Anda di halaman 1dari 18

Kutipan

"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit." "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah." o Salah satu judul pidato beliau. Disingkat menjadi JASMERAH.

KEMERDEKAAN

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet Rusia merdeka telah mempunyai Dnepprprostoff, dan yang maha besar di sungai Dneppr? Apa ia telah mempunyai radio station yang menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet-Rusia merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Indonesia merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dahulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu per satu. Di dalam Soviet-Rusia merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Soviet-Rusia satu per satu. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Di seberang jembatan, jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya, sudahlah ia merdeka. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalisnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad 'Merdeka, merdeka atau mati'! o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945

NEGARA

Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun Saudarasaudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. kita hendak mendirikan suatu Negara 'semua buat semua'. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi 'semua buat semua'. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke! o Sumber: Soekarno, Pidato di Surabaya, 24 September 1955

KEBANGSAAN/NASIONALISME

Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatra, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Internationalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945

KESEJAHTERAAN

Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hdup, yakni politik economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil ialah social rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalmnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945

MONARKI

Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan otomatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945

GOTONG-ROYONG

Kekeluargaan adalah suatu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! o Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945

SOEKARNO PIDATO SOEKARNO: LAHIRNYA PANCA SILA 1/4 Paduka tuan Ketua yang mulia! Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mullia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini. Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan d a s a r n y a Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda:"P h i l o s o f i sc h e g r o n d s l a g" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan merdeka". Merdeka buat saya ialah: p o l i t i c a l i n d e p e n d e n c e , p o l i t i e k e o n a f h a n k e l i j k h e i d . Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid? Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang - saya katakan didalam bahasa asing, maafkan perkataan ini - zwaarwichtig" akan perkara yang kecil-kecil. Zwaarwichtig" sampai -kata orang Jawa- njelimet". Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai njelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan. Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negaranegara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya! Alangkah berbedanya i s i itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai,itu selesai, itu selesai, sampai njelimet!, maka saya bertanya

kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu. Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Disitu ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu!! Toch Saudi Arabia merdeka! Lihatlah pula - jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat - Soviet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Soviet, adakah rakyat soviet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik yang lebih dari pada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Soviet itu. Dan kita sekarang disini mau mendirikan negara Indonesia merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan! Maaf, P. T. Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai njelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mesngalami Indonesia merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia merdeka, - sampai dilobang kubur! (Tepuk tangan riuh). Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 33 saya telah menulis satu risalah, Risalah yang bernama Mencapai Indonesia Merdeka". Maka di dalam risalah tahun 33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu j e m b a t a n e m a s . Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa d i s e b e r a n g n y a jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat. Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam s a t u m a l a m, - in one night only! -, kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! S e s u d a h jembatan" itu diletakkan oleh Ibn saud, maka d i s e b e r a n g jembatan, artinya k e m u d i a n d a r i p a d a i t u, Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi arabia. Orang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade yaitu orang badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, - semuanya diseberang jembatan. Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet-Rusia Merdeka, telah mempunyai Djnepprprostoff*), dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyai radiostation, yang menyundul keangkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia merdeka t e l a h dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio- station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini danitu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannnya tuan-tuan punya semangat, - jikalau tuan-tuan demikian -, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang! (Tepuk tangan riuh). Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, pada hal semboyan Indonesia merdeka bukan sekarang saja

kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan INDONESIA MERDEKA SEKARANG". Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka s e k a r a n g , s e k a r a n g , s e k a r a n g ! (Tepuk tangan riuh). Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia merdeka, - kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar hati!. Saudara -saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu j e m b a t a n ! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid, - in one night, di dalam satu malam! Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan: Indonesia merdeka, s e k a r a n g ! Jikalau umpamanya Balatentera Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke- rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia merdeka? (Seruan: Tidak! Tidak) Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menitpun kita tidak akan menolak, s e k a r a n g p u n kita menerima urusan itu, s e k a r a n g p u n kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka! (Tepuk tangan menggemparkan) Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Soviet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dll. tentang isinya: tetapi ada satu yang s a m a, yaitu, rakyat Saudi Arabia sanggup m e m p e r t a h a n k a n negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup m e m p e r t a h a n k a n negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, saudarasaudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk merdeka. (Tepuk tangan riuh) *) Yang dimaksud Dnepropetrovsk, suatu kawasan industri di mana terdapat bendungan raksasa di sungai Dnepr, dan disitu dibangun stasiun pembangkit tenaga listrik yang merupakan tulang punggung perindustrian Soviet Rusia (ket. - LSSPI

M Djumaini Kartaprawira PhD

BUNG KARNO SEBAGAI BAPAK PEMERSATU BANGSA INDONESIA DAN AJARANNYA PERJUANGAN BUNG KARNO MEMPERSATUKAN BANGSA Bung Karno sebagai pejuang pemersatu bangsa, pejuang melawan kolonialisme dan imperialisme, proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia dan presiden RI pertama selalu dikenal dan dihormati oleh rakyat Indonesia. Sebab selama hayatnya Bung Karno telah menyerahkan seluruh tenaga dan fikirannya untuk mempersatukan bangsa Indonesia agar menjadi bangsa besar yang hidup dalam masyarakat berkeadilan dan berkemakmuran masyarakat adil makmur, yang bebas dari penindasan manusia atas manusia, dan eksploitasi manusia atas manusia. Semua konsekuensi perjuangan untuk itu dia hadapi dengan berani, meskipun harus masuk keluar penjara, menjalani pembuangan dari satu tempat ke tempat lain, menghadapi pencaci-makian dari lawan-lawan politiknya, pengkhianatan dari kawan-kawan seperjuangannya, mempertaruhkan kekuasaan dan jiwanya pada saat kesehatannya yang sudah sa-ngat kritis. Kepeduliannya atas nasib rakyat Indonesia yang dijajah oleh kolonialisme Belanda adalah motor yang menggerakkan jiwa Bung Karno untuk menyerahkan seluruh jiwa raganya dalam perjuangan politik tersebut. Maka tidak mengherankan kalau garis perjuangan Bung Karno adalah melenyapkan kolonialisme untuk berdirinya Indonesia Merdeka. Bung Karno menyadari bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak bisa lepas dengan perjuangan melawan kapitalisme. Maka perjuangan Indonesia Merdeka juga tertuju kepada terbentuknya masyarakat adil makmur (sosialisme Indonesia), yang bebas dari eksploitasi manusia atas manusia. Dan akhirnya, perjuangan untuk Indonesia Merdeka dan terbentuknya masyarakat adil makmur tidak bisa tercapai tanpa adanya persatuan seluruh bangsa Indonesia. Atas dasar pokok-pokok pikiran tersebut di atas Bung Karno telah berhasil: 1. Menggugah rasa kebangsaan, sehingga bisa membangkitkan kesedaran diri bahwa harus bersatu padu untuk melawan penjajahan. Sebagai hasil proses kesadaran itulah maka lahir Sumpah Pemuda pada Oktober 1928 yang merupakan manifestasi tekad para pemuda untuk mewujudkan bangsa Indonesia bersatu di bawah semboyan satu bangsa - bangsa Indonesia, satu bahasa bahasa Indonesia, dan satu tanah air - tanah air Indonesia. 2. Dengan dukungan rakyat, memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 45, yang diikuti dengan pembentukan UUD 1945, pemerintahan beserta alat perlengkapan negara lainnya. Indonesia Merdeka inilah yang selalu ditunggu segera kelahirannya, tanpa menunggu sampai rakyat bisa membaca, berbudaya tinggi dsb. 3. Memimpin bangsa untuk mempertahankan negara dari usaha-usaha come-backnya kolonialisme Belanda yang disertai dengan aksi kolonial pertama dan kedua. Bagaimanapun beratnya mempertahankan negara menghadapi lawan yang persenjataannya jauh melebihi, dengan persatuan seluruh kekuatan bangsa perjuangan dapat dimenangkan.

4. Menggagalkan politik devide et impera Belanda yang dengan mendirikan negara-negara boneka bertujuan untuk mengeroyok RI di dalam Republik Indonesia Serikat. Tetapi kenyataannya, negara-negara buatan van Mook tersebut satu demi satu bergabung dengan RI. Dan akhirnya RIS berubah menjadi NKRI secara konstitusional. Hal ini membuktikan api persatuan Bung Karno tetap membakar jiwa rakyat di daerah-daerah tersebut dan gagallah proyek federalisme van Mook. 5. Dengan tindakan tegas menyelamatkan negara dari bahaya separatisme dan gerombolan-gerombolan pembrontak (RMS, PRRI-Permesta, Di/TII, Gerombolan Andi Azis dll.) sehingga Indonesia terhindar dari ancaman disintegrasi yang sangat berbahaya bagi eksistensi negara Indonesia yang masih muda. 6. Memimpin perjuangan rakyat merebut kembali Irian Barat dari cengkeraman kolonialisme Belanda, sehingga tercapailah persatuan dan kesatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Harus diakui bahwa perjuangan mempersatukan bangsa yang begitu majemuk suku bangsanya, etniknya, agamanya, tingkat budayanya, wilayah dan jumlahnya yang begitu besar, dan dilakukan dalam keadaan yang serba kekurangan adalah kesuksesan yang maha besar. Suatu bukti persatuan bangsa dapat memenangkan segala macam perjuangan. SUMBER IDE PERSATUAN BUNG KARNO Seluruh kiprah perjuangan Bung Karno yang telah berhasil mempersatukan bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda, mendirikan Negara Republik Indonesia (bahkan menggalang solidaritas internasional melawan nekolim), adalah buah ide dan gagasan cemerlang yang dilahirkannya sejak masa mudanya. Suatu ide politik tidak akan lepas dari suatu situasi di mana penggagas berpijak. Ide Bung Karno lahir di mana bangsa Indonesia dalam keadaan nestapa karena penjajahan kolonialisme Belanda dan eksploitasi sistem kapitalisme. Maka tidak mengherankan kalau benang merah ide dan ajaran Bung Karno adalah persatuan bangsa Indonesia untuk mengubah kenestapaan rakyat menuju masyarakat adil dan makmur yang bebas dari eksploitasi manusia atas manusia. Jelas ide persatuan tersebut mempunyai tujuan luhur, bukannya persatuan demi persatuan. 1. Ide persatuan yang pertama, dipublikasikan dalam sebuah artikel Nasionalisme, Islamisme dan Marx-isme. Dalam artikel tersebut dengan jelas ide persatuan antara tiga golongan itu menjadi intinya. Sebab masyarakat Indonesia pada dasarnya langsung atau tidak, terlibat dalam ketiga ideologi tersebut. Dan kenyataan tersebut tidak bisa dibantah oleh siapapun. Dalam artikel tersebut, yang ditulis pada tahun 1926 di dalam Suluh Indonesia Muda, dan dalam masa gawat-gawatnya perjuangan melawan kolonialisme Belanda, dengan jelas Bung Karno menganjurkan dan membuktikan bahwa persatuan antara masyarakat penganut Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme bisa terjadi. 2. Ide persatuan tercermin juga dalam ajaran Marhaenisme. Dalam Marhaenisme ini tercermin ide persatuan kekuatan akar bawah, sebab persatuan di sini terutama diarahkan kepada kaum: proletar, tani dan kaum melarat lainnya. Mereka inilah yang oleh Bung

Karno disebut kaum marhaen. Untuk merekalah perjuangan terbentuknya masyarakat adil dan makmur dengan memegang panji-panji sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. 3. Ide Persatuan tercermin dalam Pancasila, yang dilahirkan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945 di dalam pidatonya di dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dengan jelas sekali ajaran persatuan nasional, persatuan bangsa Indonesia ini dituangkan dalam pidato tersebut. Anggota BPUPKI yang terdiri dari bermacam-macam golongan ternyata bisa menerima Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara Indonesia Merdeka. Bung Karno dalam pidatonya di Universitas Indonesia tahun 1953 yang berjudul Negara Nasional dan cita-cita Islam melukiskan bagaimana susah payahnya menghasilkan kompromi dalam sidang BPUPKI. Sebab kalau tidak menyetujui adanya Pancasila mungkin Indonesia tidak akan muncul sebagai Indonesia seperti dewasa ini. Mungkin di wilayah ex-Hindia Belanda ini yang muncul adalah negara Indonesia tanpa Minahasa, Bali, Batak Toba, Kep. Maluku, Timor, Flores dan lain-lainnya. Demikianlah Pancasila yang merupakan tuangan ide persatuan bangsa, yang kemudian dijadikan dasar filsafat negara RI. 4. Ide Persatuan tercermin juga dalam konsep NASAKOM (persatuan unsur Nasionalis, Agama dan Komunis). Nasakom ini sesungguhnya penyempurnaan dari ide yang tertuang dalam artikel Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Hanya saja unsur Islam diperluas menjadi unsur Agama(A), sehingga di dalamnya persatuan tersebut selain Islam terdapat agama-agama lainnya (Katolik, Protestan Hindu, Budha). Sedang unsur KOM adalah penegasan bahwa dialah yang karena tanpa tedeng aling-aling menonjolkan ide Marxisme, diakui sebagai unsur yang mewakili golongan marxisme. Dengan demikian NASAKOM merupakan realisasi ide persatuan Bung Karno sesuai konfigurasi peta politik konkrit pada waktu itu. PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN PEDOMAN PERSATUAN NASIONAL Semua ide Bung Karno tentang persatuan tersebut di atas terkonsentrir di dalam Pancasila, yang telah menjadi dasar negara RI. Maka uraian mengenai Pancasila akan mendapatkan tempat yang utama. Situasi politik di Indonesia yang sangat rawan akan ancaman disintegrasi bangsa adalah disebabkan karena akibat kekuasaan rezim orde baru yang telah menyelewengkan nilai-nilai Pancasila. Maka mengkaji, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila adalah salah satu usaha penting untuk menghindarkan bahaya disintegrasi bangsa dewasa ini. Fakta historis tanggal 1 Juni 1945 yang melahirkan Pancasila harus dijadikan titik tolak dalam mengkaji dan mengamalkan Pancasila, supaya tidak terjadi penafsiran kontroversial tentang hakekat Pancasila yang sebenarnya. Adalah sangat penting untuk mengembalikan makna nilai-nilai Pancasila sesuai dengan apa yang digagas oleh Bung Karno. Maka dalam mengkaji balik Pancasila, pertama-tama harus kita akui bahwa Pancasila itu digali oleh Bung Karno, yang tertuang dalam pidatonya

pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sebab dari situ kita akan menemukan inti filsafat Pancasila sebenarnya, yang langsung dari penggalinya - Bung Karno. Mengenai Pancasila, Bung Karno selalu menyatakan dirinya hanya sebagai Penggalinya. Tapi sesungguhnya pernyataan itu hanya sebagai pernyataan rendah hati. Yang tepat sesungguhnya Bung Karno tidak hanya sebagai penggali, tetapi juga penciptanya. Menggali berarti mengambil sesuatu yang masih merupakan bahan mentah dari kandungan bumi. Sedang mencipta berarti mengolah, membuat sedemikian rupa sehingga bahan-bahan galian yang masih mentah tersebut menjadi barang-jadi. Seperti kita ketahui Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, memang digali dari bumi Indonesia, dimana rakyatnya telah berabad-abad menganut berbagai macam agama. Tapi tergalinya fakta tersebut, belumlah cukup untuk mengatakan adanya atau terciptanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan Falsafah Pancasila. Fakta tersebut masih merupakan bahan galian yang mentah. Sebab fakta adanya bermacam-macam agama belum merupakan konsepsi falsafah yang bisa menangkal kemungkinan timbulnya bentrokan atau peperangan antara penganut-penganutnya. Bahan galian tersebut baru menjadi salah satu sila dari Pancasila setelah diolah oleh Bung Karno menjadi suatu rumusan filsafat negara yang berintikan toleransi, saling menghormati dan persatuan dari para penganut berbagai-bagai agama untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Begitu juga sila Kebangsaan (nasionalisme, persatuan Indonesia) adalah hasil godogan Bung Karno dari rasa kesadaran sukubangsa-sukubangsa yang mendiami wilayah Indonesia sebagai kesatuan bangsa Indonesia dengan rasa kesadaran menghargai dan menghormati martabat bangsa lain. Dengan digalinya fakta bahwa di kepulauan Indonesia terdapat suku-suku bangsa yang bermacam-macam, belum bisa menjamin tidak adanya permusuhan antarsuku. Lebih dari itu Nasionalisme dalam filsafat Pancasila adalah Nasionalisme yang berpadu dengan Humanisme, yang oleh Bung Karno disebut sosio-nasionalisme (Ben Anderson menamakannya Nasionalisme Kerakyatan). Jadi jelas bukan nasionalisme sempit yang menuju kepada sovinisme, seperti yang berkembang di Eropah. Sedang sila Demokrasi (Musyawarah-mufakat, atau Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan) adalah suatu hasil godogan antara galian yang berwujud musyawarah dan mufakat yang telah ada berabad-abad di kalangan masyarakat Indonesia dengan falsafah yang mengarah kepada tercapainya keadilan dan kemakmuran rakyat bersama. Maka demokrasi yang demikian itu bukanlah demokrasi yang menjurus ke anarkisme, yang liberal-liberalan untuk berlomba memupuk kekuasaan dan kekayaan bagi diri sendiri, keluarganya atau kelompoknya, hingga melupakan kepentingan rakyat. Demokrasi berdasarkan filsafat Pancasila oleh Bung Karno disebut Sosio-Demokrasi, yaitu Demokrasi yang bersenyawa dengan tuntutan Sila Keadilan Sosial, yang merupakan demokrasi di bidang politik, ekonomi dan budaya. Demikianlah bahan-bahan mentah yang telah digali Bung Karno telah dia masak dengan bumbu-bumbu: toleransi, persatuan dan cita-cita masyarakat adil makmur

sehingga tercipta menjadi Pancasila Dasar Filsafat Negara RI dan pedoman untuk perjuangan persatuan nasional. Kita tidak bisa memalsukan sejarah Pancasila, yang dilahirkan pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Maka segala tafsiran mengenai Pancasila haruslah bertolak pada sumber aslinya, kalau tidak mau dikatakan memutar-balikkan sejarah dan hakekat Pancasila. Selanjutnya Bung Karno menyatakan Pancasila bisa diperas menjadi Trisila (Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi, Ketuhanan YME). Sedang Trisila bisa juga diperas menjadi Ekasila - Gotongroyong. Perasan terakhir ini mencerminkan inti dari Pancasila, yaitu persatuan seluruh kekuatan bangsa Indonesia untuk bersama-sama bergotong royong berjuang demi terbentuknya masyarakat adil dan makmur. Formulasi Pancasila seperti yang diucapkan Bung Karno di BPUPKI diformulasikan di dalam UUD 45 (dan konstitusi RIS, UUDS NKRI 1950) agak berbeda. Meskipun demikian Pancasila yang tercantum di dalam UUD 45 (Pembukaan) tidak bisa dikatakan bertentangan dengan Pancasila yang diucapkan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Hanya dua hal yang menurut pendapat kami harus mendapatkan perhatian bahwa; 1. Bagaimanapun formulasinya di dalam Pembukaan UUD 45, tetaplah Bung Karno sebagai Penggali/Penciptanya. 2. Bagaimanapun formulasinya di dalam Pembukaan UUD 45 haruslah segala penafsiran dan pengamalannya sesuai dengan yang tersurat dan tersirat di dalam pidato Pancasila Bung Karno. Hal ini penting sekali untuk menghindarkan penyalah gunaan ajaran Pancasila. LIKU-LIKU SEJARAH PERJALANAN PANCASILA Di masa kekuasaan Orde Baru Pancasila selalu dijadikan label pada kegiatan dan kebijakannya. Nama Pancasila dicatut untuk menutupi kekuasaan fasis otoriter yang antirakyat, antinasional dan antidemokrasi. Demikianlah dengan pembubuhan kata Pancasila pada Demokrasi muncullah apa yang dinamakan Demokrasi Pancasila, dengan mana rezim Orde Baru selama 32 tahun telah melakukan tindakan-tindakan yang melanggar Pancasila itu sendiri, UUD 45, HAM dan keadilan. Di samping itu Orde Baru tidak hanya menjadikan Pancasila sebagai label belaka, tapi juga memperalat sedemikian rupa sehingga dengan mudah penguasa bisa mencap seseorang yang berbeda politiknya, melanggar atau mengkhianati Pancasila. Dan bersamaan dengan itu penguasa menyebarkan momok komunis/komunisme untuk menakut-nakuti rakyat. Rezim Orde Baru juga melakukan usaha-usaha untuk menghapus jasa-jasa Bung Karno dari sejarah Indonesia dan memanipulasi Pancasila. Misalnya, penguasa yang melalui mendikbudnya - Nugroho Notosusanto, berusaha memalsukan fakta sejarah, dengan pernyataannya bahwa penggali Pancasila bukan Bung Karno. Kita belum lupa penghapusan peringatan 1 Juni - Hari lahirnya Pancasila dan diganti dengan peringatan terbunuhnya para jenderal dalam peristiwa G30S dengan nama Hari Kesaktian Pancasila, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Pancasila. Dan sangat menyedihkan bahwa uang negara dihambur-hamburkan oleh rezim Orde Baru hanya untuk mengelola suatu badan yang bernama BP-7 (dbp. Alwi Dahlan), yang nota bene bertujuan agar

Pancasila tetap bisa dimanfaatkan sebagai kendaraan untuk mempertahankan kekuasaan Orba. Pada zaman Orde Baru, 5 paket UU politik dan Dwifungsi ABRI merupakan perangkat politik yang jelas-jelas menjegal realisasi sila Demokrasi (musyawarah-mufakat), sehingga mengakibatkan demokrasi menjadi lumpuh tidak berjalan. Kekuasaan totaliter-militeristik Orde Baru selama 32 tahun mengakibatkan rakyat dewasa ini harus mulai belajar demokrasi lagi. Dan terasa sampai dewasa ini demokrasi hanya dijadikan alat untuk menang-menangan dalam perebutan kepentingan golongan, sehingga mengorbankan kepentingan rakyat. Kesenjangan sosial warisan Orde Baru sampai sekarang terus ditanggung rakyat. Kalau kesenjangan sosial ini diumpamakan sebagai rumput kering, maka siapa saja yang melempar api kepadanya akan terbakarlah rumput tersebut dan terjadilah malapetaka yang tragis. Api penyulutnya itu bisa dari perselisihan etnis, agama, politik, dan apa saja. Maka tidak mengherankan timbulnya keresahan-keresahan sosial di beberapa daerah sebagai pencerminan menipisnya nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat. Dengan adanya pembakaran gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya, telah membuktikan tentang adanya bahaya yang mengancam ajaran toleransi kehidupan antaragama yang terkandung dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan adanya bentrokan fisik antara orang-orang Dayak dan orang-orang Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang mengorbankan banyak nyawa juga membuktikan adanya bahaya yang mengancam atas ajaran kerukunan antarsuku bangsa yang terkandung di dalam Sila Persatuan Indonesia (Nasionalisme). Ucapan seorang menteri Orde Baru pada 17 Juni 1997 di Surabaya bahwa:Halal darah dan nyawa para perusuh, menunjukkan bagaimana nilai-nilai Pancasila direalisir oleh Orde Baru. Seandainya saja kue hasil pembangunan itu bisa mengucur dari atas ke bawah - ke rakyat, dari pusat ke daerah, mungkin keresahan sosial sedikit demi sedikit bisa diatasi. Tapi sampai sekarang kue pembangunan tersebut hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Padahal untuk membiayai terciptanya kue pembangunan ini telah dikeruk habis-habis kekayaan rakyat (minyak, gas, hutan, emas dll.) ditambah dengan hutang luar negeri yang berjumlah kurang lebih 150 milyar USD. Ada suatu anggapan bahwa kalangan lapisan atas dengan sengaja berusaha melupakan katakunci pemerataan, yang sejak dulu (sebelum adanya perestroikanya Gorbacev) telah merupakan tujuan dari Sila Keadilan Sosial. Sedang pembangunan yang berwujud gedung-gedung tinggi megah, obyek-obyek rekreasi mewah, jalan-jalan aspal halus dan sebagainya, bukanlah prioritas pembangunan yang diperlukan bagi kepentingan puluhan juta orang yang hidup di sekitar garis kemiskinan. Juga jalannya sila Perikemanusiaan (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab) masih perlu diluruskan. Adalah wajar bahwa setiap perbuatan yang melawan hukum harus ditindak sesuai peraturan hukum yang berlaku. Tapi jelas tidak wajar bahwa di dalam negara hukum Indonesia telah terjadi pembunuhan massal dan penahanan puluhan ribu orang selama bertahun-tahun tanpa proses hukum, yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda penegakan hak azasi yang terlanggar

tersebut. Adalah sukar diterima oleh akal sehat bahwa orang yang menjadi korban penyerbuan (di gedung DPP PDI jalan Diponegoro tahun 1996) malah diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman. Dimana sila Kemanusiaan? Yang Adil dan Beradab? Nol besar, tidak ada kemanusiaan, tidak ada keadilan, apalagi yang beradab. Kasus-kasus yang terjadi di zaman Orde Baru tersebut, sampai sekarang dampaknya masih terasa dan belum terselesaikan. Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah Indonesia. Mengenang sejarah Pancasila mau atau tidak mau kita mengenang Bung Karno juga, yang telah berjasa menggali, menciptakan dan menempatkan Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara Indonesia. Tidaklah salah kalau Pancasila dikatakan sebagai hasil pemikiran Bung Karno yang genial, yang mengandung nilai-nilai filsafat tinggi, yang bisa diterapkan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain demi kerukunan ummat dan perdamaian dunia. Adalah suatu penyelewengan terhadap Pancasila, apabila penafsirannya tidak berdasarkan Pancasila-asli, seperti yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Mengenang Bung Karno adalah mengenang sejarah perjuangan rakyat Indonesia yang mendambakan kerukunan, kemerdekaan, perdamaian, keadilan dan kemakmuran. PERSATUAN UNTUK PERJUANGAN REFORMASI Dalam era reformasi dewasa ini kiranya perlu dikobarkan lagi ide persatuan Bung Karno demi suksesnya gerakan reformasi, demi penghancuran sisa-sisa kekuatan Orde Baru dan sistemnya. Hanya dengan demikianlah pengentasan bangsa dan negara dari kungkungan multikrisis bisa dilaksanakan. Ini berarti bahwa para elite politik harus menghentikan perang-tandingnya dalam perebutan kedudukan dan kekuasaan, mengarahkan moral intelektualnya kepada perbaikan nasib rakyat yang terpuruk dalam kubangan multikrisis dewasa ini. Para elit politik harus sadar diri akan perlunya membangun kembali toleransi dan hidup berdampingan secara damai antarumat beragama, perlunya kerukunan kehidupan antar suku-bangsa dan etnik, perlunya kesadaran akan supremasi hukum, HAM dan Keadilan sosial. Proses disintegrasi bangsa dan negara yang sedang berjalan dewasa ini adalah akibat dari proses pembodohan yang dilakukan oleh Orde Baru, yang mengakibatkan rakyat kehilangan jiwa dan semangat Pancasila, tidak mengenal kembali nilai-nilai Pancasila. Sebab Orde Baru sendiri tidak berkepentingan untuk merealisasi nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya, seperti apa yang diajarkan Bung Karno dalam pidatonya 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI. Tapi sebaliknya ajaran Pancasila bahkan diselewengkan dan ditunggangi untuk kepentingan kelanggengan kekuasaannya. Dewasa ini, setelah jatuhnya rezim Suharto, muncullah ke permukaan alam nyata akibat pembodohan dan diselewengkannya Pancasila: di beberapa daerah timbul gerakan separatisme, kerusuhan yang bermuatan isu agama, pertentangan antara etnik dan lain-lainnya. Hal itu, seperti telah diuraikan di atas, menunjukkan hilangnya rasa sebagai satu bangsa, rasa toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan beragama dan rasa

kerukunan suku-suku bangsa dalam kehidupan bermasyarakat. Sedang merebaknya organisasi-organisasi kemiliteran dewasa ini, yang dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk pengingkaran nilai-nilai Pancasila, jelas hanya menambah eskalasi keresahan di dalam masyarakat yang telah bosan akan keresahan. Dalam era perjuangan untuk reformasi dewasa ini perlu sekali satu poin penting dari Manipol (Manifesto Politik) diperhatikan. Yaitu pemisahan antara kawan dan lawan revolusi Indonesia. Tapi sesuai dengan perkembangan politik dewasa ini, poin tersebut harus diformulasikan sebagai pemisahan kawan reformasi dan lawan reformasi (atau Pro-Reformasi dan Kontra-Reformasi). Hal ini penting sekali di mana kekuatan orde Baru masih bertebaran di seluruh lembaga-lembaga negara dan kemasyarakatan. Jangan sampai yang kita rangkul adalah lawan reformasi dan sebaliknya kawan malah kita tendang. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan reformasi, kalau di dalam barisan reformasi bercokol tokoh-tokoh antireformasi. Bahwasanya Presiden Gus Dur dalam berbagai kesempatan mengangkat Soekarno dan ajaran-ajarannya, patutlah mendapatkan acungan jempol. Sebab apa yang dilakukan Gus Dur tersebut merupakan suatu hal yang sangat langka dilakukan oleh elit-elit politik lainnya. Mereka sebaliknya malah selalu menjelek-jelekkan Bung Karno, menyamakan Soekarno dengan Soeharto. Tapi dalam kaitannya dengan Pidato Perdamaian yang diucapkan Presiden Gus Dur, di mana diminta agar kita menghilangkan istilah orde-orde-an (Orba, Orla), agaknya perdamaian semacam itu dapat disangsikan kemaslahatannya. Hal itu sama saja mencampur harimau dan kambing dalam satu kandang, setelah penghapusan nama harimau dan kambing. Akibatnya hanya ketragisan yang akan kita peroleh. Sebaliknya kita seharusnya lebih jeli lagi melihat siapa kawan dan siapa lawan reformasi, kita harus lebih giat lagi mengekspos kejahatan-kejahatan Orba, yang telah mencelakakan Negara dan Bangsa. Menghilangkan kata Orde Baru (Orba) dalam kamus politik sama saja kita menghapus atau paling tidak melupakan kejahatan-kejahatan Orde Baru. Maka dari itu dalam perjuangan untuk reformasi, kita harus lebih menekankan perlunya persatuan bangsa atas dasar prinsip persatuan bangsa seperti yang tertuang dalam Pancasila ajaran Bung Karno, dengan tanpa melupakan siapa kawan dan lawan reformasi. Dari uraian di atas jelaslah bahwa ide dan ajaran Bung Karno tentang persatuan bangsa sangat relevan sebagai salah satu pedoman untuk mengatasi multikrisis di Indonesia dewasa ini. Dalam memperingati HUT ke-100 Bung Karno sepantasnyalah kalau kita mengangkat salut setinggi-tingginya kepada Bung Karno, yang telah berjasa menanamkan ide persatuan bangsa dan yang dengan konsekuen mempertahankan ide tersebut dari masa mudanya hingga akhir hayatnya. Bahkan pencopotan jabatan presiden oleh MPR-Orba yang dipimpin jendral A.H.Nasution (dengan TAP MPR No.XXXIII/1967) tidaklah menggoyahkan konsistensinya atas ide dan ajarannya tersebut di atas. Dalam perjuangan reformasi dewasa ini, yang antara lain berjuang untuk menegakkan keadilan, maka selayaknyalah gerakan reformasi

menuntut pencabutan TAP MPR No.XXXIII/1967, yang tidak adil dan inkonstitusional, sebagai tanda penghormatan atas jasa-jasa Bung Karno terhadap bangsa dan negara.* Nederland, Juni 2001 Salam Jaimunbinm

Piagam Jakarta dan Hubungan antar Umat Beragama ```````````````````````````` Oleh: Mbah Dukun S Pengantar ```````````` Pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh pemerintah Jepang sebagai upaya pelaksanaan janji mereka tentang kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Radjiman Widjodiningrat. Pada hari terakhir sidang pertama BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno, salah seorang anggota, menyampaikan usulan fundamen filsafat negara, yang dikenal dengan Pancasila. Keterangan Soekarno tentang Pancasila dalam sidang itu menunjukkan dengan jelas bahwa ia sendiri mengakui adanya ketergantungan dengan orang lain, baik orang Indonesia maupun orang asing, seperti Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, dan Kesejahteraan Rakyat. Pertanyaan yang penting ialah dari sumber manakah Soekarno mengangkat prinsip Ketuhanan, yang akhirnya dikenal sebagai Ketuhanan Yang Mahaesa. Pengertian Ketuhanan, pada dasarnya, berlatarbelakang muslim, walaupun tidak selalu tidak diterima oleh golongan bukan muslim. Prinsip Ketuhanan setidaknya diilhami oleh uraian dari para pemimpin Islam yang berbicara mendahului Soekarno dalam sidang itu. Dalam sidang itu ada dua paham yang terlihat. Kedua paham itu ialah yang menganjurkan agar Indonesia didirikan sebagai negara Islam dan anjuran lainnya, seperti Hatta, yaitu negara persatuan nasional yang memisahkan unsur negara dan agama. Dengan kata lain bukan negara Islam. Ternyata di dalam Naskah Persiapan UUD 1945 jilid II yang disusun oleh Yamin tidak memuat satupun pidato para anggota nasionalis Islam. Yang dimuat hanyalah tiga, yaitu (1) pidato Soekarno, (2) pidato Yamin, dan (3) pidato Soepomo. BPUPKI juga berhasil merumuskan dan bentuk pemerintahan melalui pemungutan suara. Ada 45 suara pemilih dasar negara adalah kebangsaan, sedang 15 suara memilih Islam sebagai dasar negara. Setelah sidang pertama berakhir dibentuklah panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang, yang lalu dikenal dengan nama Panitia Sembilan. Melalui perbincangan yang serius akhirnya Panitia Sembilan berhasil mencapai suatu kesepakatan antara Islam dan Nasionalis. Pada tanggal 10 Juli 1945 Soekarno menyampaikan pidatonya pada sidang BPUPKI.

Soekarno juga menyampaikan rancangan preambule UUD hasil rapat Panitia Sembilan. Dalam rancangan preambule tersebut muncullah kalimat yang sampai saat ini tetap menjadi persengketaan ...Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Rancangan preambule itu ditandatangani oleh Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 di Jakarta. Oleh karena itu rancangan preambule itu dikenal sebagai Piagam Jakarta. Perjalanan Piagam Jakarta Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Sehari setelah pidato Soekarno, yakni pada tanggal 11 Juli 1945, seorang Protestan anggota BPUPKI, Latuharhary, langsung menyatakan keberatan atas tujuh kata di belakang kata Ketuhanan pada Piagam Jakarta. Agus Salim melihatnya secara netral, walaupun ia lebih condong mendukung Piagam Jakarta. Namun beberapa orang anggota BPUPKI berkeberatan, termasuk Wongsonegoro dan Hoesein Djajadiningrat. Sidang pada hari itu seolah-olah berakhir dengan kesepakatan menerima rancangan preambule hasil kerja Panitia Sembilan. Kemudian Soekarno membentuk panitia kecil untuk merancang UUD, yang mesti bekerja pada tanggal 12 Juli 1945. Dua pasal rancangan pertama UUD yang paut dengan pokok bahasan ini ialah pasal 4 dan pasal 28 . Pasal 4:2 berbunyi Yang dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden hanya orang Indonesia asli, sedang pasal 28 berbunyi Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama apapun dan untuk beribadat menurut agama masing-masing. Abdul Wahid Hasjim mengajukan dua usulan. Pertama, pasal 4:2 tersebut ditambah dengan anak kalimat yang beragama Islam. Kedua, pasal 28 diubah isinya menjadi Agama negara ialah agama Islam, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain untuk Agus Salim tidak sependapat dengannya, namun Hasjim mendapat dukungan dari Sukiman. Soekarno selalu memposisikan diri bahwa rancangan preambule adalah hasil kompromi dua pihak, yaitu Nasionalis dan Islam. Padahal tak kurang tokoh Muhammadyah, seperti Ki Bagus Hadikusumo, yang didukung oleh Kyai Ahmad Sanusi, tidak menyetujui tujuh kata anak kalimat Ketuhanan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04:00 naskah baru pernyataan kemerdekaan dirumuskan dalam suatu pertemuan di rumah Maeda, seorang perwira Angkatan Laut Jepang. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada hari itu pukul 10:00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Keesokan harinya dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Soekarno dengan wakilnya Hatta untuk menetapkan UUD. Ternyata sebelum waktu penetapan Hatta menyampaikan empat usulan perubahan rancangan UUD yang sudah ditetapkan oleh BPUPKI. Usulan tersebut sebagai berikut: 1. Kata Mukhadimah diganti dengan kata Pembukaan. 2. Kalimat Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diganti dengan Ketuhanan yang Mahaesa.

3. Mencoret kata-kata dan beragama Islam pada pasal 6:1 yang berbunyi Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam. 4. Sejalan dengan usulan kedua, maka pasal 29 pun berubah. Usulan perubahan diterima bulat oleh PPKI. Soekarno juga menekankan bahwa UUD 1945 tersebut hanyalah sementara, yang akan diubah oleh MPR setelah Indonesia dalam suasana lebih tenteram. Ada alasan kuat mengapa Hatta mengajukan empat usulan perubahan. Dalam buku karya Hatta dengan judul Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dikutip oleh Anshari (1981), Hatta mengatakan bahwa ia didatangi oleh seorang perwira Jepang, yang ia sendiri lupa namanya, pada tanggal 17 Agustus 1945 petang. Perwira itu membawa pesan bahwa bahwa orang Kristen di kawasan Kaigun sangat berkeberatan atas tujuh kata dalam Pembukaan UUD. Walaupun mereka mengakui bahwa tujuh kata itu tidak mengikat mereka, namun mereka memandang hal itu sebagai diskriminasi terhadap golongan minoritas. Hatta sendiri sudah menjelaskan kepada perwira tersebut bahwa ketetapan rancangan UUD merupakan hasil kesepakatan dua pihak, Islam dan Nasionalis. Perwira tersebut meyakinkan Hatta bahwa wilayah Indonesia bagian Timur akan menolak bergabung ke dalam negara persatuan Indonesia. Hatta akhirnya lebih memilih persatuan ketimbang perpecahan dan menerima keberatan orang Kristen. Tentu saja ketetapan PPKI tersebut membuat sakit hati pihak Islam. Akan tetapi mereka tidak dapat menolaknya, karena suasana waktu itu sangat darurat. Mereka masih berpengharapan akan memasukkan misi mereka di masa yang akan datang. Piagam Jakarta sebagai Sumber Konflik ```````````````````````````````````````````````` Pihak Islam fundamentalis tidak menyerah. Mereka masih melihat peluang perubahan UUD 1945 seperti yang dikatakan Soekarno pada sidang PPKI. Sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 15 Desember 1955, diadakanlah Pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di Konstituante, sebuah lembaga pembuat UUD sebagai pengganti UUD 1945. Presiden Soekarno melantik anggota-anggota Konstituante pada tanggal 10 November 1956. Partai-partai Islam meraih 230 kursi, sedang partai lainnya (Nasionalis, Kristen, Sosialis, dan Komunis) meraih 286 kursi. Pada sidang Konstituante terjadilah perdebatan yang berlarut-larut tentang dasar negara. Para wakil partai-partai Islam tetap memegang Pancasila sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Jakarta. Para wakil-wakil lainnya menyetujui kembali kepada UUD 1945. Namun demikian kedua pokok masalah itu menemui jalan buntu, karena tidak dapat diputuskan dengan suara sekurang-kurangnya dua pertiga anggota Konstituante. Menghadapi suasana kritis ini Presiden Soekarno turun tangan. Pada tanggal 5 Juli ia mengeluarkan dekrit, yang salah satu isinya ialah pemberlakuan lagi UUD 1945 dan pembubaran Konstituante. Bagi sebagian orang Islam Dekrit Presiden mengandung pengertian hidupnya kembali Piagam Jakarta. Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan Piagam Jakarta merupakan rangkaian kesatuan dengan UUD 1945. Usaha-usaha untuk memasukkan kembali Piagam Jakarta ke dalam agenda nasional terus berlangsung sampai

akhirnya diredam oleh pemerintah Orde Baru lewat Tap MPR no. II/MPR/1978. Setelah berakhirnya era Orde Baru dimulailah era reformasi. Keterbukaan ini membuat orang-orang seperti kuda lepas kendali. Sepertinya orang bebas berbicara apa saja. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh partai-partai Islam untuk meniupkan isu Piagam Jakarta ke dalam agenda sidang MPR hasil Pemilu 1999. Dua partai yang ngotot sejak November 1999 untuk membahas Piagam Jakarta adalah PPP dan PBB. Meskipun pada Sidang Tahunan (ST) MPR tahun 2000 usulan mereka tidak ditanggapi, mereka tetap bersemangat memasukkannya ke dalam agenda ST MPR tahun 2001. Dampak Pemberlakuan Piagam Jakarta terhadap Hubungan Antarumat Beragama Seperti ditulis di atas bahwa Piagam Jakarta kembali marak setelah berakhirnya era Orde Baru. Sejak itu lahirlah partai-partai berasaskan Islam. Selain itu banyak ormas yang keras memperjuangkan aspirasi Islam. Tidak itu saja, ada juga kelompok yang ingin mendirikan negara Islam, walau jumlahnya kecil. Piagam Jakarta dianggap sebagai jaminan konstitusi bagi umat Islam untuk dapat dengan leluasa mengatur umatnya sendiri agar lebih taat beragama. Persoalannya tidaklah sesederhana itu. Banyak masalah yang akan mengganjal, yang bukan saja berpautan dengan kenyataan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi juga adanya keanekaan pemahaman dalam umat Islam sendiri khususnya yang berpautan dengan bentuk nasabah (relationship) agama dan negara. Dalam ST MPR 2001 Piagam Jakarta tidak dimasukkan ke dalam agenda. Kebiasaan sebagian kecil partai Islam untuk memasukkan Piagam Jakarta ke dalam MPR justru dalam aras tertentu tidak mendewasakan kehidupan demokrasi di Indonesia. Di kalangan Nadhlatul Ulama (NU) permasalahan ideologis bangsa sudah ada kata akhir seperti yang pernah dikatakan oleh K.H. Achmad Siddiq, tetapi bagi sebagian kecil umat Islam permasalahan tersebut belum dianggap selesai.

ST

Tidak ada yang baru dari perdebatan tentang nasabah agama dan negara. Dapat dikatakan semua yang ada merupakan pengulangan agenda lama yang tidak pernah sampai pada kata sepakat dengan ketulusan hati. Perdebatan ini menjadi tidak progresif, karena umat Islam garis keras tidak mau berpikir bagaimana mengatur negara yang majemuk ini dengan menempatkan semua anasirnya pada posisi yang sama. Alasan klasik yang dilontarkan selalu saja tentang mayoritas sehingga merasa lebih berhak untuk mengatur negara ini. Ketidakpahaman nasabah agama dan negara tidak pernah akan mencair, jika seluruh umat beragama masih berpikir egois dan melalaikan perasaan penganut agama lain dan kepentingan bangsa secara serbacakup (comprehensive). Semestinya agama merupakan urusan pribadi manusia dengan Allahnya. Baik negara maupun perorangan tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti atau menaati agamanya. Memang keruwetan nasabah agama dan negara acapkali melekat pada Islam, karena Islam tidak sepenuhnya dipisahkan dengan masalah kenegaraan. Yang patut menjadi introspeksi bagi umat Islam adalah Islam tanpa negara bukanlah Islam yang tidak lengkap.

Persengketaan Piagam Jakarta, yang ditambah dengan munculnya gerakan atas nama Islam untuk mendirikan agama Islam, oleh kalangan umat lainnya, khususnya Kristen, acapkali diungkit-ungkit sebagai bahaya laten. Tentunya ini membuka luka lama hubungan antarumat beragama, khususnya umat Islam dan Kristen. Hal ini makin diperuncing dengan sikap triumfalistik orang Kristen garis keras dalam penginjilan. Pemberlakuan Piagam Jakarta tidaklah sama dengan Piagam Madinah yang dibuat tahun 622. Ada perbedaan hakiki pada hasil yang dicapainya. Perbedaan tersebut terjadi karena perumusan yang berbeda antara Piagam Madinah dan Piagam Jakarta. Piagam Madinah tidak ada tekanan kewajiban dalam hal menganut atau melaksanakan agama masing-masing. Dengan demikian Piagam Madinah telah melahirkan persatuan. Kebalikannya dengan Piagam Jakarta yang melahirkan ancaman perpecahan. Pencatuman tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan sikap tidak peduli atas perintah Allah yang berdampak melampaui ambang batas kebenaran. Bagi pemeluk agama bukan Islam penempatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan pilihan yang salah. Jika ketujuh kata itu dimasukkan ke dalamnya, maka negara dibebani dengan tugas khusus terhadap pemeluk salah satu agama saja. Negara menjadi tidak netral lagi dan mengancam kesatuan bangsa. Logika Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan logika Sumpah Pemuda sebagai rumusan dasar bagi gerakan kebangsaan Indonesia menuntut sendiri agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta mesti dihilangkan. Sila pertama memberikan wewenang bagi kelompok agama agar mereka sendiri mengusahakan sesuai dengan pemahaman mereka sendiri agar para pemeluknya menjalankan etika dan ajarannya. Istilah Ketuhanan yang Mahaesa merupakan suatu prinsip tentang Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Teologilah yang dapat menjelaskan dan menakrifkan tentang apa yang dimaksudkan dengan ketuhanan itu secara nyata. Rumusan sila pertama yang sekarang ini sudah memberikan ruang yang luas agar agama-agama yang diakui dapat menguraikan dan mengembangkan pemahaman mereka sendiri mengenai Tuhan itu. Kesimpulan ``````````````` Pembangunan ketaatan konsekuensi berisiko dapat terjadi, karena rasa kepada Allah yang Esa, yang dan kemunafikan.**

beragama lewat daya paksa hukum negara mengandung tinggi atas rasa tauhid dalam masyarakat. Hal ini takut terhadap negara akan melampaui rasa takut tentunya dapat membangkitkan peluang kemusyrikan