Anda di halaman 1dari 119
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JL. KESELAMATAN NO. 27, JAKARTA

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JL. KESELAMATAN NO. 27, JAKARTA SELATAN PERIODE 2 SEPTEMBER – 11 OKTOBER 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

WIDIARTI, S. Farm.

1206330236

ANGKATAN LXXVII

PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI DEPOK JANUARI 2014

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JL. KESELAMATAN NO. 27, JAKARTA

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JL. KESELAMATAN NO. 27, JAKARTA SELATAN PERIODE 2 SEPTEMBER – 11 OKTOBER 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

WIDIARTI, S. Farm.

1206330236

ANGKATAN LXXVII

PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI DEPOK JANUARI 2014

Laporan praktek…

,

ii

Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek… , iii Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek…

,

iii

Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek… , iv Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek…

,

iv

Widiarti, FF UI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Keselamatan Manggarai Jakarta Selatan. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai

pihak, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan praktek kerja ini. Oleh karena itu, penulis
pihak, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan praktek kerja ini.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada:
(1)
(2)
Ibu Dra. Azizahwati, M.S., Apt., sebagai Apoteker Pengelola Apotek dan
Pembimbing I di Apotek Keselamatan Manggarai Jakarta Selatan yang telah
memberikan kesempatan, bimbingan, dan pengetahuan kepada penulis
selama pelaksanaan dan penyusunan laporan PKPA ini.
Ibu Dra. Sabarijah Wito Eng. S.KM., Apt selaku Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama penyusunan
laporan PKPA ini.
(3) Bapak Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt., selaku Dekan Farmasi Universitas
Indonesia
(4) Ibu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., Apt selaku Pjs. Dekan Farmasi
(5)
Universitas Indonesia sampai dengan 20 Desember 2013 .
Bapak Dr. Harmita, Apt., sebagai Ketua Program Profesi Apoteker, Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan bimbingan dan
(6)
(7)
(8)
arahan kepada penulis selama penulisan laporan PKPA.
Seluruh tenaga kerja Apotek Keselamatan yang telah memberikan bantuan
dan kerja sama yang baik selama penulis melaksanakan PKPA.
Seluruh dosen dan staf tata usaha Fakultas Farmasi Universitas Indonesia
atas segala ilmu dan bantuannya selama ini.
Keluarga tercinta yang telah memberikan doa dan dukungan moral serta
materi sehingga program PKPA dan penyusunan laporan ini dapat
dilaksanakan dengan lancar.

v

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

(9) Rekan-rekan PKPA di Apotek Keselamatan Jakarta Selatan yang telah berbagi ilmu, pengalaman dan juga menghibur selama pelaksanaan PKPA. (10) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu atas segala bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis selama Praktek Kerja Profesi Apoteker dan penyusunan laporan.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima segala
kritik dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang. Tak ada yang penulis
harapkan selain sebuah keinginan agar laporan PKPA ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu farmasi pada
khususnya serta dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan sejawat dan semua
pihak yang membutuhkan.
Penulis
2013

Laporan praktek…

,

vi

Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek… , vi Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

vi

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama

:

Widiarti, S.Far.

NPM

: 1206330236

:

Program Studi

Profesi Apoteker

Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Keselamatan Jalan Kartini Raya No. 34
Judul
: Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek
Keselamatan Jalan Kartini Raya No. 34 Jakarta Pusat
Periode 19 Juni – 31 Juli 2013
Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Keselamatan bertujuan untuk
memahami tugas dan fungsi apoteker pengelola apotek (APA) di apotek dan
memahami kegiatan di apotek baik secara teknis kefarmasian maupun non teknis
kefarmasian. Tugas khusus yang diberikan berjudul Laporan Kasus pada
Pengobatan Penyakit Jerawat. Tujuan dari tugas khusus ini adalah memberikan
informasi mengenai pengobatan jerawat (acne vulgaris), dan diharapkan dapat
berguna bagi pembaca khususnya remaja.
Kata Kunci
: Apotek Keselamatan, Apotek, Pengobatan jerawat.
Tugas Umum : xii + 54 halaman; 37 lampiran.
Tugas Khusus : vi + 12 halaman; 0 lampiran.
Daftar Acuan Tugas Umum
Daftar Acuan Tugas Khusus
: 21 (1976-2010).
: 7 (1991-2010).

Laporan praktek…

,

vii

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name

NPM

Program Study

: Widiarti, S.Far.

: 1206330236 : Apothecary Profession. : Pharmacist Internship Working Program at Keselamatan Pharmacy on Jalan Keselamatan No. 27 Jakarta Selatan Period 2nd September – 11th October 2013

Title Pharmacist Internship Working Program at Keselamatan Pharmacy aims to understand the duties and functions
Title
Pharmacist Internship Working Program at Keselamatan Pharmacy aims to
understand the duties and functions of pharmacists pharmacy manager (APA) in
pharmacy and pharmacist understand the activities in both technical and non-
technical pharmacy activities. Given a special assignment titled study casus
medicine of acne. The Purposes of this special task are to get description of
Medicine of acne specially in adult.
Keywords
General Assignment
Specific Assignment
: Keselamatan Pharmacy, Pharmacy, Information Kaptopril.
: xii + 54 pages; 37 appendies.
: vi + 12 pages; 0 appendies.
Bibliography of General Assignment : 21 (1976-2010).
Bibliography of Specific Assignment: 7 (1991-2010).

viii Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

1. PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Tujuan 2 2. TINJAUAN UMUM 3 2.1
1. PENDAHULUAN
1
1.1 Latar Belakang
1
1.2 Tujuan
2
2. TINJAUAN UMUM
3
2.1 Definisi Apotek
3
2.2 Landasan Hukum Apotek
3
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek
4
2.4 Studi Kelayakan
5
2.5 Tata Cara Perizinan Apotek
6
2.6 Persyaratan Sarana dan Prasarana Apotek
8
2.7 Apoteker Pengelola Apotek
10
2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Pengelolaan Apotek
12
2.9 Pengelolaan Apotek
13
2.10Sediaan Farmasi
2.11Pelayanan Apotek
2.12Pengadaan Persediaan Apotek
2.13Pengendalian Persediaan Apotek
2.14Strategi Pemasaran Apotek
13
17
21
22
27
3. TINJAUAN KHUSUS APOTEK KESELAMATAN
30
3.1 Pendahuluan
30
3.2 Lokasi dan Tata Ruang
30
3.3 Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi
31
3.4 Tugas dan Fungsi Tiap Jabatan
31
3.5 Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Lainnya
33
3.6 Pelayanan Apotek
37
3.7 Pengelolaan Narkotika
38
3.8 Pengelolaan Psikotropika
40
3.9 Kegiatan Administrasi dan Keuangan
41

4. PEMBAHASAN

43

5.

KESIMPULAN DAN SARAN

52

5.1 Kesimpulan

52

5.2 Saran

52

DAFTAR ACUAN

53

Laporan praktek…

,

ix

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.

Penandaan Obat Bebas

14

Gambar 2.2.

Penandaan Obat Bebas Terbatas

14

Gambar 2.3.

Tanda Peringatan

15

Gambar 2.4.

Penandaan Obat Keras

15

Gambar 2.5.

Penandaan

Obat

Narkotika

16

Gambar 2.6. Diagram Model Pengendalian Persediaan 25
Gambar 2.6.
Diagram Model Pengendalian Persediaan
25

Laporan praktek…

,

x

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Lampiran 2.

Lampiran 3.

Lampiran 4.

Lampiran 5.

Contoh Formulir Model APT-1 Contoh Formulir Model APT-2 Contoh Formulir Model APT-3 Contoh Formulir Model APT-4 Contoh Formulir Model APT-5 Contoh Formulir Model APT-6 Contoh Formulir Model APT-7 Contoh Formulir Model APT-8 Surat Pesanan Narkotika Laporan Psikotropika SIPNAP Surat Pesanan Psikotropika Laporan Psikotropika SIPNAP Lokasi Apotek Keselamatan Desain Eksterior Apotek Keselamatan Denah Ruangan Apotek Keselamatan Etiket Apotek Keselamatan Salinan Resep Apotek Keselamatan Kuitansi Apotek Keselamatan Surat Pesanan Apotek Keselamatan Kartu Stok Apotek Keselamatan Daftar Obat Wajib Apotik No. 1 Daftar Obat Wajib Apotik No. 2 Daftar Obat Wajib Apotik No. 3

55

57

58

64

65

Lampiran 6. 68 Lampiran 7. 69 Lampiran 8. 70 Lampiran 9. 71 Lampiran 10. 72
Lampiran 6.
68
Lampiran 7.
69
Lampiran 8.
70
Lampiran
9.
71
Lampiran 10.
72
Lampiran
11.
74
Lampiran 12.
75
Lampiran 13.
76
Lampiran
14.
77
Lampiran
15.
78
Lampiran 16.
79
Lampiran
17.
80
Lampiran
18.
81
Lampiran 19.
82
Lampiran 20.
83
Lampiran 21.
84
Lampiran 22.
88
Lampiran 23.
90

Laporan praktek…

,

xi

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apotek sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan tempat dilakukannya praktek kefarmasian oleh apoteker. Keberadaan apotek di lingkungan masyarakat ditujukan untuk menjamin tersedianya sediaan farmasi yang cukup bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini, maka apoteker perlu mengetahui bagaimana cara melakukan pengelolaan sediaan farmasi yang tepat sehingga sediaan farmasi selalu tersedia di apotek dan siap disalurkan pada masyarakat yang memerlukan. Pengelolaan sediaan farmasi oleh apoteker merupakan suatu siklus yang berkesinambungan, dimulai dari tahap perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, pemantauan, evaluasi, dan kembali lagi pada tahap perencanaan. Keterampilan seorang apoteker dalam mengendalikan siklus pengelolaan sediaan farmasi akan menentukan keberhasilan suatu apotek dalam menjalankan fungsinya bagi masyarakat.

suatu apotek dalam menjalankan fungsinya bagi masyarakat. Hal penting yang harus diketahui saat ini telah terjadi

Hal penting yang harus diketahui saat ini telah terjadi pergeseran orientasi pelayanan kefarmasian dari obat ke pasien. Dengan demikian, fokus apoteker dalam pelayananannya di apotek tidak lagi hanya pada manajemen persediaan obat, melainkan juga pada pelayanan pasien. Apoteker selain menyiapkan dan menyerahkan obat, saat ini apoteker juga harus memberikan pelayanan informasi terkait dengan obat yang diterima pasien. Adanya dua peran yang harus dijalankan oleh seorang apoteker secara bersamaan dalam pelayanannya di apotek membuat calon-calon apoteker perlu dilatih agar siap melakukan dua peran tersebut dengan tepat. Berdasarkan hal tersebut, Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia mengadakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di apotek bagi para calon apoteker sebagai salah satu upaya untuk menyiapkan para calon apoteker. Salah satu apotek yang menjadi tempat pelaksanaan PKPA tersebut ialah Apotek Keselamatan. Melalui PKPA di Apotek Keselamatan yang dilaksanakan mulai tanggal 2 September – 11 Oktober 2013, diharapkan calon apoteker dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan dalam

Laporan praktek…

,

1

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

2

melakukan pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan pasien di apotek.

1.2 Tujuan Tujuan dilaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Keselamatan sebagai berikut :

a. Mengetahui dan memahami peran seorang apoteker dalam pengelolaan apotek yang meliputi kegiatan administrasi, manajemen keuangan, pengadaan, penyimpanan, dan penjualan perbekalan farmasi. b. Mempelajari dan memahami praktek pelayanan kefarmasian terhadap pasien di apotek secara profesional sesuai dengan peraturan perundang- undangan dan etika yang berlaku dalam sistem pelayanan kefarmasian di Indonesia.

berlaku dalam sistem pelayanan kefarmasian di Indonesia. Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN UMUM

2.1 Definisi Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/MENKES/SK/X/2009 yaitu sebagai suatu tempat tertentu dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian obat atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional, sedangkan pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi untuk mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien. Apotek merupakan bagian dari sarana pelayanan kesehatan tempat dilakukannya praktek kefarmasian, sehingga harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan memiliki kewajiban untuk menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin.

2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang berlandaskan pada
2.2 Landasan Hukum Apotek
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang
berlandaskan pada :
1. Undang-Undang Negara :

a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Laporan praktek…

,

3

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

4

2. Peraturan Pemerintah :

a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesua Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.

b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesua Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek.

c. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek. 3. Peraturan Menteri Kesehatan : a.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek.
3. Peraturan Menteri Kesehatan :
a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin
Kerja Tenaga Kefarmasian.
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek.
4. Keputusan Menteri Kesehatan :
a. Keputusan Pemerintah Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek.
b. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun

1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek, tugas dan fungsi apotek sebagai berikut :

a. Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.

b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

5

c. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.

2.4 Studi Kelayakan (Umar, 2011)

Studi kelayakan (Feasibility Study) adalah metode penjajagan gagasan suatu proyek mengenai kemungkinan layak atau tidaknya proyek tersebut untuk

dilaksanakan. Studi kelayakan berfungsi sebagai pedoman atau landasan pelaksanaan pekerjaan, karena dibuat berdasarkan
dilaksanakan. Studi kelayakan berfungsi sebagai pedoman atau landasan
pelaksanaan pekerjaan, karena dibuat berdasarkan data-data dari berbagai sumber
yang dianalisis dari banyak aspek.
Tingkat keberhasilan studi kelayakan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor
internal dan eksternal. Faktor internal merupakan kemampuan sumber daya
internal yang meliputi kecakapan manajemen, kualitas pelayanan, produk yang
dijual, dan kualitas karyawan, sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi
lingkungan luar yang tidak dapat dipastikan seperti pertumbuhan pasar, pesaing,
pemasok dan perubahan peraturan.
Pembuatan studi kelayakan terbagi dalam 5 tahapan proses yaitu penemuan
gagasan (ide), penelitian lapangan, evaluasi data, pembuatan perencanaan dan
pelaksanaan kerja.
a. Tahap Penemuan Gagasan
Gagasan yang baik adalah gagasan yang sesuai dengan visi organisasi, dapat
menguntungkan organisasi, sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki
organisasi, tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku dan aman untuk
jangka panjang. Apabila gagasan tersebut dapat memberikan gambaran yang baik
bagi organisasi, maka dilanjutkan dengan penelitian di lapangan.
b. Tahap Penelitian Lapangan

Penelitian di lapangan membutuhkan data-data antara lain, (1) data ilmiah seperti data nilai strategis sebuah lokasi, kelas konsumen, peraturan yang berlaku di daerah tersebut dan tingkat persaingan yang ada. (2) data non ilmiah yang merupakan suatu intuisi atau perasaan yang diperoleh melihat lokasi dan kondisi lingkungan disekitarnya.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

6

c. Tahap Evaluasi Setelah selesai dilakukan penelitian lapangan, maka dilakukan evauasi terhadap data-data yang didapatkan dengan cara :

Memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh yaitu faktor eksternal (tipe konsumen, tingkat keuntungan yang akan diperoleh, kondisi keamanan, dan peraturan yang berlaku) dan faktor internal (kemampuan keuangan organisasi, ketersediaan produk dan kemampuan manajemen)

1.

2. Membuat usulan proyek yang meliputi : (1) pendahuluan, terdiri dari latar belakang dan tujuan,
2.
Membuat usulan proyek yang meliputi : (1) pendahuluan, terdiri dari latar
belakang dan tujuan, (2) analisa teknis, meliputi lokasi, lingkungan sekitar,
desain eksterior dan interior serta produk yang akan dijual, (3) analisa pasar,
meliputi potensi dan target pasar, (4) analisa manajemen, meliputi struktur
organisasi, jenis pekerjaan, jumlah kebutuhan tenaga kerja dan program
kerja, (5) analisa keuangan, meliputi meliputi jumlah biaya investasi dan
modal kerja, sumber pendanaan serta aliran kas
d.
Tahap Rencana Pelaksanaan
Setelah usulan proyek disetujui, kemudian dilakukan penetapan waktu (time
schedule) untuk memulai pekerjaan sesuai dengan skala prioritas untuk
menyediakan dana biaya investasi dan modal kerja, mnegurus izin, membangun
dan merehabilitasi gedung, merekrut karyawan, menyiapkan barang dagangan dan
sarana pendukung dilanjutkan dengan memulai operasional.
e. Tahap Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan setiap pekerjaan dibutuhkan jadwal pelaksanaan setiap
jenis pekerjaan, pencatatan setiap penyimpangan yang terjadi dan hasil evaluasi
serta solusi penyelesaiannya.
2.5 Tata Cara Perizinan Apotek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia,

2002)

Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh menteri kepada apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Wewenang pemberian izin apotek dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

7

melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Adapun prosedur untuk mendapatkan SIA menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/ MENKES/ SK/ X/ 2002 adalah sebagai berikut:

1. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir Model
1.
Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-1
(Lampiran 1).
2.
Dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-2 (Lampiran 2), Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah
menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai
POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan
kegiatan.
3.
Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-
lambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan
menggunakan contoh Formulir Model APT-3 (Lampiran 3).
4.

Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada nomor (2) dan (3) tidak dilaksanakan, maka apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-4 (Lampiran 4).

5. Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada nomor (3) atau pernyataan nomor (4), Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-5 (Lampiran 5).

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

8

6. Apabila hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM sebagaimana dimaksud pada nomor (3) masih belum memenuhi syarat, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-6 (Lampiran 6).

7. Terhadap surat penundaan, apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal surat penundaan.

8. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan, atau lokasi yang tidak sesuai
8. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi
persyaratan, atau lokasi yang tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya
12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya
dengan menggunakan contoh formulir model APT-7 (Lampiran 7).
Bila apoteker menggunakan sarana milik pihak lain dalam pendirian apotek,
dengan mengadakan kerja sama dengan pemilik sarana apotek, maka harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Penggunaan sarana apotek yang dimaksud, wajib didasarkan atas perjanjian
kerja sama antara apoteker dan pemilik sarana.
2. Pemilik sarana yang dimaksud harus memenuhi persyaratan tidak pernah
terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang obat
sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan.
2.6 Persyaratan Sarana dan Prasarana Apotek
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
922/MENKES/SK/X/1993 pasal 6 disebutkan persyaratan-persyaratan pendirian
apotek sebagai berikut :

a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan, harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain diluar sediaan farmasi.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

9

c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain diluar sediaan farmasi. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah

apotek adalah tempat atau lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, tenaga kerja apotek dan perbekalan farmasi (Umar, 2011).

1. Tempat/Lokasi

Persyaratan jarak minimum antar apotek tidak dipermasalahkan lagi, namun ketentuan ini dapat berbeda sesuai dengan
Persyaratan jarak minimum antar apotek tidak dipermasalahkan lagi, namun
ketentuan ini dapat berbeda sesuai dengan kebijakan/peraturan daerah masing-
masing. Lokasi apotek dapat dipilih dengan mempertimbangkan segi pemerataan
pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah praktek dokter, sarana pelayanan
kesehatan lain, sanitasi, dan faktor-faktor lainnya.
2. Bangunan
Suatu apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup untuk memenuhi
persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan
fungsi apotek. Suatu apotek minimal memiliki ruang tunggu pasien, ruang
peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi dan ruang kerja apoteker,
tempat pencucian alat, dan kamar kecil. Bangunan apotek dilengkapi dengan
sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, sumber penerangan yang memadai,
alat pemadam kebakaran, ventilasi, dan sanitasi yang baik, serta papan nama
apotek.
3. Perlengkapan Apotek
Suatu apotek baru yang ingin beroperasi harus memiliki perlengkapan
apotek yang memadai agar dapat mendukung pelayanan kefarmasiannya.
Perlengkapan apotek yang harus dimiliki antara lain:
a. Peralatan pembuatan, pengolahan, dan peracikan seperti timbangan,
lumpang, alu, gelas ukur dan lain-lain.

Peralatan dan tempat penyimpanan alat perbekalan farmasi seperti lemari obat, lemari pendingin (kulkas), dan lemari khusus untuk narkotika dan psikotropika.

c. Wadah pengemas dan pembungkus.

d. Perlengkapan administrasi, seperti blanko pesanan, salinan resep, buku catatan penjualan, buku catatan pembelian, kartu stok obat dan kuitansi.

b.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

10

e. Buku-buku dan literatur standar yang diwajibkan, serta kumpulan peraturan/undang-undang yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 4. Tenaga Kerja Apotek

Tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan operasional apotek yaitu:

a. Apoteker pengelola apotek (APA), yaitu apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA).

b. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek di samping APA dan/atau menggantikan pada
b. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek di samping
APA dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
c. Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalani pekerjaan kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian terdiri dari
sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analisis farmasi, dan tenaga menengah
farmasi/asisten apoteker.
d. Tenaga non kefarmasian, seperti tata usaha, office boy, dan lain-lain.
2.7 Apoteker Pengelola Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotek, bahwa yang dimaksud dengan Apoteker Pengelola
Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Seorang
APA bertanggung jawab akan kelangsungan apotek yang dipimpinnya dan kepada
pemilik modal apabila apoteker bekerja sama dengan pemilik modal.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang apoteker dalam menjalankan
pekerjaan kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2009, yaitu :
a. Memiliki keahlian dan kewenangan
b. Menerapkan Standar Profesi

c. Didasarkan pada Standar Kefarmasian dan Standar Operasional

d. Memiliki sertifikat kompetensi profesi

e. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Surat ini merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. STRA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu lima tahun selama masih memenuhi persyaratan.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

11

Cara untuk memperoleh STRA Apoteker harus memenuhi persyaratan (Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2009 Pasal 40) :

1. Memiliki ijazah Apoteker.

2. Memiliki sertifikat kompetensi profesi.

3. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker.

4. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktek.

5. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. f. Wajib memiliki Surat Izin
5. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.
f. Wajib memiliki Surat Izin Praktek Apotek (SIPA) bagi APA dan Apoteker
Pendamping di Apotek. SIPA dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan dan dapat
dibatalkan apabila pekerjaan kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak
sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin.
Cara untuk mendapatkan SIPA, Apoteker harus memiliki (Peraturan
Pemerintah No.51 Tahun 2009 Pasal 55) :
1. STRA.
2. Tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian atau fasilitas kesehatan
yang memiliki izin.
3. Rekomendasi dari organisasi profesi.
g. Apoteker Pengelola Apotek (APA) hanya dapat melaksanakan praktek di
satu apotek sedangkan Apoteker Pendamping hanya dapat melaksanakan
praktik paling banyak di tiga apotek.
Tugas dan kewajiban APA adalah sebagai berikut :
a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, bsik kegiatan teknis maupun non teknis
kefarmasian sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku

b.

c. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omzet, mengadakan pembelian yang sah dan penekanan biaya serendah mungkin.

d. Melaksanakan pengembangan usaha apotek.

e. Wewenang dan tanggung jawab APA meliputi (Umar,2011)

Mengatur, melaksanakan, dan mengawasi administrasi.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

12

Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan,

Menentukan system (peraturan) terhadap seluruh kegiatan,

Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan, dan

Bertanggung jawab terhadap kinerja yang dicapai.

2.8

Pengalihan Tanggung Jawab Pengelolaan Apotek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2002) Tanggung jawab pengelolaan apotek dapat dialihkan dalam kondisi berikut:

1. Apabila apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, apoteker pengelola apotek
1. Apabila apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya pada
jam buka apotek, apoteker pengelola apotek harus menunjuk apoteker
pendamping. Penunjukkan apoteker pendamping dan apoteker pengganti
harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat.
2. Apabila apoteker pengelola apotek dan apoteker pendamping berhalangan
melakukan tugasnya, apoteker pengelola apotek menunjuk apoteker
pengganti. Apoteker yang menggantikan APA selama APA tersebut tidak
berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terus-menerus, telah memiliki
SIPA, dan tidak bertindak sebagai apoteker pengelola apotek di apotek lain
disebut apoteker pengganti. Penunjukkan apoteker pengganti harus
dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat.
3. Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh

empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat apoteker pendamping, maka pelaporan kejadian wajib mengikutsertakan penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Kejadian penyerahan tersebut dibuat Berita Acara Serah Terimadengan Kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota setempat,dengan tembusan Kepala Balai POM setempat. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 922/Menkes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik, setiap pengalihan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

13

tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian APA wajib dilakukan serah terima resep, narkotika, obat, dan perbekalan farmasi lainnya, serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika.

2.9 Pengelolaan Apotek Kegiatan pengelolaan apotek dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu

pengelolaan teknis kefarmasian dan pengelolaan non teknis kefarmasian. Kegiatan pengelolaan non teknis kefarmasian
pengelolaan teknis kefarmasian dan pengelolaan non teknis kefarmasian. Kegiatan
pengelolaan non teknis kefarmasian meliputi semua kegiatan administrasi,
keuangan, personalia, pelayanan komoditi selain perbekalan farmasi dan bidang
lainnya yang berhubungan dengan fungsi apotek.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
922/MENKES/PER/X/1993, pengelolaan apotek meliputi :
a.
Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan dan penyerahan obat dan bahan obat.
b.
Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farasi
lainnya.
c.
Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi.
2.10
Sediaan Farmasi

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, sediaan farmasi mencakup obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Untuk menjaga keamanan penggunaan obat oleh masyarakat, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, serta narkotik dan psikotropik. 1. Obat Bebas (Menteri Kesehatan RI, 1983) Obat bebas adalah obat tanpa peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus yang terdapat pada obat bebas adalah lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Contoh obat bebas adalah parasetamol, aspirin, CTM.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

14

14 [Sumber : Susanto, 2012] Gambar 2.1. Penandaan obat bebas 2. Obat Bebas Terbatas (Menteri Kesehatan

[Sumber : Susanto, 2012]

Gambar 2.1. Penandaan obat bebas

2. Obat Bebas Terbatas (Menteri Kesehatan RI, 1983) Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan,
2. Obat Bebas Terbatas (Menteri Kesehatan RI, 1983)
Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh
tanpa resep dokter. Tanda khusus yang terdapat obat bebas terbatas adalah
lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam. Contoh obat bebas terbatas
adalah teofilin, efedrin HCl, pseudoefedrin HCl.
[Sumber : Susanto, 2012]
Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas
Pada golongan obat bebas terbatas terdapat tanda peringatan yang berbentuk
kotak hitam dengan huruf berwarna putih di dalamnya. Tanda peringatan tersebut
dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

15

[Sumber : Wibowo, 2012, telah diolah kembali] Keterangan : A. Contoh obat : CTM, B.
[Sumber : Wibowo, 2012, telah diolah kembali]
Keterangan : A. Contoh obat : CTM, B. Contoh obat : Gargarisma, C. Contoh obat : tinctura oidii,
D. Contoh obat : serbuk yang mengandung scopolamin, E. Contoh obat : antispetik, F. Contoh
obat : Tramal supositoria.
Gambar 2.3. Tanda Peringatan
3. Obat Keras Daftar G (Menteri Kesehatan RI, 1986)
Obat keras adalah obat yang dapat diperoleh dengan resep dokter. Tanda
pada obat keras berupa lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi hitam
dengan huruf K yang menyentuh garis tepi dan harus mencantumkan kalimat
“Harus dengan resep dokter”. Contoh obat keras adalah lorazepam, alprazolam,
fenitoin.
[Sumber : Susanto, 2012]

Gambar 2.4. Penandaan obat keras

4. Narkotika (Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009)

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penururnan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

16

rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibagi kedalam tiga golongan yaitu :

a. Narkotika Golongan I Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh :

tanaman Papaver somniferum (kecuali bijinya), opium, kokain, heroin, psilosibin, amfetamin. b. Narkotika Golongan II
tanaman Papaver somniferum (kecuali bijinya), opium, kokain, heroin, psilosibin,
amfetamin.
b. Narkotika Golongan II
Narkotika golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan
sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : difenoksilat, metadon, morfin, petidin.
c. Narkotika Golongan III
Narkotika golongan III adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : kodein,
dihidrokodein, norkodein.
[Sumber : Susanto, 2012]
Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika

5. Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997) Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika digolongkan menjadi empat golongan :

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

17

a. Psikotropika Golongan I Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Psilosibin, lisergida.

b. Psikotropika Golongan II

Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau tujuan
Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan isndroma ketergantungan. Contoh:
Amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, sekobarbital.
c. Psikotropika Golongan III
Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan/untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
amobarbital, pentazosin, pentobarbital, siklobarbital.
d. Psikotropika Golongan IV
Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan sangat khas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
seta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
alobarbital, alprazolam, barbital, diazepam, fenobarbital, ketazolam.
2.11 Pelayanan Apotek
Pelayanan Apotek diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1332/MENKES/SK/X/2002, meliputi :
a. Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan
perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin.

Apoteker wajib melayani resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan. Pelayanan resep di apotek sepenuhnya atas tanggung jawab APA, sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesi yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.

c. Apoteker tidak diizinkan untuk menggantikan obat generik yang ditulis di dalam resep dengan obat paten.

b.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

18

d. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.

e. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien dan penggunaan obat secara tepat, aman, dan rasional.

f. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat,
f.
Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau
penulisan resep yang tidak tepat, maka apoteker harus memberitahukan
kepada dokter penulis resep. Apabila karena pertimbangan tertentu dokter
penulis resep tetap pada pendiriannya, dokter wajib menyatakannya secara
tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep.
g.
Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker.
h.
Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka
waktu tiga tahun.
i.
Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis
resep, penderita yang bersangkutan atau yang merawat penderita, petugas
kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan
yang berlaku.
j.
APA, apoteker pendamping atau apoteker pengganti diijinkan untuk
menjual obat keras yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek
tanpa resep yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
k.

Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka Apotik, APA dapat menunjuk apoteker pendamping. Apabila APA dan apoteker pendamping berhalangan melakukan tugasnya, maka APA dapat menunjuk apoteker pengganti. Penunjukkan ini harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dengan menggunakan contoh Formulir Model Apt - 9.

l. APA turut bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh apoteker pendamping dan apoteker pengganti di dalam pengelolaan Apotek.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

19

m. Apoteker pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan APA n. Dalam pelaksanaan pengelolaan apotek, APA dapat dibantu oleh asisten apoteker di bawah pengawasan apoteker. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 mengatur tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, Pelayanan kefarmasian terdiri dari pelayanan resep, promosi dan edukasi serta pelayanan residensial (Home Care).

2.11.1 Pelayanan Resep. a. Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi : 1) Persyaratan administratif
2.11.1 Pelayanan Resep.
a. Skrining resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
1) Persyaratan administratif :
a) Nama, SIP dan alamat dokter.
b) Tanggal penulisan resep.
c) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
d) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
e) Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta.
f) Cara pemakaian yang jelas.
g) Informasi lainnya.
2) Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
3) Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
(dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).Jika ada keraguan terhadap resep
hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan

pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

b. Penyiapan obat. 1) Peracikan Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur,

mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

20

obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. 2) Etiket Etiket harus jelas dan dapat dibaca. 3) Kemasan obat yang diserahkan. Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. 4) Penyerahan Obat Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan. 5) Informasi Obat Informasi obat pada pasien minimal meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. 6) Konseling Konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. 7) Monitoring Penggunaan Obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti cardiovascular, diabetes , TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.

diabetes , TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya. 2.11.2 Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan

2.11.2 Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

21

informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet, brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lain. 2.11.3 Pelayan Residensial (Home Care) Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

2.12 Pengadaan Persediaan Apotek Pengadaan farmasi merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi
2.12 Pengadaan Persediaan Apotek
Pengadaan farmasi merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan
perbekalan farmasi berdasarkan fungsi perencanaan dan penganggaran. Tujuan
pengadaan adalah memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan dalam jumlah
yang cukup dengan kualitas harga yang dapat dipertanggungjawabkan dalam
waktu dan tempat tertentu secara efektif dan efisien menurut tata cara dan
ketentuan yang berlaku (Quick, 1997). Pengadaan harus memenuhi beberapa
syarat, yaitu (Seto, Nita, dan Triana, 2004):
a. Doematig, artinya sesuai tujuan/sesuai rencana. Pengadaan harus sesuai
kebutuhan yang sudah direncanakam sebelumnya.
b. Rechtmatig, artinya sesuai hak/sesuai kemampuan.
c. Wetmatig, artinya sistem/cara pengadaannya harus sesuai dengan ketentuan
ketentuan yang berlaku.
Secara umum, jenis pengadaan berdasarkan waktu terdiri dari (Quick,
1997):
a. Annual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan satu kali dalam satu tahun.
b. Scheduled purchasing, yaitu pemesanan dilakukan secara periodik dalam
waktu tertentu misalnya mingguan, bulanan, dan sebagainya.

c. Perpetual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan setiap kali tingkat persediaan rendah.

d. Kombinasi antara annual purchasing, scheduled purchasing, dan perpetual

purchasing. Pengadaan dengan pemesanan yang bervariasi waktunya seperti cara ini dapat diterapkan tergantung dari jenis obat yang dipesan. Misalnya, obat impor

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

22

dari suatu negara dimana devaluasi mata uang menjadi masalah utama atau obat berharga murah yang jarang digunakan cukup dipesan sekali dalam setahun saja. Obat-obat yang relatif slow moving, tetapi digunakan secara reguler dapat dipesan secara periodik setiap tahun (scheduled purchasing). Obat-obat yang banyak diminati serta harganya sangat mahal, maka pemesanannya dilakukan secara perpetual purchasing. Setelah menentukan jenis pengadaan yang akan diterapkan berdasarkan frekuensi dan waktu pemesanan, maka pengadaan barang di apotek dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu (Seto, Nita, dan Triana, 2004):

1. Pembelian kontan Dalam pembelian kontan, pihak apotek langsung membayar harga obat yang dibeli dari
1. Pembelian kontan
Dalam pembelian kontan, pihak apotek langsung membayar harga obat yang
dibeli dari distributor. Biasanya dilakukan oleh apotek yang baru dibuka karena
untuk melakukan pembayaran kredit apotek harus menunjukkan kemampuannya
dalam menjual.
2. Pembelian kredit
Pembelian kredit adalah pembelian yang pembayarannya dilakukan pada
waktu jatuh tempo yang telah ditetapkan, misalnya 30 hari setelah obat diterima
apotek.
3. Konsinyasi (titipan obat)
Konsinyasi adalah titipan barang dari pemilik kepada apotek, dimana apotek
bertindak sebagai agen komisioner yang menerima komisi bila barang tersebut
terjual. Bila barang tersebut tidak terjual sampai batas waktu kedaluwarsa atau
waktu yang telah disepakati, maka barang tersebut dapat dikembalikan pada
pemiliknya.
2.13 Pengendalian Persediaan Apotek

Pengendalian persediaan berhubungan dengan aktivitas dalam pengaturan persediaan obat di apotek untuk menjamin kelancaran pelayanan pasien di apotek secara efektif dan efisien. Pengendalian persediaan mencakup penentuan cara pemesanan atau pengadaannya hingga jumlah persediaan yang optimum dan yang harus ada di apotek untuk menghindari kekosongan persediaan.

2.13.1 Parameter – parameter dalam pengendalian persediaan

a. Konsumsi rata-rata

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

23

Konsumsi rata-rata sering juga disebut permintaan (demand) merupakan permintaan yang diharapkan pada pemesanan selanjutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan (Quick,

1997).

b. Waktu tunggu/waktu tenggang (Lead Time/LT) Merupakan waktu tenggang yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai dengan penerimaan barang. Waktu tunggu ini dapat berbeda beda untuk setiap pemasok. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada waktu tunggu adalah jarak antara pemasok dengan apotek, jumlah pesanan, dan kondisi pemasok (Quick,

1997). c. Persediaan Pengaman (Safety Stock) Persediaan pengaman merupakan persediaan yang dicadangkan untuk kebutuhan
1997).
c. Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Persediaan pengaman merupakan persediaan yang dicadangkan untuk
kebutuhan selama menunggu barang datang untuk mengantisipasi keterlambatan
barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan
karena perubahan pada permintaan misalnya karena adanya permintaan barang
yang meningkat secara tiba-tiba karena adanya wabah penyakit (Quick, 1997).
Persediaan pengaman dapat dihitung dengan rumus (Quick, 1997):
SS = LT x CA
Keterangan :
SS = Safety stock (persediaan pengaman)
LT = Lead Time (waktu tunggu)
CA = Average Consumption (konsumsi rata-rata)
d. Persediaan Minimum (Minimum Stock)

Persediaan minimum merupakan jumlah persediaan terendah yang masih tersedia. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum ini maka pemesanan harus langsung dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika

barang yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong (Quick, 1997).

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

24

e. Persediaan Maksimum (Maximum Stock) Persediaan maksimum merupakan jumlah persediaan terbesar yang telah tersedia. Jika jumlah persediaan telah mencapai jumlah maksimum maka tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian (Quick, 1997).

f. Perputaran persediaan Perputaran persediaan menggambarkan jumlah siklus yang dialami barang dari mulai pembelian
f. Perputaran persediaan
Perputaran persediaan menggambarkan jumlah siklus yang dialami barang
dari mulai pembelian hingga penjualan kembali. Jika suatu barang memiliki angka
perputaran persediaan yang besar maka barang tersebut dikategorikan sebagai
barang fast moving. Sebaliknya, jika angka perputaran persediaan suatu barang
terbilang kecil maka barang tersebut termasuk slow moving (Quick, 1997).
Keterangan :
So
= Persediaan awal
Sr = Persediaan rata-rata
P
= Jumlah pembelian
Sn = Persediaan Akhir
g. Jumlah pesanan (Economic Order Quantity/EOQ)
Persediaan dirancang agar setiap saat harus tersedia dan sekaligus untuk
mengantisipasi permintaan yang tidak menentu, kemampuan suplier yang terbatas,
waktu tenggang pesanan yang tidak menentu, ongkos kirim mahal, dan
sebagainya. Faktor yang dipertimbangkan untuk membangun persediaan berkaitan
dengan biaya dan resiko penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya pemeliharaan
(Quick, 1997).
Keterangan:

R

= Jumlah kebutuhan dalam setahun

P

= Harga barang / unit

S

= Biaya memesan tiap kali pemesanan

I = % Harga persediaan rata-rata

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

25

h. Titik Pemesanan (Reorder Point/ROP) Titik pemesanan merupakan saat dimana harus diadakan pemesanan kembali sedemikian rupa sehingga penerimaan barang yang dipesan tepat waktu, dimana persediaan di atas stok pengaman sama dengan nol atau saat mencapai nilai persediaan minimum. Pada keadaan mendesak, dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antar apotek dan pemasok (Quick, 1997). ROP = SS + LT

Keterangan : ROP SS LT = titik pemesanan kembali (Reorder point) = stok pengaman (Safety
Keterangan :
ROP
SS
LT
= titik pemesanan kembali (Reorder point)
= stok pengaman (Safety stock)
= waktu tunggu (Lead time)
Berbagai parameter pengendalian persediaan tersebut saling
berkesinambungan satu sama lain untuk dapat menjamin ketersediaan obat dan
perbekalan kesehatan. Jika produk berada dalam kuantitas persediaan rata-rata,
kebutuhan permintaan produk oleh konsumen akan terpenuhi.
ROP

Gambar 2.6. Diagram model pengendalian persediaan

Model siklus pengendalian persediaan obat yang ideal dapat dilihat pada Gambar 2.6. Idealnya kuantitas persediaan rata-rata dari suatu produk di apotek perlu mempertimbangkan dua komponen, yaitu stok kerja (working stock) dan stok pengaman (safety stock). Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

26

berada dalam level persediaan minimum, maka diperlukan pemesanan kembali terhadap produk tersebut dan harus memperhitungkan waktu tunggu (LT) kedatangan obat agar tidak terjadi kekosongan persediaan obat ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), maka tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum SS+Qo. Dengan berjalannya waktu, persediaan akan kembali turun dan perlu dilakukan pemesanan kembali dan begitu seterusnya. Siklus ini akan terus berputar untuk menjamin ketersediaan obat.

2.13.2 Penentuan Prioritas Pengadaan Pemilihan prioritas pengadaan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Penyusunan
2.13.2 Penentuan Prioritas Pengadaan
Pemilihan prioritas pengadaan dapat dilakukan dengan berbagai metode.
Penyusunan prioritas dapat dilakukan dengan menggunakan metode sebagai
berikut (Quick, 1997):
a. Analisis VEN (Vital, Esensial, Non-esensial)
1. V (Vital)
Obat yang tergolong dalam kategori vital adalah obat untuk menyelamatkan
hidup manusia atau untuk pengobatan karena penyakit yang mengakibatkan
kematian. Pengadaan obat golongan ini diprioritaskan.
2. E (Esensial)
Kategori esensial digunakan untuk obat-obat yang banyak diminta untuk
digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak di masyarakat.
Dengan kata lain, obat-obat golongan ini adalah obat yang fast-moving.
3. N (Non-esensial)
Kategori non-esensial untuk obat-obat pelengkap yang sifatnya tidak
esensial, tidak digunakan untuk penyelamatan hidup maupun pengobatan penyakit
terbanyak, contohnya suplemen vitamin.

b. Analisis Pareto (ABC)

Pareto membagi persediaan berdasarkan atas nilai rupiah (volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan harga per unit). Kriteria kelas dalam klasifikasi ABC adalah:

1. Kelas A

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

27

Persediaan yang memiliki volume rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 75-80% dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10- 20% dari seluruh item. Kelas A memiliki dampak biaya yang tinggi terhadap biaya pengadaan. Pengendalian khusus dilakukan secara intensif (Quick, 1997).

2. Kelas B

Persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini mewakili sekitar 15-20 % dari total
Persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini
mewakili sekitar 15-20 % dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya
sekitar 10 20% dari seluruh item (Quick, 1997).
3. Kelas C
Persediaan yang memiliki volume rupiah yang rendah. Kelas ini mewakili
sekitar 5-10% dari total nilai persediaan, tapi terdiri sekitar 60-80% dari seluruh
barang (Quick, 1997). Analisis pareto dilakukan dengan menghitung nilai
investasi dari tiap sediaan obat dengan cara :
a. Menghitung total investasi tiap jenis obat.
b.Pengelompokan obat berdasarkan nilai investasi dan diurutkan mulai dari
nilai investasi terbesar hingga terkecil.
c. Analisis VEN-ABC
Metode analisis ini mengkombinasi kedua metode sebelumnya. Dalam
metode ini pengelompokan barang berdasarkan volume dan nilai penggunaannya
selama periode waktu tertentu. Analisa VEN-ABC menggabungkan analisa pareto
dan VEN dalam suatu matriks sehingga analisis menjadi lebih tajam (Quick,
1997).
2.14 Strategi Pemasaran Apotek

Analisis AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) merupakan suatu rangkaian proses dimulai dari menarik perhatian calon pembeli hingga pembeli memutuskan untuk membeli di apotek.

2.14.1 Attention

Strategi

ini

merupakan

upaya

apotek

untuk

dapat

menarik

perhatian

pengunjung/konsumen, yang dapat dilakukan dengan:

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

28

Membuat desain eksterior apotek yang menarik, seperti papan nama yang besar dan memasang neon box agar mudah terlihat oleh orang yang lewat. b.Mendesain bangunan agar terlihat menarik dan juga memperhatikan kondisi ekonomi di lingkungan tempat pendirian apotek. Jika apotek berada di lingkungan daerah menengah ke atas, maka desainnya dapat dibuat lebih mewah agar tampak meyakinkan pengunjung di lingkungan tersebut bahwa obat yang dijual lengkap dan berkualiatas. Namun sebaliknya, apabila apotek didirikan di lingkungan menengah ke bawah, maka desain yang dipilih tidak perlu mewah agar tidak membuat pengunjung merasa enggan atau ragu untuk datang karena memiliki sugesti obat yang dijual di apotek tersebut mahal.

a.

c. Menggunakan kaca transparan pada sisi depan apotek agar desain interior apotek dapat terlihat dari
c. Menggunakan kaca transparan pada sisi depan apotek agar desain interior
apotek dapat terlihat dari luar.
2.14.2 Interest
Strategi ini bertujuan untuk menimbulkan keinginan pengunjung untuk
masuk ke dalam apotek, dapat dilakukan dengan cara menyusun obat yang dijual
dengan menarik seperti memperhatikan warna kemasan dan disusun berdasarkan
efek farmakologis, ruang tunggu yang bersih dan nyaman, dan lain sebagainya.
Hal tersebut dapat langsung terlihat oleh pengunjung saat memasuki apotek.
2.14.3 Desire
Langkah selanjutnya setelah pengunjung masuk ke dalam apotek adalah
menimbulkan keinginan mereka untuk membeli obat. Upaya yang dapat dilakukan
adalah melayani pengunjung dengan ramah, cepat tanggap dengan keinginan
pelanggan, meningkatkan kelengkapan obat, dan memberikan harga yang

bersaing.

2.14.4 Action

Setelah melalui beberapa tahap diatas, akhirnya pengunjung apotek tersebut memutuskan mengambil sikap untuk menjadi pembeli obat di apotek. Pada tahap ini pembeli akan merasakan sendiri pelayanan yang diberikan apotek. Pelayanan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

29

yang dapat diberikan antara lain dengan menunjukkan kecepatan pelayanan dan pemberian informasi yang diperlukan.

a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.

b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.

c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.
d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS APOTEK KESELAMATAN

3.1 Pendahuluan

Apotek Keselamatan didirikan pada bulan April tahun 2004. Apotek ini dikelola oleh seorang APA (Apoteker Pengelola Apotek) bernama Ibu Dra. Azizahwati, Apt., MS dengan SIK Nomor 2621/B dan SIA Nomor 87.SIA.0/04./YANKES/04. Nama Apotek Keselamatan diambil dari nama jalan tempat apotek tersebut berada.

3.2 Lokasi dan Tata Ruang 3.2.1 Lokasi Apotek Keselamatan berlokasi di Jalan Keselamatan Nomor 27,
3.2
Lokasi dan Tata Ruang
3.2.1
Lokasi
Apotek Keselamatan berlokasi di Jalan Keselamatan Nomor 27, Jakarta
Selatan. Letak apotek sekitar 200 m dari Jalan Raya Abdullah Syafie arah
Kampung Melayu dan berada di pusat pertigaan jalan sehingga apotek cukup
ramai dilalui oleh pengendara. Selain itu, posisi apotek terletak di tengah
pemukiman penduduk yang padat dan terdapat cukup banyak fasilitas kesehatan
di sekitar apotek, contohnya klinik dokter dan puskesmas, sehingga dapat
memperluas sasaran pasar apotek. Apotek pesaing yang berada di sekitar apotek
tersebut adalah Apotek Barkah yang terletak sekitar 400 m dari Apotek
Keselamatan. Apotek lainnya seperti Apotek K-24, Apotek Imani, dan Apotek La
Rose berada cukup jauh dari Apotek Keselamatan, yaitu terletak di sepanjang
Jalan Raya Lapangan Ros. Lokasi Apotek Keselamatan dapat dilihat pada
Lampiran 12.

3.2.2 Tata Ruang

Bangunan Apotek Keselamatan dengan ukuran 3,5 x 7 m terdiri dari halaman parkir, ruang tunggu pasien, etalase obat OTC (Over The Counter), meja kasir dan tempat penerimaan resep, ruang peracikan, meja kerja apoteker, ruang istirahat karyawan, dan tempat pencucian atau wastafel. Desain eksterior Apotek Keselamatan dapat dilihat pada Lampiran 13. Ruang untuk obat OTC dibuat lebih

Laporan praktek…

,

30

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

31

lebar dari ruang peracikan karena Apotek Keselamatan berorientasi pada pengobatan sendiri/swamedikasi. Denah ruangan apotek Keselamatan dapat dilihat pada lampiran 14.

3.3. Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi Organisasi apotek dapat hanya terdiri dari seorang APA ditambah juru racik.

Tambahan personil lain diperlukan jika APA tidak dapat berada di apotek. Oleh karena itu, dibutuhkan
Tambahan personil lain diperlukan jika APA tidak dapat berada di apotek. Oleh
karena itu, dibutuhkan peran apoteker pendamping untuk menggantikan APA
pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. Hal ini terjadi di Apotek
Keselamatan dengan komposisi personil apotek sebagai berikut:
a.
Tenaga kefarmasian
APA
Apoteker Pendamping
: 1 orang
: 1 orang
b.
Tenaga non kefarmasian
Juru resep
Tenaga pembantu
: 1 orang
: 1 orang
3.4.
Tugas dan Fungsi Tiap Jabatan
3.4.1
Apoteker Pengelola Apotek (APA)
Tugas dan tanggung jawab APA adalah:
a.
Menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan fungsinya
dan memenuhi segala kebutuhan perundang-undangan di bidang
perapotekan yang berlaku.
b.
Memimpin seluruh kegiatan manajerial apotek, termasuk mengoordinasikan
dan mengawasi dinas kerja karyawan lainnya, antara lain mengatur daftar
giliran kerja, menetapkan pembagian beban kerja dan tanggung jawab
masing-masing karyawan.

c. Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan omset penjualan dan mengembangkan hasil usaha apotek dengan mempertimbangkan masukan dari karyawan lainnya untuk perbaikan pelayanan dan kemajuan apotek.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

32

d. Melayani permintaan obat bebas dan resep dokter, mulai dari penerimaan dan pemberian harga resep, penulisan etiket (Lampiran 15), penyiapan obat, peracikan, pengemasan, sampai dengan penyerahan obat.

e. Melaksanakan pelayanan swamedikasi.

f. Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan, meliputi nomor resep, nama pasien, nama obat, bentuk sediaan obat, dan jumlah obat, kemudian menyerahkan obat kepada pasien disertai dengan pemberian informasi obat untuk mendukung penggunaan obat yang rasional.

g. Membuat salinan resep (Lampiran 16) dan kuitansi (Lampiran 17) bila dibutuhkan. h. Mengatur dan
g. Membuat salinan resep (Lampiran 16) dan kuitansi (Lampiran 17) bila
dibutuhkan.
h. Mengatur dan mengawasi pengamanan hasil penjualan tunai harian.
3.4.2 Apoteker Pendamping
Tugas dan fungsi apoteker pendamping adalah:
a.
Mendata kebutuhan barang.
b.
Menyusun daftar masuknya barang dan menandatangani faktur obat yang
masuk setiap harinya.
c.
Mengatur, mengontrol dan menyusun obat pada tempat penyimpanan
obat.
d.
Mencatat setiap kejadian mutasi barang.
e.
Melayani permintaan obat bebas dan resep dokter, mulai dari penerimaan
dan pemberian harga resep, penulisan etiket, penyiapan obat, peracikan,
pengemasan, sampai dengan penyerahan obat.
f.
Melaksanakan pelayanan swamedikasi.
g.
Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan, meliputi nomor resep,
nama pasien, nama obat, bentuk sediaan obat, dan jumlah obat, kemudian
menyerahkan obat kepada pasien disertai dengan pemberian informasi obat
untuk mendukung penggunaan obat yang rasional.

h. Membuat salinan resep dan kuintasi bila dibutuhkan.

i. Melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang mempunyai batas daluwarsa.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

33

j.

Mencatat penerimaan uang setelah dihitung terlebih dahulu, begitu juga dengan pengeluaran yang harus dilengkapi dengan kuintasi, nota, dan tanda setoran yang sudah diparaf APA atau karyawan yang ditunjuk.

3.4.3

Juru Resep Sebagai tenaga yang membantu apoteker dalam meracik obat di apotek, juru

resep memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut: a. Membantu tugas APA dan apoteker pendamping dalam
resep memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut:
a.
Membantu tugas APA dan apoteker pendamping dalam penyediaan atau
pembuatan obat jadi maupun obat racikan.
b.
Menyiapkan dan membersihkan alat-alat peracikan serta melaporkan
hasil sediaan yang sudah jadi kepada apoteker.
c.
Membuat obat-obat racikan standar di bawah pengawasan apoteker.
d.
Menjaga kebersihan apotek.
3.4.4
Tenaga Pembantu
Tenaga pembantu di Apotek Keselamatan mempunyai tanggung jawab
untuk menjaga kebersihan dan kerapihan di apotek beserta sarana di dalamnya
seperti etalase, rak obat, dan lain-lain.
3.5
Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Lainnya
3.5.1
Pengadaan
Untuk menjaga kelancaran dan ketepatan persediaan barang, apoteker
pendamping memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan lain, kecuali narkotika dan psikotropika yang menjadi
tanggung jawab APA. Pengadaan dilakukan di pagi hari dengan surat pesanan
(Lampiran 18). Adapun prinsip pengadaan barang di Apotek Keselamatan adalah:

a. Barang berasal dari sumber yang jelas.

b. Macam dan jumlah barang yang akan diadakan disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kategori arus barang fast moving atau slow moving.

c. Untuk barang-barang tertentu, pengadaan didasarkan pada data epidemiologi atau penyakit yang sedang banyak diderita oleh pasien.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

34

d. Untuk barang-barang yang tersedia dengan berbagai nama dagang, pengadaan didasarkan pada pertimbangan produk yang sedang digemari masyarakat. e. Kondisi yang paling menguntungkan (pertimbangan harga, diskon, syarat pembayaran, dan ketepatan barang datang). Pengadaan barang dapat dilakukan dengan cara konsinyasi, COD (Cash Order Delivery), atau kredit. Konsinyasi merupakan suatu perjanjian dimana pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi. COD (Cash On Delivery) adalah pembayaran dilakukan secara tunai pada saat barang diterima, sedangkan kredit adalah menjual barang dengan pembayaran tidak secara tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur). Pembelian barang di apotek dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembelian secara terbatas, spekulasi, dan berencana. Pembelian secara terbatas adalah pembelian yang disesuaikan dengan kebutuhan pengadaan di apotek. Spekulasi merupakan dugaan atau pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan, artinya pembelian barang akan disesuaikan dengan kondisi saat pembelian, sedangkan berencana adalah proses yang dilakukan secara terprogram baik dari segi periode pembelian, jumlah, dan tempat pemesanan obat (distributor). Dari ketiga cara tersebut, Apotek Keselamatan lebih menggunakan pembelian secara terbatas untuk menghindari penumpukan barang yang menyebabkan modal terhenti. Langkah-langkah pengadaan barang di Apotek Keselamatan adalah :

pengadaan barang di Apotek Keselamatan adalah : 1. Pemeriksaan dan pencatatan barang Pemeriksaan barang di

1. Pemeriksaan dan pencatatan barang Pemeriksaan barang di Apotek Keselamatan dilakukan setiap hari. Pencatatan nama barang di buku defekta dilakukan oleh apoteker pendamping untuk barang yang akan habis (untuk barang fast moving) atau barang yang sudah habis (untuk barang slow moving). Selain itu, obat- obat yang belum tersedia di apotek tapi sudah mulai diresepkan atau cukup tinggi permintaannya juga dapat dicatat di buku defekta. Setelah apoteker pendamping mencatat semua nama barang yang akan dipesan, APA akan menentukan jumlah barang untuk tiap nama barang yang tercatat di buku defekta. Selanjutnya,

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

35

apoteker pendamping akan melakukan pemesanan barang berdasarkan data yang ada di dalam buku defekta. Pemesanan dilakukan dua kali seminggu yaitu pada hari Senin dan Kamis. 2. Pemesanan barang Pemesanan dilakukan berdasarkan buku defekta kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) melalui telepon atau salesman dengan menggunakan surat pesanan. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan kerjasama dengan PBF adalah :

a. Ketepatan dan kecepatan PBF dalam pelayanan b. Kualitas dan kuantitas barang harus dapat dipertanggungjawabkan
a. Ketepatan dan kecepatan PBF dalam pelayanan
b. Kualitas dan kuantitas barang harus dapat dipertanggungjawabkan terhadap
barang pesanan apabila terjadi kerusakan
c. Jaminan yang diberikan PBF terhadap barang pesanan
d. Kepastian memperoleh barang yang dipesan dari PBF
e. Diskon yang diberikan PBF
f. Lama waktu kredit
Barang-barang yang sudah dipesan kemudian dicatat di buku pembelian.

3.5.2 Penerimaan Petugas PBF akan mengantarkan barang yang dipesan ke apotek beserta faktur pembelian. Barang diterima oleh apoteker pendamping kemudian dilakukan pengecekan kesesuaian nama, bentuk sediaan, dan jumlah obat yang datang dengan faktur yang dibawa dan surat pesanan/buku pembelian. Apoteker pendamping juga mengecek tanggal daluwarsa dan kondisi fisik barang yang diterima. Apabila barang sesuai, maka faktur tersebut ditandatangani apoteker pendamping yang menerima barang disertai dengan nama terang, tanggal penerimaan dan stempel apotek. Jika ada barang yang tidak sesuai dengan surat pesanan/buku pembelian atau karena barang yang diterima mendekati tanggal daluwarsa, maka barang tersebut akan dikembalikan ke PBF. Apotek menerima dua lembar faktur sebagai arsip. Barang yang telah diterima kemudian diberi harga sesuai dengan rumus perhitungan harga jual yang telah ditetapkan oleh apotek. Faktur yang diterima dicatat pada buku pencatatatan

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

36

untuk menginventaris barang yang diterima dan jumlah nilai yang akan dibayarkan ketika jatuh tempo.

3.5.3 Penyimpanan

Barang yang sudah diberi harga ditempatkan di etalase/rak obat. Penyimpanan barang dilakukan berdasarkan barang OTC – etikal, generik – non generik, bentuk sediaan, dan abjad (alfabetis). Penyusunan barang dilakukan secara First Expired First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO). Pada sistem FEFO, barang yang mempunyai tanggal daluwarsa lebih cepat akan dikeluarkan lebih cepat, sedangkan pada sistem FIFO, barang yang keluar lebih dahulu adalah barang yang lebih dahulu masuk. Di Apotek Keselamatan, etalase depan apotek digunakan untuk penempatan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas, serta perbekalan kesehatan lainnya seperti perban, thermometer, dan lain-lain. Produk obat bebas/bebas terbatas dan perbekalan kesehatan lainnya disusunan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian pasien yang datang ke apotek dan memudahkan pengambilan barang. Di bagian dalam apotek terdapat rak-rak obat yang digunakan untuk penyimpanan obat-obat keras. Selain itu, di bagian dalam apotek juga tersedia rak obat yang berfungsi sebagai gudang kecil dan lemari pendingin untuk menyimpan obat-obat yang dipersyaratkan disimpan pada suhu dingin. Narkotika dan psikotropika disimpan di dalam lemari khusus yang ada di bagian dalam apotek.

3.5.4 Dokumentasi
3.5.4 Dokumentasi

Apotek Keselamatan menerapkan pencatatan di kartu stok untuk obat dan perbekalan kesehatan lainnya. Pencatan meliputi tanggal, jumlah barang masuk beserta sumbernya, jumlah barang keluar, saldo, dan keterangan (Lampiran 19). Pencatatan dilakukan setiap ada kejadian mutasi barang. Untuk barang-barang yang terletak di etalase depan, kartu stok tersimpan terpisah dan dikelompokkan berdasarkan penyusunan obatnya sehingga memudahkan pencarian. Kartu stok untuk obat-obat yang terletak di rak obat bagian dalam apotek ditempatkan masing-masing tepat di samping obat tersebut. Hal tersebut memudahkan pencatatan serta pengecekan kesesuaian catatan dengan kondisi fisik obat.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

37

3.6

Pelayanan Apotek

3.6.1

Pelayanan Obat Bebas (Swamedikasi)

Pelayanan obat bebas adalah pelayanan obat kepada konsumen tanpa resep dokter. Obat-obat yang dapat dijual bebas adalah obat yang termasuk dalam daftar obat bebas, obat bebas terbatas, kosmetika dan alat kesehatan tertentu. Pembayaran dilakukan di kasir, setelah lunasobat diserahkan kepada konsumen atau pembeli. Pelayanan swamedikasi yang diberikan oleh Apotek Keselamatan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu hanya dilakukan untuk kondisi- kondisi penyakit ringan tertentu dengan pemberian obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek. Penyakit ringan pasien yang diberikan pelayanan swamedikasi di Apotek Keselamatan meliputi penyakit-penyakit kulit, diare, demam, batuk, dan nyeri persendian. Apabila keadaan pasien perlu untuk dirujuk ke dokter, maka APA atau apoteker pendamping akan merujuknya, baik pada dokter yang berpraktek di apotek ataupun dokter lainnya. Dalam melakukan swamedikasi di Apotek Keselamatan, peran apoteker sangat terlihat dalam memilih obat yang efektif, aman, dan ekonomis, serta dosis obat yang diberikan.

3.6.2 Pelayanan Obat dengan Resep Pelayanan atau penjualan dengan resep diberikan kepada pasien yang membeli
3.6.2
Pelayanan Obat dengan Resep
Pelayanan atau penjualan dengan resep diberikan kepada pasien yang
membeli obat dengan resep dokter secara tunai. Proses pelayanan resep adalah
sebagai berikut :
a.
Apoteker menerima resep dari pasien, kemudian dilakukan skrining resep,
pemeriksaan ketersediaan obat di apotek, dan diberi harga.
b.
Pasien diberi tahu tentang harga obat, jika pasien setuju maka pasien
dipersilahkan langsung membayar pada kasir dan diminta menunggu untuk
disiapkan obatnya. Bila pasien merasa keberatan dengan harga obat, maka
apoteker dapat menawarkan obat generik.

c. Resep dibawa ke bagian peracikan untuk dikerjakan juru resep. Lembaran resep diberi kertas penanda, yang berisi nomor resep, tanggal resep, harga, dan nama pasien. Obat yang telah selesai disiapkan kemudian diberi etiket

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

38

dan diperiksa oleh apoteker baik bentuk sediaan, nama pasien, etiket, dan kesesuaian jumlah obat dengan resep.

d. Penyerahan obat diberikan kepada pasien dengan pemberian informasi kemudian dicatat alamat dan nomor telepon pasien, jumlah dan harga resep ke dalam buku resep.

e. Salinan resep atau kuitansi dapat dibuat atas permintaan pasien.

f. Pada pelayanan resep yang mengandung narkotika, tidak diperbolehkan menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep
f.
Pada pelayanan resep yang mengandung narkotika, tidak diperbolehkan
menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter dan resep tersebut
disimpan terpisah dengan resep obat non narkotika.
3.6.3
Pelayanan Obat Wajib Apotek
Pelayanan obat wajib apotek adalah pelayanan obat-obat keras oleh
apoteker yang dapat diberikan kepada pasien tanpa menggunakan resep dokter.
Pelayanan obat wajib apotek (OWA) dilakukan disertai dengan pemberian
informasi obat.
3.6.4 Pelayanan Informasi Obat
Di Apotek Keselamatan setiap penyerahan obat disertai dengan pemberian
informasi obat (PIO) kepada pasien. Pelayanan ini terutama diberikan oleh
apoteker. PIO dilakukan bukan hanya apabila pasien membeli obat, namun juga
saat pasien tidak membeli dan sekedar bertanya. Pertanyaan mengenai informasi
obat yang biasa ditanyakan di Apotek Keselamatan meliputi indikasi, cara
pemakaian, efek samping obat, interaksi dengan obat lain dan makanan, hal yang
harus dihindari selama menggunakan obat, dan sebagainya.
3.7 Pengelolaan Narkotika

Pengelolaan narkotika terdiri dari pemesanan, penerimaan, penyimpanan, dan pelaporan keluar masuknya obat narkotika di apotek.

3.7.1 Pemesanan Narkotika

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

39

Narkotika dipesan melalui PBF Kimia Farma dan wajib menggunakan surat pesanan khusus narkotika. Pemesanan narkotika yang dilakukan memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. Dalam satu lembar surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika.

b. Mencantumkan nama dan alamat apotek, Surat Izin Apotek, nama APA, dan SIPA.

c. Surat pesanan harus ditandatangani oleh APA dan terdapat stempel apotek pemesan. d. Surat pesanan
c.
Surat pesanan harus ditandatangani oleh APA dan terdapat stempel
apotek pemesan.
d.
Surat pesanan dibuat empat rangkap, satu untuk arsip di apotek
sedangkan sisanya diserahkan kepada Pedagang Besar Farmasi Kimia
Farma yang bersangkutan.
3.7.2
Penerimaan dan Penyimpanan Narkotika
Narkotika yang dating diterima oleh APA. Bukti penerimaan ditandatangani
oleh APA. Narkotika disimpan pada lemari khusus yang terkunci, terjamin
keamanannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lemari tersebut terdiri dari tiga
bagian untuk narkotika sehari-hari maupun untuk persediaan. Satu lemari
digunakan sebagai tempat persediaan dan dua lemari untuk kebutuhan sehari- hari,
untuk menyimpan narkotika dan psikotropika. Di lemari penyimpanan terdapat
kartu stok untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran narkotika, serta
mengetahui stok akhir narkotika.
3.7.3 Laporan Pemasukan dan Pengeluaran Narkotika

Setiap bulan apotek wajib membuat laporan narkotika berdasarkan pemasukan dan pengeluaran narkotika yang tercatat di buku harian penggunaan narkotika. Data pemasukan dan pengeluaran narkotika dimasukkan ke dalam sebuah software aplikasi SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika) yang dapat diisi secara online oleh apotek dan hasil data dikirim ke Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan dengan tembusan ke balai besar POM.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

40

3.8 Pengelolaan Psikotropika

Pengelolaan

sediaan

psikotropika

meliputi

pemesanan,

penerimaan,

penyimpanan, dan pelaporan penggunaan sediaan psikotropika.

3.8.1 Pemesanan Psikotropika Pemesanan psikotropika di Apotek Keselamatan memenuhi ketentuan

sebagai berikut: a. Dalam satu lembar surat pesanan boleh terdapat lebih dari satu jenis psikotropika.
sebagai berikut:
a.
Dalam satu lembar surat pesanan boleh terdapat lebih dari satu jenis
psikotropika.
b.
Dalam surat pesanan mencantumkan nama apotek, alamat apotek, nomor
Surat Izin Apotek (SIA), nama APA, dan nomor SIPA.
c.
Surat pesanan harus ditandatangani oleh APA dan terdapat stempel
apotek.
d.
Surat pesanan dibuat tiga rangkap, dua surat salinannya digunakan untuk
pengarsipan di apotek, sedangkan lembar yang asli diserahkan ke PBF yang
bersangkutan. Pemesanan psikotropika tidak harus dilakukan di PBF
Kimia Farma.
3.8.2
Penerimaan dan Penyimpanan Psikotropika
Penerimaan psikotropika dapat dilakukan oleh APA ataupun apoteker
pendamping. Bukti penerimaan obat diterima dan ditandatangi oleh APA. Obat
psikotropika di Apotek Keselamatan disimpan di lemari khusus yang terkunci dan
terjamin keamanannya.
3.8.3 Pelaporan Penggunaan Psikotropika
Laporan pemakaian psikotropika dilakukan secara berkala melalui aplikasi

SIPNAP secara online POM.

ke suku dinas kesehatan dengan tembusan ke balai besar

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

41

3.9

Kegiatan Administrasi dan Keuangan

3.9.1

Kegiatan Administrasi Apotek selain menjalankan fungsi kefarmasiannya juga melakukan

kegiatan administrasi yang berfungsi untuk mencatat segala proses kegiatan kerja yang ada di apotek tersebut. Kegiatan administrasi yang dilakukan di Apotek Keselamatan meliputi:

a. Administrasi penjualan Administrasi penjualan pada Apotek Keselamatan meliputi kegiatan pencatatan obat-obat yang
a. Administrasi penjualan
Administrasi penjualan pada Apotek Keselamatan meliputi kegiatan
pencatatan obat-obat yang terjual (obat etikal dan obat bebas) di apotek.
b. Administrasi pembelian kredit atau hutang dagang
Apotek Keselamatan melakukan pembelian produk dari pedagang besar
farmasi dengan cara kredit dan kontan. PBF memberikan diskon, kebijakan
harga, serta jatuh tempo pembayaran yang berbeda. Pencatatan terhadap
pembelian kredit dibuat berdasarkan faktur hutang yang masuk dari PBF ke
apotek. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pengawasan terhadap
pembayaran sehingga pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan waktunya.
c. Administrasi pembukuan
Administrasi pembukuan dilakukan untuk mencatat transaksi-transaksi
penjualan yang telah dilaksanakan oleh Apotek Keselamatan, baik
pengeluaran maupun pemasukan.
3.9.2 Sistem Administrasi

Apotek Keselamatan memiliki sistem administrasi yang dikelola dengan baik. Sistem administrasi tersebut meliputi perencanaan, pengadaan, pengelolaan, dan pelaporan barang yang masuk dan keluar. Pengelolaan ini dilakukan oleh apoteker pendamping yang dibantu oleh karyawan. Kelengkapan administrasi di Apotek Keselamatan meliputi:

a. Buku defekta Buku ini digunakan untuk mencatat daftar nama obat atau sediaan yang habis atau yang harus segera dipesan untuk dapat memenuhi kebutuhan di apotek. Buku defekta di Apotek Keselamatan terdiri dari dua jenis, yaitu buku defekta obat dalam yang terdiri dari obat etikal dan obat luar yang terdiri dari obat OTC.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

42

Dengan adanya buku defekta, karyawan ataupun apoteker dapat mengetahui dengan pasti perbekalan farmasi yang harus dipesan dan menghindari pemesanan ganda di apotek sehingga pemesanan dapat dikontrol dengan baik.

b. Surat Pesanan (SP)

Surat pesanan diberikan kepada PBF untuk melakukan pemesanan perbekalan farmasi. Surat pesanan terdiri dari 4 lembar yang harus ditandatangani oleh apoteker. Dalam surat pesanan terdapat tanggal pemesanan, nama PBF yang ditunjuk, nomor dan nama barang, jenis kemasan yang dipesan, jumlah pesanan,

tanda tangan pemesanan, dan stempel apotek. 3.9.3 Kegiatan Keuangan Kegiatan keuangan meliputi kegiatan yang meliputi
tanda tangan pemesanan, dan stempel apotek.
3.9.3 Kegiatan Keuangan
Kegiatan keuangan meliputi kegiatan yang meliputi aliran uang masuk
yang berasal dari setiap transaksi penjualan produk dan jasa di apotek, serta aliran
uang keluar yang berasal dari berbagai macam pengeluaran atau pembiayaan
hutang dagang dan biaya operasional apotek lainnya. Setiap tahun, Apotek
Keselamatan melakukan stock opname untuk mengetahui jumlah aset obat yang
tersisa akhir tahun. Administrasi kegiatan keuangan meliputi :
a. Buku kas untuk mencatat kegiatan yang terkait dengan uang yang ada di kas
apotek setiap bulannya.
b. Laporan laba rugi untuk mengetahui keuntungan dan kerugian yang
dialami apotek selama satu tahun.
c. Neraca tahunan untuk mengetahui aset apotek, baik berupa harta lancar,
maupun harta tetap.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 4

PEMBAHASAN

Pelayanan kefarmasian yang meliputi pengelolaan distribusi obat serta pelayanan yang berorientasi kepada pasien menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas adalah apotek yang memiliki fungsi unik, tidak hanya memiliki fungsi bisnis yang berorientasi profit tetapi juga fungsi sosialnya dalam mendistribusikan obat dan pelayanan kefarmasian lainnya agar tercipta penggunaan obat yang rasional di masyarakat. Apotek Keselamatan adalah salah satu fasilitas pelayanan kefarmasian di Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Keselamatan Nomor 27. Apotek Keselamatan memiliki letak yang strategis karena terletak di sisi pertigaan jalan. Walaupun tidak berada di tepi jalan raya, jalan menuju apotek ramai oleh pengendara yang menjadikan jalan tersebut sebagai jalan alternatif dari jalan utama seperti Jalan KH. Abdullah Syafi’i dan Jalan Dr. Saharjo. Hal ini menjadi peluang apotek untuk menambah jumlah drop in customer. Keberadaan apotek bisa dikenali dengan adanya 2 papan nama yang terpasang di apotek dan neon box di depan halaman apotek. Pada siku jalan menuju apotek terdapat papan penunjuk apotek yang di pasang di tiang listrik sehingga memudahkan masyarakat mengetahui lokasi apotek. Lingkungan sekitar apotek merupakan lingkungan yang padat penduduk, yang dihuni oleh penduduk asli maupun pendatang yang menyewa kos. Tingkat kepadatan penduduk tersebut mempengaruhi jumlah domestic customer apotek. Di sekitar Apotek Keselamatan juga terdapat beberapa fasilitas pelayanan kesehatan lainnya seperti praktek dokter, praktek dokter gigi, Klinik Yakin, Klinik Yashika, dan puskesmas kecamatan. Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan apotek karena dapat menambah jumlah resep yang masuk. Sekitar lingkungan apotek juga terdapat apotek kompetitor seperti Apotek Amani, Apotek LaRose, Apotek Barkah, dan Apotek K24. Keberadaan apotek kompetitor menyebabkan masyarakat memiliki banyak alternatif dalam memilih apotek.

masyarakat memiliki banyak alternatif dalam memilih apotek. Laporan praktek… , 43 Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

43

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

44

Pengelolaan apotek juga membutuhkan desain yang baik untuk pemasaran yang optimal. Apotek Keselamatan memiliki desain eksterior yang sederhana sehingga tidak menimbulkan kesan mahal terhadap produk yang dijual di apotek, mengingat masyarakat sekitar merupakan masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah. Obat yang disusun rapi dan tampak penuh di lemari serta etalase juga tampak jelas terlihat dari luar sehingga memberi kesan lengkap akan ketersediaan obat. Ruang tunggu juga dilengkapi kursi dengan jumlah yang cukup agar memberi kenyamanan pengujung. Tanaman hias dan pohon di halaman sekitar apotek juga memberi kesan bersih, teduh, dan asri pada apotek. Apotek Keselamatan dilengkapi dengan fasilitas halaman yang cukup luas, sehingga memudahkan pengunjung untuk parkir secara aman dan gratis. Di ruang depan apotek tidak ada penghalang yang menghalangi apoteker atau karyawan dalam melayani pengunjung, baik saat menyerahkan atau memberikan informasi obat. Pengunjung dan apoteker/karyawan hanya dibatasi etalase kaca yang ketinggiannya disesuaikan dengan kenyamanan pengunjung dan karyawan. Kegiatan pelayanan kepada pengunjung yang dilakukan oleh apoteker dan karyawannya dilaksanakan sebaik mungkin dengan sambutan yang ramah dan pelayanan yang cepat disertai dengan pemberian informasi obat dengan jelas kepada pengunjung sehingga pengunjung merasa diperhatikan dan merasa puas yang akhirnya banyak di antara pengunjung yang kembali lagi ke apotek dan menjadi regular customer. Desain interior Apotek Keselamatan cukup baik, kondisi bersih dan rapi sehingga memberikan kenyamanan bagi karyawan dan pengunjung. Kerapihan apotek dapat dilihat dari penyusunan obatnya. Penyusunan obat di Apotek Keselamatan dikelompokkan berdasarkan obat OTC (Over The Counter), obat etikal, obat narkotika dan psikotropik, obat racikan, obat topikal, dan obat yang membutuhkan penyimpanan khusus di lemari pendingin. Obat OTC disusun di bagian depan apotek agar tampak dari luar. Obat tersebut juga disusun dengan memperhatikan estetika bentuk dan warna agar tampak menarik dari luar. Sebagian besar obat OTC sediaan cair disusun berdasarkan efek farmakologi di rak tanpa kaca dibagian depan apotek. Produk kosmetik dan produk bayi juga disusun di etalase depan agar mudah terlihat pengunjung. Obat bebas lainnya yang

agar mudah terlihat pengunjung. Obat bebas lainnya yang Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

45

berbentuk cair, solid, dan semisolid diletakkan di etalase depan dan disusun berdasarkan efek farmakologi dengan memperhatikan estetika agar tampak menarik dari luar. Penempatan obat yang tepat penting agar obat mudah dikenali seperti suplemen herbal yang di tempatkan di etalase khusus di dekat kasir pembayaran agar mudah dikenal pengunjung. Obat etikal yang terdiri dari obat generik dan obat merek dagang disimpan di bagian dalam apotek dan disusun berdasarkan alfabet dengan kartu stok yang disisipkan di sebelah kiri obat. Penempatan obat generik dan obat merek dagang dipisahkan. Di ruang tengah apotek, obat etikal yang berbentuk sediaan cair disusun berdasarkan alfabet. Selain itu, di ruang tengah juga terdapat etalase tempat menyimpan obat OTC yang sengaja disimpan sebagai persediaan. Penempatan obat sesuai alfabet, sesuai farmakologi, dan pemisahan penempatan obat generik dan merek dagang memudahkan petugas dalam pengambilan obat dalam melaksanakan pelayanan kepada pengunjung sehingga pelayanan dapat dilaksanakan dengan cepat. Obat-obat golongan narkotika dan psikotropika diletakkan di lemari khusus dengan 3 pintu yang terkunci dan tersusun ke atas. Lemari bagian atas diisi dengan obat golongan narkotika dan lemari kedua dari atas diisi dengan obat golongan psikotropika dimana didalamnya terdapat kartu stok yang diletakkan di samping obat-obat tersebut. Lemari ketiga (paling bawah) merupakan tempat persediaan narkotika dan psikotropika. Obat-obat di dalamnya sudah dibagi-bagi sedemikian rupa, sehingga tiap pengeluaran obat dari persediaannya dapat dihitung dengan mudah. Penyimpanan obat juga perlu memperhatikan stabilitas obat agar kualitas obat terjaga. Untuk tujuan tersebut, Apotek Keselamatan memiliki sebuah lemari pendingin yang digunakan untuk menjaga stabilitas obat – obat tertentu. Lemari pendingin digunakan untuk menyimpan obat-obat yang membutuhkan suhu khusus dalam penyimpanannya seperti suppositoria, ovula, kapsul lunak, dan vitamin. Penyimpanan dan penyusunan obat yang rapi juga dilakukan dengan memperhatikan kemudahan dalam pengambilan obat sehingga mempercepat pelayanan resep. Penyusunan obat di Apotek Keselamatan berdasarkan jenis obat

obat di Apot ek Keselamatan berdasarkan jenis obat Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

46

(OTC atau etikal), bentuk sediaan, efek farmakologi, dan kerawanan dicuri. Obat racikan juga diletakkan di tempat tertentu yang terpisah dengan jenis obat etikal lain agar proses peracikan lebih mudah. Obat seperti salep, krim, dan obat tetes mata diletakkan di etalase tertentu agar mempermudah karyawan dalam melayani pengunjung. Beberapa obat yang memiliki efek farmakologi serupa diletakkan berdekatan. Selain itu, obat – obat yang memiliki harga cukup tinggi tidak diletakkan di etalase yang dekat dengan pengunjung. Pemisahan tersebut juga berguna untuk mencegah terjadinya kesalahan pengambilan obat dan medication error. Berbeda dengan obat etikal yang disusun di rak, kartu stok obat cair dan semisolid yang tersimpan di etalase dan obat OTC tidak diletakkan di samping obat, melainkan disimpan terpisah agar susunan obat terjaga kerapihannya. Sarana dan prasarana di Apotek Keselamatan terdiri dari ruang apoteker, ruang istirahat karyawan, ruang praktek dokter yang terpisah, ruang racik, ruang tunggu, kasir, kamar mandi, ruang sholat, wastafel, halaman parkir, dan keranjang sampah. Secara umum sarana dan prasarana di Apotek Keselamatan sudah sesuai dengan Keputusan Menkes RI Nomor 1027/MENKES/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, yaitu apotek harus memiliki ruang tunggu, ruang racikan, keranjang sampah, dan tempat menampilkan informasi. Salah satu sarana di dalam apotek yakni terdapat ruang peracikan. Di dalam ruang peracikan ini terdapat meja racik, perlengkapan meracik seperti alu, mortar, sudip, timbangan, kertas perkamen, kapsul dan pot. Selain itu, terdapat sebuah meja besar yang digunakan untuk berdiskusi dan melakukan pembukuan. Terdapat pula telepon dan faksimili yang sengaja disediakan bagi karyawan untuk memesan obat serta menerima pesan dari instansi lain. APA dibantu oleh apoteker pendamping dan karyawan dalam melaksakan pelayanan kefarmasian. APA bertugas mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran uang dan barang serta memberikan masukan kepada karyawan akan hal tersebut. Terkadang, karyawan dan apoteker pendamping berdiskusi dengan APA untuk menambah pengetahuan terutama dalam hal swamedikasi sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung walaupun APA sedang tidak berada di tempat. Dengan suasana kerja yang mendukung, karyawan, APA,

tempat. Dengan suasana kerja yang mendukung, karyawan, APA, Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

47

dan apoteker pendamping dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada pengunjung sehingga memberi kepuasan dan memberi nilai lebih bagi apotek. Pengelolaan obat yang optimal menjadi salah satu hal yang penting agar ketersediaan obat terjaga dengan baik. Untuk itu, apoteker dan karyawan melakukan pengelolaan obat yang terdapat di apotek. Pengelolaan obat di Apotek Keselamatan berjalan dengan baik dan diikuti dengan administrasi yang baik. Pengelolaan diawali dengan perencanaan obat berdasarkan data yang terdapat pada buku defekta. Buku defekta di Apotek Keselamatan terdiri dari dua jenis, yaitu buku defekta obat etikal dan buku defekta obat OTC. Stok obat yang hampir habis dan permintaan obat tertentu dari masyarakat yang belum tersedia di apotek ditulis di buku defekta. Pertimbangan jenis dan jumlah obat yang akan dipesan untuk pengadaan obat juga dipengaruhi dengan anggaran yang ada, harga, pola peresepan dokter, dan jumlah persediaan minimum obat di apotek. Hal tersebut dilakukan agar apotek dapat melaksanakan pelayanan apotek dengan baik dan mendapat kepercayaan dari masyarakat bahwa apotek memiliki ketersediaan obat yang lengkap. Dalam pengelolaan sediaan obat di apotek, pengadaan merupakan hal yang sangat penting. Pengadaan obat di Apotek Keselamatan dilakukan dengan pemesanan obat ke PBF melalui telepon ataupun melalui pemesanan langsung lewat karyawan PBF (sales) yang secara rutin berkunjung ke apotek. Pemesanan obat secara langsung melalui sales yang datang ke apotek dilakukan dengan menggunakan surat pesanan, sedangkan pemesanan melalui telepon umumnya tidak menggunakan surat pesanan. Surat pesanan baru diberikan kepada sales ketika obat diantar ke apotek. Pemesanan obat di Apotek Keselamatan dilakukan dua kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Senin dan Kamis. Pemesanan ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan penjualan harian apotek, baik penjualan obat bebas maupun penjualan obat resep. Pada umumnya, pemesanan obat dilakukan apabila stok obat telah mencapai stok persediaan minimum dan telah didata di dalam buku defekta. Obat-obatan yang dipesan ke PBF disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan kebutuhan apotek. Jumlah obat yang dipesan juga dipengaruhi tingkat penjualan obat dan adanya diskon dari PBF.

tingkat penjualan obat dan adanya diskon dari PBF. Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

48

Apabila suatu obat termasuk obat yang laku terjual (fast moving) dan PBF menawarkan adanya diskon, maka pemesanan obat tersebut dapat diperbanyak jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan stok satu bulan. Setiap pemesanan obat ke PBF harus memenuhi cukup faktur, yaitu memenuhi jumlah minimal pemesanan sehingga obat dapat dikirim. Setiap PBF menetapkan nilai cukup faktur atau jumlah minimal pemesanan yang berbeda. Pemesanan obat yang telah cukup faktur akan dikirim oleh PBF dan diterima oleh apotek satu hari kemudian. Namun demikian, terkadang terjadi keterlambatan karena stok barang yang kosong di PBF. Obat yang datang selanjutnya diterima oleh karyawan apotek dan diperiksa kesesuaiannya dengan daftar obat yang ada di buku pemesanan. Pengecekan juga dilakukan antara barang yang datang dengan faktur pembelian yang meliputi jenis barang, merek, ukuran sediaan, jumlah, harga satuan, jumlah harga per jenis barang, dan jumlah harga keseluruhan obat yang tertera di dalam faktur. Jika obat yang datang tersebut sudah sesuai, maka faktur ditandatangani dan dicap oleh karyawan apotek. Jika terdapat obat yang tidak sesuai pesanan, rusak, atau tanggal daluwarsanya terlalu dekat, maka obat tersebut dikembalikan kepada PBF yang bersangkutan. Faktur pembelian obat terdiri dari satu lembar faktur asli dan tiga lembar salinan faktur. Satu lembar faktur asli dan satu lembar salinan faktur dikembalikan kepada karyawan PBF, sedangkan dua lembar salinan faktur diambil dan disimpan oleh karyawan apotek sebagai arsip. Obat yang telah diterima selanjutnya dihitung harga jualnya sesuai dengan besarnya pajak dan persentase keuntungan yang ingin diperoleh. Obat tersebut kemudian diberi label harga dan dicatat di kartu stok sebagai obat yang masuk. Catatan yang dimuat di kartu stok berupa tanggal obat masuk, jumlah obat, PBF asal, dan sisa obat. Pembayaran obat yang dipesan dilakukan setelah karyawan PBF dan apotek melakukan tukar faktur, yaitu menetapkan waktu pembayaran obat berdasarkan periode pembayaran dan tanggal jatuh tempo yang telah disepakati. Karyawan PBF biasanya datang kembali ke apotek 1 minggu setelah pengiriman obat untuk melakukan tukar faktur. Tanggal jatuh tempo pembayaran umumnya 21 hari atau 30 hari setelah pemesanan obat. Pada tanggal jatuh tempo, apotek melakukan

pemesanan obat. Pada tanggal jatuh tempo, apotek melakukan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

49

pembayaran. Karyawan PBF akan menandatangani faktur asli dan menyatakan lunas, serta mengembalikan faktur asli kepada apotek. Pengadaan obat juga dapat dilakukan dengan cara pembelian langsung di apotek lain. Hal ini dilakukan jika obat yang diminta dalam resep tidak tersedia di Apotek Keselamatan. Pembelian dapat dilakukan melalui apotek lain yang memberikan diskon agar apotek tetap memperoleh keuntungan. Pembelian langsung melalui apotek lain ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung agar pengunjung tidak kecewa atas ketidaktersediaan obat di apotek yang dapat membuat apotek kehilangan pembelian dan kehilangan pelanggan. Administrasi pencatatan penjualan di Apotek Keselamatan dilakukan dengan baik dan rapi oleh karyawan apotek. Setiap penjualan obat selalu dicatat di kartu stok obat dan catatan harian penjualan. Catatan harian penjualan merupakan catatan hasil penjualan setiap hari di Apotek Keselamatan yang berisi nama dan jenis obat, jumlah obat, serta harga jualnya. Catatan harian penjualan tersebut dipisahkan antara obat luar (OTC) dan obat dalam atau obat resep (etikal) sehingga dapat diketahui rincian pemasukan apotek dari kedua golongan obat tersebut. Data dari catatan harian dirapikan kembali dalam buku pemasukan dan pengeluaran harian. Melalui buku tersebut, pemasukan dan pengeluaran dapat dievaluasi setiap harinya. Data pada buku tersebut kemudian dimasukkan ke dalam buku kas untuk mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Selain itu, evaluasi keuangan juga dilakukan setiap tahun dengan membuat laporan neraca dan laporan laba rugi. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat perkembangan apotek setiap tahunnya. Evaluasi terhadap pergerakan obat juga dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui obat mana saja yang masih tersedia dalam jumlah banyak, banyaknya obat yang sudah kedaluwarsa, dan jenis obat yang tergolong bergerak cepat (fast moving) dan bergerak lambat (slow moving). Terdapat tiga jenis pelayanan yang dilakukan di Apotek Keselamatan, yaitu pelayanan resep, pelayanan swamedikasi oleh apoteker, dan pelayanan pengecekan darah. Setelah resep diterima, resep diskrining secara administrasi, farmasetik dan klinis oleh apoteker. Bila terdapat ketidakrasionalan resep maka

oleh apoteker. Bila terdapat ketidakrasionalan resep maka Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

50

dokter yang meresepkan segera dihubungi. Obat yang ada di resep kemudian diperiksa ketersediaannya di apotek. Jika obat yang diminta tidak ada, pasien akan ditawarkan obat dengan komposisi sama dengan merek yang berbeda. Jika pasien setuju berikut dengan harga yang sudah dikonfirmasikan, maka obat akan disiapkan. Kemudian pasien diberikan informasi mengenai indikasi dan efek samping obat, cara penggunaan obat, jangka waktu pemakaian, makanan dan minuman yang dianjurkan atau dihindari ataupun saran terapi nonfarmakologi lainnya pada saat penyerahan obat. Hal tersebut penting dilakukan agar terapi farmakologi pasien berjalan dengan optimal dan menghindari terjadinya medication error. Pada pelayanan resep, apoteker meminta alamat dan nomor telepon pasien, khususnya pada resep yang mengandung obat narkotika dan psikotropika. Hal ini bertujuan untuk mempermudah apotek melakukan pemantauan jika ada penyalah gunaan obat, dan untuk kepentingan pengarsipan. Resep-resep yang masuk disimpan, dikelompokkan setiap bulan, dan diberi keterangan berupa nomor resep, tanggal resep, nama pasien, dan harga obat pada resep. Khusus untuk resep narkotika, penomoran resep dipisahkan dengan resep biasa untuk mempermudah pelaporan narkotika ke Kementerian Kesehatan secara online melalui situs sipnap.binfar.depkes.go.id setiap bulannya. Swamedikasi atau pengobatan sendiri adalah suatu perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat- obat yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh apoteker di apotek. Biasanya penyakit yang sering dilakukan swamedikasi seperti penyakit gatal-gatal/penyakit kulit, diare, demam, batuk, pilek, asma, dan lain-lain. Pelayanan swamedikasi sebagian besar dilakukan pada obat OTC dan/atau obat DOWA. DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek) adalah daftar obat-obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, namun harus diserahkan oleh apoteker di apotek. Terdapat 2 jenis pelanggan dalam hal ini, yaitu pelanggan yang sudah mengetahui obat yang akan dibeli dan pelanggan yang datang dengan keluhan penyakit tertentu tanpa mengetahui obat yang akan dibeli. Pada jenis pelanggan yang kedua apoteker atau karyawan apotek membantu memilihkan obat dengan

atau karyawan apotek membantu memilihkan obat dengan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

51

mempertimbangkan usia, berat badan pasien, penyakit yang diderita, dan harga yang disanggupi pasien. Pasien juga diberi informasi mengenai obat yang diberikan pada saat penyerahan obat oleh apoteker. Pelayanan swamedikasi di apotek sudah berjalan cukup baik, hal ini terlihat dari kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap apoteker dalam melakukan swamedikasi. Apotek Keselamatan telah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Apotek Keselamatan telah melaksanakan fungsi apoteknya sebagai sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker, seperti pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, dan pelayanan obat atas resep dokter serta memberikan pelayanan informasi obat. Selain itu, Apotek Keselamatan juga telah menerapkan sebagian besar standar pelayanan kefarmasian sesuai Keputusan Menkes RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 yang meliputi pelayanan resep serta promosi dan edukasi, sedangkan pelayanan home care belum dilaksanakan oleh Apotek Keselamatan.

home care belum dilaksanakan oleh Apotek Keselamatan. Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan 1. Apoteker pengelola apotek (APA) memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan pengelolaan apotek meliputi kegiatan administrasi, manajemen keuangan, pengadaan, penyimpanan, pelayanan kefarmasian di apotek dan pemusnahan obat yang rusak atau kadarluarsa. 2. Pengelolaan apotek yang meliputi kegiatan administrasi, manajemen keuangan, pengadaan, penyimpanan, penjualan dan pemusnahan perbekalan farmasi telah dilakukan dengan baik, teratur, serta sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

5.2 Saran 1. Perlu disediakan tempat khusus bagi pasien untuk melakukan konseling sebagai sarana penunjang
5.2 Saran
1. Perlu disediakan tempat khusus bagi pasien untuk melakukan konseling
sebagai sarana penunjang pelayanan kefarmasian yang berorientasi
pasien.
2. Perlu disediakan brosur serta poster kesehatan di ruang tunggu sebagai
sarana edukasi pelanggan.

Laporan praktek…

,

52

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2010). Buku Pedoman Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek. Jawa Timur.

Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Review Penerapan Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) dan Sistem Pelaporan Dinamika Obat PBF Regional I, II dan III Tahun 2010. 20 September 2013.

http://binfar.depkes.go.id/index.php/berita/view/178 Menteri Kesehatan RI. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan Republik
http://binfar.depkes.go.id/index.php/berita/view/178
Menteri Kesehatan RI. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 28/MENKES/PER/V/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. (1983). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 2380/A/SK/VI/83 Tentang Tanda Khusus untuk Obat Bebas dan Obat
Bebas Terbatas. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. (1986). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 2396/A/SK/VII/86 Tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G.
Jakarta.
Menteri
Kesehatan
RI.
(1990).
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
347/MENKES/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotik. Jakarta.
Menteri
Kesehatan
RI.
(1993).
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
924/MENKES/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.2. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 919/MENKES/PER/X/1993 Tentang Kriteria Obat yang Dapat
Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 922/Menkes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotik. Jakarta.
Menteri
Kesehatan
RI.
(1999).
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
1176/MENKES/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.3. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 922/Menkes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.

Laporan praktek…

,

53

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

54

Presiden Republik Indonesia. (1976). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

9 Tahun 1976 Tentang Narkotika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 Tentang Apotik. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
22 Tahun 1997 Tentang Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Seto, Soerjono, Nita, Yunita, dan Triana, Lily. (2004). Manajemen Farmasi:
Lingkup Apotek, Farmasi Rumah Sakit, Pedagang Besar Farmasi, Industri
Farmasi. Jakarta: Airlangga University Press.
Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. (Ed. ke-4). Jakarta: Wira Putra
Kencana.
Quick, Jonathan D. (1997). Managing drug supply: The selection, procurement,
distribution, and use of pharmaceuticals. (Ed. ke-2). Connecticut:
Kumarian Press.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

LAMPIRAN
LAMPIRAN

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

55

Lampiran 1. Contoh Formulir Model APT-1

55 Lampiran 1. Contoh Formulir Model APT-1 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

56

(lanjutan)

56 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

57

Lampiran 2. Contoh Formulir Model APT-2

57 Lampiran 2. Contoh Formulir Model APT-2 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

58

Lampiran 3. Contoh Formulir Model APT-3

58 Lampiran 3. Contoh Formulir Model APT-3 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

59

(lanjutan)

59 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

60

(lanjutan)

60 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

61

(lanjutan)

61 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

62

(lanjutan)

62 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

63

(lanjutan)

63 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

64

Lampiran 4. Contoh Formulir Model APT-4

64 Lampiran 4. Contoh Formulir Model APT-4 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

65

Lampiran 5. Contoh Formulir Model APT-5

65 Lampiran 5. Contoh Formulir Model APT-5 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

66

(lanjutan)

66 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

67

(lanjutan)

67 (lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

68

Lampiran 6. Contoh Formulir Model APT-6

68 Lampiran 6. Contoh Formulir Model APT-6 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

69

Lampiran 7. Contoh formulir model APT-7

69 Lampiran 7. Contoh formulir model APT-7 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

70

Lampiran 8. Contoh Formuluir Model APT - 8

70 Lampiran 8. Contoh Formuluir Model APT - 8 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

71

Lampiran 9. Surat pesanan narkotika

71 Lampiran 9. Surat pesanan narkotika Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

Lampiran 10. Laporan narkotika SIPNAP

72

No Kode Nama Nama Narkotika Satuan Stok Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah UL UL awal pemasukan
No
Kode
Nama
Nama Narkotika
Satuan
Stok
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Jumlah
UL
UL
awal
pemasukan
pemasukan
pengeluaran
pengeluaran
PBF
sarana
resep
sarana
1
Codein pulvis
Mg
2
Codein tablet 10 mg
Tablet
3
Codein tablet 15 mg
Tablet
4
Codein tablet 20 mg
Tablet
5
Codipront
cum
Kapsul
expectoran kapsul
6
Codipront kapsul
Kapsul
7
Codipront
cum
Botol
expectoran sirup
8
Codipront sirup
Botol
9
Coditam 30 mg botol
100 tablet
Tablet
10
Doveri 100 mg tablet
Tablet
11
Doveri 150 mg tablet
Tablet
12
Doveri 200 mg tablet
Tablet
13
Doveri pulvis
Mg
14
Durogesic
matrix
25
Tablet
MU
15
Durogesic
matrix
12
Tablet
MU
16
Durogesic
matrix
50
Tablet
MU
17
Fentanyl 0,05 mg/ml
10 ml injeksi
Ampul
18
Jurnista
(Hydromorphone HCl )
Tablet
4
mg
19
Jurnista
Tablet
(Hydromorphone HCl )
8
m
20
Jurnista
Tablet

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

73

(Hydromorphone HCl ) 16 mg 21 Jurnista Tablet (Hydromorphone HCl ) 32 mg 22 Methadone
(Hydromorphone HCl )
16
mg
21
Jurnista
Tablet
(Hydromorphone HCl )
32
mg
22
Methadone
sirup
50
Botol
mg/5ml
23
Morfin tablet 10 mg
Tablet
24
Morfin injeksi
10
Ampul
mg/ml 1 ml
25
MST
Continus
tablet
Tablet
10
mg
26
MST
Continus
tablet
Tablet
15
mg
27
MST
Continus
tablet
Tablet
30
mg
28
Oxycontin tablet
Tablet
Tablet
5 mg
29
Suboxone sublingual
Tablet
tab 2 mg
30
Suboxone sublingual
Tablet
tablet 8 mg
31
Subutex sublingual
Tablet
tablet 2 mg
32
Subutex
sublingual
Tablet
tablet 28mg
33
Sufenta
0,005
mg/ml
Ampul
10
ml injeksi

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

74

Lampiran 11. Surat pesanan psikotropika

74 Lampiran 11. Surat pesanan psikotropika Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

Lampiran 12. Laporan psikotropiska SIPNAP

75

No Kode Nama Nama Psikotropika Satuan Stok Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah UL UL awal pemasukan
No
Kode
Nama
Nama Psikotropika
Satuan
Stok
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Jumlah
UL
UL
awal
pemasukan
pemasukan
pengeluaran
pengeluaran
PBF
sarana
resep
sarana
1
ALPRAZOLAM
0,5
Tablet
mg
2
AlPRAZOLAM 1 mg
Tablet
3
ANALSIK
Tablet
4
AMITRIPTILYLINE
Tablet
25
5
BELLAPHEN
Tablet
6
BRAXIDIN
Tablet
7
CHLORPROMAZINE
100 mg
Tablet
8
CLOBAZAM 10 mg
Tablet
9
DANALGIN
Tablet
10
DIAZEPAM 2 mg
Tablet
11
EPHEDRIN 25 mg
Tablet
12
ESILGAN 1 mg
Tablet
13
ESILGAN 2 mg
Tablet
14
EXTRACK
Tablet
BELLADONNAE
10
MG
15
FRISIUM
Tablet
16
HALOPERIDOL 5 mg
Tablet
17
LIBRAX
Tablet
18
SANMAG
Tablet
19
SPASMIUM
Tablet
20
STESOLID
RECTAL
Tube
5 mg
21
STESOLID
RECTAL
Tube
10 mg
22
STESOLID SIRUP
Fls
23
VALISANBE 2 mg
Tablet
24
VALISANBE 5 mg
Tablet
25
XANAX 0.25 mg
Tablet
26
XANAX 0.5 mg
Tablet
27
XANAX 1 mg
Tablet

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

76

Lampiran 13. Lokasi Apotek Keselamatan

76 Lampiran 13. Lokasi Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

77

Lampiran 14. Desain eksterior Apotek Keselamatan

77 Lampiran 14 . Desain eksterior Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

78

Lampiran 15. Denah ruangan Apotek Keselamatan

78 Lampiran 15. Denah ruangan Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

79

Lampiran 16. Etiket Apotek Keselamatan

79 Lampiran 16. Etiket Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

80

Lampiran 17. Salinan resep Apotek Keselamatan

80 Lampiran 17. Salinan resep Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

81

Lampiran 18. Kuitansi Apotek Keselamatan

81 Lampiran 18. Kuitansi Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

82

Lampiran 19. Surat pesanan Apotek Keselamatan

82 Lampiran 19. Surat pesanan Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

83

Lampiran 20. Kartu stok Apotek Keselamatan

83 Lampiran 20 . Kartu stok Apotek Keselamatan Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

84

Lampiran 21. Daftar Obat Wajib Apotik No.1

84 Lampiran 21. Daftar Obat Wajib Apotik No.1 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

85

(Lanjutan)

85 (Lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

86

(Lanjutan)

86 (Lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

87

(Lanjutan)

87 (Lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

88

Lampiran 22. Daftar Obat Wajib Apotik No.2

88 Lampiran 22. Daftar Obat Wajib Apotik No.2 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

89

(Lanjutan)

89 (Lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

90

Lampiran 23. Daftar Obat Wajib Apotik No. 3

90 Lampiran 23. Daftar Obat Wajib Apotik No. 3 Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

91

(Lanjutan)

91 (Lanjutan) Laporan praktek… , Widiarti, FF UI, 2014 Universitas Indonesia

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

1

TUGAS KHUSUS
TUGAS KHUSUS

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

55

55 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN KASUS PADA PENGOBATAN PENYAKIT JERAWAT (ACNE VULGARIS) TUGAS KHUSUS WIDIARTI, S.Farm.

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN KASUS PADA PENGOBATAN PENYAKIT JERAWAT (ACNE VULGARIS) TUGAS KHUSUS WIDIARTI, S.Farm. 1206330236 ANGKATAN
LAPORAN KASUS PADA PENGOBATAN
PENYAKIT JERAWAT (ACNE VULGARIS)
TUGAS KHUSUS
WIDIARTI, S.Farm.
1206330236
ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2014

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

56

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL………………………………………………………

i

1. PENDAHULUAN…………………………………………………………….

ii

1.1 Latar Belakang……………………………………………………………

1

1.2 Tujuan…………………………………………………………………….

1

1.3 Batasan masalah…………………………………………………………

2

2.TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………… 3 2.1 Definisi
2.TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………
3
2.1
Definisi jerawat……………………………………………………………
3
3. PEMBAHASAN…………………………………………………………
7
4. LAPORAN KASUS………………………………………………………….
8
5. KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………
11
5.1 KESIMPULAN…………………………………………………………
11
5.2 SARAN……………………………………………………………………
11
DAFTAR ACUAN………………………………………………………………
12

Laporan praktek…

,

ii

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

1

BAB1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Jerawat merupakan penyakit kulit yang umum terjadi dan mempengaruhi 85- 100% orang pada suatu saat selama hidupnya. Dicirikan dengan adanya papula folikuler noninflamasi atau komedo dan nodul, pustula, dan papula radang dalam bentuk yang lebih berat. Jerawat mempengaruhi daerah kulit yang memiliki banyak kelenjar lemak (sebasea), seperti wajah, dada bagian atas, dan punggung (Zoubulliss, 2001). Prevalensi tertinggi yaitu pada umur 16-17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83-85% dan pada pria berkisar 95-100% . Dari survei di kawasan Asia Tenggara, terdapat 40-80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia, menunjukkan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007 (Goodman, 1999).

pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007 (Goodman, 1999). Minor acne adalah suatu bentuk jerawat

Minor acne adalah suatu bentuk jerawat ringan yang dialami oleh 85% remaja, gangguan ini masih dianggap proses fisiologis, 15% remaja menderita mayor acne yang cukup hebat sehingga mendorong mereka untuk berobat ke dokter. Dalam masa remaja terjadi perubahan fisik menjadi dewasa yang seringkali terjadi penyimpangan- penyimpangan dari bentuk badan wanita atau laki-laki, pada masa ini perhatian remaja sangat besar tehadap penampilan dirinya (Monks, Knoers, 1991). Bila ada penyimpangan-penyimpangan, timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya (Monks, Knoers, 1991). Walaupun jerawat tidak mengancam kehidupan, namun jerawat dapat menyebabkan masalah psikologis yang berat dan menimbulkan efek negatif pada kualitas hidup penderita, untuk itu penanganan yang baik perlu dilakukan bukan hanya untuk tujuan kosmetik (Abramovits, Gonzalez-Serva, 2000).

Dari prevalensi jerawat di dapat bahwa hampir sebagian besar masyarakat khususnya remaja pernah menderita jerawat, karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan secara fisik karena nyeri dan purulent discharge juga menimbulkan bekas di wajah, efek utama jerawat adalah pada jiwa seseorang, seperti dampak psikologis dan menurunnya kualitas hidup.

1

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

2

Uraian diatas mendorong penulis untuk mengangkatnya dalam bentuk tugas khusus dengan judul “Laporan kasus pada pengobatan penyakit jerawat (acne vulgaris)”.

1.2 Tujuan

Tujuan dari tugas khusus ini untuk memberikan informasi mengenai pengobatan jerawat ( acne vulgaris) , dan diharapkan tugas khusus ini dapat berguna bagi pembaca khususnya remaja serta memberikan gambaran kepada khalayak tentang pengobatan pada jerawat (acne vulgaris)

1.3 Batasan masalah Dalam penulisan tugas khusus ini, pengamatan dan pengambilan data hanya pada kasus
1.3 Batasan masalah
Dalam penulisan tugas khusus ini, pengamatan dan pengambilan data hanya
pada kasus pengobatan jerawat dalam hal ini acne vulgaris.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jerawat (Acne vulgaris) ( Wasiatmaja, 2001)

2.1.1 Definisi

Jerawat adalah istilah awam untuk acne vulgaris, yaitu penyakit kulit yang terjadi akibat penyumbatan muara
Jerawat adalah istilah awam untuk acne vulgaris, yaitu penyakit kulit yang
terjadi akibat penyumbatan muara saluran lemak sehingga terjadi penumpukan lemak
dan disertai radang, yang biasa terjadi pada usia remaja ketika terjadi perubahan hormon
sehingga menghasilkan lebih banyak minyak.
2.1.2 Gejala-gejala
1. timbulnya bintik merah walupun tidak membahayakan namun mengganggu,
terkadang bintik merah disertai peradangan yang terasa gatal pada waktu mulai
timbul dan terasa sakit bila ditekan, peradangan juga bisa disebabkan oleh kuman
tertentu yang membentuk kantong kecil (kista) bila pecah mengeluarkan nanah dan
darah tetapi tidak berbau. Biasanya timbul dibagian wajah, akan tetapi dapat juga
timbul di bagian kulit kepala, leher, punggung dan dada bagian atas.
2. Timbulnya bintik putih/ hitam yang menonjol dan tidak sakit (komedo).
2.1.3 Etiologi
Belum diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa faktor yang
berkaitan dengan patogenesis penyakit ini :
diduga
a.

Sumbatan kelenjar lemak oleh keratin pada kulit, bila terkena infeksi, jerawat bisa berubah menjadi bisul dan bernanah.

b. Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedo genik yang menyebabkan dan timbulnya lesi jerawat.

c. Pengaruh hormonal yang merupakan faktor terpenting karena pada umumnya jerawat mulai timbul pada usia remaja dimana terjadi perubahan – perubahan aktifitas hormon dalam tubuh.

3

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

4

d. Terjadinya stres yang dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea.

Faktor lain : Usia, Ras, Familial, Makanan yang secara tidak langsung dapat memacu peningkatan proses patogenesis tersebut.

2.1.4 Diagnosis

Salah satu diagnosis untuk jerawat ditegakkan atas dasar klinis dengan pemeriksaan sebum yaitu dengan pengeluaran sumbatan sebum menggunakan komedo ekstraktor (sendok una). Sebum yang menyumbat muara saluran lemak tampak sebagai masa padat seperti lilin atau masa lebih lunak seperti nasi yang ujungnya terkadang berwarna hitam.

Diagnosis lain untuk jerawat dapat dilakukan dengan pemeriksaan histopatologis, pemeriksaan mikro biologis terhadap jasad
Diagnosis lain untuk jerawat dapat dilakukan dengan pemeriksaan
histopatologis, pemeriksaan mikro biologis terhadap jasad renik dan pemeriksaan
terhadap kadar lipid permukaan kulit.
2.1.5 Pencegahan
1) Selalu menjaga kebersihan kulit dengan menggunakan sabun/ pembersih yang
2)
3)
4)
5)
6)
ringan
Jangan memencet atau menusuk jerawat supaya tidak terjadi jaringan parut
Hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, hindari stres.
Penggunaan kosmetika secukupnya dan dalam jangka waktu yang tidak lama.
Menjauhi terpacunya kelenjar lemak misalnya dengan minuman beralkohol, rokok,
atau makanan pedas.
Menghindari polusi debu
2.1.6 Pengobatan

a. Pengobatan topikal

pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan, dan mempercepat penyembuhan jerawat.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

5

b. Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktivitas jasad renik disamping dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum, dan mempengaruhi keseimbangan hormonal.

c. Bedah Kulit

Tindakan bedah kulit kadang – kadang diperlukan untuk memperbaiki jaringan parut akibat jerawat meradang yang
Tindakan bedah kulit kadang – kadang diperlukan untuk memperbaiki jaringan
parut akibat jerawat meradang yang berat yang sering menimbulkan jaringan parut.
Jenis bedah kulit yang dipilih disesuaikan dengan macam dan kondisi jaringan parut
yang terjadi. Tindakan ini dilakukan setelah jerawatnya sembuh.
2.1.7 Kandungan obat jerawat
Untuk swamedikasi terhadap jerawat dapat digunakan obat-obat yang mengandung :
1. Sulfur / belerang
cara kerja obat : mempunyai sifat germisida, fungisida, parasitisida, dan juga
mempunyai efek keratolitik.
Hal yang perlu diperhatikan : Hindarkan kontak dengan mata, mulut dan mukosa.
efek yang tidak diinginkan : iritasi kulit
2. Asam Salisilat
Cara kerja obat : Mempunyai sifat keratolitik, yang dapat melunakkan kulit sehingga
dapat membantu penyerapan obat lain dan fungisida yang lemah.
Efek yang tidak diinginkan :Iritasi kulit

3. Resorsinol

Cara kerja obat : Mempunyai efek anti fungi, anti bakteri dan keratolitik.

Hal yang perlu diperhatikan : Tidak dianjurkan pemakaian jangka lama karena dapat menggangu fungsi tiroid

Efek yang tidak diinginkan ;iritasi, reaksi alergi pada kulit

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

6

4. Benzoil Peroksida

Cara kerja obat : Benzoil Peroksida secara perlahan-lahan melepaskan oksigen aktif yang memberikan efek bakteriostatik juga mempunyai efek keratolitik dan mengeringkan sehingga dapat menunjang efek pengobatan.

Hal yang perlu diperhatikan : Hindari kontak dengan mata, mulut dan mukosa.

Efek yang tidak diinginkan : Iritasi kulit. 2.1.8 Cara pemakaian obat jerawat Cuci wajah hingga
Efek yang tidak diinginkan : Iritasi kulit.
2.1.8 Cara pemakaian obat jerawat
Cuci wajah hingga bersih, oleskan obat dengan ujung jari pada bagian yang
berjerawat selama tiga hari pertama. Bila tidak terjadi gangguan, gunakan dua kali
sehari pada bagian yang berjerawat. Bila timbul kekeringan atau kulit terkelupas dosis
dikurangi menjadi satu kali sehari atau dua hari sekali.
Jerawat umumnya sembuh sebelum mencapai usia 30-40 tahun, jarang terjadi
acne vulgaris yang menetap sampai tua atau mencapai tingkat yang sangat parah dan
berat sehingga perlu dirawat inap di rumah sakit.

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

7

BAB 3

PEMBAHASAN

Berdasarkan amamnesa kasus dapat disimpulkan bahwa penderita mengalami:

1.

Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya destruksi jaringan kulit ditandai dengan adanya papul, pustul, nodus dan lesi, maka yang harus dilakukan apoteker:

No Tindakan Tujuan 1. Mendorong klien untuk menghindari semua bentuk friksi (menyentuh, menggaruk dengan tangan)
No
Tindakan
Tujuan
1.
Mendorong klien untuk menghindari
semua bentuk friksi (menyentuh,
menggaruk dengan tangan) pada kulit
Mencegah penularan bakteri
yang dapat memperparah
infeksi pada lesi kulit
2.
Menganjurkan pasien untuk dapat merawat
kulit dengan bersih dan benar.
Perawatan kulit yang benar
mengurangi resiko terakumu
lasinya kotoran di kulit
3.
Memotivasi pasien untuk tetap
mengkonsumsi obat dan makanan yang
mengandung cukup gizi
Untuk memperlancar proses
penyembuhan.
4.
Mengobservasi terhadap eritema dan
palpasi area sekitar terhadap kehangatan
Kehangatan merupakan tanda
adanya infeksi.
5.
Pemberian antibiotik topikal
Untuk menghambat
pertumbuhan bakteri

7

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

8

2.

Gangguan

mempengaruhi penampilan

konsep

diri

berhubungan

dengan

adanya

lesi

pada

kulit

yang

No Tindakan Tujuan 1. Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan persepsi tentang efek penyakitnya Dengan
No
Tindakan
Tujuan
1.
Mendorong klien untuk mengungkapkan
perasaan dan persepsi tentang efek
penyakitnya
Dengan mengungkapkan
perasaan, dapat mengurangi
beban secara psikologis
2.
Mendorong individu untuk bertanya
masalah, penanganan, perkembangan
dan prognosa kesehatan.
Untuk menilai tingkat
pengetahuan pasien dan dapat
memberikan masukan-
masukan baru yang bermanfaat
bagi kesembuhannya
3.
Memberikan informasi yang dapat
dipercaya dan diperkuat informasi yang
telah diberikan.
Meningkatkan pengetahuan
pasien, agar berperilaku sehat
dan mencegah perkembangan
penyakit yang lebih parah lagi
4.
Menganjurkan untuk berbagi dengan
individu tentang nilai-nilai dan hal-hal
yang penting untuk mereka
Dengan mengungkapkan,
saling berbagi, dapat
mengurangi beban secara
psikologis

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

9

3. Resiko infeksi berhubungan dengan terbentuknya pus pada pustul

No Tindakan Tujuan 1. Mengajarkan pasien agar dapat mengidentifikasikan perubahan yang terjadi pada kulit sedini
No
Tindakan
Tujuan
1.
Mengajarkan pasien agar dapat
mengidentifikasikan perubahan
yang terjadi pada kulit sedini
mungkin.
Memandirikan pasien terhadap
tanda-tanda infeksi, agar pasien
dapat melakukan pengobatan
secepat mungkin ketika terjadi
perubahan pada kulitnya
2.
Mendemonstrasikan perawatan
kulit dan tekankan pentingnya
tehnik aseptik.
Perawatan kulit yang benar (aseptic)
mencegah infeksi yang
berkelanjutan
3.
Menekankan pentingnya diet
nutrisi yang bergizi untuk
meningkatkan pemulihan
Nutrisi yang bagus meningkatkan
imunitas tubuh terhadap
perkembangan bakteri
4.
Menjelaskan hal-hal yang dapat
menimbulkan infeksi lain
Meningkatkan pngetahuan pasien
agar berperilaku sehat yang
mencegah mencegah infeksi yang
lebih parah lagi
Pengobatan secara topikal merupakan standar dalam penanggulangan jerawat.
Beberapa zat berkhasiat yang terkandung dalam obat yang dapat digunakan untuk
mengatasi jerawat adalah benzoil peroksida, asam salisilat, sulfur , Kombinasi sulfur
dan resorsinol . Contoh obatnya antara lain Medi-Klin ® , Vitacid ® , JF sulfur ® , Elocon ® ,
dan Benzolac ® .

Laporan praktek…

,

Widiarti, FF UI, 2014

Universitas Indonesia

10

BAB 4

LAPORAN KASUS

Nona S datang ke apotek dengan keluhan adanya bintik-bintik di wajahnya dengan ukuran bervariasi yang menyebabkan kulitnya rusak dan nyeri. Bintik- bintik di wajahnya ini sudah dialami klien sejak 1 bulan yang lalu dan klien merasa malu. Dari pemeriksaan didapatkan adanya papul, pustul, nodus dan kista pada tempat-tempat predileksi, tampak adanya pus dan kemerahan. Berdasarkan keluhan tersebut klien diberi obat racikan berupa salep yang terdiri atas:

(catatan: pasien minta dibuatkan obat racikan). R/ Clindamisin 300 mg Salep hydrocortisone 2,5 % 2
(catatan: pasien minta dibuatkan obat racikan).
R/ Clindamisin 300 mg
Salep hydrocortisone 2,5 % 2 tube
Asam salicylat 200 mg
m.f.ungt add 10 g
Sue 1 sebelum tidur
Spesialite obat yang diberikan:
Obat jerawat yang berupa salep mengandung:
Nama obat
Komposisi
Khasiat
Clindamisin
300 mg clindamisin/kapsul
Antibiotic
Salep hydrocortisone 2,5 %
Hydrocortisone 2,5 %/tube
Anti radang
Asam salicilat
Asam salicilat
keratolitik