Anda di halaman 1dari 10

Distribusi pangan Dalam UU No.

7/1996 tentang Pangan disebutkan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dalam jumlah, mutu, aman, merata, dan terjangkau. Dengan demikian, ketahanan pangan dihasilkan oleh suatu system ketahanan pangan yang terdiri tiga subsistem, yaitu: (1) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh masyarakat, (2) distribusi pangan yang lancer dan merata, dan (3) keterjangkauan pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi dan kaidah kesehatan. Permasalahan dalam mencapai ketahanan pangan adalah ketidak seimbangan antara ketersediaan dengan keterjangkauan. Distribusi adalah penyampaian aliran barang dari produsen ke konsumen atau semua usaha yang mencakup kegiatan arus barang dan jasa sampai ditangan konsumen (Limbong dan Sitorus, 1995).Distribusi pangan adalah tersedianya pangan dan pasokan pangan secara merata sepanjang waktu baik jumlah, mutu, aman dan keragamannya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Distribusi pangan merupakan salah satu subsistem ketahanan pangan yang peranannya sangat strategis, apabila tidak dapat terselenggara secara baik dan lancar, bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat tidak akan terpenuhi. Distribusi pangan ini diharapkan dapat terlaksana secara efektif, efisien dan merata di setiap lokasi berlangsungnya transaksi bahan pangan kebutuhan masyarakat. Masalah pangan adalah keadaan kelebihan pangan, kekurangan pangan dan/atau ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan. Masih adanya penduduk miskin, daerah rawan pangan, produksi pangan dihasilkan tidak merata antar wilayah dan sepanjang waktu, potensi SDA yang berbeda di masing-masing daerah akan berpengaruh terhadap distribusi dan pasokan bahan pangan. Kondisi ini, pada akhirnya akses pangan bagi setiap individu rumah tangga akan semakin menjadi rendah apabila ketersediaan pangan setempat terbatas, pasar tidak tersedia, transportasi terbatas, pendapatan rendah, pendidikan terbatas, pengangguran tinggi, budaya setempat belum memadai. Oleh sebab itu, peranan distribusi pangan yang terjangkau dan merata sepanjang waktu kiranya akan berpengaruh terhadap peningkatan akses pangan bagi setiap rumah tangga di dalam memenuhi kecukupan pangannya. Tujuan Menjamin agar seluruh RT dapat menmjangkau kebutuhan pangan baik kuantitas dan kualitas dengan harga yang terjangkau

Menjamin pangan sampai di RT dalam kondisi aman dan layak konsumsi bagi kesehatan

Sebelum

di

distribusikan,lele

terlebihdahulumelewatimasapengemasan.Pengemasan

disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, suatu bahan. Kemasan menurut Syarief, Santausa, dan Isyana ( 1989) dapat dibagi atas kemasan berdasarkan frekuensi pemakaian, struktur sistem kemas, sifat perlindungan terhadap lingkungan, dan tingkat kesiapan pakai. Bahan penyusun kemasan terdiri dari berbagai macam diantaranya gelas, plastik, kayu, dan lain-lain. Salah satu bahan kemasan yang banyak digunakan di pasaran sebagai kemasan adalah plastik polietilen. Sifat-sifat polietien antara lain mudah dibentuk, daya rentang tinggi tanpa sobek, dapat digunakan dalam penyimpanan beku sampai dengan -50 C (Syarief dkk 1989). Polietilen juga mudah didapat dan murah. Tranggono dan Sutardi (1989) mengungkapkan bahwa pengemasan memiliki dua fungsi utama yaitu merakit bahan segar itu dalam kesatuan yang mudah dibawa dan melindungi terhadap kerusakan selama pemasaran dan penyimpanan. Distribusi lele 1. Transportasi Pengangkutan dan pendistribusian ikan pascapenangkapan ikan sangat

mempengauhi mutu ikan. Ikan-ikan yang diperlakukan secara kasar dan kurang hati-hati sehingga terjadi pelukaan dan lecet-lecet pada tubuhnya akan lebih cepat mengalami pembusukan dibandingkan dengan ikan yang diperlakukan secara baik. Luka pada tubuh ikan akan menjadi pintu masuknya mikroba dan mempercepat prombakan pada daging ikan. Kesegaran ikan merupakan hal yang sangat penting dalam industri perikanan karena menyangkut kualitas produk agar dapat diterima oleh konsumen. Ikan tergolong ke dalam produk yang cepat mengalami pembusukan pada suhu kamar. Mutu kesegaran ikan mempunyai arti penting dalam pemanfaatan sumber daya yang lebih rasional dan berdaya guna . Agar ikan tiba ditujuan dalam keadaan tetap segar, maka harus digunakan sarana angkutan yang tepat dan cepat dilengkapi unit pendingin yang bertujuan memperlambat proses pencairan es dengan cara memperlambat penetrasi panas dari luar. Wadah pengangkutan bisa dari wadah berinsulasi seperti cool box dengan unit pendingin/ refrigerator 2. Penyimpanan Pada prinsipnya penyimpanan ikan lele dengan cara pendinginan. pendinginan adalah mendinginkan ikan secepat mungkin ke suhu serendah mungkin, tetapi

tidak sampai menjadi beku. Untuk mendinginkan ikan, seharusnya ikan diselimuti oleh medium yang lebih dingin dari-nya, dapat berbentuk cair, padat, atau gas. Pendinginan ikan dapat dilakukan dengan menggunakan refrigerasi, es, slurry ice (es cair), dan air laut dingin (chilled sea water). Cara yang paling mudah dalam mengawetkan ikan dengan pendinginan adalah menggunakan es sebagai bahan pengawet, baik untuk pengawetan di atas kapal maupun setelah di daratkan, yaitu ketika di tempat pelelangan, selama distribusi dan ketika dipasarkan. Yang pertama perlu diperhatikan di dalam penyimpanan dingin ikan dengan menggunakan es adalah berapa jumlah es yang tepat digunakan. Es diperlukan untuk menurunkan suhu ikan, wadah dan udara sampai mendekati atau sama dengan suhu ikan dan kemudian mempertahankan pada suhu serendah mungkin, biasanya 0oC.Perbandingan es dan ikan yang ideal untuk penyimpanan dingin dengan es adalah 1 : 1. Hal lain yang juga perlu dicermati di dalam pengawetan ikan dengan es adalah wadah yang digunakan untuk penyimpanan harus mampu mempertahankan es selama mungkin agar tidak mencair. Wadah peng-es-an yang ideal harus mampu mempertahankan suhu tetap dingin, kuat, tahan lama, kedap air, dan mudah dibersihkan (Wibowo dan Yunizal, 1998). 3. Pengolahan Lele dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan yang lezat dan bergizi seperti abon,nugget dan bakso. 4. Pengemasan Pengemasan makanan bertujuan untuk mempertahankan kualitas, menghindari kerusakan selama penyimpanan, memudahkan transportasi, dan memudahkan penanganan selanjutnya. Di samping itu, pengemasan makanan dapat mencegah penguapan air, masuknya gas oksigen, melindungi makanan terhadap debu dan kotoran lain, mencegah terjadinya penurunan berat, dan melindungi produk dari kontaminasi serangga dan mikrobia (Fachrudin, 1997). Manfaat pengemasan yaitu: a. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga ke konsumen (produk tidak tercecer/tumpah, terutama untuk cairan, pasta atau butiran) b. Melindungi dan mengawetkan produk (melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk) c. Sebagai identitas produk

d. Meningkatkan efisiensi e. Melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau tajam, atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk dapat melindungi produkproduk lain di sekitarnya. f. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk g. Menambah daya tarik calon pembeli/konsumen h. Sebagai sarana informasi dan iklan i. Memberi kenyamanan bagi konsumen

5. Pemasaran Pemasaran didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Indonesia masih sulit menembus pasar internasional. Pola pemasaran lele yang berjalan adalah rantai pemasaran tradisional. produsen menjual hasilnya ke leverensir/tengkulak yang ditugaskan oleh leverensir bandar pasar-pasar kecil sebagai pengecer konsumen.produsen juga dapat langsung menjual hasilnya ke pengecer setempat.

Distribusi Nugget Nugget Berbahan Baku Ikan Lele Jenis Lele Dumbo Clarias gariepinus nugget ikan lele adalah produk olahan dari ikan lele jenis lele dumbo Clarias gariepinus dengan bahan dasar berupa daging ikan lele.Penggunaan ikan lele sebagai bahan dasar dalam pembuatan nugget ikan lele adalah berdasarkan pertimbangan dari segi kualitas maupun kuantitas.Dari segi kualitas,ikan lele merupakan ikan air tawar yang mempunyai kandungan gizi yang cukup baik,memiliki kandungan protein dan mineral yang cukup tinngi.Sedangkan dari segi kuantitas,ikan lele dari jenis ikan lele dumbo Clarias gariepinus merupakan ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat,hampir semua daerah memeiliki sentra ikan lele yang cukup bagus dan berkembang. Sifat Produk nugget ikan Lele merupakan makanan yang bertahan lama. Mengacu pada SNI surimi dengan nomor SNI 1-2694-1992, dengan batas TPC maksimum 5x105, tidak layak konsumsi setelah hari ke-60. Hasil penyimpanan beku memberi pengaruh yang nyata pada lamanya umur simpan, dibandingkan pada penyimpanan suhu ruang yang hanya dapat bertahan selama 24 jam Pengemasan produk

Nugget dikemas dengan menggunakan plastik HDPE (High Density Poly Etilen) dengan kapasitas sesuai keinginan, kemudian direkatkan dengan electric heatseller. Dipilihnya plastik HDPE karena mempunyai ketebalan yang dapat melindungi produk yang telah dikemas agar tidak rusak selama masih di dalam kemasan Sarana penyimpanan Yang pertama perlu diperhatikan di dalam penyimpanan dingin ikan dengan menggunakan es adalah berapa jumlah es yang tepat digunakan. Es diperlukan untuk menurunkan suhu ikan, wadah dan udara sampai mendekati atau sama dengan suhu ikan dan kemudian mempertahankan pada suhu serendah mungkin, biasanya 0oC. Perbandingan es dan ikan yang ideal untuk penyimpanan dingin dengan es adalah 1 : Hal lain yang juga perlu dicermati di dalam pengawetan ikan dengan es adalah wadah yang digunakan untuk penyimpanan harus mampu mempertahankan es selama mungkin agar tidak mencair. Wadah peng-es-an yang ideal harus mampu mempertahankan suhu tetap dingin, kuat, tahan lama, kedap air, dan mudah dibersihkan (Wibowo dan Yunizal, 1998). Untuk itu diperlukan wadah yang memiliki daya insulasi yang baik. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi kelautan dan Perikanan (BBRP2B) telah

mengembangkan palka atau peti ikan berinsulasi. Palka/peti terbuat dari fiber glass dan bahan insulator yang digunakan adalah poliuretan Suhu Simpan pangan dingin pada suhu 4 C atau lebih rendah. Penyimpanan dingin akan memperlambat pertumbuhan bakteri. Penyimpanan beku (-12 C atau lebih rendah) di dalam lemari beku akan menghentikan pertumbuhan bakteri. Pembekuan dan penyimpanan beku tidak membunuh semua bakteri yang mungkin telah ada di pangan sebelum pangan tersebut dibekukan. Sehingga, produk pangan yang disimpan beku tetap harus dimasak secara sempurna untuk membunuh patogen yang mungkin ada. Waktu distribusi Saat semua aspek di atas telah terpenuhi Saluran pemasaran I Pada saluran pemasaran I, komoditas lele dari peternak akan dijual kepada pedagang pengumpul yang ada di pasar dan kemudian akan dijualbelikan kepada pengecer di pasar Besar. Pedagang Pengumpul hanya ada pada waktu pagi hari dan

bertempat di luar pasar tanpa ada bangunan pelindung seperti didalam pasar, sedang pengecer ada pada waktu pagi sampai sore dan bertempat di dalam pasar Saluran pemasaran II Pada saluran pemasaran II komoditas lele dari peternak akan dijual kepada pedagang tengkulak yang sekaligus pedagang pengumpul yang ada di pasar dan akan dijual belikan kepada pedagang pengecer I yang ada di pasar itu pula. Sehingga konsumennya kebanyakan adalah masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pasar. Setelah lele sampai di pasar, maka pedagang pengumpul mempunyai tempat sendiri untuk menjual lele pada pengecer atau pedagang besar. Apabila sudah terjadi kesepakatan harga maka terjadilah transaksi jual beli yang dilakukan antara pedagang pengecer atau pedagang besar. Dalam pasar tidak terdapat standart harga dimana penentuan tinggi rendahnya harga dipengaruhi atau tergantung dari banyak sedikitnya persediaan komoditas lele dan jumlah permintaan. Peternak atau produsen di daerah penelitian kebanyakan menjual lele ke pedagang tengkulak hal ini disebabkan: Peternak masih harus mengeluarkan biaya lagi untuk keperluan pemasarannya seperti biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya timbang dan yang lainnya. Oleh karena itu peternak merasa keberatan, sehingga petani lebih suka menjual melalui pedagang tengkulak atau pengumpul yang dirasa lebih mudah dan cepat mencukupi kebutuhan. Saluran pemasaran III Pada saluran pemasaran III, komoditas leledari peternak akan dijual kepada pedagang tengkulak yang berasal dari pasar dan pedagang tengkulak tersebut akan menjual ke pedagang pengumpul yang ada dan selanjutnya pedagang pengumpul akan menjual ke pedagang besar atau ke pengecer I . Pada saluran ini melibatkan banyak lembaga pemasaran sehingga terbentuk rantai pemasaran yang panjang. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Distribusi dan Pemasaran Ada beberapa faktoryang mempengaruhi distribusi dan pemasaran cabai antara lain: 1. Kondisi iklim dan cuaca yang tidak mendukung, misalnya di musim penghujan yang intensitasnya tinggi menyebabkan para distributor yang mengangkut komoditas maupun olahannya terhambat untuk sampai ke tempat tujuan. Akibatnya cabai yang dibawa menjadi busuk dan harga mulai merangkak naik. Akhirnya merugikan produsen dan konsumen. 2. Harga bahan bakar yang terus menerus naik mengakibatkan harga lele juga ikut naik. Hal ini tentu merugikan produsen dan konsumen pula.

3. Ganguan distibusi yang di sengaja oleh segelintir pelaku pasar. Gangguan distribusi ini lebih cenderung diakibatkan oleh ulang tengkulak yang sengaja mengambil kesempatan atau untung di tengah kenaikan. Tabel Deskripsi Produk Produk : Nuget Lele Komposisi Produk

Produk terbuat dari lele, tepung tapioca, tepung roti, bumbu rempah, garam dan phosphate. Karakteristik produk Produk beku, Digoreng/dimasak sebelum dikonsumsi Metode Pengawetan Dengan metode penggorengan dan pemanggangan (oven) pemasakan yang sempurna, yaitu sampai panas untuk mematangkan produk terpenuhi dibekukan. kemudian produk Pengemasan Kemasan Primer : kantong Kemasan Sekunder : karton/kardus plastic (PE) yang diseal Umur Simpan 1 tahun pada suhu -18 oC Kondisi penyimpanan Freezer dengan atau kurang suhu > = (-18)oC/0o F Cara Distribusi Distribusi melalui darat system pendingin yang dapat dikontrol dengan mobil box yang dilengkapi dan dikendalikan. Labeling Label yang tertera pada produk produk (Merk), nama produsen dan terdiri dari nama komersil distributor, komposisi

Distribusi Abon Lele Abon dapat merupakan jenis lauk pauk kering berbentuk khas dengan bahan baku pokok berupa daging atau ikan. Pengolahan abon dilakukan dengan cara direbus, dicabikcabik, dibumbui, digoreng, dipres. Bahan campuran abon dapat menggunakan bahan nabati, misalnya keluwih atau jantung pisang (Fachruddin, 1997). Menurut SNI (1992), definisi abon adalah suatu jenis makanan kering berbentuk khas, dibuat dari daging, direbus, disayat-disayat, dibumbui, digoreng dan dipres.

Proses Pembuatan dan Pengemasan Abon Prinsipnya cara membuat berbagai jenis abon sama. Prosedur umum yang dilakukan dimulai dari penyiangan dan pencucian bahan, pengukusan atau perebusan, pencabikan atau penghancuran, penggorengan, penirisan minyak atau pres, dan pengemasan (Fachrudin, 1997). Perebusan pada abon bertujuan untu membuat tekstur bahan menjadi lebih empuk dan mudah dicabik-cabik menjadi serat-serat yang halus. Lama perebusan dan tinggi suhu tidak boleh berlebihan tetapi cukup mencapai titik didih saja. Suhu yang terlalu tinggi akan menurunkan mutu rupa dan kualitas tekstur bahan. Menurut Anonim (2007), daging sapi direbus selama 60 120 menit pada suhu 100o C agar daging benar-benar lunak. Pengemasan makanan bertujuan untuk mempertahankan kualitas, menghindari kerusakan selama penyimpanan, memudahkan transportasi, dan memudahkan

penanganan selanjutnya. Di samping itu, pengemasan makanan dapat mencegah penguapan air, masuknya gas oksigen, melindungi makanan terhadap debu dan kotoran lain, mencegah terjadinya penurunan berat, dan melindungi produk dari kontaminasi serangga dan mikrobia (Fachrudin, 1997). Kondisi kemasan harus tertutup rapat agar abon tidak mudah teroksidasi yang dapat mengakibatkan ketengikan. Bahan kemasan harus tidak tembus air karena mengingat abon merupakan produk kering (Fachrudin, 1997). Bahan yang paling sering digunakan untuk pengemasan abon adalah plastik. Ada dua jenis plastik yang populer digunakan untuk pengemasan abon, yaitu plastik polietilen (PE) dan plastik poliepropilene (PP). Kedua jenis plastik ini, selain harganya murah, mudah ditemukan di pasaran dan memiliki sifat umum yang hampir sama. Plastik polietilen tahan asam, basa, lemak, minyak, dan pelarut organik. Plastik polietilen tidak menunjukkan perubahan pada suhu maksimum 93o C -121o C dan suhu minimum -46o C - -57o C. Tetapi platik polietilen memiliki permeabilitas yang cukup tinggi terhadap gas-gas organik sehingga masih dapat teroksidasi apabila disimpan dalam jangka waktu yang terlalu lama. Kemasan lain yang dapat digunakan adalah alumunium foil dan kaleng yang sudah dilapisi timah, tetapi harga kemasan ini cukup mahal (Fachrudin, 1997). Suhu Simpan pangan dingin pada suhu 4 C atau lebih rendah. Penyimpanan dingin akan memperlambat pertumbuhan bakteri. Penyimpanan beku (-12 C atau lebih rendah) di dalam lemari beku akan menghentikan pertumbuhan bakteri. Pembekuan dan penyimpanan beku tidak membunuh semua bakteri yang mungkin telah ada di pangan sebelum pangan tersebut dibekukan. Sehingga, produk pangan yang disimpan beku tetap harus dimasak secara sempurna untuk membunuh patogen yang mungkin ada. Waktu distribusi Saat semua aspek di atas telah terpenuhi Pemasaran Pola pemasaran abon lele yang berjalan adalah rantai pemasaran tradisional. produsen menjual hasilnya ke leverensir/tengkulak yang ditugaskan oleh leverensir bandar pasar-pasar kecil sebagai pengecer konsumen.produsen juga dapat langsung menjual hasilnya ke pengecer setempat.