22 66 1 PB
22 66 1 PB
ABSTRAK ABSTRACT
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola The purpose of this study was to determine
pewarisan sifat warna polong tanaman buncis the pattern of inheritance of plant color pod
(Phaseolus vulgaris L.) dari tanaman buncis beans (Phaseolus vulgaris L.) from plants
introduksi (Cherokee sun dan Purple queen) introduction beans (Cherokee Purple sun and
ke tanaman buncis varietas lokal (Gogo queen) to plant local varieties of beans (Gogo
kuning, Gilik hijau, Mantili). Penelitian masa yellow, green Gilik, Mantili). The first study of
tanam buncis pertama, terdiri dari lima plant beans, consists of five varieties (two
varietas (dua introduksi dan tiga lokal ) introductions and three local) with 6
dengan 6 kombinasi perlakuan (persilangan). combination treatment (6 cross combinations).
Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 30 Each combination treatment consisted of 30
tanaman. Penelitian masa tanam buncis plants. Research during the second planting
kedua dilakukan dengan menggunakan of beans is done by using the method of
metode single plant dan terdiri dari 12 hasil single plant and used consisted of 12 from
persilangan, dua introduksi, tiga lokal. Hasil crosses, two introductions, three local. Data
percobaan menunjukkan bahwa F1 hasil were analyzed with test match observations
persilangan varietas introduksi I1 dengan using Chi-Square to see the value of
varietas lokal L1, L2, L3, masing-masing comparative experimental data obtained.
memiliki perbandingan yang sesuai dengan Based on the experimental results it was
nisbah teoritis Mendel, sedangkan resiprok concluded there that the cross on the
tidak sesuai dengan nisbah teoritis Mendel. introduction I1 influenced by maternal effects,
Hal ini menunjukkan bahwa persilangan pada while for I2 introduction are not affected by the
introduksi I1 dipengaruhi oleh maternal effect, maternal effect (female elders). For the
sedangkan untuk hasil persilangan introduksi calculation of Chi-Square, the introduction of a
I2 tidak dipengaruhi oleh maternal effect hybrid F1 I1 (Cherokee Sun) and I2 (Purple
(tetua betina). Untuk hasil perhitungan Chi- Queen) with local elders (L1, L2, L3) data
Kuadrat, F1 hasil persilangan diperoleh data showed that the odds of theoretical Mendelian
bahwa peluang dari nisbah teoritis Mendel 3:1 3:1 ratio has a larger percentage than the
memiliki persentase lebih besar dari nisbah other ratio.
lainnya. Hal ini menunjukkan adanya gen
tunggal dominan yang mengendalikan Keywords: The Pattern of Inheritance,
karakter warna polong. Mendelian Theory, Introduction and Local
Variety
Kata kunci: Pola Pewarisan Sifat, Teori
Mendel, Varietas Introduksi dan Lokal
82
2
X = dominan terhadap warna polong hijau,
sehingga pada persilangan buncis I2 (Purple
Queen) dengan buncis lokal L1,L2, L3 warna
Dimana Fo adalah Frekuensi yang
polong tidak dipengaruhi oleh maternal effect
diobservasi / diperoleh melalui pengamatan di
(tetua betina).
lapang (observed) dan Fh adalah Frekuensi
Pengaruh tetua betina merupakan
yang diharapkan (expected).
faktor lain yang mempengaruhi pewarisan
Heterosis diduga dengan dua cara,
sifat di luar kromosom yang diturunkan lewat
yaitu (Chaudary, 1984) :
sitoplasma. Menurut Murti (2004) terdapat
1. Heterobeltiosis ( high-parent heterosis =
lima hal yang digunakan untuk membedakan
HP ),yaitu penampilan hibrida (F1)
antara pewarisan sitoplasmik dengan
dibandingkan dengan penampilan tetua
pewarisan gen-gen kromosomal, yaitu :
terbaiknya.
1. Perbedaan hasil perkawinan resiprok
Heterobeltiosis = X 100% merupakan penyimpangan dari pola
Mendel.
2. Heterosis standar (HS), yaitu penampilan 2. Sel kelamin betina biasanya membawa
hibrida (F1) dibandingkan dengan sitoplasma dan organel sitoplasmik dalam
penampilan kedua tetuanya. jumlah lebih besar daripada sel kelamin
jantan.
Heterosis standar = X 100% 3. Gen-gen kromosomal menempati loki
tertentu dengan jarak satu sama lain yang
tertentu pula sehingga membentuk
HASIL DAN PEMBAHASAN kelompok berangkai.
4. Tidak adanya nisbah segregasi Mendel
Warna polong yang diteliti adalah menunjukkan bahwa pewarisan sifat tidak
warna polong kuning hasil persilangan dari I1 diatur oleh gen-gen kromosomal tetapi
(Cherokee Sun) dan warna polong ungu hasil oleh materi sitoplasmik.
persilangan dari I2 (Purple Queen). Untuk 5. Substitusi nukleus memperjelas pengaruh
warna polong F1 dan resiprok hasil relatif nukleus dan sitoplasma.
persilangan antara buncis I1 (Cherokee Sun)
yang memiliki warna polong kuning dengan Hasil uji Chi-Kuadrat untuk warna
buncis lokal L1, L2, L3 yang memiliki warna polong kuning pada hasil persilangan I1
polong hijau menghasilkan tanaman (Cherokee Sun) dengan tetua lokal L2
berpolong kuning dan hijau. Hal ini (Mantili) dan L3 (Gogo kuning) memiliki nilai
menunjukkan bahwa warna polong kuning perbandingan yang sama yaitu diperoleh
tidak dominan terhadap warna polong hijau, nisbah 3:1 dan 13:3 diterima menurut nisbah
sehingga pada persilangan buncis I1 teoritis Mendel dengan probabilitas masing-
(Cherokee Sun) dengan buncis lokal L1,L2, masing 50 - 70 % dan 20-30 %, Sedangkan
L3 warna polong dipengaruhi oleh maternal untuk hasil persilangan I1 dengan L1 ( Gilik
effect (tetua betina). Hal tersebut terjadi hijau ) menunjukkan bahwa pada generasi F1
dikarenakan sel kelamin betina biasanya memiliki tiga pola pewarisan warna polong.
membawa sitoplasma dan organel sitoplasmik Pertama, pewarisan warna polong sesuai
dalam jumlah lebih besar daripada sel dengan nisbah teoritis 3:1 dengan tingkat
kelamin jantan. Dengan demikian, modifikasi probabilitas sebesar 50 70 %, kedua sesuai
warna polong kuning hanya dilakukan dengan dengan nisbah teoritis 9:7 dengan tingkat
memperhitungkan induk dari tetua I1 probabilitas sebesar 10 - 20 %, dan ketiga
(Cherokee Sun). sesuai dengan nisbah 13:3 dengan tingkat
Pada F1 dan resiprok hasil persilangan probabilitas sebesar 5 - 10 % (dilihat pada
I2 (Purple Queen) dengan varietas lokal tabel 1 dan 2).
menghasilkan tanaman yang dominan Pada hasil uji Chi-Kuadrat untuk warna
memiliki warna polong ungu. Hal ini polong ungu hasil persilangan I2 dengan
menunjukkan bahwa warna polong ungu tetua lokal L1 dan L2 menunjukkan bahwa
84
Kombinasi persilangan yang diduga heterosis standar pada sifat umur berbunga
memiliki fenomena heterobeltiosis dan
Tabel 1 Hasil Chi-Kuadrat F1 hasil persilangan Cherokee Sun dengan tetua lokal
Rasio warna polong
3:1 9:7 13:3 15:1
Perlakuan
O 2 O 2 O 2 O 2
E X E X E X E X
(k:h) (k:h) (k:h) (k:h)
Cherokee Sun
* * * *
14:6 15:5 0.26 14:6 9:7 2.92 14:6 13:3 3.076 14:6 15:1 25.06
Gilik Hijau
Gilik Hijau
- - - - - - - - - - - -
Cherokee Sun
Cherokee Sun
* tn * tn
16:4 15:5 0.26 16:4 9:7 6.7 16:4 13:3 1.025 16:4 15:1 9.06
Mantili
Mantili
tn tn tn tn
4:16 15:5 32.26 4:16 9:7 14.34 4:16 13:3 9.23 4:16 15:1 233.06
Cherokee Sun
Cherokee Sun
* tn * tn
16:4 15:5 0.26 16:4 9:7 6.7 16:4 13:3 1.025 16:4 15:1 9.06
Gogo kuning
Gogo kuning
tn tn tn tn
2:18 15:5 13.06 2:18 9:7 22.72 2:18 13:3 84.3 2:18 15:1 300.26
Cherokee Sun
dari segi produksi, kombinasi persilangan X5 kombinasi persilangan yang lain. Menurut
(Cherokee Sun dengan Gogo Kuning) Welington cit Panjaitan, berat buah dan umur
memiliki hasil yang lebih besar daripada
Tabel 2 Hasil Chi-Kuadrat F1 hasil persilangan Purple Queen dengan tetua local
Rasio warna polong
3:1 9:7 13:3 15:1
Perlakuan
O 2 O 2 O 2 O 2
E X E X E X E X
(u:h) (u:h) (u:h) (u:h)
Purple Queen
16:4 15:5 0.26* 16:4 9:7 6.7tn 16:4 13:3 1.025* 16:4 15:1 9.06tn
Gilik Hijau
Gilik Hijau
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Purple Queen
Purple Queen
16:4 15:5 0.26* 16:4 9:7 6.7tn 16:4 13:3 1.025* 16:4 15:1 9.06tn
Mantili
Mantili
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Purple Queen
Purple Queen
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Gogo kuning
Gogo kuning
13:7 15:5 1.06 13:7 9:7 1.91* 13:7 13:3 3.04* 13:7 15:1 36.26tn
Purple Queen
Keterangan: O : Observed (Diamati); E : Expected (Diharapkan); k : warna polong kuning; u : warna polong
ungu, h : warna polong hijau; tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5 %; (*) = berbeda nyata pada taraf 5
%.
genjah merupakan sifat yang diatur oleh 3-5 sifat heterosis dari kombianasi persilangan
pasang gen mayor dan bersifat kurang dapat diakibatkan oleh rendahnya heritabilitas
dominan. Apabila lingkungan memberikan sifat tersebut dan sifat tersebut dikendalikan
kesempatan untuk tumbuh normal, maka oleh banyak gen. salah satu cirri sifat
ukuran dan berat buah akan sama dengan kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen
akar hasil kali dua tetua. Hal ini memberikan adalah pemunculan sifat tersebut merupakan
hasil F1 yang lebih besar dari tetuanya. akibat pengaruh dari interaksi antara genotipe
Kedua-belas kombinasi persilangan dan faktor lingkungan serta hasil kerja gen-
yang diuji, tidak semua kombinasi persilangan gen secara bersamaan dan bersifat kumulatif.
menunjukkan adanya fenomena Nilai negatife pada heterosis, menurut
heterobeltiosis dan heterosis standar pada Wellington cit. Panjaitan (1990), merupakan
keenan sifat yang diamati. Pada pengamatan hasil dari keadaan dimana terdapat
sifat umur berbunga, hanya X7 yang memiliki kekurangan unsur heterosigot pada hasil
fenomena heterobeltiosis dan heterosis persilangan yang mengakibatkan nilai F1
standar, sedangkan yang lain tidak meiliki lebih kecil dari tetuanya.
sifat tersebut. Hal ini disebabkan karena gen- Dengan demikian perlu penelitian lebih
gen dari tetua yang tergabung dalam setiap lanjut sampai generasi berikutnya untuk dilihat
kombinasi persilangan tidak semuanya kelanjutan pola pewarisan sifat dan
mampu bergabung dengan baik dan tidak segregasinya serta ketahanan terhadap
dapat bekerja secara komplementer. Menurut penyakit dengan uji lanjut khusus.
Ibarda dan Lamberth (1969), tidak munculnya
87
Tabel 3 Nilai duga pengaruh heterobeltiosis (HP) dan heterosis standar pada sifat hasil dan komponen hasil dari beberapa persilangan
87
88 88
Frizal Amy
JURNAL Oktarisna: TANAMAN
PRODUKSI Pola Pewarisan
Vol. 1Sifat
No. Warna
2 Polong..................................................................
MEI-2013 ISSN: 2338-3976