Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, pembuatan suppositoria harus
memperhatikan banyak faktor untuk memperoleh produk stabil, dapat
memberikan efek optimum dan memiliki homogenitas yang baik.
Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan
untuk dimasukan kedalam rektum, vagina dan uretra. Suppositoria
melebur, melunak, dan melarut dalam suhu tubuh.
Sediaan suppositoria dapat digunakan untuk mendaptkan efek local
maupun sistemik. Untuk efek local,biasanya digunakan untuk pengobatan
hemoroid, antifungi, dan lain-lain. Sedangkan untuk efek sistemik,
misanya untuk pengobatan asma.
Suatu obat biasanya diformulasikan dalam bentuk suppositoria untuk
menghindari metabolism lintas pertama di hati. Keunggulan dari sediaan
ini, antara lain : dapat digunakan untuk pasien yang tidak sadarkan diri,
mual, muntah dan tidak melalui saluran pencernaan.
Formulasi supposiotoria tergolong sederhana dibandingkan sediaan
lain, karena dapat dibuat hanya dengan dua bahan saja, yaitu zat aktif
dan basisnya. Sediaan suppositoria harus dapat memadat pada suhu
ruangan, namun melebur pada suhu tubuh. Selain itu, zat aktif harus
terdispersi secara homogen di dalam basisnnya.
Oleh karena itu, dalam pembuatan suppositoria terdapat banyak
faktor yang harus diperhatikan untuk memperoleh sediaan suppositoria
yang stabil dan sesuai standar.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Mengetahui dan memahami tentang sediaan suppositoria.
2

I.2.2 Tujuan
Mengetahui dan memahami definisi suppositoria, jenis-jenis, bentuk,
dan ukuran suppositoria, anatomi rektum, penggunaan efek terapi
suppositoria, keuntungan dan kekurangan suppositoria, syarat-syarat
basis ideal, pembagian basis, metode pembuatan suppositoria, evaluasi
suppositoria, serta masalah-masalah dalam sediaan suppositoria.

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi Tablet
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, suppositoria adalah sediaan
padat dalam berbagai bobot bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina
atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Menurut RPS 18
th
, setelah pemasukan suppositoria akan menjadi lembut
atau lunak, melebur dalam cairan pencernaan. Sedangkan menurut Ansel,
suppositoria akan melebur, melunak atau larut dan memberikan efek lokal
atau sistemik.
II.2 Jenis-jenis Sediaan Suppositoria
1. Suppositoria rektal
Menurut Lachman, suppositoria rektal untuk dewasa berbobot
sekitar 2 gram dan biasanya diruncingkan bentuk torpedo.
Suppositoria anak-anak berbobot sekitar 1 gram. Sedangkan menurut
Parrot, suppositoria rektal bentuknya kerucut atau silindris dan lonjong,
beratnya 1,2 gram, panjang 30 mm, berdiameter 10 mm. Dan
menurut Ansel, suppositoria rektal berbentuk silindris dan kedua
ujungnya tajam, peluru, torpedo atau jari-jari kecil. Ukuran panjangnya
32 mm (1,5 inchi). Amerika menetapkan beratnya 2 gram untuk
orang dewasa bila oleum cacao yang digunakan sebagai basis.
Sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukuran dan beratnya dari
ukuran dan berat orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil.
4


Gambar 1: Bentuk suppositoria rektal
2. Suppositoria uretra
Menurut Ansel. Suppositoria uretra (bougie), berbentuk ramping
seperti pensil, gunanya untuk dimasukan ke dalam lambung
urine/saluran urine pria atau wanita 1 garis tengah 3-6 mm dengan
panjang 140 mm. Walaupun ukuran ini masih bervariasi antara satu
dengan yang lain apabila basisnya dari oleum cacao, maka beratnya
4 gram untuk wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria.
Panjang kurang lebih 78 mm dan beratnya 2 gram inipun bila oleum
cacao sebagai basisnya. Menurut Dom Hoover, suppositoria uretra
memiliki tiga rute dalam kerjanya, rute ini menghasilkan aksi lokal,
biasanya dengan antiinjeksi, suppositoria ini panjang dan bulat,
panjangnya sekitar 60 mm dan diameternya 4,5 mm. Ukuran
suppositoria menurut Lachman, yaitu untuk pria berbobot sekitar 4
gram dan panjangnya 100-150 mm, untuk wanita 2 gram dan biasanya
60-75 mm.


Gambar 2: Bentuk suppositoria uretra
3. Supporitoria vaginal
Menurut Dom Hoover, suppositoria vaginal berbentuk oval
biasanya beratnya berkisar 5 gram, tetapi tergantung dari produksinya.
Obat ini dimetabolisme di dalam vagina dimaksudkan untuk efek lokal
5

Gambar 4: Anatomi
Rektum
(Sumber: Pushkar:71)
dan efek sistemik. Ukuran suppositoria vaginal menurut Lachman,
yaitu berbobot sekitar 3 sampai 5 gram dan biasanya dicetak globular
atau bentuk oval atau dikempa sebagai tablet menjadi bentuk kerucut
atau adifikasi. Menurut FI IV, berbentuk bulat atau bulat telur dan
berbobot 5 gram.

Gambar 3: Bentuk suppositoria vaginal
II.3 Anatomi dan Fisiologi Rektum
Rektum merupakan bagian terminal usus
besar dengan panjang 5-20 cm, cairan rektal tidak
memiliki buffer capacity (absorbsi obat akan
meningkat bila pH mukosa rektum diatur sehingga
proporsi bentuk obat tdk terion meningkat) dengan
volume cairan 1.2-3 ml dan pH 6.8. Rektum
merupakan organ dengan permukaan datar tanpa
villi, bagian terminal cm dari rektum disebut anal
canal, bagian pembukaan anal kanal disebut
anus. Anus dikontrol oleh internal spinkter yang
terdiri dari otot halus, dan bagian eksternal
spinkter yang terdiri dari otot skeletal. (Winarti)
6

Terdapat 3 pembuluh vena dalam rektum: (Winarti)
1. Superior hemorrhoidal vein
2. Middle hemorhoidal vein
3. Inferior hemorrhoidal vein

Gambar 5: (kiri) Sirkulasi darah pada rektal; (kanan) Letak suppositoria rektal
(Sumber: Pushkar:71)
II.4 Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Suppositoria
1. Kelebihan
a. Tidak merusak/mengiritasi lambung.
b. Tanpa rasa yang tidak enak (kemualan) dan rasa sakit.
c. Mudah digunakan bahkan pada pasien yang tidak sadarkan diri,
sulit menelan, dsb.
d. Bahan obat tidak dirusak oleh pH, cairan, serta aktivias enzim
dalam lambung.
e. Obat dan produk yang memualkan bagi orang yang lemah
seringkali lebih tepat dalam bentuk suppositoria.
f. Pada dosis yang sedikit pada rektum menghasilkan penyerapan
dari bahan-bahan yang dapat larut dengan efek yang masuk
lambung ke dalam sirkulasi vena.
g. Khusus pemberian obat yang tepat kepada yang tua dan yang
muda.


7

2. Kekurangan
a. Dinding membran diliputi suatu lapisan mukosa yang relatif konstan
yang dapat bertindak sebagai penghalang mekanik untuk jalur obat
melalui pori-pori.
b. Sulit untuk obat yang sukar larut dalam minyak.
c. Kondisi penyimpanan harus tepat (kering/dingin), dilindungi dari
cahaya, bebas udara, disimpan dalam bentuk terpasang, tidak
sebagai barang santai untuk memperpanjang stabilitasnya.
d. Dosis yang mungkin lebih besar/lebih kecil daripada dengan rute
oral.
e. Absorbsi obat tidak konsisten; cairan dalam rektum yang lebih
sedikit daripada cairan saluran cerna akan menghambat proses
disintegrasi dan absorbsi, serta difusi/absorbsi obat melalui mukosa
rektum terbatas.
(R. Voight, Parrot, Scovilles, RPS, Lachman, dan Ansel)

II.5 Efek Terapi Suppositoria
1. Aksi lokal
Begitu dimasukkan, basis suppositoria meleleh, melunak atau
melarut menyebarkan bahan obat yang dibawanya ke jaringan-jaringan
di daerah tersebut obat ini bisa dimaksudkan untuk ditahan dalam
ruang tersebut untuk efek kerja lokal atau bisa juga dimaksudkan agar
diabsorbsi untuk mendapatkan efek sistemik. Suppositoria rektal
dimaksudkan untuk kerja lokal dan paling sering digunakaan untuk
menghilangkan konstipasi dan rasa sakit, iritasi rasa gatal dan radang
sehubungan dengan wasir atau kondisi anarektal lainnya. Suppositoria
vagina digunakan terutama sebagai antiseptik pada higiene wanita.
(Ansel:16-17) Obat-obat yang dimaksudkan untuk efek lokal umumnya
tidak diabsorbsi misalnya obat-obat untuk wasir, anastetik lokal,
antipiretik, basis-basis yang digunakan untuk obat ini sebenarnya tidak
diabsorbsi. Lambat meleleh dan lambat melepaskan obat-obat
8

sistemik. Efek lokal umumnya terjadi terjadi dalam waktu jam (30
menit) paling sedikit empat. (Lachman:1184-1186)
2. Aksi sistemik
Suppositoria tidak hanya digunakan untuk aksi lokal, tetapi juga
memberikan obat untuk menghasilkan efek sistemik ketika bahan obat
dihasilkan dalam betuk suppositoria diabsorbsi secara lambat dan
menghasilkan aksi terapeutik lebih panjang masa waktunya. Contoh
bahan yang diberikan secara rektal untuk aksi sistemik termasuk
sulfanilamid, merkurium dan opium antispasmodik seperti aminophylin
dan pelicin lebih baik kombinasi dari aksi lokal obat, sulfonomida untuk
mencegah formasi pelicin dari organisme kolon. (Scovilles:968)
Rektum merupakan jalur untuk peredaran obat-obat dengan aksi
sistemik, terjadi suplai darah dan difusi yang lambat dari obat melalui
rektal dan adsorbsi obat. (Dom Hoover:167) Pemilihan basis
suppositoria yang mungkin dikehendaki harus dibuat misalnya dengan
memilih basis-basis yang disarankan. Avaibilitas dan harga basis
suppositoria harus diperhitungkan sebelum pengerjaan formulasi
digunakan. (Lachman:1184-1186)
II.6 Pembagian Basis
1. Basis berminyak atau berlemak
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai,
karena pada dasarnya oleum cacao termasuk kelompok ini, utama
dan kelompok ketiga merupakan golongan basis-basis lainya. Macam-
macam asam lemak yang dihidrogenesis dari minyak nabati seperti
minyak palem dan minyak biji kapas, juga kumpulan basis lemak yang
mengandung gabungan minyak gliserin dan asam lemak dengan berat
molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat, mungkin
ditemukan dalam basis Suppositoria berlemak. Campuran yang
demikian seperti gliserol dan monostearat merupakan contoh dari
kelompok ini. (Ansel hal 582 589)
9

1. Minyak coklat
Minyak coklat merupakan basis suppositoria yang paling
banyak digunakan, minyak coklat seringkali digunakan dalam
resep-resep pencampuran bahan-bahan obat bila basisnya tidak
dinyatakan apa-apa, sebagian besar sejak minyak coklat memenuhi
persyaratan basis ideal karena minyak ini tidak berbahaya, lunak
dan tidak reaktif, serta meleleh pada temperatur tubuh. Minyak
coklat merupakan trigliserida dengan rantai-rantai trigliserida utama
yaitu oleoval mitosfearin dan oleo distearin, minyak coklat berwarna
putih kekuningan, padat, karena minyak coklat mudah mencair dan
harus terlindung dari cahaya. (Lachman:1168-1172)
Diperoleh dari pergeseran biji masak tanpa bungkus dan
telah disegrasi dari Theobroma cacao. Lemak coklat merupakan
campuran trigliserol, kira-kira 78% adalah gliserol-1-palmiat-2-oleat-
3-stearat, gliserol-1-3-stearat-2-oleat, dan gliserol-3-palmiat-2-oleat,
sisanya adalah komposisi berbagai campuran trigliserol.
Suppositoria coklat memiliki tampak luas yang menarik, cepat
melebur pada suhu tubuh. (R. Voight hal 283)
Pada temperatur biasa (suhu kamar) memadat, tetapi mencair
pada suhu 86 F (30-35 C). Ketika lemak coklat meleleh kemudian
memadat, titik lelehnya berada beberapa derajat dibawah suhu
normal menyebabkan menjadi tengik. (Scovilles:371)
Melting point pada suhu 30
0
-36
0
C. Dapat bercampur dengan
berbagai zat aktif. Angka Iod 34-38, dan angka asam >4. Melting
point menurun dengan penambahan zat yang larut, Bercampur
dengan air dalam jumlah tertentu, Jarak antara titik lebur dan titik
beku tajam. Mudah tengik karena terdiri dari banyaknya asam
lemak yang jenuh, Memiliki volume kontraksi yang kecil sehingga
memerlukan lubrikan. Oleum cacao dapat menunjukan sifat kristal
polimorfisme. (Scovilles:371)
10

Empat kristal yang dapat terjadi pada basis oleum cacao,
yaitu: (Lachman:1168-1172)
1) Kristal Gamma (), titik lebur 18
o
C, kristal yang terbentuk tidak
stabil.
2) Kristal Alfa (), titik lebur 24
o
C, kristal yang terbentuk tidak stabil.
3) Kristal Beta (), titik lebur 28-31
o
C, kristal yang terbentuk
metastabil.
4) Kristal Beta (), titik lebur 34-35
o
C, kristal yang terbentuk stabil.
Cara untuk mencegah pembentukan kristal tak stabil :
1) Massa dilebur tidak sempurna,
2) Massa yang meleleh dibiarkan pada suhu kamar selama
beberapa jam atau hari.
2. Lemak keras
Lemak keras ini terdiri atas campuran mono-di-dan trigliserida
asam-asam lemak jenuh C
80
H
21
COOH sampai C
10
H
10
COOH.
Pembuatannya digunakan lemak tumbuhan dari butir kelapa sawit
yang mempunyai kandungan asam lemak tumbuhan yang tinggi.
Produk semi sintetik ini didominasi oleh asam lemak berwarna
putih, mudah patah, tidak berbau, tidak terasa dan tidak memiliki
kecenderungan yang amat rendah untuk menjadi tengik (angka iod
paling tinggi 3, angka iod untuk lemak coklat 3539). Harga
viskositas leburan lemak coklat terletak sedikit lebih tinggi daripada
lemak keras, massanya padat larut air, melebar pada suhu 33,5-
35,5 C. (R. Voight hal 283)
Basis lemak sintesis, merupakan basis yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan yang telah mengalami proses hidrogensasi,
esterifikasi, maupun fraksinasi. Contohnya yaitu basis asam lemak
yang telah mengalami hidrogenasi dari minyak nabati seperti
minyak palem atau minyak biji kapas. Juga kumpulan basis lemak
yang mengandung gabungan gliserin dan asam lemak dengan
berat molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat. Sifat-
11

sifatnya yaitu titik padatnya tidak dipengaruhi oleh perubahan suhu;
tahan terhadap oksidasi; perbedaan titik lebur dan titik beku kecil;
kapasitas absorpsinya terhadap air cukup baik; volume
kontraksinya cukup besar; warnanya putih dan mengkilap.
(Scovilles:371)
2. Basis yang larut dalam air dan basis yang bercampur dengan air.
Air merupakan kumpulan yang penting, dari kelompok ini adalah
gelatin dan gliserin dan basis policahenilikol, basis gelatin-gliserin
paling sering digunakan dalam pembuatan Suppositoria vagina dimana
memang diharapkan efek setempat yang cukup lama usus.
(Ansel:582589)
a. Suppositoria Gliserin
Formula ini sering kali digunakan dalam suppositoria vaginal.
Yang dimaksudkan untuk penggunaan efek lokal dari zat
antimikroba suppositoria melarut perlahan untuk memperpanjang
aktivitas obat tersebut karena gliserin bersifat higroskopik, maka
suppositoria dikemas dalam bahan yang dapat melindunginya dari
kelembaban disekelilingnya. (Lachman:1168-1172) Gelatin adalah
makromolekul amfoter (protein) yang dibangun dari asam amino.
Asam aminonya adalah glikol, alanin, sifat gelatin di bawah titik
isoelektrisnya atau kation aktif di atasnya bersifat anion aktif.
Gelatin mengembang dalam air, larut dalam pemanasan dan
membentuk gel elastis. (R. Voight:283). Suppositoria gelatin yang
mengandung gliserin membantu pertumbuhan bakteri atau jamur,
karena itu suppositoria disimpan dalam tempat dingin dan sering
kali mengandung zat-zat yang menghambat pertumbuhan mikroba.
(Lachman:1168-1172)
b. Berbagai Polietilenglikol
Suppositoria Polietilenglikol dapat dibuat dengan pencetakan
maupun metode kompressi dengan suatu campuran 6%
Heksatiesol 1.2.6 dengan polietilenlikol 1540 dan 12% polimer.
12

Polietilen oksida 4000 merupakan basis yang sesuai terutama
untuk teknik kompressi dingin. (Lachman:1168-1172)
Kelarutan Polietilenglikol berdasarkan atas pembentukan
jembatan hidrogen antara oksigen eter dengan molekul air.
Polietilenglikol yang melebur jauh di atas suhu tubuh. Harus larut
dalam air usus yang terdistribusi di atas 16-20 cm panjang rektum.
Massa Polietilenglikol dengan daerah lebar rendah (47-49 C) dan
terlarutkan yang paling baik dimiliki oleh komposisi campuran
Polietilenglikol 1000 dengan PEG 4000. (R. Voight:283)
Polietilenglikol dibentuk dari polimerisasi etil oksida, dalam
rantai panjang Polietilenglikol dengan berat molekul yang berbeda
bercampur menghasilkan Suppositoria yang dapat larut dengan air
dan cepat disekresikan kedalam mukosa. (Scovilles:371)
3. Basis lainya
Dalam kelompok basis ini termasuk campuran bahan bersifat
seperti lemak yang larut dalam air dan bercampur dengan air, bahan-
bahan ini mungkin memebentuk zat kimia atau campuraan fisika.
Beberapa diantaranya berbentuk emulsi, umumnya dan tipe air dalam
minyak atau mungkin dapat menyebar dalam cairan besar. Salah satu
dari bahan ini adalah polioksil 40 stearat, suatu zat aktif pada
permukaan digunakan dalam sejumlah basis Suppositoria dalam
perdaganggan. (Ansel:582589)
Minyak hidrogenal seperti biji palem hydrogenal, biji kapas atau
minyak kacang adalah lemak putih semi padat digunakan sebagai
suppositoria pada keadaan basis lembut karena kenaikan temperatur
dihasilkan dengan penambahan spermacetil. (Scovilles:371)
II.7 Syarat Basis Ideal
1. Stabil, mudah dalam penuangan, menjadi keras pada pendinginan
dengan cepat, tidak membutuhkan lubrikan pencetakan, mempunyai
penampilan yang baik, cocok dengan semua obat. (Scovilles:370-371)
13

2. Dari sudut pandang absorbsi obat pada basis seharusnya netral dalam
reaksi, tidak iritasi, kehadiran dari obat dalam mengabsorbsi bentuk
sangat mudah, melunak atau larut pada suhu tubuh dalam rektum
dengan 30 mm dan tidak bocor pada rektum. (Scovilles:370-371)
3. Secara fisiologis netral tanpa menimbulkan rangsangan pada usus, ini
dapat ditimbulkan dalam massa fisiologi atau ketagihan kekerasan
terlalu besar, tetapi juga peracikan dari bahan obat yang tidak cukup
terhaluskan. (Scovilles:370-371)
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (dengan ini
pembentukan yang cepat dan massa dalam pembentukan
kontrasibilitas yang baik, pencegah suatu pendingin es dalam
membentuk massa padat. (R. Voight:283-284)
5. Viskositas yang memadat (pengurangan lebih lanjut dari sedimentasi
bahan obat tersuspensi, tinggi ketetapan tekanan). (R. Voight:283-284)
6. Sebaiknya suppositoria dalam beberapa menit melebur pada suhu
tubuh atau melarut (persyaratan untuk kerja obat); Pembebasan obat
yang baik dan reabsorbsinya. (R. Voight:283-284)
7. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan
pewarnaan, pengerasan, ketetapan bentuk dan daya patah yang baik).
(R. Voight:283-284)
8. Telah mencapai kesetimbangan kristalivitas dimana komponen
mencair dalam temperatur rektum (36C). (Lachman:1168)
9. Tidak toksik dan tidak mengiritasi jaringan yang peka dan meradang.
(Lachman:1168; RPS 18
th:
1610)
10. Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat. (Lachman:1168; RPS
18
th
:1610)
11. Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta stabil (tidak
berubah bentuk dalam keadaan semula pada saat pelelehan); Basis
suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendinginan dan
mempunyai sifat membasahi dan mengemulsi (Lachman:1168)
14

II.8 Metode Pembuatan Suppositoria
1. Metode dengan Tangan
Metode pembuatan suppositoria yang paling sederhana dan yang
paling tua adalah dengan tangan. Yakni dengan menggulung basis
suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat aktif
menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian
diaduk dengan bahan aktif dengan menggunakan atau dilarutkan
dengan air, atau kadang-kadang dicampur atau dengan sedikit lemak
bulu domba untuk mempermudah penyatuan basis suppositoria.
Kemudian massa digulung menjadi satu batang silinder dengan garis
tengah dan panjang yang dikehendaki atau menjadi bola-bola vaginal
sesuai dengan berat yang diinginkan. Batang silinder dipotong menjadi
beberapa bagian kemudian salah satu ujungnya diruncingkan.
(Lachman:1179; Ansel:585; RPS 18
th
:1611-1612)
2. Mencetak kompressi
Suppositoria yang lebih seragam dengan cara farmasetik dapat
dibuat dengan mengkompressi larutan massa dingin menjadi suatu
bentuk yang dikehendaki, suatu roda tangan berputar menekan suatu
biston pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder sehingga
massa terdorong masuk ke dalam cetakan. (Lachman:1179;
Ansel:585; RPS 18
th
:1611-1612; R. Voight:291-293)
3. Metode Tuang
Metode yang paling umum digunakan pada suppositoria skala
kecil dan skala besar adalah pencetakan. Pertama-tama bahan basis
diletakkan sebaiknya di atas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat yang berlebihan. Kemudian bahan-
bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan ke dalamnya.
(Lachman:1179; R. Voight:291-293)
4. Metode Pencetak Otomatis
Pelaksanaan pencetakan (penanganan, pendinginan) dan
pemindahan dapat dilakukan dengan mesin. Seluruh pengisian,
15

pengeluaran dan pembersihan cetak semua dijalankan secara
otomatis. Pertama-tama massa yang telah disiapkan diisikan ke dalam
suatu corong pengisi dimana massa tersebut secara kontinyu
dicampur dan dijaga pada temperatur konstan. (Lachman:1179; RPS
18
th
:1611-1612)
II.9 Evaluasi Suppositoria
Menurut Lachman hal 1191-1194
1. Uji Kisaran Leleh
Uji ini disebut juga uji kesaran meleleh makro dan uji merupakan
salah satu ukuran waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh
sempurna bila dicelupkan dalam penangas air dengan temperatur
tetap (37C). Sebaiknya uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh
yang diukur dalam pipa kapiler hanya untuk basis lemak.
2. Uji Pencahar atau uji waktu melunak
Suatu modifikasi yang dikembangkan oleh Krowezyasku adalah uji
suppositoria akhir lain yang berguna. Uji ini terdiri dari pipa-U yang
sebagian dicelupkan ke dalam penangas air yang bertemperatur
konstan. Penyempitan pada satu sisi menahan suppositoria tersebut
pada tempatnya dalam pipa. Sebuah batangan dari kaca ditempatkan
di bagian atas suppositoria, dan waktu yang diperlukan batangan untuk
melewati suppositoria sampai penyempitan tersebut dicatat sebagai
waktu melunak. Uji melunak mengukur waktu yang diperlukan
suppositoria rektal untuk mencair dalam alat yang disesuaikan dengan
kondisi in vivo.
3. Uji Kehancuran
Berbagai larutan sudah diuraikan untuk memecahkan masalah
kerapuhan suppositoria. Uji kehancuran dirancang sebagai metode
untuk mengukur keregasan atau kerapuhan supositoria. Alat yang
digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berdinding
rangkap di mana suppositoria yang diuji ditempatkan. Air pada 37
o
C
16

dipompa melewati dinding rangkap ruang tersebut dan suppositoria
diisikan ke dalam dinding dalam yang kering, menopang lempeng di
mana suatu batang dilekatkan. Ujung lain dari batang tersebut terdiri
dari lempeng lain di mana beban digunakan. Uji dihubungkan dengan
penempatan 600 g di atas lempeng datar. Pada interval waktu satu
menit, 200 g bobot ditambahkan, dan bobot di mana suppositoria rusak
adalah titik hancurnya, atau gaya yang menentukan karakteristik
keregasan dan kerapuhan suppositoria tersebut.
4. Uji disolusi
Pengujian laju penglepasan zat obat dari suppositoria secara in
vitro selalu mengalami kesulitan karena adanya pelelehan, perubahan
bentuk, dan disperse dari medium disolusi. Pengujian awal dilakukan
dengan penetapan biasa dalam gelas piala yang mengandung suatu
medium.
Sedangkan dari jurnal pada chapter 9 yaitu kontrol kualitas dari
sediaan suppositoria yang telah terdaftar dalam Farmakope Amerika
(USP30-NF25) untuk suppositoria yang telah diproduksi dari pabrik
termasuk identifikasi, prosedur penetapan, dan untuk beberapa kasus,
kadar air, kadar pelarut residual, disolusi, dan keseragaman isi.
1. Pengujian identifikasi biasanya digunakan untuk identifikasi dan
konfirmasi dari artikel resmi.
2. Prosedur penetapan digunakan untuk menentukan pemenuhan
standar dari farmakope dari segi parameter identitas, kekuatan,
kualitas, dan kemurnian. Metode kromatografi adalah metode yang
umum digunakan untuk deteksi dan kuntitasi.
3. Pengujian disolusi dilakukan untuk menentukan pemenuhan syarat
disolusi yang baik, yang tertera pada masing-masing monografi.
Pengujian ini mengukur laju dan besarnya obat terlarut dalam media
tertentu dan pada kondisi tertentu.
17

4. Penentuan kadar air dilakukan juga agar dapat memenuhi standar
yang tertera pada farmakope. Pengujian ini dilakukan dengan tiga
metode. Metode titrimetri, azeotropi, dan gravimetri.
5. Kesamaan isi diperlukan dalam beberapa monografi untuk meyakinkan
konsistensi dari unit dosis.
6. Sisa pelarut. Farmakope mendifinisikan sebagai bahan organik yang
bersifat volatile (mudah menguap) yang digunakan atau diproduksi
dalam manufaktur substansi obat atau eksipien, atau dalam preparasi
produk obat. Zat-zat ini tidak secara utuh menghilang selama proses
pengerjaan tetapi seharusnya dihilangkan.
Adapun evaluasi-evaluasi dari suppositoria terbagi atas dua, yaitu
pemeriksaan fisika dan pemeriksaan secara kimia.
1. Pemeriksaan secara fisika, meliputi :
a. Pemeriksaan visual yaitu untuk memeriksa penampakan luar dari
suppositoria, termasuk warna, keadaan permukaan, dan warna.
Perlu juga diperiksa adanya celah, retakan, lubang, eksudasi,
sedimentasi, dan migrasi dari bahan aktif
b. Pemeriksaan bau
c. Pemeriksaan berat. Suppositoria dapat ditimbang dengan
timbangan otomatis, timbang 10 suppositoria. Jika setelah
penimbangan ternyata terlalu kecil, dianjurkan untuk mengecek
cetakan agar terisi dengan baik hingga penuh dan kemungkinan
adanya gelembung udara yang disebabkan pengadukan yang
buruk. Sebaliknya, jika beratnya terlalu tinggi, cek pemotongan
suppositoria dengan baik, dan juga apakah campuran telah
homogeny dengan baik atau belum. Terakhir, berat suppositoria
dapat berkurang selama penyimpanan suppositoria yang
mengandung bahan yang mudah menguap. Terlebih lagi jika
penyimpanannya bukan pada wadah yang kedap udara.
d. Pemeriksaan jarak lebur (Titik lebur dan zona lebur)
e. Waktu meleleh
18

f. Waktu solidifikasi (pemadatan)
g. Uji kekuatan/uji kehancuran. Suppositoria dapat dikelompokkan
sebagai suppositoria yang rapuh atau elastis dengan mengevaluasi
dengan jumlah gaya mekanik yang dibutuhkan untuk memecahkan
suppositoria tersebut. Pengujian dilakukan dengan mengukur
massa (dalam kilogram) yang mampu ditahan oleh suppositoria
tersebut hingga tidak pecah. Hasil yang bagus, nilainya sekitar 1,8-
2 kg
2. Pemeriksaan kimia, yaitu
a. Uji disolusi secara in vitro dengan menggunakan metode dayung.
b. Uji keseragaman isi yang diperiksa dengan menggunakan
spektrofotometri UV
c. Uji konduktivitas
II.10 Masalah dalam Formulasi Suppositoria
Menurut Lachman:1583 yaitu:
1. Adanya air dalam supositoria
Air sebaiknya dihindari sebagai pelarut untuk mencampurkan zat-
zat dalam supositoria, dengan alasan sebagai berikut:
a. air dapat mempercepat oksidasi lemak.
b. jika air menguap, maka zat-zat yang terlarut akan membentuk
kristal kembali.
c. kecuali jika air berada dalam jumlah yang tinggi untuk melarutkan
obat, air mempunyai nilai kecil dalam membantu absorpsi obat.
d. reaksi antara bahan-bahan yang terdapat dalam supositoria lebih
sering terjadi jika ada air, sehingga kadang-kadang digunakan
senyawa anhidrat untuk mencegah kemungkinan ini.
e. pemasukan air dan zat-zat lain yang dapat dikontaminasi oleh
pertumbuhan bakteri dan fungi memerlukan tambahan
bakteriostatik seperti paraben.

19

2. Higroskopitas
Supositoria gelatin yang mengandung gliserin kehilangan
kelembapan oleh penguapan dalam iklim kering dan mengabsorpsi
lembab dalam kelembaban tinggi. Basis PEG juga higroskopis laju
perubahan lembab dalam basis PEG tidak hanya tergantung pada
kelembaban temperatur, tetapi juga pada rantai molekul.
3. Ketidakcampuran
Basis PEG ternyata tidak dapat bercampur dengan garam-garam
perak, asam borat, aminopirin, kinin, ichtimol, aspirin, benzokain,
iodoklorohidroksin dan sulfanamida. Sebagian besar bahan kimia
mempunyai kecenderungan mengkristal dari PEG misalnya; barbital
natrium, asam salisilat dan champora.
4. Viskositas
Viskositas massa supositoria yang mencair adalah penting dalam
pembuatan supostoria rektum. Setelah mencair, minyak cokelat cair
dan beberapa penggantinya mempunyai viskositas rendah, sedangkan
basis tipe gelatin yang mengandung gliserin dan tipe PEG mempunyai
viskositas yang jauh lebih tinggi dibandingkan viskositas minyak
cokelat.
5. Kerapuhan
Supositoria yang dibuat dari minyak cokelat sangat elastis dan
tidak mudah pecah. Busa-busa lemak sintetik dengan derajat
hidrogenasi yang tinggi dengan kandungan stearat yang tinggi, dengan
kandungan padatan yang lebih tinggi pada teperatur kamar biasanya
lebih rapuh. Pecahnya supositoria yang dibuat dengan basis seperti itu
seringkali disebabkan oleh pendinginan yang sangat cepat dari basis
yang mencair dalam suatu cetakan yang sangat dingin.
6. Kerapatan
Untuk menghitung jumlah obat tiap supositoria, kerapatan basis
tersebut harus diketahui. Volume ruang cetakan ditetapkan sehingga
berat masing-masing supositoria tergantung rapatan massa.
20

Pengetahuan tentang berat supositoria dapat diperoleh dari cetakan
tertentu seri-seri kerapatan basis yang dipilih, kemudian bahan-bahan
aktif cetakan tertentu serta kerapatan basis yang dipilih dapat
ditambahkan pada basis dalam jumlah sedemikian sehingga obat
dalam jumlah tertentu pasti terdapat dalam masing-masing supositoria
yang mencair.
7. Penyusutan volume
Fenomena ini terjadi dalam sebagian supositoria cair setelah
didinginkan dalam cetakan. Hasil-hasil ditunjukkan dalam dua cara
berikut:
a. pelepasan massa keluar dari cetakan. Ini disebabkan oleh
peracikan massa keluar dari sisi cetakan, menghapuskan perlunya
zat-zat yang lepas dari cetakan
b. pembentukan lubang penyusutan pada ujung terbuka cetakan
tersebut.
Ciri yang tidak dikehendaki ini menyebabkan bobot supositoria
lebih kecil dan penampilannya tidak sempurna.
8. Pelumas atau zat pelepas dari cetakan
Minyak cokelat menempel pada cetakan supositoria karena
volume penyusutan rendah sehingga supositoria ini sukar dilepaskan
dari cetakan, sehingga berbagai pelumas atau zat pelepas dari
cetakan harus digunakan untuk mengatasi kesulitan ini.
9. Faktor pengganti dosis
Jumlah dosis yang diganti oleh bahan-bahan aktif dalam formulasi
supositoria dapat dihitung. Jika F=0,81, berarti bahwa 0,81 gram basis
dapat digantikan oleh 1 gram bahan obat, dapat diturunkan
berdasarkan rumus berikut:

( )
( )

Dimana,
E = Berat supositoria yang hanya terdiri dari basis
21

G = Berat supositoria dengan zat aktif %
X = % bahan obat
GX= Jumlah bahan obat dalam supositoria
10. Pengawasan bobot dan volume. Jumlah bahan aktif dalam supositoria
tergantung pada :
a. konsentrasi dalam massa tablet
b. volume ruang cetakan
c. bobot jenis basis tersebut
d. volume antara cetakan, mesin cetak yang baik dapat menjaga
ruang volume masing-masing tidak lebih dari 2% harga yang
diinginkan
e. variasi bobot antara supositoria karena tidak konsistennya proses
pembuatan, pergerakan yang tidak merata.
11. Ketengikan dan antioksidan
Ketengikan disebabkan oleh antioksidasi dan penguraian berturut-
turut dari lemak tidak jenuh menjadi aldehid jenuh dan tidak jenuh
dengan bobot molekul sampai pertengahan (C
3
-Cn), berbagai keton
dan asam, yang mempunyai bau kuat dan tidak menyenangkan. Makin
rendah kandungan asam lemak jenuh dalam suatu basis supositoria,
makin besar daya tahan basis terhadap pengembangan ketengikan.
Adapun selain di atas menurut Scoviles:384 masalah lain yang
dapat terjadi yaitu penambahan substansi tertentu yang ditambahkan
pada minyak cokelat dapat mengubah karakteristiknya atau dengan
beberapa alasan dapat menimbulkan masalah dalam peracikan. Tindakan
pencegahan harus diambil atau prosedur umum harus diubah pada
keadaan berikut:
12. Ketika penambahan bahan lain menurunkan titik lebur dari minyak
cokelat
Titik leleh minyak cokelat turun dengan penambahan minyak
menguap dan bahan tertentu yang larut minyak seperti kamfer,
kloralhidrat, kreosot, fenol dan salol. Perluasan efek dari bahan-bahan
22

ini pada titik leleh tergantung pada bahan itu sendiri dan jumlah bahan
yang ditambahkan. Seringkali sulit untuk membenarkan dan pada
kasus ini bagus untuk membuat supositoria dengan proses panas dan
membiarkan supositoria dituang pada cetakan beku. Penambahan
spermaseti atau lilin juga dapat meningkatkan titik leleh, jadi
suppositoria dapat dibuat dengan metode tangan. Jermstad dan
Frethein menemukan bahwa kurang dari 18% spermaseti menurunkan
titik leleh minyak cokelat, tapi saat 20% ditambahkan hasil titik leleh
dari campuran sama dengan minyak cokelat murni. Diatas 28%
spermaseti meningkatkan titik leleh di atas suhu tubuh.
Lilin juga dapat digunakan untuk meningkatkan titik leleh dari
supositoria, tapi karena seringkali keras maka tidak disukai dibanding
spermaseti. Kurang dari 3% lilin menurunkan titik leleh minyak cokelat,
sedag lebih dari 5% meningkatkannya di atas 37
0
C. Oleh karena itu,
sekitar 4% yang digunakan. Agar dalam pencampuran tidak
menyebabkan titik leleh menjadi terlalu tinggi, dilakukan pengujian
dengan menempatkan beberapa massa pada air dengan suhu 37
0
C,
jika tidak meleleh, spermaseti dan lilin digunakan sedikit. 3-5% lilin
juga meningkatkan absorpsi air pada basis tanpa peningkatan titik
leleh dari massa supositoria. Sampai 50% larutan berair dapat
bercampur pada basis yang terdiri dari 5% lilin dan 95% minyak
cokelat.
13. Ketika penambahan bahan lain menaikkan titik lebur dari minyak
cokelat
Perak nitrat dan timbal asetat merupakan bahan kimia yang
dapat meningkatkan titik leleh minyak cokelat di atas suhu tubuh.
Penambahan sejumlah kecil minyak kacang atau beberapa minyak
sejenis akan menurunkan titik lebur di bawah suhu tubuh.
14. Ketika penambahan bahan yang tidak larut
Hal ini mungkin dapat menjadi berair atau alkohol digunakan
sebagai bahan obat dalam supositoria, atau mungkin bahan itu
23

sendiri, seperti ichtammol. Jika jumlah bahan yang tidak larut
ditambahkan sedikit, supositoria dapat dibuat dengan metode panas
atau dengan pengempaan. Jika jumlah besar bahan yang tidak larut
digunakan, cenderung untuk memisah dan menghasilkan
ketidakpuasan. Bahkan ketika sejumlah kecil digunakan dengan
metode panas, harus dibuat dengan hati-hati untuk mencegah
pemisahan dengan pendinginkan supositoria pada titik beku dan
mengaduknya dengan cepat sebelum supositoria dituang. Metode
cetak tangan, tidak diragukan lagi merupakan metode pilihan untuk
bahan yang tidak larut dengan lemak cokelat, karena bahan lebih
seragam campurannya dapat disiapkan dan pemisahan dapat lebih
cepat dicegah.
15. Ketika digunakan pelarut
Ketika ekstrak pilular digunakan, harus dilunakkan dan dibuat
menjadi semicair dengan memberikan beberapa tetes alkohol.
Dengan cara lain, serbuk ekstrak tidak perlu menggunakan pelarut
dan karena itu lebih disukai. Beberapa bahan sebagai bahan celup
dan campuran protein perak yang dapat dilunakkan atau dilarutkan
dengan menggunakan sejumlah kecil air atau alkohol cair. Jumlah
larutan yang digunakan harus sesedikit mungkin, lemak bulu domba
berguna sebagai bahan tambahan pada supositoria mengandung
sejumlah besar ekstrak atau larutan berair karena sifatnya yang
menyerap cairan. Hal ini berefek pada titik lebur pada minyak tetapi
sedikit. Penggunaan sedikit pati juga memberikan kekuatan pada
supositoria tipe ini. Jika ekstrak pilular dari belladonna digunakan,
harus dilunakkan dengan beberapa tetes alkohol 65%. Jika serbuk
ekstrak digunakan, mungkin dapat ditangani seperti serbuk lain.
Morfin sulfat harus dilarutkan dalam 1 ml air hangat dan diambil
dengan sejumlah kecil lanolin untuk memastikan distribusi yang baik
dari alkaloid.

24

16. Ketika digunakan sejumlah besar volume dari bahan obat
Pada kasus ini, relatif sejumlah besar bahan obat ditentukan, hal
ini kadang sulit untuk menentukan massa plastis yang cukup untuk
membuat supositoria dalam beberapa metode. Hal ini sulit untuk
dikoreksi dengan penambahan sejumlah kecil lemak bulu domba dan
dengan pembuatan supositoria dengan metode tangan.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Depkes RI.
2. Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: DepkesRI.
3. Ansel, H.C. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI
Press.
4. Lachman, Leon, et al. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Jakarta: UI Press.
5. Voight, Ruddy. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta:
UGM Press.
6. James, David. 2008. Fast Track : Pharmaceutic Dosage Form and
Design Pharmaeutical Press. London.
7. Winarti, Lina. 2013. Diktat Kuliah Formulasi Sediaan Semisolid.
Jember: Fakutas Farmasi Universitas Jember.

26

LABORATORIUM FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN LENGKAP
TEORI UMUM SUPPOSITORIA



OLEH :
KELOMPOK VI
OBERYANTO NARSEN N111 12 108
ERAWISATA SARRIN N111 12 264
MUH. ALDILA SATRIA N111 12 269
ISNIATY RUSDY N111 12 283
ASLINDA ARSYAD N111 12 301
VIVI AFRIANI N111 12 332


GOLONGAN : RABU SIANG
ASISTEN : KHAIRUL AMRY, S. Si.

MAKASSAR
2014