Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT DAN EFEK

SEDATIF
I.
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah.
Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut
sampai dengan rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Cara pemberian obat yang berbedabeda melibatkan proses absorbsi obat yang berbeda-beda pula. Kegagalan atau kehilangan
obat selama proses absorbsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan
pengobatan.
Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat per oral, karena
mudah, aman, dan murah . Dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus, karena
memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200m2. Pada pemberian secara oral,
sebelum obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dahulu
harus mengalami absorbsi pada saluran cerna. Ada beberapa cara pemberian obat yang lain,
yaitu sublingual, per oral, per rectal, pemakaian pada permukaan epitel ( kulit, kornea, vagina,
mukosa hidung ), inhalasi, dan suntikan ( subkutan, intramuskuler, dan intratekal ).
Kecepatan absorbsinya pun berbeda pada masing-masing cara pemberian yang dapat
menunjukan keefektifan obat tersebut. Dalam praktikum kali ini kita akan membandingkan
keefektifan dan kecepatan absorbsi obat berdasarkan rute pemberian yang berbeda-beda.
Selain itu, pada percobaan kali ini juga akan digunakan obat golongan hipnotik sedatif yang
merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu
menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine)
yaitu hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis.
b. Tujuan percobaan
Mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap

kecepatan absorbsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya.


Mempelajari dan mengamati pengaruh dari obat penekan syaraf pusat.

c. Dasar Teori

Absorbsi merupakan pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat
tertentu pada organ ke dalam aliran darah yang dipengaruhi beberapa faktor yakni cara
pemberian obat dan bentuk sediaan. Ada beberapa cara pemberian obat yaitu sublingual, per
oral, per rectal, pemakaian pada permukaan epitel ( kulit, kornea, vagina, mukosa hidung ),
inhalasi, dan suntikan ( subkutan, intramuskuler, dan intratekal ). (Anonim,1995).
Absorbsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagai barier absorbsi adalah
membran epitel saluran cerna yang seperti halnya semua membran sel epitel saluran cerna ,
yang seperti halnya semua membran sel ditubuh kita, merupakan lipid bilayer.Dengan
demikian , agar dapat melintasi membran sel tersebut, molekul obat harus memiliki kelarutan
lemak (setelah terlebih dulu larut dalam air) (Farmakologi dan Terapi edisi 5, 2007).
Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga
terhadap onset dan durasi. Onset adalah waktu yang dibutuhkan obat untuk menimbulkan efek
mulai obat itu diberikan. Cara pemberian per oral memiliki onset yang paling lama karena
pada per oral senyawa obat memerlukan proses absorbsi, setelah obat masuk mulut akan
masuk lambung melewati kerongkongan. Di dalam lambung obat mengalami ionisasi
kemudian diabsorbsi oleh dinding lambung masuk kedalam peredaran darah, sehingga
membutuhkan waktu lebih lama untuk berefek. Sedangkan secara intraperitonial memiliki
onset paling pendek karena rongga perut banyak terdapat pembuluh darah dan tidak ada faktor
penghambat sehingga dengan segera akan menimbulkan efek. Pada subcutan melalui bawah
kulit di mana obat harus melalui lapisan- lapisan kulit baru masuk ke pembuluh kapiler bawah
kulit, sehingga onset yang dihasilkan lebih lama dari kedua cara lainnya (Anief, 1990).
Durasi adalah waktu yang diperlukan obat mulai dari obat berefek sampai efek hilang.
Durasi dipengaruhi oleh kadar obat dalam darah dalam waktu tertentu. Pada per oral
didapatkan durasi terpendek, disebabkan karena per oral melewati banyak fase seperti
perombakan dihati menjadi aktif dan tidak aktif. Semakin banyak fase yang dilalui maka
kadar obat akan turun sehingga obat yang berikatan dengan reseptor akan turun dan durasinya
pendek. Sedangkan pada pemberian secara intraperitonial obat dengan kadar tinggi akan
berikatan dengan reseptor sehingga akan langsung berefek tetapi efek yang dihasilkan
durasinya cepat karena setelah itu tidak ada obat yang berikatan lagi dengan reseptor. Pada
sub cutan memiliki durasi yang lama, hal ini disebabkan karena obat akan tertimbun di depot
lemak/ jaringan di bawah kulit sehingga secara perlahan- lahan baru akan dilepaskan sehingga

durasinya lama. Cara pemberian obat yang baik, bila onset yang dihasilkan cepat dan durasi
dalam obat lama (Anief, 1990).
Per oral. Sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Beberapa
obat ( misalnya: alcohol dan aspirin ) dapat diserap dengan cepat dari lambung, tetapi
kebanyakan obat diabsorpsi sebagian besar melalui usus halus. Absorpsi obat melalui usus
halus, pengukuran yang dilakukan terhadap absorpsi obat baik secara in vivo maupun secara
in vitro, menunjukan bahwa mekanisme dasar absorpsi obat melalui usus halus ini adalah
secara transfer pasif. Di mana kecepatan obat ditentukan oleh derajat ionisasi obat dan lipid
solubilitas dari molekul obat tersebut.
Pemberian obat secara suntikan intravena. Pemberian obat secara intravena adalah
cara yang paling cepat dan paling pasti. Suatu suntikan tunggal intravena akan memberikan
kadar obat yang sangat tinggi yang pertama-tama akan mencapai paru-paru dan kemudian ke
sirkulasi sistemik. Kadar puncak yang mencapai jaringan tergantung pada kecepatan suntikan
yang harus diberikan secara perlahan-lahan sekali. Obat-obat yang berupa larutan dalam
minyak dapat menggumpalkan darah atau dapat menyebabkan hemolisa darah, karena itu
tidak boleh diberikan secara intravena.
Pemberian obat suntikan subkutan. Suntikan subkutan hanya bias dilakukan untuk
obat-obat yang tidak menyebabkan iritasi terhadap jaringan karena akan menyebabkan rasa
sakit hebat, bnekrosis dan pengelupasan kulit. Absorpsi melalui subkutan ini dapat pula
bervariasi sesuai dengan yang diinginkan.
Pemberian suntikan intramuskuler ( IM ). Obat- obat yang larut dalam air akan
diabsorbsi dengan cepat setelah penyuntikan IM. Umumnya kecepatan absorpsi setelah
penyuntikan pada muskulus deloid atau vastus lateralis adalah lebih cepat dari pada bila
disuntikkan pada gluteus maximus. Pemberian suntikan intra-anterial. Kadang-kadang obat
disuntikan ke dalam sebuah arteri untuk mendapatkan efek yang terlokalisir pada jaringan
atau alat tubuh tertentu. Tetapi nilai terapi cara ini masih belum pasti. Kadang-kadang obat
tertentu jug a disuntikan intraarteri untuk keperluan diagnosis. Sutikan intraarteri harus
dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli. Pemberian suntikan intratekal. Dengan cara ini
oabt langsung disuntikkan ke dalam ruang subaraknoid spinal. Suntikan intratekal dilakukan
karena banyak obat yang tidak dapat mencapi otak, karena adanya sawar darah otak (dr.
sjamsuir munaf, 1994 )
Pemberian suntikan intra-peritonial. Rongga peritoneum mempunyai permukaan
absorpsi yang sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara

ini banyak digunakan di laboratorium tetapi jarang digunakan di klinik karena adanya bahaya
infeksi dan perlengketan peritoneu ( dr.sjamsuir munaf,1994 ).
Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan
meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur.
Umumnya, obat ini diberikan pada malam hari. Bila zat-zat ini diberikan pada siang hari
dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan Hipnotik sedatif
merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu
menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine)
yaitu hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat
sedasi menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap rangsangan dan menenangkan. Obat
hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang
menyerupai tidur fisiologis sedatif (Tjay, 2002).
Sedatif menekan reaksi terhadap perangsangan, terutama rangsangan emosi tanpa
menimbulkan kantuk yang berat. Hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan disertai
penurunan refleks hingga kadang-kadang kehilangan tonus otot (Djamhuri, 1995).
Hipnotika dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu benzodiazepin, contohnya:
flurazepam, lorazepam, temazepam, triazolam; barbiturat, contohnya: fenobarbital, tiopental,
butobarbital; hipnotik sedatif lain, contohnya: kloralhidrat, etklorvinol, glutetimid, metiprilon,
meprobamat; dan alkohol (Ganiswarna dkk, 1995).
Barbiturat tidak dapat mengurangi nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran.
Pemberian obat barbiturat yang hampir menyebabkan tidur, dapat meningkatkan 20% ambang
nyeri, sedangkan ambang rasa lainnya (raba, vibrasi dan sebagainya) tidak dipengaruhi. Pada
beberapa individu dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya rasa nyeri, barbiturat tidak
menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium). Hal
ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan (Ganiswarna dkk, 1995).
II.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat-alat
Spuit injeksi (0,1-2 ml)
Jarum sonde
Labu ukur 10 ml
Stopwatch
Timbangan tikus
Neraca analitik
Alat-alat gelas
Rotarod (batang berputar)
B. Bahan

III.

Hewan coba (masing-masing kelompok tikus 3 ekor)


Fenobarbital
Aquabidest

CARA KERJA
Peralatan Percobaan
Disiapkan semua alat yang dibutuhkan
Semua perhitungan

Dihitung dosis konversi, larutan stok, dan

jumlah obat yang harus diambil.


Dihitung volumefenobarbital yang akan
diberikan.

Dibagi per kelompok mendapat 3 tikus


Hewan uji (tikus)
Ditimbang bobot tikus dan diberi tanda.
Diberikan fenobarbital sesuai dengan
kelompok.

Kelompok 1
Diberikan secara

Per oral
Intravena
Intraperitoneal

Kelompok 2

Kelompok 3

Diberikan secara

Per oral
Subkutan
Intramuskular

Diberikan secara

Kelompok 4
Diberikan secara

Per oral sesuai dengan


Per
oral
Ditandai
pemberian
bahan
Intravena
Subkutan
uji.
Intraperitoneal
Intramuskular
Dilakukan percobaan pada menit ke 15, 30,
60, dan 90 dengan meletakkannya pada

IV.

rotarod.
Diamati berapa kali tikus terjatuh dari

rotarod.
Diamati onset dan durasi obat fenobarbital.
Dicatat

PERHITUNGAN DAN HASIL PERCOBAAN


Hasil
Perhitungan
Per Oral
Dosis Konversi = 0,018 x 30 mg = 0,54 mg/200 g BB tikus

dosis konversi
0,54
Larutan stok = 2 x V Maks = 2 x 5

Berat yang diambil =

Volume pemberian =

larutan stok
dosis

= 0,054 mg

x berat tablet

0,054
30 x 124,3 mg = 0,2 mg ad 10 ml aquabidest
BB tikus
100
110
100

x Vmaks

x .5

= 2,75 ml
Subkutan
Dosis Konversi = 0,018 x 30 mg = 0,54 mg/200 g BB tikus
dosis konversi
0,54
Larutan stok = 2 x V Maks = 2 x 5 = 0,054 mg
V1. M1 = V2. M2
V1. 25 = 25 x 0,054
V1= 0,054 ad 25 ml
Volume pemberian =

BB tikus
100
150
100

x Vmaks

x .5

= 3,75 ml

Intramuskular

Dosis Konversi = 0,018 x 30 mg = 0,54 mg/200 g BB tikus


dosis konversi
0,54
Larutan stok = 2 x V Maks = 2 x 0,1

= 2,7 mg

V1. M1 = V2. M2
V1. 25 = 2,7 x 25
V1= 2,7 ad 25 ml
Volume pemberian =

BB tikus
100
130
100

x Vmaks

x . 0,1

= 0,065 ml
Hasil pengamatan
Pengaruh pemberian terhadap absorbsi obat
Kelompok 1
Onset
Durasi
Kelompok 2
Onset
Durasi
Kelompok 3
Onset
Durasi
Kelompok 4
Onset
Durasi
Tabel Rata-rata

Per Oral
30
70
Per Oral
70
90
Per Oral
52
84
Per Oral
45
80

Intravena
15
90
Subkutan
60
90
Intravena
15
88
Subkutan
60
115

Intraperitoneal
15
90
Intramuskular
45
70
Intraperitoneal
17
90
Intramuskular
30
90

Per Oral

Intravena

Intraperitoneal

Subkutan

Intramuskular

Rata-rata

49,25

15

16

60

37,5

Onset
Rata-rata

80

89

90

102,5

80

Durasi

Efek Sedatif (Jumlah Jatuh dalam 2 menit)


Menit (Kelompok 1)
15

Per Oral
1

Intravena
2

Intraperitoneal
3

30
45
60
90
Menit (Kelompok 2)
15
30
45
60
90
Menit (Kelompok 3)
15
30
45
60
90
Menit (Kelompok 4)
15
30
45
60
90
Tabel Rata-rata

Menit 15
Menit 30
Menit 45
Menit 60
Menit 90

V.

2
4
10
5
Per Oral
1
3
3
1
Per Oral
2
3
4
1
Per Oral
2
1
3
4
-

2
5
5
Subkutan
1
4
2
Intravena
3
4
4
1
Subkutan
1
4
7
8
12

2
6
5
Intramuskular
4
2
3
1
Intraperitoneal
4
2
1
2
2
Intramuskular
1
3
4

Per Oral

Intravena

Intraperitoneal

Subkutan

Intramuskular

1,5
2,25
3,5
4
5

1
2,5
4,5
4,5
0,5

3,5
2
3,5
1
3,5

1
4
4,5
4
6

2
1,5
3
0,5
2

PEMBAHASAN
Onset adalah waktu yang dibutuhkan obat untuk menimbulkan efek mulai obat itu

diberikan. Cara pemberian per oral memiliki onset yang paling lama karena pada per oral
senyawa obat memerlukan proses absorbsi, setelah obat masuk mulut akan masuk lambung
melewati kerongkongan. Di dalam lambung obat mengalami ionisasi kemudian diabsorbsi
oleh dinding lambung masuk kedalam peredaran darah, sehingga membutuhkan waktu lebih
lama untuk berefek. Sedangkan secara intraperitonial memiliki onset paling pendek karena
rongga perut banyak terdapat pembuluh darah dan tidak ada faktor penghambat sehingga
dengan segera akan menimbulkan efek. Pada subcutan melalui bawah kulit di mana obat
harus melalui lapisan- lapisan kulit baru masuk ke pembuluh kapiler bawah kulit, sehingga

onset yang dihasilkan lebih lama dari kedua cara lainnya. Durasi adalah waktu yang
diperlukan obat mulai dari obat berefek sampai efek hilang. Durasi dipengaruhi oleh kadar
obat dalam darah dalam waktu tertentu. Pada per oral didapatkan durasi terpendek,
disebabkan karena per oral melewati banyak fase seperti perombakan dihati menjadi aktif dan
tidak aktif (Anief, 1990).
Rute-rute pemberian obat di kelompokkan menjadi lima yaitu: peroral, subktan(sc),
intravena(iv), intraperitonial(ip) dan intramuscular(im).

Pada pemberian per oral banyak

faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat. Karena ada obat-obat yang tidak semua yang
diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan
dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan atau di hati pada lintasan pertamanya melalui
organ-organ tersebut (metabolisme atau eliminasi lintas pertama).
Pemberian intravena (IV) tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam
sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapat
disesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya adalah mudah tercapai efek
toksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidak dapat
ditarik kembali.
Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan
untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara
lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Injeksi intramuskular (IM) atau
suntikkan melalui otot, kecepatan dan kelengkapan absorpsinya dipengaruhi oleh kelarutan
obat dalam air. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus
maksimus.
Injeksi intraperitoneal atau injeksi pada rongga perut tidak dilakukan untuk manusia
karena ada bahaya infeksi dan adesi yang terlalu besar. Pemberian secara injeksi intravena
menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih
lambat diperoleh dengan injeksi intramuskular, dan lebih lambat lagi dengan injeksi subkutan
karena obat harus melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah.
Praktikum kali ini mempalajari tentang pengaruh cara pemberian obat terhadap
absorpsi obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Tikus dipilih sebagai hewan
uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok

untuk dijadik`n sebagai objek pengamatan. Pada praktikum ini, di lakukan berbagai macam
cara pemberian obat fenobarbital kepada 5 tikus jantan. Pada awalnya mencit jantan bersifat
normal (aktif berlari, memanjat, dll). Kemudian disuntikkan obat fenobarbital ke masingmasing mencit jantang dengan berbagai macam cara pemberian obat, yaitu oral, intra vena,
intra peritoneal, intra muscular, dan subcutan. Dosis yang diberikan kepada masing-masing
mencit berbeda-beda, sesuai dengan berat badan mencit masing-masing. Setelah pemberian
fenobarbital perubahan mulai terjadi pada mencit, namun ada 1 perbedaan pada hasilnya,
yaitu perbedaan pada waktu obat mulai bereaksi terhadap masing-masing mencit.
Dari hasil percobaan didapatkan rata-rata onset dari yang tercepat
hingga terlama secara berurutan yaitu intravena 15 menit, intraperitoneal
16 menit, intramuskular 37,5 menit, per oral 49,25 menit dan subkutan 60
menit. Dari data yang didapatkan tentang perbandingan rute pemberian
obat terhadap efektifitasnya, menunjukkan bahwa onset rute pemberian
melalui intravena adalah yang paling cepat, yaitu didapatkan hasil ratarata membutuhkan waktu rata-rata 15 menit. Hal ini sudah sesuai dengan
literatur yang menyebutkan bahwa rute pemberian intravena dapat
memberikan onset yang paling cepat karena obat langsung masuk
kepembuluh darah dan langsung terabsorbsi ke bagian tubuh yang sakit.
Sedangkan onset yang paling lama tercapai adalah melalui subkutan yang
didapatkan hasil rata-rata sekitar 60 menit. Tetapi hasil yang didapatkan
tidak sesuai dengan literatur. Dalam literatur menyatakan bahwa onset
yang paling lama adalah peroral, karena rute pemberiannya paling
panjang dan harus melalui saluran pencernaan dan kemungkinan obat
dapat rusak oleh asam lambung, selain itu absorbsi obat terhambat oleh
makanan dalam lambung (Anief, 1990).
Kesalahan hasil percobaan ini, dikarenakan karena mekanisme pemberian obat
terutama injeksi yang kurang benar, injeksi yang salah dapat mengakibatkan obat
terakumulasi pada jaringan yang salah sehingga absorbsi dan distribusi obat menjadi berbeda
dari yang seharusnya. Injeksi yang salah juga mengakibatkan dosis obat yang masuk tidak
sesuai dengan yang diharapkan bahkan obat tidak masuk ke sirkulasi sistemik. Selain itu,
kondisi hewan coba yang mungkin kurang baik karena stress.

Dari hasil percobaan terhadap durasi obat, didapatkan hasil durasi terpendek sampai
terpanjang, yaitu per oral dan intramuskular 80 menit, intravena 89 menit, intraperitoneal 90
menit, dan subkutan 102,5 menit. Durasi tecepat yaitu per oral dan intramuskular dengan
durasi rata-rata sekitar 80 menit. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan pada
pemberian per oral didapatkan durasi terpendek, disebabkan karena per oral melewati banyak
fase seperti perombakan dihati menjadi aktif dan tidak aktif. Sedangkan durasi yang terlama
adalah subkutan, yang memiliki durasi rata-rata sekitar 102,5 menit, hal ini juga sesuai
dengan literatur yaitu pada pemberian sub cutan memiliki durasi yang lama, hal ini
disebabkan karena obat akan tertimbun di depot lemak/ jaringan di bawah kulit sehingga
secara perlahan- lahan baru akan dilepaskan sehingga durasinya lama (Anief, 1990).
Pada percobaan efek sedatif, obat yang digunakan adalah golongan barbiturat yaitu
fenobarbital. Fenobarbital ini bila digunakan sebagai anti hipnotik-sedatif, diberikan secara
oral. Obat ini diabsorbsi cepat dan beredar luas di seluruh tubuh. Ikatan fenobarbital pada
protein plasma tinggi tetapi tingkat kelarutan lemak tidak begitu tinggi. Dosis sedasi 15-30
mg. Fenobarbital mencapai kadar puncak dalam
60 menit dengan durasi kerja 10 hingga 12
jam.waktu paruh dari fenobarbital adalah 80
hingga 120 jam. Fenobarbital dimetabolisme di
hati dan diekskresikan ke urin kira-kira 25%
fenobarbital diekskresi ke urin dalam bentuk utuh
(Katzung, 2004).
Pemerian Fenobarbital
Rumus Molekul : C12H12N2O3
Nama Kimia : asam 5-etil-5- fenilbarbiturat
Bobot molekul : 232,24

Pemerian : hablur atau serbuk hablur, putih tidak berbau, rasa agak pahit.
(asam 5, fenil-5, etil barbiturat)

Kelarutan : sangat sukar larut dlam air, agak sukar larut dalam kloroform, larut dalam

etanol.
Sifat farmakologi :
Fenobarbital merupakan obat golongan barbitural yang berkhasiat sebagai hipnotik
sedative yang berefek utama depresi susunan saraf pusat. Hipnotika adalah zat-zat yang
dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan tidur dan mempermudah atau
menyebabkan tidur. Lazimnya, obat ini diberikan pada malam hari. Bilamana zat-zat ini
diberikan pada pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan,
maka dinamakan sedatif( obat-obat pereda). Hipnotika/sedatif termasuk dalam kelompok

psikoleptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat fungsi-fungsi


susunan saraf pusat.
Dewasa ini hanya beberapa barbiturat yang masih digunakan untuk indikasi-indikasi
tertentu seperti fenobarbitural yang memiliki sifat antikonvulsif. Dosis fenobarbital 15-30
mg bekerja sebagai sedativum dan 100 mg atau lebih sebagai obat tidur. Overdosis
fenobarbital dapat menimbulkan depresi sentral dengan penghambat pernapasan
berbahaya, koma, dan kematian (Katzung, 2004)
Efek utama fenobarbital adalah depresi pada sistem saraf pusat. Efek ini dicapai
dengan cara berikatan dengan komponen-komponen molekuler reseptor GABAA pada
membran neuron sistem saraf pusat. Ikatan ini akan meningkatkan lama pembukaan kanal ion
klorida yang diaktivasi oleh GABA. Pada konsentrasi tinggi, fenobarbital juga bersifat
sebagai GABAmimetik dimana akan mengaktifkan kanal klorida secara langsung. Peristiwa
ini menyebabkan masuknya ion klorida pada badan neuron sehingga potensial intra membran
neuron menjadi lebih negatif (Tjay, 2002).
Percobaan terhadap efek sedatif dilakukan dengan menghitung berapa kali tikus
terjatuh dari rotarod selama 2 menit, dihitung pada menit ke 15, 30, 45, 60, dan 90. Pada
pemberian per oral didapatkan hasil frekuensi terbanyak tikus jatuh yaitu pada menit ke-90,
menunjukkan bahwa kadar obat sudah mencapai puncak sehingga tikus tidak bisa menjaga
keseimbangan dan terjatuh dari rotarod. Pada pemberian secara intravena, didapatkan hasil
frekuensi terbanyak tikus jatuh yaitu pada menit ke-60, intraperitoneal pada menit ke-90,
subkutan pada menit ke-90, dan intramuskular pada menit ke 90. Menurut literatur dosis
sedasi 15-30 mg. Fenobarbital mencapai kadar puncak dalam 60 menit (Katzung, 2004).
Sehingga perbandingan hasil percobaan dengan bila dibandingkan dengan literatur tidak
sesuai, karena rute pemberian obat yang berbeda-beda sehingga absorbsi obat juga berbeda,
dan waktu kadar obat mencapai puncak berbeda. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi
ketidaksesuaian hasil dengan literatur, yaitu penempata tikus pada rotarod yang tidak sesuai
sehingga mudah terjatuh.

VI.

KESIMPULAN
a. Rute pemberian obat dapat dilakukan melalui per oral yaitu melalui mulut dan
melewati saluran cerna, intravena yaitu dengan menginjeksi ke pembuluh
darah vena, intramuskular yaitu dengan menginjeksi pada otot, intraperitoneal

yaitu dengan menginjeksi di rongga perut, dan secara subkutan dengan


b.

menginjeksi di bawah kulit.


Pemberian obat secara intravena memberikan onset/ efek obat yang tercepat
karena obat langsung masuk ke pembuluh darah, sementara onset yang

terpanjang yaitu secara per oral karena harus melalui saluran cerna.
c. Efek dari fenobarbital pada dosis 30 mg dapat memberikan efek sedatifhiptonik, hipnotik-sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf
pusat (SSP), yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, dan menidurkan.

VII.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat Dalam Badan. UGM Press. Yogyakarta
Anonim.1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Depkes RI. Jakarta.
Ansel, H. C. 1986. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Jakarta.
Katzung, G B, 2004, Farmologi Dasar dan Klinik, EGC, Jakarta.
Liew, 2009, Tentang Obat dan Penyakit, http://liew267.com/2009/03/05/pengaruh-carapemberian-terhadap-absorpsi- obat/ diakses 13 April 2014
Mycek, mary J. dkk .2003. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Buku
kedokteran EGC. Halaman 89-94
Syindjia, Zalika, 2011, Keuntungan & kerugian Beberapa cara pemberian
obat.
http://www.syindjia.com/2011/03/penggolongan-obat-padaantibiotik_02.html diakses 13 april 2014
Tim departemen Farmakologi FKUI.2007. Farmakologi dan Terapi. FKUI:Jakarta.
Tjay. T.H dan K. Raharja, 2002, Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya
Edisi 5, PT Elex Media, Jakarta.

VIII.

LAMPIRAN

Tugas
1. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat dari saluran cerna?
a. Bentuk Sediaan
Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, yang secara tidak langsung dapat
mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam bentuk sediaan yang berbeda, maka
proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah ketersediaan hayati
kemungkinan juga berlainan.
b. Sifat Kimia dan Fisika Obat
Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi
kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorfi, kelarutan dalam
lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi. Absorpsi lebih mudah
terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.
c. Faktor Biologis
Antara lain adalah pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna, waktu
pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh darah pada
tempat absorpsi.
d. Faktor Lain-lain

Antara lain umur, makanan, adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan adanya penyakit
tertentu (Liew, 2009).
2. Jelaskan bagaimana cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan
durasi?
Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya dengan
kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbs obat di sini berpengaruh
terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbs obat berpengaruh terhadap durasinya
misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan reseptor dan apakah ada factor
penghambatnya (Ansel, 1986).
3. Jelaskan keuntungan dan kerugian dari masing-masing cara pemberian obat?
Cara Pemberian Obat Intravena
Keuntungan

Cepat mencapai konsentrasi


Dosis tepat Mudah mentitrasi dosis
Kerugian

Konsentrasi awal tinggi, toksik Invasiv, risiko infeksi dan Memerlukan


tenaga ahli
Cara Pemberian Obat Intravemuskuler
Keuntungan

Tidak diperlukan keahlian khusus


Dapat dipakai untuk pemberian obat larut dalam minyak
Absorbsi cepat obat larut dalam air
Kerugian

Rasa sakit
Tidak dapat dipakai pada gangguan bekuan darah
Bioavibilitas berfariasi.
Obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.

Cara Pemberian Obat Subkutan


Keuntungan

Diperlukan latihan sederhana


Absorbsi cepat obat larut dalam air
Mencegah kerusakan sekitar saluran cerna
Kerugian

Rasa sakit dan kerusakan kulit


Tidak dapat dipakai jika volume obat besar
Bioavibilitas berfariasi, sesuai lokasi

Cara Pemberian Obat Oral


Keuntungan

Tidak diperlukan latihan khusus


Nyaman (penyimpanan,muda dibawa) Non-invasiv,
lebih aman Ekonomis.

Kerugian

drug delivery tidak pasti


Sangat tergantung kepatuhan pasien
Tingginya Interaksi : obat + obat, obat-makanan
Banyak obat rusak dalam saluran cerna.
Exposes drugs to first pass effect
(Syindjia, 2011 )

4. Apa tujuan mengadaptasikan mencit sebelum dilakukan percobaan?


Tujuannya adalah agar mencit terbiasa dengan rotarod dan mengecek apakah mencit yang
digunakan benar-benar sehat/ sudah tidak sehat.
5. Jelaskan mekanisme terjadinya efek sedatif dan apa bedanya dengan efek
anastesi?
Mekanisme efek sedatif: Pengikatan GABA (asam gamma amino butirat) ke reseptornya
pada membran sel akan membuka saluran klorida, meningkatkan efek konduksi klorida.
Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah menurunkan potensi
postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan pembentukan kerja-potensial.
Benzodiazepin terikat pada sisi spesifik dan berafinitas tinggi dari membran sel, yang
terpisah tetapi dekat reseptor GABA. Reseptor benzodiazepin terdapat hanya pada SSP
dan lokasi nya sejajar dengan neuron GABA. Pengikatan benzodiazepin memacu afinitas
reseptor GABA untuk neurotansmitter yang bersangkutan, sehingga saluran klorida yang
berdekatan lebih sering terbuka keadaan tersebut akan memacu hiperpolarisasi dan
menghambat letupan neuron [ catatan : benzodiazepin dan GABA secara bersama-sama

akan meningkatkan afinitas terhadap sisi sisi ikatan nya tanpa perubahan jumlah total sisi
tersebut ]. Efek klinis berbagai benzodiazepin tergantung afinitas ikatan obat masingmasing pada kompleks ikatan ion, yaitu kompleks GABA reseptor dan klorida. Barbiturat
barangkali mengganggu transpor natrium dan kalium melewati membran sel. Ini
mengakibatkan inhibisi aktivitas sistem retikular mesensefalik. Transmisi polisinaptik SSP
dihambat . Barbiturat juga meningkatkan fungsi GABA memasukkan klorida ke dalam
neuron, meskipun obatnya tidak terikat pada reseptor benzodiazepin.
Mekanisme kerja anastesi: Pusat mekanisme kerja dari anastesi local terletak di
membrane sel. Anastesi local memblok penyampaian implus dengn cara mencegah
kenaikan permeabilitas membrane sel pada ion-ion natrium. Pada waktu yang bersamaan
ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat, yang pada akhirnya
memblokir penerusan impuls ( Mycek,2003)
6. Cari dan jelaskan cara uji daya sedatif yang lain berikut alat-alat yang
digunakannya?
a. Metode uji Chimoncy test
Mencit ditempatkan di dalam suatu silinder sepanjang 30 cm yang diberi tanda pada
ketinggian 30 cm dan diameter tabung 2,8 cm. Silinder ditegakkan dalam posisi vertikal
dan tikus akan berusaha memanjat dinding silinder. Pada mencit yang normal, mencit
akan memanjat sampai batas tanda dalam waktu 30 detik.
b. Metode uji Platform
Dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku mencit di atas platform. Efek sedatif
ditunjukkan dalam malas bergerak (jarang menjenguk-jengukkan kepala keluar dari
platform dan mencit cenderung tidk peduli dengan kondisi eksternal misalnya bunyibunyian.