Anda di halaman 1dari 3

Prostitusi berasal dari Bahasa Latin prostituo yang artinya sebagai perilaku

terang-terangan menyerahkan diri pada perzinahan.


prostitusi n pertukaran hubungan seksual dng uang atau hadiah sbg suatu
transaksi perdagangan; pelacuran

Prostitusi adalah mempergunakan badan sendiri sebagai alat pemuas seksual


unutk orang lain dengan memperoleh atau mencapai keuntungan (Warouw)

Prostitusi adalah suatu bentuk perhubungan kelamin di luar pernikahan dengan


pola tertentu, yakni kepada siapapun secara terbuka dan hamper selalu dengan
bayaran baik untuk persebadanan, maupun kegiatan seks lainnya yang memberi
kepuasan yang diinginkan oleh yang bersangkutan. (Iwan Bloch)

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1hukum08/204711048/bab2.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18893/3/Chapter%20II.pdf

Jenis Prostitusi
Coleman, Butcher, dan Carson (1995) menyatakan ada 4 macam pelacuran yaitu
sebagai berikut:
Hubungan heteroseksual dimana pihak perempuan menerima bayaran
Hubungan heteroseksual dimana pihak laki-laki menerima bayaran
Pelacuran homoseksual dimana seorang lelaki menawarkan layanan pada
lelaki lain
Pelacuran homoseksual dimana seorang perempuan menawarkan
layanan pada perempuan lain.

Sedangkan menurut Kartini Kartono (2005) membagi jenis prostitusi menjadi:


a) Prostitusi menurut aktivitasnya :
(1) Prostitusi yang terdaftar. Prostitusi yang pelakunya diawasi oleh
bagian Vice Control dari kepolisian, yang dibantu dan bekerja sama
dengan Jawatan Sosial dan Jawatan Kesehatan.
(2) Prostitusi yang tidak terdaftar. Termasuk dalam kelompok ini ialah
mereka yang melakukan prostitusi secara gelap-gelapan dan liar,
baik secara perorangan maupun kelompok.

b) Pelacuran menurut jumlahnya :


(1) Prostitue yang beroperasi secara individual merupakan single
operator.
(2) Prostitue yang bekerja dengan bantuan organisasi dan sindikat yang
teratur rapi.

c) Pelacuran berdasarkan tempat penggolongan atau lokasinya :


(1) Segreasi atau lokalisasi, yang terisolasi atau terpisah dari kompleks
penduduk lainnya.
(2) Rumah-rumah panggilan (call houses, tempat rendezvous, parlour)

http://eprints.uny.ac.id/9718/2/Bab%202%20-07104241010.pdf
Sejarah Singkat Gang Dolly

Sejarah mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu adalah tempat pemakaman


warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini
disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly sebagai tempat prostitusi
khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly
juga disebut-sebut masih ada hingga kini malah tidak meneruskan bisnis esek-
esek ini.

Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya,


Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante
Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal
terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.

Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante


Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial.
Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya
waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu
menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.

Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak


hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan
saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK.
Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah
PSK.

Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di
sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus
yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta,
pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan
kepada para pengunjung.

Tidak hanya itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki
lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah
simbiosis mutualisme.

Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar
dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus
Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku
itu disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah
Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.

Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan
bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan
kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang
mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan
makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.

Setahun kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit
di kawasan makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut
Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama
Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan
MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal
muasal nama Dolly.

Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang
didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan
sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.

Belakangan, ramai dibicarakan bahwa tempat prostitusi ini bakal ditutup oleh
pemerintah setempat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu
aktor utama yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya
ditutup. Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang
kian menjadi akhir-akhir ini.