Buku II

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PETA PANDUAN (Road Map) 2009 PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO
Tahun 2010 - 2014 



PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

KATA PENGANTAR
Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2010-2014 di bidang perekonomian menargetkan pertumbuhan ekonomi ratarata 7 %, tingkat pengangguran menjadi berkisar 5 6%, tingkat kemiskinan diharapkan menjadi 8 -10%, dan diperlukan investasi sekitar Rp. 2.000 triliun tiap tahun. Untuk itu, sektor industri diharapkan menjadi penggerak utama (prime mover) mampu berkontribusi lebih dari 26% terhadap PDB pada tahun 2014, dan mampu tumbuh minimal 1,5% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh pada tahun 2025, menghadapi tantangan dan kendala yang ada, serta merevitalisasi industri nasional, maka telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT telah tersusun 35 Road Map (peta panduan) pengembangan klaster industri prioritas untuk periode 5 (lima) tahun ke depan (2010-2014) sebagai penjabaran Perpres 28/2008, yang disajikan dalam 6 (enam) buku, yaitu: 1. Buku I, Kelompok Klaster Industri Basis Industri Manufaktur (8 Klaster indutri), yaitu: 1) Klaster Industri Baja, 2) Klaster Industri Semen, 3) Klaster Industri Petrokimia, 4) Klaster Industri Keramik, 5) Klaster Industri Mesin Listrik & Peralatan Listrik, 6) Klaster Industri Mesin Peralatan Umum, 7) Klaster Industri Tekstil dan Produk Tekstil, 8) Klaster Industri Alas Kaki.

KATA PENGANTAR 

2. Buku II, Kelompok Klaster Industri Berbasis Agro (12 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Pengolahan Kelapa Sawit, 2) Klaster Industri Karet dan Barang Karet, 3) Klaster Industri Kakao, 4) Klaster Industri Pengolahan Kelapa, 5) Klaster Industri Pengolahan Kopi, 6) Klaster Industri Gula, 7) Klaster Industri Hasil Tembakau, 8) Klaster Industri Pengolahan Buah, 9) Klaster Industri Furniture, 10) Klaster Industri Pengolahan Ikan, 11) Klaster Industri Kertas, 12) Klaster Industri Pengolahan Susu. 3. Buku III, Kelompok Klaster Industri Alat Angkut (4 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Kendaraan Bermotor, 2) Klaster Industri Perkapalan, 3) Klaster Industri Kedirgantaraan, 4) Klaster Industri Perkeretaapian. 4. Buku IV, Kelompok Klaster Industri Elektronika dan Telematika (3 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Elektronika, 2) Klaster Industri Telekomunikasi, 3) Klaster Industri Komputer dan Peralatannya. 5. Buku V, Kelompok Klaster Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu (3 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Perangkat Lunak dan Konten Multimedia, 2) Klaster Industri Fashion, 3) Klaster Industri Kerajinan dan Barang seni. 6. Buku VI, Kelompok Klaster Industri Kecil dan Menengah Tertentu (5 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Batu Mulia dan Perhiasan, 2) Klaster Industri Garam, 3) Klaster Industri Gerabah dan Keramik Hias, 4) Klaster Industri Minyak Atsiri, 5) Klaster Industri Makanan Ringan. Diharapkan dengan telah terbitnya 35 Road Map tersebut pengembangan industri ke depan dapat dilaksanakan secara lebih fokus dan dapat menjadi: 

v

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

1. Pedoman operasional Pelaku klaster industri, dan aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. 2. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). 3. Informasi dalam menggalang partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Kepada semua pihak yang berkepentingan dan ikut bertanggung-jawab terhadap kemajuan industri diharapkan dapat mendukung pelaksanaan peta panduan (Road Map) ini secara konsekuen dan konsisten, sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Semoga Allah SWT meridhoi dan mengabulkan cita-cita luhur kita bersama menuju Indonesia yang lebih baik.

Jakarta,

November 2009

MENTERI PERINDUSTRIAN RI

MOHAMAD S. HIDAYAT

KATA PENGANTAR

v

v

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

...... vii PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT ................................... iii DAFTAR ISI ............................................ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 9 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT .............................. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET ........ 1 9 27 35 57 65 DAFTAR ISI v ...........DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................... PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO ......... LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO ..................... LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET ..

..PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA .. 133 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU . 81 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA ................................. 89 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI .. 109 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA .................................................................2014 . 125 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA ............................................ 147 v PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .......... 101 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI ..

........... 203 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE ........... 185 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE ..................................... 211 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN ...................... 237 DAFTAR ISI x .. 155 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH .................LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT ...... 229 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN ..................... 177 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH ......

....................... 281 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU ...PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS ........... 263 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU .............. 255 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS ........2014 .............. 289 x PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 ...............................

Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . industri alat angkut. Menimbang : a.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri elektronika dan telematika. industri berbasis agro.

Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri pengolahan kelapa sawit. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . c. 2.2014 .b. Bahwa industri pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan kelapa sawit. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.

Nomor 108. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 5. 8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 7. 6. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700).

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 9. Fungsi.2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.Tahun 2009 Nomor 47. 11. 12. 10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Tugas. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 13.

strategi dan kebijakan. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa Sawit (KBLI 15144). Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. 3. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  .MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT. 2. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan kelapa sawit untuk periode 5 (lima) tahun. Industri pengolahan kelapa sawit adalah industri yang terdiri dari: a. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri pengolahan kelapa sawit Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. b. Swasta. Pemerintah Daerah. Industri Kimia Dasar Organik yang Bersumber dari Hasil Pertanian (KBLI 24115).

baik pengusaha maupun institusi lainnya. b. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri pengolahan kelapa sawit ataupun sektor lain yang terkait.2014 . dan d. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. c.4. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pedoman bagi Pelaku klaster Industri pengolahan kelapa sawit.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri pengolahan kelapa sawit dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).

Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . Gubernur seluruh Indonesia. 2. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 4. 6. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Wakil Presiden RI. 5. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Presiden RI. 3.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  .

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Mengingat potensi minyak sawit Indonesia saat ini dan ditambah dengan perkiraan produksi CPO tahun 2010 yang akan mencapai 20 juta ton maka sudah selayaknya diversifikasi produk turunan CPO ditingkatkan. f) Peningkatan penerimaan pajak. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kelapa Sawit Komoditi kelapa sawit merupakan salah satu andalan komoditi pertanian Indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat dan mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. e) Perolehan devisa.BAB I PENDAHULUAN A. c) Proses alih teknologi. Pemanfaatan CPO sebagai bahan baku industri dapat memberikan efek berganda meliputi: a) Pertumbuhan sub sektor ekonomi lainnya. Dengan pengolahan CPO ini menjadi berbagai produk turunan. Hingga saat ini terdapat sekitar 23 jenis produk turunan CPO yang telah diproduksi di Indonesia. Penggunaan CPO untuk industri hilirnya di Indonesia saat ini masih relatif rendah yaitu baru sekitar 35% dari total produksi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . b) Pengembangan wilayah industri. maka akan memberikan nilai tambah lebih besar lagi bagi negara karena harga relatif mahal dan stabil. Salah satu hasil olahan kelapa sawit adalah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). d) perluasan lapangan kerja.

perlu didukung oleh seluruh pemangku kepentingan mulai dari budidaya tanaman. dalam rangka mewujudkan upaya peningkatan produksi CPO serta ekspor produk turunan CPO baik dalam jenis. Pengembangan turunan minyak sawit dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat baik. Dalam rangka pengembangannya. penyedia mesin dan peralatan serta Perbankan/ Permodalan.Industri Nasional menetapkan bahwa industri berbasis CPO sebagai prioritas yang pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan buah kelapa sawit / tandan buah segar (hulu) kemudian diolah menjadi minyak sawit mentah (hilir perkebunan sawit dan hulu PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . SDM. Kelompok Industri Hulu Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional. dengan kontribusinya yang cukup besar dalam menghasilkan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Perkembangan industri pengolahan CPO dan turunannya di Indonesia adalah selaras dengan pertumbuhan areal perkebunan dan produksi kelapa sawit sebagai sumber bahan baku.2014  . Oleh karena itu. proses produksi dan pemasaran. Pengelompokan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 1. volume dan nilai ekspor melalui pengembangan industri hilir CPO dan mengisi kekosongan kapasitas produksi industri hilir yang telah ada (existing industry) maka perlu disusun roadmap pengembangan klaster industri CPO. Upaya ini perlu didukung pula oleh lembaga terkait seperti Litbang. B.

Produksi PKO meningkat seiring dengan meningkatnya produk CPO. vegetable LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . 2. Beberapa produk hilir turunan CPO dan PKO yang telah diproduksi diantaranya untuk kategori pangan: minyak goreng.bagi industri yang berbasiskan CPO). minyak salad. pengolahan tandan buah segar (TBS) juga menghasilkan produk PKO (Palm Kernel Oil). fatty alcohol. stearin. Disamping menghasilkan produk CPO. oleokimia dasar (fatty acid. Pengembangan industri hilir sawit perlu dilakukan mengingat nilai tambah produk hilir sawit yang tinggi. Kelompok Industri Hilir Dari produk antara sawit dapat diproduksi berbagai jenis produk yang sebagian besar adalah produk yang memiliki pangsa pasar potensial. shortening. yakni sekitar 20% dari CPO yang dihasilkan. Cocoa Butter Substitute (CBS). Kelompok Industri Antara Dari minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) dapat diproduksi berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. Namun baru sekitar 23 jenis produk hilir (pangan dan non pangan) yang sudah diproduksi secara komersial di Indonesia. hingga lebih dari 100 produk hilir yang telah dapat dihasilkan pada skala industri. methyl esther. fatty amines. Jenis industri hilir kelapa sawit spektrumnya sangat luas. vanaspati. Diantara kelompok industri antara sawit termasuk didalamnya industri olein. margarine. baik untuk pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar ekspor. glycerol) 3.

Adapun untuk kategori non pangan diantaranya adalah: surfaktan.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . dan oleokimia turunan lainnya. food emulsifier. dan es krim.ghee.2014 . fat powder. biodiesel.

Kalteng dan Papua. 3. Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau. 4.BAB II SASARAN A. Penguasaan pasar. 2. 5. Pemantapan industri berwawasan lingkungan. Kalbar. Iklim usaha dan investasi yang kondusif. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . 2. Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia. Jangka Menengah (2010 -2014) 1. Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim. Memperluas pengembangan produk akhir. B. Jangka Panjang (2015-2025) 1.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

B. Arah Pengembangan Pengembangan industri turunan CPO untuk peningkatan nilai tambah. Indikator Pencapaian Terintegrasinya industri pengolahan CPO dan turunannya. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 1. dan memfokuskan pada penggunaan sumber-sumber daya terbarukan (green product).BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Adanya klaster industri berbasis CPO diharapkan memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai (value chain) dari industri hulunya. yang ditandai dengan: • • Meningkatnya investasi baru dan perluasan usaha industri berbasis CPO. mampu meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai dengan membangun visi dan misi yang selaras sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Diversifikasi produk turunan CPO. Visi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Pengembangan industri CPO melalui pendekatan klaster. Terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dalam negeri akan produk-produk oleokimia dasar dan turunannya. 2. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . efisiensi dan jenis sumber daya yang digunakan dalam industri.

Pembuatan Pilot Plant pengembangan industri turunan CPO. • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pembentukan Dewan Sawit Nasional yang merupakan gabungan dari seluruh pemangku kepentingan di bidang industri sawit. C.• Meningkatnya kapasitas industri oleokimia dasar dan turunannya. Sosialisasi dan mobilisasi pembentukan klaster CPO kepada pemerintah setempat dan pelaku usaha di daerah yang telah ditetapkan untuk dikembangkan menjadi lokasi pengembangan klaster industri berbasis CPO diantaranya melalui pembentukan Working Group Industri CPO di daerah tersebut. Kerjasama penelitian dan pengembangan antara dunia usaha dengan lembaga penelitian /perguruan tinggi. Tahapan Implementasi Beberapa langkah yang telah dilakuakn berkaitan dengan pengembangan klaster industri CPO: • Tahap diagnostik yaitu mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan klaster serta menyusun strategi pengembangan prioritas yang diarahkan pada industri oleokimia dan industri surfaktan.2014 .

K e r ja sa m a in te r d a n a n ta r kla ste r. ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. K e r ja sa m a in te r d a n a n ta r kla ste r. P e n in g ka ta n fu n g si ke le m b a g a a n . P e n a ta a n K e le m b a g a a n. B a h a n B a ku P e r b a ika n m u tu tb s sa w it P e r b a ika n m u tu tb s sa w it  Gambar III. lis e n s i t e k n o lo g i p ro d u k h ilir .TA H A P A N P E N C A P A IA N P R O G R A M K LA S TE R IN D U S TR I B E R B A S IS C P O 2006 2007 2008 2009 K la ste r in g S o sia lisa si d a n P e r sia p a n Id e n tifika si p e r m a sa la h a n in ti/a n g g o ta kla ste r . M o n ito r in g d a n e va lu a si. In ve sta si P r o m o si in ve sta si D N & L N P e n yu su n a n p r o fil d a n p e lu a n g in ve sta si P e n in g ka ta n in ve sta si d i b id a n g in d u str i b e r b a sis C PO P e n in g ka ta n in ve sta si d i b id a n g in d u str i b e r b a sis C PO P a sa r M e m b a n g u n ke m itr a a n d e n g a n p e ta n i/p r o d u se n ke la p a sa w it M e n g e m b a n g ka n a kse s p a sa r e ksp o r .1. ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. M o n ito r in g d a n e va lu a si. P e n in g ka ta n fu n g si ke le m b a g a a n . Id e n tifika si ke g ia ta n in te r d a n a n ta r kla ste r. M e n g e m b a n g ka n m e r e k lo ka l d i p a sa r in te r n a sio n a l Iklim U sa h a P e n g e n a a n p a ja k E ksp o r C PO P e la ksa n a a n h a r m o n isa si ta r if C P O P e n g h ila n g a n p e ra t u ra n p e ru n d a n g -u n d a n g a n y a n g m engham bat pengem bangan in d u s t ri SD M D ikla t P e la tih a n d a r i m u la i o n fa r m s/d o ff fa r m D ikla t P e la tih a n M a n a je m e n M u tu D ikla t P e la tih a n D ive r sifika si P r o d u k D ikla t P e la tih a n E ksp o r Im p o r LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 K e r ja sa m a R & D P r o d u k H ilir P e n g e m b a n g a n in d ig e n o u s te kn o lo g i P e r b a ika n m u tu tb s sa w it P e r b a ika n m u tu tb s sa w it T e kn o lo g i P e n g e m b a n g a n p ilo t p ro je c t (s c a le u p ) d a ri s u m b e r in d ig e n o u s t e k n o lo g i . ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. tr a d isio n a l m a u p u n n o n tr a d isio n a l. P e n g e m b a n g a n p ilo t p ro je c t (s c a le u p ) d a ri s u m b e r in d ig e n o u s t e k n o lo g i . In fr a str u ktu r P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . lis e n s i t e k n o lo g i p ro d u k h ilir . P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . Tahapan Pencapaian Program Klaster Industri Berbasis CPO . P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. K e r ja sa m a a n ta r p e m a n g ku ke p e n tin g a n . P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n .

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan. Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait. insentif mendukung pengembangan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI. Pengembangan infrastruktur. peran lembaga terkait dalam • • • • • • Promosi investasi. Mendorong pemasaran. Mengembangkan industri bahan penolong. • • • • • • • Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya. Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian. industri pelumas dan biodiesel. Kebijakan industri. Mengembangkan industri mesin peralatan. Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimia berbasis kelapa sawit. Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan. perguruan tinggi dan industri.

Mendorong kegiatan penelitian pasar (market research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan bernilai tambah tinggi.• • Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri. Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit. Penerapan manajemen penanganan Dampak Keselamatan. Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi. • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D. Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi. B. Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan.2014 . Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi. Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit. Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. Rencana Aksi Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi. Keamanan. Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran.

o Mengembangkan industri bahan penolong. o Mendorong kegiatan penelitian pasar (marker research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan berniali tambah tinggi. o Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah. o Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi. PKO. Pelumas. o Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimai berbasis kelapa sawit. Varnish. Kalteng dan Papua Strategi Sektor : Diversifikasi produk kearah oleokimia dan turunannya. o Pengembangan infrastruktur. o Iklim usaha dan investasi yang kondusif Sasaran Jangka Panjang 2015 –2025 o Memperluas pengembangan produk akhir. Minyak goreng . ekspansi ekspor. Bleaching Earth. o Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan. Plasticizer. Cat. o Mendorong peran lembaga terkait dalam pemasaran. o Promosi investasi. Kemasan. Plastik. Shortening. o Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi. o Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim. meningkatnya jaminan pasokan CPO untuk industri dalam negeri. o Penerapan manajemen penanganan Damapak Keselamatan. Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit. o Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi. o Pemantapan industri berwawasan lingkungan. Sabun. Kosmetik. Makanan Industri Inti Oleokimia. o Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2015 – 2025) o Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi. bio diesel. Karbon Aktif. o Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan. Farmasi. o Mengembangkan industri mesin peralatan. Kalbar. o Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. industri pelumas dan biodiesel. Bahan Kimia. Pewarna. Teknologi : Adaptasi teknologi dengan lisensi dari sumber MNC dan mendorong kemampuan pengembangan indigenous R&D. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010 – 2014) o Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait. o Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia o Penguasaan pasar. perguruan tinggi dan industri.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Industri Pendukung CPO. o Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan. Keamanan. Surfactant. o Kebijakan insentif mendukung pengembangan industri. Tinta. o Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri. o Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian.  9 . o Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya. Margarine Sasaran Jangka Menengah 2010 –2014 o Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau. o Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D. o Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI. Mesin & Peralatan Industri Terkait Pembersih. Produk Perawatan Tubuh. o Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran.

Periodesasi Peningkatan Teknologi a. Papua dan Kalimantan Timur). Memberikan insentif perpajakan untuk investasi baru selama 3 tahun pertama. Insentif kredit bagi petani sawit. Matang (2015 – 2025) : Industry & Technology Upgrading. c.2014 Gambar 1. Pengembangan Cepat (2010 – 2014) : Modifikasidan pengembangan teknologi mandirin melalui R&D. b. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Inisiasi (2004 – 2009) : Pilot project untuk Mini Plant (scale-up) dari sumber indigenous teknologi. c. Mengenakan Pajak Ekspor CPO.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Unsur Penunjang SDM a. Pasar a. Meningkatkan kemampuan SDM dibidang oleokimia. lisensi untuk produk hilir. pengembangan biomassa dan bioteknologi. Meningkatkan peranan Litbang dan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan mutu produk.  Infrastruktur a. d. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 10 .l. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit Gambar 1. b. bio teknologi dan biomassa. b. b. Pengembangan fasilitas pelabuhan dan tangki timbun (a. Memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. Meningkatkan promosi ke negara-negara Asia dan Afrika dalam rangka kerjasasama Non.Blok dan SelatanSelatan.

Logistik.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Depperin. PPKS. SBRC IPB 2. ITB. BBKK. Margarin Bio Diesel Mesin / Peralatan Pengolahan CPO Distributor PASAR DALAM NEGERI Lembaga Litbang/PT 1. BKPM Forum Daya Saing/ Working Group Fasilitasi Klaster Pemerintah Daerah : Dinas Indag. Depdag. UGM. Asuransi. Persh. IPB. APROBI Gambar 2. APOLIN. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kelapa Sawit Gambar 2. AIMMI. GIMNI. Deptan. USU Jasa Bank dan Konsultan Pemasaran. UNAND. Depkeu. Dinas Pertanian Oleochemical Eksportir PASAR LUAR NEGERI Tandan Buah Segar CPO PKO Minyak Goreng Sabun. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kelapa Sawit LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  11 . Asosiasi AIMMI.

Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 12 . Mempromosikan investasi industri oleokimia (hilir). Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit  Pemerintah Pusat Pemda Swasta Perguruan Tinggi & Litbang Forum PT Prs.Dag Working Group Asosiasi Dep.Perin O O O O Jatim Rencana Aksi 2004 – 2009 1.2014 Tabel 1. 7. O PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mendorong peningkatan pasokan CPO ke Industri pengolahan.Tan. Mempermudah akses kredit untuk petani sawit. 4.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Meningkatkan dan mempromosikan kegiatan litbang pengolahan CPO. 8. Membangun dan memperbaiki fsilitas pelabuhan dan tangki timbun di Kaltim danPapua. Memperbaiki mutu bahan baku CPO. 6. Daya Saing BBKK/Balai Kelapa Sawit KRT/BPPT Dep. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Papua O O O O O O O O 2.Ind. O O O O O O O O O O 3. 5. termasuk biodiesel.. Mendorong diversifikasi produk hulu CPO dari 17 jenis menjadi 30 jenis. Mengendalikan Ekspor Bahan Baku CPO. Mengembangkan produk minyak goreng yang mengandung beta karotin sebagai sumber vitamin A.Keu Fasilitasi Klaster Dep. 9. Prop Kab Dep.

perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri elektronika dan telematika. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Menimbang : a. industri berbasis agro.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Mengingat : 1. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Karet dan Barang Karet. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 2. Bahwa industri karet dan barang karet merupakan salah satu kelompok industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan industri karet dan barang karet.2014 . 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .B. c.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 4. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.Nomor 108. 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 9. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987).Tahun 2009 Nomor 47. 13. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 11. 10. 12. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Tugas. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Fungsi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007.2014 .

Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Karet dan Barang Karet Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Barang-barang dari Karet untuk keperluan Rumah Tangga (KBLI 25191). Industri Ban Luar dan Ban Dalam (KBLI 25111) b. d. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri karet dan barang karet untuk periode 5 (lima) tahun. 2. strategi dan kebijakan. Industri Barang dari Karet untuk Industri (KBLI 25192). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Industri Karet dan Barang Karet adalah industri yang terdiri dari : a. Industri Vulkanisir ban (KBLI 25112). c.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1.

Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . b. Pemerintah Daerah. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. baik pengusaha maupun institusi lainnya.e. 4. Swasta. Industri Barang-barang dari Karet yang belum termasuk 25191 dan 25192 (KBLI 25199) 3. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Karet dan Barang Karet. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Karet dan Barang Karet ataupun sektor lain yang terkait.2014 .

dan d. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Karet dan Barang Karet dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.c. yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri.

Gubernur seluruh Indonesia. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 5.2014  . Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Wakil Presiden RI. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 4. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Presiden RI. 2. 6. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Kelompok Industri       Kayu Karet • Bokar (bahan olahan karet) Crumb rubber (karet remah) Sheet/RSS Latek Pekat Thin pole crepe Brown crepe 2. No. Kelompok Kayu Karet (setengah jadi) • Industri Antara LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . selang Belt conveyor Belt Transmission Ban (Roda 4. 5.BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 A. HS 40011-13 4002 4003-4009 4010 4010 4011-13 4015 4016-17 TabelTabel I. Sepeda) Sarung tangan Lain-lain 25192 25192 25192 25111-25112 25199 25191 B.1. 6. No 1. pipa. yaitu kelompok industri hulu.Benang karet . dibawah ini. Pengelompokan Industri Karet dan Barang Karet B.  Bokar (bahan olahan karet) Hulu 1. Pengelompokan Industri Karet dan Barang Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri Karet hilir. 2. Kelompok Industri Hulu antara dan kelompok industi hilir. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet I.1.Tabung. 4. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet KBLI Uraian Barang Karet alam Karet Sintetis Barang dari karet untuk industri : . Roda 2. 7. kelompok industri antara dan kelompok industi Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri yaitu kelompok industri hulu. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan menurut and menurut The Harmonized Commodity Description The Harmonized Commodity Description and Klasifikasi Baku dan Klasifikasi Coding System (HS) dan Coding System (HS) Lapangan BakuUsaha Indonesia (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada tabel tabel dibawah ini. kelompok industri 1. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet A. 3.

Yang temasuk produk hilir yaitu: • • • • • • Ban dan produk terkait serta ban dalam Barang jadi karet untuk keperluan industri Barang karet untuk kemiliteran Alas kaki dan komponennya Barang jadi karet untuk penggunaan umum Alat kesehatan dan laboratorium  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . Kelompok Industri Antara (setengah jadi) • • • • • Crumb rubber (karet remah) Sheet/RSS Latek Pekat Thin pole crepe Brown crepe 3.2. Kelompok Industri Hilir Adapun kelompok Industri hilir karet adalah industri yang merupakan produk akhir yang siap digunakan oleh industri pemakai.

Pengembangan dan peningkatan daya saing industri barang-barang karet.5 juta ton per tahun dengan pertumbuhan sekitar 4% rata-rata setahun. selang kompor gas. Peningkatan produktifitas karet alam sehingga mencapai 4 juta ton per tahun. Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Peningkatan investasi baru dan perluasan usaha industri barang –barang karet. 3. B.BAB II SASARAN A. 3. Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. Penerapan secara wajib SNI barang-barang karet. selang radiator dan komponen otomotif. Peningkatan produksi karet alam dari 3 juta ton tahun 2009 menjadi 3. 2. 2. Peningkatan kualitas SDM petani karet dan industri barang-barang karet. Pengembangan industri barang-barang karet untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai substitusi impor. 4.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Meningkatkan litbang teknologi industri.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. jasa pendukung produksi. Indikator Pencapaian Kinerja industri karet dan barang karet dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kearah perbaikan. • • B. Arah Pengembangan • Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet. jasa teknik dan konstruksi. Visi Industri Karet dan Barang Karet Menjadikan Indonesia sebagai negara produsen utama barang-barang karet tahun 2020. peningkatan nilai tambah. Visi dan Arah Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet 1. peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong. Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk. peralatan pabrik. pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional ke teknologi maju. hal ini terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut: LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . 2.

751 juta ton atau mengalami alam Indonesia di ekspor dalam bentuk karet mentah. Kinerja Industri Barang Karet sebesar –8.Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam (Ribu Ton) Negara Thailand Indonesia Malaysia India China Vietnam Lain-lain Dunia 2005 2. Sebagian domestik untuk memproduksi barang-barang karet Indonesia 2008 baru besar (90 persen). karet alam pada tahun di ekspor mencapai sekitar 10 persen.999 Sumber: ANRPC 2009 Sumber: ANRPC 2009 *prognosa *prognosa Produksi karet alam indonesia dalam pada tahun 2007 sebesar 2.656 770 789 486 713 784 10.2014 5 .137 807 600 602 768 9. karet mentah.751 1.755 1.407 juta ton karet domestik untuk memproduksi barang-barang dan pada turun menjadi baru mencapai sekitar 10 persen.209 juta ton atau mengalami penurunan ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2.067 2020 3.209 juta ton atau mengalami penurunan 2. Ban Sampai saat ini ada 13 (tiga belas) produsen ban yang termasuk dalam 2. Konsumsi karet alam dalam bentuk Ekspor karet alam indonesia pada tahun 2007 sebesar 2.751 juta ton atau mengalami Ekspor karet alam indonesia pada tahun 2007 sebesar –8.637 1.072 888 818 479 599 923 9. karet turun menjadi 2.14 % dari tahun 2007. Sebagian besar (90 persen).072 881 531 663 641 9. Kinerja Industri Barang Karet keanggotaan Asosiasi perusahaan ban Indonesia (APBI). Kinerja Industri Karet Alam Tabel III.937 2.407 juta ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2.424 2015 3.755 juta Produksi karet alam indonesia dalam pada tahun 2007 sebesar 2.188 2007 3.2 % a. a.1. Philipina.090 2.428 714 803 492 835 1.725 2008 3. Ban Perusahaan Sampai saat ini ada 13 (tiga belas) kebutuhan ban Nasional tersebut telah mampu memenuhi produsen Ban Nasional untuk kendaraan Roda dalam keanggotaan Asosiasi ban yang termasuk 4 dan Roda 2 dan bahkan sudah perusahaan ban Indonesia (APBI). Kinerja Industri Karet Alam 1.14 % dari tahun 2007.755 juta ton dan pada tahun 2008 penurunan -0.056 2.813 2006 2.286 4.968 2.2 % sebesar 2. Inggris dan Uni Emirat Arab.413 3.629* 2010 3.1.321 10. diekspor keberbagai negara seperti Amerika Serikat – Saudi Arabia Jepang.126 771 428 469 811 8.271 1.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . pada tahun 2008 tahun 2008 2.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 1. Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam Dunia (Ribu Ton)Dunia Tabel III.268 853 483 560 419 9. Konsumsi karet alam penurunan -0.001 3.

USA. Tahun 2006 ekspor ban sekitar US$ 665 juta.98 trilyun. tahun 2007 mencapai US$ 803 juta. Meskipun ada beberapa jenis ban. sedangkan tahun 2008 mencapai US$ 935 juta atau naik sebesar 16. khususnya Japan. 6. 6.2% dan pada tahun 2008 sama dengan pada tahun 2007 sebesar 85. Eropa. 5.2% Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 4 dari tahun 2004 sampai dengan 2008. 7.75 trilyun dan pada tahun 2007 naik menjadi Rp.93 trilyun dan tahun 2008 menjadi Rp. Utilisasi industri ban roda 4 pada tahun 2007 sebesar 85. namun permintaan pasar domestik naik cukup tinggi pada tahun 2008 sehingga produksi masih bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi untuk menghemat biaya tetap. Inggris dan Uni Emirat Arab.4 %. khususnya yang digunakan untuk kendaraan off the road serta ban pesawat terbang masih belum diproduksi dalam negeri. Penjualan domestik pada tahun 2006 sebesar Rp. Resesi ekonomi dunia mengakibatkan turunnya permintaan ban dunia. Philipina.81 triliyun.Perusahaan ban Nasional tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan Ban Nasional untuk kendaraan Roda 4 dan Roda 2 dan bahkan sudah diekspor keberbagai negara seperti Amerika Serikat – Saudi Arabia Jepang. tahun 2006 mencapai Rp. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

8 12.7 25.4 9.2 11.1 4.5 23.0 2.55 64.7 21. Industri Sarung Tangan PETA PANDUAN (Road Map)  unit usaha industriINDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO pada Asosiasi Jumlah PENGEMBANGAN KLASTER sarung tangan yang terdaftar Sarung Tangan Karet Indonesia berjumlah 13 unit usaha yang berlokasi untuk 10 unit usaha di Sumatera Utara.4 84.7 3.7 11.4 2.5 21.5 1.3 91.1 0.0 0.6 931.0 sumber : APBI 6 b.9 18.525 13 2006 27.8 35.0 41.0 2.2% Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 4 dari tahun 2004 sampai dengan 2008.2 14.0 85.3 42.3.4 3.3 41.tahun 2008 sama dengan pada tahun 2007 sebesar 85.6 81. 2 unit usaha di Jawa Timur dan Tahun 2010 .307 13 2005 45.3 42.0 8.6 710.2.1 22.3 28.0 1.5 3.2014 .2 13 *) Termasuk Roda *) Termasuk Roda 2 2 sumber : APBI Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 2 dari Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan tahun 2004 sampai dengan 2008.0 83.4 570.1 23.2 13.1 33.7 97.7 21. Tabel III.8 23.7 10.6 2.9 2. Perkembangan Industri Ban Kendaraan Bermotor Tabel III.5 23.6 77.3 24.600 13 2008 27. Perkembangan Industri ban Kendaraan Bermotor Roda 2 Tabel III.3 21.4 3.2. Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel III.0 79.0 25.700 13 2007 49.9 21.0 2.4 2.76 29.3 0.307 13 2005 27.80 66.9 93.115 13.4 2.0 85.2 0. industri Ban roda 2 dari Menteri Perindustrian RI Lampiran Peraturan tahun 2004 sampai dengan 2008.525 13 2006 49.7 803.7 24.3.2 21.0 86.700 13 2007 27. Perkembangan Industri ban Kendaraan Bermotor Roda 2 Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Unit) Realisasi Produksi (Juta Unit) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Unit) Volume Ekspor (Juta Unit) Nilai Ekspor (Juta US$) Volume Impor (Juta Unit) Nilai Impor (Juta US$) Tenaga Kerja (org) *) Jumlah Unit Usaha *) 2004 7.5 28.5 6.3 0. Perkembangan Industri Ban Kendaraan Bermotor Roda 4 Roda 4 Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Unit) Realisasi Produksi (Juta Unit) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Unit) Volume Ekspor (Juta Unit) Nilai Ekspor (Juta US$) Volume Impor (Juta Unit) Nilai Impor (Juta US$) Tenaga Kerja (org) *) Jumlah Unit Usaha *) 2004 41.0 24.1 462.7 18.4 25.7 22.9 25.919 13 2008 49.19 38.8 5.2 26.

000 pcs. dengan investasi senilai Rp.7 Milyar. Total produksi total produksi sarung tangan tahun 2007 sebesar 9.6 Juta dan pada tahun 2008 naik menjadi US$ 175.549.9 Milyar dan pada tahun 2008 naik sebesar US$ 295. Investasi pada industri sarung tangan karet berdasarkan data dari BKPM dari tahun 2004 sampai tahun 2007 sebesar US$ 194.9 Juta . 2 unit usaha di Jawa Timur dan 1 unit usaha di Jawa Barat.6% dan pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 70%.000 pcs dan tahun 2008 turun menjadi 8. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri sarung tangan karet dari tahun 2004 sampai dengan 2008. Pada tahun 2007 ini telah diresmikan 1 unit usaha lagi industri sarung tangan di Kalimantan Selatan. Industri Sarung Tangan Jumlah unit usaha industri sarung tangan yang terdaftar pada Asosiasi Sarung Tangan Karet Indonesia berjumlah 13 unit usaha yang berlokasi untuk 10 unit usaha di Sumatera Utara. Total kapasitas terpasang pada tahun 2007 sebesar 12 milyar pasang dengan total investasi sebesar US$ 100.8 juta.b. Nilai ekspor industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar US$ 153. 20 Milyar. Utilisasi industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar 79. total kapasitas produksi 20 ton/bulan.500.

000 8.3 10.522 79.6 2. Langkah-langkah yang telah dilakukan : permasalahan dan persiapan kolaborasi klaster  Telah dilakukan tahapan sosialiasi.088 5007 13 C.426.963.2014 diantaranya: Tahun dicapai.6 9.007 13 2007 12.751.0 3.549 79.000 9.513.0 156.000 9. daerah melaluipembentukan working group.8 2.0 153.007 13 2008 12.692.500 70 1.125. sejenis dan industri hilir barang-barang karet.686.736.0 95.987 176.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel III.0 3. Utara dan Jawa Barat.0 95.981.0 5.2 5.  Melakukan koordinasi dalam rangka pengamanan pasokan gas untuk industri sarung tangan karet.932.256 75.1 5.4 1.4. PETA PANDUAN (Road Map) . identifikasi permasalahan dan industri pengolahan karet melalui kegiatan Forum Komunikasi dan Working Group kegiatan persiapan kolaborasi klaster industri pengolahan karet melaluidi dua daerah yaitu Group di dua daerah yaitu di Jawa Forum Komunikasi dan Working di Sumatera Utara danSumatera Barat.4.199. identifikasi 1. Perkembangan Industri Sarung Tangan Tabel III.0 5.0 7.5 167.0 3. Dari hasil kelompok kerja Dari hasil kelompok kerja industri pengolahan industri pengolahan karet di Sumatera Utara telah dipetakan dan karet di Sumatera Utara telah dipetakan dan diinventarisasi diinventarisasi di beberapa wilayah karet serta di beberapa wilayah potensi perkebunan potensi perkebunan karet serta itu di Propinsi Sumatera industri pengolahan karet hilir.0 7.203.  PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Hasil yang telah 2010 .000 9. Tahapan Implementasi 1. Perkembangan Industri Sarung Tangan Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Pcs) Realisasi Produksi (Juta Pcs) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Pcs) Volume Ekspor (Juta Pcs) Nilai Ekspor (Ribu US$) Volume Impor (Juta Pcs) Nilai Impor (Ribu US$) Tenaga Kerja (org) Jumlah Unit Usaha 2004 11.1 2. • Pelaksanaan identifikasi permasalahan dalam  Pelaksanaan identifikasipengembangan industribarang-barang permasalahan dalam upaya pengembangan upaya karet karet di daerah denganmelibatkan stakeholder industribarang-barang di daerah denganmelibatkan stakeholder di di daerah melaluipembentukan working group.4 2.0 170.396 175.0 138.099.169.677.280 7. Tahapan Implementasi • Telah dilakukan tahapan sosialiasi.0 7. Sementara itu di Propinsi Sumatera Selatan dan Jawa Barat telah diberikan bantuan peralatan industry Selatan dan Jawa Barat telah diberikan bantuan kompon yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya industri 2.416.307 13 2005 11.0 152.000 8.500 86. Sementara industri pengolahan karet hilir. Langkah-langkah yang telah dilakukan : C.207 13 2006 12.

Telah dilakukan kajian cara pendeteksian dini vulkanisat karet dalam bahan olah karet (Bokar). Telah tersusun konsep standar kompetensi kerja SDM karet dan barang-barang karet oleh BPPI tetapi pada tahun 2008 baru akan dikonvensikan. • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Telah diberlakukan SNI wajib untuk produk selang karet sejak 27 Nopember 2007 sesuai SK Menteri Perindustrian Nomor : 92/M-IND/Per/11/2007. Pemetaan potensi pasar dalam negeri dan industri permesinan dalam mendukung pengembangan industri barang karet. Pemetaan potensi bahan baku industri pengolahan karet untuk penyusunan profil investasi pengembangan industri hilir karet. 2. diantaranya: • Melakukan koordinasi dalam rangka pengamanan pasokan gas untuk industri sarung tangan karet. Hasil yang telah dicapai. tetapi berhubung kesiapan produsen dalam negeri belum siap maka pemberlakuannya ditunda sampai 1 Juli 2008.peralatan industry kompon yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya industri sejenis dan industri hilir barang-barang karet.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas bahan olah karet melalui sosialisasi dan pelatihan.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Pengembangan Industri barang-barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu atau daerah tertentu (PP No. Melanjutkan program peningkatan kompetensi SDM industri barang-barang karet. Mengembangkan industri permesinan yang mendukung pengembangan industri barang-barang karet. Memperkuat kelembagaan industri barang-barang karet yang dihubungkan dengan industri karet alam. Mengembangankan industri barang-barang karet sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui diversifikasi produksi. • • • • B. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan. Melakukan kajian kebutuhan bahan baku industri barang-barang karet. Melaksanakan da melanjutkan program pendidikan standar kompetensi SDM industri barang-barang LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 • • •  .1 tahun 2007).

Melaksanakan harmonisasi standar internasional seperti UN-ECE untuk barang-barang karet komponen otomotif. • • • Menerapkan secara wajib SNI barang-barang karet.karet melalui diklat kompetensi SDM industri karet dan barang-barang karet. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . Mengembangkan investasi baru agar menjadi salah satu basis industri ban dunia.

peningkatan nilai tambah . peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong.Membangun citra menggunakan produk dalam negeri .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Industri Otomotif Industri Pendukung Industri Terkait Industri Barang-barang Karet Karet Alam.Membangun dan memproduksikan merk lokal dipasar Internasional Gambar 1. Permesinan Sasaran Jangka Menengah ( 2010-2014) Sasaran Jangka Panjang ( 2010 – 2025) - - - Peningkatan produktivitas karet alam sehingga mencapai 3.Pengembangan kemampuan balai-balai karet . Strategi Meningkatnya produksi karet alam menjadi 4 juta ton/tahn Berkembangnya berbagai jenis produk barang-barang karet Meningkatnya penggunaan karet alam dalam negeri dari 16% (2010) menjadi 20% (2020). Teknologi : Meningkatkan litbang teknologi industri. Inisiasi : .Restrukturisasi dan optimalisasi pabrik-pabrik yang masih menggunakan teknologi lama b. Kerangka Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet . Sektor : - Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk . jasa teknik dan konstruksi.Memproduksi jenis ban radial dengan berbagai ukuran . pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional keteknologi maju. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2010 – 2025) - Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010– 2014) - - Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan.Memproduksi sarung tangan karet medical grade Pasar : Infrastruktur : . 1 tahun 2007) Unsur Penunjang - Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penyediaan bahan baku karet alam Mendorong Pengembangan industri barang-barang karet LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 Pengembangan cepat : .Meningkatkan peran Litbang dan perguruan tinggi 11 . Bahan Kimia ( Filler).Membangun sarana prasarana jalan dari lokasi bahan baku . jasa pendukung produksi. Karbon Black. Pengembangan Industri barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk pengembangan modal dibidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No.Meningkatkan volume dan pasar ekspor . Karet Sintetis. Kerangka Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Periode Peningkatan Teknologi a. peralatan pbarik. SDM : Meningkatkan kemampuan SDM di Bidang industri pengolahan karet dan barang-barang karet Penyusunan standar kompetensi kerja industri pengolahan karet dan barangbarang karet  Gambar 1.Mendorong R& D dalam pengembangan ban dengan kebisingan rendah Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Road Noise emission Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 .Membangun daya saing terhadap industri barang-barang karet .5 ton dengan pertumbuhan sekitar 4 % rata-tara pertahun Peningkatan kualitas SDM di Industri Barang-barang Karet Peningkatan Investasi baru dan Perluasan usaha Industri barang-barang Karet Pengembangan Industri barang-barang karet dalam negeri sebagai substitusi Impor.

2014 Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Dep. BK BSN Perin Tan. Dag Keu PM BI Kab PT BPTK Baristand Daya Saing Dep. Dep. Dep. Pembinaan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia Bidang Industri. tanggal 1 Mei 2006 Penerapan UU No 18/2004. SIN Bokar No. Penerapan Good Agricultural Practices (perbaikan teknik sadap. 19/MIND/PER/5/ 2006 tentang Standardisasi. 06-2047-2002 dan Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. GMP Peraturan Menperind No. Jabar & Banten Tersedianya sarana produksi lainnya (pupuk. Peran Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Tabel 1. PU Dep. Penerapan SK Menperindag 616/MPP/Kep/X/99 dengan mendorong pedagang pengumpul memiliki SIUP Pemberdayaan kelembagaan antara petani dan pedagang pengumpul Penyusunan dan penerbitan SNI .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. potensi produksi > 1 ton/ha/th dan kayu >100 m3/ha/siklus. Revitalisasi perkebunan seluas 250 ribu hektar peremajaan dan 50 ribu hektar perluasan Pemanfaatan kembali kebun karet terlantar di 16 propinsi di Sumatera. Peran Pemangku Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Pemerintah Pusat Dep. Pemda Swasta Perguruan Tinggi & Litbang Forum Working Fasilitasi Group Klaster Rencana Aksi 2010-2014 1 √ √ √ √ √ 2 √ √ √ √ √ 3 √ √ √ √ 4 √ √ √ √ √ √ 5 √ √ √ √ 6 √ √ √ √ 7 √ √ √ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009  14 8 9 √ 10 Percepatan penyediaan bibit unggul penghasil lateks dan kayu. ESDM Meneg Prop UKM Asosiasi Prs. pestisida dan peralatan) dalam jumlah cukup dengan tingkat mutu dan harga bersaing. Ind. dll). 18/2004. SNI Bokar No. 06-2047-2002 dan Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. Kalimantan. 18/2004. GHP.

18/2004.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 8 √ √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. sarung tangan) Pemberlakuan SNI wajib bagi ban vulkanisir Partisipasi peningkatan kerjasama bidang standar di tingkat ASEAN dan internasional Penghapusan PPN untuk semua jenis karet sebagai bahan baku (PP No. selang kompor gas.2014 18 Pengembangan Industri barangbarang karet keperluan industri (diversifikasi) untuk produk bernilai tambah tinggi (komponen otomotif. 7 tahun 2007 hanya diberlakukan untuk lateks) Pemenuhan pasokan gas untuk industri sarung tangan Penghapusan BMAD Carbon Black yang sudah diberlakukan 3 tahun Penyusunan dan penerapan standar kompetensi Perbaikan Infrastruktur akses ke kebun dan pelabuhan PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Penerapan SK Menperindag 616/MPP/Kep/X/99 dengan mendorong pedagang pengumpul memiliki SIUP Pemberdayaan kelembagaan antara petani dan pedagang pengumpul Penyusunan dan penerbitan SNI barang-barang karet (selang radiator. teknik dan elektronika) 15 .

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 19 √ √ √ √ √ √ 20 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 Promosi investasi dan fasilitas untuk Penanaman modal di bidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No. 1 Tahun 2007 Bantuan sertifikasi lahan untuk mendapatkan kredit bank Penyediaan Kredit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam pengembangan usaha bersama (pengolahan dan pemasaran). LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 16  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri elektronika dan telematika. Menimbang : a.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri berbasis agro. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . industri alat angkut.

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.b. c.2014 . 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. 3. Bahwa industri kakao merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri kakao. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Mengingat : 1. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Ro­ ad Map) Pengembangan Klaster Industri Kakao. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 6. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 4. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan.108. 8. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 9. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .Tahun 2009 Nomor 47. 11. 10. Tugas. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Fungsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. 12. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007.2014 . 13.

b. Industri Bubuk Coklat (KBLI 15431). Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Makanan dari Coklat dan Kembang Gula (KBLI 15432). 3. 2. Swasta. Peta Panduan (Road map) Pengembangan Klaster Industri Kakao Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Pemerintah Daerah. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri kakao untuk periode 5 (lima) tahun. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. strategi dan kebijakan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . 4.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO. Industri Kakao adalah industri yang terdiri dari: a. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

c. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Kakao ataupun sektor lain yang terkait.2014 . yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. dan d. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Kakao. b. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini.

Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Kakao dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya.

Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 5. 4.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 2.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 3. Gubernur seluruh Indonesia. 6. Presiden RI. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.2014 . Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Wakil Presiden RI.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

735 Ha.2%).421. Kalimantan Timur 15.000 Ton (2. Ghana (747.9%).000 ton (2.6%) dan daerah lainnya 15. Ekspor biji kakao Indonesia pada tahun 2008 sebesar 334. Luas lahan tanaman kakao Indonesia lebih kurang 992. cocoa cake. sisanya sekitar 242.743 ton ( 13.BAB I PENDAHULUAN A.6%).000 ton (23. Ruang Lingkup Industri Kakao • Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara Pantai Gading dan Ghana. Sulawesi Barat 76.8 %). Sulawesi Tengah 137. Perkebunan Rakyat 887. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 • •  .085 ton diolah di dalam negeri yang menghasilkan cocoa liquor. Indonesia (577.7%). Menurut usahanya perkebunan kakao Indonesia dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu.000 ton). Tiga besar negara penghasil kakao sebagai berikut.000 (31.9%). cocoa butter.915 ton (60%) dengan negara tujuan. dan Singapura. Lampung 17. dan produktivitas rata-rata 900 Kg per ha. dan cocoa powder digunakan untuk industri dalam negeri dan ekspor.000 ton per tahun.000 Ton (3. Daerah penghasil kakao dengan urutan sebagai berikut. Perkebunan Negara 49. Pantai Gading (1.000 ton).000 ton (19. Sulawesi Tenggara 111.737 Ha. Sulawesi Utara 21.257 ton (2.448 Ha dengan produksi biji kakao sekitar 577. Sulawesi Selatan 184.976 Ha dan Perkebunan Swasta 54.000 ton). USA.6 %). Malaysia.

namun apabila diolah di dalam negeri menjadi kakao olahan (cocoa liquor. serta tidak mengandung pestisida dibanding biji kakao dari Ghana maupun Pantai Gading. dan panen) yang dikelola secara lebih baik dan benar maka tidak menutup kemungkinan produktivitasnya bisa ditingkatkan menjadi 1. dan cocoa powder). Industri kakao Indonesia kedepan memiliki peranan penting khususnya dalam perolehan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang ada. akan mempunyai nilai yang lebih tinggi serta menyerap tenaga kerja.• Dengan perbaikan planting management (budidaya tanaman. confectionary/kembang gula cokelat). karena memiliki keterkaitan yang luas baik ke hulu (petani kakao) maupun ke hilirnya (intermediate industry/grinders). Biji kakao Indonesia memiliki keunggulan melting point Cocoa Butter yang tinggi. karena industri ini memiliki keterkaitan yang luas baik ke hulu maupun ke hilirnya. industri makanan berbasis coklat (roti. kue. pemeliharaan/perawatan. cocoa cake. cocoa butter. • • B. Selain itu industri hilir olahan kakao juga telah berkembang di Indonesia seperti industri cokelat.000-1500 Kg/ha. pada tahun 2008 jumlah industri pengolahan kakao di Indonesia sebanyak 16 (enam belas) perusahaan dan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pengelompokan Industri Kakao Industri Kakao Indonesia mempunyai peranan penting di dalam perolehan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. dan penggunaan coklat untuk industri makanan dan minuman secara luas. Disamping memberikan pendapatan bagi petani melalui penjualan biji kakao.2014 .

yang masih berjalan 3 (tiga) perusahaan dengan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang produk pengolahaan sekitar 61% dari total kapasitas terpasang. cocoa liquor. cocoa butter. biji coklat. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . dan cocoa powder (kakao olahan) Industri Hilir : Industri cokelat.kue. confectionary/kembang gula cokelat). cocoa cake. Adapun pengelompokkan Industri Kakao dan Coklat Olahan terdiri dari: Industri Hulu : buah coklat. liquor (MASS) Industri Antara : Cake dan Fat. industri makanan berbasis coklat (roti.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Pengendalian ekspor biji kakao kering sebagai bahan baku industri kakao di dalam negeri. Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. Berkembangnya industri pengolahan kakao secara terpadu di Indonesia. Meningkatnya investasi di bidang industri kakao. 5. B. Peningkatan pasokan bahan baku biji kakao fermentasi untuk industri dalam negeri. energi listrik dan transportasi. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kakao. Dicapainya diversifikasi produk kakao olahan. Optimalisasi kapasitas terpasang industri kakao olahan di dalam negeri dari 40 persen menjadi 80 persen. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Sulawesi yaitu antara lain di Sumatera Barat dan Lampung. Peningkatan Biji Kakao Fermentasi dari 20 persen menjadi 80 persen. 3.BAB II SASARAN A. Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas. 3. Peningkatan ekspor produk kakao olahan rata-rata 16 persen per tahun. 2. 2. 5. 4. 4. 6. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pembinaan industri kakao terutama dalam hal mutu dan produksi. Visi dan Arah Pengembangan Industri Kakao Visi Menjadi negara penghasil biji kakao dan pengekspor utama kakao olahan.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Indikator Pencapaian 2009 2014 : tercapainya mutu biji kakao yang lebih baik dan telah terfermentasi : tercapainya diversifikasi produk kakao olahan C. 2007. 2008 dan 2009. Misi • • • • • Meningkatkan nilai tambah biji kakao Meningkatkan mutu dan produktivitas biji kakao Meningkatkan utilisasi kapasitas terpasang Meningkatkan ekspor produk coklat olahan Meningkatkan penguasaan teknologi dan mutu SDM B. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 • •  . Tahapan Implementasi • Mengadakan workshop pengembangan klaster industri kakao di daerah mulai tahun 2006. Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri kakao.

termasuk harmonisasi tarif. pasca panen dan pengolahan. dalam upaya meningkatkan kinerja industri pengolahan kakao diperlukan berbagai kebijakan pemerintah. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. ditetapkan tanggal 4 Mei 2009 dan berlaku 6 (enam) bulan sejak ditetapkan (4 November 2009). Kebijakan Sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. Promosi pemasaran dalam dan luar negeri. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kakao Bubuk Secara Wajib melalui Peraturan Menperind No. Pemberlakuan Bea Keluar (BK) Atas Biji Kakao diperlukan dalam rangka pengendalian ekspor PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan R & D di bidang budidaya. Sementara ini ketentuan tersebut dinotifikasikan kepada Badan perdagangan Dunia (WTO).2014 • • • • • •  . Peningkatan kemitraan antara industri inti dan industri pendukung dan industri terkait. insentif investasi dan mengurangi pungutan-pungutan yang memberatkan. bahwa industri pengolahan kakao merupakan salah satu industri prioritas yang didorong pengembangannya di dalam negeri. antara lain : • Menciptakan iklim usaha yang kondusif. D.• Melakukan pemberian bantuan mesin/alat bagi industri pengolahan kakao ke daerah-daerah untuk meningkatkan pengembangan industri olahan kakao. Promosi investasi dan meningkatan kerjasama di forum internasional. 45/M-IND/PER/5/2009.

1172/IAK/2008 tanggal 26 September 2008. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . namun sampai saat ini masih dalam proses di Departemen Keuangan.dan bahan baku bagi industri pengolahan kakao di dalam negeri telah diusulkan oleh Menperind kepada Menteri Keuangan melalui Surat Menperind No. dan terakhir melalui surat Dirjen IAK kepada Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan No. 452/M_IND/10/2005 tanggal 26 Oktober 2005.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri. Meningkatkan kompetensi SDM. B. Meningkatkan mutu biji kakao fermentasi. Meningkatkan kerjasama internasional (pasar. Promosi industri hilir/turunan dari produk kakao. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • • Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. promosi dan investasi). LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . teknologi. Membangun pusat-pusat pengembangan industri kakao di sentra-sentra produksi. Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • • • Mengembangkan produk-produk kakao non pangan. Mengembangkan teknologi pengolahan kakao.

Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas. pestisida.. 5. Pengembangan pasar domestik : penyertaan para pengusaha pada kegiatan promosi/pameran dalam negeri dan internasional. Cocoa Butter. 6. Meningkatkan kompetensi SDM. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. 3. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Sulawesi yaitu antara lain di 4. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Berkembangnya industri pengolahan kakao secara terpadu di Indonesia 7. 2. Membangun Merk Produk Industri Pengolahan Kakao Nasional di a. Dicapainya diversifikasi produk kakao olahan 6. Kemasan. pengembangan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi termasuk kakao non pangan. Meningkatkan mutu biji kakao fermentasi.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009  Gambar 1. Wajib mutu biji kakao fermentasi untuk ekspor 2. pupuk. Meningkatkan kerjasama internasional (pasar.Gambar 1. Deregulasi kebijakan Pemerintah Pusat Strategi 1. Susu). Penguatan struktur industri berbasis kakao. 3. teknologi. Pembangunan sarana pelabuhan pengemasan pasar internasional b. Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. Diversifikasi pasar eksport produk kakao olahan pengolahan kakao .2014 Industri Inti Industri Pendukung Industri Terkait Industri Cocoa Liquor. pengenalan dan penerapan GMP dan HACCP dalam rangka peningkatan mutu produk 3. Peningkatan pasokan bahan baku biji kakao fermentasi untuk industri dalam negeri 1. promosi dan investasi). Promosi industri hilir/turunan dari produk kakao. Sirup. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 2. energi listrik dan trasportasi 9. 1. Mengembangkan produk-produk kakao non pangan. Membangun pusat-pusat pengembangan industri kakao di sentra-sentra 4. produksi. Pembangunan transportasi darat c. bibit. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri c. Optimalisasi kapasitas terpasang industri kakao olahan di dalam negeri dari 40 persen menjadi 80 persen 2. Mengembangkan teknologi pengolahan kakao. Kosmetika Sasaran Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Membangun produk yang memiliki daya saing tinggi Infrastruktur : b. Cocoa Cake Peralatan. Meningkatnya investasi di bidang industri pengolahan cokelat Sumatera Barat dan Lampung 5. melalui : Sosialisasi teknologi terpadu proses pengolahan kakao. Peningkatan Biji Kakao Fermentasi dari 20 persen menjadi 80 persen Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Meningkatkan ketrampilan petani kakao a. peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM. Meningkatkan peran litbang di bidang pengolahan dan b. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis c. Peningkatan ekspor produk kakao olahan rata-rata 16 persen per tahun 8. Kerangka Pengembangan Industri Kakao Kakao Kerangka Pengembangan Industri 7 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri Makanan & Minuman Berbasis Coklat dan Kembang Gula dan dan Cocoa Powder Bahan Makanan Tambahan (Gula. penciptaan iklim investasi dan usaha yang menarik insentif fiskal dan administrasi serta jaminan keamanan berusaha 2. perkebunan kakao. Unsur Penunjang SDM : Pasar: a. Penyediaan tenaga listrik bagi sentra-sentra industri kakao untuk pelatihan Sumber daya Manusia Bidang d. 7. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kakao 3. Penciptaan lapangan usaha industri pengolahan kakao melalui promosi investasi disentra kakao.

Butter . APKAI LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 Gambar Gambar 2. PUSLIT KOKA JEMBER JASA: Transportasi.Liquor . Perbankan Assosiasi: APIKCI.ASKINDO. Pektin Fermentasi kakao INTERMEDIATE PRODUCT Cocoa . DinasPertanian /Perkebunan Buah Kakao Perkebunan Kakao Biji kakao COKLAT OLAHAN DAN MAKANAN BERBASIS COKLAT NON PANGAN Oleo chemical fatty acid. LRPI. Deptan.Powder Eksportir PASAR LUAR NEGERI Mesin dan Peralatan Distributor PASAR DALAM NEGERI Lembaga Litbang/PT BBIA. Kerangka Keterkaitan Industri Kakao Kakao 2.Cake . Essense. AIKI. Depdag Forum Daya Saing Working Group Fasilitator Klaster Pemda: Dinas Ind.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Deperin. Kerangka Keterkaitan Industri  8 .

Meningkatkan kerjasama internasional (pasar. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri. 2. 4.2014 8. Tan Dep. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku . teknologi. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Industri Kakao 0 Pemerintah Pusat WG PT Daya Saing KRT BPPT Perush. Keu Dep. 5. Dag Pemda Swasta PT & Litbang Forum Fasilitasi Klaster O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2004 – 2009 1. Peningkatan mutu biji kakao fermentasi. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 ./ Industri Baristand Makassar Asosiasi Prop Kab/ Kota Dep. 9 . Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. Prin Dep. Pengembangan teknologi pengolahan kakao. 6. 3.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Kakao Tabel 1. promosi dan investasi. 7. Meningkatkan kompetensi SDM. Meningkatkan iklim usaha yang menunjang pertumbuhan kakao dan coklat di daerah.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  . industri alat angkut. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri berbasis agro.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri elektronika dan telematika. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. Menimbang : a.

2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan kelapa. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bahwa industri pengolahan kelapa merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan kelapa.2014 . c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). 6. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  . Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran 5.Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724).

Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987); 9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007;

10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006; 11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007; 12. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional; 13. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian; 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan kelapa Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran, strategi dan kebijakan, serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan kelapa untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Pengolahan kelapa adalah industri yang terdiri dari: a. Industri Minyak Kasar (Minyak Makan) dari Nabati dan Hewan (KBLI 15141); b. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa (KBLI 15143); c. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa Sawit (KBLI 15144); d. Industri Kopra (KBLI 15318); e. Industri Makanan yang Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain (KBLI 15499).
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009

2. 

3.

Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Swasta, Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pasal 2

4.

(1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya; b. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan kelapa, baik pengusaha maupun institusi lainnya, khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan kelapa ataupun sektor lain yang terkait; c. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota); dan 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

d. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini, yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan kelapa dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS
Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi

PRAYONO

SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Presiden RI; 2. Wakil Presiden RI; 3. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu; 4. Gubernur seluruh Indonesia; 5. Bupati/Walikota seluruh Indonesia; 6. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009

PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA

BAB I BAB II

PENDAHULUAN SASARAN

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI

MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS
Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi

PRAYONO

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

luas tanaman kelapa meningkat dari 1. dan lain-lain. Meskipun luas areal meningkat. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kelapa • Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3.89 juta hektar pada tahun 2005.7 ton/Ha). Permintaan produk-produk berbasis kelapa masih terus meningkat baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri. desiccated coconut.3 ton/Ha. virgin oil. Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah di bandingkan dengan India dan Srilangka. Selama 34 tahun.2 juta ton setara kopra.88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat). memproduksi kelapa 3. • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  . Industri turunan kelapa masih dapat dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain: oleo kimia. Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan yang sempit. nata de coco. pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. namun produktivitas pertanaman denderung semakin menurun (tahun 2001 ratarata 1.66 juta hektar pada tahun 1969 menjadi 3.BAB I PENDAHULUAN A. tahun 2005 rata-rata 0.

Copra Meal. Industri Hilir Industri kelapa Hilir adalah industri kelapa yang mengolah bahan yang dihasilkan oleh industri kelapa antara menjadi berbagai produk akhir yang digunakan oleh industri seperti karbon aktif. 2. Gambaran dari pemanfaatan bagian-bagian tanaman kelapa dimaksud adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut: 1. coconut cream/milk dan lain-lain. namun perkembangan industri pengolahan berbasis kelapa di Indonesia dimulai dengan pengembangan industri kopra sebagai bahan baku industri minyak kelapa. 3.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri Hulu Industri kelapa hulu merupakan industri kelapa paling hulu dalam rangkaian industri kelapa. Meskipun seluruh bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan manusia. Desiccated Coconut. seperti kelapa segar. kelapa adalah tanaman yang dari semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. kopra (kopra hitam dan putih). Pengelompokan Industri Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sebagaimana diketahui.B. seperti tempurung kelapa. Industri Antara Industri kelapa antara merupakan industri kelapa yang memproses bahan baku menjadi produkproduk turunan.2014 . minyak kelapa.

BAB II SASARAN
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
1. Diprosesnya kelapa menjadi produk olahan kelapa yang mempunyai nilai tambah tinggi; 2. Produk sudah mengacu pada standardisasi seperti SNI, CODEX; 3. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kelapa; 4. Pencegahan ekspor kelapa bulat (belum diolah); 5. Peningkatan utilitas kapasitas produksi pengolahan kelapa rata-rata 5% per tahun; 6. 8. 9. Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong; Peningkatan ekspor produk pengolahan kelapa ratarata 5% per tahun; Terbangunnya citra merk Indonesia di pasar internasional; 7. Penyerapan tenaga kerja;

10. Penyebaran sentra produksi di luar Sulawesi Utara dan Riau; 11. Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas, energi listrik dan trasportasi; 12. Peningkatan iklim investasi; 13. Deregulasi kebijakan Pemerintah Pusat.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

B. Jangka Panjang (2015 – 2025)
1. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Riau dan Sulawesi Utara yaitu antara lain di Kalimantan Barat dan Lampung; 2. Dicapainya diversifikasi produk olahan kelapa; 3. Berkembangnya industri pengolahan kelapa secara terpadu di Indonesia. 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa
Visi untuk mewujudkan industri minyak kelapa yang berdaya saing. Strategi dan kebijakan penegmbangan industri perkelapaan antara lain: • Peningkatan pengelolaan permintaan (penetrasi pasar, diversifikasi produk, pengembangan jalur distribusi, quick response kepada konsumen); Peningkatan produksi dan teknologi (supply chain management, manajemen sumber daya); Teknologi informasi; Peningkatan keterampilan, profesionalisme dan kompetensi (pengembangan dan perencanaan SDM); Strategi pemasaran melalui promosi yang intensif.

• • • •

B. Indikator Pencapaian
Posisi industri minyak goreng pada tahun 2004 berjumlah 60 unit usaha, tenaga kerja yang terserap sebanyak 2.525 orang, nilai investasi Rp. 129.332 juta, kapasitas 857.235 ton, produksi 415.759 ton sedangkan posisi industri minyak goreng pada tahun 2008 berjumlah 72 unit usaha, tenaga kerja yang terserap sebanyak 2.725 orang, nilai investasi Rp. 187.622 juta, kapasitas 1.049.683 ton dan produksi mencapai 545.835 ton.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

C. Tahapan Implementasi
• Melakukan workshop pengembangan klaster pengembangan industri pengolahan kelapa di Propinsi Sulawesi Utara tahun 2006, 2007, 2008 dan 2009; Pelaksanaan Workshop melibatkan stakeholder yang terkait dalam rangka sosialisasi klater industri kelapa; Pembinaan industri pengolahan kelapa meliputi peningkatan mutu dan standardisasi.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI
A. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014)
• • • • • • Mengintegrasikan hasil kebun kelapa rakyat untuk bahan baku industri yang dapat diandalkan; Optimalisasi pemanfaatan bahan baku; Promosi investasi; Meningkatkan mutu kopra dan minyak kelapa; Meningkatkan kerjasama multilateral melalui forum Asian and Pacific Coconut Community (APPC); Membangun Balai Besar Industri Pengolahan Kelapa (indikasi di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku dan Papua).

B. Rencana Aksi Jangka Panjang (2015 – 2025)
• • Pengembangan produk-produk coco-chemical; Berkembangnya industri hilir/turunan dari produk coco-chemical.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009
Industri Pendukung 

- Industri Pemasok Teknologi dan Mesin Produksi : (mesin pengolah minyak kelapa, tungku), - Industri Pemasok Bahan Baku : (Bibit, pupuk, pestisida, perkebunan kelapa) - Industri Pemasok bahan Penolong : (bleaching earth, BTP Sekuisteran, kemasan)
Industri Terkait Desicated Coconut, VCO, Arang Tempurung, Santan, Sabut dan Olahannya, Tepung Kelapa, Bungkil Unsur Penunjang SDM : a. Meningkatkan ketrampilan petani kelapa b. Meningkatkan peran litbang di bidang pengolahan dan pengemasan c. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis untuk pelatihan Sumber daya Manusia Bidang pengolahan kelapa Infrastruktur : a. Pembangunan sarana pelabuhan b. Pembangunan transportasi darat

Industri Inti Industri kopra dan industri minyak goreng dari minyak kelapa

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Sasaran Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; 2. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa; Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri; 1. Mengembangkan industri pengolahan kelapa non pangan; 4. Meningkatkan mutu produk industri pengolahan kelapa; 2. Membangun pusat-pusat pengembangan industri pengolahan kelapa di sentra produksi. 5. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan; 6. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa; 7. Mengembangkan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien; 8. Meningkatkan kompetensi SDM. Strategi 1. Penguatan struktur industri berbasis kelapa, penciptaan iklim investasi dan usaha yang menarik insentif fiskal dan administrasi serta jaminan keamanan berusaha 2. Peningkatan utilitas kapasitas industri/perusahaan yang telah ada 3. Penciptaan lapangan usaha industri pengolahan kelapa melalui promosi investasi disentra bahan baku kelapa, melalui : Sosialisasi teknologi terpadu proses pengolahan kelapa, peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM, pengenalan dan penerapan GMP dan HACCP dalam rangka peningkatan mutu produk 4. Pengembangan pasar domestik : penyertaan para pengusaha pada kegiatan promosi/pameran dalam negeri dan internasional, pengembangan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi termasuk cocochemical Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku; 2. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa; Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri; 1. Pengembangan industri pengolahan kelapa non pangan; 4. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa; 2. Pembangunan pusat-pusat pengembangan industri pengolahan kelapa di sentra 5. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan; produksi. 6. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa; 7. Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien; 8. Meningkatkan kompetensi SDM.

Pasar: a. Membangun produk yang memiliki daya saing tinggi b. Membangun Merk Produk Industri Pengolahan Kelapa Nasional di pasar internasional c. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri d. Diversifikasi pasar eksport produk kelapa

Gambar 1. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Gambar 1. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa

6

Asam Phosphat Batang Kelapa Pasar Luar Negeri Importir Air Kelapa Sabut Kelapa Pasar Dalam Negeri LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 Jasa: Transportasi Lembaga Litbang/PT: BBIA. Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Gambar 2. GAPMMI. BBTK Asosiasi: AIMMI.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Deperin. Fasilitator Klaster Pemda: Dinas Ind. ASMNDO. Bleaching Earth. Dinas Pertanian Virgin Oil Mesin & Peralatan Daun Kelapa Minyak Goreng Bio Diesel Nata de Coco Asam Cuka Santan Bubuk Coco Fiber Karbon Aktif Bahan Bangunan Tempurung Kelapa Kerajinan Perabot Rumah Bahan Penolong: Buah Kelapa Minuman Kosmetik Makanan Obat Pengolahan Air Eksportir NaOH. IPB.. Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa  7 . UGM. Deptan Forum Daya Saing. Baristand. APKASI Gambar 2. ASRIM. Depdag. Working Group.

Tan O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2004 – 2009 Fasilitasi Klaster 1. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Perush. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri. Meningkatkan kompetensi SDM. 3. 8. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Tabel 1. Dag Dep. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan./ Industri Komunikasi Asosiasi Dep. 7. 2. 5. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum 00 WG PT Balai Kab/ Kota KRT BPPT Prop. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 6. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa. 8 . Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien. Prin Dep. KUKM Dep. 4.

Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri berbasis agro.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . Menimbang : a. industri alat angkut. industri elektronika dan telematika. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Bahwa industri Pengolahan Kopi merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Kopi. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Mengingat : 1.2014 . Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi.b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. 7. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 5.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47.

Republik Indonesia Nomor 9. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .Negara 4987). Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. 12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Tugas. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Fungsi.2014 . 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 10.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. 4. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Kopi untuk periode 5 (lima) tahun. 3. Swasta. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . strategi dan kebijakan. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Industri Pengolahan Kopi industri yang terdiri dari Industri Pengolahan Teh dan Kopi (KBLI 15491).MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI. Pemerintah Daerah. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. 2. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya.

2014 .Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Kopi ataupun sektor lain yang terkait. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). dan d. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Kopi. b. c. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri.

Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Kopi dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.

Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 3. Presiden RI. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . Wakil Presiden RI.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 6. 5. Gubernur seluruh Indonesia. 2. 4. Bupati/Walikota seluruh Indonesia.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 .

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pengelompokan Industri Pengolahan Kopi 1. pallet. kopi biji matang (roasted coffee). kopi rendah kafein (decaffeinated coffee). ekstrak kopi. Pohon industri pengolahan kopi seperti ditunjukkan pada Gambar I. kopi tiruan. Kopi Arabika memiliki citra rasa yang lebih baik. tetapi memiliki body yang lebih lemah dibandingkan kopi Robusta. sedangkan kopi Robusta digunakan sebagai campuran untuk memperkuat body. Kelompok Industri Hilir • • • • Industri Roasted Coffee Industri kopi bubuk Industri kopi instan Industri kopi dekafein LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . kopi celup. kopi instan. jagung. industri pengolahan kopi juga membutuhkan bahan tambahan seperti gula. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kopi Industri pengolahan kopi pada umumnya menggunakan bahan baku biji kopi Arabika dan Robusta dengan komposisi perbandingan tertentu. dan lain-lain. Selain biji kopi. Kopi Arabika digunakan sebagai sumber citra rasa. B. serta bahan penolong seperti bahan kemasan (packing).BAB I PENDAHULUAN A. kopi mix. minuman kopi dalam botol dan produk turunan lainnya. krat dan lain-lain.1. Jenis diversifikasi produk kopi meliputi kopi bubuk.

Pohon industri pengolahan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .1. Pohon industri pengolahan kopi kopi Gambar I.• • • Industri minuman kopi Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Industri kopi Mix Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Industri minuman kopi beraroma Gambar I.2014 .1.

didaerah potensi kopi dari 9 menjadi 11 kali kegiatan forum. 6.BAB II SASARAN A. 3. Meningkatnya mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan antara lain: teknologi proses (roasting). 7. B. Tersusunnya Standar Nasional Indoneisa (SNI) kopi dekafein dan terwujudnya revisi SNI kopi instan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Terfasilitasinya kegiatan misi dagang dan promosi ekspor utamanya dinegara pasar non tradisional. industri dan perdagangan kopi/stake-holders didaerah Lokus Lampung dari 3 (tiga) kemitraan menjadi 8 (delapan) kemitraan. 4. Jangka Panjang (2010 – 2020) 1. Meningkatnya jumlah daerah kajian dan identifikasi masalah dari 3 (tiga) daerah menjadi 7 (tujuh) daerah. Meningkatnya jumlah kegiatan forum komunikasi industri pengolahan kopi. Jangka Menengah (2010 -2014) 1. teknologi produk (diversifikasi) dan mutu kemasan didaerah Lokus Lampung dari 10 unit menjadi 12 unit. Meningkatnya produksi biji kopi Arabica dari 8. Meningkatnya jumlah kemitraan antara petani. 5.2 persen menjadi 15 persen terhadap kopi robusta. Meningkatnya keikutsertaan forum internasional pada Sidang Dewan Kopi Internasional agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam ICO. 2.

Menurunnya tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3. Meningkatnya kemampuan industri pengolahan kopi yang berorientasi ekspor. Toraja Coffee. 5. sehingga ekspor naik dari USD 58. Lampung Coffee) di pasar global. 6. 3.4 persen menjadi 0 persen.2014 . Berkembangnya industri pengolahan kopi dari 79 tahun 2009 menjadi 90 unit tahun 2025.20 juta tahun 2025. Lintong Coffee. 4. sebanyak 4 (empat) unit sampai dengan tahun 2025.2. Berdirinya industri kopi non pangan/industri farmasi.7 juta (2008) menjadi USD 24.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Terbangunnya citra merk kopi Indonesia sesuai indikasi geografis (Kintamani Coffee.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . 6. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Visi: Menjadikan produk industri kopi Indonesia yang berdaya saing tinggi dan menjadi icon dunia. Memfasilitasi kegiatan misi dagang dan promosi ekspor. Peningkatan mutu kopi dengan jalan: a. Peningkatan mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan. 5. Arah Pengembangan Arah Kebijakan Jangka Pendek dan Menengah Industri Pengolahan Kopi s. Penyusunan dan revisi SNI kopi olahan. 2.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. industri dan perdagangan kopi/stakeholders. 4.d. B. 7. Pengamanan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. Kajian dan identifikasi permasalahan pada pengembangan industri pengolahan kopi. Memberikan penyuluhan pasca panen. 1. Tahun 2010. Meningkatnya kemitraan antara petani. 8. 3. Pemberdayaan forum komunikasi industri pengolahan kopi.

Melakukan negosiasi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Uni Eropa dalam upaya penurunan tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3. 5. 8. Arah Kebijakan Jangka Panjang Industri Pengolahan Kopi s. Pengembangan R & D dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia. 1.2014 . Disinsentif peluang ekspor kopi mutu rendah dengan pengetatan/pengawasan mutu kopi ekspor oleh PPSMB. perdagangan. Kemandirian Harga kopi Nasional yang tidak tergantung kepada Harga Kopi di Pasaran Internasional.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Peningkatan Ekspor kopi baik dalam bentuk biji maupun kopi olahan yang memiliki nilai tambah serta peningkatan pasar domestik.d. Memaintain pasar Internasional bagi kopi biji Indonesia dan Penetrasi pasar baru Internasional untuk kopi olahan Indonesia.4% menjadi 0%. Peningkatan produksi biji kopi Arabica. Kebijakan Pemerintah dalam upaya mendorong pihak perbankan untuk membantu permodalan di sektor industri pengolahan kopi. Tahun 2025. Penerapan GMP.b. HACCP dan ISO series. 7. 2. 4. 6. Mengembangkan kelembagaan klaster dan tumbuhnya kemitraan di daerah. Pengembangan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). 9. 3. 10. maupun produksi.

10. diseluruh wilayah Indonesia. Pengembangan Teknologi Pengolahan Kopi (Machinary) yang dapat menghasilkan kopi dengan cita rasa baik. 11. sehingga terjadi pemerataan lapangan kerja. Peningkatan Produksi dan Mutu biji kopi Robusta dan Arabika. Pemerataan penyebaran Industri Pengolahan kopi dan turunannya. Pengembangan & Pengelolaan Areal Tanaman Kopi Specialty secara modern. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  .9. 12.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

HACCP dan ISO series.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Meningkatkan kompetensi SDM. Rencana Aksi Jangka Panjang (2014 – 2020) • • • • • • • • Menerapkan GMP. Meningkatkan ekspor dan pasar domestik. Mengembangkan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). industri dan perdagangan kopi/stake holders. Meningkatkan kemitraan antara petani. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • Meningkatkan mutu dan diversifikasi produk olahan kopi. Meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM. Meningkatkan kualitas pengemasan produk kopi. B. Mengembangkan litbang turunan kopi non-pangan. Melakukan diversifikasi produk olahan kopi (antara lain “coffee blend”). Melakukan pendalaman struktur industri kopi. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Mendorong peningkatan produksi biji kopi Arabica. Mengamankan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. Menerapkan SNI dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia.

Infrastruktur: a. 6. Meningkatnya jumlah daerah kajian dan identifikasi masalah dari 3 (tiga) daerah menjadi 7 (tujuh) daerah. d. 4. Meningkatkan kemampuan R & D pada industri pengolahan kopi. pelabuhan/terminal dan sarana transportasi dalam upaya meningkatkan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi produk jadi. Pasar: a. 2. Berdirinya industri kopi non pangan/industri farmasi. b. c. Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014). 5. HACCP dan ISO pada industri pengolahan kopi. 1. Meningkatkan akses pasar internasional melalui misi dan promosi dagang. Meningkatkan ekspor dan pasar domestik. Menerapkan SNI dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia. industri dan perdagangan kopi/stake holders. Menyusun konsep pemasaran bersama anggota klaster. 3. b. 5. . Meningkatnya jumlah kegiatan forum komunikasi industri pengolahan kopi. 3. 1.4 persen menjadi 0 persen. Meningkatkan kemampuan managerial perusahaan industri pengolahan kopi. Memanfaatkan seoptimal mungkin hasil R & D dari kalangan penelitian tentang perkopian. 6. Meningkatnya kemampuan industri pengolahan kopi yang berorientasi ekspor. b. dari USD 9. Mengembangkan litbang turunan kopi non-pangan. Unsur Penunjang PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 8 SDM: a. Pendalaman struktur industri kopi. c. Inisiasi (2004 – 2009): Peningkatan kualitas biji kopi (coffee beans) sebagai produk pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin teknologi maju.2014 Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014). industri dan perdagangan kopi/stake-holders didaerah Lokus (Lampung) dari 3 (tiga) kemitraan menjadi 8 (delapan) kemitraan. 3. Meningkatkan kemampuan GMP. 5.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 0 Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2025). 4. sebanyak 4 (empat) unit tahun 2025. Mengamankan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. pengembangan R & D produk dan kemasan dan pengembangan ekspor. Pengembangan cepat (2010 – 2015): Melakukan pengembangan teknologi diversifikasi produk dan teknologi desain kemasan. Meningkatkan kelancaran distribusi dan pemasaran produk kopi olahan. Tersusunnya SNI kopi dekafein dan terwujudnya revisi SNI kopi instan. Terbangunnya merk kopi Indonesia sesuai indikasi geografis di pasar global. 3. Meningkatkan kemitraan antara petani. Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Strategi Sektor : Diversifikasi produk pengolahan kopi. Periodisasi Peningkatan Teknologi:: a. 2. didaerah potensi kopi dari 9 menjadi 11 kali kegiatan forum.20 juta tahun 2025. Terfasilitasinya kegiatan misi dagang dan promosi ekspor. b. Meningkatkan kompetensi SDM. Meningkatnya keikut sertaan forum internasional pada Sidang Dewan Kopi Internasional agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam ICO. HACCP dan ISO series. Menyederhanakan prosedur ekspor dan memfasilitasi pelaksanaan ekspor. Teknologi: Penguasaan teknologi roasting yang menghasilkan roasted coffee mutu tinggi. Mendorong peningkatan produksi biji kopi Arabica. Matang (2016 – 2025): Industry & technology upgrading. 1. 2. Membangun akses jalan. 4. 1. Meningkatkan mutu dan diversifikasi produk olahan kopi. Meningkatnya jumlah kemitraan antara petani. Mengembangkan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). memodernisasi teknik budidaya tanaman kopi untuk memperoleh produktifitas tinggi. mendorong tumbuhnya modifikasi teknologi pengolahan kopi. 7. 7. Meningkatnya mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan didaerah Lokus (Lampung) dari 10 unit menjadi 12 unit. c. Berkembangnya industri pengolahan kopi dari 77 unit tahun 2007 menjadi 90 unit tahun 2025. Menerapkan GMP. e.0 juta meningkat menjadi USD 24. Menurunnya tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3. 4. Meningkatkan konsumsi domistik produk kopi olahan. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015 – 2025). 2.

Pasar: a. Meningkatkan kelancaran distribusi dan pemasaran produk kopi olahan. Meningkatkan kompetensi SDM. c. Memanfaatkan seoptimal mungkin hasil R & D dari kalangan penelitian tentang perkopian. Meningkatkan kemampuan managerial perusahaan industri pengolahan kopi. Meningkatkan konsumsi domistik produk kopi olahan. c. b. 7. Matang (2016 – 2025): Industry & technology upgrading. Pengembangan cepat (2010 – 2015): Melakukan pengembangan teknologi diversifikasi produk dan teknologi desain kemasan. Menyusun konsep pemasaran bersama anggota klaster. c. pelabuhan/terminal dan sarana transportasi dalam upaya meningkatkan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi produk jadi. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kopi 9 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . b. Inisiasi (2004 – 2009): Peningkatan kualitas biji kopi (coffee beans) sebagai produk pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin teknologi maju. e. SDM: a. Unsur Penunjang Periodisasi Peningkatan Teknologi:: a. Meningkatkan kemampuan GMP. Meningkatkan kemampuan R & D pada industri pengolahan kopi. Gambar 1.6. d. Pendalaman struktur industri kopi. Menyederhanakan prosedur ekspor dan memfasilitasi pelaksanaan ekspor. HACCP dan ISO pada industri pengolahan kopi. memodernisasi teknik budidaya tanaman kopi untuk memperoleh produktifitas tinggi. Membangun akses jalan. b. Meningkatkan akses pasar internasional melalui misi dan promosi dagang. Infrastruktur: a. Gambar 1. b.

BPOM. BSN Kopi sangrai Kopi sangrai kemasan Bibit dan Pestisida Biji kopi Kopi instan Kopi sortasi Kopi mix Buah Kulit ari/tanduk Kopi mix kemasan sached Olahan Tradisional Kopi instant kemasan alm/kaleng Kopi bubuk Kopi bubuk Kemasan alm/kaleng Eksportir Pasar Luar Negeri Pupuk Kopi Mesin/ Peralatan Minuman kopi Minuman kopi kemasan botol Gula. Dinas Pertanian. Dinas Perhub.2014 Decafeinated coffee kemasan kaleng Jasa : Transportasi. Pemerintah Pusat: Deperin. GAPMMI Lembaga Litbang/PT : BBIA.IPB.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009  Forum Komunikasi. Depkeu. Fasilitator Klaster Pemda : Dinas Perindag. asuransi Asosiasi : AEKI. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kopi Gambar 2. Periklanan. ASRIM. Bahan Penolong/ Pengawet Distributor Pasar Dalam Negeri Kemasan Kopi non pangan (industri farmasi) Decafeinated coffee PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pusat Pengkajian Teknologi Pertanian Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kopi 10 . Depdag. Dephub. Perbankan. Deptan.Working Group. UGM.

Perush. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan. Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 7. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum Komunikasi Rencana Aksi 2004 – 2009 PT Balai Kab/ Kota KRT BPPT Prop. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa. 3./ Industri Asosiasi Dep.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa. Prin Dep. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 2. 4. Meningkatkan kompetensi SDM. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa. 5. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri. 8. KUKM Dep. Dag Dep. Tan Fasilitasi Klaster WG 1. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kopi  8 . O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 6.

Sentra : Sebaran industri pengolahan kopi ternyata tidak selalu pada daerah penghasil biji kopi: Sumut. 12 . PT Aneka Coffee Industry (Jatim. Jateng. Sulut. (2). Sulut Babel Kalsel Sulsel Sulteng Bali Gambar 3. PT Setia Unggul Mandiri (Sulsel). Lampung. Lampung (3). Jatim. Jatim. PT Santos Jaya Abadi (Jatim. Sumsel. Sulsel. (6). (2). PT Gunung Mas Lestari Jaya (Banten).. (10). DKI Jakarta (4).). Perusahaan : PT Sari Incofood Corporation (Sumut.. (2). Bali dan Sulsel (didasarkan atas potensi bahan baku). (3). PT Putra Bhineka Perkasa (Bali). Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Gambar 3. Bali (1). Jabar. Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Aceh Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Sumut Sumbar Jambi Sumsel PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 Lampung DKI Banten Jateng Jatim Jabar DIY Lokasi pengembangan : Sumut. Bengkulu. PT Nestle Indonesia (Lampung).). (3) dan daerah lain berjumlah 41 unit (usaha skala menengah).). Jumlah sentra : 77 unit pengolahan kopi skala menengah dan besar.

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri elektronika dan telematika. industri alat angkut. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a. industri berbasis agro.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Bahwa industri gula merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri gula. c. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014  . Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108.

6. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47.4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Fungsi. 13. 10. 12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian.9. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Tugas.2014 . 11.

Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Industri Gula Pasir (KBLI 15421). Industri Gula Merah (KBLI 15422). Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. 2. c. Industri Gula adalah industri yang terdiri dari: a.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA. Pemerintah Daerah. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . d. b. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Swasta. strategi dan kebijakan. Industri Gula Lainnya (KBLI 15423). serta program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Gula untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Pengolahan Gula Lainnya selain Sirop (KBLI 15429) 3.

Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Gula. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. baik pengusaha maupun institusi lainnya. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Gula ataupun sektor lain yang terkait.4. dan d. yang pada akhirnya diharapkan untuk 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.2014 . Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. c. b.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Gula dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Gubernur seluruh Indonesia. 2. 5. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 4. Wakil Presiden RI.2014 . Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Presiden RI.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 3. 6.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

tenaga kerja. Ruang Lingkup Industri Gula • Indonesia potensial menjadi produsen gula dunia karena dukungan agroekosistem. PG-PG yang berada di P. sehingga kurang produktif. keuangan/ perbankan dan transportasi. Disamping itu prospek pasar gula di Indonesia cukup menjanjikan dengan konsumsi sebesar 4. hamper semua PG-PG sangat tergantung pada petani tebu dan dengan lahan yang terbatas di Pulau Jawa. Pengembangan industri gula (pengolahan tebu) harus dilakukan secara terpadu mulai dari perkebunan.7 juta ton/tahun. pengolahan. sementara kebutuhan terus meningkat. SDM. pemasaran dan distribusi yang didukung oleh pemangku kepentingan termasuk lembaga pendukung seperti litbang. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat dan industri yang saat ini masih terus menjadi masalah karena kekurangan produksi dalam negeri. relatif berumur teknis sudah tua. Pesatnya perkembangan kebutuhan gula sementara peningkatan produksi relatif belum seimbang menjadikan Indonesia sebagai importir gula baik untuk gula kristal mentah (raw sugar) maupun gula industri (refined sugar).2 – 4. • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .60% pada tahun 2008). luas lahan.Jawa.BAB I PENDAHULUAN A. Sementara pabrik gula Rafinasi yang ada (8 pabrik) belum berproduksi secara optimal (utilisasi kapasitas sekitar 40% .

Pengelompokan Industri Gula Industri gula di Indonesia terdiri dari beberapa industri yaitu 59 pabrik gula (PG) dan 8 pabrik gula rafinasi (PGR).2014 .B.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Penghapusan dekotomi pasar gula rafinasi yang dapat pula dijual ke konsumen langsung. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Tercapainya swasembada gula nasional tahun 2014 (Gula Putih. Jangka Panjang (2020 – 2025) 1. C. Meningkatnya produksi raw sugar dalam negeri. Pemenuhan berbagai jenis gula dari produksi dalam negeri 2. Gula Kristal Rafinasi dan Raw Sugar). 3.BAB II SASARAN A. Berhasilnya revitalisasi program pabrik gula melalui peningkatan mutu dan volume produksi gula putih. 4. Indonesia menjadi negara produsen gula yang mampu memasok kebutuhan negara-negara lain di Asia Pasifik. Memberlakukan SNI wajib gula putih. Restrukturisasi teknologi proses pada Industri gula sesuai perkembangan yang terjadi. Ekspor gula setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi 3. B. Jangka Menengah (2015 – 2020) 1. 4. Jangka Pendek (2010 – 2014) 1. 2.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Jawa Terpenuhinya kebutuhan gula konsumsi dan industri oleh industri gula dalam negeri. Pembinaan industri gula terutama dalam hal mutu dan distribusi. 2007. Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri gula.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. berdaya saing dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Misi • • • • Memperkuat struktur industri gula Meningkatkan produktivitas dan efisiensi Mendorong investasi PG-PG keluar P. B. Visi dan Arah Pengembangan Industri Gula Visi Mewujudkan industri gula nasional yang mandiri. Tahapan Implementasi • Mengadakan workshop pengembangan klaster industri gula di daerah mulai tahun 2006. 2008 dan 2009. • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Indikator Pencapaian 2009 2014 : tercapainya swasembada gula konsumsi : tercapainya swasembada gula nasional C.

mendorong penggunaan rafinasi produksi DN. Pengembangan industri raw sugar untuk mengganti raw sugar ex impor. • • 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . berkualitas melalui pemberian insentif dan dukungan dana. Melaksanakan litbang teknologi DN yang terintegrasi. Kebijakan • Menciptakan iklim usaha yang atraktif melalui kebijakan harmonisasi impor raw sugar. pengaturan tata niaga impor.2014 . D.• Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri gula melalui kegiatan magang di beberapa pabrik gula di Jawa.

kecuali bagi industri pengguna yang memiliki fasilitas investasi. makanan bayi). Memberikan kuota impor raw sugar bagi industri gula rafinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman dalam negeri. Melakukan promosi produk gula Indonesia ke berbagai negara apabila produksi telah melebihi kebutuhan di dalam negeri.2009 untuk onfarm dan off-farm sehingga mutu produksi GKP meningkat. kawasan berikat dan penggunaan GKR dengan persyaratan khusus (untuk obat-obatan. • • • • B. Rencana Aksi Jangka Menengah (2015 – 2020) • Melarang impor gula secara umum. Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu. Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula. Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) • Melanjutkan revitalisasi PG 2007 . yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . C. Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • Indonesia menjadi negara pengekspor gula di Asia Pasifik.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .• Melakukan penggantian mesin peralatan industri gula dengan teknologi proses yang berkembang dan efisien.

Meningkatkan peran litbang untuk peningkatan mutu gula (SNI Wajib) dan diversifikasi pemanfaatan hasil samping b.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Industri Gula Putih.Minuman dan Farmasi Sasaran Jangka Pendek (2010 – 2015) o Tercapainya swasembada gula nasional tahun 2014 (Gula Putih. Gula Kristal Rafinasi dan Raw Sugar) o Terealisasinya program revitalisasi pabrik gula melalui peningkatan mutu dan volume produksi gula putih o Meningkatnya produksi raw sugar di dalam negeri . bibit. Penguatan struktur industri gula pada semua tingkat dalam rantai nilai (value chain) 5. harmonisasi dan non tarif c. Jawa Timur dan Jawa Tengah Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) o Melanjutkan revitalisasi PG 2007 . Peningkatan utilisasi kapasitas PG dan PGR 2. Inisiasi (2004-2009) : Revitalisasi mesin PG. Meningkatkan kemampuan manajemen industri gula SDM dibidang c. Peningkatan efisiensi bahan baku dan energi 4.pemeliharaan) 3. Pembangunan infrastruktur dilahan-lahan tebu agar proses tebang angkut berjalan efektif dan efisien. Industri Gula Rafinasi dan Raw Sugar Industri Pendukung Mesin. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 SDM : a.2015) : Modifikasi & Pengembangan teknologi yang lebih maju (otomasisasi mesin dan peralatan) Matang (2016 -2025) : restrukturisasi mesin dan peralatan dengan teknologi mutakhir Infrastruktur : a. perkebunan dan kemasan Industri Terkait Industri Makanan . Deregulasi dan debirokratisasi. Kerangka Pengembangan Industri Gula  5 . pupuk. o Memberlakukan SNI wajib Gula putih Jangka Panjang (2020 – 2025) o Indonesia menjadi negara produsen gula yang mampu memasok kebutuhan negara-negara lain di Asia Pasifik Strategi 1. Pasar: b. Sumatra. Peningkatan rendemen gula melalui system pengolahan tebu yang baik (tanam. yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut. Meningkatkan promosi dan investasi PG-PG di luar Pulau Jawa (Papua. penggunaan bibit unggul Pengembangan cepat (2010 . Gambar 1. Peralatan. a. Unsur Penunjang Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) Indonesia menjadi negara pengekspor gula di Asia Pasifik . pestisida. Kerangka Pengembangan Industri Gula Gambar 1. Sulawesi) 7. peingkatan utilisasi kapasitas.2009 untuk on-farm dan off farm sehingga mutu dan volume produksi GKP meningkat o Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru o Memberikan kuota impor raw sugar bagi industri gula rafinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman dalam negeri o Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu. bongkar ratoon.pembibitan. Revitalisasi PG-PG terutama PG di Jawa 6. o Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula. Pengembangan lokasi klaster :Lampung.

Perbankan. Deptan. AGRI. GAPMMI Gambar 2. Asuransi.2014 JASA: Transportasi. Depperin.Dewan Gula Indonesia Depdag.IKAGI. EMKL Lembaga Litbang/PT P3GI. PPGI.UGM. Meneg BUMN Perkebunan Tebu Eksportir Industri Makanan Raw Sugar Gula Putih Gula rafinasi Bahan Penolong/ Packaging Industri Minuman Industri Farmasi Industri Alkohol-Bio Ethanol Distributor PASAR LUAR NEGERI Raw Impor Mesin dan Peralatan PASAR DALAM NEGERI PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .IPB.AKANI. KADIN/KADINDA. Kerangka Keterkaitan Industri Gula 6 . Kerangka Keterkaitan Industri Gula Gambar 2. APTRI.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009  Forum Komunikasi / Working Group Pemda: Dinas Perindag Dinas Terkait Raw Sugar Impor Pemerintah Pusat: Menko Perekonomian. Unej.dll Assosiasi: AGI.Balai Industri. FIPG. Unibraw.

O O O  7 . Melanjutkan revitalisasi PG 2007 . yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut. Kuota impor Raw Sugar bagi IGR sesuai kebutuhan Gula Rafinasi oleh industri Makanan Minuman O 4. Industri Depkeu Depdag Deptan Asosiasi Kab.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1Tabel 1 Peran Pemangku Kepentingan Industri Gula Peran Pemangku Kepentingan Industri Gula Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta Perguruan Tinggi dan Litbang DGI P3GI PT Komunikasi Forum Rencana Aksi 2010 – 2015 Prop Persh./Kota Deperin O O O O O O Meneg BUMN O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Fasilitasi Klaster Working Group 1.2009 untuk onfarm dan off farm sehingga mutu dan volume produksi GKP meningkat O O O 2. O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 5. Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru O O O 3. Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula.Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri elektronika dan telematika. Menimbang : a. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . industri berbasis agro. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. c. 3.2014 .  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Hasil Tembakau. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Bahwa industri Hasil Tembakau merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Hasil Tembakau. Mengingat : 1.b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 2.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330).Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). 6. 4. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 7. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.

Fungsi. 13. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 10. Tugas. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 11. 12. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.2014 . Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007.

2. Industri Industri Rokok Kretek (KBLI 16002). d. Industri Hasil Tembakau adalah industri yang terdiri dari: a. Industri Industri Rokok Putih (KBLI 16003).MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU. c. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Hasil Tembakau Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). Industri Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009). Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. strategi dan kebijakan. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Hasil Tembakau untuk periode 5 (lima) tahun. b. Industri Rokok lainnya (KBLI 16004). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . e.

Pasal 2 4. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Hasil Tembakau ataupun sektor lain yang terkait. baik pengusaha maupun institusi lainnya. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).3. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Swasta. b. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pemerintah Daerah.2014 . (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. dan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Hasil Tembakau. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. c. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .d. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Hasil Tembakau dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).

Gubernur seluruh Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 5.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.2014 . 2. 4. 3. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 6.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Wakil Presiden RI. Presiden RI.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

dan sisanya berada di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara. Ruang Lingkup Industri Hasil Tembakau Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau. gol kecil (Gol IIIA dan Gol III B) tahun 2007 sebagai berikut : LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih). bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara. Dalam periode yang sama produksi rokok mencapai 220. Khusus untuk industri rokok.7 milyar batang. Jawa Tengah (20%). cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok. peranan dari masing-masing golongan pabrik baik besar (Gol. antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait.12 %. cerutu dan tembakau iris (shag). Dalam situasi krisis ekonomi. dan D. Dalam tahun 2005 jumlah IHT (Rokok) sebanyak 3.BAB I PENDAHULUAN A.217 perusahaan dan dalam tahun 2006 sudah mencapai 3. Sebaran IHT secara geografis sebagian besar (75%) berada di Jawa Timur. IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).961 perusahaan atau meningkat sebesar 23. penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. menengah (Gol II).3 milyar batang dan 218.I Yogyakarta. I). Jawa Barat.

793 PRODUKSI (Juta Batang) 173. Tanaman tembakau terdiri Cukai. dan bunga. daun tembakau selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses menjadi rokok. batang.13 43. Data Produksi tidak termasuk jenis Cerutu. pohon industri tembakau dapat digambarkan sebagai berikut :  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Sumber Ditjen Bea dan Cukai.585. KLM/KLB.02 CUKAI (Milyar Rp. daun secara bertahap dipetik mulai Tanaman tembakau terdiri dari Selanjutnya batang tembakau dari daun bawah. Secara singkat.20 231.) 37.05 10.84 6. Departemen Keuangan 1. KLM/KLB. tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah dikeringkan.d 500 Juta 0 s.2014 2 .38 6.50 % 86. TIS 2.18 Keterangan : 1.01 27.000.59 0.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 PABRIK GOL I II III A III B Total Juml. Produksi (Batang) > 2 Milyar > 500 Juta s.365.72 3.416 4.15 2.870. Sumber Ditjen Bea dan dari batang. Setelah tanaman tembakau digunakan (secara dimanfaatkan untuk kayu bakar dan biji dari bungaberumur.978. Data Produksi tidak termasuk jenis Cerutu.976. daun secara bertahap dipetik mulai dari daun bawah.d 6 Juta Jumlah Pabrik 8 15 354 4.21 11.81 2.541.50 23. Selanjutnya batang tembakau dimanfaatkan tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah untuk kayu bakar dan biji dari bunga digunakan (secara dikeringkan. TIS Keterangan : 2. Departemen Keuangan bunga.614.20 6.d 2 Milyar > 6 Juta s. Secara singkat. tengah dan atas. cerutu. daun tembakau dan Setelah tanaman tembakau berumur.073. pohon industri tembakau dapat digambarkan selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses sebagai berikut : menjadi rokok.51 78. tengah dan atas.00 % 75. cerutu.

 Mlyar Btg Rokok Putih BM=0% Rokok Kretek BM=0% Tanaman Tembakau Batang Bunga (Bj) Bbt/ benh tembakau Dalam pengembangan IHT. Memperkuat dan memperdalam sturktur industri. aspek ekonomi masih menjadi pertimbangan utama dengan tidak mengabaikan faktor dampak kesehatan.03 triliyun sedangkan tahun 2007 sebesar Rp 43. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatkan iklim persaingan yang kondusif. dan 6) meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi industri. 42. konsolidasi dan restrukturisasi industri. 5) penyebaran pembangunan industri. 3). Mlyar Btg Tembakau Irs/ Tembakau Shag Klobot Klembak Menyan Tembakau Rajangan Tembakau kerng tanpa tulang daun Daun Basah Tembakau kerng dengan tulang daun Kayu bakar Tembakau Blended BM=0% Cerutu BM=0% Pucuk Daun Badan Daun Tangka Daun Rokok Kretek Produks : . Industri Hasil Tembakau mendapatkan prioritas untuk dikembangkan karena mengolah sumber daya alam. menyerap tenaga kerja cukup besar baik langsung maupun tidak langsung (±10 juta orang) dan sumbangannya dalam penerimaan negara (cukai) tahun 2006 Rp. 4) meningkatkan peran industri kecil dan menengah.54 triliun. 2). Meningkatkan revitalisasi.Pohon Industri Berbasis Tembakau SKT BM=0% SKM BM=0% Rokok Kretek Produks : . Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah RPJM (2004-2009) pembangunan sektor industri diarahkan untuk : 1).

Di samping itu.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. menggunakan/mengolah SDA dalam negeri dan memiliki potensi ekspor maka Industri tembakau dengan produksi utama rokok/sigaret merupakan salah satu industri dalam kelompok industri makanan dan minuman yang memenuhi kriteria untuk dikembangkan.Sesuai dengan kriteria yang ditetapkan seperti banyak menyerap tenaga kerja. Untuk mencapai sasaran pengembangan industri tembakau perlu dijabarkan pokok-pokok rencana aksi baik jangka menengah maupun jangka panjang. IHT juga dihadapkan pada masalah kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik. Namun demikian. Pada akhirnya pengembangan IHT diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja. IHT dewasa ini dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain isu dampak merokok terhadap kesehatan baik di tingkat global yang disponsori oleh WHO sebagaimana tertuang dalan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan di tingkat nasional pengendalian produk tembakau tertuang dalam PP No. menumbuhkan industri terkait dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan. Sasaran pengembangan IHT melalui pendekatan klaster adalah meningkatkan hubungan dan jaringan kerja sama yang saling menguntungkan antar stakeholders yang terkait dengan IHT guna meningkatkan daya saing dan value chains diantara pelaku usaha. menjamin kelangsungan usaha budidaya tembakau dan cengkeh. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . meningkatkan penerimaan negara melalui cukai dan pajak. tidak transparan dan lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan negara tanpa mempertimbangkan kemampuan industri rokok dan daya beli masyarakat ditambah dengan maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal.

saus rokok. Industri Rokok Putih (KBLI 16003 dan Industri Rokok lainnya (KBLI 16004) meliputi cerutu. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . meliputi: tembakau bersaus. Kelompok Industri Hilir Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam Kelompok Industri Hilir meliputi: Industri Rokok Kretek (KBLI 16002). Kelompok Industri Antara Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam kelompok Industri Antara yaitu Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009). Usaha Industri Hasil Tembakau yang tergolong dalam Kelompok Industri Hulu adalah Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). kawung dan pembuatan filter. Pengelompokan Industri Hasil Tembakau 1. • 2. 3. Kelompok Industri Hulu • • Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia (KBLI) tahun 2005. uwur.B. bumbu rokok dan kelengkapan rokok lain seperrti klembak menyan. rokok klembak menyan dan rokok klobot/kawung. Yang termasuk dalam kelompok ini yaitu kegiatan usaha dibidang pengasapan dan perajangan daun tembakau. klobot.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Amerika dan Asia. Ex-Uni Soviet. Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401. • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .BAB II SASARAN A.067.44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1. Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15%/ tahun dari US $ 397. Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025.24 juta pada tahun 2015. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal.08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1. Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang. Minimalisasi peredaran rokok ilegal. Eropa (cerutu dan tembakau). Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010. • B.84 juta pada tahun 2015.056. Afrika.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Peningkatan ekspor. kondusif dan moderat. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Perbaikan struktur industri rokok. projob. Pengenaan cukai yang terencana.BAB III SRATEGI DAN KEBIJAKAN A. B. maka kebijakan pengembangan IHT diarahkan pada: • • • • • • Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif. Indikator Pencapaian • Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010 dan tahun 2025 sebesar 260 milyar batang. Arah Kebijakan : Dalam rangka tercapainya sasaran pengembangan Industri Nasional melalui triple track (pro-growth. Visi dan Arah Pengembangan Industri Hasil Tembakau Terwujudnya Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdaya saing di pasar dalam negeri dan global dengan memperhatikan aspek kesehatan. Penanganan rokok ilegal. pro-poor). Pertumbuhan dalam jangka pendek (s/d 2009) diutamakan untuk IHT menggunakan tangan (SKT).

Tahapan Imlementasi • • • • • Mengadakan Workshop Pengembangan Klaster Pengolahan Tembakau Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster pengolahan tembakau Pelatihan Teknis Pengolahan Tembakau bagi aparat pembina dan pengusaha Melakukan komunikasi dan perusahaan mitra tembakau kerjasama dengan Melakukan upaya penumbuhan industri pengolahan tembakau lokal (tembakau iris dan industri rokok skala kecil) Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan tembakau melalui kegiatan magang dibeberapa pabrik rokok di Jawa Tengah •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Amerika dan Asia.2014 .056.24 juta pada tahun 2015 Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401.44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1. Ex-Uni Soviet.08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1. Eropa (cerutu dan tembakau).067.• Meningkatnya nilai ekspor tembakau sebesar 15%/ tahun dari US $ 397. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal • • • • C. Afrika. Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang.84 juta pada tahun 2015.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT) Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder Penanganan produk rokok ilegal Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Pabrikan Golongan III A & B serta pemberlakuan Golongan Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF ) setara dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM). • • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .BAB IV PROGRAM/RENCANA AKSI A. Registrasi kepemilikan dan pengawasan impor mesin pembuat rokok Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. Jangka Menengah (2010-2015) • • • • • Kajian pengembangan IHT Bantuan permodalan Diversifikasi penggunaan energi alternatif Perumusan dan penerapan SNI Tembakau Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau Mengupayakan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bersubsidi untuk proses pengomprongan tembakau.

kondusif dan moderat.• • Peningkatan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok. perjanjian bilateral. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. Peningkatan koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana . regional dan multilateral • B.2014 . misi dagang. misi dagang. perjanjian bilateral. Mengembangkan diversifikasi produk IHT. Jangka Panjang (2010-2025) • • • • Peningkatan sarana dan prasarana Peningkatan program kemitraan Peningkatan mutu SDM dalam penguasaan teknologi. Pengembangan produk IHT yang beresiko rendah bagi kesehatan Peningkatan kemampuan SDM Kajian dan revisi SNI rokok Peningkatan Social Responsibility Program/SRP Peningkatan mutu produk IHT sesuai keinginan pasar. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. regional dan multilateral. • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

5. Terwujudnya UU Pengendalian Dampak Produk Tembakau yang komprehensif dan berimbang guna menciptakan kepastian usaha. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 1. kondusif dan moderat. 3. Melakukan diversifikasi penggunaan energi alternatif untuk pengeringan tembakau. Eropa (cerutu dan tembakau). Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang. Meningkatkan ekspor produk tembakau dan rokok. 7. 5. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal. Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010. 6. Penerapan SNI produk tembakau dan rokok. Kesehatan dan Tenaga Kerja Jangka Waktu 2015-2020 : Prioritas pada aspek Kesehatan melebihi aspek Tenaga Kerja dan Penerimaan Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. 8. 5. Penguasaan teknologi dalam pengembangan IHT yang berkaitan dengan pengurangan resiko kesehatan. Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. Membenahi struktur industri rokok. 3. Memberlakukan kebijakan cukai yang terencana.08 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1. Memberi insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. 1. Meningkatkan program kemitraan. Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15 persen/tahun dari USD 401.44 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan. 2. Menjamin keseimbangan pasokan dan kebutuhan bahan baku serta peningkatan produktifitas tembakau dan cengkeh. Afrika. Meningkatnya mutu tembakau yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kebijakan cukai yang terencana dan kondusif sesuai dengan kemampuan IHT. 2. Skala Prioritas Jangka Waktu 2007-2010 : Urutan Prioritas pada aspek keseimbangan Tenaga Kerja dengan penerimaan dan Kesehatan Jangka Waktu 2010-2015 : Urutan Prioritas pada aspek Penerimaan. Meningkatkan inovasi teknologi proses pengolahan tembakau. 2. 4. Berkembangnya diversifikasi produk IHT. 6. 6. Pengawasan mesin sigaret linting impor Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. 3. Penanganan rokok ilegal. Terwujudnya keseimbangan pasokan tembakau dan cengkeh sesuai dengan kebutuhan ekspor tembakau dan kebutuhan industri rokok.24juta pada tahun 2015 . 3. 8.84juta pada tahun 2015 . Amerika dan Asia. Kebijakan cukai yang terencana dan moderat. Mengembangkan dan diversifikasi produk industri hasil tembakau yang beresiko rendah bagi kesehatan. Menangani produk rokok ilegal. 9. 5. 7. meningkatkan mutu SDM dalam penguasaan teknologi pengolahan tembakau. Registrasi mesin sigaret linting. Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15 persen/tahun dari USD 397. Minimalisasi peredaran rokok ilegal. 6. 3. 4. Keterlibatan IHT dalam penetapan kebijakan cukai. Peningkatan mutu dan daya saing IHT. 4. 3. 9.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2015) 1. Ex-Uni Soviet. 4.056.067. revisi dan penyusunan SNI Tembakau. Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau yang saling menguntungkan. Keterlibatan IHT dalam penyusunan RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau. Strategi Seimbangnya kebutuhan akan pasokan tembakau dan cengkeh. 2. 4. 2.  11 . Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025. 2.

Meningkatkan akses dan penetrasi pasar ekspor. Inisiasi (2007-2010) : Pengembangan dan diversifikasi produk IHT yang beresiko rendah terhadap kesehatan. Pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. Pengembangan (2010-2015) : Modifikasi dan Pengembangan teknologi pengolahan tembakau. Meningkatkan kemampuan pemasaran dan market intellegence produk IHT. Membangun merek lokal di pasar internasional. Matang (2015-2020) : Industry & Technology Upgrading SDM : Peningkatan kemampuan SDM litbang dalam melaksanakan pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. Meningkatkan promosi ekspor dan fasilitasi perdagangan.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 0 nsur Penunjang Infrastruktur :  Tersedianya sarana dan prasarana di sentra-sentra produksi IHT.  Meningkatkan peran litbang dalam : a. Pasar : a. c. Peningkatan Teknologi a. b. d. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder. Penanganan rokok illegal untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat. c. c. Kerangka Pengembangan Industri Hasil Tembakau Iklim Usaha : a. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . b. Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau dan cengkeh d. Kerangka Pengembangan Industri Hasil Tembakau Gambar 1.2014 Gambar 1. Pengadaan benih unggul b. b. 12 . Kebijakan cukai yang terencana dan moderat.

Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau  13 .LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau Gambar 2.

Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Hasil Tembakau Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum WG PT Daya Saing Balittas  Prop Kab/ Kota BPOM Dep. Bantuan permodalan.ESDM Dep. Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau.Tan Perush. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Hasil Tembakau 1. Pemetaan potensi tembakau dan cengkeh .Dag Dep.kop. 6.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Tabel Tabel 1.2014 3. 4.& UKM Dep.Keu Dep./ Industri Depprin O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2010 – 2015 1. Perumusan dan penerapan SNI Tembakau. Diversifikasi penggunaan energi alternative. 14 .Kes Fasilitasi Klaster Asosiasi Dep. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder. Pemberian subsidi dan jaminan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bagi proses pengomprongan tembakau. 8. 5. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 2. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT). 7.

perjanjian bilateral.O O O O O O O O O tembakau. 6.Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. O . O O O 13.Pengawasan impor mesin pembuat rokok. O O O LAMPIRAN OPERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI O NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 9. O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 O O O O O O O O O O O O O O O O O O 14. kondusif dan moderat. O O O O O O O O O O O 12.Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok.Registrasi kepemilikan mesin pembuat rokok. Pemberian subsidi dan jaminan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bagi proses pengomprongan tembakau. 7. regional dan multilateral. O O O O O O O 14 O O O 10. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT). Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder. O  15. 8. misi dagang. O 16.Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Golongan III A & B serta pemberlakuan Golongan SKTF setara dengan SKM. Penanganan produk rokok illegal. 11.Peningkatan Koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana .Perluasan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok.

13.  O O O O O O O O O O O O O O O O O 15.Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. O O O O O O O O O O 14. regional dan multilateral. 16. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . misi dagang.Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok.2014 15 . perjanjian bilateral. kondusif dan moderat.Perluasan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok.Peningkatan Koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana .

PT Karya Niaga Bersama. Bahan Baku Utama dan Pendukung Gambar 3. PT Nojorono. PT Gandum dan perusahaan rokok kecil lainnya). PT Gelora Jaya. PR Menara dan Industri rokok kecil lainnya).M Sampoerna. Jawa Timur. Jawa Barat. NTB. Sebaran Industri Rokok. NTB(industri rokok kecil). Bahan Baku Utama dan Pendukung  16 . Maluku. PT H. Bali. PR Jamu Bol. Sulut. PR Gentong Gotri. Jateng. PT Bentoel Prima.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Sumut Sumbar Lampung Jateng Sulut Malut Sulsel Jatim NTB Bali Maluku Jabar Keterangan : : Bahan Baku Utama(Tembakau) : Sumatera Utara. Maluku Utara. PT Philip Moris Indonesia. Lampung. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 : Industri Rokok : Sumut (PT STTC. PR Sukun. W ikatama. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. : Bahan Baku Pendukung (Cengkeh) : Sumbar. Sulsel. Bali. Jatim. Gambar 3. Pagi Tobacco). Jabar (PT BAT Indonesia & pabrik rokok kecil). Jatim (PT Gudang Garam Tbk. Jateng (PT Djarum. Sebaran Industri Rokok. Filasta.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

industri alat angkut. Menimbang : a.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . industri berbasis agro. industri elektronika dan telematika.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Buah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108.b. 2. c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Bahwa industri Pengolahan Buah merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Buah. Mengingat : 1. 3.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 4. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330).

Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Tugas. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. 9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/ P Tahun 2007.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 13. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Fungsi. 10. 11. 12.2014 .

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Pengasinan/Pemanisan Buahbuahan dan Sayuran (KBLI 15132). d. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Buah untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Pengolahan Buah (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia-KBLI 4 digit) adalah industri yang terdiri dari: a. strategi dan kebijakan. 2. Industri Pengalengan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15131). Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Buah Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH. b. Industri Pengeringan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15134). c. Industri Pelumatan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15133).

baik pengusaha maupun institusi lainnya. 3. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian.e. Industri Pengolahan dan Pengawetan Lainnya untuk Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15139).2014 . Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Pedoman bagi Pelaku klaster industri Pengolahan Buah. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. 4. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Swasta. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pemerintah Daerah. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Buah ataupun sektor lain yang terkait. b.

c. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. dan d. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Buah dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

Presiden RI. 5. 6. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 4. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Wakil Presiden RI.2014 . Gubernur seluruh Indonesia. 3. 2. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

dengan potensi produksi di Jawa Timur sebesar 0. produksi buah mangga nasional sebasar 1.11 juta ton. jeruk. Produksi dan daerah penghasil buah-buahan tersebut pada tahun 2007: Produksi buah nasional tahun 2007 sebesar 15. produksi buah jeruk secara nasional sebesar 2. selai dan produk olahan buah lainnya adalah mangga.84 juta ton. dengan potensi produksi di Sumatera Utara sebesar 0. • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . seperti buah dalam kaleng. dengan potensi produksi di Sulawesi Selatan sebesar 6.82 juta ton. minuman sari buah. produksi buah markisa secara nasional sebesar 0. nanas dan buah markisa.45 juta ton.14 ribu ton dan Sumatera Utara dengan potensi produksi sebesar 11.61 juta ton. manisan buah.BAB I PENDAHULUAN A. Jeruk.63 juta ton. Berbagai jenis buah utama yang dihasilkan oleh Indonesia dan mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan. Markisa. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Buah • Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi besar untuk dapat menghasilkan aneka macam buah.59 juta ton dan Jawa Barat dengan potensi produksi sebesar 0. Mangga.20 ribu ton.96 juta ton dan Jawa Timur sebesar 0.

terutama nenas dengan nilai US$ 144.12 juta.6 juta. dengan potensi produksi di Lampung sebesar 1.24 juta ton.43 juta dan sari buah sebesar US$ 7.2014 .640 Ha dengan produksi 15. Indonesia mengekspor buah dalam kaleng. Berdasarkan pada potensi buah (jeruk. produksi nenas nasional sebesar 2.84 juta ton Pada tahun 2007.• Nenas.24 juta ton dan Jawa Barat dengan potensi produksi sebesar 0. mangga.3 juta dan sari buah sebesar US$ 22. nenas dan markisa) dan peluang ekspor maka pengembangan industri pengolahan buah mendapatkan prioritas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. Namun dalam tahun yang sama Indonesia juga mengimpor buah dalam kaleng dengan nilai U$ 0.54 juta ton. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Luas area tanaman buah Indonesia tahun 2007 sebesar 727.

peluang ekspor maka pengembangan untuk industri pengolahan upaya buah untuk mendapatkan prioritas dikembangkan sebagai peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. Kelompok Industri Hulu • • • Pengalengan Buah Pengasinan Buah Pemanisan Buah LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . Pengelompokan Industri Pengolahan Buah 2 1. Pohon Industri Pengolahan Buah Pohon Industri Pengolahan Buah Kosmetik / Biofarmaka Buah Kaleng Daging Buah Matang Fruit Leather Sale Anggur Puree Pikle Keripi Daging Buah Mentah Buah Asinan Manisan Cutney Tepung Buah Makanan Bayi Makanan Pektin Kulit Buah Pupuk Makanan Ternak Farmasi Selai Juice Jelly Sirop Makanan dari Buah Pati Biji Makanan Ringan Makanan B.

2. Kelompok Industri Hilir • • • • • Sari buah Selai Fruit leather Kosmetik Industri Pengolahan dan Pengawetan lainnya untuk Buah 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Kelompok Industri Antara • Puree Buah 3.2014 .

Meningkatnya produksi puree mangga menjadi 375 ton/tahun. Pengembangan lokus industri pengolahan buah di Jawa Barat: pengolahan mangga.BAB II SASARAN A. Melanjutkan forum komunikasi pengembangan klaster industri pengolahan buah. Meningkatnya penyerapan tenaga kerja 3 persen/ tahun pada industri pengolahan buah. puree sirsak 100 ton/tahun. Meningkatnya diversifikasi produk buah olahan. Meningkatnya partisipasi industri pengolahan buah dalam promosi dan pameran dalam negeri dan luar negeri. Tersusun dan terlaksananya revisi SNI sebanyak 2 (dua) komoditi. Jangka Menengah (2010 – 2014) • • Tersedianya data dan informasi potensi bahan baku dan industri pengolahan buah. Sulawesi Selatan: pengolahan markisa. Meningkatnya kontinyuitas pasokan bahan baku pada industri pengolahan buah baik jumlah dan kualitasnya. sirsak. Meningkatnya kemampuan SDM dibidang teknologi proses pengolahan buah. nenas dan jambu. Mengembangkan kerjasama dan kemitraan usaha antar Pemerintah Kabupaten/Kota serta para pelaku usaha pengolahan buah. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 • • • • • • • • •  . puree nenas 375 ton/tahun.

Meningkatnya konsumsi produk buah olahan dalam negeri menjadi 45 kg/tahun. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . Jangka Panjang (2015 – 2025) • • • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan sentra produksi bahan baku Mengembangkan dan meningkatkan pasar domestik dan internasional.B. Meningkatnya ekspor produk buah olahan sebesar 5 persen per tahun. Melakukan diversifikasi produk buah olahan sebagai bahan pangan fungsional. Terwujudnya Hak Kekayaan Intelektual pada produk buah olahan dalam rangka meningkatkan daya saing terhadap produk sejenis di dalam dan di luar negeri. kosmetik melalui penguatan dan pendayagunaan R & D.

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Buah
1. Visi : Mewujudkan industri pengolahan buah yang berdaya saing

2. Misi: • • • • • • • Memperluas tingkat permintaan buah olahan Mengembangkan efektifitas supply chain Melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap industri pengolahan buah Mengembangkan pasar dalam negeri dan ekspor. Peningkatan utilitas kapasitas. Peningkatan mutu produk pengolahan buah Peningkatan kemitraan antara pemasok bahan baku dengan industri pengolahan buah

3. Kebijakan

B. Indikator Pencapaian
• Meningkatnya jaringan kerjasama antar kelompok usaha kecil, menengah dan besar industri pengolahan buah serta terbentuknya kelembagaan usaha industri pengemasan dan pengolahan buah di setiap lokus pengolahan buah. Terjadinya peningkatan kemampuan SDM dalam hal penguasaan teknologi proses dan managemen usaha industri melalui pelatihan/training. Meningkatnya sarana dan prasarana untuk keperluan usaha industri pengolahan buah.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009

• 

• • • •

Meningkatnya kwalitas, kwantitas dan keragaman produk buah olahan. Meningkatnya omzet pemasaran ditingkat lokal, domestik dan ekspor. Terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja di wilayah pengembangan klaster buah. Adanya penambahan industri-industri pengolahan buah dan industri penunjangnya di wilayah lokus klaster buah. Adanya dukungan lembaga penelitian, lembaga keuangan dalam peningkatan investasi industri pengolahan buah.

C. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan
• • Kompetisi: baik nasional maupun internasional Inovasi: merupakan strategi pengurangan biaya, peningkatan kualitas produk, mencari pasarbaru.

Kondisi faktor-faktor • • • Sumber daya manusia: kualitas SDM yang tersedia dilingkup klaster Infrastruktur: kualitas infrastruktur seperti pelayanan umum, transportasi Teknologi: penyerapan teknologi

Industri pendukung dan terkait • • Pemasok: ketersediaan bahan baku/input lokal dan jasa dalam proses produksi Organisasi pendukung: jasa yang diberikan oleh organisasi pendukung 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Kondisi permintaan • • Karakteristik permintaan: konsumen utama produk atau jasa dari aktivitas dan karakteristik kegiatan Pilihan konsumen: selera dan permintaan konsumen

D. Tahapan Implementasi
• • Perusahaan yang mendominasi dalam klaster buah adalah industri kecil menengah. Pemerintah Pusat melalui Forum Komunikasi melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan di Pemda Propinsi Jawa Barat dengan dibentuk Working Group yang terdiri dari tim teknis, praktisi, tenaga ahli dan fasilitator. Tenaga ahli melakukan bimbingan teknis dalam rangka diversifikasi produk , inovasi teknologi dan pelatihan GMP kepada industri pengolahan buah di sentra bahan baku. Pemerintah Pusat memberikan bantuan mesin peralatan untuk mendukung pengembangan klaster, koordinasi promosi dan perencanaan pemasaran. Pengembangan usaha industri dan peningkatan jejaring melalui networking dengan sektor ekonomi lainnya.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 



PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM/ RENCANA AKSI
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
• • • • • • • • • • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku; Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah Menerapkan GMP, HACCP, ISO dan sertifikasi halal; Menyusun/revisi SNIproduk pengolahan buah; Pengamanan produk buah olahan melalui penerapan sertifikasi tanggal kadaluwarsa/expire date; Mengembangkan pasar domestik melalui apresiasi penggunaan produk dalam negeri; Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; Meningkatkan kualitas dan desain kemasan produk buah-buahan olahan. Melaksanakan bimbingan teknis (technical assistance) untuk peningkatan kemampuan SDM dan pengembangan diversifikasi produk olahan.

B. Jangka Panjang (2015 – 2025)
• • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku; Mengembangkan dan meningkatkan pasar domestik dan internasional;

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 

Melakukan diversifikasi buah olahan sebagai bahan pangan fungsional, kosmetik dan farmasi melalui penguatan dan pendayagunaan R & D. Mengembangkan, memelihara dan meng-update media komunikasi dan diseminasi seluruh stakeholders (website, buletin dan majalah) Memberikan bimbingan/pelatihan dan tata cara mendapatkan hak paten atas produk buah olahan, khususnya pada industri skala kecil dan menengah.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Matang (2020 – 2025) : Industry & Technology Upgrading. pendayagunaan R & D. Memberikan insentif (kredit & pajak) terhadap industri yang terintegrasi. 2. memelihara dan meng-update media komunikasi 7.. Mengembangkan dan peningkatan pasar domestik dan internasional. bahan Kimia tambahan Industri Terkait Kosmetik. Buah Kering Sasaran Jangka Panjang 2015 –2025 1. 3. Melaksanakan bimbingan teknis (technical assistance) untuk peningkatan kemampuan SDM dan paten atas produk buah olahan. 3. Makanan dan Minuman. 3. 6. Infrastruktur 1. Pendingin. Terwujutnya HaKI pada produk buah olahan dalam rangka meningkatkan daya saing produk buah olahan. Strategi Sektor : Pengembangan produksi buah tropis eksotis. 4. Meningkatkan promosi ke negara-negara Asia dan Afrika dalam rangka kerjasasama Non . khususnya pada industri skala kecil pengembangan diversifikasi produk olahan. Pasar 1. Penyusunan dan penerapkan SNI produk buah olahan. Mengembangkan kerjasama dan kemitraan usaha antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan pelaku usaha industri pengolahan buah. Memanfaatkan potensi pasar dalam negeri khususnya melalui pameran/festival makanan etnik berbasis buah  Gambar 1. ISO.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Gambar 1. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. 2. Mengembangkan pasar domestik melalui apresiasi penggunaan produk dalam negeri. Kemasan. Meningkatnya konsumsi produk buah olahan dalam negeri menjadi 25 kg/tahun 4. 3. kosmetik dan farmasi melalui penguatan dan 5. 2. Tersusun dan terlaksananya revisi SNI sebanyak 2 (dua) komoditi. Buah dalam Kaleng. Akreditasi lembaga-lembaga uji dan sertifikasi produk. Meningkatkan kualitas dan desain kemasan produk buah-buahan olahan. 5. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2015 – 2025) 1. Pengembangan Cepat (2015 – 2019) : Modifikasi dan pengembangan teknologi pengolahan supplement dan nutrisi. 2. 2. Peningkatan ekspor hasil industri pengolahan buah sebesar 5% pertahun. dan diseminasi seluruh stakeholders (website. Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku. Mengembangkan. Meningkatnya kontinuitas pasokan bahan baku pada industri pengolahan buah. 3. Teknologi : Mendorong tumbuhnya modifikasi teknologi pengolahan dan produksi buah.Blok . Memberikan bimbingan / pelatihan dan tata cara mendapatkan hak 9. Meningkatkan peran Litbang di bidang pengolahan dan pengemasan. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) sentra produksi bahan baku. Sulawesi Selatan pengolahan markisa. Penerapan GMP. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Buah Industri Pendukung Mesin & Peralatan. Selatan -Selatan dan OKI 2. 3. fungsional. Gula Rafinasi Konsentrat Buah. Inisiasi (2010 – 2014) : Pengembangan fruit leather. kosmetik dan farmasi. nenas dan jambu. SDM Meningkatkan kemampuan Good Manufacturing Practices (GMP) dan ISO 9000. Meningkatnya R & D produk buah olahan sebagai bahan nutrisi. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Buah 9 . LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Unsur Penunjang Periodesasi Peningkatan Teknologi 1. 2. sirsak. HACCP. buletin dan majalah) 8. peningkatan budidaya tanaman buah secara komersial. dan menengah. Pengembangan lokus industri pengolahan buah di Jawa Barat : pengolahan mangga. Industri Inti Buah Olahan (Sari Buah. Melakukan diversifikasi buah olahan sebagai bahan pangan 4. Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah 5. Farmasi. 4. Sasaran Jangka Menengah 2010 – 2014 1. Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan 1. Meningkatnya diversifikasi produk buah olahan.

2014 Distributor . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Buah 00 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .Eksportir Gambar 2.

Ind Kem.2014 Deptan 1. Bimbingan Teknis (Technical Assistance).Tinggi Asosiasi Kab/Kota BBIA/Balai Pasca panen Perush. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Tabel 1. O O O O O O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 O O O O O O O O O O 8. O O O O 0 11 . O O O O O O O O O O 5. O O O O O O O O O O 3. UKM Perguruan Tinggi dan Litbang Forum Fasilitasi Klaster Working Group Dep. Keu Dep. Dag Dep. O O O 2. O O O O 7. O O O Partisipasi pada Pameran Dalam dan Luar Negeri. O O O O O O O 4. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Buah Industri Pengolahan Buah Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta Daya Saing KRT/ BPPT Prop P. O O O O O O O 6. Pengembangan industri pengolahan Buah di sentra produksi. Perind Rencana Aksi 2010 .LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Menyusun standar buah olahan. Pemetaan potensi buah. Mengembangkan industri pengolahan buah. O O O O O O O Meningkatkan kemitraan antara industri pengolahan buah-buahan dengan petani. Pengembangan kapasitas produksi melalui diversifikasi produk.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri elektronika dan telematika. industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . Menimbang : a. industri berbasis agro.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Furniture.b. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . bahwa industri Furniture merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan industri Furniture. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). c.2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).

7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 5. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 6. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan.4. PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.

Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/ P Tahun 2007. 10. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 13.9. Tugas. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 11.2014 . 12. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Fungsi.

Industri Panel Kayu Lainnya (KBLI 20213). Industri Veneer (KBLI 20214).MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE. Industri Kayu Lapis (KBLI 20211). Industri Pengawetan Kayu (KBLI 20102). e. b. Industri Penggergajian Kayu (KBLI 20101). f. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Furniture adalah industri yang terdiri dari: a. d. strategi dan kebijakan. 2. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Furniture untuk periode 5 (lima) tahun. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Furniture Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . c. Industri Kayu Lapis Laminasi (KBLI 20212).

khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Furniture ataupun sektor lain yang terkait. h. Industri Moulding dan Komponen Bahan Bangunan (KBLI 20220). Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. b. 4. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pemerintah Daerah. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Swasta.g. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Furniture.2014 . Industri Furnitur dari Kayu (KBLI 36101). Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. 3. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

c. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. dan d. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Furniture dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

5. Wakil Presiden RI. Presiden RI. 2. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 3. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 6. 4.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Gubernur seluruh Indonesia.2014 0 .

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

00.00.00 9403.69.40.81.00.30.Meja+kursi 9401. Buffet Souveneer 2. 4.00 II. FURNITURE KAYU : Dining Room Set Jenis & nama satuan furniture berdasar kelopmpok perangkat Kode Pos/Subpos Sesuai HS 3.00. 2.50.00 9403. FURNITURE ROTAN : Living & Dinning Room 1.00.00 9403.LAMPIRAN BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 A. Meja (panjang termasuk kursi) Living Room Set 1. 1.00 9403.Tempat tidur 9401.50.Lemari + rak pakaian 3.00. 5.00 9403.00 9401.40.00.00 9404.Bangku (meja + kursi) Furniture Set 2.Lemari pakaian baby) 3.10.00.61. Ruang Lingkup Industri Furniture A.00 9401.00.00 9403.00 9403.10 Catatan : Produk funiture (kayu dan dan rotan) masih terdapat berbagai Catatan : Produk funiture (kayu rotan) masih terdapat berbagai jenis dan macam (belum termasuk komponen furniture kayu dan barang jenis dan macam (belum termasuk komponen furniture kayu dan barang kerajinannya) kerajinannya) LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  1 .00. Tempat TV 3.00 9403.00.00 9401.81.00.10.Tempat tidur Kitchen Set Lemari perangkat alat2 dapur Office & School 1. 1.60.Tempat rias berkaca 4.Sofa (meja + tempat Set duduk) 2.Baby Box (included children & 2.00. Ruang Lingkup Industri Furniture Cakupan industri kertas berdasarkan pengelompokan Cakupan industri kertas berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang ada di atau kategorisasi yang ada di dunia internasional dan dunia internasional dan di dalam negeri adalah sebagai berikut : di dalam negeri adalah sebagai berikut: Kelompok Furniture atas dasar pemanfaatan fungsi I.80.51.50. Meja + kursi (Sofa) Bedroom Set 1.

4). jendela. 2. pintu. Perlu diinformasikan. moulding. 2). Industri Papan Partikel/particle­board yang menghasilkan panel kayu hasil serpih kayu bercampur glue/lem yang dimampatkann.B. 2). 3). Industri pengolahan kayu primer terdiri dari: 1). dan sejenisnya. Industri penggergajian kayu (saw­mill) yang menghasilkan kayu utuh (solid­wood) dalam berbagai bentuk sortimen kayu gergajian (sawn­timber). Pengelompokan Industri Pengolahan Kayu dan Rotan 1. Kelompok Industri Pengolahan Kayu Hulu Kelompok industri hulu pengolahan kayu merupakan industri pengolahan kayu primer yaitu industri yang mengolah kayu bulat/log menjadi bebagai bentuk sortimen kayu. Industri Furniture Kayu dan barang-barang kerajinan kayu. Industri kayu lapis (plywood­mill) yang menghasilkan panel kayu lapis dan juga block-board dengan berbagai ukuran ketebalan. wood-flooring. Industri Wood­Working.2014  . Panel-panel kayu dimaksud biasa disebut kayu hasil industri (engineered­wood). Kelompok Industri Pengolahan Kayu Hilir 1). bahwa pasokan bahan baku kelompok industri pengolahan kayu hilir PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri MDF (Medium Density Fibre­board) yang menghasilkan panel kayu yang merupakan campuran serat kayu dengan bahan-bahan kimia. yaitu industri yang menghasilkan produk-produk kayu diantaranya dowel.

yaitu terdiri dari: a) Bedroom furniture: single­bed. Furniture berdasarkan pada gaya (style). lemari pakaian. Toledo. yaitu industri pengolahan rotan yang menghasilkan rotan yang sudah LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . c) Diningroom furniture: seperangkat meja+ kursi makan. Sevilla. dsb. particle­board. baby box. meja+kursi rias. bangku (meja+kursi). b) Colonial Furniture: Opium. Coco Resin. dsb. Valencia. Mallorca. Furniture sebagai perabot rumah-tangga. Kelompok Industri Pengolahan Rotan 1). meja komputer. dsb) sebagai engineered­wood. Sleven. c) Modern Furniture: Manhattan. Barcelona. tripleline­bed berbagai ukuran. 3. lemari/rak buku (buffet).tersebut dapat berasal dari sawn­timber sebagai solid-wood dan panel kayu (plywood. d) Office and School furniture: seperangkat meja tulis (berbagai type). dsb. double­ bed. b) Livingroom furniture: sofa (meja+kursi). dsb. buffet buku/souveneers. Allora. dsb. Industri Pengolahan Rotan Hilir dapat dikatakan sebagi industri antara. block­ board. composite­board. dsb. Salamanca. Victorian. sebagai contoh dibedakan menjadi: a) Classic Furniture: Venezia. Paris. MDF. lemari TV. dsb. Produk jadi furniture kayu dapat dibedakan menurut fungsi kenyamanan (ergonimics) dan banyak varian desain berbagai corak maupun gaya/style.

lemari pakaian serta barang kerajinan rotan lainnya sebagai perlengkapan furniture. Industri barang-barang kerajinan dari rotan. dsb. meja. Produk-produk industri furniture rotan biasanya banyak varian desain dan model namun masih dalam bentuk perabotan rumah tangga.). lemari. Jenis dan model furniture rotan. tempat tidur. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3). webbing. Jenis furniture yang telah disebutkan diatas adalah sebagai indoors furniture. namun terdapat juga yang termasuk outdoors furniture yaitu garden­furniture (wooden furniture). yaitu industri yang menghasilkan perabotan rumah-tangga dari rotan antara lain: sofa. kayu. split dan sejenisnya sedang pengerjaan produk rotan olahan ini biasanya melalui proses semi mekanis. namun varian peruntukannya hanya terdiri dari : sofa (meja+kursi). enceng-gondok. kursi. Pengerjaan produk pada industri ini umumnya tradisional buatan tangan (handmade products). walaupun bahan bakunya ada yang 100 % asli rotan. Industri Furniture Rotan. sama halnya dengan yang terdapat pada furniture kayu. sedangkan desain banyak terinspirasi muatan lokal namun juga ada yang masih ditentukan bayers. yaitu industri yang menghasilkan produk barang kerajinan rotan berdasarkan atas desain kearifan lokal.2014  .dicuci dan dibelerang (wash and sulfurized). 2). dan sejenisnya. selain itu ada yang campuran dengan bahanbahan lain (besi. buffet. Pengerjaan produk pada industri furniture rotan sebagian besar semi mekanis.

Adanya kemandirian di bidang desain dan meningkatnya kemampuan finishing produk. Makin meningkatnya kemampuan desain dan finishing produk. Makin kuatnya dukungan R & D terhadap industri furniture. Kemandirian dalam teknologi proses dan permesinan wood­working. hutan dan industri yang ramah Terjadinya penguatan basis industri furniture sehingga menjadi World Class Industry. Terselesaikannya program revitalisasi. Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • • Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. B.BAB II SASARAN A. Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • Makin berkurangnya kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . konsolidasi dan restrukturisasi industri furniture. Makin meningkatnya daya saing industri furniture di pasar global. Tumbuh berkembangnya industri furniture. Pengelolaan lingkungan.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Meningkatkan pasokan bahan baku melalui : percepatan pembangunan HTI/HR. Arah Pengembangan Industri • • • 3. pemberantasan illegal logging dan illegal trade. Peningkatan kemampuan SDM melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. 2. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. termasuk kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan. VISI : Terwujudnya Industri Furniture yang berdaya saing kuat. MISI : • Meningkatkan kontribusi dalam pembentukan PDB. dengan inti LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Peningkatan kemampuan teknologi dalam rangka meningkatkan mutu produk dan efisiensi. ARAH PENGEMBANGAN : • Pengembangan industri furniture dilakukan melalui pendekatan klaster industri. serta penyelenggaraan diklat secra berkesinambungan. serta penggunaan bahan baku alternatif.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Visi dan Furniture 1.

Indikator Pencapaian Untuk menjadikan industri furniture mampu bersaing di pasaran global (dalam negeri dan ekspor). antara lain dengan memfasilitasi bantuan mesin/peralatan industri furniture khususnya pada sentra-sentra industri furniture.industri furniture yang terkait dengan industri pendukung (supporting industry) dan lokus pengembangannya di Jawa Tengah untuk Industri Furniture Kayu dan di Jawa Barat untuk Industri Furniture Rotan.2014 0 . Beberapa daerah yang telah memperoleh fasilitasi bantuan mesin/ peralatan industri. antara lain: PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . sehingga dapat diperoleh hasil yang menguntungkan diantara berbagai sektor yang terkait. jika pertumbuhan industri furniture ditargetkan meningkat rata.rata 4 % per tahun dan ekspor furniture tumbuh rata-rata 8-10 % per tahun selama periode 5 sampai 10 tahun mendatang. termasuk dengan daerah pemasok bahan baku. Tahapan Implementasi Pemerintah dalam hal ini Departemen Perindustrian telah berupaya untuk mengembangkan industri furniture (kayu dan rotan). C. maka semua bentuk hambatan yang memperlemah perkembangan industri furniture dapat di eliminasi dengan baik dan seksama. • Pengembangan industri furniture ditumbuhkembangkan. baik skala menengah maupun skala kecil (IKM) serta diusahakan bermitra dengan penyedia bahan baku (Industri Saw Mill dan Industri Panel Kayu). juga tanpa mengabaikan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan. B. Barangkali tidak terlalu berlebihan.

• • 2). LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . bahkan sebagai Pusat Pelatihan Industri Kayu (khusus mebel kayu).dan lain sebagainya. Rencana pembangunan Terminal Kayu sebagai pemasok industri furniture di Kendal. Industri furniture rotan: • • • Peralatan desain furniture rotan pada Pusat Desain Furniture Rotan di Cirebon (Jawa Barat). Industri furniture kayu: • Mesin/peralatan wood­working dan furniture di Lumajang (Jawa Timur). dan lain sebagainya. Mesin/peralatan industri rotan di Sentra Industri Kasongan (Kalimantan Tengah). Mesin/peralatan industri pengolahan rotan dan furniture rotan di Palu (Sulawesi Tengah). Peralatan desain furniture kayu pada Pusat Desain Mebel Kayu di Jepara (Jawa Tengah).1).

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Menyempurnakan pengaturan tata niaga kayu/rotan dalam rangka menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku di dalam negeri. Inventarisasi dan peninjauan kembali peraturan per Undang-undangan (judicial review) yang kontra produktif terhadap pengembangan industri furniture. Memberikan alokasi dana yang memadai untuk diklat dan R & D. rancang bangun dan perekayasaan. • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . Mendorong dilakukannya penegakan hukum (Law Inforcement). Jangka Menengah (2010-2014) • • Mempercepat realisasi pembangunan HTI dan Hutan Rakyat dan mendorong penerapan SFM. khusus untuk peningkatan mutu produk. Memfasilitasi pembangunan Pusat Desain Furniture dan pengembangan fasilitas pendidikan dan pelatihan industri furniture. Mendorong percepatan fasilitasi pembangunan Terminal dan Sub-terminal kayu/rotan di daerahdaerah sentra industri furniture.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Mendorong realisasi fasilitasi kerjasama antara daerah penghasil bahan baku dengan daerah produsen furniture. efisiensi produksi.

• •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mendorong pengembangan jaringan pasar global (globally market network) dengan menjalin kerjasama perusahaan-perusahaan multinasional (MNC­ Cooperation).• Mendororng penyederhaan prosedur perolehan kredit. • • • • B. Menyelenggarakan diklat terapan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM industri furniture. Jangka Panjang (2015-2025) • Memaksimalkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman melalui penerapan program SFM dan bahan baku alternatif. baik melelui pameran dan misimisi dagang. Mengembangkan dan memperkuat Market Intelli­ gence serta meningkatkan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produkproduk furniture. Memberikan insentif dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan desain. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis melalui penyesuaian UMR dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan.2014 . khususnya untuk permesinan pada industri furniture. pinjaman lunak dengan suku bunga rendah per Bank an atau Lembaga Keuangan non Bank dalam rangka restrukturisai permesinan industri furniture. Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pengolahan kayu hilir.

Partisipasi dalam berbagai even pameran furniture bergengsi di luar negeri. Melanjutkan peningkatan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produk industri furniture.• Melanjutkan penyelenggaraan diklat terapan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM industri furniture. • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  .

Meningkatkan peran Lembaga Litbang (Pemerintah/Swasta). Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • • • • Unsur Penunjang SDM : • • • Percepatan realisasi penanaman HTI/HR & pemanfaatn bahan baku alternatif. Meningkatnya kemandirian dalam teknologi proses dan permesinan pengolahan kayu hilir. pelabuhan dan sumber daya listrik di daerah sentra-sentra Industri Furniture. Meningkatkan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produk-produk furniture.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Industri Terkait Kayu Gergajian. MDF. Pembangunan jalan. Memaksimalkan penggunaan bahan baku dari hutan tanaman melalui penerapan SFM dan bahan baku alternatif. Kayu lapis. karet dan Industri Bahan Kimia Industri Pendukung  Sasaran Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • Strategi Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. Penyempurnaan pengaturan tata-niaga kayu/rotan dalam rangka menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku di dalam negeri. FURNITURE KAYU/ROTAN Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • Meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI dan penggunaan bahan baku alternatif eks perkebunan/pertanian. Meningkatnya kemampuan finishing produk furniture. Adanya kemandirian di bidang desain menjadikan terjadinya penguatan basis industri furniture pada posisi World Class Industry. Mendorong percepatan fasilitasi pembangunan Terminal dan Sub-terminal kayu/rotan di daerahdaerah sentra industri. Industri Logam (mur. Block-board.2014 Infrastruktur : • • Pasar : Inisiasi (2010-2014) : Pengembangan teknologi rancang bangun dan perekayasaan permesinan industr hilir pengolahan kayu/rotan berdasarkan atas produk yang dihasilkan. Lem. Terwujudnya pengelolaan hutan dan industri yang ramah lingkungan. peningkatan devisa dan peningkatan nilai tambah. Kemudahan memperoleh pinjaman lunak sebagai modal denagn bunga rendah. termasuk peyediaan suku cadang. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan bahan baku kayu solid dan panel kayu. Memberikan insentif dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan desain. Kertas (packing) dan sebagainya Industri Inti Mesin dan Peralatan. Pematangan (2015-2025) : Industry Upgrading. Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri kayu hilir. baut. Kerangka Pengembangan Industri Furniture 11 . TPT. Gambar 1. berkelanjutan. Meningkatnya ekspor produk-produk furniture. Banyaknya varian desain furniture yang telah diaplikasikan. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015-2025) • Teknologi : Pencitraan desain yang berwawasan lingkungan seiring dengan perkembangan teknologi . Sektor : Peningkatan daya saing dengan konsep industri yang sehat. Periodisasi Peningkatan Teknologi : PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Papan Partikel. Pelatihan SDM furniture bidang desain dan finishing. Pengembangan jaringan pasar global melalui pemanfaatn kerjasama dengan perusahaan-perusahaan MNC. termasuk ikut berpartisipasi dalam berbagai even pameran furniture bergengsi di luar negeri. Pengembangan pasar ekspor. dsb). ramah lingkungan dan menguasai pasar global. Meningkatnya kerjasama antar sektor terkait dalam rangka pengembangan industri furniture demi terciptanya perluasan kesemapatan kerja. Kerangka Pengembangan Industri Furniture Gambar 1. Peningkatan kemampuan kompetensi SDM Furniture bidang Desain dan Proses Produksi. plastik. Menidorong realisasi kerjasama antara daerah penghasil bahan baku dengan daerah produsen furniture .

Bank Lembaga Ltbang/PT: BBKPK. Fasltas Klaster Pemda : Dnas Ind.Pemerntahan Pusat: Deppernd. UGM. Veneer Eksportr Furntur Kayu/Rotan Ftrt. IPB. Plastk. Dephut. APKINDO Gambar 2. Core Mesn & Peralatan Kayu Rotan Pasar Luar Neger Bes/ Baja Dstrbutor Kan Pasar Dalam Neger LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Jasa: Transportas. Pusltbang Teknolog Hasul Huta. Asurans. Barstan. ISA. ITB. Kerangka Keterkaitan Industri Furniture  . UNMUL. Cat. Karet Sawmll. Lembaga Sertifikasi ISO 000 & 000 Asosas: ASMINDO. Varnsh. Dnas Kehutanan Bahan Kma Perekat.. Pusat Desain. Poles. AMKRI. Depdag Forum Daya Sang. Workng Group. Playwood.

2014 1. hutan rakyat dan bahan baku alternatif (ex tanaman perkebunan) ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 2. Fasilitasi pembanungan Terminal & Sus-terminal di daerah sentra industri furniture ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 3. Membangun & mengembangkan fasilitasi diklat industri furniture yang memenuhi standar ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Furniture Tabel 1. Mendornong penghapusan pungli yang memberatkan dunia usaha º ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 5. Mendorong kemudahan prosedure dalam perolehan kredit modal usaha ‫ס‬ 13 . Pengaturan tata-niaga kayu/rotan dlm rangka memenuhi kebutuhan DN ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 4. Hut Dep. Kab.2014 ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 6. Tan BSN Prop. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Furniture Pemerintah Pusat Dep. Perin Dep. Asosiasi Perusahaan Industri PT Balitbang Daya (Kehutanan & Saing Perindustrian) Pemerintah Daerah Swasta Forum Perguruan Tinggi dan Litbang  Working Group Fasilitasi Klaster Rencana Aksi 2010 . Mendorong dilakukannya review peraturan Per Undang-Undangan yang kontra produktif ‫ס‬ 7. Keu Dep.

perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut. Menimbang : a. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri elektronika dan telematika. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . industri berbasis agro.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Ikan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 2.2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). c. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.b. Bahwa industri Pengolahan Ikan merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Ikan. Mengingat : 1.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 7. 4. 6. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). 8. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548).108. 5.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 12. 10. Fungsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Tugas. 13. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007.2014 . 11.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .9.

ikan tuna beku. ikan cakalang asap dan sejenisnya (KBLI 31143).Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. c. dan sejenisnya (KBLI 31144). Industri pengasapan ikan dan biota perairan lainnya. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Ikan untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Pengolahan Ikan adalah industri yang terdiri dari: a. cumi-cumi asin dan sejenis (KBLI 31142). 2. Industri pengaraman/pengeringan ikan dan biota perairan lainnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . udang asin. udang dalam kaleng dan sejenisnya (KBLI 31141). strategi dan kebijakan. ikan teri asin. seperti Ikan akan sardencis dalam kaleng. Industri pengalengan ikan dan biota perairan lainnya. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Ikan Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. seperti ikan bandeng beku. sepertinya : ikan tembang asin. Industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya. b. seperti ikan bandeng asap. d.

(2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya.pindang ikan tongkol.e. Pemerintah Daerah. b. petis dan sejenisnya (KBLI 31149). Industri pemindangan ikan dan biota perairan lannya. rumput laut. Swasta. Pasal 2 4. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Ikan. dan sejenisnya (KBLI 31145). baik pengusaha PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . tepung udang. Industri pengolahan pengawetan lainnya untuk ikan dan biota lainnya: tepung ikan. f.2014  . Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. pindang ikan bandeng. (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. terasi. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. 3.

antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. dan d. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Ikan dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). c. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Ikan ataupun sektor lain yang terkait.maupun institusi lainnya. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.

Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Wakil Presiden RI. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Presiden RI.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Gubernur seluruh Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 4. 6. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 5. 3. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.2014  . 2. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 • • • •  . Namun demikian tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan tersebut masih belum optimal.6 juta ton/tahun pada tahun 2006. Produksi perikanan Indonesia didominasi oleh perikanan tangkap dengan potensi lestari sumber daya ikan laut sekitar 6.54 juta km2. baik untuk pemenuhan konsumsi ikan dalam negeri maupun pemenuhan permintaan ekspor. Produk hasil laut dimaksud adalah ikan dan udang dalam kemasan serta ikan dan udang beku. yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Industri pengolahan ikan masih bergantung terhadap import bahan penolong seperti kaleng. dan mempunyai garis pantai sepanjang 81. Terdapat perairan umum di wilayah daratan seluas 0. yang mana peluang pasar domestik maupun internasional masih terbuka luas.000 km. dengan bentangan luas laut mencapai kurang lebih 5.BAB I PENDAHULUAN A.7 km2.3 juta km2. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Ikan • Indonesia merupakan salah satu penghasil Ikan yang cukup besar karena memiliki wilayah kelautan yang cukup luas. minyak kedelai.8 Juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan/ laut Nusantara 2.1 juta ton pada tahun 2006 sedangkan produksi perikanan budidaya mencapai 2.8 juta km2 dan ZEEI 2. bahan kemasan dan lainnya. sedangkan pemanfaatan ikan laut baru mencapai 4.40 juta ton/tahun. perairan territorial 0.

Pengembangan industri pengolahan hasil laut dengan pendekatan klaster diperlukan jaringan yang saling mendukung dan menguntungkan antara industri pengguna dengan industri pendukung serta industri terkait lainnya melalui kerjasama dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat.2014 . Dalam beberapa tahun terakhir tidak ada investasi baru dibidang industri pengolahan ikan. dan juga kinerja indsutri pengolahan ikan masih belum optimal. Dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional. dan juga adanya IUU fishing Illegal. unregulated. sehingga diperlukan teknologi untuk mengolah perikanan tersebut menjadi produk yang tahan lama. swasta maupun lembaga lainya termasuk perguruan tinggi dan lembaga litbang. Industri pengolahan hasil laut khususnya ikan merupakan industri yang sangat potensial untuk dikembangkan dimasa yang akan datang.• • Sumbangan terhadap PDB baru mencapai 3.14%. • • • 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . industri pengolahan hasil laut telah ditetapkan pengembangannya melalui pendekatan klaster dalam membangun daya saing yang berkelanjutan. dan unreported yang sangat marak sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan bahan baku ikan. Pengembangan usaha sektor perikanan masih menghadapi pada beberbagai kendala antara lain sifat dan karakteristik sumberdaya laut tersebut yang mudah rusak. pemerintah daerah.

swasta B. cumi-cumi asin dan sejenis Industri pengasapan ikan dan biota perairan lainnya. yaitu sebagai berikut : KLUI 5 DIGIT 31141 31142 31143 31144 31145 31149 URAIAN Industri pengalengan ikan dan biota perairan lainnya. petis dan sejenisnya berdasarkan KLUI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Kelompok Industri Pengolahan Ikan ini dapat diuraikan berdasarkan KLUI Indonesia). ikan tuna beku.klaster diperlukan jaringan yang saling mendukung dan menguntungkan antara industri pengguna dengan industri pendukung serta industri terkait lainnya melalui kerjasama dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat. tepung udang. ikan cakalang asap dan sejenisnya Industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya. dan sejenisnya Industri pengolahan pengawetan lainnya utkk ikan dan biota lainnya:tepung ikan. Industri pengalengan 2 ikan atau ikan dalam kaleng di Indonesia sampai Desember tahun 2005 yang terdaftar sebanyak 74 perusahaan.67% industri ikan dalam kaleng yang tidak aktif lagi melakukan produksi. Pengelompokan Industri Pengolahan Ikan atau kategorisasi yang ada didunia internasional dan di Cakupan industri ikan berdasarkan pengelompokan dalam negeri adalah sebagai berikut: Cakupan industri ikan berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang ada Kelompok Industri Pengolahan Ikan ini dapat didunia internasional dan di dalam negeri adalah sebagai berikut : diuraikan (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia). yang akan dibahas hanya KLUI 31141 yaitu industri pengalengan ikan. seperti ikan bandeng beku. terasi. pindang ikan bandeng. yang masih melakukan kegiatan produksi sekitar 41 perusahaan berarti 57. B. rumput laut. seperti ikan bandeng asap.pindang ikan tongkol.74% yang masih aktif dan 46. sepertinya : ikan tembang asin. dan sejenisnya Industri pemindangan ikan dan biota perairan lannya. Dari 41 perusahaan ikan dalam kaleng yang masih aktif berproduksi dan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . pemerintah daerah. seperti Ikan akan sardencis dalam kaleng. udang asin. yaitu sebagai berikut: Dari KLUI diatas. Pengelompokan Industri Pengolahan Ikan maupun lembaga lainya termasuk perguruan tinggi dan lembaga litbang. ikan teri asin. udang dalam kaleng dan sejenisnya Industri pengaraman/pengeringan ikan dan biota perairan lainnya.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .memasarkan produknya terdiri dari 31 perusahaan lokal dan 10 perusahaan pemegang merk impor. 26 perusahaan telah memiliki pabrik sendiri dan sisanya 5 perusahaan belum memiliki pabrik sendiri. Dari 31 perusahaan lokal tersebut.2014 . hanya perusahaan yang pemegang/pemilik merek tertentu yang menumpang produksi ikan dalam kaleng kepada perusahaan lain.

Pengembangan dan Penguatan litbang hasil laut di kawasan industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk. Tercapainya diversifikasi produk pengolahan hasil laut. dunia usaha.BAB II SASARAN A. lembaga penelitian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan industri pengolahan hasil laut. Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong. Pengembangan industri pendukung untuk kontuinitas sumber bahan penolong industri pengolahan hasil laut. • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatnya utilitas kapasitas industri pengolahan hasil laut di dalam negeri. food safety. HACCP. Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan SDM bidang industri pengolahan hasil laut yang siap pakai. Terkoordinasinya interaksi jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan serta peran aktip antara pusat dan daerah. seperti SNI. GMP dan Codex. Pembatasan ekspor ikan segar dalam rangka meningkatkan pasokan bahan baku ikan segar untuk industri pengolahan ikan dalam negeri. Produk hasil laut sudah mengacu pada standarisasi.

Meningkatkan pemanfaatan limbah hasil laut sebagai bahan pangan fungsional dan farmasi/suplemen (gelatin. agar-agar dan alginate. Pengembangan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi). Pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut. Pengembangan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan. kosmetik dan industri). Terjaminnya infrastruktur. khitin. Pengembangan klaster per-tunaan. Termanfaatkan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi. energi listrik . perudangan. • • • • • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .B. Pengembangan teknologi pengolahan hasil laut yang lebih modern dalam rangka meningkatkan produk hasil laut yang sesuai dengan standard internasional. misalnya peti kemas. transportasi darat. Meningkatkan nilai tambah rumput laut menjadi antara lain ATC/SRC (Alkali Treated Caragenan/ Semi Refine Caragenan). khitosan). dan per-rumput lautan dalam rangka percepatan pertumbuhan industri hasil laut di sentra produksi terpilih. Pengembangan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi. Jangka Panjang (2010 – 2025) • Terbangunnya kawasan industri pengolahan hasil laut di luar pulau Jawa khususnya di Indonesia bagian Timur.

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. VISI
Mewujudkan industri pengolahan ikan yang berdaya saing dan sebagai negara pengekspor utama ikan olahan

B. MISI
• • • • Meningkatkan nilai tambah ikan Meningkatkan utilisasi kapasitas terpasang industri pengolahan ikan Meningkatkan ekspor produk pengolahan ikan Meningkatkan konsumsi ikan olahan dalam negeri

C. Arah Pengembangan Industri Perikanan dan Hasil Laut
Pengembangan industri berskala menengah dan besar.

D. Indikator Pencapaian
• • Meningkatnya kapasitas produksi industri pengolahan ikan. Meningkatnya ekspor ikan olahan.

E. Tahapan Implementasi
• Mengadakan workshop pengembangan klaster pengolahan industri ikan di Maluku, Surabaya dan Bali mulai tahun 2006, 2007 , 2008 dan 2009 yang dilaksanakan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri pengolahan ikan.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

• • • •

Kajian Kebijakan Pengembangan Industri Pengolahan Hasil laut. Promosi investasi industri pengolahan ikan Jaringan kerja dan kemitraan dalam klaster industri pengolahan ikan telah dilakukan di provinsi Maluku. Berkoordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penanganan limbah perikanan di Muncar, Banyuwangi dan survey penanganan limbah ke industri-industri pengolahan ikan di Jakarta. Pelatihan-pelatihan teknis pengolahan ikan bagi aparat pembina dan pengusaha antara lain Diklat ISO 22.000 Melalukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan ikan melalui kegiatan magang di beberapa pabrik pengolahan ikan di Jawa Timur dan Bali. Melakukan pemberian bantuan mesin/alat pengolahan ikan ke daerah-daerah untuk meningkatkan pengembangan industri pengolahan ikan.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
• Meningkatkan pasokan bahan baku (kualitas dan kuantitas) untuk industri pengolahan hasi laut melalui koordinasi dengan instansi terkait; Meningkatkan kemitraan dan integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir dalam rangka meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; Meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut (GMP, HACCP, dan sertifikasi Halal) dan penerapan sertifikasi produk (SNI) melalui pendidikan dan pelatihan manajemen mutu dan penyusunan buku panduan; Meningkatkan kemampuan uji mutu laboratorium untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis; Pengembangan sarana dan prasarana industri pengolahan hasil laut antara lain melalui bantuan mesin/ peralatan pengolahan hasil laut ke daerah-daerah yang potensial dengan berkoordinasi dengan instansi terkait; Meningkatkan Sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP). Meningkatkan Koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan, serta peran aktip antara pemerintah pusat/daerah, dunia usaha, lembaga penetilian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan

• •

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

klaster industri pengolahan hasil laut melalui forum komunikasi industri pengolahan hasil lautt; • Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan. Bantuan Mesin/Alat pengolahan hasil laut ke daerahdaerah untuk mendukung pengembangan kawasan industri pengolahan hasil laut di luar Pulau Jawa khususnya Indonesia Bagian Timur.

B. Jangka Panjang (2010 – 2025)
• Bantuan Mesin/Alat pengolahan hasil laut ke daerahdaerah untuk mendukung pengembangan kawasan industri pengolahan hasil laut di luar Pulau Jawa khususnya Indonesia Bagian Timur. Membangun pusat informasi industri hasil laut di lokus klaster pengembangan industri Pengolahan hasil laut; Meningkatkan kompetensi SDM di bidang teknologi pascapanen dan pengolahan hasil laut serta manajerial usaha melalui diklat; Meningkatkan promosi peluang investasi untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut menjadi antara lain ATC/SRC (Alkali Treated Caragenan/ Semi Refine Caragenan), agar-agar dan alginate; Meningkatkan pemanfaatan limbah hasil laut sebagai bahan pangan fungsional dan farmasi/suplemen (gelatin, khitin, khitosan) melalui koordinasi dengan instansi terkait; Pengembangan klaster per-tunaan, perudangan, dan per-rumput lautan dalam rangka percepatan pertumbuhan industri hasil laut di sentra produksi terpilih;
PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

• 

Meningkatkan kerjasama dalam penelitian dan pengembangan teknologi proses dan teknologi produk antara sektor industri dengan lembaga/balai penelitian dan perguruan tinggi. Riset untuk pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut; Mengembangkan produk formulasi berbasis rumput laut (farmasi, kosmetik dan industri); Mengembangkan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi); Mengembangkan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan melalui koordinasi dengan instansi terkait; Kajian pengembangan pemanfaatan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi.

• • • •

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

0
Industri Pendukung /terkait o Industri Peralatan o Industri Pemasok Bahan Baku seperti: Perikanan Tangkap dan Budidaya Laut o Industri Pemasok Bahan Penolong seperti industri es balok, industri kimia (bahan pengawet), industri pengemasan (kaleng tahan karat) o Industri perkapalan Sasaran Jangka Panjang (2020 – 2025) o Pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut; o Pengembangan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi, kosmetik dan industri); o Pengembangan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi); o Pengembangan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan. o Termanfaatkan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi.

Industri Inti Industri Pengalengan Ikan, Pembekuan Ikan dan Industri Pengolahan Rumput Laut

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Sasaran Jangka Pendek (2010 – 2015) o Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong; o Tercapainya diversifikasi produk pengolahan hasil laut; o Produk sudah mengacu pada standarisasi, seperti SNI, food safety, HACCP, GMP dan Codex; o Pengembangan industri pendukung untuk kontuinitas sumber bahan penolong; o Meningkatnya utilitas kapasitas industri pengolahan hasil laut di dalam negeri; o Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan SDM bidang industri pengolahan hasil laut yang siap pakai; o Pengembangan dan Penguatan litbang hasil laut di kawasan industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk. o Pembatasan ekspor ikan segar dalam rangka meningkatkan pasokan bahan baku ikan segar untuk industri pengolahan ikan dalam negeri. o Terkoordinasinya interaksi jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan serta peran aktip antara pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan industri pengolahan hasil laut.

Strategi 1. Memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai dari industri pengolahan hasil laut. 2. Mengutamakan pasokan bahan baku hasil laut untuk industri pengolahan hasil laut dalam negeri. 3. Menerapkan teknologi modern untuk pengolahan hasil laut sehingga produk sesuai standarisasi, seperti SNI, Food Safety, HACCP, GMP dan Codex 4. Memperluas penetrasi pasar dan promosi produk. 5. Mendorong pengembangan SDM industri siap pakai khususnya di bidang manajemen mutu dan teknik produksi. 6. Mengembangkan dan menguatkan litbang industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk.

10

HACCP. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Pasar: a. o Meningkatkan kemampuan penyediaan mesin dan peralatan pendukung usaha pengolahan hasil laut. Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan tenaga ahli siap pakai bidang industri pengolahan hasil laut c. kosmetik dan industri). o Mengembangkan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan melalui koordinasi dengan instansi terkait o Kajian pengembangkan pemanfaatan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi. pengolahan dan kemasan b. Infrastruktur : a. o Pengembangan sarana dan prasarana industri pengolahan hasil laut antara lain melalui bantuan mesin/peralatan pengolahan hasil laut ke daerah-daerah yang potensial dengan berkoordinasi dengan instansi terkait. lembaga penetilian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan klaster industri pengolahan hasil laut melalui forum komunikasi. Memberikan fasilitas permodalan dan kemudahan berinvestasi di industri pengolahan hasil laut Gambar 1.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) o Meningkatkan pasokan bahan baku (kualitas dan kuantitas) khususnya tuna. o Meningkatkan Koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan. Pembangunan sarana pelabuhan dan penampungan ikan b. o Meningkatkan Sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP). Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Ikan Gambar 1. o Mengembangkan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi). o Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan. Membangun kelembagaan nelayan f. Pembangunan kepabeanan untuk eksport d. Membangun Merek Produk Industri Pengolahan Hasil Laut Nasional di pasar Internasional c. Meningkatkan peran litbang di bidang pengawetan. o Meningkatkan kemitraan dan integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir dalam rangka meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. o Meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut (GMP. Pembangunan sarana transportasi darat c. dunia usaha. Membangun produk memiliki daya saing tinggi b. dan sertifikasi Halal) dan penerapan sertifikasi produk (SNI) melalui pendidikan dan pelatihan manajemen mutu dan menyusun buku panduan. Diversifikasi pasar ekspor produk perikanan. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis untuk pelatihan Sumber Daya Manusia Bidang perikanan dan industri pengolahan Hasil Laut Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2020 – 2025) o Riset untuk pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut. Unsur Penunjang SDM : a. Memberikan intensif untuk penyediaan sarana penangkapan ikan yang modern e. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri d. o Meningkatkan kemampuan uji mutu laboratorium untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis. o Mengembangkan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi. udang dan rumput laut untuk industri pengolahan hasi laut melalui koordinasi dengan instansi terkait. serta peran aktip antara pemerintah pusat/daerah. Beraliansi dengan importir utama produk perikanan dunia e. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Ikan 11  .

Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Ikan Gambar 2.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  Gambar 2.2014 12 . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Ikan PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Dag Dep. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 3. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 2. Peningkatan kemampuan penyediaan mesin dan peralatan pendukung usaha pengolahan hasil laut. dan penerapan sertifikasi SNI melalui pendidikan dan pelatihan mutu dan penyusunan buku panduan 4. Peningkatan kemitraan antara nelayan dengan industri pengolahan hasil laut. Keu DKP Dep.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Pengembangan sarana dan prasarana ind. Peningkatan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Pengolahan Pengolahan Ikan Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta PT Kab BSA Prop Balai Ind. Berkoordinasi dg instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan O O  13 . Peningkatan koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 9. Peningkatan sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP) 8.pengolahan hasil laut melaluibantuan mesin/alat ke daerah yang potensial 6. 7. Peran Pemangku Kepentingan dalamPengembangan Industri Industri Ikan Tabel 1. Meningkatkan kemampuan uji mutu Lab untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis 5. Ambon Daya Saing KRT /BPPT Perusahaa n Industri Asosiasi Perguruan Tinggi dan Litbang Forum Working Group Fasilitas Klaster Rencana Aksi 2010 – 2015 Dep. Perin 1. Peningkatan pasokan bahan baku.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

industri elektronika dan telematika. industri alat angkut. industri berbasis agro. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Menimbang : a.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Bahwa industri kertas merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri kertas. Mengingat : 1.2014  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kertas. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). c.

8. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 5. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724).4. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . 7. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23.

12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Fungsi. 13. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS. 10. 11. Tugas. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006.2014 . Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

b. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri kertas untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Bubur Kertas (Pulp) (KBLI 21011). Industri Penerbitan Buku. e. Industri Kertas Industri (KBLI 21015). i. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kertas Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Kertas adalah industri yang terdiri dari: a. Brosur.Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Barang dari Kertas dan karton yang tidak Diklasifikasikan di Tempat lain (KBLI 21090). Industri Kemasan dan Kotak dari Kertas dan Karton (KBLI 21020). Industri Kertas Budaya (KBLI 21012). c. g. Industri Kertas 21013). Industri Kertas Lainnya (KBLI 21019). 2. h. strategi dan kebijakan. j. f. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Industri Kertas Khusus (KBLI 21014). Buku Musik dan Publikasi lainnya (KBLI 22110). Industri Kertas Tissue (KBLI 21016). Berharga (KBLI d.

Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pemerintah Daerah. dan 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . b. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya.3. 4. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Kertas ataupun sektor lain yang terkait.2014 . antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Swasta. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Kertas. c.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  .d. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Kertas dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini.

Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 5. 4. 2. Presiden RI. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.2014 . Wakil Presiden RI. 6. Gubernur seluruh Indonesia.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3. Bupati/Walikota seluruh Indonesia.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Cakupan industri kertas meliputi : •  . Kertas budaya terdiri atas: kertas koran. dan lain-lain). Pulp kadang-kadang juga dibedakan atas: pulp virgin (pulp yang masih asli yang diperoleh dari pemrosesan bahan baku kayu/non-kayu menjadi pulp baik melalui proses kimiawi atau mekanikal) dan pulp daur ulang yang diperoleh dari pemrosesan kembali kertas bekas (recovered paper). kertas tulis cetak dan kertas berharga (kertas untuk saham. Berdasarkan proses pembuatannya dibedakan atas: pulp kimia (chemical pulp) dan pulp mekanikal (mechanical pulp). Ruang Lingkup Industri Kertas Cakupan industri pulp dan kertas berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang dilakukan oleh Departemen Perindustrian dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) adalah sebagai berikut: 1. kertas perangko.BAB I PENDAHULUAN A. Cakupan industri pulp sering dikelompokkan kedalam berbagai kelompok/kategori sebagai berikut: • Berdasarkan panjang seratnya dibedakan atas: pulp serat panjang (needle bleached kraft pulp) dan pulp serat pendek (leaf bleached kraft pulp). Berdasarkan bahan bakunya dibedakan atas: pulp kayu (wood pulp) dan pulp non-kayu (non­ wood pulp). LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 • • • 2.

Untuk kertas tissue.2014  . Industri bubur kertas ada dua macam yaitu virgin pulp dan kertas bekas (recovered paper). kertas thermo. jenis kertas ini merupakan bahan baku untuk industri kemasan Kotak Karton Gelombang (KKG). meliputi: kertas uang. Kelompok Industri Hulu Kelompok industri hulu kertas adalah industri pulp (bubur kertas). kertas label. kertas overlay. corrugating medium. selanjutnya dipacking dan dipasarkan kepada konsumen akhir. Virgin pulp secara garis besar ada dua macam yaitu pulp serat pendek (Leaf Bleach Kraft Pulp) dan pulp serat panjang (Needle Bleach Kraft Pulp). kertas dekor. Contoh lainnya adalah kertas tisu dan kertas tulis cetak dalam bentuk roll (gulungan) besar. 2. Pengelompokan Industri Kertas 1. dan kertas bungkus. kemudian dipacking. board. kraft liner. dan lain-lain. Kertas khusus (specialty paper). sebagian merupakan produk hilir. Kertas sebagai produk antara contohnya kertas Medium Liner dan Kraft Liner.• Kertas industri terdiri atas: sack kraft (kertas kantong semen). letter atau kwarto. Sedangkan roll besar kertas tulis cetak pada umumnya dipotong menjadi ukuran A4. Kertas tissue terdiri atas: kertas tissue rumah tangga dan kertas sigaret. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . roll besar dipotong menjadi roll-roll kecil atau segi empat. sebelum dipasarkan ke konsumen. • • B. Kelompok Industri Antara Kertas sebagian merupakan produk antara.

3. dan lain-lain). industri percetakan dan grafika serta industri converting (seperti : industri buku tulis. industri kemasan kotak karton gelombang (KKG). Kelompok Industri Hilir Industri hilir kertas. tisu rumah tangga. antara lain adalah industri kertas fotocopy. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Jangka Menengah (2010-2014) • Makin meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatnya suplai kertas bekas dari dalam negeri. Meningkatnya posisi Indonesia dalam percaturan di bidang industri pulp dan kertas dunia (diharapkan dapat menjadi produsen 5 besar dunia). Meningkatnya industri permesinan nasional dalam memenuhi kebutuhan permesinan industri pulp dan kertas di dalam negeri. Minimalnya dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pulp dan kertas. Meningkatnya industri pulp dan kertas nasional yang berkualifikasi akrab lingkungan. Meningkatnya pemanfaatan bahan baku alternatif (non-kayu) untuk industri pulp. Jangka Panjang (2010-2025) • • • Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. Meningkatnya ekspor pulp dan kertas masing-masing sebesar 5%/tahun dan 10%/tahun. dan diharapkan pada tahun 2009 ini seluruh bahan baku kayu untuk industri pulp sudah berasal dari HTI.BAB II SASARAN A. • • • • B.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Misi • • • • Memfasilitasi penyediaaan bahan baku yang mencukupi secara berkesinambungan. sedangkan industri pulp pengembangannya diarahkan ke luar P. Jawa (khususnya: Sumatera. Visi Meningkatnya posisi industri pulp dan kertas nasional sebagai salah satu produsen terkemuka di dunia (diharapkan menjadi 5 besar). Jawa. Arah Pengembangan • Pengembangan industri pulp dan kertas dilakukan dengan pendekatan klaster industri. Meningkatkan mutu. Mengoptimalkan penguasaan pasar dalam negeri dan perluasan pasar ekspor.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. efisiensi dan produktivitas industri pulp dan kertas. Meningkatkan penguasaan teknologi. • 3. Visi dan Arah Pengembangan Industri Kertas 1. Kalimantan dan Papua). Pengembangan industri pulp dikembangkan dengan skala besar dan terpadu dengan HTI. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . termasuk kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan. Mempertahankan kelestarian lingkungan. 2. dengan inti industri kertas dan lokus pengembangannya di P.

• Proses produksi pulp tidak boleh menggunakan Proses Sulfit dan tidak boleh menggunakan Proses Merkuri pada Chlor Alkali Plant-nya (CAP). Meningkatnya pasokan kertas bekas dari dalam negeri. dalam rangka pengalokasian areal HTI untuk mendukung perluasan perusahaan maupun pembangunan pabrik pulp baru. • • B. Meningkatnya utilisasi kapasitas industri pulp dan kertas. seperti : BKPM. Pengelolaan HTI dan industri pulp harus memenuhi kaidah-kaidah kelestarian lingkungan. Kehutanan dan Pemerintah daerah terkait. Indikator Pencapaian • • • • Meningkatnya suplai bahan baku kayu dari HTI untuk industri pulp. BKPMD. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Depkeu dan lainlain dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif guna menarik investor berinvestasi di bidang industri pulp dan kertas. Pemda. Meningkatnya kapasitas terpasang industri pulp dan kertas. Teknologi pemutihan yang diperkenankan minimal ECF (Elementally Chlorine Free). Tahapan Implementasi • Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti : Dep. mulai dari pemuPETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . C.2014 • •  . Memfasilitasi pembentukan kelembagaan klasterklaster pengumpul kertas bekas.

seperti: Dephut. dalam rangka mendorong perusahaan HPHTI untuk melakukan percepatan penanaman. PT. BPPT. antara lain berupa: kredit lunak. peningkatan mutu produk. PT. antara lain terkait dengan: efisiensi proses produksi. Pindad dan lain-lain. penanganan masalah lingkungan. seperti: PT. Bank Indonesia. KADIN. Melakukan koordinasi dengan industri rancang bangun dan perekayasaan nasional. Perbankan Nasional. dalam rangka pengembangan pasar ekspor non-tradisional. Atase Perindustrian dan Perdagangan.lung. Depkeu. Rekayasa Industri. Bappenas. pengembangan standar dan lain-lain. pemanfaatan bahan baku alternatif yang potensial. Inti Karya Persada Teknik (IKPT). ITPC. dalam rangka mengembangkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pulp dan kertas. dalam rangka upaya peningkatan pengumpulan kertas bekas dari dalam negeri. Melakukan koordinasi dengan Akademi Teknologi Pulp dan Kertas (ATPK) dan Perguruan Tinggi lainnya dalam rangka penyediaan SDM untuk pulp dan kertas. pengepul (lapak) kecil hingga lapak besar. LIPI dan Perguruan Tinggi dalam rangka mendukung pengembangan R & D dan penerapan teknologi di bidang industri pulp dan kertas. Melakukan koordinasi dengan Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK). melalui pemberian insentif. Melakukan koordinasi dengan Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). keringanan pajak dan lainlain. diversifikasi produk. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 • • • •  . • Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri Pendukung dan Industri Terkait guna meningkatkan daya tahannya di pasar dalam negeri dan daya saingnya di pasar global.• Memfasilitasi Tim Klaster Industri Pulp dan Kertas dalam rangka mensinergikan Industri Inti.2014 .

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Jangka Panjang (2010-2025) • Memaksimalkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman dan bahan baku alternatif. Mendorong perkembangan industri hilir kertas. Meningkatkan penggunaan bahan baku alternatif (eks limbah perkebunan/pertanian). Meningkatkan penerapan ISO 9001: 2000. ISO 14000 dan ekolabel. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Mendorong penerapan penggunaan teknologi modern yang efisien dan ramah lingkungan. Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing industri pulp dan kertas nasional. Mengalokasikan HTI baru untuk mendukung pengembangan industri pulp baru. Melakukan promosi investasi di bidang industri pulp dan kertas. Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor). Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas. • • • • B. Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • Mempercepat realisasi penanaman HTI yang sudah ada.

Peningkatan penerapan ISO 9001: 2000. • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing industri pulp dan kertas nasional. ISO 14000 dan ekolabel. Melakukan promosi investasi di bidang industri pulp dan kertas.• Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pulp dan kertas. Mendorong perkembangan industri hilir kertas.2014 . Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor).

• Peningkatan penerapan ISO 9001 : 2000. Kerangka Pengembangan Industri Kertas Gambar 1. Industri Bahan Kimia. Strategi Sektor : Peningkatan daya saing dengan konsep industri berkelanjutan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. • Memaksimalkan penggunaan bahan baku dari hutan tanaman dan Melakukan pengalokasian HTI baru untuk pengembangan bahan baku non kayu. perekayasaan mesin dan peralatan proses pulp dan kertas. Rokok. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan bahan baku industri pulp dan kertas. ramah lingkungan.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Kertas Industri Pendukung Industri Terkait Mesin dan Peralatan. Terwujudnya pengoperasian industri dan pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. • • Pasar : Pengembangan pasar ekspor. Gambar 1. Pengembangan kemampuan SDM. Infrastruktur : Pembangunan jalan. Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. industri pulp baru. Teknologi : Adopsi teknologi akrab lingkungan dan kemampuan R&D Indigeneous Technology. Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang selama ini masih diimpor). Kerangka Pengembangan Industri Kertas 9 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010-2025) Mempercepat realisasi penanaman HTI yang sudah ada. Converting. Unsur Penunjang SDM : Pelatihan ecolabeling/sistem manajemen mutu. Rayon. Semen. Periodisasi Peningkatan Teknologi : • Inisiasi (2010-2014) : Pengembangan teknologi rancang bangun • dan perekayasaan permesinan industr pulp dan kertas mulai dari spare parts yang sederhana. Meningkatnya peran industri permesianan nasional dalam mendukung kebutuhan mesin/peralatan proses produksi pulp dan kertas.. Pengemasan. Pencetakan dan Penerbitan. Industri Pulp. konservasi energi dan lingkungan. Meningkatnya ekspor. pelabuhan dan sumber daya listrik di daerah pengembangan industri pulp dan kertas. Kertas Bekas. Meningkatkan peran Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK). Minimalnya dampak lingkungan. • Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan Mengkampanyekan penggunaan bahan baku alternatif . Komputer Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • • Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • • • Meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI dan penggunaan bahan baku alternatif eks perkebunan/pertanian. Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas. ISO 14000 dan Mendorong penggunaan teknologi modern yang efisien dan sertifikasi ekolabel.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat Deprin. Dephut. Dinas Kehutanan. KLH. Kerangka Keterkaitan Industri Kertas Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Kertas 10  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Dinas Pertanian Bahan Kimia Serat & Limbah Selulosa Jerami Kayu Pulp Penerbitan Percetakan Eksportir PASAR LUAR NEGERI • Kertas Industri • Kertas Budaya Pengemasan Paper Board & Wall Distributor PASAR DALAM NEGERI Mesin & Peralatan Material Akustik Lembaga Litbang / PT -BBPK -BBKB -ITB/UGM/IPB Transportasi Perbangkan Asuransi JASA Assosiasi • APKI • PICCI • PPGI • APBTI Gambar 2. Deptan. Depdag •Working Group •Forum Daya Saing •Fasilitator Klaster Dinas Perindag.2014 .

Kab. Melakukan pengalokasian HTI baru untuk pengembangan industri pulp baru ‫ס‬ ○ ○ 3.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Mendorong perkembangan industri hilir kertas ‫ס‬  11 . Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 6. Asosiasi PT Pemerintah Daerah Swasta Perguruan Tinggi dan Litbang Rencana Aksi 2010 .2014 Working Group Fasilitasi Klaster 1. Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas º º ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ○ 5. Perin Dep. Meningkatkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman dan bahan baku non kayu ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 2. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Kertas Forum Daya Saing Pemerintah Pusat Dep. Mendorong penggunaan teknologi modern yang efisien dan ramah lingkungan ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ○ 4. Keu Dep. Tan BSN Perusahaan Industri Balai Besar Pulp dan Kertas Prop. Hut Dep. Mendorong diversikasi produk kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor) ‫ס‬ ‫ס‬ 7. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Kertas Tabel 1.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

industri berbasis agro. industri elektronika dan telematika.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Menimbang : a.

c. 3. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Ro­ ad Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu. 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Bahwa industri pengolahan susu merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan susu. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274).2014 . Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. 4. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 8. 5. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700).108. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. 6. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23.

Tugas. Fungsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. 9.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 12. 13. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian.2014 . 10.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Industri Susu (KBLI 15201). 2. Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Industri Es Krim (KBLI 15203). 3.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Pengolahan Susu adalah industri yang terdiri dari: a. Pemerintah Daerah. Swasta. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. strategi dan kebijakan. b. c. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan susu untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Makanan dari Susu (KBLI 15202).

dan d. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. b. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Susu ataupun sektor lain yang terkait. baik pengusaha maupun institusi lainnya. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.4. c. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Susu. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya.2014 .

(2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Susu dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .

2.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 5. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Gubernur seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 4. 3.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Presiden RI.2014 . Wakil Presiden RI. 6. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

susu kental manis.BAB I PENDAHULUAN A. mentega. minyak nabati. 040221110. susu asam. susu bubuk. Industri pengolahan susu pada umumnya menggunakan susu segar sebagai bahan baku. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Susu • Industri pengolahan susu meliputi usaha pembuatan susu bubuk. 040390100 Jenis diversifikasi produk susu meliputi: susu cair (UHT. kepala susu/krim susu termasuk pengawetannya seperti sterilisasi dan pasteurisasi. pasteurisasi). 040291000. dan es krim. 040221190. 15212 : industri makanan dari susu • Nomor HS industri pengolahan susu: 040210100. dan lain-lain agar dapat diproses menjadi produk olahan lainnya. krim. 15211 : industri susu b. yoghurt. 040310000. Selain bahan baku susu segar. susu kental manis. Susu segar dan produk olahannya disajikan dalam bentuk pohon industri berikut: • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . industri ini juga membutuhkan bahan tambahan seperti gula. 040299000. keju. 040221900. Nomor KBLI industri pengolahan susu adalah: a.

Susu Formula Mentega Susu Kental Manis Gambar I.1. Pohon Industri Pengolahan Susu B. Pohon Industri Pengolahan Susu Gambar I. Pengelompokan Industri Pengolahan Susu 1. Kelompok Industri Hulu  Susu Segar .1.2014 Anhydrose Milk Fat Susu Bubuk .Full Milk Powder .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009  Kepala Susu Yoghurt BM = 0% Susu Dadih / Tahu Susu Ice cream Skim Milk Powder Keju Susu Pateurisasi Susu UHT Whey SUSU SEGAR PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pengelompokan Industri Pengolahan Susu 1. Kelompok Industri Antara • • • Susu Pasteurisasi Susu UHT Susu Fermentasi 3.B. Kelompok Industri Hulu • Susu Segar 2. Kelompok Industri Hilir • • • • • • • Susu Bubuk Susu Kental Manis Makanan Bayi dari susu Keju Mentega Es Krim Yoghurt LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Pengembangan susu berkualitas dengan harga terjangkau. Meningkatkan produktivitas menjadi 15 liter/ekor/hari. Peningkatan kemitraan antara Industri Pengolah Susu dengan peternak sapi perah baik langsung maupun tidak langsung. Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi 5 . Peningkatan kesinambungan ketersediaan pakan ternak dalam upaya meningkatkan produktivitas susu segar. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .10 sapi/peternak. Peningkatan kualitas susu segar melalui bantuan keterampilan cara perah. Pengembangan pengendalian penyakit ternak. Meningkatkan populasi ternak sapi perah. Mengembangkan industri pakan ternak skala kecil dengan memanfaatkan sumber bahan pakan dalam negeri. dan penerapan Good Farming Practices (GFP) serta Good Handling Practices (GHP).BAB II SASARAN A. ternak sapi perah • • • • • • • Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dari 30% menjadi 40%. bantuan peralatan (cooling unit). Jangka Menengah (2010 – 2014) • • Peningkatan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun.

Meningkatkan konsumsi susu nasional menjadi 23 kg/kapita/tahun. • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .• Meningkatkan daya saing Industri Pengolahan Susu melalui harmonisasi tarif bea masuk antara produk jadi susu dengan bahan baku/penolong dan kemasan. Jangka Panjang (2015 – 2025) • • • Meningkatkan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun.2014 . Meningkatkan populasi ternak sapi perah. • • • B. Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi diatas 10 sapi/peternak. Meningkatkan kompetensi SDM ditingkat peternak khususnya dalam ketrampilan teknis & teknologis pakan ternak dan usaha peternakan.Meningkatkan produktivitas sapi perah menjadi diatas 20 liter/ekor/ hari. Mengembangkan diversifikasi produk susu olahan yang mempunyai daya saing tinggi. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional. Peningkatan kerjasama dalam upaya pengembangan teknologi proses dan diversifikasi produk. Pengembangan skema pembiayaan kepemilikan bibit sapi unggul. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat untuk mencegah lost generation. Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri menjadi 50%. Meningkatkan penguasaan teknologi dalam upaya peningkatan mutu susu olahan skala kecil menengah.

• • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Optimalisasi dan peningkatan kapasitas produksi yang ada (eksisting). dan penyerapan tenaga kerja. Mengembangkan faktor pendukung berupa bahan baku. investasi. dan mensejahterakan masyarakat. Arah Pengembangan: • • • Meningkatkan nilai tambah. Meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar untuk menunjang pasokan bahan baku industri pengolahan susu. energi.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Susu Visi: Mewujudkan industri pengolahan susu yang berkelanjutan. mandiri. Promosi investasi produk-produk olahan susu yang mempunyai nilai tambah tinggi. berdaya saing. dan prasarana. Memantapkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak. Mengembangkan indsutri pengolahan susu (diversifikasi produk) dengan memanfaatkan potensi bahan baku.

2014 . Perusahaan yang mendominasi klaster susu adalah industri menengah dan besar Pengembangan usaha industri dan peningkatan jejaring melalui networking dengan sektor ekonomi yang lain. Adanya dukungan lembaga penelitian. Tahapan implementasi • Pemerintah Pusat melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan Pemda Propinsi Jawa Barat. Jawa Tengah. • • C. Meningkatnya kesadaran peternak untuk menerapkan Good Farming Practices (GFP) yang akan berdampak pada kualitas susu segar. Pemerintah Pusat memberikan bantuan mesin/ peralatan berupa cooling unit untuk mendukung pengembangan klaster. dan Jawa Timur serta stakeholderstakeholder terkait melalui Forum Komunikasi. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatnya produktifitas ternak sapi perah menjadi lebih dari 15 liter/ekor/hari. koordinasi promosi dan perencanaan pemasaran. Indikator Pencapaian • • • Meningkatnya tingkat konsumsi susu segar khususnya bagi anak-anak usia sekolah. Meningkatnya sarana dan prasarana untuk keperluan industri pengolahan susu. lembaga keuangan dalam peningkatan investasi industri pengolahan susu.B.

Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Penerapan standard mutu bahan baku sesuai standard yang ditentukan (SNI). Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. Kampanye nasional. Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk meningkatkan kualitas susu segar sehingga bisa menaikkan pendapatan peternak (harga susu yang berkualitas tinggi lebih mahal dari pada yang berkualiatas rendah). 2. Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar sehingga dapat memangkas biaya.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. penggalakan minum susu secara LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Memberikan kredit lunak kepada koperasi dan kelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki kualitas angka bakteri dari susu segar. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan yang berprotein tinggi dengan harga terjangkau. Memberikan penyuluhan dan pelatihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu.

Jangka Panjang (2015 – 2025) 1. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu. bermanfaat dan terintegrasi. Memperdalam research & development untuk inovasi produk pengolahan susu yang berkualitas. Bersama instansi terkait membuat sistem kredit bunga ringan untuk pengadaan bibit sapi perah unggul. 00 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Meningkatkan SDM dan penyediaan pakan dan bibit unggul sehingga bisa menaikkan produktifitas peternak sapi perah. 2. Peningkatan cara pengelolaan ternak dari skala kecil menjadi skala sedang sehingga bisa menurunkan biaya fix cost ditingkat peternak.B.

KerangkaKeterkaitan Industri Pengolahan SusuSusu 9 0 . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Gambar 1.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 Gambar 1.

2014 Unsur Penunjang Infrastruktur :  Pengembangan fasilitas pelabuhan dan akses jalan. Ice Cream).10 sapi/peternak Meningkatkan produktivitas ternak sapi perah menjadi 15 liter/ekor/hari Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dari 30% menjadi 40% Peningkatan kualitas susu segar melalui keterampilan cara perah. Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk meningkatkan kualitas susu segar sehingga menaikkan pendapatan peternak (harga susu yang berkualitas tinggi lebih mahal daripada yang berkualitas rendah). Industri Alumunium Foil. Pasokan Bahan Bakar termasuk Gas Bumi dan Pasokan Listrik. Memberikan penyuluhan dan peltihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.  Insentif kredit bagi peternak sapi dan industri pengolahan susu  Penyediaan fasilitas pendidikan. Industri Pengolahan Susu Kemasan Produk. Peningkatan utilisasi kapasitas produksi industri yang ada (existing) 3. investasi. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana muruh sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dan harga cicilan yang terjangkau. Pengembangan skema pembiayaan kepemilikan bibit sapi unggul. 2.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Industri Terkait Industri Inti Industri Pendukung 0 Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • • • • • • • • • Meningkatkan pertumbuhan susu olahan 10 %/tahun Meningkatkan populasi ternak sapi perah Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi diatas 10 sapi/peternak Meningkatkan produktivitas sapi perah menjadi diatas 20 liter/ekor/hari Meningkatkan konsumsi susu nasional menjadi 23 liter/kapita/tahun Meningkatkan pasokan susu segar dalam negeri (SSDN) menjadi 50% Meningkatkan penguasaan teknologi dalam upaya peningkatan mutu susu olahan skala kecil menengah Mengembangkan diversifikasi produk susu olahan yang mempunyai daya saing tinggi. Memperdalam research & development untuk innovasi produk pengolahan susu yang berkualitas dan bermanfaat dan terintegrasi Periodisasi Peningkatan Teknologi : • Inisiasi (2004-2009) : Pembuatan Susu Kental Manis dengan Direct Process (tanpa Evaporator) • Pengembangan Cepat (2010-2015) : Teknologi Aglomerasi pengganti Spray Drying untuk menurunkan • Matang (2016-2025) : Steril packaging (UHT) yang murah. Bersama instansi terkait membuat sisitem kredit bunga ringan untuk pengadaan bibit sapi perah unggul. Industri Karton. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan. Industri Permen Rafinasi. bantuan peralatan cooling unit. Industri Gula Industri pangan khusus (yoghurt. Memberikan kredit lunak kepada koperasi dankelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki kualitas angka bakteri dari susu segar. dan penerapan Good Farming Practices (GFP) serta Good Handling Practice (GHP). Co-dosing untuk life bacteria dan functional biaya processing. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Peningkatan Kemitraan antara Industri Pengolahan Susu dengan peternak sapi perah baik langsung maupun tidak langsung. perbaikan kesejahteraan peternak dan daya beli masyarakat sehingga bisa mencapai masyarakat dengan budaya minum susu yang tinggi.  Peningkatan peranan litbang dan perguruan tinggi untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi dan perbaikan produk dari pengolahan susu food untuk susu steril Gambar Gambar 2 KerangkaPengembangan Industri Pengolahan Susu 2 Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Susu 10 . Meningkatkan kompetensi SDM khususnya dalam keterampailan teknis & teknologis pakan ternak dan usaha peternakan. Industri Mesin Pengolahan Susu & Peralatan Pabrik. sehat dan maju. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. dan penyerapan tenaga kerja. Peningkatan kerjasama dalam upaya pengembangan teknologi proses dan diversifikasi produk. Penerapan standar mutu bahan baku sesuai standard yang ditentukan (SNI) Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan yang berprotein tinggi dengan harga terjangkau. Industri Label. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional. Peningkatan cara pengelolaan ternak dari ukuran kecil menjadi ukuran sedang sehingga bisa menurunkan biaya fix cost ditingkat peternak Meningkatkan SDM dan penyediaan pakan dan bibit unggul sehingga bisa menaikan produktifitas peternak sapi perah. pelatihan dan penyuluhan bagi peternak di desa • • • Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan. Penetapan model pengembangan Industri Pengolahan Susu skala menegah berbasis SSDN •Optimalisasi faktor pendukung berupa peningkatan pasokan bahan baku. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat untuk mencegah lost generation. Teknologi pembiakan bakteria probiotik yang murah SDM :  Peningkatan kemampuan SDM di bidang pengelolaan ternak sapi dan pengolahan susu segar. Industri Pembuatan Kaleng. juga untuk menigkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010-2025) • • • • • • • • • • • • PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri Food Chain. Peningkatan : nilai tambah produk. Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar sehingga dapat memangkas biaya. Strategi : 1. Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • • • • • • • • • • Meningkatkan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun Mengembangkan industri pakan ternak skala kecil dengan memanfaatkan sumber bahan pakan dalam negeri Peningkatan kesinambungan ketersediaan pakan ternak dalam upaya meningkatkan produktivitas susu segar Pengembangan pengendalian penyakit ternak Pengembangan susu berkualitas dengan harga terjangkau Meningkatkan populasi ternak sapi perah Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi 5 . perolehan devisa. Meningkatkan daya saing Industri Pengolahan susu melalui harmonisasi tarif bea masuk antara produk jadi susu dengan bahan baku/ penolong dan kemasan.

Peternakan Susu Segar Susu Segar bahan baku Industri Eksportir PASAR LUAR NEGERI Mesin / Peralatan Pengolahan Susu Segar Susu Segar Konsumsi Susu Pasteurisasi Susu Cair Susu UHT Susu Skimmed Susu Bubuk Susu Kental Manis Yoghurt Ice cream Keju Makanan dari Susu (Butter. Dinas Pertanian. Asuransi. Depkeu. Persh. GAPMMI. BKPM Forum Daya Saing/ Working Group Fasilitasi Klaster Pemerintah Daerah : Dinas Indag. MennegKop & UKM. Logistik. Deptan. Marketing IPS. Depdag. APMB. ASRIM Asosiasi 0 Gambar 3 Bagan Keterkaitan Industri Pengolahan Susu Gambar 3 Bagan Keterkaitan Industri Pengolahan Susu 11 .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Depperin. dll) Distributor PASAR DALAM NEGERI LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 Jasa Lembaga Litbang/Peguruan Tinggi Bank dan Konsultan Pemasaran.

Jateng.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 0 Gambar 4 Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Susu Gambar 4 Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Susu PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 12 Indikasi Lokasi : Jabar. Jatim .

juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan berprotein tinggi dengan harga terjangkau Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 meningkatkan kualitas susu segar sehingga menaikkan pendapatan peternak(harga susu berkualitas tinggi lebih mahal daripada yang berkualitas rendah) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memberikan kredit lunak kepada koperasi dan kelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki angka bakteri dari susu segar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memberikan penyuluhan dan pelatihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 sehingga dapat memangkas biaya Kampanye penggalakan minum susu secara nasional. 0 13 .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Daerah Sw asta Perg. Tinggi Forum Rencana Aksi 2004 .2009 Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana 0 0 0 0 0 0 0 0 0 murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dengan harga cicilan terjangkau. Saing Group Klaster Pem. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Pengolahan Susu Tabel 1. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Pengolahan Susu Pemerintah Pusat & Litbang Depperin Deptan Depkeu Depdag Menegkop Depkes & UKM 0 0 0 0 0 0 0 Diknas Kesra Dep Menko BKPM Prop Kab Assosiasi Perush PT Litbang Dy Work Fas.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful