Anda di halaman 1dari 20

Acuan dan perancah (formwork /

bekisting) adalah suatu bagian dari


konstruksi pembangunan yang bersifat
sementara dan berfungsi membuat
beton sesui dengan bentuk yang
diinginkan, dikatakan sementara karena
pada akhirnya akan dibongkar apabila
beton sudah selesai

Acuan Dan
Perancah 2
Politeknik Negeri Jakarta

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Pendahuluan
A. Pengertian Formwork
Acuan dan perancah (formwork / bekisting) adalah suatu bagian dari konstruksi
pembangunan yang bersifat sementara dan berfungsi membuat beton sesui dengan
bentuk yang diinginkan, dikatakan sementara karena pada akhirnya akan dibongkar
apabila beton sudah selesai.
Acuan sendiri memiliki arti bagian dari konstruksi bekisting yang berfungsi
sebagai pembentuk betonyang diinginkan atau bagian yang kontak langsung dengan
beton. Perancah memiliki arti sebagai bagian dari konstruksi bekisting yang
berfungsi menahan beban beban yang ada di atasnya yang bekerja pada saat
pengecoran, baik beban vertikal maupun beban horizontal.
Pada konstruksi bekisting, harus memungkinkan untuk dapat melakukan :
Pemasangan tulangan (menahan beban tulangan)
Pengecoran sekaligus pemadatan adukan
Pelepasan formwork (acuan)sehingga beton tidak rusak.
Bentuk bekisting kolom ada yang berbentuk bulat , persegi panjang dll, pada
pekerjaan bekisting kolom ini dibuat persegi dan menggunakan semi system
dengan gabungan kayu dan besi

B. Macam macam / tipe bekistng


Pesatnya perkembangan dan banyaknya tuntutan yang harus dipenuhi agar
hasil dari suatu konstruksi baik dan ekonomis, maka saat ini tipe bekisting dapat
dibedakan menjadi 3, yaitu :
Sistem konvensional
Dalam sistem ini bekisting masih menggunakan bahan bahan dari alam.
Misalnya acuan masih menggunakan papan / multiplek, sedangkan
perancahnya menggunakan kaso, balok, atau bambu. Bahan dasarnyadapat
digunakan kembali dalam bentuk lain. Cara kerjanya pun masih dikerjakan
secara tradisionaloleh orang orang ahli, biasanya digunakan pada pekerjaan
yang tidak terlalu kompeks atau pada pekerjaan rumah tinggal.
Semi sistem
Dalam sistem ini bekisting menggabungkan bahan dari alam dan pabrikasi.
Misalnya saja masih menggunakan papan / multiplek, namun perancah sudah
1|Page

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

menggunakan scaffolding sehingga lebih moderen dan praktis didalam


pekerjaan dibanding kan sistem konvensional,ukuran pun dapat sesuai dengan
bentuk beton yang diinginkan.
Full sistem
Dalam sistem ini bekisting sudah menggunakan bahan pabrikasi seutuhnya, baik
acuan maupun perancahnya. Bersifat full universal, dapat digunakan pada berbagai
macam bangunan dan dapat dipakai berulang kali. Bahan acuan dan perancah sudah
dirangkai sedemikian rupa sehingga pada waktu pekerjaan bekisting, alat alat bisa
langsung disetting

C. Persyaratan Pekerjaan Perancah


Persyaratan harus memenuhi aspek bisnis dan teknologi seperti strength dan
workability karena itu harus memenuhi:
Ekonomis
Kokoh dan kuat
Mudah dipasang dan dibongkar
Tidakbocor memenuhi persyaratan permukaan
Mampu menahan gaya horizontal

D. Persyaratan Khusus bekisting :


a. Kualitas :
Bentuk dan ukuran sesuai dengan rencana yang di buat dan
diinginkan, posisi dan bentuk acuan sesuai dengan rencana, hasil akhir
permukaan beton rata/ tidak kropos
b. Keamanan : harus stabil pada posisinya, kokoh yaitu harus mampu menahan
beban-beban khususnya vertical/horizontal, kekakuan yaitu harus mampu
menahan beban horizontal sehingga tidak bergeser dari posisi seberanya.
c. Ekonomis :
Mudah di kerjakan, tidak membutuhkan banyak tenaga kerja,
mudah dipasang sehingga menghemat waktu, mudah dibongkar agar bahan bias
digunakan kembali, mudah disimpan

E. Pembebanan Formwork / Bekisting


a. Gaya vertical
Beban tetap = berat sendiri bekisting, baja tulangan, dan beton yang masih
basah.
Beban tidak tetap = berat peralatan, tenaga kerja, dan barang barang lain
yang ada diatasnya.

2|Page

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2


Beban beban tersebut diatas harus dapat dipikul oleh formwork dan hanya
diperbolehkan menyebabkan lendutan (deflexi) maksimal yang diijinkan.
b. Gaya horizontal
Gaya horizontal biasanya terjadi pada dinding bekisting pada saat
pengecoran berlangsung sebagai akibat tekanan hidrostatisdari beton basah
ditambah gaya getar pengaruhproses penggetaran beton oleh vibrator.
Gaya horizontal dipengaruhi oleh :
Mortar beton yang terdiri dari : berat volume mortar, plastisitas mortar,
kecepatan penggetaran mortar.
Proses penggetaran terdiri dari : temperatur lapangan, kecepatan
pengecoran, metode pengecoran, cara pemadatan beton.
Formwork / bekisting yang terdiri dari : tinggi formwork, jarak dinding
formwork (tebal beton), bentuk formwork

F. Pembongkaran Bekisting
Seluruh acuan harus dibongkar dalam rangaka penyelesaian srtuktur
bangunan dengan pertimbangan cuaca dan waktu ikat beton.
Hanya boleh dibongkar, apabila beton telah kuat menahan beton sendiri
dan beban lain.
Dengan hati

hati agar

tidak menimbulkan getas pada beton,

pengelupasan dan lain lain.


Pembongkaran dilakukan dari tengah kepinggir agar momennya sesuai
dengan rencana.

G. Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan dlam pekerjaan bekisting adalah :

Palu besi : berfungsi untuk memukul benda keras seperti memasang paku.

Paku

: berfungsi untuk menyambung kayu / papan dalam pekerjaan acuan dan

perancah.

Kapur warna : berfungsi untuk membuat tanda lokasi yang akan dikerjakan atau
membuat batasan yang akan dipotong.

Benang : berfungsi untuk membuat as pada pembuatan kolom serta sebagai


patokan pekerjaan.

3|Page

Meteran : berfungsi sebagai alat ukur.

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Gergaji listrik atau tangan : berfungsi untuk memotong dan membelah kayu serta
papan atau multiplek dalam pekerjaan bekisting.

Linggis : berfungsi sebagai pencabut paku terutama untuk paku paku besar dan
dalam yang sulit dicabut dengan palu.

Siku : berfungsi untuk memastikan kesikuan pekerjaan serta pengukurn yang


tidak terlalu panjang.

Kunci pas : berfungsi untuk mengencangkan baut yang ada pada swevel clamp
atau right angle clamp

U head / shoring head : berfungsi sebagai dudukan kayu balok yang digunakan
untuk gelagar, serta mengatur ketinggian scaffolding.

Jack base : berfungsi sebagai pengatur ketinggian, memperluas bidang tekan,


memudahkan pembongkaran.

Joint pane : berfungsi sebagai penyambung arah vertikal.

Scaffolding : digunakan sebagai tiang penyangga dinding atau sebagai pengganti


perancah balok dan lantai.

Swivel clamp,right angel clamp : berfungsi sebagai pengunci pipa glasvanis pada
bidang diagonal dan horizontal. Right angle clamp hanya dapat digunakan pada
bidang horizontal karena hanya swivel clamp yang dapt bergerak ke berbagai
arah.

Cross brake : berfungsi sebagai alat sambung arah memanjang, skur skur
diagonal serta pengatur jarak.

4|Page

Tie rot : berfungsi sebagai pengunci atau penjepit.

Paralon (pvc) : berfungsi sebagai tebal dinding pada pekerjaan acuan dinding.

Blok beton : berfungsi untuk menahan skur skur.

Bor tangan : berfungsi untuk membuat lubang pada papan panel.

Lorry : berfungsi untuk mempermudah dalam membawa blok beton dan lainnya.

Kaso penjepit : berfungsi sebagai kleman (tempat tie rod)

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

JOB 1
PEMBUATAN BEKISTING KOLOM

A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat menggunakan alat alat yang di gunakan dalam pembuatan
bekisting kolom secara benar.
2. Mahasiswa dapat merencanakan bekisting kolom yang akan di buat dengan benar
3. Mahasiswa dapat melakukan praktek Konstruksi kolom secara benar dan
menghasilkan konstruksi yang kuat dan kokoh
4. Mahasiswa dapat menghitung kebutuhan bahan yang akan digunakan untuk
membuat bekisting kolom secara tepat
5. Mahasiswa dapat melakukan pembongkaran bekisting kolom dengan benar

B. Bahan dan Alat


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Benang
Papan 2/20 -400cm
Kaso
Paku panjang 4cm , 5cm, 7 cm
Alat ukur
Gergaji tangan dan Gergaji Mesin
Unting Unting
Tangga lipat
Palu

C. Pelaksanaan Bekisting
Pembuatan dan pemasangan bekisting dipengaruhi oleh berbagai faktor dan
lingkungan yang ada:
a. Bahan yang tersedia/ diperlukan
b. Alat alat unnutk konstruksi yang tersedia
c. Kualitas tenaga kerja yang tersedia
d. Tuntutan kualitas yang diinginkan
e. Anggaran biaya yang tersedia
f. Cara atau system yang dikehendaki
g. Setelah dibongkar harus tetap diberikan perawatan

D. Langkah kerja
a. Pelajari dan pahami gambar kerja, mengatur letak kolom dan menentukan
dimana as kolom akan di letakan dapat di bantu dengan papan duga dan tali jika
diperlukan

5|Page

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2


b. Merangkai Panel sebagai tutupan dari beton yang disusun 4 buah dan mengikat
menggunakan tie root dan kaso.
c. Mengatur jarak antar tie root dari lantai panel hingga ke atas panel, Pengaturan
jarak ini bias menggunakan perhitungan pembebanan yang dapat dipakai sesuai
kebutuhan dalam contoh disini berjarak 30cm, dari tie root pertama ke tie root
kedua berjarak 60cm, dan jarak tie root kedua ke tie root yang terakhir berjarak
80 cm
d. Atur ketegakan bekisting kolom seusai dengan AS bangunan dan diratakan
menggunakan unting-unting
e. Tahan setiap sisi menggunakan steel proof di ke empat sisi luar panel agar
bekisting kolom semakin kokoh dan kaku

E. Gambar Kerja

Tampak samping

Steel proof Uhead


6|Page

Tampak Depan

Tie Rod dan Steel proof

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

F. Permasalahan
a. Tidak mudah mengatur ketegakan bekisting kolom menggunakan unting unting
karena faktor lantai dan panel yang pecah

G. Solusi
a. Gunakanlah as pinjaman untuk menentukan as kolom
b. Dapat menggunakan tulangan besi cadangan sebagai alat untuk mengunci tie
root, dan steel proof

H. Kesimpulan
a. Bekisting kolom dilapangan harus sesuai perencanaan pembebanan dan kokoh
sesuai letak di as bangunan agar kolom dapat menahan gaya gaya horizontal

I. Perhitungan Tegangan Lentur ( ) dan Lendutan ( )


a. Diketahui :
Panjang dan Lebar = 32 cm
Tinggi = 300cm
Waktu yang dibutuhkan pengecorang 40 menit
b. Ditanyakan :
- Kecepatan pengecoran
- Tegangan lentur
- Lendutan
c. Jawaban
Dimensi kolom 32/32 dan tinggi 244cm serta suhu 270 C
1.
2.
3.

4.
a. Multiplek
Tebal 1,2cm jarak L1 20cm

Karena

7|Page

lebih keci dari

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Maka lendutannya adalah:

Jadi lendutannya adalah


dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3
b. Kaso
Kaso 5/10 menjadi 5/9 (ketam) dan jarak 40cm

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

Tegangan normalnya adalah 10 ton = 10000 kg. jadi diizinkan

Job 2
Pembuatan Bekisting Balok Dan Lantai
A. Tujuan
a. Mahasiswa dapat menggunakan alat alat yang di gunakan dalam pembuatan
bekisting balok secara benar
b. Mahasiswa dapat merencanakan bekisting balok yang akan dibuat dengan benar
c. Mahasiswa dapat melaksanakan pembuatan konstruksi balok secara benar dan
menghasilkan konstruksi yang kuat dan kokoh serta kaku

B. Dasar Teori
Struktur beton yang menghubungkan suatu kolom dengan kolom lainnya untuk
menopang beban yang ada di atasnya , Balok umum nya berbentuk persegi
panjang.
Plat lantai adalah bagian konstruksi bangunan yang berfungsi sebagai lantai pijakan
diatas lantai dibawahnya
8|Page

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

C. Langkah Kerja
a. Ukur jarak antara frame bekisting sesuai yang diinginkan lalu pasang landasan
pada titik tersebut
b. Dirikan jack base dilandasan tersebut, lalu scaffolding (frame) diatas landasan
dan jack base, kuatkan dengan menggunakan cross brace
c. Pasang join pin untuk menyambung frame dan pasang juga U head pada bagian
paling atas frame
d. Pasang skur horizontal dan diagonal pada scaffolding dengan pipa galvanis dan
kencangkan dengan suifel clamp minimal 3 d setiap scaffolding
e. Letakan balok tumpuan atas di U head sebagai gelagar dengan ukuran yang di
tentukan lalu buat cetakan balok diatas gelagar
f. Pasang skur skur dan kasau di cetakan balok tadi lalu letakan papan panel
sebagai acuan lantai dan pastikan acuan dan perancah kuat dengan mengikuti
perhitungan pembebanan scaffolding untuk memastikan tidak bocor dan roboh
saat di cor

D. Gambar Kerja

Gelagar balok

Skur bagian Dalam

9|Page

Balok Di atas gelagar

Tampak samping

Skur bagian luar

Cetakan balok dan lantai

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

E. Permasalahan
Sulit karena banyak panel yang kurang layak pakai
Menaikkan rangakaian panel ke atas scaffolding
Balok dan kaso kurang lurus dan tegak
F. Solusi
Gunakan Stager untuk menaikan rangkaian panel dan juga dibutuhkan
kekompakan pada tim kerja
Gunakan panel yang masi bagus dan tidak cacat atau dapat membuat panel
yang baru
Carilah balok dan kaso yang tidak melendut dan tegak, agar cetakan tersebut
kuat saat pengecoran

G. Kesimpulan
Dalam pembuatan cetakan balok dan lantai, dibutuhkan kekuatan untuk
melakukan pemasang agar kuat pada cetakan dan kokoh agar pengecoran nanti
bias mendapatkan hasil yang maksimal

J. Perhitungan Tegangan Lentur ( ) dan Lendutan ( )


a. Lantai

W = W1 + W2 + W3 = .d + 1/2..d + 150 kg/cm2 = 1,5. .d + 150 kg/cm2


= 1,5(2400kg/m3)(0,15m) + 150kg/cm2 = 690 kg/cm2

1. Multiplek
Tebal 1,2 cm panjang l = 0,4 m

Karena

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah

lebih keci dari

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

2. KASO
Diketahui: kaso 5/10 menjadi 5/9 (karena diketam) dan jarak 40cm (L2)

10 | P a g e

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

b. BALOK

Diketahui jika balok 6/12 (kayu kelas III) jarak 60 cm(L3)

Ini terjadi beban terpusat, jadi:

Karena

lebih keci dari

(kelas III)

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah
dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3
Karena lebih kecil maka diizinkan.

Jadi diizinkan /memenuhi persyaratan.


Pembebanan pada balok (80/40) jika tebal multipleks 1,2cm dengan jarak antar kaso adalah
20cm

11 | P a g e

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

c. Jarak Antar kaso

Diketahui: kaso 5/10 menjadi 5/9 (karena diketam) dan jarak 80cm adalah L2

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

d. Jarak Antar BALOK


Diketahui jika balok 6/12 (kayu kelas III) dilihat dari tampak depan merupakan analisa beban
terpusat. Jarak L3 adalah 120 cm

12 | P a g e

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Karena

lebih keci dari

(kelas III)

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah
dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3
Karena lebih kecil maka diizinkan.
Pada balok kedua (diatas U-Head). Dengan L4 = 120cm dan dimensi balok 6/12 (beban terbagi rata)

Karena

lebih besar dari

(tidak diizinkan).

e. Antar Scaffolding
Maka arak antar scaffolding harus diperkecil. Jika ditambahkan scaffolding lagi maka jarak L4
adalah 60cm.

Karena

Jadi

lebih besar dari

lebih kecil dari yang diizinkan.

Jadi diizinkan /memenuhi persyaratan.

13 | P a g e

(diizinkan dan memenuhi persyaratan).

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

JOB 3
Bekisting Dinding
1. Tujuan
a. Mahasiswa dapat merencanakan bekisting dinding beton dengan baik dan benar
b. Mahasiswa mengerti langkah pengerjaan bekisting dinding beton
c. Mahasiswa dapat mengukur ketegakan dinding dan siku di setiap dinding

2. Dasar teori
Pembuatan dinding nonstructural telah mengalami kemajuan dalam segi
metode pelaksanaannya. Pada metode konventional, pembuatan atau
pemasang bekisting dinding dilakukan secara tradisional dengan pasangan bata
namun sekarang dapat menggunakan semi system yaitu digunakan papan atau
panel yang permukaannya rata dan halus kemudia untuk pengatur jaraknya
menggunakan tie rod sekaligus penahan beban panel

3. Langkah Kerja
a. Tentukan lokasi pembuatan dinding dengan benar , sediakan pula alat dan
bahan yang akan digunakan
b. Buatlah as bekisting dinding, susun balok dan panel dengan memaku di setiap
bagian panel atau sesuai ukuran dan dirikan di daerah yang telah ditentukan
c. Pasang tie rod yang sebelumnya telah dipasang paralon diantara sambungan
panel dengan jarak sekitar 30cm hingga tembus dan kencangkan
d. Sambung dengan bekisting dinding yang lain hingga membentuk sudut siku siku
sempurna
e. Pasang steel proof sebagai penahan bekisting dinding agar kokoh dan tidak
jatuh

4. Gambar Kerja

Dinding tampak Luar

14 | P a g e

Dinding tampak Dalam

Dinding samping

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

5. Permasalahan

Kesulitan dalam merangkai panel karena ada yang kurang panjang dan cacat
kayu

6. Solusi

Gunakan paku ukuran 7cm


Panel yang digunakan tidak cacat
pasang balok yang tidak melengkung dan bengkok

7. Kesimpulan
Dibutuhkan keterampilan memaku dalam melakukan job bekisting dinding serta
kekohan pada cetakan. Agar pada saat pengecoran dapat menahan semua beban

8. Perhitungan

Waktu pengecoran = 30 menit

1. Multiplek
Tebal 1,2cm dan panjang 20cm
Jawab :

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi multiplek ini bias menahan beban (0.3cm)

15 | P a g e

cm

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

2. KASO
Kaso 5/6 Panjang 25 cm

Karena

lebih keci dari

Maka lendutannya adalah:


Jadi lendutannya adalah 7,949

dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3

Balok yang selanjutnya mengukur lendut atau tidaknya dengan perhitungan Dimensi
6/12 Kelas 3 dan jarak 80 cm

Sehingga:

Karena

lebih kecil dari

Maka lendutannya adalah:

. Jadi lendutannya

adalah 0,074 dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3.
Balok yang ke-2 melendut atau tidak, maka perlu dihitung tegangan lentur dan lendutannya. Dengan
dimensi balok 8/15 dan jarak tierod(L4) adalah 30 cm.

Sehingga:

16 | P a g e

Karena

lebih kecil dari

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Maka lendutannya adalah:

. Jadi lendutannya adalah

0,0277 dan lebih kecil dari lendutan yang diizinkan yaitu 0,3.
Sehingga:

Sedangkan nilai tegangan normalnya adalah 10000 kg (diizinkan/memenuhi).

17 | P a g e

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2

Job 4
Bekisting Tangga
1. Tujuan
a.
b.
c.
d.

Dapat memahami pembuatan rencana bekisting tangga


Menganalisa jumlah anak tangga berdasarkan tinggi suatu bangunan
Menganalisa kebutuhan bahan yang diperlukan
Terampil membuat bekisting tangga

2. Dasar teori
Tangga merupakan sarana lalu lintas pejalan kaki yang menghubungkan suatu
daerah lantai dengan daerah lantai lainnya
a. Syarat tangga :

Harus mampu menopang beban yang bekerja pada tangga

Letaknya harus mudah dan tidak dipersulit ketika digunakan

Mendapat sarana pendukung disetiap kondisi

Mudah atau nyaman untuk dilewat, kemiringan lebih dari 45 dan lebar
minimum 10 orang
b. Macam macam tangga

Tangga lurus
Tangga lurus bordes
Tangga bordes berbalik
Tangga berbentuk t
Tangga bordes siku
Tangga llingkaran

3. Hal yang perlu di perhatikan dalam merencanakan bentuk tangga


a.
b.
c.

Bentuk dan ukurang tangga harus sesuai dengan perhitungan sehingga ketika
terhubung oleh lantai yang lainnya dapat tersambung
Bentuk lebar dan ukurant tangga harus sesuai dengan kondisi
Optride dan antrede sesuai perhitungan dan tebal lantai

4. Langkah Kerja
a. Susun 6 buah panel atau sesuai kebutuhan lalu paku hingga 4 lapis sebagai
dinding dari tangga

18 | P a g e

Politeknik Negeri Jakarta Acuan Perancah 2


b. Setelah dibuat sebagai dinding atur menjadi siku di setiap sisi dengan lebar
90cm, agar kuat dan kokoh lapisan dinding tadi dapat di tahan menggunakan
kaso dan balok beton
c. Buat mal acuan tangga dilantai dengan skala sebenarnya menggunakan kapur
tulis ditepi dinding dan potong sebagian papan sesuai dengan mal yang telah di
gambar
d. Gambar optride dan antride ditepi bagian dalam dinding lapisan siku , pasang
papan sesuai potongan yang dibuat dari mal acuan tangga jika tidak cocok bias
diganti dengan papan yang baru
e. Sebelum selesai menuju lantai selanjutnya, cobalah untuk mengecek apakah
sambungan papan tadi sesuai dan cocok sampai ke atas

5. Permasalahan
Saat pemasangan papan dalam pengukuran di mal dinding tangga sangat sulit
menentukan Panjang dari stiap papan

6. Solusi
Teliti sebelum memotong papan sebagai penahan mortar lakukan
penggambaran di mal dinding tangga secara benar sehingga meminimalisir
kesalahan

7. Kesimpulan
Sebelum melakukan rencana bekisting tangga sebaiknya mengerti dalam
melakukan penggambaran simulasi dari tangga dan perhitungan secara matang
agar pertemuan lantai satu dan lantai dua bisa cocok

8. Gambar Kerja
Karena pekerjaan bengkel membuat bekisting tangga tidak selesai gambar tidak
dapat dimuat

9. Perhitungan
Dengan melakukan pekerjaan bengkel tangga kelompok tidak bisa
menyelesaikan hingga akhir rencana bekisting tangga tersebut sehingga
perhitungan jumlah optride dan antride berdasarkan perhitungan saja
2 Optride + antride = 60 64
Antride
= 64 (2.20) = 24

19 | P a g e