Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH BIOKIMIA

PERAN AIR DALM SISTEM PERTANIAN

KELOMPOK

JUNIARTO
CINDY NOPRITASARI
BELLA EDIT
NAOMI NATALIA
REVE AGUSTIA

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTASPERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produk pangan.
Jika air tidak tersedia maka produksi pangan akan terhenti. Ini berartibahwa
sumberdaya air menjadi faktor kunci untuk berkelanjutan pertanian khusunya
pertanian beririgasi. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) secara
sederhana diartikan disini sebagai upaya memelihara, memperpanjang,
meningkatkan dan meneruskan kemampuan produktif dari sumberdaya pertanian
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Guna mewujudkan pertanian
berkelanjutan, sumberdaya pertanian seperti air dan tanah yang tersedia perlu
dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kebutuhan akan
sumberdaya air dan tanah cenderung meningkat akibat pertambahan jumlah
penduduk dan perubahan gaya hidup, sehingga kompetisi dalam pemanfaatannya
juga semakin tajam baik antara sektor pertanian dengan sektor non-pertanian
maupun antar pengguna dalam sektor pertanian itu sendiri. Makalah ini mencoba
membahas berbagai permasalahan yang terkait dengan sumberdaya air. Beranjak
dari permasalahan tersebut selanjutnya diketengahkan langkah-langkah
kebijaksanaan yang kiranya perlu ditempuh dalam pengelolaan sumberdaya air
guna mendukung pertanian bekelanjutan.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui peran air dalam sistem pertanian
2. Mengetahui jenis-jenis air yang dapat digunakan dalam sistem pertanian

II. DASAR TEORI


Polaritas molekul air dan kecenderungannya membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul-molekul yang lain, air dijuluki pelarut universal. Sebuah molekul
air (yang diekspresikan dalam simbol kimiawi H20), terdiri dari dua atom
hidrogen dan satu atom oksigen. Berdiri sendiri, atom hidrogen mengandung
satu proton positif di intinya; sedang satu elektron negatif berputar
mengelilinginya dalam sebuah kerangka tiga dimensi. Sedang oksigen memiliki
delapan proton di dalam intinya dengan delapan elektron berputar mengitarinya.
Dalam notasi kimia, oksigen seringkali diperlihatkan sebagai huruf O yang
dikelilingi delapan titik yang mewakili empat pasang elektron. Satu elektron
hidrogen dan delapan elektron oksigen merupakan kunci kimia kehidupan, sebab
atom hidrogen dan oksigen bergabung untuk membentuk sebuah molekul air
atau berpisah untuk membentuk ion-ion. Hidrogen cenderung mengalami ionisasi
dengan kehilangan elektron tunggalnya dan membentuk ion H+ yang simpel
yang hanya merupakan proton yang terisolasi karena atom hidrogen tidak
memiliki neutron. Sebuah ikatan hidrogen terjadi saat elektron sebuah atom
hidrogen bersama-sama dipakai dengan atom elektronegatif yang lain (misalnya
oksigen yang kehilangan sebuah elektron) (Anonim, 2008).
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk
kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air
menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330
juta mil) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada
lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat
hadir sebagaiawan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es.
Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu:
melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff,
meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi
kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan
air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat
pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulanbulan Europadan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air)

dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di
permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air
yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta
privatisasi dan bahkan menyulut konflik (Helmi, 1997).
Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produksi
pangan. Jika air tidak tersedia maka produksi pangan akan terhenti. Ini berarti
bahwa sumberdaya air menjadi faktor kunci untuk keberlanjutan pertanian
khususnya pertanian beririgasi. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture)
secara sederhana diartikan disini sebagai upaya memelihara, memperpanjang,
meningkatkan dan meneruskan kemampuan produktif dari sumberdaya
pertanian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Guna mewujudkan
pertanian berkelanjutan, sumberdaya pertanian seperti air dan tanah yang
tersedia perlu dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kebutuhan
akan sumberdaya air dan tanah cenderung meningkat akibat pertambahan
jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup, sehingga kompetisi dalam
pemanfaatannya juga semakin tajam baik antara sektor pertanian dengan sektor
non-pertanian maupun antar pengguna dalam sektor pertanian itu sendiri
( Mahar, 1999).
Pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan,
memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air,
pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air. Adapun visi
dan misi pengelolaan sumberdaya air adalah mewujudkan kemanfaatan
sumberdaya air bagi kesejahteraan seluruh rakyat dan konservasi sumberdaya
air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Salah satu tujuan
pengelolaan sumberdaya air adalah mendukung pembangunan regional dan
nasional yang berkelanjutan dengan mewujudkan keberlanjutan sumberdaya air
(Sunaryo, 2004).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Pengertian
1. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai,
danau, mata air, terjunan air).
2. Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah.
3. Air tanah dangkal/sedang/dalam adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah
atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman : dangkal 1-30 meter,
sedang 31-60 meter dan dalam > 60 meter.
4. Air Tanah Bebas (unconfined) adalah air dari aquifer dimana lapisan kedap air
hanya berada pada dasar akuifer dan permukaan akuifer bebas dari lapisan
kedap air.
5. Air Tanah Tertekan (confined) merupakan air dari akuifer yang sepenuhnya jenuh
dengan bagian atas dan bawah dibatasi oleh lapisan kedap air.
6. Jaringan Irigasi adalah saluran dan bangunan yang diperlukan untuk mengatur
dan menyalurkan air irigasi yang mencakup penyediaan, pengambilan,
penyaluran dan pembagian.
7. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang usaha pertanian.
8. Bendung kecil/dam parit adalah bangunan penahan air di sungai/kali yang
tingginya di bawah 15 m, untuk menaikkan tinggi muka air dan juga dapat
dilengkapi saluran untuk mengalihkan air kelebihan yang dapat ditampung dalam
bak penampung atau bangunan tampung air (reservoir).
9. Sumber air adalah tempat/wadah air alami dan atau buatan yang terdapat di atas
ataupun di bawah permukaan tanah.
10. Pembuangan air irigasi, selanjutnya disebut drainase, adalah pengaliran
kelebihan air yang sudah tidak dipergunakan lagi pada suatu daerah pertanian.

3.2

Fungsi dan Peran Air


Air bagi para petani adalah sumber daya pokok yang menunjang
berlangsungnya kegiatan pertanian. Fungsi air dalam pertanian secara umum
adalah sebagai irigasi atau pengairan, karena tanpa adanya pengairan yang baik
maka hasil dari tanaman yang dikelola oleh petani tidak akan mendapatkan hasil
yang maksimal.
Di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 68% jumlah air digunakan untuk keperluan
irigasi, jadi bukan hal yang aneh kalau dimana-mana kita menemukan sawah
atau ladang dengan sistem pengairan yang cukup canggih. Di beberapa tempat,
irigasi hanya diberikan untuk tanaman yang benar-benar dapat mendatangkan
hasil dan merupakan kebutuhan pokok, misalnya irigasi untuk tanaman padi.
Namun di daerah lain banyak juga pemberian irigasi secara menyeluruh
terhadap semua jenis tanaman, tentu saja alasannya karena sumber daya air di
daerah itu sangat mencukupi. Dengan semakin meningkatnya populasi
penduduk dunia, maka kita perlu mencari inovasi untuk memaksimalkan sumber
daya air yang ada, karena tuntutan kebutuhan pangan terus meningkat
sedangkan sumber air masih tetap tidak ada peningkatan.

3.3

Jenis-jenis air
a. Sungai
Kegiatan pemanfaatan sungai yang berlangsung selama ini sebagian besar
masih dilakukan dengan cara yang kurang memperhatikan kelestarian dan
kepentingan umum. Hal ini ditandai dengan kondisi-kondisi yang salah satunya
ialah hilangnya sebagian besar tumbuhan penutup di daerah aliran sungai
bagian hulu, sehingga memengaruhi daya resap lahan dan meningkatkan erosi
(Puslit Sumber daya Air, 2002: 3). Menurut Puslit Sumber daya Air (2002: 3)
sungai sebagai sumber air yang mempunyai sejumlah potensi yang dapat
dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Manfaat sungai sebagai sumber air
di antaranya adalah :
1) Sebagai sumber penghidupan dan kehidupan, air dibutuhkan manusia.

2) Sungai juga dapat dijadikan sarana transportasi untuk mendukung mobilitas


manusia.
3) Sungai berfungsi sebagai sumber protein hewani yang hidup di dalamnya,
seperti ikan.
4) Sungai berfungsi untuk mengairi pertanian (irigasi).

b. Waduk atau Danau


Selain sungai, keberadaan waduk dan danau merupakan potensi dari
sumberdaya air yang memberikan manfaat bagi kelangsungan manusia. Danau
terbentuk secara alamiah oleh proses geologi, baik tektonisme maupun
vulkanisme, sedangkan waduk merupakan buatan manusia dengan membuat
tanggul atau bendungan sehingga air sungai naik dan menggenangi daerah
sekitar yang memiliki ketinggian yang sama (Darsiharjo, 2005:109).
Luasnya lahan pertanian dan perkebunan memberikan andil tersendiri bagi
keberadaan sebuah danau. Pada masa-masa musim kemarau dimana tidak ada
curah hujan sedikitpun, tak jarang air danau digunakan untuk mengaliri lahanlahan pertanian dan perkebunan penduduk sekitar.
c. Air Limbah
Air yang tidak bersih / mengandung berbagai zat yang bersifat
membahayakan kehidupan manusia atau hewan. Lazimnya muncul akibat hasil
perbuatan manusia ( termasuk industrilisasi ). Sisa air yang dibuang berasal dari
rumah tangga, industri, maupun tempat umum lainnya. Dan pada umumnya
mengandung bahan-bahan / zat-zat yang dapat membahayakan bagi manusia
serta menganggu lingkungan hidup.
Kombinasi dari aliran sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman,
perdagangan, perkantoran atau industry bersama-sama dengan air tanah. Air
perumahan dan air hujan yang mungkin ada ( haryoto kusno putranto. 1985).jdi
air buangan : air yang tersisa dari kegiatan manusia baik kegiatan rumah tangga
maupun kegiatan air seperti industri, perhotelan dan sebagainya.
Limbah padat pabrik kertas mengandung unsur kalium (K).peranan unsur
ini untuk memperlancar fotosintesis, memacu pertumbuhan tanaman pada titik
awal, memperkuat batang dan menambah daya tahan tanaman terhadap
serangan hama dan penyakit serta kekeringan. Limbah padat pabrik kertas juga
mengandung unsur-unsur antara lain : kalsium, magnesium, besi, dan sulfida
yang juga berguna bagi pertumbuhan tanaman (Murtado dan Said, 1987).

d. Air Hujan
Hujan adalah turunnya air dari langit yang membasahi bahkan membanjiri
bumi (permukaan paling rendah tanah). Hujan merupakan satu bentuk presipitasi
yang berwujud cairan.Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju
dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila
titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke
permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering.
Hujan jenis ini disebut sebagai virga.
Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Air hujan dengan pH di bawah 5,6
dianggap hujan asam.Banyak orang menganggap bahwa bau yang tercium pada
saat hujan dianggap wangi atau menyenangkan. Sumber dari bau ini adalah
petrichor, minyak atsiri yang diproduksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh
batuan dan tanah, dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan. Curah hujan
memegang peranan pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Hal ini
disebabkan air sebagai pengangkut unsur hara dari tanah ke akar dan
dilanjutkan ke bagian-bagian lainnya. Fotosintesis akan menurun jika 30%
kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan berhenti
jika kehilangan air mencapai 60% (Griffiths, 1976)
e. Air Laut
Air laut mengandung banyak ion mengakibatkan tingginya salinitas. Distribusi
hara di dalam air laut dipengaruhi oleh sirkulasi air laut, proses biologi dan
mineralisasi serta regenerasi nutrisi dengan adanya migrasi hewan dan suplai
dari daratan. Rata-rata konsentrasi garam-garam terlarut di air laut berkisar
3.5%, namun konsentrasi tersebut tergantung pada lokasi dan laju evaporasi.
Konsentrasi ion utama terlarut bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, namun
secara proporsi relatifnya konstan. Air laut sudah banyak digunakan untuk
mengairi tanaman yang toleran terhadap salinitas (halophytes) pada daerahdaerah dekat pantai. Mengingat tingginya kandungan kation, air laut dapat

digunakan sebagai salah satu sumber hara bagi tanaman termasuk tanaman
yang sensitif terhadap kadar garam yang tinggi.

Pengaruh Unsur Esensial terhadap Pertumbuhan dan Produksi


Tanaman :
Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan
oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu
faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan,
perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur
hara yang cukup di dalam tanah. Banyak unsur-unsur esensial, yang ada di
dalam tanah, yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan
produksi tanaman, diantaranya unsur natrium (Na), magnesium (Mg),
kalsium (Ca), dan kalium (K).

3.4

Sumber Air Potensial


Air permukaan dan air tanah merupakan sumber air utama yang
digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pertanian, dan lain-lain.
Namun demikian saat ini sebagian besar kebutuhan masih mengandalkan dari
sumber air permukaan oleh karena itu, sumber air permukaan perlu dikelola
dengan baik sehingga mampu memberikan manfaat bagi pengembangan sektor
pertanian. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan
tanah (sungai, danau, mata air, terjunan air). (Direktur Pengelolaan Air)
Air permukaan baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau,
waduk, rawa) dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir
membentuk sungai dan berakhir di laut. Proses perjalanan air di daratan tersebut
terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem
Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sampai saat ini, air permukaan sebagian besar digunakan untuk
memenuhi kebutuhan pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik dan
keperluan domestik lainnya. Penggunaan air tanah umumnya masih terbatas
untuk minum, rumah tangga, sebagian industri, usaha pertanian pada wilayah

3.5

3.6

dan musim-musim tertentu. Sumberdaya air merupakan sumberdaya yang


terbaharuinamun demikian ketersediaannyatidak selalu sesuai dengan waktu,
ruang, jumlah dan mutu yang dibutuhkan. Tujuan kegiatan pengembangan air
permukaan adalah :
- memanfaatkan potensi sumber air permukaan untuk irigasi
- meningkatkan ketersediaan air irigasi sehingga dapat menjamin pasokan air
dalam usaha tani
- meningkatkan luas areal tanam, indeks pertanaman dan produktivitas usaha
tani
- meningkatkan produksi pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani.
Peranan Air Bagi Pertanian
Dalam kegiatan budidaya pertanian baik dalam pengembangan tanaman
pangan, holtikultura, peternakan maupun perkebunan; ketersediaan air
merupakan faktor yang sangat strategis. Tanpa adanya dukungan ketersediaan
air yang sesuai dengan kebutuhan baik dalam dimensi jumlah, mutu, ruang
maupaun waktunya, maka dapat dipastikan kegiatan budidaya tersebut akan
berjalan dengan tidak optimal. Selain itu yang paling penting adalah manusia
sangat membutuhkan air untuk memenuhi segala kebutuhannya. Oleh karena
itu, perlu dilakukannya pengembangan sumber-sumber air.
Sebagaimana di ketahui, setiap daerah di Indonesia tidak seluruhnya
mendapatkan curah hujan yang sama, dengan demikian akan terdapat dua
daerah ada yang curah hujannya telah mampu mencukupi kebutuhan pengairan
dan ada daerah dengan lahan yang memerlukan pengairan (irigasi) bagi
pertaniannya. Untuk itu, diperlukan pengelolaan air agar air yang tersedia
mampu digunakan seefektif dan seefisien mungkin agar mampu memenuhi
kebutuhan pertanian dll.
Pengaruh kekurangan air terhadap tanaman
Kekuranagn air terjadi dalam semua jaringan tanaman yang mengalami
transpirasi. Dalam bagian ini akibat-akibat tersebut terhadap hasil pertanaman
akan dibahas. Pengaruh kekurangan air terhadap hasil pertanaman terutama
ditentukan oleh derajat dan waktu berlangsungnya kekurangan tersebut. Respon
tanaman terhadap kekurangan air tersebut relatif terhadap aktifitas metaboliknya,
morfologinya, tingkat pertumbuhannya dan potensial hasil panennya.
Dari banyak penyelidikan empiris disimpulkan bahwa kekurangan air pada
tahap awal ontogeni reproduktif menyebabkan pengurangan terbesar dalam
hasil. Pengaruh kekurangan air terhadap perkecambahan dan pengadaan semai

seringkali terlupakan. Kekurangan air pada tahapan ini dapat sangat mengurangi
keberhasilan pertanaman dan juga hasil pertanaman. Walaupun demikian
kekurangan air tidak perlu mengakibatkan pengurangan hasil ekonomik.
Beberapa jenis pohon (misalnya kopi) memperlihatkan suatu periode kekurangan
air untuk mendorong pembuangan, dan hasil gula dari tanaman tebu meningkat
oleh kekurangan air yang terjadi dekat sebelum pemasakan (Goldsworthy dan
Fisher, 1992). Sintesis klorofil dibatasi pada kekurangan air yang lebih besar.
Defisit air pada saat proses fotosintesa berlangsung, berakibat pada kecepatan
fotosintesa. Defisit air akan menurunkan kecepatan fotosintesa. Dari suatu
penelitian disimpulkan bahwa perluasan daun dibatasi oleh ketersediaan air
sehingga menurunkan efisiensi fotosintesa.
Menurut Yahya ( 1988 ) dalam Jumin ( 1992 ), jumlah siklus defisit (stres)
yang dialami tanaman pada kondisi yang berbeda akan menunjukkan pengaruh
yang berbeda pula. Tanaman kapas yang tumbuh pada " Growth Chamber "
(terkontrol) pada potensial air daun 16 bar mengakibatkan menutupnya stomata,
dibandingkan bila ditanam pada lapangan terbuka, hingga potensail daun
mencapai 27 bar belum menunjukkan menutupnya stomata walaupun tanaman
juga mengalami siklus kekeringan.
Pengaruh kekurangan kelembaban terhadap hasil panen bermacam-macam.
Selama perkembangan vegetatif, kekurangan yang bagaimanapun kecilnya
dapat mengurangi laju pelebaran daun dan LAI pada tingkat perkembangan
berikutnya. Kekurangan air yang parah dapat menyebabkan penutupan stomata
yang mengurangi pengambilan CO2 dan produksi berat kering. Kekurangan
yang terus menerus dapat menyebabkan penurunan laju fotosintesis sehingga
diperlukan beberapa hari setelah irigasi agar dapat kembali ke laju fotosintesis
aslinya.

KESIMPULAN

Air merupakan sumber air utama yang digunakan masyarakat untuk


memenuhi kebutuhan pertanian, dan lain-lain. Namun demikian saat ini sebagian
besar kebutuhan masih mengandalkan dari sumber air permukaan oleh karena
itu, sumber air permukaan perlu dikelola dengan baik sehingga mampu
memberikan manfaat bagi pengembangan sektor pertanian. Air Permukaan
adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai, danau, mata air,
terjunan air).
Air adalah semua air yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan
tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan dan
air laut yang dimanfaatkan di darat. Sedangkan pengertian sumberdaya air
adalah air dan semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk
sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan, namun tidak
termasuk kekayaan hewani yang ada di dalamnya.
Air demikian penting bagi kehidupan manusia, berbagai sektor dan
kepentingan lainnya. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah air pengairan, yang
sering bahkan menimbulkan berbagai masalah bagi berbagai kehidupan, jika
tidak mampu melestarikannya. Kemarau datang, keresahan petani lahan kering
semakin meningkat. Terbatasnya persediaan air irigasi untuk usaha taninya
selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini adalah terbatasnya
air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat terjadi
saat-saat kering. Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air
untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat
membantu diantaranya adalah sistem irigasi mikro, Teknologi Embung, Sistem
Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi Kendi.

DAFTAR PUSTAKA

Darsiharjo. 2005. Sumber Daya Alam. Hal:109


(http://hildaayunursanti.blogspot.co.id/2013_05_18_archive.html) diakses
pada tanggal 20maret 2016
Edward, Saleh dan Budi Indra Setiawan. 2001. Distribusi dan Profil Kelembaban
Tanah pada sistem Irigasi Kensi pada tanaman sayuran di Daerah Kering.
Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia vol.3 no.2. 2001. Hal. 94-98. PRIDA
Indonesia. 2006. Atasi Kekeringan Dengan Sistem Irigasi Kendi.
http://www.pidra-indonesia.org/index2.php? diakses pada tanggal 20maret
2016
Murtadho, J dan Said E. G. 1987.Penanganan Pemanfaatan Limbah Padat.
Melton Putra, Jakarta.
Puslit. 2002. Sumber Daya Air. Hal:3
(http://hildaayunursanti.blogspot.co.id/2013_05_18_archive.html)
Salman, Darajat. 2003. Artikel pada halaman utama Sinar Harapan : Embung,
Irigasi Kendi, dan Dam Parit. Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan
Pertanian dan Kehutanan Aceh Timur.
http://www.sinarharapan.co.id/index.html [diakses pada tanggal 21 Mei
2014].
Sunaryo, D.Suharjito dan M Sirait. 2004. Model Pengelolaan Kawasan
Permukiman Berkelanjutan Di. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu
Kabupaten Bogor World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia
Regional Office.
Wiyono, Joko. 2006. Musim Kemarau Datang, Sistem Irigasi Mikro di Lahan
Kering Jadi Pilihan. Tabloid Sinar Tani, Penulis dari BBP Mektan: Serpong.