Anda di halaman 1dari 8

Hiperemesis Gravidarum

Definisi
Mual dan muntah sering terjadi pada pada minggu-pertama kehamilan, dan hal tersebut
merupakan hal yang normal yang biasa disebut dengan emesis gravidarum. Mual dan
muntah yang biasa dapat berlanjut menjadi suatu keadaan yang jarang terjadi, yaitu
menolak semua makanan dan minuman yang masuk, hal tersebut dapat menyebabkan
dehidrasi, kelaparan dengan ketosis bahkan sampai kematian (Niebyl, 2010).

Hiperemesis gravidarum adalah suatu penyakit dimana wanita hamil memuntahkan segala
apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit
berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuria (Mose, 2005). Sedangkan dari
literatur lain menyebutkan bahwa hiperemesis gravidarum adalah muntah yang cukup
parah sehingga menyebabkan kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari kelaparan,
alkalosis dari kehilangan asam hidroklorid saat muntah dan hipokalemia (Cunningham, et
al., 2010). Literatur lainnya menyebutkan bahwa HEG adalah muntah yang terjadi pada
awal kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu (Saifuddin, 2008).

Hiperemesis gravidarum dikarakteristikkan sebagai mual dan muntah yang menetap dan
menyebabkan ketosis dan penurunan berat badan lebih dari 5% berat sebelum hamil
(Hanretty, 2008).

Prevalensi dan Epidemiologi


Hiperemesis gravidarum terjadi di seluruh dunia dengan angka kejadian yang beragam
mulai dari 1-3% di Indonesia, 0,3% di Swedia, 0,5% di California, 0,8% di Canada, 10,8%
di China, 0,9% di Norwegia, 2,2% di Pakistan dan 1,9% di Turki (Zhang, et al., 2011).
Literatur juga menyebutkan bahwa perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum secara
umum adalah 4:1000 kehamilan (Mose, 2005).

Hiperemesis gravidarum jarang menyebabkan kematian, tetapi angka kejadiannya masih


cukup tinggi. Hampir 25% pasien hiperemesis gravidarum dirawat inap lebih dari sekali
(Gunawan, Manengkei, & Ocviyanti, 2011).

Mual dan muntah pada kehamilan biasanya dimulai pada kehamilan minggu ke-9 sampai
ke-10, memberat pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan berakhir pada minggu ke-12
sampai ke-14. Hanya pada 1-10% kehamilan gejala berlanjut melewati minggu ke-20
sampai ke-22. Pada 0,3-2% kehamilan terjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan
ibu harus ditata laksana dengan rawat inap (Gunawan, Manengkei, & Ocviyanti, 2011).

Peningkatan hormon-hormon pada kehamilan berkontribusi terhadap terjadinya mual dan


muntah. Beberapa faktor yang terkait dengan mual dan muntah pada kehamilan antara lain
(WHO, 2013):
Riwayat hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya atau keluarga
Status nutrisi; wanita obesitas lebih jarang dirawat inap karena hiperemesis.
Faktor psikologis: emosi, stress

Manifestasi Klinis
Batas antara mual dan muntah dalam kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis
gravidarum masih belum jelas, akan tetapi muntah yang menyebabkan gangguan
kehidupan sehari-hari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil tersebut
memerlukan perawatan yang intensif (Saifuddin, 2008).

Pada hiperemesis gravidarum, gejala-gejala yang dapat terjadi adalah:

a) Muntah yang hebat

b) Haus, mulut kering

c) Dehidrasi

d) dx. Foetor ex ore (mulut berbau)

e) Berat badan turun

f) Kenaikan suhu

g) Ikterus

h) Gangguan serebral (kesadaran menurun)

i) Laboratorium : hipokalemia dan asidosis. Dalam urin ditemukan protein, aseton,


urobilinogen, porfirin bertambah, dan silinder positif (Mose, 2005).

Hiperemesis gravidarum dibagi berdasarkan berat ringannya gejala menjadi 3 tingkat, yaitu
(Saifuddin, 2008) :

a) Ringan (Tingkat I)
Ditandai dengan muntah terus menerus yang membuat keadaan umum ibu berubah,
ibu merasa sangat lemah, tidak ada nafsu makan, berat badan menurun, dan nyeri
ulu hati. Pada pemeriksaan fisik ditemukan denyut nadi sekitar 100 kali permenit,
tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata
cekung.
b) Sedang (Tingkat II)
Pasien terlihat lebih lemah dan apatis, kulit pucat, turgor kulit berkurang, lidah
mengering dan tampak kotor, denyut nadi lemah dan cepat dari 100-140 kali per
menit, suhu akan naik dan mata sedikit ikteris, berat badan turun dan mata cekung,
sistolik kurang dari 80 mmHg, hemokonsetrasi, oliguria(volume buang air kecil
sedikit) dan konstipasi (sulit buang air besar). Bau aseton dapat tercium dari nafas
dan dapat pula ditemukan dalam urin.
c) Berat (Tingkat III)
Keadaan umum tampak lebih parah, muntah berhenti, penurunan kesadaran yakni
delirium sampai koma. Nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun dan suhu
meningkat, muntah berkurang atau berhenti, dapat terjadi ikterus dan sianosis, serta
proteinuria Komplikasi pada susunan saraf yang fatal dapat terjadi, dikenal dengan
ensefalopati Wernicke, dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental.
Keadaan tersebut diakibatkan oleh kekurangan zat makanan, terutama vitamin B 1
dan B2.

Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, namun faktor-faktor
predisposisi yang dikemukakan (Mochtar, 1998) :

1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa


dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan
ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena pada
kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi meternal dan perubahan metabolik akibat
hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan
faktor organik.
3. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai
salah satu faktor organik
4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga
yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan, takut terhadap
tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat
memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan
menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.

Patofisiologi
Ada teori yang menyebutkan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar
korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron karena keluhan ini mucul pada 6 minggu
pertama kehamilan yang dimulai dari hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama
10 minggu. Pengaruh fisiologis hormon ini korionik gonadotropin, estrogen dan
progesteron ini masih belum jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat akibat
berkurangnya sistem pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan ibu
hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan Selain teori
hormon korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron ini masih ada beberapa teori lain
yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum seperti infeksi H. Pylori. Berdasarkan
penelitian, diketahui bahwa infeksi H. pylori dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum.
Selain itu masih ada teori penyebab hiperemesis gravidarum akibat psikologis (Hanretty,
2008).

Secara umum berdasarkan berbagai teori, pada hiperemesis gravidarum terjadi mual,
muntah dan penolakan semua makanan dan minuman yang masuk, sehingga apabila terus-
menerus dapat menyebabkan dehidrasi, tidak imbangnya kadar elektrolit dalam darah,
dengan alkalosis hipokloremik. Selain itu hiperemesis gravidarum mengakibatkan
cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi karena energi yang
didapat dari makanan tidak cukup, lalu karena oksidasi lemak yang tidak sempurna,
terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan
aseton dalam darah sehingga menimbulkan asidosis. Selanjutnya, dehidrasi yang telah
terjadi menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang, hal tersebut menyebabkan
pasokan zat makanan dan oksigen berkurang dan juga mengakibatkan penimbunan zat
metabolik yang bersifat toksik didalam darah. Kemudian, hiperemesis gravidarum juga
dapat menyebabkan kekurangan kalium akibat dari muntah dan ekskresi lewat ginjal, yang
menambah frekuensi muntah yang lebih banyak, dan membuat lingkaran setan yang sulit
untuk dipatahkan.
Diagnosis
Pada diagnosis harus ditentukan adanya kehamilan dan muntah yang terus menerus,
sehingga mempengaruhi keadaan umum. Pemeriksaan fisik pada pasien hiperemesis
gravidarum biasanya tidak memberikan tanda-tanda yang khusus.

Mual dan muntah sering menjadi masalah pada ibu hamil. Pada derajat yang berat, dapat
terjadi hiperemesis gravidarum, yaitu bila terjadi (WHO, 2013) :
Mual dan muntah hebat
Berat badan turun > 5% dari berat badan sebelum hamil
Ketonuria
Dehidrasi
Ketidakseimbangan elektrolit

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan antara lain, pemeriksaan darah lengkap,
pemeriksaan kadar elektrolit, keton urin, tes fungsi hati, dan urinalisa untuk menyingkirkan
penyebab lain. Bila hiperthyroidisme dicurigai, dilakukan pemeriksaan T3 dan T4.
Lakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan kehamilan mola.

Penatalaksanaan
Penatalaksaan pada ibu dengan hiperemesis gravidarum dapat dilakukan dimulai dengan :

a) Informasi
Informasi yang diberikan pada ibu hamil adalah informasi bahwa mual dan muntah
dapat menjadi gejala kehamilan yang fisiologis dan dapat hilang sendiri setelah
kehamilan berlangsung beberapa bulan. Namun tidak ketinggalan diberikan
informasi, bahwa apabila mual dan muntah yang terjadi sudah mengganggu dan
menyebabkan dehidrasi, maka ibu tersebut harus segera melaporkannya ke fasilitas
kesehatan terdekat (Fauci, Kasper, Longo, Braunwald, & Hauser, 2008).
b) Obat-obatan
Obat yang dapat diberikan kepada ibu hamil yang mengalami hiperemesis
gravidarum akibat stress psikologis adalah obat sedatif seperti phenobarbital. Dapat
juga diberikan vitamin seperti vitamin B 1 dan B2 yang berfungsi mempertahankan
kesehatan syaraf jantung dan otot serta meningkatkan perbaikan dan pertumbuhan
sel. Lalu diberikan pula antihistamin atau antimimetik seperti disiklomin
hidrokloride pada keadaan yang lebih berat untuk kondisi mualnya (Fauci, Kasper,
Longo, Braunwald, & Hauser, 2008). Lalu untuk mual dan muntahnya dapat
diberikan vitamin B6. (Cunningham, et al., 2010)
c) Isolasi
Isolasi dilakukan di ruangan yang tenang, cerah dan ventilasi udara yang baik. Lalu
dicatat pula cairan yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum
selama 24 jam, karena kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan
berkurang atau hilang tanpa pengobatan (Mose, 2005).
d) Terapi psikologik
Pada terapi psikologik, perlu diyakinkan pada pasien bahwa penyakit dapat
disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh kehamilan, dan mengurangi masalah yang
dipikirkan (Mose, 2005).
e) Diet
Ciri khas diet hiperemesis adalah lebih diutamakan karbohidrat kompleks terutama
pada pagi hari, menghindari makanan yang berlemak dan berminyak untuk
menekan rasa mual dan muntah, lalu sebaiknya diberi jarak untuk pemberian
makan dan minum. Syarat pemberian makanan pada pasien hiperemesis
gravidarum adalah karbohidrat tinggi 75-80% dari kebutuhan energi total, lemak
rendah, yaitu kurang dari 10% dari kebutuhan energi total, dan protein sedang,
yaitu 10- 15% dari kebutuhan energi total. Makanan diberikan dalam bentuk yag
halus, diberikan dalam jumlah yang sedikit tapi dalam frekuensi yang sering. Lalu
diberikan juga cairan sesuai dengan keadaan pasien, yaitu sekitar 7-10 gelas per
hari (Mose, 2005).

I. Tatalaksana Umum
Sedapat mungkin, pertahankan kecukupan nutrisi ibu, termasuk suplementasi
vitamin dan asam folat di awal kehamilan.
Anjurkan istirahat yang cukup dan hindari kelelahan (WHO, 2013).
II. Tatalaksana Khusus
Bila perlu, berikan 10 mg doksilamin dikombinasikan dengan 10 mg vitamin B6
hingga 4 tablet/hari (misalnya 2 tablet saat akan tidur, 1 tablet saat pagi, dan 1 tablet
saat siang).
Bila masih belum teratasi, tambahkan dimenhidrinat 50-100 mg per oral atau
supositoria, 4-6 kali sehari (maksimal 200 mg/hari bila meminum 4 tablet
doksilamin/piridoksin), ATAU prometazin 5-10 mg 3-4 kali sehari per oral atau
supositoria.
Bila masih belum teratasi, tapi tidak terjadi dehidrasi, berikan salah satu obat di
bawah ini:
- Klorpromazin 10-25 mg per oral atau 50-100 mg IM tiap 4-6 jam
- Proklorperazin 5-10 mg per oral atau IM atau supositoria tiap 6-8 jam
- Prometazin 12,5-25 mg per oral atau IM tiap 4-6 jam
- Metoklopramid 5-10 mg per oral atau IM tiap 8 jam
- Ondansetron 8 mg per oral tiap 12 jam
Bila masih belum teratasi dan terjadi dehidrasi, pasang kanula intravena dan
berikan cairan sesuai dengan derajat hidrasi ibu dan kebutuhan cairannya, lalu:
Berikan suplemen multivitamin IV
Berikan dimenhidrinat 50 mg dalam 50 ml NaCl 0,9% IV selama 20 menit,
setiap 4-6 jam sekali
Bila perlu, tambahkan salah satu obat berikut ini:
- Klorpromazin 25-50 mg IV tiap 4-6 jam
- Proklorperazin 5-10 mg IV tiap 6-8 jam
- Prometazin 12,5-25 mg IV tiap 4-6 jam
- Metoklopramid 5-10 mg tiap 8 jam per oral
Bila perlu, tambahkan metilprednisolon 15-20 mg IV tiap 8 jam ATAU
ondansetron 8 mg selama 15 menit IV tiap 12 jam atau 1 mg/ jam terus-
menerus selama 24 jam (WHO, 2013).

Komplikasi
Pada mual dan muntah yang parah, lama dan sering dapat menyebabkan tubuh mengalami
defisensi 2 vitamin penting yaitu thiamin dan vitamin K. Pada defisiensi thiamin, dapat
terjadi Wernicke encephalopathy, yaitu suatu keadaan gangguan sistem saraf pusat yang
ditandai dengan pusing, gangguan penglihatan, ataxia dan nistagmus. Penyakit ini dapat
berkembang semakin parah dan menyebabkan kebutaan, kejang dan koma. Pada defisiensi
vitamin K, terjadi gangguan koagulasi darah dan juga disertai dengan epistaksis
(Cunningham, et al., 2010).

References
Cunningham, F., Leveno, K., Bloom, S., Hauth, J., Rouse, D., & Spong, C. (2010).
Williams Obstetrics 23rd. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.
Fauci, A., Kasper, D., Longo, E., Braunwald, S., & Hauser, L. L. (2008). Harrisons
Principles of Internal Medicine. USA: McGraw-Hill.
Gunawan, K., Manengkei, P. S., & Ocviyanti, D. (2011). Diagnosis dan Tata Laksana
Hiperemesis Gravidarum. J Indon Med Assoc, 458-464.
Hanretty, K. (2008). Obstetrics Illustrated. Philadelphia: Churchill Livingstone.
Mochtar, R. (1998). Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Mose, J. (2005). Gestosis. Dalam S. Sastrawinata, & D. Maartadisoebrata, Obstetri
Patologi. Jakarta: EGC.
Mullin, P. M., Bray, A. S., & Romero, R. (2011). Prenatal Exposure to Hyperemesis
Gravidarum Linked to Increased + Risk of Psychological and Behavioral
Disorders in Adulthood.
Niebyl, J. R. (2010). Nausea and Vomiting in Pregnancy. New England Journal of
Medicine, 1544- 1550.
Saifuddin, A. B. (2008). Ilmu Kebidanan Sarwono. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
WHO. (2013). Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Zhang, Y., Cantor, R. M., MacGibbon, K., Romero, R., Goodwin, T. M., Mullin, P. M., &
Fejzo, M. S. (2011). Familial Aggregation of Hyperemesis Gravidarum. . American
journal of obstetrics and gynecology, 230.