Anda di halaman 1dari 32

SISTEM DOKTER KOMUNITAS

LAPORAN DISKUSI TUTORIAL

MODUL II PENYAKIT TIDAK MENULAR

KELOMPOK 2

Muhammad Sigit Haryanto 2014730059

Ariq Salsabila Zalfa 2014730011

Veldiano Zamri 2014730095

Nur Ilma P. La Zalimu 2014730076

Mutia Rahmawati 2014730066

Nafisha 2014730072

Yasmin Kamila Manan 2014730100

Tamara Haramain 2014730088

Nur Indah Sari 2014730084

Dwinur Syafitri Choirunisa 2014730045

Tutor:

dr. Baktiansyah, SP.OK

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Tutorial PBL Modul 2 Penyakit Tidak
Menular pada Sistem Dokter Komunitas ini.

Penulisan laporan ini di ajukan dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas PBL.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik, saran,
dan masukan yang bersifat membangun sangat diharapkan guna perbaikan selanjutnya.

Dalam proses pembuatan laporan ini, penulis mengalami hambatan, namun berkat
bantuan dan arahan serta motivasi dari berbagai pihak sehingga makalah ini terselesaikan
tepat pada waktunya. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.
Baktiansyah, SP.OK, selaku tutor yang telah banyak memberikan arahan serta bimbingan
kepada kelompok kami.

Akhirnya semoga laporan ini bermanfaat bagi semuanya dan bisa dijadikan bahan
bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan kita mengenai Dokter Komunitas.

Penulis

Mei 2016

BAB I
PENDAHULUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan akan dapat melakukan penatalaksanaan
terhadap penderita penyakitdengan pendekatan dokter keluarga

SASARAN PEMBELAJARAN

1. Menjelaskan tentang penyakit dalam keluarga


2. Menjelaskan dasar-dasar diagnostic & terapi penyakit DM, Stroke dan hipertensi
dengan pendekatan dokter keluarga
3. Menjelaskan aspek-aspek hubungan dokter-pasien dalam penanganan penderita DM,
Stroke dan hipertensi untuk pemecahan masalah kesehatan pada umumnya dengan pendekatan
dokter keluarga
4. Menjelaskan aspek-aspek gizi keluarga dalam hubungannya dengan pengendalian penyakit
DM, Stroke dan hipertensi dalam keluarga.
5. Melakukan pencatatan dan pelaporan DM, Stroke dan hipertensi dalam keluarga dengan
baik dan benar
6. Menjelaskan sistem rujukan pasien DM, Stroke dan hipertensi

PROSES PEMECAHAN MASALAH

Dalam diskusi kelompok, mahasiswa diharapkan melakukan diskusi problem pada skenario
dengan mengikuti tujuh langkah (seven jumps) penyelesaian masalah sebagai berikut:

Langkah 1 : Clarify unfamiliar term(s) mahasiswa dihadapkan pada suatu skenario yang
berisi masalah-masalah yang dapat memicu mahasiswa untuk mendapatkan
informasi ilmiah. Mahasiswa mencari kata/istilah yang tidak diketahui dalam
skenario, kemudian mencari arti istilah tersebut dalam kamus (misalnya
kamus kedokteran), kemudian juga menentukan kata kunci

Langkah 2 : Define Problem(s) mahasiswa menggali pertanyaan atau masalah sebanyak


mungkin yang timbul dari skenario yang dihadapi, dengan memanfaatkan
kata kunci

Langkah 3 : Brainstorm possible explanation(s) for the problem(s) dengan cara


mengaktifkan prior knowledge. Kegiatan ini berupa curah pendapat (brain
storming) dari seluruh anggota kelompok.

Langkah 4 : Arrange explanation into a tentative solution or hypothesis peserta


merumuskan hipotesis (jawaban sementara) secara kelompok terhadap
masalah yang ditentukan dari langkah 2. Dari hipotesis yang telah
dirumuskan dapat ditentukan learning issues ( LI ) yaitu hal-hal yang belum
dimengerti atau diketahui, yang meragukan dan yang tidak disepakati
Langkah 5 : Define learning objectives ( LO ) mahasiswa menentukan sasaran
pembelajaran, dengan mempertimbangkan yg dibahas pada langkah
sebelumnya.

Langkah 6 : Gather information and individual study mahasiswa melakukan belajar


mandiri untuk mencari dasar ilmiah, mengumpulkan data atau informasi
untuk membantu meningkatkan pemahaman dan penerapan konsep-konsep
dasar yang ada

Langkah 7 : mensintesis dan menguji informasi yang diperoleh dari langkah 6 dan diakhiri
dengan menyusun rangkuman sebagai jawaban dari skenario yang disajikan
dan dilaporkan pada diskusi kelompok kedua.

Catatan

Langkah 1-5 dilakukan dalam diskusi pertama bersama tutor


Langkah 6 dilakukan dengan belajar mandiri baik sendiri atau dengan kelompok tanpa
dihadiri tutor
Langkah 7 dilakukan dalam ruang diskusi, didampingi tutor

BAB II
PEMBAHASAN

Kasus Skenario 2 Stroke dan Hipertensi


Tn. A 57 tahun seorang wiraswasta yang cukup berhasil di bidang industry garment di
Tasikmalaya dilarikan ke rumah sakit setempat oleh pegawainya karena tiba-tiba jatuh
dan tidak sadarkan diri saat meninjau pabrik. Oleh dokter Tn. A dinyatakan mendapat
serangan stroke hemoragik yang mengakibatkan lumpuh separuh badan sebelah kiri.
Tn A mempunyai riwayat hipertensi dalam 6 tahun belakangan dengan pengobatan
dan kontrol yang tidak rutin. Dia senang sekali mengkonsumsi makanan yang
berlemak, minum kopi dan merokok 1-2 bungkus sehari.
Tn. A memiliki 2 orang istri dan 3 anak dari istri pertama dengan usia anak pertama
laki-laki 28 tahun dan sudah menikah dengan memiliki 1 orang anak usia 5 tahun,
anak kedua laki-laki usia 25 tahun sedang menyelesaikan studi S2 di ibu kota, anak ke
3 perempuan usia 19 tahun baru masuk kuliah semester 2. Sedangkan dari istri ke dua
memiliki 2 orang anak yang pertama perempuan usia 10 tahun dan laki-laki usia 4
tahun. Mereka tinggal di rumah yang berbeda, masing-masing istrinya di belikan
rumah tinggal sendiri-sendiri. Istri Tn A tidak ada yang bekerja, mereka ibu rumah
tangga.
Kedua orang tua Tn. A sudah meninggal, ayahnya meninggal di usia 66 tahun karena
serangan jantung, sedangkan ibunya meninggal di usia 45 tahun karena kanker
payudara. Kedua orang tua istri-istrinya masih hidup. Ayah Istri pertama menderita
hipertensi sedangkan ayah dari istri ke 2 memiliki riwayat gangguan saluran
pencernaan yang kronis.
Tn. A saat ini hanya bisa terbaring lemah dirumah sakit (R.VIP) di temani istri-istrinya
secara bergantian. Tn. A tidak memiliki jaminan kesehatan sehingga seluruh biaya
pengobatan ditanggungnya secara pribadi. Dokter merencanakan untuk melakukan
tindakan operasi terhadap Tn.A
Kata Sulit

Tidak Ada

Kata Kunci
Tn. A 57 tahun
Seorang wiraswasta
Tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri saat meninjau pabrik.
mendapat serangan stroke hemoragik yang mengakibatkan lumpuh separuh badan
sebelah kiri.
Tn. A mempunyai riwayat hipertensi dalam 6 tahun belakangan dengan pengobatan
dan kontrol yang tidak rutin.
R. Kebiasaan : dia senang sekali mengkonsumsi makanan yang berlemak , minum
kopi dan merokok 1-2 bungkus sehari.
Tn. A memiliki 2 orang istri dan 3 anak dari istri pertama, anak kedua laki-laki usia 25
tahun sedang menyelesaikan studi S2 di ibu kota, anak ke 3 perempuan usia 19 tahun
baru masuk kuliah semester 2.
Sedangkan dari istri ke dua memiliki 2 orang anak yng pertama perempuan usia 10
tahun dan laki-laki usia 4 tahun.
Mereka tinggal di rumah yang berbeda
Istri Tn.A tidak ada yang bekerja, mereka ibu rumah tangga.
Riwayat Penyakit Keluarga : Kedua orang tua Tn. A sudah meninggal, ayahnya
meninggal di usia 66 tahun karena serangan jantung, sedangkan ibunya meninggal di
usia 45 tahun karena kanker payudara. Kedua orang tua istri-istri masih hidup. Ayah
istri pertama menderita hipertensi sedangkan ayah dari istri ke 2 memiliki riwayat
gangguan saluran pencernaan yang kronis.
Tn.A saat ini hanya bisa terbaring lemah dirumah sakit (R.VIP)
Tn.A tidak memiliki jaminan kesehatan sehingga seluruh biaya pengobatan
ditanggungnya secara pribadi. Dokter merencanakan untuk melakukan tindakan
operasi terhadap Tn.A

Analisa Masalah

1. Bagaimana definisi, fungsi, dan peran apa saja yang dilakukan dokter keluarga?

2. Bagaimana hubungan antara struktur keluarga (stroke dan hipertensi) dan faktor resiko
dalam keluarga?

3. Bagaimana hubungan antar tahap perkembangan kehidupan setiap anggota keluarga


dengan penyakit stroke dan hipertensi yang memiliki faktor resiko dalam keluarga?

4. Bagaimana hubungan antar aspek psikososial dengan penyakit stroke dan hipertensi
yang memiliki faktor resiko dalam keluarga?

5. Bagaimana hubungan antara perilaku sehat dengan perjalanan penyakit di skenario?

6. Bagaimana dasar-dasar diagnosa sasaran pembelajaran dan penyakit di skenario


dengan pendekatan dokter keluarga?

7. Bagaimana hubungan dokter dan pasien dalam penangan penyakit di skenario dan
penatalaksanaan berdasarkan pendekatan dokter keluarga?

8. Bagaimana cara pencatatan dan pelaporan penyakit stroke dan hipertensi yang
memiliki faktor resiko dalam keluarga?

9. Bagaimana sistem rujukan penyakit di skenario yang memiliki fakor resiko dalam
keluarga?

10. Bagaimana standart pelayanan dokter keluarga?

DOKTER KELUARGA

Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan


pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran, dan
mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis
yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya
pembatasan usia, gender, ataupun jenis penyakit.

Dikatakan pula bahwa dokter keluarga adalah dokter yang mengasuh individu sebagai bagian
dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut. Tanpa membedakan ras,
budaya, dan tingkatan sosial. Secara klinis, dokter ini ber
kompeten untuk menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan
memperhatikan latar belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien.
Dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan
bersinambung bagi pasiennya (WONCA, 1991).

Dokter keluarga adalah dokter yang mengabdikan dirinya dalam pelayanan dan
pengembangan kedokteran keluarga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh melalui pendidikan/pelatihan khusus di bidang kedokteran Keluarga serta
mempunyai wewenang menyelenggarakan praktek dokter keluarga

Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga Ada 9 prinsip dokter keluarga :

1. Komprehensif dan Holistik

2. Kontinue

3. Mengutamakan pencegahan

4. Koordinatif dan Kolaboratif

5. Personal sebagai bagian Integral dari keluarganya

6. Mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja dan lingkungan sekitar

7. Menjunjung tinggi etika moral dan hukum

8. Sadar biaya dan sadar mutu

9. Dapat di audit dan dipertanggung jawabkan


Peran dokter keluarga adalah Untuk membantu penyelesaian semua masalah kesehatan yang
dihadapi pasien/klien, tanpa memandang jenis penyakit, sistem/organ, golongan usia, dan
jenis kelamin

Fungsi dokter keluarga :

care provider ; pelaksanaan pelayanan kesehatan komprehensif, terpadu,


bersinambung pada tingkat primer bagi pasien sebagai bagian dari keluarganya dan
untuk penapisan pelayanan spesialistis
Decision maker ; sebagai penentu dalam setiap tindakan terhadap pasien yang
menjunjung etika profesi dan memanfaatkan sumber keluarga secara efisien
Communicator ; pendidik, penyuluh, teman, mediator, penasehat bagi anggota
keluarga yang bermasalah, sekaligus bagi keluarganya dalam upaya menyelesaikan
masalahnya.
Team member/ manajer ; bekerjasama atas dasar kemitraan dalam menyembuhkan
pasien dan menyelesaikan masalah keluarga
Community leader ; memantau, menelaah kegiatan pelaksanaan pelayanan dengan
memperhatikan risiko dan permasalahan pasien dan keluarganya secara holistik bagi
peningkatan mutu pelayanan kesehatan

REFERENSI

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3535/fk-arlinda
%20sari.pdf;jsessionid=1A29055A90AAFA7DD31165B2AF4ACB03?sequence=1

http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf

SLIDE KULIAH UMUM dr. Pitut aprillia savitri, MKK tentang pengantar kedokteran
keluarga

Nama : ariq salsabila zalfa

Nim : 2014730011

Referensi :
Standar Profesi Dokter Keluarga-PERHIMPUNAN DOKTER KELUARGA
INDONESIA

Diagnose penyakit pasien diskenario berdasarkan pendekatan kedokteran


keluarga

. Standar Pelayanan Paripurna (standard of comprehensive of care)

Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama untuk
semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive &
spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan kecacatan (disability
limitation) dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan
sosial serta sesuai dengan mediko legal etika kedokteran

1.1.1. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang

Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan kedokteran


keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan diselenggarakan oleh dokter
yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta memiliki surat ijin pelayanan dokter
keluarga dan surat persetujuan tempat praktik

1.1.2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan

Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan kesehatan dan
peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.

1.1.3. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus

Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan dalam
menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan keluarganya.

1.1.4. Deteksi dini Pelayanan dokter keluarga

memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan dalam melaksanakan deteksi dini
penyakit dan melakukan penatalaksanaan yang tepat untuk itu.

1.1.5. Kuratif medik Pelayanan dokter keluarga


memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan kesehatan dan pencegahan kecacatan pada
strata pelayanan tingkat pertama, termasuk kegawatdaruratan medik, dan bila perlu akan
dikonsultasikan dan/atau dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih
tinggi.

1.1.6. Rehabilitasimedik dan sosial

Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala kesempatan rehabilitasi
pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan atau kematian baik
dari segi fisik, jiwa maupun sosial.

1.1.7. Kemampuan sosial keluarga

Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial pasien dan
keluarganya

1.1.8. Etik medikolegal

Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal dan etik
kedokteran

1.2. Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)

Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang melaksanakan
pelayanan kedokteran secara lege artis

1.2.1. Anamnesis

Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien (patient-


centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien, kekhawatiran dan
harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh keterangan untuk dapat
menegakkan diagnosis

Berdasarkan scenario :

Anamnesis :

- Laki-laki
- Umur 57 tahun
- Pekerjaan wiraswasta
- Riwayat hipertensi sejak 6 tahun lalu
- Pengobatan dan control tidak rutin
- Riwayat penyakit keluarga : ayah meninggal karena penyakit jantung, ibu
meninggal karena kanker payudara
- Senang konsumsi makanan berlemak dan minum kopi
- Merokok 1-2 bungkus perhari

1.2.2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau


menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik secara
holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional, efektif dan
efisien demi kepentingan pasien semata.

Berdasarkan skenario

Pemeriksaan fisik :

- Tiba-tiba jatuh
- Tidak sadarkan diri
- Terkena serangan stroke hemoragik
- Menderita lumpuh separuh badan sebelah kiri

Pemeriksaan penunjang :

a. Tes darah rutin

b. Glukosa darah (sebaiknya puasa)

c. Kolesterol total serum

d. Kolesterol LDL dan HDL serum

e. Trigliserida serum (puasa)

f. Asam urat serum

g. Kreatinin serum

h. Kalium serum

i. Hemoglobin dan hematokrit

j. Urinalisis
k. Elektrokardiogram (EKG)

1.2.3. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding

Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa diagnosis
banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistic.

1.2.4. Prognosis

Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien


berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence based).

1.2.5. Konseling

Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan untuk
dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap perasaan dan
persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.

1.2.6. Konsultasi

Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain yang
dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada dokter
keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas kesehatan,demi
kepentingan pasien semata.

1.2.7. Rujukan

Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang dianggap
lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada dokter keluarga lain,
dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau dinas kesehatan,demi
kepentingan pasien semata.

1.2.8. Tindak lanjut

Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan tindak
lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien

1.2.9. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang rasional pada
pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan demi kepentingan
pasien.

Berdasarkan scenario

* Tindakan yang akan dilakukan dokter adalah operasi

1.2.10. Pengobatan rasional

Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional,


berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan pasien

1.2.11.Pembinaan keluarga

Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila adanya
partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga, termasuk
konseling keluarga

Dwinur Syafitri Choirunisa

2014730022

Standar-standar dalam Standar Pelayanan Dokter Keluarga


1. Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik (Standards of clinical care)
1.1. Standar Pelayanan Paripurna
( standard of comprehensive of care) Pelayanan yang disediakan dokter keluarga
adalah pelayanan medis strata pertama untuk semua orang yang bersifat paripurna
(comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotive),
pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive & spesific protection), pemulihan
kesehatan (curative), pencegahan kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah
sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko
legal etika kedokteran

1.1.1 Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang


Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan
kedokteran keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan
diselenggarakan oleh dokter yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta
memiliki surat ijin pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat praktik
1.1.2 Pemelihara an dan peningkatan ke sehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan
pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
1.1.3 Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan
keluarganya.
1.1.4 Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan
penatalaksanaan yang tepat untuk itu.
1.1.5 Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan
kesehatan dan pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk
kegawatdaruratan medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan/atau dirujuk ke
pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
1.1.6 Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala
kesempatan rehabilitasi pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami masalah
kesehatan atau kematian baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
1.1.7 Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi
sosial pasien dan keluarganya
1.1.8 Etik mediko legal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal
dan etik kedokteran
1.2. Standar Pelayanan Medis ( standard of medical care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara lege artis

1.2.1.Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan
pasien (patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh
keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis
1.2.2. Pemeriksaa n fisik d an p e meriksaan penunjan
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis
atau menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
1.2.3. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan
beberapa diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik
1.2.4. Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis
pasien berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini
(evidence based).
1.2.5. Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik
penatalaksanaan untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan
kepedulian terhadap perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat
itu
1.2.6. Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter
lain yang dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas
kesehatan,demi kepentingan pasien semata.
1.2.7. Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter
lain yang dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit
atau dinas kesehatan,demi kepentingan pasien semata.
1.2.8. Tindak lanjut
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat
dilaksanakan tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat
pasien
1.2.9. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan
demi kepentingan pasien
1.2.10. Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan
rasional, berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi
kepentingan pasien
1.2.11. Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik,
bila adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan
keluarga, termasuk konseling keluarga

1.3. Standar Pelayanan Menyeluruh (standard of holistic of care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli bahwa
pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan spiritual,
serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.

1.3.1. Pasien adalah manusia seutuhnya


Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai
manusia yang seutuhnya
1.3.2. Pasien adalah bagian d a ri keluarga dan lingkun gannya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai
bagian dari keluarga pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat
mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien
1.3.3.Pelayanan menggunakan segala sumber dise kitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar kehidupan
pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan keluarganya

1.4. Standar Pelayanan Terpadu (standard of integration of care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan
kemitraan antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga
merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan
kedokteran, baik dari formal maupun informal.

1.4.1.Koordinator penatalaksanaan pasien


Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam penatalaksanaan pasien
yang diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasienkeluarga, maupun
bersama antar dokter-pasien-dokter spesialis/rumah sakit.
1.4.2. Mitra dokter -pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis
1.4.3.Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan
dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya
1.4.4.Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga memperdulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai
pelayanan kesehatan non formal disekitarnya.

1.5. Standar Pelayanan Bersinambung (standard of continuum care)

Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang


melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus menerus demi
kesehatan pasien.

1.5.1. Pelayanan proaktif


Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
1.5.2. Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang,
digunakan untuk memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai
untuk pasien yang bersangkutan.
1.5.3. Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif efisien
bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
1.5.4.Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan/atau rujukan, pelayanan dokter keluarga
menawarkan kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi kepentingan pasien

2. Standar perilaku dalam praktik (Standards of behaviour in practice)

2.1. Standar perilaku terhadap pasien (patient-physician relationship standard)

Pelayanan dokter keluarga menyediakan kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan


kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan kesempatan kepada pasien untuk
memperoleh penjelasan yang dibutuhkan guna dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan
yang akan dilaksanakannya

2.1.1. Informasi memperoleh pelayanan


Pelayanan dokter keluarga memberikan keterangan yang adekuat mengenai cara untuk
memperoleh pelayanan yang diinginkan.
2.1.2. Masa konsultasi
Waktu untuk konsultasi yang disediakan oleh dokter keluarga kepada pasiennya adalah
cukup bagi pasien untuk menyampaikan keluhan dan keinginannya, cukup untuk dokter
menjelaskan apa yang diperolehnya pada anamnesa dan pemeriksaan fisik, serta cukup
untuk menumbuhkan partisipasi pasien dalam melaksanakan penatalaksanaan yang
dipilihnya, sebisanya 10 menit untuk setiap pasien.
2.1.3.Informasi medik menyeluruh
Dokter keluarga memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai seluruh
tujuan, kepentingan, keuntungan, resiko yang berhubungan dalam hal pemeriksaan,
konsultasi, rujukan, pengobatan, tindakan dan sebagainya sehingga memungkinkan
pasien untuk dapat memutuskan segala yang akan dilakukan terhadapnya secara puas
dan terinformasi.
2.1.4. Komunikasi efektif
Dokter keluarga melaksanakan komunikasi efektif berlandaskan rasa saling percaya
2.1.5.Menghormti hak dan kewajiban pasien dan dokter
Dokter keluarga memperhatikan hak dan kewajiban pasien, hak dan kewajiban dokter
termasuk menjunjung tinggi kerahasiaan pasien

2.2. Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik (Standard of partners relationship in
practice)
Pelayanan dokter keluarga mempunyai seorang dokter keluarga sebagai pimpinan
manajemen untuk mengelola klinik secara profesional
2.2.1.Hubungan profesional dalam klinik
Dokter keluarga melaksanakan praktik dengan bantuan satu atau beberapa tenaga
kesehatan dan tenaga lainnya berdasarkan atas hubungan kerja yang profesional dalam
suasana kekeluargaan
2.2.2. Bekerja dalam tim
Pada saat menyelenggarakan penatalaksanaan dalam peningkatan derajat kesehatan
pasien dan keluarga, pelayanan dokter keluarga merupakan sebuah tim.
2.2.3. Pemimpin klinik
Pelayanan dokter keluarga dipimpin oleh seorang dokter keluarga atau bila terdiri dari
beberapa dokter keluarga dapat dibagi untuk memimpin bidang manajemen yang
berbeda di bawah tanggung jawab pimpinan
2.3. Standar perilaku dengan sejawat (Standard of working with colleagues)

Pelayanan dokter keluarga menghormati dan menghargai pengetahuan, ketrampilan


dan kontribusi kolega lain dalam pelayanan kesehatan dan menjaga hubungan baik secara
profesional

2.3.1. Hubungan profesional antar profesi


Pelayananan dokter keluarga melaksanakan praktik dengan mempunyai hubungan
profesional dengan profesi medik lainnya untuk kepentingan pasien.
2.3.2.Hubungan baik sesama dokter
Pelayanan dokter keluarga menghormati keputusan medik yang diambil oleh dokter lain
dan memperbaiki penatalaksanaan pasien atas kepentingan pasien tanpa merugikan
nama dokter lain
2.3.3.Perkumpulan profesi
Dokter keluarga dalam pelayanan dokter keluarga adalah anggota perkumpulan profesi
yang sekaligus menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia dan berpartisipasi pada
kegiatan-kegiatan yang ada

2.4. Standar pengembangan ilmu dan ketrampilan praktik (Standard of knowledge and
skill development)

Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah guna


memelihara dan menambah ketrampilan praktik serta meluaskan wawasan pengetahuan
kedokteran sepanjang hayatnya
2.4.1. Mengikuti kegiatan ilmiah
Pelayanan dokter keluarga memungkinkan dokter yang berpraktik untuk secara teratur
dalam lima tahun praktiknya mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti pelatihan,
seminar, lokakarya dan pendidikan kedokteran berkelanjutan lainnya
2.4.2.Program jaga mutu
Pelayanan dokter keluarga melakukan program jaga mutu secara mandiri dan/atau
bersama-sama dengan dokter keluarga lainnya, secara teratur ditempat praktiknya
2.4.3. Partisipasi dalam kegiatan pendidikan
Pelayaanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam pendidikan dokter keluarga,
dan berusaha untuk berpartisipasi pada pelatihan mahasiswa kedokteran atau pelatihan
dokter.
2.4.4. Penelitian dalam praktik
Pelayanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam penelitian dan berusaha untuk
menyelenggarakan penelitian yang sesuai dengan etika penelitian kedokteran, demi
kepentingan kemajuan pengetahuan kedokteran
2.4.5.Penulisan ilmiah
Dokter keluarga pada pelayanan dokter keluarga berpartisipasi secara aktif dan/atau
pasif pada jurnal ilmiah kedokteran

2.5. Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan (standard as


community leader)

Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan
peningkatan kesehatan disekitarnya dan siap memberikan pendapatnya pada setiap kondisi
kesehatan di daerahnya.
2.5.1.Menjadi anggota perkumpulan sosial
Dokter keluarga dan petugas kesehatan lainnya yang bekerja dalam pelayanan dokter
keluarga, menjadi anggota perkumpulan sosial untuk mempeluas wawasan pergaulan
2.5.2. Partisipasi dalam kegiatan kesehatan masyara kat
Bila ada kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat di sekitar tempat praktiknya,
pelayanan dokter keluarga bersedia berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut
2.5.3. Partisipasi dalam penanggulangan bencana di sekitarnya
Bila ada wabah dan bencana yang mempengaruhi kesehatan di sekitarnya, pelayanan
dokter keluarga berpartisipasi aktif dalam penanggulangan khususnya dalam bidang
kesehatan

3. Standar pengelolaan praktik (Standar d s of pr actice mana gement)


3.1. Standar sumber daya manusia (Standard of human resources)

Dalam pelayanan dokter keluarga, selain dokter keluarga, juga terdapat petugas
kesehatan dan pegawai lainnya yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau
pelatihannya

3.1.1. Dokter keluarga


Dokter keluarga yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga adalah dokter yang
bersertifikat dokter keluarga dan patut menjadi panutan masyarakat dalam hal perilaku
kesehatan
3.1.2. Perawat
Perawat yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga
3.1.3. Bidan
Bidan yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan pelayanan
dengan pendekatan kedokteran keluarga
3.1.4.Administrat or klinik
Pegawai administrasi yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga, telah mengikuti
pelatihan untuk menunjang pelayanan pendekatan kedokteran keluarga

3.2. Standar manajemen keuangan (Standard of finance management)

Pelayanan dokter keluarga mengelola keuangannya dengan manajemen keuangan profesional

3.2.1. Pencatatan keuangan


Keuangan dalam praktek dokter keluarga tercatat secara seksama dengan cara yang
umum dan bersifat transparansi
3.2.2.Jenis sistim pembiayaan praktik
Manajemen keuangan pelayanan dokter keluarga dikelola sedemikian rupa sehingga
dapat mengikuti , baik sistem pembiayaan praupaya maupun sistim pembiayaan fee-for
service

3.3. Standar manajemen klinik (Standard management of clinic for practice)

Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan pada suatu tempat pelayanan yang disebut
klinik dengan manajemen yang profesional
3.3.1. Pembagian kerja
Semua personil mengerti dengan jelas pembagian kerjanya masingmasing
3.3.2. Program pelatihan Untuk personil yang baru mulai bekerja di klinik diadakan pelatihan
kerja (job training) terlebih dahulu
3.3.3. Program kesehatan dan keselamatan kerja (K 3)
Seluruh personil yang bekerja di klinik mengikuti prosedur K3 (kesehatan dan
keselamatan kerja) untuk pusat pelayanan kesehatan
3.3.4. Pembahasan administrasi klinik
Pimpinan dan staf klinik secara teratur membahas pelaksanaan administrasi klinik

4. Standar sarana dan prasarana (standards of facilities)

4.1. Standar fasilitas praktik (standard of practice facilities)

Pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan kesehatan strata pertama yang
lengkap serta beberapa fasilitas pelayanan tambahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
sekitarnya

4.1.1.Fasilitas untuk praktik


Fasilitas pelayanan dokter keluarga sesuai untuk kesehatan dan keamanan pasien,
pegawai dan dokter yang berpraktik
4.1.2.Kerahasiaan dan privasi
Konsultasi dilaksanakan dengan memperhitungkan kerahasiaan dan privasi pasien
4.1.3.Bangunan dan interior
Bangunan untuk pelayanan dokter keluarga merupakan bangunan permanen atau semi
permanen serta dirancang sesuai dengan kebutuhan pelayanan medis strata pertama yang
aman dan terjangkau oleh berbagai kondisi pasien
4.1.4.Alat komunikasi
Klinik memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitarnya
4.1.5.Papan nama
Tempat pelayanan dokter keluarga memasang papan nama yang telah diatur oleh
organisasi profesi

4.2. Standar peralatan klinik (standard of practice equipments)

Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan klinik yang sesuai dengan fasilitas
pelayanannya yaitu pelayanan kedokteran di strata pertama (tingkat primer)

4.2.1.Peralatan medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan medis yang minimal harus
dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia layanan strata
pertama
4.2.2.Peralatan penunjang medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan penunjang medis yang minimal
harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan
strata pertama.
4.2.3.Peralatan non medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan non medis yang minimal harus dipenuhi
di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan strata pertama
4.3. Standar proses-proses penunjang praktik (Standard of clinical supports process)

Pelayanan dokter keluarga memiliki panduan proses-proses yang menunjang kegiatan


pelayanan dokter keluarga.

4.3.1. Pengelolaan rekam medik


Pelayanan dokter keluarga menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi rekam medik
dengan dasar rekam medik berorientasikan pada masalah (problem oriented medical
record)

4.3.2.Pengelolaan rantai dingin


Pelayanan dokter keluarga peduli terhadap pengelolaan rantai beku (cold chain
management) yang berpengaruh kepada kualitas vaksin atau obat lainnya

4.3.3. Pengelolaan pencegahan infeksi


Pelayanan dokter keluarga memperhatikan universal precaution management yang
mengutamakan pencegahan infeksi pada pelayanannya
4.3.4. Pengelolaan limbah
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan sistim pembuangan air kotor dan limbah,
baik limbah medis maupun limbah non medis agar ramah lingkungan dan aman bagi
masyarakat sekitar klinik
4.3.5.Pengelolaan air bersih
Pelayanan dokter keluarga mengkonsumsi air bersih atau air yang telah diolah sehingga
aman digunakan
4.3.6.Pengelolaan obat
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan sistim pengelolaan obat sesuai prosedur yang
berlaku termasuk mencegah penggunaan obat yang kadaluwarsa

Referensi : PERHIMPUNAN DOKTER KELUARGA INDONESIA. 2016. Standar Pelayanan


Dokter Keluarga: Wisma Makara, Kampus UI Depok, Jawa Barat
Nama : Nafisha

NIM : 2014730072

3. Hubungan Antar Aspek Psikososial dengan Penyakit Stroke dan Hipertensi


yang memiliki Faktor Resiko dalam Keluarga

Sebagai Dokter Keluarga


Karena Kekhususan Pelayanan Dokter Keluarga : Holistik , Komprehensif ,Terpadu,
Berkesinambungan
Bersifat proaktif, Pembiayaan pre paid , dan Pendekatan Keluarga.

Komprehensif : Pelayanan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
mengedepankan upaya promotif dan preventif

Adalah suatu kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada dengan cara mencari
faktor risiko di dalam keluarga Rencanakan intervensi untuk menyelesaikan masalah yang
ada

Konsumsi lemak yang berlebihan dapat menimbulkan risiko hipertensi karena


akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Kolesterol tersebut akan
melekat pada dinding pembuluh darah yang lama-kelamaan pembuluh darah
akan tersumbat diakibatkan adanya plaque dalam darah yang disebut dengan
aterosklerosis. Plaque yang terbentuk akan mengakibatkan aliran darah
menyempit sehingga volume darah dan tekanan darah akan meningkat.

adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi lemak dengan peningkatan


tekanan darah atau hipertensi dibuktikan dengan nilai p=0,024. Begitu juga
penelitian yang dilakukan oleh Fathina (2007) di Klinik Rawat Jalan di RSU Kodia
bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p=0,00) antara asupan lemak dengan
hipertensi, asupan lemak dapat meningkatkan kadar tekan darah diastolik dan
sislotik. Hal ini disebabkan, kebiasaan mengkonsumsi lemak terutama lemak
jenuh sangat erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang dapat
berisiko terjadinya hipertensi.

Rendah kolesterol dan lemak jenuh


Kolesterol akhir-akhir ini menjadi isu yang menghangat di berbagai kalangan. Banyak
individu takut mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, padahal kolesterol juga
diperlukan untuk kelancaran metabolisme dalam tubuh. Kolesterol hanya akan berbahaya jika
jumlah yang dikonsumsi lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh tubuh.

Kolesterol merupakan bagian dari lemak. Di dalam tubuh terdapat tiga jenis lemak, yaitu
kolesterol, trigliserida, dan pospolipid. Tubuh memperoleh kolesterol dari makanan sehari-
hari dan dari hasil sintesis dalam hati (hepar). Sekitar 25-50% kolesterol yang berasal dari
makanan dapat diabsorbsi oleh tubuh, selebihnya akan dibuang melalui feses (kotoran). Jika
konsumsi kolesterol terlalu banyak maka penyerapan di dalam tubuh akan meningkat.
Beberapa makanan yang tinggi kandungan kolesterolnya yaitu daging, jeroan, keju keras,
susu, yogurt, kuning telur, ginjal, kepiting, kerang, udang, cumi-cumi, cokelat, mentega,
lemak babi, margarin, hati dan cavier (telur dari jenis ikan tertentu).

Di dalam makanan, lemak terdiri dari dua macam, yakni lemak jenuh dan lemak tidak jenuh.
Lemak jenuh adalah lemak yang sebagian besar asam lemaknya terdiri dari asam lemak
jenuh. Adapun lemak tidak jenuh adalah lemak yang sebagian besar asam lemaknya terdiri
dari asam lemak tidak jenuh (tidak jenuh ganda dan tidak jenuh tunggal).

Lemak jenuh bersifat menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Banyak penelitian
menyatakan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan tekanan darah. Lemak jenuh banyak
terdapat pada makanan yang berasal dari hewan, seperti daging (sapi, babi, kerbau, kambing),
mentega, susu, keju, dan sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan (kelapa dan hasil olahannya).
Sebaliknya, lemak tak jenuh dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol serum total,
trigliserida darah dan meningkatkan kadar HDL. Dengan demikian, lemak tak jenuh dapat
membantu untuk mencegah aterosklerosis. Bahan makanan yang mengandung lemak tak
jenuh kebanyakan berasal dari tumbuh-tumbuhan (minyak jagung, minyak kedelai, minyak
kacang tanah, minyak biji bunga matahari, minyak bunga mawar) dan sebagian kecil hewani
(ikan dan minyak ikan) (Braverman, 1996 dan Wirakusumah, 2001).

Terdapat hubungan terbalik antara konsumsi ikan dengan kematian pada usia dua puluh tahun
akibat penyakit jantung koroner. Individu yang mengkonsumsi 30 gram atau lebih ikan per
hari mempunyai rata-rata angka kematian akibat penyakit jantung 50 persen lebih rendah
daripada mereka yang tidak mengkonsumsinya.

Selain mengkonsumsi ikan, minyak ikan (asam lemak omega-3) atau EPA (asam
eicosapentaenoic), seperti mackerel, telah terbukti mengurangi risiko penyakit jantung
koroner dengan cara mengurangi tingkat plasma lipid yang tinggi, lipoprotein, dan
apolipoprotein serta menurunkan viskositas darah pada pasien dengan trigliserida yang tinggi
(Braverman, 1996 dan Wirakusumah, 2001). Diet tinggi konsumsi ikan atau suplemen
minyak ikan direkomendasikan pada pasien dengan peningkatan risiko penyakit jantung
koroner. Pada 22 percobaan dengan mengkonsumsi, suplemen harian rata-rata 4,4 gr minyak
ikan per hari berhubungan dengan penurunan tekanan darah sekitar 1,7/1,5 mmHg, efeknya
akan lebih (1)

Rendah kafein
Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh dan minuman soda. Kafein yang terkandung di
dalam kopi memiliki potensi terhadap terjadinya peningkatan tekanan darah, terutama dalam
keadaan stres dan telah terbukti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner
(Braverman, 1996; Wirakusumah, 2001; dan Kaplan, 2006). Kafein didalam dua sampai tiga
cangkir kopi ( 200-250 mg) atau lebih dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu,
pasien hipertensi harus membatasi konsumsi kafein sehari tidak lebih dari dua cangkir kopi,
tidak lebih dari tiga atau empat cangkir teh, tidak lebih dari dua sampai empat kaleng
minuman soda berkafein, serta harus menghindari konsumsi kafein sebelum beraktivitas
seperti olahraga atau pekerjaan fisik berat.

Hubungan Rokok dengan Hipertensi


Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat kimia yang terkandung di dalam
tembakau yang dapat merusak lapisan dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan
terjadi penumpukan plak (arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang
dapat merangsang saraf simpatis sehingga memacu kerja jantung lebih keras dan
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, serta peran karbonmonoksida yang dapat
menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung memenuhi kebutuhan oksigen
tubuh.

(2)

Hubungan stress dengan hipertensi


Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah
stres.. Stres merupakan suatu respon nonspesifik dari tubuh terhadap setiap tekanan atau
tuntutan yang mungkin muncul, baik dari kondisi yang menyenangkan maupun tidak
menyenangkan (Sadock & Sadock, 2003).

Stres dapat memicu timbulnya hipertensi melalui aktivasi sistem saraf simpatis yang
mengakibatkan naiknya tekanan darah secara intermiten (tidak menentu) (Andria, 2013).
Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan
meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri (vasokontriksi) dan peningkatan denyut
jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut akan
mengalami hipertensi (South, 2014).

(3)
Pedoman Diet Dash

- Menyeimbangkan kalori untuk mengelola berat badan


- Mencegah dan/atau mengurangi kelebihan berat badan dan obesitas
- Meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi waktu yang dihabiskan dalam perilaku y
ang menetap.
- Olahraga endurance, dapat menurunkan tekanan sistolik maupun diastolik pada orang
yang mempunyai tekanan darah tinggi tingkat ringan. Jenis olahraga yang efektif
menurunkan tekanan darah adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang (70-
80%). Salah satu contohnya, jalan kaki cepat. Frekuensi latihannya 3 - 5 kali
seminggu, dengan lama latihan 20 - 60 menit sekali latihan. Latihan olahraga bisa
menurunkan tekanan darah karena latihan itu dapat merilekskan pembuluh-pembuluh
darah.

- Menjaga keseimbangan sesuai kalori selama setiap tahap kehidupan--masa kanak-


kanak, remaja, dewasa, kehamilan dan menyusui dan usia yang lebih tua.

Makanan dan komponen makanan untuk mengurangi


- Mengkonsumsi kurang dari 10 persen kalo dari asam lemak jenuh dengan mengganti
mereka dengan tak jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda.
- Mengkonsumsi kurang dari 300 mg per hari diet kolesterol.
- Menjaga konsumsi asam lemak trans serendah mungkin dengan membatasi makanan
yang mengandung sintesis sumber lemak trans, seperti sebagian hidrogenasi minyak,
dan dengan membatasi lemak padat lainnya.

Per 1 kali konsumsi jumlah yang diperbolehkan adalah 1 sendok teh magarin atau 1 sendok
makan mayones rendah lemak atau 2 sendok makan salad dressing.

* Aterosklerosis adalah penyakit akibat respon peradangan pada pembuluh darah (arteri besar
dan sedang), bersifat progresif, yang ditandai dengan deposit massa kolagen, kolesterol,
produk buangan sel dan kalsium, disertai proliferasi miosit yang menimbulkan penebalan dan
pengerasan dinding arteri, sehingga mengakibatkan kekakuan dan kerapuhan arteri (Stary,
1995).

Aterosklerosis sangat dipengaruhi kadar kolesterol yang tinggi (khususnya LDL), merokok,
tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, obesitas, dan kurangnya aktifitas fisik.

Referensi :

1. problem solving ). 2005;

2. Octavian Y, Setyanda G, Sulastri D, Lestari Y. Artikel Penelitian Hubungan


Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki- Laki Usia 35-65 Tahun di
Kota Padang. 4(2):43440.

3. No Title. 2015;

2. Marla Heller. The 2010 Dietary Guidelines for Americans. 2016.


http://dashdiet.org/2010_dietary_guidelines.asp

Muhammad Sigit Haryanto

2014730059

7. Bagaimana cara pencatatan dan pelaporan penyakit tidak menular yang


memiliki faktor resiko dalam keluarga ?

Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan surveilans PTM diselenggarakan untuk faktor risiko dan
kasus PTM dilaksanakan sebagai berikut:

1. Posbindu PTM

Petugas melakukan pengumpulan data fakfor risiko dan dicatat dalam formulir pencatatan
faktor risiko PTM. Setelah itu, data pemeriksaan dimasukkan dalam rekap data Posbindu
PTM (formulir rekap faktor risiko PTM)

1. Petugas dapat menggunakan software Sistem Informasi Manajemen PTM (untuk


Posbindu PTM) dalam pengumpulan data faktor risiko PTM

2. Petugas menyiapkan data rekap faktor risiko PTM untuk dilaporkan kepada/diambil
petugas Puskesmas setiap bulan

2. Puskesmas

1. Petugas melakukan pengumpulan data faktor risiko PTM di Puskesmas. Selanjutnya


membuat rekapitulasi data faktor risiko PTM dari Puskesmas dan dari Posbindu PTM
di wilayahnya menggunakan formulir rekapitulasi faktor risiko PTM. Rekapitulasi
dapat menggunakan software Sistem Informasi Manajemen PTM untuk data
surveilans Posbindu PTM

2. Petugas merekap data kasus PTM di Puskesmas menggunakan formulir rekapitulasi


kasus PTM.

3. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, petugas melakukan pengumpulan data


menggunakan formulir rekapitulasi deteksi dini kanker payudara dan kanker leher
rahim Puskesmas

4. Data rekap faktor risiko, rekap hasil pemeriksaan IVA dan CBE, serta rekap kasus
PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota

5. Untuk registrasi PTM, petugas mengisi data individual melalui software registrasi
PTM atau SIKDA Generik menggunakan formulir sistem registrasi PTM. Data mentah
dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota atau unit
lain yang deitunjuk mengelola registrasi PTM

3. Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)

1. Petugas melakukan pengumpulan data faktor risiko PTM di KKP. Selanjutnya


membuat rekapitulasi data faktor risiko PTM menggunakan formulir rekapitulasi
faktor risiko PTM. Rekapitulasi dapat menggunakan software Sistem Informasi
Manajemen PTM untuk data surveilans Posbindu PTM

2. Petugas merekap data kasus PTM di Puskesmas menggunakan formulir rekapitulasi


kasus PTM.

3. Data rekap faktor risiko PTM dan rekap kasus PTM dilaporkan secara rutin setiap
bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota

4. Rumah Sakit

1. Petugas surveilans rumah sakit melakukan rekapitulasi data kasus PTM


menggunakan formulir rekap kasus PTM di RS

2. Data rekap kasus PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota

3. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, petugas melakukan pengumpulan data


menggunakan formulir rekapitulasi deteksi dini kanker payudara rumah sakit
dan rekapitulasi deteksi dini kanker leher rahim rumah sakit

4. Untuk registrasi PTM, petugas surveilans rumah sakit mengisi data individual
melalui software registrasi PTM atau SIM-RS/sistem informasi lainnya
menggunakan formulir sistem registrasi PTM. Data mentah registrasi PTM
dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota
atau unit lain yang ditunjuk mengelola registrasi PTM.
5. Laboratorium

1. Petugas surveilans laboratorium melakukan rekapitulasi faktor risiko PTM


menggunakan formulir rekap faktor risiko PTM di RS

2. Data rekap faktor risiko PTM dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota

3. Untuk registrasi PTM, petugas surveilans laboratorium mengisi data individual


melalui software registrasi PTM atau SIM-RS/sistem informasi lainnya
menggunakan formulir sistem registrasi PTM. Data mentah registrasi PTM
dilaporkan secara rutin setiap 3 bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota
atau unit lain yang ditunjuk mengelola registrasi PTM

6. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

1. Dinas kesehatan kabupaten/kota menerima laporan bulanan dari Puskesmas,


rumah sakit, laboratorium, berupa faktor risiko dan kasus PTM. Dinas
merekap dan menvalidasi laporan tersebut mengunakan formulir rekapitulasi
faktor risiko dan formulir rekapitulasi kasus PTM.

2. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, Dinas Kesehatan kabupaten/kota merekap


laporan dari Puskesmas dan rumah sakit menggunakan formulir rekapitulasi
deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim Dinas Kesehatan
kabupaten/kota

3. Untuk registrasi PTM melalui software registrasi PTM dan atau SIKDA
Generik, Dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan validasi data mentah
yang dilaporkan untuk menghilangkan duplikasi data.

4. Dinas kesehatan kabupaten/kota melaporkan hasil rekapitulasi faktor risiko


dan kasus PTM setiap 3 bulan kepada Dinas kesehatan provinsi

5. Dinas kesehatan kabupaten/kota memberikan umpan balik terhadap laporan


3 bulanan yang diberikan Puskesmas, RS, laboratorium, maupun sumber
data lainnya.

7. Dinas Kesehatan Provinsi

1. Dinas kesehatan provinsi menerima laporan triwulan dari Dinas Kesehatan


kabupaten/kota. Dinas merekap laporan tersebut menggunakan formulir
rekapitulasi faktor risiko PTM dan formulir rekapituasi kasus PTM.

2. Untuk pemeriksaan IVA dan CBE, Dinas Kesehatan Provinsi merekap


lapaoran dari dinas kesehatan kabupaten/kota menggunakan formulir
rekapitulasi deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim Dinas
Kesehatan Provinsi

3. Untuk registrasi PTM melalui software registrasi PTM dan atau SIKDA
Generik, Dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan validasi data mentah
yang dilaporkan untuk menghilangkan duplikasi data.

4. Dinas kesehatan provinsi melaporkan hasil rekapitulasi faktor risiko dan kasus
PTM setiap 3 bulan sekali kepada Pusat Data dan Informasi dan Direktorat
Pengendalian PTM Kementerian Kesehatan

5. Dinas kesehatan provinsi memberikan umpan balik terhadap laporan tiga


bulanan yang diberikan dinas kesehatan kabupaten/kota.

PedomanSurveilansPenyakitTidakMenular,Kemenkes RI 2013
Nama : Nur Indah Sari

NIM : 2014730077

8. Bagaimana Sistem Rujukan Penyakit pada Skenario yang Memiliki Faktor Risiko
dalam Keluarga?

ApabilaDokterKeluarga
MakadiharapkanDokterKeluarga

menghadapimasalahkesehatan
menjalinkerjasama

Tertia
ry
(Sub-
spesia
Secondary
listis) Care
(Pelayanan
Spesialistis)

Primary Care (Pelayanan Kedokteran


Keluarga)

Karakteristik Rujukan Pelayanan Dokter Keluarga =

1. Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab tidak total, hanya terhadap


penyakit yang dirujuk saja, penanganan selanjutnya tetap pada Dokter
Keluarga.
2. Dokter Keluarga tidak hanya melakukan pertimbangan terhadap aspek medis
saja, tetapi juga aspek sosial, ekonomi secara keseluruhan.
3. Tujuan rujukan tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi untuk peningkatan
derajat kesehatan keluarga secara keseluruhan.
4. Karna, Dokter Keluarga bertanggung jawab terus-menerus dan
berkesinambungan, sangat dianjurkan untuk mendampingin klien sewaktu
merujuk.

Referensi :
http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pada skenario


REFERENSI

PedomanSurveilansPenyakitTidakMenular,Kemenkes RI 2013

Octavian Y, Setyanda G, Sulastri D, Lestari Y. Artikel Penelitian Hubungan


Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki- Laki Usia 35-65 Tahun di
Kota Padang. 4(2):43440.

Marla Heller. The 2010 Dietary Guidelines for Americans. 2016.


http://dashdiet.org/2010_dietary_guidelines.asp

PERHIMPUNAN DOKTER KELUARGA INDONESIA. 2016. Standar Pelayanan Dokter Keluarga:


Wisma Makara, Kampus UI Depok, Jawa Barat

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3535/fk-arlinda
%20sari.pdf;jsessionid=1A29055A90AAFA7DD31165B2AF4ACB03?sequence=1

http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf

SLIDE KULIAH UMUM dr. Pitut aprillia savitri, MKK tentang pengantar kedokteran
keluarga

Standar Profesi Dokter Keluarga-PERHIMPUNAN DOKTER KELUARGA INDONESIA

http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf