Anda di halaman 1dari 80

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat, hidayat dan
kesempatan serta inspirasi kepada siswa dan guru pembimbing sehingga buku
kumpulan puisi hasil karya Siswa/i SMKN 63 Jakarta dapat diselesaikan.

Kegiatan penulisan Buku Kumpulan Puisi ini SANGAT MENDUKUNG


KEGIATAN literasi sesuai dengan himbauan pemerintah dalam rangka
mewujudkan kemajuan di bidang pendidikan dalam Undang-Undang no: 20 tahun
2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 menyebutkan, bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan siswa aktif dan
kreatif.

Terima kasih saya ucapkan kepada guru pembimbing yang telah sepenuh hati
membimbing siswa kebanggaan kita, sampai menghasilkan karya yang mudah-
mudahan dapat mengembangkan minat baca dan menulis Siswa/i khususnya
Siswa/i SMKN 63 Jakarta di masa yang akan datang.

Akhir nya selamat semoga karya-karya lainnya menyusul lebih banyak lagi.

Wassalam

Kepala SMKN 63 Jakarta

Dra. Valentina Purnama Dewi, M.Si


ULASAN PUISI KARYA SISWA SMK N 63 JAKARTA

Berawal dari keprihatinan kami terhadap minimnya minat siswa terhadap


karya sastra, saya mencoba untuk mengumpuilkan dan membukukan puisi karya
siswa. Dengan harapan bisa menjadi motivasi bagi para siswa untuk lebih
menyukai sastra baik puisi maupun prosa.

Dalam penulisan puisi sebagian siswa beranggapan bahwa menulis puisi


itu mudah. Sebagian lagi menganggap bahwa menulis puisi itu sulit. Tentunya
kami sebagai guru harus membekali siswa dengan pengetahuan tentang menulis
puisi bagi pemula. Menulis puisi itu pada dasarnya sama dengan menulis cerpen.
Dalam menulis puisi dibutuhkan kemampuan berimajinasi yang tinggi,
kemampuan merangkai dan mengolah kata- kata sehingga akan menghasilkan
puisi yang mempunyai imaji dan berima indah. Kata kata yang digunakan
singkat, padat dan jelas namun penuh makna.

Kegiatan menulis puisi bisa dimulai dengan mengekspresikan pengalaman


batin yang kita alami dalam kehidupan sehari hari. Misalnya kita mengalami
peristiwa luar biasa baik yang menyedihkan ataupun yang menyenangkan. Mula-
mula kita bisa menuangkannya dalam buku harian. Barangkali kita tidak dengan
sengaja menulisnya sebagai puisi karena hanya menuangkannya, misalnya, ke
dalam buku harian.

Cobalah buka kembali buku harian Anda setelah sekian lama. Mungkin
Anda akan terkejut karena di sana Anda telah menguntai kata dan kalimat secara
emotif. Hal itu tidak saja karena Anda telah mengekspresikan diri Anda sendiri,
namun kondisi manusia sebagai homo ludens makhluk bermain dan homo
fabulans makhluk bersastra mendorong kita untuk melakukan semua itu.

Kita sering kali mendengar kata-kata, " Orang dapat menulis puisi ketika
sedang jatuh cinta", atau "Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui
puisi". Kata-kata tersebut, meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang
bermutu dari segi estetik, dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam
menulis puisi. Terlebih-lebih, manusia sebagai makhluk hidup tidak akan luput
dari pengalaman, baik yang menyedihkan maupun yang membahagiakan.
Pengalaman itu tidak perlu Anda tunggu sampai datang karena Anda dapat
menghadirkan kembali pengalaman yang telah lampau.

Namun sayangnya, para siswa masih banyak yang menulis puisi dengan
kata kata yang lugas dan kurang bisa mengembangkan imajinasi. Untuk itu perlu
diberikan latihan yang lebih sering agar para siswa menjadi terbiasa dengan
menulis puisi.

Untuk menambah wawasan para siswa agar lebih terampil dalam menulis
puisi, berikut ini akan saya jelaskan bagaimana cara menulis puisi yang baik dan
benar.

1. Menggunakan Gaya Bahasa atau Majas

Penggunaan majas atau gaya bahasa memang sudah mendarah daging


pada puisi. Sebab, tanpa majas semua akan terasa hampa. Misalkan yang paling
sering orang dengar adalah Mentari tersenyum disamping lagu pagi kita
bandingkan dengan Matahari terbit saat burung berkicauan. Menurut kamu lebih
menarik mana?

2. Menggunakan judul yang sederhana

"Seonggok Jagung" karya W.S. Rendra adalah contoh yang baik. Judul
yang sesingkat itu mampu menarik perhatian orang-orang. Meski begitu, judul ini
tetap memiliki makna yang tersirat. Sayangnya, amat sulit untuk mengetahuinya.

3. Mengisahkan atau menceritakan sesuatu

Puisi yang baik tentunya akan mengisahkan sesuatu. Hampir semua puisi
mengisahkan sesuatu entah itu sedih, bahagia, maupun sakit.

4. Berjalan sesuai alur yang dikisahkan

Jangan kamu tulis sebuah cerita, jika antar kalimat di dalamnya tidak
berhubungan satu sama lain. Lebih pilih mana?
Karena satu alasan walau itu buruk

Ku cinta semua walaupun kau tak berbentuk

atau

Kau dan aku bagai dua titik

Meski api cinta harus di korbankan

5. Curahkan segala isi dan ekspresi kamu

Ini adalah hal yang wajar. Menulis puisi butuh perasaan dari hati. Ketika
hati sedang sakit, maka yang dicurahkan adalah rasa sakit. Ketika rasa bahagia
(cinta diterima, ) maka terciptalah suatu puisi penuh rasa cinta/kebahagian.

Kesimpulannya : Puisi merupakan ungkapan atau kisah hati/perasaan


seseorang yang digayakan menurut penulisnya dengan sederhana namun
bermakna.

Puisi juga di bagi menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi modern. Puisi
lama adalah puisi yang masih terikat aturan seperti sajak, kecap (bukan bahan
masakan lho), bait, dan lain sebagainya. Jika Anda tengok puisi di bawah ini,
maka Anda akan mengerti apa itu puisi modern.

Api

Ku tiup... mati

Singkat ya ? Dan tidak terikat aturan sajak, baris, bait, dan sebagainya,
itulah puisi modern. Puisi di atas memiliki banyak makna sesuai orang yang
memaknainya.

Berikut contoh puisi yang saya buat :


POTRET BURAM NEGERI INI

Karya : Sri Hidayah

Peredaran narkoba begitu marak

Menyasar kepada semua kalangan

Tua muda, kaya miskin, besar kecil

Menjadi korban keganasan narkoba

Pergaulan bebas begitu banyak

Mulai anak-anak sampai orang dewasa semua terjebak

Masuk perangkap pergaulan tak layak

Tak ada lagi rasa malu

Tak ada lagi rasa sungkan

Suap, pungli, korupsi terjadi dimana mana

Di jalan, di pasar, di kantor bahkan di hotel

Seolah sudah menjadi lumrah

Alangkah bobroknya negeri ini

Mau dibawa kemana nasib bangsa ini

Mau dibawa kemana masa depan anak cucu kita

Mari kita renungkan wahai para penguasa negeri

Nasib bangsa dan anak cucu yang tak berdosa

Jakarta, 17 Oktober 2017

Demikian ulasan singkat tentang puisi yang dapat kami sampaikan.


Semoga bermanfaat bagi pembaca.
Indahnya Alam Negeri ini
( karya : Abdul Djabbar A )

Kau begitu indah di muka bumi ini

Bercerah di pagi hari, menyejukkan segala isi alam

Sejuk udaramu membuatku ternikmati

Ku pejamkan mataku sejenak

Ku rentangkan tangan ku sejenak

Sejuk, tenang, dan senang kurasakan

Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam

Kaulah alam yg tercipta

Keberadaanmu membuatku mensyukuri

Ingin rasanya aku memiliki keindahanmu ini

Desiran angin yang berirama di pegunungan

Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan

Begitu indah rasanya

Bak indahnya taman disurga

Jakarta, 15 September 2017


BANGKIT DARI KEMARAU
( karya : Aji Noviansyah )

Awan yang kelabu telah pergi

Suara guntur yang menggelegar pun telah sunyi

Hujan dari langit tak turun-turun

Tanah yang kering telah menjadi basah

Tumbuhan yang kering telah subur kembali

Udara lembab telah kembali

Sungai yang dangkal jadi penuh

Binatang mulai mengeringkan tubuhnya dari kebasahan

Pohon mulai menyerap air dengan akar-akarnya

Begitulah keadaan kita setelah hujan

Semoga saja tetap begitu seterusnya

Demi keselamatan seluruh umat manusia

Jakarta, 15 September 2017


Bencana alam
( karya : Almuqqafa Sugiharto )

Angin berhembus dengan sangat kencang

Bangunan yang mulai tersapu habis

Tempatku nan asli kini tinggalah kenangan

Harta benda dan nyawa menghilang sekejap saja

Oh tuhan

Apa yang engkau berikan

Apa yang engkau rencanakan

Apa yang engkau inginkan

Semua kau lalap habis

Kini semuanya telah hilang

Air mata yang mengalir ini tak dapat ku hentikan

Mungkin kami telah melupakan ibadah mu

Mungkin kami telah banyak mengingkari mu

Mungkin kami telah meninggal kan ajaran mu

Oh tuhan ampunilah kami dari segala dosa dosa yang telah kami perbuat

Jakarta, 15 September 2017


Negeriku Indonesia
( Karya : Anjani Setyorini )

Indonesia itu indah

Indonesia itu kaya

Indonesia itu sejuta alam

Berjuta alam yang dimiliki

Sawahnya menghijau

Lautnya luas membentang

Gunungnya tinggi menjulang

Tapi sekarang

Indonesia kini hancur

Indonesia kini gersang

Indonesia kini hitam

Indonesia kini putih

Tak lagi hjauh seperti dulu

Karena apa?

Karna ulah-ulah tangan jahil manusia

Lihat apa yang mereka perbuat?

Mereka merusaknya

Mereka menebang pohon-pohon di hutan dengan sembarang

Mereka memburu hewan yang tidak bersalah

Jakarta, 15 September 2017


Alam
( Karya : Ari Subekti )

Begitu indah kau dimataku

Begitu luas hingga seluruh dunia

Engkau sangat berharga

Karena engkau yang menghasilkan oksigen

Tapi kini ..

Banyak orang yang salah terhadapmu

Banyak yang merusakmu

Hingga membuatmu tersiksa

Alam ..

Maafkan manusia yang telah merusakmu

Janganlah engkau marah terhadap kami para manusia

Karena engkau adalah paru - paru bumi kami

Jika engkau tidak ada alam

Apa jadinya bumi ini

Hampa dan sepi

Seperti tidak ada kehidupan

Jakarta, 15 September 2017


Keperdulian Alam
( Karya : Ayu Agustinah )

Alam...

Kau nan indah di mata...

Begitu banyak yang kau berikan...

Lihatlah hewan, tumbuhan, dan manusia...

Mereka amat sangat membutuhkan mu...

Tetapi banyak yang merusak mu...

Banyak yang tak perduli dengan mu...

Sungguh amat kejam ulah mereka yang merusak mu...

Bayangkan jika alam hilang, apa yang terjadi?...

Semua yang membutuhkan mu akan sengsara...

Seperti hewan, tumbuhan,dan manusia...

Maka dari itu tanamlah sejak dini...

Kebaikan untuk menjaga alam...

Mulailah dari hal kecil...

Seperti tidak membuang sampah sembarangan...

Agar alam menjadi lebih indah di pandang...

Marilah jaga dan perdulilah terhadap alam...

Jakarta, 15 September 2017


Desa
( Karya : Azka Tsabita )

Kuhirup udara yang segar tanpa polusi

Sejenak melupakan keramaian ibu kota

Suara dedaunan yang membuat hati tenang

Air mengalir seperti sebening kaca

Pesonannya yang tak kunjung padam

Keindahannya seakan sangat sempurna

Sejuk,tenang yang kurasakan

Seakan tidak ingin meninggalkan tempat ini

Desiran angin yang berirama

Tumbuhan yang menari-nari

Irama air yang mengalir

Begitu indah rasanya

Rasanya tidak ingin meninggalkan tempat ini

Rasanya ingin lebih banyak menikmati tempat ini

Tetaplah hijau,sejuk,dan damai

Tempat ini tak pernah kulupakan

Jakarta, 15 September 2017


Keindahan Pantai
( Karya : Dara Ayu Puspita )

Aku terduduk dipsisir pantai

Bersender di bebatuan

Sambil menikmati keindahan dipantai ini

Begitu menakjubkan untuk dipandang

Melihat keindahanmu dari sini

Pasir - pasir yang putih ditepi pantai

Terdapat banyak pohon ditepi pantai

Suara angin, yang teus berhembusan

Melihat ombak yang bergulung gulung

Membuat hati menjadi damai

Terdengar banyak suara anak anak

Yang sedang berlarian dan bermain ditepi pantai

Tebing membentang disekujur tepi pantai

Selaras dengan deburan ombak

Membenamkan diri ke laut

Langit biru berganti menjadi jingga

Jakarta, 15 September 2017


Kebaikan Alam
( karya : Dava Patahilah )

Alam begitu penting dirimu

Menjadi bagian terpenting dunia

Tak ada yang lebih indah darimu

Tak ada yang lebih baik darimu

Hewan hewan tinggal di dirimu

Bersorak ceria bangga padamu

Kaulah surge bagi mereka

Kau berikan semua yang mereka butuhkan

Tapi mengapa manusia melihatmu denga mata tertutup

Mengambil semua yang kau punya

Dengan serakah akan tahta

Hingga tak terlihat indah lagi dirimu

Niat baikmu dibalas dengan keburukannya

Niat buruknya akan dibalas , dengan balasan yang setimpa

Beginilah nasibmu alamku

Tak semua yang baik akan bertahan selamnya

Jakarta, 15 September 2017


ALAM YANG TERLANTAR
( karya : Fadli Surya Pamungkas )

Di sana Banjir

Air mengeruak menerjang apapun yang ia temui

Tak perduli milik siapakah itu

Ke marahan sang air terus membunuh rasa aman

Di sana Kekeringan

Panas gersang menyembunyikan curahan hujan

Tanaman mati ke hausan

Tandus lahan menyurutkan sumber - sumber

Mata air

Alam Kian Terlantar

Dengan sejuta pesona yang dulu menebar

Kini musnah diganti tiruan neraka

Ini semua akibat ulah manusia

Penjahat Rakus

Biarkan nerakamu hadir setelah kematian mu

Agar kau tahu, betapa menderita sang alam

Karena kelakuan bejat nafsu mu

Jakarta, 15 September 2017


Cinta Alam
( Karya : Fahnida Mukasyafah )

Alam

Begitu indah mata memandang

Suasana hangatmu membuat manusia tenang

Tempat manusia menceritakan seisi hati

Alam

Kekayaan yang kau miliki sungguhlah indah

Keindahan yang kau miliki sungguh menakjubkan

Kepunyaan yang kau miliki sungguh bermanfaat

Alam

Kaulah sumber hidup manusia

Tanpamu manusia tak akan hidup

Kekayaan yang kau miliki sangatlah berarti

Alam

Upayaku untukmu

Menjaga dan merawatmu

Itulah wujud cintaku untukmu

Jakarta, 15 September 2017


Alam
( karya : hafifah )

Alam

Tempat aku berteduh

Tempat aku bertinggal

Disini di alam ini

Alam

Bukan aku saja yang hidup di alam ini

Tumbuhan dan hewan pun

Ikut hidup di ala mini

Alam

Kau berikan semua yang kau punya

Kau penuhi semuanya

Untuk manusia, hewan dan tumbuhan

Alam

Terima kasih

Kau penuhi semuanya

Kau kan ku jaga dan ku rawat

Jakarta, 15 September 2017


Alam Indonesia Perlahan Rusak
( karya : Haura Azza Manika Putri )

Indahnya Indonesiaku

Aku sangat bangga dengan Indonesia

Aku sangat kagum dengan Indonesia

Dia memiliki sejuta keindahan alam

Tapi kini aku bersedih

Akan keindahan alam yang dulu bisa ku nikmati kini sangat ku sayangkan

Ingin ku menangis melihat nasib buruk sekarang kau alami

Dan ingin ku berteriak mewakilkan suara hati kcilmu kepada mereka

Tapi kenapa ? kenapa mereka tak punya hati nurani

Tak punya belas kasihan akan dirimu yang semakin lama rusak olehnya

Tidak kah mereka berfikir dimana mereka tinggal

Dimana tempat mereka bergantung untuk hidup

Tapi mengapa merusak tempat tinggal mereka

Merusak tempat bergantung hidup mereka

Wahai kaum adam dan hawa

Sudahilah perbuatan yang dapat menyakiti alam Indonesia tercinta

Jakarta, 15 September 2017


Alam nan indah
( karya : Linda )

Alam

Sangat indah dipandang mata

Sangat nyaman untuk berteduh

Tanpa alam aku tak bisa hidup

Tanpa alam aku tak bisa berteduh

Alam

Engkau menghasilkan oksigen

Pohon pohon yang di tanam sangat bermanfaat

Tanpa ada pohon, alam ini terasa gersang

Panas.. tak ada oksigen

Alam

Banyak manusia yang salah terhadapmu

Mereka menebang pohon secara liar

Membakar hutan hutan

Hingga membuat kami tersiksa

Alam.

Engkau lah paru paru bumi

Engkau sangat berharga

Tanpa alam kami tak bisa hidup

Jakarta, 15 September 2017


Kerusakan Alam
( karya : Miftha Nurindah K )

Alam

Kini kau sangatlah hancur

Keadaanmu sangatlah memperihatinkan

Kekayaanmu tidak lagi bergemilang

Alam

Kerusakaanmu adalah ulah manusia

Hutan yang habis ditebang

Tanah yang habis di manfaatkan

Air yang kerng digunakan

Alam

Maafkan lah ulah kami

Maafkan lah kesalahan kami

Maafkan lah kami yang tidak bisa menjagamu dan merawatmu

Alam

Kini engkau sudahla hancur

Kini engkau sudahlah rusak

Isi kekayaanmu hampirlah punah

Semua itu karena ulah kami

Jakarta, 15 September 2017


Paru-paruku

( Karya : M.fadil )

Satu demi satu, dua demi dua , tiga demi tiga

Seratus sudah aku mananamu

Beribu kali aku menyirammu

Dan hamper setiap hari aku menyapamu

Kami bisa nafas

Kami bisa hidup sehat

Itu karna udara yang kau hasilkan

Tapi sekarang, kami kejam denganmu

Kau hanya lah kertas yang dipotong-potong

Kami lupa betapa pentingnya diri mu

Tak peduli dengan penerus bangsanya nanti

Maaf kan lah kami wahai paru-paruku

Tetap lah menjadi paru-paru dunia kami

Yang kelak akan di butuhkan penerus bangsa kami

Jakarta, 15 September 2017


Alam yang hilang
( karya : M.Rizkal Naufal )

Bagaimana bisa kau buat dunia ini indah ???

Dengan pepohonan hijau

Dengan langit cerah

Dengan air yang mengalir seakan tidak ada hambatan

Wahai pencipta alam

Kekagumanku sulit untuk ku pendam

Dari siang hingga malam

Pesonanya tak pernah padam

Oh alam...

Kami tidak bisa lagi merasakan sejuknya udaramu

Kami tidak bisa lagi melihat indahnya prmandanganmu

Hei perusak alam...

Bukankah kau tahu akibat ulahmu ???

Lalu, mengapa kau hancurkan semuanya???

Sungguh manusia hina yang melakukan itu

Jakarta, 15 September 2017


Alam
( karya : M.Syadam A )

Suara angin bergemuruh lewat di telingaku

Tempat yang asri nan indah

Sejuk, tenang, senang kurasakan

Membuat ku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam

Kekagumanku sulitku pendam

Dari siang hingga malam

Pesona nyata kpernah padam

Wahai pencipta alam

Sungguh indah ciptaanmu

Bagaimana kau menciptakannya?

Hingga mata ini tak pernah bosan melihatnya

Namun begitu mudah hancurnya

Begitu mudah rusaknya

Sadarkah kau selama ini

Alamku yang indah nan asri

Telah sirna begitu saja

Jakarta, 15 September 2017


Terima Kasih Alam
( Karya : Najda Zaza Zentaliana )

Alam

Kaulah sumber kehidupan

Tanpamu, manusia tidak bias hidup

Tanpamu, manusia tidak berdaya

Tanpamu, manusia tidak akan bertahta

Alam

Kaulah yang memberikan segala galanya

Air, hutan, gunung, tanah, dan tumbuhan

Itulah kekayaanmu

Apa yang harus aku lakukan untukmu

Manusia yang dengan mudahnya menghancurkanmu

Manusia yang dengan mudahnya menyakitimu

Manusia yang dengan mudahnya merusakmu

Tanpa tanda terimakasih dan tanggungjawab

Tetapi, dengan senang hati kau hidupkan mereka

Dengan senang hati kau berikan mereka tahta

Dengan senang hati kau berikan kekayaan

Dari hasil kekayaan yang kaupunya

Alam, terima kasih kupadamu takkan pernah hilang

Kau akan ku jaga dan kurawat .

Jakarta, 15 September 2017


Kembalikanlah Alam ku
( Karya : Namira Marsya P.A )

Terima Kasih Tuhan

Engkau telah menciptakan alam yang sangat indah

Pepohonan yang hijau

Gunung gunung yang menjulang tinggi

Laut yang indah dengan ombaknya

Namun semua hal yang indah menjadi sia sia

Akibat mereka yang tidak menjaganya

Alam yang dulu indah sekarang tak lagi indah

Dengan sengaja mereka menebang pohon

Menembak hewan hewan

Mengakibatkan semua hamper lenyap

Semua hamper punah

Ingin sekali aku melihat alam ku seperti dulu

Alam yang penuh dengan keindahan

Tapi kenapa

Kenapa tidak sedikit pun niat mereka menjaganya

Aku mohon

Kembalikanlah alamku menjadi alam yang indah seperti kemarin

Jakarta, 15 September 2017


Keindahan alam ku
( karya : Reza Adriansyah )

Saat aku perlahan membuka mataku

Ku tak percaya itu nyata

Aku masih berpikir, mungkin aku masih bermimpi

Namun aku sadar bahwa keindahan itu nyata

Sungguh elok terlihat

Lautan biru terbentang luas

Gunung yang berbaris tak beraturan

Langit yang berhiasan pelangi

Yang memiliki keindahan satu sama lain

Keindahan alam itu terasa begitu sempurna

Membuat semua orang terpesona

Membuat semua orang terpana

Namun, semua itu harus dijaga

Supaya keindahannya takkan pernah sirna

Terima kasih tuhan sudah engkau berikan keindahan alam ini

Akan ku jaga alam ini

Jakarta, 15 September 2017


KEINDAHAN ALAM
( Karya: Rifky Setiawan )

Sungguh indah nya alam ini..

Air laut berombak ombak..

Awan berarak arak..

Udara segar bertiup tiup..

Aku berdiri di atas bukit..

Berdiri di bawah cerahnya langit..

Untuk melihat keindahan alam ini..

Sungguh mempesona alam ini..

Wahai sang pencipta..

Kekaguman mu sulit untuk ku pendam..

Dari siang hingga malam..

Pesona nya tak pernah padam..

Keindahan dunia..

Aku mempertaruhkan nyawa..

Bertahan diri di atas gunung..

Demi melihat keindahan alam..

Keindahan ciptaan tuhan..

Jakarta, 15 September 2017


ALAM CIPTAAN-MU
( Karya : Rusmawati )

Wahai Sang pencipta alam ini,

Aku kira itu nebula yang hancur tanpa suara

Jatuh dan tertinggal di bumi yang tua

Terpampang luas di depan mata

Laut yang luas dengan bukit menemaninya

Membuatku berhembus dan memejamkan mata

Suara air berombak gema

Dan udara yang ikut menyapanya

Wahai Sang pencipta alam ini,

Aku kira itu lukisan yang indah tanpa kiasan

Tak pernah aku tak terkesan

Tarikanmu membuatku memperhatikan

Terma kasih Tuhan,

Kau berikanku kenikmatan

Alam-Mu ini dan semua temannya yang bergandengan

Membuatku berjanji untuk menjaga perbuatan tangan

Jakarta, 15 September 2017


Alam Nusantara
( Karya : Shinta Ariyani )

Alam Nusatara

Bak surga dunia keindahannya

Lihatlah ke sana !

Hamparan laut sepanjang mata memandang

Berkerlap-kerlip di bawah cahaya senja

Satu kata pun tak cukup untuk menggambarkannya

Alam Nusantara

Engkau bagaikan miniatur dunia

Dengan beribu pulau yang dimiliknya

Serta senyum sejuta warna yang terhias di wajah penduduknya

Alam Nusantara

Beribu pasak bumi mengelilingi badannya

Yang masih gencar menunjukkan kebolehannya pada semesta

Ataupun yang telah terlelap bersama usia

Alam Nusantara

Begitu banyak warna yang mengelilinginya

Indah sungguh indah

Saat kau mengunjungi badannya

Jakarta, 15 September 2017


ALAM
( Karya : Siska Herawati )

Ku buka mata ini.

Cahaya mentari menyinari bumi.

Tetesan embun membasahi daun.

Kicauan burung yang seakan bernyanyi.

Bunga bunga bermekaran.

Menyambut cerahnya hari ini.

Kupu kupu yang menari nari.

Menambah keindahan alam ini.

Alamku ...

Kau tempat kami hidup.

Kau tempat kami bergantung.

Dengan segala kekayaan yang kau punya.

Oh alamku ...

Kau begitu indah.

Kau harus kami jaga dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab.

Karena engkau adalah anugerah dari tuhan.

Jakarta, 15 September 2017


Kerusakan Alam
( Karya : Zulfia Hidayani Asra )

Sungguh indah ciptaan Tuhan

Hidup penuh dengan warna

Tumbuhan yang tumbuh dengan subur

Hewan yang terus berkembangbiak

Oh alamku

Begitu sejuk merasuk jiwa

Di hiasi cahaya mentari yang menyinari

Di iringi air yang terus mengalir

Entah mengapa banyak menimpa di alam ini

Tatkala perbuatan tangan jahil manusia

Seolah manusia tak peduli akan alam ini

Sadarlah wahai manusia

Mulai hari ini, mulai detik ini

Mari lestarikan alam ini

Dan jagalah alam ini

Untuk masa depanmu nanti

Jakarta, 15 September 2017


Terima Kasih Tuhan

Karya: Pramesty Angelawaty

Aku terbangun di pagi hari

Sambil dengar burung bernyanyi

Kupandangi pohon-pohon

Indah mewarna warni

Panas mentari menghangatkan

Dan sinari bumi

Aku tersenyum dan menari

Mensyukuri hidup ini

Terima kasih

Terim kasih Tuhan

Umtuk hari ini

Aku merasa indahnya alam ini

Terima kasih Tuhan

Ciptaan-Mu begitu indah

Dari semua yang aku jalani

Di alam ini yang berikan damai di hati

Jakarta, 14 September 2017


Keadaan alamku

Karya: Puri Indah Lestari

Matahari tiba menggantikan bulan

Angin berlalulalang menggoyangkan rumput

Embun pagi partisipasi menyejukkan alam

Membuat hari begitu nan ceria

Sinar mentari menyinari pagi

Kicauan burung bernyanyi nan merdu

Menandakan adanya hari baru

Indahnya alam membuatku terpaku

Gunung tinggi berlapiskan hijau

Begitu indah tersorot sinar mentari

Sungai-sungai berlapis biru

Begitu indah dengan gemerciknya

Rumah rotan di sekitar gunung

Dibuat ramai penghuninya

Betapa indah tempat ini

Betapa asrinya lingkungan ini

Jakarta, 14 September 2017


Keadaan Alamku

Karya: Rinaldi Anang Rizali

Alam ......

Maaf atas kesalahan mereka

Engkau tempat bergantung mereka

Engkau sumber kehidupan mereka

Namun mereka tidak tahu terimakasih

Mereka selalu merusak mu dan semena-mena padamu

Membuangmu seperti sampah

Tidak terlintaskah pikiranmu yang sudah merusak alam

Pikiran atas rasa bersalah dan berdosa

Kemana lagi mereka bergantung kalau bukan kepada mu

Jika perlahan tubuh mu telah rusak mungkin hanya penyesalan yang


akan menyadarkan kami dan kami hanya bisa berharap dan terus
untuk mengembalikan alamku seperti dulu...

Jakarta, 05 Oktober 2017


Alam Yang Indah, Alam Yang Malang

Karya : Rosah Aulia

Alam....
Sungguh indah warnamu
Sungguh beragam bentukmu
Semua orang memandangmu
Dengan penuh kekaguman

Alam....
Tuhan menciptakanmu
Untuk dilestarikan
Bukan untuk dirusak

Tapi mengapa...
Orang - orang di luaran sana
Malah semakin merusakmu
Sehingga kami tak bisa lagi
Merasakan segarnya udaramu

Wahai manusia...
Janganlah kau merusak alam ini
Alam ini diciptakan tuhan
Untuk dirawat
Bukan untuk dirusak seperti itu

Jakarta, 14 September 2017


Alamku Nan Indah

Oleh: Sahriani Ruddin

Alam yang indah dipandang

Begitu sejuk merasuk jiwa

Dihiasi cahaya mentari yang menyinari

Diiringi alunan air yang mengalir

Oh alamku ..

Betapa indahnya dirimu

Ombak bergemuruh

Udara sejuk menentramkan

Kicauan burung menggirangkan

Aku berdiri dengan beralaskan tanah

Aku berdiri dengan beratapkan langit

Untuk melihat keindahan alam sekitar

Keindahan alam yang terhampar luas

Wahai pencipta alam

Akan ku jaga alam ini

Akan ku lestarikan bumi ini

Demi kekagumanku akan ciptaanmu

Jakarta,14 September 2017


Alam Ku yang Hilang

Karya: Salsadalilah Nur Rahmah

Sungguh elok nananggun alam ini

Hamparan rumput bagaikan permadani hijau

Udara sejuk mengalun lembut

Pohon-pohon rindang menari dengan indahnya

Akankah seperti ini selamanya?

Aku rasa tidak mungkin

Lihatlah, sudah banyak gedung menjulang tinggi

Udara sejuk kini tak kujumpa lagi

Semuanya kini menjadi kacau

Kekacauan yang sangat berarti

Ini semua karena ulah tangan jahilmu

Kau merampas kekayaan alamku

Sekarang tempat ini semakin panas

Aku, kamu, kita semua bisa merasakannya

Aku rindu alamku yang lama

Alam yang membuatku tenang

Jakarta, 14 September 2017


Kerusakan Alam

Karya: Syintia Efriani

Kau yang kini tertawa

Bermandikan harta

Berkawankan kemewahan

Dari mana kau dapatkan semuanya?

Dari pohon yang kau tebang

Dari hewan yang kau bunuh

Dari air yang kian kering

Dari hutan yang kau jadikan kebakaran

Tidakkah kau sadar

Ada banyak nyawa yang kau ambil

Ada banyak harapan yang kau rengut

Wahai para erusak alam

Ingatlah pada hukum alam

Kita butuh alam yang indah

Kita butuh alam yang sejuk

Agar kita bisa hidup

Jakarta, 14 September 2017


Alam Perdesaan

Karya: Winda Gita Lestari

Kulihat sawah membenteng di sepanjang jalan

Warna hijau bagaikan permata alam

Pepohonan saling bersahutan seakan

Bercengkrama dengan suasana

Terhirup udara yang sangat luas tak terbelangga

Teduh dan nyaman berada di sekitarmu

Suasana tak bisa terhapuskan begitu saja

Tidak tergantikan oleh paras berhias mutiara

Di ujung sudut desa menyapa seseorang

Para petani berjalan menapak bersama

Terlihat asik saling bercengkram

Terbalut suasana desa yang berkawan

Sisa sinar matahari terik akan terlenyapkan

Sore indah ini tidak begitu saja menghilang

Tapi esok akan memberi sinar penghias

Tetaplah abadi desaku hingga mentari esok menyapa

Jakarta, 05 Oktober 2017


Alam Yang Indah

Karya : Achmad Reza

Pagi hari ku buka mataku

Cahaya pagi menembus kaca jendela

Ku buka jendela

Ku hirup udara yang segar

Aku sadar bahwa keindahan itu benar benar ada di depanku

Kicauan burung terdengar merdu

Setetes embun membasahi daun

Angin meniup pepohonan

Wahai pencipta alam

Kekagumanku sulit untuk ku pendam

Dari pagi hingga malam

Pesonanya tak pernah padam

Keindahan alam terasa sempurna

Membuat semua orang terpesona

Membuat semua orang bahagia

Terimakasih tuhan

Jakarta, 05 Oktober 2017


alamku yang hilang

Karya: Adinda Firmansyah Putri

Tak terasa alamku tlah berubah

Alamku yang dulu sangat indah dan megah

Kini telah membuat gundah

Hancurnya alamku makin merebah

Kutatap semua dengan pasrah

Gundul hutannya

Longsor tanahnya

Banjir desanya

Tlah hilang semua

Egoisme manusia itu penyebab utama

Coba kalian rasakan pedih yang sangat menusuk hati

Dimanakah kini para manusia??

Yang tega menghancurkan alam dan seisinya

Sunggu sedih melihat alamku yang kian perih

Air yang jernih

Udara yang bersih

Suci alamku kini tlah hilang

Suidah hilang, takkan kembali ...

Jakarta, 14 September 2017


Rusaknya Alamku

Karya : Anggita Puspita

Alam...

Bagaimana bisa kau buat dunia ini indah?

Dengan pepohon hijau

Dengan langit cerah

Dengan air yang mengalir seakan tak ada hambatan

Wahai alam...

Mengapa kau tak seperti dulu?

Apa yang membuat mu seperti ini?

Apa ulah manusia?

Jika iya, siapakah manusia itu?

Oh alam...

Kami tidak bisa lagi merasakan

Sejuknya udara mu

Kami tidak bisa lagi melihat

Indahnya pemandangan mu

Hai perusak alam...

Bukankah kau tahu akibat ulah mu itu?

Lalu, mengapa kau hancurkan semuanya?

Sungguh manusia hina yang melakukan itu.

Jakarta, 14 September 2017


INDAHNYA ALAM

Karya : Dwi Ratnaningtyas

Kicauan burung pagi hari

Terdengar merdu di liangtelinga

Megahnya alam ini mempesonaku

Seakanhanyaaku yang adadisana

Sejuk, tenang, tentram dan nyaman

Seakan aku terbang ke awan

Dari siang hingga malam

Pesonanya tak pernah pudar

Hembusan angin

Membelai lembut tanaman

Seeakan mereka menari - nari

Dengan riang gembira

Suara gemercik air

Dan semilir angin

Terdengar begitu menenangkan

Seakan membius pikiranku

Jakarta, 05 Oktober 2017


HUTANKU YANG RUSAK

Karya : Faradibah Hasanah

Hutan yang dulunya hijau

Aneka pohon yang tumbuh rindang

Kuat menjulang keatas awan

Berkembang ditanahku ini

Air yang tersimpan aman

Yang diserap pohon pohon indah

Biarpun kemarau telah melanda

Takkan ada kekeringan.

Sungguh indah karuniamu

Kau menciptakannya untuk kita

Tapi banyak tangan jahil yang merusakmu

Merusak hutan yang dulunya begitu indah

Dahulu hutan yang terlihat indah

Ditumbuhi pohon - pohon yang rindang

Terlihat hilang secara perlahan

Berganti dengan hutan yang gundul dan rusak

Jakarta,14 September 2017


Alam Indonesia Dulu dan Kini

Karya : Fatma Nuraini Ali

Saat aku buka mata ini

Ku tak percaya bahwa ini nyata

Aku masih berfikir bahwa aku masih bermimpi

Tapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depan ku

Pagi yang cerah ini

Disinari oleh matahari yang begitu indah

Angin berhembus di pagi ini

Embun pagi membasahi rumput-rumput

Namun jika ku ingat jahilnya tangan-tangan manusia

yang merusak tanaman

Kini tanaman telah sirna

Ketentraman sudah tidak ada

Betapa indah alam ini

jika tidak ada tangan manusia yang merusak alam ini

Begitu sedih aku melihat hutan yang seharusnya dijaga

Namun semua sudah sirna karena ulah manusia

Manusia yang tidak punya hati

Yang telah merusak alam ini.

Jakarta,14 September 2017


TERIMA KASIH ALAM

Karya : I Putu Gede Darma P

Ku buka mata di pagi hari

Cahaya pagi menembus kaca jendela

Ku buka jendela

Ku hirup udara nan segar

Melihat kabut tebal di pagi hari

Setetes embun membasahi daun

Kicauan burung terdengar di telinga

Angin halus menembus kulit

Kulit awan seputih melati

Dan langit sebiru lautan

Kini ku siap menikmati hari

Dan indahnya bumi

Embun pagi di bawah awan putih

Menyelimuti sejuknya pagi ini

Terima kasih sang maha pengasih

Sungguh indahnya alam ini

Jakarta, 5 Oktober 2017


Kerusakan Alam Ku

Karya : Irvan Azhari

Kau indah mempesona

Tempat hidupnya para flora dan fauna

Dengan hamparan yang luas

Berbagai jenis spesies

Kini kau tak hijau lagi

Kini kau tak sejuk lagi

Kini kau tak indah lagi

Akibat tangan manusia yang jahil

Kemana kah alam yang indah

Murka lah penjaga alam surya

Ditangan manusia

Tinggal menunggu balasannya

Tak ada lagi tempat berlindung para fauna

Tak ada lagi tempat hidupnya para flora

Tak ada lagi tempat seindah alam semesta

Kini kau hilang ditangan manusia

Jakarta, 05 Oktober 2017


Pantai Nan Indah
Karya : Jaka Maulana

Ku biarkan ombak menari-nari

Dalam bualan kerjaan kalbumu

Ku pandang jauh

Jauh di ufuk kebiruan berpadu

Yang menyatukan langit dan laut

Namun waktupun sekejap berlalu

Beranjak dari pesona

Dengan hamparan pasir putihmu

Dan keceriaan anak-anak tertawa

Tersenyum lesung pipimu

Bukan sekedar uratan mimpi

Kan kubasuh kakiku di pantaimu

Jakarta, 14 September 2017


KINI TIADA LAGI KEINDAHANMU
Karya : Kamalludin Fuadi

Alam ...

Kau begitu indah untuk dipandang

Sebelum dirusak oleh tangan tangan jahat

Namun kini sudah tiada

Karena oknum oknum yang tidak bertanggung jawab

Alam ...

Betapa pentingnya buat kehidupan di bumi

Banyak yang bergantung pada mu

Dari tumbuhan besar sampai kecil

Hingga hewan serta makhluk hidup lainnya

Kini ke indahanmu hanya harapan

Yang sulit untuk dikembalikan seperti dahulu

Karena tidak ada kemauan untuk merubah

Dari setiap makhluk di bumi

Untuk melakukan penanaman kembali

Setidaknnya setiap manusia menanam satu pohon

Untuk bekal nanti diakhirat

Sebagai tempat berteduh

Jakarta, 05 Oktober 2017


Penantian yang Berarti

Karya : M.Adli Dzul Ikhram

Pagi hari berdiri sendiri


Meratapi langit yang sepi
Ditemani awan putih
Yang mengelilingi tubuh ini

Aku berdiri di puncak ini


Menunggu datangnya sang mentari
Hal yang kutunggu dalam diri
Mentari di pagi hari

Surya terbit perlahan


Hal yang kunantikan
Penantian yang sepadan
Mendatangkan keindahan

Hati ini terasa terpukau


Pesona alammu yang memukau
Memancarkan keindahan mu
Yang belum tentu dapat aku bertemu

Jakarta, 05 Oktober 2017


Senja di Langit Jingga
Karya : M.Nadin Haikal

Sepotong senja melepas mentari

Langit tak ada lagi berarak jingga

Awan mengantar hujan yang mencakar muka

Aku menulis pilu di persendian hujan

Di antara bulir air yang jatuh pelan pelan

Luka mengemas rintik hujan di kedua kelopak mata

Terasa Sepi sedingin pagi

Rindu rindu mengait menanti segala yang sementara peluk

Bersauh, dekap merangkuh cinta yang utuh

Hingga pagi menjelang dan malam berpulang

Sepasang lengan masih kelimpungan mencari sesuatu yang hilang

Semoga sabar tak pernah meninggalkan debar

Berlayar dari kekosongan dan kehampaan

Jakarta, 14 September 2017


Kurindu Hijaumu

Karya: Murni Shindriyani

Dimana hijau daun yang meneduhkanku?

Dimana biru langit yang menyejukkanku?

Dimana warna warni bunga yang menenangkanku?

Dan dimana sinar mentari yang menyinari pagi dan siang hariku?

Apa mereka bersembunyi?

Apa mereka meninggalkan duniaku dan pergi?

Jika iya, maka kembalilah..

Di sini, aku butuh teduh dan sejuknya keberadaanmu

Aku akan membantu menumbuhkanmu lagi

Aku akan berusaha melestarikanmu lagi

Aku akan mengajak manusia untuk menjagamu lagi

Menjagamu agar hijaumu tak redup lagi

Aku akan berusaha

Nafasku terasa sesak tanpa oksigen darimu

Hewan di bumi banyak yang mati tanpa rimbun dedaunanmu

Mata terasa hampa tanpa warna warni bunga-bungamu

Dan hidup,

Hidup terasa sunyi tanpa riuhnya suara angin yang perlahan menyentuhmu

Jakarta, 14 September 2017


KEMARAHAN ALAM
Karya: Mutia Hasan

Aku terbang mengelilingi alam


Memandangi alam dari sudut ke sudut
Yang kulihat alam sangatlah indah
Alam sangatlah sejuk

Namun, kini berubah


Hilang sirna entah kemana
Mengapa semua menjadi begini
Ada apa dengan alam ini ?

Kini, alam merajuk merana


Merasa kesakitan
Beraroma kematian
Teriakan ketidakberdayaan

Bila, sudah begini


Siapa yang harus disalahkan ?
Saya, kamu , alam ini, negri ini, dunia ini
Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini

Dunia bukan dunia lagi


Alam bukan alam lagi
Kehidupan bukan kehidupan lagi
Manusia bukanlah manusia lagi
Maka , hidup kini sudah tidak ada kenyamanan
INDAHNYA PANTAI CIPTAANMU

Karya : Nurul Widia Astuti

Kubiarkan ombak menyeruak

Kedua kakiku seperti menari

Dalam buaian kesenangan hatiku

Kupandang jauh

Jauh di ufuk kebiruan berpadu

Yang telah menyatukan langit dan laut

Namun waktu seakan cepat berlalu

Dengan hamparan pasir putihmu

Debur ombak yang bertebaran bersama keceriaan dan tawa anak-anak

Bagaikan guratan pasir jemari-jemari lentik

Yang sesekali ombak menyapanya

Dan waktu tak pernah kembali

Walaupun berjalan atau berlari

Izinkanlah kutemui

bukan hanya sekedar untaian mimpi

Tapi akan aku basuh kakiku di pantaimu

Jakarta, 05 Oktober 2017


Pesona

Karya : Aghnaa Sabilla

Membentang memandang alam.

Penuh cinta disetiap pijaknya.

Para burung yang melempar siul.

Tiup angin membawa kisah.

Rumput hijaupun bercengkrama.

Menyapa indah alam ini.

Disetiap sudut tapak jejak.

Siapa sangka,nyaman merangkul?.

Tak ada bosan mata menatap.

Senja disertai warna pelangi.

Memanja pandang penuh pesona.

Bagaimana hati yak jatuh cinta?.

Berbaris rapih tertata elok.

Pepohonan mencipta sejuk.

Tetesan air membawa tenang.

Inilah alamku,jadilah sahabat.

Jakarta, 15 September 2017


Lautku Yang kotor
Karya : Ahmad Fauzi

Dulu lautku bersih sekali

Begitu indah dan menyegarkan

Tempatku menenangkan diri

Berbagi masalah dengan ombak

Berharap masalahkau segera pergi mengejar ombak

Angin laut menyapa tubuhku

Membuatku terbawa dalam suasana

Sayang ohh sayang

Kini tak seindah dulu

Lautku menjadi kotor

Sampah dimana mana

Udara segar sudah tak bisa kuhirup lagi

Keindahan laut tak dapat kulihat lagi

Apa laut yang indah ini harus dirusak?

Padahal disini tempatku menenangkan diri

Tempatku bahagia, rusak begitu saja

Jakarta, 15 September 2017


Pantai
Karya : Aisyah Suci Ramzanitha.H

Ombak tertiup angin..


Derasnya suara ombak
Kicauan burung terdengar jelas diatas langit
Kuhirup udara segar disekitar

Mataku mulai terpejam..


Disaat ku melihat segumpalan awan
Ku berlari kesana kemari
Di atas pasir pantai yang indah

Aku masih terpaku..


Menatap kilauan pasir diterpa mentari senja
Nyiur pun melambai diterpa angin
Hatiku damai hatiku tenang

Aku berdiri disini


Membiarkan bahasa alam merasuk jiwa
Kakiku melangkah perlahan menjemput ombak
Kalbu pun meresapi keindahan laut yag indah tiada tara

Jakarta, 15 September 2017


Sang Fajar
Karya : Arum Oktaviani

Bagai butiran embun

Indah, teduhkan pandangan

Menyejukkan namun cepat hilang

Sinarkan dahaga sementara

Datang bersama fajar

Melihatkan warna yang belum pernah ku lihat

Terhampar dipadang luas

Merona menyegarkan mata

Butiran embun dipagi itu

Seakan datang membawa kabar gembira

Namun tak lama kemudian berlalu

Matahari meninggi embun sembunyi

Jauh direlung hati

Aku tahu dia akan datang lagi

Menampakan jati diri

Dan tak akan pergi

Jakarta, 15 September 2017


KEINDAHAN ALAMKU
Karya : Aurora Oktaviani

Alam..

Kau adalah sumber kehidupan

Kau adalah sumber kekayaan

Kau adalah sumber ketahtaan

Alam..

Tanpamu manusia tidak dapat hidup

Tanpamu manusia tidak dapat kekayaan

Tanpamu manusia tidak dapat tahta

Alam..

Kau yang telah rela berkorban

Kau yang telah rela berbagi harta

Dan kau pula yang rela berbagi kehidupan

Alam..

Maafkanlah aku yang telah memaksamu

Maafkanlah aku yang telah menghancurkanmu

Maafkanlah aku yang telah menodaimu

Alam..

Keindahanmu akan selalu ku rawat

Keindahanmu akan ku jaga

Sebagai tanda terima kasih ku padamu

Jakarta, 15 September 2017


Jangan rusak alamku
Karya: Dandi Andika

Saat matahari merasuki mimpi

Dan membangunkanku di pagi ini

Kubuka mata dan menatap semua

Keagungan tuhan yang dirusak manusia

Kau yang tertawa bahagia

Bermandikan kemewahan

Berteman kan harta

Darimanakah kau dapatkan semuanya?

Pohon yang kau tebang

Hewan yang kau bunuh

Tanah yang kau tandus

Atau hutan yang kau bakar

Sadarkah kalian semua

Masih banyak yang bergantung pada alam

Ingatlah bahwa ada hukum alam

Wahai perusak alam

Inilah pesan dariku

Jagalah alam dan jangan kau rusak

Jangan kau renggut banyak harapan

Inilah pesanku seorang penikmat alam

Jakarta, 15 September 2017


HIJAUNYA HUTANKU
Karya : Donna Angelina

Ragam dedaunan ini melenyapkan risau


Disaat angin berhembus, pelan seperti berbisik
Gunung yang indah menjadi penyejuk kalbu
Saat lara aku terpana dalam belaiannya

Seperti itu jarang aku lihat


Jujur aku terlena seperti hilang akalku
Sungguh elok, wahai engkau cakrawala
Kau suguhkan kesucian yang tak pernah terjamah

Angin kembali membelaiku


Semakin memberiku yakin
Hutanku,
Kau selalu terlindung dengan warna hijau daunmu

Gunung yang indah menjadi


Penyejuk kalbu saat lara
Kini, aku telah melewatinya sesaat
Bersamamu

Jakarta, 15 September 2017


Grojogan sewu
Karya: Dwi Alfuandi

Air terjun gerojogan sewu

Mengalir di puncak gunung lawu

Jernih dan bersih airmu

Jatuh dari ketinggian menyentuh batu

Airmu jatuh berhamburan

Seperti kapas berterbangan

Seperti salju berjatuhan

Indah dan sungguh menawan

Gerojogan sewu

Ingin rasanya aku tetap memandangmu

Melihat keindahanmu

Tapi sayang aku harus meninggalkan mu

Jakarta, 15 September 2017


PANTAI
Karya : Elsa Kharisma Azzahra

Ku biarkan ombak mengusap kulitku

Kedua kaki ku seperti menari-nari

Kulihat ombak berkejar-kejaran

Membuat jantungku berdebar cepat

Jauh diufuk kebiruan yang berpadu

Yang menyatukan langit dan laut

Namun waktu pun sekejap berlalu

Beranjak dari pesonamu

Dengan hamparan pasir putihmu

Tersenyum serta lesung pipimu

Dan keceriaan anak-anak tertawa

Yang sesekali gelombang menyapanya

Waktu yang tak pernah kembali

Ijinkan lah kutemui

Bukan sekedar untaian mimpi

Kan ku basuh kakiku dengan airmu

Jakarta, 15 September 2017


Bencana Melandaku
Karya : Fachira Ayu Rahma

Lewat suara gemuruh diiringi debu

Bangunan yang runtuh

Tempatku nan asli terlindas habis

Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap

Kau lalap habis aku kehilangan segalanya

Mata dunia terpengarah menatap heran

Memang kejadian begitu dahsyat

Bantuan dan pertolongan mengalir

Hati manusia punya nurani

Tuhan mengapa semua ini terjadi!

Mungkin kami telah banyak mengingkari-Mu

Mungkin kami terlalu bangga dengan salah dan dosa dosa

Ya Tuhan ampunilah kami dalam segala dosa

Jakarta, 15 September 2017


Rinjani
Oleh : Fikril Arabi Diniah

Dahulu saat kutapaki tanah ini

Terasa sejuk menusuk tulang ini

Membuat kakiku bergetar

Dan tak sanggup tuk meneruskan

Hamparan rumput menjulang

Tertampak dihadapanku

Oh, Rinjani...

Ingin rasa memelukmu

HAH?!?!

Dibalik keindahanmu

Tersimpan Aib yang tak dapat dimaafkan

Bukit sampah yang menjulang

Menjadi saksi kenakalan manusia

Amat malang nasibmu

Kini pesonamu hilang

Sangat keji manusia memperlakukanmu

Membuat luka yang membekas

Jakarta, 15 September 2017


Hutan - ku
Karya : Juliani Churil Ain

Kau yang berdiri perkasa


Tumbuh rimbu di mana - mana
Taukah sang paru - paru dunia

Namun, kini keadaanmu terusik


Oleh tangan - tangan tak bertanggung jawab
Adakah yang melindungi mu
Adakah yang peduli denganmu

Daun - daunmu yang akan hijau


Kini terbakar oleh panas mentari
Ranting - rantingmu yang duku kokoh dan kuat
Kini rapuh dan hitam terbakar oleh api

Apakah semua itu berakhir


Apakah kau kembali hijau
Wahai hutanku

Jakarta, 15 September 2017


Alam
Karya : M. Al-hilal Muhaimin.A

Biru warnamu dari kejauhan


Diselimuti awan putih nan indah
Ingin sekali mendekati
Apa daya tangan ku tak sampai
Beribu langkah ingin ku meraih
Lewati hutan yang tak berusung
Lelah mulai terasa meluap seluruh badan
Memudarkan semangat hati
Hijau warnamu ketika ku dekat
Terasa sejuk kibasan anginmu
Kau tunjukan kehijauan milikmu
Yang teramat indah dan mempesona
Gunung..
Jika kau jauh ku lelah
Dan jika kau dekat ku bergiarah
Terbesit rasa iri padamu
Yang kaya akan keindahanmu

Jakarta, 15 September 2017


Hutan
Karya : Muhammad Afrizal

Hutan...
Engkau kaya akan tumbuhan....
Kaya akan hewan disekelilingmu....
Dan kaya akan buah buahan yang berkhasiat....
Yang membantu menghiasi sepi di malammu....
Tapi kenapa??...
Di balik keindahanmu ada penggangumu
Ada perusak di hidupmu,
Ada yang menghancurkanmu,
Bahkan ada yang sengaja membakarmu....
Tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa berdosa....
Hutan....
Aku rindu padamu
Aku prihatin melihat mu di rusak
Aku bersedih melihatmu seperti ini
Karna ulah ulah tangan jahil manusia
Lihat apa yang mereka perbuat ???.....
Mereka merusaknya, mereka menebang pohon pohon,
Mereka memburu hewan hewan, dan mereka merusaknya....
Karna apa??..
Karena mereka hanya memikirkan kepentingan diri sendiri....

Mereka hanya memikirkan ketamakan dan kerakusan yang telah membawa


mereka kepada kerusakan....

Mari kita jaga hutan indonesia...

Mari kita rawat hutan indonesia kita, dan

Mari kita lestarikan alam dan hutan di indonesia....


Rasa nyata
Karya : M. Al-Fikri

Hijaumu membuat mata ini cerah

Kesejukanmu membuat jiwa ini tenang

Keindahanmu mewakili surga

Tatkala matahari menyinarimu

Diiringi dengan kicauan burung disekelilingimu

Kupandang disudut beralas hamparan luas

Bagaimana pohon rindang menari

Dan angin berdendang kesana kemari

Ku tumpahkan keluh kesahku

Seakan sedih berkemas bahagia

Terima kasih alam..

Ats semua yang kau beri

Jakarta, 15 September 2017


Wajahmu merusak alam
Karya : Nadia Jahra Salsabilla

Bagaimana bisa kau buat gunung ini indah?


Dengan pepohonan hijau
Dengan langit yang cerah
Dengan air yang mengalir secara tak ada sumbatan
Wahai gunung
Mengapa kau tidak seperti dulu ?
Apa yang membuat mu seperti ini ?
Apakah akibat ulah manusa?
Jika iya, siapakah manusia yang berani merusak
Sampai kau seperti ini
Oh gunung.
Kami tidak bisa lagi merasakan
Sejuknya udara mu
Kami tidak bisa lagi melihat
Indahnya pemandangan mu
Hai perusak gunung
Bukankah kau tahu akibat ulahmu ?
Lalu, mengapa kau hancurkan semuanya
Sengguh manusia kejam yang melakukanya

Jakarta, 15 September 2017


Gunung
Karya : Nadia Santy Aurellia

Kabut putih mengelilinginnya

Awan berarak arak udara segar bertiup tiup

Daundaun yang selalu menyelimuti

Tanah yang hijau yang selalu memanjakan mata

Jalanan yang menjulang tinggi nan hebat

Puncak gunung salah satu titik keindahannya

Berdiri di atas di bawah langit

Memberi sejuta pesona keindahan alam

Gunung tak pernah bisa di ucap

Indah dan selalu ku tatap

Bagaikan permata dunia

Tanpanya tidak lengkap alam ini

Tak dapat kuingkari keindahanmu,kesejukkanmu

Membuatku nyaman berada di sisi mu

Tenang dan sejuk

Oh indahnya pegunungan

Jakarta, 15 September 2017


Di Ujung Senja
Karya : Putri Fathi Romadi

Saat sang mentari mulai perlahan menjauh

Aku terpagut, menikmati indahnya

Eloknya langit, membuatku tak ingin terlepas

Angin sepoi terus membelai rambutku

Jingga langit yang hampir membuka malam

Membawaku terlamun dalam suasana

Burung berbondong untuk kembali pulang ..

Meninggalkan bayangan yang tak berjejak

Kala senja mulai menutup masa

Awan kelabu yang seiring menutupi indahnya

Jingga pun, mulai menyatu dengan gelap

Lalu .. kupejamkan mata ini untuk menikmati keindahannya

Aku pun telah menemukan indah dalam jingganya

Apakah mungkin senja tercipta,

Ketika Sang Pencipta

Sedang tersenyum bahagia?

Jakarta, 15 September 2017


Alamku
Karya : Rades Suryati Baha Sendi

Langit yang tinggi

Lautan yang luas

Alam yang indah

Semua ciptaan tuhan

Begitu megah alam ini

Begitu bagus alam ini

Begitu banyak kau telah berikan

Alam yang tiada tara

Semua begitu elok nan asli

Begitu banyak keindahan yang tersembunyi

Tak bosan bosannya kami memandangmu

Alam kau telah memelihara kami

Alam kau telah memberikan kami kehidupan

Kau telah memberikan semua yang kami perlukan

Semua makhluk hidup bergantung padamu

Anak anak kami akan membutuhkanmu di masa depan nanti

Jakarta, 15 September 2017


Pantai
Karya : Salshadella Septihandayani

Pasirmu sungguh menggoda

Derai ombakmu melambai lambai

Desiran suara angin laut sepoi sepoi menggoda

Warnamu yang terkadang berubah ubah

Memancarkan keistimewaan sendiri akan dirimu

Tak dapat kupungkiri betapa sejuk romanya

Seandainya kau bisa lebih lama menemaniku

Kan ku peluk hingga akhir waktu

Nan indah dipeluk mata

Membuatku selalu merindukanmu

Desiranmu

Hembusanmu

Pantai

Itulah sebutanmu

Jakarta, 15 September 2017


INDONESIA
Karya: Sayyid Rusdi Yakub

Wahai pencipta alam

Kekagumanku sulit untuk ku pendam

Dari terbit hingga terbenamnya matahari

Pesonanya tak pernah padam

Cantiknya negeri ini membuat dunia terpesona

Hutan yang asri

Lautan yang biru

Dan semua kekayaan alamnya

Membuatku bersyukur lahir di negeri ini

Dengan kekayaan dan keindahan alamnya

Sangatlah pantas negeri ini

Disebut sebagai surganya dunia

Oh ......... Indonesia

Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan

Disanalah pula aku menutup mata

Terima kasih Indonesiaku

Jakarta, 15 September 2017


Kemana Perginya Alamku

Karya : Seif Reyhan

Dulu sering ku lihat

Hamparan hijau sawah

Beratapkan langit biru

Kiri kanan sawah tengahnya sungai

Namun sekarang kemana ?

Lapisan tanah becek berwarna cokelat

Kini tanahku berwarna abu

Lama kucari tanah becek ku

Mengapa bisa begitu ?

Sering banjir, sering longsor

Tapi sekarang kenapa tak nampak ?

Cemara kehidupan tinggi menjulang

Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau

Padahal dahulu tidak begitu

Sayang sekali tidak hanya sedih

Tetapi menanggung pilu sambil tersakiti

Jakarta, 15 September 2017


DESAKU
Karya : Susi Lestari

Pagi ini,

Mentari belum menampakkan sinarnya

Mungkin karena ini masih terlalu pagi

Tapi, hamparan hijau sawahku telah membuat mata ini menikmati

Betapa indahnya karunia Sang Pencipta

Begitu besar dan tak terhingga

Hamparan hijau sawahku

Adalah bukti indah karuniamu

Kini,

Matahari mulai menampakkan wajahnya

Sinarnya menyeruak disela-sela daun

Menambah cerahnya suasana alam desaku

Hamparan hijau sawahku adalah hamparanmu

Jakarta, 15 September 2017


INDAHNYA ALAM
Karya : Yanu Putra Tintoni

Kicauan burung terdengar merdu

Menandakan adanya hari baru

Indahnya alam ini membuatku terpaku

Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak

Kurentangkan tanganku sejenak

Sejuk, senang, dan senang kurasakan

Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam

Kekagumanku sulit untuk kupendam

Dari siang hingga malam

Pesonannya tak pernah padam

Keindahan alam terasa sempurna

Membuat semua orang terpana

Membuat semua orang terkesima

Tetapi kita harus menjaganya

Jakarta, 15 September 2017


KEKAYAAN ALAM
Karya : Yoga Oktafyan

Ombak pantai menampar karang

Angin berhembus membentuk gelombang

Gemurun angina ditepi pantai

Menghapus sedih menjadi senang

Sungguh indah lautku

Membentang luas laut nan biru

Habitat berbagai makhluk hidup

Bersembunyi dibalik terumbu

Laut yang penuh kekayaan

Sumber hidup manusia yang berlimpah

Beraneka macam kehidupan

Menjadi sumber daya alam

Lautku yang indah dan kaya

Menjadi manfaat setiap insan

Anugerah bagi Negara Indonesia

Dari Tuhan Yang Maha Esa

Jakarta, 15 September 2017


ALAM
Karya : Zaitun Nurul Aini

Hay alam

Ukiranmu sangat menawan nan indah

Tak kusangka akan sekagum ini padamu

Tak dapat kulukiskan dengan kata akan keindahanmu

Warnamu sangat menggoda wahai alam

Tak dapat sedikitpun kupungkiri

Aku merasakannya setiap satt

Setiap hari, setiap jam, setiap detik dan setiap waktu aku selalu mengingatmu

Rasa takjub ini menantangku hai alam

Untuk selalu mengenangmu, menjagamu dan menikmatimu

Warnamu sungguh luar biasa

Saling berbeda namun tetap satu jua

Kebesaran akan penciptamu membuatku tersadar

Bahwa kau diciptakan untuk dijaga dan dirawat

Terima kasih Tuhan akan kebesaranmu menciptakan alam

Alam oh alam

Keindahanmu sungguh menawan

Jakarta, 15 September 2017