jumlah Sesuai Pedoman Y/Tidak 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit Formulir IX 2 3 4 80 . b. c a.

a. b. c.Tgl Diagnosis Jumlah R/ Antibiotik 1/0 Injeksi 1/0 Nama Obat Dosis Jumlah No Nama Umur Jumlah Generik 9 a. b a. 10 11 12 13 Sesuai Pedoman Y/Tidak 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 A E F% G% H% B C D Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit n TOTAL RATA-RATA PRESENTASI Keterangan: A = Jumlah R/ untuk semua pasien B = Jumlah pasien yang mendapat entibiotika C = jumlah pasien yang mendapat injeksi N = jumlah pasien (sampel) 1 = Jika diberikan antibiotika atau injeksi 0 = Jika tidak diberikan antibiotika dan injeksi 81 E = A/n F = B/n x 100% G = C/n x 100% H = D/A x 100% .

82 Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit .