Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Endapan mineral atau cebakan mineral dapat didefinisikan sebagai
penumpukan atau pengendapan alamiah materi-materi berharga pada kerak
bumi yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis. Pengendapan materi alamiah
tidak saja berarti mengandung logam, namun dapat juga mencakup bahanbahan mentah lain yang berguna karena sifat fisik dan kimianya.
Pengkajian endapan mineral termasuk dalam lingkup ilmu geologi dan
penerapannya yang berkaitan erat dengan industri pertambangan dalam hal ini
industri mineral. Dari segi ilmu pertambangan, endapan tersebut dapat
dipandang dari asal dan proses pembentukannya (ganesa), sehingga dapat
dilakukan usaha untuk menemukan dan menambang endapan mineral tersebut
sebagai prasyarat bagi pemanfaatan atau nilai ekonomisnya.
Endapan bijih terdapat di alam secara geologi dapat terdiri dari satu
atau lebih mineral logam. Mineral-mineral logam gtersebut dapat berupa
native elements atau dapat berupa mineral-mineral oksida, sulfida, sulfat,
silikat, dan beberapa komponen lain. Mineral-mineral dengan jumlah kecil
dan tidak memiliki nilai ekonomis yang terdapat bersama dengan mineral bijih
(Ore) disebut dengan mineral gangue.
Secara garis besar endapan mineral dapat dibagi menjadi dua yakni
endapan mineral primer (endapan hypogen) dan endapan mineral sekunder
(endapan Supergen). Endapan mineral primer merupakan endapan mineral
yang muncul sesuai bentuk asalnya, sedangkan endapan mineral sekunder
merupakan endapan mineral primer yang telah mengalami perubahan akibat
adanya pelapukan atau adanya proses-proses luar (superficial processes).
Selain itu juga dikenal istilah endapan mineral singenetik dan endapan mineral
epigenetik. Endapan mineral singenetik merupakan endapan mineral yang
terbentuk bersamaan dengan proses terbentuknya batuan, sedangkan endapan
1

mineral epigenetik merupakan endapan mineral yang terbentuk setelah


terbentuknya batuan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai salah satu indikator
penilaian (tugas) yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah Endapan
Mineral yang terkait dengan Alterasi Hidrotermal dan Struktur Khusus
mineral Bijih.
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan
tentang proses pembentukan endapan mineral utamanya yang terkait dengan
hydrothermal processes (Proses hidrotermal), Alterasi hidrotermal dan struktur
khusus pada endapan bijih.
1.3 Batasan Masalah
Pada makalah ini akan dibahas mengenai salah satu proses
pembentukan endapan mineral yakni proses hidrotermal, alterasi hidrotermal
dan struktur khusus yang dibentuk oleh endapan bijih (Ore Deposits) serta
keterkaitannya denga setting geologi (Geological Settings).

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Teori Pembentukan Mineral Bijih

Jika ditinjau dari proses pembentukan atau ganesa dari mineral bijih,
maka secara umum klasifikasi teori pembentukan mineral bijih dapat
dibedakan menjadi dua bagian besar yakni internal processes dan surface
processes.
1. Internal Processes (Proses Internal)
Internal processes atau proses internal merupakan proses
pembentukan mineral bijih (ore) dalam kondisi bawah permukaan bumi
atau berkaitan erat dengan proses awal magma (magmatisme). Internal
processes ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian yakni sebagai berikut :
Segregasi magma (Magmatic Segregation)
Proses alamiah yang terjadi dalam proses segregasi magma yakni
Separasi akibat kristalisasi sebagian dan proses-proses lain yang
berhubungan selama diferensiasi magma. Adapun tipe endapan yang
terbentuk seperti lapisan kromit, Bushfeld complex di Afrika Selatan.
Selain itu proses alamiah yang terjadi dapat pula berupa Liquasi,
ketidakbercampuran cairan, Pelepasan sulfida, sulfida-oksida, atau lelehan
oksida dari magma yang kemudian terakumulasi di bawah lelehan silikat
atau terinjeksi ke dalam batuan samping dan dapat pula di temukan pada
erupsi dekat permukaan bumi. Adapun contoh tipe endapannya yaitu
seperti endapan Cu-Ni di Sudbury, Canada; Pechenga, USSR dan Yilgarn
Block, Australia barat.
Pada proses segregasi magma akan terjadi pengendapan logamlogam sulfida yang lebih berat dibandingkan Mineral Pembentuk Batuan
(MPB) pada bagian dasar, yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar Profil Endapan Sulfida pada Proses Segregasi Magma

Pegmatitic Deposition
Proses alamiah yang terjadi dalam pegmatitic deposition atau
pengendapan larutan pegmatik yakni kristalisasi sebagai segregasi dari
larutan pegmatis. Adapun tipe endapan yang umum dijumpai meliputi
Lithium-Tin-Caesium Pegmaties, bikita, Zimbabwe; Uranium pegmaties,
Bancroft, Canada dan Rossing, Namibia.
Hydrothermal Processes
Proses alamiah yang terjadi secara umum merupakan proses
pengendapan dari larutan air panas, yang melalui permukaan tubuh magma
atau batuan metamorf atau sumber lainnya. Adapun tipe endapan yang
dijumpai contohnya Tin Tungsten Copper veins and stockworks,
Cornwall, UK; Molybdenum stockworks, Climax, USA; Porfiri Cu
Panguna, PNG dan Bingham, USA. Adapun proses hidrothermal ini akan
dibahas lebih lanjut pada sub pembahasan selanjutnya.

Gambar hidrothermal system (Henley and Ellis, 1983)

Lateral Secretion
Proses alamiah yang terjadi secara umum merupakan difusi
material bijih atau pengotor dari batuan asal ke suatu patahan atau celah
yang terbentuk akibat adanya struktur geologi. Adapun tipe endapan yang
dijumpai Contohnya Yellowknife gold deposits, Canada dan Mother Load,
USA.
Metamorphic Processesd
Proses alamiah yang terjadi secara umum merupakan endapan
pyrometasomatic (Skarn) yang terbentuk akibat adanya proses penggantian
dari batuan samping (wall rocks) akibat adanya intrusi batuan beku yang
mengandung logam dengan batuan karbonat yang menyebabkan
5

pengayaan logam Fe dan Cu. Adapun tipe endapan yang dijumpai


contohnya yaitu Deposit tembaga dari Mackay, USA dan Craigmont,
Kanada; Magnetite bodies, Iron Springs, USA. Selain itu metamorphic
proses juga disebabkan oleh adanya konsentrasi mineral bijih akibat proses
metamorfisme dengan tipe endapan berupa vein emas dan disseminated
nikel pada ultramafik dike.
2. Surface Processes
Surface processes merupakan proses pembentukan mineral bijih
(ore) dalam kondisi di atas permukaan bumi atau berkaitan erat dengan
proses setelah magmatisme atau di luar pengaruh magmatisme. Internal
processes ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian yakni sebagai berikut :
Mechanical Accumulation
Proses

alamiah

yang

terjadi

secara

umum

adalah

terkonsentrasinya mineral berat ke dalam endapan placer. Adapun tipe


endapan yang dijumpai contohnya Timah placer di Bangka &
Belitung/Sumatera, Emas placer di Yukon, Canada, Rutile Zircon Sand,
New South Wales, Australia dan Trail Ridge, USA.
Sedimentary Precipitates
Proses alamiah yang terjadi secara umum adalah presipitasi dari
bagian atau elemen pada lingkungan pengendapan sedimen tertentu baik
dengan atau tanpa adanya intervensi dari organisme. Tipe endapan yang
umum dijumpai contohnya yaitu BIF of Precambrian Shields dan deposit
mangan, Chiaturi, USSR.

Residual Processes
Proses alamiah yang terjadi secara umum berupa pencucian dari
batuan yang mengakibatkan terurainya batuan menjadi elemen kecil yang
kemudian terkonsentrasi pada suatu tempat atau zona-zona tertentu. Tipe
endapan yang dijumpai contohnya yaitu Nikel Laterite, New Caledonia;
Bauxite di Hungaria, Prancis, Jamaika dan Arkansas, USA.
Secondary or Supergene Enrichment
Proses alamiah yang terjadi secara umum ialah Pelepasan unsurunsur bernilai dari bagian atas dari suatu endapan mineral dan
terpresipitasi kembali di bagian yang lebih dalam, sehingga membentuk
konsentrasi yang lebih tinggi. Tipe endapan yang dijumpai contohnya
yaitu endapan emas-perak epitermal Pongkor/Jawa Barat; porfiri Cu-Mo
Chuquicamata/Chile.
Volcanic Exhalative
Proses alamiah yang terjadi secara umum ialah Ekshalasi larutan
hidrothermal pada permukaan, biasanya di bawah kondisi laut dan
umumnya menghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform. Tipe
endapan yang dijumpai contohnya yaitu endapan Kuroko/Jepang; Meggan,
Jerman; Silluvian, Kanada; Mount Isa, Australia dan Rio Tinto, Spanyol.
Proses volkanik exhalative ini juga dapat digolongkan ke dalam internal
processes bila dilihat dari aktivitas magmatik berupa pengaruh larutan
hidrothermal.

Gambar Pembentukan Endapan Logam pada MOR

Gambar hydrothermal vents pada MOR

2.2 Proses Hidrothermal (Hydrothermal processes)


Larutan hidrothermal merupakan larutan sisa cairan magma yang
kemudian bereaksi dengan air bawah permukaan membentuk mineral-mineral
ekonomis. Proses hidrothermal yang berkaitan erat dengan proses
pembentukan mineral bijih atau endapan bijih secara langsung maupun tidak
langsung berhubungan erat dengan dengan proses magmatik atau aktivitas
8

magma dalam bumi. Proses kristalisasi dan evolusi magma yang terdiri dari
fraksinasi kristal, asimilasi dengan batuan samping, pencampuran magma tua
(magma asal), pemisahan atau diferensiasi magma dan pencampuran dengan
gas merupakan proses magmatisme yang memiliki hubungan dengan berbagai
macam proses magmatis lainnya, termasuk proses hidrothermal atau
hydrothermal solution.

Gambar Proses Magmatisme dan Hydrothermal Solution

Dalam sistem magmatisme, pada akhir proses diferensiasi magma akan


menghasilkan cairan magma yang kaya unsur logam. Larutan berasal dari larutan
sisa magma dengan temperatur yang lebih rendah ini merupakan sisa dari
kristalisasi pada fase pegmatite dan mengandung base metals serta elemen-elemen
lain yang tidak ikut terkristalkan pada pendinginan magma (W, U, Mo, Cs, Rb, Li,
Be, B dan P).

Larutan sisa magma ini diasumsikan terinjeksikan sepanjang

fractures atau media (channel way) lain ke tempat yang lebih dingin di dekat
permukaan. Selain itu endapan hidrothermal memiliki kandungan volatile seperti
H2S, HCl, HF, CO2, SO2 dan H2. Larutan hidrothermal dibedakan dengan larutan
pegmatit, larutan hidrotermal lebih encer dan mempunyai temperatur lebih rendah
yang berkisar antara 100 - 600 C, sedangkan pegmatit lebih kental dan memiliki
temperatur berkisar antara 600 - 700 C. Berikut ini disajikan gambar mengenai
aktivitas magma dan fluida hidrothermal.

Gambar Tipe batuan, differensiasi magma dan fluida hydrothermal

Ada beberapa klasifikasi yang sering digunakan untuk menggolongkan


atau membagi endapan hidrothermal, antara lain sebagai berikut :
Menurut E.E. Waklstrom, 1958, Berdasarkan jauh dekatnya dari sumber
magma serta temperatur pada saat terbentuknya,

secara umum endapan

hidrotermal dapat dibagi menjadi 2 yakni sebagai berikut :


10

High Temperatur Hidrothermal


Hipothermal, terletak paling dekat dengan tubuh intrusi, terendapkan
dan terkonsentrasi pada kedalaman di bawah permukaan bumi dan
terbentuk pada suhu yang tinggi antara 372 - 450 C.
Mesothermal, terletak agak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada kedalaman menengah di bawah permukaan bumi
dan terbentuk pada suhu yang cukup tinggi 300 - 372 C.
Low Temperatur Hidrothermal
Leptothermal, terletak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada slight dip dengan temperatur antara 200 - 300 C.
Epithermal, terletak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada slight dip dengan temperatur antara 100 - 200 C.
Telethermal, terletak sangat jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dekat
dengan permukaan bumi dengan temperatur 50 - 100 C.
Menurut Lindgren, 1933, berdasarkan jauh dekatnya dari sumber
magma serta temperatur dan tekanan pada saat terbentuknya, endapan
hidrotermal dibedakan menjadi 5 jenis yakni sebagai berikut :
o Hipothermal, terletak paling dekat dengan tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada kedalaman di bawah permukaan bumi dan terbentuk
pada suhu yang tinggi antara 300 - 500 C dan tekanan yang sangat tinggi.
o Mesothermal, terletak agak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada kedalaman menengah di bawah permukaan bumi dan
terbentuk pada suhu yang cukup tinggi 200 - 300 C dan tekanan yang
sangat tinggi.

11

o Epithermal, terletak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan terkonsentrasi


pada slight dip dengan temperatur antara 50 - 200 C dan tekanan
menengah.
o Telethermal, terletak sangat jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dekat
dengan permukaan bumi dengan temperatur dan tekanan menengah.
o Xenothermal, terletak sangat jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada kedalaman rendah dekat permukaan bumi dengan
temperatur rendah sampai tinggi dan tekanan yang menengah.

Gambar Hydrothermal Processes

Selain itu, W. Lindgren, 1933, membagi endapan hidrothermal


berdasarkan posisi mineraloginya dan dapat digolongkan kedalam 3 golongan
utama saja yaitu endapan hipothermal, endapan mesothermal dan endapan
epithermal.

12

Larutan hidrothermal yang menembus batuan induk atau batuan


samping (wall rock) akan membawa mineral-mineral yang diendapkan dan
mengisi rekahan-rekahan membentuk cavety felling deposits atau dapat juga
terjadi proses penggantian pada batuan induk atau batuan samping sebagai
replacement deposits yang akan menghasilkan bentuk mineral semu
(pseudomorf) dengan pengisian oleh mineral Flourit dan Barit.
Pengendapan hidrothermal dapat melalui larutan biasa dan larutan
coloid yang pada akhirnya membentuk larutan metacoloid dengan ciri adanya
subtitusi unsur-unsur yang mempunyai jari-jari ion sama dengan unsur yang
digantikannya. Beberapa cebakan hidrothermal sering mengikuti bentuk
rongga yang sudah ada berupa bidang perlapisan, foliasi, kekar, sesar atau
mengikuti pola lipatan. Urat-urat (veins) terjadi pada kekar-kekar yang ada
pada batuan yang kompak (batuan beku), inpregnasi pada batupasir dan tuff
sedang pseudomorf pada batuan yang reaktif batugamping dolomite.
1. Endapan Hipothermal
Endapan hipothermal merupakan endapan hidrothermal yang
terletak paling dekat dengan tubuh intrusi, terendapkan dan terkonsentrasi
pada kedalaman berkisar antara 3000 15.000 m di bawah permukaan
bumi dan terbentuk pada suhu yang tinggi antara 300 - 500 C dan
tekanan yang sangat tinggi.
Ciri-ciri endapan hipothermal
Endapan berupa vein (urat) dan dike yang berasosiasi dengan
kedalaman yang besar.
Wall rock alterasi dicirikan oleh proses replacemen yang kuat
menghasilkan gossan dan skarn.

13

Asosiasi mineral yang ada meliputi Sulfida (Pyrite, Chalcopirite,


Galena, dan Sphalerite) dan Oksida (Specularite, Hematite, dan
Magnetite).
Pada intrusi granit sering diikuti pembentukan mineral logam seperti
Au, Pb, Sn, Mo, Cu, As, W, dan Zn.
Tipikal endapannya berupa vein-vein Cassiterite, Tungstates (Scheelite
dan Wolfamite), Magnetite, Specularite, Pyrrhotite, Arsenopyrite,
Bornite, Chalcopyrite, Scheelite, Pyrite, Galena dan Molybdenite.
Gangue utama berupa Garnet, Plagioklas, Biotite, Muscovite, Epidote,
Chlorite, Quartz, Tourmaline, dan Topaz.
Jenis alterasi yang biasa terjadi meliputi Albitization, Tourmalinization,
Rutile development, Sericitization in siliceous rocks, Chloritization.
2. Endapan Mesothermal
Endapan mesothermal merupakan endapan hidrothermal yang
terletak agak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan terkonsentrasi pada
kedalaman menengah sekitar 1200 4500 m di bawah permukaan bumi
dan terbentuk pada suhu yang cukup tinggi 200 - 300 C dan tekanan
yang sangat tinggi.
Ciri-ciri endapan mesothermal
Endapan berupa cavity felling dan kadang-kadang mengalami proses
replacement berupa crustification dan terjadi pengayaan (supergene
enrichment).
Asosiasi mineral yang ada berupa sulfida (Au, Pb, Zn, Ni, Co, W, Mo,
U, Cu, Ag, As dan Sb) dan oksida (Sn) yang berasosiasi dengan batuan
beku asam atau basa dekat dengan permukaan bumi.

14

Tipikal endapannya membawa sulfida-sulfida yang meliputi antara lain


Native Au, Chalcopyrite, Bornite, Pyrite, Sphalerite, Galena, Enargite,
Chalcocite, Argentite, Nicollite, Cobaltite, Tetrahedrite dan Sulfosalt.

Gangue mineral berupa Garnet, Tourmaline, Topaz, Albite, Sericite,


Chlorite, Montmorillonite, Quartz, Carbonate (Calcite, Rhodochosite
dan Siderite).

Banyak dijumpai Gold bearing vein dan Disseneted Copper.


Jenis alterasi yang biasa terjadi meliputi Carbonitization, Chloritization
dan Sericitization.
3. Endapan Epithermal
Epithermal, terletak jauh dari tubuh intrusi, terendapkan dan
terkonsentrasi pada permukaan bumi hingga kedalaman 1500 m dibawah
permukaan bumi dengan temperatur berkisar antara 50 - 200 C dan
tekanan menengah.
Ciri-ciri endapan epithermal
Endapan terletak dekat dengan permukaan berupa fissure veins, cockase
structure dan replacement jarang bahkan tidak pernah dijumpai.
Asosiasi mineral logam berupa Au, Pb, Zn, Hg, Sb, Cu, Se, Bi, U dan
Ag.
Tipikal endapannya berupa Native Au, Native Ag, Cu, Bi, Pyrite,
Marcasite, Sphalerite, Galena, Chalcipyrite, Cinnabar, Stibnite, Realgar,
Orpiment, Ruby Silvers, Argentite, Selenides dan Tellurides.
Gangue mineral berupa SiO2 seperti Chert dan Chalcedony atau
kristalin Quartz, Sericite, low Fe Chlorite, Epidote, Carbonates, flourite,
Barite, Adularia, Alunite, dickite dan Zeolite.
15

Jenis alterasi yang biasa terjadi meliputi Chertification, Kaolinization,


Pyritization, Dolomitization, dan Chloritization.
2.3 Struktur Khusus Endapan Bijih

Gula /

Sisir /

Ghost-

16

Keterangan gambar :
(a) Tekstur banding/colloform dalam urat kuarsa yang ditunjukkan oleh tanda
panah;
(b) Urat kuarsa memperlihatkan crackle breccia yang ditunjukkan oleh tanda
panah;
(c) Tekstur pejal (A) dan vuggy (B) dalam urat kuarsa;
(d) Tektur bosa/bladed calcite (tanda panah) dalam urat kuarsa.

17

Kristal euhedral kuarsa yang membentuk tekstur sisir diperkirakan berasal


dari larutan hidrotermal bersifat super jenuh kuarsa tetapi tak jenuh terhadap
kalsedon, yang mengalami pendinginan secara perlahan dan diendapkan langsung
pada bukaan-bukaan struktur dalam batuan induk. Serupa dengan pembentukan
tekstur sisir, kuarsa bertekstur gula juga diendapkan secara langsung, tetapi
terbentuk sebagai kristal-kristal berukuran butir halus ka-rena kecepatan
pengendapan dan kristalisasi silika. Tekstur gula dan sisir diperkirakan sebagai
indikasi jenis tekstur yang termasuk ke dalam super zona crustiform-colloform
bagian bawah dan mencerminkan interval dua fase atau pendidihan (Buchanan,
1981). Proses pendidihan menjadi pemicu terjadinya perkembangan kristalisasi
silika pada larutan hidrotermal untuk menghasilkan aneka kristal kuarsa dari
bentuk butiran gula hingga prismatik seperti pada tekstur sisir.
Kuarsa bertekstur ghost-bladed terdiri atas lembaran tipis kristal kuarsa
anhedral yang terbentuk sebagai pengganti (replacement) mineral lain (biasanya
kalsit), dan selama pengendapannya dipengaruhi pengotoran. Mengacu pada
model zona tekstur pada sistem mineralisasi epitermal menurut Buchanan (1981),
tekstur tersebut merupakan salah satu indikasi zona karbonat yang termasuk ke
dalam bagian super zona kalsedonik. Proses penggantian karbonat/kalsit oleh
kuarsa berkaitan dengan terjadinya pencampuran fluida meteorik bersuhu lebih
rendah dengan CO2 yang dibebaskan dari larutan hidrotermal di kedalaman ketika
mengalami pendidihan. Peningkatan suhu akibat pendidihan diikuti oleh
masuknya gelembung gas CO2 yang masih dalam keadaan panas ke dalam fluida
meteorik dan menurunnya daya larut kalsit, menyebabkan fluida tersebut menjadi
jenuh kalsit, sehingga kalsit diendapkan pada bukaan-bukaan batuan sampingnya.
Pada suhu lebih rendah CO2 terlarutkan lebih cepat untuk membentuk fluida
H2CO3 yang menyebabkan peningkatan aktifitas ion-ion HCO3 dan CO3-2,
diduga menghasilkan kondisi yang kondusif untuk terbentuknya tekstur kalsit
bladed. Tidak tampaknya karbonat (kalsit) pada zona ini karena telah mengalami

18

pelapukan atau secara cepat telah digantikan oleh kuarsa untuk membentuk
tekstur bladed tersebut.

2.4 Alterasi Hidrotermal


Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam
keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak
dalam kondisi isokimia, menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau
sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, berbeda dengan
metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi
batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang
memungkinkan masuknya air meteorik untuk dapat mengubah komposisi
mineralogi batuan. Proses alterasi hidrothermal sangat erat kaitannya dengan
alterasi batuan samping (wall rocks) akibat adanya intrusi batuan beku dalam
suatu tatanan proses magmatisme yang berlangsung di bumi.
Menurut Meyer & Hemley (1967) dan Rose & Burt (1979) proses
alterasi hidrothermal dapat dibagi menjadi beberapa kategori atau tipe
antaralain sebagai berikut.
a. Advanced argilic alteration
Advanced argilic alteration merupakan salah satu tipe alterasi kuat
yang

dicirikan oleh kehadiran dickite, kaolinite [both Al 2Si2O5(OH)4],

pyrophyllite [Al2Si4O10(OH)2] dan Quartz. Sericite tak jarang dijumpai,


begitu pula dengan mineral alunite, pyrite, tourmaline, topaz, zunyite dan
mineral lempung amorf.
b. Sericitization
Sericitization merupakan tipe alterasi yang terjadi pada batuan yang
kaya akan aluminium seperti slate, granit, dan lain-lain. Mineral yang

19

dominan hadir pada alterasi tipe ini adalah serisite dan Quartz, pyrite
kadang-kadang hadir bersamaan dengan mineral diatas.
c. Intermediate argilic alteration
Intermediate argilic alteration merupakan tipe alterasi yang
dicirikan dengan kehadiran mineral utama kaolin dan montmorillonite
group yang merupakan hasil alterasi dari mineral plagioklas.
d. Propylitic alteration
Propilitic alteration merupakan tipe alterasi yang paling kompleks
yang dicirikan oleh kehadiran mineral chlorite, epidote, albite, dan
karbonat (calcite, dolomite or ankerite). Kurangnya kehadiran sericite,
pyrite dan magnetite serta zeolite dan montmorillonite dalam jumlah yang
sedikit.
e. Chloritization
Chloritization merupakan tipe alterasi yang ditandai dengan
kehadiran mineral chlorite secara tunggal maupun bersamaan dengan
mineral Quartz dan tourmaline, tetapi tak jarang pula mineral propylitic
hadir.
f. Carbonatization
Dolomitization umumnya terjadi mulai dari temperatur rendah
sampai menengah pada pembentukan mineral bijih pada batugamping.
Dolomite terbentuk akibat adanya aktivitas hidrothermal (hydrothermal
solution) pada batuan karbonat yang berasosiasi dengan timah hitam dan
seng temperatur rendah seperti pada tipe mississippi valley type.

20

g. Potasium silicate alteration


Potasium feldspar sekunder dan biotite merupakan mineral esensial
pada jenis alterasi ini. Pada jenis alterasi ini juga tidak ditemukan adanya
mineral lempung tetapi chlorite terkadang hadir dalam jumlah yang
sedikit. Anhydrite seringkali hadir khususnya pada endapan tembaga
porfiri misalnya pada endapan tembaga porfiri di El Salvador, Chile dan
terbentuk lebih dari 15 % dari total seluruh batuan yang mengalami
alterasi. Selain itu mineral magnetite dan hematite sering juga dijumpai
bersamaan dengan mineral-mineral sulfida seperti pyrite, molybdenite, dan
chalcopyrite pada kondisi sulfur dan logam yang seimbang.
h. Silicification
Silicification merupakan tipe alterasi yang ditandai dengan
meningkatnya kadar silika, yang dapat diidentifikasi dengan peningkatan
jumlah mineral kuarsa atau kripto-kristaline silika (Chert dan opal) pada
batuan yang mengalami alterasi. Silika dapat hadir dari hasil hydrothermal
solution. Silicification merupakan salah satu penunjuk adanya mineral
bijih. Silicification yang terjadi pada batuan karbonat akan membentuk
tipe endapan skarn yang merupakan tipe endapan yang berasosiasi dengan
batuan sedimen utamanya batuan karbonat.
i. Feldspathization
Feldspathization menunjukkan perkembangan dari salah satu
potasium feldspar. Ortoklas sekunder atau mikrokline berasal dari
introduksi potasium ketika berada pada zona kedalaman dari endapan
tembaga porfiri. Albitization pada bagian lainnya merupakan hasil dari
introduksi dari sodium atau berasal dari pengurangan kalsium dari
plagioklas. Albitization sering dijumpai pada beberapa deposit emas,
menggantikan potasium feldspar misalnya pada Treadwell, Alaska.

21

j. Tourmalinization
Tourmalinization merupakan tipe alterasi yang berasosiasi dengan
endapan ber-temperatur menengah hingga tinggi, seperti timah dan veinvein emas seperti yang dijumapai pada daerah sigma gold mine di Quebec
dan Llallagua, Bolivia.
k. Other alteration type
Selain beberapa tipe alterasi diatas, masih banyak lagi tipe alterasi
lainnya seperti alunitization, pyritization, hematitization merupakan tipe
alterasi yang berasosiasi dengan uranium, bleaching merupakan tipe
alterasi yang terjadi pada banyak kasus reduksi dari hematite,
greisenization merupakan tipe alterasi pada timah-tungsten dan berylium
deposit pada batuan beku granitik atau gneiss, fenitization merupakan tipe
alterasi yang berasosiasi dengan deposit batuan karbonat dan dicirikan
dengan kehadiran mineral nepheline, aegirine, sodium amphibole dan
alkaline feldspar. Serpentinization merupakan proses perubahan mineral
olivin menjadi mineral serpentin dan talk akibat adanya proses
hydrothermal Dan Zeolitization merupakan tipe alterasi yang ditandai
dengan kehadiran mineral stilbite, natrolite, heulandite dan lainnya,
kadang berasosiasi dengan mineralisasi native copper pada basalt
amygdaloidal calcite, prehnite, pectolite, apophyllite dan datolite yang
sangat umum dijumpai secara bersamaan.
Adapun beberapa contoh-contoh mineral yang dapat terbentuk dari
proses alterasi adalah sebagai berikut :
1. Actinolit Ca2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2, Mineral ini menunjukkan warna hijau
gelap, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, kilap kaca, cerat
berwarna putih dan menunjukkan bentuk elongated. Terbentuk pada suhu
800 9000 C, dihasilkan oleh alterasi dari piroksen pada gabro dan diabas,
pada proses metamorfik green schist facies.
22

2. Adularia KAlSi3O8, Mineral ini menunjukkan warna putih-pink, sistem


kristal monoklin, belahan 2 arah, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan
bentuk prismatik. Terbentuk pada suhu 7000 C, akibat proses hidrotermal
dengan temperatur yang rendah berupa urat.
3. Albite NaAlSi3O8, Mineral ini menunjukkan warna putih, sistem kristal
triklin, belahan 3 arah, pecahan tidak rata konkoidal, kilap kaca, cerat
putih. Terbentuk pada suhu 750 8000 C, akibat proses hidrotermal dengan
suhu yang rendah dan alterasi dari plagioklas, proses metamorfik dengan
temperatur dan tekanan yang rendah, proses magmatisme dan proses
albitisasi.
4. Biotite K(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2, Mineral ini menunjukkan warna hitam,
sistem kristal monoklin, belahan sempurna, pecahan tidak rata, kilap kaca
dan mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk tabular. Terbentuk pada
temperatur 700 800

C, terbentuk akibat proses magmatisme,

metamorphisme dan proses hidrotermal. Dapat terbentuk pada daerah


magmatisme.
5. Clinopiroxene XY(Si,Al)2O6, Mineral ini menunjukkan warna hijau, biru,
sistem kristal monoklin, belahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan
menunjukkan betuk prismatik. Terbentuk pada suhu 900 1000

C,

terbentuk akibat proses magmatik mafik dan ultramafik plutonic, pada


proses metamorfisme kontak dan regional dengan temperatur yang tinggi.
Dapat terbentuk pada daerah magmatisme bersifat basa.
6. Diopside MgCaSi2O6, Mineral ini menunjukkan warna hijau, biru, sistem
kristal monoklin, belahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan
menunjukkan betuk prismatik. Terbentuk pada suhu 900 1000

C,

terbentuk akibat proses magmatik mafic dan ultramafic plutonic, pada


proses metamorphisme kontak. Lingkungan daerah magmatisme.

23

7. Dolomite CaMg(CO3)2, Mineral ini menunjukkan warna putih-pink, sistem


kristal heksagonal, belahan sempurna, pecahan subkonkoidal, kilap kaca,
cerat putih. Terbentuk dari proses hidrotermal pada suhu yang rendah
berupa urat, juga dapat terbentuk pada lingkungan laut akibat proses
dolomitisasi batugamping dan proses metamorfik (dolostone protoliths).
8. Epidote Ca2Al2(Fe3+;Al)(SiO4)(Si2O7)O(OH), Mineral ini menunjukkan
warna hijau, sistem kristal monoklin, belahan jelas 2 arah, pecahan tidak
rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk prismatik. Terbentuk
pada temperatur 900 10000 C, terbentuk akibat proses metamorphisme
pada fasies green schist dan glaucophane schist dan hidrotermal
(propylitic alteration). Proses magmatik sangat jarang menghasilkan
mineral ini.
9. Garnet X3Y2(SiO4)3, Mineral ini menunjukkan warna hijau gelap atau
merah gelap, sistem kristal rhombic dodekahedron, belahan tidak
sempurna, pecahan konkoidal dan menunjukkan kenampakan tabular.
Terbentuk pada suhu 1600 18000 C, dapat terbentuk pada zona kontak
magmatic plutons dengan temperatur yang tinggi, yaitu pada mineralisasi
skarn. Selain itu juga dapat terbentuk akibat proses metamorfisme.
Lingkungan terbentuknya pada daerah magmatisme.
10.Heulandite (Ca,Na)2-3Al3(Al,Si)2Si13O3612H2O, Mineral ini menunjukkan
warna putih pink, sistem kristal monoklin, belahan 1 arah, pecahan
subkonkoidal tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk
tabular. Terbentuk pada suhu 600 7000 C, akibat proses alterasi dari vitrik
tuff dan proses hidrotermal berupa urat pada basalt, gneiss dan schist.
11. Illite (K,H3O)(Al,Mg,Fe)2(Si,Al)4O10[(OH)2,(H2O)], Mineral ini tidak
berwarna (bening), dan sebagian menunjukkan warna putih-abu-abu,
sistem kristal monoklin, belahan 1 arah sempurna, kilap lemak, bersifat
elastis dan menunjukkan bentuk tabular. Terbentuk pada suhu 700 800 0
24

C, hasil dari proses magmatisme khususnya batuan beku dalam yang


kaya akan alumina dan silika (pegmatit dan granit), dapat merupakan
hasil proses metamorfik (mudrock sediment) dan hasil alterasi dari
feldspar.
12. Kaolinite Al2Si2O5(OH)4, Mineral ini menunjukkan warna putih, sistem
kristal monoklin, belahan sempurna, kilap mutiara. Terbentuk akibat
adanya proses pelapukan dari mineral yang kaya Al dan hasil proses
alterasi dari mineral yang kaya Al dapat terbentuk pada daerah danau.
13. Laumontite Ca(AlSi2O6)24H2O, Mineral ini menunjukkan warna putih
abu-abu pink, sistem kristal monoklin, belahan 3 arah, pecahan rata,
kilap mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk elongated prismatik.
Terbentuk pada suhu 600 7000 C, akibat proses hidrotermal yang
mengisi rongga-rongga pada batuan beku, batuan sedimen dan metamorf.
14. Microcline (KAlSi3O8), Mineral ini menunjukkan warna putih-hijau,
sistem kristal triklin, belahan 2 arah, pecahan tidak rata, kilap kacamutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk prismatik. Terbentuk pada
suhu 7000 C, akibat proses magmatik yang menghasilkan plutonic rock
yaitu pegmatit, proses metamorfik dengan temperatur yang rendah yaitu
pada gneiss dan schist dan proses hidrotermal.
15. Montmorillonite (Na,Ca)0.33(Al,Mg)2(Si4O10)(OH)2nH2O, Mineral ini
menunjukkan warna putih abu-abu, sistem kristal monoklin. Terbentuk
pada daerah beriklim tropis yang merupakan hasil alterasi dari feldspar
pada batuan yang miskin silika. Hasil dari pelapukan glass volkanik dan
tuff dari proses hidrotermal.
16. Prehnite Ca2Al(AlSi3O10)(OH)2, Mineral ini menunjukkan warna
kehijauan, sistem kristal orthorombic, belahan sempurna, pecahan tidak
rata, kilap kaca, cerat berwarna putih dan menunjukkan bentuk tabular.

25

Terbentuk pada suhu 700 8000 C, akibat proses metamorfisme dan


proses hidrotermal yang mengisi rongga pada batuan volkanik basalt.
17. Wairakite CaAl2Si4O122(H2O), Mineral ini menunjukkan warna putih,
dapat terbentuk pada suhu 600 7000 C, akibat proses hidrotermal
(geothermal environment), proses metamorfisme burial dengan suhu
yang rendah, reksi dehidrasi dari laumontite pada sedimen tuff.
18. Wollastonite (CaSiO3), Mineral ini menunjukkan warna putih, sistem
kristal triklin, kilap kaca, belahan sempurna 3 arah, pecahan tidak rata,
cerat putih dan menunjukkan bentuk tabular. Terbentuk pada suhu 11000
C, akibat proses metamorfisme kontak pada calcareous dan marl rocks
dan dapat terjadi akibat metamorfisme regional dengan tekanan yang
rendah.
19. Zeolite Na2Al2Si3O10-2H2O, Mineral ini menunjukkan warna abu-abu
putih, sistem kristal monoklin, belahan sempurna 3 arah, pecahan tidak
rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk elongatedprismatik. Terbentuk pada temperatur 600 7000 C, akibat proses
hidrotermal yang mengisi urat dan rongga pada batuan beku dan proses
metamorpisme burial.

BAB 3
PENUTUP

26

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :

Larutan hidrothermal merupakan suatu larutan sisa magma yang


kemudian bercampur dengan air bawah permukaan membentuk mineralmineral ekonomis.

Berdasarkan posisi mineraloginya, endapan yang terbentuk akibat adanya


prosess hidrothermal dalam hal ini endapan hidrothermal dapat
dikelompokkan menjadi 3 yakni endapan hipothermal, endapan
mesothermal dan endapan epithermal.

Proses alterasi sangat erat kaitannya dengan hydrothermal solution,


dimana proses alterasi merupakan suatu proses perubahan komposisi
mineralogi batuan akibat adanya perubahan suhu dan tekanan yang sangat
tinggi.

Struktur khusus yang dibentuk oleh endapan bijih sangat dipengaruhi oleh
jenis atau sifat magma, struktur geologi yang berkembang pada suatu
daerah, dan berbagai macam proses kimia yang terjadi sepanjang
pembentukan endapan bijih tersebut.

3.2 Saran

27

Untuk lebih menambah pengetahuan dan wawasan mengenai proses


hidrothermal, alterasi hidrothermal dan struktur khusus endapan mineral bijih
maka perlu kiranya mahasiswa mencari dan membaca literatur-literatur
terkait serta jurnal-jurnal geologi yang erat kaitannya dengan proses
pembentukan mineral ekonomis.

28