Anda di halaman 1dari 18

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Salah satu ciri-ciri makhluk hidup adalah berkembang biak. Berkembang biak adalah proses reproduksi atau proses memperbaharui keturunan pada mahluk hidup untuk mempertahankan jenisnya agar tidak punah. Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi pada hewan terjadi dalam dua jenis yaitu reproduksi aseksual dan reproduksi seksual.Reproduksi aseksual adalah penciptaan individu baru yang semua gennya berasal dari satu induk tanpa peleburan telur dan sperma.Sedangkan reproduksi seksual adalah penciptaan keturunan melalui peleburan gamet jantan dan betina untuk membentuk zigot.Peleburan gamet (sperma dan ovum) disebut dengan fertilisasi.Fertilisasi terbagi menjadi dua macam yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal. Unggas merupakan salah satu jenis hewan yang banyak digemari oleh manusia. Unggas mempunyai berbagai macam jenis yang dapat menarik perhatian manusia untuk bisa memeliharanya. Selain itu ada juga yang berusaha untuk dijadikan sebagai hewan ternak. Unggas berkembang biak dengan bertelur. Telur unggas mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Sistem bereproduksi unggas adalah dengan cara bertelur sehingga pada unggas ini memilki organ reproduksi yang berbeda dengan mamalia. Kelompok

unggas merupakan hewan ovipar. Sehingga tidak memiliki alat kelamin luar. Walaupun demikian, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka. Pada unggas organ reproduksi jantan berupa testes, epididimis dan ductus deferens. Sedangkan pada betina terdiri dari satu ovarium dan satu oviduk. Dari organ reproduksi tersebut maka akan diketahui fungsi dari masingmasing bagian yang berbeda dengan yang ada pada mamalia. Oleh karena itu, pembuatan makalah sederhana ini dibuat untuk menjelaskan tentang sistem Reproduksi pada unggas.

1.2 Tujuan 1. Mengetahui pengertian sistem reproduksi 2. Mengetahui sistem reproduksi ayam jantan 3. Mengetahui mekanisme spermatogenesis 4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi semen pada ayam 1.3 Rumusan Masalah 1. Apakah definisi sistem reproduksi? 2. Bagaimana sistem reproduksi pada ayam jantan? 3. Bagaimana mekanisme spermatogenesis pada ayam jantan? 4. Apakah faktor yang mempengaruhi semen pada ayam?

I. TINJAUAN PUSTAKA

Sistem reproduksi hewan jantan terdiri atas sepasang testis, pasanganpasangan kelenjar asesori dan sistem ductus termasuk organ kopulasi. Testes berkembang didekat ginjal yaitu pada daeah krista genitalis primitif. Fungsi testes ada dua macam yaitu menghasilkan hormon sex jantan disebut androgen dan menghasilkan gamet jantan disebut sperma. Scrotum mempunyai fungsi untuk memberikan ke pada testes suatu lingkungan yang memeiliki 1-8 0F lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh. Yang termasuk kelenjar asesori adalah sepasang vesicula seminalis prostat dan sepasang kelenjar bulbourethra atau kelenjar cowper. Sedangkan sistem ductus pada jantan sebagian besar berasal dari sistem ductus Wolft pada ginjal mesonefrik (Nalbandov, 1990). Fungsi reproduksi pada alat kelamin jantan dapat dibagi menjadi tiga subdivisi utama: pertama, spermatogenesis, yang berarti hanya pembentukan sperma. Kedua, kinerja kegiatan seksual alat kelamin jantan. Dan ketiga,pengaturan fungsi reproduksi alat kelamin jantan oleh berbagai hormon.(Guyton & Hall,1997) Sistem reproduksi unggas jantan terdiri dari dua testis bentuknya elips dan berwarna terang, dan menghasilkan sperma yang masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma yang bernama vas defferens serta sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem reproduksi tersebut (Srigandono, 1997). Alat reproduksi unggas jantan terdiri atas alat kelamin pokok danalat kelamin pelengkap. Alat kelamin pokok adalah organ yang langsung membentuk spermatozoa yaitu testis. Alat kelamin pelengkap

terdiri atas salurantestis yang menuju kloaka yaitu epididymis, vas defferens, dan papillae (Sarengat, 1982). Testis pada unggas berbentuk bulat seperti kacang, terletak ventral dari lobus anterior ginjal. Ukuran testis tidak selalu konstan, karena menjadi besar pada saat musim kawin. Bagian kiri sering lebih besar dari bagian kanan. Pinggir medial testis sedikit konkaf dan mempunyai penjuluran kecil pipih yang dianggap sama seperti epididimis pada mammalia. Dari situlah keluar saluran vas defferens yang secara bergelombang-gelombang lateral terhadap ureter masuk ke dalam kloaka (Soegiarsih, 1990). Unggas jantan berbeda dari ternak piaraan lainnya, karena testis tidak turun dalam skrotum tetapi tetap dalam rongga badan. Testis menghasilkan sperma untuk membuahi telur yang berasal dari hewan betina. Testis yang berbentuk bulat kacang tersebut besarnya berbeda-beda menurut umur dan besar unggas. Permukaan testis diselaputi oleh suatu jaringan fibrosa yang kuat yang diteruskan kedalam testis membentuk kerangka penunjang tenunan testis (Sarwono, 1993).

II.

PEMBAHASAN

3.1 DEFINISI SISTEM REPRODUKSI Menurut Toelihere (1993), organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis dengan epididimis, sepasang duktus deferens (vas deferens) dan sebuah alatkopulasi yang disebut phallus, yang seluruhnya terletak di dalam rongga perut.Fungsi dari organ reproduksi ayam jantan adalah untuk memproduksi danmenyalurkan spermatozoa ke dalam alat reproduksi betina (Gilbert, 1980). Alatkopulatori pada kalkun dan ayam terdiri dari dua papila (phallus) dan organkopulatori rudimenter yang terletak pada lubang kloaka. Organ ini cukupberkembang dengan baik dan dapat ereksi secara alami pada bebek dan angsa tetapitidak pada kalkun dan ayam (Ensminger, 1992). Unggas jantan tidak memilikikelenjar-kelenjar kelamin pelengkap, akan tetapi semen unggas dari vas deferenssudah diencerkan dengan cairan dari badan-badan vaskuler yang terletak dekat ujungposterior vas deferens (Toelihere, 1993). Testis unggas terletak di atas rongga perut, sepanjang bagian punggung dan dekat dengan ujung anterior ginjal dan tidak pernah turun ke skrotum pada bagianluar tubuh (Nesheim et al., 1979). Testis tersebut melekat pada bagian dorsal darirongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium. Testis ayam berbentukbulat oval seperti kacang dengan warna pucat kekuningan. Berat sebuah testis padaayam jantan tipe berat mencapai 15 20 g, sedangkan pada tipe petelur berat testisberkisar antara 8 12 g. Testis sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsiyaitu : 1)

menghasilkan

sepermatozoa,

dan

2)

mensekresikan

hormon

kelamin

jantan(testosteron) (Toelihere, 1993). Testis memiliki saluran-saluran kecil yang jumlahnya sangat banyak danberbelit-belit.Saluran ini disebut seminiferous tubules (tubuli seminiferi) yangmuncul dalamkelompok yang dipisahkan oleh membran tipis yang memanjang kedalam darimembran sekitar organ.Saluran ini akhirnya mengarah ke duktusdeferens, yaitu suatu pembuluh yang menyalurkan sperma ke luar tubuh.Duktusdeferens adalah saluran yang melekat di sepanjang medio ventral ginjal dan terletak kuat secara zig zag pararel dengan ureter.Masing-masing duktus deferens mengembang menjadi papila kecil, yang bersama-sama berfungsi sebagai organintromitten (Nesheim et al., 1979). Vas deferens atau duktus deferens berfungsiuntuk mengangkut semen daritestis dan epididimis ke alat kopulatoris dan juga berfungsi sebagai reservoir semen (Toelihere, 1993). Tubuli seminiferi terdiri atas beberapa lapisan sel spermatogonia yang akanmenghasilkan spermatozoa. Spermatozoa dihasilkan di dalam tubuli seminiferi ataspengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan testosteron

diproduksioleh sel-sel interstisial dari sel leydig atas pengaruh ICSH (Interstitial CellStimulating Hormone) (Toelihere, 1993). Epididimis pada ayam berbentuk pipa pendek dan pipih dengan diameter sekitar 3 mm yang terletak di dorsal medial testis. Saluran reproduksi ayam tidak memiliki epididimis seperti mamalia yang memiliki caput, corpus dan cauda, namun pada testis ayam terdapat bagian exstremitas cranialis dan caudalis (Setijanto, 1998).

Epididimis

mempunyai

empat

fungsi

utama,

yaitu

transport,

konsentrasi,

maturasi,dan penyimpanan sperma (Toelihere, 1993).

3.2 ORGAN REPRODUKSI AYAM JANTAN Organ reproduksi jantan berfungsi sebagai tempat menghasilkan sperma (testis).Testis sendiri adalah merupakan pabrik penghasilkan dua macam dua produk yaitu sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormone (testeoteron). Testis terdiri dari saluran buntu, yang disebut tibuli seminefiri yang bermuara ke rate testis, vas efferentia dan berahir dalam epididymis. Dinding dalam tubuli tersebut dilapisi oleh selapis sel-sel yang berbentuk bulat yang disebut spermatogonia. Diantara sepermatogonia yang melapisi dinding tubuli semineperi adalah sel-sel yang berbentuk langsing, Letak berselang seling dengan sepermatogonia dan mengarah kelumen. Sel tersebut adalah sel sertoli penghasil hormone testoteron. Organ kelamin pada jantan terdiri dari organ kelami perimer, sekunder, luar dan kelenjar pelengkap. Organ-organ tersebut memiliki bentuk, ukuran dan fungsi yang berbeda-beda.

Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis (T), epididimis (Ep), duktus deferens (D.d.) dan organ kopulasi pada kloaka (Cl).

Gambar. Anatomi organ genitalia maskulina ayam

1. Testis Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis selalu 41o - 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi pada temperatur tersebut. Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem.Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang lunak.Bagian dalam dari testid terdiri atas tubuli seminiferi (85% 95% dari

volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron.Besarnya testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan. 2. Epididimis Epididimis berjumlah sepasang dan terletak pada bagian sebelah dorsal testis. Berfungsi sebagai jalannya cairan sperma ke arah kaudal menuju ductus deferens. 3. Saluran Deferens Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens. 4. Alat Kopulasi Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm.

10

Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2004).

3.3 MEKANSME SPERMATOGENESIS Spermatozoa merupakan sel gamet pejantan yang dibentuk di dalam tubuliseminiferi pada testis. Spermatozoa yang sudah terbentuk seluruhnya merupakanperpanjangan sel yang terdiri dari kepala yang hampir seluruhnya terdiri darikromatin, dan ekor yang memberikan daya gerak sel (Garner dan Hafez, 1980). Spermatozoa dibentuk melalui proses spermatogenesis, yaitu suatu proses kompleks yang meliputi pembelahan dan diferensiasi sel dan dimulai pada saat hewan mencapai dewasa kelamin. Selama proses tersebut, jumlah kromosom direduksi daridiploid(2n) menjadi haploid (n) pada setiap sel, dan terjadi reorganisasi komponen-komponeninti sel dan sitoplasma secara meluas. Spermatogenesis meliputi spermatositogenesis yaitu pembentukan spermatosit primer dan sekunder dari spermatogonia tipe A serta spermiogenesis yaitu pembentukan spermatozoa dari spermatid. Spermatositogenesis dikendalikan oleh FSH dari adenohypophysa dan spermiogenesis berada dibawah pengaruh LH dan testosteron (Toelihere, 1985). Pengangkutan spermatozoa sepanjang saluran reproduksi, proses pematangan spermatozoa, dan penyimpanan spermatozoa. Proses spermatogenesis sebenarnya merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinyu selama masa produktif. Proses spermatogenesis terjadi di tubuli seminiferi kemudian sperma menuju tubuli

11

rekti, rete testes, melalui vas eferen kemudian menuju vas deferen. Unggas tidak memiliki epididimis, epididimisnya mengalami rudimentasi. Fungsi epididimis pada hewan mamalia seperti transportasi, pemasakan dan penyimpanan spermatozoa pada unggas digantikan oleh vas deferen. Perjalanan spermatozoa dari tubuli seminiferi sampai di vas deferen membutuhkan waktu 1 4 hari, kemudian terjadi proses pendewasaan pada bagian proximal vas deferen selama beberapa jam lalu disimpan pada bagian distal vas deferen (Wayan, dkk, 2013). Spermatozoa merupakan perpanjangan dari sel haploid yang dihasilkan dariproses spermatogenik dan pematangan pada pejantan dan merupakan sel khusus dengan fungsi terbatas, yaitu untuk membawa informasi genetik ke sel telur betina(Garner dan Hafez, 1980). Walaupun berbeda spesies, spermatozoa pada hewan ternak dan vertebrata lainnya memiliki struktur yang sama, yaitu memiliki akrosom, nukleus, dan terpasang flagella dengan mitokondria, annulus, dense fibers, dan selubung yang berserat (Garner dan Hafez, 1980). Sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas yang tidak bertumbuh atau membagi diri. Secara esensial, sperma terdiri dari kepala yang membawa materi herediter paternal, dan ekor sebagai sarana penggerak. Ukuran dan bentuk spermatozoa berbeda pada berbagai jenis hewan, namun memiliki struktur morfologi yang sama (Toelihere, 1985). Bentuk dan ukuran spermatozoa antara bangsa unggas cukup sama dan konsisten, tetapi sperma unggas berbeda dengan sperma mamalia karena lebih kecil, lebih panjang, kepala berfilamen dan tidak memiliki butiran kinoplasmik (Gilbert, 1980).

12

1. Mekanisme Spermatogenesis Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon gonadotropin dan hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri atas sel sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogenial, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13 14 hari. 2. Pembentukan Sperma (Spermatogenesis) Hampir semua spesies hewan tingkat tinggi terutama mamalia mempunyai proses spermatogenesis yang hampir sama, dalam pembahasan ini akan di jelaskan mengenai proses spermatogenesis pada manusia.Berikut adalah proses pembentukan dari sperma itu sendiri. 1. Tempat spermatogenesis Spermatogenesis terjadi di testis. Didalam testis terdapat tublus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel sel spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi memberi nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mengsekresikan hormone testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis. 2. Proses Spermatogenesis Pada masa pubertas, spermatogonia membelah diri secara mitosis sehingga menghasilkan lebih banyak spermatogonia. Pada manusia,

13

spermatogonia mengandung 23 pasang kromosom atau 46 kromosom (diploid). Beberapa spermatogonia membelah diri kembali, sedangkan lainnya berkembang menjadi spermatosit primer yang juga mengandung kromosom sebanyak 46 kromosom. Sel sel spermatosit primer tersebut kemudian membelah secara meiosis nebjadi dua spermatosit sekunder yang jumlah kromosomnya menjadi setengahnya (23 kromosom haploid). Selanjutnya spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis menjadi empat spermatid. Jadi, spermatid primer mengalami pembelahan meiosis I yang menghasilkan dua spermatosit sekunder. Selama pembelahan meiosis II, kedua spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan empat spermatid. Selanjutnya spermatid berdiferensi menjadi sel kelamin dewasa (masak) yang disebut spermatozoa atau sperma. Ini juga memiliki 23 kromosom (haploid). Pada manusia proses spermatogenesis berlangsung setiap hari. Siklus

spermatogenesis berlangsung rata rata 74 hari. Artinya , perkembangan sel spermatogonia menjadi spermatozoa matang memerlukan waktu rata rata 74 hari. Sementara itu pemasakan spermatosit menjadi sperma memerlukan waktu dua hari.proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan spermatogenesis dan terjadi didalam epidemis.

3. Bagian Bagian Sperma Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor flagelata. Kepala sperma mengandung nucleus. Bagian ujung kepala ini

14

mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energy untuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak.

3.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEMEN PADA AYAM Volume semen yang dihasilkan unggas relatif sedikit dan berbedabedamenurut bangsa unggas, tetapi memiliki konsentrasi spermatozoa yang cukup tinggi.Menurut Toelihere (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitassemen adalah makanan, nutrisi makanan, suhu dan musim, frekuensi ejakulasi, sertalibido dan faktor psikis. Peninggian suhu testis karena infeksi penyakit, luka lokal, demam yang tak kunjung reda karena penyakit dan peninggian suhu udara karena kelembaban yangtinggi dapat menyebabkan kegagalan pembentukan dan penurunan

produksispermatozoa. Frekuensi ejakulasi yang terlampau sering dalam satu satuan waktuyang relatif pendek cenderung untuk menurunkan libido, volume semen, dan jumlah spermatozoa per ejakulat. Rangsangan atau stimulasi yang diberikan pada pejantanuntuk mempertinggi libido dapat meninggikan volume semen dan konsentrasi sperma motil per ejakulat (Toelihere, 1993). Produksi sperma distimulasi oleh peninggian periode siang hari, sedangkan berkurangnya periode siang hari akan berpengaruh sebaliknya (Toelihere, 1993). Semakin lama periode siang hari maka aktivitas reproduksi bekerja semakin lama

15

sehingga akan menghasilkan produksi sperma dalam jumlah yang tinggi. Suhu lingkungan juga dapat mempengaruhi produksi semen, suhu sampai 30 C dapat membahayakan produksi sperma. Makanan merupakan faktor yang esensial terhadap produksi semen, kekurangan vitamin A dan vitamin E dalam pakan dapat menghambat produksi semen (Toelihere, 1993). Ayam akan menghasilkan spermatozoa yang berkualitas baik pada saat sudah mencapai kedewasan seksual. Umur pejantan antara 10-20 bulan merupakan penghasil semen terbaik. Apabila umur pejantan tidak diketahui maka dapat diduga dengan menggunakan panjang taji. Pada umur10 20 bulan, ayam pejantan mempunyai panjang taji antara 0,5-2 cm (S. Johari, dkk, 2009). Penyimpanan semen dalam jangka waktu lama akan menurunkan fertilitas dan plasma semen menjadi tidak isotonik. Semakin lama waktu penyimpanan, motilitas terus mengalami penurunan karena persediaan energi semakin terbatas. Selama penyimpanan, spermatozoa terus melakukan aktifitas seperti pergerakan dan metabolisme (N. Solihati dkk, 2006). Itulah faktor yang mmpengaruhi semen berdasarkan pendapat Solihati.

16

IV. KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah: 1. Alat reproduksi ayam jantan terdiri dari testis, epidydimis, vas deferens, dan alat kopulasi. 2. Testis berfungsi untuk membentuk spermatozoa, epidydimis pada ayam fungsinya tidak seperti mamalia, vas deferens berfungsi untuk menyalurkan sperma, dan alat kopulasi untuk menyalurkan sperma ke organ reproduksi ayam betina. 3. Testis pada ayam berada di dalam tubuh karena ayam memiliki kantong udara yang dapat mengatur suhu tubuh sedemikian rupa sehingga spermatogenesis dapat tetap berjalan.

4.2

Saran Peralatan diperbanyak lagi agar setiap kelompok dapat

mempraktekkan langsung tanpa harus menunggu kelompok lain.

17

DAFTAR PUSTAKA Ensminger. 1992. Poultry Science. Interstate Publishers, Inc., Illinois. Garner, D. L. & E. S. E. Hafez. 1980. Artificial Insemination. In Reproduction in Farm Animal 4th Edition. Hafez, E. S. E. (Ed.). Lea and Febiger. Philadelpia Gilbert., A. B., 1980. In E. S. E. Hafez (ed) Reproduction in farm animals. Lea and Febiger. Philadelphia. Guyton & Hall.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.EGC.Jakarta N. Solihati dkk. 2006. Pengaruh Lama Penyimpanan Semen Cair Ayam Buras pada Suhu 5oC terhadap Periode Fertil danFertilitas Sperma. Jurnal Ilmu Ternak. Bandung Nalbandov,A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas.UGM Press Yogyakarta. Nesheim, M. C., R.E. Austich andL.E. Card. 1979.PoultryProduction.Lea and Febiger,Philadelphia. S. Johari, Ondho YS, Sri Wuwuh, Henry YB dan Ratnaningrum. 2009. Karakteristik dan Kualitas Semen Berbagai Galur Ayam Kedu. Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan. Semarang Sarengat,W.1982. Pengantar Ilmu Ternak Unggas. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang. Sarwono, B. 1993. Ragam Ayam Piaraan. Penebar Swadaya. Jakarta. Setijanto, H. 1998. Anatomi Unggas pada Bahan Pengajaran Anatomi Veteriner II. Laboratorium Anatomi, Bagian Anatomi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

18

Soegiarsih, P. 1990. Diktat Ilmu Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang. Srigandono, B.1997. Produksi Unggas Air.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. Toelihere, M. R. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung Wayan Bebas, dan Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi.2013. Konsentrasi Spermatozoa Dan Motilitas Spermatozoa Ayam HutanHijau (Gallus varius). Jurnal Veteriner Udayana. Bali Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius.Yogyakarta.