0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
216 tayangan9 halaman

22 66 1 PB

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pewarisan sifat warna polong pada hasil persilangan tanaman buncis varietas introduksi dengan varietas lokal. Penelitian dilakukan dengan melakukan persilangan antara dua varietas introduksi (Cherokee sun dan Purple queen) dengan tiga varietas lokal (Gogo kuning, Gilik hijau, Mantili) dan menganalisis warna polong keturunan F1 menggunakan uji kecocokan Chi-Kuad
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
216 tayangan9 halaman

22 66 1 PB

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pewarisan sifat warna polong pada hasil persilangan tanaman buncis varietas introduksi dengan varietas lokal. Penelitian dilakukan dengan melakukan persilangan antara dua varietas introduksi (Cherokee sun dan Purple queen) dengan tiga varietas lokal (Gogo kuning, Gilik hijau, Mantili) dan menganalisis warna polong keturunan F1 menggunakan uji kecocokan Chi-Kuad
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

81

JURNAL PRODUKSI TANAMAN Vol. 1 No. 2 MEI-2013 ISSN: 2338-3976

POLA PEWARISAN SIFAT WARNA POLONG PADA HASIL PERSILANGAN


TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) VARIETAS INTRODUKSI DENGAN
VARIETAS LOKAL

THE INHERITANCE PATTERN OF PODS COLORS ON CROSS-PLANTS


BETWEEN COMMON BEANS (Phaseolus Vulgaris L.) INTRODUCTION
VARIETIES AND LOCAL VARIETIES
1*)
Frizal Amy Oktarisna , Andy Soegianto, Arifin Noor Sugiharto
*)
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
Jln. Veteran, Malang 65145, Indonesia

ABSTRAK ABSTRACT

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola The purpose of this study was to determine
pewarisan sifat warna polong tanaman buncis the pattern of inheritance of plant color pod
(Phaseolus vulgaris L.) dari tanaman buncis beans (Phaseolus vulgaris L.) from plants
introduksi (Cherokee sun dan Purple queen) introduction beans (Cherokee Purple sun and
ke tanaman buncis varietas lokal (Gogo queen) to plant local varieties of beans (Gogo
kuning, Gilik hijau, Mantili). Penelitian masa yellow, green Gilik, Mantili). The first study of
tanam buncis pertama, terdiri dari lima plant beans, consists of five varieties (two
varietas (dua introduksi dan tiga lokal ) introductions and three local) with 6
dengan 6 kombinasi perlakuan (persilangan). combination treatment (6 cross combinations).
Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 30 Each combination treatment consisted of 30
tanaman. Penelitian masa tanam buncis plants. Research during the second planting
kedua dilakukan dengan menggunakan of beans is done by using the method of
metode single plant dan terdiri dari 12 hasil single plant and used consisted of 12 from
persilangan, dua introduksi, tiga lokal. Hasil crosses, two introductions, three local. Data
percobaan menunjukkan bahwa F1 hasil were analyzed with test match observations
persilangan varietas introduksi I1 dengan using Chi-Square to see the value of
varietas lokal L1, L2, L3, masing-masing comparative experimental data obtained.
memiliki perbandingan yang sesuai dengan Based on the experimental results it was
nisbah teoritis Mendel, sedangkan resiprok concluded there that the cross on the
tidak sesuai dengan nisbah teoritis Mendel. introduction I1 influenced by maternal effects,
Hal ini menunjukkan bahwa persilangan pada while for I2 introduction are not affected by the
introduksi I1 dipengaruhi oleh maternal effect, maternal effect (female elders). For the
sedangkan untuk hasil persilangan introduksi calculation of Chi-Square, the introduction of a
I2 tidak dipengaruhi oleh maternal effect hybrid F1 I1 (Cherokee Sun) and I2 (Purple
(tetua betina). Untuk hasil perhitungan Chi- Queen) with local elders (L1, L2, L3) data
Kuadrat, F1 hasil persilangan diperoleh data showed that the odds of theoretical Mendelian
bahwa peluang dari nisbah teoritis Mendel 3:1 3:1 ratio has a larger percentage than the
memiliki persentase lebih besar dari nisbah other ratio.
lainnya. Hal ini menunjukkan adanya gen
tunggal dominan yang mengendalikan Keywords: The Pattern of Inheritance,
karakter warna polong. Mendelian Theory, Introduction and Local
Variety
Kata kunci: Pola Pewarisan Sifat, Teori
Mendel, Varietas Introduksi dan Lokal
82

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna Polong..............................................................

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE

Kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) Penelitian ini dilaksanakan di Desa


merupakan jenis tanaman sayuran polong Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten
yang memiliki banyak manfaat. Sebagai Malang dengan ketinggian 1.050 m diatas
bahan sayuran, polong buncis dikonsumsi permukaan laut (dpl) dengan suhu rata-rata
dalam keadaan muda atau dikonsumsi bijinya. berkisar 22 C. Penelitian dilaksanakan pada
Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura data bulan Februari sampai dengan September
statistik produksi tanaman sayuran buncis di 2012. Serta memiliki jenis tanah andosol.
Indonesia periode 2007-2008 adalah 266,790 Alat-alat yang digunakan dalam Alat
ton, 242,455 ton, sedangan rata-rata hasil yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
sayuran buncis pada tahun 2008 meningkat ajir, tali rafia, mulsa, cangkul, sprayer, kertas
dari 7,75 ton/ha menjadi 8,52 ton/ha label, bambu, alat tulis, penggaris dan
(Direktorat Jenderal Hortikultura, 2009). Untuk kamera. Bahan yang digunakan adalah 5
itu perlu dikembangkan varietas yang memiliki varietas benih tanaman buncis dengan rincian
produksi dan kualitas yang lebih baik agar 2 benih varietas introduksi Cherokee sun
dapat memenuhi kebutuhan konsumen. (warna polong kuning) dan Purple queen
Varietas buncis lokal Surakarta dikenal (warna polong ungu) serta 3 benih varietas
karena memiliki rata-rata produksi lebih tinggi lokal Surakarta Gogo kuning, Gilik hijau,
dari yang lainnya. Dua varietas lokal (Gilik Mantili (warna polong hijau).
Hijau dan mantili) memiliki permukaan polong Penelitian ini dilakukan dua kali masa
yang halus, besar, berserat halus serta tanam dengan rincian masa tanam pertama
berproduksi tinggi. Sedangkan pada varietas untuk persilangan pada tanaman buncis, dan
lokal Surakarta Gogo Kuning memiliki serat masa tanam kedua untuk membandingkan F1
halus dan berumur genjah. Hal ini menjadi hasil persilangan tanaman buncis dengan
keunggulan dari varietas tersebut di kalangan tetuanya. Pada penelitian masa tanam buncis
konsumen dan petani. pertama, terdiri dari lima varietas (dua
Tanaman introduksi memiliki introduksi dan tiga lokal ) dengan 6 kombinasi
kandungan betakaroten (Cherokee Sun) dan perlakuan (6 kombinasi persilangan). Setiap
antosianin (Purple Queen) yang membuat kombinasi perlakuan terdiri dari 30 tanaman.
kualitas buncis tersebut lebih tinggi dari yang Penelitian masa tanam buncis kedua
lain. Kandungan betakaroten dan antosianin dilakukan dengan menggunakan metode
secara medis berfungsi sebagai antioksidan single plant, artinya pengamatan dilakukan
untuk mencegah kanker dan penyakit pada seluruh tanaman. Tanaman yang
lainnya. Preferensi konsumen sendiri lebih digunakan terdiri dari 12 hasil persilangan,
ditentukan oleh kualitas polong. Menurut dua introduksi, tiga lokal. Tiap 12 varietas
peneliti Permadi dan Djuariah (2000) pada hasil persilangan terdiri dari 20 tanaman,
umumnya, konsumen lebih menyukai bentuk sehingga terdapat 240 tanaman, serta pada
polong yang bulat, permukaan yang relative lima varietas tetua terdiri dari sembilan
rata, dengan panjang yang dimiliki 15-22 cm, tanaman, sehingga terdapat 45 tanaman.
berserat halus dang polongnya lurus, dan Pengamatan, terhadap 12 hasil persilangan
karakter tersebut ada pada tanaman lokal gilik dan tetua dilakukan terhadap sifat warna
hijau, mantili dan gogo kuning. polong, tinggi tanaman, lebar batang, umur
Penggabungan antara varietas introduksi berbunga, umur panen kering, bobot 1000 biji
dengan varietas buncis lokal diharapkan dan bobot kering per polong.
dapat membuat kualitas tanaman hasil Menurut Suryo (2008) uji kecocokan
persilangan memiliki kualitas tanaman yang warna polong menggunakan metode Chi-
lebih baik dari tetuanya. Selain itu dapat Kuadrat untuk melihat besarnya nilai
dipelajari pola pewarisan sifat dari varietas perbandingan data percobaan yang diperoleh
introduksi ke varietas lokal. dari persilangan yang telah dilakukan dengan
hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis
2
secara teoritis. Nilai Chi-Kuadrat (X )
diperoleh dengan rumus :
83

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna


Polong................................................................

2
X = dominan terhadap warna polong hijau,
sehingga pada persilangan buncis I2 (Purple
Queen) dengan buncis lokal L1,L2, L3 warna
Dimana Fo adalah Frekuensi yang
polong tidak dipengaruhi oleh maternal effect
diobservasi / diperoleh melalui pengamatan di
(tetua betina).
lapang (observed) dan Fh adalah Frekuensi
Pengaruh tetua betina merupakan
yang diharapkan (expected).
faktor lain yang mempengaruhi pewarisan
Heterosis diduga dengan dua cara,
sifat di luar kromosom yang diturunkan lewat
yaitu (Chaudary, 1984) :
sitoplasma. Menurut Murti (2004) terdapat
1. Heterobeltiosis ( high-parent heterosis =
lima hal yang digunakan untuk membedakan
HP ),yaitu penampilan hibrida (F1)
antara pewarisan sitoplasmik dengan
dibandingkan dengan penampilan tetua
pewarisan gen-gen kromosomal, yaitu :
terbaiknya.
1. Perbedaan hasil perkawinan resiprok
Heterobeltiosis = X 100% merupakan penyimpangan dari pola
Mendel.
2. Heterosis standar (HS), yaitu penampilan 2. Sel kelamin betina biasanya membawa
hibrida (F1) dibandingkan dengan sitoplasma dan organel sitoplasmik dalam
penampilan kedua tetuanya. jumlah lebih besar daripada sel kelamin
jantan.
Heterosis standar = X 100% 3. Gen-gen kromosomal menempati loki
tertentu dengan jarak satu sama lain yang
tertentu pula sehingga membentuk
HASIL DAN PEMBAHASAN kelompok berangkai.
4. Tidak adanya nisbah segregasi Mendel
Warna polong yang diteliti adalah menunjukkan bahwa pewarisan sifat tidak
warna polong kuning hasil persilangan dari I1 diatur oleh gen-gen kromosomal tetapi
(Cherokee Sun) dan warna polong ungu hasil oleh materi sitoplasmik.
persilangan dari I2 (Purple Queen). Untuk 5. Substitusi nukleus memperjelas pengaruh
warna polong F1 dan resiprok hasil relatif nukleus dan sitoplasma.
persilangan antara buncis I1 (Cherokee Sun)
yang memiliki warna polong kuning dengan Hasil uji Chi-Kuadrat untuk warna
buncis lokal L1, L2, L3 yang memiliki warna polong kuning pada hasil persilangan I1
polong hijau menghasilkan tanaman (Cherokee Sun) dengan tetua lokal L2
berpolong kuning dan hijau. Hal ini (Mantili) dan L3 (Gogo kuning) memiliki nilai
menunjukkan bahwa warna polong kuning perbandingan yang sama yaitu diperoleh
tidak dominan terhadap warna polong hijau, nisbah 3:1 dan 13:3 diterima menurut nisbah
sehingga pada persilangan buncis I1 teoritis Mendel dengan probabilitas masing-
(Cherokee Sun) dengan buncis lokal L1,L2, masing 50 - 70 % dan 20-30 %, Sedangkan
L3 warna polong dipengaruhi oleh maternal untuk hasil persilangan I1 dengan L1 ( Gilik
effect (tetua betina). Hal tersebut terjadi hijau ) menunjukkan bahwa pada generasi F1
dikarenakan sel kelamin betina biasanya memiliki tiga pola pewarisan warna polong.
membawa sitoplasma dan organel sitoplasmik Pertama, pewarisan warna polong sesuai
dalam jumlah lebih besar daripada sel dengan nisbah teoritis 3:1 dengan tingkat
kelamin jantan. Dengan demikian, modifikasi probabilitas sebesar 50 70 %, kedua sesuai
warna polong kuning hanya dilakukan dengan dengan nisbah teoritis 9:7 dengan tingkat
memperhitungkan induk dari tetua I1 probabilitas sebesar 10 - 20 %, dan ketiga
(Cherokee Sun). sesuai dengan nisbah 13:3 dengan tingkat
Pada F1 dan resiprok hasil persilangan probabilitas sebesar 5 - 10 % (dilihat pada
I2 (Purple Queen) dengan varietas lokal tabel 1 dan 2).
menghasilkan tanaman yang dominan Pada hasil uji Chi-Kuadrat untuk warna
memiliki warna polong ungu. Hal ini polong ungu hasil persilangan I2 dengan
menunjukkan bahwa warna polong ungu tetua lokal L1 dan L2 menunjukkan bahwa
84

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna Polong..............................................................

pada generasi F1 memiliki dua pola menghasilkan biji dikarenakan persilangan


pewarisan warna polong. Pertama, pewarisan yang tidak berhasil. Hal ini diduga disebabkan
warna polong sesuai dengan nisbah teoritis karena inkompatibilitas yang terjadi pada
3:1 dengan tingkat probabilitas sebesar 50 - tanaman tersebut. Inkompatibilitas
70 %, kedua sesuai dengan nisbah 13:3 (incompatibility) adalah bentuk
dengan tingkat probabilitas sebesar 20 - 30 ketidaksuburan yang disebabkan oleh
%, untuk warna polong ungu hasil ketidakmampuan tanaman yang memiliki
persilangan I2 dengan tetua lokal L3 nisbah pollen dan ovule normal dalam membentuk
3:1 dan 13:3 diterima menurut nisbah teoritis benih karena gangguan fisiologis yang
Mendel dengan probabilitas masing-masing menghalangi fertilisasi. Mekanisme didalam
30 - 50 % dan 20 - 30 %. tumbuhan berbunga yang mencegah
Dari hasil perhitungan Chi-Kuadrat terjadinya self-fertilisasi akibat dekatnya
tersebut diperoleh data bahwa peluang dari hubungan antara organ reproduksi jantan dan
nisbah teoritis Mendel 3:1 memiliki persentase betina pada bunga yang sempurna.
lebih besar dari nisbah lainnya. Hal ini Inkompatibilitas disebabkan oleh
menunjukkan adanya gen tunggal dominan ketidakmampuan tabung pollen dalam (a)
yang mengendalikan karakter warna polong menembus kepala putik, atau (b) tumbuh
pada F1 hasil persilangan tanaman buncis normal sepanjang tangkai putik namun tidak
introduksi I1 (Cherokee Sun) I2 (Purple mampu mencapai ovule karena pertumbuhan
Queen) dengan tetua lokal (L1, L2, L3). yang terlalu lambat. Mekanisme ini mencegah
Nisbah 3:1 mengandung arti bahwa silang dalam (selfing) dan mendorong adanya
pewarisan warna polong dikendalikan oleh penyerbukan silang (crossing) (Suwarno,
sepasang gen tunggal (monogenically 2008).
inherited), yaitu gen dominan untuk Kombinasi persilangan yang diduga
mengendalikan warna polong kuning dan memiliki fenomena heterobeltiosis dan
ungu dengan gen resesif sebagai pengendali heterosis standar pada sifat tinggi tanaman
warna polong hijau. Crowder (1997) adalah pada kombinasi persilangan X9
menyatakan bahwa sifat kualitatif pada (Purple Queen dengan Mantili) dengan nilai
tanaman, banyak diatur oleh satu gen. sebesar 18,85% dan 28.,45% , serta X11
Apabila dihubungkan dengan jalur biosintesis (Purple Queen dengan Gogo Kuning ) dengan
karotenoid gen tunggal pada warna polong nilai sebesar 26,65% dan 72,65%. Hal ini
kuning dipengaruhi oleh enzim Lycopene - berarti bahwa kombinasi persilangan X9 dan
Cyclase. Hal ini ditunjukkan pada jalur X11 memiliki tinggi tanaman yang lebih tinggi
biosintesis karotenoid, dimana dari lycopene dari pada tetua terbaiknya dan rata-rata
membentuk beta karoten membutuhkan satu kedua tetuanya (tabel 3).
gen yaitu LCY (Lycopene -cyclase) yang Kombinasi persilangan yang diduga
mengintroduksi cincin -ionone pada salah memiliki fenomena heterobeltiosis dan
satu dari trans-lycopene untuk menghasilkan heterosis standar pada sifat lebar batang
-carotene. ( Cuttriss et al, 2008 ). Pada adalah pada kombinasi persilangan X5
waarna polong ungu, apabila dihubungkan (Cheroke Sun dengan Gogo Kuning ) dengan
dengan jalur biosintesis antosianin gen nilai sebesar 1.67% dan 1.67% , X6 (Gogo
tunggal pada warna polong ungu dipengaruhi Kuning dengan Cherokee Sun) sebesar
oleh enzim flavonoid 3-glukosiltransferase., 1,67% dan 1,67%, X9 (Purple Queen dengan
dimana lleucodelphinidin yang kemudian Mantili) dengan nilai sebesar 3,87% dan
dikonversi menjadi antosianin setelah 4,61%, X10 (Mantili dengan purple Queen)
ditambahkan molekul glukosa oleh enzim sebesar 4,15% dan 4,89%, serta X11
UDP glucose, yaitu flavonoid 3- (Purple Queen dengan Gogo Kuning ) dengan
glukosiltransferase. (Holton dan nilai sebesar 1,41% dan 9,92%. Hal ini berarti
Cornish,1995). Pada tanaman buncis bahwa kombinasi persilangan X5, X6, X9,
pewarisan warna polong dikendalikan minimal X10, dan X11 memiliki lebar batang yang
oleh satu hingga dua gen (Porter, 2000). lebih besar dari pada tetua terbaiknya dan
Pada tanaman X2 yaitu hasil persilangan dari rata-rata kedua tetuanya (Tabel 2).
buncis Gilik Hijau dengan Cherokee Sun tidak
85

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna


Polong................................................................

Kombinasi persilangan yang diduga heterosis standar pada sifat umur berbunga
memiliki fenomena heterobeltiosis dan
Tabel 1 Hasil Chi-Kuadrat F1 hasil persilangan Cherokee Sun dengan tetua lokal
Rasio warna polong
3:1 9:7 13:3 15:1
Perlakuan
O 2 O 2 O 2 O 2
E X E X E X E X
(k:h) (k:h) (k:h) (k:h)
Cherokee Sun
* * * *
14:6 15:5 0.26 14:6 9:7 2.92 14:6 13:3 3.076 14:6 15:1 25.06
Gilik Hijau
Gilik Hijau
- - - - - - - - - - - -
Cherokee Sun
Cherokee Sun
* tn * tn
16:4 15:5 0.26 16:4 9:7 6.7 16:4 13:3 1.025 16:4 15:1 9.06
Mantili
Mantili
tn tn tn tn
4:16 15:5 32.26 4:16 9:7 14.34 4:16 13:3 9.23 4:16 15:1 233.06
Cherokee Sun
Cherokee Sun
* tn * tn
16:4 15:5 0.26 16:4 9:7 6.7 16:4 13:3 1.025 16:4 15:1 9.06
Gogo kuning
Gogo kuning
tn tn tn tn
2:18 15:5 13.06 2:18 9:7 22.72 2:18 13:3 84.3 2:18 15:1 300.26
Cherokee Sun

adalah pada kombinasi persilangan X7 Kombinasi persilangan yang diduga


(Purple Queen dengan Gilik Hijau) dengan memiliki fenomena heterobeltiosis dan
nilai sebesar 0,15% dan 12,22%. Hal ini heterosis standar pada pengamatan bobot per
berarti bahwa kombinasi persilangan X7 polong adalah pada kombinasi persilangan X4
memiliki umur berbunga yang lebih genjah (Mantili dengan Cherokee Sun), X5
dari pada tetua terbaiknya dan rata-rata (Cherokee Sun dengan Gogo Kuning), X9
kedua tetuanya (Tabel 2). (Purple Queen dengan Mantili), dan X10
Kombinasi persilangan yang diduga (Mantili dengan Purple Queen) dengan nilai
memiliki fenomena heterobeltiosis dan berturut-turut sebesar 4,19% dan 19,07%;
heterosis standar pada sifat umur panen 3,94% dan 7,07%; 1,62% dan 7,07%; 4,43%
kering adalah pada kombinasi persilangan dan 10,03%. Pada kombinasi persilangan X7
X12 (Gogo Kuning dengan Purple Queen) (Purple Queen dengan Gilik Hijau) dan X11
dengan nilai sebesar 0,18% dan 10,44%. Hal (Purple Queen dengan Gogo Kuning) hanya
ini berarti bahwa kombinasi persilangan X12 memiliki sifat heterosis standar dengan nilai
memiliki umur panen yang lebih cepat dari sebesar 2,95% dan 7,05%. Hal ini berarti
pada tetua terbaiknya dan rata-rata kedua bahwa kombinasi persilangan X4, X5, X9 dan
tetuanya (tabel 2). X10 memiliki bobot per polong yang lebih
Pada pengamatan bobot 1000 biji, berat dari pada tetua terbaiknya dan rata-rata
hanya kombinasi persilangan X3 (Cherokee kedua tetuanya, sedangkan pada X4 hanya
Sun dengan Mantili) yang tidak memiliki sifat memiliki sifat heterosis standar dimana
heterbeltiosis tetapi memiliki sifat heterosis memiliki bobot per polong yang lebih berat
standar dengan nilai sebesar 4,17%. Hal ini dari rata-rata kedua tetuanya (Tabel 3).
berarti bahwa semua hasil kombinasi Secara umum, kombinasi X7
persilangan, kecuali X3, memiliki bobot biji (Cherokee Sun dengan Gilik Hijau) memiliki
lebih besar daripada tetua terbaiknya (Tabel nilai duga heterosis yang lebih baik
3). dibandingkan kombinasi yang diamati dari
segi sifat umur genjah, sedangkan jika diamati
86

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna Polong..............................................................

dari segi produksi, kombinasi persilangan X5 kombinasi persilangan yang lain. Menurut
(Cherokee Sun dengan Gogo Kuning) Welington cit Panjaitan, berat buah dan umur
memiliki hasil yang lebih besar daripada

Tabel 2 Hasil Chi-Kuadrat F1 hasil persilangan Purple Queen dengan tetua local
Rasio warna polong
3:1 9:7 13:3 15:1
Perlakuan
O 2 O 2 O 2 O 2
E X E X E X E X
(u:h) (u:h) (u:h) (u:h)
Purple Queen
16:4 15:5 0.26* 16:4 9:7 6.7tn 16:4 13:3 1.025* 16:4 15:1 9.06tn
Gilik Hijau
Gilik Hijau
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Purple Queen
Purple Queen
16:4 15:5 0.26* 16:4 9:7 6.7tn 16:4 13:3 1.025* 16:4 15:1 9.06tn
Mantili
Mantili
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Purple Queen
Purple Queen
17:3 15:5 1.06* 17:3 9:7 9.39tn 17:3 13:3 1.23* 17:3 15:1 4.26tn
Gogo kuning
Gogo kuning
13:7 15:5 1.06 13:7 9:7 1.91* 13:7 13:3 3.04* 13:7 15:1 36.26tn
Purple Queen

Keterangan: O : Observed (Diamati); E : Expected (Diharapkan); k : warna polong kuning; u : warna polong
ungu, h : warna polong hijau; tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5 %; (*) = berbeda nyata pada taraf 5
%.

genjah merupakan sifat yang diatur oleh 3-5 sifat heterosis dari kombianasi persilangan
pasang gen mayor dan bersifat kurang dapat diakibatkan oleh rendahnya heritabilitas
dominan. Apabila lingkungan memberikan sifat tersebut dan sifat tersebut dikendalikan
kesempatan untuk tumbuh normal, maka oleh banyak gen. salah satu cirri sifat
ukuran dan berat buah akan sama dengan kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen
akar hasil kali dua tetua. Hal ini memberikan adalah pemunculan sifat tersebut merupakan
hasil F1 yang lebih besar dari tetuanya. akibat pengaruh dari interaksi antara genotipe
Kedua-belas kombinasi persilangan dan faktor lingkungan serta hasil kerja gen-
yang diuji, tidak semua kombinasi persilangan gen secara bersamaan dan bersifat kumulatif.
menunjukkan adanya fenomena Nilai negatife pada heterosis, menurut
heterobeltiosis dan heterosis standar pada Wellington cit. Panjaitan (1990), merupakan
keenan sifat yang diamati. Pada pengamatan hasil dari keadaan dimana terdapat
sifat umur berbunga, hanya X7 yang memiliki kekurangan unsur heterosigot pada hasil
fenomena heterobeltiosis dan heterosis persilangan yang mengakibatkan nilai F1
standar, sedangkan yang lain tidak meiliki lebih kecil dari tetuanya.
sifat tersebut. Hal ini disebabkan karena gen- Dengan demikian perlu penelitian lebih
gen dari tetua yang tergabung dalam setiap lanjut sampai generasi berikutnya untuk dilihat
kombinasi persilangan tidak semuanya kelanjutan pola pewarisan sifat dan
mampu bergabung dengan baik dan tidak segregasinya serta ketahanan terhadap
dapat bekerja secara komplementer. Menurut penyakit dengan uji lanjut khusus.
Ibarda dan Lamberth (1969), tidak munculnya
87

JURNAL PRODUKSI TANAMAN Vol. 1 No. 2 MEI-2013 ISSN: 2338-3976

Tabel 3 Nilai duga pengaruh heterobeltiosis (HP) dan heterosis standar pada sifat hasil dan komponen hasil dari beberapa persilangan

Frizal Amy Oktarisna : Pola Pewarisan Sifat Warna Polong..........................................................


buncis

UMUR BOBOT PER


TINGGI LEBAR UMUR BOBOT
PANEN POLONG
TANAMAN BATANG BERBUNGA 1000 BIJI
PERSILANGAN KERING KERING
HP HS HP HS HP HS HP HS HP HS HP HS
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
X1
-19.17 -5.47 -6.92 -3.20 -19.53 -10.20 -9.25 -4.17 29.30 30.13 -26.16 -15.41
(CS GH)
X2
- - - - - - - - - - - -
(GH CS)
X3
-26.10 -8.44 -10.00 -3.08 -9.95 -7.13 -3.99 2.20 -2.20 4.17 -13.58 -1.23
(CS M)
X4 - -
-9.45 12.18 -2.29 5.23 -17.73 -15.16 15.88 23.44 4.19 19.07
(M CS) 16.37 10.98
X5
-21.16 -16.75 1.67 1.67 -20.13 -15.26 -2.39 -0.31 30.21 34.63 3.94 7.07
(CS GK)
X6
-27.21 -23.13 1.67 1.67 -28.90 -24.57 -4.77 -2.74 22.79 26.97 -3.21 -0.30
(GK CS)
X7
-24.20 -12.66 -13.38 -9.56 0.15 12.22 -7.78 -1.80 19.20 26.76 -2.02 2.95
(PQ GH)
X8
-22.86 -11.12 -2.46 1.84 -4.09 7.48 -7.24 -1.22 19.88 27.49 -7.77 -3.09
(GH PQ)
X9
18.85 28.45 3.87 4.61 -20.62 -3.21 -3.76 1.67 18.10 18.64 1.62 7.07
(PQ M)
X10
-26.51 -20.58 4.15 4.89 -15.35 3.22 -3.82 1.61 21.55 22.11 4.43 10.03
(M PQ)
X11
26.65 72.65 1.41 9.92 -40.87 -19.71 -9.80 -0.57 9.87 13.81 -8.19 7.05
(PQ GK)
X12
-38.43 -16.07 -11.97 -4.58 -31.19 -6.57 0.18 10.44 14.31 18.41 -15.89 -1.93
(GK PQ)
Keterangan : HP: heterobeltiosis; CS: Cherokee Sun; GH: Gilik Hijau; GK: Gogo Kuning; HS: heterosis standar; PQ: Purple Queen; M: Mantil

87
88 88

Frizal Amy
JURNAL Oktarisna: TANAMAN
PRODUKSI Pola Pewarisan
Vol. 1Sifat
No. Warna
2 Polong..................................................................
MEI-2013 ISSN: 2338-3976

KESIMPULAN Chaudary, R.C. 1984. Introduction to plant


Breeding. Oxford and IBH Publish-ing
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan Co., New Delhi.
kesimpulan bahwa F1 hasil persilangan Crowder, L. V. 1988. Genetika tumbuhan.
varietas introduksi I1 dengan varietas lokal L1, Gajah Mada university press.
L2, L3, masing-masing memiliki perbandingan Yogyakarta.
yang sesuai dengan nisbah teoritis Mendel, Cuttriss, A.J., J. L. Mimica, C. A. Howitt and
sedangkan resiprok tidak sesuai dengan nisbah B. J. Pogson. 2006. Carotenoids. In R.
teoritis Mendel. Hal ini menunjukkan bahwa R. Wise and J. K. Hoober (eds), The
persilangan pada introduksi I1 (Cherokee Sun) Structure and Function of Plastids.
dengan varietas lokal dipengaruhi oleh Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura.
maternal effect (tetua betina). Pada F1 dan 2009. Petunjuk teknis penilaian dan
resiprok hasil persilangan varietas introduksi I2 pelepasan varietas tanaman pangan dan
dengan varietas lokal L1, L2, L3, memiliki hortikultura. Dit. Bina Perbenihan, Ditjen
perbandingan yang sesuai dengan nisbah Tanaman Pangan dan Hortikultura,
teoritis Mendel. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta.
persilangan pada introduksi I2 (Purplee Queen) Egawa Y. 2002. Development of male-sterile
dengan varietas lokal tidak dipengaruhi oleh lines of snap bean (Phaseolus vulgaris)
maternal effect (tetua betina). varieties using male-sterile cytoplasm
Persilangan I1 dan I2 dengan varietas detected from 'Kurodane Kinugasa'.
local didapatkan hasil bahwa perbandingan Japanese Journal of Tropical Agriculture,
nisbah 3:1 memiliki persentase yang paling 46 (Extra issue 1), 61-62. (in Japanese).
besar. Hal ini menunjukkan adanya gen tunggal Fachruddin, L. 2000. Budidaya Kacang-
dominan yang mengendalikan karakter warna kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
polong pada hasil persilangan tanaman buncis, Hayes, H.k. 1964. Development of The
sedangkan untuk pengaruh gen ganda tidak Heterosis Concept. In : Heterosis. J.W.
terdapat dalam karakter warna polong Gowen (ed). Hafner Publishing.
sedangkan untuk heterosis, kombinasi Company. New York.
persilangan X7 (Cherokee Sun dengan Gilik Kasno, A. 1999. Pendugaan Parameter
Hijau) memiliki nilai duga heterosis yang lebih Genetik Sifat-Sifat Kualitas Kacang
baik dibandingkan kombinasi yang lain jika Panjang Pada Beberapa Lingkungan
diamati dari segi sifat umur genjah, sedangkan Tumbuh dan Penggunaannya Dalam
jika diamati dari segi produksi, kombinasi Seleksi. Fakultas Pertanian IPB.
persilangan X5 (Cherokee Sun dengan Gogo Bandung.
Kuning) memiliki hasil yang lebih besar Lee D.W. and J.B. Lowry. 2002. Young- leaf
daripada kombinasi persilangan yang lain. Anthocyanin and Solar Ultraviolet. Boitrp.
12 :75-76.
DAFTAR PUSTAKA Lin, S.C. and Yuan L.P. 1980. Hybrid Rice
Breeding in China. IRRI. Philippines
Allard. 1999. Principles of Plant Breeding. John Lukiati, B. 1998. Inkompatibilitas Seksual.
Whiley and Sons Inc. Canada. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Cahyono., B. 2003. Kacang buncis : teknik Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-dasar
budidaya dan analisis usahatani. Penerbit Pemuliaan Tanaman. Kanisius
PT Kanisius. Yogyakarta. Yogyakarta.
Carsono, N. 2008. Peran Pemuliaan Tanaman Marufah . 2009. Compatibilitas. blog.uns.ac.id.
dalam Meningkatkan Produksi Pertanian diakses pada tanggal 1 Oktober 2012.
di Indonesia. Staf Pengajar pada Lab. McGilvery, W. 1996. Biokimia, suatu
Pemuliaan Tanaman. Faperta UNPAD. pendekatan fungsional, Edisi 3, Airlangga
Jatinangor. University Press.
89

Frizal Amy Oktarisna: Pola Pewarisan Sifat Warna Polong................................................................

Murti, R.H., T. Kumiawati dan Nasrullah. merambat. Penerbit Penebar Swadaya.


2004. Pola pewarisan karakter buah Jakarta.
tomat. Zuriat. 15(2): 140-149. Sullivan, J. 1998. Anthocyanin. International
Panjaitan, I. 1990. Heterosis dan Daya Gabung Carnivorus Plant Society. USA.
pada Tanaman Hortikultura. Thesis. Sumartono. 1995. Cekaman Lingkungan
Fakultas Pertanian. Tantangan Pemuliaan Tanaman Masa
Poespodarsono, S. 1988. Pemulian Tanaman Depan. Prosiding. Simposium Pemulian
I. Fakultas Pertanian Brawijaya. Malang. Tanaman III. Perhimpunan Ilmu
Rukmana., R. 1995. Bertanam buncis. Penerbit Pemuliaan Tanaman Indonesia
PT Kanisius. Yogyakarta. Komisariat Daerah Jawa Timur.
Setianingsih., T dan Khaerodin. 2003. Suwarno, W. B. 2008. Inkompatibilitas,
Pembudidayaan buncis tipe tegak dan Sterilitas Jantan, dan Poliploidi.
http://willy.situshijau.co.id.

Anda mungkin juga menyukai