Anda di halaman 1dari 6

Ya Aku Berbeda

Cerpen Karangan: Nilawati

17 tahun lamanya aku hidup dalam kekurangan. Kekurangan yang membuatku tidak seperti
mereka. Ya aku berbeda. Terkadang aku merasa Tuhan tak adil kepadaku hingga mengapa Dia
menciptakanku berbeda seperti ini. Namaku Rian, Rian Wiranto. Aku bersekolah di SMA
Bunga Bangsa yang sebentar lagi lulus dan mengenyam bangku kuliahan. Sudah 17 tahun
lamanya aku hidup dalam penderitaan. Aku selalu dikucilkan dalam pergaulan. Ya aku
berbeda. Aku dilahirkan dengan satu tangan, aku hanya mempunyai tangan kanan dan tangan
kiriku puntung sejak lahir, aku cacat. Jika aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk tidak
dilahirkan di dunia ini daripada aku harus menjadi bulan-bulanan hinaan mereka. Tapi aku tau
rencana Tuhan akan baik kepadaku.

Kebiasaanku ketika ku sedang merenung dan meratapi nasib ini, aku selalu berada di taman
belakang sekolah sendirian. Ku hanya menatap kosong taman ini tanpa tertarik dengan
keindahan bunganyaApa yang mereka katakan kepadamu? Suara gadis manis ini
membuyarkan lamunanku. Aku hanya menoleh sebentar dan kembali menatap ke depan.
Seperti biasa mereka mengataiku anak cacat. Apa karena aku hanya punya satu tangan
sehingga mereka dengan teganya selalu mengataiku begitu? apakah mereka tak punya hati?
Apakah anak cacat harus selalu diperlakukan demikian? Sahutku miris. Lia nama gadis itu,
satu-satunya siswa di sekolah ini yang mau berteman denganku, entah aku heran kenapa dia
mau berteman denganku yang cacat ini sedangkan teman-temannya menjauhiku. Dia ikut
duduk di sampingku.

Tidak Rian, tak seharusnya kamu diperlakukan seperti itu. Bersabarlah Rian, mereka itu
memang tak punya hati, mereka hanya sempurna pada fisik tapi hati mereka sama sekali tidak
sempurna, kamu orang baik, tak seharusnya orang baik diperlakukan seperti ini terus. Ada
saatnya semua ini akan indah Rian! Ucap Lia dengan senyum manisnya. Iya Sahutku
pelan.Ya sudah yuk ke kelas bel masuk sudah dari tadi berbunyi. Ucapnya lagi. Baiklah
ayo. Sahutku dengan mengembangkan senyuman.

Teng teng teng

Bel sekolah berbunyi dan suara riuh pecah para siswa yang menyambut bel pulang.
Seperti biasa aku hanya menunggu angkot di halte dekat sekolah. Aku memang bukan orang
kaya sehingga aku selalu menaiki kendaraaan umum untuk pergi dan pulang sekolah, tidak
seperti teman-temanku yang mengendarai motor pergi ke sekolah. Kulangkahkan kaki menuju
rumah kecilku. Meninggalkan rasa lelah akibat ejekan-ejekan mereka. Assalamualaikum,
bu. Ucapku.

Waalaikumsalam. Sahut dari dalam rumah. Suara seseorang yang selalu membuatku kuat
dan selalu ikhlas menghadapi hidup ini. Dia adalah ibuku. Sudah pulang nak. Ucap ibuku.
Aku memasuki rumah dan mencium tangan ibu. Sudah bu. Ucapku. Kulangkahkan kaki
menuju kamar. Segarnya air telah menghilangkan rasa penat yang sedari tadi membuatku
merasa tak nyaman. Kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Ya Allah aku tau
aku berbeda, aku tau aku tak sempurna namun aku tau tak ada manusia yang sempurna di
matamu. Aku mohon agar engkau senantiasa melapangkan dada hamba agar hamba ikhlas
dengan semua yang mereka katakan padaku. Amin, kupanjatkan doaku setelah sholat.
Adzan subuh membangunkanku dari jeratan mimpi indahku. Aku bergegas bangun untuk
melaksanakan kewajibanku yang satu ini. Sebelum berangkat sekolah aku membantu ibu
sebisaku menyiapkan nasi uduk. Ya ibuku seorang penjual nasi uduk dan ayahku sudah lama
meninggal. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku. Jam 6 aku berangkat sekolah. Sebelum itu
aku sudah berpamitan dengan ibu.

Aku telah sampai di sekolah dan berjalan menuju koridor sekolah. Brukkk aduh. Aku
terjatuh. Aku memegang lututku yang sedikit sakit. Mereka mengetawaiku, hampir semua.
Mungkin menurut mereka, ulah Rio dan kawan-kawannya adalah sarapan untuk mereka karena
memang setiap pagi Rio selalu mengusiliku. Aduh, anak cacat jatoh, kasihan deh, hahahaha.
Ucap Rio menghinaku disertai tawa. Udah cacat, blagu, sok pintar lo, hahaha dasar punting.
Sambung Rio. Betapa sakitnya hatiku mendengar ucapan Rio. Aku ingin marah, aku ingin
membentaknya tapi aku tak sanggup. Aku hanya debu di mata mereka. Untung pak Andi yang
melihat aksi Rio segera memarahi Rio dan membatu aku berdiri. Kuucapkan terima kasih pada
pak Andi dan berjalan ke kelas.

Aku duduk di bangkuku. Tuhan apa orang cacat harus selalu dipandang sebelah mata, apa
ciptaanmu ini hina di mata mereka, bukankah kami yang kekurangan ini berhak untuk hidup
bahagia bukan untuk menerima penderitaan seperti ini. Ucapku dalam hati. Woe Rian, pagi-
pagi udah ngelamun aja kamu, entar kesambet loh. Ucap Lia. Aku gak papa kok. Ucapku.
Lia, pulang sekolah aku ke rumahmu ya. Sambungku lagi. Oke. Ucap Lia. Pelajaran
dimulai, semua siswa fokus dengan mata pelajaran.

Pulang sekolah aku sempatkan untuk pulang dan memberitahu ibu kalau aku ingin pergi ke
rumah Lia untuk belajar karena sebentar lagi akan UN. Aku menuju rumah Lia. Di rumah Lia,
kami belajar dengan serius sesekali diikuti tawa. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Aku beranjak
dari rumah Lia dan segera menaki angkot. Para penumpang angkot sering melihatku, entah
karena kasihan, iba atau malah mengejek juga karna ada beberapa mata penumpang yang
menatap sinis ke arahku.

Hari dimana UN dilaksanakan serentak seluruh Indonesia. Banyak siswa yang terlihat frustasi,
cemas bahkan ada yang sampai pingsan. Aku selalu berdoa kepada Allah agar dilancarkan
semuanya. Alhamdulillah UN telah selesai dan kini tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Rian nanti kalau kita sama-sama lulus, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Ucap Lia.
Ke mana? Tanyaku. Sudah kamu tak perlu tau sekarang. Ucap Lia dan langsung pergi
meninggalkanku.

Hari pengumuman kelulusan tiba. Semua siswa berharap agar mereka lulus termasuk aku.
Nama siswa disebut satu persatu dan tibalah namaku Rian Wiranto. Aku menaiki panggung
dan mengambil amplop yang diberikan guru. Aku turun dari panggung dan harap cemas dengan
hasil dalam amplop tersebut. Aku mejauh dari keramaian. Jantungku semakin berdebar-debar.
Kubuka amplop dan di sana tertulis bahwa aku LULUS. Ya Tuhan betapa senangnya aku.
Aku menghampiri Lia dan mengatakan bahwa aku lulus. Kami melonjak kegirangan bersama-
sama.

Tiba-tiba.
Rian Wiranto harap menaiki panggung. Ucap salah seorang guru. Aku menaiki panggung
dengan senang dan bingung. Aku ditatap ribuan pasang mata dan aku begitu gugup.
Anak-anak sekalian, bapak sangat bangga terhadap Rian, karna walaupun selama tiga tahun
bersekolah di SMA Bunga Bangsa ini dia selalu mendapat perlakuan tidak enak dari siswa-
siswa sekalian, namun dia sangat tegar dan sabar dalam menghadapi ejekan, buli, bahkan
hinaan kalian, sekarang cobalah untuk menerima Rian, kalian semua akan berpisah, buatlah
hari ini sebagai kenangan untuk kelas tiga ini. Ucap pak Andi. Aku terharu mendengar ucapan
pak Andi. Rasanya aku ingin menangis namun aku malu. Dan Rian adalah siswa dengan nilai
rata-rata UN tertinggi. Rian ini piagammu. Ucap pak Andi lagi.

Prok.. prok, prok

Suara tepuk tangan menggema di sekolahku. Ya Tuhan betapa bahagianya aku. Aku
mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.Selamat ya Rian dan maaf selama ini aku
jahat sama kamu, selalu mengejekmu. Ucap Rio tulus.

Aku sudah memaafkanmu Rio. Ucapku. Rio mengucapkan terima kasih dan memelukku
sebagai tanda perpisahan lantas dia beranjak pergi.Ya udah yuk ikut aku ke tempat yang aku
janjikan kemarin. Ucap Lia. Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah Lia.

Ini tempatnya. Ucap Lia. Aku memandang tempat ini, banyak orang yang sama sepertiku,
mereka dengan fisik yang tidak sempurna juga ya ini adalah tempat dimana penyandang
disabilitas ditampung. Beberapa dari mereka memang tidak terima di keluarga mereka. Aku
meihat gadis kecil yang buta, miris sekali. Aku juga melihat anak laki-laki yang tak mempunyai
tangan serta kaki, dan masih banyak lagi. Kini aku sadar bahwa aku lebih beruntung dari
mereka, aku mempunyai ibu yang sayang terhadapku. Aku berterima kasih kepada Lia karena
telah membawaku ke tempat ini. Aku sungguh beruntung dan aku dapat mengambil pelajaran
bahwa: Manusia itu tidak ada yang sempurna, semua di mata Tuhan itu sama, jangan berkecil
hati karena Tuhan tau saat di mana kamu akan diberikan kebahgiaan yang sejati, tetap
bersyukur dan selalu ikhlas menghadapi hidup ini karena Tuhan memiliki rencana yang baik
untuk umatnya.
Pulang
Cerpen Karangan: Indah Aprilia

Di luar masih terlihat jejak jejak yang ditingalkan oleh hujan. Aku mengusap kaca jendela
untuk sekedar menghilangkan embun yang menutupi jendela kamarku. Aku melirik jam
sekilas, ternyata sudah pukul enam sore. Hari ini masih menjadi hari yang penuh duka bagi
kami meski sudah seminggu berlalu tapi kesedihan tak jua mau melepaskan keluargaku dari
dekapnya. Ibu mengetuk kamarku, selalu begitu. Aku sadar harusnya aku yang menjadi
tameng untuknya melipur lara. Tapi aku belum sadar sepenuhnya. Ini masih terasa seperti
mimpi. Ibu kemudian masuk tanpa berkata apapun ia memelukku lalu menangis, aku pun
terisak. Semuanya kembali berputar di kepalaku, dan aku tahu kenangan itu juga berputar-
putar di kepala ibu.

Beberapa tahun yang lalu saat Bang Arman masih di sini, rumah ini selalu ramai dengan
gelak tawanya. Menurutku ia anak yang selalu menomor satukan keluarganya, ia selalu
menuruti semua yang ayah dan ibu perintahkan. Meski seringkali ada selisih paham antara
ayah dan bang Arman tapi bang Arman selalu mengalah pada kehendak Ayah. Aku ingat
sekali saat Ayah mengantarkan kami ke sekolah setiap paginya. Ibu yang menyiapkan bekal
untukku dan bang Arman. Bang Arman yang sabar menungguku, bahkan meski harus telat.
Memang hal sederhana tapi aku sekarang sadar, setiap hal kecil itu memiliki arti yang besar.
Ah, aku rindu sekali pada keluarga sederhanaku. Bang Arman menjadi orang kedua yang aku
segani setelah ayah. Orang yang memotivasiku dan menunjukkanku ketika aku salah. Ia
abangku satu-satunya. Tapi kebahagiaan itu berakhir 6 tahun yang lalu disaat umurku genap
15 tahun, Bang Arman diusir dari rumah untuk menjemput cita-citanya. hari itu tidak
mungkin aku lupakan, suara benda-benda yang dilempar, kaca-kaca yang berserakan di lantai
diiringi dengan teriakan Ayah yang membahana.

aku tidak pernah mengajarkan kau kurang ajar Arman


aku bukannya kurang ajar yah, aku hanya memilih jalan hidupku sendiri suara bang Arman
terdengar tegas dan tak terbantah seakan tidak takut dengan kemarahan ayah.
kau akan tetap sukses meski berkuliah di sini. Kau harus masuk kedokteran.
sudah yah, sudaah ucap ibu sambil menangis.
aku ingin menjadi pengacara yah. aku sudah diterima di sana.
aku tidak akan membiayaimu di sana aku tau ucapan ayah tidaklah sekedar ucapan. Ia
adalah sosok yang keras, ia mudah sekali emosi pada hal-hal yang tidak sesuai dengan
keinginnanya. aku akan mencari beasiswa, aku juga punya tabungan.
kau pikir kepintaranmu itu dari siapa? Pandai sekali kau menyombong padaku. aku akan
tetap kuliah di sana yah, dua hari lagi aku akan berangkat.
Dasar anak pembangkang. Sekali kau pergi dari rumah ini kau bukan lagi anakku.
Kalimat terakhir Ayah layaknya petir yang menyeramkan bagiku. Tetapi Bang Arman tidak
menjawab. Ia hanya melengos ke kamarnya. Ibu masih menangis di kursi tamu mencoba
membujuk ayah. Tapi aku tau ini sudah berakhir.

15 menit kemudian bang Arman keluar dari kamar bersama semua barang barangnya.
Ibu, alisya, aku pergi.
Itu kalimat terakhirnya yang masih kuingat. Ibu sekuat tenaga mencegahnya, tapi buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya, Bang Arman sama keras kepalanya dengan ayah. Aku dan ibu
berjalan ke pintu menatap punggung bang Arman yang semakin menjauhi rumah kami. kami
tidak tahu di mana dia tidur malam itu, kami tidak tahu siapa yang akan melepaskan
kepergiannya ke Jawa esok paginya. Rumah kami hening. Berbulan-bulan kami menahan
rasa canggung, setiap malam tangis yang bercucur dari mata ibu secara sembunyi-sembunyi
selalu membuatku nelangsa.

Lalu satu tahun berlalu, aku mendapati kabar dari kak arman, Aku menerima suratnya untuk
pertama kali. Surat itu dibungkus Amplop hijau, surat yang sangat cantik di mataku. Bahagia
sekali rasanya, bahkan tanpa sadar air mataku mengalir deras ketika membacanya. Aku sering
bercerita pada ibu soal kabar bang Arman tanpa sepengetahuan ayah. Ibu tentu kaget sekali,
Ibu juga banyak bertanya tentang bang Arman terlebih tentang alamat dan kontaknya, tapi Ia
tak pernah memberitahu alamat dan nomor telephonenya pada kami walaupun disetiap surat
balasanku kunyatakan rinduku dan rindu ibu. Bang Arman bilang dia akan menelepon duluan
ketika ia sudah sukses nanti. Lalu tidak terasa bang Arman telah wisuda. Meski aku hanya
mendapatkan kiriman fotonya tapi itu tidak mengurangi kebanggaanku terhadapnya. Ia
berhasil menjadi lulusan terbaik. Sudah ada gelar S.H di belakang namanya. Namun hatiku
terasa tersayat membayangkan perayaan kelulusannya tanpa keluarga. Tanpa pelukan bahagia
dari ibu dan Ayah. Ada hasrat dalam hatiku untuk memberitahu ayah kabar gembira ini. Aku
tahu ayah juga merindukan bang Arman meski selama ini terlihat baik baik saja setelah
mengusir bang Arman. Tapi kuurungkan niatku itu, sebab aku takut menduga reaksi ayah.
Selama ini aku bahkan tak berani menyebut nama bang Arman di depannya.

Aku bertanya pada bang Arman kapan ia akan pulang, aku berani menyuruhnya pulang
karena aku tahu amarah ayah telah meredam, aku tahu ayah juga menunggu kedatangan bang
Arman seperti yang aku dan ibu lakukan setiap hari. Bang Arman bilang ia nanti akan pulang
bersama kesuksesan dan calon istrinya.

Suatu sore, kira-kira dua tahun setelah bang Arman berkata akan pulang, aku melihatnya di
TV di sebuah saluran berita, ia berdiri dengan gagah dan berbicara dengan cerdasnya di sana,
ia mewakili seorang pejabat ternama sebagai kuasa hukum. Aku berseru memanggil ibu yang
tengah merapikan kamar. Tepat saat itu ayah memasuki rumah sepulang dari bekerja di
kantor, ayah melihat TV sekilas tapi kemudian gerakannya berhenti beberapa detik, aku ikut
diam memperhatikannya, tapi kemudian ia masuk ke kamar dan berselisih dengan ibu yang
hendak menemuiku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Ayah, entah itu bangga, rasa
sesal atau bahkan rasa rindu. Sulit bagiku untuk menerkanya. Ibu kemudian ikut duduk
bersamaku, ibu hanya diam melihat bang Arman yang semakin dewasa saja, tetapi air mata
mengalir di pipinya.
Ibu sebentar lagi bang Arman pulang ucapku pada ibu lalu memeluknya.
Kami benar-benar menantikan kedatangannya, biarlah dulu pernah ada luka di rumah ini.
Tapi semua sudah menyembuhkan dirinya masing-masing.

10 Hari yang lalu. Waktu itu pukul 9:30 malam, telepon rumah berdering dengan
semangatnya. Aku sedang serius dengan tugasku, tapi kulihat Ayah dan ibu tengah asyik
menonton TV, lalu aku putuskan untuk berdiri mengangkat telepon, tapi betapa kagetnya aku
mendengar suara di seberang sana. Suara yang sudah lama sekali tak menyentuh gendang
telingaku. Assalamualaikum, kata pertama yang diucapkannya. Ia menanyai kabarku, kabar
ayah dan kabar ibu. Otakku langsung berputar pada janjinya. Aku hanya memanggil
namanya, dadaku terasa sesak menahan tangis haru, Aku berteriak memanggil ibu tanpa
sadar.
Ibu menghampiriku. Aku melihat mata ibu berbinar seolah sudah tau siapa yang menelpon di
seberang sana, mungkin ini ikatan batin itu. Ibu berbicara sambil mendekap mulut menahan
haru sepertiku, aku hanya berdiri di samping ibu melepas tangis bahagiaku. Aku bertambah
kaget ketika ibu memanggil ayah dan memberikan gagang telepon pada ayah. Aku tidak bisa
mendengar apa yang diucapkan bang Arman pada ayah. Tapi aku benar benar senang
keluargaku telah kembali.

Setelah menutup telephone ayah kembali ke depan TV aku masih takut takut bertanya. Tapi
tanpa kusangka Ayahlah yang pertama kali mulai bercerita. Cerita itu kemudian mengalir saja
berjam-jam, meski masih ada canggung di setiap kalimat ayah, bang Arman akan pulang dua
hari lagi. Sama seperti dulu ia meninggalkan rumah ini dua hari sebelum pergi jauh ke Jawa.
kami sudah menghabiskan waktu yang panjang untuk bisa saling terbuka soal bang Arman.
Hari yang paling kami tunggu pun akhirnya tiba, tepatnya seminggu yang lalu. tapi hingga
adzan zuhur berkumandang bang Arman masih belum sampai ke rumah. Aku mecoba
menelepon tapi selalu tidak bisa tersambung. Aku dan ibu hanya mengira-ngira mungkin saja
bang Arman sengaja mematikan teleponnya untuk menghemat baterai, mungkin juga pesawat
yang dinaikinya delay. Kemungkinan-kemungkinan itu semakin bertambah seiring dengan
berputarnya jarum jam di dinding.

Hingga pukul tiga sore aku dan ibu masih berkecimpung di dapur membuat segala makanan
kesukaan bang Arman. Ayah mungkin masih sibuk dengan urusannya di kantor, tapi ia sudah
berjanji akan pulang lebih cepat. Kami benar-benar tidak memiliki kemungkinan bang Arman
tidak jadi pulang hari itu. Hanya mataharilah yang akhirnya berpulang mengantarkan malam
datang bersama rembulan terang.

Ayah sudah di rumah, aku dan ibu juga sudah menyerah pada lelah setelah seharian di dapur.
Ayah duduk di depan TV, aku dan ibu ikut duduk di sofa di sebelah ayah. Kami menatap TV
dalam senyap. Entah di mana orang yang kami tunggu-tunggu itu. Sudah banyak tanda tanya
di benak kami, namun akhirnya semua terjawab oleh presenter di TV. Semua terjawab oleh
berita yang disampaikannya. Belum sempat otak dan hatiku mencerna yang terjadi tiba-tiba
dering tefepon bergema ke seluruh ruangan, ayah dengan cepat mengangkat telepon jatungku
sudah berdetak dengan kencang kulihat ibu di sebelah juga sudah mematung. Hampa.
Makanan yang kami buat tadi siang hanya tergeletak begitu saja tanpa tersentuh oleh
pemiliknya.

Paginya jasad bang Arman sampai ke rumah ini. Bang Arman telah pulang, ia benar benar
pulang. Aku seakan berlomba-lomba meraung-raung dengan ibu. Tapi tidak dengan ayah,
ayah tidak sekalipun menangis. Tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya hingga kak
arman dimakamkan. Ayah benar benar menjadi orang yang pendiam bahkan lebih pendiam
dari biasanya. Hari ini adalah hari yang paling menakutkan bahkan lebih menakutkan dari
hari dimana kak Arman pergi. Lebih baik dia pergi daripada harus pulang. Aku hanya
menyuruhnya pulang ke rumah kami aku hanya menyuruhnya pulang ke dalam keluarga kecil
kita. Tapi ia salah mengira, ia pulang ke pangkuan penciptanya. Setiap hari namanya muncul
di TV, terakhir aku tahu ada nama seorang di sana, seseorang yang ingin ia kenalkan pada
kami. Ia pandai sekali menepati janjinya pada kami.
Ibu melepaskan pangkuannya, seketika menyadarkan aku dari kenangan yang sangat panjang
ini. Ia mengusap air matanya kemudian tersenyum.
ayo mandi, kita doakan abangmu bersama-sama suara serak ibu memilukan hatiku.