Anda di halaman 1dari 16

Fraktur Tertutup 1/3 Proksimal Femur Dextra

Thangke Margonda Tanduk/102014044

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Email: thangke29@gmail.com

Abstrak

Fraktur femur proksimal maupun distal paling sering terjadi baik pada orang tua yang
lemah tulang atau orang-orang muda yang cedera akibat salah satunya seperti kecelakaan
motor atau mobil. Pemeriksaan yang paling utama adalah bagian yang cedera yaitu bagian
pelvis, genu, dan seluruh femur pasien. Fraktur tulang paha sangat bervariasi, tergantung
pada kekuatan yang menyebabkan fraktur. Fragmen-fragmen tulang dapat berbaris dengan
benar atau tersebar ke jaringan lunak, dan terdapat fraktur bisa ditutup (kulit utuh) atau
terbuka (tulang menusuk kulit). Ini biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk fraktur
femur benar-benar sembuh.

Kata Kunci: fraktur, fraktur terbuka, fraktur tertutup

Abstract

Proximal and distal femur fractures most often occur both in the frail elderly bone or
young people were injured by one of them as a motorcycle or car accident. Examination of
the main thing is that injuries are part of the pelvis, genu, and the rest of the patient's femur.
Fractures of the femur is very varied, depending on the strength of the lead fracture.
Fragments of bone can be lined up properly or spread to soft tissue, and there is a fracture
can be closed (skin intact) or open (bone piercing the skin). It usually takes a long time for a
femur fracture is completely healed.

Keywords: fractures, open fractures, closed fractures

1|Page
Pendahuluan

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab


terhadap pergerakan. Komponen utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem
ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligament, bursa dan jaringan-jaringan
khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Beragam jaringan dan organ sistem
muskuloskeletal dapat menyebabkan terbentuknya berbagai gangguan yang berkembang
terutama dalam sistem itu sendiri atau di tempat lain namun mengenai sistem
muskuloskeletal. Trauma dalam muskuloskeletal termasuklah fraktur, dislokasi, sprains dan
strains namun yang paling parah ialah fraktur. Gangguan ini terjadi pada tulang, sendi dan
otot terjadi disebabkan kelainan metabolik, infeksi, inflamasi atau non-inflamasi atau tumor.1

Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin
tidak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu
lengkap dan fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur
tertutup (atau sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang
fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami
kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur terbuka.

Anamnesis

Anamnesis adalah proses tanya jawab untuk mendapatkan data pasien beserta keadaan
dan keluhan-keluhan yang dialami pasien. Anamnesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu auto
anamnesis dan alloanamnesis. Autoanamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan
pasien sendiri. Sedangkan alloanamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan orang lain
yang dianggap mengetahui keadaan penderita.

Anamnesis umum
Dalam anamnesis umum ini berisi identitas pasien, dari anamnesis ini bukan hanya
dapat diketahui siapa pasien, namun juga dapat diketahui bagaimana pasien tersebut dan
permasalahan pasien. Identitas pasien terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, alamat,
agama dan pekerjaan pasien.

2|Page
Anamnesis khusus
Keluhan utama
Merupakan keluhan atau gejala yang mendorong atau membawa penderita mencari
pertolongan.Biasanya merupakan ada tidaknya nyeri, oedem, keterbatasan gerak sendi akibat
fraktur.

Riwayat penyakit sekarang


Riwayat perjalanan penyakit Menggambarkan riwayat penyakit secara lengkap dan
jelas. Yang biasa ditanyakan adalah kapan terjadi fraktur, mekanisme terjadinya fraktur,
penanganan pertama setelah trauma, dimana letak keluhan, faktor yang memperberat dan
memperingan keluhan.

Riwayat pengobatan
Menggambarkan segala pengobatan yang pernah didapat sebelumnya, riwayat
penanganan fraktur yaitu sudah pernah berobat atau ditangani dimana sebelumnya,
bagaimana cara penanganannya dan bagaimana hasilnya.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat penyakit baik fisik maupun psikiatrik yang pernah diderita sebelumnya.
Dapat diketahui apakah pasien dulu pernah mondok, pernah mempunyai penyakit yang
serius, trauma, pembedahan.
Riwayat keluarga
Penyakit-penyakit dengan kecenderungan herediter atau penyakit menular, misalnya
apakah di dalam keluarga pasien ada yang mempunyai penyakit Diabetes Melitus, apakah
mempunyai penyakit pada tulang.

Riwayat pribadi
Menggambarkan hobi, olahraga, pola makan, minum alkohol, kondisi lingkungan
baik dirumah, sekolah atau tempat kerja yang mungkin ada hubungannya dengan kondisi
pasien.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan awal mencakup :

3|Page
a. Pemeriksaan tanda vital.
Pemeriksaan ini meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu
tubuh, tinggi badan, berat badan. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah
pasien menderita hipertensi, takikardi, demam ataupun obesitas. Dari pemeriksaan tanda-
tanda vital yang dilakukan, nilai-nilai tersebut bagi pasien ini adalah dalam batas-batas
normal.

b. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik pada kasus fraktur utamanya mencakup dua survey yaitu:
i. Primary Survey: memeriksa keadaan umum.
ii. Secondary Survey: memeriksa anggota gerak dan tulang belakang.2

Selain itu, pemeriksaan fisik yang lainnya dapat dilakukan dimulai saat pasien
memasuki ruangan dan mencakup tiga hal yaitu:
Inspeksi (Look):
- Pemeriksaan ini melibatkan permerhatian dan observasi cukup dengan deskripsi
yang terlihat antaranya warna kulit, gambaran vaskularisasinya, pembengkakan
atau massa pada bagian anterior/posterior, lateral/medial, juga diperhatikan jika
terdapat luka, fistel atau ulkus dan tanda-tanda peradangan lainnya (rubor, kolor,
tumor, dolor, functio lesia).
- Memerhatikan deformitas
- Circumferential skin assessment: melihat jika terdapat pendarahan di daerah luka,
robekan pada kulit (laserations), atau harus diberikan perhatian pada sekitar kulit
pada daerah trauma yang dapat memungkinkan terjadinya fraktur terbuka.
- Fracture blisters yang mungkin dapat menganggu rencana operasi.2
Palpasi (Feel):
- Mengukur selisih panjang ekstemitas
- Keadaan neurovascular
- Meraba pembengkakan/massa, deskripsi konsistensi dan batas-batasnya
- Perhatikan adanya nyeri tekan di persendian.
- Palpasi kelembutan dan krepitus.2
Move/ Range of Motion:
- Menilai gerakan sendi proximal dan distal tulang yang patah

4|Page
- Menilai Range of Motion (ROM) dengan gerakan fleksi-ekstensi dan
menyatakannya dalam derajat. (Normal : 0-120C).3

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, didapati terdapat edema pada panggul
kanan pasien, ekstremitas bawah kanan memendek dan berlaku eksorotasi. Pasien juga
mengalami nyeri tekan dan tidak boleh menggerakkan ekstremitas bawah kanan baik secara
aktif ataupun pasif.

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dari patah tulang pinggul umumnya dibuat oleh sinar-X dari pinggul dan
tulang paha. Seringkali dokter dapat menentukan bahwa anda memiliki patah tulang pinggul
berdasarkan gejala dan posisi abnormal pinggul dan kaki. X-ray biasanya akan
mengkonfirmasi bahwa anda memiliki patah tulang dan menunjukkan persis di mana fraktur
pada tulang anda. Jika X-ray anda tidak menunjukkan patah tulang tetapi anda masih
memiliki rasa sakit pinggul, dokter akan melakukan pemeriksaan MRI atau scan tulang untuk
mencari retak kecil.5
X-Ray imaging
(Rules of Two) :
2 gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral
Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur
Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera.

Berdasarkan foto Rontgen yang telah dilakukan pada coxae dextra dengan posisi AP/lateral,
ditemukan gambaran fraktur transversa femur dextra 1/3 proximal dengan soft tissue
swelling.
Selain itu, pemeriksaan fisik yang lainnya dapat dilakukan dimulai saat pasien
memasuki ruangan dan mencakup tiga hal yaitu:

Inspeksi (Look):
- Pemeriksaan ini melibatkan permerhatian dan observasi cukup dengan deskripsi
yang terlihat antaranya warna kulit, gambaran vaskularisasinya, pembengkakan
atau massa pada bagian anterior/posterior, lateral/medial, juga diperhatikan jika
terdapat luka, fistel atau ulkus dan tanda-tanda peradangan lainnya (rubor, kolor,

5|Page
tumor, dolor, functio lesia).

Working Diagnosis
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang,didapatkan diagnosa pasti
kondisi pasien yaitu adanya fraktur femur tertutup 1/3 proximal dextra. Fraktur adalah patah
tulang, putusnya kontinuitas dari tulang, tulang rawan sendi atautulang rawan epifisis. Pasien
datang dengan keluhan nyeri pada panggul kanan dan setelahpemeriksaan fisik dilakukan,
didapatkan status lokalis pada pasien di regio femur dextra 1/3 proximal nyeri, ada
deformitas, ekstremitas bawah memendek dan eksorotasi dan tidak boleh digerakkan baik
secara aktif maupun pasif.
Diagnosis diperkukuh dengan foto Rontgen dibagian sendi yang sakit dan jelas
terlihat adanya fraktur di femur 1/3 proximal dextra pasien. Fraktur ini dikatakan sebagai
tertutup karena kulit di atasnya utuh dan bila terdapat luka pada kulit di atasnya disebut
fraktur terbuka (compound fracture).1

Etiologi
Sebagian besar patah tulang pinggul terjadi pada orang lanjut usia sebagai akibat dari
trauma minimal, seperti jatuh dari ketinggian berdiri. Pada pasien muda yang sehat, patah
tulang ini biasanya dihasilkan dari luka-kecepatan tinggi, seperti tabrakan kendaraan
bermotor atau jatuh dari ketinggian yang signifikan. Meskipun lokasi fraktur sebanding,
perbedaan cedera rendah dan kecepatan tinggi pada orang tua dibandingkan pasien yang lebih
muda lebih besar daripada kesamaan mereka. Cedera kecepatan tinggi lebih sulit untuk
mengobati dan berkaitan dengan komplikasi lebih daripada luka trauma ringan.4 Egan et al
mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang terkait dengan risiko pasien patah tulang
pinggul untuk kali kedua. Pertambahan usia, gangguan kognitif, penurunan massa tulang,
penurunan persepsi kedalaman, penurunan mobilitas, dan pusing semua terkait dengan
peningkatan kemungkinan mengalami kejatuhan kali kedua dan dengan demikian
kemungkinan patah tulang pinggul kali kedua.
Beberapa penelitian baru-baru ini telah mengidentifikasi faktor risiko tambahan untuk
patah tulang pinggul. Sennerby et al mengidentifikasi penyakit kardiovaskular umum sebagai
faktor risiko yang signifikan untuk patah tulang pinggul, sementara Carbone et al menetapkan
bahwa gagal jantung adalah risiko spesifik untuk patah tulang pinggul. Karakteristik khusus
pada pria dievaluasi untuk menentukan hubungan dengan patah tulang pinggul; merokok,
perawakannya tinggi, stroke, dan demensia ditemukan meningkatkan risiko patah tulang

6|Page
pinggul, sementara aktivitas fisik-non-kerja dan tinggi BMI ditemukan menjadi pelindung.
Kettunen di al dipelajari sebelumnya atlet laki-laki elit dan menemukan bahwa orang-
orang ini berkelanjutan patah tulang pinggul pada usia jauh lebih tua daripada rekan-rekan
merekayang kurang aktif.4 Dua kelas obat juga telah terlibat dalam patah tulang pinggul.
Pasien panti jompo pada obat-obatan antipsikotik dan pasien HIV-positif pada terapi PI lebih
mungkin untuk mengalami patah tulang daripada orang-orang lain.

Epidemiologi
Antara 220.000 dan 250.000 patah tulang femur proksimal terjadi di Amerika Serikat
setiap tahun; 90% dari patah tulang ini terjadi pada pasien yang lebih tua dari 50 tahun. Di
pasien yang lebih muda, fraktur femoralis proksimal biasanya hasil trauma fisik energi tinggi
(misalnya, highspeed kecelakaan kendaraan bermotor) dan biasanya terjadi tanpa adanya
penyakit. Intertrochanteric dan leher femoralis fraktur merupakan 90% dari patah tulang
femur proksimal terjadi pada pasien usia lanjut. Patah tulang femoralis proksimal pada pasien
usia lanjut sering patologis, biasanya dihasilkan trauma fisik dari minimal sampai sedang
pada daerah tulang secara signifikan dipengaruhi oleh osteoporosis.5
Semua populasi mengalami patah tulang pinggul tetapi jumlah bervariasi dengan ras,
jenis kelamin, dan usia. Perempuan menderita patah tulang pinggul lebih sering daripada laki-
laki. Dalam seumur hidup, laki-laki memiliki risiko diperkirakan 6% sedangkan wanita
menopause memiliki risiko diperkirakan 14% menderita patah tulang pinggul. Statistik ini
memberikan wawasan lebih umur dan menyimpulkan bahwa perempuan dua kali lebih
mungkin menderita patah tulang pinggul. Mayoritas patah tulang pinggul terjadi pada orang
kulit putih, sementara orang kulit hitam dan Hispanik memiliki tingkat yang lebih rendah dari
mereka. Hal ini mungkin karena kepadatan tulang mereka umumnya lebih besar dan juga
karena orang kulit putih memiliki lebih lama jangka hidup secara keseluruhan dan
kemungkinan lebih tinggi mencapai usia lanjut di mana risiko mematahkan pinggul
meningkat.
Usia merupakan faktor yang paling dominan dalam cedera patah tulang pinggul,
dengan sebagian besar kasus terjadi pada orang di atas 75. Peningkatan usia terkait dengan
meningkatnya insiden patah tulang pinggul. Terjatuh adalah penyebab paling umum dari
patah tulang pinggul, sekitar 30- 60% orang dewasa yang lebih tua jatuh setiap tahun. Hal ini
meningkatkan risiko patah tulang pinggul dan menyebabkan risiko peningkatan kematian
pada orang yang lebih tua, angka kematian dalam satu tahun terlihat 12-37%. Bagi pasien
yang tersisa yang tidak menderita kematian, setengah dari mereka membutuhkan bantuan dan

7|Page
tidak bisa hidup mandiri. Juga, orang dewasa yang lebih tua mengalami patah tulang pinggul
karena osteoporosis, yang merupakan penyakit degeneratif karena usia dan penurunan massa
tulang. Usia rata-rata untuk menderita patah tulang pinggul berusia 77 tahun untuk wanita
dan 72 tahun untuk laki-laki. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya usia berhubungan dengan
patah tulang pinggul.5

Patofisiologi
Penyebab fraktur umumnya karena trauma. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat
berupa trauma langsung, misalnya benturan atau ditabrak pada tungkai yang menyebabkan
patahnya tulang femur, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh.6 Secara
spesifik, fraktur kebanyakannya timbul dari dua mekanisme kecederaan yang berlainan, dan
keduanya berbeda dari segi masalah terkait individu dan komplikasi yang bermungkinan
terjadi.
Secara spesifik, fraktur kebanyakannya timbul dari dua mekanisme kecederaan yang
berlainan, dan keduanya berbeda dari segi masalah terkait individu dan komplikasi yang
bermungkinan terjadi.

i. Low energy trauma;


- Sering terjadi pada pasien lanjut usia.
- Kasus tersering adalah tergelincir dan jatuh dengan posisi fleksi tungkai sehingga
dapat menimbulkan fraktur femur.
- Setelah fraktur, deformitas pemendekan femur selalunya terjadi di samping angulasi
posterior dan displacement posterior pada fragmen distal utamanya disebabkan oleh
ketidakstabilan penarikan otot. (muscle pull)
- Pada golongan usia lanjut juga, ekstrim osteoporosis
ii. High energy trauma;
- Sering pada pasien usia muda dengan kasus kecelakaan lalu lintas
- Direct trauma
- Sering comminuted metaphyseal dan displaced intraarticular fracture
- Bentuk fraktur tergantung dari beratnya dan arah gaya tabrakan.
Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi
terjadinya fraktur yaitu :
Ekstrinsik : kecepatan, durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatannya.

8|Page
Intrinsik : kapasitas tulang mengabsorbsi energy trauma, kelenturan, kekuatan densitas
tulang.6
Hantaman yang keras akibat kecelakaan yang mengenai tulan akan mengakibatkan
tulang menjadi patah dan fragmen tulang tidak beraturan atau terjadi discontinuitas di tulang
tersebut.5 Patah tulang panggul dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungan mereka dengan
kapsul pinggul (intracapsular dan ekstrakapsular), lokasi geografis (kepala, leher,
trokanterika, intertrochanteric, dan subtrochanteric), dan tingkat displacement. Displacement
kelas yang lebih tinggi berarti prognosis yang lebih buruk. Fraktur kepala femoral dan leher
adalah intracapsular, sedangkan yang dari trokanterika, intertrochanteric, dan daerah
subtrochanteric yang ekstrakapsular.
Pengobatan serta prognosis untuk sukses serikat dan pemulihan fungsi normal
bervariasi dengan jenis fraktur. Patah tulang pinggul intracapsular, seperti semua patah tulang
intracapsular lainnya, sering memiliki penyembuhan yang rumit. Kapsul tebal yang
mengelilingi patah tulang ini memisahkan mereka dari jaringan lunak yang berdekatan dan
kapiler, menyebabkan pembentukan callous terganggu. Dengan demikian, nonunion dan
AVN ditambahkan komplikasi patah tulang ini.

Manifestasi Klinik
Gejala-gejala pasien dan hasil pemeriksaan fisik biasanya tergantung pada jenis
fraktur dan tingkat displacement. Bagi sebagian besar patah tulang femur proksimal, ekimosis
umumnya muncul selama beberapa hari pertama setelah terjadi fraktur. Namun, ekimosis
mungkin tidak terjadi dengan patah tulang leher femur karena hematoma fraktur dapat
terkandung dalam kapsul pinggul.6
Fraktur femur proksimal yang tidak lengkap atau nondisplaced dapat menyebabkan
rasa sakit hanya sedikit dengan gerakan dan bantalan berat. Namun, secara klinis bukti patah
tulang tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan tes Stinchfield. Dengan tes ini, pasien
berbaring pada terlentang posisi dan upaya untuk mengangkat kaki yang terkena melawan
gravitasi dan kemudian terhadap perlawanan berat.
Jika pangkal paha atau paha rasa nyeri ditimbulkan selama salah satu dari kedua
latihan, tes ini positif.4 Pasien dengan fraktur proksimal femur dispalaced biasanya tidak
dapat menanggung beban dan melaporkan nyeri dengan bahkan sedikit gerakan ekstremitas
yang terkena. Fraktur displaced biasanya menyebabkan kaki memperpendek dan menjadi
abduksi dan eksorotasi beberapa darejat. Selain itu, mungkin ada rasa sakit atau krepitasi
dengan palpasi tulang paha lateral dan trokanter.5

9|Page
Selain itu, gejala klasik fraktur menurut Lewis (2006):
i. Nyeri: nyeri dirasakan langsung setelah jadi trauma, disebabkan adanya spasme otot;
tekanan dari patahan tulang atau kerusaskan jaringan sekitarnya.
ii. Bengkak/edema: edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang
terlokalisir pada daerah fraktur dan ekstravasi daerah jaringan sekitarnya.
iii. Memar/ekimosis: merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari ekstravasi
daerah di jaringan sekitarnya.
iv. Spasme otot: merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi di sekitar fraktur.
v. Penurunan sensasi: terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
vi. Gangguan fungsi: terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri/ spasme
otot, paralisis dapat terjadi karena kerusakan saraf.
vii. Mobilitas abnormal: adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada
kondisi normalnya tidak terjadi pada fraktur tulang panjang.
viii. Krepitasi: merupakan rasa gemertak apabila bagian-bagian tulang digerakkan.
ix. Deformitas: posisi tulang yang abnormal, pergerakan otot yang mendorong fragmen
tulang ke posisi abnormal, menyebabkan tulang hilang bentuk normalnya.
x. Shock hipovolemik: shock terjadi sebagai kompensasi dari pendarahan hebat.
xi. Gambaran x-ray menentukan lokasi dan tipe fraktur.2,5
Penatalaksanaan
Setelah diagnosis patah tulang pinggul telah dibuat, kesehatan secara keseluruhan
pasien dan kondisi medis akan dievaluasi. Dalam kasus yang sangat jarang, pasien mungkin
begitu sakit bahwa operasi tidak akan direkomendasikan. Dalam kasus ini, keseluruhan
kenyamanan pasien dan tingkat rasa sakit harus mempertimbangkan risiko anestesi dan
operasi.
Kebanyakan ahli bedah setuju bahwa pasien lebih baik jika mereka dioperasi dengan
cepat. Hal ini, bagaimanapun, penting untuk memastikan keselamatan pasien dan
memaksimalkan kesehatan medis mereka secara keseluruhan sebelum operasi. Ini mungkin
berarti mengambil waktu untuk melakukan studi diagnostik jantung dan lainnya.4

Non-surgical Treatment
Pasien yang mungkin dipertimbangkan untuk pengobatan non operasi termasuk
mereka yang terlalu sakit untuk menjalani segala bentuk anestesi dan orang-orang yang tidak

10 | P a g e
dapat berjalan sebelum cedera mereka dan mungkin telah terbatas pada tempat tidur atau
kursi roda.
Beberapa jenis patah tulang dapat dianggap cukup stabil untuk dikelola dengan
pengobatan non operasi. Karena ada beberapa risiko bahwa fraktur "stabil" ini mungkin
menjadi tidak stabil dan mengubah posisi, dokter harus mengikuti dengan sinar X-periodik
daerah. Jika pasien terbatas pada istirahat sebagai bagian dari manajemen untuk patah tulang
ini, mereka akan perlu dipantau secara ketat untuk komplikasi yang dapat terjadi dari
imobilisasi berkepanjangan. Ini termasuk infeksi, luka tempat tidur, pneumonia,
pembentukan gumpalan darah, dan wasting gizi.

Surgical treatment
Anestesi untuk operasi dapat berupa anestesi umum dengan tabung pernapasan atau
anestesi spinal. Dalam keadaan sangat jarang, di mana hanya beberapa sekrup yang
direncanakan untuk fiksasi, anestesi lokal dengan sedasi berat dapat dipertimbangkan. Semua
pasien akan menerima antibiotik selama operasi dan untuk 24-jam sesudahnya.
Tes yang sesuai darah, rontgen dada, elektrokardiogram, dan sampel urine akan
diperoleh sebelum operasi. Banyak pasien lanjut usia mungkin memiliki infeksi saluran
kemih yang tidak terdiagnosis yang dapat menyebabkan infeksi panggul setelah operasi.
Keputusan dokter bedah bagaimana untuk memperbaiki patah tulang terbaik akan didasarkan
pada daerah pinggul yang rusak dan kebiasaan dokter bedah dengan sistem yang berbeda
yang tersedia untuk mengelola cedera tersebut.

o Waktu operasi
Jika kulit di sekitar fraktur belum rusak, dokter akan menunggu sampai pasien stabil
sebelum melakukan operasi. Terbuka fraktur, bagaimanapun, mengekspos situs fraktur
terhadap lingkungan. Mereka sangat membutuhkan untuk dibersihkan dan memerlukan
operasi segera untuk mencegah infeksi. Untuk waktu antara perawatan darurat awal dan
operasi, dokter akan menempatkan kaki pasien baik dalam belat-kaki panjang atau traksi
skeletal. Hal ini untuk menjaga tulang sebagai selaras mungkin dan mempertahankan panjang
kaki pasien. Traksi skeletal adalah sistem katrol weights dan counterweights yang memegang
pecahan tulang bersama- sama. Itu membuat kaki lurus dan sering membantu untuk
menghilangkan rasa sakit.

11 | P a g e
o Fiksasi eksternal
Dalam jenis operasi ini, pin logam atau sekrup ditempatkan ke dalam tulang atas dan
di bawah fraktur. Pin dan sekrup yang melekat pada sebuah bar di luar kulit. Perangkat ini
adalah kerangka stabilisasi yang memegang tulang dalam posisi yang tepat sehingga mereka
dapat menyembuhkan. Fiksasi eksternal biasanya pengobatan sementara untuk patah tulang
paha. Karena mereka mudah diterapkan, fixators eksternal sering diletakkan di ketika pasien
memiliki banyak luka dan belum siap untuk operasi panjang untuk memperbaiki fraktur.
Fixator eksternal menyediakan stabilitas sementara yang baik hingga pasien cukup sehat
untuk menjalani operasi akhir. Dalam beberapa kasus, fixator eksternal dibiarkan sampai
tulang paha sembuh sepenuhnya, tapi ini tidak umum.

o Intramedullary Nailing
Saat ini, metode yang paling sering ahli bedah gunakan untuk mengobati fraktur
batang femoralis adalah memaku intramedulla. Selama prosedur ini, sebuah batang logam
yang dirancang khusus dimasukkan ke dalam saluran sumsum tulang paha. Batang melewati
seluruh fraktur untuk tetap dalam posisi. Paku intramedulla dapat dimasukkan ke dalam kanal
baik di pinggul atau lutut melalui sayatan kecil. Hal ini mengacaukan ke tulang pada kedua
ujungnya. Hal ini membuat kuku dan tulang di posisi yang tepat selama penyembuhan. Paku
intramedulla biasanya terbuat dari titanium. Mereka datang dalam berbagai panjang dan
diameter untuk menyesuaikan tulang femur yang paling.

o Plates and screws


Selama operasi ini, fragmen tulang pertama posisinya (dikurangi) ke dalam
keselarasan normal mereka. Mereka diikat dengan sekrup khusus dan pelat logam terpasang
ke permukaan luar dari tulang. Piring dan sekrup sering digunakan ketika Intramedullary
Nailing mungkin tidak dapat dilakukan, seperti untuk fraktur yang memperpanjang ke
pinggul atau lutut sendi. Sebagian besar patah tulang batang femoralis memakan waktu 4
sampai 6 bulan untuk benar-benar sembuh. Beberapa kasus bahkan mengambil waktu lebih
panjang, terutama jika fraktur terbuka atau patah menjadi beberapa bagian.

o Weight Bearing
Banyak dokter menganjurkan gerakan kaki di awal periode pemulihan. Sangat penting
untuk mengikuti petunjuk dokter untuk meletakkan berat badan pada kaki yang terluka untuk
menghindari masalah. Dalam beberapa kasus, dokter akan menyuruh pasien untuk

12 | P a g e
menempatkan sebanyak mungkin berat diperbolehkan di kaki yang cedera setelah operasi.
Namun, anda mungkin tidak dapat menempatkan berat penuh pada kaki anda sampai fraktur
sudah mulai sembuh. Hal ini sangat penting untuk mengikuti petunjuk dokter dengan hati-
hati. Ketika mulai berjalan, pasien kemungkinan besar akan perlu menggunakan tongkat atau
walker untuk dukungan.

o Terapi Fisik
Karena pasien kemungkinan besar akan kehilangan kekuatan otot di daerah luka,
latihan selama proses penyembuhan yang penting. Terapi fisik akan membantu untuk
mengembalikan kekuatan normal otot, gerakan sendi, dan fleksibilitas. Seorang ahli terapi
fisik kemungkinan besar akan mulai mengajar latihan khusus saat pasien masih di rumah
sakit. Terapis juga akan membantu pasien belajar bagaimana menggunakan tongkat atau
walker.

Komplikasi
Nonunion- kegagalan fraktur untuk sembuh, adalah umum (20%) dalam fraktur leher
femur, tapi jauh lebih jarang terjadi dengan jenis fraktur panggul lain. Tingkat nonunion
meningkat jika fraktur tidak diperlakukan pembedahan untuk membuang fragmen tulang.
Malunion- penyembuhan patah tulang pada posisi yang terdistorsi, adalah sangat umum.
Otot-otot paha cenderung untuk menarik pada fragmen tulang, menyebabkan mereka untuk
tumpang tindih dan menyatukan dengan salah. Pemendekan, deformitas varus, deformitas
valgus, dan malunion rotasi semua sering terjadi karena fraktur mungkin tidak stabil dan
kolaps sebelum sembuh. Hal ini mungkin tidak banyak menjadi perhatian pada pasien dengan
kemandirian dan mobilitas terbatas. Avascular necrosis dari kepala femoral sering (20%)
dalam fraktur leher femur yang terjadi, karena suplai darah terganggu. Hal ini jarang terjadi
setelah fraktur intertrochanteric. Patah tulang panggul jarang mengakibatkan cedera
neurologis atau pembuluh darah.5

o Pembedahan
Infeksi luka dalam atau dangkal memiliki insiden perkiraan 2%. Ini adalah masalah
serius karena infeksi superfisial dapat menyebabkan infeksi dalam. Hal ini dapat
menyebabkan infeksi tulang yang sedang sembuh dan kontaminasi implan. Sulit untuk
menghilangkan infeksi dengan adanya benda asing logam seperti implan. Bakteri di dalam
implan tidak dapat diakses untuk sistem pertahanan tubuh dan antibiotik. Manajemen adalah

13 | P a g e
upaya untuk menekan infeksi dengan drainase dan antibiotik sampai tulang sembuh. Maka
implan harus dihapus, berikut ini yang dapat menghilangkan infeksi.
Kegagalan implan dapat terjadi; sekrup logam dan piring dapat patah, kembali keluar,
atau memotong secara superior dan memasuki sendi. Hal ini terjadi baik melalui penempatan
implan tidak akurat atau jika fiksasi tersebut tidak tertahan dalam tulang yang lemah dan
rapuh. Dalam hal kegagalan, operasi dapat diulang, atau berubah menjadi penggantian
panggul total.
Mal-positioning: fraktur dapat diperbaiki dan kemudian sembuh dalam posisi yang tidak
benar; terutama rotasi. Ini mungkin tidak menjadi masalah berat atau mungkin memerlukan
operasi osteotomy selanjutnya untuk koreksi.6

o Medikal
Banyak orang yang tidak sehat sebelum mengalami fraktur pinggul; adalah umum
untuk fraktur tersebut berlaku karena beberapa penyakit, terutama pada orang tua. Namun
demikian, stres cedera, dan operasi kemungkinan, meningkatkan risiko penyakit medis
termasuk serangan jantung, stroke, dan infeksi dada. Gumpalan darah mungkin terbentuk
dapat menyebabkan trombosis vena dalam (DVT) . DVT adalah ketika darah di pembuluh
darah kaki mengalami gumpalan dan menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan. Hal ini
sangat umum setelah fraktur panggul karena sirkulasi darag stagnan dan hiperkoagulasi
sebagai respon terhadap cedera.
DVT dapat terjadi tanpa menyebabkan gejala. Sebuah emboli paru (PE) terjadi ketika
gumpalan darah dari DVT terlepas dari pembuluh darah di kaki dan melewati sampai ke
paru-paru. Sirkulasi ke bagian paru-paru akan terhambat dan ini adalah sangat berbahaya. PE
yang fatal mungkin berlaku adalah sekitar 2% setelah fraktur panggul dan dapat berkontribusi
terhadap penyakit dan kematian dalam kasus lain. Kebingungan mental sangat umum setelah
fraktur panggul. Biasanya akan menghilang sepenuhnya, tapi pengalaman nyeri, imobilitas,
kehilangan kemandirian, pindah ke tempat yang aneh, operasi, dan obat-obatan bergabung
untuk menyebabkan delirium atau menonjolkan demensia yang sudah ada. Infeksi saluran
kemih (ISK) dapat terjadi. Pasientidak dapat bergerak dan berada di tempat tidur selama
berhari-hari; mereka akan dipasang kateter yang biasanya menyebabkan infeksi.5

Prognosis
Sebagian besar penelitian mengevaluasi prognosis fraktur proksimal femur
membandingkan intertrochanteric fraktur dengan patah tulang leher femur. Setelah operasi,

14 | P a g e
hilangnya fiksasi jenis apapun kurang dari 15% untuk kedua intertrochanteric dan femoral
fraktur leher. Komplikasi lain perawatan bedah fraktur femur proksimal, seperti non-union
dan osteonekrosis, terjadi lebih sering dengan fraktur leher femoralis dibandingkan dengan
fraktur intertrochanteric.
Komplikasi yang terjadi dengan hemiarthroplasty untuk patah tulang leher femur
termasuk dislokasi prosthesis selain prostesis melonggar. Tingkat dislokasi terkait dengan
teknik, tapi insiden keseluruhan rendah dan dapat diturunkan dengan tindakan pencegahan
gerakan panggul yang ketat yang diajarkan kepada pasien oleh terapis fisik. Menginap di
rumah sakit cenderung panjang untuk pasien dengan fraktur intertrochanteric, dibandingkan
dengan fraktur leher femoralis. Begitu juga sebagian besar dari pasien dengan fraktur
intertrochanteric membutuhkan penempatan di sebuah panti jompo. Selain itu, meskipun
secara keseluruhan angka kematian 1-tahun adalah sama antara pasien dengan fraktur
intertrochanteric dan orang-orang dengan fraktur leher femur, pasien dengan fraktur
intertrochanteric memiliki tingkat pemulihan lebih lambat dan tingkat kematian besar di
rumah sakit pada bulan kedua dan pada bulan keenam. Orang-orang tua dua kali lebih
berkemungkinan untuk meninggal segera setelah fraktur panggul daripada wanita lanjut usia.
Dalam sebuah studi dari 804 pasien yang tinggal di komunitas, 31% dari laki-laki meninggal
dalam waktu 1 tahun setelah mengalami fraktur panggul dan 42% dalam waktu 2 tahun.
Sebagai perbandingan, hanya 15% wanita di penelitian meninggal dalam waktu 1 tahun dan
23% dalam waktu 2 tahun.6

Edukasi
Sebagai seorang dokter yang berdedikasi, kita perlulah memberikan segala edukasi yang
berkait kepada pasien. Pasien seharusnya mendapatkan kalsium dan juga vitamin D yang
mencukupi. Mereka juga perlu memperbanyak latihan untuk memperkuat tulang serta
menghindari rokok atau mengkomsumsi alkohol secara berlebihan. Selain itu, pasien juga
perlu sentiasa memperhatikan obatan yang diperoleh. Dalam aktivitas fisik, pasien juga
haruslah berdiri secara perlahan-lahan dan menggunakan tongkat atau walker yang sesuai.6

Kesimpulan
Pada skenario ini wanita berusia 60 tahun mengalami fraktur tertutup 1/3 proximal
femur dextra. Fraktur ini terjadi akibat trauma yang disebabkan saat terjatuh. Fraktur ini
ditandai dengan adanya Pada wanita usia 60 tahun ini juga mungkin terdapat osteoporosis
yang dapat memudahkan terjadinya fraktur.

15 | P a g e
Daftar Pustaka
1. Bickley S. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan Bates. 5Th ed. Jakarta:
EGC; 2006.
2. Jon C. Thompson, Anatomy of Leg/knee, Netters concise orthopaedic anatomy, 2010; 9:
297-303.
3. Mansjoer Arif,Suprohaita,Wardhani Ika Wahyu,Setiowulan Wiwiek.Kapita Selekta
Kedokteran.Ed 3 jilid 2,FKUI.2000.
4. Bickley L.S. Anamnesis. Bates Guide to physical examination and history taking.
International edition. 10th edition. Lippincott Williams & Wilkins. Wolters Kluwer Health.
2009.
5. Canale,. Beaty. Campbell's operative orthopaedics, 11th ed,2007;145-147
6. Smith BA, Livesay GA, Woo SL. Biology and biomechanics of the anterior cruciate
ligament. Clin Sports Med 2006; 12:637670

16 | P a g e