Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN INTENSITAS NYERI SENDI PADA LANSIA DI PANTI

WERDHA MOJOPAHIT KABUPATEN MOJOKERTO

(CORRELATION OF PHYSICAL ACTIVITY WITH INTENSITY OF JOINT PAIN GERIATRIC AT PANTI WERDHA
MOJOPAHIT IN MOJOKERTO DISTRICT)
1 1 2
Pepin Nahariani , Puput Lismawati , Heri Wibowo
1
Program Studi S1 Keperawatan STIKES Pemkab Jombang
2
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang

ABSTRAK

Nyeri merupakan masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi alasan
umum orang mencari perawatan kesehatan. Lebih dari setengah jumlah seluruh lansia mempunyai nyeri
sendi. Faktor yang dapat meningkatkan nyeri sendi antara lain aktivitas fisik, usia lebih dari 45 tahun,
jenis kelamin perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik
dengan intensitas nyeri sendi di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Desain penelitian
adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh lansia yang
berada di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto pada tahun 2012 sebanyak 34 orang. Sampel
yang diambil sebanyak 31 responden dengan menggunakan simple random sampling. Variabel
independen adalah aktivitas fisik dan variabel dependen adalah intensitas nyeri sendi. Data dikumpulkan
menggunakan kuesioner dan wawancara. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Mann Whitney
dengan tingkat signifikan 0,05 dengan SPSS 19. Hasil penelitian ini didapatkan 11 responden (35,48%)
mengalami intensitas nyeri berat, 21 responden (67,74%) aktivitas fisik aktif, dan dari uji atatistik
didapatkan hasil signifikansi 0,039, dimana 0,039 lebih kecil dari 0,05 sehingga H1 diterima yang artinya
ada hubungan antara aktivitas fisik dengan intensitas nyeri sendi pada lansia di Panti Werdha Mojopahit
Kabupaten Mojokerto. Bagi lansia yang aktivitas fisiknya aktif dan mengalami intensitas nyeri sendi
berat disarankan untuk mengistirahatkan sendi dengan tidak melakukan aktivitas. Semua lansia
diharapkan dapat mengatur aktivitas fisiknya dan disesuaikan dengan kemampuan.

Kata Kunci : aktivitas fisik, lansia, nyeri sendi

ABSTRACT

Pain is a frequent problem encountered in everyday lifed and common reason of the people to
look for a health care. More than a half of all amount geristric patient have a joint pain. The factor can
increase joint pain about physical activity, the age more than 45 years, a women gender. This research
was aimed to determine correlation of physical activity with intensity of joint pain geriatric at Panti
Werdha Mojopahit in Mojokerto district. The research design was analitic correlation with cross
sectional approach. The population was all geriatric at Panti Werdha Mojopahit in Mojokerto district in
2012 consisted of 34 people. The samples was taken consisted of 31 respondents with used simple
random sampling. The independent variable was physical aktivity and the dependent variable was
intensity of joint pain. Data were collected using questionnaire and interview. Data were then analyzed
using Mann Whitney test with level of significance of 0,05, with used SPSS program version 19. The
results in this research obtained that 11 respondents (35,48%) have severe intensity of joint pain, 21
respondents (67,74%) have active of physical activity, and with statistic test be obtained the result of
significance 0,039, where 0,039 is smaller than 0,05 so that H 1 accepted which the meaning there was
correlation of physical activity with intensity of joint pain geriatric at Panti Werdha Mojopahit in
Mojokerto district. For geriatric which have active of physical activity and have severe intensity of joint
pain recomended to resting the joints with dont activity. All geriatric be expected to regulated their
physical activity and adjusted with ability.

Keywords : physical activity, geriatric, joint pain

34
PENDAHULUAN penyakit sendi adalah 30,3%. Dan prevalensi
9
Nyeri sendi merupakan keluhan utama pada penyakit sendi di Jawa Timur sebesar 30,9% .
penyakit rematik. Tempat yang paling nyeri Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten
perlu dicari dan diketahui. Bila radiks saraf Jombang pada tahun 2010 jumlah lansia yang
tertekan oleh proses rematik, rasa nyerinya menderita penyakit sendi 2,3%. Berdasarkan
1
bisa menjalar sampai ke tempat yang jauh . studi pendahuluan di panti Werdha Mojopahit
Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri sendi Kabupaten Mojokerto didapatkan dari 10 lansia
diantaranya adalah aktivitas fisik yang berlebih, yang mempunyai penyakit sendi (nyeri sendi)
usia lebih dari 45 tahun, jenis kelamin lebih sekitar 70%.
banyak pada wanita, obesitas, infeksi, Pada proses menua terjadi penurunan
gangguan imunitas, penurunan hormon, fungsi sistem tubuh tidak terkecuali sistem
psikologis, pola makan, faktor metabolik, muskuloskeletal. Pada sendi secara umum
genetik, pernah mengalami patah tulang terjadi kemunduran kartilago sendi, sebagian
disekitar sendi yang tidak mendapatkan besar terjadi pada sendi-sendi yang menahan
perawatan yang tepat, lingkungan yang berat, dan pembentukaan tulang dipermukaan
2
mengandung radikal bebas . sendi yang jika tidak dipakai lagi mungkin
Nyeri merupakan masalah yang sering menyebabkan inflamasi, nyeri, penurunan
3
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan mobilitas sendi, dan deformitas . Tulang yang
alasan umum orang mencari perawatan tugasnya mempertahankan bentuk tubuh juga
kesehatan. Nyeri sendi merupakan gangguan mengalami kemunduran, zat kapur yang
nyeri yang sering ditemukan pada lansia dikandungnya mulai berkurang, sehingga
3
sehingga membatasi gerakannya . mudah patah dan persendian yang mengalami
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan peradangan dapat menimbulkan rasa sakit yang
mengalami kemunduran atau pembatasan serius. Perasaan nyeri yang dirasakan orang
4
aktivitas fisik . Salah satu faktor yang dapat lanjut usia berkurang jika dibandingkan kalau
5
meningkatkan nyeri sendi adalah aktivitas fisik . dialami remaja. Penyakit yang biasa disertai
Rasa sakit yang tiba-tiba biasanya disebabkan nyeri yang hebat bila diderita oleh orang
oleh aktivitas fisik berat atau tidak dewasa muda tidak dirasakan apa-apa, tetapi
6
biasa .Keluhan nyeri akan lebih hebat sesudah oleh orang usia lanjut walaupun dirasa sakit
mengadakan gerak badan atau bertambah namun sulit untuk melukiskan apa yang
dengan aktivitas dan bisa membaik dengan sebenarnya dirasakan. Selain timbulnya tulang
5
istirahat . Aktivitas fisik yang tidak tepat akan di sekitar sendi akan mengganggu gerakan dan
memperparah rasa sakit pada Arthritis menyebabkan sakit jika sendinya aktif. Seiring
sedangkan aktivitas fisik yang teratur bertambahnya usia tulang rawan ini akan
membantu mengurangi penyakit Arthritis menyusut disertai rasa sakit dan nyeri.
dengan mengurangi rasa sakit itu sendiri dan Osteoartritis terutama menyerang sendi-sendi
2
jumlah sendi yang menimbulkan rasa sakit yang mendukung berat badan .
7
tersebut . Saat nyeri terjadi sebaiknya
Dari hasil penelitian sebelumnya yang mengistirahatkan sendi dari aktivitas fisik yang
dilakukan oleh Ferrell B., et al tahun 1995 dapat meningkatkan nyeri. Diperlukan
menemukan bahwa nyeri sering terjadi pada keseimbangan dalam melakukan aktivitas fisik
lansia yang memerlukan perawatan yang baik dan istirahat untuk menjaga supaya nyeri
di panti jompo dan lebih dari 60% mengalami menjadi minimal. Untuk menjaga agar nyeri
nyeri terutama dari sebab-sebab tidak bertambah, hindarilah aktivitas fisik yang
3 10
muskuloskeletal . Dari hasil studi tentang memberi tekanan yang lebih kuat pada sendi .
kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut Selain itu, untuk mengatasi nyeri dapat
usia (lansia) di Indonesia yang dilaksanakan dilakukan terapi nonfarmakologi diantaranya
Komnas Lansia di 10 propinsi tahun 2006, relaksasi, distraksi, kompres dingin dan panas,
diketahui bahwa penyakit terbanyak yang guided imagery, biofeedback, sentuhan
diderita lansia adalah penyakit sendi (52,3%), terapeutik, bimbingan antisipasi (anticipatory
11
hipertensi (38,8%), anemia (30,7%), dan katarak guidance), dan hipnosis .
8
(23%) . Berdasarkan diagnosis tenaga Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk
kesehatan dan gejala prevalensi nasional melakukan penelitian tentang hubungan antara

35
aktivitas fisik dengan intensitas nyeri sendi . Selanjutnya data dikategorikan
pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menjadi 2 yaitu jika nilai T>mean T termasuk
mengidentifikasi aktifitas fisik, intensitas nyeri aktivitas fisik aktif sedangkan jika nilai T<mean
sendi, dan untuk mengetahui apakah ada 12
T termasuk aktivitas fisik pasif . Pada variabel
hubungan antara aktifitas fisik dengan intensitas nyeri sendi dibedakan menjadi 4,
intensitas nyeri sendi pada lansia di Panti yaitu nilai 0 untuk tidak nyeri, nilai <3 untuk
Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. nyeri ringan, nilai 4-7 untuk nyeri sedang, nilai
Hipotesa yang diharapkan adalah H1 dimana 11
>7 untuk nyeri hebat . Data kemudian
ada hubungan antara aktivitas fisik dengan ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Mann
intensitas nyeri sendi. Whitney dengan tingkat signifikan 0,05
dengan SPSS 19.
METODE
HASIL PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
analitik korelasi yaitu penelitian yang bertujuan Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan
untuk mengkaji hubungan atau asosiasi antar Aktivitas Fisik di Panti Werdha Mojopahit
variabel dan dengan pendekatan cross sectional Kabupaten Mojokerto Bulan Maret Tahun 2012
yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu No Aktivitas Fisik Jumlah Prosentase
pengukuran atau observasi data variabel Aktivitas Fisik
dependen dan independen hanya satu kali pada 1 21 67,74%
13 Aktif
satu saat . Variabel independen dalam Aktivitas Fisik
penelitian ini adalah aktivitas fisik dan variabel 2 10 32,26%
Pasif
dependennya adalah intensitas nyeri sendi. Jumlah 31 100%
Populasinya adalah seluruh lansia yang
Sumber : Data Primer
berada di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten
Mojokerto pada tahun 2012. Dari jumlah
Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan
tersebut, diambil sampel sebanyak 31
Intensitas Nyeri Sendi di Panti Werdha
responden yang memenuhi kriteria inklusi
Mojopahit Kabupaten Mojokerto Bulan Maret
diantaranya lansia dengan usia 60 tahun yang
Tahun 2012
berada di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten
Intensitas Nyeri Jumla Prosenta
Mojokerto, bersedia untuk menjadi responden, No
Sendi h se
dan kooperatif dengan teknik simple random
1 Tidak Nyeri 8 25,81%
sampling. Data mengenai aktivitas fisik
2 Nyeri Ringan 5 16,13%
dikumpulkan menggunakan kuesioner yang
berisi 6 pertanyaan dan untuk intensitas nyeri 3 Nyeri Sedang 7 22,58%
sendi dinilai dengan wawancara dengan skala 4 Nyeri Berat 11 35,48%
nyeri sendi (VAS). Jumlah 31 100%
Pada variabel aktivitas fisik, nilai dari setiap Sumber : Data Primer
jawaban dijumlahkan kemudian dihitung
dengan menggunakan rumus skor-T

Tabel Tabulasi Silang Antara Aktivitas Fisik Dengan Intensitas Nyeri Sendi di Panti Werdha Mojopahit
Kabupaten Mojokerto Bulan Maret Tahun 2012
intensitas nyeri sendi
Total
tidak nyeri nyeri ringan nyeri sedang nyeri hebat
Count 6 0 2 2 10
aktivitas % within
fisik pasif 100.0
aktivitas 60.0% .0% 20.0% 20.0%
%
aktivitas fisik
fisik Count 2 5 5 9 21
aktivitas % within
100.0
fisik aktif aktivitas 9.52% 23.81% 23.81% 42.86%
%
fisik
Sumber : Data Primer

36
digerakkan akan terjadi kehilangan kekuatan
4
10-15% .
Pada lansia terjadi penurunan fungsi sistem
tubuh. Semakin bertambahnya usia, kekuatan
tubuh untuk melakukan aktivitas fisik semakin
berkurang. Walaupun terjadi penurunan
Tabel 4 Hasil Uji Statistik Mann Whitney kekuatan tubuh, lansia diharapkan masih bisa
b
Test Statistics aktif dan produktif dengan cara berolahraga,
intensitas nyeri melakukan aktivitas fisik dasar yang ringan dan
sendi sesuai dengan kemampuannya, serta bergerak
Mann-Whitney U 58,000 secara teratur atau kontinu untuk menjaga agar
Wilcoxon W 113,000 tubuh tetap sehat dan untuk mencegah
Z -2,067 timbulnya penyakit. Jika tidak melakukan
Asymp. Sig. (2-tailed) ,039 aktivitas fisik apapun pada lansia yang masih
a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,048 sehat dapat menimbulkan berbagai penyakit
a. Not corrected for ties. akibat tidak adanya gerakan dari tubuh.
b. Grouping Variable: jenis aktivitas fisik
Intensitas Nyeri Sendi
Berdasarkan tabel uji statistik Mann
Whitney pada level of significance = 5% Dari hasil penelitian diketahui bahwa
dengan menggunakan SPSS 19 diatas hampir separuhnya mengalami intensitas nyeri
didapatkan nilai Asymp. Sig-nya sebesar 0,039 berat yaitu 11 responden (35,48%).
dan nilai ZH sebesar -2,067. Nilai Asymp Sig (2- Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik,
tailed) menunjukkan nilai probabilitas. Karena universal, dan bersifat individual. Dikatakan
Asymp. Sig-nya adalah 0,039 yang berarti lebih individual karena respon individu terhadap
kecil dari 0,05 dan nilai dari ZH -2,067 yang sensasi nyeri beragam dan tidak bisa disamakan
berarti nilai ZH tidak berada diantara -1,96 satu dengan lainnya. Nyeri diartikan berbeda-
sampai +1,96 maka H1 diterima. Hal ini berarti beda antar individu bergantung pada
ada hubungan antara aktivitas fisik dengan persepsinya. Walaupun demikian ada satu
intensitas nyeri sendi. persamaan mengenai persepsi nyeri. Secara
sederhana nyeri dapat diartikan sebagai suatu
PEMBAHASAN sensasi yang tidak menyenangkan baik secara
sensori maupun emosional yang berhubungan
Aktivitas Fisik pada Lansia dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau
faktor lain, sehingga individu merasa tersiksa,
Dari hasil penelitian diketahui bahwa menderita yang akhirnya akan mengganggu
16
sebagian besar aktivitas fisik aktif yaitu 21 aktivitas sehari-hari, psikis, dan lain-lain . Nyeri
responden (67,74%). sendi merupakan keluhan utama pada penyakit
Aktifitas fisik/bergerak adalah setiap rematik. Tempat yang paling nyeri perlu dicari
gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran dan diketahui. Bila radiks saraf tertekan oleh
14
tenaga dan energi (pembakaran Kalori) . proses rematik, rasa nyerinya bisa menjalar
1
Aktivitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh sampai ke tempat yang jauh .
yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang Intensitas nyeri sendi adalah tingkat
sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan keparahan nyeri pada sendi yang dirasakan
fisik dan mental, serta mempertahankan oleh setiap individu. Tiap individu memiliki
kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar respon yang berbeda dalam merasakan nyeri.
15
sepanjang hari . Pada lansia umumnya kurang suka mengatakan
Tetap aktif, artinya diharapkan lansia hidup apa yang dirasakan apabila sudah berhubungan
sederhana, santai, aktif dalam berorganisasi, dengan penyakit. Mereka lebih banyak
aktif dalam kegiatan sosial, berkarya, selalu menyembunyikan rasa nyerinya atau tidak
mengembangkan hobi dan berolahraga, dalam memberi tahu apa yang sebenarnya dirasakan.
melaksanakan aktivitas harus disesuaikan Ada juga yang beranggapan bahwa nyeri yang
dengan kemampuan, serta bergerak secara diderita merupakan bagian dari proses
teratur atau kontinu karena bila otot tidak penuaan.

37
Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri yang tiba-tiba biasanya disebabkan oleh
6
sendi diantaranya adalah aktivitas fisik yang aktivitas fisik berat atau tidak biasa . Keluhan
berlebih seperti para olahragawan dan pekerja nyeri akan lebih hebat sesudah mengadakan
kasar, usia lebih dari 45 tahun, jenis kelamin gerak badan atau bertambah dengan aktivitas
5
lebih banyak pada wanita, obesitas,
37 infeksi, dan bisa membaik dengan istirahat . Aktivitas
gangguan imunitas, penurunan hormone, fisik yang tidak tepat akan memperparah rasa
psikologis, pola makan, faktor metabolik, sakit pada Arthritis sedangkan aktivitas fisik
genetik, pernah mengalami patah tulang yang teratur membantu mengurangi penyakit
disekitar sendi yang tidak mendapatkan Arthritis dengan mengurangi rasa sakit itu
perawatan yang tepat, lingkungan yang sendiri dan jumlah sendi yang menimbulkan
2 7
mengandung radikal bebas . rasa sakit tersebut .
Berdasarkan teori diatas , aktivitas fisik yang Berdasarkan tabel 4.5 diatas kemudian
teratur dapat memelihara kesehatan tubuh dilakukan analisa data dengan uji Mann
tetapi aktivitas fisik yang dilakukan dengan Whitney menggunakan SPSS 19. Hasil uji
intensitas yang berlebihan dapat memberikan statistik pada level of significance = 5%
beban berlebihan pada sendi sehingga dapat dimana didapatkan nilai Asymp. Sig-nya sebesar
meningkatkan intensitas nyeri sendi, selain itu 0.039 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka H 1
juga dapat meningkatkan risiko cedera. Selain diterima. Hal ini berarti ada hubungan antara
terjadi penurunan fungsi sistem tubuh pada aktivitas fisik dengan intensitas nyeri sendi.
lansia perempuan juga terjadi penurunan Dari hasil penelitian diatas dapat diketahui
hormon estrogen yang bisa mengakibatkan bahwa sebagian besar responden yang
tulang mudah rapuh dan kekuatannya juga mengalami intensitas nyeri berat adalah
akan berkurang. Semakin berkurang hormon responden yang melakukan aktivitas fisik aktif.
estrogen maka semakin berkurang massa Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik aktif
tulang sehingga mudah terjadi cedera dan asam dapat menyebabkan meningkatnya intensitas
urat tidak bisa keluar. Penumpukan asam urat nyeri sendi yang dirasakan oleh lansia karena
bisa meningkatkan nyeri pada pasien Gout. aktivitas fisik dengan intensitas tinggi yang
berlebihan dapat memberikan beban yang
Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan berlebihan pada sendi dan meningkatkan risiko
Intensitas Nyeri Sendi cedera. Namun, aktivitas fisik dengan intensitas
ringan dan sedang justru dapat memperkuat
Dari hasil penelitian diketahui bahwa dan menjaga kesehatan sendi. Sehingga pada
hampir separuhnya yaitu 9 responden (42.86%) lansia yang aktivitas fisiknya aktif dan
mempunyai aktivitas fisik aktif dan mengalami mengalami nyeri sendi agar mengurangi sedikit
intensitas nyeri berat. aktivitasnya untuk menurunkan intensitas nyeri
Pada proses menua terjadi penurunan sendi yang dirasakan, meskipun diharapkan
fungsi sistem tubuh tidak terkecuali sistem lansia tetap aktif dimasa tua tetapi harus
muskuloskeletal. Pada sendi secara umum disesuaikan dengan kemampuan fisiknya.
terjadi kemunduran kartilago sendi, sebagian
besar terjadi pada sendi-sendi yang menahan KESIMPULAN DAN SARAN
berat, dan pembentukaan tulang dipermukaan
sendi. Komponen-komponen kapsul sendi Berdasarkan analisa data hasil penelitian
pecah dan kolagen yang terdapat dalam dapat disimpulkan bahwa sebagian besar lansia
jaringan penyambung meningkat secara memiliki aktivitas fisiknya aktif, hampir
progresif yang jika tidak dipakai lagi mungkin separuhnya mengalami intensitas nyeri sendi
menyebabkan inflamasi, nyeri, penurunan berat, dan ada hubungan antara aktivitas fisik
3
mobilitas sendi, dan deformitas . Selain adanya dengan intensitas nyeri sendi pada lansia yang
penurunan fungsi sistem tubuh juga timbulnya berada di panti Werdha Mojopahit Kabupaten
berbagai macam penyakit pada sistem Mojokerto.
muskuloskeletal juga bisa menyebabkan nyeri Diharapkan bagi petugas kesehatan yang
seperti Osteoartritis, Gout, Osteoporosis, berada di panti Werdha Mojopahit Kabupaten
2
Osteomilitis dan lain-lain . Mojokerto untuk lebih memantau aktivitas fisik
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan yang dilakukan para lansia dan memeriksa
5
nyeri sendi adalah aktivitas fisik . Rasa sakit keluhan nyeri (intensitas nyeri sendi) yang

38
dirasakan sehingga dilakukan terapi untuk 11. Potter, Patricia A. dan Perry, Anne G.. 2005.
dapat mengurangi keluhan nyeri yang dirasakan Buku Ajar Fundamental Keperawatan Vol.1
oleh lansia. Lansia diharapkan dapat mengatur dan 2 (Konsep, Proses, dan Pratek). Jakarta:
aktivitas fisiknya dan disesuaikan dengan EGC.
kemampuan sehingga nyeri yang dirasakan
dapat dikontrol. Pengaturan aktivitas fisik dapat 12. Azwar, Saifuddin. 2009. Sikap Manusia Teori
dilakukan dengan cara frekuensinya teratur 3-5 dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
kali seminggu, waktu sekurang-kurangnya 30 Pelajar.
menit per hari,dan hindari mengangkat beban
yang berlebih. 13. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
ed. 2. Jakarta: Salemba Medika.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dalimartha, Setiawan. 2008. Herbal Untuk 14. Tim Perhimpunan Pembina Kesehatan
Pengobatan Reumatik. Jakarta: Penebar Olahraga Republik Indonesia. 2002.
Swadaya. Panduan Kesehatan Olahraga. www.dinkes-
sulsel.go.id (diakses tanggal 17 Februari
2. Wijayakusuma, Hembing. 2006. Atasi 2012).
Rematik dan Asam Urat Ala Hembing.
Jakarta: Puspa Swara. 15. Dinkes Provinsi Jawa Barat. 2008. Seri
Poster Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan
3. Stanley, Mickey dan Beare, Patricia B.. 2006. Provinsi Jawa Barat : Lakukan Aktivitas Fisik
Buku Ajar Keperawatan Gerontik ed. 2. 30 Menit Sehari. www.eurekaindonesia.org
Jakarta: EGC. (diakses tanggal 3 November 2011).

4. Mubarak, Wahit I. dkk. 2009. Ilmu 16. Asmadi. 2008. Teknik Prosedural
Keperawatan Komunitas (Konsep dan Keperawatan (Konsep dan Aplikasi
Aplikasi). Jakarta: Salemba Medika. Kebutuhan Dasar Klien). Jakarta: Salemba
Medika.
5. Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine.
Jakarta: Erlangga.

6. Davies, Kim. 2007. Buku Pintar Nyeri Tulang


dan Otot. Jakarta: Erlangga.

7. Gordon, Neil F. 2002. Radang Sendi


(Arthritis) Panduan Latihan Lengkap.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

8. Hermana. 2007. Penduduk Lanjut Usia di


Indonesia dan Masalah Kesejahteraannya.
www.depsos.go.id (diakses tanggal 28
September 2011).

9. RISKESDAS Nasional. 2007. Laporan Hasil


Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional
2007. www.docstoc.com (diakses tanggal 12
Oktober 2011).

10. Charlish, Anne. 2010. Jawaban-jawaban


Alternatif untuk Artritis & Reumatik.
Yogyakarta: Citra Aji Pratama.

39