Anda di halaman 1dari 4

02 Pedoman Pelayanan Anestesi

By adminJan 5, 2014Akreditasi 2012

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pelayanan anestesi merupakan suatu tindakan kedokteran yang pada awalnya
dibutuhkan untuk memungkinkan suatu tindakan operasi oleh ahli bedah dapat
dilakukan. Oleh karenanya tindakan pemberian anestesi termasuk sebagai salah
satu tindakan kedokteran yang berisiko tinggi, karena tujuannya adalah pasien
dapat bebas dari rasa nyeri dan stres psikis serta pasien dapat pulih kembali pascaoperasi sesuai dengan derajat berat ringannya kerusakan yang dialami pasien.
Adanya risiko yang tinggi tersebut menuntut adanya manajemen terhadap risiko
tersebut agar pelayanan anestesi dapat berjalan aman, lancar dan sukses.
Manajemen mengatasi kegawatdaruratan tersebut menyebabkan dalam
perkembangannya pelayanan anestesi bisa diberikan di Instalasi Gawat Darurat,
Instalasi Pelayanan Intensif, radiologi serta di ruangan yang memerlukan sehingga
kini disebut sebagai anestesi dan reanimasi.
Ruang Lingkup
Pelayanan anestesi diperlukan untuk:
Menghilangkan nyeri pembedahan dan trauma
Menghilangkan nyeri akut lain:
Proses persalinan
Proses diagnostik medik tertentu
Menghilangkan nyeri kanker
Menghilangkan nyeri kronis (iskemia)
Menghilangkan rasa cemas pada anak
Batasan Operasional
Untuk membantu lebih mengarahkan pemahaman tentang isi bahasa buku ini, perlu
kami buatkan batasan istilah penting yang terkait dengan kerangka pelayanan
Instalasi Kamar Operasi Rumah Sakit.
Batasan operasional berikut ini merupakan batasan istilah, yang bersumber dari
buku Standar Pelayanan Kedokteran 2010.

Pengertian Anestesi
Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani: an-tidak, tanpa dan aesth?
tos-persepsi, kemampuan untuk merasa), secara umum berarti suatu tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur
lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan
pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Anestesi atau
pembiusan adalah pengurangan atau penghilangan sensasi untuk sementara,
sehingga operasi atau prosedur lain yang menyakitkan dapat dilakukan.
Jenis anestesi
Anestesi Lokal
Anestesi lokal adalah teknik untuk menghilangkan atau mengurangi sensasi di
bagian tubuh tertentu. Hal ini memungkinkan pasien untuk menjalani prosedur
pembedahan dan gigi tanpa rasa sakit yang mengganggu.
Anestesi lokal dilakukan dengan cara menginfiltrasi pada ujung saraf di lokasi yang
akan diincisi.
Anestesi Regional
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara
pada impuls saraf sensorik sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir
untuk sementara (reversibel). Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau
seluruhnya, tetapi pasien tetap sadar. Anestesi regional dilakukan pada berkas saraf
dekat medula spinalis (plexus block) atau pada medula spinalis (epidural block dan
subarachnoid block).
Anestesi Umum
Anestesi umum atau pembiusan umum adalah kondisi atau prosedur ketika pasien
menerima obat untuk amnesia, analgesia, melumpuhkan otot, dan sedasi. Anestesi
umum memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang dalam
kondisi normal akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan, berisiko eksaserbasi
fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.
Anestesi umum dapat menggunakan agen intravena (injeksi) atau hirup.
Kombinasi dari agen anestesi yang digunakan untuk anestesi umum membuat
pasien tidak merespon rangsangan yang menyakitkan, tidak dapat mengingat apa
yang terjadi (amnesia), tidak dapat mempertahankan proteksi jalan napas yang

memadai dan/atau pernapasan spontan sebagai akibat dari kelumpuhan otot dan
perubahan kardiovaskuler.

Anestesiologis
Anestesiologis adalah dokter spesialis yang melakukan anestesi. Dokter spesialis
anestesiologi selama pembedahan berperan memantau tanda-tanda vital pasien
karena sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan
secepatnya. Rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter
anestesi adalah:
Mempertahankan jalan napas
Memberi napas bantu.
Membantu kompresi jantung bila berhenti.
Membantu peredaran darah.
Mempertahankan kerja otak pasien.
Landasan Hukum
Sebagai acuan dasar pertimbangan dalam penyelengaraan Pelayanan instalasi
kamar operasi suatu bagian dari rumah sakit yaitu suatu Instalasi yang menpunyai
staf khusus dengan peralatan yang khusus pula. Oleh sebab itu penyelenggaraan
instalasi kamar operasi ini sesuai dengan :
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
920/MenKes/Per/II/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang
Kesehatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Departemen Kesehatan 2008
Peraturan Menteri Kesehatan 1438/Menkes/Per/IX/2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1045/MENKES/PER/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Di
Lingkungan Departemen Kesehatan.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah


Sakit
Peraturan Pemerintah 32 Tahun 1996, tentang tenaga kesehatan.
Keputusan Menkes RI Nomor 148 tentang registrasi dan praktik perawat.