Anda di halaman 1dari 9

Amoebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya entamoeba histolytica dengan

atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut sebagai penyakit bawaan makanan (Food
Borne Disease). Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan Dysentery amoeba,
penyebarannya kosmopolitan banyak dijumpai pada daerah tropis dan subtropis
terutama pada daerah yang sosial ekonomi lemah dan hugiene sanitasinya jelek.
Daur hidup E. histolytica sangat sederhana, dimana parasit ini didalam usus
besar akan memperbanyak diri. Dari sebuah kista akan terbentuk 8 tropozoit yang
apabila tinja dalam usus besar konsistensinya padat maka, tropozoit langsung akan
terbentuk menjadi kista dan dikeluarkan bersama tinja, sementara apabila
konsistensinya cair maka, pembentukan kista terjadi diluar tubuh. (Brotowidjoyo, 1987).
Amoebiasis terdapat diseluruh dunia (kosmopolit) terutama didaerah tropik dan
daerah beriklim sedang. Dalam daur hidupya Entamoeba histolytica memiliki 3 stadium
yaitu :
1. Bentuk histolitika.
2. Bentuk minuta.
3. Bentuk kista.
Gejala-gejala klinik dari amoebiasis tergantung daripada lokalisasi dan
beratnya infeksi. Penyakit disentri yang ditimbulkannya hanya dijumpai pada sebagian
kecil penderita tanpa gejala dan tanpa disadari merupakan sumber infeksi yang penting
yang kita kenal sebagai carrier, terutama didaerah dingin, yang dapat mengeluarkan
berjuta-juta kista sehari. Penderita amoebiasis intestinalis sering dijumpai tanpa gejala
atau adanya perasaan tidak enak diperut yang samar-samar, dengan adanya
konstipasi, lemah dan neurastenia. Infeksi menahun dengan gejala subklinis dan
terkadang dengan eksaserbasi kadang-kadang menimbulkan terjadinya kolon yang
irritable sakit perut berupa kolik yang tidak teratur.
Klasifikasi amubisid menurut tempat kerjanya :
1. Amubisid jaringan
2. Amubsid luminal
3. Amubisid kombinasi (jaringan dan luminal)

1. Amubisid Jaringan
Amubisid yang berkerja pada jaringan intestinum atau organ lain.
Contoh :
a. Metin dan dihidroemetin
Metin merupakan suatu alkaloid yang diperoleh dari ipecac dan juga
disediakan dalam bentuk semisintetik dengan jalan metilase sefalin. Sejak tahun
1912, emetin dipakai sebagai amubisid secara luas untuk mengobati amebiasis
intestinal, hepatitis ameba, dan abses ameba.
Dehidroemetin merupakan suatu derivate emetin dan bersifat kurang
toksik dibandingkan emetin. Obat ini adalah amubisid jaringan paling efektif.
Mekanisme kerja:
Obat ini bekerja dengan menghambat perpanjangan rantai poliopeptida
sehingga sintesis protein sel eukariotik dihambat. Obat ini dapat membunuh
bentuk trofozoit E. histolytica yang berada dalam jaringan secara langsung tetapi
tidak untuk bentuk Kristal.
Farmakokinetik :
Obat ini terutama menetap di hati, ginjal, limpah dan paru. Karena sifat
iritasinya terhadap saluran cerna, obat ini diberikan secara intramuscular atau
intravena. Obat ini terutama diekskresikan melalui urin.
Indikasi :
Disentri ameba
Abses ameba
Kontraindikasi :
Penyakit ginjal, jantung dan neuromuscular.
Wanita hamil.


Efek samping :
Efek samping yang paling sering terjadi biasanya pada tempat suntikan
berupa nyeri, urtikaria, dan eksema. Gejalah yang berat biasanya berupa
gangguan kardiovaskular berupa nyeri prekordial, dispnea, gagal jantung,
takikardi dan hipertensi. Mual, muntah dan sakit kepala dan diaredapat terjadi
walaupun penggunaan obat ini secara parenteral.
dosis
Emetin intramuscular atau subkutan
Dewasa : dosis tunggal 1 mg/kg BB/ hari ( maksimal 60 mg ) atau dibagi dua
selama 5-10 hari.
Anak : < 1mg/ kg BB/hari dibagi 2 dosis selama < 5 hari.
Dihidroemetin intramuscular atau subkutan
Dewasa : dosis tunggal 1-1.5 mg/kg BB/hari selama 5 hari.
Anak : 1-1.5 mg/kg BB/hari dibagi 2 dosis selama 5-10 hari.
Sediaan :
Emetin : solusio 20, 30, dan 65 mg/ml
Dehidroemetin : ampul 1 ml (60 mg)
b. Klorokuin
Penggunaan klorokuin sebagai amebesid dilaporkan pertama kali pada
tahun 1948. Penggunaan obat ini kurang efektif bila diberikan secara tunggal,
biasanya dikombinasikan dengan emetin dan dehidroemetin pada pengobatan
amebiasis hepatica. Obat ini termasuk amebisid jaringan.


Farmakokinetik :
Absorpsi klorokuin setelah pemberian oral terjadi lengkap dan cepat,
dan makanan mempercepat absorpsi ini. Kadar puncak dalam plasma dicapai
setelah 1-2 jam. Kira-kira 55% dari jumlah obat dalamplasma diikat pada
nondifussible plasma constituent. Klorokuin lebih banyak diikat di jaringan.
Indikasi :
Pengobatan abses hati amebic, selain dihydroemetine terapeutik.
Dosis dan pemberian
Dewasa: 600 mg/ hari selama 2 hari, diikuti 300 mg/hari selama 2-3 minggu.
Anak-anak: 10 mg / kg BB/hari selama 3 minggu; 300 mg basa dosis maksimum
harian mewakili produk.
Kontraindikasi
hipersensitivitas.
Efek samping
Dengan dosis yang digunakan dalam pencegahan dan pengobatan infeksi
parasit, efek samping biasanya ringan dan reversibel. Kadang-kadang muncul
sakit kepala sementara dan gejala gastrointestinal. Sangat jarang untuk
menemukan intoleransi memerlukan penghentian terapi, walaupun mungkin ada
gatal parah.Klorokuin dapat menyebabkan eksaserbasi parah psoriasis.
Sediaan :
Tablet 100 mg, 150 mg dari produk dasar (seperti fosfat atau sulfat) (150 mg
basa klorokuin setara dengan 200 mg klorokuin sulfat atau 250 mg klorokuin
fosfat
2. Amubisid lumen
Amubisid yang b
Diloksamid furoad
Obat ini adalah suatu derivate diklorosetamid yang meruapakan hasil substitusi
asetalinida.
Mekanisme kerja :
Mekanisme kerjanya tidak diketahui secara jelas. Obat ini efektif terhadap amebiasis
asimptomati, khususnya untuk pengobatan amebiasis intestinal dan disentri ameba
akut. Obat ini kurang efektif dibandingkan metronidazol.
Farmakokinetik :
Obat ini secara cepat diabsorbsi di saluran cerna setelah pemberian peroral. Bentuk
esternya sebagian besar dihidrolisis di intestinum dan hanya dilokisanid yang berada
dalam darah. Konsetrsi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 1 jam. Bentuk
terbesar dilokisanid yang diekskresikan melalui urine adalah glukoronida.
Indikasi :
Infeksi amebiasis asimptomatik bentuk kriste
Kontraindikasi :
Wanita hami trimester 1 dan anak < 2 tahun
Efek samping :
Efek samping yang paling sering terjadi adalah cegukan, mual, esofagitis, diare, nyeri
perut, dan albuminaria.
Dosis :
Dewasa : 3 X 500 mg/kg BB/ hari selama 10 hari.
Anak : > 2 tahun 20 mg/kg BB/ hari dibagi 3 dosis selama 10 hari.
Sediaan :
Tablet 500 mg
Paromomisin
Obat ini termasuk golongan aminoglikosida yang bersifat amebisid lumen.
Mekanisme kerja :
Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis protein. Obat ini efektif terhadap E.
histolitica dan juga terhadap pengobatan giardiasis selama kehamilan dan untuk teapi
cacing pita.
Farmakokinetik :
Di saluran cerna, absorbs obat ini sangat buruk dan kebanyakan diekskresikan melalui
tinja.
Indikasi :
Amebiasis intestinal
Giardiasis dan infeksi cacing pita
Kontraindikasi
Kontraindikasi akan terjadi bila diberikan pada pasien yang hipersensivitas, gangguan
fungsi hati, ginjal ataupun adanya ulserasi.
Efek samping :
Efek samping yang sering terjadi berupa nausea, motilitas saluran cerna meningkat,
nyeri perut dan diare.
Interaksi obat :
Pemberian bersamaan dengan obat yang bersifat yang bersifat hepatotoksik ataupun
renatotksik sebaiknya dihindari.
Dosis :
Dewasa dan anak : 25-35 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis selama 7-10 hari dan dapat
diulangi setelah interval waktu 2 minggu.
Sediaan :
Kapsul 250 mg.
Tetrasiklin
Obat ini merupakan antibiotic spectrum luas dan efektif terhadap ameba pada lumen
dan dinding intestinal.diduga obat ini menambah flora intestinum yang dibutuhkan oleh
ameba. Selain itu obat ini juga dapat digunakan pada pengobatan balantidiasis dan
dientamebiasis.
Dosis pemberian untuk dientamebiasis : 4 X 250 mg/hari selama 10 hari.
Metrodiazol
Obat ini merupakan suatu komponen sintetis 5-nitroimidazole yang bersifat sebagai
amebisid intestinal maupun ekstraintestinal.
Mekanisme kerja ;
Kerja obat ini direfleksikan pada toksisitas selektif terhadap mekroorganisme anaerob
dan untuk sel anoksia maupun hipoksia.
Aktivitas amebisid :
Obat ini selain efektif terhadap E. histolytica, juga digunakan sebaga obat alternative
pada pengobatan giardiasis dan balantidiasis.
Farmakokinetik :
Obat ini diabsorbsi dengan paik pada saluran cerna dan hampir komplet setelah
pemberian per oral. Konsentrasi puncak plasmadicapai dalam waktu 1 jam dan waktu
paruhnya berkisar 8 jam.
Indikasi :
Infeksi amebiasis intestinal dan ekstraintestinal
Trikomoniasis
giardiasis dan balantidiasis
Infeksi bakteri anaerob
Kontraindikasi :
Wanita hamil trimester I
Gangguan system saraf pusat
Ketergantungan alcohol
Hati hati pada pemberian pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.
Efek samping
Secara umum, metronidazol dapat ditoleransi dengan baik, tetapi tidak jarang gejala-
gejala ringan sakit kepala, iritasi saluran pencernaan dan rasa logam gigih.
Reaksi lebih serius jarang terjadi dan cenderung terjadi terutama dalam perawatan
berkepanjangan. Ini termasuk stomatitis dan kandidiasis, leukopenia reversibel dan
neuropati sensori, biasanya ringan dan cepat reversibel.
Pada pasien yang menerima dosis jauh lebih tinggi dari yang direkomendasikan
biasanya diamati ataksia dan epileptiform serangan.

Interaksi obat
Interaksi Obat
Metronidazole meningkatkan aksi antikoagulan oral. Alkohol dapat menyebabkan sakit
perut, muntah, flushing dan sakit kepala. Fenobarbital dan kortikosteroid mengurangi
konsentrasi plasma metronidazol sementara cimetidine mengangkat.
Dosis :
Amebiasis :
Dewasa : 3 X 750 mg/kg BB/hari selama 10 hari
Anak : 35-40 mg/kg BB/hai dibagi dalam 3 dosis selama 7-10 hari
Sediaan :
tablet 200-500 mg
Injeksi 500 mg dalam botol 100 ml
Suspensi dari 200 mg (sebagai benzoate) dalam 5 ml