Anda di halaman 1dari 3

A.

PENDAHULUAN
Tetanus berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata tetanos yang artinya kontraksi
(stretch atau rigidity). Menurut Sir William Gower (1988) tetanus adalah penyakit susunan
saraf yang ditandai dengan spasme tonik persisten dan disertai dengan serangan yang jelas dan
keras. Spasme yang terjadi pada umumnya terjadi pada otot leher dan rahang. Selain itu,
spasme menyebabkan penutupan rahang (trismus, lockjaw). Kontraksi otot yang terjadi bersifat
nyeri dan dapat terjadi lokal maupun general. 1
Pada 25 abad yang lalu Hipocrates telah menggambarkan tetanus untuk pertama kalinya.
Namun penyakit ini baru benar-benar dimengerti setelah kuman penyebabnya berhasil diisolasi
oleh para ilmuan pada tahun 1800 dan selanjutnya dikembangkan antitoksin tetanus untuk
pertama kalinya. Pada perang dunia I, imunisasi pasif telah digunakan. Dan seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, maka pada tahun 1897 ditemukan serum antitetanus dan
kemudian dibentuk imunisasi aktif pada perang dunia II. Anti tetanus toksoid sendiri ditemukan
pada tahun 1924. Setelah penggunaan vaksinasi inilah terjadi penurunan angka kematian
tetanus di seluruh dunia, meskipun hingga saat ini masih terdapat kasus tetanus yang terjadi di
seluruh dunia. Kejadian tertinggi penyakit tetanus terjadi pada neonatus, terutama di negara-
negara berkembang, seperti salah satunya negara Indonesia. Oleh karena itu, pengetahuan
tentang penyakit tetanus perlu dikembangkan agar penyakit ini dapat dicegah dan dideteksi
lebih dini demi penurunan angka morbiditas dan mortalitas penyakit tetanus. 1

B. EPIDEMIOLOGI

Tetanus hingga kini merupakan penyakit yang membebani di seluruh dunia, walaupun
dapat dicegah dengan vaksinasi, namun di negara tropis dan negara-negara berkembang, seperti
di Brazil, Filipina, Vietnam, dan termasuk Indonesia, serta negara-negara lainnya di benua
Asia. Penyakit tetanus ini umumnya terjadi pada daerah pertanian, daerah pedesaan. Selain itu,
penyakit ini juga lebih sering ditemukan pada pria. Pada negara-negara tanpa program
imunisasi yang komprehensif, tetanus sering terjadi pada neonatus dan anak-anak. (IPD)

WHO memperkirakan kurang lebih 1.000.000 kematian akibat tetanus di seluruh dunia
pada tahun 1992, dimana 580.000 kematian disebabkan oleh tetanus neonatorum, 210.000 di
Asia Tenggara dan 152.000 di Afrika. Penyakit ini jarang terjadi di negara-negara maju, lebih
sering terjadi di negara berkembang. Di Afrika Selatan, dilaporkan kira-kira terdapat 300 kasus
per tahun, sedangkan di Inggris dilaporkan hanya 12-15 kasus terjadi tiap tahun. (IPD)

Di Amerika Serikat sebagian besar kasus tetanus terjadi akibat trauma akut, seperti
laserasi, abrasi, dan luka tusuk. Tetanus bisa terjadi akibat trauma di dalam rumah maupun di
luar rumah, misalnya trauma yang terjadi saat bertani, berkebun, ataupun melakukan aktivitas
lain di luar rumah. Trauma yang menyebaban tetanus bisa berupa luka besar namun dapat pula
berupa luka kecil, sehingga pada umumnya pasien tidak mencari pertolongan medis, bahkan
pada beberapa kasus tidak dijumpai adanya trauma. Tetanus dapat pula merupakan komplikasi
dari penyakit yang berlangsung kronis, seperti ulkus, abses, dan gangren. Tetanus dapat pula
berkaitan dengan luka bakar, infeksi telinga tengah, pembedahan, aborsi, dan persalinan. Pada
beberapa pasien juga bisa tidak dapat diidentifikasi adanya port dentree. (IPD)

Resiko terjadinya tetanus paling tinggi pada populasi usia tua. Survey serologis skala
luas terhadap antibodi tetanus dan difteri menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 72%
penduduk Amerika Serikat berusia di atas 6 tahun terlindungi terhadap tetanus. Sedangkan
pada anak antara 6 11 tahun persetasenya sebesar 91%, persentase ini menurun dengan
bertambahnya usia, hanya 30% individu berusia di atas 70 tahun (pria 45%, wanita 21%) yang
mempunyai tingkat antibodi yang adekuat. (IPD).

Kejadian tetanus di negara berkembang hingga kini masih merupakan salah satu
masalah kesehatan. Di negara berkembang, mortalitas tetanus dilaporkan melebihi 50%,
dimana jumlah kematian diperkirakan mencapai 800.000 1.000.000 orang per tahun, dan
sebagian besar terjadi pada neonatus dengan perkiraan kasus sebesar 248.000 kematian per
tahun. Di Indonesia kejadian tetanus masih cukup tinggi, seperti yang dilaporkan di RS. Hasan
Sadikin Bandung dimana dilaporkan 156 kasus tetanus pada tahun 1999 2000 dengan angka
mortalitas sebesar 35,2%. Sedangkan pada sebuah penelitian yang dilakukan di RS. Sanglah
Denpasar pada tahun 2003 2004 didapatkn 54 kasus tetanus dengan mortalitas 47%. 3

DAFTAR PUSTAKA

1. Sofiati, Dian. 2011. Infeksi pada sistem saraf kelompok studi neuro infeksi. Surabaya.
Airlangga University Press. Hal 131
2. IPD

3. Ni Komang Saraswati Laksmi. 2014. Penatalaksanaan Tetanus. Bali. Jurnal CDK-222


vol. 41 No. 11. Hal 823