Anda di halaman 1dari 16

Jenis Ternak

o
o
o
o
o
o
o
o
o

Home Artikel ORGAN REPRODUKSI PADA SAPI JANTAN

ORGAN REPRODUKSI PADA SAPI


JANTAN
Thomas Saputro 12/06/2014
Reproduksi merupakan proses penting bagi semua bentuk kehidupan. Tanpa melakukan
reproduksi, tak satu spesies pun didunia ini yang mampu hidup lestari, begitu pula dengan hewan
ternak baik betina maupun jantan. Fungsi alamiah seekor hewan jantan adalah menghasilkan selsel kelamin jantan atau spermatozoa yang hidup, aktif dan potensial fertil, dan secara sempurna
meletakakannya ke dalam saluran kelamin betina. Inseminasi buatan hanya memodifiser cara dan
tempat peletakan spermatozoa. Semua proses-proses fisiologik dalam tubuh hewan jantan, baik
secara langsung maupun tidak langsung, menunjang produksi dan kelangsungan hidup
spermatozoa. Akan tetapi pusat kegiatan kedua proses ini terletak pada organ reproduksi hewan
jantan itu sendiri.
Organ reproduksi hewan jantan pada umumnya dapat dibagi atas tiga komponen: (a) organ
kelmin primer yaitu gonad jantan, dinamakan testis atau testiculus (jamak: testes atau testiculae)

disebut juga orchis atau didymos (b) sekelompok kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap yaitu
kelenjar-kelanjar vesikulares, prostata dan Cowper, dan saluran-saluran yang terdiri dari
epididylis dan vas deferen dan (c) alat kelamin luar atau kopulatoris yaitu penis.
A. Organ Reproduksi Jantan
Sistem reproduksi jantan terdiri dari testis yang dikelilingi tunika vaginalis dan selubung
testis, epididymis, duktus deferen, kelenjar aksesori (kelenjar vesikulosa, prostat dan
bulbouretralis), urethra, dan penis yang dilindungi oleh prepusium (Dellmann, 1992).

Gambar 1. Organ Reproduksi Jantan


B. Testis
Testis adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, sebagaimana halnya ovarium
pada ternak betina. Testis dikatakan sebagai organ primer karena berfungsi menghasilkan gamet
jantan (spermatozoa) ( Saputro et al, 2008). Tahapan spermarogenesis meliputi spermatogonium,
spermatositprimer, spermatosit skunder, spermatid muda, dan spermatid matang ( Susatyo dan
Chaeri, 2009).
Testis dibungkus oleh kapsul putih mengkilat (tunica albuginea) yang banyak
mengandung serabut syaraf dan pembuluh darah yang terlihat berkelok-kelok. Di bawah tunica
albuginea terdapat parenkim yang menjalankan fungsi testis. Parenkim membentuk saluran yang
berkelok-kelok (Frandson, 1992). Secara sentral, septula testis berlanjut dengan jaringan ikat
longgar dari mediastinum testis. Kuda jantan, mediastinum testis terbatas pada kutub kranial
testis, tetapi pada hewan piaraan umumnya menempati posisi sentral. Jaringan ikat yang mengisi

ruang intertubular mengandung pembuluh darah dan limfe, fibrosit, sel-sel mononuklear bebas
dan sel interstisial endokrin (sel Leydig) (Dellman, 1992).
Sel leydig adalah sel diantara sel sertoli. Fungsi sel ini adalah memberikan respon FSH
dengan mensintesa dan mensekresi testosteron dalam pola yang tergantung pada dosis. Selain
reseptor LH, ditemukan pula reseptor prolaktin dan inhibin di dalam sel Leydig. Prolaktin dan
inhibin memfasilitasi aktivasi stimulasi yang dilakukan oleh LH pada produksi testosteron,
namun keduanya tidak bisa melakukannya sendiri-sendiri (Widjanarko, 2011).
Sel-sel sertoli mempunyai fungsi khusus dalam proses spermatogenesis. Fungsi selsel
sertoli adalah (1) memberi lingkungan tempat khusus untuk berkembangnya selsel germinal.
Sel ini mensekresikan cairan yang membasahi selsel germinal, dan juga mensekresi cairan
tambahan ke lumen tubulus seminiferus untuk menyediakan nutrisi bagi sperma yang
berkembang dan baru dibentuk, (2) Memainkan peranan dalam perubahan spermatosit menjadi
sperma suatu proses yang disebut spermiasi, (3) Mensekresi bebrapa hormon yang memiliki
fungsi penting antara lain factor inhibisi muller (FIM) disekresi oleh testis selama perkembangan
janin untuk menghambat pembentukan tuba fallopi dariductus muller, ekstradiol merupakan
hormon kelamin feminism yang penting, Inhibin yang merupakan umpan balik dari inhibisi pada
kelenjar hypophysis untuk anterior untuk mencegah sekresi yang berlebihan dari hormon
perangsang folikel (Dellmann, 1992). Hasil pengamatan diperoleh bahwa histologi testis hewan
jantan terdiri membran basement, tubulus seminiferus yang merupakan kumpulan dari sel sertoli,
dan sel leydig yaitu selsel yang terdapat diantara sel sertoli. Apabila dibandingkan antara
literatur dengan hasil paktikum, diketahui hasilnya sesuai yaitu gamabaran testis secara histologi
yaitu membran basement, sel leydig, sel sertoli, dan tubulus seminiferus.

Gambar 2.Testis
C. Epididymis
Epididymis merupakan pipa panjang dan berkelokkelok yang menghubungkan vasa
eferensia pada testis dengan ductus deferens. Epididymis mempunyai empat fungsi utama, yaitu
pengangkutan, penyimpanan, pemasakan, dan pengentalan (konsentrasi) sperma (Frandson,
1992). Atas dasar criteria histologi, histokimia dan ultrastruktur, epididymis dapat dibagi dalam
beberapa segmen. Penyebaran dan jumlahnya khas untuk tiap spesies. Secara umum, bagian
proksimal dari epididymis (kepala dan badan) berperan dalam proses pemasakan spermatozoa,
sedangkan bagian ekor epididymis berperan dalam penyimpanan spermatozoa. Di daerah ini
45% spermatozoa disimpan. Spermatozoa yang meninggalkan testis, selain belum mampu
bergerak dan bersifat tidak fertil, berbeda dengan spermatozoa yang telah melalui epididymis
yang telah memiliki sifat mampu bergerak dan fertil. Selama persinggahan dalam duktus
epididimidis, spermatozoa mengalami serangkaian perubahan morfologik dan fungsional yang
mengarah pada pemilikan kapasitas pembuahan menjelang mencapai ekor epididymis.
Perubahan status fungsional spermatozoa tercermin dalam :
1. perkembangan motilitas progresif,
2. modifikasi proses metabolisme,
3. perubahan sifat permukaan membran plasma, aktivitas ikatan molekul pada selaput yang
diperlukan untuk pengenalan proses selama pembuahan,
4. stabilisasi membran plasma melalui oksidasi pada gugus sulfhidril yang terkait,
5. gerakan ke arah ekor dan akhirnya kehilangan tetes sitoplasma, yaitu sisa sitoplasma spermatid.
Setelah masak, spermatozoa dewasa disimpan dalam ekor epididymis untuk jangka waktu lama,
lebih lama daripada bila disimpan dalam suhu yang sama secara in vitro (Dellmann, 1992).
Spermatozoa di dalam Epididymis mengalami beberapa proses pematangan, seperti
mendapat kemampuan untuk bergerak. Epididymis merupakan saluran reproduksi yang amat
penting, karena saluran sangat menentukan kemampuan fertilitas sperma yang dihasilkan.
Adapun fungsi pokok Epididymis adalah alat transfor, pendewasaan, penimbunan sperma dan
sekresi cairan Epididymis. Sperma melewati Epididymis berkisar antara 9 sampai 13 hari yang
dialirkan oleh cairan testis, aktivitas silia epitel dari duktus deferens dan oleh kontraksi otot
dinding saluran Epididymis. Bagian cauda epididymis nampaknya merupakan organ khusus
untuk penimbunan sperma , karena sekitar 75% dari total sperma Epididymis berada dibagian ini

dan kondisi lingkungannya memberikan kemampuan fertilitas yang lebih tinggi dibanding
dibagian lain. Sperma yang berasal dari bagian cauda Epididymis memberikan persentase
kebuntingan 63% dan lebih tinggi dibanding sperma yang berasal dari bagian caput Epididymis
yang hanya 33,33% (Soeroso dan duma, 2012).

Gambar 3. Epididymis
D. Duktus deferens
Duktus deferens meninggalkan ekor epididymis bergerak melalui kanal inguinal yang
merupakan bagian dari korda spermatik dan pada cincin inguinal internal memutar kebelakang,
memisah dari pembuluh darah dan saraf dari korda. Selanjutnya dua duktus deferens mendekati
uretra, bersatu dan kemudian ke dorso kaudal kandung kencing, serta dalam lipatan peritonium
yang disebut lipatan urogenital (genital fold) yang dapat disamakan dengan ligamentum lebar
pada betina (Frandson, 1992). Lipatan mukosa duktus deferens dibalut oleh epitel silinder
banyak lapis, sebelum mencapai akhir saluran, epitel beruah menjadi silinder sebaris. Dekat
Epididymis, sel-sel silinder memiliki mikrovili pendek dan bercabang. Jaringan ikat longgar pada
propria-submukosa banyak mengandung pembuluh darah, fibroblas dan serabut elastis. Tunika
muskularis pada bagian terminal duktus deferens terdiri dari susunan bervariasi dari berkas otot
polos, yang dikelilingi oleh jaringan ikat dengan banyak pembuluh darah dari tunika adventisia
(Dellmann, 1992).

Gambar 4. Ductus deferens


E. Penis
Organ kopulasi pada hewan jantan adalah penis, dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu glans
atau alat gerak bebas, bagian utama atau badan dan krura atau akar yang melekat pada ischial
arch pada pelvis yang tertutup oleh otot ischiocavernosus. Struktur internal penis merupakan
jaringan kavernosus (jaringan erektil) yang terdiri dari sinus-sinus darah yang dipisahkan oleh
lembaran jaringan pengikat yang disebut septa, yang berasal dari tunika albuginea, kapsula
berserabut di sekitar penis (Frandson, 1992).
Ruang antara tunika albuginea dan jalinan trabekula diisi oleh jaringan erektil. Relaksasi selsel otot menyebabkan penis memanjang dan keluar dari selubung prepusiumnya yang sering
terjadi pada saat kencing. Ruang kavernosa menerima suplai utama darah dari arteri berbentuk
mengulir (helical arrangement), sering disebut arteria helisine (arteria helicinae). Pengenduran
sel-sel otot polos dalam arteria helisine menyebabkan peningkatan aliran darah ke dalam ruangruang corpora kavernosa. Peningkatan volume darah akan menekan vena-vena tepi, sehingga
akan memperkecil aliran darah keluar, sementara mengisi ruang-ruang jaringan erektil dalam
corpora kavernosa, spongiosa penis dan glans penis (Dellmann, 1992).

Gambar 5. Penis
F. Kelenjar-Kelenjar Tambahan
1. Kelenjar vesicularis
Pada sapi kelenjar ini sepsang; dari luar kelihatan jelas berlobuli; letaknya sebidang
dengan ampulla vas deferens tetapi ada di sebelah lateral, jadi kedua ampula itu diapit oleh kedua
kelenjar vesikuralis (Partodiharjo, 1987;38).
Sekresi kelenjar vesikularis merupakan 50% dari volume total dari suatu ejakulasi yang
normal. Jadi kalau pejantan sapi itu ejakulasinya 5 cc maka 2 cc berasal dari kelenjar
vesikularis (Partodiharjo, 1987;38).
Hasil sekreta yang bersifat gelatin, putih atau kekuningan dari dari kelenjar vesikulosa
merupakan 25% sampai 30% dari seluruh ejakulat sapi. Sekreta ini kaya akan fruktosa yang
berperan sebagai sumber energi spermatozoa yang telah diejakulasikan (Dellman, 1992;472).
2. Kelenjar prostate
Kelenjar prostat pada sapi ada sepasang, bentuknya bulat dan jauh lebih kecil daripada
kelenjar vesikularis. Sekresi dari kelenjar ini melalui beberapa muara kecil masuk ke dalam
urethra kira-kira pada jarak 19 cm kaudal dari muara kelenjar vesikularis (Partodiharjo,
1987;38).
Kelenjar prostat merupakan kelenjar tubuloalveolar, berkembang dari epitel uretrha
pelvis. Secara topografik dibedakan dua bagian; bagian padat kelenjar atau bagian luar (corpus
prostat) , dan bagian yang menyebar atau bagian dalam (pars disseminata prostatae). Bagian

luar menutup bagian dorsalnya saja. Pars dissemnata terletak dalam propia-submukosa urethra
pelvis (Dellman, 1992;472).
Kontribusi sekreta kelenjar prostat terhadap volume total ejakulasi bervariasi, tergantung
pada spesies. Pada ruminansia 4%-6%, kuda jantan 25%-30%, dan babi jantan 35%-60%. Salah
satu fungsi kelenjar prostat adalah menetralisrkan plasma mani, membuatnya asam dengan
akumulasi metabolit karbondioksida dan asam laktat, dan untuk merangsang gerak aktif
spermatozoa dalam ejakulat (Dellman, 1992;474).
3. Kelenjar cowper
Terdapat sepasang kelenjar bulbouretralis (kelenjar cowper) terletak dorsoventral uretra
dalam rongga pelvis. Bersifat sebagaikelenjar tubulus majemuk (babi, kucing, dan kambing
jantan), atau tubuloalveolar (kuda, sapi dan domba jantan), anjing tidak memilikinya (Dellman,
1992;474).
Pembuluh sekresi dari kedua kelenjar ini bertemu dan bersatu kemudian menuju ke
urethra; setelah 2-3 cm dari tempat pertemuan, pembuluh itu bermuara ke dalam urethra. Baik
kelenjar prostat maupun cowper terbentuk dari lobuli dan tiap-tiap lobuli berbentuk tabung. Tiaptiap lobuli dipisahkan oleh suatu dinding pemisah yang mengandung serabut-serabut urat daging
licin. Urat dagung ini berkontraksi secara tiba-tiba dan sekresinya memancar keluar. Sel-sel
sekretorinya berbentuk kubus dengan inti di dasarnya dan beberapa bintik-bintik di sekitar inti
(Partodiharji, 1987;39).
Kelenjar berfungsi menghasilkan suatu cairan yang dapat membersihkan urethra pada
saat semen terlepas (Girisonta, 1981;82).
Hasil sekresi yang bersifat mukus dam mirip protein kelenjar bulbouretralis, disekresikan
mendahului proses ejakulasi pada ruminansia, berperan menetralisirkan lingkungan urethra dan
melumasi urethra serta vagina. Pada babi jantan, hasil sekresi mukous yang kaya akan asam
sialik (sialik acid) merupakan sebagian dari ejakulat (15%-30%) dan kemungkinan ikut
membantu menutup serviks dalam menghindari kehilangan meni (Dellman, 1992;477).
Sebelum kopulasi, sering terlihat adanya tetesan-tetesan cairan dalam penis yang berasal
dari cowper. Semua kelenjar accesor bersifat aprokrine, artinya: sebagian besar dari isi sel
sekretorinya turut keluar pada saat sel itu mengeluarkan sekresinya (Partodiharjo, 1987;39).
4. Kelenjar Vesikularis

Kelenjar vesicularis berjumlah sepasang yang terletak di kanan-kiri ampula duktus


deferens. Pada ruminansia kelenjar ini besar dan susunannya berlobus-lobus. Saluran keluar dari
kelenjar ini bermuara ke dalam urethra, secara umum muaranya menjadi satu dengan ampula
sehingga ada 2 muara di kiri dan kanan. Muara ini disebut ostium ejaculatorium. Kadang-kadang
muaranya terpisah, yaitu muara kelenjar vesicularis berada di bagian cranial dari kelenjar
ampula. Sekresi kelenjar ini banyak mengandung protein, potasium, fruktosa, asam sitrat, asam
askorbut, vitamin dan enzim, warnanya kekuning-kuningan karena banyak menagndung flavin
dengan pH 5,7-6,2. Sekresi kelenjar vesicularis pada sapi merupakan 50% dari total volume
ejakulasi.
5. Kelenjar Prostata
Pada sapi kelenjar prostata berjumlah sepasang, berbentuk bulat dan tidak berlobus.
Kelenjar prostata terdiri dari 2 bagian, badan prosatata dan prostata yang cryptik. Bagian badan
prosatata terdapat di belakang ampula dekat diatas urethra pars pelvina, sehingga disebut corpus
prostata. Kelenjar prostata berfungsi sebagai penghasil cairan yang encer dan mengandung ion
organik (Na, Cl, Ca, Mg) dengan pH lebih besar dari 7,0.
6. Kelenjar bulbourethralis
Kelenjar bulbourethralis berjumlah sepasang, terdapat di sebelah kanan dan kiri urethra
bulbourethralis, dibawah musculus bulbo spongiosus. Pada sapi kelenjar ini sebesar buah kemiri,
padat dan mempunyai kapsul. Kelenjar bulbourethralis berfungsi sebagai penghasil getah kental
yang berfungsi sebagai pembersih saluran reproduksi dari sisa-sisa urine.
Kelenjar vesicular. Kelenjar ini di sebut juga sebagai kelenjar seminal vesicles,
merupakan sepasang kelenjar yang mempunyai lobuler, mudah dikenali karenamirip segerombol
anggur, berbonggol bonggol. Panjang kelenjar ini sama pada beberapa jenis ternak seperti
kuda, sapid an babi yaitu berkisar 13 15 cm, tetapi lebar dan ketebalannya berbeda, kelenjar
vesicular pada sapi mempunyai ketebalan dan lebar hamper separuh dari yang ada pada babi dan
kuda. Domba mempunyai kelenjar vesicular jauh lebih kecil, mempunyai panjang kira kira 4
cm. saluran saluran ekskretori kelenjar vesicular terletek di dekat bifurcation ampulla dengan
uretra. Pada sapi, kelenjar vesicular memberikan sekresinya lebih dariseparuh volume total dari
semem dan pada jenis jenis ternak lainnya rupanya juga sama sebagai mana pada sapi. Sekresi
kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran organic yang unik, yakni tidak dijumpai pada

substansi substansilain di mana saja ada tubuh. Campuran campuran anorganik ini di
antaranya adalah fructose dan sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa sapid
a spermatozoa domba, tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar
vesikula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate buffer yang penting
sekali dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah, karena jika terjadi perubahan pH
semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi spermatozoa.
Kelenjar Prostate. Kelenjar prostate merupakan kelenjar tunggal yang terletak
mengelilingi dan sepanjang uretra tepat dibagian posterior dari lubang ekskretoris kelenjar
vesicular. Badan kelenjar prostate jelas dapat dilihat pada ternak yang dewasa, pada sapid an
kuda dapat di raba melalui palpasi parectal. Pada domba, seluruh prostatenya mengelilingi otot
daging uretra. Ekskresi kelenjar prostate hanya sebagian kecil saja menyusun pada cairan semen
pada cairan semen pada beberapajenis ternak yang diteliti. Tetapi beberapa laporan menunjukkan
bahwa setidak tidaknya sumbangan kelenjar prostate sebagaimana substantial kelenjar
vesicular pada babi. Kelenjar prostate mengandung banyak ion ion anorganik, meliputi Na, Cl,
dan Mg semuanya dalam larutan.
Kelenjar Bulbourethral atau Cwoper. Kelenjar bulborethal terdiri sepasang kelenjar yang
terletak sepanjang uretra, dekat dengan titik keluarnya uretra dari ruang pelvis. Kelenjar ini
mempunyai ukuran dan bentuk seperti bulatan yang berdaging dan berkulit keras, pada sapi lebih
kecil dibandingkan pada babi. Pada sapi terletek mengelilingi otot daging bulbospongiosum.
Sumbangannya pada cairan semen hanya sedikit. Pada sapi, sekresi kelenjar bulbourethral
membersihkan sisa sisa urine yang ada dalam uretra sebelum terjadi ejakulasi. Sekresi ini dapat
di lihat sebagai tetes tetes dari preputilium sesaat sebelum ejakulasi. Pada babi, sekresinya
mengakibatkan sebagian dari semen babai menjadi menggumpal. Gumpalan ini dapat dipisahkan
jika semen babai akan digunakan dalam inseminasi buatan. Selama perkawinan secara alam,
gumpalan gumpalan ini menjadi sumbat yang dapat mencegah membanjirnya semen keluar
melalui canalis cervicalis menuju kedalam vagina dari babi betina.
G. Organ Kopulatoris
1. Penis
a.

Ada dua tipe penis :

1) Fibroellastic (sapi, domba, babi; ada m. retractor penis)

2) Fibrovascular/Cavernosa (kuda, primata)


b. Bagian-bagian Penis
1) Corpus Penis
2) Musculus Retractor Penis
3) Urethra
4) Glans Penis
5) Processus Urethralis

Gambar 6. Bentuk Penis


PENUTUP

A. Kesimpulan
Bagian-bagian dari alat reproduksi jantan dapat dibedakan menjadi testis, epididymis, ductus
deferen dan penis. Fungsi testis adalah untuk menghasilkan sel jantan atau spermatozoa dan
menghasilkan hormon androgen. Fungsi epididymis adalah sebagai transpot, sebagai saluransaluran untuk pemasakan spermatozoa, pemekatan atau pemadatan konsentrasi spermatozoa, dan
penimbunan sperma. Fungsi penis adalah untuk lewatnya urine dan menyemprotkan sperma ke
dalam alat reproduksi betina (alat kopulasi). Faktor yang mempengaruhi ukuran dari alat
reproduksi ternak yaitu umur, berat ternak, jenis, spesies dan faktor genetika.

DAFTAR PUSTAKA
Dellmann, Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner II. Edisi ketiga.Fakultas Peternakan UGM.
Yogyakarta
Frandson, R. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Saputro. 2008. Histologi Organ Reprodusi Jantan. Universitas Brawijaya. Malang.
Soeroso, Y. Duma. 2012. Hubungan antar Lingkar Skrotum dengan Karakteristik Cairan dan Spermatozoa
dalam Cauda Epididymis pada Sapi Bali (The Correlation of Scrotal Circumference,
Spermatozoa of Epididymis Caudalis and Dilution Characteristic in Bali Cattle). Fakultas
Pertanian Universitas Tadulako. Palu
Suatyo, P., dan Chaeri, A. 2013. Histologi Reproduksi Jantan Tikus Putih Setelah Pemberian Propoxur.
Jurnal Inovasi Vol. 3 No. 2, Juli 2009: 99 166 http://isjd.pdii.lipi.go.id diakses pada tanggal 4
Maret 2014 pukul 16.03 WIB
Widjanarko, Bambang. 2011. Informasi Reproduksi. www.fisiologi-reproduksi.html diakses pada tanggal 4
Maret 2014 pukul 16.04 WIB

Google Facebook Twitter


Artikel
Artikel Terkait
Kebutuhan Nutrien Itik Petelur dan Pedaging
LAPORAN PRAKTIKUM ABATOIR
Ketentuan berkomentar :
* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati
* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
Emoticon

Popular Posts

ORGAN REPRODUKSI PADA SAPI JANTAN


LAPORAN PRAKTIKUM ABATOIR

RANSUM TERNAK

Kebutuhan Nutrien Itik Petelur dan Pedaging

PENYAKIT FELINE PANLEUKOPENIA (FPL) PADA KUCING

Contributors

Ilmu Ternak

Thomas Saputro

Sosial Media

Join Our Site


Ilmu Ternak
Panduan Beternak Lengkap

Like

Follow

Circle

Artikel Terbaru

Kumpulan Foto dan Gambar Sapi Serta Ciri-cirinya

Kumpulan foto atau gambar sapi beserta jenis dan...

Pengertian Pakan Ternak

Pengertian Pakan Ternak adalah semua bahan pakan yang bisa...

Info Terbaru Harga Telur Hari Ini

Harga telur hari ini untuk ayam ras pada hari Kamis, tanggal...

Syarat Bahan Pakan Ternak

Bahan pakan untuk ternak ternak memiliki syarat syarat...

Cara Fermentasi Kotoran (Feses) Puyuh Dengan Mudah

Disamping produksi telurnya, puyuh juga dimanfaatkan daging...

Cara Membuat MOL Sederhana

Cara membuat mol secara sederhana dapat dilakukan sendiri...


About | Contact | Privacy Policy | Daftar isi
Copyright 2016 Ilmu Ternak | Blogger

Salah satu contoh organ reproduksi sekunder pada ternak dan manusia ialah penis (rudal
kebajikan), penis pada ternak terbagi menjadi 3 tipe, yaitu:

Fibroelastis, ialah tipe penis yang antara ngaceng dan tidaknya ternak tidak kelihatan,
contoh ternak dalam kasus ini ialah sapi dan kambing.

Vaskular, ialah tipe penis yang kalau lagi ngaceng akan kelihatan jelas perbedaan ukuran,
warna, bentuk bahkan tingkat kekerasan dan tingkat kepadatannya, hal ini bisa
diibaratkan cagrak motor yang dari besi. Contoh penis tipe seperti ini ialah bangsa
primata, manusia dan bangsa jin.

Semi fibro-vaskuler, ialah tipe penis vaskular yang tidak bisa ngaceng. Hal ini bisa
dipengaruhi oleh penyakit yang biasa disebut impotensi.