Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN DARAH II

HITUNG JENIS-JENIS LEUKOSIT (DIFFERENTIAL COUNT)


dan GOLONGAN DARAH

A. Tujuan Mahasiswa dapat :


1. Membedakan macam-macam jenis leukosit
2. Menghitung masing-masing jenis leukosit
3. Menentukan golongan darah
B. Dasar Teori
Hitung Jenis Leukosit
Sel darah putih atau leukosit (0,2 %); leukosit bertanggung jawab terhadap
sistem imun dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan
berbahaya, misalnya virus dan bakteri. Leukosit bersifat ameboid atau tidak memiliki
bentuk tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita leukemia, sedangkan orang
yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia (Campbell, 2004).
Secara fisiologi, kepentingan darah yang utama untuk mengangkut bahan
makanan dan gas pernafasan, dari bagian permukaan hewan ke berbagai sel yang
melaksanakan metabolisme didalam tubuhnya. Fungsi lain peredaran darah untuk
mengangkut hormon dan bahan lain, serta berperan dalam pengaturan suhu tubuh.
Fungsi darah yang berhubungan dengan sistem perlindungan, berperan dalam reaksi
imunitas. Secara keseluruhan darah juga harus mampu melaksanakan pencegahan
agar tidak terjadi kehilangan sejumlah volume darah karena luka atau sebab lain
sehingga harus ada mekanisme pembekuan darah (Campbell, 2004).
Sel darah putih menghabiskan sebagian besar waktunya diluar sistem sirkulasi
berpatroli dalam cairan interstisial dan sistem limpatik. Dimana sebagian besar
pertempuran terhadap kuman pathogen dilakukan. Secara normal satu milliliter kubik
darah manusia mempunyai sekitar 5000 sampai 10000 leukosit. Jumlah ini akan
meningkat sementara waktu ketika tubuh sedang perang melawan suatu infeksi.
(Campbell, 2004).
Leukosit mempunyai inti bulat dan cekung. Sel-sel ini dapat bergerak bebas
secara amuboid serta dapat menembus dinding kapiler (diapedesis). Di dalam
tubuh,leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu,
mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu
bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel
asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri
atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari
selpunca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang. Leukosit adalah
sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk
membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem
kekebalan tubuh. Menurut Campbell pada tahun 2004 jenis dan fungsi leukosit:
1. Leukosit granurosit dikelompokan menjadi 3 jenis yaitu: neutrofil, basofil,
eusinofil.
a. Neutrofil
Neutrofil berjumlah ( 60%) dalam sel darah putih.
Neutrofil memiliki nukleus yang terdiri dari 2 sampai 5 lobus
(ruang). Sel-sel ini berukuran sekitar 8 milimikro dalam keadaan
segar. Neutrofil bersifat fagosit dengan cara masuk ke jaringan yang
terinfeksi. Mula-mula sel-sel neutrofil melekat pada reseptor yang
terdapat pada partikel; kemudian membuat ruang tertutup yang
berisi partikel-partikel yang berisi fagositosis. Sebuah sel neutrofil
dapat menfagositosis 5 sampai 20 bakteri sebelum sel neutrofil
menjadi inaktif dan mati. Eosinofil berbentuk hampir seperti bola
berukuran hampir 9 milimikro dalam keadaan segar. Memiliki
nukleus yang terdiri dari dua lobus dan bersifat fagosit dengan daya
fagositosis yang lemah.
b. Eosinofil
Fungsi eosinofil dapat mendetoksifikasi toksin penyebab radang.
Eosinofil dilepaskan oleh sel basofil atau jaringan yang rusak.
c. Basofil
Basofil memiliki nukleus berbentuk s yang bersifat fagosit.
Basofil melepaskan heparin ke dalam darah. Heparin adalah
mukupolisakarida yang banyak terdapat di dalam hati dan paru-
paru. Heparin dapat mencegah pembekuan darah. Selain itu basofil
juga melepaskan histamin. Histamin adalah suatu senyawa yang
dibebaskan sebagai reaksi terhadap antigen yang sesuai.
2. Leukosit agranulosit dikelompokan menjadi 2 yaitu: monosit dan limfosit.
a. Monosit
Monosit memiliki satu nukleus besar yang berbentuk tapal kuda atau
ginjal. Berdiameter 12 sampai 20 mikrometer. Monosit dapat berpindah
dari aliran darah ke jaringan. Di dalam jaringan, monosit membesar dan
bersifat fogosit yang bersifat makrofag. Makrofag ini bersama neutrofil
merupakan leukosit fagosit utama, paling efektif dan berumur panjang.
b. Limfosit
Limfosit berbentuk seperti bola dengan ukuran diameter 6 sampai 14
mikrometer. Dibentuk di sumsum tulang sedangkan pada janin dibuat di
hati. Terdapat dua jenis sel limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T.
Limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi
limfosit B, sedangkan limfosit yang berda di sumsum tulang dan pindah
ke timus berkembang menjadi limfosit T. Limfosit B berperan dalam
pembentukan antibodi. Limfosit T memiliki berbagai fungsi, contohnya
limfosit siktoksit-T berfungsi menghancurkan sel yang terserang virus.
(Diah, 2007).
Bila pada hitung jenis leukosit, didapat eritrosit berinti lebih dari 10
per 100 leukosit, maka jumlah leukosit / l perlu dikoreksi. Berikut ini
beberapa hasil yang mungkin didapat pada hitung jenis leukosit:
Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi
normal. Penyebabnya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan
logam berat, gangguan metabolisme seperti uremia, nekrosia jaringan,
kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respon netrofil terhadap infeksi,
seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas
peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus
hemolyticus dan Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang
berat, sedangkan oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium
tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia
biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah,
respons terhadap infeksi kurang sering tidak disertai netrofilia. Derajat
netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena
jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte mempromosikan zat
sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat dari
bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone
(ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia pada penderita
infeksi berat yang tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia bisa dilepasnya granulosit
muda keperedaran ini dan bergeser ke kiri.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai
netrofilia ringan dengan sedikit sekali sembuh ke kiri. Sedang pada infeksi
berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi
tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda
menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respon si penderita kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda
degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih
kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu bisa
dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi
normal. Eosinofilia dijumpai pada penyakit alergi. Histamin yang
dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis
yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit
kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti
polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
Basofilia
Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi
normal. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia
granulositik kronik. Pada penyakit seperti eritroderma, urtikaria
pigmentosa dan kolitis ulserativa juga bisa dijumpai basofilia. Pada reaksi
antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.
Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah
limfosit melebihi normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi
virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti
tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti
leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.
Monositosis
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi
normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti
leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit
kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; juga
pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun
jamur.
Perbandingan antara monosit: limfosit memiliki arti prognostik pada
tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, bandingkan
antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3,
padapada tuberkulosis aktif dan menyebar, bandingkan ini lebih besar dari
1/3.
Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netomil kurang dari
normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu
pemerasan pemuatan netrofil dari peredaran darah, gangguan
pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui
penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama yaitu umur netrofil yang
memendek karena obat yang diinduksi. Beberapa obat seperti aminopirin
bekerja sebagai hapten dan antibodi terhadap leukosit. Gangguan
pembentukan bisa terjadi akibat radiasi atau obatobatan seperti
kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum
tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui
penyakit misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan
rickettisa; neutropenia siklik, dan neutropenia idiopatik kronis.
Limfopenia

Hapusan Darah Tepi


Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu suatu metode
untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup. Sel-sel darah yang
hidup dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi
ke dalam sel darah tersebut, selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel
bernukleus polimorf. Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai
berbagai unsur sel darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan mencari
adanya parasit seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain sebagainya
(Gandasoebrata, 2007). Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik
merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil yang baik. Dasar dari pewarnaan
Romanowsky adalah penggunaan dua zat warna yang berbeda yaitu Azur B
(Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin y (tetrabromoflurescein) yang bersifat
asam. Azur B akan mewarnai komponen sel yang bersifat asam seperti kromatin.
DNA dan RNA. Sedangkan eosin akan mewarnai komponen sel yang bersifat basa
seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B yang
bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal sebagai efek
Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi tidak pada RNA
sehingga menimbulkan kontras antara inti yang berwarna untuk sitoplasma yang
berwarna biru. Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari
kapiler atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat
pula digunakan darah EDTA.
Menurut Gandasoebrata pada tahun 2007 kriteria preparat yang baik :
1. Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga masih ada
tempat untuk pemberian label.
2. Secara granulapenebalannya nampak berangsur-angsur menipis dari kepala ke
arah ekor.
3. Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.
4. Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda.
5. Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu.
6. Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil) atau tidak
terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat besar).
7. Pewarnaan yang baik.
Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah
yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah
mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel
darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan
mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam
sel/L (Gandasoebrata, 2007)
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan
pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada
hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan
hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu
dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh
bergerombol.
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang
khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit,
eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih
spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya
menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan
jumlah absolut dari masingmasing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah
leukosit total (sel/l). Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak
limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya.
Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari
satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100
leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi (Gandasoebrata, 2007).
C. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA
1. Alat dan Bahan Hitung Jenis Leukosit
a. Kaca objek
b. Blood lancet
c. Autoclick
d. Spuit
e. Tissue
f. Kapas alkohol
g. Mikroskop
h. Darah perifer/vena
i. Methanol
j. Pewarna Giemsa atau Wright
k. Buffer pH 6,4
l. Aquadest

2. Cara Kerja:
a. Disediakan 2 kaca objek yang bersih dan bebas dari lemak, diteteskan satu
tetes darah perifer pada salah satu bagian dekat ujung kaca objek.
b. Tempatkan ujung kaca lain pada pinggiran tetesan darah, Tarik sedikit demi
sedikit kebelakang hingga tetesan darah menyebar
c. Kemudian di dorong kedepan tanpa menekan permukaan kaca objek terlalu
keras. Disesuaikan besarnya tetesan darah dengan sudut kaca objek. Jika
terlalu besar tetesannya makan sudut antara dua objek diperkecil dan
sebaliknya
d. Sediaan harus mempunyai bagian yang tebal dan bagian yang tipis
e. Dikeringkan di udara, difiksasi dengan cairan methanol selama 10 menit lalu
diwarnai dengan pewarnaan Giemsa dan Wright
f. Pewarnaan Giemsa : Sediaan yang telah difiksasi diberi larutan Giemsa 10-
15 tetes yang diencerkan dengan 10 ml buffer dengan pH 6,4 atau diwarnai
dengan larutan Giemsa yang sudah tersedia. Biarkan kurang lebih 20 menit,
lalu cuci pelan-pelan dengan air mengalir, dikeringkan dan diperiksa di
bawah mikroskop dengan pembesaran kuat.
g. Pewarnaan Wright :Sediaan yang telah difiksasi diberi larutan Wright
dengan cara seperti di atas, biarkan 1-2 menit. Kemudian cuci pelan-pelan
dengan air mengalir, dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop dengan
pembesaran kuat.
h. Identifikasi macam-macam leukosit terutama dengan memperhatikan ciri-
ciri leukosit, bentuk inti, ada/tidaknya granula, dan sebagainya.
i. Pemeriksaan dilakukan pada daerah yang telah ditentukan, dimulai dari
salah satu sudut bagian bawah keatas kemudian bergeser kekanan lalu turun
kebawah, bergeser kekanan lalu naik keatas dan seterusnya. Dicatat sel-sel
yang ditemukan pada kolom satu sampai mendapatkan 10 sel, kemudian
pindah ke kolom dua, tiga dan seterusnya hingga jumlah sel = 100.
j. Dihitung persentase masing-masing jenis leukosit.

3. Alat dan Bahan Pemeriksaan Golongan Darah


a. Blood lancet
b. Kapas alkohol
c. Kapas kering
d. Antisera A, B, AB dan D
e. Lidi
f. Darah perifer

4. Cara Kerja:
a. Dituliskan terlebih dahulu identitas OP pada kartu golongan darah yang
tersedia
b. Ditusuk jari menggunakan blood lancet steril
c. Diteteskan darah yang akan diperiksa golongan darahnya pada masing-
masing kolom yang tersedia pada kartu golongan darah
d. Ditambahkan setetes serum yang mengandung Antibodi Anti-A, Antibodi
Anti-B, Antibodi Anti-AB dan Antibodi AntiD (Anti Rhesus) pada masing-
masing kolom
e. Diaduk pelan-pelan masing-masing campuran darah dan serum dengan
pengaduk yang berbeda
f. Diamati masing-masing ada/tidaknya aglutinasi
g. Ditentukan golongan darahnya

D. HASIL PERCOBAAN
a. Hitung Jenis Leukosit/Differential Counting
Nama OP : Gita H/28Tahun

LP1 LP2 LP3 LP4 LP5 LP6 LP7 LP8 LP9 LP10 %
Basofil -
Eosinofil 1 1%
Neutrofil 1 1 1 1 1 5%
Batang
Neutrofil 7 6 5 9 7 6 5 10 6 7 68%
Segmen
Limfosit 1 3 4 3 3 4 2 1 21%
Monosit 1 1 2 1 5%
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 100
b. Golongan Darah
Nama OP: Wahyu Wulan Widyanningsih/25Tahun
Hasil: Golongan darah O, Rh positif (+)
E. PEMBAHASAN
Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi
dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari
masing-masing jenis sel. Praktikum dilakukan dengan cara yang pertama-tama siapkan
semua peralatan dan bahan yang akan digunakan. Kemudian ditaruh benda kaca (di
atas meja mikroskop). Dan dicari lapang pandang pada perbesaran. Setelah ditemukan
lapang pandang, objek kaca ditetesi dengan minyak emersi dan diputar lensa obyektif
kearah perbesaran lensa 100X. Kemudian terjerat leukosit pada setiap lapang pandang.
Di daerah penghitungan (daerah penghitungan). Langkah selangkah dari satu sisi ke
sisi lain, lalu kembali ke sisi semula dengan arah zigzag jarak 3 lapangan pandang.
Untuk memudahkan penghitungan, maka dibuat kotak penghitungan jenis leukosit.
Jenis leukosit yang mula- mila terlihat dalam kolom-1, bila jumlah sel sudah 10 pindah
ke kolom-2. Setiap kolom mengandung 10 sel yang sudah ditemukan, dan bila sudah
10 sudah terisi berarti sudah 100 leukosit yang gua dan dihitung. Selanjutnya
ditentukan hasil diff hit dengan cara mencocokkan hasil yang diperoleh dengan hasil
rujukan dari hasil differential count. Pada praktikum diperoleh hasil hitung jenis
leukosit normal yaitu sebagai berikut:
Basofil / Eosinofil / Batang / Segmen / Limfosit / Monosit
- / 1% / 5% / 68% / 21% / 5%

F. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan pada tanggal 12 Desember 2017 terhadap hitung
jenis sel darah putih, didapatkan hasil yang normal yaitu - / 1% / 5% / 68% / 21% / 5%.
Dari hasil percobaan diketahui OP memiliki golongan darah O, hal ini didapat
berdasarkan hasil aglutinasi yang tidak terjadi pada anti A, anti B, maupun anti AB dan
Rh positif karena didapatkan aglutinasi pada anti D. Aglultinasi bisa terjadi karna
Antigen (ag) pada permukaan eritrosit berikatan dengan Antisera D pada reagen
sehingga terbentuk aglutinasi (Campbell, 2004).
G. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece Mitchael. 2004. Biologi. Jilid 3. Erlangga. Jakarta
Diah Aryulina, dkk. 2007. Biologi 2. Jakarta: Esis
Gandasoebrata R, Penuntun Laboratorium Klinik, Cetakan 13, Dian Rakyat, Jakarta, 2007.
Noortiningsih, dkk. 2014. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Jakarta