Anda di halaman 1dari 9

Nama : Rikky Adiwijaya

NPM : 120110140017

DPNA : 27

Dosen : Cahya Irawady, SE, MS, Ak, CA, CPAI

Ahmad Zakie Mubarrok, SE., M.Acc, CPAI.

Mata Kuliah : Akuntansi Forensik

Penyelesaian

1.

1) ___a___ skema yang terjadi ketika pelaku membuat dokumen yang salah untuk
mengklaim biaya yang salah.

2) ___h___ kecurangan yang dilakukan dengan mencuri pembayaran seorang pelanggan dan
kemudian melakukan pengurangan terhadap nilai akun pelanggan tersebut ketika pelanggan
berikutnya melakukan pembayaran

3) ___c___ skema yang terjadi ketika pegawai mempersiapkan cek yang mengandung
kecurangan atas namanya sendiri atau menahan cek yang ditujukan bagi pihak ketiga untuk
kemudian mengubah nilai cek tersebut demi keuntungan pribadi.

4) __d____ pengajuan faktur yang salah atau yang telah mengalami perubahan yang
menyebabkan pemberi kerja akhirnya mengeluarkan cek.

5) __ i____ menggunakan fungsi bagian penggajian untuk melakukan kecurangan, seperti


mencantumkan nama pegawai fiktif dalam daftar penggajian atau memperbesar nilai
pembayaran upah.

6) ___g___ penghargaan yang diberikan untuk seseorang karena membuat keputusan yang
menguntungkan.

7) __b___ penggelapan yang dilakukan dengan melakukan pencurian slip penerimaan


pencurian aset yang ada di tangan, atau melakukan suatu jenis kecurangan pengeluaran kas.
8) j pemindahan kas dari organisasi yang menjadi korban sebelum nilai kas
tersebut dimasukkan ke dalam sistem akuntansi.

9) ___e ___ membuat organisasi membayar sesuatu yang tidak perlu dalam jumlah yang
terlalu banyak untuk sesuatu yang dibeli.

10) ___f___ skema yang terjadi ketika pelaku melakukan penipuan terhadap individu dengan
mengelola uang mereka ke dalam investasi yang salah.

2. a.

Prosedur pengendalian yang tidak dilaksanakan, diantaranya :

- Pemeriksaan independen

- Pemisahan tugas (segregation of duties control)

- Otorisasi yang tepat untuk mengesahkan pengeluaran kas atas biaya konsultasi

Rekomendasi mengenai cara yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan untuk


mengeliminir kecurangan, diantaranya :
- Hasil pekerjaan akuntan harus ditinjau atau direview oleh pihak independen
misalnya supervisor untuk menemukan kesalahan dan penipuan yang mungkin terjadi
dan dilakukan oleh akuntan.
- Dilakukannya pemisahan tugas antara bagian yang mencatat transaksi pengeluaran,
bagian yang memberikan otorisasi dan bagian yang melakukan pengeluaran kas /
membayar tagihan. Dalam hal ini, akuntan tidak boleh melaksanakan beberapa
pekerjaan sekaligus yaitu mencatat dan memposting transaksi pengeluaran kas ke
General Ledger, membayar tagihan, dan menandatangani cek. Seharusnya akuntan
hanya bertugas untuk mencatat dan memposting transaksi pengeluaran kas ke general
ledger, sedangkan penandantangan cek dilakukan oleh CEO atau orang lain dan
pembayaran tagihan atau pengeluaran kas dilakukan oleh treasures
- Perekrutan dan penggunaan auditor internal untuk melakukan computer analysis
pada alamat vendor untuk mencari perusahaan dengan alamat yang sama
- Otorisasi untuk mengesahkan pengeluaran kas termasuk pengeluaran untuk biaya
konsultasi dilakukan oleh CEO atau orang lain bukannya akuntan

Cara memberikan sanksi kepada pelakunya melalui beberapa cara berikut :


- Penuntutan oknum akuntan terkait secara perdata dan pidana untuk penipuan
dokumen, penggelapan, dan pencucian uang yang telah dilakukannya.
- Pengenaan denda kepada pelakunya, sebagaimana yang tercantum pada pasal 95
ayat (1) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yaitu dengan membayar
sejumlah uang sebagai denda karena si karyawan melakukan kesalahan yang
merugikan perusahaan. Denda itu bisa dipotong dari gaji atau si karyawan membayar
langsung.
- Diberhentikan secara tidak hormat (PHK) atau dipaksa mengundurkan diri

b.

Prosedur pengendalian yang tidak dilaksanakan, diantaranya :


- Pemisahan tugas (segregation of duties control)
- Otorisasi penerbitan memo kredit yang tepat
- Verifikasi dan Pemeriksaan independen
- Pemberian identitas terhadap setiap persediaan
Rekomendasi mengenai cara yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan untuk
mengeliminir kecurangan, diantaranya :
- Dilakukannya pemisahan tugas antara bagian yang menerima return/ pengembalian
barang dengan bagian yang menerbitkan memo kredit. Dalam hal ini, manajer gudang
tidak bisa melaksanakan beberapa pekerjaan sekaligus yaitu : menerima
pengembalian barang dan menerbitkan memo kredit. Manajer gudang hanya boleh
bertugas menerima pengembalian barang, sedangkan penerbitan memo kredit
dilakukan oleh departemen account receivable.
- Pekerja gudang lain harus memproses kembali barang yang rusak atau dikembalikan
tersebut
- Otorisasi untuk mengesahkan pengeluaran persediaan dari gudang dan penerimaan
pengembalian barang harus diotorisasi dan ditandatangani oleh manajer gudang,
pekerja gudang, dan supervisor bukan hanya manajer gudang
- Dilakukannya verifikasi dan pemeriksaan independen oleh supervisor terhadap
dokumen atau laporan pengeluaran persediaan dengan dokumen atau laporan pesanan
penjualan, dan verifikasi terhadap jumlah fisik persediaan di gudang dengan dokumen
atau laporan pengeluaraan persediaan.
- Pemberian barcode kepada setiap persediaan barang dagangan perusahaan untuk
melacak kehilangan persediaan
Cara memberikan sanksi kepada pelakunya melalui beberapa cara berikut :
- Penuntutan oknum manajer gudang dan keluarganya yang terlibat secara perdata dan
pidana untuk penipuan dokumen, penggelapan, dan pencucian uang yang telah
dilakukannya.
- Pengenaan denda kepada pelakunya, sebagaimana yang tercantum pada pasal 95
ayat (1) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yaitu dengan membayar
sejumlah uang sebagai denda karena si karyawan melakukan kesalahan yang
merugikan perusahaan. Denda itu bisa dipotong dari gaji atau si karyawan membayar
langsung.
- Diberhentikan secara tidak hormat (PHK) atau dipaksa mengundurkan diri

c.

Prosedur pengendalian yang tidak dilaksanakan, diantaranya :


- Proper authorizations (Otorisasi yang pantas, tepat, dan memadai)
- Pemisahan tugas (segregation of duties)
Rekomendasi mengenai cara yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan untuk
mengeliminir kecurangan, diantaranya :
- Dewan direksi dan dewan komisaris harus tidak memungkinkan CEO untuk
memecat dan kemudian mempekerjakan mereka kembali sebagai pegawai kontrak.
- Akuntan yang menyusun catatan penggajian juga harus menjadikan masalah ini
sebagai fokus perhatiannya.
- Dilakukannya pemisahan tugas antara pihak menyusun catatan penggajian dengan
pihak yang menandatangani pengesahannya. Dalam hal ini, CEO tidak boleh
melakukan beberapa pekerjaan sekaligus yaitu menyusun catatan penggajian dan juga
mengesahkannya. CEO hanya bertugas untuk mengesahkan catatan penggajian,
sedangkan penyusunan catatan penggajian dilakukan oleh akuntan.
Cara memberikan sanksi kepada pelakunya melalui beberapa cara berikut :
- Penuntutan oknum CEO terkait secara perdata dan pidana untuk penipuan pajak dan
pencucian uang

- Pengenaan denda kepada pelakunya, sebagaimana yang tercantum pada pasal 95


ayat (1) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yaitu dengan membayar
sejumlah uang sebagai denda karena si karyawan melakukan kesalahan yang
merugikan perusahaan. Denda itu bisa dipotong dari gaji atau si karyawan membayar
langsung.
- Diberhentikan secara tidak hormat (PHK) atau dipaksa mengundurkan diri

d.

Prosedur pengendalian yang tidak dilaksanakan, diantaranya :


- Proper authorizations (Otorisasi yang pantas, tepat, dan memadai)
- Pemisahan tugas (segregation of duties)
- Pemeriksaan dan Verifikasi independen
Rekomendasi mengenai cara yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan untuk
mengeliminir kecurangan, diantaranya :
- Petugas hutang tidak mempunyai hak kepemilikan atas perlengkapan yang ada di
kantor dan yang sedang dia pesan
- Perlengkapan yang diterima dari supplier harus dimasukan ke gudang terlebih
dahulu dan kemudian didistribusikan sesuai dengan kebutuhan
- Akuntan harus secara independen dalam mencatat kegiatan atau aktivitas sehari
hari dan tidak boleh memihak
- Otorisasi atas pemesanan perlengkapan dan pembayarannya hanya boleh dilakukan
dan ditandatangani oleh departemen pembelian, CEO atau pihak lainnya yang
mempunyai hak tersebut bukannya oleh petugas hutang.
- Dilakukannya pemisahan tugas antara bagian yang membutuhkan, memesan,
menerima dan mencatatnya. Seharusnya semua pemesanan barang dilakukan melalui
bagian pembelian, bukan setiap departemen bebas memesan kepada supplier secara
langsung. Dalam hal ini, petugas hutang hanya bertugas membuat purchase
requisition yang berisi hanya kebutuhan departemennya kepada departemen
pembelian, sedangkan persetujuan dan pengesahan pemesanan hanya boleh dilakukan
oleh departemen pembelian, CEO atau pihak lainnya yang mempunyai hak tersebut
bukannya oleh petugas hutang
- Dilakukannya pemeriksaan dan verifikasi independen oleh supervisor terhadap
daftar pesanan dan daftar penerimaan barang bagian petugas utang dengan daftar
kebutuhan perusahaan di bagian tersebut.
Cara memberikan sanksi kepada pelakunya melalui beberapa cara berikut :
- Petugas hutang tidak boleh melakukan penandatanganan check
- Penuntutan oknum petugas hutang secara perdata untuk penyalahgunaan aset
perusahaan.
- Pengenaan denda kepada pelakunya, sebagaimana yang tercantum pada pasal 95
ayat (1) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yaitu dengan membayar
sejumlah uang sebagai denda karena si karyawan melakukan kesalahan yang
merugikan perusahaan. Denda itu bisa dipotong dari gaji atau si karyawan membayar
langsung.
- Mutasi ke pekerjaan yang berbeda dari sebelumnya
- penurunan jabatan (demosi)

3. a. Pengendalian internal yang tidak ada dalam perusahaan Helen, diantaranya :

- Pemisahan tugas (segregation of duties)


Pemisahan tugas dalam Bonne Consulting Group sangat buruk. Hal ini tercermin
dalam pemberian beberapa tugas hanya kepada satu orang karyawan, yaitu Helen.
Dimana Helen bertugas dan bertanggung jawab dalam beberapa pekerjaan yaitu
membuat perencanaan studi kelayakan di luar perusahaan, mengelola berkas klien,
bekerja dengan konsultan pemasaran dari luar perusahaan, mengajukan proses
pembayaran dan memberitahukan departemen akuntansi mengenai semua
pembukaan dan penutupan akun vendor. Tugas tugas tersebut diberikan kepada
Hellen dikarenakan dia memiliki kinerja yang sangat baik sebagai sekretaris
eksekutif di departemen administrasi sehingga pemilik perusahaan merasa layak
memberikan kepercayaan yang luas kepadanya. Dimana semestinya tugas tugas
tersebut bisa dipegang dan dipercayakan oleh beberapa karyawan. Hal ini
tentunya memberikan peluang kepada Hellen untuk melakukan fraud.

- Pengolahan Informasi
Pengolahan informasi yang berjalan di BCG juga sangat buruk. Hal ini bisa
dibuktikan dengan tidak berjalannya komunikasi antar bagian / departemen dan
antar pegawai atas informasi informasi perubahan dan informasi penting lainnya
yang terjadi dalam suatu perusahaan. Hal ini tercermin ketika perusahaan
menghentikan kerjasama dengan Jackson & Co. Namun Helen tidak pernah
menginformasikan kepada Departemen Akuntansi bahwa akun Jackson & Co.
telah ditutup. Sehingga terjadinya asymetric information , yang memberikan
peluang kepada Hellen untuk melakukan fraud.
- Review kinerja
Perusahaan tidak melakukan review kinerja terhadap karyawan secara periodik,
terutama pada Hellen. Hal ini dikarenakan perusahaan sudah terlalu percaya
kepada kinerja Hellen dilihat berdasarkan dari kinerja di awal awal tahun ia
bekerja. Hal ini tentunya juga memberikan Hellen peluang untuk melakukan
fraud.

b. Hal hal yang memberikan Hellen kesempatan untuk melakukan fraud, diantaranya :
- Pengendalian internal perusahaan BCG yang kurang memadai bahkan masih
buruk
Buruknya pengendalian internal yang diterapkan oleh perusahaan, membuat
Hellen mudah memanfaatkan kondisi yang ada untuk melakukan serangkaian
tindakan fraud.
- Terlalu banyaknya tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada Hellen
Banyaknya tugas dan tanggung jawab yang diterima oleh Hellen merupakan
peluang tersendiri baginya. Hal tersebut mencerminkan bahwa buruknya
pemisahan tugas dalam perusahaan tersebut sehingga akan mempermudah Hellen
untuk melakukan fraud. Selain itu, Hellen diberikan wewenang untuk mengelola
akun Jackson & Co., sehingga akun yang seharusnya tersebut ditutup namun
masih tetap digunakan oleh Hellen untuk meraup pundi pundi keuntungan untuk
membiayai segala bentuk kepentingan pribadinya.
- Pemberiaan kepercayaan yang berlebih dari supervisor kepada Hellen
Pemberiaan kepercayaan yang terlalu berlebihan dari supervisor ini tercermin
ketika ia diizinkan untuk menandatangani semua pembayaran voucher yang
nilainya kurang dari $10.000. Departemen Akuntansi melanjutkan proses
pembayaran, dan Helen akan bertanggungjawab untuk mendistribusikan
pembayarannya Hal ini juga dapat dijadikan Hellen sebagai peluang untuk
melakukan fraud.

c. Beberapa hal yang dapat membuat kecurangan ini terdeteksi, diantaranya :

- Pengecekan dan konfirmasi oleh Departemen Akuntansi terhadap siapa saja


partner atau mitra yang bekerja sama dengan perusahaan. Sehingga apabila terjadi
kasus seperti yang dilakukan Hellen yang memanfaatkan akun Jackson & Co yang
sudah ditutup untuk menbiayai kepentingan pribadinya ini dapat langsung
diketahui oleh departemen akuntansi.
- Pemasangan saluran pengaduan untuk menerima segala bentuk laporan yang
bersumber dari partner, pegawai lain, maupun dari konsumen.
- Penganalisaan data untuk mencari trend, saldo akun, maupun transaksi transaksi
yang mencurigakan.
- Audit forensik terhadap keseluruhan pengendalian internal perusahaan dan hal
hal yang mencurigakan lainnya

4. a. Indikator berupa rasio berikut skenarionanya yang menyebabkan munculnya masing


masing indikator tersebut
Asumsi : 20X3 = 2006, 20X2 = 2007, dan 20X1 = 2008

1) Penjualan yang mungkin overstated, hal ini dikarenakan penjualan meningkat sebesar
204,12 persen dari tahun 2007 sampai tahun 2008. Namun, penjualan hanya
meningkat sebesar 51,52 persen dari tahun 2006 sampai tahun 2007.
2) Allowance for doubtful account yang mungkin understated, hal ini dikarenakan pada
tahun 2008, AFDA hanya 1,16 persen dari Account Receivable kotor (sebelum net).
Namun pada tahun 2007, AFDA sebesar 3,42 persen dari Account Receivable kotor
(sebelum net).

3) Cost of good sold yang mungkin understated. Pada tahun 2008, persentase COGS
terhadap penjualan hanya sebesar 42 persen. Sedangkan persentase COGS terhadap
penjualan pada tahun 2007 dan 2006 masing masing sebesar 54,9 persen dan 55,07
persen.

20X1 20X2 20X3


A/R before net dan 12.740.531 33,66 % 4.071.370 32,71 %
% of Sales
AFDA dan % of A/R 148.300 1,16 % 139.200 3,42 %
before net
Sales dan % of 37.847.681 204,12 % 12.445.015 51,52 % 8.213.236
increase
COGS dan % of 15.895.741 42 % 6.832.927 54,9 % 4.523.186. 55,07%
Sales
Gross Margin 21.951.940 58 % 5.612.088 45,1 % 3.690.050 44,93 %

b. Berdasarkan indikator dan skenario yang telah diidentifikasi, berikut ini adalah beberapa
jenis kecurangan / fraud laporan keuangan yang mungkin dilakukan oleh perusahaan :

1) Inflated sales
2) Understatement pada Allowance for doubtful account
3) Understatement pada cost of good sold
Selain itu, kejadian yang tidak biasa yang mengindikasikan fraud laporan keuangan
adalah kesamaan jumlah inventory dan aset lainnya pada tahun 2007 dan 2008

5.

Apa (What)
Bentuk penyimpangan atau fraud yang terjadi adalah model suap menyuap berupa
pembayaran uang
Siapa (Who)
Pihak atau pelaku yang melakukan dan terlibat penyimpangan atau fraud adalah
General Manager (GM) lama PT Medan Perkasa Abadi (PT MPA), pemilik PT XYZ
sebagai konsultan marketing, General Manager PT ABC sebagai konsultan product
development, manajer pembelian PT CDE sebagai konsultan operational
management.
Dimana (Where)
Penyimpangan atau fraud ini terjadi di lingkungan perusahaan PT MPA, PT XYZ, PT
ABC, dan PT CDE.
Kapan (When)
Penyimpangan atau fraud ini terjadi pada pertengahan tahun 2008.
Mengapa (Why)
Penyimpangan atau fraud ini dilakukan oleh GM lama PT MPA dengan maksud untuk
mendapatkan bonus dari perusahaan.
Bagaimana (How)
Penyimpangan atau fraud ini dilakukan oleh GM lama PT MPA dengan cara
melakukan penyuapan berupa pembayaran uang yang dicatat sebagai biaya konsultan
perusahaan kepada 3 jasa konsultan yaitu konsultan marketing, product development,
dan operational management, dimana pemilik 3 konsultan tersebut adalah oknum
bagian dari 3 pelanggan besar PT MPA tersebut. Dalam kasus ini, GM lama PT MPA
melakukan penyuapan kepada tiga pihak tersebut supaya 3 pelanggan besar tetap
melakukan pembelian pada PT MPA meskipun kualitas barang yang dijual menurun
dan harganya tidak menguntungkan. Sehingga seolah olah penjualan perusahaan
pada rentan periode tersebut tinggi dan akhirnya kinerja General Manager lama PT
MPA diniai baik, dan dia nantinya akan mendapatkan bonus.