High Performance Work System And Organizational
Effectiveness: The Mediating Role Of Social Capital
Human Resource Management Review
FELIKS ANTONIUS
117.16.1005
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
PROGRAM PASCASARAJANA UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
JAKARTA
2017
Human Resource Managemen (HRM) atau Managemen Sumber Daya Manusia (MSMD)
merupakan proses untuk menerima, melakukan pelatihan, penilaian dan kompensasi untuk
karyawan dan memperhatikan hubungan antar karyawan kesehatan dan keselamatan kerja serta
keadilan pekerja.
High performance work system (HPWS) merupakan bagian dari managemen sumber daya
manusia, ini merupakan unsur-unsur dalam sistem sumber daya manusia yang dirancang untuk
memaksimalkan mutu keseluruhan dalam pengembangan sumber daya manusia. Seperti
pemilihan karyawan, pemilihan prosedur,sistem kompensasi, dan manajemen kinerja,
pengembangan karyawan dan pelatihan karyawan yang mempunyai dampak pada turunnya
angka turn over, produktivitias, kinerja finansial perusahaan untuk jangka waktu pendek dan
panjang. Dengan kata lain, keefektivan Human Resource Managemen (HRM) berhubungan
dengan meningkatnya kinerja finansial termasuk di dalamnya produktiviitas, cash flow dan
market value .
Ada beberapa yang perlu diperhatikan, seperti
Staffing termasuk prosedur dapat digunakan untuk mengevaluasi pengetahuan yang
relevan, keterampilan, dan kemampuan untuk mengetahui pekerjaan kita sesuai.
Self-managed teams termasuk redistribusi kekuasaan ke bawah dengan memberikan
wewenang dan tanggung jawab untuk team structure.
Decentralized decision making termasuk memberdayakan karyawan dengan tanggung
jawab yang lebih besar dan memberikan kemampuan untuk menggunakan ke sumber
daya.
Training termasuk program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuan.
Flexible work assignments termasuk peluang untuk memperluas pengetahuan individu,
keterampilan, dan kemampuan.
Communication termasuk membuka saluran komunikasi yang terbuka vertikal dan
horizontal menyediakan akses ke informasi dan peluang untuk mengekspresikan sudut
pandang.
Compensation termasuk pembayaran kinerja-kontingen, berbasis kelompok, dan di atas
kebijakan pasar.
Kompetisi dari suatu organisasi harus memiliki kebiasaan untuk setiap pegawai/individu
meyalurkan ide ke dalam organisasi, membuat hubungan interpersonal yang intensif.
Selanjutnya, kontak interpersonal dalam suatu organisasi sering menimbulkan konflik yang
melanggar hukum dan terdapat ketidakpercayaan antara orang yang terlibat, dan mungkin
berasal dari perbedaan pendapat tentang bagaimana pekerjaan harus dilakukan, beberapa
tuntutan yang tidak menumukan solusi dalam pertemukan dan kompetisi pada sumber daya
yang terbatas dalam organisasi.
Untuk alasan ini, di intra-organisasi sosial harus dilakukan pertama kali terjalinnya hubungan
interpersonal yang menguntungkan fungsi sumber daya manusia. Hubungan koperasi dan
sistem kognitif bersama mengurangi peran konflik ke tingkat yang rendah. Selanjutnya, sistem
kognitif bersama juga meningkatkan kemungkinan saling pengertian dan mengembangkan
hubungan dukungan sosial, yang memainkan peran protektif dan buffering-role ketika individu
menghadapi berbagai tekanan.
Sumber daya yang paling menonjol mentransfer melalui jaringan sosial dalam suatu organisasi
adalah pengetahuan. Literatur modal sosial telah mengusulkan bahwa akuisisi dan transfer
pengetahuan adalah manfaat utama dari modal sosial (adler & Kwon, 2002).
Bagaimana menghubungkan pengetahuan individu dengan pengetahuan organisasi, dan
menghubungkan pengetahuan tacit ke pengetahuan explicit yang masalah sulit bagi
kebanyakan organisasi. Ini mungkin mempengaruhi hubungan sosial dan para pendatang baru
yang efektif, bagaimanapun biaya omset yang menurun hingga ke level tingkat rendah dan
bagaimana pengetahuan dapat dikelola dengan baik dan terintegrasi dan melayani inovasi
dasar.
Transfer pengetahuan bisa merangsang penciptaan pengetahuan baru dan meningkatkan
kemampuan inovasi organisasi berdasarkan pertukaran pengetahuan internal dan untuk berbagi
pengetahuan produk terkait dengan kebutuhan individu.
Innovation
Hasil langsung dari akumulasi aset, kemudian diubah dan dikreasikan akan membuat
perusahan mempunyai inovasi untuk melakukan terobosan dan menerapkannya. Hal ini dapat
terjadi karena perusahaan yang melakukan inovasi harus mempunyai kemampuan untuk
menghubungkan dan menggali pengetahuan yang dibutuhkan secara terus menerus dalam
lingkungan aspek sosial, teknologi dan market development.
Dengan kemunikasi yang baik dan kooperative, setiap individu dapat belajar satu dengan yang
lainnya dan mengkomunikasikan pengetahuan yang dimiliki untuk mengembangkan suatu ide.
Diskusi
Pertama
Pertanyaan dari banyak peneliti adalah bagaimana praktik MSDM dapat mempengaruhi kinerja
keseluruhan dari perusahaan. Meskipun menggunakan menggunakan kesimpulan sederhana
dari sikap individu atau perilaku yang akan datang akan datang menghasilkan kinerja
perusahaan di mana setiap individu dapat bekerja sama. Di dalamnya, termasuk perubahan
dalam hubungan interpersonal dalam pertimbangan yang dapat memperdalam pemahaman
akan praktik HR.
HWPS dapat berkontribusi melalui kinerja perusahaan dengan meningkatkan jaringan
interpersonal, dan hasil dari jaringan ini adalah kemampuan inovasi dari seluruh kelompok.
Menurut pendapat saya, sumber daya yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik
memang merupakan sebuah aset perusahaan. Namun perlu diperhatikan apakah individu
tersebut mempunyai kesempatan untuk bisa berkembang dan berkarya pada perusaahaan
tersebut. Lingkungan yang kondusif dan positif juga merupakan kunci penting dalam
pengembangan SDM agar bisa mendorong bakat yang ada disetiap karyawan, seperti
kemampuan inovasi dari sebuah tim R & D. Tim ini sangat penting dalam membangun
perusahaan karena dari bagian ini dapat lahir sebuah inovasi produk-produk unggulan. Adanya
kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan ide dari setiap individu adalah syarat
mutlak agar perusahaan tetap terus berinovasi.
Kedua.
Tulisan ini menawarkan implikasi bahwa praktek-praktek organisasi dalam jaringan intra-
organisasi . HWPS dalam suatu organisasi mepengaruhi dalam membentuk hubungan
interpersonal dalam suatu perusahaan, yang akan mempengaruhi tingkat modal sosial
organisasi. HPWS memiliki pengaruh dalam dimensi modal sosial, yang memberikan dasar
untuk pemeriksaan empiris pada masa depan serta implikasi praktis tentang bagaimana cara
meningkatkan modal sosial dengan praktek HR tertentu.
Menurut pendapat saya, perkembangan HPWS dalam suatu perusahaan diperlukan untuk
mengetahui bagaimana keadaan sosial dari setiap individu yang ada. Namun dalam
penerapannya untuk modal HPWS di perusahaan memerlukan biaya yang lebih besar. Karena
setiap individu yang ada perlu mempunyai visi yang sama untuk mencapai tujuan perusahaan
lewat pelatihan-pelatihan
ketiga,
Dukungan sosial dan kepercayaan dapat menjadi iklim dan lingkungan. Suatu kepercayaan
dalam jaringan, kepercayaan secara umum tidak terbatas antara dua orang dan saling timbal
balik, tetapi dapat hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya itu kepada setiap anggota dalam
jaringan. Hubungan timbal balik ini tidak terjadi begitu saja tapi harus terjadi komunikasi.
Modal sosial dapat meningkatkan inovasi organisasi, tetapi mereka jarang menjelaskan secara
rinci bagaimana hal itu terjadi.
Menurut saya, hubungan timbal balik itu sangat penting dalam suatu organisasi. Hal ini dapat
membuat suatu kepercayaan, rasa saling menghormati dan dapat menukar ide satu sama lain,
mengetahui secara pasti apa yang dibutuhkan setiap individu, pesan dari atasan dapat
tersampaikan dengan baik, dan bisa saling mendukung satu sama lainnya. Tanpa adanya
hubungan timbal balik ini mustahil perusahaan dapat berkembang dan dapat terjadi perbedaan
pendapat, pola pikir dari setiap individu sehingga tujuan perusahaan tidak tercapai.
Makalah ini juga menyediakan beberapa implikasi bagi para praktisi.
Pertama, mengingatkan manajer bahwa ada dua mekanisme paralel yang sama untuk mengarah
pada kinerja kolektif: yaitu individu dan interpersonal. Awalnya dirancang untuk
meningkatkan atau memotivasi individu juga mungkin memiliki pengaruh tertentu pada
hubungan interpersonal.
Menurut pendapat saya, para atasan (top managemen) harus mengetahui apa yang dibutuhkan
para karyawannya. Jika tidak ada komunikasi yang baik, maka para atasan tidak mungkin dapat
memberikan solusi apa yang menjadi masalah yang sebenarnya terjadi di kalangan para staff.
Sehingga kebijakkan yang dikeluarkan oleh perusahaan menjadi kurang mewakili hak hak dari
para karyawan dan ini tidak membuat karyawan merasa nyaman dalam bekerja yang berujung
pada berkurangnya produktivitas setiap karyawan.
Kedua, penulisan ini memberikan banyak dukungan untuk sisi positif dari HWPS, terutama
untuk perusahaan yang sangat teknis di mana motivasi karyawan, transfer pengetahuan dan
inovasi sangat penting. Seperti yang disebutkan dalam pendahuluan, modal sosial intra-
organisasi merupakan sumber penting bagi semua organisasi. Tapi ini terutama bagi organisasi-
organisasi yang dengan pengetahuan intensif, yang mengandalkan komitmen individu dan
motivasi intrinsik, yang dibutuhkan individu dapat bekerja sama dan dapat melakukan inovasi
yang berkelanjutan di organisasi-organisasi ini. Modal sosial dan budaya dengan mengubah
praktek-praktek manajemen sumber daya manusia mungkin lebih bermanfaat bagi mereka.
Menurut pendapat saya, seberapa kuat motivasi dan komitmen seseorang ditentukan dari faktor
internal dan eksternal. Faktor internal ini dapat berupa kebutuhan dia dalam bekerja, apakah
itu gaji atau pengembangan diri. Faktor eksternal ini dapat berupa lingkungan yang positif dan
kondusif, kebijakkan perusahaan, gaji dan tunjangan yang diberikan serta jarak tempuh
perusahaan.