Anda di halaman 1dari 5

VIII.

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan yang berjudul isolasi minyak jahe memiliki beberapa tujuan yaitu
memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, memilih
bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan, dan mengisolasi minyak jahe
dari rimpang jahe dengan cara yang tepat. Metode yang digunakan pada percobaan ini
adalah metode soxhletasi dan cairan yang terbentuk pada labu ekstraktor kemudian
diuapkan menggunakan evaporator untuk mendapatkan filtrate yang akan dihitung
massa rendemennya dan diukur indeks biasnya. Selain itu, pada percobaan ini juga
menentukan kadar air dari jahe.
Sebelum melakukan percobaan terlebih dahulu membersihkan dan mengeringkan
rimpang jahe. Ketika jahe sudah kering, jahe digiling atau dihaluskan untuk
memperoleh serbuk jahe. Serbuk jahe inilah yang akan digunakan sebagai sampel
percobaan.
Serbuk jahe ditimbang sebanyak 1 gram dan 10 gram. Serbuk jahe yang
ditimbang sebanyak 1 gram digunakan untuk menentukan kadar air, sedangkan serbuk
jahe dengan berat 10 gram digunakan untuk menentukan rendemen dan indeks bias.
Langkah pertama yaitu menentukan kadar air dari jahe kering. Serbuk jahe kering
berwarna kuning kecoklatan ditimbang dengan neraca ohaus dengan teliti sebesar 1 gram.
Setelah itu sebanyak 1 gram serbuk jahe kering dimasukkan ke dalam oven dengan suhu
110 0C selama 5 menit serbuk jahe tetap berwarna kuning kecoklatan dan menimbulkan
bau khas jahe. Kemudian ditimbang lagi dan didapatkan massanya 0,88 g. Selanjutnya
jahe dimasukkan ke dalam oven kembali untuk mendapatkan massa yang konstan.
Pengovenan dilakukan sebanyak 3 kali. Didapatkan massa pada pengovenan kedua,
ketiga dan keempat adalah 0,88 gram, 0,88 gram dan 0,88 gram. Sehingga dari massa
jahe yang didapatkan secara konstan, dapat dihitung persen kadar air jahe menggunakan
rumus :.

Rumus penentuan kadar air adalah:


= 100%

1 0,88
=
100%
1
0,12
=
100%
1
=12%

Dari percobaan ini didapatkan kadar air jahe kering sebesar 12 %. Hal ini sesuai dengan
teori yaitu kadar air pada jahe adalah 7-12%. (Mamum, 2006)

Pada langkah selanjutnya yaitu serbuk jahe yang telah ditimbang sebanyak 10
gram kemudian dibungkus menggunakan kertas saring. Kertas saring ditali dibagian
atas dan bawah. Serbuk jahe yang telah dibungkus menggunakan kertas saring
kemudian dimasukkan ke dalam alat ekstrak soxhlet. Labu ekstraksi diisi dengan
pelarut n-heksan.
Pelarut yang digunakan adalah n-heksan karena menurut Hart, 2003 ada beberapa
syarat pelarut yang digunakan dalam proses soxhletasi antara lain, menggunakan
pelarut yang mudah menguap, titik didih pelarut rendah, pelarut tidak melarutkan
senyawa yang diinginkan, pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi, pelarut
tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan, dan sifatnya sesuai dengan
senyawa yang akan diisolasi. Dari beberapa syarat yang telah disebutkan n-heksan
sesuai sebagai pelarut untuk isolasi minyak jahe karena n-heksan memiliki sifat volatile
(mudah menguap). Titik didih n-heksan lebih rendah daripada minyak atsiri jahe yaitu
sebesar 50o-70oC, sehingga n-heksan lebih mudah diuapkan karena memiliki titik didih
yang berbeda dengan minyak atsiri (Ansari, 2014). Sifat n-heksan juga sesuai dengan
minyak atsiri pada jahe, yaitu sama-sama nonpolar.
Setelah itu alat soxhlet dirangkai. Selama proses soxhletasi, pelarut yang
dipanaskan akan menguap dan mengalami pendinginan sehingga uap berubah fasa
menjadi cair. Cairan inilah yang akan memenuhi ruang yang ditempati bungkusan
serbuk jahe. Di dalam ruang tersebut cairan akan berwarna kuning. Ekstrak tersebut
ditunggu dan diamati hingga tidak berwarna.
Ketika ekstrak tidak berwarna, pelarut yang berada dalam labu ekstrak sedikit
demi sedikit akan berubah warna dari yang semula tidak berwarna menjadi berwarna
jingga. Saat dilakukan pengamatan hingga ekstrak tidak berwarna dihitung berapa kali
cairan turun ke labu ekstraksi. Banyaknya cairan yang turun hingga ekstrak tidak
berwarna yaitu sebanyak 27 kali.
Setelah ekstrak tidak berwarna, proses soxhletasi dihentikan. Sebelum diuapkan
menggunakan evaporator, labu ekstraksi dibiarkan dingin terlebih dahulu agar
memudahkan praktikan untuk memegang labu ekstrak. Kemudian larutan ditambahkan
butiran Na2S2O3 yang berwarna putih. Fungsi penambahan butiran Na2S2O3 yaitu untuk
memisahkan minyak jahe dari pelarutnya dan dari kandungan air yang masih tersisa.
karena Na2SO4 anhidrat bersifat mengikat air di dalam minyak atsiri. Selanjutnya
diuapkan menggunakan evaporator yang bertujuan untuk memekatkan ekstrak yang
telah diperoleh dan memurnikan kembali pelarut n-heksan yang digunakan. Kemudian
mengatur alat evaporator pada suhu 30oC dengan tekanan 70oC. Ekstrak jahe yang telah
dipekatkan akan berwarna kuning kecoklatan dan sisa pelarut n-heksan ditampung
kembali kemudian dilakukan pengukuran volume pada pelarut sisanya. Selanjutnya
dihasilkan filtrat berwarna jingga agak kental dan residu tidak berwarna. Volume sisa
pelarut n-heksan yang kami gunakan ialah sebesar 83 mL dari volume awal pelarut
sebesar 150 mL.
Filtrat berwarna jingga agak kental dari ekstrak jahe yang diuapkan kemudian
dihitung massa rendemen minyak jahenya. Dihasilkan massa filtrat ekstrak jahe sebesar
0,3669 gram dihitung menggunakan rumus :


Rendemen minyak jahe = x 100 %

0,3669
Rendemen minyak jahe = 10,1187 x 100 %

Rendemen minyak jahe = 3,62 %

Menurut Keteren dan Djatmiko (1978) minyak jahe dapat diperoleh dengan cara
destilasi dari rhizoma kering dengan rendemen antara 13%. Sifat-sifat minyak jahe
antara lain adalah minyak yang mudah menguap, berwarna kehijau-hijauan sampai
kekuning-kuningan, namun pada umumnya berwarna kuning muda yang merupakan
cairan yang agak kental, bau yang khas dan tahan lama, stabil dalam alkali lemah, tetapi
tidak stabil dalam asam dan basa pekat, larut dalam benzyl benzoate, diethyl phtalat dan
minyak mineral dengan segala perbandingan, tetapi sedikit larut dalam alkohol, namun
tidak larut dalam propylene glikol. Pada percobaan kami diperoleh rendemen minyak
jahe sebesar 3,62 % sehingga percobaan kami tidak sesuai dengan teori dan akan
dibahas lebih lanjut pada diskusi. Kemudian minyak jahe diuji indeks biasnya
menggunakan alat refraktor dan dihasilkan indeks bias minyak jahe sebesar 1,487235.
Hal ini sesuai dengan teori karena menurut Anwar, dkk (1994) indeks bias rendemen
minyak jahe sebesar 1,4850-1,4920. Selain itu indeks bias n-heksan juga dihitung
menggunakan alat reflaktor, dan didapatkan indeks bias sebesar 1,383023. Menurut
Anwar, Et al (1994) indeks bias n-heksan sebesar 1,375-1,3810, sehingga indeks bias n-
heksan dari percobaan kami tidak sesuai dengan teori sehingga akan dibahas lebih
lanjut pada diskusi.
DISKUSI
Pada diskusi kali ini yaitu pada penentuan rendemen minyak yang dihasilkan tidak
sesuai dengan teori, hal ini dikarenakan mungkin sesuai dengan hasil penelitian Balai
Besar Industri Hasil Pertanian (BBIHP) Bogor membuktikan bahwa rimpang yang
tidak dikupas menghasilkan rendemen 2,43,6%, sedangkan yang dikupas hanya 1,9
3,0% dengan kadar air rimpang sekitar 1012% karena jahe yang kita gunakan tidak
dikupas kulitnya dan mungkin kurangnya ketelitian saat pengukuran. Pada percobaan
penentuan indeks bias pada n-heksan juga tidak sesuai dengan teori karena menurut
teori indeks bias n-heksan adalah sebesar 1,375-1,3810, sedangkan indeks bias dari
percobaan kami adalah 1,383023. Hal ini dikarenakan kemungkinan refraktometer
kurang bersih dan kurang teliti dalam pengukuran.
IX. KESIMPULAN
Pada percobaan isolasi minyak jahe yang menggunakan metode soxhletasi dan
diuapkan menggunakan evaporator diperoleh rendemen minyak sebesar 3,62 %
dan indeks bias minyak jahe sebesar 1,487235 dan indeks bias n-heksan sebesar
1,383023.
Pada penentuan kadar air pada jahe sebesar 12 % dan hal ini sesuai dengan teori.