Anda di halaman 1dari 16

DENIFISI MC 0%

Mutual Check Nol adalah suatu bentuk laporan setiap jenis item uraian pekerjaan yang
dilengkapi dengan Berita Acara Pemeriksaan Lapangan Bersama (MC 0%), Berita Acara Serah
Terima Lapangan (BA MC 0%), Schedule, Dan Rekap MC 0%.
Mutual check nol (MC 0%) pasti akan kita jumpai pada saat melaksanakan suatu pekerjaan
dan ini menjadi salah satu kelengkapan yang wajib dibuat dan dilaksanakan karena ini akan
berpengaruh terhadap pekerjaan yang akan kita laksanankan apakah mengalami perubahan
Misal volume bertamabah atau berkurang dan apakah tetap.

Membuat mutual check nol (MC 0%) secara umumnya akan di sesusaikan dengan standarisasi
harga satuan yang telah di tetapkan pada proses
Pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau pada saat melakukan penawaran (pelelangan)
sehingga kita tidak bisa asal merubah atau menentukan harga sendiri. Garis besar dari
pembuatan mutual check adalah berupa laporan prosentase (%) dari semua item pekerjaan
yang akan dilaksanakan.

ISI MC 0%

Pada mutual check nol (MC 0%) memiliki beberapa bagian yang perlu kita ketahui yaitu:
Nama Paket pekerjaan dan Alamat
Jenis uraian pekerjaan
Harga Satuan
Volume Kontrak

Pada Nama Paket pekerjaan dan Alamat ini merupakan hal penting sebagai pengenal atau
identitas suatu proyek dalam pembuatan MC 0% kita, sehingga tidak mungkin suatu proyek
tanpa memiliki nama.

Pada jenis uraian pekerjaan ini yang kita kenal pada umumnya terdapat beberapa bagian yang
akan di hitung seperti, mobilisasi, manajemen dan keselamatan, pengalaman lingkungan
hidup, manajemen mutu.dan lain sebagainya.

Pada harga satuan pada umumnya kita mengenal yang namanya ukuran ataupun satuan
misalnya, Ls, zak, m, ton, kg, liter, buah, jam, buah dan lain sebagainya. Harga satuan
sangatlah penting karena berpengaruh besar terhadap harga terutama bahan.

Pada volume kontrak , untuk volume kontrak ini pada umumnya juga sudah di tetapkan dan
ini sangat berhubungan dengan harga satuan sehingga harga ataupun volume setiap
pekerjaan dapat di pekirakan pada setiap jenis pekerjakan yang akan dilaksanakan. Kalaupun
harus berbeda jumlah volume maka harus dituangkan dalam CCO maka sebelum itu harus
diawali dengan perhitungan volume MC 0% atau backup volume 0% secara jelas dan benar
bila mana ada orang yang awam bisa melihat selisih dari volume pekerjaan.

Untuk yang lebih jelasnya mutual check nol (MC 0%) ini sebuah bentuk laporan dari semua
jenis pekerjaan antara kontrak kerja dan kajian atau
Perhitungan teknis yang direncanakan dan akan dilaksanakan dilapangan. Jadi dengan
membuat mutual check nol kita bisa mengetahuai setiap perbandingan dengan volume
kontrak kerja dengan kajian atau perhitungan teknis yang akan dilaksanakan.

Dan persentase pekerjaan tambah kurang setiap pekerjaan itu di ketahui, perbandingan antara
volume kontrak dengan kajian tekniks pada umumnya tidak jauh berbeda dan hasil antara
volume kontrak dengan volume kajian teknik sama sama 100 % atau klop.
TATA URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

UNTUK LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH (DAN SWASTA)

Suatu pekerjaan memiliki standar acuan tersendiri sesuai dengan Dokumen


Rencana Kerja (RKS) atau Dokumen Lelang/Tender. Di dalam dokumen tersebut, telah
dimuat hal-hal yang terkait dengan suatu pekerjaan sebelum, sedang, dan setelah
dilaksanakan. Dalam tulisan ini tidak akan dibahas tentang dokumen tender. Namun
akan membahas pelaksanaan pekerjaan di lapangan setelah Pemenang Tender
menandatangani SPK dan Pengajuan Uang Muka (jika ada). Pekerjaan-pekerjaan yang
dilakukan secara umum adalah:

1. Rapat PraKonstruksi (RPK)


Rapat yang diusulkan oleh salah satu dari para Pihak yang terdapat di dalam Kontrak
suatu Pekerjaan. Rapat ini bisa diusulkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau
bisa juga diusulkan oleh Kontraktor Pelaksana Pekerjaan. Rapat ini dihadiri oleh semua
pihak yang terkait pekerjaan: PPK beserta Direksi Pekerjaan, Kontraktor, dan Konsultan
Pengawas.

Hal-hal yang dibahas di dalam RPK adalah antara lain: 1) Pengukuran Ulang
(Uitzet), 2) Pembuatan Laporan Pekerjaan, 3) Tata Cara Opnam, 4) Prosedur Penagihan
Prestasi Pekerjaan, 5) Serah Terima Pekerjaan, dan lain-lain. Di bawah ini akan
disinggung masing-masing secara singkat dan sederhana.

2. Pengukuran Ulang Lapangan (Uitzet)


Pengukuran Ulang Lapangan di awal suatu pekerjaan untuk memastikan berapa
besar perubahan yang terjadi akibat pelaksanaan dari perencanaan yang ada. Suatu
perencanaan masih mengandung galat. Pelaksana Pekerjaan, Direksi Lapangan, dan
Konsultan Pengawas harus memastikan lagi legalitas kepastian pekerjaan. Pengukuran
ulang ini menghasilkan Laporan MC-0 yang dilampiri Gambar Rencana Pelaksanaan
Kerja, Kurva S, Foto Pekerjaan 0%, dan Lampiran-lampiran yang diperlukan. Semua
dokumen yang dihasilkan dalam Pengukuran Ulang ini wajib disetujui oleh para pihak.
Besarnya perubahan yang ditemukan dibuatkan Dokumen Perubahan.
Dokumen perubahan bisa berbentuk Dokumen Tambah Kurang (Change Contract
Order) atau Dokumen Tambahan (Addendum). Hal ini tergantung mazab yang
digunakan di suatu satuan kerja. Selain itu, terkadang Dokumen Perubahan ini bisa
berbentuk serial sepanjang pekerjaan dilaksanakan, sehingga tim yang diusulkan
dalam Dokumen Perubahan ini pun disesuaikan dengan tingkat perubahan yang
dialami. Semakin berat tingkat perubahan, maka Tim yang diusulkan (dibentuk)
semakin lengkap dan lintas sektoral. Jika perubahan hanya kecil, maka Tim yang
dibentuk cukup sesuai dengan yang ada di Dokumen Kontrak. Jika perubahan yang
ditemukan besar bahkan berpengaruh terhadap pasal-pasal dalam Kontrak, maka
harus melibatkan Bidang Hukum, Perencanaan, dan lain-lain. Selain itu, dokumen
perubahan yang besar, diperlukan Justifikasi Teknis dan Tim Negosiasi Harga.
Dokumen Perubahan tidak akan dibahas pada kesempatan ini, karena terdapat
berbagai pendapat tentang dokumen perubahan (tambah-kurang) sesuai jenis kontrak,
tingkat perubahan, dan kepentingan pekerjaan.

3. Pembuatan Laporan Pekerjaan:


Dokumen-dokumen yang dihasilkan dalam Pengukuran Ulang dipakai sebagai
Acuan dalam pembuatan Laporan Harian, Mingguan, Bulanan, dan Kurva S:
a. Laporan Harian
Laporan yang dibuat dari data prestasi pekerjaan harian yang dibuat oleh Kontraktor
Pelaksana. Laporan ini memuat sekurang-kurangnya:

1) Identitas Pekerjaan
2) Hari ke. Minggu ke dan Bulan ke.
3) Isi Laporan Harian:
a) Laporan Utama
b) Daftar Tenaga Kerja yang terlibat.
c) Daftar Peralatan yang digunakan.
d) Cuaca.
e) Alasan Percepatan/Kelambatan Pekerjaan.
4) Laporan Utama:
a) Acuan RAB Uitzet
b) Dibuat Bobot Persentase per Item Pekerjaan.
c) Bobot Prestasi Pekerjaan Hari Lalu, Hari Ini, dan Total Bobot Prestasi
d) Sisa Bobot Pekerjaan setelah dikurangi Total Capaian Bobot Prestasi Pekerjaan sampai
dengan Hari ini.
e) Format Laporan Harian secara umum dapat dilihat pada tabel berikut:

No Uraia Bobo Prestasi Pekerjaan* Harg Jumla Bobot Hari ini Sisa
n t (%) Hari Hari s.d. a h (%) Bobot
Lalu Ini Hari (%)
ini
1 2 3 4 5 6=4+ 7 8=6x7 9=8/Px100* 10=9
5 * -3

8 9 10
* Prestasi Pekerjaan didapat dari input lapangan, **P = Total Nilai Paket Pekerjaan

f) Para pihak yang bertanda tangan di dalam laporan harian: Petugas Lapangan dari
masing-masing Kontraktor Pelaksana, Petugas Lapangan yang ditunjuk oleh PPK
(PPTK), dan Petugas Lapangan Konsultan Pengawas (bila ada).

b. Laporan Mingguan
Laporan Mingguan adalah rekapitulasi laporan harian selama 1 (satu) minggu. Hal-hal
yang dimuat dalam Laporan Mingguan antara lain:

1) Identitas Pekerjaan
2) Minggu ke. Bulan ke
3) Laporan Utama:
a) Acuan Laporan Harian 7 hari dalam minggu yang bersangkutan.
b) Dibuat Bobot Persentase per Item Pekerjaan.
c) Bobot Prestasi Pekerjaan Minggu Lalu, Minggu Ini, dan Total Bobot Prestasi
d) Sisa Bobot Pekerjaan setelah dikurangi Total Pencapaian Bobot Prestasi Pekerjaan
sampai dengan Minggu ini.
e) Format Laporan Mingguan dapat dilihat pada tabel berikut:

N Uraia Bobo Prestasi Pekerjaan* Harg Jumla Bobot Sisa


o n t (%) Mingg Mingg s.d. a h Minggu ini Bobot
u Lalu u Ini Mingg (%) (%)
u ini
1 2 3 4 5 6=4+ 7 8=6x 9=8/Px100 10=9
5 7 ** -3

8 9 10
* Diambil dari Prestasi Pekerjaan Hari ke-7 tiap Minggu, **P = Total Nilai Paket
Pekerjaan
c. Laporan Bulanan
Laporan Bulanan adalah rekapitulasi pekerjaan Mingguan. Hal-hal yang dimuat dalam
Laporan Bulanan adalah antara lain:

1) Identitas Pekerjaan
2) Minggu ke.
3) Laporan Utama:
a) Acuan Laporan Mingguan (4 Minggu) dalam bulan yang bersangkutan.
b) Dibuat Bobot Persentase per Item Pekerjaan.
c) Bobot Prestasi Pekerjaan Bulan Lalu, Bulan Ini, dan Total Bobot Prestasi
d) Sisa Bobot Pekerjaan setelah dikurangi Total Pencapaian Bobot Prestasi Pekerjaan
sampai dengan Bulan ini.
e) Format Laporan Bulanan dapat dilihat pada tabel berikut:

N Uraia Bobo Prestasi Pekerjaan* Harg Jumla Bobot Bulan Sisa


o n t (%) Bula Bula s.d. a h ini (%) Bobot
n n Ini Bulan (%)
Lalu ini
1 2 3 4 5 6=4+ 7 8=6x 9=8/Px100* 10=9
5 7 * -3

8 9 10
* Diambil dari Prestasi Pekerjaan Minggu tiap Bulan, **P = Total Nilai Paket Pekerjaan

d. Kurva S
Jadual Pelaksanaan Pekerjaan dapat dituangkan dalam berbagai cara, tapi yang paling
umum digunakan dalam pekerjaan pemerintah adalah Kurva S. Yang dimuat dalam
Kurva S adalah antara lain: Identitas Pekerjaan, Para Pihak yang bertanggung jawab
dalam Pekerjaan; Kepala Dinas, PPK (PPTK), Konsultan Supervisi (Pengawas), dan
Kontraktor Pelaksana.

N Ko Uraian Bob Prestasi Pekerjaan* Ke


o de Pekerjaa ot M1 M2 M3 M4 Mn t.
n (%) (%
)
1 2 3 4 5 6 7 8 n
1 6=4/ 10
2 0

5=4/2
2 6=4/ 7=4/3 8=4/3
3
3 7=4 50
4 7=4/2 8=4/2
n 8=4/2 n=4/2 0
Rencana 100 M1 M2 M3 M4 Mn
Prestasi %
Pekerjaa
n
Akumula M1 (M1 (M1+ (M1+M2 (M1+M2+
si Renc. +M2) M2+M3 +M3+M4) M3+M4+Mn
Prestasi ) )
Pek.
Realisasi Input Input Input Input Input
Prestasi
Pekerjaa
n**
Deviasi
*Dibagi sesuai dengan kebutuhan waktu yang tersedia, **Input diambil dari Laporan
Mingguan, Minggu terakhir.

Kurva S dipakai untuk melihat progress pekerjaan harian, mingguan, dan bulan.
Dengan melihat deviasinya, dapat diketahui suatu pekerjaan terlambat atau
mendahului dari target. Target yang dimaksud adalah jadual sesuai dengan kurva
Rencana Prestasi Pekerjaan. Direksi pekerjaan, konsultan supervisi, dan kontraktor
pelaksana dapat mengetahui sejak dini tentang prestasi pekerjaan agar dapat
dikoordinasikan dengan para pihak untuk mencegah masalah-masalah.

Ciri suatu pekerjaan mengalami keterlambatan, apabila garis kurva realisasi


prestasi pekerjaan berada di bawah garis rencana. Sebaliknya, suatu pekerjaan
mendahului (lebih cepat), apabila garis realisasi berada di atas kurva S rencana.
Deviasi yang diperbolehkan dalam pekerjaan biasanya < -10%. Kalau keterlambatan
(deviasi) sudah mencapai -10%, konsultan supervisi dan PPK sudah member surat
peringatan kepada Pihak Pelaksana Pekerjaan.

4. Opname Pekerjaan (Pemeriksaan Pekerjaan di Lapangan):


a. Kuantitatif
Opnam kuantitatif adalah opnam volume yang dikerjakan di lapangan
(realisasi). Hal-hal yang diperlukan dalam opnam kuantitatif adalah: Dokumen
Kontrak, Dokumen Perubahan, RAB Awal, RAB Perubahan, Gambar Rencana, Gambar
Perubahan, dan Gambar As Built Drawing. Namun yang utama dalam opnam
kuantitatif adalah bahwa volume harus sesuai dengan RAB terakhir yang telah
disepakati. Bila kontrak unit price, maka harga akan menjadi acuan utama. Harga tidak
boleh berubah walaupun volume terjadi perubahan. Tapi bila kontrak lunsum, maka
volume akan menjadi acuan dan tidak boleh berubah.

b. Kualitatif
Opnam kualitatif adalah pemeriksaan mutu (kualitas) suatu pekerjaan. Hal-hal yang
diperlukan dalam opnam kualitatif adalah antara lain: Dokumen Kontrak, Dokumen
Perubahan, Spesifikasi Teknis, Rencana Mutu Kontrak, Sertifikasi-sertifikasi yang
Dipakai sebagai Standarisasi, Uji Laboratorium, Uji (test) Lapangan, Mutu Pekerjaan di
lapangan, Estetika, dan hal-hal yang terkait dengan kualitas pekerjaan.

c. Pembenahan (Revisi)
Hal-hal yang ditemukan baik berkaitan dengan kuantitas maupun kualitas
pekerjaan, dituangkan dalam Dokumen Pembenahan (Revisi). Dokumen Pembenahan
harus dikerjakan sesuai kesepakatan para pihak, karena hal ini terkait dengan
Pengakuan suatu pekerjaan. Bila pekerjaan belum tuntas direvisi, maka akan
berpengaruh terhadap penagihan pekerjaan.

d. Pengakuan pasca Pembenahan


Apabila pekerjaan sudah sesuai dengan kuantitas dan kualitas maka laporan-
laporan harian, mingguan, bulanan, dan dokumen-dokumen, perlu disetujui oleh para
pihak sesuai tingkatan jabatan di pekerjaan, yang dituangkan dalam tanda tangan dan
stempel instansi. Hal ini akan dipakai untuk proses penagihan.

5. Penagihan Prestasi Pekerjaan:


Penagihan mengacu pada dokumen kontrak apakah menggunakan Termjn atau
Monthly Certificate (MC). Dalam tulisan ini, tidak dibahas tentang kedua hal ini,
namun yang akan dibahas adalah pembuatan laporan prestasi pekerjaan:

a. Penagihan 0% (biasa disebut MC-0 atau Termjn 0)


Diajukan setelah atau berbarengan ketika Kontraktor Mengajukan Uang Muka
sebagai lampirannya. Bentuk laporan harian, mingguan, bulanan, dan Kurva S telah
dibahas pada awal tulisan ini. Dokumen lain biasanya diikutkan dalam MC-0/Termjn
0 ini adalah Foto Proyek 0, gambar rencana kerja (setelah perubahan) dan Rencana
Mutu Kontrak (Metodologi Pekerjaan).

b. Penagihan 50% (biasa disebut MC-50 atau Termjn 50)


Penagihan 50% ini dilakukan ketika prestasi pekerjaan di lapangan harus sudah
mencapai minimal 60%. Syarat-syarat yang diperlukan dalam tagihan 50% ini adalah
Laporan Harian, Mingguan, Bulanan, dan Kurva S harus menunjukkan lebih besar dari
50% (minimal 60%). Lampiran-lampirannya adalah Foto Proyek 50%, As Built Drawing
50%, Dokumen Perubahan, dan Dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan. Tagihan
yang dibayarkan dikurangi DP yang telah diminta oleh Kontraktor Pelaksana.
c. Penagihan 100% (biasa disebut MC-100 atau Termjin 100)
Tagihan 100% dilakukan ketika pekerjaan di lapangan telah mencapai prestasi
100%. Syarat-syarat yang wajib dipenuhi oleh Kontraktor Pelaksana adalah antara lain
Laporan Harian, Mingguan, Bulanan, dan Kurva S 100%.
d. Dokumen-dokumen lampiran untuk Penagihan:
1) Foto Proyek
2) Gambar Kerja
3) As Bulit Drawing
4) Spesifikasi
5) Sertifikasi Acuan
6) Uji Laboratorium
7) Uji Lapangan
8) Dokumen Perubahan (CCO/Addendum)
9) Dokumen Mutu Kontrak
10) Dokumen-dokumen lain yang terkait

6. Komunikasi antar Pihak di Lapangan


Komunikasi antar Pihak di lapangan sangat diperlukan untuk menjaga
koordinasi, konsolidasi, dan sinergi antar pihak. Hal ini semata-mata untuk
mengendalikan suatu pekerjaan agar tepat waktu, tepat kuantitas, tepat kualitas, dan
tepat anggaran. Kompleksitas komunikasi disesuaikan dengan tingkat besaran
pekerjaan (kualifikasi pekerjaan). Namun ada dua alat yang biasa diperlukan dalam
komunikasi, yaitu: Direksi Kits dan Alat Komunikasi (Radio HT, HP, LAN, dan Online).
Direksi Kits merupakan bukti otentik yang berupa catatan-catatan para pihak
terhadap penyelesaian (proses) pekerjaan. Variasi direksi kits, disesuaikan dengan
kualifikasi pekerjaan. Catatan-catatan yang dituangkan dalam buku direksi misalnya
digunakan sebagai catatan resmi yang harus ditindaklanjuti oleh para pihak.

7. Serah Terima Pekerjaan Awal (PHO)


Serah terima pekerjaan awal (PHO) adalah serah terima yang dilakukan oleh
Kontraktor Pelaksana ketika sudah selesai mengerjakan 100%. Syarat-syarat yang harus
dilakukan adalah Kontraktor Pelaksana mengajukan surat permohonan pemeriksaan
pekerjaan 100% yang sudah disetujui oleh Konsultan Supervisi dan PPTK (Pejabat
Teknis yang ditunjuk oleh PPK) kepada PPK. PPK akan membuat surat balasan untuk
memeriksa pekerjaan baik di lapangan maupun administrasi (dokumen-dokumen)
pendukungnya dengan membentuk Tim Pemeriksa tambahan atau cukup dengan
petugas-petugas yang sudah ada. Setelah pekerjaan diperiksa, PPK membuat surat hasil
pemeriksaan pekerjaan yang biasa dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan
Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Awal (PHO). Setelah semuanya terpenuhi,
Kontraktor Pelaksana menagihkan pekerjaan 95%, sisanya 5% ditagihkan setelah masa
pemeliharaan selesai atau ditagihkan dengan mengganti jaminan pemeliharaan.

8. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah tahap di mana Kontraktor Pelaksana melaksanakan
pemeliharaan terhadap hasil pekerjaan selama waktu yang ditetapkan dalam Dokumen
Kontrak. Pemeliharaan dimaksudkan untuk menjaga hasil pekerjaan harus sesuai
dengan spesifikasi, kualitas, dan kuantitas selama waktu pemeliharaan khususnya, dan
menjamin hingga umur rencana tercapai dengan memperkirakan hasil deteksi selama
masa pemeliharaan.

9. Serah Terima Pekerjaan Akhir (FHO)


Tahapan serah terima pekerjaan akhir (FHO) hampir sama dengan PHO, dimulai
dari surat serah terima pemeriksaan pekerjaan dari Kontraktor Pelaksana kepada PPK.
Lampiran-lampiran yang diserahkan antara lain berupa catatan-catatan, analisis, uji
lapangan, dan laboratorium paska pemeliharaan, dan prediksi hasil pekerjaan terhadap
umur rencana. Setelah diperiksa oleh para pihak, PPK membuat Berita Acara Serah
Terima Akhir (FHO) guna mengambil Uang Retensi 5%.

Demikian tulisan ini dibuat kurang lebihnya semoga dapat membantu proses
penyelesaian pekerjaan baik di lingkungan pemerintah maupun swasta. Terima kasih.

RENCANA MUTU PROYEK

Rencana Mutu Proyek (RMK) merupakan salah satu dokumen pelaporan administrasi
dan pengendalian proyek yang sering kali ditiadakan oleh Kontraktor Pelaksana,
karena alasan ribet, ruwet, dan membebani. Bagi Konsultan Supervisi, RMK merupakan
salah satu alat pengendali yang jitu. Nah dengan latar belakang yang saling tolak
belakang antara Kontraktor Pelaksana vs Konsultan Supervisi ini, RMK tetaplah harus
disiapkan demi Pengendalian Proyek agar sesuai jadual yang telah ditetapkan, tidak
menyalahi spesifikasi dan kualitas, serta mengacu pada kuantitas yang telah
dianggarkan.

Di bawah ini salah satu contoh Rencana Mutu Kontrak agar dapat dipakai untuk
acuan.

Cover (Halaman Depan)

RENCANA MUTU KONTRAK

PEKERJAAN : [Nama Pekerjaan sesuai Kontrak]

LOKASI : [Lokasi Pekerjaan sesuai Kontrak]

PELAKSANA : [Nama Kontraktor Pelaksana]

KONSULTAN SUPERVISI : [Nama Konsultan Pengawas/Supervisi]

TAHUN ANGGARAN 20..


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II UMUM

Tujuan

Informasi Pemilik

Identitas Pekerjaan

Diskripsi Pekerjaan

BAB III STRUKTUR ORGANISASI DAN URAIAN TUGAS

Struktur Organisasi

Uraian Tanggung Jawab

BAB IV RENCANA MUTU KONTRAK

Bagan Alir Kegiatan Pelaksanaan

Daftar SP, SD, dan IK

Ringkasan Spesifik Teknik

Jadual Pelaksanaan

Metode Pelaksanaan

Kriteria Penerimaan

Rencana Pemeriksaan dan Pengetesan

Daftar Monitoring Kerja

Daftar Peralatan

Check List

Audit Mutu Pekerjaan

BAB V PENUTUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

Uraikan latar belakang adanya pekerjaan yang dilaksanakan antara Kontraktor


Pelaksana, dengan nomor kontrak, ruang lingkup, Kontrakro Supervisi, Pemberi
Pekerjaan, dan tahun anggaran. Tujuan adanya Dokumen Mutu Kontrak ini dikaitkan
dengan keinginan pemberi kontrak, dikaitkan dengan pengendalian kuantitas dan
kualitas pekerjaan, selain itu juga dikaitkan dengan kesesuaian spesifikasi, jadual
pelaksanaan, dan metode kerja.

Untuk lebih efisiennya pelaksanaan pengendalian mutu atas/produk pekerjaan


tersebut, perlu adanya jaminan mutu terhadap ketaatan dan konsisten dalam
penjalankan prosedur mutu yang telah ditetapkan dalam proses pelaksanaan dan
dokumen kontrak.

Adapun dokumen-dokumen acuan yang digunakan untuk pengendalian mutu


pekerjaan agar sesuai dengan yang diinginkan adalah antara lain: Dokumen
Pengadaan, Dokumen Kontrak, Berita Acara, dan Kesepakatan-kesepakatan perubahan
yang disetujui bersama antara Pemerintah, Pelaksana, dan Konsultan Pengawas.

Oleh karena itu, perlu disusun Rencana Mutu Kontrak guna memenuhi mekanisme
hubungan antara system jaminan mutu seri ISO 9001: 2000 terhadap spesifikasi teknis
dan gambar kontrak.

Rencana Mutu Kontrak ini nantinya digunakan Dinas Pertambangan dan Energi
sebagai alat untuk menamin agar spesifikasi teknis dan gambar kontrak dijalankan
secara benar sebagaimana ketentuannya.

BAB II

UMUM

TUJUAN

Rencana Mutu Kontrak ini dimaksudkan untuk menerapkan lingkup prosedur jaminan
mutu dan tujuan mutu kontrak serta hal-hal lainnya yang timbul dalam proses
pelaksanaan.
Tujuan rencana Mutu Kontrak ini untuk menentukan arah pengendalian proses
pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat diharapkan memperoleh produk yang bermutu
sesuai perencanaan dan dokumen kontrak.

Pedoman ini diterapkan dalam proses pelaksanaan pekerjaan untuk memantau dan
menilai spesifikasi teknis kontrak, sehingga dimungkinkan adanya prosedur tambahan
untuk mendukung rencana mutu.

INFORMASI PEMILIK

Nama Kegiatan : [Diisi sesuai dengan Nama Kegiatan]

Kabupaten/Kota : [Lokasi Pekerjaan Kabupaten/Kota]

Dinas : [Dinas atau Nama Satuan Kerja]

Pengguna Anggaran : [Kuasa Pengguna Anggaran Barang/Program/Kegiatan.]

Alamat : [Alamat Dinas/Satker]

IDENTITAS PEKERJAAN

Lokasi Pekerjaan : [Lokasi sesuai Kontrak]

Sumber Dana : [APBN/D/yang lain]

Nilai Pagu : [Nilai Pagu]

Nomor Kontrak :

Tanggal Kontrak :

Konsultan Supervisi : [Nama Konsultan Supervisi]

Nama Pelaksana : [Nama Kontraktor Pelaksana]

Waktu Pelaksanaan : Sesuai Dokumen Kontrak

Waktu Pemeliharaan : [Sesuai Kontrak]

DISKRIPSI PEKERJAAN

A. UMUM

Pekerjaan Pengawasan Pekerjaan [isi nama pekerjaan] mencangkup pengawasan


prosedur, pengawasan mutu (kualitas), pengawasan volume (kuantitas), pengendalian
waktu pelaksanaan, pengawasan metode kerja, dan pengawasan pengetasan hasil
[pekerjaan sesuai nama pekerjaan] yang akan dilaksanakan/dikerjakan oleh pelaksana
pekerjaan di [lokasi pekerjaan sesuai kontrak].

B. VOLUME PEKERJAAN

Rekapitulasi Pekerjaan

BAB III

STRUKTUR ORGANISASI DAN URAIAN TUGAS

STRUKTUR ORGANISASI

{Contoh di bawah adalah hasil Pekerjaan Konsultan Supervisi, struktur organisasi dan
uraian pekerjaan bisa disesuaikan dengan jenis pekerjaan!]

Add caption
URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

Direktur

- Melaksanakan semua ketentuan yang tercantum dalam Surat Perjanjian


Pemborongan Pekerjaan

Team Leader

- Bertanggung jawab atas terlaksananya pekerjaan di lapangan sampai tuntas.


- Memimpin tim di lapangan, mewakili perusahaan, bertanggung jawab sepenuhnya
pekerjaan sampai selesai.
- Bersama direksi memeriksa dan mengevaluasi semua hasil pekerjaan tim dan
menyetujui pekerjaan bersama-sama dengan direksi dan pelaksana.
- Menghadiri dan mewakili rapat-rapat bersama dengan PPTK dan direksi pekerjaan.

Koordinator Pengawas

- Memimpin tim pengawas lapangan untuk mengawasi semua hasil pekerjaan,


prosedur, tata administrasi, syarat-syarat bahan, dan spesifikasi.
- Memeriksa kedatangan barang bersama-sama pengawas internal yang ditunjuk
oleh PPTK.
- Menyetujui barang bersama-sama PPTK.
- Koordinator Pengawas membawahi beberapa tim lapangan guna mendistribusikan
tugas-tugas lapangan.

Pengawas Lapangan

- Mengawasi [pemasangan/pekerjaan] di lapangan.


- Mengoreksi saat ada kekeliriuan pemasangan/hasil pekerjaan yang tidak sesuai
dengan kontrak.
- Mencatat ketimpangan-ketimpangan pemasangan/pekerjaan sesuai kontrak.
- Melaporkan ketimpangan-ketimpangan yang ditemukan.
- Patuh dan tunduk pada Koordinator Pengawas.

Pengawas GPS

- Mengawasi pemasangan/pekerjaan sesuai dengan koordinat penerima yang


direkam dengan alat penerima GPS.
- Merekam data GPS ke Komputer guna pendataan.
- Pengawas GPS memiliki tim untuk mendistribusikan tugas-tugas di lapangan.

Pengawas Lapangan GPS

- Mengawasi penitikan koordinat-koordinat pekerjaan dengan Alat GPS yang


direkam dan dilaporkan ke Pengawas GPS.

Tenaga Ahli .

- Memeriksa kualitas pekerjaan sejak penerimaan barang sampai pemeriksaan uji


laboratorium, uji test, uji kelayakan, atau uji sesuai standar yang dipersyaratkan di
kontrak.
- Bertanggung jawab terhadap pemeriksaan mutu yang disajikan oleh Kontraktor
Pelaksana.
- Bersama-sama dengan direksi menyetujui hasil pekerjaan.
BAB IV

RENCANA MUTU PEKERJAAN

BAGAN ALIR KEGIATAN

Bagan alir pokok kegiatan adalah urutan pelaksanaan dari paket pekerjaan yang akan
dilaksanakan sesuai dengan jenis pekerjaan (lampiran 1)

DAFTAR STANDAR PROSEDUR, STANDAR DISAIN, DAN INSTRUKSI KERJA

Dalam pelaksanaannya, rencana mutu kontrak harus dibuat rangkuman guna


mengetahui jumlah dari standar prosedur, standar disain, dan instruksi kerja (lampiran
2).

RINGKASAN SPESIFIKASI TEKNIS BAHAN, ALAT, DAN HASIL PEKERJAAN

Uraikan spesifikasi teknis Bahan, Alat, dan Hasil Pekerjaan

Uraikan Standarisasi yang diinginkan kontrak.

Uraikan Uji Lapangan yang diinginkan kontrak.

Uraikan Hasil Kesaksian (Witness) yang dikehendaki oleh Kontrak.

Dan seterusnya.

JADUAL PELAKSANAAN

Jadual pelaksanaan merupakan uraian secara rinci dari volume pekerjaan terhadap
waktu pelaksanaan yang disajikan dan diuraikan secara mendetail termasuk prosedur
pengiriman barang, penerimaaan barang, pemeriksaan barang, dan distribusi barang
yang didalamnya diperhitungkan tingkat kesulitan lapangan, cuaca, dan kendala-
kendala non teknis.

Dikarenakan sifat pekerjaan ini adalah pengadaan bahan yang terpasang, maka jadual
pelaksanaan berupa kurva balok urutan pekerjaan dari pengiriman barang,
penerimaan, dan pemasangan di lapangan.

Jadual pelaksanaan, menyesuaikan pelaksanaan dari Pihak Pelaksana.

KRITERIA PENERIMAAN

Pedoman untuk melaksanakan pekerjaan dengan kriteria yang ditetapkan (lampiran 4)


RENCANA PEMERIKSAAN DAN PENGETESAN

Dalam rencana pemeriksaan dan pengetesan hal-hal yang dilakukan mencakup


meliputi jenis inspeksi, frekunesi, kriteria penerimaan, alat yang dipakai, penanggung
jawab (lampiran 5)

DAFTAR MONITORING KERJA

Daftar yang memuat jumlah kegiatan yang dilakukan oleh pelaksana pekerjaan di
mana kegiatan tersebut berhubungan dengan kegiatan pengendalian mutu (kualitas)
yang meliputi kegiatan antara lain check list, inspeksi, dan test (lampiran 6).

DAFTAR PERALATAN

Dalam pelaksanaan pemasangan PLTS 30 WP, diperlukan peralatan guna


melaksanakan pekerjaan (lampiran 7).

CHECK LIST

Sebelum pekerjaan dilakukan harus mendapatkan ijin dari pengawas yang ditugaskan
oleh Kepala Satuan Kerja/PPK dan dituangkan dalam bentuk Check List (lampiran 8).

AUDIT MUTU PEKERJAAN

Audit mutu pekerjaan setiap saat harus dilakukan oleh Pengawas Mutu dari kontraktor
pelaksana pekerjaan (lampiran 9).

BAB V

PENUTUP

Dengan selesainya penyusunan buku Rencana Mutu Kontrak ini diharapkan agar
supaya dapat digunakan sebagai pedoman guna pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan yang sudah ditandatangani ketiga belah
pihakpemerintah, pelaksana, dan pengawas dan apabila ada kekuarangan-
kekurangan agar dapat dikoreksi serta mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Tempat, Tanggal Pembuatan

Konsultan Supervisi Kontraktor Pelaksana


[Jabatan/Stempel] [Jabatan/stempel]

Diketahui/Disetujui:

PPK/PPTK

[Jabatan/NIP]

BERITA ACARA MUTUAL CHECK 0%

Pada hari ini ..... Tanggal ........ Bulan Agustus Tahun Dua Ribu Juta Belas bertempat di ...........
Proyek ................................................., yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama : .................
Jabatan : Site Manager PT. A ( K o n s u l t a n P e n g a w a s )

2. Nama :
Jabatan : Site Manager PT. A ( P e l a k s a n a P r o y e k )

3. Nama : .............
NIP : .....
Jabatan : Pejabat Pembuat Komitmen

Telah melakukan pemeriksaan bersama pengukuran dan perhitungan terhadapkuantitas/volume,


Mutual Check 100% (MC. 100%) pada Proyek Pemb angunanFasilitas Pelabuhan Laut Sungai
Guntung, telah menghasilkan kesepakatan dandata rangkuman tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No Jenis Pekerjaan Satuan Volume Tambah Kurang


MC.0 MC.100 + -