Anda di halaman 1dari 10

KASUS 1 (PROSTODONSI)

PREPARASI BRIDGE
- NAMA COASS : EVITA RACMAH
- ANGKATAN COASS :3

A. RINGKASAN KASUS
Seorang karyawan bengkel berusia 48 tahun datang ke RSGMP UNSOED
dengan keluhan ingin dibuatkan gigi tiruan permanen yang cekat karena kehilangan
gigi depan atas kanannya. Pasien dalam keadaan sehat tidak memiliki kelainan
sistemik. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan, tekanan darah 120/80 mmHg
dan tidak memiliki riwayat alergi obat. Pemeriksaan intraoral terdapat kehilangan
gigi 22. Pada gigi 47, 45, 43, 42, 41, 35, 34, 33, 32 dan 31 terdapat karies.
Perawatan yang dilakukan operator pada pasien yaitu edukasi, mouth preparation
dan pembuatan gigi tiruan jembatan. Mouth preparation berupa pencabutan dan
penambalan gigi. Pada kunjungan sebelumnya pasien telah dilakukan preparasi pada
gigi 21 dan dipasangkan mahkota semenara pada gigi 21. Pada kunjungan kali ini
pasien melanjutkan preparasi pada gigi 23. Prosedur preparasi gigi 23 dimulai
dengan anestesi infiltrasi pada area gigi 23 menggunakan bahan pehacain kemudian
pemasangan benang retraktor. Preparasi gigi 23 dilanjutkan dengan prparasi palatal,
preparasi servikal dan finishing. Pasien dipasangkan mahkota sementara yang
terbuat dari akrilik dan disementasi menggunakan zinc oxide eugenol (ZOE).
Operator menginstruksikan pasien untuk datang kembali untuk melakukan
pencetakan

B. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF (S)


Identitas Pasien: Sudarwo, 48 Tahun.
1. Keluhan Utama (CC) : Pasien datang dengan keluhan ingin dibuatkan gigi tiruan
permanen yang cekat karena kehilangan gigi depan atas kanannya.
2. Riwayat Penyakit Saat ini (PI) : Tidak ada keterangan
3. Riwayat Sistemik (PMH) : Tidak ada kelainan
4. Riwayat Dental (PDH) : 1 tahun yang lalu pasien mencabut gigi depan atas
kanan
5. Riwayat Keluarga (FH) : Tidak ada kelainan
6. Riwayat Sosial (SH) : Seorang karyawan bengkel

C. PEMERIKSAAN OBJEKTIF (O)


1. Keadaan Umum
a. Pasien dalam keadaan compos mentis
b. Tekanan darah: 120/90 mmHg
c. Tidak ada alergi terhadap obat-obatan dan makanan
2. Ekstra Oral
Tidak ada kelainan
3. Intra Oral
a. Gigi 15, 16 dan 34 karies superfisial
b. Gigi 47 karies profunda
c. Gigi 18 dan 27 karies media
d. Sisa akar gigi 17, 26, 28 dan 48
e. Area edentulous pada 22, 46, 38, 37, 36 dan 35
f. Atrisi pada gigi 42, 41 dan 31
g. Oklusi normal bite
h. Torus palatinus berukuran sedang
i. Kedalaman palatum sedang

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berdasarkan foto radiografi periapikal tidak terdapat kelainan di sekitar daerah
yang tidak berbgigi dan tidak ada kelainan di sekitar gigi 21 dan 23.

E. ASSESMENT (A)
Missing gigi 22
F. PLANNING (P)
1. Dental Health Education
2. Mouth Preparation
3. Pembuatan gigi tiruan cekat berupa bridge dengan bahan Porcelein Fused to
Metal (PFM)

G. HASIL PENGAMATAN
- Hari, tanggal : Jumat, 2 September 2016
- Waktu Kerja : 14.00 – 16.00
- Perawatan : Preparasi Bridge
- Supervisor : drg. Bambang Tri Hartomo

1. Operator melakukan prosedur pendaftaran pasien lama dan melakukan


pembayaran.
2. Operator meminta zin untuk mengambil rekam medis kepada supervisor
3. Pasien dipersilahkan masuk dan duduk di dental unit, kemudian operator
meminta izin kepada dosen supervisor untuk melakukan pemeriksaan awal,
berupa pemeriksaan subjekttif (S), objektif (O), assesment (A), dan planning
(P).
4. Operator meminta izin kepada dosen supervisor untuk melakukan pengambilan
alat dan bahan serta tindakan preparasi. Alat yang dipersiapkan yaitu syringe,
jarum, high speed, bur pointed tapered cylindrical, bur round end tapered
cylindrical, bur chamfer, bur flame, bur straight cylindrical, bur finishing,
suction, slabber, kaca mulut, sonde, ekskavator, dan pinset. Bahan yang
dipersiapkan yaitu pehacain, epinephrine, alkohol, povidon iodine, benang
retraktor, cotton pellet, dan cotton roll.
5. Operator melakukan tindakan anestesi
a. Asepsis bagian mukubukofold dan bagian palatal gigi 23
b. Insersikan jarum dengan bevel menghadap tulang didaerah mukobukofold
hingga sekitar apex gigi 23 kemudian dilakukan aspirasi, aspirasi negtif
maka deponirkan 0,5 cc di nervus alveolaris superior anterior
c. Pasien diinstruksikan untuk berkumur
d. Insersikan jarum dengan bevel menghadap tulang didaerah palatal sekitar
apex gigi 23 kemudian dilakukan aspirasi, aspirasi negtif maka deponirkan
0,5 cc secara perlahan di nervus nasopalatinus
e. Operator menanyakan ke pasien apakah sudah merasa kebas di bagian labial
dan palatal. Pasien merasa kebas pada bagian labial tetapi pada bagian
palatal pasien tidak merasa kebas, kemudian operator mengecek dengan
menggunakan sonde pada bagian palatal dan pasien tida merasakan sakit.
Operator mencoba untuk preparasi gigi 23 akan tetapi pasien masih merasa
ngilu. Pasien mengaku semalam mengkonsumsi kopi dan memiliki
kebiasaan merokok. Operator memasang benang retraktor pada sulkus
gingiva sambil menunggu obat anestesi bekerja.

f. Setelah sekitar 15 menit pasien sudah merasa tidak ngilu maka dilakukan
preparasi pada gigi 23
6. Preparasi
a. Preparasi palatal
Preparasi palatal mengurangi bagian palatal sesuai dengan sumbu gigi dan
sedikit konvergen sekitar 5° dari sumbu gigi ke arah oklusal menggunakan
bur flame
b. Preparasi servikal
Bentuk preparasi disesuaikan dengan bahan restorasi yang digunakan yaitu
PFM, sehingga preparasi servikal yang digunakan adalah tipe chamfer
menggunakan bur chamfer
c. Finishing
Pembentukan akhiran dan menghaluskan seluruh permukaan preparasi
menggunakan bur pita kuning
7. Pemasangan Mahkota Sementara
Mahkota sementara dicobakan ke mulut pasien dan diperiksa kontak bagian
proksimal dan oklusinya, kemudian sementasi mahkota tiruan jembatan dengan
sementasi sementara berupa Zinc Oxide Eugenol (ZOE)
8. Operator menginstruksikan pasien untuk datang kembali agar dilakukan
pencetakan
9. Operator melengkapi seluruh berkas dan meminta acc pada superviso rkemudian
diletakkan diruang supervisor
10. Operator membersihkan dental unit, alat-alat dan bahan yang telah digunakan
dan mematikan compressor, membuang angin dalam compressor dan
mematikan dental unit .

H. PEMBAHASAN
1. Pendaftaran Pasien
Pasien melakukan pendaftaran di bagian pendaftaran lantai 1 RSGMP
UNSOED, kemudian operator membawa pasien ke ruang tunggu klinik integrasi
lantai 2. Operator menuliskan nomor rekam medis pada administrasi untuk
meminta rekam medis, kemudian operator juga menuliskan data pasien dan
operator pada administrasi klinik integrasi lantai 2, setelah itu operator
menunggu hingga rekam medis diantarkan ke ruang supervisor. Jika rekam
medis sudah berada di ruang supervisor, maka operator meminta izin kepada
supervisor untuk mengambil rekam medis dan melakukan pemeriksaan.
Operator kemudian mempersilahkan pasien masuk ke dalam klinik integrasi
lantai 2.
2. Kerja Obat Anestesi
Bahan anestesi yang digunakan pada kasus ini yaitu pehacain berupa
lidokain dan epinefrin (1:100.000). Pada anestesi infiltrasi digunakan 0,5 cc di
nervus alveolaris superior anterior dan 0,5 cc di nervus nasopalatinus.
Konsentrasi lidokain 2% dengan epinefrin 1:100.000 akan menghasilkan durasi
kerja selama 60 menit dan apabila digunakan pada anestesi jaringan lunak akan
bertahan 3-5 jam. Lidokain memiliki resiko toksisitas sistemik yang rendah dan
jarang menimbulkan reaksi alergi. Lidokain dimetabolisme dalam hepar melalui
jalur metabolisme yang kompleks dengan memanfaatkan enzim dalam hepar
(Logothetis, 2011).
Pada kasus ini anestesi yang diberikan pada pasien mengalami reaksi yang
lambat dalam menimbulkan efek baal. Rasa baal yang dirasakan pasien tidak
secara langsung muncul akan tetapi membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Pasien mengaku memiliki kebiasaan merokok, meminum kopi semalam, dan
begadang. Waktu onset of action dari pehacain juga bervariasi, sekitar 3-10
menit. Walaupun penggunaan lidokain bersifat toksik, jika digunakan dengan
dosis yang tepat, maka tidak dapat menimbulkan masalah yang serius. Dengan
penambahan vasokonstrikor, dosis maksimal yang dapat diterima pada orang
dewasa adalah sekitar 350 mg atau maksimal sekitar 6 mg/kgBB. Pada
praktiknya, 2% lidokain HCl umumnya dikemas dalam bentuk ampul 2 ml atau
sama dengan 36 mg, sehingga dosis maksimum pengunaan lidokain pada orang
dewasa adalah sekitar 8-10 ampul (Sumawinata, 2013; Melamed, 1997). Onset
of action bahan anestesi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Perfusi jaringan tempat penyuntikan obat
b. Peningkatan obat ke jaringan lokal
c. Kecepatan metabolisme
d. Jumlah peningkatan obat oleh protein
e. Mengkonsumsi kopi
Kopi mengandung kafein, yang dalam dosis rendah dapat mengurangi rasa
lelah dan membuat pikiran jadi segar. Kafein menyebabkan dilatasi
pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal karena
efek langsung pada pembuluh darah. Anestesi lokal adalah obat yang bisa
menyebabkan sensasi pati rasa dengan melumpuhkan ujung saraf pada
tempat pemberian obat (Jaya, 2011).
Menurut Heavner (2007) kinerja bahan anestesi lokal hingga dapat
memblokir konduksi saraf yaitu:
a. Absorbsi bahan anestesi
Pada saat diinjeksikan ke jaringan lunak, anestesi lokal menghasilkan reaksi
farmakologi pada pembuluh darah. Semua jenis anestesi lokal memiliki
tingkatan reaksi yang berbeda, yang sering terjadi yaitu vasodilatasi
pembuluh darah ketika di deposit, dan beberapa juga menimbulkan
vasokontriksi. Reaksi yang timbul berpengaruh pada konsentrasi yang
diberikan. Efek signifikan dari vasodilatasi meningkat ketika anestesi lokal
sudah diserap oleh pembuluh darah, sehingga menurunkan durasi dan
kualitas dari rasa sakit, tetapi meningkatkan konsentrasi anestesi lokal pada
pembuluh darah dan potensi overdosis (reaksi toksik). Tingkatan reaksi
anestesi lokal yang diserap oleh pembuluh darah dan mencapai level
maksimum bervariasi sesuai dengan cara pemberiannya.
b. Distribusi
Setelah diserap ke pembuluh darah, anestesi lokal disalurkan ke seluruh
jaringan dalam tubuh. Organ yang sangat perfusi yaitu otak, hepar, ginjal,
paru-paru, dan limfe.
3. Preparasi Bridge
Prinsip preparasi mahkota gigi sebagai penyangga gigi tiruan pada
dasarnya sama dengan preprasi pada pembuatan mahkota penuh, perbedaan
utama terletak pada prinsip kesejajaran seluruh bidang aksial hasil preparasi
masing-masing gigi penyangga tersebut. Dimana antar gigi penyangga, bidang
proksimal, labial atau bukal, palatal atau lingualnya harus sejajar.
a. Preparasi Proksimal
Prinsip preparasi proksimal gigi penyangga sama dengan preparasi
mahkota tiruan penuh yaitu dengan membuat garis pedoman pada permukaan
labial proksimal gigi berjarak 1-1,5 mm dari titik kontak. Pengasahan dilakukan
dengan bur diamond tipe pointed tapered cylindrical dengan posisi bur tegak
lurus sumbu gigi dan dimulai dari titik kontak ke arah garis pedoman gigi.
Pedoman preparasi dan alat yang dipakai sama halnya seperti preparasi mahkota
tiruan, yang terpenting adalah kesejajaran bidang proksimal gigi penyangga satu
dengan gigi penyangga lain atau sesuai dengan hasil surveyor (Rosenstiel dkk.,
2001).
a. Preparasi Insisal dan Oklusal
Preparasi insisal dilakukan untuk preparasi gigi anterior dengan cara
membuat sedalam 1-1,5 mm dari tepi insisal dengan menggunakan bur diamond
tipe straight cylindrical sesuai ukuran. Preparasi dilakukan dengan kemiringan
45° ke arah palatal dari groove yang telah dibuat ke arah mesial atau distal.
Setelah dipreparasi kemudian dilakukan pengecekan dengan membandingkan
ketinggian bidang insisal gigi yang normal dan oklusi pada saat edge to edge
harus sudah open. Preparasi harus hati-hati dikarenakan mengenai tanduk pulpa
atau perforasi kamar pulpa (Rosenstiel dkk., 2001).
Preparasi oklusal dilakukan untuk preparasi gigi posterior sedikit
berbeda dengan gigi anterior dikarenaka bidang oklusal yang luas dibandingkan
bidang insisal gigi anterior. Preparasi dimulai dengan membentuk groove pada 2
bidang sedalam 1-1,5 mm kemudian preparasi pada bidang buko oklusal terlebih
dahulu dari groove ke arah mesial distal, baru dilanjutkan pada bidang linguo
oklusal dengan tonjol bukal lebih besar dari tonjol lingual. Preparasi pada
bidang oklusal ini harus memperhatikan bentuk anatomis gigi asli. Evaluasi hasil
preparasi dapat menggunakan lempeng malam merah yang dioklusikan
kemudian di ukur dengan wax measuring device atau dengan menggunakan
sonde dengan diameter 1-1,5 mm (Rosenstiel dkk., 2001).
b. Preparasi Bukal atau Labial dan Palatal atau Lingual
Preparasi labial dilakukan untuk preparasi gigi anterior dengan cara
membuat groove menggunakan bur diamond tipe straight cylindrical yang
sesuai sebanyak 3 buah pada bagian 2/3 insisal sedalam 1-1,5 mm dan 2 buah
groove pada 1/3 servikal sedalam 0,5 mm. Preparasi permukaan labial dilakukan
2 tahap yaitu pertama bagian 2/3 insisal dengan menggunakan bur diamond tipe
round end tapered cylindrical dari groove ke arah mesial dan distal sesuai
dengan bentuk anatomi mahkota gigi kemudian hasil preparasi dibandingkan
dengan gigi tetagga yang normal menggunakan kaca mulut dari arah insisal dan
perhatikan lengkung permukaan labial apakah sudah sesuai dengan anatomis
gigi sebelum preparasi atau lengkung permukaan gigi tetangganya. Preparasi
pada 1/3 bagian servikal dilakukan sejajar sampai dasar groove dengan gerakan
dari groove ke arah mesial dan distal. Hasil preparasi 1/3 servikal harus sejajar
sumbu gigi dan pengecekan pada bidang labial dapat dilakukan dengn sonde
halfmoon untuk melihat ada tidaknya undercut (Gita dkk., 2007).
Preparasi palatal pada umumnya hampir serupa dengan bidang labial,
namun alat yang dipakai adalah bur diamond tipe flame karena adanya singulum
pada bagian palatal. Arah gerakan bur dari tengah ke mesial atau distal
mengikuti bentuk anatomi bidang palatal. pemeriksaan hasil preparasi
menggunakan sonde halfmoon dan kaca mulut dilihat dari arah insisal, baik
bidang palatal maupun bidang labial harus sejajar sumbu gigi (Rosenstiel dkk.,
2001).
c. Preparasi Servikal
Bentuk preparasi disesuaikan dengan bahan restorasi yang akan
digunakan. Untuk restorasi PFM, preparasi yang digunakan adalah tipe chamfer
(Rosenstiel dkk., 2001).

I. SIMPULAN
Operator melakukan tindakan preparasi bridge gigi 23 dengan prosedur yang baik
dan benar. Efek anestesi yang lambat pada pasien dikarenakan pasien tersebut
mengkonsumsi kopi.

J. DAFTAR PUSTAKA

Fadillah, A., 2007, Teknik-teknik anestesi local, EGC, Jakarta.


Gita, F., Tanti, I., Suminta, D., 2007, Penuntun Praktikum Gigi Tiruan Cekat,
Departemen Prosthodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Howe, G.L., 1994, Anestesi local, Hipokrates, Jakarta.
Logothetis, D.D., 2011, Local anesthetic agents: a review of the current options for
dental hygienist, CDHA Journal, 27(2): 1-4.
Melamed, S.H., 1997, Hand book of local anaesthesia, Mosby ST, Missouri.
Purwanto., 1993, Petunjuk Praktis Anestesi Lokal, EGC, Jakarta.
Rosenstiel, S.F., Land, M.F., Fujimoto, J., 2001, Contemporary Fixed
Prosthodontics, Ed.3, Mosby, Missouri.