Anda di halaman 1dari 18

Fisiologi Pendengaran

I.

Pendahuluan Selain sebagai suatu makhluk biologis, manusia juga merupakan makhluk sosial yang

harus melakukan interaksi dengan makhluk lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendengaran merupakan salah satu dari indera yang penting dalam berkomunikasi dan memungkinkan kita untuk dapat menerima salah satu input sensoris yaitu suara. Suara merupakan media komunikasi yang memungkinkan manusia dapat mengerti satu sama lain serta memungkinkan manusia menafsirkan berbagai keadaan di sekelilingnya. Suara merupakan suatu gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat dan gas. Organ tubuh manusia yang berfungsi menafsirkan input suara adalah telinga.1 Manusia mendengar suara atau bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia dan kemudian ditransmisikan ke telinga bagian dalam (kokhlea) yang akan merubah gelombang menjadi impuls yang diterima oleh Nervus auditorius (N. Kokhlearis) dan menghantarkan impuls ini ke area pendengaran di otak yaitu pada area 41 di lobus temporal sehingga manusia dapat menginterpretasikan gelombang bunyi menjadi sesuatu yang bermakna. II. Anatomi Telinga Telinga merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. Secara umum telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu : Bagian pertama yaitu telinga luar yang merupakan bagian yang melekat pada struktur lateral kepala dan kanalis yang mengarah ke bagian medial sampai dengan membran timpani.

Bagian kedua yaitu telinga tengah, sebuah rongga yang dibatasi oleh bagian petrosa os temporal di bagian lateral dan terpisah oleh kanalis eksterna oleh membran timpani dan memiliki hubungan dengan faring melalui suatu saluran yang disebut tuba eustachius.

Bagian ketiga yaitu Telinga dalam yang terdiri atas rongga bagian petrosa os temporal di antara telinga tengah di lateral dan meatus akustikus internus di medial.2

Gambar 1. Anatomi telinga 2

A. Telinga luar Telinga luar terdiri atas (i) auricle atau pinna (ii) Kanalis akustikus eksternus dan (iii)Membran timpani3 Aurikula Aurikula terdapat pada setiap sisi kepala dan berfungsi dalam menangkap gelombang suara. Seluruh bagian aurikula kecuali lobulus dan bagian luar kanalis akustikus eksternus terdiri atas susunan kartilago elastik kuning yang dilapisi oleh kulit. Di daerah antara tragus dan crus helix yang disebut incisura terminalis tidak terdapat tulang rawan oleh karena itu insisi yang dibuat pada area ini tidak akan memotong tulang rawan dan sering digunakan sebagai area insisi tindakan bedah pada kanalis auditorius eksternus ataupun mastoid. Pinna juga merupakan sumber bahan grafting, kartilago, perikondrium dari tragus sampai concha, dan jaringan lemak lobulus seringkali digunakan dalam bedah rekonstruktif telinga tengah.3

Gambar 2. Aurikula.3

Gambar 3. Tulang rawan pada aurikula.3

Kanalis Akustikus Eksternus Struktur yang dimulai pada bagian bawah konka (Meatus akustikus eksternus) sampai pada membran timpani dan memiliki panjang sekitar 24 mm. Saluran ini bukan merupakan suatu saluran yang lurus. Dari meatus saluran ini mengarah ke depan atas, kemudian sedikit ke belakang dan kemudian berkelok ke arah depan dengan sedikit penurunan ( berbentuk S ).Oleh karena itu untuk dapat mengevaluasi kanalis, pemeriksa dapat menarik telinga secara posterosuperior dan sedikit ke lateral.2 Kanalis terdiri atas daerah yang tersusun atas tulang rawan pada 1/3 lateral dan tulang pada 2/3 medial. Kulit yang melapisi daerah tulang rawan relative tebal dan terdapat kelenjar seruminous dan pilosebasea yang berfungsi menghasilkan serumen. Rambut hanya terdapat pada daerah luar kanal sehingga furunkel hanya dapat terjadi pada area ini. Pada daerah yang tersusun atas tulang, kulit yang melapisi relative tipis dan merupakan lanjutan dari struktur yang melapisi bagian luar membran timpani. Tidak terdapat kelenjar serumen dan rambut seperti pada daerah tulang rawan dan 6 mm di sebelah lateral membran timpani terdapat area penyempitan yang disebut ismus. Pada bagian anteroinferior ismus terdapat suatu recessus yang berfungsi sebagai tempat drainase secret infeksi. Dan apabila terbentuk suatu kelainan congenital pada area ini (foramen of Huschke), dapat menjadi area penyebaran infeksi dari maupun ke kelenjar parotis. Batas-batas kanalis akustikus eksternus : Superior : Fossa media kranium Inferior : Kelenjar Parotis
3

Posterior : Nervus fasialis dan sel udara mastoid Anterior : Sendi temporomandibular Membran Timpani Membran timpani merupakan struktur pemisah antara kanalis akustikus eksternus dan telinga tengah. Terletak oblik dengan bagian posterosuperior lebih lateral dan anteroinferior di bagian medial. Memiliki tinggi 9-10 mm, 8-9 mm dan tebal 0,1 mm. Secara umum membran timpani terbagi menjadi 2 bagian yaitu pars tensa dan pars flaksid (Membran shrapnel). Pars tensa membentuk sebagian besar area membran timpani. Pada daerah lateral terdapat penebalan yang membentuk suatu cincin kartilagofibrosa yang disebut annulus tymphanicus yang memfiksasi membran pada sulkus timpani. Refleks cahaya yang disebarkan oleh ujung malleolus dapat dilihat pada kuadran anteroinferior.

Gambar 4. Membran Timpani.3

Membran timpani terdiri dari 3 lapisan yaitu : (i) Lapisan epitel yang merupakan lanjutan kulit pada kanalis (ii) Lapisan fibrosa yang menutupi malleus dan memiliki 3 jenis serat; radial, sirkular dan parabolik(iii) Lapisan mukosa yang merupakan lanjutan mukosa telinga tengah. Pars flaksid tidak memiliki lapisan fibrosa. Inervasi Pada aurikula inervasi didapat dari Nervus aurikularis magnus, N. oksipitalis parvus, N. Aurikulotemporalis, R. Aurikularis N. Vagus dan Nervus fasialis.
4

Gambar 5. Inervasi aurikula.3

Dinding anterior dan atap kanalis akustikus eksternus diinervasi oleh N. Aurikulotemporalis, R. Aurikularis N. Vagus pada dinding posterior dan lantai kanalis, Pada membran timpani N. aurikulotemporalis memberikun inervasi pada setengah permukaan anterolateral, R. Aurikularis N. Vagus pada setengah permukaan posterolateral dan permukaan medial diinervasi oleh N. Jacobson (Cabang N. IX).3

B. Telinga Tengah Telingah tengah merupakan daerah yang terisi udara, membran mukosa pada ruang tulang temporal diantara membran timpani di lateral dan dinding lateral telinga dalam di medial. Ruangan ini secara umum dibagi menjadi 2 yaitu : (i) Kavum timpani yang sejajar dengan letak membran timpani dan (ii) recessus epitimpani di superior kavum. Telinga tengah menghubungkan daerah mastoid di posterior dan nasofaring di anterior melalui tuba eustachius. Fungsi utama telinga tengah yaitu mentransmisikan vibrasi melalui membran timpani ke telinga dalam. Hal ini dikarenakan adanya sistem osikulasi pendengaran yang dibentuk oleh tiga tulang yaitu malleus, inkus dan stapes.2,3

Gambar 6. Telinga tengah.2

Telingah tengah memiliki sebuah atap dan sebuah lantai, dan dinding posterior, anterior, medial serta lateral.

Dinding lateral (Membranosa) telinga terdiri atas membran timpani dan dinding lateral resesus Gambar 7 . Struktur disekitar Telinga tengah.2
2 timpani.Dinding mastoid (posterior) hanya merupakan sebagian batas posterior, hal ini Gambar 8 . M. Tensor timpani dan stapedius.dari dikarenakan di superior resesus timpani berlanjut dengan aditus antrum mastoid.Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari rangkaian rongga tulang (Labirin tulang) dan duktus dan sakus
2 Gambarmembranosa) 9. Telinga dalam. Gambar 10. Lokasi Telinga dalam membranosa Labirin dalam rongga ini. Semua struktur ini berada pada ptulang

temporal pars petrosa di antara telinga tengah di lateral dan meatus akustikus internus di sebelah medial.Terdiri atas dua sakus (utrikulus dan sakulus) serta empat duktus (Tiga semisirkularis dan duktus kokhlearis), labirin membranosa memiliki fungsi dalam pendengaran dan keseimbangan.2 Koklea Koklea adalah suatu sistem tuba yang melingkar-lingkar dan terdiri atas 3 tuba melingkar yang saling bersisian : (1) Skala vestibuli (2) Skala media (3) Skala timpani. Skala vestibuli dan skala media dipisahkan satu sama lain oleh membran reissner (membran vestibular) Koklea terfiksasi dengan baik pada lamina modiolus di sentral dan pada bagian luar tulang di perifer.2

di tulang temporal.2

III.

Fisiologi PendengaranSetiap obyek yang bergetar akan menyebabkan kompresi

gelombang dan kemudian dapat menimbulkan Pada kondisi atmosfer normal, Gambar 11. bunyi/suara. Koklea.2 ketinggian air laut dan suhu 20 C, kecepatan suara adalah 344m/s. Suara dapat menjalar dengan kecepatan yang lebih tinggi pada medium padat dan cair dibandingkan udara walaupun pada saat gelombang berpindah dari medium udara ke cair, sebagian besar energy dihamburkan akibat impedans cairan. Mekanikme Pendengaran Sinyal suara di lingkungan ditangkap oleh aurikel, melewati kanalis auditorius eksternal dan menabrak membran timpani. Vibrasi membran timpani kemudian ditransmisikan ke lempeng kaki stapes melalui sistem osikulasi yang terhubung dengan membran timpani. Gerakan lempeng kaki stapes kemudian menyebabkan perubahan tekanan pada cairan labirin yang akan menggerakkan membran basilar. Hal ini akan menstimulasi sel rambut pada organ corti. Sel rambut ini akan bertindak sebagai transduser dan merubah energi mekanik menjadi impuls

elektrik yang menjalar sepanjang nervus auditorius. Secara umum mekanikme pendengaran dibagi menjadi :2,3 1. Konduksi mekanik suara (Sistem konduksi) 2. Transduksi energi mekanik menjadi impuls elektrik (Sistem sensoris koklea) 3. Konduksi impuls elektrik ke otak(Jalur saraf) Konduksi Suara Seseorang yang berada di bawah pada air tidak dapat mendengar suara karena 99,9% energy suara di hamburkan dari permukaan akibat impedans yang dimiliki. Situasi yang sama terdapat pada telinga ketika gelombang suara yang dikonduksikan melalui udara mencapai cairan koklea. Kompensasi yang terjadi untuk menghindari kehilangan energi suara yaitu dengan adanya interposisi telinga tengah yang merubah gelombang suara dengan amplitudo tinggi, namun dengan tekanan yang lebih kecil menjadi gelombang dengan amplitude kecil namun dengan tekanan yang besar. Fungsi telinga tengah dalam hal ini juga disebut impedance matching mechanism. Hal ini dikarenakan : (a) Adanya system osikulasi. Pegangan malleus yang 1,3 kali lebih besar dibandingkan prosesus inkus sehingga menghasilkan keuntungan mekanik sebesar 1,3 (b) Aksi hidraulik membran timpani. Area membran timpani lebih besar dibandingkan area lempengan kaki stapes menghasilkan keuntungan mekanik yang sebanding dengan perbandingan diameter fungsional keduanya menurut Wever dan Lawrence yaitu 55mm2:3,2mm2 menjadi 17:1 sehingga keuntungan mekanik yang didapat yaitu 17x1,3=22 kali lipat (c) Efek bentuk kurva membran. Gerakan membran timpani lebih besar pada perifer dibandingkan di daerah sentral, tempat perlekatan malleus.

,Tes Pendengaran V.

Gambar 12.

Matching impedance function of tympani membran 2

Kesimpulan

Gambar 13. Pergerakan cairan di dalam


6 Skala vestibuli dan media dipisahkan sama lain oleh membran reisner, suatu membran yang koklea setelah stapes terdorong ke depan.satu

begitu halus dan mudah bergerak, sehingga sama sekali tidak menghalangi jalannya getaran

Gambar 14. Potongan melingkar satu koklea.6

suara dari skala vestibule ke dalam skala media. Oleh karena itu, di sepanjang cairan yang menyangkut konduksi suara, skala vestibule dan skala media dpat dianggap sebagai suatu ruangan tunggal. Skala media dipisahkan satu sama lain oleh memmbran basilar. Pada pemukaan membran basilar terletak organ corti, yang mengandung serangkaian sel yang sensitif secara elektromekanik, yaitu sel-sel rambut. Sel- sel ini yang merupakan organ reseptif akhir yang membangkitkan impuls saraf sebagai respons terhadap getaran suara.6

Gambar 15. Organ Corti.6

Organ corti seperti yang diperlihatkan pada gambar di atas merupakan organ reseptor yang membangkitkan impuls saraf sebagai respons terhadap getaran membran basilar. Organ ini terletak pada permukaan serabut dan membran basilar. Reseptor sensorik yang sebenarnya di dalam organ corti adalah dua tipe selsaraf yang khusus, yang disebut dengan sel rambut : baris tunggal sel rambut interna, berjumlah sekitar 3500 dengan diameter yang berukuran sekitar 12 mikrometer, dan tiga sampai empat baris sel rambut eksterna, berjumlah sekitar 12.000, dan mempunyai diameter sekitar 8 mikrometer. Bagian dasar dan samping sel rambut bersinaps dengan jaringan ujung saraf koklearis. Sekitar 90-95% ujung ini berakhir di sel-sel rambut dalam, yang memperkuat peranan khusus sel ini dalam mendeteksi suara. Serabut saraf yang dirangsang oleh sel rambut akan menuju ganglion spiralis corti, yang terletak di
8

modiolus (pusat) koklea. Neuron ganglion spiralis akan mengirimkan akson-seluruhnya sekitar 30.000 ke dalam nervus koklearis kemudian ke dalam sistem saraf pusat.90% serabut saraf auditorik dirangsang oleh sel rambut dalam, sedangkan sel rambut luar berfungsi mengatur sensitifitas telinga di berbagai nada suara karena adanya serabut saraf retrograd yang berjalan dari batang otak ke sekitar sel rambut luar.

Gambar 16. Perangsangan sel-sel rambut6

Gambar di atas memberi ilustrasi perangsangan sel-sel rambut. Pada setiap sel rambut terdapat stereosilia yang menyentuh ataupun tertanam pada permukaan lapisan gel dari membran tektorial yang terletak di atas stereosilia dalam skala media. Pembelokan rambutrambut ke satu arah(skala vestibuli) akan mendepolarisasi sel-sel rambut, dan pembelokan ke arah yang berlawanan menyebabkan hiperpolarisasi pada sel rambut ini. Hal ini sebaliknya akan mengeksitasi serabut saraf yang bersinaps pada dasarnya dengan terjadinya pelepasan neurotransmitter kerja cepat, diduga glutamat sebagai substansinya. Jadi, sel-sel rambut akan tereksitasi setiap membran basilar tergetar. Untuk menjelaskan secara terperinci mengenai potensial listrik yang dibangkitkan sel rambut, kita perlu menjelaskan fenomena listrik lain yang disebut potensial endokoklea. Skala media terisi cairan yang disebut endolimfe, berbeda dengan perilimfe yang terdapat pada skala vestibule dan timpani. Skala vestibule dan timpani ini berhubungan langsung dengan ruang subarachnoid otak, sehingga perilimfe hamper sama dengan cairan serebrospinal. Sebaliknya cairan endolimfe yang dihasilkan oleh stria vaskularis, suatu struktur pada dinding luarskala media yang kaya akan vaskularisasi, sangat berbeda. Endolimfe mengandung banyak kalium dan sedikit natrium. Potensial lisrik sekitar 80 mv terjadi setiap saat dengan kepositifan di dalam skala media dan kenegatifan di luar, hal ini disebut juga dengan potensial endokoklea.

Makna yang penting adalah bahwa puncak sel rambut menonjol melalui lamina retikularis dan terendam oleh endolimfe di skala media, sedangkan perilimfe merendam badan sel rambut pada bagian yang lebih bawah. Selanjutnya, sel-sel rambut mempunyai potensial intrasel negatif sebesar -70mv terhadap perilimfe, tetapi -150mvmv terhadap endolimfe pada permukaan atasnya. Diduga karena potensial listrik yang tinggi ini, pada ujung stereosilia akan meningkatkan kepekaan sel sehingga meningkatkan kemampuan sel untuk member respons terhadap suara yang paling halus.6 Jaras Pendengaran Gambar 17 menunjukkan jaras pendengaran utama. Serabut saraf dari ganglion spiralis Corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang terletak di bagian atas medulla. Pada titik ini, semua serabut sinaps, dan neutron tingkat dua berjalan terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir di nukleus olivarius superior. Beberapa serabut tingkat kedua lainnya juga berjalan ke nukleus olivarius superior pada sisi yang sama. Dari nukleus olivarius superior, jaras pendengaran kemudian berjalan ke atas melalui lemnikus lateralis. Beberapa serabut berakhir di nukleus lemnikus lateralis, tetapi sebagian besar melewati nukleus ini dan berjalan ke kolikulus inferior, tempat semua atau hampir semua serabut pendengaran bersinaps. Dari sini, jaras berjalan melalui nukleu genikulatum medial, tempat semua serabut bersinaps. Akhirnya,jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik, yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis. Beberapa titik penting harus diperhatikan.Pertama, sinyal dari kedua telinga dijalarkan melalui jaras kedua sisi otak, dengan penjalaran yang sedikit lebih besar pada jaras kontralateral. Pada sekurang-kurangnya tiga tempat dalam batang otak terjadi persilangan jaras ini : (1) Korpus trapezoid (2) Komisura di antara dua inti lemnikus lateralis dan (3) komisura yang menghubungkan dua kollikulus inferior. Kedua, banyak serabut kolateral berjalan langsung ke dalam system aktivasi reticular di batang otak. Ketiga, orientasi spasial dengan derajat tinggi dipertahankan dalam traktus serabut yang berasal dari koklea sampai ke korteks.6 Terdapat koneksi reflex ke nukleus otot mata dan beberapa nukleus motoris saraf kranialis dan spinalis melalui traktus tektobulbaris dan tektospinalis. Hubungan ini diaktifkan oleh suara yang keras Dan tiba-tiba yang berakibat reflex membuat pergerakan bola mata dan

10

kepala ke arah suara. Pada pons terdapat nukleus olivari superior yang memberi inervasi retrograd ke organ corti untuk melakukan fungsi modulasi sensitifitas organ corti.7

Gambar 17. Jaras saraf pendengaran.6

IV. Tes Pendengaran Hilangnya pendengaran dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu : 1. Conductive hearing loss (Tuli Konduktif), yang disebabkan oleh kelainan pada proses penghantaran gelombang suara dari telinga luar sampai ke sendi stapediovestibular seperti obstruksi telinga luar, perforasi membran timpani, cairan pada telinga tengah dan gangguan pada sistemosikulasi serta fungsi tuba eustachius. 2. Sensorineural hearing loss (Tuli sensorineural) , yang disebabkan oleh lesi pada koklea (tipe sensoris) atau gangguan pada N. Auditorius dan jaras sentral pendengaran (Tipe neural/retrokoklea).

11

3. Mixed hearing loss. Kedua komponen terganggu, biasanya terjadi pada otosklerosis dan Otitis media supuratif kronik. Untuk memeriksa fungsi pendengaran sangat penting menentukan : (a) Jenis tuli (b) Derajat tuli (ringan, sedang, sedang berat,berat atau total) (c) Lokasi lesi (d) Penyebab Congenital Pendengaran seseorang dapat dibagi atas test klinis dan tes audiometric. A. Tes klinis pendengaran 1. Finger friction test Dengan menggesekkan ibu jari dengan jari lainnya di depan telinga pasien merupakan metode yang cepat untuk menilai pendengaran seseorang. 2. Watch test Jam yang berdetak di letakkan pada jarak tertentu dengan telinga, kemudian dilakukan pengukuran. 3. Speech tests Normalnya seseorang dapatmendengar suara percakapan dari 12 meter dan suara siulan (setelah ekspirasi normal) pada jarak 6 meter. Tes harus dilakukan pada ruang yang tenang dengan pasien berdiri dan menghadapkan telinganya kea rah pemeriksa pada jarak 6 meter. Kekurangan tes ini yaitu tidak ditetapkannya standar intensitas dan frekuensi suara yang digunakan. 4. Tes garpu tala Tes ini dilakukan dengan menggunakan garpu tala pada frekuensi yang berbeda yaitu 128,256,512,1024,2048 dan 4096 hz, namun untuk skrining biasanya garpu tala 512 hz saja sudah cukup. Sebuah garpu tala digetarkan dengan cara menghantam siku, tumit tangan atau tumit sepatu pemeriksa dengan lembut. Untuk menilai hantaran udara (AC) , sebuah garpu tala digetarkan dari jarak 2 cm dengan meatus akustikus internus. Normalnya, pendengaran melalui hantaran udara lebih keras dibandingkan dengan hantaran tulang. Dan untuk menilai hantaran tulang, ujung garpu tala diletakkan tepat planum mastoid sehingga koklea dapat distimulasi langsung oleh vibrasi yang dikonduksikan melalui tulang tengkorak.
12

tuli.

VaskularInfeksiTraumaAutoimunMetabolikIatrogenikNeoplasma

(a) Tes Rinne Pada tes ini, hantaran udara pemeriksa dibandingkan dengan hantaran tulang. Sebuah garpu tala yang bergetar diletakkan pada planum mastoid dan ketika pasien sudah tidak mendengar bunyi, garpu tala dipindahkan di samping meatus. Jika, dia masih mendengar berarti AC>BC. Cara lain pasien diminta untuk membandingkan kerasnya suara pada hantaran udara dengan tulang. Rinne (+) jika AC>BC Normal atau Tuli SN Rinne (-) jika BC>ACTuli Konduktif Hasil negatif palsu dapat ditemukan jika terjadi tuli SN yang berat sehingga pasien tidak dapat mempersepsikan suara melalui hantaran udara walaupun member respon terhadap hantaran tulang. Respon terhadap hantaran tulang sebenarnya berasal dari telinga yang berlawanan karena adanya transmisi suara transkranial.Pada kasus ini, diagnosis yang tepat dapat dilakukan dengan melakukan tes weber. (b) Tes Weber Pada tes ini, garpu tala yang digetarkan ditempatkan tepat pada pertengahan dahi atau vertex dan pasien diminta telinga sebelah mana yang mendengar. Normalnya, suara terdengar sama pada kedua sisi telinga. Lateralisasi terjadi pada telinga dengan kelainan konduktif dan pada telinga dengan hantaran tulang yang lebih baik. Pada tes weber, suara berjalan langsung ke koklea melalui tulang. Lateralisasi suara dengan garpu tala 512 hz mengindikasikan hilangnya 15-25 dB pada telinga ipsilateral atau tuli sensorineural pada telinga kontralateral. (c) Tes schawbach Pada tes ini hantaran tulang pasien dibandingkan dengan pemeriksa yang memiliki fungsi pendengaran yang normal. Tes ini memiliki hasil yang signifikan sebagaimana pada tes hantaran tulang. Schwabach memendek pada tuli SN dan memanjang pada tuli konduktif.3

13

Gambar 18. A. Tes hantaran udara B. Tes hantaran tulang C. Tes weber

Gambar 19. Tes garpu tala dan interpretasinya

(d) Hantaran tulang absolut Hantaran tulang absolut merupakan pengukuran fungsi koklea. Pada tes ini hantaran tulang pemeriksa dibandingkan dengan pasien, sama dengan schawach namun pada tes ini meatus akustikus eksternus disumbat terlebih dahulu untuk mencegah kebisingan melalui hantaran udara. (e) Tes bing Tes untuk hantaran tulang dan memeriksa akibat oklusi kanalis akustikus pada saat pemeriksaan. Seseorang yang normal atau mengalami tuli sensori neural akan mendengar suara lebih keras ketika kanalis akustikus disumbat dan lebih lemah jika kanalis dibuka.3 B. Tes Audiometri Pure Tone Audiometry (PTA) Audiometer merupakan alat elektronik yang menghasilkan nada murni dan dapat ditingkatkan atau diturunkan intensitasnya secara bertahap dengan rentang 5dB. Biasanya ambang hantaran diukur pada frekuensi 125, 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 8000 Hz untuk hantaran udara, dan 250,500,1000,2000 dan 4000 hz untuk hantaran tulang.Kemudian ditentukan ambang batas pendengaran seseorang pada frekuensi tersebut. Hasilnya kemudian dituliskan pada suatu grafik yang disebut dengan audiogram. Normalnya tidak ada gap antara ambang batas hantaran udara dan tulang.

Gambar 20. Audiogram tuli SN pada orang tua

Gambar 21. Audiogram tuli konduktif

14

Ambang dengar dapat dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher yaitu : AD500Hz+AD 1000 Hz +AD2000 Hz +AD 4000 Hz/4. Derajat ketulian berdasarkan ambang dengar menurut ISO yaitu 0-25 DB:Normal 26-40 DB : Ringan 41-55DB : Sedang 56-70 DB : Sedang berat 71-90 DB : Berat >90 DB : Tuli sangat berat Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanyahantaran udaranya saja. Jadi selain jenis gangguan pendengaran, PTA juga dapat digunakan untuk menentukan derajat penurunan pendengaran.8 Speech Audiometry Tes ini menilai kemampuan pasien untuk mendengar dan memahami bicara. Dua parameter yang digunakan yaitu (i) Ambang batas penerimaan bicara (ii) Skor diskriminasi. Speech reception threshold yaitu intensitas suara minimum pada 50 %kata-kata yang diulang secara benar oleh pasien biasanya 20-30 DB di atas ambang pendengaran. Speech discrimination score yaitu skor tertinggi yang dapat dicapai seseorang pada intensitas tertentu.3,8 Interpretasi Speech discrimination score8 90-100 % : Pendengaran normal 75-90 % : Tuli ringan 60-75 % : Tuli sedang 50-60 % : Kesukaran mengikuti pembicaraan sehari-hari <50 % : Tuli berat Fungsi speech audiometry :3 Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari Untuk membedakan antara tuli organik dan non organik Untuk menentukan intensitas ambang pendengaran pada angka diskriminasi terbaik. Untuk membedakan antara kelainan koklea dan retrokoklea.

15

Audiometri Bekessy Audiometri jenis ini merupakan audiometric yang secara otomatis dapat menilai ambang pendengaran seseorang. Prinsip pemeriksaan ini adalah dengan nada yang terputus dan nada yang terus menerus. Bila ada suara masuk, pasien memerncet tombol. Akan didapatkan grafik seperti gigi gergaji, garis yang menaik ialah periode suara yang dapat didengar, sedangkan garis suara yang turun aialah suara yang tidak terdengar. Pada telinga normal, amplitude 10DB. Berikut merupakan hasil interpretasi Audiometri Bekessy : 3,8 Tipe 1 : Nada terputus dan terus menerus berimpit Pada orang normal atau tuli konduktif Tipe II : Nada terputus dan terus menerus berimpit hanya sampai frekuensi 1000hz dan grafik kontinu makin kecil Tuli perseptif koklea Tipe III : Nada terputus dan terus menerus berpisah. Tuli persptif retrokoklea Tipe IV : Sama dengan tipe III Namun dengan amplitude lebih kecil Tuli perseptif retrokoklea Audiometri Impedans Audiometri impedans merupakan suatu pemeriksaan yang obyektif yang meliputi : (i) Timpanometri yaitu untuk mengetahui keadaan dalam kavum timpani baik adanya cairan, gangguan osikulasi, kekakuan membran timpani dan (ii) Penilaian reflex akustikus meliputi tuba reflex stapedius. 3,8
Gambar 22. Prinsip audiometri impedans. A. Osilator yang memproduksi bunyi 220 hz.B Pompa udara yang meningkatkan dan menurunkan tekanan udara C. Mikrofon yang merekam dan mengukur suara yang dipantulkan membran timpani3

Gambar 23. Hasil timpanometri. A Normal B Cairan di telinga tengah C. Gangguan fungsi tuba eustachius AD Gangguan rangkaian tulang pendengaran AS Kekakuan pada tulang pendengaran (otosklerosis)3,8

16

C. Tes Khusus Pendengaran Recruitment Rekruitmen adalah suatu fenomena, terjadi peningkatan sensitifitas pendengaran yang berlebihan di atas ambang dengar.8Kelainan ini tipikal pada tuli koklea dan merupakan indikator yang buruk untuk pemasangan alat bantu pendengaran. Alternate binaural loudness balance test digunakan untuk mendeteksi rekruitmen pada kasus unilateral. Sebuah nada, misalnya 1000 Hz diberikan bergantian pada telinga yang normal dan mengalami kelainan kemudian dilakukan perbandingan antara intensitas kedua yang diterima oleh kedua telinga. Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index) Tes ini khas untuk mengetahui adanya kelainan pada koklea, dengan menggunakan fenomena rekruitmen. Cara pemeriksaan yaitu ialah dengan menentukan ambang dengar pasien terlebih dahulu, misalnya 30 dB. Kemudian diberikan rangsangan 20 DB di atas ambang rangsang, jadi 50 DB. Setelah itu diberikan tambahan rangsang 5 DB, lalu diturunkan 4 DB, lalu 3 DB, 2 DB terakhir 1 DB. Bila pasien dapat membedakannya berarti tes SISI positif. Cara lain adalah tiap lima detik dinaikkan 1 dB sampai 20 kali. Kemudian dihitung berapa kali pasien dapat membedakan perbedaan itu. Bila 20 kali benar berarti 100%. Dikatakan rekruitmen positif jika skor 70-100%.3,8 Treshold Tone Decay Test Tes ini menilai kelelahan saraf dan digunakan untuk mendeteksi lesi retrokoklea. Normalnya seseorang dapat mendengar suara secara kontinu selama 60 detik.Pada kelemahan saraf, orang tersebut akan berhenti mendengar lebih awal. Ambang batas tes ini sangat simple dan dapat dilakukan oleh pemula. Evoked Response Audiometry Dikenal juga sebagai brainsteam evoked response audiometry atau BERA yaitusuatu pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi N VIII. Caranya dengan merekam potensial listrik yang dikeluarkan sel koklea selama menempuh perjalanan mulai telinga dalam hingga inti-inti tertentu di batang otak. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan elektroda permukaan yang dilekatkan pada kulit kepala atau dahi dan prosesus mastoid atau lobulus telinga. Cara pemeriksaan ini mudah, tidak invasive dan bersifat obyektif. Prinsip pemeriksaan BERA adalah menilai perubahan potensial listrik di otak setelah pemberian sensoris berupa bunyi. Rangsang bunyi yang diberikan melalui headphone akan menempuh
17

perjalanan melalui saraf VIII di koklea (Gel 1), nukleus koklearis (Gel II), nukleus olivarius superior (Gel III), Lemnikus lateralis (Gel IV), Kolikulus Inferior (Gel V) kemudian menuju ke korteks auditorik di lobus temporalis otak. Penilaian BERA 1. Masa laten absolut gel. I, III, dan IV 2. Beda masing-masing masa laten absolu 3. Beda masa laten absolut telinga kanan dan kiri (Interaural Latency) 4. Beda masa laten pada penurunan intensitas bunyi (Latency intensity function) 5. Rasio amplitude gelombang V/I, yaitu rasio antara nilai puncak gelombang V ke puncak gelombang V ke puncak gelombang I, yang akan meningkat dengan menurunnya intensitas8 BERA sangat bermanfaat pada keadaan yang tidak memungkinkan dilakukan pemeriksaan pendengaran biasa seperti pasien bayi, anak dengan gangguan tingkah laku, intelegensia rendah, malingering, atau ada kecurigaan tuli saraf retrokoklea.8 Otoacoustic Emission Pemeriksaan OAE dilakukan dengan cara memasukkan sumbat telinga pada kanalis auditorik eksternus. Dalam sumbat telinga tersebut terdapat mikrofon dan pengeras suara yang berfungsi memberikan stimulus suara. Mikrofon berfungsi menangkap suara yang dihasilkan koklea setelah pemberian stimulus. Sumbat telinga dihubungkan dengan komputer untuk mencatat respon yang timbul dari koklea

18