Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

KONDILOMA AKUMINATA

Oleh : Fuchsia Zein


2012730046
Pembimbing :
dr. H. Dindin Budhi Rahayu, Sp. KK

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kulit dan Kelamin


RSUD cianjur
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2016

1
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 24 tahun
Status Pernikahan : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Cianjur
Tanggal berobat : Senin 19 september 2016

II. ANAMNESIS

Dilakukan secara autoanamnesis pada hari Senin, tanggal 19 September 2016,


pukul 10.30 WIB di Poli Kulit dan Kelamin RSUD Cianjur.

Keluhan Utama

Benjolan yang tampak seperti jengger ayam dan terasa gatal pada daerah
kemaluan yang memberat 1 minggu terakhir

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Cianjur, dengan keluhan
terdapat beberapa benjolan, seperti daging tumbuh yang berada di sekitar kemaluan yang
mirip seperti jengger ayam sudah dirasakan kurang lebih sejak 1 mingggu . Pasien
mengeluhkan bahwa benjolan ini dirasa mengganjal dan menganggu. 2 bulan sebelum
masuk rumah sakit benjolan mulanya kecil, berjumlah satu buah dan lama kelamaan
benjolan menjadi banyak. Benjolan tidak terasa nyeri, tetapi terkadang terasa gatal .

Selain itu pasien juga mengeluhkan adanya keputihan. Keputihan dirasakan


pasien sekitar 2 bulan SMRS. Sebelumnya, pasien sudah pernah mengalami keputihan,
tetapi keputihan tersebut hilang timbul. Keputihan berwarna putih kekuningan, dengan
konsistensi kental, dirasa gatal dan berbau sedikit amis.

2
Pasien mengaku bahwa suaminya mengalami hal yang serupa dengannya namun
belum pernah di obati.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami keluhan yang sama seperti ini 6 bulan yang lalu

Riwayat couterisasi 4 bulan yang lalu

Riwayat konsumsi obat jangka panjang (-)

Riwayat Alergi pada obat-obatan dan makanan (-)

Tidak ada riwayat hipertensi, diabetes mellitus

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan yang serupa dengan
pasien.

Riwayat Kebiasaan

Riwayat kebiasaan merokok dan minum alkohol disangkal. Riwayat berganti-


ganti pasangan disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

Kesan sakit : Tampak Sehat

Kesadaran : Compos mentis, kooperatif

Tanda Vital

3
Tekanan darah : 120/80mmHg

Nadi : 90 x/menit, volume cukup, irama teratur, equalitas kiri dan kanan
sama

Pernafasan : 20x/menit, irama teratur, tipe pernafasan torakoabdominal,


kussmaul ()

Suhu : 36,5 C

Status Generalis

Kepala : Normocephal, simetris, rambut berwarna hitam, tidak mudah dicabut

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflex pupil (+), d = 2 mm,
isokor kana-kiri, edema palpebral (-), pergerakan mata ke segala arah baik

Hidung : Deviasi septum (-), NCH (-/-), sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan (-),
hidung bagian luar tidak ada kelainan

Telinga : Normotia, membran timpani intak, nyeri tekan (-/-), serumen (-/-), darah
(-/-).

Mulut : Bibir kering (-), stomatitis(-), geographic tongue (-) dan tidak tremor,
faring hiperemis (-), Tonsil (T1/T1)

Leher : Tidak terdapat pembersaran KGB ad regio colli bilateral.

Thorax : Simetris, tidak terdapat retraksi dinding dada, suara napas vesikuler (+/
+), ronchi basah (-/-), wheezing (-/-). Bunyi Jantung I dan II murni regular,
murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Tidak terdapat pembesaran abdomen, abdomen supel, BU (+), perkusi


timpani, turgor kulit dalam batas normal

Perianal dan Inguinal : Tidak terdapat ruam kemerahan di inguinal dan perianal,
KGB inguinal bilateral tidak teraba

Genitalia : Tampak lesi kulit (lihat status dermatovenerologi)

4
Ekstremitas : Akral hangat, sianosis (-/-), perfusi cukup, tidak terdapat pembengkakan
sendi, edema pada tepi kuku (-), onikolisis (-).

Status DermatoVenerologi
Inspeksi :
Vulva, Labia mayor, dan labia minor, Kelenjar bartolin, Perineum, Anus : Dalam Batas
Normal
Introitus vagina
Distribusi: Regional
Regio: introitus vagina
Lesi: multiple, sebagian diskret, sebagian konfluens, sirkumskrip, bentuk tidak beraturan,
permukaan tidak rata, warna seperti jaringan sekitar, uk terkecil d: 0.2 cm, uk terbesar d:
1 cm
Efloresensi: vegetasi bertangkai
Palpasi :
Vulva, Labia mayor, dan labia minor, Kelenjar bartolin, Perineum, Anus : Dalam Batas
Normal
Introitus vagina: massa (+), permukaan tidak rata, nyeri tekan (-)

5
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak dilakukan

IV. DIAGNOSA BANDING

1. Kondiloma akuminata

2. Veruka vulgaris

3. Kondiloma latum

4. Karsinoma sel skuamosa

V. RESUME

6
Seorang wanita usia 24thn, Menikah, benjolan pada kemaluan (+), gatal (+)
memberat 1 minggu terakhir, keputihan (+). Keluhan sudah dirasakan 2bulan
terakhir. Riwayat keluhan yang sama 6 bln yang lalu (+), couterisasi (+). Suami
memiliki keluhan yang sama pada alat kelaminnya (+)

Status venerologis : terdapat vegetasi bertangkai yang multiple, sebagian


diskret, sebagian konfluens, sirkumskrip, bentuk tidak beraturan, permukaan
tidak rata, ukuran terkecil d: 0.2cm, ukuran terbesar d: 1cmDari pemeriksaan
fisik didapatkan pada tanda vital tekanan darah 120/80mmHg, nadi 68x/menit,
pernapasan 20x/menit dan suhu 36,5 c. Pada pemeriksaan status generalis didapatkan
hasil dalam batas normal. Pada pemeriksaan status dermatovenerologi, didapatkan
distribusi: regional, ad regio: genitalia, lesi :vegetasi, jumlah multiple,
permukaan tidak rata (cauliflower), bertangkai, warna keputihan, efloresensi:
vegetasi.

VI. DIAGNOSIS KERJA

Kondiloma akuminata

VII. PENATALAKSANAAN

1. UMUM

a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit dan cara pengobatannya.

b. Menjelaskan bahwa kondiloma akuminata adalah penyakit menular


seksual

c. Menerangkan bahwa kemungkinan kekambuhan

7
d. Menjelaskan bahwa suami juga harus dibawa berobat karena penularan
melalui hubungan seksual

2. KHUSUS

1. Kemoterapi

- Tinctura podofilin 20 25% ditutul, kulit sekitarnya dilindungi dengan vaselin


atau pasta agar tidak terjadi iritasi, setelah 4-6 jam dicuci. Jika belum ada
penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian tidak boleh
lebih daro 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik Kontraindikasi dari
terapi ini adalah wanita hamil e.c fetal death.

- Asam triklorasetat (TCA) 80 90% ditutul / larutan konsentrasi 50% oles


setiap minggu. Terapi ini dapat diberikan pada wanita hamil.

- Salep 5-fluorurasil 1-5% krim setiap hari sampai lesi hilang.

2. Bedah listrik (elektrokauterisasi)

3. Bedah beku (N2, N2O cair)

VIII. PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam

Ad fungtionam : ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam

KONDILOMA AKUMINATUM

A. Definisi
Kondiloma akuminata ialah vegetasi oleh human papilloma virus tipe tertentu,
bertangkai dan permukaannya berjonjot.3

B. Epidemiologi

8
Penyakit ini termasuk Penyakit akibat Hubungan Seksual (PHS). Frekuensinya
pada pria dan wanita sama. Tersebar kosmopolit dan transmisi melalui kontak kulit
langsung.3
Prevalensi terbesar adalah pada usia 17-33 tahun, dengan insiden yang memuncak
pada usia 20-24 tahun.4
C. Etiologi
Virus penyebabnya adalah Human Papilloma Virus (HPV), ialah virus DNA yang
tergolong dalam family virus Papova. Sampai saat ini telah dikenal sekitar 60 tipe
VPH , namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma akuminata. Tipe yang
pernah ditemui pada kondiloma akuminata adalah tipe 6, 11, 16,18, 30,31, 33,35, 39,
41, 42, 44, 51, 52, dan 56.3
Pada referensi lain menyebutkan, lebih dari 120 subtipe yang berbeda dari HPV
yang telah diidentifikasi, dengan 40 subtipe yang mampu menginfeksi traktus
anogenital. Jenis ini dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu low risk, intermediate risk,
dan high risk. HPV tipe 6 dan 11 jarang menimbulkan kanker serviks sehingga disebut
subtipe low risk. Infeksi dari genotif ini bertanggung jawab sekitar 90% pada formasi
genital warts. Sebaliknya tipe 16 dan 18 sangat berhubungan dengan displasia serviks
sehingga dianggap high risk, subtipe onkogenik. Penelitian menunjukkan infeksi pada
genotif ini adalah sampai 70% terjadi Squamous Cell Carcinoma (SCC) dari serviks.
HPV tipe 31, 33, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59 adalah tipe intermediate risk, sering
ditemukan pada neoplasma skuamosa, tetapi jarang dihubungkan dengan SCC serviks.
Pasien dengan kondiloma akuminata dapat terinfeksi stimultan oleh beberapa jenis
HPV.2

9
Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu tipe
16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada kanker
serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering ditemui pada kondiloma akuminata
dan neoplasia intraepitelial serviks derajat ringan. 1 kondiloma juga dapat menjadi
koinfeksi yang high risk HPV seperti HPV tipe 16. Merupakan penyakit menular
seksual, dengan transmisi rata-rata 60% di antara partner seksual.5

I. Faktor Resiko
a. Usia dan jenis kelamin
pakar mengemukakan, usia adalah faktor risiko independen pada kondiloma
akuminata, 80% penderita kondiloma akuminata terjadi pada usia 17-33 tahun,
puncak usia menderita penyakit ini di usaia 20-24 tahun. Pria rata-rata diusia 22
tahun bisa menderita kondiloma akuminata dan wanita 19 tahun, pria wanita
proporsi adalah 11,4.
b. Status perkawinan dan kehamilan
Data menunjukan perceraian, suami istri tidak serumah, janda atau duda, belum
nikah adalah paling mudah menderita kondiloma akuminata, karena keadaan diatas
mudah terjadi perilaku seksual yang berisiko tinggi.
Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilan
pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu besar dapat

10
menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca persalinan. Selain
itudapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau papilomatosis laring (kutil
padasaluran nafas) pada bayi baru lahir.
c. Fungsi kekebalan tubuh lemah
Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi imunosupresif
dan mengunakan dexamethasone. Persentase menderita kondiloma akuminata serta
persentase kambuh juga tinggi dan jumlah kutil pun bertambah banyak.
d. Merokok dan minum alkohol
Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, dan persentase menderita penyakit
ini pun bertambah berdasarkan lama merokok dan jumlah batang rokok yang
dihisap per hari. Minum alkohol juga bisa menghambat kekebalan tubuh. Merokok
dan alkohol bisa menghambat sistem saraf tengah, mengurangi kecemasan,
meningkatan libido, resiko seksual pun bertambah, sehingga meningkatkan
kekambuhan akuminata mudah.
e. Hubungan seksual
Berdasarkan hasil penelitian dan statistik menunjukan, penyebab terjadinya
kondiloma akuminata karena memiliki banyak pasangan yang menderita kondiloma
akuminata, dan tingkat kekambuhan lebih tinggi dibandingkan pasangan seksual
tunggal.
f. Pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat
Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukan infeksi HPV bisa dicegah dimana
harus mengunakan alat kontrasepsi. Penelitian lain menunjukan, penyebab
terjadinya kondiloma akuminata dimana wanita yang mengunakan obat kontrasepsi
persentase terjadinya kondiloma akuminata lebih tinggi dibandingkan tidak
memakai obat kontrasepsi.
g. Menderita penyakit lain
penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan penyakit
menular seksual lainnya seperti alat kelamin, kencing nanah dan AIDS. Banyak
penderita kondiloma akuminata bisa menyebabkan penyakit kelamin lainnya, dan
beberapa patogen penyakit menular seksual merusak mukosa, sehingga kemampuan
tubuh melawan HPV pun menurun.

D. Patofisiologi
Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang terinfeksi
HPV. HPV ini masuk melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada daerah kelamin dan

11
melakukan penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi permukaan epitel.
Human Papilloma Virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya mempunyai afinitas
tinggi pada sel-sel epitel. Replikasinya tergantung pada adanya diferensiasi epitel
skuamosa. Virus DNA (Deoxyribonucleic Acid) dapat ditemukan pada lapisan
terbawah dari epitel. Protein kapsid dan virus infeksius ditemukan pada lapisan
superfisial sel-sel yang berdiferensiasi. HPV dapat masuk ke lapisan basal,
menyebabkan respon radang. Pada wanita menyebabkan keputihan dan infeksi
mikroorganisme. HPV yang masuk ke lapisan basal sel epidermis dapat mengambil
alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak terkendali. Fase laten virus dimulai
dengan tidak adanya tanda dan gejala yang dapat berlangsung sebulan bahkan setahun.
Setelah fase laten, produksi virus DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel dari tuan
rumah menjadi infeksius dari struktur koilosit atipik dari kondiloma akuminata
(morphologic atypical koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang.1,2 Lamanya
inkubasi sejak pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat
lebih lama. HPV yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul
kemerahan di sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran
seperti bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme
dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.6
HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang merangsang
pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat menstimulasi saraf perifer.
Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak dan timbul impuls elektrokimia
sepanjang nervus ke dorsal spinal cord kemudian ke thalamus dan dipersepsikan
sebagai rasa gatal di korteks serebri. Pada wanita yang terinfeksi HPV dapat
menyebabkan keputihan dan disertai infeksi mikroorganisme yang berbau, gatal dan
rasa terbakar sehingga tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seksual.6
E. Manifestasi Klinis
Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan ringan.
Keluhan yang paling sering adalah ada bejolan atau terdapat lesi di perianal.5
1. Gejala
Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan tanpa gejala.
Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan, atau dispaurenia. Tetapi terkadang

12
lesi dapat menimbulkan ketidaknyamanan, rasa panas, dan pruritus. Lesi yang besar
dapat berdarah dan iritasi bila kontak dengan pakaian atau selama hubungan
seksual.5
2. Tanda-Tanda Fisik
Kondiloma biasanya pada jaringan yang lembab pada area anogenital. Lesi sering
ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan seksual. Pada pria
tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, glands penis,
muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan
sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. Terkadang dapat
berkembang di mulut atau tenggorokam setelah kontak seksual secara oral yang
terinfeksi dari partnernya. Kondiloma akuminata memiliki bentuk yang sangat
bervariasi, mungkin flat (datar), dome-shaped (seperti kubah), cauliflower-shape
(kembang kol) atau pedunculated. Kondiloma dapat bermanifestasi sebagai soliter
keratotik papul atau plak. Awalnya dalam bentuk kecil, ukuran 1-2 mm flesh-
colored papule dari kulit dan bentuk ini dapat bertahan selama infeksi.2
Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan
kalau masih baru, jika telah lama agak kehitaman. Permukaannya berjonjot
(papilomatosa) sehingga pada vegetasi yang besar dapat dilakukan percobaan
sondase. Jika timbul infeksi sekunder warna kemerahan akan berubah menjadi
keabu-abuan dan berbau tidak enak.3

Vegetasi yang besar disebut sebagai giant condyloma (Buschke) yang pernah
dilaporkan menimbulkan degenerasi maligna, sehingga harus dilakukan biopsy. sering
terdapat pada gland penis, daerah perianal.3

Giant condyloma dari Buschke-Lowenstein atau Buschke-Loewenstein tumor


(BLT) pertama kali ditemukan oleh Buschke pada tahun 1886. Oleh Buschke dan
Loewenstein tahun 1925, kemudian dinamai oleh Loewenstein carcinoma-like
condyloma acuminata pada penis. Pertumbuhannya sangat lambat tumor verukosa
dan mencapai ukuran besar. Beberapa penulis menyebutkan bahwa etiologinya adalah
HPV low risk yaitu tipe 6 dan 11, sementara yang lain melaporkan pentingnya
munculnya HPV risiko tinggi onkogenik yaitu tipe 16 dan 18. Faktor risikonya adalah

13
kebersihan yang buruk, pasien yang tidak disirkumsisi, seks bebas, iritasi kronik,
imunosupresi karena infeksi virus HIV.7

F. Diagnosis

a. Anamnesis

Partner seksual multipel dan usia coitus yang lebih muda merupakan faktor
risiko kondiloma akuminata.
Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak seksual dengan
kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam waktu 3 bulan.
Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus atau discharge.
Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat lesi multipel.
Lesi pada mukosa oral, laring atau trakea (tapi jarang) mungkin terjadi karena
kontak oral-genital.
Riwayat hubungan seksual anal baik pada lak-laki maupun perempuan dapat
menyebabkan lesi pada perianal.
Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat terjadi, dapat
disebabkan oleh kondiloma yang terdapat di meatus.
Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.
Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan vagina selama kehamilan
terjadi karena erupsi dari kondiloma.4

b. Pemeriksaan Fisik

Erupsi papular single atau multipel dapat diobservasi. Erupsi mungkin muncul
mutiara, filiform, kembang kol (caulifowler) atau plaquelike. Semuanya ini
dapat secara halus (terutama pada penis), verukosa atau lobular. Erupsi ini
mungkin tidak berbahaya atau dapat mengganggu penampilan.
Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga eritema atau
hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam bentuk, warna yang
mensugesti melanoma atau keganasan.
Kecenderungan pada glands penis pada pria dan daerah vulvovagina dan
serviks pada perempuan.
Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.
Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi, adenopati,
vesikelm discharge).

14
Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau risiko dari
imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.4

c. Pemeriksaan Penunjang
Kolposkopi (Stereoskopi Mikroskopik)
Hal ini sangat berguna untuk mengidentifikasi (sebagian besar) lesi pada
serviks, dimana lebih baik mengidentifikasi dengan menggunakan asam asetat.
Biopsi

Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekurent setelah terapi awal
berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien dengan risiko tinggi
untuk neoplasia atau imunosupresi. Biopsi tidak diperlukan untuk kutil
anogenital yang khas.

G. Diagnosa Banding
a. Veruka vulgaris
Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama dengan
warna kulit. Terutama terdapat pada anal-anak, tetapi dapat juga pada dewasa dan
orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor,
walaupun penyebarannya dapat ke tubuh bagian lain termasuk mukosa mulut dan
hidung. Kutil ini bentuknya bulat berwarna abu-abu, besarnya lentikular,
permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul autoinkolusi sepanjang
goresan (fenomenan Kobner).3

Gambar 3. Veruka Vulgaris

b. Kondiloma latum

15
Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata dan STS positif, ditemukan banyak
Spirochaeta pallidum dengan mikroskop lapangan gelap.8

Gambar 4. Kondiloma Latum


c. Karsinoma sel skuamosa
Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau. Karsinoma sel
skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai beberapa tingkat
kematangan, dapat intraepidermal, dapat pula bersifat invasif dan bermetastasis
jauh. Umur yang paling sering adalah 40-50 tahun (dekade V-VI).3

Gambar 5. Karsinoma Sel Skuamosa

H. Pengobatan
Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat
dibedakan menjadi kemoterapi, dan bedah.
1. Kemoterapi
a. Podophyllin
Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan kondiloma oleh
Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah agen sitotoksik yang

16
berasal dari resin podofilum emodi dan peltatum podofilum yang mengandung
senyawa lignin biologis aktif, termasuk podofilox, yang merupakan komponen
paling aktif terhadap kondiloma akuminata. Podophyllin memiliki keuntungan
menjadi mudah digunakan dan sangat murah. Yang digunakan iaah tingtura
podofilin 25%. Kulit disekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta agar
tidak terjadi iritasi. Jika belum ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari.
Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat
toksik. Gejala toksisitas ialah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat
napas, dan keringat yang disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi supresi
sumsum tulang yang disertai trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita
hamil sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.3
Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan dan toksisitas
sistemik. Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam karena sangat mengiritasi
kulit normal di sekitarnya dan menyebabkan reaksi lokal yang parah berupa
dermatitis, nekrosis, dan jaringan parut. 9
b. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid
Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil digunakan
untuk terapi kondiloma akuminata. Seperti podophyllin, Bichloracetic Acid
atau Trichloracetic Acid murah dan mudah diterapkan. Namun, juga dapat
menyebabkan iritasi kulit lokal dan seringkali memerlukan kunjungan
beberapa kali, umumnya pada interval mingguan. Dalam sebuah studi oleh
Swerdlow dan Salvati, bichloracetic acid dan trichloracetic acid lebih
nyaman digunakan oleh pasien dan memiliki kemungkinan kekambuhan yang
minimal dibandingkan yang lain. Mempunyai efek kaustik dengan
menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada jaringan superfisial terutama pada
bentuk hiperkeratotik . 9
c. 5-fluorourasil
Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim. Bersifat sebagai antimetabolit
yang dapat mengganggu sintesis DNA, dipakai terutama pada lesi di meatus
uretra. 5-FU krem 1 % digunakan 2 kali sehari secara periodik selama 2-6

17
minggu, dan krem 5% digunakan 4 kali sehari secara. periodik selama 10
minggu. Sebaiknya penderita tidak miksi selam 2 jam setelah pengobatan.3

2. Bedah Terapi
a. Elektrokauterisasi
Elektrokauterisasi adalah cara yang efektif untuk menghancurkan
kondiloma akuminata di anus internal dan eksternal tetapi teknik ini
memerlukan anestesi lokal dan tergantung pada keterampilan operator untuk
mengontrol kedalaman dan lebar kauterisasi tersebut. Mengontrol kedalaman
luka penting untuk mencegah jaringan parut dan luka pada sfingter ani
mendasarinya. Luka bakar melingkar harus dihindari untuk mencegah stenosis
ani. Jika penyakit ini sangat luas atau melingkar, upaya-upaya harus dilakukan
untuk mempertahankan kontinuitas kulit.9
b. Eksisi bedah
Eksisi bedah telah lama digunakan untuk mengobati kondiloma akuminata
dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kombinasi eksisi dan elektrokauter
dianggap sebagai gold standard untuk pengobatan kondiloma akuminata.9
c. Bedah Beku (N2, N2O cair)
Bedah beku merupakan metode pengobatan umum dermatologist,
berbahan dasar nitrogen atau karbondioksida cair, es beku kering penghancur
kulit, penghancur kulit untuk edema lokal, bertujuan untuk mencapai tujuan
pengobatan. Virus kondiloma akuminata menyebabkan terjadinya hiperplasia
prostatik jinak pada kulit dan membran mukosa. Ini memiliki pembuluh darah
lecil dalam jumlah banyak, berproliferasi secara cepat. Metode dapat
menggunakan es beku untuk kondiloma akuminata, membentuk edema lokal
derajat tinggi. Keuntungan yang paling bagus dari bedah beku ini ialah hanya
bersifat lokal tanpa meninggalkan bekas, tingkat keberhasilan pengobatan
kira-kira 70%. Tersedia dalam metode semprot atau kontak langsung, mampu
diaplikasikan pada bentuk kecil. Dapat digunakan dalam 1 minggu sebanyak
2-3 kali. Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma
akuminata pada wanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah.

3. Terapi Laser

18
Terapi laser karbon dioksida untuk menghancurkan kondiloma pertama kali
dilaporkan oleh Baggish pada tahun 1980. Sebuah tingkat keberhasilan
keseluruhan dari 88 sampai 95% telah dilaporkan. Ini mirip dengan elektrokauter,
namun ablasi laser memiliki tingkat kekambuhan tinggi dan menimbulkan nyeri
pasca operasi, keuntunganya luka lebih cepat sembuh, dan meninggalkan sedikit
jaringan parut.3,9
4. Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan topikal (krim).
Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali seminggu selama 6
minggu atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6 minggu. Interferon beta diberikan
dengan dosis 2x106 unit i.m selama 10 hari berturut-turut.3
Interferon tidak direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan utama.
Diproduksi secara alami oleh protein dengan antivirus, antitumor dan
immunomodulatory actions.
5. Imunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan dapat
diberikan pengobatan bersama imunostimulator.3

I. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Tidak ada medikasi yang efektif 100%. Vaksin HPV dapat dilakukan dan telah
disetejui oleh FDA. The Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP)
merekomendasikan vaksinasi rutin untuk perempuan usia 11-12 tahun dan
vaksinasi catch-up untuk perempuan usia 13-26 tahun.
Sexual abstinence
Kondom dapat mencegah terjadinya penularan. 4

J. Komplikasi
Transformasi untuk keganasan genitourinaria pada laki-laki maupun perempuan
Penularan pada neonatus
Kondiloma akuminata yang berulang. 4
Pre-cancer dan cancer
Pre-malignant (vulva, anal, penile intra-epithelial neoplasia) atau lesi invasif
(vulva, anal dan kanker penis) dapat muncul bersamaan dengan kondiloma.
Bowenoid papulosis (BP) adalah lesi coklat kemerahan yang dihubungkan dengan

19
tipe HPV yang onkogenik dan merupakan bagian dari spektrum klinis neoplasia
intraepithelial anogenital. Biopsi dapat dilakukan. Varian lain yang jarang adalah
HPV tipe 6/11 yaitu penyakit kondiloma raksasa atau Buschke-Lowenstein tumor.
Ini merupakan karsinoma verukosa, ditandai dengan infiltrasi lokal yang agresig
sampai ke struktur dermal.5

K. Prognosis
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor predisposisinya
dicari, misalnya higiene, adanya flour albus, atau kelembaban pada pria akibat tidak
disirkumsisi.3
Banyak pasien baik itu gagal untuk merespon pengobatan atau rekuren. Tingkat
kekambuhan lebih dari 50% setelah 1 tahun dihubungkan dengan:
Infeksi berulang dari kontak seksual
Masa inkubasi yang panjang dari HPV
Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial
Virus yang persisten di kulit, folikel rambut
Lesi yang dalam
Lesi subklinik
Anunderlying immunosuppression.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Bakardzhiev I, Pehlivanov G, Stransky D, Gonevski M. Treatment of Candylomata


Acuminata and Bowenoid Papulosis With CO2 Laser and Imiquimod. J of IMAB-
Annual Procceding (Scientific Papers). 2012;18:246-9.
2. Valarie, Yanofsky, Patel, & Goldenberg. Genital Warts: A Comprehensive Review.
The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. June 2012: Vol 5:61.
3. Djuanda A. Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2009.
4. Ghadishah,Delaram.Reference:Condyloma-Acuminata.
http://emedicine.medscape.com/article/781735-overview.
5. Lacey, Woodhall, Wikstrom, Ross. European Guideline for the Management of
Anogenital Warts. 2011: 130911.
6. Djuanda A. Penyakit Virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010. p. 112-4.
7. Braga, Stiepcich, Muller, Nadal, Valeria. Buschke-Loewenstein tumor: Identification
of HPV type 6 and 11. Anais Brasileiros de Dermatologia. 2012;87(1):131-134.
8. Siregar, R.S. Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. p. 90-91.
9. Chang GJ, Welton M. Human Papilloma Virus, Condylonata Acuminata, and Anal
Naoplasia. Clinic in Colon and Rectal Surgery. 2004., 17(4), p. 221-230

21