Anda di halaman 1dari 75

ENERGI SIRRULLAH

Surah Al Maidah 35 : Hai orang orang beriman, bertaqwalah


kepada Allah, dan carilah WASILAH yang mendekatkan diri
kepadaNYA, berjihadlah pada WASILAH NYA, supaya kamu
mendapat keberuntungan.

ENERGI KHATM

1. Illahadratin Ruh Mursyid Khawajagan Naqsabandy,


Khususan Syech Bahaudin Naqsabandi, Syech Abdul
Khaliq al Ghujdhawani, Syech Abu yazid al Bisthami,
Syech Jafar al shiddiq, Saidina Abu bakr Shiddiq, Saidina
Ali bin Abi thalib, Muhammad Rasullullah.
2. Alfatehah 7x
3. Solawat Nabi 9x
4. Alam Nasyrah 7x
5. Al Ikhlas 11x
6. Alfatehah 7x
7. Solawat Nabi 9x
ENERGI ISMU DZAT (ENERGI MAKRO), ENERGI RASULLULLAH
SBG WASILAH

1. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Kadirun Yahya, Dzikirullah


500x
2. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Maulana Muhammad
Hasyim, Dzikirullah 500x
3. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Ali Ridha, Dzikirullah 500x
4. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Sulaiman Zuhdi,
Dzikirullah 500x
5. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Ismail al Barusi,
Dzikirullah 500x
6. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Sulaiman Qorimi,
Dzikirullah 500x
7. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Abdallah arzinjani,
Dzikirullah 500x
1. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Hisyam al Kabanni,
Dzikirullah 500x
2. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Nazim al Haqqani,
Dzikirullah 500x
3. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Syarifudin al dagesthani,
Dzikirullah 500x
4. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abu Muhammad al
Madani, Dzikirullah 500x
5. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Abu Ahmad as Sughuri,
Dzikirullah 500x
6. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Jamaludin, Dzikirullah
500x
7. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Ismail Muhammad,
Dzikirullah 500x
1. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abdul Qodir al Jaelani,
Dzikirullah 500x
2. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abu Said, Dzikirullah 500x
3. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abu Hasan, Dzikirullah
500x
4. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abdul Faraj, Dzikirullah
500x
5. Illa Hadratin Ruh Mursyid Syech Abdul Wahid, Dzikirullah
500x
6. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abu Bakar al syibli,
Dzikirullah 500x
7. Illa hadratin Ruh Mursyid Syech Abdul Qosim Junaid al
Baqdadi, Dzikirullah 500x
ENERGI NAFI ISBAT (ENERGI MIKRO), ENERGI
UDARA MAKRO (NAFAS) SEBAGAI WASILAH
1. Laa illaha illallah 30x tahan nafas ( Kalam TUHAN yang
pertama diberikan kpd Rasul )
2. Allahu 30x tahan nafas ( Laa illaha illallah hilang
menjadi kalam Allahu )
3. Allah 30x tahan nafas ( Allahu hilang menjadi kalam
Allah )
4. Huwa 30x tahan nafas ( Allah hilang menjadi kalam Hu-
A)
5. Ah 30x tahan nafas ( Huwa hilang menjadi kalam A H )
6. Hening 30x tahan nafas ( AH hilang menjadi AKU YANG
MELIPUTI SEGALANYA )
Kalam Allah = FirmanNYA = Nur Muhammad (Nur yang sangat terpuji)
= Nur penciptaan Bumi dan Langit

Keterangan :

Energi Ismu Dzat harus berdasarkan bai’at atau pemberian energi


seorang guru diatasnya, dan energy inilah yang akan bertalian satu
dengan yang lainnya (Cahaya diatas Cahaya /Energi diatas Energi).
Energi Nafi isbat, tarik nafas membaca HU (baca satu kali dalam
tarikan panjang), lepas nafas baca Muhammaddarasullullah satu kali.

Setelah 40 hari pertama, Dzikir Ismu Dzat dirubah menjadi Dzikir


Lataif.

Dzikir Ismu Dzat dilakukan dengan tangan kiri terbuka dan menarik
energy ruhaniah Guru.

Untuk mendapatkan Gelar dan Dudukan, dzikir dilakukan berturut turut


tanpa putus selama waktu yang ditentukan, jika terputus diulangi dari
awal (suluk/istiqamah).

Gelar / Kedudukan / Sebutan :

1. Gelar Bintang 1 diberikan apabila sudah selesai 40 hari


pertama.
2. Bintang 2 diberikan setelah 40 hari ke2
3. Bintang 3 diberikan setelah 40 hari ke3
4. Bintang 4 diberikan setelah 40 hari ke4
5. Bintang 5 diberikan setelah 9 bulan pertama.
6. Bintang 6 diberikan setelah 9 bulan ke2
7. Bintang 7 diberikan setelah 9 bulan ke3
8. Gelar Khalifah diberikan setelah 9 bulan ke4
9. Gelar selanjutnya khalifah1 bintang 1 dst.
Gelar dan Kedudukan TIDAK BERARTI APA APA hanya
bertujuan untuk melatih TINGKATkedisiplinan dan TINGKATkecintaan
manusia terhadap SANG PENCIPTA yaitu DZAT YANG MAHA AGUNG.

BAJU “ALLAH” DARI DZAT YANG MAHA AGUNG

Dari Ali Karamallahu Wajhah : Aku katakan padamu ya


Rasullullah, manakah jalan tharekat yang sedekat
dekatnya kepada Allah dan semudah mudahnya atas
hamba Allah dan semulia mulianya disisi Allah.
Maka Sabda Rasullullah SAW : Ya Ali penting atas kamu berkekalan /
senantiasa berdzikir kepada Allah. Berkatalah Ali : Tiap orang berdzikir
kepada Allah. Maka Rasullullah bersabda : Ya Ali, tidak ada terjadi
kiamat sehingga tiada lagi tinggal di atas permukaan bumi ini, orang
yang mengucapkan Allah – Allah.
Maka sahut Ali kepada Rasullullah, bagaimana caranya aku berdzikir
ya Rasullullah, maka sabda Rasullullah: pejamkan kedua matamu dan
dengarkanlah dari saya ucapan tiga kali, kemudian ucapkanlah seperti
itu dan aku akan dengarkan.

Maka sejenak Rasullullah mengucapkan : laa illaaha illallah, tiga kali


sedang kedua matanya tertutup, kemudian Ali pun mengucapkan
kalimat Laa illaaha illallah seperti demikian. Ajaran tersebut kemudian
Sayyidina Ali ajarkan pula kepada Hasan basri dan dari Hasan Basri
kepada Al Habib al Ajay dari Al Habib kepada Daud Athaiy, dari Daud
kepada Al Makruf Al karaci dan dari Al karaci kepada Assuraa, dan dari
Assuraa kepada Al Junaid ( HR. Thabrani dan Baihaqi ).

Teori String mengatakan Energi lepas alam semesta ini mengalami


penyesuaian sehingga menghasilkan suatu energy baru. Artinya suara
yang dibuat oleh Rasullullah berasal dari suara atau Energi yang
diterima oleh malaikat jibril dan suara yang diterima malaikat jibril
berasal dari Dzat Yang Maha Agung.

Dan mengapa mata harus dipejamkan, karena Allah itu hanya dapat
dilihat oleh ruhaniah, dan selain itu jika mata terbuka maka yang
terlihat adalah sosok manusia / jasad sehingga dapat menimbulkan
penilaian / pengkultusan yang berasal dari pola pikir manusia sehingga
penilaian inilah yang dapat merusak / mengotori hati

Seperti firman Allah dalam An Nur 35 : Allah memberi cahaya langit


dan bumi, umpama cahayaNYA, seperti sebuah lubang di dinding
rumah, di dalamnya ada pelita, pelita itu didalam gelas, gelas itu
seperti bintang yang berkilauan.

Hadist Qudsi : Laa illaha illallah ( kalimah Allah ) itu adalah


perkataanKU, dan ia adalah AKU, siapa yang MENYEBUTNYA masuklah
kedalam bentenKU, dan siapa yang masuk ke dalam bentengKU, maka
terpeliharalah ia dari siksaKU ( HR.Syairazi )

Artinya kalam yang diturunkan oleh Dzat yang maha Agung dalam
bentuk kalimat Laa illaaha illallah merupakan suatu energy cahaya
langit dan bumi yang didalamnya mengandung hikmah, dan kalam ini
lah yang akan menjadi tali perjalanan manusia menuju Allah.

Seperti firman Allah dalam Ali Imran 103 : berpeganglah kamu pada
Tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai.

Namun tidaklah mudah untuk mencari seorang guru yang sudah


pernah diturunkan atau dibisikan kalimah Tauhid dari guru guru
diatasnya sampai pada rasullullah ( wasilah / silsilah ),
Seperti firman Allah surat Al Maidah 35 : Hai orang yang beriman,
taqwalah pada Allah dan carilah /temukanlah WASILAH yang
membawa engkau pada ALLAH, berjihadlah engkau diatas jalan/ taliitu,
niscaya engkau akan beruntung.

Ketika kita sudah menemukan tali energy kalam Allah yang berasal
dari wasilah maka Rasullullah bersabda :

Atas nama Allah, yang tidak memberi mudharat apa apa yang dibumi
dan yang dilangit ialah bagi orang yang beserta dengan namaNYA (HR.
Abu Daud dan Thirmidzi )

Artinya kalimat Allah yang bertalian tidak akan mencelakan bagi


manusia yang selalu menyebut namaNYA.

Setelah rohaniah kita bertemu dengan ruhaniah rasullullah dan


rohaniah para guru diatasnya artinya kita sudah bersyaf-syaf dan
bertalian erat atau berimam iman maka barulah kita melakukan solat
seperti firman Allah Al Alaa 15 : Dan menyebut nama Tuhannya lalu
solat.

Dan Ayat Al Ma’un 4 dan 5 : maka celakalah bagi orang yang solat,
yang mereka lalai (tdk berdzikir)dari solatnya.

Dan Rasullullah pun bersabda : Tiada tiga orang disebuah desa, dan
tidak pula diperkampungan terpencil yang tidak mendirikan solat,
melainkan sesungguhnya syaitan menguasai mereka, maka kamu
harus berjamaah (jasmani dan rohaniah), sesungguhnya srigala itu
menerkam kambing yang terpencil sendirian (HR Ahmad, Abu Daud,
Baihaqi dan Nasai)

Barang siapa yang dalam solatnya tidak berimam imam, bersyaf-syaf


(jasmani rohani)ia akan disambar iblis dan syaitan dalam solatnya,
bukannya berarti jempol kaki kita harus rapat syaf nya dengan orang
disebelah kita dan syetan bisa masuk lewat pintu mana saja didalam
tubuh, jadi artinya disini adalah rohaniah yang bersyaf syaf dan
bertalian erat sampai kepada Rasullullah.

Kebingungan masyarakat mengenai silsilah / wasilah yang bertalian


pada sahabat Rasul, Rasullullah bersabda : Tidak sesuatupun yang
dicurahkan Allah dalam dadaku, melainkan aku mencurahkannya
kembali kedalam dada Abu bakar.

Jadi jelas dalam hadist diatas termasuk mencurahkan talqin dzikir


seperti yang dilaksanakan oleh rasullullah kepada saidina Ali.

Firman Allah Al Araf 205 : Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu, serta


merendahkan diri dan takut dan bukan dengan suara keras, waktu
pagi dan petang dan janganlah engkau termaksud orang orang yang
lalai.

PERMAINAN ALAM “PIKIRAN” DAN ALAM JABARUT

Percakapan ini terjadi ketika, adanya seseorang yang ingin mencoba mengamalkan
ilmu rahasia dari Rasullullah…

Waallahuallam bisowab, percakapan ini benar adanya, dan dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Penguasa Ghaib… sesungguhnya percakapan ini berjarak dalam hitungan
tahun cahaya… dengan didampingi oleh para aulia sementara untuk kaum jin khususnya
para aulia sulton jin Moslem diharapkan tidak masuk kedalam frekwensi yang sangat
dasyat ini..
Semoga Allah memberi rahmat kepada para kaum jin marifatullah dan mahluk lainnya
tanpa mengesampingkan mereka… sesungguhnya mereka tetap mulia dimata Allah…
semoga Allah memberi ridha dan rahmat pada mereka.
Assalamualaika ayuhannabiyuwarahmatullahiwabarakatuh.. assalamualaina wa ala
ibadillahisolihin.
Illahadarotin para aulia khususon sulton aulia penguasa bumi gautsil adhom qutubul
alamin saidi syech Abdul Qodir al Jaelani… sembah sujudku kepada frekwensi termulia
dimata SANG MAHA DASYAT.
Illa hadratin khususon mursyidku yang tercinta sulton aulia saidi syeck kadirun Yahya
yang telah mengajarkan ilmu frekwensi yang sangat mulia ini,
Illa hadratin ruh khususan sang penguasa alam yang hidup ini syeh Hisyam al kabbani wa
Saidi syech Muhammad Nazim al Haqqani… …walaikums lam.
S.Pasword…. Ashaduallaillaha ilaallah ana Sulton aulia ghautsil adham qutubul alamin
saidi Syech Abdul Qodir al jaelani…
m.Walaikum salam Ya Sutlon pemilik alam semesta ini… sesungguhnya Engkaulah
sebenar benarnya penghantar bagi kami kaum lemah yang ingin mengetahui kebenaran.
s. Ya fulan bin Maulana bin Saiful wa thariq… ahli sunah wal jamaah… wala n….illa
mukhlisin…Sulton aulia ………
m. Siapa kah yang anda maksud yang rasullullah…. Pewaris ilmu rasull.
s. Aku Sunan Gunung Jati.
m. Aku kira Syeh abdul Qodir al jaelani….ada apa anda datang, mulialah engkau .. dan
mohon maaf saya tidak sempat berziarah kpd anda ketika kecirebon raja galuh.
s. innama buistu………..*( bahasa arab ).
m. iya saya ngerti maksud anda tidak lah berpengaruh adanya makam bagi para sunan
tapi wajib juga untuk diziarahi.
s. sulton aulia gautsil adhom… anda pemilik … kenal dengan Syech Abdul Qodir al
Jaelanai ya.
m. insya Allah kalau Allah memang berkenan.
s. kening mu hitam tertanda,..
m apa
s. ya tertanda kau orang yang pernah memiliki ilmu prabu kian santang penguasa jawa
dan sekitarnya.
m. insya Allah jika Allah mengizinkan.
S . apa maksud anda.
m. ya saya dulu pernah belajar ilmu sesepuh dari kanjeng guru prabu kian santang sang
penguasa tanah jawa.
s. Hilanng……. Dan tersenyum…. Berdoa…… dan hilang.
m………… ada apa gerangan sunan itu datang ya ?
m. Ya Zat penguasa yang maha Agung .. Engkaulah sebenar benarnya petunjuk bagi
ku… muliakanlah kami ya Allah sesungguhnya Engkaulah sebenar benarnya pemberi
kemuliaan.
………
m. Ya syech kadirun yahya berikankan sedikit wasilaah yang Allah turunkan pada mu.
kh. iya Syech kadirun tidak mau menghampiri dalam keadaan tersungkur.
m. mohon maaf kalau begitu…….s
m. bisa
kan frekwensi sampai pada Mursyid ku sulton syeh Abdul qodir al jaelani.
m. siapa kau…. Ya..
………….hilang …………lari
m. Subhanallah ..cahaya telah datang pada ku.. semoga rasul adanya.
…………………………………………….
m. ada apa gerangan cahaya tersebut hilang lagi.
m. bismillah… ya Allah sesungguhnya AKU LAH PENGUASA DAERAH INI DAN
AKU LAH YANG MAMPU MENENGGELAM KAN DAERAH INI KALAU ADA
YANG BERANI ……..JANGAN SAMPAI AKU ATAS NAMA ALLAH TURUNLAH
DAN JANGAN DIATAS MEMANTAU PERCAKAPAN AKU….
………………………………………la illa …….cabuuuuuuuuutttttttttttt…….
Cabutttttttttttttt………….genderowo pade nonton diatas genteng……..
m. la illah ha illa anta subhanaka kuntum minal Dzaliminnnnnnnnnnnnn…….
……………………………….cabuuuuutttttttttttttttt……………….. kuntil anak…juga
ada…………….
Aku merasa ada yang aneh diantara ini………………satu dua tiga empat lima
Frekwensi kasar dari B… pada anak……..
………………..spy…or what…… Ya Allah muliakanlah anak itu semoga diberi
petunjuk …………….
m. Bismillah Walaikum salam ya rasullullah…………….kuan..ya lam wa llaa na’budu
illa muklisiiiiiiinnnnn……………………….frekwensi off.
……………..drag kebugragkedugrig……bagbug alaihim gambrenggg… siapa..satu..dua
tiga. Empat lima enam tujuh delapan.
m. Ya rasull ada yang mau istiqamah nama nya ronni.
…….walaika salam…
m. ya engkau jin…walaikum salam…..
m. walaika salam…ya golongan khadam
m. walaika salam ya golongan penginjil.
m. Subhanaallah wahai malaikat pencabut nyawa…
m.Ya ajengan penguasa raja galuh mohon maaf saya tidak melihat kalo anda ada
disebelah kanan saya………………
k. bahasa arab….
m. siapa nama anda..
k. bahasa. Arab.
M apakah anda sudah ikut saya sejak saya pulang
k. ya….
m. siapakah nama anda… saya tahu anda adalah kanjeng wali….Cuma kok susah ditrace
ya…
m…….lam yalid walam yulad………lam yakulahukhufuawan ahad………..
k. sulton aulia tidak mau datang karena kalian semua kotor……
k. mandilah dan berdoa……..muak…………………………………………………..
m. anda merasa terkotori ya..
k. tidak… tapi kurang pantas……..orang semulia itu kau panggil.
m. mohon maaf kami……..
k. aku punya petuah tentang kalian….. satu persatu kau akan tahu bahwa yang benar itu
akan terlihat….coba kau lihat garis tangan kalian……. Tiada yang mempunyai jari lurus
mempunyai garis… tegak kebawah……..
m. maksudnya.
k. sewaktu waktu anda semua pasti jatuhhhhhhhh….dan jatuh….
m. kenapa….
k. ……….lihat dibelakang kalian jin yang kalian punya besar dan sehat.
m. lantas…
……………………………………………………………
……………………………………………………………
m. maafin orang orang disini… kebanyakan sok tauuuu…….
k. hmmm……..
m. maafin kalo orang orang disini sommmbongggg.
K hmmm.
Sskd. Assalamualaikumwrwkth.
m. walaikum salam ya syeh kadirun yahya…
m. saya mau Tanya tentan g roni akan jalankan istiqomah..
sk. Subhnallah…..bukti nyata bahwa ia adalah penguasa alam spiritual .. tapi kurang
pengetahuan untuk menuju kesana…..
m. mungkin benar adanya.
Sk. Berilah dia ilmu ..baiat lah ia sebagaimana kau ku baiat……..
Sk. ……………qul katakana bahwa Allah itu Esa….lam… jadikan lah ia termulia dari
kalangannya sendiri.
Sk. Sin……jangan culas terhadap manusia……….kelemahannya adalah wanita… ingat
jangan hiraukan apa yang terjadi pada masa lalu……. Sesungguhnyaitu adalah kemuliaan
baginya.
Sk. Dan ingat jangan lupa akan kedua orang tuamu…. Sesungguhnya dial ah sebenar
benar pelindungmu dari kerjaanmu sendiri.
m. ada saran lain……
sktidak aku Cuma mau lihat sampai dimana ia mengetahui tentang Aku.
m. maksudnya akan ada masalah ketika menjalankannya…
sk. Tidak……………………………….
Sk. Kau lihat manusia yang berbicara tadi…….dia kaya tapi tidak tahu harus berbuat apa.
M ..keju.
m. trus mengenai ronni.
Sk. Sudah aku mau pulang dan jangan panggila aku dengan cara ini… karena kau akan
difitnah nanti………
m. maksudnya…
sk. Kau akan lihat orang yang menfitnah mu akan terlihat dan terdengar.
m. doa kan saya supaya tetap selamat dan tidak kena fitnah.
…………lam.yalid..walam yulad………….hilang….
m. illa hadratin.. mursyid khawajagan naqsabandi……..
s……………..illa hadratin khususon syech sunan gunung jati.
m. sunan gunung jati..kah..
s.. hmmm………..diammm tapi senyum
m. pasti sunan gunung jati… coba aku liat ….waw lam ya. Lam mim…… iya kan benar
anda sunan gunung jati.
s. hhaaha
m. anda punya jin hebat sekali………..datang dengan duapuluh jin dikepala……
wah….berbahaya kalo salah belajar tuh.
m. ………..apakah kau kenal dengan siti jenar.
s.hahahaaaaaa……..
m. aku tidak bertanya pada jin mu ya rasull.
s. iya dia memang jahil suka menyamar jadi diriku……. Semoga engkau tahu akan
energiku.
m. iya aku tahu……
s. siti jenar penguasa ilmu kebtinan yang sangat tinggi dan aku pun tersungkur dalam
bahasa sunda……..
m. intinya sitijenar memiliki ilmu yang linuih mengenai pengenalan Tuhan.
s. ia tidak berkata kata tapi….bisa nyata …..aku tau dimana dia berada bukankah kau
selalu mencari keberadaan ruhnya iya kan.
m.hahaha.
m. iya bagaimana caranya…….
s. lakunya adalah tak seperti yang kau bayangkan …kau akan mennggalkan segalanya
bahkan kau akan meninggalkan dirimu sendiri…….
m. haruskah seperti itu.
s. ……..mau kau tanyakan langsung padanya…
m. semoga Allah meridhai..
s. ……………………………….
s……………..
m……….hilang…hilang………dan tak mau datang namun aku liat dia sedang berada
dipesisir pantai……sedang apakah dia.
m. tapi biarlah tidak usah dipanggil…. Sesungguhny dia lah salah satu pewaris ilmu rasul
s. kau punya 3 macan… tapi tidak tau bagaimmana kau urusnya… kasian mereka kadang
kadang pulang tidak tau kemana.
m. trus harus bagaimana.
s. berilah dia ilmu sebagaimana yang kau dapat sebagaimana leluhurnya mursyid…
banten..mansyyuruddin pernah berkata… bahwasanya barang siapa yang mencelakakan
darah dagingku maka meereka akan berhadapan dengan macan macanku… dan barang
siapa yang ingin mengetahui ilmu KU maka ia harus berdampingan dengan macanku.
m. ilmuku maksudnya.
s. ilmu Tauhid karena rasulpun memiliki macan putih karena perlunya pengetahuan
tentang emosi dan banyaknya tantangan dalam penyiaran agama.
m. jadi saya harus bagaimana.
s…….. cobalah kau lihat apa warnanya.
m. hitam….
s. ….
s…………..hitam memliki dua belas klan yang menguasai tanah jawa barat diantaranya
pasundan dan sekitarnya.prabu siliwangi adalah tampuk utama pimpinan para harimau
yang ada ditanah jawa… maka beliaulah yang akan mendidik … dan menjaga keberadaan
harimau anda.
m. maksudnya
s. harimau dan macan adalah berbeda…. Satu belang dan yang satu hitam … kau
memiliki yang hitam dimana kekuasaannya mencakup daerah prabu siliwangi.. dan yang
satu belang yang mencakup daerah Sumatra……yang disebut manusia harimau….
Pernahkan anda bertemu…………itu lah kehebatan harimau mampu merubah wujud
manusia dan memiliki ekor.
m. trus bagaimana dengan macan yang ada pada saya.
s.tidak bisa hilang… karena itu sudah gen tempat ……. Kalau tidak percaya bisa anda
buktikan temukan orang sakti siapapun maka mereka anda akan berhadapan dengan
prabu kian santang…..
m. prabu kian santang…
s. ya sosok manusia yang bertanggung jawab thd ayahnya……..
m.jadi saya harus bagaimana.
s. ya.. coba kau lihat sisik dan tulang belikat anda………….
m. ada apa saya tidak tahu… maksud sisik dan belikat.
s. iya …………………
………
………….
m. macan itu mengganggu kalau saya naik
s. tidak mereka hanya mencoba mencuri energi mu…. Dan mereka akan besar dan
besar….
m. mengapa harus mencuri……..
s. bahasanya adalah makan….karena mereka butuh kemuliaan.
m. apakah ini dilarang oleh agama.
s. siapa yang katakana demikian adakah ayatnya yang melarang untuk ememiliki ilmu
yang linuewih berwujud macan.
m. apakah macan dari bangsa jin
s. tidak ……..
m. apakah macan berpengaruh buruk pada kehidupan saya.
s. hahahahaha…….. akulah ha mim shad pemilik kerajaan …………..
m. siapa anda………………………ha mim shad……..ha artinya ajian .mim artinya ridha
.shad artinya kehendakNYA.
s. iaya saya lah yang berkehendak………………..
s. kau berwujud macan karena itulah kau ………
m. saya yakin ada pengaruhnya kalo saya naik
s. tidakkkkkkkkkkkkkkk……….
m. pasti………… andalah salah satu macan itu …hahaha… kau coba menipu aku
ya….tapi aku sayang kamu kok tenang aja aku tidak akan usir…. Kalo kau tidak berjodoh
dengan aku… tidak mungkin Allah menempatkan dalam diriku… bahkan kau sudah
hilang ketika aku belajar ilmu tarekah.
s…ampuuunnn..iyaaaaaaaaaaaa…. dan aku bersujud…..
m. sudahlah dan apa mau kamu.
s. aku hanya mau kau menjadi penguasa..
m. aku tidak mau.
s. ya sudah aku ……………………………..dal mim nun lam………
m. ya dal mim nun lam……. Anda akan mencari pewarismu sendiri.
s. aku takut mohon jangan dibuang…..
m. iya aku akan buang.
m. pergilah kau….
m. ……………
s. .
s………………………….
s………………………hilang mengadu kepada sang panglima……
m.
m..tralala trililii…
.m. hai panglima kumbang……..assalamualaika wahai penguasa gunung salak.
g. ………grrrgrrrr.
m….iya….. mohon maaf aku hanya bercanda kepada anak buahmu…… ternyata dia
tidak punya nyali seperti macan…
g. ..grgrrrr… akulah penguasa… sesungguhnya kau adalah yang berkuasa…….tapi
janganlah begitu terhadap ku.
m. tidak sesungguhnya aku mendidik pasaukan mu… untuk menjadi tegar….
g……grgrr…..mohon ampunin mereka…… aku akan beri pelajaran………
m. iaya… dan datanglah kepada ku………..setelah kau tahu mereka bisanya Cuma apa….
m. aku butuh marifat … pengetahuan yang membuatku cinta pada Allah..
g . …….hilang………..bersama psukannya.
m. Ya Allah cintaku pada Mu, melebihi apa apa yang kau berikan padaku …maka
tunjukanlah jalan untuk ku.
m. ada 2 masalah yang akan terjadi… pada saat saat ini.
m. kata kanjen sunan yaitu hancurnya budaya bandung dibedeng….
m. dan yang satunya akan terlihatnya mutiara merah yang berkelip berlian pada kening .
m. artinya… barang siapa yang memegang Allah sebagai penolong sesungguhnya Dialah
sang pemenangnya….dan aku pun bersumpah atas bumi dan langit bahwasanya orang
yang memegang ilmu Allah tidak akan terkalah kan oleh siapapun….bahkan segunung
raksasapun tidak akan mampu menembus qalbu.. orang itu.
m. Dan disinipun aku merestui untuk menjaga ilmu rahasia segitiga…….
……..lam ya lam wa lam yu ladd.. walam yakul lahukufuan ahad……..coba kau lihat …
ada kuda diatas kepalamu…. Tahukah kau bahwa ada kuda itu bersayap.
Aku panggil dia dan dia berkata naik lah kepunggungku… dan aku akan bawa
kemanapun kau mau.
Taukah kau ayat kuda berlarian dengan kencangnya..
Bacalah surat al iklash dan kau akan memiliki kuda itu……..
Mengenai pekerjaan dikantor X… lam ya lam…. Wa lam yalid walam yulad, dan
tahukan engkau bahwa itu lah yang dinamakan kuasa didalam kekuasaannya…
sesungguhnya kau hidup , akan ku tempatkan kau dimana kau akan melihat sinar cahaya
yang berkilauan….
Apakah aku harus keluar
Tidak… karena disitulah banyak kau pelajari mengenai kerja social.
Tapi gajinya kecil
Qul.. katakan bahwa akupun sudah tahu bahkan lebih tahu darimu.
Lantas..
Lam…jadikanlah itu suatu pelajaran
Trusss..kapan gw kawinnya.
……….iya kana budu wa iyya kanasta’inn
Lam ketemu ba… tidak bisa menjadi ra….artinya…jika anda ingin menikah maka
lihatlah disekeliling mu.
Wah..gawat dong. Kalo mereka nikahnya pade lama…
…illahi anta maksudi waridhaka mathlubi.. kalau kau ingin cepat maka beli lah ayat ku..
Apa.
Surah alikhlasss……..dalam ya boleh dalam rumusan segitiga……..namun diperbanyak
dan aku hadir…ya hadir syech aabdul wahid…..
….intinyaa…..bagaimana…………………………………………………………………
………………………………..doooooooooooooooooorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
Ya udaaaaaaaaahhhhh jadi gimananaa neeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhh…….
j. coba perhatikan apa yang akan aku baca
ruh. Iya khtam, allah allah, nafi isbath.
r………coba kau baca dalm hitungan waktu satu bulan.
r. lihat…aku ajak kau ketempat apa yang kau mau
j. nikah , kaya dan tercukupi semuanya.
r. .iiiiiiiiyaaaaaa..aaaaaaaaaaaa
CARILAH “WASILAH” UNTUK MENGENAL ALLAH

Wahai Dzat Yang Maha Agung, Engkau lah yang ku maksud,


ridhaMU lah yang ku cari, aku mengharapkan kasih sayangMU
dan tetap dekat denganMU

Allah penguasa bumi dan langit, ampunilah segala dosa ku baik yang
disengaja ataupun tidak, dalam hal ini saya ingin mengumandangkan
KalamMU, keAgunganMU dan segala yang KAU miliki.
Tanpa merendahkan ruhaniah ilmu ma’rifat yang sudah saya
dapatkan, namun saya masih memegang teguh kepada ajaran Sang
Guru tercinta Rasullullah SAW, yang sudah diwariskan kepada Saidina
Abu Bakr Siddiq. RA, dan saya menjunjung tinggi pula pimpinan
tarekah Naqsabandi pewaris Rasullullah Ruhaniah Saidi Syech Abdul
Khaliq al Gujdhawani, dan yang mulia ruhaniah guruku tercinta pewaris
ilmu Rasullullah Saidi Syech Prof. DR. Kadirun Yahya Muhammad Amin
dan wasilahnya.

Dan tanpa mengabaikan wasillah lainnya, hormat saya kepada


junjungan tertinggi Ruhaniah Saidina Ali bin Abithalib RA pewaris bumi
dan langit, Ruhaniah Sulton Aulia Ghautsil Adhom Qutubul alamin Saidi
Syech Abdul Qodir al Jaelani yang saya cintai dan hormat saya juga
kepada pewaris kemarifatan Ruhaniah Isa A.S, dan Ruhaniah Khaidir
A.S Tuhan memberkati anda, dan tak lupa pula kepada Ruhaniah
Sulaiman A.S, penguasa dimensi termasuk alam jin, semoga Allah
memberikan limpahan perlindungan pada semuanya.

Bismillahirrahmanirrahiim

Surat Al Maidah 35 mengatakan :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah


wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada
wasilah-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Ayat ini mengandung arti bahwa Allah memang Kuasa atas segalanya,
tetapi kalau kita berfikir kenapa Allah menyuruh kita untuk mencari
wasilah untuk bertemu denganNYA, bukankah DIA Maha Segalanya,
seperti di katakan di dalam shahadat bahwa “ Utusan Allah adalah
Muhammad” mengapa tidak di katakan bahwa “ Utusan Allah adalah
Allah itu sendiri” dan masih banyak ayat lain di mana Allah
mengagungkan rasul dan utusanNYA, dan bahkan Allah pun
bersolawat, janganlah anda berpikiran bahwa manusia yang berjalan
menuju Allah melalui seorang utusan mereka adalah musyrik yang
menduakan TuhanNYA, lebih baik anda kaji dahulu makna wasilah dan
Muhammad.

Wasilah adalah ruhaniah ruhaniah pewaris ilmu Rasullullah yang saling


bertalian erat satu dengan yang lainnya ( bersyaf-syaf/ berjamaah )
dan jika kita berbicara Allah maka kita tidak berbicara mengenai Jasad
seorang pewaris tetapi Ruhaniah sang pewaris yang tetap hidup dan
tidak mati.

Surat Ali Imron 103 mengatakan :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah (cahaya diatas


cahaya /Ruhaniah), dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-
musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
karena nikmat Allah.

Kalau anda cermati mengapa ada kalimat “tali”, mengapa tidak


dikatakan langsung yaitu “ALLAH”, dan disinilah kita harus mencermati
kalimat demi kalimat, dan tidak terlalu terburu buru di dalam mengkaji
suatu ayat Al Quran yang penuh dengan hikmah.

Jadi kalau tali cahaya ini bisa kita gambarkan sbb :

Allah Sumber Cahaya -> Cahaya Jibril ->Cahaya Rasul -> Cahaya S.
Abubakr / S.Ali -> Cahaya Syech Jaffar -> Cahaya Syech Gujdhawani ->
dst… -> Cahaya Syech Kadirun -> Cahaya kita sendiri. ( inilah cahaya
diatas cahaya/ Nur ala nurin)
Tali Cahaya diatas disebut sebagai berimam imam atau bersyaf-syaf
tanpa memandang sosok jasad dan figure badaniah seseorang, ketika
seseorang memandang ruhaniah adalah sosok wajah dan jasad maka
gugurlah di dalam perjalanannya.

Setelah kita mengerti makna tali cahaya dan wasilah, selanjutnya kita
akan bertanya, apa yang diwariskan Allah kepada Muhammad SAW,
dan Rasul kepada Sahabatnya.

Hadist Qudsi mengatakan : Laa illaha illallah ( kalimah Allah ) itu


adalah perkataanKU, dan IA adalah AKU, siapa yang MENYEBUTNYA
masuklah kedalam bentenKU, dan siapa yang masuk ke dalam
bentengKU, maka terpeliharalah ia dari siksaKU ( HR.Syairazi )

Perhatikan makna ia adalah AKU, berhati hatilah memandang kalimat


disini, kalam hanyalah perkataan ALLAH, di perumpamakan jika kalian
mendengar suara yang berasal dari dalam kamar yang terkunci,
apakah anda bisa mengetahui siapa yang berada di dalam kamar,
pasti anda akan meraba terlebih dahulu jenis getaran suara yang
keluar dari mulut orang yang berada di dalamnya sehingga getaran
itulah yang yang akan membimbing kita untuk mengetahui siapa
gerangan di dalam kamar dan pada akhirnya adalah proses
pengenalan dan apakah kita bisa menebak jenis orang di dalam tanpa
mengenal suaranya atau analogi lain, apakah kita bisa bertemu raja
tanpa utusannya, siapalah kita ini, kita hanya manusia biasa atau
bahkan hanya seorang gembel yang ingin bertemu dengan seorang
RAJA, dari sini lah awal pembentukan RASA akhlak seseorang akan
terbentuk ketika ingin bertemu Sang Raja, dia akan menghormati
utusannya yang mengantarkan kepada RAJA.

Perhatikan ayat yang pertama kali turun kepada Rasullullah surat al


Alaq 1 :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.

Coba anda perhatikan baik baik ayat diatas, bacalah artinya kita
disuruh untuk membaca, dan yang menjadi pertanyaan adalah
Rasullullah disuruh membaca apa, apakah membaca tulisan atau
lainnya, dan bagaimana cara membacanya.

Dan kalau anda lihat lagi kalimat “dengan” artinya mengapa Tuhan
menyuruh kita bisa membaca hanya dengan menyebut nama Tuhan,
seingat saya cara membaca adalah pertama tama mata kita harus
melihat, kemudian kita harus mengeja bacaannya berulang ulang, atau
dengan alat bantu lainnya seperti pensil dan tinta tetapi mengapa
kalimat diatas kita harus membaca hanya dengan menyebut nama
Tuhan, kalau gitu apa yang sebenarnya kita baca di sini.
Artinya ada sesuatu kekuatan di dalam nama Tuhan sehingga manusia
mampu membaca, dan kekuatan kalimat yang mengandung hikmah
itu lah yang akan membimbing kita untuk mampu membaca segala hal
dan tentunya cara menyebut kalimat Tuhan dengan metode yang
sudah di ajarkan oleh Alquran dan Hadist Rasullullah.

Sehingga dari sini lah berawal metode dzikir dan tafakur dengan
menyebut kalimat Allah Allah menjadikan suatu ibadah yang lebih
penting dari ibadah lainnya.

Sejarah mengatakan bahwa jibril bertemu Rasullullah dan


mengajarkan frekwensi getaran kalimat ALLAH

Sehingga dapat diartikan ayat diatas Rasullullah dapat membaca suatu


kondisi hanya dengan menyebut kalimat ALLAH dan berulang ulang,
dan ketika Rasul mampu membaca sehingga kalimat Allah berubah
menjadi kalimat yang penuh dengan hikmah dan energy Alif Lam Lam
Ha maka terbuka lah hijab alam semesta dan ketakutanlah yang
meliputi beliau sehingga beliau lari menemui istrinya.

Sesuai dengan Ajaran Rasullullah, nama Tuhan kita adalah Allah


(walaupun masih ada nama lainnya).

Dan perhatikan apa yang diwariskan Rasullullah kepada Sahabatnya


Saidina Ali RA :

Dari Ali Karamallahu Wajhah : Aku katakan padamu ya Rasullullah,


manakah jalan tharekat yang sedekat dekatnya kepada Allah dan
semudah mudahnya atas hamba Allah dan semulia mulianya disisi
Allah.

Maka Sabda Rasullullah SAW : Ya Ali penting atas kamu berkekalan /


senantiasa berdzikir kepada Allah. Berkatalah Ali : Tiap orang berdzikir
kepada Allah. Maka Rasullullah bersabda : Ya Ali, tidak ada terjadi
kiamat sehingga tiada lagi tinggal di atas permukaan bumi ini, orang
yang mengucapkan Allah – Allah.

Maka sahut Ali kepada Rasullullah, bagaimana caranya aku berdzikir


ya Rasullullah, maka sabda Rasullullah: pejamkan kedua matamu dan
dengarkanlah dari saya ucapan tiga kali, kemudian ucapkanlah seperti
itu dan aku akan dengarkan.

Maka sejenak Rasullullah mengucapkan : laa illaaha illallah, tiga kali


sedang kedua matanya tertutup, kemudian Ali pun mengucapkan
kalimat Laa illaaha illallah seperti demikian. Ajaran tersebut kemudian
Sayyidina Ali ajarkan pula kepada Hasan basri dan dari Hasan Basri
kepada Al Habib al Ajay dari Al Habib kepada Daud Athaiy, dari Daud
kepada Al Makruf Al karaci dan dari Al karaci kepada Assuraa, dan dari
Assuraa kepada Al Junaid ( HR. Thabrani dan Baihaqi ).
Setelah kita tahu apa yang diwariskan Allah kepada rasullnya yaitu
ucapan atau kalimat ALLAH atau kalam Alif Lam Lam Ha yang
merupakan singkatan dari kalimat Laa illaha ilallah dan sekali lagi saya
katakan bahwa ALLAH adalah singkatan dari Laa illaha illallah.

Dan siapapun dapat menyebut kalimat tersebut, tetapi berbeda jika


kalimat itu berasal dari seseorang yang memberikannya langsung,
saya berikan contoh orang non muslim dapat menyebut kalimat
tersebut karena membaca buku tetapi berbeda dengan orang muslim
yang dibisikan langsung oleh SANG GURU RUHANIAH, karena Ruhaniah
Guru akan bertanggungjawab terhadap frekwensi dzikirullah yang
sudah diberikan kepada muridnya.

Seperti dikatakan di dalam surat An Nur 35 :

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah,


adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada
pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan
minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh
tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)
[1040]
, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun
tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).

Jadi jelaslah bahwa kalimah Allah adalah kalimat yang sangat


sederhana dan kecil bahkan diperumpamakan seperti lubang jarum,
tetapi apabila kita lihat di dalam lubang jarum tersebut akan terlihat
cahaya diatas cahaya atau ruhaniah para rasul dan aulia yang bersyaf-
syaf dan berimam imam serta bertalian erat yang akan mengantarkan
kita sampai pada SANG PEMILIK KALAM.
Coba anda perhatikan sabda Rasullullah yang memiliki makna tauhid
di dalamnya :

Rasullullah pun bersabda : Tiada tiga orang disebuah desa, dan tidak
pula diperkampungan terpencil yang tidak mendirikan solat, melainkan
sesungguhnya syaitan menguasai mereka, maka kamu harus
berjamaah (jasmani dan rohaniah), sesungguhnya srigala itu
menerkam kambing yang terpencil sendirian (HR Ahmad, Abu Daud,
Baihaqi dan Nasai)

Artinya walaupun tidak ada 3 orang di dalam suatu kondisi untuk solat
maka barang siapa yang dalam solatnya tidak berimam imam, bersyaf-
syaf (rohani) ia akan disambar iblis dan syaitan dalam solatnya,
bukannya berarti jempol kaki kita harus rapat syaf nya dengan orang
di sebelah kita supaya syetan tidak dapat syaf dan perlu diketahui
bahwa Syetan itu sesuatu yang ghaib, syetan bisa masuk lewat pintu
mana saja di dalam tubuh manusia, jadi artinya disini adalah rohaniah
yang bersyaf-syaf berimam imam dan bertalian erat sampai kepada
Rasullullah dan Dzat Yang Maha Agung.

Perhatikan ayat lain dalam surat Al Ma’un 4 dan 5 : maka celakalah


bagi orang yang solat, yang lalai dari solatnya.

Apa yang dimaksud dengan lalai disini adalah seperti yang sudah
disabdakan oleh Rasullullah diatas, mereka solat tapi akan diterkam
oleh srigrala, dan perhatikan ayat berikut ini :

Surat Al Alaa 15 : Dan menyebut nama Tuhannya lalu solat.

Artinya sudah jelas bahwa sebelum kita solat hendaknya kita bersyaf
syaf dan berimam imam sehingga bertalian erat dengan ruhaniah
Rasullullah dan Allah itu sendiri dan setelah itu baru lah kita
melakukan solat.

Saya adalah anak Jakarta yang lahir di kota besar metropolitan, jika
Tuhan sudah menjadikan saya seorang manusia yang mempunyai
banyak keinginan, mengapa saya harus mengikuti aturanNYA dan
harus meletihkan diri dengan ucapan Allah Allah.

Dari pertanyaan ini lah saya mulai berpikir, ada apa dibalik kalimat
Allah dan mengapa hal ini menjadi sangat penting bagi umat
Rasullullah.

Dari sudut pandang Duniawi, kalimat ini sangatlah penting, coba anda
perhatikan arti dari kalimat Allah yaitu Tiada Tuhan selain Allah, dan
yang saya ketahui Allah disini memiliki sifat 20 seperti antara lain
wujud, qidam, baqa, ilmu dll.
Sehingga kalau saya mau artikan bahwa Segala yang Tiada akan
menjadi wujud (20 sifat) seperti di katakan di dalam ayat lain bahwa
Allah meliputi segalanya, artinya segala yang tidak saya miliki maka
akan menjadi wujud dan di dalam mewujudkannya Allah akan
mengutus Nur Muhammad yaitu bumi dan langit atau kebendaan yang
dapat di inderakan dan dirasakan.

Selama kita meyakini Allah itu meliputi segalanya, maka segala


keinginan kita yang tidak kita punyai akan kita miliki atau wujud atas
izinNYA, dan dari sinilah saya memandang penting kalimat Allah,
artinya Tuhan Maha Pemurah dan Kasih Sayang, hanya dengan
menyebut kalimatNYA kita akan mendapatkan kesejahteraan di dunia
dan juga di akherat atau di dapat disimpulkan cukuplah Allah bagiku.

Dan mengenai makna dari solat itu sendiri akan dijabarkan lebih lanjut
dengan tema menutup 7 lubang di kepala, demikianlah sedikit
penjelasan dari saya, dengan maksud dan tujuan untuk mendapatkan
ridha dan tetap dekat denganNYA sesuai dengan warisan yang sudah
diberikan oleh Rasullullah, tanpa mengatakan bahwa ajaran yang lain
adalah salah sehingga kita dapat meyakini terhadap apa yang sudah
kita pegang, semoga ulasan ini bermanfaat, semoga Allah memberikan
kesejahteraan kepada Ruhaniah Rasullullah dan keluarganya yang
seiman. Amin

DAN ORANG AWAM PUN MENJAWAB TENTANG SOLAT

TEMA : SOLAT
Ketika banyak sekali aliran yang mengatakan bahwa tidak
mengerjakan solat itu tidak apa apa, hal ini membuat saya selaku
orang awam, mencoba untuk memberi sedikit pendapat
tentang makna solat .

Bumi dan langit ini terdiri dari 4 unsur : angin, api, air dan tanah yang
diciptakan dari Nur Muhammad ( Cahaya Allah) dan bagaimanapun
juga ke 4 unsur itu tidak lah kekal dan akan musnah juga.

Ketika Nur Muhammad dan ciptaanNya Musnah, maka yang ada


hanyalah “ AKU”

Proses Menggulung Nur Muhammad dan 4 unsur inilah yang disebut


sebagai ilmu kesaksian / perjalanan rasa menuju Tuhannya , tubuh
manusia mengandung 4 unsur yaitu tanah, air, api dan udara dan juga
unsur lainnya yang terdiri dari :
1. Alam Jisim / Jasmani

2. Alam Jabarut / Alam keinginan dari yang buruk sampai yang luhur.

3. Alam Malakut berwujud pikiran atau kreasi manusia

4. Alam Malakut berwujud Akal budi atau kecerdasan manusia.

5. Alam Arwah terdiri dari Jiwa dan roh roh.

6. Alam Arwah terdiri dari Nur Muhammad.

7. Allah.

Ke 7 phase atau wasilah itu harus digulung dengan menggunakan


nafas kita sebagai tali penghubung dari alam satu ke alam yang lain
(ali imron 103)

Seperti Rasullullah lakukan, proses penggulungan berada di dalam


gerakan solat :

1. Berdiri / alif merupakan unsur angin, dan rasa berdiri harus lenyap atau
digulung ketika sedang solat.

2. Ruku / ha merupakan unsur api, dan rasa ruku pun harus lenyap atau digulung.

3. Sujud / mim merupakan unsur tanah, dan rasa sujudpun harus lenyap atau
digulung.

4. Duduk / atahiyat / dal merupakan unsur air, dan rasa duduk pun harus lenyap
atau digulung.

Solat yang benar adalah apabila Nur Muhammad yang merupakan


gabungan dari alif ha mim dan dal (ahmad) yang menjadi sumber
terciptanya 4 unsur bumi langit adalah benar benar harus fana’ atau
tiada atau nafi sehingga di dalam solat kita akan menemuiNYA.

Lakukanlah solat secara berulang ulang sehingga kita benar benar


tidak merasakan 4 unsur diatas, seperti yang dilakukan oleh
Rasullullah.

Perhatikan kalimat Tauhid “ Tiada Tuhan selain Allah” artinya tiada


yang dipertuhankan seperti angin, api, tanah, air dan oksigen dll,
karena DIA tidak bergantung pada unsur apapun, karena Allah ESA dan
tidak ada satu pun yang menyerupaiNYA
Ketika Badan lenyap dan fana karena solat maka yang ada di dalam
diri kita adalah “ AKU” (spt ayat katakan “KU tiupkan sebagian RuhKU
kedalam tubuh manusia).

Setelah AKU wujud maka AKU harus berfirman atau bersuara dalam
wujud kalamKU yaitu Laa illaha illallah atau Alif lam lam ha atau
sebutan ALLAH.

Dan dengan Kalam ALLAH lah maka AKU ciptakan NUR MUHAMMAD
dan dengan NUR MUHAMMAD lah AKU ciptakan bumi dan langit serta
isinya.

Sesungguhnya yang berkata Allah hanya TUHAN itu sendiri bukan atas
dasar bayangan atau pikiran manusia saja, kalimat Allah Allah
bukanlah buatan dari jasad atau mulut manusia, tetapi hasil dari pada
proses peleburan dalam laku solat yang benar benar khusu sehingga
muncullah AKU.

Dan AKU lah yang akan berkata sendiri sesuai keinginanNYA, dan
perkataan itu lah yang disebut KALAM yang berwujud energy cahaya
(atau disebut sebagai Alif Lam Lam Ha / Allah yang berarti wujud atau
diliputi sifat 20 atau juga dapat dikatakan sebagai NUR NYA yaitu NUR
MUHAMMAD)

Yang kemudian dengan NUR MUHAMMAD ini lah akan melahirkan


cahaya cahaya kecil atau disebut roh roh yang kemudian cahaya
tersebut hadir di dalam akal budi manusia.

Energi Akal budi manusia tersebut kemudian diterima oleh pikiran


manusia dan dengan pikiran manusia lah, dapat terwujud keinginan
baik dan luhur dari manusia itu sendiri, sehingga dengan tercapainya
keinginan maka terpenuhinya kebutuhan jasad manusia itu sendiri.

Adapun bacaan wajib solat adalah :

1. Mengucapkan takbir pada awal solat.

2. Membaca Alfatehah.

3. Membaca Solawat Nabi.

4. Mengucapkan Salam.

Takbir adalah awal dari suatu perjalanan rasa, dan kemudian menahan
nafas dan mata dipejamkan, karena DIA tidak berada di dalam oksigen
atau kebendaan, kemudian membaca alfatehah yang berarti pembuka
atau membuka titik titik dibadan manusia, setelah itu masih dalam
keadaan berdiri dan tidak ada bacaan atau hening sampai nafas
dihembuskan.

Setelah nafas dihembuskan kemudian ditahan dan langsung


melakukan ruku, tidak membaca apa apa hening dalam keadaan nafas
ditahan, setelah nafas tidak kuat maka tarik nafas kembali kemudian
ditahan.

Dan badan berdiri tegak, dalam keadaan hening setelah itu nafas
dihembuskan dan ditahan kemudian sujud dalam keadaan hening dan
tahan nafas yang sudah dihembuskan, kemudian tarik nafas kembali
dan tahan, kemudian duduk dalam posisi hening dan menahan nafas
dst.

Lakukan ritual solat menahan nafas spt rasullullah lakukan, dan


lakukanlah berkali kali sampai kita merasakan perjalanan rasa dalam
keadaan tiada, dan inilah yang disebut mematikan diri ketika hidup.

Coba anda bayangkan proses mi’raj dalam bentuk solat yang sangat
dasyat, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad di dalam
mencapai Tuhannya. Dan apakah metode ini membuat kita menjadi
sangat malas untuk kita lakukan ketika kita tahu bahwa solatlah yang
membuat manusia menjadi lebur dan menemuiNYA, atau bahkan solat
menjadi tidak perlu sama sekali, ketika kita menganggap bahwa
metode duduk bersila merupakan metode yang baik didalam
perjalanan menuju DIA.

Mari kita kembalikan semuanya kepada Dzat Yang Maha Agung yang
berada di dalam diri kita sendiri, sesungguhnya segala sesuatu yang
dilakukan oleh Rasullullah mengandung makna yang sangat tinggi dan
dalam, namun kadang kadang manusia masih dangkal di dalam
menerimanya karena dipenuhi oleh ego dan lainnya, termaksud saya
yang masih awam di dalam mengkaji makna solat.

Demikian pendapat saya mengenai solat, semoga menjadi masukan


juga bagi orang orang awam yang sedang belajar ilmu ma’rifat.

TUJUH LATHIFAH SIMPUL BATHIN

Dan 7 titik batin yang kita sebut dengan lathifah, yaitu:


1. Latifatul-qolby

Di sini letaknya sifat-sifat syetan, iblis, kekufuran, kemusyrikan, ketahayulan dan


lain-lain, letaknya dua jari dibawah susu sebelah kiri, Kita buat dzikir sebanyak-
banyaknya, Insya Allah pada tingkat ini diganti dengan Iman, Islam, Ihsan, Tauhid
dan Ma’rifat.

2. Latifatul-roh

Di sini letaknya sifat bahimiyah (binatang jinak) menuruti hawa nafsu, , letaknya dua
jari dibawah susu sebelah kanan, Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah di
isi dengan khusyu’ dan tawadhu’.
3. Latifatus-sirri

Di sini letaknya sifat-sifat syabiyah (binatang buas) yaitu sifat zalim atau aniaya,
pemarah dan pendendam, , letaknya dua jari diatas susu sebelah kiri, Kita buat
dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat kasih sayang dan ramah
tamah.

4. Latifatul-khafi

Di sini letaknya sifat-sifat pendengki, khianat dan sifat-sifat syaitoniyah, , letaknya


dua jari diatas susu sebelah kanan, Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah
diganti dengan sifat-sifat syukur dan sabar.

5. Latifatul-akhfa

Di sini letaknya sifat-sifat robbaniyah yaitu riya’, takabbur, ujub, suma’ dan lain-lain,
, letaknya ditengah-tengah dada, Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah
diganti dengan sifat-sifat ikhlas, khusyu’, tadarru dan tafakur.

6. Latifatun-nafsun-natiqo

Di sini letaknya sifat-sifat nafsu amarrah banyak khayalan dan panjang angan-
angan, , letaknya tepat diantara dua kening, Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya
Insya Allah diganti dengan sifat-sifat tenteram dan pikiran tenang.

7. Latifah kullu-jasad
Di sini letaknya sifat-sifat jahil “ghaflah” kebendaan dan kelalaian, , letaknya
diseluruh tubuh mengendarai semua aliran darah kita yang letak titik pusatnya di
tepat ditengah-tengah ubun-ubun kepala kita, Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya
Insya Allah diganti dengan sifat-sifat ilmu dan amal

Mengenal Lathifah-lathifah Batin dalam Thariqat Sufi

Acuan dalam pengamalan tarekat bertumpu kepada tradisi dan akhlak


nubuwah (kenabian), dan mencakup secara esensial tentang jalan sufi dalam
melewati maqomat dan ahwal tertentu. Setelah ia tersucikan jasmaniahnya,
kemudian melangkah kepada aktivitasaktivitas, yang meliputi:

Pertama, tazkiyah an nafs atau pensucian jiwa, artinya mensucikan diri dari
berbagai kecenderungan buruk, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat
sifat terpuji dan malakuti.

Kedua, tashfiyah al qalb, pensucian kalbu. Ini berarti menghapus dari hati
kecintaan akan kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara dan kekhawatirannya atas
kesedihan, serta memantapkan dalam tempatnya kecintaan kepada Allah semata.

Ketiga, takhalliyah as Sirr atau pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang
bakal mengalihkan perhatian dari dzikir atau ingat kepada Allah.

Keempat, tajalliyah ar Ruh atau pencerahan ruh, berarti mengisi ruh dengan
cahaya Allah dan gelora cintanya.

Qasrun = Merupakan unsur jasmaniah, berarti istana yang menunjukan betapa


keunikan struktur tubuh manusia.

Sadrun = (Latifah al-nafs) sebagai unsur jiwa

Qalbun = (Latifah al-qalb) sebagai unsur rohaniah

Fuadun = (Latifah al-ruh) Unsur rohaniah

Syagafun = (Latifah al-sirr) unsur rohaniah

Lubbun = (Latifah al-khafi) unsur rohaniah

Sirrun = (Latifah al-akhfa) unsur rohaniah


Hal ini relevan dengan firman Allah SWT dalam hadist qudsi:

"Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu qasrun (istana), di situ ada
sadrun (dada), di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalamnya
ada lagi fu'ad (jujur ingatannya), di dalamnya pula ada syagaf (kerinduan), di dalamnya
lagi ada lubbun (merasa terialu rindu), dan di dalam lubbun ada sirrun (mesra),
sedangkan di dalam sirrun ada "Aku".

Ahmad al-Shirhindi dalam Kharisudin memaknai hadist qudsi di atas melalui


sistem interiorisasi dalam diri manusia yang strukturnya yang dapat diperhatikan dalam
gambar di atas.

Pada dasarnya lathifah-lathifah tersebut berasal dari alam amri (perintah) Allah :
"Kun fayakun", yang artinya, "jadi maka jadilah" (QS : 36: 82) merupakan al-ruh yang
bersifat immaterial. Semua yang berasal dari alam al-khalqi (alam ciptaan) bersifat
material. Karena qudrat dan iradat Allah ketika Allah telah menjadikan badan jasmaniah
manusia, selanjutnya Allah menitipkan kelima lathifah tersebut ke dalam badan jasmani
manusia dengan keterikatan yang sangat kuat.

Lathifah-lathifah itulah yang mengendalikan kehidupan batiniah seseorang, maka


tempatnya ada di dalam badan manusia. Lathifah ini pada tahapan selanjutnya
merupakan istilah praktis yang berkonotasi tempat.

Umpamanya lathifah al-nafsi sebagai tempatnya al-nafsu al-amarah. Lathifah al-


qalbi sebagai tempatnya nafsu al-lawamah. Lathifah al-Ruhi sebagai tempatnya al-nafsu
al-mulhimmah, dan seterusnya. Dengan kata lain bertempatnya lathifah yang bersifat
immaterial ke dalam badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena kuasa Allah.

Lathifah sebagai kendaraan media bagi ruh bereksistensi dalam diri manusia
yang bersifat barzakhiyah (keadaan antara kehidupan jasmaniah dan rohaniah).

Pada hakekatnya penciptaan ruh manusia (lima lathifah), tidak melalui sistem
evolusi. Ruh ditiupkan oleh Allah ke dalam jasad manusia melalui proses. Ketika jasad
Nabi Adam a.s telah tercipta dengan sempurna, maka Allah memerintahkan ruh Nya
untuk memasuki jasad Nabi Adam a.s. Maka dengan enggan ia menerima perintah
tersebut. Ruh memasuki jasad dengan berat hati karena harus masuk ke tempat yang
gelap. Akhirnya ruh mendapat sabda Allah: "Jika seandainya kamu mau masuk dengan
senang, maka kamu nanti juga akan keluar dengan mudah dan senang, tetapi bila kamu
masuk dengan paksa, maka kamupun akan keluar dengan terpaksa". Ruh memasuki
melalui ubun-ubun, kemudian turun sampai ke batas mata, selanjutnya sampai ke
hidung, mulut, dan seterusnya sampai ke ujung jari kaki. Setiap anggota tubuh Adam
yang dilalui ruh menjadi hidup, bergerak, berucap, bersin dan memuji Allah. Dari proses
inilah muncul sejarah mistis tentang karakter manusia, sejarah salat (takbir, ruku dan
sujud), dan tentang struktur ruhaniah manusia (ruh, jiwa dan raga).
Bahkan dalam al Qur'an tergambarkan ketika ruh sampai ke lutut, maka Adam
sudah tergesa gesa ingin berdiri. Sebagaimana firman Allah : "Manusia tercipta dalam
ketergesa-gesaan" (Q.S.21:37).

Pada proses penciptaan anak Adam pun juga demikian, proses bersatunya ruh
ke dalam badan melalui tahapan. Ketika sperma berhasil bersatu dengan ovum dalam
rahim seorang ibu, maka terjadilah zygot (sel calon janin yang diploid ). Ketika itulah
Allah meniupkan sebagian ruhnya (QS : 23 : 9), yaitu ruh al-hayat. Pada tahapan
selanjutnya Allah menambahkan ruhnya, yaitu ruh al-hayawan, maka jadilah ia potensi
untuk bergerak dan berkembang, serta tumbuh yang memang sudah ada bersama
dengan masuknya ruh al-hayat.

Sedangkan tahapan selanjutnya adalah peniupan ruh yang terakhir, yaitu ketika
proses penciptaan fisik manusia telah sempurna (bahkan mungkin setelah lahir). Allah
meniupkan ruh al-insan (haqiqat Muhammadiyah). Maka dengan ini, manusia dapat
merasa dan berpikir. Sehingga layak menerima taklif syari' (kewajiban syari'at) dari Allah
dan menjadi khalifah Nya.

Itulah tiga jenis ruh dan nafs yang ada dalam diri manusia, sebagai potensi yang
menjadi sudut pandang dari fokus pembahasan lathifah (kesadaran). Lima lathifah yang
ada di dalam diri manusia itu adalah tingkatan kelembutan kesadaran manusia.
Sehingga yang dibahas bukan hakikatnya, karena hakikat adalah urusan Tuhan (QS :
17 : 85), tetapi aktivitas dan karakteristiknya.

Lathifah al-qalb, bukan qalb (jantung) jasmaniah itu sendiri, tetapi suatu lathifah
(kelembutan), atau kesadaran yang bersifat rubbaniyah (ketuhanan) dan ruhaniah.
Walaupun demikian, ia berada dalam qalb (jantung) manusia sebagai media
bereksistensi. Menurut Al Ghazall, di dalam jantung itulah memancarnya ruh manusia
itu. Lathifah inilah hakikatnya manusia. Ialah yang mengetahui, dia yang bertanggung
jawab, dia yang akan disiksa dan diberi pahala. Lathifah ini pula yang dimaksudkan
sabda Nabi "Sesungguhnya Allah tidak akan memandang rupa dan hartamu, tetapi ia
memandang hatimu".

Latifiah al-qalb bereksistensi di dalam jantung jasmani manusia, maka jantung


fisik manusia ibaratnya sebagai pusat gelombang, sedangkan letak di bawah susu kiri
jarak dua jari (yang dinyatakan sebagai letaknya lathifah al-qalb) adalah ibarat
"channelnya". Jika seseorang ingin berhubungan dengan lathifah ini, maka ia harus
berkonsentrasi pada tempat ini. Lathifah ini memiliki nur berwarna kuning yang tak
terhinggakan (di luar kemampuan indera fisik).

Demikian juga dengan lathifah al-ruh, dia bukan ruh atau hakikat ruh itu sendiri.
Tetapi lathifah al-ruh adalah suatu identitas yang lebih dalam dari lathifah al-qalb. Dia
tidak dapat diketahui hakikatnya, tetapi dapat dirasakan adanya, dan diketahui gejala
dan karakteristiknya. Lathifah ini terletak di bawah susu kanan jarak dua jari dan
condong ke arah kanan. Warna cahayanya merah yang tak terhinggakan. Selain
tempatnya sifat-sifat yang baik, dalam lathifah ini bersemayam sifat bahimiyah atau sifat
binatang jinak. Dengan lathifah ini pula seorang salik akan merasakan fana al-sifat
(hanya sifat Allah saja yang kekal), dan tampak pada pandangan batiniah.

Lathifah al-sirri merupakan lathifah yang paling dalam, terutama bagi para sufi
besar terdahulu yang kebanyakan hanya menginformasikan tentang tiga lathifah
manusia, yaitu qalb, ruh dan sirr. Sufi yang pertama kali mengungkap sistem interiorisasi
lathifah manusia adalah Amir Ibn Usman Al Makki (w. 904 M), yang menurutnya
manusia terdiri dari empat lapisan kesadaran, yaitu raga, qalbu, ruh dan sirr. Dalam
temuan Imam al Robbani al Mujaddid, lathifah ini belum merupakan latifiah yang
terdalam. Ia masih berada di tengah tengah lathifah al ruhaniyat manusia. Tampaknya
inilah sebabnya sehingga al Mujaddid dapat merasakan pengalaman spiritual yang lebih
tinggi dari para sufi sebelumnya, seperti Abu Yazid al Bustami, al-Hallaj (309 H), dan
Ibnu Arabi (637 H). Setelah ia mengalami "ittihad" dengan Tuhan, ia masih mengalami
berbagai pengalaman ruhaniah, sehingga pada tataran tertinggi manusia ia merasakan
sepenuhnya, bahwa abid dan ma'bud adalah berbeda, manusia adalah hamba,
sedangkan Allah adalah Tuhan.

Hal yang diketahui dari lathifah ini adalah, ia memiliki nur yang berwarna putih
berkilauan. Terletak di atas susu kiri jarak sekitar dua jari, berhubungan dengan hati
jasmaniah (hepar). Selain lathifah ini merupakan manifestasi sifat-sifat yang baik, ia juga
merupakan sarangnya sifat sabbu’iyyah atau sifat binatang buas. Dengan lathifah ini
seseorang salik akan dapat merasakan fana' fi al-dzat, dzat Allah saja yang tampak
dalam pandangan batinnya.

Lathifah al-khafi adalah lathifah al-robbaniah al-ruhaniah yang terletak lebih


dalam dari lathifah al-sirri. Penggunaan istilah ini mengacu kepada hadis Nabi : "Sebaik-
baik dzikir adalah khafi dan sebaik baik rizki adalah yang mencukupi". Hakikatnya
merupakan rahasia Ilahiyah. Tetapi bagi para sufi, keberadaanya merupakan kenyataan
yang tidak dapat dipungkiri. Cahayanya berwarna hitam, letaknya berada di atas susu
sebelah kanan jarak dua jari condong ke kanan, berhubungan dengan limpa jasmani.
Selain sebagai realitas dari nafsu yang baik, dalam lathifah ini bersemayam sifat
syaithoniyyah seperti hasad, kibir (takabbur, sombong), khianat dan serakah.

Lathifah yang paling lembut dan paling dalam adalah lathifah al-akhfa.
Tempatnya berada di tengah-tengah dada dan berhubungan dengan empedu jasmaniah
manusia. Lathifah ini memiliki nur cahaya berwarna hijau yang tak terhinggakan. Dalam
lathifah ini seseorang salik akan dapat merasakan'isyq (kerinduan) yang mendalam
kepada Nabi Muhammad s.a.w. sehingga sering sering ruhaniah Nabi datang
mengunjungi.

Relevan dengan pendapat al-Qusyairi yang menegaskan tentang tiga alat dalam
tubuh manusia dalam upaya kontemplasi, yaitu:
Pertama qalb yang berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Allah.

Kedua, ruh berfungsi untuk mencintai Allah, dan

Ketiga, sirr berfungsi untuk melihat Allah.

Dengan demikian proses ma'rifat kepada Allah menurut al Qusyairi dapat digambarkan
sebagai berikut dibawah ini.

Aktivitas spiritual itu mengalir di dalam kerangka makna dan fungsi rahmatan lil 'alamin;
Tradisi kenabian pada hakekatnya tidak lepas dari mission sacred, misi yang suci
tentang kemanusiaan dan kealam semestaan untuk merefleksikan asma Allah.

ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI

Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling


sempurna di dunia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan
Ibnu 'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah
di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga
karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan)
asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.

Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya.


Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah
meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku


tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29)

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas


atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya.
Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan
dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam
dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.

Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan


para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh),
jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung
(al-qalb).

RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS)

Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad.


Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan
jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam
ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli
sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi
dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan
kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.

Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah


ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di
dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik
dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan
terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber
akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi
jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani
(binatang) dan jiwa insani.

Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang


organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa
hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan
melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang
kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai
kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).

Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau


al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi,
yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan
hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang
khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.

Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani


(berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa
(nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat
yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia
mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.

Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan


memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu
sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang
menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang
demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53)

Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat


tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela
manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai
berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku
bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2).

Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat


yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30)

Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah
menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah
melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang
telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman,
yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah
dijamin Allah langsung masuk surga.

Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan


ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan
terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah
sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah
mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8).
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena
itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.

AKAL

Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau
intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir
yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa
(nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di
kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di
dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber
pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf
mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan
pengetahuan hati (rasa).

Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan


tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-- ia dapat
mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang
demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan
(sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu
berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang
demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).

Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal


kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan
hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena
kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada
kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh
kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke
tingkat akal perolehan.

HATI SUKMA (QALB)

Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb.


Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung,
bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita
memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah
segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di
dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek
kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran
yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang,
bahkan bangkainya.

Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah
berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan
memahaminya." (QS. 7:1-79).
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara,
bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu
jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda
pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para
filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan
akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama
merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah


atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal
yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih
dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral
dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela
dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa,
wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah)
yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat
menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai
pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah
moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji


adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti
ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar
hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja,
sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya
kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari
penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya
berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani
--hati yang kotor.

Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh


hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah
yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah
orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9).

Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah


pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika
cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh.
Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari
tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani
bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari
Allah Swt.

Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada


dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya,
ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap
dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan
dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya,
dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki
Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari
hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi
lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan


nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu
menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan
manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani
dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

WIRID LAKSITA JATI

LAKSITA JATI

Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk
mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah),
dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga
sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu
dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma.
Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena
raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu.
Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih
dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang
diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka
dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke
dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan
“curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”.
Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:
“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat
sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa
pengikat Yang Maha Kuasa”.

Sebagai contoh :

Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi
putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih
lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita
kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan.
Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal
tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap
orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau
semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk
sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari
“badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian,
sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam
bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya
dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang
yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa
merasakannya. Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih
berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam
ruh.
Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri
manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam
semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;


2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
5. Sukma atau ruh (Ruhullah).
No 1 s/d no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi,
cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan
“perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di
mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih,
dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke
dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada
hanyalah ketenangan sejati,manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.
KONSEP ARWAH PENASARAN
Sebaliknya ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memilikitali rasa,
misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan,
atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh
karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di
dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang
masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya
sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat
tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.
JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN
(Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil)
Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak
kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing
curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke
dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20
sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi,
dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi,
sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga
yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu,
menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha diPadang
Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan
musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran
Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.
Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni
mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai
kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah
(narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan
jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai
pengingat-ingat agar supaya manusia selaluelingatau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga
kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :
“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi
sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso,
rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang
ingsun, ingsun jumeneng pribadi”
(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu
pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya,
cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus
(wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning
dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad
raya.
Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam
koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang
harus dicegah, yakni;

1. Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.

2. Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.

3. Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.

4. Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.

5. Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.

6. Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.

7. Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang,
walaupun sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

1. Mengumbar hawa nafsu.

2. Mengumbar kesenangan.

3. Suka bermusuhan dan tindak aniaya.

4. Berulah yang meresahkan.

5. Tindakan nista.

6. Perbuatan dengki hati.


7. Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.

8. Enggan menderita dan prihatin.

Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam
meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

1. Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.

2. Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.

3. Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.

4. Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.

PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”


Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang
akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan
berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan
menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang
lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;
Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,
Siapa menanam, akan mengetam,
Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,
Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.
Orang pelit, pailit
Pemurah hati, mukti
PERILAKU TAPA BRATA
Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” ataumesu-budi,
menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;
1. Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.
2. Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka buruk, tidak iri
hati.

3. Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf
kepada orang lain.

4. Tapa/puasanya sukma; jujur.


5. Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

6. Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan,


dan kesucian.
7. Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu
waspada dari segala perilaku buruk.
Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud
dari hakikat puasa atau tapa brata ;
1. Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin
memiliki/menguasai.
2. Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada
manfaatnya atau yang buruk-buruk.
3. Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap”
keburukan orang lain.
4. Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang
lain.
5. Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak
sembaranganngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.
6. Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak
suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.
7. Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan
negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebarieling lan waspodo.
Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa
personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik
lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.
(Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih
baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap
langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusiapinunjul tidak
menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan
semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal
kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusiapinunjul harus;
1. Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

2. Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan


lawan bicara
3. Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan
langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan
tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi
bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan
mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab
sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala
kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu
sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;
1. Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

2. Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

3. Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

4. Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

5. Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam
melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia
kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;
1. Zamannya kemelaratan, dimulai dari perilaku boros

2. Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

3. Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

4. Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

5. Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

6. Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

7. Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.

Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”, lebih dari sekedar kemuliaan hidup
itu sendiri, yakni;
1. Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.
2. Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.
3. Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

4. Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.


5. Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.
6. Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.
7. Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo,legowo,tapa.
SHALAT/SEMBAHYANG DHAIM
Sebagai tulisan penutup, Sabdalangit berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar
supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi para pembaca yang masih awam tentang
ajaran Kejawen.
Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari
mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam
lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden) yang luhur, berasal
dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaantapa, tumbuhnya sikap hati-hati, tumbuhnya
“tidak punya rasa punya”, tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi,
tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya
sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia
seseorang.
Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding
terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak
kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu
mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih
kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan
nasehat yang hiperbolis, sbb;

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng
kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”
Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan
paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat
mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya
sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia
lah yang mengetahui semua ilmu kajaten(makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui
sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri.
Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian
hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian
“isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian. Hanya raga yang suci yang tidak
akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam
gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.
Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang
Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga
dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam
irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan
panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang
disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah
(shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan
menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan;
“salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting
kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.
(sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam,
membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).
Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap
orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG
APA AGAMANYA

WIRID PURBA JATI

Seluruh manusia, dalam benaknya memiliki rasa keingintahuan tentang wujud


Tuhan. Maka lazim lah manusia membayangkan bagaimana gambaran keadaan Tuhan itu
sebenarnya. Dalam beberapa agama samawi, menggambarkan keadaan Tuhan adalah
“ranah terlarang” atau ruang lingkup yang musti dihindari, tidak menjadi pembahasan
dengan obyek Dzat secara datail dan gamblang. Dengan alasan bahwa Tuhan sebagai
Dzat yang amat sangat sakral. Maka menggambarkan keadaan Dzat Tuhan pun manusia
dianggap tidak akan mampu dan akan menemui kesalahan persepsi, yang dianggap
beresiko dapat membelokkan pemahaman. Hal itu wajar karena menggambarkan Tuhan
secara vulgar dapat mengakibatkan konsekuensi buruk. Tidak menutup kemungkinan
akan terjadi “pembendaan” Tuhan sebagai upaya manusia mengkonstruksi imajinasinya
secara konkrit. Maka atas alasan tersebut terdapat asumsi bahwa upaya manusia
menggambarkan keadaan Tuhan denga cara apapun pasti salah. Namun demikian, lain
halnya dengan agama-agama “bumi” dan ajaran atau kearifan-kearifan lokal yang
berusaha menggambarkan keadaan Tuhan dengan cara arif dan hati-hati. Manusia
berusaha menjelaskan secara logic dalam asas hierarchis, sesuai dengan kemampuan
nalar, akal budi, dan hati nurani yang dimiliki manusia. Ditempuh melalui “laku”
spiritual dan olah batin yang mendalam dan berat serta mengerahkan kemampuan akal
budi (mesu budi).
PIJAKAN SASMITA
Dzat adalah mutlak, Jumenengnya Dzat Maha Wisesa kang Langgeng Ora Owah
Gingsir, dalam bahasa Timteng lazimnya disebut Qadim, yang azali abadi. Kalimat ini
mempunyai maksud berdirinya “sesuatu tanpa nama” yang ada, mandiri dan paling
berkuasa, mengatasi jagad raya sejak masih awang-uwung. Di sebut maha kuasa artinya,
Dzat yang tanpa wujud, berada merasuk ke dalam energi hidup kita. Tetapi banyak yang
tidak mengerti dan memahami, karena keber-ada-annya lebih-lebih samar, tanpa arah
tanpa papan (gigiring punglu), tanpa teman, tanpa rupa, sepi dari bau, warna, rupa,
bersifat elok, bukan laki-laki bukan perempuan, bukan banci. Dzat dilambangkan sebagai
“kombang anganjap ing tawang” kumbang hinggap di awang-awang, hakekatnya
tersebutlah “latekyun”, oleh karena keadaan yang belum nyata. Artinya, hidup adalah
sifat dari Hyang Mahasuci, menyusup, meliputi secara komplet atas jagad raya dan
isinya. Tidak ada tempat yang tanpa pancaran Dzat. Seluruh jagad raya penuh oleh Dzat,
tiada celah yang terlewatkan oleh Dzat, baik “di luar” maupun “di dalam”. Dzat
menyusup, meliputi dan mengelilingi jagad raya seisinya. Demikianlah perumpamaan
keber-ada-an Pangeran (Tuhan) Yang Mahasuci, ialah yang terpancar di dalam hidup kita
pribadi.
Dzat merupakan sumber dari segala sumber adanya jagad raya seisinya. Retasan dari
Dzat Yang Mahasuci dalam mewujud makhluk ciptaanNya, dapat digambarkan dalam
alur yang bersifat hirarkhis sebagai berikut;

1. Dzat; Hyang Mahasuci, Maha Kuasa, Dzatullah; sumber dari segala


sumber adanya jagad raya dan seluruh isinya.

“Nalikå awang-awang – uwúng-uwung, dèrèng wóntên punåpå punåpå,


Hyang Måhå Kawåså manggèn wóntên satêngahíng kawóntênan, nyíptå
dumadósíng pasthi. Wóntên swantên ambêngúng ngêbêgi jagad kadós
swantêníng gênthå kêkêlêng. Ingriku wóntên cahyå pacihang gumêbyar
mungsêr bundêr kadós antigå (tigan) gumandhúl tanpå canthèlan. Énggal
dipún astå déníng Hyang Måhå Kawåså, dipún pujå : lalu meretaslah
Kayyun.

1. Kayu/kayyun; yang hidup/atma/wasesa, menjadi perwujudan dari Dzat


yang sejati, memancarkan energi hidup. Kayun yang mewujud karena
“disinari” oleh Dzat sejati. Dilambangkan sebagai kusuma anjrah ing
tawang, yakni bunga yang tumbuh di awang-awang, dalam martabatnya
disebut takyun awal, kenyataan awal muasal. Segala yang hidup disusupi
dan diliputi energi kayu/yang hidup.
2. Cahaya dan teja, nur, nurullah; pancaran lebih konkrit dari kayun. Teja
menjadi perwujudan segala yang hidup, karena “disinari”
kekuasaan atmasejati. Dilambangkan sebagai tunjung tanpo telogo,
bunga teratai yang hidup tanpa air. Berbeda dengan api, cahaya tidak
memerlukan bahan bakar. Cahaya mewujud sebagai hakikat pancaran
dari yang hidup. Di dalam cahaya tidak ada unsur api (nafsu) maka
hakikat cahaya adalah jenjem-jinem, ketenangan sejati, suci, tidak punya
rasa punya. Hakikatnya hanyalah sujud/manembah yang digerakkan oleh
energi hidup/kayun, yakni untukmanembah kepada Dzat yang Mahasuci.
Dalam martabatnya disebuttakyunsani, kenyataan mewujud yang
pertama. Ruh yang mencapai kamulyan sejati, di dalam alam ruh kembali
pada hakikat cahaya. Sebagai sifat hakekat “malaikat”.
3. Rahsa, rasa, sir, sirullah; sebagai perwujudan lebih nyata dari cahaya.
Sumber rahsa berasal dari terangnya cahaya sejati. Dilambangkan isine
wuluh wungwang, artinya tidak kentara; tidak dapat dilihat tetapi dapat
dirasakan. Maka dalam martabat disebutakyansabitah. Ketetapan menitis,
menetes, dalam eksistensi sebagai sir. Yakni menetes/jatuhnya cahaya
menjadi rasa.
4. Roh, nyawa, sukma, ruh, ruhullah. Sebagai perwujudan dari hakekat rasa.
Sebab dari terpancarnya rasa sejati, diumpamakan sebagai tapaking
kuntul nglayang. Artinya, eksistensi maya yang tidak terdapat bekas,
maka di dalam martabat disebut sebagaiakyankarijiyah. Rasa yang
sesungguhnya, keluar dalam bentuk kenyataan maya. Karena ruh diliputi
rahsa, wujud ruh adalah eksistensi yang mempunyai rasa dan kehendak,
yakni kareping rahsa; kehendak rasa. Tugas ruh sejati adalah
mengikuti kareping rahsa atau kehendak rasa, bukan sebaliknya
mengikuti rasanya kehendak (nafsu). Ruh sejati/roh suci/ruhul kuddus
harus menundukkan nafsu.
5. Nepsu, angkara, sebagai wujud derivasi dari roh, yang terpancar dari
sinar sukma sejati. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing
telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di
dalam air samudra yang sangat luas. Artinya, nafsu dapat menjadi sumber
keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya
air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula
sebagaiakyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam
eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, apabila nafsu lah yang
menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi “tumpukan sampah”
atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep).
6. Akal-budi, disebut juga indera. Keberadaan nafsu menjadi wahana
adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing
pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam
nafsu, diibaratkan sebagai “orang lumpuh mengelilingi bumi”. Adalah
tugas yang amat berat bagi akal-budi; yakni menuntun hawa nafsu
angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga
diumpamakan wong lumpuh angideri jagad; orang lumpuh yang
mengelilingi bumi. Disebut juga akyanmaknawiyah. Kemenangan akal-
budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka
akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.
7. Jasad/badan/raga. Merupakan perwujudan paling konkrit dari ruh
(mahujud), dan retasan berasal dari derivasi terdekatnya yakni panca
indera sejati. Jasad menjadi wahana adanya sifat. Jasad menjadi bingkai
sifat, diumpamakan sebagai kodhok kinemulan ing leng. Kodhok
personifikasi dari sifat manusia yang rendah, karena cenderung mengikuti
hawa nafsu (rasaning karep), diselimuti oleh liang/rumah kodhok; liang
adalah personifikasi dari jasad. Sifat-sifat manusia yang masih tunduk
oleh jasad, merupakan gambaran Dzat sifat yang masih terhalang dan
dikendalikan oleh sifat ke-makhluk-an. Sifat-sifat Dzat Tuhan dalam diri
manusia masih diliputi oleh sifat kedirian manusia. Sebaliknya,
pencapaian kemuliaan hidup manusia dilambangkan sebagaikodhok
angemuli ing leng, kodok menyelimuti liangnya, apabila jasad
keberadaannya sudah “di dalam”. Artinya hakekat manusia sudah diliputi
oleh sifat Dzat Tuhan.

SISTEMATIKA MENUJU DZAT


Ketetapan jasad ditarik oleh akal
Ketetapan akal ditarik oleh nafsu
Ketetapan nafsu ditarik oleh roh
Ketetapan roh ditarik oleh sir
Ketetapan sir ditarik oleh nur
Ketetapan nur ditarik oleh kayun
Ketetapan kayu/kayun ditarik oleh Dzat
TANGGA UNTUK “BERTEMU” TUHAN (PARANING DUMADI)
Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia memiliki dua kutub yang saling
bertentangan. Di satu sisi, kutub badan kasar atau jasad yang menyelimuti akal budi
sekaligus nafsu angkara. Jasad (fisik) juga merupakan tempat bersarangnya badan
halus/astral/ruh (metafisik), di lain sisi. Manusia diumpamakan berdiri di persimpangan
jalan. Tugas manusia adalah memilih jalan mana yang akan dilalui. Tuhan menciptakan
SEMUA RUMUS (kodrat) sebagai rambu-rambu manusia dalam menata hidup sejati.
Masing-masing rumus memiliki hukum sebab-akibat. Golongan manusia yang berada
dalam kodrat Tuhan adalah mereka yang menjalankan hidup sesuai rumus-rumus Tuhan.
Setiap menjalankan rumus Tuhan akan mendapatkan “akibat” berupa kemuliaan hidup,
sebaliknya pengingkaran terhadap rumus akan mendapatkan “akibat” buruk (dosa)
sebagai konsekuensinya. Misalnya; siapa menanam; mengetam. Rajin pangkal pandai.
(lihat dalam Wirayat Laksita Jati).
Tugas manusia adalah menyelaraskan sifat-sifat kediriannya ke dalam
“gelombang” Dzat sifat Tuhan. Dalam ajaran Kejawen lazim disebutmanunggaling
kawula gusti; dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Kodrat manusia yang lahir ke bumi
adalah mensucikan jasad, jasad yang diliputi oleh Dzat sifat Tuhan melalui tahapan-
tahapan sebagai berikut;
“jasad dituntun oleh keutamaan budi, budi terhirup oleh hawanya nafsu,
nafsu (rahsaning karep) diredam oleh kekuasaan sukma sejati, sukmadiserap
mengikuti rasa sejati (kareping rahsa), rahsa luluh melebur disucikan oleh cahaya,
cahaya terpelihara oleh atma (energi yang hidup), atmaberpulang ke dalam Dzat,
Dzat adalah qadim ajali abadi”.

MARTABAT TUJUH

1. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang kadim. Artinya; hakekat Dzat


yang lebih dulu, yaitu Dzatullah, yang menjadi wahana alam Ahadiyat
yang ada adalah pohon kehidupan yang berada dalam jagad yang sunyi
senyap segalanya, dan belum ada sesuatu apapun
2. Hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai tajalinya Dzat di dalam
nukat gaib, sebagai sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam Wahdat
3. Diakui sebagai rahsa Dzat, sebagai namaNya, menyebabkan adanya
alam Wahadiyat
4. Berasal dari nur muhammad, itulah hakekat Sukma yang diakui
sebagai keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma, menyebabkan adanya
alam Arwah
5. Keadaan nur muhammad dan tempat berkumpulnya darah
seluruhnya adalah hakekat angan-angan yang diakui sebagaibayangan
Dzat, sebagai ikatannyaNya, menyebabkan adanya alam Mitsal
6. Hakekat Budi, diakui sebagai hiasannya Dzat, sebagai pintunya
Atma, menyebabkan adanya alam Ajsam
7. Hakekat Jasad yang meliputi 5 warna yang bergerak , yang diakui
sebagai Wahana Dzat, sebagai tempat Atma, menyebabkan adanya
alam Insan Kamil
Selanjutnya tentang Kenyataan dalam alam Hukmi ;
1. Alam Ruhiyah – alam nyawa
2. Alam Sirriyah – alam perwujudan budi ( jasad) dan disinilah adanya
4 nafsu inti ; – Lawwammah cahayanya hitam disebut alam Nasut
- Amarah cahayanya merah disebut alam Jabarut ( antara lain khodam
ada disini )
- Sufiah cahayanya kuning disebut alam Latut
- Muthmainah cahayanya putih disebut alam Malakut
3. Alam Nurriyah-alam cahaya
4. Alam Uluhiyah-alam Ke-Tuhanan
Dalam proses perjalanannya adalah dengan 2 cara yaitu ;
Taraqih ( Mendaki ):
1 Semua orang mengandalkan kemampuannya sendiri2 baik mulai dari
mengandalkan muka, suara, ilmu pengetahuan atau fisiknya untuk
mendapatkan uang atau materi, jelas sudah bahwa kita selama ini
disibukkan dengan urusan2 fisik sehingga makin tebal saja untuk dapat
melihat Tuhan, maka dapat dikatakan kebanyakan manusia terhijab
pandangannya untuk melihat Tuhan oleh dinding yang paling Luar atau
alam Ajsam ini
2. Manusia adalah makhluk yg berjiwa dan diberikan akal dan hatinya
sehingga lebih maju daripada manusia yang sekedar mengandalkan
fisik saja, namun Tuhan memberikan akal dan hati inipun rupanya
bertingkat2. Kerja akal yang paling bawah adalah ‘aql atau akal dalam
al qur’an afalaa ta’qiluun. Kerja akal adalah memikirkan sesuatu yang
bersifat kealaman, dan dgn akal ini akan ditemukan kebenaran dan
kesalahan serta kebaikan dan keburukan dalam perspektif duniawi.
Demikan juga kerja hati, ia memiliki beberapa tingkatan , yg terendah
adalah qalb atau hati yang selalu berbolak-balik, kadang baik kadang
buruk…dan orang yang biasa menggunakan ‘aql dan qalb ini cenderung
akan serakah pada dunia. Inilah hijab yang lebih tipis dibanding
dengan fisik. Lebih tinggi lagi bila manusia bisa mengaktifkan akal
kedua yaitu fikr ( Ta’ala afalaa tatafakkaruun )yang akhirnya dapat
menjangkau hal2 yang tak tampak di dunia ini. Islam diturunkan
dengan membawa kabar gembira juga membawa peringatan kepada
manusia tentang adanya siksa yang pedih di akhirat kelak. Kebanyakan
manusia sulit untuk dapat mengenalTuhan secara sempurna, maka
Rasulullaah Muhammad SAW al mustafa diutus memberikan jalan
tengah agar mereka menyembah Tuhan sesuai kemampuannya, adanya
sorga neraka adalah merupakan motivasi agar mereka menyembah
Tuhan. Sayyidina Ali menyebut manusia seperti itu sebagai pedagang
yaitu hanya menyembah Tuhan jika diancam dgn neraka dan dijanjikan
sorga sebagai hadiah, dan dgn fikr-nya yg sudah terbuka lebih baik dari
pada mereka yang masih terkungkung nafsu dan sudah memasuki
pengenalan alam Mitsal
3. Selanjutnya manusia diharapkan mengenal rohnya (nyawa), inilah
nyawa yg membuat jasmani dan jiwa menjadi hidup, jasmani tidak
akan dapat bergerak bila tida dapat perintah dari jiwa, dan jiwa tdk
dpt memberi perintah pada gerakan jasmani jika tidak terdapat roh di
dalamnya. Ketika sdg tidur, manusia tidak bergerak dan tidak
merasakan sesuatu karena jiwanya keluar dari jasad, namun ia tetap
dikatakan hidup karena rohnya masih ada dalam jasad. Dalam al
qur’an, Tuhan meniupkan roh manusia ini yang berasal dari roh-Nya.
Roh berasal dari Tuhan secara langsung adapun jasmani hanyalah
gambaran maya saja dan bisa enjadi penghalang bagi manusia yang
tidak mampu menangkap rahasia diciptakannya jasmani tersebut.
Mengenal Tuhanpun dapat dilakukan melalui jasmani dengan
menganggapnya sebagai gambaran dari Wajah Tuhan, adapun Dzat
sesungguhnya adalah dalam Rahsa, sedangkan jiwa adalah gambaran
dari perbuatan, nama dan sifat Tuhan, sama seperti alam semesta ini
juga sebagai tajaliNya
4. Roh manusia satu dan roh manusia lainnya juga satu, karena dari
sumber yang satu yang bersumber dari Nur Muhammad dalam alam
Wahidiyat dan roh manusia ini hanyalah titipan kecil dari Roh Agung
kepada roh kecil di dunia
5. Roh Agung pada Martabat Wahdah ini bukan lagi sebagai makhluk,
namun lebh dekat dengan sifat keTuhanan, Dia adalah satu namun
bukan Tuhan namun bukan lagi makhluk dan tidak berkaitan dengan
mahkluk
6. Bila kita dapat menggulung semuanya menjadi satu termasuk sifat
Hayyun atau Maha hidup dalam Martabat Wahdah maka akan timbul
Dzatullah
7. Tiada bernama, berawal-berakhir, tiada bertepi dan keberadaanNya
tak dapat dijangkau dengan nama
Tanazul ( Menurun ) :
1. Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena tidak satupun yang mampu
mewakili KeberadaanNya, tiada berawal dan berakhir serta Maha Esa,
tidak ada yang dapat mengenalNya karena tidak ada yang lain selain
diriNya, Dia berkeinginan menciptakan makhluk agar makhluk itu
mengenalNya…Penampakan Tuhan ini berjalan menurun, dan
penurunan petama yang Dia lakukan adalah sebagai Nur Muhammad
atau sering disebut Allah dan ini hanya sebuah nama untuk menyebut
diri Tuhan, padahal sejatinya Dia tak dapat dijangkau dengan nama
2. Penurunan ini bukan berarti bahwa Tuhan ada 2, Dia hanya
menampakkan Diri dalam kualitas menurun agar lebih mudah di kenal
karena Dzat Tuhan terlalu suci untuk dikenal, jadi nama adalah
jembatan agar Dia mudah untuk dikenal inilah Martabat Wahdah
3. Tetap dengan penurunan Diri dengan nama Allah ini pun masih sulit
dikenal secara mudah, maka Tuhan menurunkan Diri lagi menjadi
bersifat kemakhlukan, yakni Nur Muhammad yang tidak lagi bernama
Allah dan dalam tahap ini bersifat mendua atau berpasang-pasangan
sebagai cikal bakal penciptaan alam semesta dan tahapan ini biasa
disebut dengan Martabat Wahidiyat
4. Dari Nur Muhammad yang bersifat kemakhlukan ini terurai menjadi
bagian2 halus yang belum tampak. Itulah roh2 atau alam arwah, roh
merupakan sumber kehidupan bagi tiap2 benda. Kehidupan merupakan
syarat mutlak bagi makhluk untuk dapat mengenal Tuhan
5. Sumber kehidupan berupa roh tersebut tidak akan mampu mewakili
keinginan Tuhan jika tidak disertai sarana atau wadah. Dalam alam
Mitsal ini manusia sudah ada namun masih berbentuk jiwa. Ia belum
memiliki raga, selanjutnya Tuhan menampakkan DzatNya sebagai
wadah perbuatan, nama dan sifatNya, sehingga muncullah alam Ajsam
6. Tuhan menampakkan diri secara menyeluruh, Raga adalah
perwujudan Rupa DiriNya, perbuatan nama dan sifat alam semesta
adalah WajahNya, semuanya terbungkus sifat kemakhlukan yang serba
mendua
7. Setelah mengetahui hakikat diri secara menurun, maka tahulah
bahwa alam semesta hakikatNya adalah gambaran Rupa Tuhan

INTI AJARAN MAKRIFAT

Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang di diajarkan


adalah wejangan yang berasal dari delapan wali dari
tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu.
Isinya bersumber dari intisari firman Allah SWT
yang dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW
kepada Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.

Dzat dan Rumah Tuhan


Ajaran pertama tentang Dzat dan singgasana Tuhan. Ajaran
tersebut terbagi menjadi delapan bagian, yaitu sebagai berikut
:

1. Adanya Dzat

Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena pada waktu masih


keadaan kosong, belum ada sesuatupun. Yang ada hanyalah
Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat Dzat yang
Maha Suci, yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku,
dan yang menandai perbuatan-perbuatan-Ku.

2. Kejadian Dzat

Sesungguhnya, Aku adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang


berkuasa menciptakan segala sesuatu. Terjadi dalam seketika,
sempurna dari Kodrat-Ku. Pertama kali yang Aku ciptakan
adalah sebuah pohon bernama Sajaratul Yakin (pohon
kehidupan). Pohon itu tumbuh dialam Adam Makdum (kosong
hampa) yang azali dan abadi. Setelah itu Aku ciptakan Cahaya
Bernama Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), kemudian
cermin bernama Mir’atul Haya’i (kaca wira’i), nyawa yang
disebut Roh Idhafi (nyawa yang jernih), pelita yang bernama
Kandil (lampu tanpa api), pemata yang bernama Dzarrah
(permata), dan Jalal (keperkasaan) yang disebut Hijab
(dinding jalal atau penutup), yang menjadi sekat bagi
penampakan-Ku.

3. Uraian Tentang Dzat

Sebenarnya manusia itu adalah Rahsa-Ku dan Aku ini adalah


rahsa manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat
unsur yaitu : tanah, air, api, dan udara. Keempat unsur itu
adalah perwujudan dan Sifat-Ku. Kemudian Aku masukkan
kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu : nur,
rahsa, ruh, nafsu, dan budi yang merupakan diding yang
menghalangi Wajah-Ku yang Maha Suci.
4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul


Makmur, yaitu rumah tempat kesukaan-Ku. Tempat itu berada
dalam kepala Adam. Dalam kepala itu ada otak, dalam otak itu
ada manik, dalam manik ada budi, dalam budi ada nafsu,
dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa
ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang melipti semua
keadaan.

5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana berada dalam Baitul


Muharram, yaitu rumah tempat pengingat-Ku. Tempat itu ada
di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati
itu ada jantung, di dalam jantung itu ada budi, di dalam budi
itu ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di
dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku. Tidak
ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana di dalam Baitul


Muqaddas. Itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan.
Berada dalam kontholnya adam, dalam konthol itu ada
prinsilan (buah pelir), di antara prinsilan itu ada nathfah yaitu
mani, dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi,
dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahsa,
dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang
meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat gaib, turun
menjadi Jauhar Awal. Disitulah alam Ahadiyat berada (alam
Wahdat dan alam Wahidiyat), alam Arwah, alam Misal, alam
Ajsam, dan alam Insan Kamil, menjadi manusia sempurna
yaitu sifat-Ku yang sejati.

7. Peneguh Iman
Yaitu yang menjadi kekuatan iman:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan


menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku.

8. Kesaksian

Aku bersaksi dalam Diri-Ku sendiri bahwa tidak ada Tuhan


selain Diri-Ku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu
adalah utusan-Ku. Bahwa sesungguhnya yang dinamakan
Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku,
Muhammad itu adalah Cahaya-Ku. Akulah yang selalu ingat
dan tidak pernah lupa, Akulah yang kekal tidak bisa diubah
oleh keadaan. Akulah yang selalu tahu, tidak ada suatu
apapun yang tersembunyi dari-Ku. Akulah yang menguasai
segalanya, yang Maha Kuasa dan Bijaksana, tidak memiliki
kekurangan dalam pengetahuan. Byar! Sempurna, terang-
benderang, tidak terasa apa-aa, tidak kelihatan apa-apa,
hanya Diri-Ku yang meliputi semua alam dengan Kodrat-Ku.

SUKMA SEJATI

Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru


murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang
berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur
Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan
Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat
Yang Maha Suci.

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan
perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah ( Martabat 7 ) dan dari Nur
Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal
muasal Kehidupan.

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang
Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan
yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses
selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam
Makna ……sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan,
Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa
ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang
berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di
sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati
tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena
untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang
cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada
tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan
diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang
berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di
sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati
tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena
untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang
cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada
tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan
diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.

Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian,
penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang
tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke
pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara ( kembali ).
Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar
lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah,


yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena
lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan
yang bersifat kekal.

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di
kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau
menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…
semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang
dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan


membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ;
ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-
apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg
menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan
pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg
sebenarnya.

Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang
mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan )
dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ”
kembali ke asal “.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg
bernama “Jasad” ( raga )dan “Ruh” ( jiwa )……dan dalam menempuh hidup dan
kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang
mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna
dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan
raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga
memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia,
sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di
alam adam makdum…..
Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia
sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-
apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan
Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya……


bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian
dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……harusnya adalah kita harus
mematikan dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara :Mati nafsunya, setiap nafsu akan
merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya,
maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati
ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah
Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada
pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati
maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu
tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat
Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang
bersifat Esa.

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan
perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam
disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds ( ruh suci ), dalam nasrani di
sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat
kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa
DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya
itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan
dari bangsa dilura manusia.

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal
mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan
penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha
Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah,
yaitu alam Ajsam ( alam kokret )…..yang tujuan utamanya adalah untuk memberi
pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan
kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya …dari tingkatyang paling tinggi sampai ke tingkat paling
rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke
peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke
asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam
pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar
bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan
rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya
oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan
yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu
kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

Penciptaan badan agar sukma sejati ( ruh ) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan
setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan
dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci
ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara
Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing.
Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang
mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk
rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya


tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang
berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan
dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata.
Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai
tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi
pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang
manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak
dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan
melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah
ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena
Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap
luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar
suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak
pada kebendaan atau alam nyata.

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam
melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.

Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati
disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12
nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak
dapat diucapkan.

Pada setiap peringkat ( dari 4 tingkatan ) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang
berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang
dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah
nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara ;

1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga
karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan
meggembleng lahir dan batin.
2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas
adalah tali jiwa.

3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi
biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan
baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.

Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama
tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan
memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1. Lailaha illallaah : Tiada Ilah kecuali Allah

2. Allah : Nama Dzat

3. Huwa : Dia

4. Al-Haqq : Yang Benar

5. Al-Hayy : Yang Hidup

6. Al- Qayyum : Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung

7. Al-Qahar : Yang Maha Berkuasa dan Perkasa

8. Al-Wahab : Yang Maha Pemberi

9. Al-Fattah : Yang Maha Pembuka

10. Al-Wahid : Yang Satu

11. Al-Ahad : Yang Maha Esa

12. As-Shamad : Sumber, puncak segala sesuatu

Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang
identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta
para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata
dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia
atau makna dalam batin.
Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat
ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan
memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai
berikut:

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-
laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-
angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu
menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut
ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka
Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam
keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan,
bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah
akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik
keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan
hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat
keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan
semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan
menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi,
ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi
amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan
kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada
anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam
alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir
atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur
dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan
menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan
mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis
dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap
selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga
bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian
seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-
seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara
lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari
makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah
hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan
kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih
dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan.
Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi
penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat
bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang
diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan
akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang
wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan
hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak
merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko
lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering
dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan
apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan
persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan
harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya
mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada
yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang
dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting
benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang
karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa,
serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun
dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud
memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks
dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati
( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya
seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang
bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan
mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia
besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin
menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk
menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap
berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap
berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu
sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah
yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan
menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat,
sbb;

Pertama : kakawah ( air ketuban )

Kedua : bungkus

Ketiga : ari-ari

Keempat : darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas
mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail,
ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya
selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu
yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya
sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas,
tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari
dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-
seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang,
paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan
sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi
cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku
dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya
hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar
jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala
dengan KodratNya ;

Pertama : Budi

Kedua : Rahsa

Ketiga : Angan-angan

Keempat : Hidup

AKU SEJATI

Tuhan mengingatkan bahwa sebelum mengenal Dia (Tuhan) maka


manusia diminta untuk memahami “Aku” nya sendiri sebagai
sarana atau jalan untuk menuju pengenalan AKU-TUHAN? Itu
karena dalam “Aku” termuat rahasia AKU-NYA.

Pembahasan tentang pengenalan diri ini adalah kunci jalan spiritual. Sehingga
menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa
menyebut dirinya “Aku” adalah cukup penting dan menjadi bangunan suci ibadah
hidup manusia. Saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan
shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat
yang sebenarnya. Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum kebenaran
Tuhan.

Perenungan tentang hakikat ruh ini mau tidak mau membawa kita pada khasanah
filsafat manusia. Namun tidak perlu kita masuki terlalu dalam wacana filsafat apa
hakekat manusia sesungguhnya. Yang jelas, bahwa manusia adalah makhluk
sempurna yang telah diberi mandat untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Selain unsur biologis fisik yang sangat kompleks mulai dari kaki hingga otak,
susunan dalam mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi meskipun
masih terdapat daya kemauan yaitu KEKUATAN SANG “AKU”, yang merupakan
KEKUATAN yang diterima dari Yang Maha Mutlak.
Tubuh biologis dan mental keinginan nafsu adalah milik manusia. Namun bukan
manusia itu sendiri. Sebelum manusia (“Aku”) dapat menguasai atau mengalahkan
atau mengarahkan benda yang menjadi miliknya terlebih dahulu ia harus menyadari
dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan
mana yang merupakan milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana
yang bukan Aku.

Yang harus disadari: SANG AKU BERSIFAT ABADI – TIDAK BISA MATI -TIDAK BISA
RUSAK. AKU MEMILIKI KEKUASAAN, KEBIJAKSANAAN DAN KENYATAAN. AKU INILAH
YANG AKAN KEMBALI POSISI ASALNYA: SESUNGGUHNYA AKU ADALAH BERASAL
DARI ALLAH DAN KEPADA-NYA-LAH AKU KEMBALI….

Orang modern yang sejak lahir hingga dewasa selalu hidup dan mengarahkan dirinya
dalam kesemestaan benda-benda material beranggapan bahwa rasa keakuan
mereka hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan,
pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari
batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang
primitif mengatakan “Aku”, maka yang dimaksud adalah badannya. Badan ini
mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Mereka menggunakan daya pikirnya
guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup
dalam tingkat batin naluri.

Setelah menyadari ketololannya dan beranjak tua, manusia harusnya semakin tinggi
pendakian spiritualnya. Mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih
lengkap. Bila ia mulai menggunakan akalnya, maka ia pindah dari tingkat batin
naluri ke tingkat batin mental. Ia mulai merasakan bahwa batinnya adalah lebih
nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya bila
sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.

Setelah kesadaran orang meningkat yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat


mental ke tingkat kerohanian ia menyadari bahwa “Aku” yang sebenarnya adalah
sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa
semuanya ini dapat digunakan sebagai alat saja. Hingga akhirnya orang benar-benar
merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (AKU SEJATI).

Berikut cara mengembangkan atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini
merupakan latihan yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan
pendekatan kepada Allah kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Kesadaran
“Aku” ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju mendapatkan
PENCERAHAN yang merupakan realisasi hubungan Aku dengan Yang Maha Agung.

Monggo praktekkan latihan ini di berbagai tahapan perjalanan sampai memperoleh


penerangan jiwa.

MENEMUKAN AKU SEJATI


Carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin anda merasa
aman dan tenang. Anda boleh duduk, berbaring, maupun berdiri yang enak agar
anda dapat mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf.
Lepaskan ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang
dan damai meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa
raga. Atau lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari
mudah terlena dan tertidur …

Setelah berpengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan


menenangkan pikiran dimana pun dan kapanpun anda memerlukannya. Ingat bahwa
keadaan dzikir harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Di dalam
melakukan praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas
kemauan sendiri. SADARI BAHWA AKU ADALAH HAKIKI NYA MANUSIA YANG TIDAK
PERNAH TIDUR – TIDAK MATI – ABADI, …SELALU SADAR TIDAK PERNAH
MENGALAMI SEDIH DAN TAKUT … AKU SANG ROH SUCI (FITRAH) YANG MAMPU
MENEMBUS ALAM MIMPI, ALAM MALAKUT DAN ALAM ULUHIYAH…

Sekarang anda memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk
mental. Kalau anda memejamkan mata anda akan merasakan dan bisa membedakan
mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan,
seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Anda
akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan
tetapi itu adalah sensasi badan yang dimiliki oleh sang Aku. Aku sejati mengatasi
semua itu tadi…

MUlai sekarang, melepaskan diri dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-
ambingkan oleh tubuh anda sendiri. Sadari AKU ADALAH YANG MENGUASAI
PERASAAN DAN PIKIRAN, JADILAH TUAN ATAS DIRI ANDA … keluarlah anda seperti
melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan anda memikirkan semuanya itu. Karena
badan anda mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya.
Perhatikan saat anda tidur … Aku anda meninggalkan tubuh anda tanpa harus
memikirkan bagaimana nantinya badanku, kenyataannya tubuh bekerja menurut
yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

SADARKAN SANG AKU. HUBUNGKAN DENGAN DZAT YANG MAHA MUTLAK …


HADIRLAH DIHADAPAN-NYA SEBAGAIMANA KESAKSIAN AKU DIALAM `AZALI…
PANGGILLAH …PENUH SANTUN YA ALLAH … YA ALLAH … TUNDUKKAN JIWA ANDA
DENGAN HORMAT … DAN DATANGLAH KEHADIRAT-NYA DENGAN TERUS
MEMANGGIL YA ALLAH …YA ALLAH … TIMBULKAN RASA CINTA YANG DALAM …
HADIRLAH TERUS DALAM DZIKIR … BIARKAN SENSASI PIKIRAN DAN PERASAAN
MELAYANG-LAYANG …SADARKAN DAN KEMBALIKAN BAHWA AKU BUKAN ITU SEMUA
… AKU ADALAH YANG MENYAKSIKAN SEMUANYA … BERSAKSILAH DENGAN
MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT … SAMPAIKAN DO’A SALAWAT UNTUK
RASULULLAH .DAN KELUARGANYA. TERUSKAN AKU MELAYANG MENEMBUS SEMUA
ALAM-ALAM YANG MENGHALANGI, BIARKAN AKU BERJALAN MENUJU YANG MAHA
TAK TERHINGGA …

“ SUKMA SEJATI nya AKU ''

RUH. Dari sudut kebahasaan, ruh seakar dengan riih, yang berarti angin.
Orang Arab bila ingin mencari angin atau refreshing menghirup udara
segar dan melepas kepenatan setelah jungkir balik dengan urusan dunia
menyebutnya “ rihlah “. disebut ruh yang ada di dalam jasad manusia
dengan sebutan demikian karena halusnya laksana angin, tetapi dapat
dirasakan. Al-Qur'an mengungkapkan kata ruh dalam lima pengertian,
yakni : malaikat Jibril, wahyu, rahmat Allah, kenabian, hidup atau
kehidupan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa
sekelompok orang Yahudi saling bertengkar tentang ruh, lalu mereka
bertanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Tidak lama berselang
turunlah ayat :” mereka bertanya kepada engkau ( ya Muhammad) tentang
ruh, katakanlah ruh itu termasuk urusan Tuhanku, kamu tidak diberi
pengetahuan (tentang ruh ) itu kecuali sedikit. “ ( QS. 17/ Al-Isra :
85 ).

meski ayat diatas mengisyaratkan keterbatasan pemahaman manusia tentang


ruh, bukan berarti ruh itu tidak boleh dikaji, hanya saja ruh itu tidak
dapat didefinisikan akan tapi disaksikan dan dirasakan, namun
pengetahuan diskursif tentang sifat-sifat ruh dalam kenyataannya
diberikan oleh Allah melalui manusia dan teks-teks wahyu. Ruh tidak
dapat didefinisikan karena tidak memiliki ukuran, tidak berjenis
kelamin, tidak dapat di inderai, tidak dapat dibagi-bagi, ringkasnya,
ruh itu bersifat transenden. Dalam kalangan sufi, ruh tidak mereka
definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat
bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan.

Jika Al-Ghazali berbicara tentang ruh dalam Ihya Ulum al-Din, itu
adalah dalam rangka hubungan manusia dengan Tuhan. Untuk itu, ia juga
membedakan ruh menjadi dua kategori. Pertama, ruh yang berhubungan
dengan jasad. Ruh ini erat berhubungan dengan jantung, dimana ia
beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah
berhenti, maka berakhir pula lah ruh ini. Ruh dalam kategori inilah
yang menjadi sumber penginderaan, dia adalah laksana cahaya yang
melimpah dari sebuah pelita ke segenap penjuru rumah. Ruh dalam
kategori ini, papar Al-Ghazali bukan tujuan kita. Akan tetapi ruh yang
ingin penulis berbagi disini adalah ruh sebagai “al-lathifah al-'alimah
al-mudrikah min al-insan ( sesuatu yang halus, yang ditiupkan Allah
).Ruh adalah bagian dari Allah yang ditiupkan-Nya seperti dalam (QS.
Al-Hijr : 29).

Ruh dalam kategori inilah pemberi makna bagi kehidupan manusia.


Tingginya kualitas ruh ini ditunjukkan oleh tunduknya malaikat kepada
manusia, dan yang kedua, ditunjukkan oleh kata ganti “KU” yang
menggambarkan bahwa Allah mengakui betapa dekatnya zat yang bernama ruh
itu dengan Allah. Dengan ruh itulah manusia menjadi memiliki kehendak.
Dengan ruh itu pula manusia jadi berilmu pengetahuan, menjadi
bijaksana,memiliki rasa cinta dan kasih sayang, serta berbagai sifat
ketuhanan. Ruh adalah zat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Ruh
selalu mengajak kepada kebaikan. Ini juga ada kaitannya dengan istilah
ruh yang digunakan untuk menyebut malaikat. Malaikat adalah agent
kebaikan. Lawan dari iblis dan syetan sebagai agent kejahatan ( QS.
77:1, 35 :5 ). Ruh bersifat stabil dalam kebaikan tanpa mengenal
perbandingan, ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan. Dalam
kalimat yang berbeda saya ingin menggambarkan ruh adalah bagaikan
malaikat yang mengajak pada cahaya yang terang benderang, melepaskan
diri dari kegelapan hawa nafsu. Fungsi ruh secara menyeluruh adalah
membawa sifat-sifat Allah agar kehidupan manusia berjalan sesuai dengan
fitrah-Nya, karena ruh membawa sifat hayyat ( hidup), maka manusia
menjadi hidup. Karena ruh membawa sifat rahman rahim, maka manusia juga
punya rasa kasih sayang. Karena ruh juga membawa sifat jabbar ( perkasa
) maka manusia juga ketularan sifat perkasa itu.

Ruh juga membawa sifat qiyamuhu binafsihi/mandiri, maka manusia


memiliki kecenderungan untuk bersifat mandiri. Karena ruh membawa sifat
qudrat iradat/berkuasa dan berkehendak, maka manusia pun berkehendak
untuk berkuasa dan mencipta. Jika diibaratkan dengan komputer maka ruh
adalah sistem operasi, dimana sifat-sifat manusia bersandar pada sifat
sifat ruh yang ditiupkan oleh Allah ke dalam jasad manusia. Ruh
sebenarnya memiliki potensi tak terbatas, namun karena ia ditiupkan ke
dalam jasad manusia, maka ketidakterbatasan Ruh itu sangat dibatasi
oleh keterbatasan tubuh manusia. Sebagaimana terungkap dalam puisi
Sa'di “:

Jasad manusia mulia karena ruhnya

Tubuh yang indah bukanlah tanda kemanusiaan

Jika manusia itu disebut manusia

karena mata, telinga, atau lidahnya

maka apa bedanya antara manusia dan gambar manusia di dinding.

Meski tidak terpisah dari tubuh, ruh ditiupkan bukan seasal dan tidak
sama dengan tubuh. Inilah yang tersirat dalam firman Allah : “ Dan
ingatlah , ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak turunan Adam dari
sulbi mereka (seraya berfirman), 'bukankah Aku ini Tuhanmu ?' mereka
menjawab , “ Benar Engkau Tuhan kami “ ( QS. 7 : 172 ). Dengan demikian
sejak awal ditiupkan ruh telah memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Akan
tetapi, pengetahuan akan Tuhan (makrifat ) demikian tertutup ketika ruh
menyatu dengan jasad, tertutup oleh tabiat-tabiat jasadi yang
menariknya ke asal usul jasad. Jasad diciptakan dari materi tanah.
Karena itu, memiliki sifat-sifat ketanahan yang senantiasa akan jatuh
kebawah, kasar, kotor dan sebagainya. Berbeda dengan ruh, karena dia
berasal langsung dari ruh mutlak ( Allah ), maka dia senantiasa rindu
untuk kembali kepada asalnya. “ Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa
Robbahu.”

Jadi ruh bersifat ilahiyah dan senantiasa rindu kepada kesucian. Puncak
kesucian adalah Tuhan yang Maha Suci. Dengan demikian, puncak kerinduan
ruh adalah bertemu dengan Zat Yang Maha Suci. Dari itu, para sufi
mengatakan bahwa ruh adalah lokus cinta Ilahi, sedangkan qolbu lokus
makrifat, dan sirr ( lapisan hati terdalam ) lokus musyahadah (
penyaksian akan wajah Allah yang Agung ). Dengan demikian, ruh
merupakan motor penggerak dalam pendekatan diri kepada Tuhan. Bahkan
menurut ahlul makrifat, ruh adalah penggerak ke arah kebaikan pada
umumnya. Kecintaan ruh pada Tuhan telah melahirkan suatu hasrat dan
daya yang terarah kepada satu titik, yakni perjumpaan dengan Tuhan yang
Maha Mutlak. Antara ruh, nafs, qolbu dan akal sesungguhnya bukan
merupakan kecakapan yang masing-masing berdiri sendiri akan tetapi
kesemuanya itu hanyalah aspek-aspek dari substansinya akan tetapi
berbeda dari sudut fungsinya. Ketika jiwa kita mengarahkan dirinya
kearah asalnya yang bersifat ruhani, ia disebut “ ROH “. Ketika ia
mengadakan penalaran rasional diskursif ia kita sebut “ akal “. ketika
ia berkemampuan untuk mendapatkan cahaya dari Tuhan secara langsung
(mukasyafah) ia disebut “ qolbu”, dan ketika ia berhubungan dengan
badan maka ia disebut “ nafs “. karena itu dapat disimpulkan bahwa roh,
akal, qolbu dan nafs sama dalam esensinya tetapi berbeda dalam
fungsinya sehingga mendapat nama yang berbeda.

Tiga hal yang menyebabkan ruh dan jiwa berbeda : 1. karena


substansinya. Jiwa dan ruh berbeda dari segi kualitas zatnya. Jiwa
digambarkan sebagai zat yang bisa berubah-ubah kualitas, naik dan
turun, jelek dan baik, kotor dan bersih. Sedangkan ruh digambarkan
sebagai zat yang selalu baik dan suci, berkualitas tinggi. Bahkan
digambarkan sebagai turunan dari zat ketuhanan ( QS.15 :29). Kata jiwa
dalam AL-Qur'an diwakili kata “ nafs”, secara umum diartikan sebagai
diri. Penggunaan kata nafs yang menggambarkan jiwa dalam Al-Quran tidak
kurang dari 31 kali. Sedangkan kata nafs (anfus) yang bermakna “ diri “
tidak kurang dari 279 kali. Sementara itu kata ruh dalam AL-Quran
diulang-ulang oleh Allah sebanyak 10 kali. Dalam Al-Quran 39 :42,
91:7-10, 89:27, 75:2, 9 :103, 74:38). jadi jiwa adalah sesuatu dalam
diri kita yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan kualitas seiring
dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan seorang manusia.
Semakin
dewasa dia semakin tinggi juga kualitas jiwanya. Bahwa jiwa adalah
sosok yang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang dilakukan
seorang manusia. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih kebaikan atau
keburukan dalam hidupnya, segala akibat dari perbuatannya akan kembali
kepadanya. Kualitas jiwa tergantung kepada kualitas fisik, terutama
otaknya. Kerusakan pada otak maka akan menimbulkan kerusakan pada jiwa.
Jiwa adalah sesuatu yang bisa terkena pengaruh dari luar berupa tekanan
positif dan negatif, sedih senang, kecewa dan bahagia.

Perbedaan kedua antara ruh dan jiwa adalah pada fungsinya. Jiwa
digambarkan sebagai sosok yang bertanggung jawab atas segala perbuatan
kemanusiaannya. Bukan ruh yang bertanggungjawab atas segala perbuatan
manusia, melainkan jiwa. Ruh adalah zat yang selalu baik dan
berkualitas tinggi. Sebaliknya hawa nafsu adalah zat yang rendah dan
selalu mengajak kepada keburukan. Sedangkan jiwa adalah zatyang bisa
memilih kebaikan atau keburukan tersebut. Maka jiwa harus
bertanggungjawab terhadap pilihannya itu. Setiap jiwa akan menerima
konsekuensi atau balasan dari perbuatan jeleknya atau perbuatan
baiknya. Ia yang terkena dosa dan pahala. Sedangkan ruh selalu mengajak
kepada kebaikan.

Perbedaan yang ketiga adalah pada sifatnya. Jiwa bisa merasakan


kesedihan, kebahagiaan, kedamaian, kekecewaan. Sedangkan ruh bersifat
cenderung selalu dalam kebaikan. Ruh adalah energi kehidupan yang
mengandung fungsi dasar kehidupan itu sendiri. Dalam bahasa komputer,
jiwa adalah program aplikasi sedangkan ruh adalah sistem operasi yang
di dalamnya memiliki energi kehidupan, sedangkan jiwa adalah program
aplikasi yang bisa menyebabkan seorang manusia memiliki kemampuan
operasional. Jiwa bekerja pada sistem kerja ruh. Jika ruh tidak
berfungsi maka jiwa pun tidak berfungsi, tapi sebaliknya, kalau jiwa
tidak bekerja, ruh masih tetap bisa bekerja. Kalau diurutkan tingkat
pengaruhnya, ruh lah yang memiliki pengaruh paling besar, karena ia
berpengaruh terhadap kerja jiwa dan badan sekaligus. Jika ruh tidak
berfungsi, maka badan dan jiwa tidak berfungsi juga, alias mati. Urutan
kedua adalah jiwa. Jiwa memiliki pengaruh pada badan tapi tidak
mempunyai pengaruh pada ruh. Pengaruh jiwa pada badan tidaklah mutlak
sebagaimana ruh. Wa Allahu 'Aalim.

YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MERAGA SUKMA

Raga sukma adalah sebuah fenomena spiritual di mana jiwa atau


tubuh astral manusia melakukan perjalanan dalam
keadaan sadar setelah terbebas atau keluar dari tubuh fisik.

Dalam artikel terdahulu CARA MERAGA SUKMA, disebutkan bahwa sebelum kita
melakukan perjalanan keluar dari tubuh untuk berkelana kemanapun yang kita
inginkan kita hendaknya mengenali bagian yang paling hakiki, paling inti pada diri
kita yaitu roh. Roh ini memiki kesadaran yaitu kesadaran roh. Kesadaran ruh yang
pertama kali adalah pengakuan bahwa bahwa pada diri manusia ini ada sesuatu
yang sejati, yang disebut dengan AKU SEJATI. Jadi bisa dikatakan bahwa aku sejati
manusia itu adalah ruh kita sendiri.

Jadi pada diri manusia itu ada tiga lapis kesadaran yaitu: KESADARAN FISIK,
KESADARAN JIWA, dan KESADARAN RUH. Kesadaran fisik muncul akibat aktivitas
otak biologis, kesadaran jiwa adalah kesadaran yang lebih tinggi dari kesadaran otak
akibat komunikasi intensif antara ruh dan otak. Sementara kesadaran ruh adalah
kesadaran yang murni terbebas dari pengaruh otak. Jadi ini adalah kesadaran
spiritual tertinggi.

TIDAK ADA CARA LAIN UNTUK RAGA SUKMA KECUALI diam, meneng dalam posisi
duduk atau berbaring. Disebut juga MEDITASI. Cara meditasi beragam, silahkan
dipilih yang paling disukai. Dalam semua tradisi mistik esoterik, meditasi memiliki
istilah tata cara syariat yang beragam. Prinsipnya bahwa dalam meditasi Anda akan
mengalami LONCATAN KESADARAN dari kesadaran FISIK menuju kesadaran JIWA.
Untuk itu, tahap RAGA SUKMA adalah: diam dalam jangka waktu dengan kata-kata
sugesti (mantra) yang Anda yakini mampu mengadakan perpindahan dari kesadaran
fisik menuju kesadaran jiwa. Hingga tubuh Anda benar-benar mampu tidur namun
jiwa Anda melayang dengan kontrol sadar dari ruhani.
Raga sukma adalah perjalanan kesadaran jiwa menuju ke semua tempat secara
sadar. Sehingga untuk meraga sukma harus dihindari perjalanan jiwa yang tidak
disadari dan tidak dikontrol oleh kesadaran ruh. Apa ada perjalanan yang tidak
disadari ruh? Jawabnya Ada. Yaitu saat seseorang mengalami trance atau
kesurupan. Inilah tahap dimana perjalanan jiwa tidak dikontrol sehingga kacau
bahkan jiwa bisa tersesat. Inilah bahayanya kalau perjalanan jiwa tidak dikontrol,
maka seseorang itu akan mengalami kegilaan permanen.

Kegilaan permanen ini sebenarnya bisa disembuhkan bila kita bisa menemukan
kembali kemana jiwa tersebut pergi. Namun sangat sulit menemukan kemana
lepasnya jiwa. Sangat sedikit orang waskita yang bisa menemukan jiwa yang
tersesat ini agar kembali ke tubuh dan kesadaran fisik seseorang. Celakanya, kadang
setelah kita menemukan kembali jiwa dan membawa masuk ke tubuh seseorang
sayangnya dia telah mengalami kerusakan jaringan syaraf pusat otaknya.

Jiwa biasanya pergi karena berbagai hal, yaitu masalah cinta asmara, masalah
hutang piutang, masalah lain sehingga jiwanya kacau dan tidak dikontrol oleh
kesadaran ruhnya. Akibatnya, seseorang tersebut bisa jadi bunuh diri! Sesuatu hal
yang harusnya dihindari oleh kita semua. Hanya dengan dekat kepada Tuhan Sang
Pencipta, kita semua memohon agar dihindari dari kesulitan dan persoalan yang
tidak ditemukan jalan keluarnya.

Salah satu cara memulai raga sukma adalah melalui mimpi saat tubuh kita tertidur.
Kenapa melalui mimpi? Sebab mimpi adalah rasionalisasi pengalaman astral atau
pengembaraan pikiran seseorang keluar dari tubuh fisiknya dan tidak ada
pemeriksaan ulang terhadap proses mental dari kesadaran fisik. Melalui mimpi akan
terasa bagaimana jiwa adalah PENGEMUDI sementara tubuh fisik kita adalah
KENDARAANNYA.

Jadi sebenarnya, manusia itu mengalami RAGA SUKMA saat fisiknya tertidur. Jadi 90
persen manusia melakukan raga sukma saat tertidur. Sayangnya, dalam raga sukma
mimpi kebanyakan orang tidak terkontrol oleh kesadaran ruh sehingga
perjalanannya cenderung kesana kemari sehingga tidak mampu dimaknai secara
benar.

Dalam raga sukma, tubuh fisik kita masih hidup. Kenapa masih hidup padahal jiwa
dan ruh kita sudah pergi meninggalkan tubuh? Ini karena pada diri manusia masih
ada TALI JIWA (SURATMA) yang menghubungkan antara ruh dengan jasadnya. Saat
seseorang meninggal dunia dan dikubur, mayatnya mulai membusuk maka badan
astral atau halus tidak ikut mati. Badan astral ini oleh orang jawa disebut dengan
WETHALA. Dalam waktu tujuh hari setelah kematiannya, WETHALA ini kemudian
baru pergi dari tubuh mayat yang telah membusuk.WETHALA badan astral dan
jiwanya akan tetap terikat pada mayat oleh kekuatan SURATMA selama mayat belum
hilang sama sekali. Suratma inilah yang menjaga mayat tidak cepat busuk.

Tali Jiwa atau Suratma ini berwarna perak. Saat Anda sedang berada di luar tubuh
fisik, Anda bisa melihat tali perak ini satu ujungnya menempel di tubuh halus dan
ujung yang lainnya menempel di tubuh fisik Anda. Tali ini tampak merentang dari
kelamin hingga otak. YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MERAGA SUKMA: JANGAN
PERNAH MEMUTUSKAN TALI INI KARENA BERAKIBAT ANDA MENINGGAL DUNIA.
BILA ANDA TIDAK BERNIAT MEMUTUSKANNYA, MAKA TALI INI JUGA TIDAK AKAN
PUTUS.

Apabila Anda sudah berada di luar tubuh fisik Anda, berarti Anda mampu mengontrol
rasa takut. Tidak ada lagi rasa takut, khawatir maupun was-was. Sebab rasa takut
hanya ada di kesadaran fisik (otak) yaitu kesadaran manusia yang paling rendah.
Bagaimana bila dalam perjalanan astral meraga sukma nantinya akan bertemu
dengan makhluk halus? Anda tidak akan ketakutan lagi. Pada prakteknya, saat kita
sudah berada di luar tubuh fisik maka kita tidak terlalu sering (jarang) bertemu
tubuh halus yang lain. Bisa jadi kita juga bertemu dengan tubuh halus lain namun
bisa jadi dia tidak melakukan raga sukma secara sadar. Bisa jadi dia dalam posisi
tidur maupun santai yang dia sendiri tidak menyadarinya.

Karena masih dalam taraf belajar, ada baiknya kita membatasi diri dengan tidak
neko-neko dan aneh-aneh. Dalam tarafa belajar tidak perlu mengunjungi:
SESEORANG YANG TELAH MENINGGAL ATAU TEMPAT YANG TIDAK KITA KENAL
SEBELUMNYA. (Ini agar jiwa kita tidak tersesat atau disesatkan. Jangan sampai kita
mau untuk diajak ruh orang yang telah meninggal dunia menuju alam kelanggengan
dan kita krasan tinggal di sana. Ini nanti akan membuat tubuh fisik kita sekarat atau
semaput). Karena kontrol kita masih terbatas, maka berputar-putar dan nikmati
bumi saja sesuai keinginan. Kalau Anda belum pernah berkunjung ke London,
pergilah ke sana dan nikmati apa yang Anda temui dalam sekejap mata. Tidak usah
mengunjungi TOKOH-TOKOH SAKTI baik yang sudah meninggal atau masih hidup.
Mereka bisa saja melontarkan tubuh halus Anda ke tubuh fisik Anda sehingga
membuat Anda ngos-ngosan gelagapan. Bisa berakibat fatal, Anda tidak akan
terbangun dalam jangka waktu lama. Kalau Anda memiliki riwayat sakit jantung,
maka bisa jadi Anda meninggal mendadak.
Kalau pada saat Anda meraga sukma kebetulan bertemu dengan tubuh halus lain,
biasanya Anda melihat mereka ini tidak berwarna, tidak bercahaya dan pucat. Tubuh
halus melayang atau berada di mana saja mampu menembus benda-benda fisik
seperti asap atau bayangan. Saat kita menyentuh tubuh fisik seseorang maka kita
hanya bisa menembusnya. Mereka tidak akan menyadari sedang kita sentuh.
KECUALI ORANG-ORANG YANG MEMILIKI KEMAMPUAN CLAIRVOYANT (kemampuan
melihat energi halus) dan KEMAMPUAN CLAIRAUDIENCE (kemampuan mendengar
suara dari dimensi lain).

Apabila dalam meraga sukma Anda kebetulan (ini jarang terjadi) bertemu dengan
tubuh halus lain. Misalnya MAKHLUK HALUS yang berniat buruk dan jahat maka
berlarilah ke lapisan dimensi halus yang lain. Yang perlu Anda cermati, di dimensi
gaib ini kita mengenal tujuh dimensi yang menempel pada tubuh halus manusia.
Saat makhluk halus mengejar kita, maka kita bisa berlari secepat kedipan mata
memasuki dimensi lain hingga dimensi kelima. Hanya pada dimensi keempatlah,
makhuk jahat itu mampu mengejar jiwa manusia.

Makhluk halus sebenarnya bisa dikendalikan oleh pikiran dan kemauan manusia.
Manusia yang bisa mengendalikan mereka, maka manusia tersebut memiliki
kekuatan dahsyat. Mereka mampu kebal senjata apapun, mampu mengendalikan
cuaca menghentikan hujan dan mengendalikan petir, mampu pula menjangkau apa
yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Mereka inilah manusia linuwih dan
sakti karena mampu mengendalikan makhuk halus yang berasal dari unsur bumi,
unsur air, unsur udara dan api.

Dalam perjalanan astral tingkat tinggi kita bisa menganalisa bahwa semua mahluk
halus yang berasal dari alam mempunyai bentuk tubuh mirip manusia dengan
ukuran yang berbeda-beda. Mereka memiliki mata, telinga, kaki, tangan, tubuh
meskipun bentuknya berlainan. Mereka memiliki kemampuan mengubah dirinya
menjadi bentuk lain sesuai dengan keinginan mereka. Makhluk halus ini menempati
dimensi astral dan dunia nyata kita. Dari segi jenis, di dunia ini setidaknya kita
mengenal 350.000 jenis makhluk halus.

Berbeda dengan manusia yang terdiri dari unsur fisik dan metafisik, makhluk halus
tidak diberi Tuhan badan fisik. Jadi mereka melulu bersifat metafisik (gaib). Mereka
berdiam diri di bumi tanpa halangan, bergerak cepat di udara. Hidup dengan
makanan zat eterik yang ada di bumi. Menyukai bau-bau harum, namun mereka
tidak menyukai bau manusia. Oleh karena itu, mereka tidak menyukai hidup di
rumah-rumah manusia. Mereka berusia rata-rata hampir sama dengan manusia. Bila
mati, mereka lahir kembali melalui proses pembusukan astral. Wallahu a’lam.

Metode Dzikir

Bagaimana cara menghidupkan qalbu? Bagaimana cara menghunjamkan


dzikir jahri dari mulut agar tembus menjadi dzikir sirri di dalam qalbu?
“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir (bukan ahli fikir! - pen.) jika
kamu tidak mengetahui.”
(QS. 16:43)
Ada banyak metode (thariqah) yang digunakan para ahli dzikir, diantaranya
metode Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya:

1. Gunakan Dzikir Utama berulang-ulang


2. Lewatkan titik-titik lathifah (sensor) untuk menghunjam masuk ke
3. dalam qalbu
4. Sertakan hentakan/tekanan (dharban) yang kuat
5. Rasakan jangan fikirkan

Titik Sensor (Lathifah)


Dzikir Jahri yang diucapkan dengan mulut harus ditembuskan ke pusat ruh
yaitu Qalbu, kalau tidak ia hanya akan menjadi gelombang-gelombang suara
yang lepas mengembara di angkasa tanpa menembus alam lâhût dan `arasy
Allah. Untuk menembuskannya, saat mulut melafazhkan kalimat
Lâ-ilâha-illa-llâh kita jalarkan kalimat tersebut pada titik-titik lathifah/sensor:

1. Lathifah Qalbi

2. Lathifah Ruhi

3. Lathifah Sirri

4. Lathifah Khafiy

5. Lathifah Akhfa

6. Lathifah Nafs

7. Lathifah Qalabi
Pengucapan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh dilakukan dengan suara tegas, dirasakan

/ dijalarkan dari bawah pusar keatas hingga ubun-ubun, lalu ke sebelah kanan

dari titik 2 jari di atas puting susu ke arah titik 2 jari dibawah putting susu, lalu

ke sebelah kiri dari titik 2 jari di atas putting susu dihunjamkan ke titik 2 jari di

bawah putting susu kiri. Penjalaran dzikir ini diarahkan dengan gerakan kepala

ke atas, lalu ke kanan dan ke kiri.

Semua itu dilakukan dengan tekanan/ hentakan yang kuat (dharban) kedalam

tubuh hingga terasakan kedalam ruh/jiwa orang yang melakukannya. Lakukan

itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sehingga terbentuk apa yang disebut

the magical power of repetition.

“…dzikirkan olehmu Allah sebanyak-banyaknya.”


(QS. 33:41)

Dalam melakukannya jangan gunakan fikiran, tapi gunakan rasa, karena

berdzikir memang bukan berfikir. Allah swt tegas membedakan dzikir dengan

fikir di dalam QS. Ali Imran 3:191. Sekali lagi: rasakan, jangan fikirkan!

Manakala dzawq (rasa) di dalam qalbu telah dapat merasakan iman tawhid maka Dzikir Jahri boleh
dihentikan dan diganti dengan Dzikir Sirri.

Kadang orang masih penasaran bertanya, sebanyak-banyaknya itu berapa kali? Para ulama dzikir
menyatakan sekurang-kurangnya 5 x 33 alias 165 kali. Orang sudah biasa berdzikir 33 kali, lakukanlah
Dzikir Jahri ini 5 kali lipatnya sehingga menjadi 165.

Apakah harus tepat sejumlah itu? Tidak harus! The more the better (makin banyak, ya makin baik). Ibarat
orang mengaduk adonan kue/roti, adukan itu harus mencukupi hingga adonan mengembang, lalu dibakar di
oven. Kalau adukan kurang memadai dan adonan belum mengembang lalu langsung dibakar dengan oven
apa jadinya? Bantat. Begitu pula dzikir. Kalau Dzikir Jahri kurang kuat tekanannya, atau kurang banyak
pengulangannya, maka ia belum sampai menembus dan menggetarkan qalbu. Kalau langsung dihentikan
maka Dzikir Sirri belum terbentuk di qalbu, akibatnya qalbu belum terhubung ke Allah SWT, nikmat dan
manfaat dzikir pun tidak tercapai.

Muncul pula pertanyaan mengapa pengarahan jalaran dzikir itu menggunakan gerakan kepala ke atas, ke
kanan, lalu ke kiri? Ulama dzikir dalam istinbatnya menarik hikmah dari ayat:

Iblis: “Lalu akan aku datangi manusia dari hadapan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan
mereka, dan dari kiri mereka…”
(QS. 7:17)
Gerakan dzikir ke atas maksudnya untuk menepiskan iblis yang menyerang dari depan dan belakang,
gerakan dzikir ke kanan dan ke kiri untuk menepiskan iblis yang ada di kanan dan kiri.