Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH KEBUTUHAN KOMUNIKASI

ANAK KOS DENGAN PEMILIK KOS, WARGA MASYARAKAT,


DAN KELUARGA TERHADAP SIKAP SOSIAL

S. HAFSAH BUDI. A
Fakultas Psikologi UST

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebutuhan komunikasi anak kos
dengan pemilik kos warga masyarakat dan keluarga terhadap sikap sosial. Subjek penelitian
94 siswa kelas 2 SMA PIRI I Yogyakarta yang bertempat tinggal di tempat kos atau
pondokan. Alat ukur yang digunakan adalah skala kebutuhan komunikasi dan skala sikap
sosial. Analisis data dilakukan dengan teknik regresi ganda dua prediktor, tehnik univariat
dan korelasi jenjang pertama.
Hasil uji regresi ganda pengaruh kebutuhan komunikasi anak kos dengan pemilik kos
warga masyarakat dan keluarga terhadap sikap sosial menunjukan adanya pengaruh yang
signifikan (R2) adalah 0,258.
Kata kunci: kebutuhan komunikasi, sikap sosial.

Abstract
The aim of this research is to investigate the effect of boarders need for communication
to their families, the boarding house owners, and the community on social attitude. The subjects
are 94 students of second grade of SMA PIRI I Yogyakarta who live in boarding house. The
instruments are Need for Comunication Scale and Social Attitude Scale created by researcher.
Hipothesis verivication using multiple regression analyses indicates a significant correlation
between the boarders need for communication to their families, the boarding house owners, the
community and social attitude with determinant coefficient R2 = 0,258.
Keyword: need for comunication, social attitude

Pendahuluan kos. Sikap social oriented telah berubah menjadi


material oriented, dengan banyaknya tempat
Sebutan Yogyakarta sebagai kota pelajar
pondokan di Kota Yogyakarta yang memberi-
dan kota budaya jika tidak dipertahankan akan
kan sumbangan terhadap meningkatnya
tinggal slogan dan kenangan belaka. Sterotipe
pendapatan perkapita penduduk. Sumber daya
dari sikap keramah tamahan warga masyarakat
Yogyakarta yang kental akan budaya sopan alam dari daerah sudah banyak berkurang,
santun sampai pada kebiasaan senang akan karena lahan pertanian telah berubah menjadi
tolong menolong dan tepo sliro telah mengalami tempat hunian.
perubahan seiring dengan perkembangan Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar,
informasi dan teknologi. Pergeseran nilai, cara dengan para pendatang yang berasal dari
pandang, dan sikap warga masyarakat terhadap seluruh provinsi di Indonesia merupakan aset
para pendatang telah berubah, khususnya anak mahal yang perlu diperhitungkan. Warga

Pengaruh Kebutuhan Komunikasi........ (S. Hafsah Budi A) \ 7[


[
masyarakat sebagai pemilik pondokan harus asa, cemas, impulsif, murung, kurang sopan
mulai memperhatikan masalah peningkatan dan mudah terpicu melakukan tindak
pelayanan terhadap konsumen (anak kos). kekerasan (Kompas, 26 Februari 1999 ).
Peningkatan tersebut dapat ditinjau baik dari Tanggungjawab dalam mencapai
segi fasilitas kamar yang bernilai material keberhasilan pendidikan terletak pada orang
hingga nilai moral yang kini telah ditinggalkan tua, sekolah, dan masyarakat. Orang tua
oleh banyak warga masyarakat, khususnya merupakan peletak dasar dalam menanamkan
pemilik pondokan yakni “mengajak sendi kehidupan moral dan bertanggungjawab
komunikasi secara efektif terhadap anak kos”. serta memiliki disiplin diri yang kuat. Sekolah
Warga masyarakat di sekitar tempat kos sebagai tempat pendidikan for mal
mempunyai peran penting dalam membentuk bertanggungjawab dalam pengembangan
perilaku anak kos karena mereka masih dalam prestasi akademis dan pengembangan
taraf perkembangan, sehingga membutuhkan moralitas. Masyarakat sebagai control of values
bimbingan dari masyarakat terutama dalam bertanggungjawab untuk menanamkan rasa
membentuk sikap sosial yang baik. Namun sosial kemasyarakatan dan mendukung
orang tua atau keluarga anak yang kos keberhasilan pendidikan dengan menciptakan
merupakan penang gung jawab utama suasana yang nyaman bagi anak kos, baik
keberhasilan dalam kehidupannya. Meskipun tempat kos maupun lingkungannya. Tidak
mereka memberi biaya kepada anak untuk adanya keterpaduan antara ketiganya akan
menempuh ilmu di Yogyakarta, namun tetap mengakibatkan konflik dalam penyesuaian
mempunyai tanggung jawab penuh dalam diri.
pendidikan, walaupun hanya dengan melalui Pondokan adalah tempat sementara bagi
komunikasi jarak jauh. Adanya komunikasi siswa agar mendapatkan ketenangan dan
yang intensif dengan orang tua atau keluarga sukses dalam belajar. Peran induk semang
akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada (pemilik kos) sebenarnya tidak kalah
anak akan tugas utamanya di Yogyakarta, yaitu pentingnya dengan guru dan orang tuanya
mencari ilmu. Jalinan komunikasi yang baik sendiri, karena sama-sama memiliki tanggung
dengan keluarga akan menumbuhkan sikap jawab terhadap suksesnya pendidikan. Salah
sosial yang baik pula. satu peran induk semang terhadap anak kos
Informasi yang mudah diperoleh melalui adalah mengupayakan komunikasi efektif agar
media cetak dan elektronik membuat anak kos terjalin ikatan emosional sehingga ada rasa
semakin banyak memiliki pilihan terhadap tanggung jawab dan saling menghargai. Melalui
nilai-nilai yang ada. Pergeseran nilai dalam komunikasi, orang tua (pemilik kos) dapat
masyarakat merupakan faktor luar yang dapat memberi pelajaran tentang ilmu hidup kepada
menimbulkan konflik dan tekanan pada anak anak (Gunarso, 1999). Kurangnya dukungan
kos, selain faktor internal siswa atau mahasiswa orang yang lebih dewasa dapat menyebabkan
sendiri yang baru mengalami pergolakan siswa mengalami perasaan takut, kesepian,
emosi. Akhdinirwanto (dalam Suara kemarahan serta dapat terperosok dalam
Pembaruan, 8 mei 1999) mengatakan bahwa kegiatan amoral seperti penggunaan narkotika,
siswa atau mahasiswa di Indonesia menghadapi dan lain-lain (Kompas, 26 Februari 1999).
situasi pergeseran nilai dalam masyarakat yang Banyak fenomena ditemukan masalah
dapat menimbulkan konflik dalam pencarian yang terkait dengan sulitnya siswa dalam
nilai diri (ambiguity of values). Tekanan eksternal mengatasi pergolakan batin. Hal itu
dan internal pada siswa atau mahasiswa dapat disebabkan oleh banyak faktor selain karena
menyebabkan kesepian, stress, mudah putus perkembangan emosi yang masih dalam

\ 8[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No.1 Januari 2005 : 7 - 14
kategori labil. Peran orang dewasa sebenarnya diri, (b) menyediakan dukungan dan
sangat dibutuhan oleh mereka saat dalam penghargaan serta (c) menyediakan model
kehausan akan pengertian serta sikap empati perilaku berkomunikasi. Komunikasi yang
terhadap berbagai gejolak yang dihadapi. Dalam efektif akan terwujud jika memiliki unsur
konteks ini, orang dewasa adalah pemilik kos keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif,
yang sekaligus berkedudukan sebagai pengganti dan kesetaraan. (De Vito,1995).
orang tua, warga masyarakat sekitar yang dapat Dewasa ini sangat sedikit pemilik kos
mengontrol perilaku anak kos dan orang tua (induk semang) yang bersedia menjadikan
atau keluarga mereka, walaupun berjauhan peran pengganti sebagai orang tua dengan
tempat tinggal, namun tetap memiliki kesadaran akan tanggungjawab moralitas
kewajiban dalam mengarahkan anak. sebagai warga masyarakat. Dalam teori
Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kebutuhan berprestasi (need for achievement) oleh
budaya merupakan tujuan utama para pelajar David C. McClelland (Ancok dan Nasori,
yang berasal dari seluruh propinsi di Indonesia 1994) mengatakan bahwa kemajuan ekonomi
memiliki kekhasan yang sangat berbeda suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh
dengan daerah lain, baik dari segi budaya tingkatan sejauh mana orang memiliki virus
maupun keragaman masyarakatnya. Sebagai mental yang dinamakan virus n-ach, yakni
kota pelajar dengan berbagai model tempat merasa lebih puas dengan hasil kerja yang lebih
tinggal dan perlakuan induk semang (pemilik baik dari pada upah yang diterimanya serta
kos) akan menjadikan penilaian tersendiri oleh selalu ingin berbuat lebih banyak melebihi apa
para penghuninya (anak kos). Tandjung (dalam yang telah dibuatnya. Jika setiap induk semang
info Aktual Muda, 18 September 1999) memiliki tanggung jawab seperti apa yang
mengemukakan bahwa anak pada usia 15-24 dikemukakan oleh McClelland maka
tahun merupakan sosok paling rentan dan pembentukan serta pengontrolan moralitas
mudah dicengkeram narkotika, alkohol dan zat negatif siswa dapat diupayakan sehingga dapat
adiktif lainnya, serta penyimpangan perilaku mengeliminir terjadinya perilaku penyim-
seksual. pangan di kalangan siswa atau mahasiswa yang
Hal prinsip yang berkaitan dengan sudah sangat mengkhawatirkan.
perkembangan siswa adalah komunikasi. Menurut Murray (dalam Ancok dan
Melalui komunikasi efektif dengan pemilik kos Nasori, 1994) ada beberapa kebutuhan pokok
serta kepedulian warga masyarakat, dapat manusia diantaranya adalah need for afiliation,
memberikan dukungan moril bagi anak kos yakni kebutuhan untuk mendapatkan kasih
dalam menghadapi kesulitan. Pemilik kos sayang dan diterima oleh orang lain. Sedangkan
memberikan fasilitas pemondokan seperti menurut Maslow lima jenis kebutuhan
layaknya berada dalam sebuah keluarga. manusia dari fisik sampai pada kebutuhan
Tanggungjawab pemilik kos bukan hanya akan aktualisasi tidak akan terwujud tanpa
sekedar materi, melainkan juga memiliki adanya komunikasi yang efektif. Terjadinya
tanggungjawab moral, baik secara khusus perilaku menyimpang, diantaranya tindak
sebagai pengganti orang tua maupun secara agresif pemakaian obat penenang, pil koplo
umum sebagai warga masyarakat, yang sebagai pelarian adalah karena kegagalannya
bertanggungjawab terhadap suksesnya dalam memenuhi kebutuhan (Adler dalam
pendidikan. Ancok dan Nasori). Kegagalannya akan
Verderberg (1998) mengemukakan menjadikan rasa rendah diri (inferioritas complex)
bahwa komunikasi orang tua dengan anak dan akan mengakibatkan kegagalan dalam
memiliki tiga fungsi : (a) membentuk konsep mencapai superioritas dalam hidup.

Pengaruh Kebutuhan Komunikasi........ (S. Hafsah Budi A) \ 9[


[
Kebutuhan komunikasi antara anak kos dan aturan yang ada dalam masyarakat
dengan orang lain akan membawa dampak mempengaruhi sikap dan perilaku manusia.
dalam bersikap sosial, semakin mereka Dalam pergaulan sosial, manusia dituntut
membutuhkan komunikasi dengan orang lain untuk menyesuaikan dengan sikap, norma-
semakin baik pula sikap sosialnya. Efek dari norma kebiasaan, cara berfikir, dan pola-pola
kegagalan pada siswa dalam berkomunikasi perilaku masyarakatnya. Sebagai makhluk
dan bersikap sosial akan berdampak negatif sosial, manusia senantiasa membutuhkan
terhadap ketentraman masyarakat serta bergaul dengan orang lain. Kebutuhan bergaul
pencapaian tujuan, seperti yang terpampang ini bukan semata-mata dalam rangkaian
di dalam slogan kota Yogyakarta yakni “ usahanya untuk memenuhi kepentingan
Yogyakarta Berhati Nyaman”. pribadinya, melainkan bergaul itu sendiri
adalah menuntut pula untuk dipenuhi.
Sikap sosial sebagai predisposisi atau
kecenderungan untuk memberikan respon Dari beberapa pendapat tersebut dapat
terhadap orang, kelompok, situasi atau objek diprediksikan, jika komunikasi anak kos
tertentu dengan cara yang konsisten dengan pemilik kos, warga masyarakat, dan
keluarga positif maka ia juga akan memiliki
(Silverman, 1982), merupakan situasi mental
sikap sosial positif. Sebaliknya, bila
yang mempengaruhi seseorang dalam
komunikasi dengan pemilik kos, warga
memberikan reaksi terhadap stimulus yang
masyarakat dan keluarga negatif maka akan
diterima. Sikap bukan merupakan sesuatu yang
membentuk sikap sosial yang negatif.
dibawa sejak lahir, melainkan terbentuk
melalui pengalaman. Sikap merupakan hasil Secara khusus permasalahan dalam
belajar, karena merupakan upaya untuk penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
mendapatkan pengalaman. Sikap yang telah (1) berapa besar koefisien korelasi parsial
kebutuhan komunikasi yang efektif antara
terbentuk akan relatif tahan lama dan ikut
anak kos dengan pemilik kos terhadap
menentukan kecenderungan seseorang dalam
Sikap Sosial?
menghadapi objek atau stimulus tertentu.
(2) berapa besar koefisien korelasi parsial
Sikap mempunyai peran penting dalam kebutuhan komunikasi yang efektif antara
kehidupan manusia, karena merupakan anak kos dengan warga masyarakat
kesiapan manusia untuk bereaksi terhadap terhadap Sikap Sosial?
objek di lingkungan tertentu, sebagai suatu (3) berapa besar koefisien korelasi parsial
penghayatan terhadap objek tersebut (Mar’at, kebutuhan komunikasi yang efektif antara
1982). Seseorang akan digerakkan oleh anak kos dengan keluarga (orang tua)
sikapnya dalam mengadakan interaksi dengan terhadap Sikap Sosial?
orang lain atau objek, orang, kelompok, (4) berapa besar koefisien determinasi
lembaga, sistem nilai dan persepsi, mass media, kebutuhan komunikasi yang efektif antara
akan berpengaruh terhadap pembentukan anak kos dengan pemilik kos, warga
sikap seseorang. masyarakat, dan keluarga (orang tua)
Komunikasi yang baik merupakan terhadap Sikap Sosial?
faktor internal, sebagai makhluk sosial yang Hipotesis yang diajukan dalam
hidup di dalam lingkungan masyarakat, penelitian ini adalah:
manusia membutuhkan berbagai aturan dan 1. Kebutuhan komunikasi anak kos dengan
norma yang dapat dijadikan sebagai landasan, pemilik kos, warga masyarakat dan keluarga
dan pedoman bagi sikap dan perilakunya dalam berpengaruh terhadap sikap sosial.
berinteraksi dengan sesamanya. 2. Kebutuhan komunikasi anak kos dengan
Pengaruh berbagai sistem nilai, norma pemilik kos berkorelasi positif terhadap
\ 10[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No.1 Januari 2005 : 7 - 14
sikap sosial. (orang tua), (2) skala sikap sosial.
3. Kebutuhan komunikasi anak kos dengan
warga masyarakat berkorelasi positif Analisis Data
terhadap sikap sosial. Prasyarat yang harus dipenuhi agar data
4. Kebutuhan komunikasi anak kos dengan dapat dianalisis adalah normalitas untuk
keluarga berkorelasi positif terhadap sikap prediktor dan linier untuk hubungan prediktor
sosial. dengan kriterium. Hasil uji normalitas sebaran
Metode Penelitian menunjukkan bahwa ubahan kebutuhan
komunikasi antara anak kos dengan pemilik
Populasi dalam penelitian ini adalah kos sebarannya normal (p>0,05), ubahan
siswa klas 2 yang bertempat tinggal di kebutuhan komunikasi anak kos dengan warga
pondokan atau kos dan bersekolah di SMU masyarakat sebarannya normal (p>0,05) dan
PIRI I Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta ubahan kebutuhan komunikasi anak kos
sebanyak 125 orang. dengan keluarga sebarannya normal (p>0,05).
Penelitian ini merupakan penelitian Ubahan sikap sosial seberannya juga normal
expose facto, karena ingin mengungkap sesuatu (p>0,05). Adapun hasil uji linieritas hubungan
yang sudah ada pada diri responden. Dalam antara kebutuhan komunikasi anak kos
hal ini yang akan diungkap adalah pengaruh dengan pemilik kos terhadap sikap sosial linier
kebutuhan komunikasi efektif antara anak kos (p<0,05), linieritas hubungan kebutuhan
dengan pemilik kos, masyarakat dan orang tua komunikasi anak kos dengan warga
terhadap sikap sosial. Penelitian ini juga masyarakat terhadap sikap sosial linier
merupakan penelitian sampel, karena hanya (p<0,05) dan linieritas hubungan kebutuhan
melibatkan sebagian anggota populasi yang komunikasi anak kos dengan keluarga
telah dieliminasi. terhadap sikap sosial linier (p<0,05).
Dalam penelitian ini melibatkan tiga Untuk mengetahui tinggi rendahnya
ubahan bebas sebagai prediktor, yaitu kebutuhan komunikasi antara anak kos
kebutuhan komunikasi antara anak kos dengan pemilik kos, warga masyarakat, dan
dengan pemilik kos, kebutuhan komunikasi keluarga terhadap sikap sosial digunakan
antara anak kos dengan masyarakat dan analisis univariat, dengan bantuan komputer
kebutuhan komunikasi antara anak kos program SPS-2000 edisi Sutrisno Hadi dan
dengan keluarga (orang tua), serta satu ubahan Yuni Pamardiningsih.
terikat sebagai kriterium, yaitu sikap sosial. Hipotesis pertama, diuji dengan teknik
Dalam penelitian ini jumlah sampel analisis regresi ganda tiga prediktor dengan
sebanyak 100 siswa diambil secara acak dengan taraf signifikansi 5%.
penggantian, sehingga setiap siswa kos Hipotesis kedua, ketiga, dan keempat
memiliki kemungkinan yang sama untuk dipilih dianalisis dengan teknik korelasi parsial jenjang
sebagai anggota sampel. Besarnya anggota pertama.
sampel ditentukan dengan menggunakan tabel
Krejcie dan Morgan, dengan estimasi Hasil Penelitian
kesalahan 5% (Krejcie dan Morgan,1970). Untuk mengetahui tinggi atau rendahnya
Pengumpulan data di dalam penelitian kebutuhan komunikasi antara anak kos
ini, menggunakan:(1) skala yang mengungkap dengan pemilik kos, kebutuhan komunikasi
kebutuhan komunikasi efektif antara anak kos antara anak kos dengan anggota masyarakat,
dengan pemilik kos, masyarakat dan keluarga kebutuhan komunikasi antara anak kos

Pengaruh Kebutuhan Komunikasi........ (S. Hafsah Budi A) \ 11[


[
dengan keluarga (orang tua) dan sikap sosial antara anak kos dengan anggota masyarakat
anak kos siswa SMU Piri I Yogyakarta dan kebutuhan komunikasi antara anak kos
dilakukan uji univariat. dengan keluarga (orang tua) secara bersama-
Untuk mengetahui tinggi atau rendahnya sama sebesar 0,258 atau 25,8%.
dengan cara membandingkan nilai rata-rata Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa
ideal dengan nilai rata-rata observasi. Jika nilai variansi sikap sosial ditentukan oleh
rata-rata observasi dibandingkan dengan nilai kebutuhan komunikasi antara anak kos
rata-rata ideal ternyata lebih besar, maka dapat dengan pemilik kos, kebutuhan komunikasi
diartikan bahwa kebutuhan komunikasi antara antara anak kos dengan anggota masyarakat
anak kos dengan pemilik kos tergolong tinggi dan kebutuhan komunikasi antara anak kos
demikian sebaliknya. dengan keluarga (orang tua) secara bersama-
Untuk kebutuhan komunikasi antara sama sebesar 25,8%, sedangkan 74,8%
anak kos dengan pemilik kos nilai rata-rata ditentukan oleh ubahan-ubahan lain yang
ideal 51,5 < nilai rata-rata observasi sebesar belum dilibatkan dalam penelitian ini.
51,97, maka digolongkan tinggi Hipotesis kedua menyatakan
Untuk kebutuhan komunikasi antara kebutuhan komunikasi antara anak kos
anak kos dengan anggota masyarakat, nilai dengan pemilik kos berkorelasi positif
rata-rata ideal 61 < nilai rata-rata observasi terhadap sikap sosial. Hipotesis ini diuji
sebesar 62,94. maka digolongkan tinggi. dengan teknik analisis korelasi parsial jenjang
pertama, besarnya korelasi parsial ubahan ini
Untuk kebutuhan komunikasi antara
adalah 0,208 dan p = 0,044. Hasil penelitian
anak kos dengan keluarga (orang tua). Nilai
ini menjelaskan bahwa kebutuhan komunikasi
rata-rata ideal 54,5 > Nilai rata-rata observasi
antara anak kos dengan Pemilik Kos
sebesar 47,77. maka digolongkan rendah. berkorelasi secara positif dan signifikan
Demikian halnya untuk mengetahui terhadap sikap sosial pada taraf 5% (p < 0,05),
sikap sosial Nilai rata-rata ideal 36 > Nilai rata- sehingga hipotesis ke dua dapat dibuktikan
rata observasi sebesar 34,11. maka kebenarannya.
digolongkan rendah. Hipotesis ketiga menyatakan
kebutuhan komunikasi antara anak kos
Pengujian Hipotesis
dengan anggota masyarakat berkorelasi positif
Hipotesis per tama menyatakan terhadap sikap sosial. Hipotesis ini diuji
kebutuhan komunikasi antara anak kos dengan menggunakan teknik analisis korelasi
dengan pemilik kos, anggota masyarakat dan parsial jenjang pertama, besarnya korelasi
keluarga (orang tua) secara bersama-sama parsial ubahan ini adalah 0,160 dan p = 0, 124.
berpengaruh terhadap sikap sosial. Untuk Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa
menguji hipotesis ini digunakan teknik analisis komunikasi antara anak kos dengan
regresi ganda tiga prediktor (Hadi 1983). masyarakat berkorelasi positif terhadap sikap
Hasil Analisis regresi ganda tiga sosial tetapi tidak signifikan pada taraf 5% (p
prediktor menunjukkan besarnya koefisien > 0,05), sehingga hipotesis ke tiga tidak dapat
korelasi ganda (R) adalah 0.508 sedangkan dibuktikan kebenarannya.
koefisien determinasinya (R2) adalah 0.258. Hipotesis keempat menyatakan
Koefisien determinasi sebesar 0.258 berarti kebutuhan komunikasi antara anak kos
bahwa variansi sikap sosial ditentukan oleh dengan keluarga (orang tua) berkorelasi positif
kebutuhan komunikasi antara anak kos terhadap sikap sosial. Hipotesis ini diuji
dengan pemilik kos, kebutuhan komunikasi dengan menggunakan teknik analisis korelsi

\ 12[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No.1 Januari 2005 : 7 - 14
parsial jenjang pertama, besarnya korelasi deperlakukan oleh orang tua mereka.
parsial ubahan ini adalah 0,374 dan p = 0,000. Kebutuhan komunikasi antara anak kos
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dengan masyarakat tergolong tinggi. Hal ini
kebutuhan komunikasi antara anak kos dapat diartikan agar warga masyarakat
dengan keluarga (orang tua) berkorelasi secara mengajak anak kos untuk melakukan kegiatan
positif terhadap sikap sosial secara signifikan bersama, sehingga akan meningkatkan rasa
pada taraf 5% (p < 0,05), sehingga hipotesis peduli pada masyarakat.
ke empat dapat dibuktikan kebenarannya. Kebutuhan komunikasi anak kos
dengan keluarga tergolong rendah. Hal ini
Pembahasan.
disebabkan oleh tempat tinggal mereka yang
Kebutuhan komunikasi antara anak kos jauh dari keluarga, sehingga intensitas
dengan Pemilik kos, anggota masyarakat, dan hubungan mereka menjadi rendah.
keluarga (orang tua). terhadap sikap sosial
tinggi. Hal ini dapat diartikan bahwa sikap Kesimpulan
sosial anak kos dipengaruhi oleh Berdasarkan hasil penelitian dan
kebutuhannya akan komunikasi dengan orang pembahasan dapat disimpulkan:
lain. Semakin tinggi kebutuhan komunikasi 1. Kebutuhan komunikasi yang efektif
anak kos dengan pihak lain semakin tinggi pula antara anak kos dengan pemilik kos
sikap sosialnya. warga masyarakat dan orang tua
Hasil analisis regresi ganda dapat berpengar uh positif dan signifikan
dibuktikan adanya hubungan yang signifikan terhadap sikap sosial. (R2 = 0,258 ; p =
antara kebutuhan komunikasi antara anak kos 0,000 <0,05).
dengan Pemilik kos, kebutuhan komunikasi 2. Kebutuhan komunikasi yang efektif
antara anak kos dengan anggota masyarakat, antara anak kos dengan pemilik kos
kebutuhan komunikasi antara anak kos tergolong tinggi
dengan keluarga (orang tua). terhadap sikap 3. Kebutuhan komunikasi yang efektif
sosial.. Walaupun hanya sebesar 25,8% namun antara anak kos dengan masyarakat
cukup bermakna dalam mengembangkan sikap tergolong tinggi.
sosial dari siswa sendiri. Koefisien diterminan 4. Kebutuhan komunikasi yang efektif
sebesar 25,85 tersebut cukup memberi antara anak kos dengan orang tua
sumbangan untuk siswa bersikap sosial yang tergolong rendah.
tinggi dan mungkin pada kesempatan lain
Daftar Pustaka
peneliti akan mengungkapkan ubahan-ubahan
lain yang sebesar 74,15 %, sehingga secara Akhdinirwanto, R.W. 199. “Pelaku Pelajar dan
jelas dapat diketahui berbagai faktor yang Antisipasinya”. Dalam Suara
berpengaruh pada sikap sosial siswa dan faktor Pembaruan, 8 mei 1999. Jakarta
yang paling dominan untuk siswa bersikap
sosial yang tinggi. DeVito, J.K. 1995. The Inter pesonal
Communication Book (7 th ed ). New
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa
York: Harper Collins College
kebutuhan komunikasi antara anak kos Publishers
dengan Pemilik kos cukup tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa anak kos menginginkan Gunarso, S. D. 1999. Psikologi untuk Mahasiswa.
pemilik kos adalah pengganti orang tua Jakarta : BPK Gunung Mulia
sehingga mereka ingin disapa, diperhatikan, Hurlock, E. B. 1993. Psikologi Perkembangan
dan diperlakukan sebagaimana mereka (terjemahan ) Jakarta : Erlangga

Pengaruh Kebutuhan Komunikasi........ (S. Hafsah Budi A) \ 13[


[
Kartono, K. 1999. “Masa Depan Generasi
Muda Cenderung Suram”. Dalam Suara
Pembaruan, 17 September 1999, Jakarta
Shaffer, D.R. 1985. Development Psychology :
Theor y Research, and Application.
California : Brooks Cole Publishing
Company
Tanjung, D. 1999. “Narkoba diantara
Mahasiswa”. Dalam Info Aktual Muda,
18 September 1999. Jakarta
Verderber, R. F. and Verderber, K. S. 1998.
Inter Act Using Inter personal
Communication Skill ( 8 th ed ). New
York : Wadsworth Publishing Company

\ 14[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No.1 Januari 2005 : 7 - 14