Anda di halaman 1dari 9

PRAKATA

Puji syukur kepada Allah SWT berkat rahmat serta karunia-nya sehingga
kelompok kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HaKI). Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang dimana salah
satunya membahas mengenai studi Hak Cipta.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Dosen HaKI yang telah membimbing sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. kami berharap makalah ini
dapat bermanfaat serta memberi pengetahuan baik kami maupun pembacanya dan
menjadi dasar untuk makalah selanjutkan Akhir kata kami mengucapkan banyak
terima kasih.

PEMBAHASAN

I.

Pengertian Hak Cipta


Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk

mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada


dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak cipta
dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan
tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa
berlaku tertentu yang terbatas.
Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau
"ciptaan". Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya,
film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik,
rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran
radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.
Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak
cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti
paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta
bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk
mencegah orang lain yang melakukannya.
Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang
berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum,
konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam
ciptaan tersebut.

II.

Sejarah Hak Cipta


Konsep hak cipta dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari

konsep copyright dalam bahasa Inggris (secara harafiah artinya "hak salin").
Copyright ini diciptakan sejalan dengan penemuan mesin cetak. Sebelum
penemuan mesin ini oleh Gutenberg, proses untuk membuat salinan dari sebuah
karya tulisan memerlukan tenaga dan biaya yang hampir sama dengan proses
pembuatan karya aslinya. Sehingga, kemungkinan besar para penerbitlah, bukan
para pengarang, yang pertama kali meminta perlindungan hukum terhadap karya
cetak yang dapat disalin.
Awalnya, hak monopoli tersebut diberikan langsung kepada penerbit untuk
menjual karya cetak. Baru ketika peraturan hukum tentang copyright mulai
diundangkan pada tahun 1710 dengan Statute of Anne di Inggris, hak tersebut
diberikan ke pengarang, bukan penerbit. Peraturan tersebut juga mencakup
perlindungan kepada konsumen yang menjamin bahwa penerbit tidak dapat
mengatur penggunaan karya cetak tersebut setelah transaksi jual beli berlangsung.
Selain itu, peraturan tersebut juga mengatur masa berlaku hak eksklusif bagi
pemegang copyright, yaitu selama 28 tahun, yang kemudian setelah itu karya
tersebut menjadi milik umum.
Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works
("Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra" atau "Konvensi
Bern") pada tahun 1886 adalah yang pertama kali mengatur masalah copyright
antara negara-negara berdaulat. Dalam konvensi ini, copyright diberikan secara
otomatis kepada karya cipta, dan pengarang tidak harus mendaftarkan karyanya
untuk mendapatkan copyright. Segera setelah sebuah karya dicetak atau disimpan
dalam satu media, si pengarang otomatis mendapatkan hak eksklusif copyright
terhadap karya tersebut dan juga terhadap karya derivatifnya, hingga si pengarang
secara eksplisit menyatakan sebaliknya atau hingga masa berlaku copyright
tersebut selesai.

III.

Hak Hak yang tercakup dalam Hak Cipta


1. Hak Ekslusif
Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang hak

cipta adalah hak untuk:

membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil salinan


tersebut (termasuk, pada umumnya, salinan elektronik),

mengimpor dan mengekspor ciptaan,

menciptakan

karya

turunan

atau

derivatif

atas

ciptaan

(mengadaptasi ciptaan),

menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,

menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang atau


pihak lain.

Yang dimaksud dengan "hak eksklusif" dalam hal ini adalah bahwa hanya
pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara
orang atau pihak lain dilarang melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan
pemegang hak cipta.
Konsep tersebut juga berlaku di Indonesia. Di Indonesia, hak eksklusif
pemegang hak cipta termasuk "kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi,
mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan,
mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan,
merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana
apapun"[2].
Selain itu, dalam hukum yang berlaku di Indonesia diatur pula "hak
terkait", yang berkaitan dengan hak cipta dan juga merupakan hak eksklusif, yang
dimiliki oleh pelaku karya seni (yaitu pemusik, aktor, penari, dan sebagainya),

produser rekaman suara, dan lembaga penyiaran untuk mengatur pemanfaatan


hasil dokumentasi kegiatan seni yang dilakukan, direkam, atau disiarkan oleh
mereka masing-masing (UU 19/2002 pasal 1 butir 912 dan bab VII). Sebagai
contoh, seorang penyanyi berhak melarang pihak lain memperbanyak rekaman
suara nyanyiannya.
Hak-hak eksklusif yang tercakup dalam hak cipta tersebut dapat dialihkan,
misalnya dengan pewarisan atau perjanjian tertulis (UU 19/2002 pasal 3 dan 4).
Pemilik hak cipta dapat pula mengizinkan pihak lain melakukan hak eksklusifnya
tersebut dengan lisensi, dengan persyaratan tertentu (UU 19/2002 bab V).
2. Hak Ekonomi dan Hak Moral
Banyak negara mengakui adanya hak moral yang dimiliki pencipta suatu
ciptaan, sesuai penggunaan Persetujuan TRIPs WTO (yang secara inter alia juga
mensyaratkan penerapan bagian-bagian relevan Konvensi Bern). Secara umum,
hak moral mencakup hak agar ciptaan tidak diubah atau dirusak tanpa persetujuan,
dan hak untuk diakui sebagai pencipta ciptaan tersebut.
Menurut konsep Hukum Kontinental (Prancis), "hak pengarang" (droit
d'aueteur, author right) terbagi menjadi "hak ekonomi" dan "hak moral"
(Hutagalung, 2012).
Hak cipta di Indonesia juga mengenal konsep "hak ekonomi" dan "hak
moral". Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas
ciptaan, sedangkan hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau
pelaku (seni, rekaman, siaran) yang tidak dapat dihilangkan dengan alasan apa
pun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan [2]. Contoh pelaksanaan
hak moral adalah pencantuman nama pencipta pada ciptaan, walaupun misalnya
hak cipta atas ciptaan tersebut sudah dijual untuk dimanfaatkan pihak lain. Hak
moral diatur dalam pasal 2426 Undang-undang Hak Cipta.

IV.

Contoh Kasus
Budaya Indonesia kembali disebut-sebut diklaim oleh Malaysia. Tari

Pendet yang merupakan adalah tarian asal Bali dicantumkan dalam iklan visit year
mereka. Sebelum kasus Tari Pendet, Malaysia juga tercatat pernah mengklaim
berbagai budaya Indonesia, seperti angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu,
dan Tari Folaya. Atas kasus pengkaliman Tari Pendet Bali oleh Malaysia ini,
Budayawan, Radhar Panca Dahana, mengatakan pengklaiman budaya Indonesia
oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan pemerintah Indonesia
sendiri. "Ya tidak apa-apa lah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk untuk
promosi," katanya seperti yang dikutip dari situs Republika.com, Senin (24/8).
Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia
menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu
kita tidak memperhatikannya. "Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah
dan masyarakat tak lagi peduli," ujarnya. Sedangkan negara lain, seperti Malaysia,
kata Radhar, membutuhkan ekstensi kebudayaan, karena kebudayaan adalah
senjata terbaik untuk diplomasi internasional. Potensi bisnisnya bagus. "Malaysia
tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara
tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan,
sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program
lainnya," katanya. Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak
kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. "Kita majukan
budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacaraupacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden
kita," tandasnya

KESIMPULAN
Dari hasil kasus diatas tari Pendet awalnya merupakan tari pemujaan yang
banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya
dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan jaman, para seniman
Bali mengubah Pendet menjadi ucapan selamat datang, meski tetap
mengandung anasir yang sakral-religius. Pendet merupakan pernyataan dari
sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tariantarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan
oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang
dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita
yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan
contoh yang baik. Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari
Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan
setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci
(pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari
membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.
Kesadaran masyarakat Indonesia dan pemerintah Indonesia untuk
mendaftarkan Hak Cipta di bidang seni dan budaya sangat perlu digalakan.
Karena kita ketahui, Indonesia sangat kaya akan kekayaan seni dan budaya. Di
dalam undang-undang hak cipta sendiri di sebutkan bahwa perlindungan suatu
ciptaan timbul secara otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang
nyata. Pendaftaran ciptaan tidak merupakan suatu kewajiban untuk mendapatkan
hak cipta. Namun demikian, pencipta maupun pemegang hak cipta yang
mendaftarkan ciptaannya akan mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang
dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di
kemudian hari terhadap ciptaan tersebut (Buku Panduan Hak Kekayaan
Intelektual, 2006).

Di dalam pasal 10 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta


dikatakan : Negara memegang Hak Cipta atas folklor (sekumpulan ciptaan
tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam
masyarakat yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan
standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun-temurun seperti :
(1) Cerita Rakyat, puisi rakyat, (2) Lagu-lagu rakyat dan musik instrumen
tradisional, (3) Tari-tarian rakyat, permainan tradisional, (d) Hasil seni antara lain
berupa : Lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan
tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional) dan hasil kebudayaan
rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda,
babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya.
Jika melihat dari pasal 10 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta, maka pemerintahlah yang memegang perlindungan hak cipta tari pendet ini
karena termasuk Hak Cipta atas folklor. Pemerintah Indonesia bisa menyatakan
Hak Cipta tari pendet ini kepada dunia Internasional berdasarkan publikasipublikasi yang ada, baik publikasi media massa maupun catatan tertulis lainnya.
Begitu pula bagi seniman Bali perlu menunjukan bukti-bukti publikasi dan
catatan-catatan Tari Pendet ini kepada dunia. Memang langkah ini sudah cukup
karena tidak adanya kewajiban pendaftaran Hak Cipta, hanya saja pencipta
maupun pemegang hak cipta yang tidak mendaftarkan ciptaannya tidak akan
mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang dapat dijadikan sebagai alat bukti
awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan
tersebut. Maka tugas pemerintah Indonesia saat ini adalah menginventarisir
kembali kesenian dan kebudayaan Indonesia serta mendaftarkan semua hak cipta
kekayaan seni dan budaya tersebut ke kantor Hak Kekayaan Intelektual (HKI) RI.
Dengan demikian jika suatu saat terjadi sengketa kita bisa menyelesaikannya
secara hukum. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pendaftaran Hak Cipta
ini harus bisa menjadi kepentingan bersama masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/
http://karodalnet.blogspot.com/2009/08/kasus-tari-pendet-diklaim-malaysia.html
http://nazarkarimantoro.blogspot.com/2013/09/haki.html
http://karodalnet.blogspot.com/2009/08/kasus-tari-pendet-diklaim-malaysia.html