Anda di halaman 1dari 13

MODUL MAHASISWA

SEMESTER I
TAHUN AKADEMIK 2012 - 2013

BLOK 2. HUMANIORAN I
MODUL 1. ETIKA DAN HUKUM KEDOKTERAN
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 8
1. KENNY RAMA WIDYA
(2012 07 0 0008)
2. REXI RENALDI LOTONG
(2012 07 0 0016)
3. JANNICO DJANUARDI
(2012 07 0 0018)
4. ANISA TALITA ISLAMEY
(2012 07 0 0032)
5. ALMIRA FAIZAH
(2012 07 0 0040)
6. RANGGA KAMBODIA SURYANA
(2012 07 0 0048)
7. CINDY INDAH PERMATASARI
(2012 07 0 0056)
8. RUTH ROZA WIJAYANTI
(2012 07 0 0063)
9. INDIRA ALITIA FATARANI
(2012 07 0 0072)
10. FARAZIZA MAULANA
(2012 07 0 0080)
11. RUDY EFFENDY
(2012 07 0 0090)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Humaniora merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari
segala hal yang diciptakan atau menjadi perhatian manusia baik itu ilmu filsafat,
hukum, sejarah, bahasa, teologi, sastra, seni dan lain sebagainya. Atau makna
intrinsik nilai-nilai kemanusiaan (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Dalam
bahasa Latin, humaniora artinya manusiawi.
Menurut Martiatmodjo, BS dalam Catatan Kecil tentang Humaniora
dikatakan sebagai Ilmu Budaya Dasar yang merupakan mata kuliah wajib di
Perguruan Tinggi dan merupakan juga terjemahan dari istilah Basic Humanities
atau pendidikan humaniora. Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang
mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih
manusiawi. Martiatmodjo menegaskan bahwa perlunya humaniora bagi
pendidik berarti menempatkan manusia di tengah-tengah proses pendidikan.
B. BATASAN TOPIK
1. Mengetahui arti etika & kode etik
2. Mengetahui kaidah dasar bioetik
3. Menganalisis sudut pandang dokter & pasien
4. Mengetahui UUPK no.29 tahun 2004
5. Mengetahui hak & kewajiban pasien
6. Mengetahui informed consent
7. Mengetahui pasal-pasal tindakan medis
8. Mengetahui hubungan hukum antara dokter & pasien
C. PETA KONSEP

Etika, Hukum, dan UUPK

Dokter Gigi

Informed Consent

Pasien

Tindakan Medis
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Etika dan Kode Etik (Refrensi Soeparto P dkk.2006. Etik dan
Hukum di Bidang Kesehatan.)
Ethic (ethic) berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti akhlak, adat
kebiasaan,watak,perasaan,sikap yang baik yang layak. Menurut kamus umum
bahasa Indonesia ( Purwadarminta, 1953), etika adalah ilmu pengetahuan tentang
azas akhlak. sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia dari departemen
pendidikan dan kebudayaan (1988), etika adalah:
1. Ilmu tentang apa yang baik,apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
2. Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Menurut kamus kedokteran ( Ramali dan Pamuncak, 1987), etika adalah
pengetahuan tentang perilaku yang benar dalam satu profesi. istilah etika dan etik
sering dipertukarkan pemakaiannya dan tidak jelas perbedaan antara keduanya.
Dalam buku ini, yang dimaksud dengan etika adalah ilmu yang mempelajari azas
akhlak,sedangkan etik adalah seperangkat asas atau nilai yang berkaitan dengan
akhlak seperti dalam kode etik.
Dalam pekerjaan profesi sangat dihandalkan etik profesi dalam memberikan
pelayan kepada public. Etik profesi merupakan seperangkat perilaku anggota profesi
dalam hubungan dengan orang lain. Pengamalan etika membuat kelompok menjadi
baik dalam arti moral. Ciri-ciri profesi:
1 .berlaku untuk lingukngan profesi
2. Disusun oleh organisasi profesi bersangkutan
3. mengandung kewajiban dan larangan.
4. menggubah sikap manusiawi.
Tujuan pendidikan etika dalam pendidikan dokter adalah untuk menjadikan calon
dokter lebih manusiawi dengan memiliki kematangan intelektual dan emosional.
Para pendidikan masa lalu melihat perlu tersedia berbagai pedomann agar
anggotanya dapat menjalankan profesinya dengan benar dan baik. Para pendidik di
bidang kesehatan masa lalu meliat adanya peluang yang di harapkan tidak akan
terjadi sehingga merasa perlu membuat rambu-rambu yang akan mengingat para
peserta didik yang di lepas di tengah masyarakat selalu melihat pedoman yang
membatasi mereka untuk berbuat yang tidak layak.

B. Kaidah Dasar Bioetik (Refrensi Ariswati, Hafizah I, Rizal S.


2011. Modul Dilema Etik. Prodi Pendidikan Dokter FK
Universitas Haluoleo. Kendari.)

Prinsip-prinsip etika adalah aksiom yang mempermudah penalaran etik.


Prinsipprinsip
tersebut harus spesifik. Pada prakteknya, satu prinsip dapat dipertimbangkan
dengan prinsip lain. Pada beberapa kasus, satu prinsip dapat bersifat lebih penting
dari
prinsip lainnya.
Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan ( Empat prinsip etika Eropa ) bahwa
untuk mencapai ke suatu keputusan ETIK diperlukan 4 Kaidah Dasar Moral / Kaidah
Dasar Bioetik (Moral Principle) dan beberapa rules atau kriteria dibawahnya.
Keempat
Kaidah Dasar Moral tersebut adalah :
1. Prinsip Autonomy (self-determination) Yaitu prinsip yang menghormati hakhak
pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination) dan
merupakan
kekuatan yang dimiliki pasien untuk memutuskan suatu prosedur medis. Prinsip
moral
inilah yang kemudian melahirkan doktrin Informed consent.
2. Prinsip tidak merugikan Non-maleficence Adalah prinsip menghindari
terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk
keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do
no harm .
3. Prinsip murah hati Beneficence Yaitu prinsip moral yang mengutamakan
tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan
menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan risiko dan biaya. Dalam Beneficence
tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang
sisi
baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat).
4. Prinsip keadilan Justice Yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan
keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive
justice) atau pendistribusian dari keuntungan, biaya dan risiko secara adil.

C. Analisis Dilema Etik dari 2 Sudut Pandang (Refrensi Ariswati,


Hafizah I, Rizal S. 2011. Modul Dilema Etik. Prodi Pendidikan
Dokter FK Universitas Haluoleo. Kendari.)

1. Dari Sudut Pandang Dokter


- Tidak ada indikasi medic untuk aborsi karna kandungan dalam
keadaan normal, akan tetapi memiliki bakat cacat genetika sama
dnegan anak sebelumnya
- Tuntutan profesionalitas dokter untuk menghindari pasien dari berbagai
bentuk kerugian: keharusan untuk menghargai autonomi pasien,
memberitahukan kenyataan yang sebenernya kepada pasien. Bila

Ny.C memutuskan untuk aborsi sangat rentannya pembelaan hukum


pada kasus abortus bagi pelaku medis.
2. Dari Sudut Pandang Pasien
- Pengertian atas alasan-alasan Ny.C untuk melakukan pemeriksaan
genetika yang di dalamnya ada kemungkinan unuk aborsi.
- Ketakutan akan dampak bila suami mengetahui kenyataan yang
sebenarnya.

D. UUPK no.29 Tahun 2004 (Refrensi UUPK no.29 Tahun 2004)


Registrasi Dokter dan Dokter Gigi
Pasal 29
1. Setiap dokter & dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di
Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter & dokter gigi.
2. Surat tanda registrasi dokter & surat tanda registrasi dokter gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diterbitkan oleh Konsil Kedokteran
Indonesia.
3. Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter & dokter gigi harus
memenuhi persyaratan:
a. Memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter
gigi spesialis;
b. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah atau
janji dokter atau dokter gigi;
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik & mental;
d. Memiliki sertifikat kompetensi; dan
e. Membuat pernyataan akan mematuhi & melaksanakan ketentuan
etika profesi.
4. Surat tanda registrasi dokter & surat tanda registrasi dokter gigi berlaku
selama 5 tahun & diregistrasi ulang setiap 5 tahun sekali dengan tetap
memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 huruf c dan
d.
5. Ketua konsil kedokteran & ketua konsil kedokteran gigi dalam
melakukan registrasi ulang harus mendengar pertimbangan ketua divisi
registrasi & ketua divisi pembinaan.
Ketua konsil kedokteran & ketua konsil kedokteran gigi berkewajiban untuk
memelihara & menjaga registrasi dokter & dokter gigi.
Pasal 39
Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan
antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya pemeliharaan

kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan


penyakit, & pemulihan kesehatan.
Paragraf 2
Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi
Pasal 45
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien mendapat penjelasan secara lengkap.
3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup:
- diagnosis dan tata cara tindakan medis;
- tujuan tindakan medis yang dilakukan;
- alternative tindakan laindari risikonya;
- risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
- prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
4. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik
secara tertulis maupun lisan.
5. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung
risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
6. Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau
kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3),
ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 6
Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi
Pasal 50

1.
2.
3.
4.

Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedoktcran


mempunyai hak:
memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur operasional;
memperoleh informasi yang iengkap dan jujur dan pasien atau
keluarganya; dan
menerima imbahan jasa.
Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai kewajiban:

1. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar


prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
2. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian
atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;
3. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia;
4. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila
Ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
5. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi

E. Hak dan Kewajiban Pasien (Refrensi UUPK no.29 tahun 2004)


Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran,
mempunyai hak:
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. Menolak tindakan medis; dan
e. Mendapatkan isi rekam medis.
Pasal 53

a.
b.
c.
d.

Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran,


mempunyai kewajiba:
Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya;
Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

F. Informed Consent (Refrensi Hanafiah M.J dan Amir A, 2009.


Etika Kedokteran Dan Hukum Kesehatan. 4 ed. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.)
A. Definisi
Dalam Permenkes No. 589 tahun 1989 dijelaskan bahwa yang
dimaksud dengan PTM adalah persetujuan yang diberikan pasien atau
keluarga ats dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut. Dalam pengertian demikian, PTM bias
dilihat dari dua sudt, yaitu pertama membicarakan PTM dari pengertian
umum dan kedua membicarakan PTM dari pengertian khusus. Dalam
pengertian umum, PTM adalah persetujuan yang diperoleh dokter
7

sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medic


apapun yang akan dilakukan. Namun, dalam pelayanan kesehatan sering
pengertian kedua lebih dikenal yaitu PTM yang dikaitkan dengan
persetujuan atau ijin tertulis dari pasien atau keluarga pada tindakan
operatif atau tindakan invasive lain yang berisiko. Oleh Karena itu, dahulu
PTM ini levih dikenal sebagai Surat Ijin Operasi (SIO), surat persetujuan
pasien, surat perjanjian, dan lain-lain istilah yang dirasa sesuai oleh rumah
sakit atau dokter yang merancang surat tersebut. Informed consent bukan
sekedar ormulir persetujuan yang didapat dari pasien, melainkan
merupakan proses komunikasi tercapai kesepakatan antara dokter-pasien
merupakan dasar dari seluruh proses tentang informed consent. Formulir
ini hanya merupakan pengukuhan atau pedokumentasian dari apa yang
telah disepakati.
B. Bentuk
- implied consent adalah persetujuan yang diberikan pasien secara
tersirat, tanpa pernyataan tegas. Isyarat persetujuan ini ditangkap
dokter dari sikap dan tindakan pasien. Umumnya tindakan dokter disini
adalah tindakan yang biasa dilakukan atau sudah doiketahui umum.
Misalnya pengambilan darah untuk pemeriksaan laoraturium,
melakukan penyuntikan kepada pasien, dan melakukan penjahitan.
Implied consent bentuk lain adalah bila pasien dalam keadaan gawat
darurat (emergency) sedang dokter memrlukan tindakan segera
semntara pasien dalam keadaaan tidak bias memberikan persetujuan
dan keluarganya pun tidak ditempat, dokter dapat melakukan tindakan
medic terbaik menurut dokter. Jenis persetujuan ini disebut sebagai
Presumed consent.
- Sedangkan expressed consent adalah persetujuan yang dinyatakan
secara lisan atau tulisan bila yang akan dilakukan lebih dari prosedur
pemeriksaan tindakan yang biasa. Misalnya, pemeriksaan dalam rectal
atau pemeriksaan dalam vaginal, mecabut kuku dan tindakan lain yang
melebihi prosedur pemeriksaan dan tindakan umum. Pada saat ini,
belum diperlukan pernyataan tertulis. Persetujuan secara lisansudah
mencukupi.
C. Komponen
- What : Mengenai apa yang harus disampaikan, tentulah segala
sesuatu yang berkaitan dengan penyakit pasien. Tindakan apa yang
akan dilakukan, tentunya prosedur tindakan yang akan dijalani pasien
baik diagnostik maupun terapi dan lain-lain sehingga passien atau
keluarga dapat memahaminya. Hal ini mencakup bentuk, tujuan, risiko,
manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan dan alternatif terapi.
- When : Mengenai kapan disampaikan, bergantung pada waktu yang
tersedia setelah dokter memutuskan akan melakukan tindakan invasif

dimaksud. Pasien atau keluarga pasien harus diberi waktu yang cukup
untuk menentukan keputusannya.
Who : Yang menyampaikan informasi, bergantung pada jenis
tindakan yang akan dilakukan. Dalam Permenkes dijelaskan dalam
tindakan bedah dan tindakan invasif lainnya harus diberikan oleh
dokter yang akan melakukan tindakan.
Which : Mengenai informasi mana yang harus disampaikan dalam
Permenkes dijelaskan haruslah selengkap-lengkapnya, kecuali dokter
menilai informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan
pasien atau pasien menolak diberikan informasi.

D. Syarat Persetujuan
Inti dari persetujuan adalah persetujuan haruslah didapat sesudah pasien
mendapat informasi yang adekuat.
Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa yang berhak memberikan
persetujuan adalah pasien yang sudah dewasa (di atas 21 tahun atau
sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental.
Dalam banyak PTM yang ada selama ini, penandatanganan
persetujuan ini lebih sering dilakukan oleh keluarga pasien. Hal ini
mungkin berkaitan dengan kesangsian terhadap kesiapan mental pasien
sehingga beban demikian diambil alih oleh keluarga pasien atau atas
alasan lain.
Untuk pasien di bawah umur 21 tahun, dan pasien gangguan jiwa yang
menandatangani adalah orang tua/wali/keluarga terdekat atau induk
semang. Untuk pasien dalam keadaan tidak sadar, atau pingsan serta
tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam
keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan medik negara, tidak
diperlukan persetujuan dari siapa pun (pasal 11 bab IV Permenkes
No.585).

G. Tindakan
Medis
(Refrensi
290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Kedokteran.)

Permenkes
No
Persetujuan Tindakan

Pasal 7
(1) Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien
dan/atau keluarga terdekat, baik diminta maupun tidak diminta.
(2) Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, penjelasan
diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar.
(3) Penjelasan tentang tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sekurang- kurangnya mencakup:
1. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran;
2. Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan;
3. Altematif tindakan lain, dan risikonya;
9

4. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan


5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
6. Perkiraan pembiayaan.
Pasal 8
1. (1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat
meliputi :
1. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut;
2. Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka
sekurang- kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding;
3. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya
tindakan kedokteran;
4. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan
tindakan.
2. (2) Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi :
1. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif,
diagnostik, terapeutik, ataupun rehabilitatif.
2. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama
dan sesudah tindakan, serta efek samping atau ketidaknyamanan yang
mungkin terjadi.
3. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya
dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan.
4. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing
alternatif tindakan.
5. Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan
darurat akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga
lainnya.
3. (3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah
semua risiko dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran
yang dilakukan, kecuali:
1. risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
2. risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang dampaknya
sangat ringan
3. risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable)
4. (4) Penjelasan tentang prognosis meliputi:
1. Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam);

10

2. Prognosis tentang fungsinya (ad functionam);


3. Prognosis tentang kesembuhan (ad sanationam).
Pasal 9
(1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara
lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara lain yang bertujuan untuk
mempermudah pemahaman.
2. (2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan
didokumentasikan dalam berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi
yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan tanggal, waktu, nama,
dan tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima penjelasan.
3. (3) Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut
dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak
diberikan penjelasan, maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan
penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh
seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi.
Pasal 10
1. (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 diberikan oleh dokter
atau dokter gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi
dari tim dokter yang merawatnya.
2. (2) Dalam hal dokter atau dokter gigi yang merawatnya berhalangan untuk
memberikan penjelasan secara langsung, maka pemberian penjelasan harus
didelegasikan kepada dokter atau dokter gigi lain yang kompeten.
3. (3) Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan
sesuai dengan kewenangannya.
4. (4) Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah
tenaga kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara
langsung kepada pasien.

H. Hubungan Hukum Antara Dokter dan Pasien (Refrensi Astuti


EK. Hubungan Hukum Antara Dokter Dengan Pasien Dalam
Upaya Pelayanan Medis.)
Hubungan hukum antara dokter dan pasien memiliki dua pola, yaitu
pola hubungan vertikal dan pola hubungan horizontal.
Pola hubungan vertikal antara dokter dan pasien melahirkan sifat
paternalistik. Pola hubungan ini sangat membantu pasien dalam hal
pasien tahu penyakit yang dideritanya karena dokter memberikan
penjelasan mengenai keadaan dan penyakit pasien.
Pola hubungan horizontal antara dokter dan pasien melahirkan hak
dan kewajiban bagi pihak yang bersangkutan. Pola hubungan ini tidak

11

menjanjikan sesuatu karena objek dari hubungan ini adalah upaya dokter
berdasarkan ilmu pengetahuannya untuk menyembuhkan pasien.
Saat terjadinya pola hubungan hjorizontal antara dokter dan pasien
adalah saat dokter menyatakan kesediaannya yang dinyatakan secara
lisan atau tersirat dengan menunjukkan sikap yang menyimpulkan
kesediaan.

I. Tanggung Jawab Perdata Dokter Karena Perbuatan Melanggar


Hukum
Tanggung jawab karena kesalahan merupakan bentuk klasik
pertanggungjawaban perdata. Berdasar tiga prinsip yang diatur dalam
Pasal 1365, 1366, 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu
sebagai berikut :
A. Berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Pasien dapat menggugat seorang dokter oleh karena dokter
tersebut telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum,
seperti yang diatur di dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa : Tiap perbuatan
melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kesalahan
itu, mengganti kerugian tersebut.
B. Berdasarkan Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Seorang dokter selain dapat dituntut atas dasar wanprestasi dan
melanggar hukum seperti tersebut di atas, dapat pula dituntut atas
dasar lalai, sehingga menimbulkan kerugian. Gugatan atas dasar
kelalaian ini diatur dalam Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, yang bunyinya sebagai berikut : Setiap orang
bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan
karena kelalaian atau kurang hati-hatinya.
C. Berdasarkan Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Seseorang harus memberikan pertanggungjawaban tidak hanya
atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri, tetapi juga
atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakan orang lain yang
berada di bawah pengawasannya. (Pasal 1367 Kitab UndangUndang Hukum Perdata).

12

BAB III
Kesimpulan
Menerapkan prinsip bioetika dan etika kedokteran dalam menjalankan tugas. Profesi
sangat peting bagi seorang dokter. Dengan selalu mempertahankan prinsip-prinsip bioetika
dan etika kedokteran maka akan memperlancar tindakan perawatan terhadap pasien
sehingga menghasilkan apa yang diharapkan oleh pasien, tidak memperburuk keadaan
pasien.
Seorang dokter tidak dapat sembarang melakukan tindakan medis terhadapan
pasien tanpa adanya persetujuan dari pasien yang bersangkutan atau dari keluarga pasien,
karena jika terdapat kesalahan maka dokter tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan
pasal-pasal yang terdapat pada UUPK.

13