Anda di halaman 1dari 4

Nama : Lili Nur Indah Sari

NIM : 8156122017
Program Studi/Kelas : Teknologi Pendidikan/ B-1
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Pendidikan

Berfilsafat dapat pula dimulai dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri
manusia. Berfilsafat kadang-kadang dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya
sangat kecil dan lemah terutama di dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apabila
seorang merasa, bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami
penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi
manusia mulai berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada
sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran
hakiki.

Faktor Faktor Filsafat

Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya filsafat adalah sebagai berikut :

1. Pertentangan Mitos dan Logos

Di kalangan masyarakat Yunani dikenal adanya Mitos dan logos. Mitos sebagai suatu
keyakinan lama yang berkembang dengan pesat, seperti mite kosmologi yang melukiskan
kejadian-kejadian alam. Mite-mite tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga menjadi
keyakinan yang mapan, walaupun diakui mite tersebut tidak rasional. Di dalam penyusunan
mite peran penyair sangat penting seperti Hesiodes ( 550 SM ) dengan bukunya Theogonia
( kejadian alah-alah ), Orpheus dari kalangan Orfisme dan Pherekydes dari Syros.

Logos adalah suatu potensi yang ada dalam diri manusia yang selalu siap untuk berfikir yang
bisa diartikan dengan akal. Di dalam kehidupan mereka sering sekali dipertentangkan antara
mitos dan logos yang dimenangkan logos.

2. Rasa Ingin Tahu

Adanya keinginan mempertentangkan antara mite dan logos disebabkan oleh rasa
keingintahuan manusia tentang dunia yang dihadapinya. Mite-mite yang sifatnya tidak
rasional memberikan ketidakpuasan manusia sehingga mendorong mereka mencari
jawabannya pada logos. Jawaban-jawaban inilah yang kemudian disebut filsafat. Dalam
kaitan ini Dick Hartoko mengatakan : filsafat berawal dari rasa heran dan kagum, hal-hal
yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebelumnya luar biasa, kelahiran dan kematian,
ada dan tidak ada susul menyusul. Manusia mencari prinsip umum yang mendasari
keseluruhan sebagai suatu sistem atau struktur yang memberi arti kepada segala sesuatu.

3. Rasa Kagum

Selain rasa ingin tahu dan pertentangan antar mitos dan logos, menurut Plato, filsafat juga
lahir karena adanya kekaguman manusia tentang dunia dan lingkungannya. Rasa kagum
mendorong manusia untuk memberikan jawaban-jawaban dalam bentuk praduga. Praduga ini
kemudian dipikirkan oleh logos dalam bentuk rasionalisasi. Rasionalisasi ini merupakan awal
lahir filsafat, misalnya para filsut Yunani yang kagum terhadap alam semesta, mencoba
merumuskan asal muasal arche dari alam semesta tersebut sehingga muncullah aneka teori
diantaranya :

a. Thales yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari air

b. Anaximandros yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari apairon

c. Anaximenes yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari udara

d. Democrios yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari atom

e. Empedocles yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari empat unsur yaitu api, tanah,
air dan udara

4. Perkembangan kesusastraan

Faktor lain yang juga penting adalah perkembangan kesusastraan. Kesusastraan Yunani
mengandung ungkapan-ungkapan yang berisikan teka-teki, dongeng-dongeng dan ungkapan-
ungkapan yang metaforis. Ungkapan-ungkapan tersebut diinterpretasikan oleh para pemikir
Yunani seperti Homerus dalam karyanya Illusi dan Odyssea mempunyai kedudukan yang
istimewa dalam perkembangan filsafat. Plato mengatakan bahwa Homerus sangat berperan
penting dalam mendidik bangsa Hellas (Yunani). Lain halnya dengan K. Bertens, dia
mengatakan bahwa karya Homerus seperti wayang dalam kebudayaan Jawa, karena berisikan
pantun-pantun yang mempunyai nilai hiburan dan edukatif.

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara subtansial maupun historis
karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peran filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberadaan filsafat. Dalam lingkungan pendidikan, terutama pendidikan tinggi,
boleh dikatakan setiap waktu istilah ilmu diucapkan dan sesuatu ilmu diajarkan. Istilah
ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu
mengandung lebih daripada satu arti.

Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang
mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Dalam arti ini ilmu berarti sesuatu cabang ilmu
khusus seperti misalnya antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi. Istilah Inggris
science kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni
sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisis atau material (systematic knowledge of
the physical or material world).

Hubungan Filsafat dan Ilmu

Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan,
namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat
mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan
keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk
mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks
lebih memahami khazanah intelektual manusia

OBJEK FILSAFAT ILMU

Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan
obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang
tampak maupun ada yang tidak tampak.Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada
yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi obyek material filsafat
atas tiga bagian, yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang
ada dalam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.
Cara Penemuan Kebenaran

Cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat dengan dua cara yaitu cara ilmiah dan
non ilmiah .Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran
melalui cara Nonilmiah, diantaranya adalah

1. Akal sehat (common sense) : akal sehat adalah serangkaian konsep (concepts) dan bagan
konseptual (conceptual schemes) yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi
kemanusiaan. Konsep adalah kata-kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan
dari hal-hal yang khusus. Bagan konsep adalah seperangkat konsep yang dirangkaikan
dengan dalil-dalil hipotesis dan teoritis.
2. Prasangka : Pencapaian pengetahuan secara akal sehat diwarnai oleh kepentingan orang yang
melakukannya. Hal inilah yang menyebabkan akal sehat mudah beralih menjadi prasangka.

Pendekatan intuisi : Dalam pendekatan intuitif orang menentukan pendapat mengenai


sesuatu berdasar atas pengetahuan yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses
yang tak disadari atau yang tidak difikirkan lebih dahulu. Dengan intuisi, orang memberikan
penilaian tanpa didahului sesuatu renungan.

Penemuan kebetulan dan coba-coba : Suatu peristiwa yang tidak disengaja kadang-kadang
ternyata menghasilkan suatu kebenaran yang menambah perbendaharaan pengetahuan
manusia, karena sebelumnya kebenaran itu tidaklah diketahui.

3. Pendekatan otoritas ilmiah dan pikiran kritis dan kewibawaan : Di dalam masyarakat,
kerapkali ditemui orang-orang yang karena kedudukan.
4. Pengetahuannya sangat dihormati dan dipercayai. Orang tersebut memiliki kewibawaan yang
besar di lingkungan masyarakatnya. Banyak pendapatnya yang diterima sebagai kebenaran.
Kepercayaan pada pendapatnya itu tidak saja karena kedudukannya di dalam masyarakat itu,
misalnya sebagai pemimpin atau pemuka adat atau ulama dan lain-lainnya, tetapi dapat juga
karena keahliannya dalam bidang tertentu.
Cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran melalui cara Ilmiah
1. Skeptik : Berfikir skeptis, yaitu selalu mencari fakta atau bukti yang mendukung setiap
pernyataan.
2. Analitik : sikap yang mendasarkan pada analisis dalam setiap persoalan dan memilih yang
relevan.
3. Kritis : yaitu setiap memecahkan persoalan selalu berpijak pada logika dan objektifitas data
atau fakta.