Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS KIMIA ORGANIK

ISOLASI SENYAWA ORGANIK: ISOLASI KAFEIN DARI TEH

PRAKTIKAN

: Sinta Krisdamayanti

NPM

: 1206257563

REKAN KERJA

: M Baihaki
Intan Sulistianti

TANGGAL PRAKTIKUM

: 16 oktober 2014

TANGGAL PENYERAHAN : 23 oktober 2014


ASISTEN LAB

: Kak Iqbal

KELOMPOK

: K-16

LABORATORIUM ORGANIK
DEPARTEMEN KIMIA, FMIPA, UI
2014

Tujuan Praktikum
o Mengetahui konsep dasar dari Ekstraksi serta mampu menerapkannya.
o Mengetahui cara mengisolasi kafein dari minuman berenergi.
o Mengetahui fungsi-fungsi reagen yang digunakan dalam percobaan ini.
Teori Dasar
Kafein merupakan senyawa alkaloid yang banyak terkandung dalam bahan alam seperti
teh, kopi dan tanaman coca (sekarang dikenal dalam coca cola) serta dalam jumlah
sedikit terkandung juga dalam coklat. Kafein dikonsumsi sebagai bahan penyegar,
bersama-sama dengan bahan organik yang lain, yaitu sebagai komponen rasa, dan aroma
di dalam berbagai jenis minuman yang kita kenal.

Gambar 1. Struktur Kafein


Kafein
merangsang

kerja sistem pernafasan, jantung,

dan sistem pusat syaraf, serta

merupakan

(meningkatkan pembuangan

urin).

suatu
Peminum

diuretik
kopi

(mengandung kafein) biasa yang mengkonsumsi hanya empat gelas sehari dapat
merasakan pusing-pusing dan insomnia. Namun, kemampuannya untuk membantu
memusatkan perhatian dan meningkatkan kemampuan bekerja lebih lama, menyebabkan
kopi dan teh tetap menjadi minuman favorit.
Alat dan Bahan
Corong pisah
Gelas ukur 25 mL
Gelas ukur
Pipet tetes
Pipet tetes
Batang pengaduk
Jam atau stopwatch
Batang pengaduk
Ringstand
Cawan penguap
Beaker glass
Neraca massa
Kertas timbang
Hotplate
Bahan Kimia yang Digunakan
Kratingdaeng 150 mL
Metilen klorida 21 mL
NaCl jenuh 25 mL
Na2SO4 anhidrat
Prosedur Kerja dan Data Pengamatan

No
1.

Prosedur Kerja
Menyiapkan kratingdaeng sebanyak 150
mL (1 botol), memasukkan kedalam
corong pisah ukuran 500 mL.

2.

Menambahkan sebanyak 21 mL (3 kali


porsi 7 mL) metilen klorida, mengocok
secara pelan selama 3 menit, dengan
selang waktu 30 detik awal, membuka
tutupnya untuk melepaskan tekanan
udara yang terbentuk. Meletakkan
corong pisah dalam keadaan tegak dalam
tiang penyangga. Membiarkan campuran
terpisah selama 15 menit.

3.

Mengambil lapisan bawah (fasa organik)


ke corong pisah yang lain serta
memasukkan NaCl jenuh 25 mL ke
dalamnya.

4.

Mengocok, mendiamkan 15-20 menit


hingga dua fasa terpisah.

5.

Mengambil fasa organik dan


meletakkannya ke dalam beaker,
memasukkan Na2SO4 anhidrat (2 sendok
spatula) kedalamnya, mengaduknya.

6.

Mendekantasi campuran kedalam cawan


penguap (yang sudah ditimbang berat
kosongnya). Menguapkan campuran
diatas hotplate hingga cairan menguap
semua.

8.

Menimbang cawan penguap yang sudah


berisi kafein.

Data Pengamatan

Pengolahan Data
*Diketahui :
Volume sampel Kratingdaeng = 250 mL
Massa erlenmeyer kosong
= 76.95%
Massa erlenmeyer+ kafein
= 77 gr
Massa Kafein percobaan
= 0.05 gr
Massa Kafein Teoritis

*Menghitung % KR dan % Yield

=
= 39.99976 %

x 100 %

= 60.00024 %
Pembahasan
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan percobaan tentang pembuatan isolasi
bahan alam ekstraksi kafein. Tujuan dilakukan percobaan ini ialah untuk mengetahui bagaimana
cara mengisolasi kafein dengan ekstarksi, mengetahui konsep dasar ekstraksi itu sendiri, serta
mengetahui reagen-reagen pendukung pembuatan kafein itu sendiri. Dalam praktikum ini sudah
diketahui bahwa salah satu prinsip yang digunakan dalam praktikum adalah prinsip ekstraksi.
Prinsip ekstraksi proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua
cairan yang tidak saling larut satu sama lain akibat perbedaan kepolaran, contohnya adalah air
dengan pelarut organik seperti aseton atau heksana (Nasution, 2013).
Kafein atau yang lebih dikenal dengan nama kafein adalah senyawa alkohol xantina
berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik

ringan. Kafein ditemukan oleh seorang kimiawan Jerman, Ferdinand Runge pada tahun 1819.
Friedrich menciptakan istilah kafein untuk merujuk pada senyawa kimia pada kopi.
Kafeina memiliki molekul metabolit yakni 1-3-7-asam trimetilurat, paraksantina,
teofillina dan teobromina dengan masing-masing lintasan metabolismenya. Kafeina mengikat
reseptor adenosina dalam otak. Adenosina ialah nukleotida yang mengurangi aktivitas sel
saraf saat tertambat pada sel tersebut. Seperti adenosina, molekulkafeina juga tertambat pada
reseptor yang sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafeina tidak akan memperlambat aktivitas sel
saraf/otak, sebaliknya menghalangi adenosina untuk berfungsi. Dampaknya aktivitas otak
meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin terlepas. Hormon tersebut akan menaikkan
detak

jantung,

meninggikan tekanan

darah,

menambah

penyaluran darah ke

otot-otot,

mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati.
Lebih jauh, kafeina juga menaikkan permukaan neurotransmiter dopamin di otak.
Pada percobaan kali ini hal pertama yang praktikan lakukan adalah memasukkan 250 ml
larutan kratingdaeng sebagai reagen utama yang akan diisolasi kafeinnya pada sebuah corong
pisah 500 ml. Setelah itu larutan yang masih berwarna kuning terang itu ditambahkan metilen
klorida 3 kali porsi sebanyak 7 ml. Hal ini dilakukan sampai menghilangkan gas yang
dikeluarkan dari corong pisah dan juga berfungsi sebagai pelarut yang akan mengikat kafein
serta memisahkannya dengan garam polat yang larut dalam air. Langkah selanjutnya adalah
dengan membiarkan larutan tersebut sampai terbentuk dua fasa yang sempurna,dibiarkan larutan
selama 30 menit. Setelah 30 menit maka ambillah lapisan bawah larutan atau yang dikenal
dengan sebutan fasa organik tersebut dan masukkan kembali kedalam corong pisah lagi. Setelah
di masukkan lapisan organik pada corong pisah, tambahkan NaCl jenuh kedalamnya dan dikocok
kembali hingga terbentuk dua fasa lagi. NaCl jenuh berfungsi untuk memurnikan kafein yang
terisolasi dengan mengikat fasa air yang masih berinteraksi dengan kafein, sekaligus memecah
emulsi yang terbentuk pada dua fasa dalam ekstraksi (Nasution, 2013).
Langkah selanjutnya setelah terbentuk menjadi dua fasa kemudian dan ditunggu lagi
sekitar 15-20 menit hingga terpisah, lalu ambil kembali lapisan organiknya dan masukkan
kedalam beaker gelas , sambil ditambahkan Na2SO4 anhidrat dan jangan lupa sambil di aduk
kuat. Na2SO4 anhidrat berfungsi untuk menarik air yang masih ada di kafein sehingga kafein
dapat bebas dari air (Nasution, 2013). Setelah penambahan Na2SO4 anhidrat kemudian

didekantasi dengan cawan penguap sambil disimpan di atas hotplate bertujuan untuk membentuk
kafein yang lebih murni dari sebelum nya. Kemudian setelah itu ditimbang untuk dapat melihat
kafein yang berhasil diisolasi oleh praktikan. Berdasarkan dengan praktikum yang dilakukan
praktikan bahwa didapat massa kafeinnya sebanyak (0.05 g). Serta diperoleh pula %KR sebesar (
39.9%) dan didapatkan juga %Yield ( 60.0 %).

Analisis Kesalahan
Kesalahan yang terjadi selama praktikum yang memengaruhi %KR dan %Yield adalah
pada saat proses pengocokkan yang dilakukan kurang kuat, metilen klorida yang juga terasa
sudah terkontaminasi sehingga tidak bisa mengisolasi kafein secara sempurna, pengadukan yang
kurang kuat, serta penguapan yang terlalu lama juga memengaruhi hasil daripada praktikumnya.
Kesimpulan

Tujuan dilakukan percobaan ini ialah untuk mengetahui bagaimana cara mengisolasi
kafein dengan ekstarksi, mengetahui konsep dasar ekstraksi itu sendiri, serta mengetahui
reagen-reagen pendukung pembuatan kafein itu sendiri

Kafeina

memiliki

molekul

metabolit

yakni

1-3-7-asam

trimetilurat,

paraksantina, teofillina dan teobromina dengan masing-masing lintasan


metabolismenya.
Adenosina

Kafeina

mengikat

ialah nukleotida yang

reseptor

mengurangi

adenosina

dalam

aktivitas sel

otak.

saraf saat

tertambat pada sel tersebut.

Prinsip dari percobaan ini adalah ekstraksi. Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat
berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut satu
sama lain akibat perbedaan kepolaran, contohnya adalah air dengan pelarut organik
seperti aseton atau heksana (Nasution, 2013).

Kafein yang diperoleh berwarna bening dengan massa ( 0.05 g).

Dari perhitungan, % KR yang diperoleh sebesar ( 39.9 %) dan % Yieldnya adalah


(60.0%).

Daftar Pustaka

Nasution, Arfin. Catatan Penting Penuntun Praktikum Sintesis Kimia Organik. Depok :
Departemen Kimia FMIPA UI. 2013. handwrite.
Tim KBI Organik. Penuntun Praktikum Sintesis Kimia Organik. Depok : Departemen
Kimia FMIPA UI. 2012.
Ananda, Destia Puteri. Laporan Praktikum Sintesis Kimia Organik Isolasi Bahan Alam
Ekstraksi Kafein. Depok : Departemen Kimia FMIPA UI. 2014.
< http://www.sciencelab.com>.
Helmenstine, Anne Marie. Caffeine Chemical Structure. 28 Oktober 2014. <
http://chemistry.about.com/od/factsstructures/ig/Chemical-Structures---C/CaffeineChemical-Structure.htm>.

Lampiran

MSDS ( Material Safety Data Sheet )


1. Metilen klorida
a. Keadaan Fisik: Cairan
b. Mr
: 84.93g/mo
c. Titik didih
:
39.75C
(103.5F)
d. Titik leleh

142.1F)
e. Kelarutan

dalam

h. Pertolongan pertama

: Jika

terkena mata, cuci dengan air


dingin

selama

15

menit.

Jika

terkena kulit, cuci dengan air.


-96.7C
Mudah

metanol, dietil

(-

Apabila terhirup, keluar ke udara


terbuka.

larut

eter, n-

oktanol, aseton. Sebagian larut

2.

NaCl Jenuh
a.

dalam air dingin.


f. Stabilitas
: Stabil
g. Efek kronis pada manusia :
Sangat

berbahaya

jika

kontak

dengan mata (iritasi), pencernaan,


pernapasan.

Berbahaya

jika

tersentuh kulit (iritasi, menyerap).


Inflamasi mata ditandai dengan
kemerahan, berair, dan gatal.

Keadaan Fisik : Cairan


b. Mr
:c. Titik didih : 1,413 C (2,575 F)
d. Titik leleh : 801 C (1,474 F)
e. Kelarutan : Larut dalam air
f. Stabilitas : Stabil
g. Efek kronis pada manusia : -

h. Pertolongan pertama

3.

: -

Na2SO4
Anhidrat
a. Sifat
fisik
: Padatan
b. Berat molekul

: 142.06

g/mol
c. Titik didih

1100C (2012F)
d. Titik leleh
(1630.4F)
e. Kelarutan

: 888C
:

Larut

dalam air dingin, HI, dan gliserol.


Tidak larut dalam alkohol.
f. Kestabilan
g. Bahaya
:

: Stabil
sangat

berbahaya jika terkena kulit , mata,


terhirup atau tertelan.
h. Pertolongan pertama : Jika terkena
mata, cuci dengan air dingin selama 15
menit. Jika terkena kulit, cuci dengan
air selama 15 menit. apabila terhirup,
keluar ke udara terbuka.