Anda di halaman 1dari 11

Definisi

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang merefleksikan gagalnyua


proses mencapai potensin pertumbuhan linier akibat dari kurang gizi, dan sebagai
pembuktian empiris karena distribusi tinggi badan anak yang sehat tidak dipengaruhi
oleh etnis dan ras untuk 5 tahun pertama usia mereka (Habicht, 1974)
Stunting merupakan manifestasi sebagai akibat lebih lanjut dari tingginya
angka Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kurang gizi pada masa balita, serta tidak
adanya pencapaian perbaikan pertumbuhan yang sempurna pada masa berikutnya
(Karlberg, 1994)
Stunting adalah suatu akibat lebih lanjut dari tingginya angka Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) dan kurang gizi pada masa balita serta tidak adanya pencapaian
perbaikan pertumbuhan yang sempurna

Dampak
Dampak yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting diantaranya:
1. Anak stuntinglebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami
stuntinglebih berat menjelang usia dua tahun. Akibat jangka panjang yang
ditimbulkan adalah terganggunya perkembangan fisik, mental, kognitif dan intelektual
sehingga anak tidak mampu belajar secara optimal. Anak stuntingmempunyai
kemampuan kognitif yang rendah dan meningkatkan risiko kematian. (UNICEF,1998)

2. Anak stunting pada usia lima tahun cenderung tidak dapat diperbaiki sehingga
akan berlanjut sampai dewasa. Wanita dewasa yang stunting berisiko melahirkan anak
dengan BBLR. (Allen,2001)

DAMPAK KOGNITIF
Anak-anak dengan stunted cenderung lebih lama masuk sekolah dan lebih sering
absen dari sekolah dibandingkan anak-anak dengan status gizi baik. Hal ini
memberikan konsekuensi terhadap kesuksesan anak dalam kehidupannya dimasa
yang akan datang.
DAMPAK FISIK
-Adanya fenomena barker, yaitu dampak lanjutan dari stunted yang berefek pada
kesehatan dan produktivitas anak.
-Anak tersebut lebih mudah terserang penyakit Diabetes mellitus, jantung koroner dll
Dampak mental

Faktor Stunting
Pengetahuan Gizi
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui panca indera. Pengetahuan gizi dipengaruhi juga oleh tingkat
pendidikan (Notoatmodjo, 2005). Menurut hasil penelitian Irawati, A., dkk (1992)
tentang pengetahuan gizi murid SD dan SLTP di Kodya Bogor menemukan bahwa
tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam
pemilihan makanan. Kurangnya pengetahuan gizi, ketidakteraturan perilaku dan
kebiasaan makanan dapat menjadi penyebab terjadinya masalah gizi.
Hasil penelitian Irawati, 1998 tentang pemberian tambahan pengetahauan gizi
dan kesehatan pada murid SD menyatakan bahwa pengetahuan gizi sebaiknya
diberikan sejak dini sehinga dapat memberi kesan mendalam dan dapat menuntun
anak dalam memilih makanan yang tepat. Selain itu, anak juga dapat memahami dan
menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengkonsumsi makanan yang sehat
dalam kehidupan sehari-hari menurut. Pengetahuan gizi anak selain didapat dari orang
tua dan lingkungan sekitar juga dapat diperoleh dari berbagai media seperti televisi
(iklan), radio, koran, spanduk dan pendidikan gizi yang diperoleh dari sekolah.

Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi merupakan penyebab langsung pada masalah gizi. Hadirnya
penyakit infeksi dalam tubuh anak akan membawa pengaruh terhadap keadaan gizi
anak. Sebagai reaksi pertama akibat adanya infeksi adalah menurunnya nafsu makan
anak yang berarti bahwa berkurangnya masukan (intake) zat gizi ke dalam tubuh
anak. Keadaan berangsur memburuk jika infeksi disertai muntah yang mengakibatkan
hilangnya zat gizi. Penyakit yang tidak menguras cadangan energi sekalipun, jika
berlangsung lama dapat mengganggu pertumbuhan karena menghilangkan nafsu
makan anak (Arisman, 2004).
Sedangkan menurut Bukit (1999) penyakit infeksi dapat memberikan dampak
terhadap status gizi dan sebaliknya, penyakit infeksi juga dapat diawali oleh status
gizi kurang. Sisi lain keadaan malnutrisi mempengaruhi respons imun tubuh yang
akhirnya juga berpengaruh terhadap perjalanan penyakti infeksi. Pada anak yang
menderita diare berulang dan lama akan mempunyai berat badan lebih rendah dari
pada anak yang tidak pernah menderita diare. Diare yang berat dan berulang akan
menyebabkan seorang anak menderita KEP dan keadaan ini menyebabkan tingginya
hambatan pertumbuhan, morbiditas dan mortalitas.

Faktor Status Gizi


Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan
sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan
masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada
data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang
hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku
orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha,
2001).
3) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan
keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja
bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum,
1991).
4) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan
(Soetjiningsih,
Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
1) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua
dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
2) Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya
memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan
anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup
ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all, 1986).
3) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan
kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

Tanda-tanda stinting
CIRI-CIRI STUNTING PADA ANAK
- Anak yang stunted, pada usia 8-10 tahun lebih terkekang/tertekan (lebih pendiam,
tidak banyak melakukan eye-contact) dibandingkan dengan anak non-stunted jika
ditempatkan dalam situasi penuh tekanan.
- Anak dengan kekurangan protein dan energi kronis (stunting) menampilkan
performa yang buruk pada tes perhatian dan memori belajar, tetapi masih baik dalam
koordinasi dan kecepatan gerak.
- Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah 5cm/tahun decimal
- Tanda tanda pubertas terlambat (payudara, menarche, rambut pubis, rambut ketiak,
panjangnya testis dan volume testis
- Wajah tampak lebih muda dari umurnya
- Pertumbuhan gigi yang terlambat

Pencegahan
Pencegahan kasus stunting sendiri secara umum bias dilakukan dengan beberapa cara;
1. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai beumur 6 bulan. Setelah itu
anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang
sesuai dengan tingkatan umur.
2. Anak diberikan makanan bervariasi, seimbang antara kandungan protein,
lemak, vitamin, dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal
10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya
karbohidrat.
3. Rajin menimbang dan mengukur tinggi badan anak dengan mengikuti program
posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak
sesuai segera konsultasikan hal itu ke dokter.
4. Yang terpenting adalah gizi ibu pada masa kehamilan harus dijaga dengan baik
karena memiliki pengaruh yang besar pada bayi.
Beberapa langkah pencegahan diatas dirangkum dalam beberapa program yang
dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satu program tersebut adalah SUN
Movement atau Scaling Up Nutrition Movement. Cara lainnya adalah dengan
mengikuti seminar yang diselenggarakan lembaga dunia, misalnya seminar dan
pameran pangan nasional Jakarta Food Security Summit: Feed Indonesia Feed the
World yang digelar tahun 2012, memberikan pelatihan khusus bagi petugas kesehatan,
bidan, ahli gizi, dan relawan masyarakat untuk menangani dengan cepat kasus gizi
buruk, meningkatkan anggaran untuk memperbaik mutu pelayanan kesehatan, serta
kualitas pangan dan lainnya.
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/
196710051993022-AI_NURHAYATI/Ibu_Hamil.pdf

http://mca-indonesia.go.id/wp-content/uploads/2013/10/Gerakan-Nasional-
Percepatan-Perbaikan-Gizi.pdf

Scaling Up Nutrition Movement atau Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi


meupakan suatu upaya bersama pemerintah dan masyarakat secara terencana dan
terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat dengan prioritas pada
seribu hari pertama kehidupan. Gerakan ini bertujuan untuk percepatan perbaikan gizi
masyarakatdengan memprioritaskan seribu hari pertama kehidupan. Gerakan ini
bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi untuk memenuhi hak dan
berkembangnya potensi ibu dan anak sehingga dapat menurunkan angka kekurangan
gizi di Indonesia.
Gerakan ini difokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan (270 hari selama
kehamilan dan 730 hari dari kelahiran sampai usia 2 tahun). Mengapa 1000 hari
pertama kehidupan itu penting? Karena masalah gizi dan kesehatan bukan disebabkan
oleh factor genetic seamta melainkan dominan paling besar disebabkan oeh factor
lingkungan hidup yang dapat diperbaik dengan focus pada 1000 hari pertama. Dalam
jangka pendek, gizi yang baik pada 1000 hari pertama kehidupan dapat menunjang
perkembangan otak, pertumbuhan massa tubuh dan komposisi badan, serta
metabolism glukosa, lipid, protein, hormone/reseptor/gen. Sedangkan dalam jangka
panjang, gizi yang baik akan berpengaruh pada kognitif dan prestasi belajar
seseorang, kekebalan dan kapasitas kerja, serta merendahkan resiko penyakit diabetes,
obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, dll.
Cara kerja dari gerakan ini terbagi menjadi 3 periode:
1. Periode dalam kandungan (280 hari)
Seorang ibu hamil harus memastikan bahwa dirinya cukup zat besi (Fe) dan vitamin
A, dimana kedua zat ini berguna bagi janin di awal kehidupan. Asam folat yang cukup
bahkan sebelum kehamilan dapat mengurangi resiko neural tube effect (tidak
tertutupnya tempurung kepala/tulang belakang dengan sempurna).
Seorang wanita hamil juga harus mempertahankan berat badan idealnya. Terlalu kurus
dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah, terlalu gemuk cenderung mengalami
komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional, hipertensi selama kehamilan, dan
bahkan operasi Caesar.
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi tablet tambah darah, asam folat, dan
vitamin C untuk mencegah ibu mengalami anemia.
2. Periode 0 6 bulan ( 180 hari )
Kunci utama dalam periode ini adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif.
Artinya bayi hanya mengonsumsi ASI saja. Pemberian ASI Eksklusif dapat
menurunkan angka kematian bayi hingga 13%. Serta dapat mencegah malnutrisi, baik
gizi kurang maupun gizi lebih.
Memasuki kehamilan trimester ke-3, sebaiknya ibu dan suami sudah mencari
informasi tentang menyusui, seperti manfaat menyusui, posisi, teknik yang tepat, serta
cara mengatasi masalah-masalah yang mungkin muncul saat menyusui.
3. Periode 6 24 bulan (540 hari)
Mulai usia 6 bulan, anak mulai diberikan makanan pendamping ASI karena sejak usia
ini, ASI saja tidak mencukupi kebutuhan anak. ASI hanya memenuhi 50% dari
kebutuhan anak. Bahkan hanya memenuhi sekitar 10% kebutuhan zat besi anak.
Untuk usia 6-8 bulan, berikan makanan lumat 2-3 kali sehari. Pada usia 9-11 bulan,
berikan makanan lembek atau cincang dengan frekuensi 3-4 kali sehari, dan usia 12-
24 bulan berikan makanan keluarga dengan frekuensi 3 kali sehari dengan selingan 2
kali.

Penanggulangan
A. Peran Puskesmas
Mengatasi masalah medis yang mengatasi gizi buruk stunting
seperti : mengaktifkan posyandu , memberi suplementasi gizi , pelayanan kesehatan
dasar (puskesmas) .
Penyuluhan gizi melalui promosi Kadarsi ( Keluarga sadar gizi)
misalnya : ASI ekslusif , Gizi seimbang
Perawatan Balita / keluarga gizi buruk dan stunting : Balita yang sembuh dan
perlu PMT (Pemberian makanan tambahan) , perlu dikembalikan kepada pemulihan
gizi untuk di berikan PMS dan Balita yang sembuh , Tidak perlu PMT , di kembalikan
kepada masyarakat tetapi tetap melakukan pengontrolan / Pendampingan pasca
perawatan.
Mengoptimalkan surveilans berbasis masyarakat melalui SKDN ( sistem
kewaspadaan diri) KLB ( Kejadian Luar Biasa) Gizi buruk , sistem kewaspadaan
pangan dan gizi (SKGP) , untuk meningkatkan program manajemen gizi.

B. Peran Pemerintah :
pemerintah melakukan program2 untuk mencegah dan menanggulangi kurang gizi
dan stunting
Program positive deviance : Positive Deviance (PD) atau penyimpangan
positive adalah sebuah program baru di dalam dunia kesehatan, yang bertujuan untuk
menangani kasus gizi buruk atau gizi kurang bagi anak-anak Balita yang ada di
seluruh Indonesia. Disebut dengan penyimpangan positive karena anak-anak
penderita gizi buruk yang berada di satu lingkungan bisa mencontoh perilaku hidup
sehat anak-anak yang tidak menderita gizi buruk.Program PD ini lebih
mengembangkan konsep pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat secara penuh
untuk mengatasi masalah gizi buruk, sangat jauh berbeda dengan program PMT
(Pemberian Makanan Tambahan) yang dikembangkan oleh pemerintah.
Pemerintah siapkan taburia
Suplementasi lewat Taburia adalah solusi jangka pendek un
tuk mengatasi kekurangan nut-risi. Idealnya, tetap melalui perubahan pola makan
menjadi lebih seim
bang dan beragam, kata
dr Minarto. Suplemen Taburia mengandung vitamin dan mineral. Cara pakainya
relatif lebih gampang, tinggal ditaburkan ke atas makanan. Taburia berupa serbuk
tabur mengandung 12 vitamin dan empat mineral penting, yakni yodium, selenium,
seng dan zat besi. Seluruhnya merupakan nutrisi pokok yang dibutuhkan dalam masa
tumbuh kembang anak yang berusia antara 6-24 bulan. Selain harus segera disantap
sampai habis, Taburia sebaiknya tidak dicampur dengan makanan panas karena lemak
yang menyelubungi zat besi bisa rusak sehingga memicu rasa tidak enak.
Program keluarga Harapan ( PKH) Memberikan bantuan kepada masyarakat (
rumah Tangga) yang miskin
bantuannya bersifat langsung ( tunai)
Raskin (beras Miskin) pembagian beras kepada masyarakat
Pemberian ASI EKSLUSIF ( peyuluhan ) tentang ASI manfaat2nya
SUN ( scaling up Nutrition)
Scaling Up Nutrition adalah dorongan global untuk tindakan dan investasi untuk
meningkatkan gizi ibu dan anak. Eveidence menunjukkan bahwa nutrisi yang tepat
selama 1000 hari antara kehamilan seorang wanita dan ulang tahun kedua anaknya
memberikan anak-anak awal yang sehat dalam hidup. Gizi buruk selama periode ini
mengarah pada konsekuensi ireversibel seperti pertumbuhan terhambat dan
perkembangan kognitif terganggu. Meningkatkan gizi merupakan prasyarat untuk
mencapai tujuan pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka
kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan memerangi penyakit - yang semua
berkontribusi untuk masa depan yang lebih kuat bagi masyarakat dan bangsa.

Kadarzi (keluarga sadar Gizi)


keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mengerti dan memahami penting fungsi
serta manfaat gizi . mampu mengenal mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap
anggota keluarganya. Misalnya : rutin menimbang berat badan ( chek up) ,
membrikan ASI ekslusif, mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam ( asupan gizi
terpenuhi), minum suplemen gizi , masak menggunakan garam beryodium,
Sistem kerawanan pangan dan gizi
Kerawanan pangan juga dapat didefinisikan sebagai kondisi apabila rumah
tangga (anggota rumah tangga) mengalami kurang gizi sebagai akibat tidak cukupnya
ketersediaan pangan (physical unavailability of food), dan/atau ketidak mampuan
rumah
tangga dalam mengakses pangan yang cukup, atau apabila konsumsi makanannya
(food intake) berada dibawah jumlah kalori minimum yang dibutuhkan.
Terjadinya kondisi kerawanan pangan dapat disebabkan oleh banyak faktor,
namun setidaknya dapat disebabkan oleh antara lain: (a) tidak adanya akses secara
ekonomi bagi individu/rumah tangga untuk memeperoleh pangan yang cukup; (b)
tidak
adanya akses secara fisik bagi individu rumah tangga untuk memperoleh pangan yang
cukup; (c) tidak tercukupinya pangan untuk kehidupan yang produktif individu/rumah
tangga; dan (d) tidak terpenuhinya pangan secara cukup dalam jumlah, mutu, ragam,
keamanan, serta keterjangkauan harga. Di samping itu, kerawananan pangan dapat
dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya.
Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan menurunnya daya beli pangan akan
memperburuk konsumsi energi dan protein masyarakat.
Kondisi rawan pangan dapat dibedakan berdasarkan waktunya yaitu rawan
pangan kronis dan rawan pangan transien. Rawan pangan kronis adalah
ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar minimum kebutuhan pangan
anggotanya pada periode lama karena keterbatasan kepemilikan lahan, asset
produktif, dan kekurangan pendapatan. Sedangkan rawan pangan transien adalah
suatu keadaan
rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara yang disebabkan oleh
perbuatan manusia maupun alam.
Kerawanan pangan di Indonesia dapat diketahui dari tingkat kecukupan gizi
masyarakat yang diukur dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG merupakan tingkat
konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi
hampir semua orang sehat di suatu negara. AKG diperoleh dari data Susenas BPS
yang dikumpulkan setiap triwulan dalam tahun.

Target MDGS
Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui
agar semua negara:

Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan

Pendapatan populasi dunia sehari $10000.

Menurunkan angka kemiskinan.

Mencapai pendidikan dasar untuk semua

Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam
pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua
tingkatan pada tahun 2015.

Menurunkan angka kematian anak

Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak
usia di bawah 5 tahun.

Meningkatkan kesehatan ibu

Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam
proses melahirkan.

Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran


HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya.

Memastikan kelestarian lingkungan hidup

Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam


kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya
lingkungan.
Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah
orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.

Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang


signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di
daerah kumuh.

Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan


yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk
komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan
tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.

Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang,


dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan
kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka;
meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar;
pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan
resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.

Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang


negara-negara berkembang.

Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah


hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat
hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.

Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.

Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat


penting yang terjangkau dalam negara berkembang

Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan


keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan
komunikasi.

Cara Mengukur Status Gizi Anak


Penilaian Status Gizi
Menurut Supariasa (2001) penilaian status gizi dibagi menjadi dua, yaitu secara
langsung dan tidak langsung.

Penilaian Gizi Secara Langsung, dapat dilakukan dengan:

Antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri gizi
adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum
digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.
Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.
Antropometri sebagai indicator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur
beberapa parameter, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit.
Beberapa indeks antropometri
yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan
menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status gizi berdasarkan atas
perubahanperubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi,
seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau organ yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan. Jaringan tubuh
yang digunakan antara lain darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh
seperti hati dan otot.

Biofisik
Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan
melibat kemamapuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan.

Penilaian Status Gizi secara Tidak Langsung, di bagi menjadi tiga yaitu :

Survey Konsumsi Makanan


adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah
dan jenis zat dan gizi yang dikonsumsi. Kesalahan dalam survey
makanan bias disebabkan oleh perkiraan yang tidak tepat dalam menentukan jumlah
makanan yang dikonsumsi balita, kecenderungan untuk mengurangi makanan yang
banyak dikonsumsi dan menambah makanan yang sedikit dikonsumsi (The Flat
Slope Syndrome ), membesar-besarkan konsumsi makanan yang bernilai sosial
tinggi, keinginan melaporkan konsumsi vitamin dan mineral tambahan kesalahan
dalam mencatat (food record ).

Statistik Vital
Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesebatan seperti angka kematian
berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian karena penyebab tertentu dan
data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

Faktor Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi antara beberapa
faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang
tersedia sangat tergantung dan keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-

lain.

Indeks antropometri
Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Beberapa indeks
antropometri, sebagai berikut:

BB/U (Berat Badan terhadap Umur)


- Indikator status gizi kurang saat pengukuran.
- Sensitif terhadap perubahan kecil.
- Terkadang umur secara akurat sulit didapat.
- Untuk monitoring pertumbuhan.
- Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure.

TB/U (Tinggi Badan terhadap Umur)


-Indikator status gizi kurang saat pengukuran
- Indikator status gizi jangka panjang.
- Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa.
- Skrining anak sehat dengan perawakan pendek ( stunting), dengan interpretasi
pendek (< -3 SD), normal (-3 SD sampai 97), dan tinggi (> 97 SD) Terkadang umur
secara akurat sulit didapat.

BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan)


- Memberikan informasi pertumbuhan dan status gizi pada seorang anak, lebih
akurat dalam mengklasifikasikan status gizi pada anak, untuk skrining anak sehat
maupun pada anak malnutrisi energi protein
- Diinterpretasikan menjadi BB kurang (< -5 SD), BB normal (-5SD sampai 95 SD),
dan BB lebih (> 95 SD).

Baku acuan (data reference )


Terdapat dua jenis baku acuan, yaitu lokal dan internasional. Ada berbagai
macam baku acuan internasional seperti Tanner, Harvard, atau NCHS.
Indonesia menggunakan baku acuan internasional WHO-NCHS Z-score.
Ada 2 cara penghitungan status gizi dengan cara Z-score, yaitu:
a)Bila Nilai Riel hasil pengukuran Nilai Median BB/U, TB/U, atau
BB/TB, maka rumusnya:
Z-Score = Nilai Riel Nilai Median : SD Upper

b)Bila Nilai Riel hasil pengukuran Nilai Median BB/U, TB/U,atau


BB/TB, maka rumusnya:
Z-Score = Nilai Riel Nilai Median : SD lower