Anda di halaman 1dari 2

4 CARA MENDONGKRAK KEKUATAN RUH / JIWA

Iklim kehidupan modern yang sangat dinamis, seringkali memaksa banyak manusia mencari
terbosan-terobosan baru dan jalan alternatif agar berhasil memenangkan persaingan. Sayangnya
banyak orang yang kurang sabar, kemudian mengambil jalan pintas yang salah atau menghalalkan
segala cara demi meraih tujuan keberhasilannya. Mengapa demikian ? Inilah indikasi karena
banyaknya manusia yang tidak kokoh jiwanya.

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, mudah sekali kita menemukan orang yang mengaku
beragama, pergi ke tempat-tempat ibadah, tetapi ketika dalam pekerjaan melakukan
penyelewengan, korupsi, penipuan dan tindak pidana lainnya yang tidak sesusai dengan akhlaq
umat beragama. Mengapa demikian ? Inilah indikasi bahwa banyak manusia yang meskipun
mungkin beragama tetapi lemah jiwanya. Tidak berkualitas jiwanya.

Mudah kita menemukan orang yang terlihat meraih sukses profesional dalam karier dan bisnis,
tetapi kesuksesannya tidak memberikan makna bagi hidupnya. Meskipun berhasil meraih kekayaan
yang berlimpah, namun kekayaannya tidak memberikan arti bagi kualitas kebahagiaan hidupnya.
Bahkan banyak yang berakhir dengan kesia-siaan dan kegagalan hidup. Mengapa demikian ? Inilah
akibat dari manusia yang lemah jiwanya.

Bagaimana mendongkrak kekuatan jiwa kita ? Bagaimana meningkatkan kualitas jiwa kita ?

1. Memahami Hakekat Hidup

Melakukan "inner journey" ke dalam diri kita sendiri dapat mengantarkan manusia menemukan
hakekat hidupnya. Mereka yang mengenali dirinya akan dapat menemukan siapa Tuhannya yang
sebenarnya. Pada akhirnya akan dapat memahami posisi dirinya dan mengerti tujuan tertinggi
hidupnya. Memahami hakekat hidup ini dapat mengantarkan manusia memiliki kekuatan jiwa.
Karena manusia dapat memahami siapa dirinya dan siapa Tuihannya yang sebenarnya.

2. Mencari ilmu lebih besar

Mencari ilmu lebih besar dari mencari harta. Karena orang yang berilmu tinggi tidak akan mudah
tergoda oleh berbagai hal yang dapat melemahkan jiwanya. Sayangnya kecenderungan yang terjadi
banyak manusia yang lebih besar mencari harta dari pada mencari ilmu. Akibatnya mudah tergoda
melalui cara yang salah, mendewakan harta dan menghalalkan segala cara demi meraih tujuan
kekayaan harta. Mudah terjebak dalam godaan kehidupan dunia dengan mengabaikan nilai-nilai
spiritualitas kebenaran.

Sedangkan orang yang berilmu akan kuat jiwanya, karena dirinya mengetahui pintu-pintu syaithan
dan lebih mampu menjaga ibadahnya, menjaga kekayaannya, menjaga kekuasaannya, menjaga
kehidupannya dari riya dengan ilmu (ma'rifat)-nya yang dalam.

3. Mengendalikan Ego Dan Nafsu

Seorang ulama Ibnu Qoyyim Az-Zaujiyah berkata : "Syahwat itu seperti kuda liar. Untuk
menjinakkannya dan menaikinya perlu waktu lama dan pengorbanan yang tidak sedikit
Karena itu jadilah orang yang mengendalikan kuda."

Inilah perang terbesar sesungguhnya dalam kehidupan manusia. Banyak manusia yang kalah dan
akhirnya menjadi orang yang berjiwa lemah. Terjerumus dalam kekangan hawa nafsunya. Mereka
memperturutkan hawa nafsunya dengan menghalalkan segala cara.

Ego dan nafsu seringkali membawa seseorang pada perasaan serba kurang, serba tidak cukup,
merasa tidak pernah puas dengan apa yang diraih, sehingga menjadi manusia yang tidak mudah
bersyukur. Hidup seperti ini menjadikan jiwanya lemah dan serba tidak damai dalam hatinya.
Namun sebaliknya mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan ego dan nafsu pribadinya
akan menjadi manusia yang mudah bersyukur dan menjadikan dirinya selalu merasa hidupnya
berkecukupan dan damai.

4. Keseimbangan Hidup

Orang bijak mengatakan, "Barangsiapa yang mengejar dunia semata, maka dunia akan semakin
menjauh dan semakin tak terkejar. Tetapi, barangsiapa yang mengejar akhirat dengan keikhlasan
hatinya, maka yakinlah bahwa dunia akan mengejarnya." Maknanya adalah bagaimana kita dapat
menyeimbangkan kehidupan ini dengan tetap realistis dalam kehidupan modern ini tanpa
mengabaikan tujuan tertinggi kehidupan akhirat nanti.

Berusaha memperjuangkan keberhasilan professional dalam karier dan Bisnis, dengan tidak
mengabaikan nilai-nilai kekayaan hati nurani. Meraih simbul-simbul kesuksesan duniawi melalui
cara-cara yang dibenarkan oleh syariat yang ditetapkan Tuhan. Dapat menggunakan simbul-simbul
kesuksesan duniawi yang diperolehnya untuk memberikan manfaat bagi kesuksesan kehidupan
akhiratnya. Inilah yang saya maksukan dengan memandang kehidupan dengan seimbang. Tetap
realistis dalam kehidupan modern dengan tetap memiliki idealisme pada nilai-nilai spiritualitas.