Anda di halaman 1dari 22

Tugas Individu

Manajemen Ternak Perah

ANALISIS KELAYAKAN USAHA SAPI PERAH


Oleh:
Nama : Agus Siswoyo
Nim

: I111 14 316

Kelas : Genap (B)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Uaha pemeliharaan dan pengembangan sapi perah merupakan salah satu
usaha subsektor peternakan, dengan adanya komoditi di subsektor peternakan ini
dapat membantu memenuhi pemenuhan kebutuhan protein asal hewani
masyarakat Indonesia setiap harinya. Menurut perhitungan data oleh Dirjen
Peternakan bahwa konsumsi susu, masyarakat Indonesia selama beberapa tahun
ini terus mengalami peningkatan. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk
pun meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi protein
hewani khususnya konsumsi susu. Peningkatan ini haruslah dibarengi dengan
peningkatan populasi ternak penghasil susu termasuk populasi sapi perah yang
memproduksi susu sapi perah.
Pengembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia pada salah satunya
bertujuan meningkatkan produksi susu dalam negeri sebagai bentuk antisipasi
tingginya permintaan susu dipasaran. Hal ini memberikan peluang bagi peternak,
terutama yang bergerak dibidang peternakan sapi perah untuk lebih meningkatkan
produksi, sehingga import susu dapat dikurangi. Usaha ternak sapi perah adalah
usaha yang tidak terpengaruh fluktuasi pasar, yang secara selektif menggunakan
masukan teknologi sehingga secara proporsional mampu meningkatkan produksi,
namaun dalam praktek dilapangan peternak tidak sepenuhnya memahami
penggunaan teknologi pada bidang ini,sehingga hasil dari peternakan ini masih
belum mampu memenuhi kabutuhan konsumen dipasaran.
Segala bentuk usaha yang dilakukan haruslah mendatangkan sail yang
maksimal dan menguntungkan bagi peternak itu sendiri, sehingga dituntut usaha

yang mampu mensejahterakan segala aspek pendukung dan penunjang dalam


kegiatan industry tersebut, hal ini pula dituntut dalam usaha sapi perah, dengan
melakukan analisis terhadap usaha yang sedang dijalan tersebut.

BAB II
PROFIL USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH
A. Profil Usaha

Peternakan sapi perah UD.Biringkanaya Milk merupakan bentuk usaha


mandiri yang terletak di Desa Salutambun Kecamatan Buntumalangka Kabupaten
Mamasa. Usaha ini bergerak pada bidang produksi susu. Bangsa sapi perah yang
dikembangkan adalah Fries Holland. Sapi friesh Holland menjadi pilihan
dikarenakan memiliki Produksi susu rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih
kurang 300 kg per laktasi dan kondisi lingkungan pegunungan yang sesuai dengan
lingkungan asalnya, sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar. Usaha
peternakan sapi perah yang akan dijalankan merupakan usaha perseorangan (milik
pribadi) dengan menggunakan tenaga kerja sebanyak 2 orang. Tanggung jawab
terhadap

jalannya

usaha

sepenuhnya

akan

dilaksanakan

oleh

pemilik

usaha.dengan jumlah 24 ekor, terdiri dari 14 sapi betina dewasa, 3 ekor sapi
dewasa jantan ,1 ekor sapi dara,6 ekor pedet . Produk usaha peternakan sapi perah
adalah susu, dangke dan kompos. Proses produksi atau pemerahan masih
menggunakan tenaga manusia atau secara manual.
B. Pola Pembiayaan
Pola pembiayaan yaitu secara mandiri, di mana modal awal usaha berasal
dari pemilikn sendiri meskipun bantuan dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam
menunjang usaha ini. Keuntungan yang diperoleh sepenuhnya menjadi milik
pemilik usaha, dan diberikan kepada tenaga kerja sebagai upah. Biaya investasi,
yaitu berupa pembelian lahan, pembuatan kandang, dan peralatan kandang. Usaha
peternakan ini tidak melakukan mitra dengan perusahaan lain yang lebih besar.
BAB III
ASPEK PEMASARAN
A. Permintaan

Kesadaran masyarakat terhadap konsumsi susu, menjadikan susu sebagai


komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Permintaan susu
tumbuh sangat cepat, yang meningkat 14,01% selama periode antara tahun 2002
dan tahun 2007. Namun, di sisi lain produksi susu Indonesia hanya tumbuh 2.
Kesenjangan

antara

pertumbuhan

konsumsi

dengan

produksi

tersebut

menyebabkan jumlah impor susu Indonesia terus meningkat. Bila kondisi ini tidak
diwaspadai,

kesenjangan

tersebut

dapat

menyebabkan

kemandirian

dan

kedaulatan pangan (food soverignty) khususnya susu semakin jauh dari harapan,
yang pada gilirannya berpotensi masuk dalam food trap negara eksportir. Artinya
pemenuhan asupan nutrisi dari susu sangat tergantung dari kondisi pasar negara
eksportir.
Dari sisi internal, sebagaian besar (90%) produsen Susu Segar Dalam
Negeri (SSDN) merupakan peternak rakyat. Kemampuan produksi mereka masih
rendah, harganya relative lebih mahal, sehingga tidak bisa bersaing dengan susu
bubuk impor. Untuk meningkatkan produksinya, peternak sapi perah rakyat
menghadapi berbagai permasalahan, seperti skala usaha ternak yang relatif kecil,
kemampuan induk untuk memproduksi susu belum optimal, serta kemampuan
penanganan ternak dan produk susu segar yang relatif rendah
Secara umum, pasar susu di dalam negeri menghadapi dua permasalahan
mendasar yaitu, dari sisi hulu dan sisi hilir. Permasalahan dari sisi hulu terkait
dengan rendahnya populasi sapi perah dengan tingkat produktivitas rendah (11
liter/hari), skala usaha peternak rendah (rata-rata 2-3 ekor/ peternak), lahan hijau
semakin terbatas, biaya impor sapi perah dan bibitnya mahal , good farming
practices

belum

dilakukan

pendampingan belum optimal.

dengan

baik,

permodalan

kurang,

dan

Produk susu segar di Mamasa memiliki permintaan yang tinggi. Untuk


pemasaran susu sekarang ini mengalami peningkatan. Hal ini dapat dibuktikan
dengan susu yang diproduksi tidak dapat menutupi permintaan konsumen. Susu
ini dipasarkan di kabupaten Mamas sendiri dan di luar kabupaten Mamasa.
B. Penawaran
Penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain harga barang, tingkat
teknologi, jumlah produsen di pasar, harga bahan baku, serta harapan, spekulasi,
atau perkiraan.Di antara faktor-faktor di atas, harga barang dianggap sebagai
faktor terpenting dan sering dijadikan acuan untuk melakukan analisis penawaran.
Harga berbanding lurus dengan jumlah penawaran. Jika harga tinggi, maka
produsen akan berlomba-lomba menjajakan barangnya sehingga penawaran
meningkat. Sementara itu, jika harga turun, maka produsen akan menunda
penjualan atau menyimpan produknya di gudang sehingga jumlah penawaran
akan berkurang.
Pengembangan sektor peternakan khususnya usaha ternak sapi perah di
Indonesia saat ini perlu dilakukan karena kemampuan pasok susu peternak lokal
saat ini baru mencapai 25 persen sampai 30 persen dari kebutuhan susu nasional.
Besarnya volume impor susu menunjukkan prospek pasar yang sangat besar
dalam usaha peternakan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar sebagai
produk substitusi susu impor. Untuk itu masih perlu ditingkatkan.
Produk usaha peternakan sapi perah di Mamasa seperti susu belum bisa
menutupi permintaan masyarakat yang kian meningkat. Dengan demikian,
penawarannya masih rendah, sehingga masih perlu ditingkatkan.
C. Harga

Kualitas dari produk hasil usaha akan sangat menentukan harga. Apabila
kualitas dari produk sangat baik maka permintaan terhadap produk akan semakin
meningkat sehingga harga nya akan semakin mahal sebaliknya jika kualitas dari
produk tidak buruk maka permintaan terhadap produk akan sangat rendah
sehingga harga yang ditetapkan akan sangat murah .
Hasil pemerahan susu ternak kira-kira 10 liter perhari. Satu liter susu segar
dihargai Rp. 20.000. Jumlah sapi betina laktasi yaitu 14 ekor, sehingga pendapatan
perhari dari seekor sapi laktasi Rp. 100.000 Untuk penjualan sapi perah memiliki
harga yang berbeda berdasarkan fase pertumbuhannya, yaitu:
1. Sapi Jantan : Rp. 20.000.000,00
2. Sapi Dara : Rp. 15.000.000,00
Sedangkan untuk harga kompos yang dihasilkan dari pengolahan limbah
peternakan berupa feses sebanyak 20 kg, yaitu: Rp. 1.500/Kg. Jumlah sapi yang
dipelihara yaitu 19 ST, sehingga pendapatan perhari yaitu Rp. 30.019
D. Pemasaran
Pemasaran produk yang dihasilkan dapat dijual di pasar tradisional atau
konsumen bisa langsung datang ke tempat produksi untuk membeli produk
tersebut, baik produk susu segar ataupun yogurt. Pemasaran terhadap produk
dilaksanakan dilakukan oleh tenaga kerja atau dengan pemesanan terlebih dahulu
dan sebagian lagi akan dijual ke pasar-pasar tradisional.
Jalur pemasaran produksi susu sapi perah umumnya dimulai dari peternak
itu sendiri sebagai produsen I kemudian disetorkan ke Koperasi Produsen Susu
(KPS) sebagai organisasi yang menaungi sebagian besar peternak. Penyetoran
susu dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu penyetoran langsung oleh peternak ke
KPS atau penjemputan produksi susu oleh kontainer keliling dari KPS langsung

ke peternak. Penyetoran susu haruslah melalui tes kualitas dan kuantitas susu
terlebih dahulu. Umumnya, pengetesan dilakukan oleh pihak KPS atau pihak
independen yang ahli seperti dinas peternakan atau lembaga yang terkait.
E. Kendala yang dihadapi dalam Pemasaran
Kendala yang dihadapi dalam pemasaran, yaitu tidak tersedianya lokasi
pemasaran yang memadai (fasilitas masih rendah) karena berada didesa
pedalaman, pemerintah setempat belum menetapkan kebijakan yang mampu
memperkuat posisi tawar peternak, serta efisiensi produksi yang rendah karena
kurangnya teknologi yang berakibat pada ketidakmampuan peternak untuk
memenuhi permintaan masyarakat atau konsumen.

BAB IV
ASPEK PRODUKSI
A. Lokasi Usaha
Lokasi Peternakan UD.Biringkanaya Milk berada di Desa Salutambun
Kecamatan Buntumalangka Kabupaten Mamasa, dengan luas wilayah peternakan

1000 m2. Kondisi lokasi peternakan secara umum mempunyai suhu optimum 23 0C
290C, dengan kelembapan 68%, keadaan suhu yang demikian sesuai untuk
pemeliharaan ternak sapi perah. Hal ini sesuai dengan pendapt Ardy (2011) yang
menyatakan bahwa pemeliharaan sapi perah hendaknya pada suhu antara 27 0C 290C dan kelembapan udara antara 60 70 % dan curah hujan rata-rata diatas
1800 mm per tahun.
Batas wilayah desa borong loe yaitu sebelah utara desa kaloling, sebelah
selatan desa nipa- nipa, sebelah barat desa kalammassang, sebelah timur desa
korong batu. Lokasi kandang di UD. Hadi Putra berbatasan dengan lahan petanian
dan pemukiman penduduk dengan jarak sekitar 15 meter.
B. Fasilitas Produksi
Fasilitas produksi yang tersedia, yaitu kandang sapi perah, peralatan
kandang, perlengkapan, vaksin dan obat-obatan, instalasi air, dan listrik. Fasilitas
produksi diharapkan mampu menunjang kelancaran proses produksi.
Peralatan-peralatn untuk menunjang proses produksi berupa copper,
timbangan, karpet, karet, kendaraan, skop, sapu, ember, sikat, gerobak dorong,
tali, parang, sabit, bangku kecil, selang, drum plastik, cangkul dll.
Fasilitas produksi meliputi semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan
dalam proses produksi, untuk usaha peternakan sapi perah fasilitas produksi yang
akan digunakan diantaranya kandang yang terdiri atas kandang induk
laktasi,kandang pejantan , kandang darah dan kandang pedet peralatan kandang
dan peralatan lain seperti peralatan pakan dan minum,,peralatan susu,peralatan
sanitasi,dan bak air.
C. Luas Lahan

Luas lahan usaha peternakan sapi perah yaitu 1.000 m2, luas area
perkandangan, yaitu 300 m2. Luas lahan ataupun kandang ini termasuk kategori
luas untuk menampung sapi perah sebanyak 18 ekor.
Kandang pedet diketahui panjang kandang 12,21 m, lebar 4,65 m, tinggi 3
m, panjang tempat pakan 55 cm, lebar 27 cm, dan tinggi 25 cm. Menurut Soetarno
(1999), ukuran kandang individu (pedet ) adalah lebar 100 cm, panjang 200 cm,
dan tinggi 125 cm. Masing-masing diberi rak kecil untuk tempat pakan dengan
ukuran lebar 20 cm, panjang 25 cm, dan tinggi 15 cm.
Kandang sapi dara mempunyai ukuran panjang 1050 cm, lebar 780 cm dan
tinggi 265 cm sedangkan tempat pakannya mempuyai ukuran panjang 85 cm,
lebar 6 cm dan tinggi 45 cm. Kandang sapi dara dapat menggunakan kandang
laktasi individu. Kandang sapi terdiri dari dua macam yaitu kandang tambat dan
bebas. Kandang tambat yaitu sapi-sapi ditambatkan pada suatu tonggak yang
berada di dalam kandang dan umumnya dilengkapi dengan tempat makan dan
minum serta pembuangan air buangan dan temapt penampungan kotoran.
Kandang bebas yaitu sapi dapat gerak bebas ke tempat istirahat, ke tampat makan
dan tempat pemerahan. Kandang ini terdiri dari beberapa unit yaitu untuk makan,
minum, jalan-jalan, tempat istirahat, tempat penyimpanan bantalan tidur dan
tempat pemerahan (AAK, 1980).
Panjang tempat pakan 85 cm, lebar tempat pakan 60 cm, tinggi tempat
pakan 45 cm, panjang kandang 22,56 m, lebar kandang 5,05 m, tinggi kandang
292 cm. Menurut Soetarno (1999), tinggi kandang sekurang- kurangnya 225 cm,
tinggi wuwungan 100 cm, tinggi tritis minimal 200 cm dari permukaan lantai.
Tempat pakan dan minum penjangnya sekitar 1,5 m (tempat pakan 1 m dan

tempat minum 0,5 m) dan lebarnya masing-masing 0,5 m, tinggi bagian belakang
1 m. Berdasarkan uraian diatas maka dapat diaktakan kondisi kandang berada
dalam keadaan baik.
Siregar (1990) menjelaskan bahwa ketentuan-ketentuan dan ukuranukuran kandang sapi perah induk adalah panjang dan lebar untuk satu tempat sapi
perah induk masing-masing adalah 160 cm dan 135 cm, panjang tempat ransum
95 cm dan lebarnya 50 cm dengan kedalaman 40 cm, panjang tempat air minum
40 cm, lebar 50 cm dan kedalaman 40 cm dan kemiringan lantai kandang 0,5%.
Kandang untuk sapi dewasa pada umumnya adalah kandang konvensional,
sehingga setiap induk akan memperoleh ruangan dengan ukuran yang sama,
panjang 175 cm dan lebar 120 cm serta dilengkapi tempat makan dan minum,
masing-masing ukuran 8050 cm dan 5040 cm.
Kandang sapi jantan mempunyai ukuran panjang 1068 cm, lebar 515 cm
dan tinggi 293 cm sedangkan tempat pakan mempunyai ukuran panjang 85 cm,
lebar 60 cm dan tinggi 45 cm serta kemiringan kandang 1,2%. Sapi-sapi jantan
memerlukan yang luas dan kuat, selain itu perlu dilengkapi tempat exercise yang
dipagar kuat (AAK, 1980).

D. Bangunan dan Peralatan


Bangunan dalam hal ini adalah kandang. Bentuk kandang yang digunakan
adalah kandang tipe ganda. Jenis kandang yang dimiliki yaitu kandang pejantan,
kandang induk laktasi, kandang dara dan kandang pedet. Adapun peralatan
kandang yang umum digunakan, seperti skop, timbangan, sapu, ember, sikat,

gerobak, tali, parang dan kendaraan untuk pemasaran hasil produksi atau
operasional lain.
Menurut anonim ( 2011) Peralatan Penanganan Susu tersebut antara lain :
a. Peralatan di tempat Pemerahan
1. Ember Susu
Fungsi : Sebagai wadah penampungan susu yang diperah secara manual
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
2. Saringan Susu / Strainer
Fungsi : Benda-benda asing yang terikut air susu pada waktu pemerahan (rambut,
sel ephithel, kotoran lain), perlu disaring agar air susu benar-benar bersih.
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
3. Milk Can
Fungsi : Sebagai alat untuk menampung dan menyimpan sementara susu hasil
pemerahan, untuk segera dikirim ke Koperasi / MCC (Milk Collecting Center)
maupun ke Industri Pengolahan Susu yang jarak dan waktu tempuhnya tidak lebih
2 jam dari proses pemerahan. Alat ini berbahan stainless steel/aluminium,
berpenutup rapat dan umumnya berkapasitas 5, 10, 20, 30, 40, 50 liter.
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu

4. Mesin Pemerah Susu


Fungsi : Sebagai sarana untuk memerah susu secara pneumatis, dimana
pemerahan dilakukan dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu
diperah kedalam penampung melalui unit perah . Pemerahan dengan mesin perah
akan mengurangi kontak susu dengan tukang perah dan lingkungan kandang,

sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis. Selain itu juga jumlah sapi
dan kapasitas pemerahan jauh lebih tinggi
Spesifikasi :
Pada dasarnya semua mesin pemerah susu terdiri atas :
a. Pompa Vakum
b. Pulsator
c. Milk claw
d. Sedotan puting (Teat cup)
e. Wadah susu (Bucket)
E. Perkandangan
Kandang bagi sapi perah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal
saja, tetapi juga harus dapat memberi perlindungan dari segala aspek yang
mengganggu. Oleh karena itu, kandang harus dapat meminimalkan segala faktor
pengganggu pada sapi perah yang berada di dalamnya. Kandang yang digunakan
pada peternakan sapi perah adalah kandang tipe ganda, dimana penempatan sapi
dilakukan dengan dua baris yang sejajar dengan gang di tengah, kepala sapi
berlawanan arah. Usaha pemeliharan ini menggunakan jenis kandang yang
terpisah untuk sapi laktasi, sapi pejantan, sapi dara, dan sapi pedet untuk
memudahkan dalam pemeliharaan dan juga agar ternak tidak saling mengganggu
satu sama lain.
F. Tenaga Kerja
Tenaga kerja perlu pula pula diperhatiakan dalam mencapai efesiensi biaya
produksi.menurut pemgalaman peternak sapi perah di Indonesia. Satu orang
tenaga kerja pria dewasa akan mampu mengurus sampai dengan 6 ekor sapi perah
dewasa. Asal tenaga kerja itu tidak dibebani lagi untuk mencari ataupun menyabit

hijauan. Dalam analisa usaha, petenakan sapi perah yang tidak menggunakan
tenaga kerja upahan, melainnkan menggunakan tenaga peternak itu sendiri atau
tenaga keluarganya, maka tenaga itu harus diperhitungkan sebagaimana layaknya
tenaga kerja upahan.
Tenaga kerja terdiri dari 2 orang di Desa Borongloe Kecamatan Pajukukang
Kabupaten Bantaeng. Tenaga kerja tersebut merupakan anggota masyarakat yang
disekitar Desa Borongloe Tenaga kerja mengontrol pemeliharaan dan bertanggung
jawab dalam proses pemerahan. Setiap pagi dan sore tenaga kerja tersebut
membersihkan kandang dan melakukan pemerahan susu sapi dan mengumpulkan
limbah berupa feses untuk diolah lebih lanjut menjadi Kompos.
G. Teknologi
Teknologi merupakan salah satu hal penting dalam suatu usaha agar usaha
itu bisa berjalan secara efektif dan efisien. Namun, pada usaha peternakan sapi
perah ini masih kekurangan teknologi canggih. Pemerahan dilakukan hanya
dengan menggunakan tangan (secara manual).
Teknologi yang di gunakan pada peternakan pada umumnya masih
merupakan teknologi seperti sistem sanitasi dari tingkat kebersihan yang masih
manual, serta proses pemerahan kami menggunakan tenaga kerja manusia dengan
menggunakan kedua tangan untuk memerah susu. Namun seiring berkembangnya
teknologi teknik pemerahan susu secara manual bergeser dengan menggunakan
teknologi mesin sehingga mempermudah melakukan proses pemerahan dan
tenaga kerja yang di butuhkan jauh lebih sedikit
H. Proses Produksi
Proses produksi dimulai dari pemerahan sapi perah yang sedang laktasi.
Setelah proses pemerahan, susu yang dihasilkan kemudian segera dipanaskan
untuk dijual sebagai susu segar. Produk susu terebut dapat diolah menjadi dangke

dan keripik dangke. Selain susu, limbah atau by product dari sapi perah juga
diolah menjadi pupuk kandang atau kompos.
Sebelum melakukan pemerahan dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan
kesehatan sapi perah dan menyediakan peralatan yang akan digunakan dalam
pemerahan dan mencuci lantai kandang serta membersihkan kandang dari setelah
itu lalu mensterilkan tubuh dan tangan lalu melicinkan putting dengan diolesi
minyak kelapa atau vaseline sehingga memudahkan proses pemerahan dan tidak
terasa sakit. Masa produksi sapi perah berlangsung 300 hari selama masa laktasi.
I. Kendala yang dihadapi dalam Proses Produksi
Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses produksi, yaitu kurangnya
teknologi canggih disebabkan oleh kurangnya modal yang dapat mempengaruhi
efisiensi produksi. Selain itu, pakan masih dibeli sehingga butuh modal yang
cukup besar dalam pengadaan pakan.

Ada beberapa kendala yang di hadapi dalam proses produksi diantaranya:


Terserang penyakit tympani(kembung) dan cacing.
Ternak menjadi stress mengakibatkan nafsu makan menurun sehingga

menyebabkan prosuksi susu menurun.


Pada musim kemarau hijauan menjadi kering mengakibatkan sulitnya di
dapatkan hijauan segar sehingga kurangnya nutrisi yang di terima dan
mengakibatkan produksi susu yang di dapatkan berkurang.

BAB V
ASPEK KEUANGAN
A. Komponen dan Struktur Biaya
Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga
yang tidak dapat menutupi biaya akan mengalami kerugian. Sebaliknya, apabila
suatu tingkat harga melebihi semua biaya, baik biaya produksi, biaya operasi,
maupun biaya non operasi akan menghasilkan keuntungan. Selanjutnya dikatakan
bahwa biaya variabel adalah biaya berubah-ubah disebabkan karena adanya
perubahan jumlah hasil. Biaya tetap adalah biaya-biaya yang tidak berubah-ubah
(konstan) untuk setiap tingkatan atau hasil yang diproduksi. Biaya total adalah
merupakan seluruh biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan atau dengan kata

lain biaya total ini merupakan jumlah dari biaya variabel dan biaya tetap (Swastha
dan Sukotjo, 1997).
Pada usaha pemeliharaan sapi perah ini yaitu biaya tetap terdiri dari biaya
penyusutan kandang dan penyusutan peralatan. Sedangkan, biaya variabelnya
terdiri dari biaya pembelian sapi, biaya pakan, biaya konsentrat, biaya vaksin,
biaya gaji, dan lain-lain.
B. Perhitungan Analisis Kelayakan Usaha
Analisa kelayakan merupakan suatu evaluasi usaha yang secara
menyeluruh sebagai dasar persetujuan layak tidaknya suatu usaha ditinjau dari
besar kecilnya arus penerimaan dan arus pengeluaran. Layak tidaknya usaha
peternakan sapi perah ini dapat diketahui melalui analisi usaha yang dilakukan.

Tabel 1. Analisis Keuangan dan Kelayakan Usaha pada Peternakan Sapi


Perah.
No

Uraian

Biaya
a. Biaya Variabel
Pembelian Sapi
Hijauan
Konsentrat
Vaksin
Listrik
Tenaga Kerja
Biaya Lain-lain
Total Biaya Variabel
b. Biaya Tetap

Satuan

Nilai

ST
Kg
Kg
Unit

Rp.485.000.000,00
Rp.238.500.000,00
Rp.49.680.000,00
Rp.1.000.000,00
Rp.1.000.000,00
Rp.15.000.000,00
Rp.500.000,00
Rp.790.680.000

Orang

Penyusutan Kandang

Rp. 821.917,8

Penyusutan Peralatan

Rp. 1.643.835,6

Total Biaya Tetap

Rp. 2.465.753,4

Total Biaya Produksi


PRODUKSI

Rp. 793.145.753,42

Susu
Liter
Kompos
Kg
Penjualan sapi
Rp
Total Penerimaan
Pendapatan (B-A)
Sumber : UD. Biringkanaya Milk, 2016

Rp.630.000.000,00
Rp.171.000.000,00
Rp.135.000.000,00
Rp. 936.000.000,00
Rp. 142.854.246,58

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Usaha sapi perah di Desa Salutambun Kecamatan Buntumalangka
Kabupaten Mamasa selama 300 hari masa laktasi dapat dikatakan layak
berdasarkan hasil perhitungan analisis usaha yang telah dilakukan dan diketahui
keuntungan yang diperolehsebesar Rp. 344.854.247.6
B. Saran
Analisis kelayakan usaha peternakan sapi perah di Desa Salutambun
Kecamatan Buntumalangka Kabupaten Mamasa sebaiknya dilakukan sebelum
memdirikan usaha peternakan sapi perah untuk mengetahui kelayakan suatu usaha
untuk dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA
AAK, 1980. Beternak Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta
.
Abiyoso n Hengky, 1994. Strategi Pengembangan Wilayah. PT. Gelora Aksara
Pratama. Jakarta.
Dammodaran, 1997. Analisis Proyek. Salemba Empat.
Departemen pertanian RI, 2012. Hasil Survei Pendataan Sapi dan Kerbau
(PSPK).
Farid, M, dan Heny, S. 2011. Pengembangan susu segar dalam negeri untuk
pemenuhan kebutuhan susu nasional. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan.
Vol 5(2). Hal 196-212.
Siregar, S. 1990. Sapi Perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisa Usaha.
Penebar Swadaya. Jakarta
Soetarno, Y. 1999. Manajemen Ternak Perah. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

LAMPIRAN
Menghitung analisi usaha sapi perah masa laktasi 300 hari:
Diketahui :
Harga Pakan

= Rp. 500/Kg (10 % BB)

Harga Konsentrat = Rp. 400/Kg (2 % BB)


Harga Sapi
a.
b.
c.
d.

Sapi Betina
Sapi Jantan
Sapi Dara
Sapi Pedet

=
: Rp 25.000.000/ekor (800 Kg)
: Rp 20.000.000/ekor (1000 Kg)
: Rp 15.000.000/ekor (500 Kg)
: Rp 10.000.000/ekor (200 Kg)

Harga Susu

= Rp. 10.000/ liter

Harga Kompos

= Rp. 500.000 (4ton/tahun) atau Rp. 1.500/Kg

Sapi betina
Sapi jantan
Sapi dara
Sapi pedet

= 14 ekor x 1 ST = 14 ST
= 3 ekor x 1 ST = 3,0 ST
= 1 ekor x 0,5 ST = 0,5 ST
= 6 ekor x 0,25 ST = 1,5 ST

Total

= 19 ST

Biaya Investasi
a
b
c

Pembelian Tanah 1000 m2


Pembuatan Kandang 3m2 x 10
Peralatan Kandang
Total

= Rp. 30.000.000,= Rp. 20.000.000,= Rp. 10.000.000,= Rp. 60.000.000,-

Biaya Tetap
a
b

Penyusutan Kandang untuk 20 tahun = Rp. 821.917,8


Penyusutan Peralatan untuk 5 tahun = Rp. 1.643.835,6
Total
= Rp. 2.465.753,4

Keterangan :
a

Penyusutan kandang = Total biaya pembangunan kandang


Umur ekonomis kandang
= Rp. 20.000.000,00
(20 tahun/365 hari)

x 300 hari

= Rp. 20.000.000,00
(20 tahun/365 hari)

x 300 hari

= Rp. 821.917,8
b

Penyusutan kandang

= Total biaya pembangunan kandang


Umur ekonomis kandang
= Rp. 10.000.000,00
(5 tahun/365 hari)

x 300 hari

= Rp. 10.000.000,00
(5 tahun/365 hari)

x 300 hari

= Rp. 1.643.835,6
Biaya Variabel
a

Pembelian Sapi
Sapi betina = 14 ST x Rp. 25.000.000, Sapi jantan = 3 ST x Rp. 20.000.000, Sapi dara = 1 ST x Rp. 15.000.000, Sapi pedet = 6 ST x Rp. 10.000.000,Total

Hijauan
Sapi betina
Sapi jantan
Sapi dara
Sapi pedet

=Rp.350.000.000,= Rp. 60.000.000,= Rp. 15.000.000,= Rp. 60.000.000,=Rp.485.000.000,-

= 14 ST x 10% x 800 kg x 300 hari x Rp.500


= 3 ST x 10% x 1000 kg x 300 hari x Rp.500
= 1 STx 10% x 500 kg x 300 hari x Rp.500
= 6 STx 10% x 200 kg x 300 hari x Rp.500

=Rp.168.000.000,= Rp. 45.000.000,=Rp. 7.500.000,= Rp. 18.000.000,-

Total

=Rp.238.500.000,-

b. Konsentrat

Sapi betina
Sapi jantan
Sapi dara
Sapi pedet

= 14 ST x 2% x 800 kg x 300 hari x Rp.400


= 3 ST x 2% x 1000 kg x 300 hari x Rp.400
= 1 ST x 2% x 500 kg x 300 hari x Rp.400
= 6 STx 10% x 200 kg x 300 hari x Rp.400

= Rp. 26.880.000,= Rp. 7.200.000,= Rp. 1.200.000,= Rp. 14,400.000,-

Total

= Rp. 49.680.000,-

c Vaksin
d Listrik & BBM Rp 100.000 x 10 bulan
e Tenaga Kerja (Rp. 750.000 x 2 Orang x 10 bulan)
f Biaya Lain-lain

= Rp. 1.000.000,= Rp. 1.000.000,= Rp. 15.000.000,= Rp. 500.000,-

Total biaya variabel

Rp. 790.680.000,-

Total biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Variabel


= Rp. 2.465.753,42 + Rp. 790.680.000
= Rp. 793.145.753,42
Penerimaan (benefit)
a
b
c
d
e

Susu
Kompos
Penjualan S.Jantan
Penjualan S.Dara
Penjualan S.Pedet

=14ekor x 10liter x 300 hari x Rp.15.000=Rp.630.000.000,= 19 ST x 20 kg x 300 hr x Rp.1.500


=Rp. 171.000.000,= 3 x Rp.20.000.000
= Rp.60.000.000
=1 x Rp.15.000.000
= Rp.15.000.000
=6 x Rp.10.000.000
= Rp. 60.000.000,-

Total

= Rp. 936.000.000,-

Total Benefit = Total penerimaan Total Biaya Produksi


= Rp. 936.000.000 - Rp. 793.145.753,42
= Rp. 142.854.246,58