Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara
substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat
sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah
berhasil mengubah pola pemikiran umat manusia dari pandangan mitosentris
menjadi logosentris.
Perubahan dari pola pikir mitosentris dan logosentris membawa implikasi
yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama ini ditakuti
kemudian didekati dan bahkan dieksploitasi. Perubahan mendasar adalah
ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan
perubahan yang terjadi, baik di alam jagad raya (makrokosmos) maupun alam
manusia (mikrokosmos). Dari penelitian alam jagad raya bermunculan ilmu
astronomi, kosmologi, fisika, kimia, dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian
menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin
aplikatif dan terasa manfaatnya.
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia
untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi
perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang
terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun
aksiologi.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari pernyataan yang dikemukakan dalam latar belakang, maka
perumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan filsafat?
2. Apakah yang dimaksud dengan ilmu?
3. Bagaimana hubungan filsafat dan ilmu?
4. Apakah yang dimaksud dengan filsafat ilmu?
BAB II
PEMBAHASAN

1
A. Filsafat
A.1. Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat bermula dari munculnya kesadaran manusia akan
potensi akal budinya. Munculnya perkembangan dalam kesadaran rasional atau
filsafat mulai dari tahun 1200 SM di Tiongkok, kemudian juga ke India dan
Yunani. Namun dalam berbagai literatur latar belakang pemikiran filsafat selalu
mengacu ke Yunani kuno. Tokoh-tokoh filsuf kondang dunia, juga dirujuk ke
kawasan ini, termasuk pengertian filsafat itu sendiri.
Memang selain Yunani kuno, di berbagai kawasan sudah terdapat
peradaban-peradaban yang lebih tua yang sudah berusia ribuan tahun seperti yang
dijumpai di Assyria, Babylonia, Persia dan Mesir. Namun mereka masih
memandang manusia sebagai makhluk remeh yang menyembah dewa dan raja-
raja dengan kekuasaan absolut. Pandangan ini sangat berbeda dengan pandangan
orang Yunani mengenai harkat manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia itu
makhluk luhur, yang mempunyai kebebasan. Melalui pandangan seperti ini pula
tampaknya, Yunani kuno mampu melahirkan filsafat seperti yang dikenal
sekarang.
Dikemukakan bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani:
philosophia. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam
berbagai bahasa, seperti: philosophic dalam kebudayaan bangsa Jerman,
Belanda, dan Perancis; philosophy dalam bahasa Inggris; philosophia dalam
bahasa Latin; dan falsafah dalam bahasa Arab. Selanjutnya batasan filsafat
dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi. Secara
etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari
bahasa Yunani yaitu philosophia philos : cinta dan sophia: kebijaksanaan,
hikmah, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman praktis, intelegensi. Jadi bisa
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah
pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf
merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran

2
kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa: Filsafat adalah
pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu
(pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya
dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan)
tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Awalnya pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi
yakni logika, etika, dan estetika. Selanjutnya berkembang ke teori tentang ada:
menyangkut hakikat tentang keberadaan zat, pikiran, serta keterkaitan antara zat
dan pikiran yang terangkum dalam metafisika. Berikutnya politik, yakni kajian
mengenai organisasi sosial/ pemerintahan yang ideal. Lima cabang utama filsafat
ini kemudian berkembang ke cabang-cabang yang lebih spesifik, termasuk filsafat
ilmu. Adapun cabang-cabang filsafat dimaksud adalah; 1) filsafat ilmu
pengetahuan (epistemologi); 2) filsafat moral (etika); 3) filsafat seni (estetika); 4)
metafisika; 5) filsafat pemerintahan (politik); 6) filsafat agama; 7) filsafat ilmu; 8)
filsafat pendidikan; 9) filsafat hukum; 10) filsafat sejarah; dan 11) filsafat
matematika (Jujun S. Suriasumantri, 2000: 32-33).
Mencermati berbagai definisi yang dikemukakan, secara garis besarnya
filsafat berhubungan dengan upaya menemukan kebenaran tentang hakikat
sesuatu yang ada melalui penggunaan kemampuan akal secara optimal. Kebenaran
yang dihasilkan oleh pemikiran filsafat adalah jawaban-jawaban dalam bentuk
gagasan (ide). Tujuannya adalah mencapai kebenaran yang sifatnya mendasar dan
menyeluruh dalam sistem konseptual. Kegunaannya adalah untuk kearifan hidup
(Yako Sumardjo: 5). Ciri-ciri pemikiran filsafat adalah: 1) deskriptif; 2) kritis dan
analitis; 3) evaluatif atau normatif; 4) spekulatif; 5) sistematis; 6) mendalam; 7)
mendasar; dan 8) menyeluruh (Sotriono dan Rita Hanafie: 21)

A.2. Objek Filsafat

3
Ilmu filsafat memiliki objek material dan objek formal. Objek
material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi)
pembicaraan. Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki
oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat
ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific
knowledge) pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode
ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara
umum.
Objek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas objek material,
yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan
yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka
dihasilkanlah sistem filsafat ilmu.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam
dunianya. Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu
yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses
itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi
proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.

B. ILMU
B.1. Pengertian Ilmu
Kata ilmu merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Inggris Science.
Kata science ini berasal dari kata Latin Scientia yang berarti pengetahuan. Kata
scientia ini berasal dari bentuk kata kerja scire yang artinya mempelajari,
mengetahui. Pada mulanya cakupan ilmu (science) secara etimologis menunjuk
pada pengetahuan semata-mata, pengetahuan apa saja. Pertumbuhan selanjutnya
pengertian ilmu (science) ini mengalami perluasan arti, sehingga menunjuk pada
segenap pengetahuan sistematik (systematic knowledge). Pemakaian yang luas
dari kata ilmu (science) ini diteruskan dalam bahasa Jerman dengan istilah
wissenschaft yang berlaku terhadap kumpulan pengetahuan apapun yang teratur,
termasuk di dalamnya naturwissenschaften yang mencakup ilmu-ilmu kealaman

4
maupun geisteswissenschaften yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai the
humanities (pengetahuan kemanusiaan).
Ilmu adalah suatu bentuk ciptaan Tuhan. Orang tidak menciptakan ilmu,
melainkan mengungkapkan ilmu, atau mencari ilmu. Mencari ilmu merupakan
kewajiban manusia, dan apabila manusia telah menguasai ilmu, ilmunya pun akan
memberikan kenikmatan padanya.
Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau
fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang
diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu
merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu
terkait.
Definisi ilmu bergantung pada cara kerja indra masing-masing individu
dalam menyerap pengetahuan dan juga cara berfikir setiap individu dalam
memproses pengetahuan yang di perolehnya. Selain itu juga, dalam definisi ilmu
bisa berlandaskan aktifitas yang dilakukan ilmu itu sendiri. Kita dapat melihat hal
itu melalai metode yang digunakan.

B.2. Ciri-Ciri Ilmu


Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Kumpulan pengetahuan untuk dapat
disebut ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu objek material dan obyek
formal. Setiap bidang ilmu, baik ilmu-ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus
memiliki 2 (dua) macam obyek tersebut.
Obyek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikir
(gegenstand), sesuatu hal yang diselidiki/ dipelajari. Obyek material mencakup apa
saja, baik hal-hal konkrit atau hal-hal yang abstrak. Sedangkan obyek formal adalah
cara memandang/ meninjau yang dilakukan oleh seseorang peneliti terhadap obyek
materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Obyek formal suatu ilmu tidak
hanya memberikan keutuhan suatu ilmu tapi pada saat yang sama membedakannya
dari bidang-bidang lain. Suatu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut
pandang sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda.

5
C. Hubungan Filsafat dan Ilmu

Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu
kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana
dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini
mendorong pada upaya untuk memposisikan keduanya secara tepat sesuai dengan
batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk
lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami
khazanah intelektual manusia
Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan
ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan
sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping di kalangan ilmuwan
sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu,
dimikian juga di kalangan filsuf terdapat perbedaan pandangan dalam
memberikan makna dan tugas filsafat.
Adapun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat
adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/
memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat
maupun ilmu bersikap kritis, berpikiran terbuka serta sangat konsen pada
kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisir dan
sistematis. Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan
titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis
dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen
dan klasifikasi data pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum-
hukum atas gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat berupaya mengkaji
pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-
hal umum dalam berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat
sintetis dan sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi
kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan
kenapa dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan antara fakta
khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji hubungan
antara temuan-temuan ilmu dengan klaim agama, moral serta seni.

6
Dengan memperhatikan ungkapan di atas nampak bahwa filsafat
mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini
berarti bahwa apa yang sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya
mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan atau dijadikan
objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat dan ilmu mempunyai
kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni berfikir reflektif dan
sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan yang berbeda. Dengan demikian,
Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat
dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang
tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif,
sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa
dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak/ dogmatis. Menurut Sidi
Gazlba (1976), Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti
(riset dan/ atau eksperimen); batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat
dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan
oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah
batas alam namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatu yang diluar
alam, yang disebut oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar Amin
Hoesin (1964) mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan,
dan filsafat memberikan hikmat.

D. FILSAFAT ILMU
C.1. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa
pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat,
asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam
dan ilmu sosial.
Setelah dipahami pengertian filsafat dan ilmu, maka dapat disimpulkan
bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu,
sehingga filsafat ilmu perlu menjawab beberapa persoalan berikut:

7
1. Pertanyaan landasan ontologis
Objek apa yang ditelaah? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut?
Bagaimana korelasi antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti
berpikir, merasa dan mengindera) yang menghasilkan ilmu? Dari landasan
ontologis ini adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan sekaligus
bidang-bidang ilmu
2. Pertanyaan landasan epistemologis
Bagaimana proses pengetahuan yang masih berserakan dan tidak teratur itu
menjadi ilmu? Bagaimana prosedur dan mekanismenya? Hal-hal apa yang
harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang
disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/ teknik/ sarana apa
yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3. Pertanyaan landasan aksiologis
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan
antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana
penentuan objek dan metode yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Bagaimana korelasi antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral?.

C.2. OBJEK FILSAFAT ILMU


Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam objek, yaitu obyek
material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek
formalnya adalah metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti
pendekatan induktif dan deduktif.
Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki
obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada,
baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang
tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak adalah alam
metafisika. Sebagian filosof membagi obyek material filsafat atas tiga bagian,
yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada
dalam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

8
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya
memiliki dua objek substantif dan dua objek instrumentatif, yaitu:
1. Obyek Substantif, yang terdiri dari dua hal:
a. Fakta (Kenyataan) yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia.
b. Kebenaran Positivisme

2. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:

a. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk


yang akan datang atau memberikan pemaknaan.

b. Logika Inferensi

Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir.

C.3. Faktor-faktor Filsafat Ilmu


Adapun yang termasuk dalam faktor-faktor filsafat ilmu adalah sebagai
berikut:
1. Pertentangan antara mitos dan logos
2. Rasa ingin tahu
3. Rasa kagum
4. Perkembangan bahasa, terutama kesusasteraan

C.4. Karaktertistk Filsafat Ilmu


Adapun yang termasuk dalam karakteristik filsafat ilmu adalah sebagai
berikut:
1. Skeptis (Ragu)
2. Universal
3. Disentresstedness
4. Kommnalis

9
C.5. Tujuan Filsafat Ilmu
Adapun tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah sebagai berikut:
Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang
menjadi kritis dan cermat terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya seorang
ilmuwan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga
dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistik, menganggap bahwa hanya
pendapatnya yang paling benar.
2. Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan
metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan ilmuwan
modern adalah menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan
struktur ilmu pengetahuan itu sendiri.
3. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap
metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara
logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.
4. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita bisa
memahami, sumber, hakekat, dan tujuan ilmu.
5. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di
berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporer secra historis.
6. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di
perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan
non ilmiah.
7. Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam
mendalami ilmu dan mengembangkannya.
8. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan
agama tidak ada pertentangan.
9. Memahami dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu
(misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan
masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak
tersebut misalnya penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan
terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI), plagiarisme dalam karya
ilmiah.

10
BAB III
PENUTUP

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara
substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan
filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia
dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut
membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum
alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu
terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos.
Pada awalnya cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu, ilmu
hanya terbatas pada persoalan empiris saja, sedangkan filsafat mencangkup objek
empiris dan non-empiris. Namun pada perkembangannya, filsafat berkembang
menjadi bagian dari ilmu itu sendiri (terspesialisasi), seperti filsafat agama,
filsafat hukum dan filsafat ilmu. Alasannya, filsafat tidak bisa terus berada di
awang-awang, tetapi ia juga harus membimbing ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa
ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Dan juga
sebaliknya, ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk
lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan
kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu
baik pada tataran ontologis, epistemologi maupun aksiologi. Secara umum,
tujuan dari filsafat ilmu yaitu untuk membahas dan mengevaluasi metode-metode
pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah
sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan manfaat kita mempelajari filsafat ilmu
adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep

11
dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun
teori ilmiah.

12