Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam mengumpulkan data secara komprehensif dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan
klien (Nursalam, 2011).
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
Perivikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data suyektif dan dari persepsi tentang masalah kesehatan mereka
dan data obyektif yaitu pengamatan/ pengukuran yang dibuat oleh pengumpul data
(Potter& Perry, 2009).
NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) menyatakan
bahwa diagnosa keperawatan adalah peniliaian klinis tentang respon individu,
keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan aktual
atau potensial, sebagai dasar dalam memilih intervensi keperawatan untuk
mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat dalam
(NANDA edisi 2015). Semuanya diagnosa keperawatan harus didukung oleh data,
NANDA diartikan sebagai defenisi karakteristik yang dinamakan dengan tanda
(sesuatu yang dapat diobservasi) dan gejala (sesuatu yang dirasakan oleh klien.
Menurut carpenitto (2010) diagnosa yang muncul pada pasien dengan
fraktur yaitu : Nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan dan
imobilitas, Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan trauma jaringan
sekunder akibat fraktur, Resiko infeksi yang berhubungan dengan alat fiksasi
invasive, Deficit perawatan diri mandi dan eliminasi yang berhubungan dengan
keterbatasan pergerakan sekunder akibat fraktur, Kurang aktifitas pengalih yang
berhubungan dengan kejenuhan monoton sekunder akibat alat imobilisasi, Resiko
hambatan pemeliharaan rumah yang berhubungan dengan (contohnya ) alat fiksasi,
hambatan mobilitas fisik,tidak tersedianya sistem pendukung,

68 68
Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan program trapeutik yang
berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang kondisi, tanda dan
gejala komplikasi, pembatasan aktifitas dan pada masalah keperawatan yang
muncul pada Tn. A dengan Fraktur femur dextra dengan melakukan pengkajian
penulis mengaangkat diagnosa keperawatan : nyeri akut berhubungan dengan agen
cidera biologis, hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal, dan kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan prosedur
pembedahan.
Berdasarkan hasil pengkajian pada asuhan keperawatan yang diberikan, pada
kasus post operasi Fraktur Femur Tn. A umur 34 tahun dengan data subyektif
didapatkan keluhan utama klien yaitu klien mengatakan nyeri dibagian femur
sebelah kanan, data obyektif tampak luka bekas operasi dibagian femur kanan,
panjang luka post operasi 24 cm, klien tampak menahan sakit, skala nyeri 5,
ekspresi wajah klien tampak meringis menahan sakit, klien tampak sulit untuk
melakukan aktifitas, klien tampak lemah, tanda-tanda vital didapat TD: 120/70
RR: 22x/menit T :36,5 N: 80x/menit.
Respon psikologis klien mengatakan nyeri pada kaki sebelah kanan setelah
tindakan operasi, walaupun nyeri yang dirasakan hilang timbul klien tampak
menahan nyeri dan tetap melakukan kontrol ulang. Mekanisme dasar penyebab
nyeri adalah Fraktur yang terjadi menimbulkan gejala yang umum yaitu nyeri
atau rasa sakit, pembengkakan dan kelainan bentuk tubuh. Nyeri merupakan
perasaan yang tidak nyaman dan bersifat subjektif dimana hanya penderita yang
dapat merasakannya (Mardiono, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan Zulaik. M (2008) dengan judul
Hubungan Penggunaan Mekanisme Koping dengan Intensitas Nyeri pada Pasien
Post Operasi Fraktur Femur di Unit Orthopedi RSUI Kustati Surakarta. Hasil
penelitian menyebutkan bahwa semakin sering frekuensi penggunaan mekanisme
koping yang baik pada pasien post operasi fraktur femur, maka akan semakin
rendah derajat nyeri yang dirasakannya.

69
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Saekhatun (2008) dengan
judul Hubungan Sikap Perawat dengan Tindakan Perawat Dalam Manajemen
Nyeri Teknik Distraksi Pada Pasien Post Operasi di Ruang Bedah Orthopedi RSUI
Kustati Surakarta. Hasil penelitian menyebutkan bahwa ada hubungan yang
bermakna signifikan antara sikap perawat dalam manajemen nyeri teknik distraksi
pada pasien post operasi.
Masalah lain yang ditemukan pada saat pengkajian pada Tn. A adalah
Hambatan mobilitas fisik karena Fraktur femur atau patah tulang adalah rusaknya
kontinuitas tulang pangkal paha yang disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan
otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis. Salah satu
masalah yang terjadi pada pasien post ORIF (open reduction internal fixation)
fraktur femur hambatan dan keterbatasan gerak sendi lutut yang dialami oleh
pasien (lukman dan ningsih, 2009).
Menurut Putri (2017) upaya yang dilakukan untuk meningkat mobilitas fisik
yaitu pada pasien dengan post ORIF jika tidak segera dilakukan mobilisasi akan
dapat menimbulkan terjadinya kontraktur dan komplikasi lainnya. Kontraktur
merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada penderita fraktur.
Pasien paska operasi dianjurkan untuk segera meninggalkan tempat tidur atau
melakukan mobilisasi untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah
banyak komplikasi (Kozier, 2010 dalam Maharani & Waluyo, 2013). Hasil
pengelolaan didapatkan pasien mampu melakukan latihan fleksi dan ekstensi,
mengangkat kaki, menekuk kaki, duduk di pinggiran tempat tidur, latihan turun
dari tempat tidur menuju kursi roda. Kekuatan otot pasien mengalami peningkatan
Pada pelayanan poli bedah RSUD Palembang BARI pasien mendapatkan
pelayanan berupa perawatan luka post operasi saat kontrol ulang dirumah sakit.
Berdasarkan teori dan penatalaksanaan Asuhan keperawatan yang telah dilakukan
di Poliklinik bedah RSUD Palembang BARI sudah sesuai dengan teori yang ada,
dengan kata lain tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik yang di lakukan
di Poliklinik BEDAH RSUD Palembang BARI.

70
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat dan pasti
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau diubah
melalui tindakan keperawatan menggambarkan respon actual atau potensial klien
terhadap masalah kesehatan. Diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan
intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan ( Potter dan Perry, 2009).
Diagnosa teoritis pre operative yang terjadi pada pasien fraktur adalah nyeri
akut, ansietas dan resiko infeksi sedangkan diagnosa post operative pada pasien
dnegan fraktur femur adalah nyeri akut, hambatan mobilitas fisik dan kerusakan
integritas jaringan.
Diagnosa yang penulis ambil adalah diagnosa post operative yaitu nyeri
akut, hambatan mobilitas fisik dan kerusakan integritas jaringan dikarenakan
pasien sudah menjalani operative dan sedang kontrol luka post operative di
poliklinik bedah. Diagnosa keperawatan prioritas utama yang diangkat penulis
adalah nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis karena pada saat
pengkajian di poliklinik bedah RSUD Palembang BARI keluhan yang dirasakan
klien adalah nyeri karena klien mengalami fraktur dan tindakan operasi yang
menyebabkan rasa nyeri. Akibat adanya fraktur mengakibatkan terjadinya
keterbatasan gerak (hambatan mobilitas), terutama di daerah sendi yang terjadi
fraktur dan sendi yang ada di daerah sekitarnya. Karena keterbatasan gerak
tersebut mengakibatkan terjadinya keterbatasan lingkup gerak sendi dan
mengakibatkan terjadinya gangguan pada fleksibilitas sendi, Terjadinya gangguan
fleksibilitas sendi akibat suatu keadaan kelainan postur, gangguan perkembangan
otot, kerusakan system saraf pusat, dan trauma langsung pada system
muskuloskeletal, misalnya fraktur yang menimbulkan respon nyeri pada daerah
yang sakit (Potter & Perry, 2008).
Diagnosa keperawatan prioritas yang kedua penulis mengangkat hambatan
moblitias fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal. Salah satu
masalah yang terjadi pada pasien post ORIF (open reduction internal fixation)
fraktur femur keterbatasan gerak sendi lutut yang dialami oleh pasien. Fraktur

71
dapat menyebabkan kecacatan fisik pada anggota gerak yang mengalami fraktur,
untuk itu diharuskan segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan klien dari
kecacatan fisik. Sedangkan kecactan fisik dapat dipulihkan scara bertahap melalui
latihan rentang gerak yaitu dengan latihan Range of Motion (ROM) yang
dievaluasi secara aktif, yang merupakan kegiatan penting pada periode post
operasi guna mengembalikan kekuatan otot pasien (Brunner & Suddarth, 2008).
Penulis mengangkat diagnosa hambatan mobilitas fisik karena didapatkan
banyak data yang menunjang dari diagnosa tersebut diantaranya adalah data
subjektif: Klien mengatakan aktifitas sehari-hari seperti mandi, toileting
berpakaian, pindah ketempat tidur, berpindah tempat dan bergerak dibantu oleh
orang lain, Klien mengatakan saat bergerak nyeri klien semakin bertambah. Data
objektif : klien tampak tidak bisa melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain,
klien tampak menggunakan alat bantu kursi roda.
Penulis mengangkat hambatan mobilitas fisik sebagai diagnosa kedua karena
hambatan mobilitas fisik merupakan hal yang biasa terjadi pada akibat fraktur dan
proses tindakan pembedahan. ROM merupakan kegiatan yang penting pada
periode post operasi guna mengembalikan kemampuan Activities daily living
(ADL) pasien. Kemampuan ADL adalah kemapuan pasien melakukan aktifitas
spesifik dalam hubungannya dengan rutinitas kehidupan sehari-hari seperti
mandi,berpakaian,pergi ke toilet, dll (potter &perry, 2010).
Diagnosa keperawatan ketiga yang diangkat penulis adalah kerusakan
integritas jaringan berhubungan dengan prosedur bedah. Kerusakan integritas
jaringan adalah kerusakan jaringan membran mukosa, kornea, integument atau
subkutan yang disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah prosedur
bedah. Batasan karakteristik kerusakan integritas jaringan adalah kerusakan
jaringan (kerusakan jaringan membran mukosa, kornea, integument atau subkutan)
(NANDA, 2017).
Menurut Bobak (2013) mengatakan bahwa seseorang yang dilakukan
tindakan operasi atau prosedur bedah akan mengalami kerusakan integritas
jaringan hal ini disebabkan karena orang yang mengalami prosedur operasi akan

72
mengalami pembedahan dibagian tubuh tertentu yang mana hal ini akan
menyebabkan luka dan rusaknya integritas jaringan.
Penulis mengangkat diagnosa kerusakan integritas jaringan karena
didapatkan banyak data yang menunjang dari diagnosa tersebut diantaranya
adalah data subjektif: klien mengatakan terdapat bekas luka operasi di bagian
paha atas sebelah kanan, Data objektif: tampak ada luka bekas operasi di bagian
femur sebelah kanan panjang luka bekas operasi ± 24 cm, tidak ada nanah, kondisi
membaik klien terpasang pen dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
Penulis mengangkat kerusakan integritas jaringan sebagai diagnosa ketiga
karena kerusakan integritas jaringan merupakan hal yang biasa terjadi karena
proses tindakan pembedahan. Hal ini didasarkan pada teori Hinarki Maslow.
Menurut Maslow rasa aman merupakan kebutuhan kedua yang memerlukan
penanganan dengan segera agar tidak mengganggu kebutuhan lainnya (Potter,
2009).

C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah semua rencana keperawatan untuk membantu
klien beralih dari status kesehatan saat ini ke status yang diuraikan dalam hasil
yang diharapkan (Potter& Perry, 2009).
Menurut Asmadi (2011) sebelum menentukan intervensi keperawatan harus
ditentukan tujuan dilakukan tindakan sehingga rencana tindakan dapat diselesaikan
dengan metode smart yaitu spesifik adalah rumusan tujuan yang harus jelas dan
khusus Measurable adalah tujuan yang dapat diukur, Achierable adalah tujuan
yang dapat diterima, dicapai dan ditetapkan bersama klien, rasional adalah tujuan
dapat tercapai dan nyata dan time harus ada target waktu. Selanjutnya akan
diuraikan rencana keperawatan dari diagnosa yang ditegakkan dan criteria hasil
berdasarkan NOC yaitu tindakan khusus dan detail yang dilakukan perawat
(Wilkinson, 2010).
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

73
Tujuan diangkat diagnose nyeri akut agar klien tidak mengalami
ketidaknyamanan yang disebabkan oleh rasa nyeri tersebut dengan cara
memberikan intervensi berupa monitor vital sign, monitor skala nyeri,
observasi adanya tanda non verbal, kontrol lingkungan yang membuat tidak
nyaman, ajarkan tentang penyebab dan faktor pengurang nyeri, ajarkan
tehnik non farmakologi (tarik nafas dalam), evaluasi pemahaman pasien dan
keluarga tentang penyakit dan perawatan, motivasi klien, keluarga dan
bantu dalam melaksanakan peningkatan kesehatan.

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal


Tujuan diangkat diagnosa hambatan mobilitas fisik agar klien dapat
memenuhi kebutuhan aktivitas hariannya tanpa ada hambatan gerak fisik
dengan cara anjurkan pasien untuk menggunakan tempat tidur yang rendah,
anjurkan menggunakan alat bantu seprti kursi roda atau tongkat untuk
melakukan perpindahan, anjurkan keluarga untuk membantu perpindahan
klien sesuai kebutuhan, ajarkan pasien ROM, ajarkan pasien atau keluarga
mengenai pemindahan dan tekhnik ambulasi yang aman, anjurkan keluarga
membantu pasien untuk berdiri dan ambulasi dengan jarak tertentu serta
dorong ambulasi secara mandiri dalam batas aman.

c. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan prosedur bedah


Tujuan diangkat diagnose kerusakan ingegritas jaringan agar
kerusakan integritas jaringan pada luka post operasi klien dapat teratasi
dengan cara memberikan intervensi berupa Observasi luka : lokasi, dimensi,
kedalaman luka, karakteristik, warna, cairan, granula, jaringan nekrotik,
tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktur , lakukan teknik perawatan luka
dengan steril, ajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka.

74
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan adalah katagori
dari perilaku keperawatan di massa tindakan yang diperlukan untuk mencapai
tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan mengikuti komponen
perencanaan keperawatan (Potter, 2013).
Dalam melakukan tindakan keperawatan selama 1 hari penulis tidak
mempunyai hambatan, sebagian rencana yang diharapkan dapat dilaksanakan.
Pada tindakan keperawatan diagnosa nyeri akut, hambatan mobilitas dan
kerusakan integritas jaringan.
Implementasi pada kasus ini seharusnya sesuai dengan intervensi yang telah
dibuat, namun dikarenakan faktor pemberian asuhan keperawatan berlangsung di
poliklinik sehingga implementasi yang dilakukan harus disesuaikan dengan situasi,
kondisi dan waktu yang tersedia di ruang poliklinik.
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
Implementasi yang dilakukan oleh penulis untuk diagnosa nyeri akut
adalah memonitor vital sign, memonitor skala nyeri, mengobservasi adanya
tanda non verbal, mengontrol lingkungan yang membuat tidak nyaman,
mengajarkan tentang penyebab dan faktor pengurang nyeri, mengajarkan tehnik
non farmakologi (tarik nafas dalam), mengevaluasi pemahaman pasien dan
keluarga tentang penyakit dan perawatan, memotivasi klien, keluarga dan bantu
dalam melaksanakan peningkatan kesehatan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Galuh (2010) mengatakan
bahwa adanya pengaruh dalam pemberian tehnik relaksasi nafas dalam
terhadap penurunan skala nyeri pada pasien pasca operasi fraktur femur.

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal


Implementasi yang dilakukan oleh penulis untuk diagnosa hambatan
mobilitas adalah menganjurkan pasien untuk menggunakan tempat tidur yang
rendah, menganjurkan menggunakan alat bantu seprti kursi roda atau tongkat
untuk melakukan perpindahan, menganjurkan keluarga untuk membantu

75
perpindahan klien sesuai kebutuhan, mengajarkan pasien ROM, mengajarkan
pasien atau keluarga mengenai pemindahan dan tekhnik ambulasi yang aman,
menganjurkan keluarga membantu pasien untuk berdiri dan ambulasi dengan
jarak tertentu serta dorong ambulasi secara mandiri dalam batas aman.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Esmi (2013) mengatakan bahwa
ROM exercise dini pada pasien post operasi fraktur femur berpengaruh baik
terhadap proses beradaptasi dengan keadaan setelah bedah tulang. ROM dapat
dilakukan setelah pasien sadar penuh dari tindakan operasi tetapi hanya ROM
untuk jari – jari saja.

c. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan prosedur bedah


Implementasi yang dilakukan oleh penulis untuk diagnose kerusakan
integritas jaringan adalah memberikan intervensi berupa Observasi luka: lokasi,
dimensi, kedalaman luka, karakteristik, warna, cairan, granula, jaringan
nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktur , lakukan teknik perawatan
luka dengan steril, ajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wirda (2016) menjelaskan
bahwa tindakan perawatan luka dapat mempercepat proses penyembuhan luka
pada pasien fraktur femur tertutup.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang
rencana keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatan actual,
mencegah kekambuhan dari masalah potensial dan mempertahankan status
kesehatan. Evaluasi terhadap tujuan asuhan keperawatan menentukan tujuan ini
telah terlaksana (Potter, 2013).
Penulis mengevaluasi apakah prilaku atau respon klien mencerminkan suatu
kemajuan atau kemunduran dalam diagnosa keperawatan. Pada evaluasi penulis
menyesuaikan dengan teori yang ada yaitu SOAP yang berarti S adalah subjektif

76
keluhan utama klien, O adalah objektif hasil pemeriksaan, A adalah perbandingan
data dengan teori dan P adalah perencanaan yang akan dilakukan (Asmadi, 2011).
Pada diagnosa nyeri akut belum teratasi didukung dengan data subject klien
mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi. Pada diagnosa hambatan
mobilitas belum teratasi didukung dengan data subjektif klien mengatakan masih
sulit untuk menggerakkan kakinya. Pada diagnosa kerusakan integritas jaringan,
setelah dilakukan tindakan keperawatan hasil evaluasi masalah keperawatan belum
teratasi karena masih teradapat luka pada bagian femur dextra, dan tanda-tanda
vital tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 80x/m, respirasi 22x/m, suhu tubuh
36,5oC, tampak bagian femur disebelah kanan terdapat luka jahitan sepanjang
20cm, tidak ada nanah, luka tampak kering, klien disarankan kontrol kembali satu
minggu kedepan.

77