Anda di halaman 1dari 5

Empat kelas utama dari obat-obatan yang selalu ditentukan oleh dokter gigi dapat

menyebabkan problem pasien yang mengambil obat untuk penyakit sistemik: anastetik, sedative-
hypnotics, medikasi rasa sakit (pain medications) dan antibiotic. Tingkatan resiko dari obat dari
kelas tersebut divariasikan dari dampak terbesar (seperti, mengancam potensial hidup atau
menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh), moderate (seperti dapat mengubah status klinis
pasien dan membutuhkan perawatan di rumah sakit), hingga kecil (seperti tidak ada perubahan
atau perubahan yang sedang). Resiko dari interaksi obat tergantung pada umur pasien (sangat
muda dan sangat tua), gender, dan kesehatan relative (presentase penyakit komorbid atau hati
atau abnormalitas ginjal).
Rangkuman problem potensial yang diasosiasikan dalam 4 kelas obat-obatan yang ditentukan
oleh dokter gigi, yaitu:

1. Anastetik lokal
Meskipun jarang, anastetik lokal dapat dihubungkan dengan toksisitas (sistem
saraf pusat dan problem kardia), alergi, abnormalitas hemoglobin (methemoglobinemia)
dan dapat berinteraksi dengan beberapa kelas obat.
Isu toksisitas (kardia dan problem pada SSP)
Jika diberikan secara berlebihan, kebanyakan anastetik lokal dapat memproduksi
toksisitas seperti perangsangan SSP, konvulsi dan menyebabkan penyakit jantung. Sesak
napas juga dapat terjadi. Penyakit hati merusak aktivitas amidase hati atau menurunkan
aliran darah hati dapat meningkatkan potensial toksisitas jika dosis besar dari anastetik
lokal amida diberikan atau terserap dalam waktu yang singkat. Kombinasi obat spesifik
didokumentasikan sebagai penyebab toksisitas. Seperti contoh, toksisitas anastetik lokal
didapatkan dari kombinasi lidokain dengan buvikain. Reaksi obat yang merugikan
dihubungkan dengan kombinasi obat-obatan keterlibatan aplikasi dari lokal anastesi
(mepivacaine) dan opium (meperidine) obat penghilang rasa sakit yang dihubungkan
dengan gejala sistemik.
Epinefrin atau vasokonstriktor lain diberikan dengan anastetik lokal untuk
membantu mereduksi toksisitas anastetik tetapi dapat mengacaukan kardia dan status
SSP. Pada pasien yang mengambil Digoxin, tata usaha dari anastetik dengan epinefrin
dapat menyebabkan pengaruh pada kardia. Selama perawatan gigi yang stantad, jumlah
dari vasokonstriktor diberikan dibawah level batas toksisitas. Bagaimanapun juga, karena
efek vasokonstriksi dan vasodilatasi dari epinefrin, yang digunakan, dosis normal yang
diberikan dapat menghasilkan perubahan tekanan darah, terutama pada pemberian
intravena. Yang belum diakui mendasari problem kardiovaskular dapat lebih lanjut
mengacaukan perubahan potensial di denyut jantung dari diberikannya obat tersebut.
Pada pasien penyalahgunaan kokain, pemberian anastetik yang mengandung
epinefrin dapat menginduksi efek kerusakan sympathomimetic.
Interaksi potensial dari vasokonstriktor dan dua kelas dari medikasi menjamin
notasi spesifik: injeksi levonordefrin atau penggunaan epinefrin, yang diinjeksi pada
gingiva yang diberikan bersama dengan antidepressant tricyclic diberikan untuk depresi
dan interaksi dari epinefrin dan nonselektif beta-blockers dapat menghasilkan hipertensi
akut. Kedua interaksi tersebut lebih dapat terjadi dengan injeksi intravaskular, tetapi dosis
awal dari injeksi anastetik perawatan gigi via cartridge dengan monitoring pasien selama
injeksi.
Dosis berlebihan dari prilokain yang digabung dengan dapsone dapat
menyebabkan terjadinya methemoglobinemia. Bupivakain juga dapat dihubungkan
dengan peningkatan resiko dari kerusakan saraf lokal.

2. Obat sedative
Isu primer dari obat sedative adalah tekanan pada SSP. Obat-obat ini diberikan
oleh dokter gigi dalam kelas dari medikasi yang umumnya mencakup benzodiazepine,
nonbarbiturate nonbenzodiazepin seperti chloral hydrate, meprobamate, dan carisoprodol.
Obat diberikan selama sedasi sadar yang juga mengandung barbiturates jangka pendek
dan intermediate seperti methohexital (Brevital) atau thiopental (Pentothal), dan
manajemen klinis dari nyeri TMD diresepkan butalbital (Fioricet, Fiorinal). Dari semua
obat sedative, benzodiazepine dilaporkan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Kematian selalu dihasilkan dari serangan pernapasan. Ini dapat terjadi dari penggunaan
obat sekali pakai (seperti suicide) tetapi juga dapat dari hasil interaksi obat lain yang
diresepkan untuk penyakit sistemik atau diresepkan dalam kasus penyalahgunaan obat.
Benzodiazepin dimetabolisme di hati. Oleh karena itu, efek gangguan fungsi hati
dapat meningkatkan level darah dari obat tersebut. Efek sedative dari obat sedative
semakin meningkat pada pasien yang mengonsumsi alcohol dan lebih buruk pada
penyalahgunaan alcohol. Macrolide antibiotic (seperti erythromycin) meningkatkan level
serum dari benzodiazepin dengan pengecualian dari lorazepam (Ativan), karena mereka
mengganggu reaksi oksidatif dari inaktif obat tersebut.
Toksisitas relatif dari kelas medikasi adalah tergantung pada dosis. Barbiturates
dapay menjadi perhatian terbaik karena tingkatan aktivitas therapeutic hingga
toksisitasnya. Toleransi juga dapat dikembangkan segera, sehingga potensial terbaik dari
penyalahgunaan tidak terjadi.
Pada pasien yang mengambil kortikosteroid tertentu seperti Medrol
(methylprednisolone), plasma level dari Xanax dapat bertambah.
Meskipun tidak ada relasi lurus dari gejala sistemik, penggunaan jangka panjang
dari obat anxiolytic juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang dapat
mengacaukan jumlah gejala sistemik seperti hipertensi, diabetes dan penyakit jantung
koroner.

3. Obat penghilang rasa sakit


Dengan dokter gigi menangani banyak masalah orofacial pain kompleks yang
disebabkan oleh gigi, potensial toksisitas yang diberikan dari interaksi obat meningkat.
Banyak kelas dari obat dapat diresepkan untuk sakit akut dan kronis yang timbul dari
penyakit sistemik. Manajemen peresepan pada penyakit kronis juga digunakan oleh
dokter untuk mengobati bermacam masalah sakit kronis dan dokter gigi mengobati
kondisi kronis seperti TMD, atypical neuralgia, glossodynia dan atypical facial pain.
Obat yang digunakan untuk mengobati sakit kronis termasuk opioid-narcotics,
antidepressant, antikonvulsan dan anti inflamasi non steroid.
Efek samping dari penggunaan opoid termasuk sedasi, gangguan pernapasan,
ketergantungan, nausea, miosis dan konstipasi. Resep dari obat post perawatan dental lain
atau obat sedative dapat menjadi masalah bagi pasien yang menggunakan
opioid/medikasi narkotik untuk kondisi medis atau penyalahgunaan obat-obat tersebut.
Efek analgesia dari opioid dapat direduksi dengan pemberian dari fluoxetine (Prozac)
atau Paroxetine (Paxil), tetapi ini tidak muncul kasus dengan medikasi SSRI yang lain.
Tramadol, analgesic pusat tindakan, digunakan untuk mengurangi somnolence dan
konstipasi yang terkait dengan penggunaan opioid atau penyalahgunaan opioid, dengan
ambang kejang yang lebih rendah, sehingga itu harus digunakan dengan hati-hati.
Tramadol yang dikombinasi dengan SSRI dapat menghasilkan serotonin syndrome.
Serangan pada sistem saraf pusat selalu dipertimbangkan ketika opioid dikombinasi
dengan medikasi sedative hypnotic.
Opioid yang dikombinasi dengan acetaminophen umumnya digunakan sebagai
produk analgesic, tetapi acetaminophen dapat menyebabkan atau memperburuk
kerusakan hepatic seingga itu tidak dapat melebihi 4 g per hari.
SSRI tidak harusnya diresepkan dengan tramadol. Sejak antidepressant tricyclic
berpotensial menyebabkan efek sympathetic dari epinephrine atau levonordefrin,
anastetik lokal yang mengandung agen tersebut harus diatur secara hati-hati pada pasien
yang mengonsumsinya untuk depresi atau psikiatrik atau gangguan sakit. Ketika SSRI
dikombinasi dengan NSAID (anti inflamasi non steroid) dapat meningkatkan resikko dari
pendarahan pencernaan.
NSAID digunakan untuk moderate pain, termasuk pretreatment dan postreatment
sakit gigi. Penggunaan jangka panjang memiliki hubungan dengan terjadinya masalah
pencernaan, termasuk pendarahan dan ulserasi, kerusakan ginjal dan masalah
cardiovascular. Sebagai tambahan, medikasi tekanan darah juga dapat sebagai kompromi
peresepan dari NSAID.

4. Antibiotik
Resiko primer dari perawatan dokter gigi terhadap pasien dengan penyakit
sistemik adalah pengaturan dari antibiotic yang berinteraksi dengan obat yang diresepkan
sebelumnya, menghasilkan peningkatan level darah dari obat, mereduksi aktivitas
antibiotik, atau efek samping. Antibiotik yang diperhatikan termasuk tetrasiklin,
metronidazole, eritromisin, dan claritromisin. Masalah berpotensial lainnya dari antibiotic
adalah alergi dan anafilaksis, meskipun baru-baru ini bukti menyatakan bila tidak ada
prevalensi perkiraan sebelumnya.
Meskipun bukan masalah serius, pasien alcohol diresepkan metronidazole dapat
mengalami sesak, sakit kepala, palpitasi dan nausea. Antibiotik ini juga dapat
meningkatan level darah lithium pada pasien yang menggunakan obat untuk mengatasi
gangguan bipolar dengan menghambat eksresi renal. Ini dapat menjadi kebingungan,
ataxia dan gangguan ginjal. Pada pasien yang mengonsumsi digoxin (digitalis) untuk
atrial fibrillation, atrial flutter atau gagal jantung, level obat dalam darah dapat
mengalami peningkatan ketika eritromisin atau tetrasiklin diresepkan. Ini dapat
menyebabkan peningkatan salivasi, gangguan penglihatan dan aritmia.
Pasien yang mengonsumsi antikoagulan warfarin dan anisindione untuk
mencegah emboli, peresepan tetrasiklin atau antibiotic spectrum luas dapat mengubah
sintesis vitamin K pada usus dan kehilangan asupan vitamin K, dapat meningkatkan
resiko pendarahan dan hematuria, memar dan pembentukan hematoma. Agen antibiotic
quinolone (contoh, ciprofloxacin) mengurangi metabolism dari theophylline dan
menambah level darah dari obat dapat menyebabkan disritmia kardia, dan konvulsi.
Doksisiklin yang digunakan pada formulasi sistem periodontal (Atridox) tidak
direkomendasi pada wanita yang hamil dan setelah melahirkan atau pada anak dibawah
umur 8 tahun karena berpotensial menyebabkan abnormalitas pada tulang dan gigi.
Pada pasien tuberculosis yang mengonsumsi obat antituberculosis rifampin, studi
klinis menyatakan medikasi mengubah estrogen dan progestin pada persiapan kontrol
kelahiran, berpotensial membuat kontrasepsi oral menjadi tidak efektif. Interaksi obat
juga dilaporkan pada penisilin, eritromisin, tetrasiklin dan cotrimoxazole, meskipun
kegagalan dari kontrasepsi oral ketika berhubungan dengan antibiotic tersebut masih
kontroversi.
Antibiotik lain, seperti chloramphenicol, dapat menyebabkan dan memperburuk
terjadinya anemia. Aminoglycosides juga menunjukkan efek pada nervus cranial nomor
delapan, menyebabkan pusing, vertigo dan ketulian. Ini menjadi pertimbangan penting
untuk menjaga pasien dengan ketulian partial.
Pada akhirnya, dalam manajemen medikasi, penggunaan jangka panjang dari
kortikosteroid topical untuk ulserasi oral berdampak sangat kecil. Penggunaan
kortikosteroid sistemik untuk mengobati atypical neuralgia atau facial neuropathic pain
dapat menjadi problem dalam pengaturan glukosa dan infeksi.

Sumber: Burgess, Jeff.2015.Dental Management in the Medically Compromised


Patient.Medscape (www.medscape.com) diakses pada 22 Maret 2017