Anda di halaman 1dari 28

Makalah Keperawatan Medikal Bedah 2

Sistem Persepsi Sensori Telinga Vertigo

Dosen :

Lailatun Ni’mah, S.Kep.Ns., M.Kep.

Kelas A1 2016

Disusun Oleh :

Dita Fajrianti 131611133014

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

MARET, 2018
A. Anatomi dan Fisiologi Indra Pendengaran

Anatomi

Pendengaran merupakan indra mekanoreseptor karena memberikan respons terhadap getaran


mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. Telinga menerima gelombang suara,
diskriminasi frekuensinya dan penghantaran informasi dibawa ke susunan saraf pusat. Telinga
dapat dibagi menjadi tiga bagian :

1. Telinga Luar
a. Aurikula.
Seluruh permukaan diliputi kulit tipis dengan lapisan subkutis pada permukaan
anterolateral, ditemukan rambut kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.
b. Meatus Akustikus Eksterna.
Tabung berkelok-kelok yang terbentang antara aurikula dan membrane timpani,
berfungsi menghantarkan gelombang suara dari aurikula ke membrane timpani,
panjangnya kira-kira 2,5 cm.
2. Telinga Tengah (Kavum Timpani)
Adalah ruang berisi udara dalam pars peterosa ossis temporalis yang dilapisi oleh
membrane mukosa di dalamnya, terdapat tulang-tulang pendengar yang memisahkan
kavum timpani dari meningen dan lobus temporalis dalam fossa krani media.
a. Membran Timpani
Adalah membrane fibrosa.Tepinya menebal tertanam ke dalam alur sisi tulang
yang disebut sulkus timpani.Membran timpani sangat peka terhadap nyeri dan
permukaan luarnya disarafi oleh N. Auditorius.
b. Ossikula Auditus
Terdiri dari maleus, inkus, dan stapes. Maleus dan inkus berputar pada sumbu
anterior, posterior, dan berjalan melalui :
 Ligamentum yang menghubungkan prosesus anterior maleus dengan dinding
anterior kavum timpani
 Prosesus anterior maleus dengan prosesus breve inkudis
 Ligamentum yang menghubungkan prosesus breve inkudis dengan dinding
posterior kavum timpani
 Selama penghantaran getaran dari membrane timpani ke perilimf melalui
osikula.
c. Tuba Auditiva
Bagian ini meluas dari dinding anterior kavum timpani ke bawah, depan, dan
medial sampai ke nasofaring, 1/3 posterior terdiri dari tulang dan 2/3 anterior
tulang rawan.
d. Antrum Mastoideum
Bagian ini terletak di belakang kavum timpani dalam pars petrosa ossis
temporalis, bentuknya bundar garis tengah 1 cm.
e. Selulae Mastoidea
Prosesus mastoideus mulai berkembang pada tahun kedua kehidupan.Selulae
mastoid adalah suatu rongga yang bersambungan dalam prosesus mastoid.
3. Telinga Dalam (Labirinitus)
Suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum tulang temporalis. Di dalamnya
terdapat labirin membranosa, merupakan suatu rangkaian saluran dan rongga-
rongga.Labirin membranosa berisi cairan endolimf.
a. Labirinitus osseus
Terdiri dari vestibulum, semisirkularis, dan kokhlea.Ketiganya merupakan
rongga-rongga yang terletak dalam substansi tulang padat terstruktur dilapisi
endosteum dan berisi cairan bening (perilimf) yang terletak dalam labirinitus
mambranaseus.
 Vestibulum : Bagian pusat labirinitus osseus pada dinding lateral, terdapat
venestra vestibule yang ditutup oleh basis stapedis dan venestra kokhlea. Di
dalam vestibulum terdapat sakulus dan utrikulus labirinitus mambranaseus.
 Kanalis semisirkularis : Bermuara pada bagian posterior vestibulum. Ada 3
kanalis (superior, posterior, dan lateralis). Tiap kanalis melebar pada salah
satu ujungnya yang disebut ampula.
 Kokhlea : Bermuara pada bagian anterior vestibulum. Puncaknya menghadap
ke anterolateral dan basisnya ke posteromedial. Perilimf dalam skala vestibuli
dipisahkan dari kavum timpani oleh basis stapedis dan ligamentum anulare
pada venestra vestibuli.
Membran basilaris dibentuk oleh lapisan serat-serat kolagen.Permukaan bawah
yang menghadap skala timpani diliputi oleh jaringan ikat fibrosa yang
mengandung pembuluh darah.Membran vestibularis adalah suatu lembaran
jaringan ikat tipis meliputi permukaan atas vestibular.Pelapis rongga perilimf
yaitu jaringan epitel selapis gepeng yang terdiri dari sel mesenkim.Duktus
koklearis mengandung pigmen, bentuknya lebih tinggi dan tidak beraturan,
dibawahnya terdapat jaringan ikat yang banyak mengandung kapiler disebut stria
vaskularis, merupakan tempat sekresi endolimf, merupakan organ korti.

b. Labirinitus membranosus
Terdapat dalam labirinitus osseus.Struktur ini berisi endolimf dan dikelilingi oleh
perilimf, terdiri dari utrikulus dan sakulus yang terdapat dalam vestibulum, terdiri
dari duktus semisirkularis.Didalam kanalis sirkularis dan duktus kokhlearis
struktur ini saling berhubungan dengan bebas.

Fisiologi Pendengaran

Bagaimana telinga menerima gelombang suara, membedakan frekuensinya dan mengirim


informasi suara ke dalam system saraf pusat.Membrane timpani berbentuk kerucut, merupakan
tangkai dari maleus, terikat kuat pada inkus oleh ligamentum-ligamentum sehingga pada saat
maleus bergerak inkus ikut bergerak. Artikulasi inkus dengan stapes menyebabkan stapes
terdorong ke depan pada cairan kokhlea. Setiap saat maleus bergerak keluar sehingga
mencetuskan gerakan ke dalam dan keluar dari permukaan venestra ovalis.

Transmisi Suara Melalui Tulang

Oleh karena telinga dalam yaitu kokhlea tertanam pada kavitas (cekungan tulang) dalam os
temporalis yang disebut labirin tulang.Getaran seluruh tulang tengkorak dapat menyebabkan
getaran cairan pada kokhlea itu sendiri. Oleh karena itu pada kondisi yang memungkinkan garpu
tala atau penggetar elektronik diletakkan pada setiap protuberonsia tulang tengkorak dan
prosesus mastoideus akan menyebabkan mendengar getaran suara.

Organ korti adalah organ reseptor yang membangkitkan impuls saraf sebagai respons terhadap
getaran membrane basilaris. Terdapat dua tipe sel rambut (eksterna dan interna) yang merupakan
reseptor sensorik, sekitar 90% ujung-ujung ini berakhir di sel-sel rambut bagian dalam yang
memperkuat peran khusus sel untuk mendeteksi suara.

Gelombang Suara

Telinga mentransduksi (mengubah dasar genetic energy) energy gelombang suara ke bentuk
impuls saraf yang dihantarkan ke system pusat pendengaran tempat suara diterjemahkan.Suara
dihasilkan oleh benda yang bergetar dalam medium fisik (udara, air, dan benda padat).Suara
tidak dapat melalui ruang hampa.Suara mempunyai amplitude dan frekuensi.Mengukur energy
suara adalah mengukur puncak amplitudonya.

Kerasnya suara dinyatakan dalam satuan logaritma (dB).Gelombang suara frekuensinya 1-


100.000 Hz. Suara pria dewasa 120-1.000 Hz, perempuan dewasa 250-1.000 Hz. Perbedaan ini
terjadi karena perbedaan kotak suara di laring tebal tipisnya pita suara.Kualitas suara dinyatakan
dengan timber ini membedakan suara bunyi-bunyian seperti suara suling berbeda dengan suara
biola.

Telinga mengubah gelombang suara dari dunia luar menjadi potensial aksi dalam nervus
kokhlearis.Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengar menjadi
gerakan papan kaki stapes.Gerakan ini menimbulkan potensial aksi pada serabut-serabut saraf.

1. Refleks Gendang. Apabila otot telinga tengah (M. tensor timpani dan M. stapedius)
berkontraksi menarik manubrium maleolus ke dalam dan papan kaki stapes keluar. Suara
yang keras menimbulkan refleks kontraksi otot dinamakan refleks gendang. Refleks ini
melindungi dan mencegah gelombang suara yang keras, menyebabkan perangsangan
yang berlebihan pada reseptor pendengar. Akan tetapi waktu reaksi untuk refleks adalah
40-160 ms, sehingga refleks tidak melindungi terhadap rangsangan yang sangat singkat
seperti suara tembakan.
2. Penghantaran tulang dan udara :
a. Penghantaran gelombang suara ke cairan telinga dalam melalui membrane timpani
dan tulang-tulang pendengar yang dinamakan penghantaran tulang telinga tengah.
b. Gelombang suara menimbulkan getaran pada membrane timpani sekunder yang
menutup jendela bundar (penghantaran udara)
c. Jenis penghantaran yang ketiga penghatan tulang tranmisi getaran dari tulang-tulang
tengkorak ke cairan telinga dalam.
3. Gelombang jalan. Papan kaki stapes menimbulkan serangkaian gelombang jalan pada
perilimf dalam skala vestibula. Suara nada rendah menimbulkan gelombang yang
memuncak dekat dengan apeks dinding tulang dari skala vestibuli.

Pendesakan cairan dalam skala timpani dilepaskan ke dalam udara pada foramen rotundum.
Suara akan menimbulkan distorsi ini maksimum ditentukan oleh frekuensi gelombang suara.
Ujung-ujung sel rambut pada organ korti dipertahankan kaku oleh lamina retikularis dan
rambut-rambutnya terbenam dalam membrane tektoria. Apabila membrane basilaris ditekan,
gerakan relative dari membrane tektoria lamina retikularis akan membengkokkan rambut-
rambut. Pembengkokan ini menimbulkan potensial aksi pada saraf pendengar.

Kemampuan Dengar

Telinga manusia dapat mendengar frekuensi 20-20.000 Hz. Kekerasan suara ditentukan oleh
system pendengaran sekurang-kurangnya melalui tiga cara :

1. Ketika suara menjadi keras, amplitudo getaran membrane basilaris dan sel rambut juga
meningkat sehingga sel-sel rambut mengeksitasi ujung saraf dengan lebih cepat.
2. Ketika getaran amplitude meningkat, peningkatan ini menyebabkan semakin banyaknya
sel rambut di atas lingkaran tepi bagian membrane basilaris menjadi terangsang bukan
melalui serat saraf.
3. Sel rambut sebelah luar tidak terangsang secara bermakna sampai getaran basilaris
mencapai intensitas yang tinggi kemudian stimulasi sel-sel ini menggambarkan bahwa
suara itu sangat keras.

Ketahan pendengaran lazim diukur dengan suatu audiometer.Alat ini menampilkan subjek
dengan nada murni dari berbagai frekuensi melalui alat dengar.Pada tiap frekuensi intensitas
ambang ditentukan dan digambarkan pada grafik sebagai suatu persentase pendengaran
normal, yang memberi ukuran objektif tentang derajat ketulian dan gambaran tentang nada
yang paling terkena.

Pusat Pendengaran
Frekuensi potensial aksi dalam serabut saraf pendengar tunggal sebanding dengan kekerasan
bunyi.Pada intensitas bunyi yang rendah tiap akson melepaskan listrik terhadap bunyi.Hanya
satu frekuensi dan frekuensi ini bervariasi dari akson ke akson bergantung pada bagian kokhlea
tempat asal serabut.

Pada intensitas bunyi yang lebih tinggi akson sendiri melepaskan listrik terhadap spectrum
frekuensi bunyi yang lebih lebar.Penentuan tinggi nada yang diterima bila suatu gelombang
bunyi membentur telingan merupakan tempat di dalam korti yang dirangsang maksimum.Bila
frekuensi cukup rendah maka serabut saraf mulai berespon dengan suatu impuls terhadap tiap
siklus gelombang bunyi.

Pusat pendengaran di otak jarasnya sangat rumit dan belum banyak diketahui. Neuron auditorik
primer mempunyai badan sel di ganglia spiral, berlokasi di kokhlea. Akson sentral dari neuron
bipolar ini setelah keluar dari kokhlea bergantung dengan serabut dari organ vestibule untuk
membentuk saraf VIII (nervus auditorius) masuk ke medulla.

1. Korteks auditorik : dari thalamus serabut diprojeksikan ke korteks auditorik primer pada
lobus temporal yang sebagian besar tersembunyi di dasar girus silvii.
2. Area korteks auditorik : otak mampu menganalisis berbagai intensitas suara dan
memberikan arti tentang stimuli pendengaran dengan mengintegrasikan impuls yang
diterima melalui asosiasi korteks lain (visual dan somatic).
3. Korteks asosiasi auditorik: Dari korteks auditorik primer projeksi serabut ditujukan ke
area asosiasi auditorik untuk dilakukan analisis dan integrasi dengan data dari pusat
korteks lain. Setiap bunyi, kata, dan suara dihubungkan dengan pusat bahasa.

Lokalisasi Bunyi

Penentuan arah bunyi berasal dari deteksi perbedaan dalam waktu antara tibanya rangsangan
pada dua telinga. Perbedaan waktu merupakan faktor penting pada frekuensi 3.000 Hz dan
perbedaan kekerasan terpenting pada frekuensi di atas 3.000 Hz. Banyak neuron dalam korteks
auditorius menerima masukan dari kedua telinga dan berespon maksimum atau minimum bila
saat suatu rangsangan pada satu telinga dilambatkan oleh massa tetap relative terhadap waktu
tibanya pada telinga yang lain.
Keseimbangan

Berdiri, bergerak, dan banyak posisi tubuh yang melawan gaya gravitasi bumi. Untuk dapat
mempertahankan posisi tertentu, gaya gravitasi harus dilawan melalui mekanisme motorik dan
sensorik organ proprioseptif di sendi dan aparatus vestibularis di telinga dalam. Aparatus
vestibule mendeteksi perubahan sinyal untuk mengaktifkan respons motor adaptif yang
diperlukan dalam mempertahankan keseimbangan. Aparatus vestibularis mempunyai dua
komponen yaitu kanalis semisirkularis dan utrikulus-sakulus. Kerusakan pada utrikulus-sakulus

membuat keseimbangan hilang pada posisi badan atas-bawah.

Sakulus (kantung kecil) dan utrikus (tas kecil) adalah tonjolan kecil pada dinding telinga dalam
masing-masing berisi makula (organ makula). Jika kepala bergerak (percepatan) linier ke jurusan
manapun, makula bergerak bersamanya, tetapi otolit lebih pekat dari cairan di sekitarnya,
sehingga stereosilia mengalami distorsi (penyimpangan bayangan), dan menghasilkan potensial
reseptor dalam sel rambut.Potensial ini secara sinaptik memicu aksi potensial serabut saraf
vestibular yang kemudian dikirim ke otak.

Kanalis semisirkularis dari apparatus vestibuli berperan dalam gerak rotasi. Tiga kanal yang
berisi cairan terletak tegak satu sama lain. Di setiap ujung masing-masing kanal terdapat organ
indra transduksi mekanoelektrik yang disebut ampula. Seperti macula, setiap ampula berisi sel
rambut dengan struktur silia yang sama. Silia dikelilingi lapisan gelatin yang disebut
kupula.Kupula menyilang lumen kanal ke dinding kanal lainnya.

Akselerasi rotasi gerakan kepala menggerakkan kanalis semisirkularis, mengubah pelekatan


kupula ke jurusan sama, tetapi cairan endolimf tertinggal. Oleh karena inersia, perbedaan
gerakan cairan akan mendistorsi stereosilia, membuat potensial reseptor dalam sel rambut.
Potensial reseptor memicu serabut saraf vestibular.Potensial aksi (impuls saraf) memberikan
informasi pusat vestibular otak tentang gerak rotasi tertentu.
B. Penatalaksaan Umum Gangguan Sistem Persepsi Sensorik
1. Pembedahan unuk pasien dengan gangguan pada telinga bagian tengah.
2. Untuk mengetahui jenis, derajat dan konfigurasigangguan pendengaran dapat dilakukan
pemeriksaan audiometri nada murni.
3. Dilakukan pemeriksaan timpanometri untukmengetahui keadaan telinga tengah, serta
audiometri tutur (speech audiometry).
4. Deteksi gangguan pendengaran pada bayi dapat dilakukan mulai usia 2 hari, dengan OAE
(Oto Acoustic Emission) dan atau BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry)
otomatis, kedua pemeriksaan ini bersifat noninvasif dan dapat memberikan gambaran
keadaan koklea pada pemeriksaan OAE dan keadaan sampai inti-inti syaraf pendengaran
di batang otak pada pemeriksaan BERA.
5. habilitasi pendengaran berupa alat bantu dengar diberikan dan disertai terapi wicara yang
efektif sebelum bayi berumur 6 bulan.
6. Dilakukan pemeriksaan timpanometri untuk mengetahui keadaan telinga tengah, serta
audiometri tutur (speech audiometry) untuk gangguan pada orang dewasa.

7. Terapi Barbeceau Manuver Pada Penyakit Vertigo


Pasien diminta untuk berputar 360˚ dalam posisi tidur, dimulai dengan telinga yang sakit
diposisi bawah, berputar 90˚ sampai satu putaran lengkap (360˚).Setiap posisi
dipertahankan selama 30 detik. Manuver ini akan menggerakkan otokonia keluar dari
kanal menuju utrikulus kembali.

8. Terapi Log Roll maneuverPada Penyakit Vertigo


Pasien berputar 270˚ dalam posisi tidur miring ke sisi telinga yang sakit, berputar 90˚ tiap
satu menit menuju ke telinga yang sehat dengan total putaran 270˚

9. Terapi Gufoni Maneuver Pada Penyakit Vertigo


Pasien duduk dengan kepala menghadap lurus ke depan dan direbahkan dengan cepat ke
arah sisi lesi, posisi ini dipertahankan selama satu menit setelah nistagmus apogeotropik
berakhir. Dalam posisi rebah, kepala pasien diputar 45˚ ke depan (hidung ke atas), posisi
ini dipertahankan selam dua menit. Pasien kembali ke posisi semula. Terapi ini
diharapkan mampu mengkonversi nistagmus apogeotropik menjadi nistagmus geotropik
10. Terapi Forced Prolonged Position Maneuver Pada Penyakit Vertigo
Pasien diminta untuk tidur miring dengan telinga yang sakit berada di posisi atas selama
12 jam.Posisi ini diharapkan mampu melepaskan otokonia yang melekat pada kupula,
dan memasukkan otokonia ke utrikulus kembali dengan bantuan gravitasi.

11. Terapi Barbecue maneuver Pada Penyakit Vertigo


adalah manuver terapi yang paling banyak digunakan para klinisi untuk BPPV kanalis
horizontal tipe kanalolithiasis maupun kupulolithiasis, namun sampai saat ini belum
ditemukan laporan yang membandingkan efektifitas masing-masing teknik.

C. Analisis Kasus

Salah satu penyakit telinga adalah vertigo. Pasien vertigo biasanya datang ke klinik dengan
keluhan rasa pusing berputar mual dan muntah disertai keringat dingin. Rasa berputar
berlangsung sekitar 1 - 2 menit dan hilang dengan sendirinya. Intensitas serangan makin lama
makin berkurang, hilang timbul, muncul jika pasien berubah posisi, terutama jika pasien tidur
miring ke kiri.

C.1 Definisi Vertigo

Menurut kamus bahasa Indonesia, vertigo diterjemahkan sebagai pusing.Pusing berbeda dengan
nyeri kepala (headache).Pusing dalam bahasa Inggris adalah dizziness atau giddiness, yakni
sensasi berputar atau seperti hilang keseimbangan yang terasa di kepala.

Vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat
disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh
(Tarwoto, dkk. 2007).Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan
penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau
bergerak naik turun dihadapannya.Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah,
berkeringat, dan kolaps.Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-
gejala penyakit telinga lainnya (Manjoer, Arif, dkk. 2002)

Vertigo bukanlah suatu diagnosa penyakit, melainkan kumpulan gejala yang sifatnya subyektif
dan obyektif.Vertigo tidak selalu disebabkan oleh penyakit yang berbahaya, namun seringkali
vertigo berlangsung untuk jangka waktu lama dan mengganggu kualitas hidup orang yang
mengalaminya.

C.2 Klasifikasi Vertigo

Vertigo diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan saluran vestibular yang mengalami
kerusakan, yaitu vertigo peripheral dan vertigo sentral. Saluran vestibular adalah salahsatu organ
bagian dalam telinga yang senantiasa mengirimkan informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk
menjaga keseimbangan. Vertigo peripheral terjadi jika terdapat gangguan disaluran yang disebut
kanalis semisirkularis, yaitu telinga bagian tengah yang bertuga smengontrol keseimbangan
(Israr, Y.A. 2008).

Vertigo dapat berasal dari kelainan di sentral (batang otak, serebelum atau otak kecil) atau di
perifer (telinga dalam, atau saraf vestibular). Kita perlu membedakan kedua jenis vertigo ini,
karena terapi dan prognosisnya dapat berbeda (Lumbantobing, 1996).

C.3 Etiologi

Penyebab utama terjadinya vertigo adalah gangguan keseimbangan.Di tubuh kita, keseimbangan
diatur di beberapa tempat.Sistem ini ada yang terletak di perifer (tepi) dan ada yang terletak
sentral (pusat).Segala penyakit yang memengaruhi sistem keseimbangan, baik perifer maupun
sentral, dapat menyebabkan vertigo.

Sistem keseimbangan perifer berada di telinga, saraf tepi, dan batang otak.Sementara sistem
keseimbangan sentral diatur di otak.Segala bentuk infeksi, perdarahan, atau tumor dapat
mengganggu jalannya sistem keseimbangan.Selain kedua tempat di atas, mata dan anggota gerak
(otot dan persendian) juga membantu menjaga keseimbangan, sehingga gangguan pada bagian
ini juga bisa menyebabkan vertigo.

Vertigo bisa sebagai akibat dari lesi di lokasi yang beragam seperti telinga bagian dalam,
reseptor peregangan paravertebral dalam leher, visual/ vestibular pusat interaksi di batang otak
kecil, dan dijalur sensasi subjektif dari thalamus atau cortex.Lokasi lesi didefinisikan oleh
identifikasi gejala yang berhubungan.Selain vertigo, lesi labirin atau saraf ke VIII (lesi perifer)
biasanya menghasilkan gejala pendengaran seperti kehilangan pendengaran, tinnitus, sensasi
tekanan penuh pada telinga, atau nyeri di telinga.
C.4 Manifestasi Klinis

Menurut Black, Joyce M. And Hawks, Jane Hokanson, 2014 manifestasi klinis vertigo yaitu :

 Rasa berputar, baik tubuh ataupun lingkungan


 Perasaan melayang
 Disorientasi
 Condong ke satu arah saat berjalan
 Telinga berdenging
 Mual
 Muntah
 Keringat dingin
 Pucat
 Penglihatan kabur
 Kelemahan
 Kehilangan tenaga
 Ataksia
 Merasa bingung
 Sensasi jatuh

C.5 Penatalaksanaan Vertigo

Menurut Akbar Muhammad, 2013 :

1. Uji Romberg
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka
kemudian tertutup.Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik.Harus dipastikan
bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik
cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan
penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata
terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita
akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun tertutup.
2. Tandem Gait
Penderita berjalan dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri
bergantian.Pada kelainan vestibuler, perjalanannya akan menyimpang dan pada kelainan
serebeler penderita akan cenderung jatuh.
3. Uji Anterberger
Berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal ke depan dan jalan di tempat dengan
mengangkat lutut setinggi mungkin selama 1 menit. Pada kelainan vestibuler posisi
penderita akan menyimpang/berputar kea rah lesi dengan gerakan seperti orang melempar
cakra: kepala dan badan berputar kea rah lesi, kedua lengan bergerak kearah lesi.
4. Fast-pointing test
Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus kedepan penderita disuruh mengangkat
lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan
pemeriksa.Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada
kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita kea rah lesi.
5. Uji babinsky-weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima
langkah ke belakang selama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral,
pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.
6. Uji Dix Hallpike
Perhatikan adanya nigtagmus, lakukan uji ini ke kanan dan ke kiri. Dari posisi duduk di
atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya
menggantung 45⁰ di bawah garis horizontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45⁰ ke
kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan
uji ini dapat dibedakan apakah lesi perifer atau sentral.
7. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30⁰, sehingga kanalis semisirkularis lateralis
dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30⁰C) dan air
hangat (44⁰C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Dengan
tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau
ke kanan.
8. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk merekam gerakan
mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara
kuantitatif.
9. Tes Garpu Tala
Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif, dengan tes Rinne,
weber dan schwabach.
10. Audiometri
Ada beberapa macam pemeriksaan audiometric seperti Ludness Balance test, Bekesy
Audiometry, tone decay.
C.6 WOC Vertigo
Etiologi

1. ganguan keseimbangan
2. Lesi di lokasi yang beragam
seperti telinga bagian dalam
3. Reseptor peregangan paravertebral
dalam leher
4. visual/vestibular pusat interaksi di
batang otak dan dijalur sensasi
subjektif dari thalamus
5. Lesi labirin/saraf ke VIII (lesi
perifer)

Motion Infeksi telinga dalam


Meniere

Atrofi stria Gerakan berulang Rangsangan


vaskularis dirasakan oleh otak gerakan aneh
melalui neuron optikus,
neuron vestibularis,
malabsorbsi neuron Telinga berdenging
spinovestibuloserebralis

Keabnormal
an volume Pengolahan
Otak tidak bisa
cairan informasi
mengkoordinasikan ke-3
terganggu
input

Pembengka
kan
Konflik dalam
koordinasi ke-3

Sistem keseimbangan
tubuh terganggu
Sensasi seperti
bergerak dan
berputar

Vertigo

Gangguan di Ataksia Ketidak cocokan


SSP informasi aferen
yang disampaikan
ke pusat kesadaran
Spasme Pucat

MK. Ansietas Respon


Nyeri sakit
kepala b.d ancaman penyesuaian otot
status terkini tidak adekuat

Disorientasi
Condong kesatu
arah saat berjalan

Kesadaran
menurun

MK. Hambatan
berjalan b.d
MK. gangguan
Resiko keseimbangan
Jatuh b.d
gangguan
mendengar
C.7 Asuhan Keperawatan

Pengkajian

1. Identitas Klien
 Nama :
 Tempat, tanggal lahir :
 Umur :
 Jenis Kelamin :
 Agama :
 Suku/Bangsa :
 Pekerjaan :
 Alamat :
 Status Pernikahan :
2. Keluhan Utama
Alasan klien datang untuk meminta pertolongan kesehatan. Klien vertigo datang dengan
keluhan pusing seperti berputar.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengembangan dari keluhan utama dan data dengan menggunakan pendekatan PQRST
 P : Klien vertigo sering mengeluh pusing bila banyak bergerak dan
berkurang saat istirahat.
 Q : Klien vertigo pusing yang dirasakan seperti berputar.
 R : Klien vertigo sakit yang dirasakan pada daerah kepala.
 S :Pusing yang dirasakan dengan skala nyeri (0-5)
 T : Keluhan yang dirasakan klien hilang muncul.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan mengenai penyakit yang pernah diderita baik yang
berhubungan dengan sistem persarafan, sistem pendengaran, maupun penyakit lainnya.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji adanya anggota keluarga yang pernah maupun sedang menderita vertigo atau
penyakit degenerative lainnya.
6. Pemeriksaan Fisik
Mengkaji tingkat kesadaran klien. Klien dengan vertigo sering mengalami penurun
kesadaran dan tampak lemas.
 B1 (Breathing) : pada umumnya klien vertigo mengalami sesak napas karena
terjadi penyumbatan trakeobrakial akibat secret, irama pernapasan tidak teratur,
frekuensi pernapasan cepat dan dangkal.
 B2 ( Blood) : Adanya penurun tekanan darah kecuali klien yang mengalami
peningkatan penekanan intrakranial maka tekanan darah akan meningkat
 B3 (Brain) : Mengkaji tingkat kesadaran klien mengenai orang, waktu, dan
tempat, perubahan tanda-tanda vital, dan kemampuan klien mengingat kejadian
sebelum dan sesudah sadar. Sering ditemukan klien vertigo mengalami gangguan
kesadaran seperti linglung dan tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuh.
 B4 (Bladder) : Pada klien vertigo dapat mengalami gangguan eliminasi akibat
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
 B5 (Bowel) : Pada klien vertigo akan mengalami gangguan pola makan yang
diakibatkan rasa nyeri kepala atau pusing.
 B6 (Bone) : Pada klien vertigo ditemukan gangguan fungsi motorik yang dapat
berakibat terjadinya mobilisasi, pusing atau kerusakan pada motor neuron yang
mengakibatkan perubahan pada kekuatan otot dan gerak refleks.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin.
b. Pemeriksaan rongent tengkorak, leher, stenver.
c. Neurofisiologi Elektroensefalografi (EEG), Elektromiografi (EMG), Brainstem
Auditory Evoked Potencial (BAEP).
d. CT-scan, arteriografi, MRI.

Diagnosa Keperawatan

1 Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan mendengar (00155)


2 Ansietas berhubungan dengan ancaman status terkini (00146)
3 Hambatan berjalan berhubungan dengan gangguan keseimbangan (00088)
Intervensi

Risiko jatuh berhubungan dengan gangguan mendengar (00155)


Definisi: Rentan terhadap peningkatan risiko jatuh yang dapat menyebabkan bahaya fisik dan
gangguan kesehatan.
Domain. 11 Keamanan/Perlindungan
Kelas. 2 Cedera Fisik

Tujuan yang Ingin Dicapai Intervensi Rasional

Dalam 1 × 24 jam, klien Peningkatan mekanika


diharapkan dapat tubuh (0140)
mengurangi tingkat risiko  Mengkaji komitmen  Mengetahui kemauan
jatuh dengan kriteria hasil: pasien untuk belajar pasien dalam
Kejadian Jatuh (1912) dan menggunakan melakukan latihan
 Pasien tidak terjatuh postur [tubuh] yang
saat berdiri benar
 Pasien tidak terjatuh  Berkolaborasi  Intervensi dari
saat berjalan dengan fisioterapis program pengobatan
Pengetahuan : Pencegahan dalam dapat dicapai secara
Jatuh (1828) mengembangkan opimal
 Linkungan pasien peningkatan
menggunakan mekanika tubuh,
pencahayaan yang sesuai indikasi.
benar  Memonitor  Mengkaji keberhasilan
 Pasien dapat perbaikan postur dari proram
mengikuti latihan [tubuh]/mekanika pengobatan yang
untuk mengurangi tubuh pasien diberikan kepada klien
risiko jatuh Peningkatan komunikasi:
Kemampuan Berpindah kurang pendengaran
(0210) (4974)
 Pasien dapat  Melakukan atau  Mengetahui tingkat
berpindah dari mengattur pendengaran klien
tempat tidur ke kursi pengkajian dan sebagai upaya untuk
 Pasien dapat skrining rutin terkait menentukan intervensi
berpindah dari dengan fungsi yang tepat
tempat kursi ke kursi pendengaran
 Mengintruksikan  Memberikan
pasien untuk tidak pengetahuan kepada
menggunakan benda klien, mengenai hal
asing yang lebih yang dapat
kecil dari ujung jari membahayakan dan
pasien (misalnya., merugikan bagi
ujung aplikator pendengaran klien
kapas, penjepit,
tusuk gigi, dan benda
tajam lainnya) untuk
menghilangkan  Menghargai, menjaga
serumen perasaan dan
 Menahan diri untuk membuat klien merasa
berteriak pada pasien nyaman
 Menggunakan suara  Menghargai, menjaga
yang rendah dan perasaan dan
lebih dalam ketika membuat klien merasa
berbicara nyaman
Peningkatan tidur (1850)
 Menentukan pola  Mengetahui pola
tidur/aktivitas pasien kebiasaan dari
 Menyesuaikan aktivitas klien
lingkungan  Membuat lingkungan
(misalnya, cahaya, yang nyaman, supaya
kebisingan, suhu, klien dapat tidur
kasur, dan tempat secara opimal
tidur) untuk
meningkatkan tidur
 Membantu untuk  Klien dapat
menghilangkan beristirahat secara
stress. optimal

Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini (00146)


Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons otonom
(sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu; perasaan takut yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak
menghadapi ancaman
Domain. 9 Koping/Toleransi Stres
Kelas. 2 Respons Koping

Tujuan yang Ingin Dicapai Intervensi Rasional

Dalam 1 × 24 jam, klien Teknik menenangkan


diharapkan dapat (5880)  Pasien tidak
mengurangi tingkat  Mempertahankan berpikiran negative
kecemasan dengan kriteria sikap yang tenang dengan kondisi yang
hasil: dan hati-hati terjadi saat ini.
Tingkat kecemasan (1211)  Mengurangi stimuli  Pasien merasakan
 Pasien dapat yang menciptakan tenang dan tidak
beristirahat dengan perasaan takut dan berpikiran negative
nyaman cemas yang membuat pasien
 Pasien tidak merasa  Duduk dan bicara semakin cemas.
gelisah dengan klien  Pasien merasakan
 Pasien tidak  Mengidentifikasi aman, nyaman, dan
merasakan pusing orang-orang terdekat melupakan
Tidur (0004) klien yang bisa masalahnya.
 Jam tidur pasien membantu klien  Orang terdekat akan
terpenuhi  Menginstruksikan membantu
 Kualitas tidur pasien klien untuk menenangkan pasien
tidak terganggu menggunakan dan membuat pasien
 Perasaan segar metode mengurangi merasakan
setelah tidur kecemasan ketenangan.
Status Kenyamanan (2008) (misalnya, teknik  Mengurangi
 Kesejahteraan fisik bernapas dalam, kecemasan yang
tercapai distraksi, visualisasi, dialami oleh pasien

 Dapat mengontrol meditasi, relaksasi dan pasien merasakan

terhadap gejala otot progresif, rileks.

 Mendapatkan mendengarkan music

dukungan sosial dari music lembut), jika

keluarga diperlukan
Peresepan Obat (2390)
 Mengevaluasi tanda  Pasien bisa
dan gejala dari beristirahat dengan
masalah kesehatan nyaman tanpa harus
saat ini memikirkan masalah
 Mengkaji riwayat yang sedang terjadi.
kesehatan dan  Mengetahui apakah
penggunaan obat- pasien mempunyai
obatan alergi terhadap obat.
 Mengajarkan pasien  Obat bekerja dengan
dan/atau keluarga efektif
metode pemberian
obat sesuai
kebutuhan  Mengetahui apakah
 Memonitor efek ada perkembangan
terapeutik dan efek kesehatan setelah
samping dari obat diberikan obat dan
yang diberikan, untuk menentukan
sesuai kebutuhan. tindakan selanjutnya.
Monitor Tanda-Tanda
Vital (6680)
 Memonitor tekanan  Mengetahui keadaan
darah, nadi, suhu, pasien pada saat ini
dan status
pernapasan dengan
tepat
 Memonitor tekanan  Mengetahui keadaan
darah setelah pasien pasien pada saat ini
minum obat jika dan untuk evaluasi
memungkinkan pemberian obat.
 Mengidentifikasi  Untuk mencegah
kemungkinan terjadinya komplikasi
penyebab perubahan
tanda-tanda vital.

Hambatan berjalan berhubungan dengan gangguan keseimbangan (00088)


Definisi : Keterbatasan pergerakan mandiri di dalam lingkungan menggunakan kaki
Domain. 4 Aktivitas/Olahraga
Kelas. 2 Aktivitas/Olahraga
Tujuan yang Ingin Dicapai Intervensi Rasional

Dalam 3 x 24 jam, klien Peningkatan Latihan :


diharapkan dapat berjalan Latihan kekuatan (0201)
dengan mandiri tanpa  Melakukan skrining  Mengetahui tingkat
bantuan dari orang lain kesehatan sebelum kesiapan tubuh pasien
dengan criteria hasil : memulai latihan dan mencegah
Keseimbangan (0202) untuk terjadinya risiko jatuh.
 Pasien dapat mengidentenfikasi
mempertahankan risiko dengan
keseimbangan dari menggunakan skala
posisi duduk ke kesiapan latihan fisik
posisi berdiri. terstandar atau
 Pasien dapat melengkapi
mempertahankan pemeriksaan riwayat
keseimbangan ketika kesehatan dan fisik.
berdiri  Membantu pasien  Pasien lebih percaya
 Pasien dapat dalam diri terhadap
mempertahankan mengekspresikan kemampuannya dan
keseimbangan ketika nilai, kepercayaan lebih bersemangat
berjalan dan tujuannya dalam dalam melakukan
Perilaku pencegahan jatuh melakukan latihan latihan.
(1828) otot dan kesehatan.  Meminimalkan risiko
 Keluarga pasien  Membantu yang akan terjadi saat
menempatkan mengembangkan latihan
penghalang untuk cara untuk
mencegah jatuh meminimalkan efek
 Pasien dapat prosedur, emosi,
menggunakan alat tingkah laku,
bantu yang benar financial, atau
 Pasien dapat hambatan
menyesuaikan kenyamanan
ketinggian tempat terhadap latihan
tidur sesuai yang kekuatan otot.  Mengetahui
diperlukan  Menggunakan jadwal perkembangan pasien
 Pasien dapat tindak lanjut untuk dari kondisi
mengontrol meningkatkan sebelumnya.
ketidakmampuan motivasi, membantu
beristirahat pemecahan masalah
Tingkat Nyeri (2102) dan memonitor
 Pasien dapat perkembangan.
melaporkan bahwa Manajemen Nyeri (1400)  Mengetahui riwayat
nyeri sudah  Mengevaluasi nyeri pada pasien
berkurang pengalaman nyeri di untuk dilakukan
 Panjangnya episode masa lalu yang tindakan lebih lanjut
nyeri sudah meliputi riwayat untuk mengurangi
berkurang nyeri kronik individu nyeri pada pasien.
 Pasien tidak atau keluarga atau
mengeluarkan nyeri yang
keringat menyebabkan
disability/
ketidakmampuan
/kecacatan, dengan  Dapat mengetahui dan
tepat. melakukan tindakan
 Mengurangi atau selanjutnya sesuai
eliminasi faktor- indikasi
faktor yang dapat
mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
(misalnya.,
ketakutan, kelelahan,
keadaan monoton,
dan kurang  Mengurangi nyeri
pengetahuan) yang dirasakan oleh
 Memilih dan pasien
mengimplementasika
n tindakan yang
beragam (misalnya.,
farmakologi,
nonfarmakologi,
interpersonal) untuk
memfasilitasi
penurunan nyeri,  Mengetahui nyeri yang
sesuai kebutuhan dirasakan oleh pasien
 Mendorong pasien berkurang atau tidak,
untuk memonitor sehingga dapat
nyeri dan menangani melakukan tindakan
nyerinya dengan selanjutnya.
tepat  Pasien vertigo
 Mendukung dianjurkan untuk
istirahat/tidur yang banyak istirahat untuk
adekuat untuk mempercepat proses
membantu penurunan penyembuhan.
nyeri.
Manajemen Obat (2380)  Obat yang sesuai
 Menentukan obat apa untuk mempercepat
yang diperlukan, dan proses penyembuhan
kelola menurut resep pasien.
dan/atau protokol
 Mengetahui apakah
 Memonitor
obat bekerja dengan
efektivitas cara
baik atau tidak
pemberian obat yang
sesuai
 Memonitor efek  Mengetahui apakah
samping obat ada efek samping dari
obat yang dapat
memperburuk keadaan
pasien
DAFTAR PUSTAKA

1. Setiawati, M., & Susianti, S. (2016). Diagnosis dan Tatalaksana Vertigo. Jurnal
Majority, 5(4), 91-95. (Diakses pada, tanggal 12 maret 2018. Melalui :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/891 )
2. Threenesia, A., & Iyos, R. N. (2016). Benign Paroxysmal Positional Vertigo
(BPPV). Jurnal Majority, 5(5), 108-112. (Diakses pada, tanggal 12 maret 2018. Melalui :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/933 )
3. Ari Wiranita, H. (2010). Hubungan Antara Otitis Media Supuratif Kronis dengan
terjadinya vertigo di rsud dr. Moewardi surakarta(Doctoral dissertation, Universitas
Sebelas Maret). (Diakses pada, tanggal 12 maret 2018. Melalui :
http://eprints.uns.ac.id/3459/1/174730501201111381.pdf )
4. Edward, Y., & Roza, Y. (2014). Diagnosis dan Tatalaksana Benign Paroxysmal
Positional Vertigo (BPPV) Horizontal Berdasarkan Head Roll Test. Jurnal Kesehatan
Andalas, 3(1). (Diakses pada, tanggal 12 maret 2018. Melalui :
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/31 )
5. Syaifuddin, & haji. (2011). Anatomi Fisiologi:Kurikulum berbasis kompetensi untuk
keperawatan dan kebidanan, Ed.4. Jakarta: EGC.
6. Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochteran, J. M., & Wagner, C. (2013). Nursing
Intervention Classification (NIC) 6th Edition. Oxford: Mosby Elsevier.
7. Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classifications (NOC) 5th Edition. Oxford: Mosby Elsevier.
8. Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2014). NANDA International Nursing Diagnoses
Definitions and Classifications 10th Edition. Oxford: Wiley Blackwell.