Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Jaringan transmisi merupakan sarana untuk menyalurkan energi listrik dari

pusat pembangkit ke gardu induk hingga sampai ke jaringan distribusi. Jaringan


transmisi ini juga berperan untuk meminimalisir losses, meminimalisir drop
tegangan, dan membuat jaringan lebih efisien karena menggunakan penghantar
yang berpenampang kecil. Hal tersebut disebabkan oleh tegangan yang digunakan
pada jaringan transmisi adalah tegangan tinggi yaitu 500 kV, 150 kV, dan 70 kV.Oleh
karena itu, jaringan transmisi ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan
tegangan agar tegangan yang dibutuhkan oleh beban tersalurkan dengan baik
.Saluran transmisi memiliki sistem yang kompleks yang mempunyai karakteristik
yang berubah-ubah secara dinamis sesuai keadaan sistem itu sendiri sehingga
sistem proteksi dalam transmisi harus benar-benar handal.

1.2

MANFAAT DAN TUJUAN

1. Memahami definisi jaringan transmisi


2. Mengetahui klasifikasi jaringan transmisi
3. Mengetahui peralatan yang digunakan pada jaringan transmisi
4. Mengetahui gangguan apa saja yang biasa terjadi pada jaringan transmisi dan
cara menanganinya

BAB II
SISTEM PENYALURAN TENAGA LISTRIK

Sistem Tenaga Listrik adalah kumpulan atau gabungan dari komponenkomponen atau alat-alat listrik seperti generator, transformator, saluran transmisi,
saluran distribusi dan beban yang saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan
sehingga membentuk suatu sistem.
Unit
Transmisi

Gardu Induk
distribusi

Unit Distribusi

Trf
Transformator

PMT

PMT
Pemutus
Tenaga

G
Generator

Konsumen Besar

Konsumen Umum

Distribusi Distribusi
sekunder Primer

Unit
Pembangkitan

BAB III
SISTEM TRANSMISI
3.1

DEFINISI
Sistem Transmisi adalah sistem yang menyalurkan energi listrik dari pusat
pembangkit ke pusat beban (Gardu Induk).

transmisi Z = R + J X

drop tegangan = I Z

Vs

Vr
Vr = Vs - IZ
Gambar Model Transmisi tenaga listrik

Sistem transmisi tenaga listrik merupakan salah satu komponen dari


sistem penyaluran tenaga listrik menyalurkan energi tenaga listrik dari pusatpusat pembangkitan menggunakan kawat-kawat (saluran) transmisi, menuju
gardu- gardu induk yang selanjutnya akan didistribusikan ke pelanggan atau
konsumen.
Pada sistem transmisi di Indonesia, tegangan yang umum digunakan adalah
500 kV, 150 kV, dan 70 kV. Alasan mengapa tegangan yang digunakan pada sistem
transmisi ini sangat tinggi adalah dengan tegangan yang lebih tinggi dan daya yang
ditransmisikan sama akan menyebabkan :
1. Penampang penghantar yang digunakan kecil.

2. Losses jaringan lebih rendah

3. Drop tegangan kecil, bahkan cenderung diabaikan


(
)
4. Tidak terganggu oleh pohon dan sambaran petir.
5. Lebih efisien dan ekonomis karena membutuhkan penampang penghantar
yang kecil.
Namun dengan berbagai kelebihan diatas, pemakaian tegangan tinggi pada
saluran transmisi juga memiliki konsekuensi yaitu isolasi komponen dan peralatan
pada system transmisi harus baik
Oleh karena itu, pemilihan tegangan transmisi dilakukan dengan
memperhitungkan daya yang disalurkan, jumlah rangkaian, jarak penyaluran,
keandalan (reliability), biaya peralatan untuk tegangan tertentu, serta tegangantegangan yang sekarang dan yang direncanakan. Kecuali itu, penentuan tegangan
harus juga dilihat dari standarisasi peralatan yang ada. Penentuan tegangan
merupakan bagian dari perancangan sistem secara keseluruhan .
Pemerintah telah menyeragamkan deretan tegangan tinggi sebagai berikut:
Tegangan Nominal Sistim (kV) : 30-66-110-150-220-380-500
Tegangan

Tertinggi

Penentuan

deretan

untuk

Perlengkapan

tegangan

diatas

36-72,5-123-170-245-420-525

disesuaikan

dengan

rekomendasi

International Electrotechnical Comission.


1. Saluran transmisi AC; didalam system AC, penaikan dan penurunan
tegangannya sangat mudah dilakukan dengan bantuan transformator dan juga
memiliki 2 sistem, sistem fasa tunggal dan sistem fasa tiga sehingga saluran
transmisi AC memiliki keuntungan lainnya, antara lain:
a. Daya yang disalurkan lebih besar
b. Nilai sesaat (instantaneous value)nya konstan, dan
c. Mempunyai medan magnet putar

Selain keuntungan - keuntungan yang disebutkan diatas, saluran


transmisi ac juga memilik kerugian, yaitu:
a. Tidak stabil
b. Isolasi yang rumit dan mahal (mahal disini dalam artian untuk
menyediakan suatu isolasi yang memang aman dan kuat).
2. Saluran transmisi DC; dalam saluran transmisi DC, daya guna atau efesiensinya
tinggi karena mempunyai factor daya = 1, tidak memiliki masalah terhadap
stabilitas terhadap system, sehingga dimungkinkan untuk penyaluran jarak
jauh dan memiliki isolasi yang lebih sederhana.
Berhubungan dengan keuntungan dan kerugiannya, saat ini saluran
transmisi di dunia sebagian besar menggunakan saluran transmisi AC. Saluran
transmisi DC baru dapat dianggap ekonomis jika jarak saluran udaranya antara
400km sampai 600km, atau untuk saluran bawah tanah dengan panjang 50km.
Hal tersebut disebabkan biaya peralatan pengubah dari AC ke DC dan
sebaliknya (converter & inverter) masih sangat mahal, sehingga dari segi
ekonomisnya saluran AC akan tetap menjadi primadona dari saluran transmisi.
Apabila ada dua saluran transmisi yang dapat dibandingkan, satu adalah
saluran transmisi ac dan yang lainnya adalah saluran transmisi dc. Dianggap
bahwa isolator-isolator ac dan dc menahan tegangan puncak ke tanah yang sama
sehingga tegangan Vd sama dengan _2

kali tegangan rms ac. Karena itu, serta

data teknik lainnya sama, dapat dilihat bahwa daya dc perkonduktor adalah :
P(dc) = Vd.Id W/kond. ......................(1)
dan daya ac perkonduktor adalah :
P(ac) = VLN.IL.Cos W/kond. ..........(2)
Karena itu, rasio dari daya dc perkondukor terhadap daya ac perkonduktor (fasa),
dapat dinyatakan sebagai :
Jadi, dari studi memperlihatkan bahwa dari suatu saluran dc umumnya
biasanya sekitar 33 % lebih kecil dari suatu saluran ac untuk kapasitas yang sama.
Selanjutnya jika suatu saluran dc dua kutub dibandingkan dengan saluran ac 3

phasa rangkaian ganda, biaya saluran dc sekitar 45 % lebih kecil dari saluran ac.
Biasanya keuntungan biaya saluran dc meningkat pada tegangan tinggi. Rugi daya
karena gejala korona lebih kecil pada saluran dc dibanding saluran ac.
Pembebanan impedansi surja (beban alami) adalah merupakan fungsi dari
tegangan, induktansi dan kapasitansi saluran tidak merupakan fungsi dari panjang
saluran.

Bagaimanapun,

converter-converter

pada

kedua

ujung

saluran

membutuhkan daya reaktif dari sistem ac. Kabel-kabel tanah yang digunakan
untuk transmisi ac dapat juga digunakan untuk dc dan biasanya dapat
menyalurkan daya dc yang lebih besar dari ac. Hal ini disebabkan karena tidak
adanya arus pemuatan kapasitif dan pemanfaatan isolasi yang lebih baik serta
pemakaian bahan dielektrik lebih sedikit.

3.2

JENIS SALURAN TRANSMISI

3.2.1 Berdasarkan Jenis Penyaluran


Ada dua kategori saluran transmisi: saluran udara (overhead line) dan
saluran bawah tanah (underground).
Saluran udara menyalurkan tenaga listrik melalui kawat-kawat yang
digantung pada tiang-tiang transmisi dengan perantaraan-perantaraan
isolator-isolator, sedang saluran bawah tanah menyalurkan listrik melalui
kabel-kabel bawah tanah.
Kedua cara penyaluran mempunyai untung ruginya sendiri-sendiri.
Dibandingakn dengan saluran udara, saluran bawah tanah tidak terpengaruh
oleh cuaca buruk, taufan, hujan angin, bahaya petir dan sebagainya.Saluran
bawah tanah lebih estetis (indah), karena tidak tampak.Karena alasan terakhir
ini, saluran-saluran bawah tanah lebih disukai di Indonesia, terutama untuk
kota-kota besar.Namun biaya, pembangunannya jauh lebih mahal daripada
saluran udara, dan perbaikannya lebih sukar bila terjadi gangguan hubung
singkat dan kesukaran-kesukaran lainnya.
Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua
kategori, yaitu

a. Saluran Udara (Overhead Lines)


Saluran transmisi yang menyalurkanenergi listrik melalui kawatkawat yang digantung pada isolator antara menaraatau tiang transmisi.
Keuntungan dari saluran transmisi udara antara lain :
1. Mudah dalam perbaikan
2. mudah dalam perawatan
3. mudah dalam mengetahui letak gangguan
4. Lebih murah
Kerugian :
1. Karena berada diruang terbuka, maka cuaca sangat berpengaruh
terhadapkehandalannya, dengan kata lain mudah terjadi gangguan dari
luar, sepertigangguan hubungan singkat, gangguan tegangan bila
tersambar petir, dangangguan lainnya.
2. Dari segi estetika/keindahan kurang, sehungga saluran transmisi bukan
pilihan yang ideal untuk transmisi di dalam kota.

Gambar 3 Saluran Listrik Udara Tegangan Tinggi


b. Saluran kabel bawah tanah (underground cable)
Saluran transmisi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel
yang dipendam didalam tanah. Kategori saluran seperti ini adalah favorit
untuk pemasangan didalam kota, karena berada didalam tanah maka tidak

mengganggu keindahan kota dan jugatidak mudah terjadi gangguan akibat


kondisi cuaca atau kondisi alam.
Namuntetap memiliki kekurangan, antara lain mahal dalam instalasi

Gambar 4 Saluran Listrik Bawah tanah

Gambar 5 Saluran Bawah Laut


Berdasarkan Tegangan
Transmisi tenaga listrik sebenarnya tidak hanya penyaluran energi listrik
denganmenggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (overhead
line), namuntransmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat
ke tempatlainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi
(UHV),Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan
Menengah (MHV), dan Tegangan Rendah (LV). Sedangkan Transmisi Tegangan
Tinggi adalah berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu substation (gardu)

induk ke gardu induk lainnya.Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara


tiang (tower) melalui isolator, dengan sistem tegangan tinggi.Standar tegangan
tinggi yang berlaku diindonesia adalah 30kV, 70kV dan 150kV. Ditinjau dari
klasifikasi tegangannya, transmisi listrik dibagi menjadi :
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 200kV-500kV
Pada umumnya saluran transmisi di Indonesia digunakan pada
pembangkitdengan kapastas 500 kV. Dimana tujuannya adalah agar drop
tegangan dari penampang kawat dapat direduksi secara maksimal,
sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien. Akan tetapi
terdapat permasalahan mendasar dalam pembangunan SUTET ialah
konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tanah yang
luas, memerlukan isolator yangbanyak, sehingga memerlukan biaya besar.
Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah masalah
sosial, yang akhirnya berdampak padamasalah pembiayaan.
2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 30kV-150kV
Pada saluran transmisi ini memiliki tegangan operasi antara 30kV
sampai150kV.Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau doble sirkuit,
dimana 1sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat.Biasanya hanya
3 kawat danpenghantar netralnya diganti oleh tanah sebagai saluran
kembali.Apabilakapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar
pada masing-masingphasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau
Qudrapole) dan Berkaskonduktor disebut Bundle Conductor. Jarak terjauh
yang paling efektif dari saluran transmisi ini ialah 100km. Jika jarak
transmisi lebih dari 100 km makategangan jatuh (drop voltage) terlalu
besar, sehingga tegangan diujung transmisimenjadi rendah.
Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop
voltaje) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi
rendah.Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan
secara ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di
Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di
Indonesia.

3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 30kV-150kV


Saluran transmisi ini menggunakan kabel bawah tanah, dengan
alasan beberapapertimbangan :
a. Ditengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena
sangatsulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
b. Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes
darimasyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung
tinggi.
c. Pertimbangan keamanan dan estetika.
d. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.
Jenis kabel yang digunakan:
Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross Link
Poly Etheline (XLPE).
Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil
paper impregnated).
Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan:
Single core dengan penampang 240 mm2 300 mm2 tiap core.
Three core dengan penampang 240 mm2 800 mm2 tiap core.
Pertimbangan fabrikasi.
Pertimbangan pemasangan di lapangan.
Kelemahan SKTT:

Memerlukan biaya yang lebih besar jika dibanding SUTT.

Pada

saat

proses

pembangunan

memerlukan

koordinasi

dan

penanganan yang kompleks, karena harus melibatkan banyak pihak,


misal : pemerintah kota (Pemkot) sampai dengan jajaran terbawah,
PDAM, Telkom, Perum Gas, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan lainlain.

10

Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter.Untuk
desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa
sambungan sesuai kebutuhan.
Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine
Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu:
Sub marine cable 150 KV Gresik Tajungan (Jawa Madura).
Sub marine cable 150 KV Ketapang Gilimanuk (Jawa Bali).
Beberapa hal yang perlu diketahui:
Sub marine cable ini ternyata rawan timbul gangguan.
Direncanakan akan didibangun sub marine cable Jawa Sumatera.
Untuk Jawa Madura, saat ini sedang dibangun SKTT 150 KV yang
dipasang (diletakkan) di atas Jembatan Suramadu.
BerdasarkanPanjang Saluran.
Untuk keperluan analisa dan pehitungan maka diagram pengganti untuk
klasifikasi saluran transmisi biasanya dibagi dalam 3 kelas, yaitu:
kawat pendek (<80 km)
kawat menengah (80-250 km)
kawat panjang (>250 km).
Klasifikasi di atas sangat kabur dan sangat relatif.Klasifikasi saluran
transmisi harus didasarkan atas besar kecilnya kapasitansi ke tanah.Jadi bila
kapasitansi kecil, dengan demikian arus bocor ke tanah kecil terhadap beban,
maka dalam hal ini kapasitansi ke tanah dapat diabaikan dan dinamakan kawat
pendek.Tetapi bila kapasisatansi sudah mulai besar sehingga tidak dapat
diabaikan, tetapi belum begitu besar sekali sehingga masih dapat dianggap
seperti kapasitansi terupsat (lumped capacitance), dan ini dinamakan kawat
menengah.Bila kapasitansi itu besar sekali sehingga tidak mungkin lagi
dianggap sebagai kapasistansi terpusat, dan harus dianggap terbagi rata
sepanjang saluran, maka dalam hal ini dinamakan kawat panjang.

11

a. Saluran Transmisi Pendek


Saluran transmisi pendek didefinisikan sebagai saluran transmisi
yang panjangnya kurang dari 80 km. Pada saluran model ini besar
kapasitansi ke tanah sangat kecil, dengan demikian besar arus bocor ke
tanah kecil terhadap arus beban, maka dalam hal ini kapasitansi ke tanah
dapat diabaikan.Rangkaian ekivalen saluran transmisi pendek ditunjukkan
pada Gambar 2.15 dengan kapasitansi saluran diabaikan.

Gambar 2.15.Rangkaian ekivalen saluran transmisi pendek


b. Saluran Tranmisi Menengah
Saluran transmisi menengah didefinisikan sebagai saluran transmisi
yang mempunyai panjang dari 80 km sampai 250 km. Pada saluran model
ini besar kapasitansi ke tanah cukup besar sehingga tidak dapat diabaikan.
c. Saluran Transmisi Panjang
Saluran transmisi yang panjangnya lebih besar dari 150 mile
digolong pada transmisi panjang, besarnya reaktansi kapasitif paralalel dan
konduktansi semakin kecil sehingga arus bocor semakin besar.Jadi pada
saluran panjang ini semua parameter R, L, C, dan G diperhitungkan secara
terdistribusi sepanjang saluran.
Saluran transmisi panjang ditunjukkan seperti Gambar 2.20, dalam
hal ini ditinjau bahagian yang terpendek dari saluran yaitu elemen dx yang
berjarak x dari sisi beban.Elemen saluran yang panjangnya dx terdiri dari
impedansi seri z dan admittansi y dalam persatuan panjang.Tegangan V dan

12

Arus I besar tegangan dan arus pada sembarang titik yang berjarak x dari
beban.

3.3

SALURAN TRANSMISI BAWAH LAUT


Pusat-pusat pembangkit tenaga listrik terutama yang menggunakan
tenaga air, biasanya terletak jauh dari pusat-pusat beban.Dengan demikian,
tenaga listrik yang telah dibangkitkan harus disalurkan melalui saluran-saluran
transmisi.Saluran-saluran ini membawa tenaga listrik dari pusat pembangkit ke
pusat-pusat beban baik langsung maupun melalui gardu-gardu induk dan gardugardu rele.Saluran transmisi yang dapat digunakan adalah saluran udara atau
saluran bawah tanah. Menurut jenis arus yang dapat dibangkitkan yaitu sistem
arus bolak balik (AC atau alternating current) dan sistem arus searah (DC atau
direct current).
Dengan memperhatikan kondisi negara Indonesia, luas wilayahnya
sebagian besar adalah lautan.Lautan ini bukanlah suatu pemisah antara pulau
yang satu dengan pulau lainnya, melainkan pulau dipandang sebagai
penghubung antar pulau. Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka seyogyanya
para ahli perencanaan penyediaaan tenaga listrik di negera ini turut menyikapi
akan penyatuan sistem ketenagalistrikan, dengan menerapkan transmisi
denganmenggunakan kabel bawah laut. Penyaluran tenaga listrik dengan sistem
arus searah baru dianggap ekonomis bila panjang saluran udara lebih dari 640
km atau saluran bawah tanah lebih panjang dari 50 km.

13

Kabel Tenaga dan Sistem Transmisi HVDC


Untuk penyaluran tenaga listrik di bawah tanah digunakan kabel tenaga
(power cable). Jenis kabel tenaga dapat diklasifikasikan atas :
a. Kelompok menurut kulit pelindungnya (armor)
b. Kelompok menurut konstruksinya
c. Kelompok menurut penggunaan, misalnya kabel saluran, kabel laut
(submarine), kabel corong utama, kabel udara, dan kabel taruh.
Kabel taruh yang dimaksud adalah cara menaruh kabel yang meliputi :
-

Cara menaruh langsung (direct laying)

Sistem pita (duct line)

Sistem terusan tertutup

Saluran Bawah Laut


Kabel yang digunakan untuk transmisi HVDC pada umumnya
mempunyai sifat yang sama dengan kabel tanah, namun dengan konstruksi
yang berbeda. Sebagai penghantar biasanya digunakan kawat tembaga berlilit
(annealed stranded), dan sebagai kulit pelindung digunakan pita baja yang
dapat ditaruh di dasar laut.
Survei Jalur dan Penetapan Panjang Kabel
Survei ini bertujuan untuk mendapatkan data-data kondisi laut dan
jalur kabel yang sesuai.Lintasan yang dilalui kabel diusahakan yang pendek
dan lurus, dasar laut tanpa lembah dan laut yang tidak terlalu dalam. Survei
jalur kabel meliputi:

14

Karakteristik permukaan dasar laut

Kedalaman laut

Pergerakan arus

Arus pasang surut

Pergeseran pasir dasar laut

Data pendukung

Perbedaan antara panjang aktual dan panjang yang direncanakan


disebut "panjang kabel slack".
Pekerjaan Instalasi Kabel Laut
Gaya tarik peletakan kabel ditentukan oleh kecepatan saat
peletakan, berat kabel, gaya pecah dan arus pasang. Gaya tarik kabel (Ts)
dapat diketahui dapat diketahui dengan menggunakan persamaan :
Ts = wh + To .................................(11)
Selama kabel diletakkan, "To" dikontrol pada nilai 500 - 1000 kg.
Beberapa jenis pekerjaan pada saat peletakan kabel meliputi :
1. Pemilihan vessel peletakan kabel, ditarik oleh beberapa tug boat.
2. Pekerjaan persiapan peletakan kabel
3. Penempatan kabel laut
4. Proteksi kabel laut
Kerusakan Kabel Laut
Ada beberapa penyebab kerusakan kabel laut, di antaranya oleh
peralatan pancing, jangkar kapal, gigitan ikan, gesekan sirip ikan, dan lainlain.Oleh karena itu kabel laut harus diproteksi terhadap kemungkinan
terjadinya gangguan seperti yang disebutkan di atas. Ada beberapa cara
yang telah dilakukan memproteksi ganggguan, di antaranya adalah :
a. Menimbun kabel laut di dasar laut, kedalaman penimbunan tergantung
panjang mata peralatan pancing atau mata jangkar, biasanya (20 150)cm.
b. Proteksi dengan rantai pelindung atau jaring pelindung yang diikat pada
kabel. Pemilihan jalur yang tepat atau dengan pemberian tanda yang
menyolok pada jalur lintasan kabel sangat membantu untuk
menghindari kerusakan kabel oleh peralatan pancing dan jangkar kapal.
Analisis dan Pembahasan

15

Kemungkinan penggunaan transmisi HVDC kabel laut di Indonesia


adalah yang melintasi selat Sunda, yang diambil dari interkoneksi jaringan
listrik Jawa-Bali dan Sumatera. Bukit Asam adalah pusat tambang batu bara
di Sumatera. Jaraknya sekitar 170 km dari Palembang, 350 km dari selat
Sunda dan sekitar 450 km dari Jakarta. Berdasarkan data dari Departemen
Pertambangan, diperoleh cadangan batu bara lebih dari 150 juta ton,
sekitar 37 juta ton yang berada di permukaan (open pit mining) dan sekitar
117 juta ton dengan pertambangan di bawah permukaan tanah
(underground mining).
Jarak antara pulau Sumatera dengan Jawa barat sangat dekat, hanya
dibatasi oleh selat Sunda saja.Penggunaan kabel laut sekitar 30 km hingga
35 km tidak terlalu bermasalah.Katapang di Sumatera yang merupakan
daerah perikanan cukup ideal tempat pengiriman daya listrik melalui kabel
laut ke Merak Jawa barat dengan jarak sekitar 35 km.
Berdasarkan energi balance ternyata diperoleh bahwa lebih dari 50
% penggunaan energi di seluruh Jawa digunakan di Jawa barat, dan
permintaan

akan

energi

listrik

meningkat

terus

seiring

dengan

pertumbuhan industri-industri baru.


Transmisi HVDC terdiri dari :
-

Stasiun converter dipasang pada pusat pengirim di Bukit Asam

Stasiun inverter dipasang pada sisi penerima akhir di Merak Jawa barat.

Saluran transmisi udara sepanjang 360 km antara Bukit Asam dengan


Katapang ujung Sumatera dengan arus searah (DC)

Saluran kabel bawah laut menyeberangi selat Sunda antara Katapang


dengan Merak sejauh 35 km.
Di

samping

itu

beberapa

lokasi

lain

di

Indonesia

yang

memungkinkan untuk menggunakan transmisi HVDC dengan kabel laut


antara lain :

16

Palembang Jakarta

Banyumas Gilimanuk

Jawa Timur Madura

Bukit Asam - Katapang Merak

Bukit Asam - Katapang - Batam Singapura

Pulau Kalimantan - pulau Sulawesi

Pertimbangan Penggunaan Transmisi HVDC


Sebagaimana

telah

dijelaskan

sebelumnya

bahwa

dengan

pertimbangan sumber energi di Bukit Asam, beban-beban di Jawa Barat


serta jarak antara kedua daerah tersebut dan beberapa keadaan yang
menguntungkan yang telah diterapkannya transmisis HVDC.Di beberapa
negara seperti di Cross - Channel, Konti - Skandinavia, New Zealand
(250kV) serta Sardinia - Italia Mainland (200 kV), dan lain-lain, maka
kemungkinan besar HVDC ini bisa diterapkan antara Bukit Asam dengan
Merak, dan beberapa daerah di Indonesia.
Pemilihan tegangan transmisi dapat dibuat dengan melihat
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
-

Total daya yang dikirim

Karakteristik dari sistem transmisi

Tegangan tertinggi yang direkomendasikan untuk kabel laut.

Keuntungan-keuntungan Utama Transmisi DC


1. Jika

biaya

yang

besar

untuk

stasiun-stasiun

converter

tidak

diperhitungkan, saluran-saluran udara dan kabel dc lebih murah dari


pada saluran-saluran udara dan kabel-kabel ac. Jarak impas keduanya
adalah sekitar 500 mil untuk saluran udara, (15 - 30 ) mil untuk kabel
bawah laut, (30 - 60) mil untuk kabel bawah tanah.
2. Kondisi rugi corona dan radio interferensi lebih baik pada saluran dc
dibandingkan saluran ac.
3. Faktor daya saluran dc selalu sama dengan satu (1), dan karenanya
tidak dibutuhkan konpensasi daya reaktif.

17

4. Karena tidak dibutuhkan operasi sinkron, maka panjang saluran tidak


dibatasi oleh stabilitas, demikian juga daya dapat dikirim dengan kabel
sampai pada jarak yang sangat jauh.
5. Rugi saluran dc lebih kecil daripada saluran ac untuk saluran yang
sebanding.
Kerugian-kerugian Utama Transmisi DC
1. Converter menimbulkan arus dan tegangan harmonisa pada kedua sisi
ac dan dc, karena itu dibutuhkan filter.
2. Converter menkomsumsi daya reaktif
3. Stasiun-stasiun converter masih relatif mahal
4. Circuit Breaker (CB) dc mempunyai kerugian-kerugian dibanding CB ac,
sebab arus dc tidak menurun ke titik 0 dua kali setiap siklus seperti
pada arus ac.
5. Tidak mudah menyadap daya pada titik sepanjang saluran dc, sehingga
biasanya merupakan sistem poit to point yang menghubungkan suatu
stasiun pembangkit besar ke suatu pusat konsumen daya yang besar,
atau interkoneksi dua sistem ac yang terpisah.
PEMASANGAN KABEL LAUT DENGAN METODE ROCK DUMPING
Perlindungan metode rock dumping terhadap submarine cable Jawa
- Bali dibedakan sesuai letak dan posisi kabel, mulai di darat, laut dangkal,
dan laut dalam. Pada posisi darat, kabel ditanam sedalam 1,5 meter dan di
atasnya diberi concrete slab. Sementara di posisi laut sampai kedalaman air
6 meter, kabel ditanam 1 meter dan diurug dengan karang (rock berm) dan
di posisi laut sampai kedalaman air 20 50 meter, kabel digelar (tanpa
ditanam) dan diurug batu karang yang membentuk trapesium dengan
permukaan atas selebar 1 meter, permukaan bawah 5 meter, serta
ketinggian trapesiumnya mencapai 1 meter. Sedangkan di posisi laut
sampai kedalaman air lebih dari 50 meter, kabel digelar (tanpa ditanam)
dan diurug rock berm dengan bentuk segitiga sama kaki (trapesium
runcing), lebar permukaan mencapai 5 meter dan ketinggian segitiganya
mencapai 1 meter.

18

Rancangan seperti itu, disesuaikan dengan kondisi arus bawah laut


di

lokasi

pemasangan.Bangunan

proteksi

rock

dumping

tersebut

diharapkan dapat mengantisipasi kemungkinan adanya kapal yang


bersandar di tengah selat. Tak hanya itu, dalam menerapkan metode itu
para engineer yang akan mengerjakan proyek telah mempertimbangkan
kondisi arus air dan lumpur di dasar laut.
Metode rock dumping memungkinkan daya yang dihasilkan dari air
bisa tersalurkan melalui celah-celah pada tumpukan batu karang. Jadi,
kekuatan arus air tidak akan tertahan selurunya oleh tumpukan batu
karang sebagai pelindung kabel. Dengan demikian, benturan-benturan yang
ditimbulkan tidak akan merusak struktur bangunan yang menggunakan
metode tersebut.
Metode pemasangan kabel bawah laut, rock dumping juga sudah
diterapkan saat pengerjaan proyek konektifitas Jawa - Bali sebelumnya.Saat
itu, dua sirkit kabel terpasang mengalami kerusakan karena terseret
derasnya arus air di dasar laut, sekitar lokasi pemasangan.Kemudian saat
perbaikan, PLN memutuskan untuk menggunakan metode itu sebagai
antisipasi kejadian serupa. Kapasitas daya yang dihantarkan sama, masingmasing 100 Megawatt per sirkitnya.
Sementara dua kabel yang akan dipasang nanti, kapasitasnya juga
mencapai 100 Megawatt per sirkit. Sehingga nantinya, daya listrik yang
akan mengalir ke wilayah Bali melalui kabel yang berasal dari Jawa
mencapai 400 Megawatt. Sebenarnya, secara teknis dua kabel tersebut
mampu mengalirkan daya masing-masing sebesar 130 MVA setara dengan
110 Megawatt.
Dengan demikan, kabel bawah yang sudah dipasang PLN mencapai
empat sirkit. Namun karena kabel ke satu dan ke dua sudah rusak dan
digantikan oleh dua kabel baru dengan sistem pemasangan mernggunakan
metode rock dumping, maka yang tersisa hanya dua sikit.
Sebelumnya, satu sirkit terdiri dari 3 kabel yang masing-masing
terpisah (three single core). Sedangkan kabel bawah laut Jawa Bali yang

19

akan dipasang akhir tahun ini menggunakan teknologi XLPE dan sirkit yang
terdiri dari 3 kabel menjadi satu (three core) dan setiap core memiliki
diameter 300 mm2 yang terdiri dari dua konduktor dan satu kabel optic
berdiameter lebih kecil. Jaringan optic ini nantinya akan digunakan sebagai
sarana komunikasi dan pengiriman data (data metering and protection)
yang akan dijadikan panduan operasional submarine cable itu sendiri.

3.4

KONFIGURASI JARINGAN
Pada penyaluran tenaga listrik terdapat beberapa jenis konfigurasi yang
secara garis besar umumnya dibagi dalam 5 bentuk konfigurasi jaringan:
3.4.1 Sistem Radial
Sistem Radial merupakan sistem yang paling sederhana, murah, dan
banyak digunakan.Umumnya digunakan pada sistem yang tidak rumit dan
keandalannya paling rendah.

3.4.2 Sistem Ring (Close Loop)


Untuk Sistem Close Loop layak digunakan untuk jaringan yang dipasok
dari satu gardu induk, memerlukan sistem proteksi yang cukup rumit biasanya
menggunakan rele arah (directional).Sistem ini mempunyai kehandalan yang
lebih tinggi dibandingkan sistem lainnya, dan sistem ini jarang digunakan di
PLN tetapi biasanya dipakai untuk pelanggan-pelanggan khusus yang
membutuhkan keandalan tinggi.

20

3.4.3 Sistem Interkoneksi


Sistem interkoneksi merupakan gabungan dari pusat pembangkit tenaga
listrik melalui jaringan transmisi

BEBAN

BEBAN

BEBAN

3.5

KOMPONEN UTAMA SALURAN TRANSMISI


3.5.1 Menara Transmisi atau Tiang Transmisi Beserta Fondasinya
Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran
transmisi, yang bisa berupa menara baja, tiang beton bertulang dan tiang

21

kayu.Tiang tiang baja, beton atau kayu umumnya digunakan pada saluransaluran dengan tegangan kerja relatif rendah (di bawah 70 kV) sedang untuk
saluran transmisi tegangan tinggi atau ekstra tinggi atau ekstra tinggi
digunakan menara baja. Menara baja dibagi sesuai dengan fungsinya, yaitu :
menara dukung, menara sudut, menara ujung, menara percabangan dan
menara transposisi.

3.5.2 Isolator-isolator
Jenis isolator yang digunakan pada saluran transmisi adalah jenis porselin
atau gelas. Menurut penggunaan dan konstruksinya dikenal tiga jenis isolator,
yaitu : isolator jenis pasak, isolator jenis pos saluran dan isolator gantung.
Isolator jenis pasak dan pos saluran digunakan pada saluran transmisi dengan

22

tegangan kerja relatif rendah (kurang dari 22 33 kV), sedang isolator gantung
dapat digandeng menjadi rentangan isolator yang jumlahnya disesuaikan
dengan kebutuhan.
Isolator jenis pasak dan pos saluran digunakan pada saluran transmisi
dengan tegangan kerja relatip rendah (kurang dari 22 33 KV), sedang isolator
gantung dapat digandeng menjadi rentengan isolator yang jumlahnya
disesuaikan dengan kebutuhan.

3.5.3 Kawat penghantar


Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran
transmisi adalah tembaga dengan konduktivitas 100% (CU 100%), tembaga
dengan konduktivitas 97,5 % (CU 97,5 %) atau alumunium dengan

23

koduktivitas 61% (Al 61%). Kawat penghantar alumunium dari berbagai jenis
dengan lambang sebagai berikut:
AAC : All Alumunium Conductor yaitu kawat penghantar yang seluruhnya
terbuat dari alumunium
AAAC :

All Alumunium Alloy Conductor yaitu kawat penghantar yang

seluruhnya terbuat dari campuran alumunium.


ACSR :

Alumunium Conductor Steel Reinforced yaitu kawat penghantar

alumunium ber-inti kawat baja.


ACAR : Alumunium Conductor Alloy Reinforced yaitu kawat penghantar
alumunium yang diperkuat dengan logam campuran.
Kawat

penghantar

tembaga

mempunyai

beberapa

kelebihan

dibandingkan dengan kawat penghantar alumunium karena konduktivitas dan


kuat tariknya lebih tinggi. Tetapi kelemahannya ialah untuk besar tahanan
yang sama tembaga lebih berat dari alumunium dan juga lebih mahal. Oleh
karena itu kawat penghantar alumunium telah menggantikan kedudukan
tembaga.Untuk memperbesar kuat tarik dari kawat alumunium digunakan
campuran alumunium (alumunium alloy).Untuk saluran-saluran transmisi
tegangan tinggi, di mana jarak antara dua tiang/menara jauh (ratusan meter),
dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi.Untuk itu digunakan kawat penghantar
ACSR.
3.4.4. Kawat tanah
Kawat tanah atau ground wire juga disebut sebagai kawat pelindung
(shield wires) gunanya untuk melindungi kawat-kawat penghantar atau kawat
fasa terhadap sambaran petir.Jadi kawat tanah itu dipasang diatas kawat
fasa.Sebagai kawat tanah umumnya dipakai kawat baja (steel wire) yang lebih
murah, tetapi tidaklah jarang digunakan ACSR.
Setiap saluran transmisi memiliki karakteristik listrik, yaitu konstantakonstanta saluran, seperti: tahanan R, induktansi L, konduktansi G, dan
kapasitansi C. Pada saluran udara konduktansi G sangat kecil sehingga dengan
mengabaikan konduktansi G , perhitungan-perhitungan akan jauh lebih mudah
dan pengaruhnyapun masih dalam batas-batas yang dapat diabaikan.

24

3.6 PERALATAN UNTUK MENJAGA KONTINUITAS DAN POWER


QUALITY
A. Kontinuitas
1. Lightning Arrester dan OGW (Overhead Ground Wire)
Agar di saat ada sembarang petir kelangsungan kinerja kondukter
tetap terjaga.
2. Isolator
Untuk

menghindarkan

bagian

yang

bertegangan

dan

tidak

bertegangan sehingga tidak terjadi hubung singkat.


3. Sistem Proteksi pada GI
Supaya dapat melokalisir gangguan yang terjadi di saluran transimisi
agar peralatan yang ada dalam sistem tenaga tidak mengalami kerusakan.
B. Power Quality
1. Kompensator pada GI
Berfungsi sebagai switch (saklar) yang menyerap dan memberikan
daya reaktif yang sesuai dengan kebutuhan sistem, sehingga energi listrik
yang disalurkan juga akan sesuai dengan yang diharapkan
2. Transformator Instrumen
Supaya bisa mengetahui kualitas energi listrik yang ada di dalam
system
3. Tap Changer
Untuk mengatasi drop tegangan yang terjadi selama penyaluran
energi listrik pada jaringan transmisi

3.7 FENOMENA PADA SISTEM TRANSMISI


3.7.1 Korona

25

Dalam bidang listrik, lucutan korona adalah lucutan elektrostatik yang


disebabkan oleh ionisasinya fluida yang mengelilingi sebuah konduktor, yang
terjadi saat gradien potensial (kekuatanmedan listrik) melebihi nilai tertentu,
tapi kondisinya tidak cukup untuk menimbulkan busur elektrik atau dadalan
elektrik (Bahasa Inggris: electrical breakdown).
Semakin tinggi tegangan operasi maka kemungkinan timbulnya korona
sangat besar. Korona ini akan memperbesar kapasitansi, dengan demikian
memperbesar arus bocor. Jadi ada kalanya walaupun panjang saluran hanya 50
km, misalnya, dan bila tegangan kerja sangat tinggi (Tegangan Ekstra Tinggi,
EHV, apalagi Tegangan Ultra Tinggi, UHV) maka kapasitansi relatif besar
sehingga tidak mungkin lagi diabaikan walapun panjang saluran hanya 50 km.
Lucutan korona biasanya melibatkan dua elektrode asimetris; elektrode
yang satu memiliki permukaan yang sangat melengkung (seperti ujung sebuah
jarum atau kawat berdiameter kecil) dan elektrode satunya lagi memiliki
kelekukan yang rendah (seperti piring atau permukaan tanah).Kelengkungan
yang

tinggi

memastikan

potensial

gradien

yang

tinggi

di

sekitar

sebuah elektrode, untuk menciptakan sebuah plasma.


Korona bisa bermuatan positif atau negatif.Hal ini ditentukan oleh
polaritas tegangan di elektrode yang kelengkungannya tinggi.Jika elektrode
melengkung bemuatan positif berkenaan dengan elektoda rata terciptalah
korona

positif,

tapi

jika

negatif

yang

tercipta

adalah

korona

negatif.Ketidaksamaan sifat korona positif dengan korona negatif yang amat


berbeda

disebabkan

oleh

jauh

berbedanya

massa

elektron

dengan ion bermuatan positif, dengan hanya elektron memiliki kemampuan

26

mengalami

tingkat benturan

taklenting pengion

yang

signifikan

pada

temperatur dan tekanan bersama.


Fungsi lucutan korona yang utama adalah terciptanya ozon di sekitar
konduktor yang mengalami proses korona. Korona negatif menghasilkan ozon
jauh lebih banyak daripada korona positif.
Korona bisa menghasilkan derau/bising terdengarkan dan frekwensi
radio,

khususnya

di

dekat

jaringan

transmisi

tenaga

listrik.Selai

merepresentasikan rugi daya, aksi lucutan korona di partikel-partikel


atmosfer, bersama dengan produksi ozone dan nitrogen oksida yang berkaitan
dengan lucutan korona, bisa merugikan kesehatan manusia yang bermukim di
wilayah-wilayah yang dilalui jaringan listrik.Dengan begitu, peralatan
transmisi tenaga listrik didesain untuk meminimalisir terbentuknya lucutan
korona.

Lucutan korona menyebabkan:

Rugi daya

Bising terdengarkan

Gangguan elektromagnetik

Pijar ungu

Produksi ozon

Kerusakan pengisoliran

Korona positif
Korona positif berbentuk sebuah plasma seragam di sepanjang sebuah
konduktor.Korona positif sering terlihat dengan pijaran berwarna biru/putih,
meski sebagian besar emisi berada dalam ultraviolet.Keseragaman plasma
disebabkan oleh sumber lonsoran elektron sekunder yang homogen yang
dijelaskan dalam seksi mekanisme di bawah. Dengan geometri dan tegangan
yang sama, korona positif tampak lebih kecil daripada korona negatif, berkat
kurangnya wilayah plasma non-pengion di antara wilayah bagian dalam
dengan bagian luar. Elektron bebas dalam sebuah korona positif jauh lebih
sedikit daripada korona negatif, kecuali sangat dekat dengan elektrode

27

melengkung: mungkin seperseribu rapatan elektron dan seperseribu total


jumlah elektron.
Namun, elektron-elektorn dalam sebuah korona positif dikonsentrasikan
dekat dengan permukaan konduktor melengkung, di dalam sebuah wilayah
gradien potensial yang tinggi (dan dengan begitu elektron memiliki tenaga
tinggi), sedangkan elektron di dalam korona negatif berada di wilayah luar
bagian bawah. Dengan begitu, jika elektron digunakan dalam sebuah aplikasi
yang membutuhkan tenaga aktivasi yang tinggi, korona positif bisa mendukung
tetapan reaksi yang lebih besar daripada korona negatif; walau jumlah total
elektron lebih sedikit, jumlah elektron tenaga sangat tinggi lebih banyak.
Korona merupakan produsen ozon yang efisien di udara.Ozon yang
dihasilkan sebuah korona positif jauh lebih sedikit daripada korona negatif,
sebab reaksi yang menghasilkan ozon berenergi relatif rendah. Dengan begitu,
semakin banyak jumlah elektron di korona negatif akan meningkatkan
produksi ozon
Sama dengan korona negatif, korona positif dimulai oleh sebuah peristiwa
ionisasi eksogen dalam kawasan gradien potensial yang tinggi.Elektron yang
dihasilkan dari ionisasi ditarik menujuelektrode melengkung, dan ion-ion
positif ditolak darinya.Dengan melakukan benturan taklenting semakin dekat
dan dekat ke elektrode melengkung, makin banyak molekul yang diionkan
dalam sebuah longsoran elektron.Di dalam sebuah korona positif, elektronelektron sekunder dihasilkan di dalam fluida, tepatnya dalam wilayah di
luar plasma atau wilayah longsoran.
Elektron-elektron sekunder itu diciptakan oleh ionisasi yang disebabkan
oleh foton yang dipancarkan dari plasma itu dalam berbagai proses deeksitasi
yang terjadi di dalam plasma seusai benturan elektron, energi termal yang
dibebaskan dalam benturan itu menciptakan foton yang diradiasikan ke dalam
gas. Elektron yang dihasilkan dari ionisasinya molekul gas netral lalu ditarik
kembali secara elektris menuju elektrode melengkung, ditarik ke dalam
plasma, dan dengan begitu memulai proses menciptakan longsoran lebih jauh
di dalam plasma.

28

Seperti yang bisa dilihat, korona positif dibagi menjadi dua wilayah,
sepusat di sekeliling elektrode tajam.Wilayah bagian dalam terdiri dari
elektron pengion dan ion positif yang bertindak sebagai sebuah plasma,
longsoran elektron dalam wilayah ini, yang lebih jauh menciptakan banyak
sekali pasangan ion/elektron.Hampir seluruh wilayah bagian luar terdiri dari
ion positif masif yang bermigrasi dengan pelan, bergerak menuju elektrode
melengkung, dekat dengan antarmuka kawasan ini, elektron-elektron
sekunder, dibebaskan oleh foton yang meninggalkan plasma, yang dipercepat
kembali ke dalam plasma.Wilayah dalam dikenal sebagai wilayah plasma,
sedang wilayah luar sebagai wilayah unipolar.
Korona negative
Korona negatif dihadirkan dalam korona takseragam, yang bervariasi
sesuai

dengan

ciri

permukaan

dan

ketidakteraturannya

konduktor

melengkung.Ia sering muncul sebagai gumpalan korona di tepi tajam, jumlah


gumpalan berubah sesuai dengan kekuatan medan. Terbentuknya korona
negatif merupakan hasil dari sumber elektron longsoran sekunder (lihat di
bawah).Ia tampak sedikit lebih besar dari korona positif, sebab elektron
diperbolehkan melayang keluar dari wilayah pengion.Jumlah total elektron,
dan rapatan elektron jauh lebih besar dari yang ada di korona positif.
Proses terbentuknya korona negatif jauh lebih kompleks daripada korona
positif. Sama seperti korona positif, pembentukan korona dimulai dengan
sebuah peristiwa ionisasi eksogen yang menghasilkan elektron primer, yang
dilanjutkan dengan longsoran elektron.
Elektron

diionkan

dari gas

netral

yang

tidak berguna

dalam

mempertahankan proses korona negatif dengan menghasilkan elektron


sekunder untuk longsoran lebih jauh lagi, karena pada umumnya elektron
dalam sebuah korona negatif bergerak keluar dari elektrode melengkung.
Untuk korona negatif, proses menghasilkan elektron sekunder yang dominan
adalah efek fotolistrik, dari permukaan elektrode sendiri.Fungsi kerjanya
elektron (energi yang dibutuhkan untuk membebaskan elektron dari
permukaan) sangat rendah daripada energi ionisasinya udara pada suhu dan

29

tekanan yang standar, membuatnya menjadi sumber elektron sekunder yang


lebih liberal dalam kondisi tersebut.Sekali lagi, sumber energi untuk
pembebasan elektron adalah foton tenaga tinggi dari sebuah atom dalam
perelaksasian

tubuh

plasma

setelah

eksitasi

dari

benturan

sebelumnya.Penggunaan gas netral terionisasi sebagai sumber ionisasi


dikurangi lebih jauh dalam sebuah korona negatif dengan konsentrasi ion-ion
positif yang tinggi yang bergerombol di sekitar elektoda melengkung.
Dalam kondisi-kondisi yang lain, benturan spesies positif dengan
elektrode melengkung bisa pula menyebabkan pembebasan elektron.Dengan
begitu yang membedakan korona positif dengan korona negatif, dalam hal
terciptanya longsoran elektron sekunder, adalah longsoran elektron sekunder
di dalam korona positif diciptakan oleh gas berada di sekitar wilayah plasma,
elektron-elektron sekunder yang baru bergerak ke dalam, sedangkan
longsoran elektron sekunder dalam korona negatif diciptakan oleh elektrode
melengkung itu sendiri, elektron sekunder yang baru bergerak keluar.
Ciri selanjutnya dari struktur korona negatif adalah elektron yang
melayang keluar akan bertemu dengan molekul netral dan, bersamasama molekul elektronegatif (seperti oksigen dan uap air), bergabung untuk
menghasilkan ion negatif. Lalu ion negatif ditarik ke elektrode tak melengkung
yang positif, menyelesaikan rangkaian.
Sebuah korona negatif bisa dibagi menjadi 3 wilayah radial, di sekeliling
elektrode tajam.Dalam wilayah bagian dalam, benturan taklenting elektronelektron berenergi tinggi dengan atom netral menyebabkan longsoran,
sedangkan elektron sebelah luar (yang biasanya berenergi lebih rendah)
bergabung dengan atom netral untuk memproduksi ion negatif. Dalam wilayah
perantara/tengah, elektron-elektron bergabung untuk membentuk ion negatif,
tapi biasanya memiliki energi yang tak cukup untuk menyebabkan ionisasi
longsoran, tapi tetap menjadi bagian dari sebuah plasma yang berhubungan
dengan polaritas yang berbeda dari spesies saat ini, dan kemampuan untuk
ikut serta dalam berbagai reaksi plasma karakteristik. Di wilayah sebelah luar,
hanya berlangsung sebuah aliran ion negatif dan, pada tingkatan yang lebih
rendah, elektron bebas yang menuju elektrode positif.Dua wilayah bagian

30

dalam

dikenal

sebagai plasma korona.Wilayah

sebelah

dalam

merupakan plasma pengion, tengah merupakan plasma bukan-pengion.Wilayah


sebelah luar dikenal sebagai wilayah unipolar.

Secara teoritis elektron yang membawa arus listrik pada jaringan


tegangan tinggi akan bergerak lebih cepat bila perbedaan tegangannya makin
tinggi. Elektron yang membawa arus listrik pada jaringan interkoneksi dan
juga pada jaringan transmisi, akan menyebabkan timbulnya medan magnet
maupun medan listrik. Elektron bebas yang terdapat dalam udara di sekitar
jaringan tegangan tinggi, akan terpengaruh oleh adanya medan magnet dan
medan listrik, sehingga gerakannya akan makin cepat dan hal ini dapat
menyebabkan timbulnya ionisasi di udara. Ionisasi dapat terjadi karena
elektron sebagai partikel yang bermuatan negatif dalam gerakannya akan
bertumbukan dengan molekul-molekul udara sehingga timbul ionisasi berupa
ion-ion dan elektron baru. Proses ini akan berjalan terus selama ada arus pada
jaringan tegangan tinggi dan akibatnya ion dan elektron akan menjadi berlipat
ganda terlebih lagi bila gradien tegangannya cukup tinggi. Udara yang lembab
karena adanya pepohon di bawah jaringan tegangan tinggi akan lebih
mempercepat terbentuknya pelipatan ion dan elektron yang disebut dengan
avalanche. Akibat berlipatgandanya ion dan elektron ini (peristiwa avalanche)
akan menimbulkan koronaberupa percikan busur cahaya yang seringkali
disertai pula dengan suara mendesis dan bau khusus yang disebut dengan bau
ozone. Peristiwa avalanche dan timbulnya korona akibat adanya medan
magnet dan medan listrik pada jaringan tegangan tinggi inilah yang sering
disamakan dengan radiasi gelombang elektromagnet atau radiasi tegangan
tinggi.

31

3.7.2 Skin effect/efek Kulit


Jenis losses konduktor lain terjadi karena Skin effect/efek kulit. Jika arus
dc mengalir pada konduktor, pergerakan elektron pada potongan melintang
konduktor adalah seragam.Situasi berbeda jika diberikan sinyal ac. Jika
frekuensi dinaikan, arus pada tengah konduktor makin kecil dan elektron
cenderung mengalir dipermukaan konduktor.Efeknya seolah potongan
melintang dari konduktor menjadi mengecil.Jika potongan melintang mengecil
maka

Resistansi

konduktor

menjadi

meningkat.

Ingat rumus resistansi


R = Resistansi (ohm)
l = Panjang konduktor (m)
= hambat jenis
A = Luas penampang konduktor
Resistansi meningkat maka losses bertambah.Konduktor loss dikurangi
dengan melapisi konduktor tembaga dengan timah atau perak atau emas.
Makin besar penampang konduktor makin kecil lossesnya
Makin panjang konduktor makin besar lossesnya.
4. Dielektrik Loss
Dielektrik Loss disebabkan oleh efek pemanasan yang ditimbulkan
diantara dua konduktor.Daya dari sumber menyebabkan panas pada dielektrik.
Panas akan didisipasikan pada media disekelilingnya. Bila tidak ada perbedaan
potensial antara dua konduktor, atom dalam bahan dielektrik antara mereka
adalah normal dan orbit elektron melingkar.Ketika ada perbedaan potensial
antara dua konduktor, orbit elektron mengalami perubahan. Muatan negatif
yang berlebihan pada satu konduktor mengusir elektron pada dielectric
menuju konduktor positif dan dengan demikian akan merusak orbit elektron.

32

Perubahan di jalur elektron memerlukan lebih banyak energi, sehingga


mengakibatkan adanya daya yang hilang.
Struktur atom karet lebih sulit untuk rusak daripada struktur dari
beberapa bahan dielektrik lainnya.Atom-atom bahan, seperti polietilen, lebih
mudah rusak.Dengan demikian, polyethylene sering digunakan sebagai
dielektrik karena daya yang dikonsumsi lebih rendah saat orbit elektron
diselewengkan.
5. Loss Radiasi dan InduksiInduction Loss
Saat medan elektromagnet sekitar konduktor memotong benda metal
didekatnya maka arus terinduksi pada benda tersebut.Hasilnya daya didisipasi
pada benda tersebut dan timbul loss
6. Radiasi Loss
Garis gaya magnet tidak semua kembali ke konduktor saat putaran
berbalik dan terbuang ke udara. Energi yang terbuang inilah yang
menimbulkan losses

3.8 GANGGUAN PADA SALURAN TRANSMISI


Penyebab Gangguan Yang Terjadi Pada Saluran Transmisi Distribusi
Gangguan yang terjadi pada saluran transmisi tenaga listrik disebabkan
oleh dua faktor, yaitu faktor dalam dan faktor luar.Gangguan dari faktor dalam
yaitu gangguan yang disebabkan adanya kerusakan suatu peralatan sedangkan
gangguan dari faktor luar yaitu gangguan yang disebabkan oleh lingkungan alam.
Gangguan ini menyebabkan parameter listrik menjadi abnormal dan berpotensi
merusak peralatan lain yang digunakan dalam operasi sistem tenaga listrik.
Pada sistem operasi tenaga listrik pada daerah jawa bali penyebab utama
gangguan yang sering terjadi adalah Petir. Dimana pada saluran instalasi yang
paling sering terkena petir adalah saluran Udara.
Baik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), Saluran Udara Tegangan
Menengah (SUTM) maupun Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) hal ini
dikarenakan pada daerah Indonesia umumnya jumlah petir dapat dikatakan

33

tergolong sangat banyak. Hal ini dinyatakan dengan Isokeraunic level (IKL) yaitu
nilai angka yang menunjukan jumlah hari guruh per tahun.Dikatakan dalam
beberapa sumber, angka IKL dipulau jawa berkisar antara 20 sampai 135.Selain
itu, petir dapat menghasilkan arus yang sangat besar yang dapat menyebabkan
tahanan isolasi menjadi rusak dan terjadi flashover yang menyebabkan gangguan
fase ke tanah.Menurut statistik, gangguan fase ke tanah merupakan gangguan yg
paling sering terjadi.
Meskipun petir merupakan penyebab utama terjadinya gangguan pada
saluran operasi tenaga listrik, namun masih ada beberapa penyebab gangguan
lainnya, yaitu tanaman/pepohonan yang menjulang tinggi didaerah sekitar
Saluran Udara, layang-layang maupun binatang. Pada SUTR dan SUTM ganggguan
karena pepohonan sering kali terjadi,hal ini dikarenakan pada SUTM dan SUTR
tidak mempunyai jalur khusus yang bebas tanaman seperti pada SUTT 150 KV,70
KV.
Sedangkan gangguan yang sering terjadi pada saluran kabel bawah tanah
biasanya bersifat permanen dan selalu diiringi kerusakan.Biasanya kerusakan
yang terjadi pada saluran baawah tanah diakibatkan dari kelalaian manusia yaitu
kelalaian seseorang (terkena cangkul),namun pergeseran lempengan tanah juga
dapat menyebabkan kerusakan (Gempa).
Dalam hal melindungi saluran tenaga listrik tersebut dari sambaran petir,
ada beberapa cara yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang paling mudah
adalah dengan menggunakan kawat tanah (overhead groundwire) pada saluran.
Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini adalah bahwa kawat tanah akan menjadi
sasaran sambaran petir sehingga melindungi kawat phasa dengan daerah/zona
tertentu.
Overhead groundwire yang digunakan untuk melindungi saluran tenaga
listrik, diletakkan pada ujung teratas saluran dan terbentang sejajar dengan kawat
phasa.Groundwire ini dapat ditanahkan secara langsung atau secara tidak
langsung dengan menggunakan sela yang pendek.
Untuk meningkatkan keandalan sistem ini, diperlukan pentanahan yang
baik pada setiap menara listrik. Jika petir menyambar pada groundwire di dekat

34

menara listrik, maka arus petir akan terbagi menjadi dua bagian. Sebagian besar
arus

tersebut

mengalir

ke

tanah

melalui

pentanahan

pada

menara

tersebut.Sedangkan sebagian kecil mengalir melalui groundwire dan akhirnya


menuju ke tanah melalui pentanahan pada menara listrik berikutnya.Lain halnya
jika petir menyambar pada tengah-tengah groundwire antara 2 menara listrik.
Gelombang petir ini akan mengalir ke menara-menara listrik yang dekat dengan
tempat sambaran tersebut.
Usaha yang paling mudah untuk meningkatkan performa perlindungan
adalah dengan menggunakan lebih dari satu groundwire. Dengan cara ini
diharapkan petir akan selalu menyambar pada groundwire sehingga memperkecil
probabilitas kegagalan perlindungan. Cara ini dapat disertai dengan menggunakan
counterpoise, yaitu konduktor yang ditempatkan di bawah saluran (lebih sering
dibenamkan dalam tanah) dan dihubungkan dengan sistem pentanahan dari
menara listrik. Hasilnya, impedansi surja akan lebih kecil.
Usaha-usaha lainnya di antaranya :
-

Memasang couplingwire di bawah kawat phasa (konduktor yang disertakan di


bawah saluran transmisi dan dihubungkan dengan sistem pentanahan menara
listrik).

Mengurangi resistansi pentanahan menara listrik dengan menggunakan


elektroda pentanahan yang sesuai.

Menggunakan arester.

Cara yang terakhir ini boleh dikatakan sebagai alat pelindung yang paling baik
terhadap gelombang surja. Arester inilah yang terus dikembangkan oleh para
ahli untuk mendapatkan performa perlindungan yang makin baik.
Untuk pertanahan pada jaringan transmisi dikategorikan sebagai

pertanahan peralatan, dimana untuk mencegah terjadinya tegangan kejut listrik


yang berbahaya untuk manusia didalam daerah tersebut. Tujuan dari pertanhan
itu sendiri adalah :
1. Untuk membatasi tegangan antara bagian bagian peralatan yang tidak dilalui
arus dan antara bagian bagian peralatan dengan tanah sampai pada suatu
harga yang tidak membahayakan manusia.

35

2. Untuk memperoleh impedansi yang kecil / rendah dari jalan balik arus hubung
singkat ke tanah. Bila impedansinya tanah tinggi, maka akan menimbulkan
perbedaan potensial yang besar dan berbahaya. Juga sambungan sambungan
pada rangkaian pertanahan dapat menimbulkan busur listrik yang br=esar
pada material.
Untuk mereduksi adanya tegangan sentuh dan tegangan lebih akibat
sambaran petir pada konstruksi SUTT yang tidak bertegangan, dipasang beberapa
pertanahan (Ground Rod) yang dihubungkan satu sama yang lain dengan plat
tembaga dan dihubungkan ke tiang dari dua sisi yang berlawanan. Tahanan
pertanahan setiap tiang diisyaratkan maksimum 10 ohm, diukur tanpa
dihubungkan dengan kawat tanah.
Pertanahan tower terdiri dari kawat tembaga atau kawat baja yang diklem
pada pipa pertanahan yang ditanam didekat pondasi tiang, atau dengan
menanamkan plat alumunium/tembaga disekitar tiang yang berfungsi untuk
mengalirkan arus dari kawat tanah akibat sambaran petir.
Kesimpulan, pemakaian overhead groundwire dalam saluran transmisi
tenaga listrik mempunyai harapan agar sambaran petir tidak mengenai kawat
phasa.Luas zona/daerah perlindungan groundwire tergantung dari ketinggian
groundwire itu sendiri. Probabilitas kegagalan dalam perlindungan akan naik
dengan makin tingginya groundwire dan besarnya sudut perlindungan. Untuk itu
diperlukan pemilihan ketinggian serta sudut perlindungan yang sesuai untuk
mendapatkan perlindungan yang baik.
Peningkatan performa perlindungan transmisi tenaga listrik dari sambaran
petir

yang

paling

groundwire.Kombinasi

mudah
pemakaian

dilakukan

dengan

groundwire

dengan

menambah

jumlah

peralatan-peralatan

lainnya sangat diharapkan untuk memperoleh performa perlindungan yang lebih


tinggi di antaranya dengan pemakaian arester yang merupakan alat pelindung
modern.

36

3.9

SISTEM PROTEKSI
Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah proteksi yang dipasang
pada peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga
proses penyaluaran tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power
Plant) hingga Saluran distribusi listrik (substation distribution) dapat disalurkan
sampai pada konsumer pengguna listrik dengan aman. Proteksi transmisi tenaga
listrik diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar jika terjadi gangguan
peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak mengalami
kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam kondisi menyala. Jika
proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan
transmisi tenaga listrik dalam kondisi bertegangan. Jika saat melakukan
pemeliharaan tersebut terjadi gangguan, maka pengaman-pengaman yang
terpasang harus bekerja demi mengamankan sistem dan manusia yang sedang
melakukan perawatan.
Transmisi tenaga listrik terbagi dalam beberapa kategori. Kategori yang
pertama adalah transmisi dengan tegangan sebesar 500kV. Ini merupakan
transmisi yang sangat tinggi. Karena di Indonesia masih menggunakan sistem 500
kV. Kategori yang kedua adalah transmisi dengan tegangan sebesar 150 kV. Dan
yang ketiga adalah transmisi 75 kV. Untuk dibawah 75 kV selanjutnya dinamakan
dengan distribusi tenaga listrik.
Proteksi berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti
system tersebut tidak merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau
pengaman sistem, sistem merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang
sangat singkat dapat diamankan. Sehingga sistem tidak mengalami kerusakan
akibat gangguan yang terlalu lama.
Gangguan pada transmisi tenaga listrik dapat berupa :
a. Gangguan transmisi akibat hubung singkat.
b. Gangguan transmisi akibat sambaran petir.
c. Gangguan transmisi akibat hilangnya salah satu kabel fasa disebabkan oleh
manusia
Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani
konsumen sangat tergantung pada sistem proteksi yang digunakan.Oleh sebab itu

37

dalam perencangan suatu sistem tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisikondisi gangguan yang mungkin terjadi pada sistem, melalui analisa gangguan.
Dari hasil analisa gangguan, dapat ditentukan sistem proteksi yang akan
digunakan, seperti: spesifikasi switchgear, rating circuit breaker (CB) serta
penetapan besaran-besaran yang menentukan bekerjanya suatu relay (setting
relay) untuk keperluan proteksi.
Sistem proteksi adalah susunan perangkat proteksi secara lengkap yang
terdiri dari perangkat utama dan perangkat perangkat lain yang dibutuhkan
untuk melakukan fungsi tertentu berdasarkan prinsip prinsip proteksi.
A.

Perangkat Sistem Proteksi


Proteksi

terdiri

dari

seperangkat

peralatan

yang

merupakan

sistem yang terdiri dari komponen-komponen berikut :


1. Relai, sebagai alat perasa untuk mendeteksi adanya gangguan yang
selanjutnyamemberi perintah trip kepada CB
2. Trafo

arus

dan/atau

trafo tegangan

sebagai alat yang

mentransfer besaran listrik primer dari sistem yang diamankan ke Relai


(besaran listrik sekunder ).
3. CB untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu.
4. Baterai beserta alat pengisi (bateray charger) sebagai sumber tenaga
untuk bekerjanya relay , peralatan bantu tripping, dan sirkit peralatan
bantu.
5. Pengawatan ( wiring ) yang terdiri dari sirkit sekunder ( arus dan /atau
tegangan ), sirkit triping dan sirkit peralatan bantu.
B.

Relai Proteksi
Rele proteksi sebagai komponen utama sistem tenaga listrik dalam
melaksanakan tugasnya yaitu untuk mengidentifikasi gangguan, harus
memenuhi beberapa persyaratan keandalan ( reliability ), yaitu:
1) Sensitivitas
Merupakan kemampuan sistem proteksi untuk mengidentifikasi
adanya ketidaknormalan atau gangguan yang berada di dalam daerah
yang diproteksinya.
2) Selektivitas

38

Koordinasi dari sistem proteksi , dimana jika terjadi gangguan, rele


hanya

membuka

pemutus

tenaga

yang

diperlukan

saja

(tidak

menyebabkan pemutusan pemadaman jaringan yang lebih luas ).


3) Keamanan
Kemampuan sistem proteksi untuk menjamin peralatan proteksi
akan bekerja jika terjadi suatu gangguan dan tidak akan bekerja jika tidak
terjadi gangguan
4) Kecepatan
Ketika

terjadi

gangguan,

komponen

proteksi

harus

dapat

memberikan respon waktu yang tepat, sesuai dengan koordinasi yang


diinginkan.
5) Stabil
Proteksi yang ada tidak mempengaruhi sistem pada kondisi normal.

C.

Klasifikasi relay berdasarkan fungsinya


1. Over Current Relay
Rele ini berfungsi mendeteksi kelebihan arus yang mengalir pada
zona proteksinya
2. Differential relay
Rele ini bekerja dengan membandingkan arus sekunder trafo arus (
CT ) yang terpasang pada teminal-terminal peralatan listrik dan rele ini
aktif jia terdapat perbedan pada arus sirkulasi.
3. Directional relay
Rele ini berfungsi mengidentifikasi perbedaan fasa antara arus yang
satu dengan yang lain atau perbedaan fasa antar tegangan. Rele ini dapat
membedakan apakah gangguan yang terjadi berada di belakang ( reverse
fault ) atau di depan ( forward fault ).
4. Distance relay
Relay ini berfungsi membaca imoedansi yang dilakukan dengan cara
mengukur arus dan tegangan pada suatu zona apakah sesuai atau tidak
dengan batas pengaturannya.
5. Ground fault relay

39

Relay ini digunakan untuk mendeteksi gangguan ke tanah atau lebih


tepatnya mengukur besarnya arus residu yang mengalir ke tanah.
D.

Keadaan Operasi Rele


1.

Operate : Kondisi dimanarelay tersebut memerintahkan peralatan


proteksi untuk bekerja

2.

Pick up :Kondisi saat relay mulai mendeteksi adanya kenaikan arus atau
tegangan pada sistem.

3.

Drop out : Kondisi dimana relay tidak merasakan gangguan lagi. Pada
kondisi ini, relay membuka normally open contact

4.

Reset :Kondisi dimana relay di kembalikan ke keadaan semula ( reset


relay flag ). Pada kondisi ini rele menutup kontak dari rele closed contact.

Penerapan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

E.

Proteksi transmisi tenaga listrik diberlakukan di semua transmisi


tenaga listrik. Namun, untuk pemasangannya hanya berada di gardu induk.
Pemasangannya pada saluran masuk ke gardu induk dan di saluran keluar
garu induk. Sehingga jika jaringan transmisis terjadi gangguan, maka gardu
induk

tidak

mengalami

kerusakan.

Jika

terjadi

kerusakan,

maka

kerusakannya minimal. Kecuali kawat tanah.


Kawat tanah dipasang diatas kawat fasa yang berfungsi untuk
melindungi kawat fasa dari sambaran petir. Sehingga pemasanggannya
berada diseluruh jaringan transmisi tenaga listrik.
F.

Pencegahan Gangguan Transmisi Tenaga Listrik


Pencegahan gangguan pada jaringan transmisi sangat penting
dilaksanakan karena jaringan tranmisi merupakan penyalur utama dari
energi listrik untuk sampai ke jaringan distribusi dan seterusnya sampai ke
konsumen. Jika jaringan transmisi menyalurkan secara baik maka energi
listrik tidak akan terputus-putus. Pencegahan gangguan bertujuan untuk
mengecilkan dari frekuensi terjadinya hambatan penyaluran energi listrik.

40

a) Usaha Memperkecil Terjadinya Gangguan


Cara yang ditempuh, antara lain:

Membuat alat proteksi sesuai dengan fungsinya masing-masing dan


dapat bekerjadengan cepat jika terjadi gangguan sehingga tidak
menyebabkan kerusakan pada sistem jaringan.

Menyetting relay proteksi sesuai dengan waktu kerjanya. Arus atau


tegangan kerja relay harus lebih besar dari arus dan tegangan normal,
sehingga relay dapat bekerja sesuai fungsinya.

Membuat isolasi yang baik untuk semua peralatan transmisi

Membuat koordinasi isolasi yang baik antara ketahanan isolasi


peralatan transmisidan penangkal petir (arrester).

Memakai kawat tanah dan membuat tahanan tanah pada kaki menara
sekecilmungkin, serta selalu mengadakan pengecekan.

Membuat perencanaan yang baik untuk mengurangi pengaruh dan


mengurangiatau menghindarkan sebab-sebab gangguan karena
hubungsingkat dan sambaran petir.

Pemasangan yang baik, artinya pada saat pemasangan harus


mengikuti peraturanperaturan yang berlaku.

Menghindari kemungkinan kesalahan operasi, yaitu dengan membuat


prosedurtata cara operasional (standing operational procedur) dan
membuat jadwal pemeliharaan yang rutin.

Memasang kawat tanah pada SUTT dan gardu induk untuk melindungi
terhadapsambaran petir

Memasang lightning arrester (penangkal petir) untuk mencegah


kerusakan pada peralatan akibat sambaran petir.

b) Usaha Mengurangi Kerusakan Akibat Gangguan


Beberapa cara untuk mengurangi pengaruh akibat gangguan,
antara lain sebagai berikut:

Secepatnya memisahkan bagian sistem yang terganggu dengan


memakaipengaman dan pemutus beban dengan kapasitas pemutusan
yang memadai yang di perintah otomatis oleh relay proteksi.

Merencanakan agar bagian sistem yang terganggu bila harus


dipisahkan darisistem tidak akan menganggu operasi sistem secara

41

keseluruhan atau penyaluran tenaga listrik ke jaringan distribusi tidak


terganggu.

Mempertahankan stabilitas sistem selama terjadi gangguan, yaitu


dengan memakai pengatur tegangan otomatis yang cepat dan
karakteristik kestabilan generator memadai.

3.10 METODE PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN (PDKB)


Sebelum tahun 2004, di Indonesia Teknik Pemelihaan dan perbaikan pada
SUTT / SUTT dilakukan secara Off Line, yaitu harus dipadamkam.Akan tetapi, pada
bulan Agustus tahun 2004, PLN Indonesia telah menerapkan metode pemelihaan
dan perbaikan secara Live Line, yaitu tanpa adanya pemadaman. Di PT. PLN
Indonesia, teknik pekerjaan tanpa dilakukan pemadaman, dikenal dengan
sebutan Pekerjaan Dalam Keadaaan Bertegangan ( PDKB ). Tujuan adanya
PDKB adalah :
1. Menjaga kontinuitas penyaluran tenaga listrik, sehingga konsumen tetap bisa
menikmati energi listrik walaupun ada pekerjaan perbaikan
2. Untuk Keandalan system
3. Meningkatkan citra perusahaan ( PLN )
4. Mengurangi kerugian bahan bakar pada pembangkit
5. Meningkatkan Gain Saving pada Perusahaan.
Sejarah Singkat Adanya Teknologi Secara PDKB
Sebelum adanya teknik pekerjaan dalam keadaan bertegangan ( PDKB ),
semua jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pemeliharaan maupun
perbaikan pada SUTT / SUTET, harus diopadamkan terlebih dahulu. Seiring
berjalannya waktu, tingkat perekonomian maupun industri di Indonesi kian
berkembang, sehingga tidak mungkin lagi listrik dipadamkan, karena konsumen
akan merugi, karena pekerjaan mereka menjadi terhambat, terutama pada
masalah waktu dan hasil yang kurang maksimal. Selain itu kegiatan masyarakat
yang semakin padat.Sehingga listrik sudah menjadi sesuatu kebutuhan primer,
baik mulai dari konsumen listrik tegangan rendah hingga konsumen listrik
tegangan tinggi.

42

Semakin bertambahnya pertumbuhan akan kebutuhan listrik di dunia,


memicu perusahaan listrik suatu negara untuk selalu menjaga kestabilan dan
keandalan

dari

sistem

tenaga

listrik.

Masalah

terbesar

yang

dapat

mempengaruhi kestabilan dan keandalan dari sistem tenaga listrik adalah


adanya gangguan. Gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik dapat
disebabkan oleh 2 faktor, yaitu faktor internal (ex: hubung singkat dalam
generator) dan faktor eksternal (ex: cuaca, petir).
Pada saat-saat tertentu, gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik
menyebabkan rusaknya beberapa komponen yang menyusun sistem tenaga
listrik tersebut.Salah satu contohnya adalah rusaknya isolator karena adanya
tegangan lebih yang menyerang sistem.Isolator yang telah rusak, tidak dapat
digunakan lagi.Hal ini dikarenakan sifat elektris dan sifat mekanisnya telah
berubah setelah terjadinya gangguan tersebut.Untuk itu, diperlukan penggantian
isolator yang telah rusak menjadi isolator baru.Selain itu, isolator yang
digunakan pada tower transmisi harus dibersihkan sesering mungkin agar debu
yang menempel tidak menjadikan isolator sebagai konduktor dan agar tidak
terjadi hubung singkat atau flashover pada saluran transmisi.
Penggantian komponen-komponen sistem yang telah rusak, dan
pembersihan isolator dapat dilakukan dalam keadaan bertegangan atau
tidak.Penggantian komponen yang telah rusak dalam keadaan listrik mengalir
termasuk dalam Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB).
Selain untuk penggantian komponen rusak, Pekerjaan Dalam Keadaan
Bertegangan (PDKB) juga dilakukan untuk perawatan sistem tenaga listrik
(maintenance).Salah satu contoh perawatan pada sistem tenaga yang
menggunakan PDKB adalah pembersihan transformator CT & PT pada gardu
induk.Jika transformator CT &PT dibersihkan dalam keadaan padam listrik,
maka aliran listrik ke pelanggan menjadi hilang, sehingga kebutuhan pelanggan
akan energi listrik menjadi tidak terpenuhi sebagaimana mestinya. Selain itu,
dengan adanya pemadaman, perusahaan listrik akan mengalami kerugian secara
materi. Hal ini dikarenakan, kesempatan perusahaan listrik tersebut untuk

43

menjual listrik ke pelanggan, menjadi hilang.Sehingga menjadi kerugian


tersendiri bagi si perusahaan listrik.Oleh karenanya, digunakanlah PDKB untuk
membersihkan transformator tersebut.
Berdasarkan cara kerjanya, Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan
(PDKB) dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu PDKB Metode Hot Stick dan PDKB
Metode Barehand. PDKB Metode Hot Stick menggunakan tongkat yang dilapisi
bahan isolatif untuk membantu pekerjaannya mengganti atau memperbaiki
komponen sistem tenaga. Sedangkan PDKB Metode Barehand, langsung
menggunakan

tangannya

untuk

bekerja

mengganti

atau

memperbaiki

komponen. Namun, ada beberapa sumber yang membagi PDKB dalam 3 jenis,
yaitu Metode Hot Stick, Metode Barehand dan Metode Hand Gloves.
Pekerja atau orang yang melakukan Pekerjaan Dalam Keadaan
Bertegangan (PDKB) disebut biasa disebut dengan linesman.Sebelum melakukan
pekerjaan tersebut, linesman dilatih terlebih dahulu untuk menghindari adanya
kesalahan operasi ketika bekerja.Pelatihan tersebut dilakukan selama berbulanbulan, dengan dimulai dari pekerjaan dalam keadaan tidak bertegangan terlebih
dahulu (offline), lalu langsung dipraktekkan pada saluran transmisi dengan
keadaan bertegangan listrik.
Dalam melakukan pekerjaannya, linesman harus mengikuti langkahlangkah kerja yang telah dibuat.Langkah-langkah ini dibuat untuk melindungi
linesman tersebut dari bahaya yang mengancam ketika bekerja. Langkahlangkah tersebut dituliskan dalam suatu aturan baku yang disebut standard
operating procedure (SOP).
Pada SOP Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB), juga dijelaskan
peralatan-peralatan khusus yang wajib digunakan untuk menunjang pekerjaan
serta untuk melindungi orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Berikut
adalah beberapa contoh alat yang digunakan untuk pekerjaan maupun
pengaman pekerja PDKB :

44

Conductive Suite

Spiral Universal Stick

Strain Link Stick

Peralatan K3

45

BAB IV
Kesimpulan
-

Penggunaan

tegangan

tinggi

pada

sistem

transmisi

bertujuan

untuk

mendapatkan efisisensi daya yang di salurkan lebih besar, karena losses yang
hilang pada jaringan lebih rendah diakibatkan penggunaan sistem tegangan yang
tinggi maupun ekstra tinggi.
-

Di Indonesia sistem tegangan transmisi yang digunakan adalah SUTT dengan


sistem tegangan 70 kV dan 150 KV dan SUTET dengan sistem tegangan 500 kV

Sistem transmisi dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu saluran udara dan saluran
bawah tanah. Dua sistem tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing
masing.

Komponen komponen saluran transmisi

terdiri

dari

tiang transmisi

berdasarkan pondasinya, isolator isolator ,kawat penghantar, kawat tanah


-

Dalam proses penyaluran energi listrik pada saluran transmisi tidak lepas dari
gangguan, maka dibutuhkan adanya sistem proteksi yang memadai sehingga
kontinuitas penyaluran energi listrik dapat terjaga.

46